Anda di halaman 1dari 11

REVIEW PRODUK DERIVAT KELAPA SAWIT (PULP PAPER)

KELOMPOK 2 THP B: 1. Ferintis Iguh Y 2. Dyah Riska A 3. Isnairil Akbariwati 4. Nur Sayidah 5. Diah Novita (111710101004) (111710101034) (111710101056) (111710101070) (111710101090)

Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember 2013

BAB 1 PENDAHULUAN

Industri karton skala kecil saat ini mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku berupa pulp dan kertas bekas dalam jumlah yang cukup besar dan harga dapat diterima oleh industri tersebut. Salah satu upaya yang dilakukannya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan cara mengolah karton menggunakan sludge dari limbah industri pulp dan kertas sebagai bahan baku utama dan kertas bekas sebagai pencampur. Kualitas karton yang dihasilkan oleh industri skala kecil yang menggunakan bahan baku campuran sludge dan kertas bekas ternyata rendah. Ini disebabkan pada sludge terdapat bahan buka serat dan serat sludge berkualitas rendah serta higroskopis, sehingga karton yang dihasilkan mengandung air cukup besar dan tidak kaku (Anonim, 1994). Akibatnya produk tersebut tidak dapat memenuhi permintaan kualitas karton yang dipersyaratkan oleh beberapa produsen produk akhir seperti buku pelajaran, sepatu, tas, pakaian jadi, pemintal benang, dan tekstil. Bahan berserat yang diharapkan dapat mendukung upaya tersebut adalah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang merupakan limbah dari industri pengolahan minyak kelapa sawit. Direktorat Jenderal Perkebunan menyatakan bahwa pabrik pengolahan minyak kelapa sawit yang berkapasitas 30 ton minyak kelapa sawit ( crude palm oil atau CPO) menghasilkan 35 ton TKKS (Anonim, 1998a dan 1998b). Data terakhir menunjukkan bahwa produksi CPOIndonesia pada tahun 2007 mencapai 17,3 juta ton (Anonim, 2008), yang berarti menghasilkan TKKS sebanyak 17,3-20,1 juta ton. TKKS saat ini hanya digunakan sebagai bahan bakar ketel pabrik minyak kelapa sawit, kompos, dan pupuk kalium. Namun pemanfaatan tersebut belum memberikan nilai tambah yang optimal. Selanjutnya untuk mempertinggi kegunaan dan memberi nilai tambah karton, perlu dipertimbangkan produksi karton dengan tekstur, corak, dan warna tertentu serta kekuatan memadai, untuk penggunaan khusus yang berprospek baik diantaranya karton seni. Saat ini karton seni banyak digunakan untuk kertas undangan, sampul majalah atau buku, karton hiasan, karton kemasan, dan bahan untuk karya seni. Atas dasar itu, perlu adanya bahan berserat lain yang mampu memberi nilai seni tersebut antara lain serat batang pisang. Salah satu jenis tanaman pisang adalah pisang ambon ( Musa sapientum L.) yang berpotensi tinggi menghasilkan batang pisang setelah mencapai usia tidak produktif (Suhadi, et al., 2004). Pada tahun 2003, produksi pisang Indonesia mencapai 2.374.841 ton dengan luas sekitar 56.728 ha. Selanjutnya pada tahun 2004, produksi dan luas tersebut meningkatmenjadi 2.758.708 ton dan 65.897 ton. Atas dasar itu, maka potensi batang pisang pada tahun 2002-2003 mencapai sekitar 79.603.169-92.469.504 ton (Sumarjono, 2004; Anonim, 2005/2006). Batang pisang (termasuk juga jenis pisang ambon) diharapkan baik dipergunakan sebagai bahan baku pulp untuk kertas dan karton, karena berkadar lignin rendah (5%), selulosa (63-64%) dan hemiselulola (20%) tinggi, sedangkan seratnya relatif panjang sekitar 4,29mm(Lisnawati, 2000). Terkait dengan hal tersebut, P3KKPHH (Bogor) telah melakukan percobaan skala industri kecil atau skala usaha rumah tangga pembuatan karton seni dari campuran pulp TKKS, sludge industri kertas, dan pulp batang pisang ambon, dimana rincian hasilnya diuraikan berikut ini.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kertas Kertas adalah kemasan yang pertama ditemukan sebelum plastik dan logam. Saat ini kemasan kertas masih banyak digunakan dan mampu bersaing dengan kemasan lain seperti plastik dan logam karena harganya yang murah, mudah diperoleh dan penggunaannya yang luas. Selain sebagai kemasan, kertas juga berfungsi sebagai media komunikator dan media cetak. Kelemahan kemasan kertas untuk mengemas bahan pangan adalah sifatnya yang sensitif terhadap air dan mudah dipengaruhi oleh kelembaman udara lingkungan. Sifat-sifat kemasan kertas sangat tergantung pada proses pembuatan dan perlakuan tambahan pada proses pembuatannya. Kemasan kertas dapat berupa kemasan fleksibel atau kemasan kaku. Jenis kemasan ketas yang dapat digunakan sebagai kemasan fleksibel adalah kertas kraft dan kertas tahan lemak (grease proof). Glassin dan kertas lilin (waxed paper) atau kertas yang dibuat dari modifikasi kemasan kertas fleklsibel. Kemasan kertas yang kaku terdapat dalam bentuk karton, kotak, drum, cawan - cawan yang tahan air, yang dapat dibuat dari paper board, kertas laminasi, corrugated board dan berbagai jenis board dari kertas khusus. Wadah kertas biasanya dibungkus lagi dengan bahan - bahan kemasan lain seperti plastik dan foil logam yang lebih bersifat protektif. 2.2 Klasifikasi Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit diklasifikasikan sebagai berikut: Divisi Subdivisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Spermatophyta : Angiospermae : Monocotyledonae : Palmales : Palmaceae : Elaeis : Elaeis guineensis Elaeis odora (tidak ditanam di Indonesia) Elaeis melanococca (Elaeis oleivera)

Varietas

: Elaeis gueneensis dura Elaeis gueneensis tenera Elaeis gueneensis pisifera

(Sastrosayono, 2003) Sentra utama produksi sawit Indonesia antara lain Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat. Kontribusi produksinya mencapai 80% dari produksi nasional. Perkembangan perkebunan di daerah sentra utama produksi tersebut masih memungkinkan dilakukan. Potensi areal perkebunan Indonesia masih terbuka luas untuk tanaman kelapa sawit. Pengembangan perkebunan tidak hanya diarahkan pada sentra-sentra produksi seperti Sumatera dan Kalimantan, tetapi daerah potensi pengembangan seperti Sulawesi, Jawa, Papua juga terus dilakukan (Yan, 2012). 2.3 Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) Limbah industri kelapa sawit adalah limbah yang dihasilkan pada saat proses pengolahan kelapa sawit. Salah satu limbah padat industri kelapa sawit adalah TKKS. TKKS merupakan limbah terbesar yang dihasilkan oleh perkebunan kelapa sawit. Jumlah TKKS mencapai 30-35% dari berat TBS setiap pemanenan. Namun hingga saat ini, pemanfaatan limbah TKKS belum dilakukan secara optimal (Hambali, 2008). Limbah padat TKKS jumlahnya cukup besar yaitu sebesar 6 juta ton yang tercatat pada tahun 2004. Limbah tersebut selama ini dibakar dan sebagian ditebarkan di lapangan sebagai mulsa. TKKS terutama terdiri dari selulosa, hemiselulosa, dan lignin dan bahan yang penting sebagai sumber selulosa (Nuryanto, 2000). Komposisi kimiawi Tandan kosong kelapa sawit (Yan, 2012) Komposisi Abu Selulosa Lignin Kadar (%) 15 40 21

Hemiselulosa 24

Sebagai limbah lignoselulosa, TKKS merupakan salah satu alternatif bahan baku pembuatan pulp dan kertas karena kandungan selulosanya yang cukup tinggi (Guritno, 1995). Kebutuhan pulp kertas di Indonesia pada saat ini masih dipenuhi dari impor. Padahal potensi untuk memenuhi pulp di dalam negeri cukup besar. Salah satu alternatif itu adalah dengan

memanfaatkan TKKS untuk digunakan sebagai bahan pulp kertas dan papan serat. Di Indonesia sudah mulai banyak industri kertas memanfaatkan limbah kelapa sawit tersebut sebagai alternatif bahan baku. Proses pembuatan pulp dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu proses dengan NaOH dan proses dengan sulfat (Yan, 2012). Bagian pangkal TKKS mengandung serat dengan panjang serat rata-rata 1,2 mm sedangkan serat bagian ujungnya (malai) lebih pendek 0,76 mm. Bila dikelompokkan ke dalam panjang serat menurut klasifikasi Klemm, serat TKKS termasuk serat pendek sampai sedang, yaitu antara 1,0-2,0 mm, sedangkan diameter seratnya, yaitu serat bagian pangkal dan bagian malai termasuk kelompok diameter kecil sampai sedang (2-2,5 m). Kadar serat bagian pangkal TKKS sekitar 72,67%, lebih tinggi bila dibandingkan dengan bagian ujungnya (62,47%). Semakin tinggi kadar serat, semakin tinggi pula rendemen pulp yang akan diperoleh (Darnoko, 1995). Penggunaan TKKS untuk bahan baku pulp dan kertas akan memberikan beberapa keuntungan: 1. Memberikan tambahan keuntungan pabrik kelapa sawit yaitu dengan menjual TKKS. 2. Menurunkan ongkos produksi pabrik pulp karena harga TKKS akan lebih murah dibandingkan dengan bahan baku lainnya. 3. Menjaga kelestarian hutan tropis karena akan lebih sedikit ketergantungan padanya (Guritno, 1995) 2.4 Selulosa Selulosa (C6H10O5)n adalah polisakarida yang merupakan pembentuk sel-sel kayu hampir 50%. Kertas saring dan kapas hampir merupakan selulosa yang murni. Berat molekul selulosa kira-kira 300.000 (Sastrohamidjojo, 2009). Polisakarida ini adalah polimer alam yang paling banyak terdapat dan paling tersebar di alam. Jutaan ton selulosa digunakan setiap tahun untuk membuat perabot kayu, tekstil, dan kertas (Cowd, 1991). Selulosa disusun oleh satuan D-glukosa dengan ikatan -1,4 tanpa percabangan.

Gugus hidroksi dari kedua selulosa memberikan perbedaan sifat. C-1 mempunyai sifat reduksi sedangkan glukosa dengan golongan hidroksi C-4 mempunyai sifat nonreduksi (Klemm, 1998). Selulosa merupakan elemen struktural utama dari tumbuhan, yang memberikan kekuatan struktural agar tanaman dapat berdiri tegak. Kayu terdiri dari sekitar setengah selulosa dan polimer heterogen setengah noncarbohydrate disebut lignin

(Waser,1980). Meskipun merupakan karbohidrat, selulosa bukanlah merupakan sumber makanan bagi manusia dan hewan. Pada selulosa, unit-unit anhidrat glukosa dihubungkan dengan ikatan kimia tipe ; komponen-komponen karbohidrat seperti pati diikat dengan hubungan tipe (Haygreen, 1982). 2.5 Lignin Lignin adalah suatu polimer yang kompleks dengan berat molekul tinggi, tersusun atas unit-unit fenilpropan. Meskipun tersusun atas karbon, hidrogen dan oksigen, lignin bukanlah suatu karbohidrat. Lignin sangat stabil dan sukar dipisahkan dan mempunyai bentuk yang bermacam-macam karena suatu lignin yang pasti di dalam kayu tidak menentu. Lignin terdapat di antara sel-sel dan di dalam dinding sel. Di antara sel-sel, lignin berfungsi sebagai perekat untuk mengikat sel-sel bersama-sama. Dalam dinding sel, lignin sangat erat hubungannya dengan selulosa dan berfungsi untuk memberikan ketegaran pada sel. Lignin juga berpengaruh dalam memperkecil perubahan dimensi sehubungan dengan perubahan kandungan air kayu dan juga dikatakan bahwa lignin mempertinggi sifat racun kayu yang membuat kayu tahan terhadap serangan cendawan dan serangga. Ketegaran yang diberikan oleh lignin merupakan faktor penentu sifat-sifat kayu. Lignin merupakan bahan yang tidak berwarna. Apabila lignin bersentuhan dengan udara, terutama dengan adanya sinar matahari, maka (bersama-sama dengan karbohidratkarbohidrat tertentu) lama kelamaan lignin cenderung menjadi kuning. Karenanya kertas koran yang terbuat dari serat-serat yang diperoleh secara mekanis dengan lignin yang belum dipisahkan, tidak berumur panjang karena kecenderungannya untuk menjadi kuning. Kertas koran juga kasar, massanya besar dan kekuatannya rendah karena serat-seratnya yang kaku memiliki ikatan antar serat yang lemah. Lignin bersifat termoplastik-artinya lignin akan menjadi lunak dan dapat dibentuk pada suhu yang lebih tinggi dan keras kembali apabila menjadi dingin. Sifat termoplastik lignin menjadi dasar pembuatan papan keras (hardbord) dan lain-lain produk kayu yang

dimampatkan (Haygreen, 1996). Lignin dapat diisolasi dari kayu bebas ekstraktif sebagai sisa yang tidak larut setelah penghilangan polisakarida dengan hidrolisis (Sjostrom, 1995). 2.6 Hemiselulosa Hemiselulosa semula diduga merupakan senyawa antara dalam biosintesis selulosa. Namun saat ini diketahui bahwa hemiselulosa termasuk dalam kelompok polisakarida heterogen yang terbentuk melalui jalan biosintesis yang berbeda dari selulosa. Berbeda dengan selulosa yang merupakan homopolisakarida, hemiselulosa merupakan

heteropolisakarida. Seperti halnya selulosa kebanyakan hemiselulosa berfungsi sebagai bahan pendukung dalam dinding-dinding sel. Hemiselulosa relatif mudah dihidrolisis oleh asam menjadi komponen-komponen monomernya yang terdiri dari D-glukosa, D-manosa, D-galaktosa, D-xilosa, L-arabinosa, dan sejumlah kecil L-ramnosa di samping menjadi asam D-glukoronat, asam 4-Ometil-Dglukuronat, dan asam D-galakturonat (Sjostrom, 1995). Sebagian terbesar hemiselulosa merupakan polimer-polimer dengan rantai bercabang, berbeda dengan selulosa yang berantai lurus, dan umumnya tersusun atas 150 anhidrid gula sederhana atau kurang (artinya derajat polmerisasinya umumnya kurang dari 150) (Haygreen,1982).

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Bahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 3.1.2 Alat 1. 2. 3. 4. Ketel pemasak Bak pencuci Hollander beater Stone refiner TKKS (tandan kosong kelapa sawit) Batang pisang ambon Sludge industri kertas Barium khlorida (BaCl2) Asam khlorida (HCl) Indikator PP Kalium permangat (KmnO4) Asam sulfat (H2SO4) Kalium (KI) Natrium tiosulfat (Na2S2O3) Indikator kanji Soda api (NaOH) Pengisi kaolin Bahan retensi alum sulfat Bahan perekat tapoka Bahan sizing rosin soap

3.2 Skema Kerja 3.2.1 Penyiapan serpih TKKS dan Serpih batang pisang TKKS Batang pisang

air

Pencucian

air

Pencucian

Penjemuran

Pemotongan

Pemotongan

Serpih TKKS

3.2.2 Pemasakan serpih TKKS dan serpih batang pisang menjadi pulp Serpih TKKS

NaOH 10%

Pemasakan Pemisahan/pencucian

Air

Pemisahan/pencucian

Larutan pemasakan

Serpih TKKS

Defiberasi

Sentrifugasi

Pulp

3.2.3 Pembentukan lembaran karton seni pada industri karton skala kecil

Pulp TKKS

Pulp batang pisang

Sludge industri kertas

Pencampuran Air, kaolin, perekat tapioka, rosin soap, tawas (alum sulfat) zat warna

Perendaman

Penggilingan

Pembentukan kertas

Penjemuran

Pemotongan

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Sifat Dasar Bahan Baku

Dimensi serat, nilai turunan dimensi serat, dan komposisi kimia TKKS merupakan salah satu parameter untuk menilai kualitas TKKS sebagai bahan baku untuk kertas (termasuk karton). Panjang serat TKKSberkisar 0,27-1,60mm (rata-rata 0,77 mm). Meskipun termasuk serat pendek, bilangan Runkel serat TKKS mencapai 0,94 (<1). Berdasarkan klasifikasi Runkel, serat TKKS termasuk golongan I (Silitonga,et al ., 1972). Ini mengindikasikan bahwa seratTKKS memiliki lumen lebar dan dinding tipis. Dengan demikian serat TKKS akan menggepeng dan mudah menipis selama penggilingan, sehingga diharapkan menghasilkan lembaran pulp untuk kertas/karton dengan kualitas baik.

4.2 Sifat Pengolahan Pulp TKKS

4.3 Sifat Kekuatan Fisik Lembaran Pulp TKKS untuk Karton