Anda di halaman 1dari 35

Makalah KTI

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah Kandidiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh spesies Candida albicans, yang bersifat akut subakut. Penyakit ini terjadi diseluruh dunia, dapat menyerang semua umur, baik laki-laki maupun perempuan. Jamur penyebabnya terdapat pada orang sehat sebagai organisme saprofit. Gambaran klinisnya bermacam-macam sehingga tidak diketahui data-data penyebarannya dengan tepat. (Djuanda,2008). Sebagian besar bayi baru lahir dilahirkan dalam kondisi sehat, namun beberapa bayi dapat mengalami keadaan-keadaan yang membutuhkan pemeriksaan. Bayi baru lahir rentan terhadap beberapa penyakit daripada anak atau orang dewasa. Sistem kekebalan tubuhnya belum terbentuk sempurna untuk melawan bakteri, virus dan parasit. Berdasarkan lokasinya, sariawan pada anak, baik itu bayi maupun balita, lebih sering terjadi pada bibir, lidah, pipi bagian dalam (mukosa), dan tenggorokan. Sariawan oral thrush, yang disebabkan jamur Candida albicans. Sebelumnya penelitian ini telah dilakukan oleh Abi Hakim Al-Iman tahun 2010 mengenai Pengaruh Penambahan Sukrosa pada Media Modifikasi CMA (Corn Meal Agar) Terhadap Pertumbuhan Jamur Candida albicans, tetapi masih banyak kekurangannya seperti panjang pseudohifa yang masih belum dilakukan, masih menggunakan satu strain, dan masih menggunakan biakan murni Candida albicans. Sehingga peneliti ingin melanjutkan penelitian apa yang masih menjadi kekurangan dari penelitian sebelumnya. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka penulis mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai Gambaran Morfologi Mikroskopik dan Makroskopik Candida albicanspada Medium CMA (Corn Meal Agar) Modifikasi . 1.2 Tujuan Penelitian Membuktikan bahwa media CMA (Corn Meal Agar) modifikasi dapat digunakan untuk identifikasi jamur Candida albicans sehingga dapat digunakan sebagai media alternatif pengganti CMA (Corn Meal Agar) formula. 1.3 Tinjauan Pustaka 1.3.1 Morfologi Candida albicans

Pada medium tertentu, di antaranya agar tepung jagung (Corn Meal Agar), agar tajin (Rice Cream Agar) atau agar dengan 0,1% glukosa terbentuk klamidospora terminal berdinding tebal dalam waktu 24-36 jam. (Darmani, 2001). Pada sediaan mikroskopik, Candida albicans tampak sebagai ragi
lonjong, dan sel-sel bertunas, gram positif yang memanjang menyerupai hifa (pseudohifa). (Jaweitz, 1996).Candida albicans dapat tumbuh pada variasi pH yang luas, tetapi pertumbuhannya akan

lebih baik pada pH antara 4,5-6,5. Jamur ini dapat tumbuh dalam pembenihan pada suhu 28 oC 37oC. Candida albicans membutuhkan senyawa organik sebagai sumber karbon dan sumber

energi untuk pertumbuhan dan proses metabolismenya. Unsur karbon ini dapat diperoleh dari karbohidrat.(Darmani, 2001) 1.3.2 Patogenitas dan Virulensi Oral thrush adalah kandidiasis selaput lendir mulut, termasuk bibir, lidah, langit-langit mulut, gusi serta lantai mulut. Penyakit ini ditandai dengan plak-plak putih yang menyerupai gumpalan susu yang dapat dikelupas, yang meninggalkan permukaan perdarahan mentah. Penyakit ini biasanya menyerang bayi yang baru lahir, bayi yang sakit atau lemah, individu dengan kondisi kesehatan buruk, serta pasien dengan imun lemah. Pada bayi, sumber infeksi bisa berasal dari vagina ibu yang terinfeksi selama persalinan (saat bayi baru lahir) atau transmisi melalui botol susu dan puting susu ibu yang tidak bersih. Candida albicans sebetulnya normal, dalam jumlah yang sedikit.Bila terdapat faktor predisposisi, yaitu keadaan yang menguntungkan pertumbuhan jamur tersebut, maka Candida albicans dapat menimbulkan penyakit primer atau sekunder. 1.3.3 CMA (Corn Meal Agar) Komposisi Corn Meal Agar (CMA) formula terdiri dari 2 gram Corn Meal (berasal dari 50 gram ekstrak jagung) yang ditambah dengan 15 gram agar untuk pemakaian 1000 mL (Bridson, 1998). Prinsip Corn Meal Agar : Corn Meal mengandung Karbon, Nitrogen dan Vitamin sehingga jamur dapat tumbuh pada Corn Meal Agar, sedangkan agar berfungsi sebagai pemadat. Komposisi Corn Meal Agar modifikasi terdiri dari tepung maizena yang terbuat dari jagung sebagai sumber karbon, gula pasir sebagai karbohidrat yang menjadi sumber energi, dan agaragar batangan sebagai pemadat. 1.3.4 Germ Tube Test Uji pembentukan Germ tube hanya digunakan untuk mengidentifikasi spesiesCandida albicans. Pada uji Germ tube media yang digunakan adalah bahan yang mengandung faktor protein, seperti putih telur, serum dan plasma. Candida albicans pada media serum akan membentuk germ tube karena pada media serum mengandung protein yang dibutuhkan sebagai stimulan sel ragi untuk merubah bentuk (Tjampakasari, 2006). Pada umumnya prosedur pemeriksaangerm tube Candida albicans yang dilaksanakan di laboratorium menggunakan serum manusia, sebagai media serum manusia diketahui mengandung protein sebanyak 7% (Depkes, 1989). Germ tube test dari Candida albicans tidak mempunyai rangkaian atau struktur seperti asalnya, material sel yang baru yang menyusun germ tube memperlihatkan bentuk pseudohifa yang diperoleh dari proses pertunasan blastospora (Oktari, 2007). Faktor yang mempengaruhi germ tube adalah waktu inkubasi dan suhu. (Tjampakasari, 2006). 2.1 Metode Penelitian 2.1.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan bersifat eksperimen yaitu adanya perlakuan terhadap sampel kemudian diukur pengaruhnya terhadap sampel. 2.1.2 Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah Static Group Comparison. 2.1.3 Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah isolat primer Candida albicans dari selaput lendir mulut. Sedangkan sampel dalam penelitian ini yaitu isolat primerCandida albicans dari selaput lendir mulut 10 bayi di Pasir Gunting Cimenyan. 2.1.4 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Lababoratorium Biologi STA Bakti Asih Bandung Jl. Padasuka Atas No.233 Bandung yang dilaksanakan pada bulan 25 Juni 14 Juli 2011. 2.1.5 Alat, Bahan dan Metode 2.1.5.1 Alat Cawan petri, batang pengaduk, gelas kimia 250 mL, kaki tiga, kasa asbes, neraca analitik, kaca objek, kaca penutup, mikroskop, lensa Objektif berskala, inkubator, ose tusuk, tabung reaksi, kapas steril, pH universal, jangka sorong, bunsen, erlenmeyer 250 mL, dan 500 mL, otoklaf dan kertas timbang 2.1.5.2 Bahan Isolat primer , Corn Meal Agar (CMA), tepung maizena, Alkohol 70%, gula pasir, agar batang, LPCB (Lactophenol Cotton Blue) 2.1.5.3 Metode Metode yang digunakan adalah mikroskopik dan makroskopik

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


3.1

Hasil Pengamatan Makroskopik Gambar koloni Candida albicans pada media CMA formula hari ke-5 Gambar koloni Candida albicans pada media CMA modifikasi hari ke-5 3.2 Hasil pengamatan mikroskopik Gambar pseudohifa Candida albicans pada media CMA formula Gambar pseudohifa Candida albicans pada media CMA modifikasi 3.3 Analisis Data Ringkasan hasil perhitungan ANOVA Two-Ways Source of Variation SS Df MS F Rows 4.75335 19 0.250176 5.251287 Columns 72.70679 4 18.1767 381.5351 Error 3.620712 76 0.047641 Total 81.08085 99

P-value F crit 8.4932E-08 1.725029 1.8315E-49 2.492049

Ringkasan hasil perhitungan Uji T Variable 1 Variable 2 Mean 443.3 433 Variance 8426.455556 15012.22 Observations 10 10 Pearson Correlation 0.87844964 Hypothesized Mean Difference 0 Df 9 t Stat 0.537037322 P(T<=t) one-tail 0.302131315 t Critical one-tail 1.833112923 P(T<=t) two-tail 0.604262631 t Critical two-tail 2.262157158 3.4 Pembahasan Hasil dari pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis, kemudian di uji secara perhitungan statistik untuk pemeriksaan makroskopis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan

diameter koloni Candida albicans pada media CMA (Corn Meal Agar) modifikasi dan CMA (Corn Meal Agar) formula, sedangkan untuk pemeriksaan mikroskopistidak terdapat perbedaan panjang pseudohifa Candida albicans pada media CMA (Corn Meal Agar) modifikasi dan media CMA (Corn Meal Agar) formula.

KESIMPILAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian yang telah ditelaah maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Terdapat perbedaan diameter koloni Candida albicans pada media CMA (Corn Meal Agar) modifikasi dan CMA (Corn Meal Agar) formula. Sehingga media CMA formula lebih baik digunakam daripada media CMA modifikasi dalam pengukuran diameter koloni Candida albicans. 2. Tidak terdapat perbedaan panjang pseudohifa Candida albicans pada media CMA (Corn Meal Agar) modifikasi dengan CMA (Corn Meal Agar) formula. Sehingga media CMA modifikasi dapat dijadikan sebagai media alternatif untuk pertumbuhan pseudohifa Candida albicans. 4.2 Saran Diharapkan adanya penelitian lanjutan agar metode ini dapat disempurnakan sehingga benarbenar dapat direkomendasikan dan dipublikasikan sebagai media alternatif. Bagi para peneliti yang ingin melanjutkan penelitian ini diharapkan : 1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan isolat primer selain selaput lendir pada lidah. 2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan konsentrasi gula pasir yang ditambahkan pada CMA modifikasi selain 0,3%
http://vqwardana.blogspot.com/2012/10/makalah-kti.html

Candida albicans
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Candida albicans

Klasifikasi ilmiah Kerajaa Fungi n: Filum: Upafilu m: Kelas: Ascomycota Saccharomycotin a Saccharomycete s Saccharomycetal es Saccharomyceta ceae Candida

Ordo:

Famili:

Genus:

Spesies: C. albicans

Nama binomial

Candida albicans
(C.P. Robin) Berkhout 1923

Sinonim Candida stellatoidea[1] Oidium albicans[2] Candida albicans adalah spesies cendawan patogen dari golongan deuteromycota. Spesies cendawan ini merupakan penyebab infeksi oportunistik yang disebut kandidiasispada kulit, mukosa, dan organ dalam manusia.[3] Beberapa karakteristik dari spesies ini adalah berbentuk seperti telur (ovoid) atau sferis dengan diameter 3-5 m dan dapat memproduksi pseudohifa.[3] Spesies C. albicans memiliki dua jenis morfologi, yaitu bentuk seperti khamir dan bentuk hifa. Selain itu, fenotipe atau penampakan mikroorganisme ini juga dapat berubah dari berwarna putih dan rata menjadi kerut tidak

beraturan, berbentukbintang, lingkaran, bentuk seperti topi, dan tidak tembus cahaya.[4] Cendawan ini memiliki kemampuan untuk menempel pada sel inang dan melakukan kolonisasi. [4]

Dampak Candida bagi Kesehatan[sunting sumber]


Di dalam tubuh, Candida akan dikontrol oleh bakteri baik agar tetap berada dalam jumlah yang rendah dan seimbang. Bakteri baik dalam tubuh akan bekerja dengan cara memakan Candida. Sayangnya, antibiotik, pil pengontrol kehamilan, kortison, alkohol, sebagian besar makanan junk food, dan kemoterapi akan membunuh bakteri menguntungkan dalam tubuh (probiotik) sehingga menyebabkan jumlah Candida tidak terkendali. Saat pertumbuhannya berlebihan, Candida akan mengkolonisasi saluran pencernaan, berubah menjadi jamur, dan membentuk struktur seperti akar yang disebut rizoid. Struktur rizoid dapat menembus mukosa atau dinding usus, membuat lubang berukuran mikroskopik, dan menyebabkanracun, partikel makanan yang tidak tercerna, serta bakteri dan khamir dapat masuk ke alam aliran darah. Kondisi tersebut disebut sebagai sindrom kebocoran usus (leaky gut syndrome). Kebocoran pada dinding usus akan menyebabkan khamir seperti Candida dapat menyebar ke berbagai bagian tubuh, seperti mulut, sinus, tenggorokan, saluran reproduksi, jantung, dan kulit.[5] Cendawan ini dapat memproduksi etanol (alkohol) yang memiliki efek intoksifikasi dalam darah bila kadarnya terlalu tinggi. Etanol tersebut dihasilkan dengan cepat ketika Candida memiliki sumber makanan berupa gula putih dan beberapa produk tepung lainnya. Di dalam kondisi yang akut, etanol diproduksi berlebihan hingga liver tidak dapat mengoksidasi dan mengeliminasinya. Selain itu, Candida juga dapat menyebabkan masalah menstrual dan hipotiroid. Candida dapat memproduksi hormon estrogen palsu sehingga tubuh menangkap sinyal bahwa produksi estrogen sudah mencukupi dan harus produksi hormon tersebut dihentikan. Masalah lainnya adalah pengiriman sinyal ke tiroid yang membuat produksi tiroksin dihentikan.[6]

Pengobatan[sunting sumber]
Untuk mengatasi Candida, dapat dilakukan empat hal utama, yaitu membunuh khamir tersebut, mengurangi atau membatasi penggunaan antibiotik dan obat imunosupresif, diet atau pengurangan makanan yang dibutuhkan Candida untuk berkembang, menyembingkan dan meningkatkan sistem imun tubuh dengan penemenuhan kebutuhan nutrisi tubuh secara tepat. [7] Salah satu cara terbaik untuk mengontrol Candida dalam tubuh melalui diet makanan adalah menghindari konsumsi segala jenis gula, tepung putih (white flour), minuman beralkohol, jamur, acar, makanan hasil fermentasi, kacang kering, keripik kentang, pretzel, junk food, bacon, daging babi hasil penggaraman, daging dan segala jenis keju.[6]

http://id.wikipedia.org/wiki/Candida_albicans

MORFOLOGI MIKROBIA
I. JUDUL MORFOLOGI MIKROBIA

II.

TUJUAN Pengamatan makroskopis : Mempelajari morfologi koloni, karakter pertumbuhan masing-masing jenis kapang pada medium Pengamatan mikroskopis : Mengenal ciri-ciri morfologis secara mikroskopis guna membedakan spesies satu dengan lainnya

III. DASAR TEORI 3.1. Candida Albicans Pengertian Candida Albicans

3.1.1.

Candida albicans adalah spesies cendawan patogen dari golongandeuteromycota. Spesies cendawan ini merupakan penyebab infeksi oportunistik yang disebut kandidiasis pada kulit, mukosa, dan organ dalam manusia. Beberapa karakteristik dari spesies ini adalah berbentuk seperti telur (ovoid) atau sferis dengandiameter 3-5 m dan dapat memproduksi pseudohifa. Spesies C. albicans memiliki dua jenis morfologi, yaitu bentuk seperti khamir dan bentuk hifa. Selain itu, fenotipeatau penampakan mikroorganisme ini juga dapat berubah dari berwarna putih dan rata menjadi kerut tidak beraturan, berbentuk bintang, lingkaran, bentuk seperti topi, dan tidak tembus cahaya. Cendawan ini memiliki kemampuan untuk menempel pada sel inang dan melakukan kolonisasi. 3.1.2. Dampak Candida bagi Kesehatan

Di dalam tubuh, Candida akan dikontrol oleh bakteri baik agar tetap berada dalam jumlah yang rendah dan seimbang. Bakteri baik dalam tubuh akan bekerja dengan cara memakan Candida. Sayangnya, antibiotik, pil pengontrol kehamilan, kortison, alkohol, sebagian besar makanan junk food, dan kemoterapi akan membunuh bakteri menguntungkan dalam tubuh (probiotik) sehingga

menyebabkan jumlah Candida tidak terkendali. Saat pertumbuhannya berlebihan, Candida akan mengkolonisasi saluran pencernaan, berubah menjadi jamur, dan membentuk struktur seperti akar yang disebut rizoid. Struktur rizoid dapat menembus mukosa atau dinding usus, membuat lubang berukuran mikroskopik, dan menyebabkan racun, partikel makanan yang tidak tercerna, serta bakteri dan khamir dapat masuk ke alam aliran darah. Kondisi tersebut disebut sebagai sindrom kebocoran usus ( leaky gut syndrome). Kebocoran pada dinding usus akan menyebabkan khamir seperti Candida dapat menyebar ke berbagai bagian tubuh, seperti mulut, sinus,tenggorokan, saluran reproduksi, jantung, dan kulit. Cendawan ini dapat memproduksi etanol (alkohol) yang memiliki efek intoksifikasi dalam darah bila kadarnya terlalu tinggi. Etanol tersebut dihasilkan dengan cepat ketika Candida memiliki sumber makanan berupa gula putih dan beberapa produk tepung lainnya. Di dalam kondisi yang akut, etanol diproduksi berlebihan hingga liver tidak dapat mengoksidasi dan mengeliminasinya. Selain itu,Candida juga dapat menyebabkan masalah menstrual dan hipotiroid. Candida dapat memproduksi hormon estrogen palsu sehingga tubuh menangkap sinyal bahwa produksi estrogen sudah mencukupi dan harus produksi hormon tersebut dihentikan. Masalah lainnya adalah pengiriman sinyal ke tiroid yang membuat produksi tiroksin dihentikan. 3.1.3. Pengobatan

Untuk mengatasi Candida, dapat dilakukan empat hal utama, yaitu membunuh khamir tersebut, mengurangi atau membatasi penggunaan antibiotik dan obat imunosupresif, diet atau pengurangan makanan yang dibutuhkan Candida untuk berkembang, menyembingkan dan meningkatkan sistem imun tubuh dengan penemenuhan kebutuhan nutrisi tubuh secara tepat. Salah satu cara terbaik untuk mengontrol Candida dalam tubuh melalui diet makanan adalah menghindari konsumsi segala jenis gula, tepung putih (white flour), minuman beralkohol, jamur, acar, makanan hasil fermentasi, kacang kering, keripik kentang, pretzel, junk food, bacon, daging babi hasil penggaraman, daging dan segala jenis keju. http://id.wikipedia.org/wiki/Candida_albicans

3.2.

Saccharomyces cereviceae Saccharomyces adalah genus dalam kerajaan jamur yang mencakup banyak jenis ragi. Saccharomyces adalah dari berasal dari bahasa Latin yang berarti gula

jamur. Banyak anggota dari genus ini dianggap sangat penting dalam produksi makanan. Salah satu contoh adalah Saccharomyces cerevisiae, yang digunakan dalam pembuatan anggur, roti, dan bir. Anggota lain dari genus ini termasuk Saccharomyces bayanus, digunakan dalam pembuatan anggur, dan Saccharomyces boulardii, digunakan dalam obat-obatan. Koloni dari Saccharomyces tumbuh pesat dan jatuh tempo dalam 3 hari. Mereka rata, mulus, basah, glistening atau kuyu, dan cream untuk cream tannish dalam warna. Ketidakmampuan untuk memanfaatkan nitrat dan kemampuan untuk berbagai memfermentasi karbohidrat adalah karakteristik khas dari Saccharomyces. Blastoconidia (sel tunas sisi) yang diamati. Mereka adalah unicellular, bundar, dan ellipsoid untuk memperpanjang dalam bentuk. Multilateral (multipolar) budding ciri khasnya. Pseudohyphae, jika ada, yang belum sempurna. Hyphae yang absen. Saccharomyces memproduksi ascospores, khususnya bila tumbuh di V-8 media, asetat ascospor agar, atau Gorodkowa media. Ascospores ini adalah bundar dan terletak di asci. Setiap ascus berisi 1-4 ascospores. Asci tidak menimbulkan perpecahan pada saat jatuh tempo. Ascospores yang berwarna dengan Kinyoun noda dan ascospore noda. Bila dikotori dengan noda Gram, ascospores adalah gram-negatif sedangkan sel vegetatif adalah gram positif. Jamur Saccharomyces cerevisiae, atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama jamur ragi, telah memiliki sejarah yang luar biasa di industri fermentasi. Karena kemampuannya dalam menghasilkan alkohol inilah, S. cerevisiae disebut sebagai mikroorganisme aman (Generally Regarded as Safe) yang paling komersial saat ini. Dengan menghasilkan berbagai minuman beralkohol, mikroorganisme tertua yang dikembangbiakkan oleh manusia ini memungkinkan terjadinya proses bioteknologi yang pertama di dunia. Seiring dengan berkembangnya genetika molekuler, S. cerevisiae juga digunakan untuk menciptakan revolusi terbaru manusia di bidang rekayasa genetika. S. cerevisiae yang sering mendapat julukan sebagai super jamur telah menjadi mikroorganisme frontier di berbagai bioteknologi modern. Tentu saja kegunaan mikroorganisme ini pun menjadi semakin penting di dunia industri fermentasi. Saat ini S. cerevisiae tidak saja digunakan dalam bidang fermentasi tradisional, tetapi mikroorganisme-mikroorganisme S. cerevisiae baru yang didapatkan dari riset dan aplikasi bioteknologi telah merambah sektor-sektor komersial yang penting, termasuk makanan, minuman, biofuel, kimia, industri enzim, pharmaceutical, agrikultur, dan lingkungan. Di masa depan, terutama karena krisis energi yang semakin sering terjadi, etanol yang diproduksi oleh

fermentasi jamur ragi ini agaknya akan mendapat perhatian khusus karena potensinya sebagai biofuel. S. cerevisiae adalah jamur bersel tunggal yang telah memahat milestones dalam kehidupan dunia. Jamur ini merupakan mikroorganisme pertama yang dikembangbiakkan oleh manusia untuk membuat makanan (sebagai ragi roti, sekitar 100 SM, Romawi kuno) dan minuman (sebagai jamur fermentasi bir dan anggur, sekitar 7000 SM, di Assyria, Caucasia, Mesopotamia, dan Sumeria). Di Indonesia sendiri, jamur ini telah melekat dalam kehidupan sehari-hari. Nenek moyang kita dan hingga saat ini kita sendiri menggunakannya dalam pembuatan makanan dan minuman, seperti tempe, tape, dan tuak. Di dunia sains, mikroorganisme ini adalah yang pertama kali diobservasi melalui mikroskop oleh Bapak Ahli MikrobiologiAntonie van Leewenhoek. Louis Pasteur, yang terkenal dalam penemuannya mengenai cara pensterilan susu, menggunakannya sebagai bahan biokimia hidup dalam proses transformasi. Jamur ini juga digunakan sebagai pabrik tempat pembuatan vaksin hepatitis B rekombinan yang pertama. Tak hanya itu, S. cerevisiae juga merupakan pabrik enzim makanan pertama (chymosin, enzim yang digunakan dalam pembuatan keju). Dan tentu saja penemuan spektakuler dalam memecahkan seluruh sekuens genom S. cerevisiae merupakan langkah pionir yang menentukan dalam menguak misteri sekuens genom manusia. Hampir semua teknologi frontier, seperti genomik, proteomik, dan nanobioteknologi, menggunakan jamur ini sebagai model. Tidak diragukan lagi bahwa inovasi sains dan teknologi juga akan semakin melaju di bidang bioekonomi. S. cerevisiae, sebagai model sains dan mikroorganisme komersial yang populer, akan terus memegang peranan penting di masa depan. Di masa depan, S. cerevisiae akan menjadi sel inang yang semakin diperhitungkan dalam pembuatan low volume, high value produk bioteknologi, seperti enzim, bahan-bahan kimia, protein terapi, dan produk pharmaceutical lainnya yang berdaya komersial tinggi. Selain menghasilkan 800.000 ton protein dalam setahun, telah dihasilkan pula 60 juta ton bir, 30 juta ton anggur, dan 600.000 ton jamur ragi. Tak mengherankan mikroorganisme ini merupakan tulang punggung dalam produksi empat komoditas fermentasi terbesar di dunia. Oleh karena itu, biomass jamur (baik untuk industri makanan manusia dan ternak) dan produksi tradisional etanol (untuk industri bir, anggur, minuman suling, dan energi) diperkirakan akan terus menyumbangkan produksi fermentasi terbanyak di dunia.

Dalam bidang energi, jamur ragi sebagai pabrik etanol merupakan suatu strategi alternatif yang telah dikembangkan di beberapa negara, seperti Brasil, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat. Saat ini biomass tanaman adalah sumber biofuel yang paling banyak dikembangkan karena harganya yang murah dan persediaannya yang mudah didapat. Sayangnya, salah satu penghambat justru adalah langkanya low-cost technology dalam pengolahan tanaman menjadi etanol. Tentu saja tidak sembarang jamur ragi dipakai, melainkan beberapa strain S. cerevisiae yang telah direkayasa daur metabolismenya secara genetika sehingga dapat menghasilkan etanol secara efektif dan efisien. Biofuel dalam bentuk etanol merupakan salah satu harapan masa depan dari superjamur ini. Alasan utama dari penggunaan etanol adalah sumber energi yang sustainable dan ramah lingkungan serta sangat menguntungkan secara ekonomi makro terhadap komunitas pedesaan (petani). Seiring dengan itu, krisis energi dalam bentuk minyak bumi diperkirakan akan terjadi sehubungan dengan prediksi bahwa produksi minyak dunia akan memuncak dalam waktu 25 tahun mendatang dan selanjutnya menurun secara drastis. Bagi negara-negara yang relatif miskin sumber daya minyak dan pengekspor minyak dunia, hal ini sangat mengancam kesejahteraan mereka, bahkan dapat mengancam pertahanan dan keamanan mereka. Oleh karena itu, mereka berpacu dengan waktu untuk mengembangkan dan mengaplikasikan teknologi baru yang dapat memuluskan transisi energi oil menuju energi biofuel yang dapat diperbarui. Tentu saja, bagi negara berkembang seperti Indonesia, pekerjaan rumah yang utama adalah bagaimana memanfaatkan sumber daya hayati jamur di Indonesia sehingga dapat mengembangkan ilmu sekaligus memajukan ekonomi berbasiskan ilmu pengetahuan ini. Beberapa peneliti Indonesia dengan kredibilitas tinggi di beberapa perguruan tinggi dan lembaga penelitian telah menemukan ratusan jenis jamur, bahkan lebih. Langkah selanjutnya adalah bagaimana kekayaan ini dimanfaatkan seoptimal mungkin, baik di bidang sains dasar maupun di bidang bioekonomi. (Zulfadly, 2009)

IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Alat dan Bahan 4.1.1. Alat

4.1.2. -

Cawan petri Jarum inokulasi Bunsen Kaca benda Kaca penutup Jarum preparat Bahan

Biakan murni Aspergilus flavus, Candida albicans , dan Saccharomyces cerevisae Alkohol 70 % Alcohol asam Crystal violet Safranin

Kertas tissue Air

4.2.Cara Kerja a. Morfologi jamur benang/kapang (makroskopis)

Memanaskan media PDA/CDA tegak hingga mencair, kemudian tuang secara aseptic ke dalam petridish steril, tunggu hingga dingin dan memadat

Memindahkan sedikit biakan masing-masing spesies kapang di permukaan media

Menginkubasi selama 4-15 hari pada temperature kamar

Mengamati setiap hari perubahan pada koloni

Mencatat semua yang diamati

b. Membuat slide culture pada biakan Aspergillus sp.

Menyediakan cawan petri

Mengalasi cawan petri dengan tissue yang dibasahi dengan aquades

Pada pinggiran tissue diberi tusuk gigi

Meletakkan kaca benda diatas tusuk gigi pada cawan petri tersebut

Mengambil biakan Aspergillus sp. dengan jarum inokulasi dan menggoreskan

biakan tersebut pada pinggiran kaca benda kemudian tutup dengan kaca penutup

Mengamati dan mencatat

c. Pengamatan jamur benang/kapang (mikroskopis) Membersihkan gelas objek dan kaca penutup dengan alcohol 70%, kemudian

teteskan beberapa larutan laktofenol/laktofenol cotton blue diatas permukaan gelas objek

Mengambil sedikit koloni dari biakan dengan jarum inokulasi , meletakkan pada

larutan laktofenol dan uraikan dengan jarum preparat

Menutup dengan kaca penutup

Mengamati dibawah mikroskop dari perbesaran lemah ke kuat

Mencatat dan menggambar semua yang diamati

d. Pengecatan spora khamir

Mensuspensikan biakan murni khamir dalam aquades steril, mengambil dengan

ose lalu ratakan skitar 1 cm

Mengeringkan, lalu fiksasi dengan lampu Bunsen 5-7 kalidiatas api

Menetesi noda biakan dengan cat aniline crystal violet dan panasi selama 3 menit,

jaga jangan sampai kering.

Mencuci dengan air mengalir

Melarutkan dengan alcohol asam

Mencuci dengan air mengalir

Menetesi dengan safranin selama 5-10 detik

Mencuci dengan air mengalir

Mengamati dibawah mikroskop dengan perbesaran dari lemah ke kuat

Menggambar dan beri keterangan lengkap sel

V. PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini, kami melakukan pengamatan tentang Morfologi Mikrobia yang bertujuan untuk mempelajari morfologi koloni, karakter pertumbuhan pada masing masing jenis kapang pada medium dan mengenal ciri-ciri morfologi secara makroskopis dan mikroskopis guna membedakan spesies satu dengan lainnya. Adapun jamur yang digunakan dalam praktikum kali ini ada 3 macam, yaitu Aspergillus flavus, Candida albicans, dan Saccharomyes cerevisiae. Dalam praktikum ini ada beberapa tahap, yaitu penanaman biakan jamur ke dalam medium padat, pembuatan slide kultur pada Aspergillus flavus dan pewarnaan pada Saccharomyces cerevisiae danCandida albicans. Langkah awal yang dilakukan adalah penanaman jamur. Penanaman jamur dilakukan dengan memindahkan koloni jamur dari biakan murni yang berada pada medium agar miring ke dalam medium cawan dengan menggunakan ose. Perlu diperhatikan bahwa penanaman jamur ini harus dilakukan dalam keadaan steril. Sebelum dilakukan penanaman, meja di sekitar harus disemprot dengan alcohol dan diberi Bunsen agar tidak terkontaminan. Selain itu, dalam melakukan penanaman harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengenai diri sendiri. Hal ini karena, salah satu jamur tersebut ada yang merugikan yaitu jamur Candida albicans yang bisa menyebabkan keputihan. Setelah melakukan penanaman biakan jamur, hasil biakan tersebut harus diinkubasi selama 3 hari dalam suhu kamar. Kemudian diamati perubahan yang terjadi pada koloni tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh hasil sebagai berikut : Pada Aspergillus flavus kelompok 1, terlihat garis-garis zig-zag hijau yang menunjukkan alur pertumbuhan fungi Aspergillus flavus. Alur pertumbuhan tersebut terlihat beraturan dan terdapat koloni spora serta miselium. Warna koloni adalah hijau kekuningan.

Pada Aspergillus flavus kelompok 2, dapat dilihat bahwa alur pertumbuhan fungi tidak beraturan. Selain itu, kemungkinan pada jamur kelompok 2 ini engalami kontaminasi. Pada Candida albicans kelompok 3, terlihat bahwa biakan albicansberwarna putih. Alur pertumbuhannya terlihat jelas. jamur Candida

Pada Candida albicans kelompok 4, alur pertumbuhannya juga terlihat jelas. Namun tampak adanya kontaminasi yang ditunjukkan dengan adanya koloni berwarna hitam. Kontaminasi tersebut dapat terjadi dikarenakan kurang sterilnya tempat atau alat dan pada saat proses penanaman terdapat spora asing yang ikut masuk atau menempel pada medium pada saat proses penanaman berlangsung. Pada Saccharomyces cerevisiae kelompok 5, tampak adanya titik-titik putih yang menunjukkan alur pertumbuhan Pada Saccharomyces cerevisiae kelompok 6, alur pertumbuhan juga nampak jelas. Namun, di tepi-tepi nampak adanya kontaminasi berupa benang-benang. Setelah dilakukan pengamatan, langkah selanjutnya yaitu melakukan pewarnaan pada jamurCandida albicans dan Saccharomyces cerevisiae. Sedangkan pada Aspergillus flavushanya dilakukan penanamn slide kultur. Disiapkan sebuah cawan Petri steril yang di dalamnya diberi kertas saring steril yang dipotong bundar dan telah dilembabkan dengan menggunakan akuades steril untuk menjaga kelembaban kultur dalam cawan Petri. Pada cawan Petri tersebut disimpantusuk gigi penahan, dan di atas batang penahan tersebut diletakkan sebuah objek gelas steril beserta penutupnya. Ambil sedikit koloni pada petridish dengan menggunakan ose dan oleskan pada gelas objek. Kemudian, fungi diinkubasi pada keempat blok agar dan ditutup oleh gelas penutup steril Setelah beberapa hari diinkubasi dalam suhu kamar, sllide dapat diamati dengan menggunakan mikroskop pada perbesaran rendah sampai tinggi, lalu diidentifikasi. Hasil pengamatan slide kultur jamur Aspergillus flavus pada kelompok 1 menunjukkan adanya konidiofor tak berwarna dari jamur. Selain itu, juga kasar dan bagian atas agak membulat serta konidia kasar dengan bermacam-macam warna. Begitu pula pada hasil pengamatan kelompok 2 dengan jamur yang sama, menunjukkan hasil bahwakonidiofor dari jamur tak berwarna, kasar, bagian atas agak membulat serta konidia kasar dengan bermacam-macam warna. Selanjutnya, untuk pewarnaan jamur Candida albicans dan Saccharomyces cerevisiae dilakukan dalam beberapa tahap. Langkah pertama yaitu mengambil

satu ose biakan jamur yang ada di medium cawan petri dan diratakan di atas kaca benda. Kemudian dikering anginkan dan difiksasi dengan Bunsen. Hal ini bertujuan agar biakan jamur melekat pada preparat. Langkah selanjutnya yaitu menetesi kaca benda dengan larutan cat anylin crystal violet. Larutan ini memberikan warna ungu. Kemudian memanaskan kaca benda yg telah ditetesi larutan tersebut diatas Bunsen. Setelah itu dicuci dengan air mengalir. Kemudian ditambahkan lagi dengan larutan cat safranin dan biarkan hingga 10-15 detik. Lalu kembali dicuci dengan air mengalir. Pencucian dengan air ini untuk menghilangkan kelebihan larutan yang tidak dapat diserap oleh biakan jamur. kemudian, biakan jamur yang telah diwarnai tersebut diamati dibawah mikroskop. Berdasarkan hasil pengamatan dari kelompok 3 dengan menggunakan jamurCandida albicans, menunjukkan bahwa biakan Candida albicans berwarna bulat merah agak lonjong dan antara sel jamur yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan hingga membentuk seperti untaian. Hal ini sesuai dengan teori yang ada dimana menyebutkan bahwa Candida albicans merupakan jamur dimorfik karena kemampuannya untuk tumbuh dalam dua bentuk yang berbeda yaitu sebagai sel tunas yang akan berkembang menjadi blastospora dan menghasilkan kecambah yang akan membentuk hifa semu. Sedangkan hasil pengamatan dari kelompok 4 menunjukkan bahwa Candida albicans mempunyai morfologi bulat lonjong dan berwarna merah dan juga antara sel jamur yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan hingga membentuk seperti untaian. Berdasarkan hasil pengamatan dari kelompok 5 dengan menggunakan jamurSaccharomyces cereviseae, menunjukkan bahwa tampak morfologi Saccharomyces cereviceae berwarna merah karena pewarnaan dan bulat agak lonjong dengan pertumbuhan sel yang membentuk koloni atau menyendiri. Bentuk khamir dapat sperikal sampai ovoid, kadang dapat membentuk miselium semu. Sedangkan hasil pengamatan dari kelompok 6 dengan jamur yang sama menunjukkan hasil yaitu fungi menjadi berwarna merah dan tampak morfologi jamur yang bulat dan agak lonjong membentuk koloni atau menyendiri.Saccharomyces cereviceae termasuk dalam golongan fungi yang dibedakan bentuknya dari mould (kapang) karena berbentuk uniseluler. Yeast adalah salah satu mikroorganisme yang termasuk dalam golongan fungi yang dibedakan bentuknya dari mould (kapang) karena berbentuk uniseluler. Reproduksi vegetatif pada khamir terutama dengan cara pertunasan. Sebagai sel tunggal yeast tumbuh dan berkembang biak lebih cepat dibanding dengan mouldyang tumbuh dengan pembentukan filamen. Yeast sangat mudah dibedakan dengan mikroorganisme yang lain misalnya dengan bakteri, yeast mempunyai ukuran sel yang lebih besar dan

morfologi yang berbeda. Sedangkan dengan protozoa, yeast mempunyai dinding sel yang lebih kuat serta tidak melakukan fotosintesis bila dibandingkan dengan ganggang ataualgae. Dibandingkan dengan kapang dalam pemecahan bahan komponen kimia yeast lebih efektif memecahnya dan lebih luas permukaan serta volume hasilnya lebih banyak.

VII.KESIMPULAN 1. Pengamatan mikroskopis pada : Aspergillus flavus : terlihat garis garis zig-zag hijau yang menunjukkan alur pertumbuhan fungi dan beraturan setelah dilakukan penanaman kultur terlihat bahwa terdapat koloni spora dan miselium seperti yang di ketahui bahwa diketahui jamur ini memilki warna koloni corak kuning hijau atau kuning abu-abu Candida albicans : biakan jamur Candida albicans berwarna putih dan adanya kontaminasi. Hal ini di ketahui dari adanya koloni berwarna hitam bulat besar di bagian samping koloni , kontaminasi ini dapat terjadi dikarenakan kurang sterilnya tempat atau alat dan pada saat proses penanaman Saccharomyces cereviceae : Terlihat titik titik putih yang menunjukkan alur pertumbuhan dari jamur dan terdapat kontaminasi dengan adanya bercak hitam kecil di antara koloni jamur. Kontaminasi ini dapat terjadi dikarenakan kurang sterilnya tempat atau alat dan pada saat proses penanaman terdapat spora asing yang ikut masuk atau menempel pada medium pada saat proses penanaman berlangsung.

2. -

Pengamatn mikroskopis pada jamur Aspergillus flavus : konidiofor dari jamur tak berwarna, kasar, bagian atas agak membulat serta konidia kasar dengan bermacam-macam warna. Candida albicans : berwarna bulat merah agak lonjong dan antara sel jmaur yang satu dan yang lainnya saling berhubungan hingga membentuk seperti untaian. Saccharomyces cereviceae : tampak morfologi fungi yang bulat dan agak lonjong membentuk koloni atau menyendiri.

DAFTAR PUSTAKA Dwidjoseputro, D., 1989. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan: Malang. Hadiotomo, Ratna Siri., 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Gramedia : Jakarta. Tim Dosen Mikologi. 2011. Petunjuk Praktikum Mikologi. Jember : Universitas Jember. Volk, Wesley A dan Margareth F. Wheeler., 1998. Mikrobiologi Dasar Jilid I. Wesky- Publishing Company. New York Zulfadly. 2009. Jamur Ragi Saccharomyces cerevisiae [serial online]http://zhulmaycry.blogspot.com/2009/08/jamur-ragi-saccharomycescerevisiae.html[13 November 2011] http://id.wikipedia.org/wiki/Saccharomyces_cerevisiae [13 November 2011] http://laporanmikologi.blogspot.com/

Blog
Back to Blog Older Entry | Newer Entry

Candida Albicans

Posted by alinadamay on July 13, 2012 at 2:55 AM

Candida Albicans. Candidaalbicans merupakan jamur dimorfik karena kemampuannya


untuk tumbuh dalam dua bentukyang berbeda yaitu sebagai sel tunas yang akan berkembang menjadi blastosporadan menghasilkan kecambah yang akan membentuk hifa semu. Perbedaan bentuk ini tergantung pada faktor eksternal yang mempengaruhinya. Selragi (blastospora) berbentuk bulat, lonjong atau bulat lonjong dengan ukuran2-5 x 3-6 hingga 2-5,5 x 5-28 . Candida albicans berkembang biak dengan membentuk tunas yang akan terusmemanjang membentuk hifa semu. Hifa semu terbentuk dengan banyak kelompokblastospora

berbentuk bulat atau lonjong di sekitar septum. Pada beberapastrain, blastospora berukuran besar, berbentuk bulat atau seperti botol, dalamjumlah sedikit Sel ini dapat berkembang menjadiklamidospora yang berdinding tebal dan bergaris tengah sekitar 8-12 . Morfologi koloni Candida albicans pada medium padat agar Sabouraud Dekstrosa, umumnya berbentuk bulat denganpermukaan sedikit cembung, halus, licin dan kadangkadang sedikitberlipat-lipat terutama pada koloni yang telah tua. Umur biakan mempengaruhibesar kecil koloni. Warna koloni putih kekuningan dan berbau asam seperti aromatape. Dalam medium cair seperti glucose yeast, extract pepton, Candida albicanstumbuh di dasar tabung. Pada medium tertentu, di antaranyaagar tepung jagung (corn-meal agar), agar tajin (ricecream agar) atau agardengan 0,1% glukosa terbentuk klamidospora terminal berdinding tebal dalamwaktu 24-36 jam. Pada medium agar eosin metilen biru dengan suasana CO2 tinggi, dalam waktu 24-48jam terbentuk pertumbuhan khas menyerupai kaki laba-laba atau pohon cemara.Pada medium yang mengandung faktor protein, misalnya putih telur, serum atauplasma darah dalam waktu 1-2 jam pada suhu 37oC terjadi pembentukan kecambahdari blastospora. Candida albicans dapat tumbuhpada variasi pH yang luas, tetapi pertumbuhannya akan lebih baik pada pH antara4,5-6,5. Jamur ini dapat tumbuh dalam perbenihan pada suhu 28oC - 37oC. Candida albicans membutuhkansenyawa organik sebagai sumber karbon dan sumber energi untuk pertumbuhan danproses metabolismenya. Unsur karbon ini dapat diperoleh dari karbohidrat. Jamurini merupakan organisme anaerob fakultatif yang mampu melakukan metabolismesel, baik dalam suasana anaerob maupun aerob. Proses peragian (fermentasi) padaCandida albicans dilakukan dalam suasana aerob dan anaerob. Karbohidrat yangtersedia dalam larutan dapat dimanfaatkan untuk melakukan metabolisme seldengan cara mengubah karbohidrat menjadi CO2 dan H2O dalam suasana aerob. Sedangkan dalam suasana anaerob hasil fermentasi berupa asam laktat atau etanoldan CO2. Proses akhir fermentasi anaerob menghasilkan persediaan bahan bakaryang diperlukan untuk proses oksidasi dan pernafasan. Pada proses asimilasi,karbohidrat dipakai oleh Candida albicans sebagai sumber karbon maupun sumberenergi untuk melakukan pertumbuhan sel. Candida albicans dapat dibedakandari spesies lain berdasarkan kemampuannya melakukan proses fermentasi danasimilasi. Pada kedua proses ini dibutuhkan karbohidrat sebagai sumber karbon. Pada proses fermentasi, jamur ini menunjukkan hasil terbentuknya gas dan asampada glukosa dan maltosa, terbentuknya asam pada sukrosa dan tidak terbentuknyaasam dan gas pada laktosa. Pada proses asimilasi menunjukkan adanya pertumbuhanpada glukosa, maltosa dan sukrosa namun tidak menunjukkan pertumbuhan padalaktosa. Dinding sel Candida albicans berfungsi sebagai pelindung dan juga sebagai target dari beberapa antimikotik.Dinding sel berperan pula dalam proses penempelan dan kolonisasi

serta bersifatantigenik. Fungsi utama dinding sel tersebut adalah memberi bentuk pada sel danmelindungi sel ragi dari lingkungannya. Candida albicans mempunyai struktur dinding sel yang kompleks, tebalnya 100sampai 400 nm. Komposisi primer terdiri dari glukan, manan dan khitin. Manandan protein berjumlah sekitar 15,2-30 % dari berat kering dinding sel,-1,3-D-glukan dan *1,6-D-glukan sekitar 4760 %, khitin sekitar 0,6-9 %,protein 6-25 % dan lipid 1-7 %. Dalam bentuk ragi, kecambah dan miselium,komponen-komponen ini menunjukkan proporsi yang serupa tetapi bentuk miseliummemiliki khitin tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan sel ragi. Dinding sel Candida albicansterdiri dari lima lapisan yang berbeda. Segal dan Bavin (1994)memperlihatkan bahwa dinding sel Candida albicans terdiri dari lima lapisanyang berbeda. Membran sel Candida albicans sepertisel eukariotik lainnya terdiri dari lapisan fosfolipid ganda. Membran protein ini memiliki aktifitas enzim seperti manan sintase, khitinsintase, glukan sintase, ATPase dan protein yang mentransport fosfat. Terdapatnya membran sterol padadinding sel memegang peranan penting sebagai target antimikotik dan kemungkinanmerupakan tempat bekerjanya enzim-enzim yang berperan dalam sintesis dindingsel. Mitokondria pada Candida albicans merupakan pembangkit daya sel. Denganmenggunakan energi yang diperoleh dari penggabungan oksigen denganmolekul-molekul makanan, organel ini memproduksi ATP. Seperti halnya pada eukariot lain, nukleus Candida albicans merupakanorganel palingmenonjol dalam sel. Organ ini dipisahkan dari sitoplasma oleh membran yangterdiri dari 2 lapisan. Semua DNA kromosom disimpan dalam nukleus, terkemasdalam serat-serat kromatin. Isi nukleus berhubungan dengan sitosol melaluipori-pori nucleus. Vakuola berperan dalam sistempencernaan sel, sebagai tempat penyimpanan lipid dan granula polifosfat. Mikrotubul dan mikrofilamen berada dalam sitoplasma. Pada C. albicansmikrofilamen berperan penting dalam terbentuknya perpanjangan hifa.C. albicansmempunyai genom diploid. Kandungan DNA yang berasal dari sel ragi pada fasestasioner ditemukan mencapai 3,55 g/108sel. Ukuran kromosom Candidaalbicansdiperkirakan berkisar antara 0,95-5,7 Mbp. Beberapa metode menggunakanAlternating Field Gel Electrophoresis telah digunakan untuk membedakan strainC. albicans. Perbedaan strain ini dapat dilihat pada pola pita yang dihasilkandan metode yang digunakan. Strain yang sama memiliki pola pita kromosom yangsama berdasarkan jumlah dan ukurannya. Steven dkk (1990) mempelajari 17 strainisolat C. albicans dari kasus kandidosis. Dengan metode elektroforesis, 17isolat C. albicans tersebut dikelompokkan menjadi 6 tipe. Adanya variasi dalam jumlah kromosom kemungkinan besar adalah hasil darichromosome rearrangement yang dapat terjadi akibat delesi, adisi atau variasidari pasangan yang

homolog. Peristiwa ini merupakan hal yang sering terjadi danmerupakan bagian dari daur hidup normal berbagai macam organisme. Hal ini jugaseringkali menjadi dasar perubahan sifat fisiologis, serologis maupunvirulensi. Pada C. albicans, frekuensi terjadinya variasi morfologi koloni dilaporkansekitar 10-2 sampai 10-4 dalam koloni abnormal. Frekuensi meningkat olehmutagenesis akibat penyinaran UV dosis rendah yang dapat membunuh populasi kurangdari 10%.Terjadinya mutasi dapat dikaitkan dengan perubahan fenotip, berupaperubahan morfologi koloni menjadi putih smooth, gelap smooth, berbentukbintang, lingkaran, berkerut tidak beraturan, berbentuk seperti topi, berbulu,berbentuk seperti roda, berkerut dan bertekstur lunak.

Makalah identifikasi jamur C. albicans


BAB I. PENDAHULUAN I.1 Latar belakang Salah satu makhluk hidup yang banyak terdapat dilingkungan kita adalah fungus atau jamur. Baik jamur yang berukuran mikroskopik maupun yang berukuran makroskopik. Fungi merupakan organisme tingkat rendah yang belum mempunyai akar, batang, daun. Tubuh terdiri dari satu sel (uniseluller) dan bersel banyak (multiseluller). Sel berbentuk benang (hifa). Hifa akan bercabangcabang membentuk bangunan seperti anyaman yang disebut miselium. Sel bersifat eukaryotik, tidak mempunyai klorofil, sebagai parasit atau saprofit. Menyukai hidup pada tempat yang lembab dan tidak menyukai akan adanya cahaya. Terdapat beberapa divisi fungi antara lain Zygomycota, Ascomycota, Basidiomycota, Deuteromycota, dan Chytridiomycota. Salah satu dari divisi tersebut adalah divisi Ascomycota. Lebih dari 600.000 spesies Ascomycota telah dideskripsikan. Tubuh jamur ini tersusun atas miselium dengan hifa bersepta. Pada umumnya jamur dari divisio ini hidup pada habitat air bersifat sebagai saproba atau patogen pada tumbuhan. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang hidup bersimbiosis dengan ganggang membentuk Lichenes (lumut kerak). Divisi Ascomycota merupakan kelompok jamur yang paling banyak ditemukan, jamur ini hidup secara parasit dan menimbulkan penyakit, namun ada pula yang bermanfaat diantaranya dalam bidang teknologi pangan. Salah satu contoh dari Ascomycota adalah Candida albicans. Jamur ini tergolong jamur yang sangat merugikan bagi hewan dan khususnya manusia. Jadi dalam makalah ini akan dibahas mengenai Candida albicans sehingga kita akan mengetahui lebih mendalam tentang jamur tersebut. I.2. Rumusan masalah. I.2.1. Apakah yang dimaksud jamur Candida albicans? I.2.2.Bagaimanakah morfologi dari jamur Candida albicans?

I.2.3.Apa sajakah peranan dari jamur Candida albicans? I.2.4. Bagaimana klasifikasi jamur Candida albicans? I.3. Tujuan. I.3.1. Untuk mengetahui apa dimaksud jamur Candida albicans? I.3.2. Untuk mengetahui morfologi dari jamur Candida albicans? I.3.3.Untuk mengetahui peranan dari jamur Candida albicans? I.3.4. Untuk mengetahui klasifikasi jamur Candida albicans? BAB III METODE PRAKTIKUM 3.1 Alat dan dahan: Alat :


Bahan :

mikroskop, kaca benda, kaca penutup, ose, cawan petri, bunsen, vortex, tabung reaksi, inkubator.

PDA, alkohol, cat a(anilin crystal violet), cat b (safranin), aquadest, inokulum jamur Candida albicans.

3.2 Cara Kerja.

Pembuatan Mediaum Candida albicans Medium Potato Dexterosa Agar (PDA) Medium PDA meliputi medium cawan dan medium miring. Keduanya dari larutan PDA yaitu campuran serbuk dexterosa agar dan larutan poptato atau kentang dengan jumlah sesuai kebutuhan, setiap 15gr dexterosa agar dilarutkan dalam 1000 ml akuades dan setiap 200 gr kentang dilarutkan dalam 1000 ml air. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Didihkan akuades sesuai dengan ukuran yang diinginkan Setelah mendidih masukkan kentang yang telah dikupas dan dipotong kecil-kecil Diaduk-aduk selama 15menit Setelah 15menit angkat dan saring larutan kentang tersebut Tuangkan serbuk dextrose agar dalam karutan kentang yang sudah disaring Panaskan kembali hingga mendidih sambil diaduk-aduk Tuang sebanyak 25ml kedalam cawan petri dan 5ml dalam tabung reaksi

Pembuatan Inokulum Candida albicans Pembuatan inokulum Candida albicans dibuat untuk persediaan atau meremajakan jamur. Langkahlangkahnya meliputi 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sterilkan tangan teerlebih dahulu menggunakan alkohol 70% Panaskan ose diatas lampu bunsen Ambil 1ose dari biakan asal jkamur candida albicans Buat goresan/strike pada medium Panaskan ose yang telah digunakan diatas lampu bunsen Inkubasi pada suhu 30o Celcius selama waktu optimum jamur

Identifikasi Jamur Candida Albicans Karakteristik jamur dilakukan dengan cara pewarnaan khamir, langkah-lanhgkah pewarnaan kahamir meliputi: 1. 2. 3. 4. Satu ose jamur diambil dan diencerkan dengan aquades steril sebanyak 5 ml, kemudian divortek Ambil satu ose dan letakkan di atas gelas benda dan diratakan Kemudian dikering anginkan, setelah kering di fiksasi sebanyak 5-7kali di atas lampu bunsen Teteskan larutan cat anilin crystal violet (cat a), dan panaskan selama 3menit Sambil dijaga jangan sampai mendidih dan kering

5. 6. 7. 8. 9.

Dicuci dengan air mengalir Lunturkan dengan menggunakan larutan alkohol asam Cuci kembali dengan menggunakan air mengalir, dan kering angikan Tetesi dengan larutan cat safranin (cat b) selama 10-15 detik Cuci dengan air mengalir dan kering anginkan

10. Amati dengan mikroskop hingga perbesaran kuat dengan menggunakan minyak emersi Like Loading...

http://fairynight.wordpress.com/2011/01/19/makalah-identifikasi-jamur-c-albicans/


Fertilisasi Sindrom PMS Penyakit jantung Koroner Blog.UAD @ Hello world! ...

pages

about Me.. Sample Page

archives

December 2011 November 2011

Jamur penyebab Keputihan (Candida albicans)


Author: tauryska // Category: Biologi

13DEC

Candida albicans merupakan jamur dimorfik karena kemampuannya untuk tumbuh dalam dua bentuk yang berbeda yaitu sebagai sel tunas yang akan berkembang menjadi blastospora dan menghasilkan kecambah yang akan membentuk hifa semu. Perbedaan bentuk ini tergantung pada faktor eksternal yang mempengaruhinya. Sel ragi (blastospora) berbentuk bulat, lonjong atau bulat lonjong dengan ukuran 2-5 x 3-6 hingga 2-5,5 x 5-28 . Candida albicans memperbanyak diri dengan membentuk tunas yang akan terus memanjang membentuk hifa semu. Hifa semu terbentuk dengan banyak kelompok blastospora berbentuk bulat atau lonjong di sekitar septum. Pada beberapa strain, blastospora berukuran besar, berbentuk bulat atau seperti botol, dalam jumlah sedikit. Sel ini dapat berkembang menjadi klamidospora yang berdinding tebal dan bergaris tengah sekitar 8-12 . Morfologi koloni C. albicans pada medium padat agar Sabouraud Dekstrosa, umumnya berbentuk bulat dengan permukaan sedikit cembung, halus, licin dan kadang-kadang sedikit berlipat-lipat terutama pada koloni yang telah tua. Umur biakan mempengaruhi besar kecil koloni. Warna koloni putih kekuningan dan berbau asam seperti aroma tape. Dalam medium cair seperti glucose yeast, extract pepton, Candida albicans tumbuh di dasar tabung. Pada medium tertentu, di antaranya agar tepung jagung (corn-meal agar),agar tajin (rice-cream agar) atau agar dengan 0,1% glukosa terbentuk klamidospora terminal berdinding tebal dalam waktu 24-36 jam. Pada medium agar eosin metilen biru dengan suasana CO2 tinggi, dalam waktu 24-48 jam terbentuk pertumbuhan khas menyerupai kaki laba-laba atau pohon cemara. Pada medium yang mengandung faktor protein, misalnya putih telur, serum atau plasma darah dalam waktu 1-2 jam pada suhu 37 C terjadi pembentukan kecambah dari blastospora. Candida albicans dapat tumbuh pada variasi pH yang luas, tetapi pertumbuhannya akan lebih baik pada pH antara 4,5-6,5. Jamur ini dapat tumbuh dalam perbenihan pada suhu 28oC 37oC. Candida albicans membutuhkan senyawa organik sebagai sumber karbon dan sumber energi untuk pertumbuhan dan proses metabolismenya. Unsur karbon ini dapat diperoleh dari karbohidrat. Jamur ini merupakan organisme anaerob fakultatif yang mampu melakukan metabolisme sel, baik dalam suasana anaerob maupun aerob. Proses peragian (fermentasi) pada Candida albicans dilakukan dalam suasana aerob dan anaerob. Karbohidrat yang tersedia dalam larutan dapat dimanfaatkan untuk melakukan metabolisme sel dengan cara mengubah karbohidrat menjadi CO2 dan H2O dalam suasana aerob. Sedangkan dalam suasana anaerob hasil fermentasi berupa asam laktat atau etanol dan CO2. Proses akhir fermentasi anaerob menghasilkan persediaan bahan bakar yang diperlukan untuk proses oksidasi dan pernafasan. Pada proses asimilasi, karbohidrat dipakai oleh Candida albicans sebagai sumber karbon maupun sumber energi untuk melakukan pertumbuhan sel. Candida albicans dapat dibedakan dari spesies lain berdasarkan kemampuannya melakukan proses fermentasi dan asimilasi. Pada kedua proses ini dibutuhkan karbohidrat sebagai sumber karbon. Pada proses fermentasi, jamur ini menunjukkan hasil terbentuknya gas dan asam pada glukosa dan maltosa, terbentuknya asam pada sukrosa dan

tidak terbentuknya asam dan gas pada laktosa. Pada proses asimilasi menunjukkan adanya pertumbuhan pada glukosa, maltosa dan sukrosa namun tidak menunjukkan pertumbuhan pada laktosa. Struktur Fisik

Dinding sel Candida albicans berfungsi sebagai pelindung dan juga sebagai target dari beberapa antimikotik. Dinding sel berperan pula dalam proses penempelan dan kolonisasi serta bersifat antigenik. Fungsi utama dinding sel tersebut adalah memberi bentuk pada sel dan melindungi sel ragi dari lingkungannya. Candida albicans mempunyai struktur dinding sel yang kompleks, tebalnya 100 sampai 400 nm. Komposisi primer terdiri dari glukan, manan dan khitin. Manan dan protein berjumlah sekitar 15,2-30 % dari berat kering dinding sel, -1,3-D-glukan dan 1,6-D-glukan sekitar 47-60 %, khitin sekitar 0,6-9 %, protein 6-25 % dan lipid 1-7 %. Dalam bentuk ragi, kecambah dan miselium, komponen-komponen ini menunjukkan proporsi yang serupa tetapi bentuk miselium memiliki khitin tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan sel ragi. Dinding sel Candida albicans terdiri dari lima lapisan yang berbeda. Membran sel Candida albicans seperti sel eukariotik lainnya terdiri dari lapisan fosfolipid ganda. Membran protein ini memiliki aktifitas enzim seperti manan sintase, khitin sintase, glukan sintase, ATPase dan protein yang mentransport fosfat. Terdapatnya membran sterol pada dinding sel memegang peranan penting sebagai target antimikotik dan kemungkinan merupakan tempat bekerjanya enzim-enzim yang berperan dalam sintesis dinding sel. Mitokondria pada Candida albicans merupakan pembangkit daya sel. Dengan menggunakan energi yang diperoleh dari penggabungan oksigen dengan molekul-molekul makanan, organel ini memproduksi ATP. Seperti halnya pada eukariot lain, nukleus Candida albicans merupakan organel paling menonjol dalam sel. Organ ini dipisahkan dari sitoplasma oleh membran yang terdiri dari 2 lapisan. Semua DNA kromosom disimpan dalam nukleus, terkemas dalam serat-serat kromatin. Isi nukleus berhubungan dengan sitosol melalui pori-pori nucleus. Vakuola berperan dalam sistem pencernaan sel, sebagai tempat penyimpanan lipid dan granula polifosfat. Mikrotubul dan mikrofilamen berada dalam sitoplasma. Pada Candida albicans mikrofilamen berperan penting dalam terbentuknya perpanjangan hifa. Struktur Genetik

Candida albicans mempunyai genom diploid. Kandungan DNA yang berasal dari sel ragi pada fase stasioner ditemukan mencapai 3,55 g/108 sel. Ukuran kromosom Candida albicans diperkirakan berkisar antara 0,95-5,7 Mbp. Beberapa metode menggunakan Alternating Field Gel Electrophoresis telah digunakan untuk membedakan strain Candida albicans. Perbedaan strain ini dapat dilihat pada pola pita yang dihasilkan dan metode yang digunakan. Strain yang sama memiliki pola pita kromosom yang sama berdasarkan jumlah dan ukurannya. Steven dkk (1990) mempelajari 17 strain isolat Candida albicans dari kasus kandidosis. Dengan metode elektroforesis, 17 isolat Candida albicans tersebut dikelompokkan menjadi 6 tipe. Adanya variasi dalam jumlah kromosom kemungkinan besar adalah hasil dari chromosome rearrangement yang dapat terjadi akibat delesi, adisi atau variasi dari pasangan yang homolog. Peristiwa ini merupakan hal yang sering terjadi dan merupakan bagian dari daur hidup normal berbagai macam organisme. Hal ini juga seringkali menjadi dasar perubahan sifat fisiologis, serologis maupun virulensi. Pada Candida albicans, frekuensi terjadinya variasi morfologi koloni dilaporkan sekitar 10-2 sampai 10-4 dalam koloni abnormal. Frekuensi meningkat oleh mutagenesis akibat penyinaran UV dosis rendah yang dapat membunuh populasi kurang dari 10%. Terjadinya mutasi dapat dikaitkan dengan perubahan fenotip, berupa perubahan morfologi koloni menjadi putih smooth, gelap smooth, berbentuk bintang, lingkaran, berkerut tidak beraturan, berbentuk seperti topi, berbulu, berbentuk seperti roda, berkerut dan bertekstur lunak. Patogenesis Menempelnya mikroorganisme dalam jaringan sel pejamu menjadi syarat mutlak untuk berkembangnya infeksi. Secara umum diketahui bahwa interaksi antara mikroorganisme dan sel pejamu diperantarai oleh komponen spesifik dari dinding sel mikroorganisme, adhesin dan reseptor. Manan dan manoprotein merupakan molekulmolekul Candida albicans yang mempunyai aktifitas adhesif. Khitin, komponen kecil yang terdapat pada dinding sel Candida albicans juga berperan dalam aktifitas adhesive. Setelah terjadi proses penempelan, Candida albicans berpenetrasi ke dalam sel epitel mukosa. Dalam hal ini enzim yang berperan adalah aminopeptidase dan asam fosfatase. Apa yang terjadi setelah proses penetrasi tergantung dari keadaan imun dari pejamu. Pada umumnya Candida albicans berada dalam tubuh manusia sebagai saproba dan infeksi baru terjadi bila terdapat faktorpredisposisi pada tubuh pejamu. Faktor-faktor yang dihubungkan dengan meningkatnya kasus kandidosis antara lain disebabkan oleh :

Kondisi tubuh yang lemah atau keadaan umum yang buruk, misalnya: bayi baru lahir, orang tua renta, penderita penyakit menahun, orang-orang dengan gizi rendah.

Penyakit tertentu, misalnya: diabetes mellitus. Kehamilan. Rangsangan setempat pada kulit oleh cairan yang terjadi terus menerus, misalnya oleh air, keringat, urin atau air liur. Penggunaan obat di antaranya: antibiotik, kortikosteroid dan sitostatik.

Faktor predisposisi berperan dalam meningkatkan pertumbuhan Candida albicans serta memudahkan invasi jamur ke dalam jaringan tubuh manusia karena adanya perubahan dalam sistem pertahanan tubuh. Blastospora berkembang menjadi hifa semu dan tekanan dari hifa semu tersebut merusak jaringan, sehingga invasi ke dalam jaringan dapat terjadi. Virulensi ditentukan oleh kemampuan jamur tersebut merusak jaringan serta invasi ke dalam jaringan. Enzim-enzim yang berperan sebagai faktor virulensi adalah enzim-enzim hidrolitik seperti proteinase, lipase dan fosfolipase. Epidemiologi Candida albicans dapat ditemukan di mana-mana sebagai mikroorganisme yang menetap di dalam saluran yang berhubungan dengan lingkungan luar manusia (rektum, rongga mulut dan vagina). Prevalensi infeksi Candida albicans pada manusia dihubungkan dengan kekebalan tubuh yang menurun, sehingga invasi dapat terjadi. Meningkatnya prevalensi infeksi Candida albicans dihubungkan dengan kelompok penderita dengan gangguan sistem imunitas seperti pada penderita AIDS, penderita yang menjalani transplantasi organ dan kemoterapi antimaligna. Selain itu makin meningkatnya tindakan invasif, seperti penggunaan kateter dan jarum infus sering dihubungkan dengan terjadinya invasi Candida albicans ke dalam jaringan. Edward (1990) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa dari 344.610 kasus infeksi nosokomial yang ditemukan, 27.200 kasus (7,9 %) disebabkan oleh jamur dan 21.488 kasus (79%) disebabkan oleh spesies Candida. Peneliti lain (Odds dkk. 1990) mengemukakan bahwa dari 6.545 penderita AIDS, sekitar 44,8 % nya adalah penderita kandidosis. Banyak studi epidemiologi melaporkan bahwa terjadinya kasus-kasus kandidosis tidak dipengaruhi oleh iklim dan geografis. Hal itu menunjukkan bahwa Candida albicans sebagai penyebab kandidosis dapat ditemukan di berbagai negara. Patologi dan Manifestasi Klinik Pada manusia, Candida albicans sering ditemukan di dalam mulut, feses, kulit dan di bawah kuku orang sehat. Candida albicans dapat membentuk blastospora dan hifa, baik dalam biakan maupun dalam tubuh. Bentuk jamur di dalam tubuh dianggap dapat dihubungkan dengan sifat jamur, yaitu sebagai saproba tanpa menyebabkan kelainan atau sebagai parasit patogen yang menyebabkan kelainan dalam jaringan. Penyelidikan lebih lanjut membuktikan bahwa sifat patogenitas tidak berhubungan dengan ditemukannya Candida albicans dalam bentuk blastospora atau hifa di dalam jaringan. Terjadinya kedua bentuk tersebut dipengaruhi oleh tersedianya nutrisi, yang dapat ditunjukkan pada suatu percobaan di luar tubuh. Pada keadaan yang menghambat pembentukan tunas dengan bebas, tetapi yang masih memungkinkan jamur tumbuh, maka dibentuk hifa. Rippon (1974) mengemukakan bahwa bentuk blastospora diperlukan untuk memulai suatu lesi pada jaringan. Sesudah terjadi lesi, dibentuk hifa yang melakukan invasi. Dengan proses tersebut terjadilah reaksi radang. Pada

kandidosis akut biasanya hanya terdapat blastospora, sedang pada yang menahun didapatkan miselium. Kandidosis di permukaan alat dalam biasanya hanya mengandung blastospora yang berjumlah besar, pada stadium lanjut tampak hifa. Hal ini dapat dipergunakan untuk menilai hasil pemeriksaan bahan klinik, misalnya dahak, urin untuk menunjukkan stadium penyakit. Kelainan jaringan yang disebabkan oleh Candida albicans dapat berupa peradangan, abses kecil atau granuloma. Pada kandidosis sistemik, alat dalam yang terbanyak terkena adalah ginjal, yang dapat hanya mengenai korteks atau korteks dan medula dengan terbentuknya abses kecil-kecil berwarna keputihan. Alat dalam lainnya yang juga dapat terkena adalah hati, paru-paru, limpa dan kelenjar gondok. Mata dan otak sangat jarang terinfeksi. Kandidosis jantung berupa proliferasi pada katup-katup atau granuloma pada dinding pembuluh darah koroner atau miokardium. Pada saluran pencernaan tampak nekrosis atau ulkus yang kadangkadang sangat kecil sehingga sering tidak terlihat pada pemeriksaan. Manifestasi klinik infeksi Candida albicans bervariasi tergantung dari organ yang diinfeksinya. Kandidosis kulit Jamur ini sering ditemukan di daerah lipatan, misalnya ketiak, di bawah payudara, lipat paha, lipat pantat dan sela jari kaki. Kulit yang terinfeksi tampak kemerahan, agak basah, bersisik halus dan berbatas tegas. Gejala utama adalah rasa gatal dan rasa nyeri bila terjadi maserasi atau infeksi sekunder oleh kuman. Kandidosis kuku Kuku yang terinfeksi tampak tidak mengkilat, berwarna seperti susu, kehijauan atau kecoklatan. Kadang-kadang permukaan kuku menimbul dan tidak rata. Di bawah permukaan yang keras terdapat bahan rapuh yang mengandung jamur. Kelainan ini dapat mengenai satu/beberapa atau seluruh jari tangan dan kaki. Kandidosis saluran pencernaan Stomatitis dapat terjadi bila khamir menginfeksi rongga mulut. Gambaran klinisnya khas berupa bercak-bercak putih kekuningan, yang menimbul pada dasar selaput lendir yang merah. Hampir seluruh selaput lendir mulut, termasuk lidah dapat terkena. Gejala yang ditimbulkannya adalah rasa nyeri, terutama bila tersentuh makanan. Kandidosis vagina Pada wanita, Candida albicans sering menimbulkan vaginitis dengan gejala utama fluor albus yang sering disertai rasa gatal. Infeksi ini terjadi akibat tercemar setelah defekasi, tercemar dari kuku atau air yang digunakan untuk membersihkan diri; sebaliknya vaginitis Candida dapat menjadi sumber infeksi di kuku, kulit di sekitar vulva dan bagian lain. Kandidosis paru Candida albicans dapat ditemukan sebagai infeksi primer dan sekunder. Gejalanya menyerupai penyakit paru oleh sebab lain, yaitu suhu tubuh meningkat, nyeri dada, batuk, dahak kental yang dapat bercampur darah. Kandidosis alat dalam lain dan sistemik

Selain alat-alat tersebut di atas, kandidosis juga dapat menginfeksi endokardium, selaput otak dan mata serta dapat menimbulkan septikemi. Endokarditis oleh Candida albicans mempunyai gejala yang sangat mirip dengan penyakit yang disebabkan oleh kuman, yaitu demam, bising jantung, payah jantung, anemi dan pembesaran limpa. Meningitis oleh Candida albicans dapat timbul oleh penjalaran jamur secara hematogen. Gejala utamanya rasa nyeri disertai kelainan saraf misalnya afasia atau hemiparesis. Kandidosis mata dapat berupa ulkus kornea yang disertai hipopion, atau dapat juga berupa endoftalmitis. Gejala dapat berupa skotoma, rasa sakit, pandangan silau (fotofobia). Septikemia oleh Candida albicans sangat jarang ; dapat terjadi sebagai penjalaran infeksi lokal, misalnya stomatitis.

Incoming search terms for the article:



jamur candida albicans jamur penyebab keputihan candida albicans menyebabkan penyakit candida albicans penyebab keputihan blastospora adalah epidemiologi candida albicans sel ragi pada feses penyakit candida penyebab candida albicans morfologi candida albicans

http://blog.uad.ac.id/tauryska/2011/12/13/jamur-penyebab-keputihan-candidaalbicans/