Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. L DENGAN POST OP SECTIO CAESAREA+MOW DI RUANG BOUGENVILLE RSUD Dr.

ADHIYATMA, MPH SEMARANG

Disusun Oleh : DANIAR REZA HERMAWAN 13.0142.N

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI-NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN-PEKALONGAN 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi dimasa sekarang ini, dimana seseorang dengan mudahnya memperoleh informasi yang diinginkan termasuk informasi didunia kesehatan yang membahas tentang tindakan persalinan dengan cara sectio caesarea, bahkan mungkin dengan berjalannya waktu sectio caesarea akan menjadi sesuatu yang biasa dalam kelahiran, dimana sectio caesar dilakukan atas permintaan penderita. Makin dikenalnya tindakan persalinan dengan cara sectio caesarea dan bergesernya pandangan masyarakat akan metode persalinan yang dilakukan menjadikan tindakan operasi sectio caesarea sebagai suatu fenomena yang baru dan tidak lagi tabu untuk dibicarakan dan dilakukan di masyarakat ( Gondo, 2006 ). Sectio caesarea ialah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus ( Wiknjosastro, 2007 ). Sectio caesarea ini diperlukan jika persalinan normal atau pervaginam tidak mungkin dilakukan, dengan keadaan abnormalitas pada bayi, ibu yang memiliki kelainan plasenta, perdarahan hebat dan mencegah kematian janin, ( Liu, 2008 ). Sectio caesarea adalah suatu persalinan buatan, di mana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram ( Ilmu Bedah Kebidanan, 2004 ). Menurut badan kesehatan dunia WHO, wanita yang meninggal akibat komplikasi kehamilan dan persalinan dengan 529.000 kematian permenitnya dan presentasi operasi sectio caesarea lebih dari 10- 15 % pertahunnya. WHO memperkirakan bahwa rata-rata bedah sectio caesarea ada diantara 10 15 % dari seluruh kelahiran di negara-negara berkembang ( Dewi, 2007 ). Angka persalinan dengan cara sectio caesarea di negara maju meningkat dari 5% menjadi 15%. Peningkatan ini sebagian disebabkan oleh mode, sebagian karena ketakutan timbul perkara jika tidak dilahirkan bayi yang

sempurna, sebagian lagi karena perubahan pola kehamilan, wanita menunda kehamilan anak pertama dan membatasi jumlah anak ( LLewellyn, 2009). Jumlah persalinan sectio caesarea di Indonesia sendiri, terutama di rumah sakit pemerintah adalah sekitar 20 25% dari total jumlah persalinan, sedangkan di rumah sakit swasta jumlahnya lebih tinggi yaitu sekitar 30 80% dari total jumlah persalinan ( Nurasyid, 2009 ) Penelitian yang dilakukan oleh Sarmana ( 2004 ) di rumah sakit St Elizabet Medan menunjukan bahwa permintaan persalinan sectio ceasarea paling banyak dilakukan oleh ibu yang melahirkan untuk pertama kalinya. Faktor yang paling dominan mendorong ibu bersalin meminta persalinan sectio caesarea adalah karena rasa sakit pada persalinan sebesar 96,5 %. Alasan ibu untuk melahirkan secara sectio caesarea adalah : 1) kesehatan lebih terjamin terutama untuk kesehatan bayi maupun ibu sebesar (53,5 %), 2) karena ingin sekaligus sterilisasi (35,5 %), 3) Kosmetik sex (25 %) oleh karena ibu ingin mempertahankan tonus vagina tetap utuh, 4) akibat trauma persalinan yang lalu (21,5 %) misalnya ; ekstraksi vakum, 5) rasa sakit pada persalinan alami menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan ibu sehingga ibu lebih memilih sectio caesarea dari pada persalinan spontan ( Sarmana, 2004 ). Keluarga berencana merupakan suatu perencanaan tentang waktu yang tepat untuk memiliki anak. Di dalam keluarga berencana terdapat teknik kontrasepsi yang digunakan untuk mencegah kehamilan sebagai upaya untuk mengatur kehamilan. Jika pasangan yang sudah menikah memiliki kesuburan baik, 90% pasangan wanita akan hamil dalam satu tahun bila mereka tidak menggunakan alat kontrasepsi (Gunningham, et al., 1997). Oleh karena itu untuk pengaturan waktu kehamilan, tidak terlepas dari peran alat kontrasepsi. Kehamilan tak terencana dapat menyebabkan gangguan mayor di dalam kehidupan seorang wanita yang berdampak pada kesehatan ibu dan neonatus. Kontrasepsi mantap pada wanita disebut tubektomi, yaitu tindakan memotong tuba Fallopii / tuba uterina. Metode kontrasepsi merupakan usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi akibat kehamilan. setiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangan sehingga

terkadang pemilihannya menjadi masalah bagi wanita. kontrasepsi tubektomi merupakan kontrasepsi jangka panjang (permanen) dan relatif tidak menimbulkan efek samping, tetapi yang menjadi masalah adalah operasi pengembalian fekunditas bagi pasangan yang ingin mengubah rencana untuk menambah anak lagi belum dapat dijamin dan biaya yang diperlukan sangat mahal. kontrasepsi tubektomi dianjurkan bagi mereka yang sudah mempunyai anak minimal 2 orang dan usia ibu di atas 35 tahun. hal ini disebabkan karena kehamilan usia di atas 35 tahun berisiko tinggi dan sangat rentan terhadap penyakit. Tubektomi dapat dilakukan pasca keguguran, pasca persalinan atau masa interval haid. Pasca persalinan, tubektomi sebaiknya dilakukan dalam 24 jam pertama atau selambat-lambatnya 48 jam pertama. Apabila lewat dari 48 jam maka tubektomi akan dipersulit oleh edema tuba uterina, infeksi dan kegagalan. Edema tuba uterina akan berkurang setelah hari VII-X pasca persalinan. Tubektomi setelah hari itu akan lebih dipersulit oleh adanya penciutan alat-alat genital dan mudahnya terjadi perdarahan. B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Setelah menyelesaikan penulisan laporan kasus ini diharapkan mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan Sectio caesarea+MOW dengan menerapkan proses keperawatan 2. Tujuan Khusus Perawat a. Untuk mengetahui pengkajian pada pasien dengan post op Sectio caesarea+MOW. b. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan pada pasien dengan post op Sectio caesarea+MOW c. Untuk mengetahui nursing care plan pada pasien dengan post op Sectio caesarea+MOW d. Untuk mengetahui implementasi pada pasien dengan post op Sectio caesarea+MOW

e. Untuk mengetahui evaluasi pada pasien pasien dengan post op Sectio caesarea+MOW 3. Tujuan Khusus Klien Klien dapat mengetahui tentang Sectio caesarea+MOW dan tindakan keperawatan pada Sectio caesarea+MOW. C. Manfaat Penulisan 1. Bagi Profesi Keperawatan Memberikan gambaran bagi perawat mengenai asuhan keperawatan pada pasien post op Sectio caesarea+MOW sehingga dapat dijadikan sebagai acuan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang menjalani perawatan dan pengobatan di rumah sakit 2. Bagi Institusi Pelayanan/Rumah Sakit Memberikan wacana dalam meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit dengan salah satu caranya yakni mengembangkan metode pendekatan mental/ psikologis dan spiritual/ religi terhadap pasien post op Sectio caesarea+MOW di unit pelayanannya. 3. Bagi Penulis Mengetahui bentuk-bentuk asuhan yang diperlukan oleh pasien dengan post op Sectio caesarea+MOW baik dalam bentuk asuhan keperawatan dalam segi psikis ataupun fisik. D. Metode dan Teknik Penulisan Penulis menggunakan studi pustaka dengan cara membaca dan mencari materi dari berbagai sumber untuk mendapatkan dasar-dasar ilmiah yang berhubungan dengan pembuatan laporan ini. E. Sistematika Penulisan a. BAB I Pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode dan teknik pengumpulan data, serta sistematika penulisan. b. BAB II Tinjauan pustaka yang berisi tentang konsep dasar yang meliputi materi yang diperoleh dari berbagai referensi.

c.

BAB III Tinjauan kasus yang berisi, pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.

d.

BAB IV Pembahasan yang terdiri atas pembahasan dari kasus yang ada dan kesesuaian atau tidak dengan materi yang telah dipaparkan.

e.

BAB V Penutup yang terdiri atas simpulan dan saran.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus. (Sarwono , 2005) Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui depan perut atau vagina. Atau disebut juga histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim. (Mochtar, 1998) B. Etiologi 1. Indikasi SC, Indikasi klasik yang dapat dikemukakan sebagai dasar section caesarea adalah : a. Prolog labour sampai neglected labour. b. Ruptura uteri imminen c. Fetal distress d. Janin besar melebihi 4000 gr e. Perdarahan antepartum (Manuaba, I.B, 2001) 2. Sedangkan indikasi yang menambah tingginya angka persalinan dengan sectio adalah : a. Letak lintang Bila terjadi kesempitan panggul, maka sectio caesarea adalah jalan/cara yang terbaik dalam melahirkan janin dengan segala letak lintang yang janinnya hidup dan besarnya biasa. Semua primigravida dengan letak lintang harus ditolong dengan sectio caesarea walaupun tidak ada perkiraan panggul sempit. Multipara dengan letak lintang dapat lebih dulu ditolong dengan cara lain. b. Letak belakang Sectio caesarea disarankan atau dianjurkan pada letak belakang bila panggul sempit, primigravida, janin besar dan berharga. c. Plasenta previa sentralis dan lateralis d. Presentasi lengkap bila reposisi tidak berhasil.

e. Gemeli menurut Eastman, sectio cesarea dianjurkan bila janin pertama letak lintang atau presentasi bahu, bila terjadi interior (looking of the twins), distosia karena tumor, gawat janin dan sebagainya. f. Partus lama g. Partus tidak maju. h. Pre-eklamsia dan hipertensi i. Distosia serviks C. Tujuan Sectio Caesarea Tujuan melakukan sectio caesarea (SC) adalah untuk mempersingkat lamanya perdarahan dan mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen bawah rahim. Sectio caesarea dilakukan pada plasenta previa totalis dan plasenta previa lainnya jika perdarahan hebat. Selain dapat mengurangi kematian bayi pada plasenta previa, sectio caesarea juga dilakukan untuk kepentingan ibu, sehingga sectio caesarea dilakukan pada placenta previa walaupun anak sudah mati. D. Jenis - Jenis Operasi Sectio Caesarea (SC) 1. Abdomen (SC Abdominalis) a. Sectio Caesarea Transperitonealis b. Sectio caesarea klasik atau corporal : dengan insisi memanjang pada corpus uteri. c. Sectio caesarea profunda : dengan insisi pada segmen bawah uterus. 2. Sectio caesarea ekstraperitonealis Merupakan sectio caesarea tanpa membuka peritoneum parietalis dan dengan demikian tidak membuka kavum abdominalis. 3. Vagina (sectio caesarea vaginalis) 4. Menurut arah sayatan pada rahim, sectio caesaria dapat dilakukan apabila : a. Sayatan memanjang (longitudinal) b. Sayatan melintang (tranversal) c. Sayatan huruf T (T Insisian) 5. Sectio Caesarea Klasik (korporal)

Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10cm. Kelebihan : Mengeluarkan janin lebih memanjang, Tidak menyebabkan komplikasi kandung kemih tertarik, Sayatan bisa

diperpanjang proksimal atau distal Kekurangan :Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada reperitonial yang baik. Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan. Ruptura uteri karena luka bekas SC klasik lebih sering terjadi dibandingkan dengan luka SC profunda. Ruptur uteri karena luka bekas SC klasik sudah dapat terjadi pada akhir kehamilan, sedangkan pada luka bekas SC profunda biasanya baru terjadi dalam persalinan. Untuk mengurangi kemungkinan ruptura uteri, dianjurkan supaya ibu yang telah mengalami SC jangan terlalu lekas hamil lagi. Sekurang kurangnya dapat istirahat selama 2 tahun. Rasionalnya adalah memberikan kesempatan luka sembuh dengan baik. Untuk tujuan ini maka dipasang akor sebelum menutup luka rahim. 6. Sectio Caesarea (Ismika Profunda) Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10cm Kelebihan : Penjahitan luka lebih mudah.Penutupan luka dengan reperitonialisasi yang baik. Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan isi uterus ke rongga perineum. Perdarahan kurang. Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan lebih kecil Kekurangan : Luka dapat melebar ke kiri, ke kanan dan bawah sehingga dapat menyebabkan arteri uteri putus yang akan menyebabkan perdarahan yang banyak. Keluhan utama pada kandung kemih post operatif tinggi. E. Komplikasi 1. Infeksi Puerperalis

Komplikasi ini bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas atau dapat juga bersifat berat, misalnya peritonitis, sepsis dan lain-lain. Infeksi post operasi terjadi apabila sebelum pembedahan sudah ada gejala - gejala infeksi intrapartum atau ada faktor - faktor yang merupakan predisposisi terhadap kelainan itu (partus lama khususnya setelah ketuban pecah, tindakan vaginal sebelumnya). Bahaya infeksi dapat diperkecil dengan pemberian antibiotika, tetapi tidak dapat dihilangkan sama sekali, terutama SC klasik dalam hal ini lebih berbahaya daripada SC transperitonealis profunda. 2. Perdarahan Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang arteria uterina ikut terbuka atau karena atonia uteri 3. Luka kandung kemih 4. Embolisme paru paru 5. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah kurang kuatnya perut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. Kemungkinan hal ini lebih banyak ditemukan sesudah sectio caesarea klasik. F. Prognosis Dengan kemajuan teknik pembedahan, adanya antibiotika dan persediaan darah yang cukup, pelaksanaan sectio ceesarea sekarang jauh lebih aman dari pada dahulu. Angka kematian di rumah sakit dengan fasilitas baik dan tenaga yang kompeten < 2/1000. Faktor - faktor yang mempengaruhi morbiditas pembedahan adalah kelainan atau gangguan yang menjadi indikasi pembedahan dan lamanya persalinan berlangsung. Anak yang dilahirkan dengan sectio caesaria nasibnya tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan sectio caesarea. Menurut statistik, di negara - negara dengan pengawasan antenatal dan intranatal yang baik, angka kematian perinatal sekitar 4 - 7% (Mochtar, 1998) G. Patofisiologi

Adanya beberapa kelainan / hambatan pada proses persalinan yang menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal / spontan, misalnya plasenta previa sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo pelvic, rupture uteri mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-eklamsia, distosia serviks, dan malpresentasi janin. Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu tindakan pembedahan yaitu Sectio Caesarea (SC). Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan menyebabkan pasien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah intoleransi aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara dan kelemahan fisik akan menyebabkan pasien tidak mampu melakukan aktivitas perawatan diri pasien secara mandiri sehingga timbul masalah defisit perawatan diri. Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan, dan perawatan post operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada pasien. Selain itu, dalam proses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi pada dinding abdomen sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan, pembuluh darah, dan saraf - saraf di sekitar daerah insisi. Hal ini akan merangsang pengeluaran histamin dan prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri (nyeri akut). Setelah proses pembedahan berakhir, daerah insisi akan ditutup dan menimbulkan luka post op, yang bila tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan masalah risiko infeksi. H. Pemeriksaan Penunjang 1. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan. 2. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi 3. Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah 4. Urinalisis / kultur urine 5. Pemeriksaan elektrolit I. Penatalaksanaan Medis Post SC 1. Pemberian cairan

Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian cairan perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar tidak terjadi hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi pada organ tubuh lainnya. Cairan yang biasa diberikan biasanya DS 10%, garam fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi darah sesuai kebutuhan. 2. Diet Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 - 10 jam pasca operasi, berupa air putih dan air teh. 3. Mobilisasi Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi : a. Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah operasi b. Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini mungkin setelah sadar c. Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya. d. Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk (semifowler) e. Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien dianjurkan belajar duduk selama sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi. 4. Kateterisasi Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. Kateter biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan keadaan penderita. 5. Pemberian obat-obatan a. Antibiotik

b. Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan 6. Perawatan luka Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan berdarah harus dibuka dan diganti 7. Perawatan rutin Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu, tekanan darah, nadi,dan pernafasan. (Manuaba, 1999)

BAB III TINJAUAN KASUS

I. PENGKAJIAN DATA Riwayat Keperawatan Tanggal pasien datang : 03 Oktober 2013 Jam pasien datang Tanggal pengkajian Jam pengkajian Diagnosa medis A. Biodata 1. Biodata Klien Nama klien Umur Suku/bangsa Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat : Ny. L : 33 tahun : Jawa/Indonesia : Islam : D3 : Ibu Rumah Tangga : Candi Kalasan, Pasadena Semarang : 13.30 WIB : 03 Oktober 2013 : 19.00 WIB : Sectio Caesarea+MOW hari ke 0

2. Biodata penanggung jawab Nama Umur Pekerjaan Alamat : Tn. R : 38 tahun : Pedagang : Candi Kalasan, Pasadena Semarang

B. Riwayat kesehatan Umum 1. Riwayat kesehatan dahulu Klien mengatakan bahwa ia tidak pernah menderita penyakit DM, jantung, asma dan hipertensi. Klien mengatakan sudah pernah dua kali menjalani operasi caesar.

2. Riwayat penyakit sekarang Klien mengatakan selama kehamilan ini selalu memeriksakan kehamilannya di poli kandungan RS Tugurejo. Pada saat periksa yang terakhir dokter poli kandungan menganjurkan klien untuk opname di RS Tugurejo sebelum muncul kenceng-kenceng karena klien sudah dua kali menjalani operasi caesar. Klien dirawat di ruang Bougenville kelas III. Karena klien akan menjalani operasi caesar yang ketiga maka dokter menyarankan untuk dilakukan tindakan MOW (steril), klien bersedia dilakukan SC dan MOW. 3. Keluhan Utama Klien mengeluh nyeri. P : nyeri luka jahitan muncul ketika bergerak dan kadang spontan, Q : seperti teriris, R : abdomen, S : 7 , T : timbul saat bergerak/ berganti posisi klien tampak meringis sambil mengusap-usap perutnya. 4. Riwayat kesehatan keluarga (Genogram)

Keterangan Laki-laki

perempuan

meninggal

pasien

tinggal dalam satu rumah Di dalam keluarga klien tidak terdapat riwayat serotinus, bayi kembar, bayi bayi besar, anak kedua lahir premature (38minggu) dan meninggal pada usia 12 bulan karena sakit muntaber. 5. Alergi Klien mengatakan tidak memiliki alergi baik alergi debu, makanan ataupun cuaca. Tidak ditemukan alergi pada obat. 6. Kebiasaan yang mengganggu kesehatan Klien mengatakan tidak mempunyai kebiasaan yang dapat mengganggu kesehatannya. 7. Riwayat sosial Klien mengatakan hubungan dengan masyarakat baik, tidak ada masalah dengan masyarakat tempat tinggalnya. 8. Personal hygiene Sebelum sakit Mandi Gosok gigi Cuci rambut Potong kuku Ganti pakaian 2x sehari 2x sehari 2 hari sekali 1x seminggu sehari sekali selama sakit belum pernah belum pernah belum pernah belum pernah sehari sekali

Masalah/ keluhan: tidak ada keluhan 9. Riwayat keperawatan untuk pola nutrisi-metabolik (porsi dan jenis) Klien mengatakan sebelum operasi makan 3x sehari, porsi sedang, dengan nasi, lauk pauk, sayur, kadang-kadang buah, dan minum air putih 7-8 gelas/hari. Setelah operasi klien belum memiliki nafsu makan, makan malam cuma habis satu sendok. Minum banyak. Masalah/keluhan: Tidak nafsu makan. 10. Riwayat keperawatan untuk pola eliminasi Klien mengatakan sebelum sakit BAB lancar setiap hari, selama hamil ini BAB 2 hari sekali, konsistensi lunak, tidak ada masalah dalam BAB. Sebelum sakit BAK 4-6 x/ hari, warna kuning jernih. Selama sakit

BAK 1000 cc/hr, tidak ada masalah/keluhan dan tidak terasa nyeri, warna kuning jernih. Selama sakit belum pernah BAB. 11. Riwayat keperawatan untuk pola aktivitas latihan Saat hamil : Klien mengatakan pada saat hamil usia 1-7 bulan klien masih mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri. Namun memasuki usia kehamilan 8 bulan klien sudah mulai mengurangi aktivitasnya. Klien dibantu suami dan ibu mertua dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Setelah melahirkan : Klien mengatakan setelah melahirkan susah beraktivitas, karena sakit pada daerah jahitannya semakin sakit jika untuk beraktivitas. Klien tampak lemas 12. Istirahat atau Tidur Saat hamil Tidur siang : kadang-kadang, lamanya 1,5 jam. Tidur pukul 13.3015.00 Tidur malam : kurang lebih 8 jam, tidur mulai pukul 21.00-05.00 Setelah melahirkan Tidur siang : Belum tidur siang Tidur malam : Belum tidur malam. Masalah/keluhan : tidak ada.

13. Pengetahuan tentang nifas Klien mengatakan sudah tahu tentang bagaimana melakukan perawatan setelah melakukan persalinan, termasuk dalam merawat bayi dan bagaimana dalam memberikan ASI-nya, klien tahu tentang kebutuhan nutrisi pada ibu nifas. Klien mengatakan pada persalinan yang pertama dan kedua, bayinya diberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Bulan berikutnya bayinya diberikan makanan tambahan lain hingga usia 1 tahun. Pada persalinan ini klien mengatakan juga akan memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan.

14. Adaptasi psikologis terhadap kelahiran bayi, meliputi : Letting in, tanda : klien masih mengeluh sakit dan belum menanyakan bayinya. Klien masih fokus dengan yang dirasakannya sendiri. Keluarga klien mendukung dan mendampingi klien selama klien dalam fase pulih dari anestesi dan merasakan nyeri. 15. Riwayat keperawatan untuk nilai/kepercayaan Klien mengatakan tidak dapat melakukan ibadah sholat lima waktu seperti biasanya dikarenakan masih dalam masa nifas. C. Riwayat kebidanan Obstetrik Status Obstetrik : G 3 P 3 A 0 1. Riwayat menstruasi Menarche Lama haid Siklus haid Jumlah Keluhan : pada usia 13 tahun : 7 hari : 28 hari : sehari 2x ganti pembalut : tidak ada

2. Riwayat pernikahan Status Umur waktu menikah yang pertama kali Berapa kali menikah Lama menikah dengan suami yang sekarang : Menikah : 23 tahun : 1x : 10 tahun.

3. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu No Umur JK Kondisi saat ini 1 9 th Lk Sehat masih sekolah Usia kehamilan Ditolong di Klien RS dengan bayinya 1 menyusui hingga tahun. diberi Kehamilan Persalinan Nifas

9bulan tidak SC, kondisi umur saat Mulai

kelas 4 SD ada masalah bayi

dalam kehamilann ya

lahir langsung menangis,

makanan tambahan pada bayi usia 6 bulan. Tidak ada masalah dalam

masa nifas klien. 2 1 th Pr meninggal dunia Usia kehamilan 38 minggu Ditolong di Klien RS dengan bayinya SC karena umur Mulai 1 menyusui hingga tahun. diberi

terjadi pengapuran plasenta,

makanan tambahan pada bayi usia 6 bulan

Klien mengatakan ini adalah kehamilan ketiga, klien selalu rutin memeriksakan kehamilannya sejak hamil anak pertama hingga yang ketiga ini ke dokter kandungan. Anak pertama lahir dengan SC karena panggul sempit, anak kedua juga lahir dengan SC karena pengapuran plasenta, dan anak ketiga secara otomatis dilahirkan dengan SC karena sudah dua kali SC sebelumnya. 4. Riwayat KB Klien mengatakan sebelumnya menggunakan KB suntik dengan jangka waktu satu bulan. 5. Riwayat Kehamilan sekarang Klien mengatakan hari pertama haid terakhir 27 Desember 2012, Hari perkiraan lahir 03 Oktober 2013. Usia kehamilan saat ini 40 minggu. Klien selalu mengunjungi ANC tepat waktu.

6. Riwayat persalinan sekarang Jenis persalinan Penolong Tempat Proses dan lama persalinan Masalah persalinan Kondisi bayi tidak ada kelainan D. Pemeriksaan Fisik 1. Parameter umum Kesadaran : composmentis : SC : dr. SpOG dan perawat : Ruang IBS RSUD Dr. Adhiyatma, MPH : Klien menjalani SC selama 30 menit :: Bayi perempuan, BB 2900 gr, PB : 47 cm,

Keadaan Umum: agak lemah TD : 100/70 mmHg

Suhu : 37C Nadi RR : 88 x/menit : 20 x/ menit

2. Pemeriksaan fisik Kepala Inspeksi : Rambut berwarna hitam, distribusi rambut rata, rambut

tidak rontok, tidak tampak benjolan/luka di kepala. Palpasi Muka Inspeksi Palpasi Mata Inspeksi : Mata kanan dan kiri simetris, konjungtiva anemis, sklera : Tidak tampak cloasma gravidarum, tidak pucat. : Tidak teraba benjolan/luka, tidak ada nyeri tekan : Tidak teraba benjolan/luka di kepala

putih, tidak tampak lingkar gelap di bawah kelopak mata. Palpasi Hidung Inspeksi : tampak 2 lubang hidung sama besar dan simetris, lubang : Tidak ada nyeri tekan.

hidung tampak bersih.

Palpasi Penciuman Telinga Inspeksi dan kiri Palpasi

: Kartilago nasalis elastis. : Klien mampu membedakan bau-bauan

: lubang telinga bersih tidak ada serumen, simetris kanan

: tidak ada nyeri tekan

Pendengaran : masih berfungsi dengan baik Mulut Inspeksi Leher Inspeksi : tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada : tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi

pembesaran kelenjar tiroid Dada Inspeksi kanan dan kiri Palpasi : getaran dinding dada sama, konfigurasi dada 1: 2 : simetris kanan dan kiri, pengembangan dada sama antara

Perkusi : terdengar sonor pada paru-paru dan pekak pada area jantung Auskultasi reguler Payudara Inspeksi : bentuk simetris, nampak hiperpigmentasi areola, puting : vesikuler pada paru-paru dan bunyi jantung I, II terdengar

payudara agak kecil Palpasi Abdomen Inspeksi kassa. Auskultasi : terdengar bising usus kuadran kanan bawah 5 x/mnt, : tampak strie gravidarum, terlihat luka post operasi tertutup : tidak ada nyeri tekan, ASI belum keluar

kanan atas 3 x/mnt, kiri atas 2 x/mnt, kiri bawah 1 x/mnt. Palpasi Perkusi : TFU 2 jari dibawah pusat, uterus teraba keras. : tympani

Genitalia dan Anus Inspeksi : Tampak selang kateter di genetalia, bersih, urine bag

berisi 150 cc, PPV normal. Ekstremitas atas dan bawah Atas : Terpasang infuse RL 20 tts/mnt di tangan kiri sejak, teraba

hangat, tangan kanan dan kiri tidak tampak edema, capilary refill 2 detik, tidak ada keterbatasan gerak sendi. Bawah : tidak tampak edema, capilary refill 2 detik, tidak ada

varises, ada keterbatasan gerak akibat nyeri. Kulit inspeksi palpasi : tidak sianosis, tidak kering : teraba hangat, turgor kulit baik < 3 detik

E. Pemeriksaan Penunjang 1. Laboratorium Leukosit 17.26 10^3/uL (nilai normal 3.6 11) 2. Terapi Per oral: Cefadroxil Metilergometrin Asam mefenamat Per IV : Ceftriaxone Asam traneksamat Ketorolac

Pekalongan, 03 Oktober 2013 Yang Mengkaji

Daniar Reza Hermawan

II. PENGELOMPOKAN DATA Data Subyektif 1. Klien mengatakan nyeri P : nyeri luka jahitan muncul ketika bergerak dan kadang spontan, Q : seperti teriris, R : abdomen, S : 7 , T : timbul saat bergerak/ berganti posisi 2. Klien mengatakan tidak nafsu makan 3. Klien mengatakan makan malam cuma habis satu sendok 4. Klien mengatakan setelah melahirkan susah beraktivitas, karena sakit pada daerah jahitannya semakin sakit jika untuk beraktivitas 5. Klien mengatakan setelah melahirkan susah beraktivitas, karena sakit pada daerah jahitannya semakin sakit jika untuk beraktivitas Data Obyektif 1. Klien tampak meringis sambil mengusap-usap perutnya 2. Klien tampak lemas 3. Terlihat luka post operasi tertutup kassa 4. Tekanan darah 100/70 mmHg 5. Nadi 88 x/ menit 6. Leukosit 17.26 10^3/uL

III. ANALISA DATA No. 1. DS : Klien mengatakan nyeri P : nyeri luka jahitan muncul ketika bergerak dan kadang Data Fokus Nyeri Problem Etiologi Terputusnya kontinuitas jaringan sekunder akibat pembedahan (SC)

spontan, Q : seperti teriris, R : abdomen, S : 7 , T : timbul saat bergerak/ berganti posisi. DO : Klien tampak meringis sambil

mengusap-usap perutnya

2.

DS: Klien mengatakan susah

Gangguan setelah mobilitas fisik

Nyeri pada luka insisi

melahirkan karena

beraktivitas, daerah

sakit

pada

jahitannya semakin sakit jika untuk beraktivitas. DO: Klien tampak lemas Klien tampak meringis sambil mengusap-usap perutnya 3. DS: Klien mengatakan nyeri pada luka jahitan muncul ketika bergerak dan kadang spontan DO: Pada abdomen terlihat luka post operasi tertutup kassa, Leukosit 17.26 10^3/uL 4. DS: Resiko nutrisi Anoreksia dari Risiko infeksi Tindakan invasif, paparan lingkungan patogen

Klien mengatakan tidak nafsu kurang makan Klien mengatakan makan malam cuma habis satu sendok DO: Klien tampak lemas

kebutuhan tubuh

IV. PRIORITAS MASALAH 1. Nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan sekunder akibat pembedahan (SC) 2. 3. 4. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri pada luka insisi Resiko infeksi b.d tindakan invasif, paparan lingkungan patogen Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia

V. INTERVENSI Tgl/ jam No. Dx Rencana tujuan dan kriteria hasil Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam, diharapkan klien dapat mengontrol nyeri atau nyeri hilang. Kriteria hasil : Klien melaporkan sudah tidak merasakan nyeri lagi, klien tampak rileks, tidak tampak menahan nyeri jika bergerak, skala 0-3, TTV dalam rentang normal. 2. Berikan 1. Pantau TTV 1. Peningkatan nyeri dapat Intervensi Rasional paraf

3/10/1 1 3 19.00

meningkatkan nilai tanda-

tanda vital. posisi 2. Posisi nyaman yang dapat

yang nyaman

menurunkan ketegangan sehingga dapat mengeluarkan hormon endorphine sebagai anestesi natural tubuh. 3. Ajarkan klien 3. Distraksi dapat mengalihkan konsentrasi atau fokus terhadap klien rasa dari

manajemen nyeri dengan

teknik distraksi atau relaksasi.

sakit. Sedangkan relaksasi dapat menstimulus tubuh untuk

mengeluarkan hormon endorphine. 4. Berikan lingkungan yang nyaman. 4. Lingkungan yang dapat menurunkan ketegangan yang dapat nyaman

meningkatkan vasokontriksi pembuluh darah. 5. Anjurkan klien 5. Aktivitas berat untuk mengurangi aktivitas berlebihan. 6. Kolaborasi, berikan analgesik obat 6. Obat analgesik dapat menurunkan nyeri 3/10/1 2. 3 19.00 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2X24 jam di harapkan pasien dapat 1. Bina hubungan saling percaya dengan klien dan keluarga 1. Menciptakan hubungan saling percaya pasien antara dan yang dapat meningkatkan tingkat nyeri.

menunjukkan peningkatan mobilitas dengan kriteria hasil klien menunjukkan dapat mengubah posisi (duduk, berdiri, miring kanan, miring kiri) dapat berjalan sendiri ke kamar mandi, menggendong bayi, menyusui bayi. 3. Obsevasi TTV 2. Bantu pasien latihan gerak aktif

perawat. 2. Mempertahanka n kekuatan otot dan mobilisasi.

3. Untuk mengetahui kondisi pasien

dan mengetahui perkembangan pasien menentukan tindakan selanjutnya. 4. Kolaborasi dengan fisioterapi dalam program latihan. 4. Memberi terapi secara tepat, serta

yang diharapkan dapat mempercepat proses penyembuhan pasien.

3/10/1 3. 3 19.00

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan klien tidak mengalami infeksi, dengan kriteria hasil : luka tampak bersih, kering, tidak bengkak,

1. Pantau TTV

1. Infeksi dapat ditandai dengan peningkatan nilai TTV.

2. Lakukan perawatan luka pada luka jahit.

2. Perawatan luka dapat menurunkan

tidak ada pus, leukosit normal. 3. Pertahankan prinsip selama steril proses

resiko infeksi. 3. Prinsip steril dapat mengurangi masuknya bakteri ke dalam tubuh. 4. Anjurkan klien 4. Mencuci tangan untuk mencuci tangan sebelum dan setelah dapat meminimalisir terkontaminasin ya bakteri dengan luka. 5. Obat dapat obat mencegah terjadinya infeksi

perawatan.

melakukan aktivitas. 5. Kolaborasi, berikan antibiotik.

3/10/1 4. 3 19.00

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, diharapkan klien tidak mengalami kekurangan nutrisi/nutrisi terpenuhi, dengan kriteria hasil : Nafsu makan klien kembali normal, Klien menghabiskan 1 porsi makanannya, Berat badan klien naik

1. Sajikan makanan dalam keadaan hangat 2. Beri dukungan pada klien

1. Meningkatkan nafsu makan

2. Menambah semangat klien untuk mau makan

untuk makan

3. Sajikan makanan dalam bentuk menarik 4. Anjurkan klien untuk sedikit makan tapi yang

3. Menambah nafsu makan klien

4. Menghindari terjadinya mual muntah

sering

VI. CATATAN PERKEMBANGAN Tgl/ jam 3/10/13 19.00 No. Dx 1-4 Menanyakan keluhan klien S : klien mengatakan nyeri P : nyeri luka jahitan muncul ketika bergerak dan kadang spontan, Q : seperti teriris, R : abdomen, S : 7 , T : timbul saat bergerak/ berganti posisi. O: Klien tampak meringis sambil perutnya mengusap-usap Implementasi Respon Klien Paraf

Mengukur tanda-tanda vital klien

S : klien mengatakan bersedia diukur ttv O : TD 100/70 mmHg, N 88 x/mnt, Suhu 37C, Rr 20 x/mnt

Mengajarkan dan menganjurkan S : klien mengatakan bersedia klien tentang napas dalam untuk diajarkan nafas dalam O : Klien dapat mengikuti arahan, dan dapat

sebagai mengontrol nyeri

mempraktikan nafas dalam dengan benar

Menganjurkan

kepada

klien S : Klien mengatakan bersedia

untuk selalu mencuci tangan mengikuti anjuran sebelum beraktivitas dan sesudah O : Klien tampak paham dengan anjuran

Memberikan nyaman

posisi

yang S : klien mengatakan bersedia diubah posisinya O : klien dalam posisi tidur dengan kepala lebih tinggi

Menganjurkan

klien

untuk S : klien bersedia belajar menggerak-gerakan kaki O : klien nampak berusaha menggerak-gerakan kaki, kaki sudah dapat bergerak

belajar menggerak-gerakan kaki

Menanyakan pola makan klien

S : klien mengatakan tidak nafsu makan, makan hanya 1 sendok O : makan malam terlihat masih penuh

4/10/13 14.30 1 Memberikan posisi nyaman bagi klien dengan merapikan tempat tidurnya S : klien bersedia dirapikan tempat tidurnya O : klien nampak bedrest dan nyaman

Menanyakan keluhan klien 1

S : klien mengatakan masih nyeri P : nyeri luka jahitan muncul ketika diam lalu akan

bergerak, Q : nyeri terasa seperti teriris dan seperti di remas pada daerah perut, R : nyeri terasa pada luka jahitan yang terdapat pada abdomen, S : skala 5, T : timbul saat bergerak/ berganti posisi. O : klien berbicara dengan tenang

Menanyakan kemampuan gerak 2 klien

S : klien mengatakan sudah bisa duduk di bed, tapi masih sakit kalau untuk berjalan. O : klien terduduk di bed

Menganjurkan klien untuk melakukan nafas dalam ketika nyeri

S : klien mengatakan akan menggunakan nafas dalam untuk mengontrol nyeri O : klien nampak sedang tidak nyeri

1-4

Mengukur tanda-tanda vital klien

S : klien bersedia untuk diukur ttv O : TD 130/90 mmHg, N 80x, suhu 37C, Rr 20 x/mnt

Menanyakan pola makan klien

S : klien mengatakan sudah mulai mempunyai selera makan. Makan siang habis porsi O:

16.00

Memberikan injeksi obat ketorolac 30mg dan asam traneksamat 500mg

S : klien mengatakan bersedia diinjeksi obat. O : klien kooperatif

20.00

Memberikan injeksi ceftriaxon 4gr

S : klien mengatakan bersedia diinjeksi obat. O : klien kooperatif

5/10/12 14.30 1-4 Mengobservasi keadaan klien, mengukur TTV S: klien mengatakan bersedia diukur TTV O: TD 120/80 mmHg, S 37c, N 90x/ menit, RR 20x/menit

Mengobservasi nyeri klien

S: klien mengatakan nyerinya masih sedikit terasa O: skala nyeri 3, ekspresi nampak rileks

Mengobservasi nutrisi makan klien

S: Klien mengatakan sekarang makan habis 1 porsi O: habis 1 porsi

Menanyakan kemampuan gerak klien

S : klien mengatakan sudah bisa berjalan-jalan disekitar ruangan O : infus dan DC terlihat sudah tidak terpasang

6/10/12 09.30 1,2,3,4 Klien pulang

VII. EVALUASI Nama Umur Tgl/ jam No Dx S : klien mengatakan nyeri P : nyeri luka jahitan muncul ketika bergerak dan kadang spontan, Q : seperti teriris, R : abdomen, S : 7 , T : timbul saat bergerak/ berganti posisi. O: Klien tampak meringis sambil mengusap-usap perutnya A : masalah nyeri belum teratasi P : observasi skala nyeri, anjurkan teknik nafas dalam, kolaborasi pemberian obat untuk nyeri : Ny.L : 33 tahun No. RM DX. Medis : 428193 : post op SC+MOW Paraf

Evaluasi Keperawatan

3/10/13 1 19.00

S : Klien mengatakan susah beraktivitas, karena sakit pada daerah jahitannya semakin sakit jika untuk beraktivitas. O : klien nampak lemas A : masalah mobilitas fisik belum teratasi P : anjurkan klien berganti posisi tidur setiap 1 jam sekali, dan belajar menggerak-gerakkan kakinya

S: klien mengatakan masih nyeri pada luka operasi O: N 88 x/mnt, Suhu 37C, tidak ada tanda-tanda infeksi, luka masih tertutup kassa, bersih

A : masalah resiko infeksi belum teratasi P : pertahankan kebersihan luka, pantau tanda-tanda infeksi, kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik

S : klien mengatakan tidak nafsu makan, makan hanya 1 sendok O : makan malam terlihat masih penuh A : masalah resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh belum teratasi P : anjurkan klien untuk menghabiskan makannya, berikan informasi tentang pentingnya gizi untuk proses kesembuhan,anjurkan klien untuk makan saat makanan masih hangat,anjurkan untuk makan sedikit-sedikit tapi sering

4/10/13 1 14.30

S : klien mengatakan masih nyeri tapi sudah berkurang P : nyeri luka jahitan muncul ketika bergerak, Q : seperti teriris, R : abdomen, S : 5 , T : timbul saat bergerak/ berganti posisi. O: Klien terlihat lebih rileks daripada kemarin A : masalah nyeri belum teratasi P : observasi skala nyeri, anjurkan teknik nafas dalam, kolaborasi pemberian obat untuk nyeri

S : Klien mengatakan sudah bisa duduk tapi masih belum kuat untuk berjalan O : klien nampak terduduk di bed A : masalah mobilitas fisik belum teratasi P : anjurkan klien belajar berdiri dan berjalan secara bertahap

S: klien mengatakan masih nyeri pada luka operasi sudah berkurang O: N 80x, suhu 37C, tidak ada tanda-tanda infeksi, luka masih tertutup kassa, bersih A : masalah resiko infeksi belum teratasi P : pertahankan kebersihan luka, pantau tanda-tanda infeksi, kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik

S : klien mengatakan nafsu makan mulai muncul, makan habis 3/4porsi O : makan siang terlihat tersisa sedikit A : masalah resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi sebagian P : anjurkan klien untuk menghabiskan makannya, berikan informasi tentang pentingnya gizi untuk proses kesembuhan, anjurkan klien untuk makan saat

makanan masih hangat

5/10/13 1 14.45

S : klien mengatakan sedikit rasa nyeri P : nyeri luka jahitan muncul ketika bergerak, Q : senut-senut, R : abdomen, S : 3 , T : timbul saat bergerak. O: Klien terlihat rileks A : masalah nyeri teratasi sebagian P : observasi skala nyeri, anjurkan teknik nafas dalam, kolaborasi pemberian obat untuk nyeri

S : Klien mengatakan sudah bisa berjalan-jalan di sekitar ruangan O : klien nampak rileks A : masalah mobilitas fisik teratasi P : pertahankan kondisi klien

S: klien mengatakan masih sedikit nyeri pada luka operasi O: S 37c, N 90x/ menit, tidak ada tanda-tanda infeksi, luka masih tertutup kassa, bersih A : masalah resiko infeksi belum teratasi P : pertahankan kebersihan luka, pantau tanda-tanda infeksi, kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik

S : klien mengatakan nafsu makannya sudah normal makan habis porsi O : makan siang terlihat habis A : masalah resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi P : pertahankan kondisi klien

BAB IV PEMBAHASAN

Masa nifas atau puerperium berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari, merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat kandungan pada keadaan yang normal. Pada masa nifas juga terjadi perubahan pada alat reproduksi yaitu pada serviks dan endometrium. Pada psikologi ibu nifas juga terjadi perubahan yaitu masa taking in, taking hold, dan letting go. Wanita pasca persalinan harus cukup istirahat. Delapan jam pasca persalinan, ibu harus tidur terlentang untuk mencegah perdarahan. Sesudah 8 jam, ibu boleh miring ke kiri atau ke kanan untuk mencegah trombosis. Ibu dan bayi ditempatkan pada satu kamar. Pada hari kedua, bila perlu dilakukan latihan senam. Pada hari ketiga umumnya sudah bisa duduk, pada hari keempat berjalan, dan pada hari kelima dapat dipulangkan. Makanan yang diberikan harus bermutu tinggi dan cukup kalori, cukup protein, serta banyak buah. Pada klien masuk dalam fase taking in. Pada kasus di atas, klien bernama Ny.L post op SC+MOW. Klien berumur 33 tahun. P3 A0. Klien memasuki fase nifas dalam kondisi normal tanpa adanya komplikasi. Masuk ke ruang bougenville pada tanggal 03 Oktober 2013 pukul 13.45 WIB. Klien diterima dalam keadaan sadar, klien dipasang infus RL, dan dipasang DC di ruang bougenville, klien nampak lemas. Setelah dilakukan pengkajian keperawatan pada Ny.L didapatkan beberapa masalah keperawatan, yaitu nyeri yang disebabkan karena ada luka post SC, gangguan mobilitas fisik karena efek anestesi dan adanya nyeri akibat SC. Kemudian resiko infeksi yang dikarenakan adanya luka post SC yang dapat mengancam invasi mikroorganisme melalui luka tersebut. Masalah keperawatan yang lain yaitu resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang dikarenakan oleh anoreksia. Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama tiga hari, mulai pada tanggal 03-05 Oktober 2013, masalah keperawatan yang dapat teratasi adalah gangguan

mobilitas fisik dan resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Masalah keperawatan nyeri baru dapat teratasi sebagian. Masalah resiko infeksi juga belum dapat teratasi dikarenakan masih ada luka yang kemungkinan resiko infeksi masih sangat besar dapat terjadi pada Ny.L. Klien dinyatakan boleh pulang pada tanggal 06 oktober 2013 pukul 09.30 WIB. Kondisi klien baik namun masih terkadang merasa sedikit nyeri.

BAB V PENUTUP

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama tiga hari, masalah klien tidak semuanya dapat teratasi. Respon nyeri seseorang berbeda satu sama lain. Sehingga memungkinkan keluhan nyeri merupakan kondisi subjektif yang tidak dapat dipastikan seseorang akan berapa lama merasakan nyeri. Sementara resiko infeksi masih tetap ditegakkan sebagai masalah keperawatan dan belum teratasi dikarenakan klien masih terdapat luka post SC yang masih memungkinkan invasi mikroorganisme melalui luka tersebut.