Anda di halaman 1dari 3

Latar Belakang Indikator kesehatan suatu negara ditentukan dengan perbandingan tinggi rendahnya Angka Kematian Ibu (AKI)

dan Angka Kematian Bayi (AKB). Indonesia dilingkungan ASEAN merupakan negara dengan angka kematian ibu tertinggi, yang berarti kemampuan negara memberikan pelayanan kesehatan masih memerlukan perbaikan yang bersifat menyeluruh dan lebih bermutu (Manuaba, 2007). Indonesia telah berhasil menurunkan AKI dari 390/100.000 kelahiran hidup (1992) menjadi 334/100.000 kelahiran hidup (1997). Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) turun menjadi 228/100.000 kelahiran hidup (2007). Meskipun telah terjadi penurunan dalam beberapa tahun terakhir akan tetapi penurunan tersebut masih sangat lambat (Wilopo,2010). Menurut Manuaba (2008), penyebab kematian ibu yang paling utama adalah perdarahan sekitar 60-70% dibandingkan sebab-sebab lain seperti preeklamsia dan Eklamsia 10-20%, infeksi 20-30%, termasuk partus terlantar dan penyebab lain seperti emboli air ketuban dan anestisia. Perdarahan post partum bukanlah suatu diagnosis akan tetapi suatu kejadian yang harus dicari penyebabnya. Misalnya perdarahan post partum karena atonia uteri, perdarahan post partum oleh karena robekan jalan lahir, perdarahan post partum oleh karena sisa plasenta atau oleh karena gangguan pembekuan darah. Sifat perdarahan pada perdarahan post partum bisa banyak, bergumpal-gumpal sampai menyebabkan syok atau terus merembes sedikit demi sedikit tanpa henti (Sarwono, 2008). Perdarahan, khususnya perdarahan post partum yang disebabkan karena retensio sisa plasenta dimana tertinggalnya sisa plasenta atau selaput plasenta didalam rongga rahim yang mengakibatkan perdarahan post partum dini (early postpartum hemorrhage) atau perdarahan post partum lambat (late postpartum hemorrhage) yang biasanya terjadi dalam 6-10 hari pasca persalinan. Apabila pada pemeriksaan USG diperoleh kesimpulan adanya sisa plasenta tahap pertama bisa dilakukan eksplorasi digital (jika servik terbuka) untuk mengeluarkan bekuan darah atau jaringan. Bila servik hanya dapat dilalui oleh instrument, lakukan evakuasi sisa plasenta dengan kuretase. Bidan dapat berkolaborasi dengan dokter untuk melakukan kuretase (Sarwono, 2008).

Seringkali nyawa ibu tidak tertolong karena perdarahan terjadi di luar Rumah Sakit dan keterlambatan rujukan, sehingga tidak dapat diberikan tranfusi darah atau tindakan medis lainnya untuk menghentikan perdarahan. Berdasarkan uraian masalah diatas penulis tertarik untuk menyusun Karya Tulis Ilmiah dengan judul Asuhan Kebidanan Ibu Nifas dengan Perdarahan Post Partum karena Retensio Sisa Plasenta.

PERDARAHAN POST PARTUM KARENA RETENSIO SISA PLASENTA

OLEH FRANSISKA OLIVIA MANDE NIM: 11.03.2.010.1

STIKes GANESHA HUSADA KEDIRI PROGRAM STUDI DIII - KEBIDANAN TAHUN 2013/2014