Anda di halaman 1dari 48

HEAT EXCHANGER

I. TUJUAN Untuk dapat memahami prinsip kerja alat penukar panas pipa ganda (double pipe HE). Untuk mengetahui karakteristik alat pengukur panas dengan menghitung : o LMTD pada aliran berlawanan arah. o Koefisien perpindahan panas keseluruhan o Tahanan keseluruhan terhadap aliran dalam pipa

II.

PERINCIAN KERJA Pengkalibrasian laju alir Penentuan suhu fluida panas (input dan output) dan penentuan suhu fluida dingin (input dan output)

III.

ALAT DAN BAHAN A. Alat yang digunakan Alat penukar panas (double pipe HE) Thermo bath (sumber fluida panas) Gelas ukur 500 ml Stop watch Jerigen penampung air dingin Data HE, panjang total= 1,5 ;pipa besar= 1 dan pipa kecil=

B. Bahan yang digunakan Air

IV.

DASAR TEORI a. Pengertian Heat Exchanger Alat penukar panas atau Heat Exchanger (HE) adalah alat yang digunakan untuk memindahkan panas dari sistem ke sistem lain tanpa perpindahan massa dan bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya, medium pemanas dipakai adalah air yang dipanaskan sebagai fluida panas dan air biasa sebagai air pendingin (cooling water). Penukar panas dirancang sebisa mungkin agar perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien. Pertukaran panas terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida terdapat dinding yang memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung (direct contact). Penukar panas sangat luas dipakai dalam industri seperti kilang minyak, pabrik kimia maupun petrokimia, industri gas alam, refrigerasi, pembangkit listrik. Salah satu contoh sederhana dari alat penukar panas adalah radiator mobil di mana cairan pendingin memindahkan panas mesin ke udara sekitar. Tipe Aliran pada Alat Penukar Panas Tipe aliran di dalam alat penukar panas ini ada 4 macam aliran yaitu : 1. Counter current flow (aliran berlawanan arah) 2. Paralel flow/co current flow (aliran searah) 3. Cross flow (aliran silang) 4. Cross counter flow (aliran silang berlawanan) Jenis-jenis penukar panas Jenis-jenis penukar panas antara lain : 1. Double Pipe Heat Exchanger 2. Plate and Frame Heat Exchanger 3. Shell and Tube Heat Exchanger 4. Adiabatic wheel heat exchanger 5. Pillow plate heat exchanger 6. Dynamic scraped surface heat exchanger

7. Phase change heat exchanger Prinsip dan Teori Dasar Perpindahan Panas Panas adalah salah satu bentuk energi yang dapat dipindahkan dari suatu tempat ke tempat lain, tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan sama sekali. Dalam suatu proses, panas dapat

mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu suatu zat dan atau perubahan tekanan, reaksi kimia dan kelistrikan. Proses terjadinya perpindahan panas dapat dilakukan secara langsung, yaitu fluida yang panas akan bercampur secara langsung dengan fluida dingin tanpa adanya pemisah dan secara tidak langsung, yaitu bila diantara fluida panas dan fluida dingin tidak berhubungan langsung tetapi dipisahkan oleh sekat-sekat pemisah. Perpindahan Panas Secara Konduksi Merupakan perpindahan panas antara molekul-molekul yang saling berdekatan antar yang satu dengan yang lainnya dan tidak diikuti oleh perpindahan molekul-molekul tersebut secara fisik. Molekul-molekul benda yang panas bergetar lebih cepat dibandingkan molekul-molekul benda yang berada dalam keadaan dingin. Getaran-getaran yang cepat ini, tenaganya dilimpahkan kepada molekul di sekelilingnya sehingga menyebabkan getaran yang lebih cepat maka akan memberikan panas. Perpindahan Panas Secara Konveksi Perpindahan panas dari suatu zat ke zat yang lain disertai dengan gerakan partikel atau zat tersebut secara fisik. Perpindahan Panas Secara Radiasi Perpindahan panas tanpa melalui media (tanpa melalui molekul). Suatu energi dapat dihantarkan dari suatu tempat ke tempat lainnya (dari benda panas ke benda yang dingin) dengan pancaran gelombang elektromagnetik dimana tenaga elektromagnetik ini akan berubah menjadi panas jika terserap oleh benda yang lain.

Gambar 1. Perpindahan Kalor pada Heat Exchanger Pada Dasarnya prinsip kerja dari alat penukar kalor yaitu memindahkan panas dari dua fluida padatemperatur berbeda di mana transfer panas dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung. Secara kontak langsung

Panas yang dipindahkan antara fluida panas dan dinginmelalui permukaan kontak langsung berarti tidak ada dinding antara kedua fluida.Transfer panas yang terjadi yaitu melalui interfase / penghubung antara kedua fluida.Contoh : aliran steam pada kontak langsung yaitu 2 zat cair yang immiscible (tidak dapat bercampur), gas-liquid, dan partikel padat-kombinasi fluida. Secara kontak tak langsung

Perpindahan panas terjadi antara fluida panas dandingin melalui dinding pemisah. Dalam sistem ini, kedua fluida akan mengalir.

EFEK PANAS Panas adalah satu bentuk energi yang ditransfer karena adanya gaya dorong perbedaan suhu. Peristiwa transfer panas banyak dijumpai dalam industri kimia karena itu perlu dilakukan perhitungan jumlah panas yang diperlukan atau yang timbul pada suatu proses.

Dilihat dari proses yang terjadi ada beberapa jenis transfer panas, yang dapat digolongkan dalam dua golingan besar yaitu : a. b. Transfer panas yang menyertai perubahan fisika. Transfer panas yang menyertai perubahan kimia.

Yang termasuk dalam golongan pertama (transfer panas yang menyertai perubahan fisika) : a. b. c. Panas sensible. Panas laten Panas pelarutan (tidak dibahas dalam bab ini)

Sedang yang termasuk dalam golongan kedua yaitu transfer panas yang menyertai perubahan kimia adalah panas reaksi. - Panas Sensibel Panas sensibel adalah transfer panas pada system yang mengakibatkan perubahan suhu, tanpa disertai :
o o o

Terjadinya perubahan fase Reaksi kimia Perubahan komposisi

- Panas laten zat murni Bila zat murni mengalami perubahan fase pada tekanan tetap misalnya dari padat ke cair atau cair ke uap maka tidak terjadi perubahan suhu.Perubahan enthalpy karena perubahan fase yang terjadi pada suhu dan tekanan tetap terkenal dengan mana Panas laten. - Panas Reaksi Standar Reaksi kimia selalu di ikuti dengan transfer panas atau perubahan suhu dan kadang-kadang keduanya terjadi.Hal ini di sebabkan karena adanya perbedaan struktur molekul antara reaktan dan produk menyebabkan berubahnya enegi system (reaksi). - Panas pembakaran standard Pada kenyataan hanya sedikit reaksi pembentukan yang bisa di lalukan karena itu data untuk reaksi bentukan ini biasanya di tentukan secara tidak

langsung salah satu cara adalah melalui percobaan mengenai reaksi pembakaran yang pengukuran menggunakan calorimeter.

b. Jenis jenis Heat Exchanger 1. Penukar panas pipa rangkap (double pipe heat exchanger ) Salah satu jenis penukar panas adalah susunan pipa ganda. Dalam jenis penukar panas dapat digunakan berlawanan arah aliran atau arah aliran, baik dengan cairan panas atau dingin cairan yang terkandung dalam ruang annular dan cairan lainnya dalam pipa. Alat penukar panas pipa rangkap terdiri dari dua pipa logam standart yang dikedua ujungnya dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak penyekat. Fluida yang satu mengalir di dalam pipa, sedangkan fluida kedua mengalir di dalam ruang anulus antara pipa luar dengan pipa dalam. Alat penukar panas jenis ini dapat digunakan pada laju alir fluida yang kecil dan tekanan operasi yang tinggi. Sedangkan untuk kapasitas yang lebih besar digunakan penukar panas jenis selongsong dan buluh ( shell and tube heat exchanger ).

Gambar 2 . Penukar panas jenis pipa rangkap (double pipe heat exchanger )

2. Penukar panas cangkang dan buluh ( shell and tube heat exchanger ) Alat penukar panas cangkang dan buluh terdiri atas suatu bundel pipa yang dihubungkan secara parallel dan ditempatkan dalam sebuah pipa mantel (cangkang ). Fluida yang satu mengalir di dalam bundel pipa,

sedangkan fluida yang lain mengalir di luar pipa pada arah yang sama, berlawanan, atau bersilangan. Kedua ujung pipa tersebut dilas pada penunjang pipa yang menempel pada mantel. Untuk meningkatkan effisiensi pertukaran panas, biasanya pada alat penukar panas cangkang dan buluh dipasang sekat ( buffle ). Ini bertujuan untuk membuat turbulensi aliran fluida dan menambah waktu tinggal ( residence time ), namun pemasangan sekat akan memperbesar pressure drop operasi dan menambah beban kerja pompa, sehingga laju alir fluida yang dipertukarkan panasnya harus diatur.

Gambar 3.Penukar panas jenis cangkang dan buluh ( shell and tube heat exchanger )

3. Penukar Panas Plate and Frame ( plate and frame heat exchanger ) Alat penukar panas pelat dan bingkai terdiri dari paket pelat pelat tegak lurus, bergelombang, atau profil lain. Pemisah antara pelat tegak lurus dipasang penyekat lunak ( biasanya terbuat dari karet ). Pelat pelat dan sekat disatukan oleh suatu perangkat penekan yang pada setiap sudut pelat 10 ( kebanyakan segi empat ) terdapat lubang pengalir fluida. Melalui dua dari lubang ini, fluida dialirkan masuk dan keluar pada sisi yang lain, sedangkan fluida yang lain mengalir melalui lubang dan ruang pada sisi sebelahnya karena ada sekat.

Gambar 4. Penukar panas jenis pelat and Frame

Gambar 5. Penukar panas jenis pelat and Frame

4. Adiabatic wheel heat exchanger Jenis keempat penukar panas menggunakan intermediate cairan atau toko yang solid panas, untuk yang

menahan

kemudian pindah ke sisi lain dari penukar panas akan dirilis. Dua contoh ini

adalah roda adiabatik, yang terdiri dari roda besar dengan benang halus berputar melalui cairan panas dan dingin, dan penukar panas cairan. 5. Pillow plate heat exchanger Sebuah pelat penukar bantal umumnya digunakan dalam industri susu untuk susu pendingin dalam jumlah besar langsung ekspansi tank massal stainless steel. Pelat bantal

memungkinkan untuk pendinginan di hampir daerah seluruh

permukaan tangki, tanpa sela yang akan terjadi antara pipa dilas ke bagian luar tangki. Pelat bantal dibangun menggunakan lembaran tipis dari logam-spot selembar dilas tebal ke dari

permukaan logam.

Pelat tipis dilas dalam pola teratur dari titik-titik atau dengan pola serpentin garis las. Setelah pengelasan ruang tertutup bertekanan dengan kekuatan yang cukup untuk menyebabkan logam tipis untuk tonjolan di sekitar lasan, menyediakan ruang untuk cairan penukar panas mengalir, dan menciptakan penampilan yang karakteristik bantal membengkak terbentuk dari logam.

6. Dynamic scraped surface heat exchanger Tipe lain dari penukar panas besot disebut "(dinamis) heat terutama

permukaan

exchanger". Ini

digunakan untuk pemanasan atau tinggi pendinginan viskositas dengan produk,

proses kristalisasi, penguapan tinggi dan fouling aplikasi. Kali berjalan panjang yang dicapai karena terus menerus menggores permukaan, sehingga menghindari pengotoran dan mencapai kecepatan transfer panas yang berkelanjutan selama proses tersebut. 7. Phase-change heat exchanger Selain memanas atau pendinginan cairan hanya dalam satu fasa, penukar panas dapat digunakan baik untuk memanaskan cairan menguap (atau mendidih) atau digunakan sebagai kondensor untuk mendinginkan uap dan mengembun ke cairan. Pada pabrik kimia dan kilang, reboilers digunakan untuk memanaskan umpan masuk untuk menara distilasi sering penukar panas . Distilasi set-up biasanya menggunakan kondensor untuk

mengkondensasikan uap distilasi kembali ke dalam cairan.Pembangkit tenaga listrik yang memiliki uap yang digerakkan turbin biasanya menggunakan penukar panas untuk mendidihkan air menjadi uap. Heat exchanger atau unit serupa untuk memproduksi uap dari air yang sering disebut boiler atau generator uap.Dalam pembangkit listrik tenaga nuklir yang disebut reaktor air bertekanan, penukar panas khusus besar yang melewati panas dari sistem (pabrik reaktor) primer ke sistem (pabrik uap) sekunder, uap memproduksi dari air dalam proses, disebut generator uap.Semua pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan nuklir menggunakan uap yang digerakkan turbin memiliki kondensor

permukaan untuk mengubah uap gas buang dari turbin ke kondensat (air) untuk digunakan kembali. Untuk menghemat energi dan kapasitas pendinginan dalam kimia dan tanaman lainnya, penukar panas regeneratif dapat digunakan untuk mentransfer panas dari satu aliran yang perlu didinginkan ke aliran yang perlu dipanaskan, seperti pendingin distilat dan pakan reboiler prapemanasan. Istilah ini juga dapat merujuk kepada penukar panas yang mengandung bahan dalam struktur mereka yang memiliki perubahan fasa. Hal ini biasanya padat ke fase cair karena perbedaan volume kecil antara negara-negara ini. Perubahan fase efektif bertindak sebagai buffer karena terjadi pada suhu konstan tetapi masih memungkinkan untuk penukar panas untuk menerima panas tambahan. Salah satu contoh di mana ini telah diteliti untuk digunakan dalam elektronik pesawat daya tinggi.

Pengaturan Arus

Berlawanan (A) dan paralel (B) arus

Gambar. 1: Shell dan penukar panas tabung , lulus tunggal (aliran paralel 1-1)

Gambar. 2: Shell dan penukar panas tabung, 2-pass sisi tube (1-2 crossflow)

Gambar. 3: Shell dan penukar panas tabung, sisi shell 2-pass, sisi tabung 2-pass (2-2 lawan)

Ada tiga klasifikasi utama penukar panas menurut pengaturan aliran mereka. Dalam exchanger paralel aliran panas, kedua cairan memasuki exchanger pada akhir yang sama, dan perjalanan secara paralel satu sama lain ke sisi lain. Dalam exchanger counter-flow panas cairan memasuki penukar dari ujung berlawanan. Desain saat ini counter adalah yang paling efisien, karena dapat mentransfer panas yang paling dari panas (transfer) menengah karena fakta bahwa perbedaan suhu ratarata sepanjang setiap satuan panjang yang lebih besar. Lihat pertukaran lawan arus . Dalam penukar lintas-aliran panas, cairan perjalanan sekitar tegak lurus satu sama lain melalui exchanger. Untuk efisiensi, penukar panas yang dirancang untuk

memaksimalkan luas permukaan dinding antara dua cairan, dan meminimalkan resistensi terhadap aliran fluida melalui exchanger. Kinerja penukar juga dapat dipengaruhi oleh penambahan sirip atau lipatan pada satu atau kedua arah, yang meningkatkan luas permukaan dan dapat menyalurkan aliran fluida atau menyebabkan turbulensi.

Suhu mengemudi di permukaan perpindahan panas bervariasi dengan posisi, tapi suhu rata-rata yang tepat dapat didefinisikan. Dalam sistem yang paling sederhana ini adalah " log berarti perbedaan suhu "(LMTD). Kadang-kadang pengetahuan langsung dari LMTD tidak tersedia dan metode NTU digunakan. Komponen-komponen Heat Exchanger. Shell Kontruksi shell sangat ditentukan oleh keadaan tubes yang akan ditempatkan didalamnya. Shell ini dapat dibuat dari pipa yang berukuran besar atau pelat logam yang dirol. Shell merupakan badan dari heat exchanger, dimana didapat tube bundle. Untuk temperatur yang sangart tinggi kadang-kadang shell dibagi dua disambungkan dengan sambungan ekspansi. Tube (pipa) Tube atau pipa merupakan bidang pemisah antara kedua jenis fluida yang mengalir didalamnya dan sekaligus sebagai bidang perpindahan panas. Ketebalan dan bahan pipa harus dipilih pada tekanan operasi fluida kerjanya. Selain itu bahan pipa tidak mudah terkorosi oleh fluida kerja. Tube Sheet Tempat untuk merangkai ujung-ujung tube sehingga menjadi satu yang disebut tube bundle. HE dengan tube lurus pada umumnya menggunakan 2 buah tube sheet. Sedangkan pada tube tipe U menggunakan satu buah tube sheet yang berfungsi untuk menyatukan tube-tube menjadi tube bundle dan sebagai pemisah antara tube side dengan shell side.

Sekat (Baffle) Adapun fungsi dari pemasangan sekat (baffle) pada heat exchanger ini antara lain adalah untuk : 1. Sebagai penahan dari tube bundle 2. Untuk mengurangi atau menambah terjadinya getaran.

3. Sebagai alat untuk mengarahkan aliran fluida yang berada di dalam tubes. Ditinjau dari segi konstruksinya baffle dapat diklasifikasikan dalam empat kelompok, yaitu : 1. sekat plat bentuk segmen. 2. Sekat bintang (rod baffle) 3. Sekat mendatar. 4. Sekat impingement. Tie Rods Batangan besi yang dipasang sejajar dengan tube dan ditempatkan di bagian paling luar dari baffle yang berfungsi sebagai penyangga agar jarak antara baffle yang satu dengan lainnya tetap. Tipe-tipe Penukar Panas Penukar panas diklasifikasikan atas dasar : 1. Bentuk dari aliran melalui penukar panas a. Paralel flow (aliran sejajar ) / co current Fluida panas dan fluida dingin melalui penukar panas satu arah yang sama pada kedua ujungnya. Maka aliran tersebut disebut searah atau sejajar.aliran searah jarang digunakan pada penukar kalor satu-lintas karena dengan cara ini kita tidak akan dapat membuat suhu keluar fluida yang satu mendekati suhu fluida yang kedua, dan kalor yang dapat dipindahkan akan kurang dari yang dapat dipindahkan bila aliran itu berlawanan arah. Aliran searah biasanya digunakan dalam situasi khusus, dimana suhu maksimum fluida dingin perlu dibatasi, atau dalam hal dimana terdapat keharusan mengubah suhu fluida dengan cepat; sedikitnya, salahsatu fluida.

Fluida 2

Fluida 1 Co-current flow b. Berlawanan arah/ countercurrent tflow Fluida yang satu masuk pada ujung penukar panas, sedang fluida yang satu lagi pada ujung yang lain, lalu masing-masing mengalir menurut arah yang berlawanan.

Fluida 2

Fluida 1 Co-current flow c. Single pass cross flow Salah satu fluida bergerak sepanjang permukaan dalam arah saling tegak lurus

Fluida 2 Fluida 1

Single Pass Cross Flow

2. Alat penukar kalor pipa ganda (double tube exchanger) Alat penukar kalori ini menggunakan 2 macam tube yang diameternya tidak sama pada konstruksi pipa ganda ini terdapat pipa didalam (inner tube) dan luar pipa (outer tube) sering disebut annulus. Bila ditinjau dari segi kebutuhan operasi, maka alat penukar ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. Penukar kalori susunan seri b. Penukar kalor susunan seri parallel Pada konstruksi susunan seri, maka fluida dalam tube sebelah dalam maupun sebelah luar (didalam annulus) alirannya satu lintasan tanpa cabang sedangkan alat penukar kalor susunan seri paralel, didalam tube sebelah dalam dan fluda dalam anulus masing-masing mempunyai cabang. Penutup pipa rangkap ini ternyata tidak memadai untuk laju aliran yang lebih besar dari pada yang dapat ditangani dengan beberapa buah tabung saja. Jika kita menggunakan banyak penukar kalor pipa rangkap secara parallel, bobot logam yang digunakan sebagai pipa luar akan menjadi sedemikian tinggi sehingga penggunaan konstruksi selongsong dan tabung sekaligus, akan lebih menjadi ekonomis. Penukar panas ini hanya melakukan suatu lintasan selongsong dan satu lintasan pula di dalam tabung. Dalam penukar panas, koefisien perpindahan panas sisi selongsong dan koefisien sis tabung sama-sama penting, dan keduanya cukup besar agar koefisien menyeluruh dan memuaskan dapat tercapai. Kecepatan dan keturbulenan zat cair sisa selongsong juga tidak kala pentingnya dari kecepatan dari keterbulenan zat cair sisi tabung. Untuk meningkatkan aliran silang dan menaikkan kecepatan rata-rata fluida sisi selongsong itu dipasang sekat-sekat tersebut terbuat dari logam berbentuk piring bundar yang satu sisinya dipotong. Dalam prakteknya biasanya segmen itu dipotong pada tinggi seperempat diameter selongsong. Sekat-sekat demikian disebut sekat 25 % (25 percent baffles). Sekat itu lalu diberi lubang-lubang untuk melakukan tabung-

tabung. Agar kebocoran dapat dibuat minimum, ruang bebas pemasangan antara sekat dan selongsong harus dibuat sekecil mungkin. Sekat itu ditunjang oleh sebuah atau beberapa buah batang pemandu yang dipasang diantara kedua plak tabung. Agar sekat-sekat itu terpasang erat ditempatnya, dipasang pula potongan-potongan tabung pendek sebagai penjaga jarak antara sekat-sekat. 3. Penukar kalor jenis plat. Untuk perpindahan panas antara dua fluida pada tekanan rendah dan selang yaitu, dibawa kira-kira 20 atm, penukar kalor jenis plat dapat bersaing dengan penukar kalor jenis selongsong dan tabung, lebih-lebih dalam situasi yang memerlukan penggunaan bahan tahan korosi. Plat-plat logam, biasanya dengan permukaan bergelombang, didukung oleh suatu kerangka; lidah panas dialirkan melalui pasangan-pasangan plat selamenyela, dan bertukar panas dengan fluida dingin yang mengalir disebelahnya. Plat-plat itu biasanya berjarak 5 mm satu sama lain. Plat-plat itu dapat dengan mudah dipisahkan untuk pembersihan, tambahan luas, bila diperlukan, dapat dilakukan dengan menambahkan plat-plat lagi. Beda dengan penukar panas selongsong dan tabung, penukar panas jenis plat dapat digunakan untuk tugas-tugas rangkap; umpamanya, beberapa fluida yang berlainan dapat dialirkan melalui berbagai bagian penukar panas dan masih terpisah satu sama lain. Suhu operasi maksimumnya ialah kira-kira 300 0F, sedang luas permukaan panas maksimum ialah kira-kira 5,0 ft2. penukar kalor jenis plat relatif efektif untuk viskos dengan viskositas sampai kira-kira 300 P. 4. Kondensor Piranti penukar panas khusus yang digunakan untuk mencairkan uap dengan mengambil panas tertentunya disebut kondensor. Kalor laten itu diambil dengan menyerapnya kedalam zat cairan lebih dingin disebut pendingin (coolant) karena suhu pendingin didalam kondensor itu tentu meningkat karena itu, maka alat itu dengan demikian juga bekerja

sebagai pemanas. Beberapa contoh kondensor terlihat seperti dibawah ini: a. Kondensor salongsong dan tabung. Kondensor ini merupakan kondensor lintas tunggal, karena keseluruhan arus zat cair dingin mengalir melalui semua tabung secara parallel. Dalam kondensor besar, aliran ini mengakibatkan suatu keterbatasan penting. Jumlah tabung itu akan sedemikian besar sehingga, dengan satu lintasan saja, kecepatan melalui tabung itu terlalu kecil untuk memberikan koefisien perpindahan panas yang memadai, dan unit ini akan menjadi terlalu besar dan tidak ekonomi. Demikian pula, karena naila koefisien itu rendah sekali, akan diperlukan tabung-tabung yang panjang sekali jika kita ingin memanaskan fluida pendingin itu dalam suhu yang cukup besar. Tabung yang terlalu panjang itu tentu tidak praktis. Untuk mendapatkan kecepatan yang lebih besar, dan koefisien perpindahan panas yang lebih tinggi, serta tabung yang lebih pendek, prinsip lintas banyak (multi pass) yang digunakan dalam penukar panas dapat pula digunakan untuk pendingin dalam kondensor. b. Kondensor dehummidifikasi Kondensor untuk campuran uap dan gas tak mampu kondensasi. Kondensor ini dipasang fertikal, dan bukan horizontal sebagaimana biasanya untuk kebanyakan kondensor yang menangani uap yang tidak mengandung gas tidak mampu kondensasi. Demikian pula uap itu terkondensasi didalam tabung, bukan diluar, dan pendingin mengalir melalui solongsong bukan tabung. Hal ini memungkinkan campuran uap dan gas itu memberikan satuan positif pada waktu melalui tabung sehingga mencegah pembentuk kantong-kantong gasgas yang tak terkondensasi, yang bentuknya sudah dimodifikasi berfungsi juga untuk memisahkan kondensor dari gas dan uap yang terkondensasi.

c. Kondesor kontak Kondesor kontak jauh lebih kecil lebih murah dari kondesor permukaan. Dalam kondensor ini, sebagian dari air pendingin disemprotkan dalam arus uap didekat lubang masuk uap, dan sisanya diarahkan pada leher pembuang untuk menyelesaikan kondensasi. Bila kondensor solongsong dan tabung dioperasikan didalam vakum, kondensor itu biasanya dipompakan keluar, tetapi bisa juga dikeluarkan dengan menggunakan kaki barometric (barometric leg). Kaki barometric ini berupa suatu tabung vertikal, panjang kira-kira 34 ft (10 m), tertup mati pada bagian bawah oleh tangki penampung kondesat. Dalam operasinya, permukaan zat cair dalam kaki itu dengan sendirinya mengatur dirinya, sehingga perbedaan tinggi tekan didalam kaki dan tangki sesuai perbedaan tekanan antara atmosfir dan ruang uap didalam kondensor. Zat cair itu lalu mengalir melalui kaki itu segera setelah terbentuk melalui kondensasi tanpa mengganggu vakum. Dalam kondensor kontak langsung tekanan yang dipulihkan dalam kerucut hilir venturi biasanya cukup memadai sehingga kaki barometric tidak diperlukan lagi. Instumentasi

Double pipe Heat exchanger merupakan suatu alat yang didisain untuk mempelajari dan mengevaluasi pengaruh perbedaan laju alir dan material teknik pada laju transfer panas melalui dinding tipis.

Pengaturan Pipa (Pipe Arrangement) Alat ini terdiri atas dua pipa logam berdinding tipis yang tersusun dalam suatu panel vertikal. Pipa dapat beroperasi dengan baik pada aliran searah maupun berlawanan. Setiap pipa terdiri dari sebuah pipa tembaga luar dan dalam. Fluida panas mengalir melalui pipa bagian dalam, sedangkan fluida dingin mengalir melalui anulus antara pipa luar dan dalam. Pengaturan terhadap valve dalam rangkaian ini akan

menghasilkan aliran yang sesuai dengan tujuan percobaan yaitu searah dan berlawanan arah. Sambungan (Fitting) Heat exchanger mempunyai sambungan pipa standar yang terletak sepanjang siku yang paling rendah dari panel. Tiga sambungan masuk dialokasikan di sebelah kanan panel. Valves Valve digunakan untuk mengatur kondisi aliran yang diinginkan dan untuk mengatur laju alir dari fluida. Unit ini memiliki empat needle type metering valve. Dua valve pada masukan tangkin pencampuran dan dua lainnya pada keluaran. Semua valve yang lain berjenis global type gate valve. Valve yang menangani fluida panas di cat berwarna merah sedangkan yang menangani fluida dingin di cat bewarna biru. Flowmeter Aliran dari suatu fluida diregulasikan dengan needle valve. Laju alir untuk fluida panas dan fluida dingin dengan specific gravity yang sama diukur dengan menggunakan single-pass-tube-type flowmeter. Flowmeter dilengkapi dengan sebuah skala logam yang dapat dipindahkan dan sudah dikalibrasi. Double Pipe Heat Exchanger berfungsi mempertukarkan suhu antara dua fluida dengan melewati dua bidang batas. Bidang batas pada alat penukar kalor ini berupa pipa yang terbuat dari berbagai jenis logam sesuai dengan penggunaan dari alat tersebut.

Beberapa faktor yang menjadi parameter unjuk kerja dari alat Double Pipe Heat Exchanger adalah faktor kekotoran (dirt factor), luas permukaan perpindahan kalor, koefisien perpindahan kalor, beda temperatur rata-rata, jenis aliran (bilangan reynold) dan arah aliran (co-current atau counter current).

Faktor pengotoran akan memperkecil efisiensi HE. Parameter faktor kekotoran pada alat ini sangat mempengaruhi unjuk kerja alat tersebut. Hal ini terlihat dari koefisien perpindahan panas menyeluruh antara alat saat bersih (UC) dan saat kotor (UD) yang akan berpengaruh pada temperatur akhir yang diperoleh.

Aliran fluida berlawanan akan mempunyai selisih suhu uap dan air awal yang relatif sama dengan selisih suhu uap dan air pada kondisi akhir.

Aliran fluida searah akan memberikan selisih suhu uap dan air awal jauh lebih besar daripada selisih suhu uap dan air pada kondisi akhir.

Aliran counter current lebih efektif daripada aliran co current. Perpindahan panas yang terjadi pada aliran berlawanan lebih menyeluruh, fluida panas dan fluida dingin saling bertukar panas pada titik-titik yang memiliki perbedaan suhu yang besar sehingga jarak suhu steam dan air keluar cukup dekat.

Prinsip kerja double pipe Pada alat ini, mekanisme perpindahan kalor terjadi secara tidak langsung (indirect contact type), karena terdapat dinding pemisah antara kedua fluida sehingga kedua fluida tidak bercampur. Fluida yang memiliki suhu lebih rendah (fluida pendingin) mengalir melalui pipa kecil, sedangkan fluida dengan suhu yang lebih tinggi mengalir pada pipa yang lebih besar (pipa annulus). Penukar kalor demikian mungkin terdiri dari beberapa lintasan yang disusun dalam susunan vertikal. Perpindahan kalor yang terjadi pada fluida adalah proses konveksi, sedang proses konduksi terjadi pada dinding pipa. Kalor mengalir dari fluida yang bertemperatur tinggi ke fluida yang bertemperatur rendah.

Keistimewaan jenis ini adalah mampu beroperasi pada tekanan yang tinggi, dank arena tidak ada sambungan, resiko tercampurnya kedua fluida sangat kecil, mudah dibersihkan pada bagian fitting, Fleksibel dalam berbagai aplikasi dan pengaturan pipa, dapat dipasang secara seri ataupun paralel, dapat diatur sedimikian rupa agar diperoleh batas pressure drop dan LMTD sesuai dengan keperluan,mudah bila kita ingin menambahkan luas permukaannya dan kalkulasi design mudah dibuat dan akurat Sedangkan kelemahannya terletak pada kapasitas perpindahan panasnya sangat kecil, mahal, terbatas untuk fluida yang membutuhkan area perpindahan kalor kecil (<50 m2), dan biasanya digunakan untuk sejumlah kecil fluida yang akan dipanaskan atau dikondensasikan. Dalam desain pipa penukar panas ganda, merupakan faktor penting adalah jenis pola aliran dalam penukar panas. Sebuah penukar panas pipa ganda biasanya akan baik berlawanan arah / counterflow atau aliran paralel. Crossflow hanya tidak bekerja untuk penukar panas pipa ganda. Pola yang aliran dan tugas panas yang dibutuhkan pertukaran memungkinkan perhitungan log mean perbedaan suhu. Yang bersamasama dengan perpindahan panas keseluruhan diperkirakan koefisien memungkinkan perhitungan luas permukaan perpindahan panas yang diperlukan. Kemudian ukuran pipa, panjang pipa dan jumlah tikungan dapat ditentukan. Prinsip kerja dari alat ini adalah memindahkan panas dari cairan dengan temperature yang lebih tinggi ke cairan yang memiliki temperatur lebih rendah. Dalam percobaan kali ini, aliran panas (steam) dialirkan pada bagian dalam pipa konsentris sedangkan air dialirkan pada bagian luar dari pipa konsentris ini (bagian anulus). Namun, terkadang dalam beberapa alat seperti HE ini, akan ada pengotor didalam pipa yang membuat proses perpindahan kalor nya menjadi terganggu. Pengotoran ini dapat terjadi endapan dari fluida yang mengalir, juga disebabkan oleh korosi pada komponen dari heat exchanger akibat pengaruh dari jenis fluida yang dialirinya. Selama heat

exchanger ini dioperasikan pengaruh pengotoran pasti akan terjadi. Terjadinya pengotoran tersebut dapat menganggu atau memperngaruhi temperatur fluida mengalir juga dapat menurunkan ataau mempengaruhi koefisien perpindahan panas menyeluruh dari fluida tersebut. Beberapa faktor yang dipengaruhi akibat pengotoran antara lain : Temperatur fluida Temperatur dinding tube Kecepatan aliran fluida. Aliran Paralel (searah) dan aliran counter flo (berlawanan arah) dalam Penukar Kalor Pipa Ganda Pada percobban ini dilakukan 2 jenis aliran yaitu : a. Counter current flow atau Counter flow adalah aliran berlawanan arah, dimana fluida yang satu masuk pada satu ujung penukar kalor, sedangkan fluida yang satu lagi masuk pada ujung penukar panas yang lain, masing-masing fluida mengalir menurut arah yang berlawanan. b. Parallel flow atau Co-current flow adalah aliran searah ,dimana kedua fluida masuk pada ujung penukar panas yang sama dan kedua fluida mengalir searah menuju ujung penukar panas yang lain. Pada aliran searah, selisih temperatur antara temperatur fluida panas dan dingin akan menurun seiring dengan meningkatnya x. Hal ini dapat terjadi karena jika kita anggap ada sebuah molekul yang mengalir didalam pipa, maka molekul-molekul fluida panas dan dingin akan selalu bersama-sama hingga pada akhirnya panas akan berpindah diantaranya. Dibawah ini merupakan skema gambar dari aliran parallel flow dan counter flow.

Gambar 9. Aliran parallel flow dan counter flow

Penurunan maupun kenaikan temperatur pada akan sebanding diantara keduanya karena kebersama-samaan molekul-molekul fluida panas dan dinginnya. Keuntungan utama dari penukar panas pipa ganda adalah bahwa hal itu dapat dioperasikan dalam pola berlawanan arah/counterflow sejati, yang merupakan pola aliran yang paling efisien . Artinya, ia akan memberikan koefisien perpindahan panas tertinggi keseluruhan untuk desain penukar panas pipa ganda. Juga, penukar panas pipa ganda dapat menangani tekanan tinggi dan temperatur. Ketika mereka beroperasi di berlawanan arah / counterflow, mereka bisa beroperasi dengan suhu berlawanan, yaitu, dimana suhu dingin sisi outlet lebih tinggi dari temperatur outlet sisi panas.

Counter flow Heat Exchanger

Parallel-Flow Heat Exchanger:

A. Pengukuran Kinerja Heat Exchanger Kinerja dari suatu Heat Exchanger dapat dilihat dari parameter-parameter berikut : a. Faktor Pengotor (Fouling Factor) Faktor pengotoran ini sangat mempengaruhi perpindahan panas pada heat exchanger. Pengotoran ini dapat terjadi endapan dari fluida yang mengalir, juga disebabkan oleh korosi pada komponen dari heat exchange rakibat pengaruh dari jenis fluida yang dialirinya. Selama heat exchanger ini dioperasikan pengaruh pengotoran pasti akan terjadi. Terjadinya pengotoran tersebut dapat menganggu atau memperngaruhi temperatur fluida mengalir juga dapat menurunkan ataau mempengaruhi koefisien perpindahan panas menyeluruh dari fluida tersebut. Beberapa faktor yang dipengaruhi akibat pengotoran antara lain : Temperatur fluida Temperatur dinding tube Kecepatan aliran fluida

Faktor pengotoran (fouling factor, Rf) dapat dicari persamaan :

dimana U pipa yang sudah tua tersebut dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Jika fouling factor di atas sudah memiliki nilai sedemikian besar, maka HE tersebut dapat disimpulkan sudah tidah baik kinerjanya. Fouling Resistance Jika sebuah pipa baru saja digunakan, maka keadaannya masih normal dan bersih sehingga tidak mengganggu proses perpindahan kalor. Namun pada suatu saat fluida yang terus menerus mengalir dalam pipa akan membentuk seperti sebuah lapisan yang akan mengganggu aliran kalor. Hal inilah yang disebut dengan fouling resistance. Untuk U<<10000 W/m2 C fouling mungkin tidak begitu penting, karena hanya menghasilkan resistan yang kecil. Namun pada water to water heat exchanger dimana nilai U disekitar 2000 maka fouling factor akan menjadi penting. Pada finned tube heat exchanger dimana gas panas mengalir di dalam tube dan gas yang dingin mengalir melewatinya, nilai U mungkin sekitar 200, fouling factor akan menjadi signifikan.

b. Koefisien perpindahan panas Semakin baik sistem maka semakin tinggi pula koefisien panas yang dimilikinya. Koefisien perpindahan kalor, U, terdiri dari dua macam yaitu : UC adalah koefisien perpindahan kalor keseluruhan pada saat alat penukar kalor masih baru UD adalah koefisien perpindahan kalor keseluruhan pada saat alat penukar kalor sudah kotor Secara umum kedua koefisien itu dirumuskan sebagai

c. Penurunan Tekanan (Pressure Drop) Pada setiap aliran dalam HE akan terjadi penurunan tekanan karena adanya gaya gesek yang terjadi antara fluida dan dinding pipa. Hal ini dapat terjadi pada sambungan pipa, fitting,atau pada HE itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan kehilangan energi sehingga perubahan suhu tidak konstan. Untuk penurunan Tekanan pada Tube Side Besarnya penurunan tekanan pada tube side alat penukar kalor telah diformulasikan, persamaan terhadap faktor gesekan dari fluida yang dipanaskan atau yang didinginkan didalam tube.

Dimana : n L L.n = Jumlah pass aliran tube = Panjang tube = Panjang total.lintasan dalam ft Mengingat bahwa fluida itu mengalami belokan pada saat passnya, maka akan terdapat kerugian tambahan penurunan tekanan.

d. Konduktivitas Termal Daya hantar kalor yang dimiliki fluida maupun dinding pipa HE sangat berpengaruh pada kemampuan kalor tersebut berpindah. e. Aliran Fluida yang Bertukar Kalor Aliran Kalor Sejajar, kurang efisien dan cepat untuk satu fluida. Aliran Kalor Berlawanan Arah, kalor yang ditransfer lebih banyak. Metode-metode untuk menentukan efektivitas Beda Suhu Rata-rata Log (LMTD) Pada alat penukar-kalor pipa-ganda, fluidanya dapat mengalir dalam aliransejajar maupun aliran lawan-arah. Untuk menghitung perpindahan kalor dalam susunan pipa-ganda digunakan persamaan :

dimana : U = koefisien perpindahan-kalor menyeluruh A = luas permukaan perpindahan-kalor Tm = beda-suhu rata-rata yang tepat untuk digunakan dalam penukar kalor. Untuk alat penukar-kalor aliran-sejajar , kalor yang dipindahkan melalui unsur luas dA dapat dituliskan sebagai:

dimana subskrip h dan c masing-masing menandai fluida-panas dan fluida-dingin. Perpindahan-kalor dapat pula dinyatakan sebagai

Dimana

dimana m menunjukkan laju aliran-massa dan c adalah kalor spesifik fluida. Jadi,

Jika dq diselesaikan dari persamaan (1) dan disubstitusikan ke dalam persamaan (2) maka didapatkan

Hasil kali

dan

dapat dinyatakan dalam perpindahan kalor total q dan

beda-suhu menyeluruh antara fluida-panas dan fluida dingin. Jadi,

Jika kedua hubungan di atas disubstitusikan ke persamaan (3) memberikan :

Jika persamaan diatas dibandingkan dengan persamaan sebelumnya terlihat bahwa beda suhu rata-rata merupakan pengelompokan suku-suku dalam kurung, Jadi,

Beda suhu ini disebut beda suhu rata-rata log (log mean temperature difference = LMTD). Dengan kata lain, LMTD ialah beda-suhu pada satu ujung penukar-kalor dikurangi beda-suhu pada ujung yang satu lagi dibagi dengan logaritma alamiah dari perbandingan kedua beda suhu tersebut. Penurunan persamaan LMTD tersebut didasarkan atas dua asumsi : (1) Kalor spesifik fluida tidak berubah menurut suhu (2) Koefisien perpindahan-kalor konveksi tetap, untuk seluruh penukarkalor. Jika suatu penukar-kalor yang bukan jenis pipa-ganda digunakan, perpindahankalor dihitung dengan menerapkan faktor koreksi terhadap LMTD untuk susunan pipa-ganda aliran lawan-arah dengan suhu fluida-panas dan fluida dingin yang sama. Bentuk persamaan perpindahan-kalor menjadi:

Metode NTU Efektivitas Dalam analisis penukar-kalor, pendekatan dengan metode LMTD berguna apabila suhu masuk dan suhu keluar fluida diketahui atau dapat ditentukan dengan mudah sehingga LMTD, luas permukaan dan koefisien perpindahan kalor dapat dengan mudah ditentukan. Namun, apabila kita harus menentukan terlebih dahulu suhu masuk dan suhu keluar fluida maka analisis lebih mudah dilakukan dengan metode yang berdasarkan efektivitas penukar kalor dalam memindahkan jumlah kalor tertentu atau disebut juga metode NTU (Number of Transfer Unit). Metode NTU dikhususkan untuk menghitung perpindahan secara counter currentHeat Exchanger sendiri adalah alat/perangkat yang energinya ditransfer dari satu fluida menuju fluida lainnya melewati permukaan padat. Metode NTU ini dijalankan/dikerjakan dengan menghitung laju kapasitas panas (contohnya laju alir dikalikan dengan panas spesifik) Ch dan Cc berturut-turut untuk fluida panas dan dingin. Dalam kasus dimana hanya ada temperatur awal untuk fluida panas dan cair yang diketahui, LMTD tidak dapat dihitung sebelumnya dan aplikasi/penerapan metode LMTD memerlukan pendekatan secara iterasi. Pendekatan yang dianjurkan adalah metode keefektifan atau -NTU. Keefektifan dari Heat Exchanger,, didefinisikan dengan :

dimana : q adalah nilai laju sebenarnya dari perpindahan panas dari fluida panas menuju fluida dingin, dan qmax merepresentasikan laju maksimum yang mungkin dari perpindahan panas, yang diberikan dengan hubungan :

dimana Cmin adalah laju kapasitas dari dua panas yang terkecil. Dengan demikian laju perpindahan panas sebenarnya diekspresikan sebagai :

dan dihitung, memberikan keefektifan heat exchanger, , laju alir massa, dan panas spesifik dua fluida dan temperatur awal.

Untuk geometris aliran,, dapat dihitung menggunakan korelasi dengan istilah rasio kapasitas panas :

dan Bilangan Satuan Perpindahan, NTU :

dimana U merupakan koefisien perpindahan panas keseluruhan dan A adalah area perpindahan panas. Beberapa masalah pada jenis heat exchanger. Naiknya pressure drop didalam HE 1. Penyebab : Ada kotoran dalam HE (HE tersumbat) Tindakan: pipa-pipa sebelum start up

2. Penyebab : Viskositas Tindakan:

temperature turun sampai dibawah temperature desain 3. Penyebab : Kesalahan koneksi pada sistem perpipaan Tindakan: Check koneksi dan sesuaikan dengan drawing. 4. Penyebab: Kuantitas aliran terlalu besar Tindakan: Atur kuantitas aliran dengan benar.

Menurunnya out put HE (menurunnya kapasitas) 1. Penyebab: PHE terkotori/tersumbat oleh kotoran dari luar, seperti serpihan plastik dsb. Tindakan: Bersihkan plate dan media yang masuk PHE perlu diberi filter.

2. Penyebab: Aliran terlalu tinggi/cepat. Tindakan:Setel dan sesuaikan. 3. Penyebab : Kesalahan koneksi terhadap sistem perpipaan 4. Tindakan: Check koneksi dan sesuaikan dengan drawing 5. Penyebab: Akumulasi secondary media di dalam HE (seperti oli, dan noncondensable gas) Tindakan: Buat alat yang sesuai untuk mengalirkannya. Alat ini bisa berupa oil drainage yang dibuka dalam periode tertentu sesuai dengan keadaan. Kebocoran 1. Penyebab: Tekanan dalam HE melebihi tekanan ijin. Tindakan: Kurangi tekenan sesuai dengan set point. 2. Penyebab: shock pressure/tekanan mendadak. Tindakan: Hindari terjadinya tekanan mendadak dengan mengatur sistem sebaik mungkin, membuka dan menutup sistem dengan smooth. 3. Penyebab: Rusaknya gasket karena pengaruh serangan medium. Tindakan: Ganti gasket, jika perlu ganti dengan material lain yang lebih baik. 4. Penyebab: Terbloknya aliran dalam HE. Tindakan: Bersihkan plate dan beri saringan/filter.

Tercampurnya media. 1. Penyebab: Plate tidak terinstall dengan benar Tindakan: Install plate sesuai panduan. 2. Penyebab: Korosi Tindakan: a. Cari penyebab korosi dan ganti plate baru b. Ganti dengan plate yang dengan material yang tahan korosi. 3. Penyebab: Koneksi tidak sesuai Tindakan: Check dan sesuaikan dengan drawing. Double pipe merupakan bentuk heat exchanger yang paling sederhana yang tersusun atas dua tabung/tube konsetris. Satu fluida mengalir di dalam inner tube, sementara yang lain mengalir dalam annular passage. Kalor dari fluida panas dipindahkan ke fluida dingin melalui dinding inner tube, dengan dinding luar annulus diinsulasi. Koefisien perpindahan kalor pada annulus bergantung pada rasio diameter kedua tabung, diameter dalam annulus (Di) dan diameter luar inner tube (do), karena bentuk dari profil kecepatan fluida. Metode yang paling sederhana untuk mengetahui perpindahan kalor dan pressure drop dalam annulus ialah dengan menggunakan pendekatan hydraulic (equivalent) diameter. Hydraulic diameter (Dh) dipengaruhi diameter tube pada internal flow correlation :

Rumus diatas dapat digunakan untuk perhitungan perpindahan kalor dan pressure drop. Validitas penggunaan hydraulic diameter telah dibuktikan melalui eksperimen dengan finned annulus. Wetted perimeter untuk perhitungan pressure drop di annulus didefinisikan sebagai :

dan heat transfer perimeter di annulus dihitung dengan :

Perbedaan antara hydraulic perimeter dan heat transfer perimeter terletak pada diameter dalam (Di) annulus. Hal ini disebabkan adanya friksi fluida dengan permukaan dalam annulus; namun hal ini bukanlah permasalahan heat transfer perimeter sebab perpindahan kalor hanya terjadi di dinding inner tube. Net free-flow area annulus :

Untuk pressure drop, hydraulic diameter akan dipengaruhi oleh total wetted perimeter :

Sedangkan, equivalent diameter akan dipengaruhi oleh heat transfer perimeter :

Bilangan Reynold, bilangan Graetz, dan rasio d terhadap L akan dapat diperoleh dengan mengetahui nilai hydraulic diameter. Sedangkan equivalent diameter dapat digunakan untuk menghitung koefisien perpindahan kalor dari bilangan Nusselt dan juga untuk mengetahui bilangan Grasshof pada konveksi natural. Untuk mengetahui nilai koefisien perpindahan kalor menyeluruh perlu diperhitungkan kedua sisi fluida, baik di inner tube maupun annulus. Kecepatan fluida dalam tube dan annulus :

Dengan mengetahui kecepatan fluida tersebut, akan didapatkan nilai bilangan Reynold fluida, yang merupakan fungsi dari :

Bilangan Reynold akan menentukan apakah aliran fluida tergolong aliran laminar atau turbulen. Semakin turbulen suatu aliran fluida maka akan semakin besar pula perpindahan kalor yang terjadi. Dengan mengetahui jenis aliran fluida, maka akan dapat diperoleh bilangan Nusselt melalui persamaan berikut : ( )

Dimana f merupakan konstanta yang diperoleh dari :

Koefisien perpindahan kalor (h) terkait nilai bilangan Nusselt, konduktivitas thermal, dan juga laluan fluida tersebut.

Perhitungan kedua sisi fluida, baik fluida panas maupun fluida dingin, akan dapat diperoleh koefisien perpindahan kalor menyeluruh (U) untuk permukaan bersih :

Sedangkan dalam kondisi real akan melibatkan nilai pengotor dari masing-masing fluida yang digunakan :

Akhirnya, seluruh perhitungan perpindahan kalor di heat exchanger digunakan

V.

PROSEDUR KERJA Memastikan semua alat dalam kondisi bersih dan tersambung dengan sumber listrik. Sebuah bak penampungan berfungsi sebagai sumber fluida dingin, mengisinya dengan air sampai batas tertentu. Mengisi air pada alat pemanas. Mengatur arah selang keluar dan masuk agar menjadi countercurrent. Melakukan kalibrasi terhadap laju alir fluida dingin dan panas, dengan cara mengukur volume fluida yang dialirkan dalam pipa per satuan waktu sebanyak tiga pengambilan data, dengan kecepatan laju alirnya (Q) 120,150,180,210,dan 250 kg/l Menekan tombol On dan mengatur suhunya 40-550C dan menghidupkan pemanasnya serta menyalakan compressor. Mengatur aliran 120 kg/l dan bila lampu pada alat sudah berkedipkedip maka dimana suhu yang distel 400C sudah konstan dan menunggunya sampai 5 menit.

Melakukan pembacaan tiap suhu panas dan dingin yang masuk dan keluar. Pengambilan data dilakukan sebanyak 3 kali. Lalu begitu juga pada suhu 500C dan 550C dengan kecepatan (Q) 120,150,180,210,dan 250 kg/l dan pengambilan data sebanyak 3 kali.
Jika suhu fluida dingin bertambah maka kompressor harus ditingkatkan untuk mendinginkan fluida dingin tersebut dan mematikannya.

VI.

DATA PENGAMATAN
Volume T1 C Panas 4.79 4.52 2.85 2.07 2.3 2.96 2.85 2.41 1.29 2.5 2.41 1.18 1.96 1.07 0.96 I II III I II III I II III I II III I II III 40 48 56 41 48 55.8 40 48 55.8 40 48 55.8 40 48.2 55.3 38 44.5 51 39 44.4 51 38 44.2 50.08 38 44.5 49.6 38.5 44.2 49 T2 C t1 C Dingin 32 33.1 35.1 32 33.4 35.5 32 34.2 36.3 33 35 37.1 33.2 35.1 37.8 34 37.2 40.7 33 36.1 40.6 33 36.5 40.2 33.5 37 40.2 34 37.1 40.2 t2 C

Q (kg/L)

ml 110

L 0.11 0.13 0.095 0.115 0.096 0.109 0.125 0.13 0.092 0.113 0.139 0.098 0.112 0.11 0.049

waktu (s)

DATA

120

130 95 115

150

96 109 125

180

130 92 113

210

139 98 112

250

110 49

VII. PERHITUNGAN A. Menghitung Qactual

Data selanjutnya terdapat dalam table perhitungan

B. Menghitung Qrata-rata (L/s)

L/s Data selanjutnya terdapat dalam table perhitungan C. Konversi dari laju alir volum ke laju alir massa fluida panas dan dingin (lb/jam)

Data selanjutnya terdapat dalam table perhitungan D. Konversi temperature fluida panas dan dingin (OC ke OF)

Data selanjutnya terdapat dalam table perhitungan E. Menghitung temperature rata-rata fluida panas dan dingin

Data selanjutnya terdapat dalam table perhitungan F. Menghitung beda suhu fluida panas keluar dan fluida dingin masuk

Data selanjutnya terdapat dalam table perhitungan

G. Menghitung beda suhu fluida panas masuk dan fluida dingin keluar

Data selanjutnya terdapat dalam table perhitungan

H. Menghitung beda suhu rata-rata logaritma (LMTD)

Data selanjutnya terdapat dalam table perhitungan

I. Menentukan nilai viskositas pada temperature fluida panas dan dingin. Berdasarkan dari Fig. 4 dalam buku Process Heat Transfer by DQ. Kern J. Konversi nilai viskositas pada temperature fluida panas dan dingin (cP ke lb/ft.hr)

Data selanjutnya terdapat dalam table perhitungan

K. Menghitung konduktifitas panas Berdasarkan data dari Tabel 4 Thermal Conductivity of Liquids dalam buku Process Heat Transfer by DQ. Kern maka dibuat grafik.

Grafik hubungan k vs T (air)


200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 0 0.1 y = 2121.8x - 668.59 R = 0.9999

T (oF)

Series1 Linear (Series1)

0.2

0.3

0.4

0.5

k (Btu/hr.ft2.(oF/ft))

Diperoleh persamaan : y = 2121.x - 668.5 dimana y=(T,t)av dan x=k (T,t)av = 2121.k-668,5 Maka, Untuk fluida panas:

Untuk fluida dingin

Data selanjutnya terdapat dalam table perhitungan

L. Menentukan Kapasitas Panas Fluida Panas dan Dingin Cp dapat ditentukan melalui Fig. 2 Specific Heat of Liquids dari buku Process Heat Transfer by DQ. Kern dengan menggunakan suhu ratarata dari masing-masing fluida Data selanjutnya terdapat dalam table perhitungan

M. Menghitung heat balance Untuk fuida dingin

Karena diasumsikan q dingin=q panas maka, Untuk fluida panas

Data selanjutnya terdapat dalam table perhitungan

N. ANNULUS Untuk menentukan diameter dalam dan luar untuk masing-masing pipa digunakan tabel 11 Dimensions of Steel Pipe dari buku Process Heat Transfer by D.Q. Kern Data selanjutnya terdapat dalam table perhitungan

1) Menghitung luas penampang

2) Menghitung diameter ekivalen

3) Menghitung kecepatan massa

Data selanjutnya terdapat dalam table perhitungan

4) Menghitung bilangan Reynold

Data selanjutnya terdapat dalam table perhitungan

5) Penentuan nilai Jh Nilai Jh diperoleh dari Fig. 24. Tube-Side bent-transfer curve dalam buku Process Heat Transfer by D.Q. Kern berdasarkan dari bilangan reynold masing- masing dari fluida

Data selanjutnya terdapat dalam table perhitungan

VIII. PEMBAHASAN

Grafik Hubungan W dan Q pembacaan


700

Q pembacaan (kg/L)

600 500 400 300 200 100 0 0 50 100

y = 2.4788x - 36.428 R = 0.9438

Series1 Linear (Series1)

150

200

250

300

W (lb/jam)

IX.

KESIMPULAN Prinsip kerja dari double-pipe HE yaitu menukarkan panas antara fluida panas dan fluida dingin berdasarkan beda suhu yang terjadi pada saat terjadi kontak diantara pipa besar dan pipa kecil. Nilai LMTD

T1 F Panas 104 118.4 132.8 105.8 118.4 132.44 104 118.4 104 118.4 132.44 104 118.76 131.54

T2 F

Tav Panas

t1 F Dingin 89.6 91.58 95.18 89.6 92.12 95.9 89.6 93.56 97.34 91.4 95 98.78 91.76 95.18 100.04

t2 F

tav Dingin 93.2 91.4 95.27 100.22 90.5 94.55 100.49 90.5 95.63 100.85 91.85 96.8 101.57 92.48 96.98 102.2

T2 (F)

T1 (F)

LMTD

100.4 112.1 123.8 102.2 111.92 123.8 100.4 111.56 100.4 112.1 121.28 101.3 111.56 120.2

102.2 115.25 128.3 104 115.16 128.12 102.2 114.98 102.2 115.25 126.86 102.65 115.16 125.87

6 10.8 15.3 8 11.9 15.2 7 11.5 15.6 6.5 11 15.6 6 11.1 15.1

6 10.66667 11.4 19.97513 15.9 28.07654 7 13.47998 11 20.59938 15.5 27.62912 6 11.67689 10 19.31856 13.78 26.40814 5 10.29104 9.5 18.41703 12.5 25.18707 5.3 10.15698 9.1 18.12044 11.2 23.49547

98.96 105.26 91.4 96.98 105.08 91.4 97.7 104.36 92.3 98.6 104.36 93.2 98.78 104.36

132.44 122.144 127.292

Semakin tinggi beda suhu, maka semakin tinggi pula nilai LMTDnya.

Koefisien Perpindahan Panas Koefisien perpindahan panas pada saat bersih (Uc)
T1 F Panas 104 118.4 132.8 105.8 118.4 132.44 104 118.4 104 118.4 132.44 104 118.76 131.54 100.4 112.1 123.8 102.2 111.92 123.8 100.4 111.56 100.4 112.1 121.28 101.3 111.56 T2 F t1 F Dingin 89.6 91.58 89.6 92.12 89.6 93.56 91.4 95 91.76 95.18 93.2 98.96 91.4 96.98 91.4 97.7 92.3 98.6 93.2 98.78 104.2953 104.601 104.401 110.2457 124.082 123.2085 136.4955 139.8395 146.6769 142.786 142.9296 180.4723 169.0041 187.32 203.9564 t2 F Uc (Btu/jam.ft3.oF)

95.18 105.26

95.9 105.08

132.44 122.144

97.34 104.36

98.78 104.36

120.2 100.04 104.36

Koefisien perpindahan panas actual (Ud)

T1 F Panas 104 118.4 132.8 105.8 118.4 132.44 104 118.4

T2 F

t1 F Dingin

t2 F

Ud (Btu/jam.ft3.oF)

100.4 112.1 123.8 102.2 111.92 123.8 100.4 111.56

89.6 91.58 89.6 92.12 89.6 93.56

93.2 98.96 91.4 96.98 91.4 97.7

70.72233 77.8026 75.97638 44.12013 78.26219 110.8684 64.22467 89.63931 111.8496

95.18 105.26

95.9 105.08

132.44 122.144

97.34 104.36

104 118.4 132.44 104 118.76 131.54

100.4 112.1 121.28 101.3

91.4 95 91.76

92.3 98.6 93.2

40.05801 90.06608 102.581 65.06734 91.54025 85.05195

98.78 104.36

111.56 95.18 98.78 120.2 100.04 104.36

Koefisien perpindahan panas secara teori/pada saat bersih (Uc) lebih besar daripada koefisien perpindahan panas secara actual (Ud)

Faktor pengotor yang diperoleh yaitu 0,003159, dimana Rd dari double pipe HE telah mencapai batas maksimal dari factor pengotor secara industry (0,003).

X.

SARAN Untuk menara pendingin, sebaiknya digunakan es batu yang diatur sedemikian rupa agar temperatur fluida dingin yang keluar kembali menjadi suhu ruang karena udara dari kompressor tidak cukup, shingga tidak menggangu beda suhu yang dihasilkan.

XI.

DAFTAR PUSTAKA Kern, DQ. 1965. Process Heat Transfer. Singapore : Mc. Graw Hill International Editions. Holman, J.P. 1986. Heat Transfer Sixth Editions. Singapore : Mc. Graw Hill Book Co. Welty, dkk. 1807. Fundamentals of Momentum, Heat, and Mass Transfer 5th Edition. United Stated of America : John Wiley & Sons, Inc.

Petunjuk Praktikum Laboratorium Satuan Operasi I. Jurusan Teknik Kimia : Politeknik Negeri Ujung Pandang http://id.scribd.com/document_downloads/direct/30697438?extension =pdf&ft=1365390299&lt=1365393909&user_id=72144782&uah k=iTgIyUvN9iZwqeYhypB3DXV6nd8 http://id.scribd.com/document_downloads/direct/128229319?extensio n=pdf&ft=1365391033&lt=1365394643&user_id=72144782&ua hk=poFJW7rG6VOBTcs928OHF+a2elc
Artono Koestoer, Raldi .Perpindahan Kalor. Salemba Teknika. Jakarta 2002 Holman, JP. Alih bahasa E.Jasifi. Perpindahan Kalor. Penerbit Erlangga.Jakarta.1995 MC. Cabe, W.L, Smith, JC, Harriot, P, Unit Operation of Chemical Enginering, 4th ed, Mc.Graw-Hill, New York, 1985, Chapter 11, 12, 15 Kern, DQ, Process Heat Transfer, Mc.Graw-Hill, New York, 1965 Kays,W.M. and London, A.L, Compact Heat Exchanger, 2 nd Edition McGraw-Hill, New York, 1964

Kern,D.Q. 1952.Process Heat Transfer. http://www.brighthub.com/engineering/mechanical/articles/64548 .aspx http://vedcadiklatki.blogspot.com/2010/08/penukar-panas-heatexchanger.html http://www.beck-fk.blogspot.com/2012/05/ alat-heat-exchanger.html http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/10/aliran-fluida-pada-heat exchanger.html http://www.scribd.com/doc/72839539/5/Jenis-%E2%80%93-jenisHeat-Exchanger http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18379/3/Chapter %20I

http://www.usu.ac.id/id/files/artikel/shell_Tube Buku Ajar perpindahan Panas Oleh Ratni Dewi, ST, MT


Artono Koestoer, Raldi .Perpindahan Kalor. Salemba Teknika. Jakarta 2002 Holman, JP. Alih bahasa E.Jasifi. Perpindahan Kalor. Penerbit Erlangga.Jakarta.1995 http://beck-fk.blogspot.com/2012/05/alat-heat-exchanger.html http://bekompas.blogspot.com/2011/12/analisa-perpindahan-panas-dantegangan.html http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/10/aliran-fluida-pada-heat exchanger.html