Anda di halaman 1dari 0

BUKU AJAR

PENGEBORAN EKSPLORASI DAN PENAMPANGAN LUBANG BOR

BUKU AJAR PENGEBORAN EKSPLORASI DAN PENAMPANGAN LUBANG BOR Oleh: Dr.Ir. Komang Anggayana, MS. Agus Haris W,

Oleh:

Dr.Ir. Komang Anggayana, MS. Agus Haris W, ST. MT.

Departemen Teknik Pertambangan

Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral Institut Teknologi Bandung

2005

W, ST. MT. Departemen Tekn ik Pertambangan Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral Institut Teknologi Bandung

KATA PENGANTAR

Buku ajar ini disusun sesuai dengan topik-topik pada Satuan Acara Perkuliahan (SAP) dari mata kuliah Pengeboran Eksplorasi dan Penampangan Lubang Bor. Dengan membaca modul ini mahasiswa akan lebih mudah memahami isi perkuliahan dan juga mempermudah mencari penjelasan yang lebih lengkap dari topik-topik yang disampaikan.

Buku ajar ini hanya sebagai bahan untuk tatap muka, disamping itu akan dibantu dengan alat peraga atau kunjungan ke workshop untuk melihat alat yang sulit dibayangkan melalui gambar saja.

Penulis mengharapkan buku ajar ini bermanfaat bagi para pembaca khususnya mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pengeboran Eksplorasi dan Penampangan Lubang Bor, dan tak lupa penulis juga menerima saran perbaikan untuk edisi berikutnya.

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

DAFTAR GAMBAR

v

DAFTAR TABEL

vii

DAFTAR LAMPIRAN

viii

BAB I PENDAHULUAN

BAB II KLASIFIKASI DAN PERALATAN PENGEBORAN

2.1 Sistem Klasifikasi Metode Pengeboran

II-1

2.2 Transmisi ke Mata Bor

II-6

2.2.1 Transmisi Tenaga

II-6

2.2.2 Kontrol Mata Bor

II-6

2.2.3 Perilaku Fluida

II-7

2.2.4 Pipa

II-8

2.2.5 Mata Bor

II-11

2.2.6 Rangkaian Pelengkap

II-12

BAB III PENGEBORAN DENGAN FLUIDA

3.1 Pengeboran Cable Tool

III-1

3.1.1 Metode Pengeboran Cable Tool

III-1

3.1.2 Komponen Utama Rangkaian Cable Tool

III-5

3.1.3 Kelebihan dan Kekurangan Pengeboran Cable Tool

III-10

3.2 Pengeboran Putar (Rotary Drilling)

III-11

3.2.1 Metode Pengeboran Putar

III-11

3.2.2 Sirkulasi Fluida

III-12

3.2.3 Rangkaian Utama Pengeboran Putar

III-16

BAB IV PENGEBORAN TANPA FLUIDA

4.1 Pengeboran Auger

IV-1

4.1.1 Jenis Pengeboran Auger

IV-1

4.1.2 Aplikasi Pengeboran Auger

IV-3

4.2 Pengeboran Bangka

IV-4

BAB V MESIN BOR, POMPA, DAN KOMPRESOR

5.1 Mesin Bor

V-1

5.2 Pompa Bor

V-2

5.2.1 Tipe-Tipe Pompa Bor

V-2

5.2.2 Pemilihan Pompa

V-9

5.3 Kompresor

V-9

BAB VI FLUIDA BOR

6.1 Fungsi Fluida Bor

VI-1

6.2 Jenis Fluida Bor

VI-2

6.3.1

Sifat Fluida Bor Terhadap Tekanan

VI-4

6.3.2

Sifat-Sifat Aliran Fluida Bor

VI-4

6.4 Lumpur Bor

VI-5

6.4.1 Persyaratan Lumpur Bor

VI-6

6.4.2 Bahan Aditif dan Pemantauan Lumpur Bor

VI-11

6.4.3 Tipe-Tipe Lumpur Bor

VI-14

6.5 Dasar-Dasar Perhitungan Fluida Bor

VI-18

6.5.1

Volume Annulus

VI-18

6.5.2

Up Hole Velocity

VI-19

6.5.3

Debit Aliran

VI-20

6.5.4

Specific Gravity

VI-21

6.5.5

Tekanan Fluida

VI-22

BAB VII OPERASI PENGEBORAN

7.1 Tahapan Pengeboran

VII-1

7.2 Tahapan Pengeboran Air

VII-3

7.2.1 Pengeboran Awal (Pilot Hole)

VII-3

7.2.2 Pembesaran Lubang Bor (Reaming)

VII-3

7.2.3 Konstruksi Sumur

VII-4

7.2.4 Pembersihan Sumur (Development)

VII-4

BAB VIII KENDALA TEKNIS DAN NON-TEKNIS

8.1 Kendala-Kendala Teknis

VIII-1

8.1.1 Masalah Pada Pengeboran Inti (Coring)

VIII-1

8.1.2 Caving/Shale Problem

VIII-2

8.2 Kendala-Kendala Non-Teknis

VIII-15

BAB IX WELL LOGGING

9.1 Spontaneous Potensial (SP)

IX-2

9.2 Log Tahanan Jenis

IX-2

9.3 Log Sinar Gamma

IX-2

9.4 Log Gamma-Gamma (Density Log)

IX-3

9.5 Log Kaliper (Caliper Log)

IX-4

BAB X ORGANISASI PENGEBORAN

10.1 Sumberdaya Manusia

X-1

10.2 Pembiayaan Pengeboran

X-4

10.2.1 Faktor-Faktor Pembiayaan

X-4

10.2.2 Kontrol Pembiayaan Pengeboran

X-6

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Contoh tipe pengeboran berdasarkan pembuatan lubang.

II-2

Gambar 2.2

Contoh tipe pengeboran berdasarkan pembersihan lubang.

II-3

Gambar 2.3

Contoh tipe pengeboran berdasarkan kedalaman dan ukuran

II-4

Gambar 2.4

lubang. Sistem aliran fluida bor.

II-7

Gambar 2.5

Double nepple sebagai penghubung dua buah stang bor.

II-8

Gambar 2.6

Pembengkokan pada sambungan stang bor.

II-9

Gambar 2.7

Rangkaian pipa casing.

II-10

Gambar 2.8

Peralatan pelengkap untuk menaikkan dan menurunkan

II-13

Gambar 2.9

rangkaian bor. Peralatan pelengkap untuk memancing rangkaian bor yang

II-14

Gambar 2.10

terlepas atau terjepit dalam lubang. Tripod untuk pengeboran miring dan derrick untuk pengeboran

II-16

Gambar 2.11

tegak. Parmalee wrench dan pipe wrench.

II-17

Gambar 2.12

Contoh susunan peralatan pengeboran pada rotary drilling.

II-18

Gambar 3.1

Rangkaian peralatan pada cable tool.

III-2

Gambar 3.2

Skema walking beam dan spudding arm yang menghasilkan

III-3

Gambar 3.3

gerakan naik-turun. Recoil system pada churn drilling dan skema casing plug

III-4

Gambar 3.4

drilling. Skema rangkaian bor pada shell drilling.

III-4

Gambar 3.5

Skema clam shell drilling.

III-5

Gambar 3.6

Komponen keseluruhan cable tool, pengaman kawat, dan

III-6

Gambar 3.7

swivel socket. Komponen drill stem dan bit pada rangkaian bor cable tool.

III-7

Gambar 3.8

Mata bor untuk cable tool: earth socket, chop pump, star bit,

III-8

Gambar 3.9

twisted blade bit, spudding bit, dan undercutting bit. Peralatan tambahan pada cable tool berupa drilling jar dan

III-9

Gambar 3.10

bailer. Skema unit pemutar pada pengeboran putar, rotary table, top

III-12

Gambar 3.11

drive, dan downhole turbine. Spindle sebagai pentransmisi tekanan hidrolik ke stang bor.

III-12

Gambar 3.12

Sirkulasi udara dengan kompresor dalam operasi pengeboran.

III-13

Gambar 3.13

Sistem sirkulasi normal/langsung dan sirkulasi terbalik.

III-14

Gambar 3.14

Beberapa jenis rig: light top drive rig, rotary table drive drill,

III-15

Gambar 3.15

heavy rotary drill, dan oil field rig. Travelling block dan rotary swivel.

III-17

Gambar 3.16

Rotary table dan rotary kelly.

III-17

Gambar 3.17

Sistem top head drive.

III-18

Gambar 3.18

Kondisi apabila gaya tekan terlampau besar dibanding gaya

III-19

Gambar 3.19

regang, bisa diimbangi dengan pemberat. Single tube core barrel.

III-22

Gambar 3.20

Double tube, triple tube, dan wireline core barrel.

III-23

Gambar 3.21

Core cutter/lifter terpasang di dalam core barrel.

III-25

Gambar 3.22

Komponen core barrel.

III-27

Gambar 3.23

Inti bor disimpan dalam core box.

III-27

Gambar 3.24

Stabiliser digunakan untuk menjaga konsistensi arah

III-28

Gambar 3.25

pengeboran. Reamer dengan tiga gigi.

III-29

Gambar 3.26

Beberapa contoh mata bor putar.

III-30

Gambar 4.1

Continuous flight auger.

IV-2

Gambar 4.2

Hollow auger.

IV-2

Gambar 4.3

Short flight and plate auger.

IV-3

Gambar 4.4

Bucket auger.

IV-4

Gambar 4.6

Pengeboran Bangka dioperasikan secara konvensional dengan

IV-5

Gambar 4.7

tenaga manusia. Skema pengeboran Bangka.

IV-5

Gambar 5.1

Prinsip kerja pompa jet pump.

V-3

Gambar 5.2

Sistem venturi pada pompa jet pump.

V-4

Gambar 5.3

Skema pompa sentrifugal dari samping dan dari depan.

V-5

Gambar 5.4

Skema pompa submercible dan turbin.

V-5

Gambar 5.5

Skema pompa gir.

V-6

Gambar 5.6

Skema pompa putar baling-baling.

V-6

Gambar 5.7

Skema pompa axial flow.

V-7

Gambar 5.8

Skema pompa helik.

V-7

Gambar 5.9

Skema gerakan bolak-balik piston.

V-8

Gambar 5.10

Skema pompa piston aksi ganda.

V-9

Gambar 5.11

Skema kompresor.

V-9

Gambar 6.1

Rentang densitas fluida bor.

VI-4

Gambar 6.2

Skema mixer lumpur.

VI-8

Gambar 6.3

Lubang annulus.

VI-19

Gambar 6.4

Alat pengukur SG fluida bor.

VI-21

Gambar 10.1

Stuktu organisasi pengeboran.

X-1

DAFTAR TABEL

Tabel III.1

Stang bor wireline seri ”Q”.

III-19

Tabel III.2

Stang bor wireline seri ”CHD”.

III-19

Tabel III.3

Core barrel konvensional seri ”MLC”.

III-19

Tabel III.4

Core barrel wireline seri ”Q/Q-3”.

III-20

Tabel III.5

Core barrel wireline seri “CHD”.

III-20

Tabel VI.1

Perbandingan pemakaian lumpur air dan minyak.

VI-17

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A.

Mesin bor.

Lampiran B.

Pompa bor.

Lampiran C.

Stang bor dan casing.

Lampiran D.

Core barrel.

Lampiran E.

Mata bor.

Lampiran F.

Perlengkapan lain.

Lampiran G.

Contoh penyusunan anggaran pengeboran.

BAB I PENDAHULUAN

Kegiatan pengeboran adalah salah satu kegiatan penting dalam sebuah industri pertambangan. Kegiatan pengeboran ini mempunyai tujuan yang bermacam-macam dan tidak hanya dilakukan dalam industri pertambangan saja namun juga untuk bidang-bidang yang lain. Pengeboran sebagai salah satu kegiatan dalam industri telah ada semenjak Cina mempergunakan bor tumbuk (cable tool) sekitar 4.000 tahun yang lalu. Dengan adanya berbagai pengembangan hingga saat ini baik dari segi teknis maupun aplikasi, pengeboran telah berkembang ke dalam delapan sektor industri berikut ini:

Geoteknik Pengeboran geoteknik bertujuan untuk menentukan karakteristik tanah dan batuan, dalam beberapa hal digunakan untuk memperoleh informasi tentang kondisi alami dan posisi muka air tanah.

Konstruksi Pengeboran konstruksi secara umum bertujuan untuk menentukan batas antara batuan dasar (basement) dan batuan di atasnya yang umumnya sudah mengalami deformasi pelapukan.

Eksplorasi mineral Eksplorasi adalah proses pencarian terhadap suatu cebakan mineral untuk menentukan kuantitas mineral secara ekonomis. Pengeboran eksplorasi bertujuan untuk:

- Eksplorasi tubuh bijih

- Informasi stratigrafi

- Survei seismik

- Verifikasi interpretasi geofisika dan geokimia

- Kontrol kadar bijih

- Perhitungan cadangan bijih

- Deskripsi tubuh bijih (penyebaran, bentuk, butir penyusun, dll.)

Bab I, Pendahuluan

Bab I, Pendahuluan • Seismik Pengeboran dalam kegiatan survei seismik berguna untuk menempatkan bahan peledak sebagai
Bab I, Pendahuluan • Seismik Pengeboran dalam kegiatan survei seismik berguna untuk menempatkan bahan peledak sebagai

Seismik Pengeboran dalam kegiatan survei seismik berguna untuk menempatkan bahan peledak sebagai sumber getaran dalam seismik refraksi maupun refleksi.

Peledakan Pengeboran untuk keperluan peledakan berguna untuk menempatkan bahan peledak sebagai salah satu proses untuk memberaikan material yang kompak.

Sumur air

Pengeboran dalam pembuatan sumur air bertujuan untuk membuat lubang untuk menentukan posisi akuifer dan memproduksi air. Disamping itu pengeboran air juga digunakan untuk:

- Mengetahui level air

- Memonitor sumur produksi

- Sumur injeksi

- Sumur dewatering dalam pertambangan atau konstruksi

Lingkungan Pengeboran dalam lingkup lingkungan terdiri dari pengeboran geoteknik dan sumur air untuk memonitor kualitas air tanah dan membantu dalam kontrol/remediasi polusi air tanah.

Minyak dan gas Pengeboran dalam industri minyak dan gas bertujuan untuk eksplorasi baik onshore maupun offshore, injeksi, dan produksi sumur minyak dan gas.

Tujuan kegiatan yang banyak atau bermacam-macam ini membawa konsekuensi perlengkapan, tipe, dan kapasitas mesin yang berbeda. Arah pengeboran pun bisa vertikal ke bawah, vertikal ke atas, horizontal atau miring dengan sudut tertentu. Dalam pegangan kuliah ini hanya dibatasi pada pengeboran untuk mineral/batubara dan pengeboran air. Ada pun bahasannya mencakup:

Peralatan pengeboran; meliputi jenis mesin bor, pompa atau kompresor, stang bor (drill rod), casing, core barrel, mata bor (bit), dan perlengkapan lainnya.

Lumpur pengeboran

Logging (hanya sebatas aplikasinya)

Teknis pengeboran; meliputi metode/klasifikasi pengeboran (dengan sirkulasi dan tanpa sirkulasi) dan tahapan-tahapan pengeboran.

Masalah-masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan pengeboran baik masalah teknis maupun non teknis.

Bab I, Pendahuluan

Bab I, Pendahuluan • Organisasi divisi pengeboran; mem bahas struktur organisasi pengeboran umumnya dan tugas dari
Bab I, Pendahuluan • Organisasi divisi pengeboran; mem bahas struktur organisasi pengeboran umumnya dan tugas dari

Organisasi divisi pengeboran; membahas struktur organisasi pengeboran umumnya dan tugas dari masing-masing personil.

Analisa biaya pengeboran; membahas faktor yang mempengaruhi dan menentukan biaya pengeboran, program untuk mengontrol biaya dan beberapa contoh rencana anggaran biaya.

BAB II KLASIFIKASI DAN PERALATAN PENGEBORAN

Sebelum dipaparkan lebih jauh tentang metode dan peralatan pengeboran, akan diperkenalkan beberapa istilah yang dijumpai dalam operasi pengeboran:

Tipe pengeboran, adalah jenis-jenis proses pengeboran dimana masing-masing tipe pengeboran bisa menerapkan berbagai macam metode pembuatan lubang dan pembersihan lubang.

Teknik pengeboran, adalah segala sesuatu yang berhubungan pada sebuah tipe pengeboran sehingga proses pengeboran menjadi lebih efektif dan efisien. Sebagai contoh seorang ahli bor jika menggunakan metode pengeboran putar dengan fluida lumpur, maka harus selalu mengatur berat jenis lumpur untuk mengontrol keseimbangan terhadap tekanan formasi.

Metode pembuatan lubang, adalah prosedur untuk memberaikan material terkonsolidasi maupun tak terkonsolidasi dalam proses pengeboran.

Metode pembersihan lubang, adalah prosedur untuk membersihkan cutting dari lubang bor.

Metode penyetabilan lubang, adalah prosedur untuk menjaga lubang bor tetap terbuka, mencegah terjadinya gua-gua, atau terjadinya runtuhan dinding lubang bor.

2.1 SISTEM KLASIFIKASI METODE PENGEBORAN

Klasifikasi pengeboran dapat didasarkan pada beberapa bagian proses pengeboran, diantaranya berdasarkan:

Metode pembuatan lubang Proses pembuatan lubang meliputi pemberaian batuan dari batuan yang tak terkonsolidasi. Pembuatan lubang juga termasuk pembersihan pecahan dan material tak terkonsolidasi dari bawah mata bor sehingga pemberaian dapat terus berlangsung. Pembuatan lubang dapat berupa proses mekanik atau pun proses- proses yang lain. Metode-metode pembuatan lubang berdasarkan pemberaian mekanik adalah:

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran o Pengeboran cable tool o Pengeboran putar auger o
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran o Pengeboran cable tool o Pengeboran putar auger o

o

Pengeboran cable tool

o

Pengeboran putar auger

o

Pengeboran putar

o

Pengeboran top hole hammer

o

Pengeboran putar down hole hammer

o

Pengeboran putar slim hole

putar down hole hammer o Pengeboran putar slim hole Gambar 2.1 . Contoh tipe pengeboran berdasarkan

Gambar 2.1. Contoh tipe pengeboran berdasarkan pembuatan lubang.

Metode pembersihan dan penyetabilan lubang Karena lubang bor telah dibuat dan cutting dibersihkan dari muka mata bor, maka cutting harus dibersihkan semuanya dari lubang bor dan dilakukan penyetabilan dinding lubang bor. Jika lubang bor tidak terbuka dan bersih maka proses pengeboran tidak bisa terus berlangsung. Penyetabilan lubang bisa dilakukan dengan casing, tekanan hidrostatik, atau dengan pembuatan dinding. Metode- metode pembersihan lubang dapat diklasifikasikan:

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran o Pembersihan mekanik, pada metode ini peralatan pengeboran dalam lubang
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran o Pembersihan mekanik, pada metode ini peralatan pengeboran dalam lubang

o

Pembersihan mekanik, pada metode ini peralatan pengeboran dalam lubang akan melakukan pembersihan dengan sendirinya. Metode pembersihan mekanik di antaranya:

Bailing, dimana proses penyetabilan dengan casing atau tekanan hidrostatik

Bucket auger, dimana proses penyetabilan dengan casing atau tekanan hidrostatik Plate auger

Continuous flight auger Plate dan continuous flight auger lebih cocok digunakan untuk formasi yang stabil.

o

Pembersihan dengan fluida (sirkulasi langsung atau normal), pada metode ini digunakan fluida untuk membersihkan lubang bor. Sirkulasi normal adalah dimana fluida (udara, air, atau lumpur) dipompa dengan tekanan ke bawah melalui stang bor, mata bor, dan kemudian membawa cutting ke permukaan di antara dinding lubang bor dan stang bor.

o

Pembersihan dengan fluida (sirkulasi terbalik), pada metode ini fluida dipompa ke bawah melalui lubang di antara dinding lubang bor dan stang bor, kemudian melewati mata bor, dan naik ke atas melalui lubang di dalam stang bor.

bor, dan naik ke atas melalui lubang di dalam stang bor. Gambar 2.2 . Contoh tipe

Gambar 2.2. Contoh tipe pengeboran berdasarkan pembersihan lubang.

II - 3

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran • Kedalaman dan ukuran lubang Tipe pengeboran harus sesuai dengan
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran • Kedalaman dan ukuran lubang Tipe pengeboran harus sesuai dengan

Kedalaman dan ukuran lubang

Tipe pengeboran harus sesuai dengan kedalaman dan ukuran lubang bor yang diinginkan. Sebagai contoh bor auger tangan hanya dapat melakukan pengeboran pada beberapa meter kedalaman dan ukuran lubang yang kecil. Beberapa tipe pengeboran dapat diaplikasikan pada rentang ukuran lubang bor tertentu,

o

Cable tool, ukuran lubang 100 mm s/d 400 mm (4-16 in) dan sampai kedalaman 1.500 m (5.000 ft)

o

Slim rotary (diamond), ukuran lubang 30 mm s/d 100 mm (1-4 in) dan sampai kedalaman 1.500 m (5.000 ft)

s/d 100 mm (1-4 in) dan sampai kedalaman 1.500 m (5.000 ft) Gambar 2.3 . Contoh

Gambar 2.3. Contoh tipe pengeboran berdasarkan kedalaman dan ukuran lubang.

Aplikasi Tipe pengeboran juga dapat diklasifikasikan berdasarkan aplikasinya seperti cable tool untuk pengeboran air, rotary untuk pengeboran minyak, hammer untuk

pengeboran pada kuari, dll. Dalam hal ini klasifikasi lebih banyak ditentukan oleh sifat formasi seperti ditunjukkan dalam daftar berikut:

o Pengeboran pada formasi yang terkonsolidasi

Cable

- Sampel bagus

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran Rotary mud Rotary air - Sangat cepat pada formasi yang
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran Rotary mud Rotary air - Sangat cepat pada formasi yang

Rotary mud

Rotary air - Sangat cepat pada formasi yang kering dan kohesif Rotary mud reverse - Sampel bagus, penetrasi cepat, menjaga kondisi dinding Auger - Murah dan cepat pada formasi kering Jetting - Murah pada kondisi air yang melimpah

- Tingkat penetrasi cepat

o

Pengeboran pada formasi yang stabil (high drillability) Rotary - Semua fluida memberikan hasil yang bagus Cable tool - Bagus tetapi lebih lambat Hammer - Sampling chip dan air, penetrasi cepat Diamond coring - Lebih lambat dari hammer, sampel lebih sempurna

o

Pengeboran pada formasi yang stabil (low drillability) Hammer - Penetrasi cepat (Top hole untuk pengeboran dangkal dan down hole untuk pengeboran dalam) Diamond drills - Informasi lengkap dan inti lebih bagus Heavy rotary drills - Murah dan cepat

o

Pengeboran pada formasi boulder dan breksi keras

Beberapa tipe pengeboran dapat dilakukan dalam berbagai teknik pengeboran, dalam hal ini aplikasi akan menentukan teknik pengeboran yang digunakan. Dalam hal aplikasi untuk mendapatkan informasi bawah permukaan maka sistem kontrol yang cermat dan interpretasi semua indikator pengeboran adalah parameter yang diutamakan.

Dalam aplikasi untuk lingkungan maka metode pengeboran harus tidak memberikan dampak terhadap kualitas sampel kimia maupun biologi. Kondisi seperti ini memerlukan modifikasi dalam teknik pengeboran.

Dalam aplikasi yang membutuhkan sampel inti maka metode pengeboran dipilih terhadap proses penetrasi yang stabil sehingga akan memberikan inti yang lebih sempurna yang tertampung dalam core barrel.

Untuk aplikasi yang hanya menginginkan lubang bor maka digunakan metode dengan penetrasi yang cepat dimana cutting dan proses pembersihannya dilakukan secara cepat tetapi efektif sehingga tetap dapat menjaga stabilitas dinding lubang bor.

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran 2.2 TRANSMISI KE MATA BOR 2.2.1 Transmisi Tenaga Ahli bor
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran 2.2 TRANSMISI KE MATA BOR 2.2.1 Transmisi Tenaga Ahli bor

2.2 TRANSMISI KE MATA BOR

2.2.1 Transmisi Tenaga

Ahli bor harus mengendalikan dan mengontrol kinerja mata bor dari posisi collar lubang bor. Dalam banyak hal, tenaga diperlukan untuk membuat mata bor bekerja menggali dimana tenaga berasal dari titik collar lubang bor. Tenaga harus ditransmisikan ke bawah lubang bor dimana mata bor bekerja. Transmisi tenaga dapat berlangsung dengan perantara:

Cable

Pergerakan memutar dari pipa dan stang bor

Pergerakan axial dari pipa dan stang bor

Aliran fluida

2.2.2 Kontrol Mata Bor

Transmisi tenaga tidaklah simpel untuk dilaksanakan di lapangan secara efisien, tenaga harus ditransmisikan pada prosedur yang tepat sehingga mata bor akan menggali batuan secara efisien.

Pada cable tool, kawat (cable) dikontrol melalui dua hal yaitu pergerakan yang ditentukan oleh panjang hentakan, tingkat hentakan, dan kecepatan pengangkatan/penjatuhan selama proses hentakan. Pengontrol yang kedua adalah bentuk dan berat peralatan pengeboran yang akan menambah tenaga untuk memberaikan batuan.

Pada sistem pengeboran putar dengan pipa dan stang, mata bor lebih terkontrol oleh karena:

Gaya dorong dan tekanan yang dipertahankan pada rangkaian bor melalui collar

Tenaga putaran pada collar

Diameter dari rangkaian bor (berhubungan dengan diameter lubang bor)

Kecepatan putaran

Kecepatan pergerakan rangkaian bor ke dalam dan keluar lubang bor

Bentuk dan berat dari rangkaian bor

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran 2.2.3 Perilaku Fluida Lebih banyak tipe pengeboran menggunakan fluida untuk
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran 2.2.3 Perilaku Fluida Lebih banyak tipe pengeboran menggunakan fluida untuk

2.2.3 Perilaku Fluida

Lebih banyak tipe pengeboran menggunakan fluida untuk membantu proses pembuatan lubang. Pada sistem cable tool pergerakan rangkaian bor menyebabkan sirkulasi fluida di dasar lubang bor atau di sekitar mata bor. Kecepatan fluida dikontrol oleh gerak pengeboran, viskositas fluida dalam lubang, dan bentuk serta ukuran lubang fluida pada mata bor. Proses pengangkatan dan penjatuhan akan menyebabkan aliran fluida yang mana aliran ini akan membantu mengerakkan cutting masuk ke dalam badan rangkaian bor.

Pada sistem pipa terdapat tiga sistem aliran fluida yaitu sirkulasi standar, sirkulasi terbalik, dan sirkulasi dua pipa (lihat Gambar 2.4). Pompa atau kompresor digunakan untuk menggerakkan fluida sehingga terjadi aliran sirkulasi fluida.

untuk menggerakkan fluida sehingga terjadi aliran sirkulasi fluida. Gambar 2.4 . Sistem aliran fluida bor. II

Gambar 2.4. Sistem aliran fluida bor.

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran 2.2.4 Pipa Pipa banyak digunakan pada bagian-bagian alat pengeboran atau
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran 2.2.4 Pipa Pipa banyak digunakan pada bagian-bagian alat pengeboran atau

2.2.4 Pipa

Pipa banyak digunakan pada bagian-bagian alat pengeboran atau aktivitas konstruksi sumur, penggunaan pipa di antaranya:

Sistem hidrolik

Media aliran fluida

Pipa bor putar dan collar

Stang bor diamond dan casing

Casing sumur air dan minyak

Dll

Stang Bor

Stang bor merupakan pipa yang terbuat dari baja dimana bagian pada ujung-ujungnya terdapat ulir. Sebagai penghubung antara dua buah stang bor digunakan double nepple (Gambar 2.5).

buah stang bor digunakan double nepple ( Gambar 2.5 ). Gambar 2.5. Double nepple sebagai penghubung

Gambar 2.5. Double nepple sebagai penghubung dua buah stang bor.

Dalam kegiatan pengeboran stang bor berfungsi sebagai:

a. Rangkaian untuk mentransmisikan putaran, tekanan, dan tumbukan yang dihasilkan oleh mesin bor menuju mata bor

b.

Jalan keluar-masuknya fluida bor pada pengeboran putar

Stang bor harus bisa mengimbangi gaya/tekanan yang tidak hanya besar tetapi juga gaya/tekanan yang selalu berubah setiap saat dengan cepat. Stang bor harus tahan terhadap material abrasif dan lingkungan yang korosif. Stang yang mempunyai tebal dinding yang seragam akan berpotensi terjadinya pembengkokan pada titik-titik sambungan pipa (lihat Gambar 2.6a). Untuk mengatasi permasalahan seperti ini maka harus digunakan sambungan yang khusus (double nepple) untuk memperkuat ujung- ujung stang bor. Selain itu cara lain untuk memperkuat ujung stang bor adalah dengan menambah ketebalan dinding pipa pada ujungnya, metode ini disebut dengan upsetting (lihat Gambar 2.6b).

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran a b Gambar 2.6 . Pembengkokan pada sambungan stang bor
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran a b Gambar 2.6 . Pembengkokan pada sambungan stang bor
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran a b Gambar 2.6 . Pembengkokan pada sambungan stang bor

a

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran a b Gambar 2.6 . Pembengkokan pada sambungan stang bor

b

Gambar 2.6. Pembengkokan pada sambungan stang bor (a), salah satu cara mengatasinya dengan upsetting (b).

Secara umum pemilihan ukuran dan jenis stang bor harus memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Tujuan pengeboran

2. Tipe pengeboran

3. Kedalaman pengeboran

4. Diameter lubang bor

5. Kekerasan batuan formasi

6. Metode sirkulasi fluida

Adapun rangkaian stang bor dan ukurannya yang digunakan dalam operasi pengeboran tergantung dari tipe pengeboran yang diterapkan. Rangkaian stang bor dan ukurannya secara detil akan dibahas pada masing-masing tipe pengeboran.

Casing

Casing adalah pipa yang digunakan untuk mempertahankan lubang bor tetap terbuka (tidak runtuh/collapse) setelah tahap pengeboran atau pada konstruksi sumur air/minyak. Disamping itu casing juga digunakan untuk melindungi peralatan pengeboran dari gangguan-gangguan. Casing tidak diperuntukkan pada beban yang lebih berat lagi. Contoh rangkaian casing dapat dilihat di Gambar 2.7.

II - 9

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran Gambar 2.7 . Rangkaian pipa casing . Terdapat dua tipe
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran Gambar 2.7 . Rangkaian pipa casing . Terdapat dua tipe
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran Gambar 2.7 . Rangkaian pipa casing . Terdapat dua tipe

Gambar 2.7. Rangkaian pipa casing.

Terdapat dua tipe untuk menghubungkan pipa casing, yaitu:

1)

Tipe flush joint

2)

Dimana penghubung antara pipa satu dengan pipa lainnya dilakukan secara langsung. Tipe flush coupled Dimana penghubung antara pipa satu dengan pipa lainnya menggunakan sebuah coupling.

Beberapa komponen yang terdapat dalam casing di antaranya meliputi:

1. Casing Swivel Alat ini digunakan untuk menghubungkan antara pipa casing dan stang bor.

2. Casing Head Alat ini dipasang di bagian atas casing untuk melindungi drat casing bagian atas.

3. Casing Shoe Alat ini digunakan untuk melindungi casing bagian bawah dari kerusakan.

4. Casing Cutter Adakalanya di dalam suatu lubang casing terjadi suatu masalah. Pada kasus-kasus semacam ini maka casing cutter digunakan untuk memotong casing pada titik yang kita inginkan.

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran 5. Casing Band Alat ini digunakan untuk menjepit pipa casing
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran 5. Casing Band Alat ini digunakan untuk menjepit pipa casing

5. Casing Band Alat ini digunakan untuk menjepit pipa casing selama operasi pengangkatan dan penurunan.

Ukuran casing ada bermacam-macam dan kelengkapannya pun cukup banyak, secara umum dapat dilihat di bagian Lampiran.

Core Barrel

Core barrel adalah pipa yang digunakan untuk membungkus inti (core) dari kegiatan pengeboran putar. Dengan core barrel maka inti bor akan dapat dibawa ke permukaan sehingga bisa dilakukan pengamatan dan analisis yang jauh lebih baik daripada cutting. Pembahasan mengenai core barrel selanjutnya akan diberikan secara detil pada bagian tipe pengeboran putar.

2.2.5 Mata Bor

Mata bor merupakan salah satu komponen dalam pengeboran yang digunakan khususnya sebagai alat pembuat lubang (hole making tool). Gaya yang bekerja pada bit agar bit dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan secara garis besar terbagi atas dua macam yaitu gaya dorong (tekan) dan gaya putar. Keefektifan penetrasi yang dilakukan pada pengeboran tergantung pada kedua gaya jenis ini.

Gaya dorong dapat dihasilkan melalui tumbukan yang dilakukan pada pengeboran tumbuk (percussive drilling), pemuatan bit (bit loading), dan tekanan di bawah permukaan (down pressure). Gaya putar dapat dihasilkan pada mekanisme pengeboran putar (rotary drilling) dengan bantuan mesin putar mekanik yang dapat memutar bit (setelah ditransmisikan oleh stang bor) dan dengan bantuan gaya dorong statik mengabrasi batuan yang akan ditembus. Gaya dorong yang bersifat statik yang secara tidak langsung turut menunjang gaya-gaya tersebut di atas misalnya berat dari stang bor dan berat rig.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bit yaitu :

1. Ukuran dan bentuk mata bor

2. Ukuran gigi mata bor

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran 3. Berat mata bor 4. Kekerasan matriks 5. Konfigurasi pelulusan
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran 3. Berat mata bor 4. Kekerasan matriks 5. Konfigurasi pelulusan

3. Berat mata bor

4. Kekerasan matriks

5. Konfigurasi pelulusan air

Kelima faktor ini merupakan veriabel yang harus disesuaikan dengan beberapa kondisi di lapangan, diantaranya struktur geologi, kualitas bantuan, model pengeboran, dan kedalaman. Beberapa jenis mata bor diantaranya meliputi :

1. Mata bor rotasi

a. Mata bor pisau (blade bit)

b. Air coring bit

c. Roller bit

2. Mata bor tumbuk

a. Chisel bit

b. Cross bit

c. Button bit

3. Mata bor auger, yang terbagi atas 2 variasi :

a. Tipe auger

b. Tipe kelly

4. Mata bor pada pengeboran cable (Cable drill bits)

a. Mata bor chisel

b. Mata bor tabung

5. Mata Bor Intan

a.

Impregnated bit

b.

Surface set bit

c.

Mata bor formasi lunak

Pembahasan lebih mendetil tentang mata bor akan diberikan pada bagian tipe pengeboran dan bagian Lampiran.

2.2.6 Rangkaian Pelengkap

Beberapa peralatan diantaranya meliputi:

pelengkap

yang

sering

dipakai dalam

a. Alat untuk menaikan dan menurunkan

kegiatan

pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran - Water Swivel Alat ini digunakan untuk melewatkan fluida seperti
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran - Water Swivel Alat ini digunakan untuk melewatkan fluida seperti

- Water Swivel Alat ini digunakan untuk melewatkan fluida seperti air, lumpur, dll. Dari pompa menuju ke dalam stang bor yang berputar.

- Hoisting Water Swivel Alat yang didesain untuk melewatkan air ke dalam stang bor yang sedang berputar selama proses pengangkatan dan penurunan.

- Hoisting Plug (Hoisting Swivel) Alat ini dihubungkan pada rope socket dan digunakan ketika proses pengangkatan dan penurunan stang bor.

- Hoisting Rope Socket Bagian atas alat ini dihubungkan dengan hoisting wire rope yang di-las menggunakan babbit metal. Bagian bawahnya dihubungkan dengan hoisting plug.

metal . Bagian bawahnya dihubungkan dengan hoisting plug . Gambar 2.8 . Peralatan pelengkap untuk menaikkan
metal . Bagian bawahnya dihubungkan dengan hoisting plug . Gambar 2.8 . Peralatan pelengkap untuk menaikkan

Gambar 2.8. Peralatan pelengkap untuk menaikkan dan menurunkan rangkaian bor.

- Rod Holder Alat ini digunakan untuk menjepit stang bor pada saat pengangkatan atau penurunan.

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran - Snatch Block Alat ini diletakkan di puncak menara pengeboran
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran - Snatch Block Alat ini diletakkan di puncak menara pengeboran

- Snatch Block Alat ini diletakkan di puncak menara pengeboran dan digunakan untuk mengangkat dan menurunkan stang bor, core barrel, dan mata bor. Pada kenyataannya beban yang diangkat atau diturunkan itu terlalu berat, oleh karena itu digunakan crown block atau traveling block untuk membantu proses pengangkatan dan penurunan.

- Travelling Block Alat ini digunakan bersama dua/tiga buah kabel untuk mengangkat atau menurunkan peralatan pengeboran.

- Crown Block Crown block diletakkan di bagian atas menara dan umumnya digunakan untuk mengangkat dan menurunkan peralatan pengeboran.

untuk mengangkat dan menurunkan peralatan pengeboran. Gambar 2.9. Peralatan pelengkap untuk memancing rangkaian
untuk mengangkat dan menurunkan peralatan pengeboran. Gambar 2.9. Peralatan pelengkap untuk memancing rangkaian

Gambar 2.9. Peralatan pelengkap untuk memancing rangkaian bor yang terlepas atau terjepit dalam lubang.

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran - Lowering Iron Alat ini digunakan pada pengeboran dangkal untuk
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran - Lowering Iron Alat ini digunakan pada pengeboran dangkal untuk

- Lowering Iron Alat ini digunakan pada pengeboran dangkal untuk menurunkan stang bor secara cepat. Stang bor yang cocok ukurannya: 33,5 mm, 40,5 mm, EW, AW.

- Come Along Alat ini digunakan untuk menurunkan stang bor dan digunakan pada pengeboran dangkal.

b. Peralatan pancing

- Rod Coupling tap Alat ini digunakan untuk mengeluarkan batang bor yang rusak dan dibiarkan tertinggal dalam lubang bor untuk satu alasan.

- Rod Inside Tap – Rod Outside Tap Alat ini berungsi hampir sama dengan rod coupling tap

- Casing Tap – Core Barrel Tap Alat ini digunakan untuk mendapatkan casing tubes/core barrel yang tertinggal di lubang bor.

- Rod Band Alat ini digunakan untuk menjepit batang bor yang tertinggal di lubang bor.

- Knocking Block Alat ini digunakan untuk menerima pengaruh pada saat hammering untuk melindungi peralatan bor.

- Drive Hammer with Chain Alat ini digunakan untuk hammering ketika peralatan bor mengalami kemacetan.

- Pipe Pulling Jack Alat ini digunakan untuk mengangkat peralatan bor, mempunyai dua tipe, yaitu: hydraulic type dan screw type.

c. Menara Terdapat dua tipe menara yang biasa digunakan dalam pengeboran yaitu :

- Derrick, digunakan untuk pengeboran tegak.

- Tripod, digunakan untuk pengeboran miring.

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran a b Gambar 2.10 . Tripod untuk pengeboran miring (a)
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran a b Gambar 2.10 . Tripod untuk pengeboran miring (a)
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran a b Gambar 2.10 . Tripod untuk pengeboran miring (a)

a

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran a b Gambar 2.10 . Tripod untuk pengeboran miring (a)

b

Gambar 2.10. Tripod untuk pengeboran miring (a) dan derrick untuk pengeboran tegak (b).

d. Peralatan Teknis

- Parmalee Wrench Alat ini digunakan untuk mengunci dan melepaskan pipa-pipa yang kecil, seperti kawat core barrel tanpa merusak tabung.

- Pipe wrench Alat ini digunakan untuk mengunci dan melepaskan pipa seperti stang bor, core barrel, dan lain-lain.

- Super Tong Alat ini digunakan untuk mengunci dan melepaskan pipa-pipa dengan ukuran besar dengan diameter berukuran di atas 100 mm.

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran a b Gambar 2.11 . Parmalee wrench (a) dan pipe
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran a b Gambar 2.11 . Parmalee wrench (a) dan pipe
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran a b Gambar 2.11 . Parmalee wrench (a) dan pipe

a

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran a b Gambar 2.11 . Parmalee wrench (a) dan pipe

b

Gambar 2.11. Parmalee wrench (a) dan pipe wrench (b).

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran

Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran Gambar 2.12 . Contoh susunan peralatan pengeboran pada rotary drilling
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran Gambar 2.12 . Contoh susunan peralatan pengeboran pada rotary drilling
Bab II, Klasifikasi dan Peralatan Pengeboran Gambar 2.12 . Contoh susunan peralatan pengeboran pada rotary drilling

Gambar 2.12. Contoh susunan peralatan pengeboran pada rotary drilling.

BAB III PENGEBORAN DENGAN FLUIDA

Sebagian besar aplikasi pengeboran menggunakan fluida dalam penanganan cutting atau sampel. Dalam bab ini akan dibahas tentang Pengeboran Tumbuk (Cable Tool Drilling) yang mempergunakan fluida untuk memperoleh slurry dan Pengeboran Putar (Rotary Drilling) yang menggunakan fluida untuk membersihkan cutting. Dilihat dari fluida, perbedaan dari kedua metode ini adalah adanya sirkulasi fluida pada rotary drilling dan tidak adanya sirkulasi fluida pada cable tool drilling.

3.1 PENGEBORAN CABLE TOOL

3.1.1 Metode Pengeboran Cable Tool

Jenis pengeboran cable tool mulai dipergunakan pada tahun 1859 untuk membuat sumur minyak di Pennsylvania, USA. Sistem pengeboran ini masih dipergunakan hingga di era modern dengan berbagai pengembangan. Pada saat ini alat bor jenis ini yang paling banyak dipergunakan adalah cable tool spudding.

Komponen yang penting dalam peralatan cable tool adalah:

Kawat (cable) yang menggerakkan rangkaian bor

Bailer

Sistem pengangkatan/penjatuhan rangkaian bor

Walking beam

Spudding arm

Casing

Prinsip operasional jenis pengeboran ini adalah pembuatan lubang dengan:

Pemberaian batuan/formasi dengan tumbukan berulang-ulang

Mengaduk cutting dengan air menjadi slurry pada dasar lubang

Membersihkan cutting dan penimbaan (bailing)

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida Mata bor akan memecahkan batuan terkonsolidasi menjadi kepingan kecil atau akan
Bab III, Pengeboran dengan Fluida Mata bor akan memecahkan batuan terkonsolidasi menjadi kepingan kecil atau akan

Mata bor akan memecahkan batuan terkonsolidasi menjadi kepingan kecil atau akan melepaskan butiran-butiran dari formasi. Kepingan atau hancuran tersebut merupakan campuran lumpur dan fragmen batuan (“slurry”) pada bagian dasar lubang. Jika di dalam lubang tidak dijumpai air maka perlu ditambahkan air guna membentuk slurry. Pertambahan volume slurry sejalan dengan kemajuan pengeboran yang pada jumlah tertentu akan mengurangi daya tumbuk bor. Bila kecepatan laju pengeboran sudah menjadi sangat lambat, slurry diangkat ke permukaan dengan menggunakan timba (bailer) atau sand pump.

dengan menggunakan timba ( bailer ) atau sand pump . Gambar 3.1 . Rangkaian peralatan pada

Gambar 3.1. Rangkaian peralatan pada cable tool.

Metode lain dari cable tool adalah dengan menyertakan pipa sampel atau disebut juga metode shell dimana pembuatan lubang dilakukan dengan memasukkan pipa ke dalam formasi dan mengangkat pipa beserta padatan formasi yang terperangkap dalam pipa tersebut. Metode ini bisa menerapkan salah satu dari gerakan berikut:

Menggerakkan pipa sampel dengan pukulan berulang-ulang menggunakan gerakan spudding atau resiprokal.

Menggerakkan pipa sampel ke bawah dengan gerakan menarik dan melepas secara berulang-ulang.

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida • Menggerakkan pipa sampel ke bawah dal am sekali jatuhan dengan
Bab III, Pengeboran dengan Fluida • Menggerakkan pipa sampel ke bawah dal am sekali jatuhan dengan

Menggerakkan pipa sampel ke bawah dalam sekali jatuhan dengan jarak yang panjang.

Dua metode gerakan terakhir lebih umum digunakan dalam kapasitas mesin yang kecil dimana tidak dilengkapi dengan tenaga penggerak resiprokal.

dimana tidak dilengkapi dengan tenaga penggerak resiprokal. a b Gambar 3.2 . Skema walking beam (a)

a

tidak dilengkapi dengan tenaga penggerak resiprokal. a b Gambar 3.2 . Skema walking beam (a) dan

b

Gambar 3.2. Skema walking beam (a) dan spudding arm (b) yang menghasilkan gerakan naik-turun.

Pada awalnya gerakan resiprokal cable tool diperoleh dari walking beam. Pada saat ini gerakan resiprokal lebih banyak diperoleh dari spudder. Biasanya spudder terdapat pada mesin cable tool yang mempunyai kapasitas besar, mengangkat rangkaian bor dengan cepat dan kemudian menjatuhkannya secara bebas ke dasar lubang bor.

Cable tool spudding bisa dipergunakan dalam banyak aplikasi pengeboran dimana teknik-teknik pengeboran harus disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai. Beberapa teknik pengeboran telah dikembangkan diantaranya yang paling banyak ditemui adalah:

Cable tool normal, adalah teknik yang biasanya digunakan untuk formasi yang terkonsolidasi. Gerakan spudding dioperasikan untuk:

o

Menjatuhkan rangkaian bor dengan bebas.

o

Menangkap rangkaian bor sebelum sampai di dasar lubang sehingga pada saat mata bor menghantam batuan maka kawat dalam keadaan tidak mengendur.

o

Mempercepat penarikan rangkaian bor ke atas.

o

Memungkinkan rangkaian bor tidak terikat sesaat terhadap kawat sehingga swivel memutar mata bor.

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida • Churn drilling , adalah teknik yang biasanya digunakan untuk formasi
Bab III, Pengeboran dengan Fluida • Churn drilling , adalah teknik yang biasanya digunakan untuk formasi

Churn drilling, adalah teknik yang biasanya digunakan untuk formasi yang tidak terkonsolidasi. Dalam hal ini tiang penggantung dilengkapi dengan bantalan karet secara efektif (recoil system). Penambahan bantalan karet ini dimaksudkan untuk mempercepat gerakan mata bor ke atas sesaat setelah menghantam material di dasar lubang.

Casing plug drilling, dalam teknik ini digunakan casing yang berat sehingga bisa memotong lubang dan mempertahankan material yang terperangkap di dalamnya. Dalam hal ini rig harus mempunyai kapasitas yang besar untuk menarik casing.

harus mempunyai kapasitas yang besar untuk menarik casing . a b Gambar 3.3 . Recoil system

a

mempunyai kapasitas yang besar untuk menarik casing . a b Gambar 3.3 . Recoil system pada

b

Gambar 3.3. Recoil system pada churn drilling (a) dan skema casing plug drilling (b).

Shell, adalah teknik yang menyertakan peralatan pipa dalam rangkain bor. Pipa ini dapat dipergunakan sebagai tabung contoh.

bor. Pipa ini dapat dipergunakan sebagai tabung contoh. Gambar 3.4 . Skema rangkaian bor pada shell

Gambar 3.4. Skema rangkaian bor pada shell drilling.

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida • Grab/clam shell drilling , teknik pengeboran ini digunakan pada sumur
Bab III, Pengeboran dengan Fluida • Grab/clam shell drilling , teknik pengeboran ini digunakan pada sumur

Grab/clam shell drilling, teknik pengeboran ini digunakan pada sumur dengan diameter yang besar (4 meter atau lebih) dan materialnya tidak terkonsolidasi. Casing dimasukkan ke dalam material/formasi dengan dibantu oleh beban berat casing tersebut atau dibantu dengan alat vibrator atau hidrolik. Kemudian clam atau bailer yang besar digunakan untuk mengekskavasi material di dalam casing yang sudah tertanam.

material di dalam casing yang sudah tertanam. Gambar 3.5 . Skema clam shell drilling . 3.1.2

Gambar 3.5. Skema clam shell drilling.

3.1.2 Komponen Utama Rangkaian Cable Tool

Dalam operasi pengeboran cable tool, rangkaian bor setidaknya terdiri dari empat macam komponen, yaitu:

Kawat

o

Peralatan gerakan naik-turun

o

Peralatan kontrol gerakan

Ukuran kawat yang biasa digunakan dalam berbagai jenis pengeboran cable tool mempunyai diameter 5/8 atau 3/4 in (16 mm atau 19 mm). Anyaman kawat mengikuti aturan tangan kiri karena pada saat kabel menegang maka akan menggerakkan rangkaian bor searah jarum jam dimana gerakan ini akan mempererat sambungan-sambungan rangkaian bor.

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida Pada sambungan dengan swivel socket , kawat harus diberikan pengaman sehingga
Bab III, Pengeboran dengan Fluida Pada sambungan dengan swivel socket , kawat harus diberikan pengaman sehingga

Pada sambungan dengan swivel socket, kawat harus diberikan pengaman sehingga tidak mudah membengkok pada saat hentaman mata bor di dasar lubang (Gambar 3.6b). Pembengkokan yang tajam dan berkali-kali setiap saat akan membuat kawat rusak (putus).

Soket kili-kili (swivel socket)

o

Penghubung kawat dengan komponen bor

o

Memungkinkan kawat dapat digabung dan dilepas terhadap komponen bor

o

Meneruskan putaran kawat ke rangkaian bor agar pahat (bit) dapat menumbuk ke segala sisi sehingga lubang bor lurus

) dapat menumbuk ke segala sisi sehingga lubang bor lurus a b c Gambar 3.6 .

a

) dapat menumbuk ke segala sisi sehingga lubang bor lurus a b c Gambar 3.6 .

b

dapat menumbuk ke segala sisi sehingga lubang bor lurus a b c Gambar 3.6 . Komponen

c

Gambar 3.6. Komponen keseluruhan cable tool (a), pengaman kawat (b), dan swivel socket (c).

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida • Tangkai bor ( drill stem ) o Sebagai pemberat dan
Bab III, Pengeboran dengan Fluida • Tangkai bor ( drill stem ) o Sebagai pemberat dan

Tangkai bor (drill stem)

o

Sebagai pemberat dan pelurus lubang

o

Mentransmisikan gerakan ke mata bor

Diameter tangkai bor tidak lebih besar terhadap diameter piranti penghubung rangkaian. Panjang tangkai bor disesuaikan dengan berat rangkaian bor yang dibutuhkan sehingga pengeboran menjadi lebih efektif. Biasanya tangkai bor mempunyai panjang 2 – 6 m atau 6 – 20 ft. Dua tangkai bor bisa digabung jika dikehendaki berat rangkaian bor yang lebih besar.

Mata bor (drill bit)

o

Pembuat lubang

o

Memberaikan dan melebarkan (reaming) lubang

o

Mengaduk cutting

dan melebarkan ( reaming ) lubang o Mengaduk cutting a b Gambar 3.7 . Komponen drill

a

melebarkan ( reaming ) lubang o Mengaduk cutting a b Gambar 3.7 . Komponen drill stem

b

Gambar 3.7. Komponen drill stem dan bit pada rangkaian bor cable tool.

Mata bor yang akan dipilih harus disesuaikan dengan rig, jenis formasi yang akan dibuat lubang, dan metode sampling yang dikehendaki. Beberapa jenis mata bor yang sering digunakan dalam pengeboran cable tool adalah:

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida Earth socket , dimana mata bor ini sering digunakan pada saat
Bab III, Pengeboran dengan Fluida Earth socket , dimana mata bor ini sering digunakan pada saat

Earth socket, dimana mata bor ini sering digunakan pada saat awal pengeboran (dekat permukaan). Mata bor ini akan mendapatkan sampel yang bagus untuk tujuan penyelidikan. Chop pump, mata bor ini mempunyai keuntungan khusus yaitu mampu mengangkat cutting naik ke atas dan tertahan dalam tabung oleh karena adanya katup flapper. Tabung ini dapat dikosongkan dengan menekan katup flapper. Star bit, mata bor ini diperuntukkan pada formasi yang sudah terdeformasi atau banyak terdapat jejaring rekahan/retakan. Twisted blade bit, mata bor ini mampu melakukan gerakan memutar untuk memecahkan cutting/formasi yang keras. Spudding bit, mata bor ini digunakan pada rig yang ringan untuk memulai pembuatan lubang pada formasi yang lunak. Undercutting bit, desain off-set menyebabkan mata bor membuat lubang lebih besar sehingga memungkinkan pemasangan casing menjadi lebih mudah.

memungkinkan pemasangan casing menjadi lebih mudah. a d b e c f Gambar 3.8. Mata bor

a

memungkinkan pemasangan casing menjadi lebih mudah. a d b e c f Gambar 3.8. Mata bor

d

memungkinkan pemasangan casing menjadi lebih mudah. a d b e c f Gambar 3.8. Mata bor

b

memungkinkan pemasangan casing menjadi lebih mudah. a d b e c f Gambar 3.8. Mata bor

e

c

pemasangan casing menjadi lebih mudah. a d b e c f Gambar 3.8. Mata bor untuk

f

Gambar 3.8. Mata bor untuk cable tool: earth socket (a), chop pump (b), star bit (c), twisted blade bit (d), spudding bit (e), dan undercutting bit (f).

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida Selain perlengkapan dalam cable tool di atas juga terdapat peralatan tambahan
Bab III, Pengeboran dengan Fluida Selain perlengkapan dalam cable tool di atas juga terdapat peralatan tambahan

Selain perlengkapan dalam cable tool di atas juga terdapat peralatan tambahan yang bisa dirangkai yaitu drilling jar. Peralatan ini berupa sepasang batang baja yang “bertaut” yang dimaksudkan untuk melepaskan bit jika terjepit dengan hentakan ke atas, dibutuhkan pada rangkaian bor dimana ditemui formasi yang halus dan lengket. Biasanya drilling jar dipakai pada kedalaman lubang lebih dari 30 m (100 ft). Gerakan menghantam juga diberikan oleh jar yang bebas tak terikat pada saat rangkaian bor dijatuhkan dan kemudian tiba-tiba sampai dan menjepit pada tangkai bor. Jar dipasang di bawah swivel socket dan di atas tangkai bor, biasanya jarak hentakan pendek yaitu sekitar 115 mm (4,5 in). Jar tidak dipasang pada saat memulai pembuatan lubang dan pada saat merintis pemasangan casing.

Peralatan tambahan yang lain adalah bailer, alat ini digunakan untuk membersihkan dasar lubang dari cutting. Bailer dioperasikan pada kawat yang terpisah terhadap rangkaian bor. Pada saat bailer beroperasi maka rangkaian bor harus dikeluarkan dari lubang bor.

maka rangkaian bor harus dikeluarkan dari lubang bor. a b Gambar 3.9. Peralatan tambahan pada cable

a

maka rangkaian bor harus dikeluarkan dari lubang bor. a b Gambar 3.9. Peralatan tambahan pada cable

b

Gambar 3.9. Peralatan tambahan pada cable tool berupa drilling jar (a) dan bailer (b).

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida 3.1.3 Kelebihan dan Kekurangan Pengeboran Cable Tool Beberapa faktor yang mempengaruhi
Bab III, Pengeboran dengan Fluida 3.1.3 Kelebihan dan Kekurangan Pengeboran Cable Tool Beberapa faktor yang mempengaruhi

3.1.3 Kelebihan dan Kekurangan Pengeboran Cable Tool

Beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan laju pengeboran (penetrasi) dalam cable tool diantaranya adalah :

1. Kekerasan lapisan batuan

2. Diameter dan kedalaman lubang bor

3. Jenis mata bor

4. Beban pada alat bor (tool string)

5. Kecepatan dan jarak tumbuk (stroke)

Beberapa keuntungan dari jenis pengeboran cable tool ini adalah:

Murah biaya operasional, perawatan, dan mobilisasinya

Bisa mendapatkan sampel yang bagus untuk formasi yang tidak terkonsolidasi

Mudah dalam mengenali akuifer

Tanpa sirkulasi

Cocok untuk daerah yang sulit dijangkau dimana persediaan air dan bahan bakar sangat terbatas

Lebih mudah mendapatkan sampel pada formasi yang banyak berongga (cavernous)

Kemungkinan kontaminasi karena pengeboran relatif lebih kecil

Dapat melakukan pengeboran pada lebih banyak jenis litologi dengan satu rangkaian bor

Beberapa kekurangan dari jenis pengeboran cable tool adalah:

Kecepatan penetrasi lambat

Tidak memiliki sarana pengontrol jika dijumpai keadaan artesis positif yang mengalir ke permukaan

Tidak mempunyai sarana pengontrol kestabilan lubang bor

Tumbukan yang keras dapat menyebabkan keruntuhan pada beberapa formasi sehingga akan diperoleh sampel yang tercampur

Jika dibutuhkan casing maka akan kesulitan untuk melakukan pengeboran dalam

Sering terjadi kawat putus

Pada formasi yang mengalami swelling clay (lempung yang mengembang apabila terisi air) akan menghadapi banyak hambatan

Tidak bisa untuk mendapatkan inti (core)

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida 3.2 PENGEBORAN PUTAR ( ROTARY DRILLING ) 3.2.1 Metode Pengeboran Putar
Bab III, Pengeboran dengan Fluida 3.2 PENGEBORAN PUTAR ( ROTARY DRILLING ) 3.2.1 Metode Pengeboran Putar

3.2 PENGEBORAN PUTAR (ROTARY DRILLING)

3.2.1 Metode Pengeboran Putar

Pengeboran putar adalah semua bentuk pengeboran dimana pembuatan lubang dilakukan dengan memutar mata bor di dasar lubang bor. Mata bor pada rangkaian bor putar biasanya mempunyai diameter yang lebih besar dari stang bor. Pada sistem pengeboran ini digunakan sirkulasi fluida untuk mengangkat/membersihkan cutting.

Pengeboran putar slim hole adalah salah satu bentuk dari metode ini, yang membedakan dari dua metode ini adalah:

Pengeboran putar menghasilkan lubang bor yang lebih besar dari stang bor (diameter mata bor lebih besar daripada stang bor)

Pengeboran putar slim hole menghasilkan lubang yang sedikit lebih besar dari stang bor (diameter mata bor sama dengan stang bor)

Bor putar memberaikan batuan dengan memutar mata bor dan selain itu juga harus memberikan tekanan pada mata bor. Untuk operasi pengeboran vertikal ke bawah (downward) maka berat dari rangkaian bor secara otomatis akan memberikan tekanan kepada mata bor. Pada kondisi tertentu juga sering digunakan pipa khusus sebagai pemberat (drill collar) tepat di atas mata bor. Disamping itu tekanan juga bisa dihasilkan dari unit transmisi hidrolik mesin bor.

Terdapat tiga metode dalam memutar rangkaian bor yaitu:

Dengan memutar meja putar (rotary table) yang berhubungan langsung dengan pipa (stang bor), dalam hal ini unit pemutar bersifat statis. Putaran vertikal yang dihasilkan oleh mesin penggerak diubah menjadi putaran horisontal oleh sebuah meja putar yang pada bagian bawahnya terdapat alur-alur berpola konsentris.

Dengan memutar pipa (stang bor) langsung oleh unit pemutar (mesin bor) yang juga ikut bergerak ke bawah (top drive) sehingga unit pemutar bersifat dinamis.

Memutar mata bor dengan unit turbin pemutar di dalam lubang bor (downhole turbine)

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b c Gambar 3.10 . Skema unit pemutar pada pengeboran
Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b c Gambar 3.10 . Skema unit pemutar pada pengeboran
Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b c Gambar 3.10 . Skema unit pemutar pada pengeboran

a

Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b c Gambar 3.10 . Skema unit pemutar pada pengeboran

b

Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b c Gambar 3.10 . Skema unit pemutar pada pengeboran

c

Gambar 3.10. Skema unit pemutar pada pengeboran putar, rotary table (a), top drive (b), dan downhole turbine (c).

Disamping tenaga putaran, kemajuan pengeboran juga sangat dipengaruhi oleh tekanan yang berasal dari beban rangkaian bor itu sendiri atau ditambah dengan tekanan hidrolik dari pompa mesin bor. Pengeboran putar hidrolik mengkombinasikan tekanan hidrolik, beban rangkaian bor, dan tenaga putaran ke mata bor untuk memberaikan formasi. Top drive adalah salah satu jenis pengeboran yang menggunakan tekanan hidrolik pada unit pemutar dinamis. Sementara pada unit pemutar statis, tekanan hidrolik dari pompa ditransmisikan ke rangkaian bor melalui spindle.

pompa ditransmisikan ke rangkaian bor melalui spindle . Gambar 3.11. Spindle sebagai pentransmisi tekanan hidrolik

Gambar 3.11. Spindle sebagai pentransmisi tekanan hidrolik ke stang bor.

3.2.2 Sirkulasi Fluida

Terdapat beberapa sistem sirkulasi dalam operasi pengeboran yaitu:

Sirkulasi udara konvensional

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida Dalam hal ini udara yang dipompakan oleh kompresor akan menggerakkan hammer
Bab III, Pengeboran dengan Fluida Dalam hal ini udara yang dipompakan oleh kompresor akan menggerakkan hammer

Dalam hal ini udara yang dipompakan oleh kompresor akan menggerakkan hammer bit dan kemudian akan membersihkan cutting dari dasar lubang bor keluar permukaan. Sirkulasi udara ini juga bisa digunakan untuk membersihkan cutting pada pengeboran putar.

untuk membersihkan cutting pada pengeboran putar. Gambar 3.12 . Sirkulasi udara dengan kompresor dalam operasi

Gambar 3.12. Sirkulasi udara dengan kompresor dalam operasi pengeboran.

Sirkulasi langsung air/lumpur Air atau lumpur juga banyak digunakan dalam berbagai operasi pengeboran. Cairan dapat mengeluarkan cutting dan juga menghilangkan panas pada mata bor sebagai akibat gerusan yang terus menerus. Disamping itu lumpur juga bisa sekaligus digunakan sebagai penyetabil lubang bor supaya tidak mudah runtuh. Dibandingkan dengan udara maka penggunaan air atau lumpur ini jauh lebih kecil volume-nya dan juga kecepatan sirkulasinya.

Sirkulasi terbalik Pada sirkulasi ini fluida dialirkan ke bawah melalui lubang bor dan di luar pipa bor hingga mencapai mata bor, kemudian bergerak ke atas melalui bagian dalam dari pipa bor dengan membawa cutting ke permukaan. Fluida disirkulasikan dengan pompa yang mengisap dari hoisting swivel dan kemudian dialirkan ke pit untuk pengendapan cutting. Dalam sirkulasi terbalik ini lebih umum digunakan air atau lumpur yang encer sebagai fluidanya.

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b Gambar 3.13 . Sistem sirkulasi normal/langsung (a) dan sirkulasi
Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b Gambar 3.13 . Sistem sirkulasi normal/langsung (a) dan sirkulasi
Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b Gambar 3.13 . Sistem sirkulasi normal/langsung (a) dan sirkulasi

a

Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b Gambar 3.13 . Sistem sirkulasi normal/langsung (a) dan sirkulasi

b

Gambar 3.13. Sistem sirkulasi normal/langsung (a) dan sirkulasi terbalik (b).

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida a c b d Gambar 3.14 . Beberapa jenis rig: light
Bab III, Pengeboran dengan Fluida a c b d Gambar 3.14 . Beberapa jenis rig: light
Bab III, Pengeboran dengan Fluida a c b d Gambar 3.14 . Beberapa jenis rig: light

a

Bab III, Pengeboran dengan Fluida a c b d Gambar 3.14 . Beberapa jenis rig: light

c

Bab III, Pengeboran dengan Fluida a c b d Gambar 3.14 . Beberapa jenis rig: light

b

Bab III, Pengeboran dengan Fluida a c b d Gambar 3.14 . Beberapa jenis rig: light

d

Gambar 3.14. Beberapa jenis rig: light top drive rig (a), rotary table drive drill (b), heavy rotary drill (c), dan oil field rig (d).

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida 3.2.3 Rangkaian Utama Pengeboran Putar Pengeboran putar berbeda dengan cable tool,
Bab III, Pengeboran dengan Fluida 3.2.3 Rangkaian Utama Pengeboran Putar Pengeboran putar berbeda dengan cable tool,

3.2.3 Rangkaian Utama Pengeboran Putar

Pengeboran putar berbeda dengan cable tool, dalam hal tipe rig, fluida, sirkulasi, mata bor, dll yang digunakan akan sangat berbeda antara aplikasi yang satu dengan aplikasi yang lain. Masing-masing komponen dari sistem pengeboran ini dapat saling ditukar untuk memperoleh rangkaian yang cocok dengan kondisi pekerjaan.

Komponen utama dalam pengeboran putar terdiri dari rig, mesin bor, dan rangkaian bor yang selengkapnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

Rig Rig akan berbeda antara metode yang satu dengan yang lainnya disesuaikan dengan jenis mesin bor, sistem transmisi tenaga, diameter dan kedalaman lubang bor. Berikut dalam Gambar 3.14 adalah contoh rig yang digunakan dalam operasi pengeboran putar.

Rangkaian bor Rangkaian bor terdiri dari tiga komponen utama yaitu:

1. Sistem penambat dan penggerak

Sistem ini menghubungkan rangkaian bor dengan rig dan sistem tenaga. Terdapat dua jenis perangkat dalam sistem ini yaitu rotary table dan top drive.

Pada rotary table, rangkaian bor dan peralatannya tertambat dengan bagian atas rig melalui sebuah travelling block. Swivel berfungsi hanya sebagai pentransmisi fluida dan tidak termasuk pentransmisi putaran. Travelling block dan swivel harus mampu menahan dalam pengerekan (hoisting) dari seluruh rangkaian bor beserta fluida yang ada di dalam sirkulasinya. Rotary table mentransmisikan gerakan memutar ke kelly, yaitu sebuah tangkai dengan sisi- sisi yang biasanya berupa bujursangkar, heksagonal, atau berupa kolom yang bergalur. Kelly dibuat dari pipa yang berat dan tidak mudah terpuntir, berfungsi mentransmisikan putaran ke rangkaian bor (Gambar 3.16b).

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b Gambar 3.15. Travelling block (a) dan rotary swivel (b).
Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b Gambar 3.15. Travelling block (a) dan rotary swivel (b).
Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b Gambar 3.15. Travelling block (a) dan rotary swivel (b).

a

Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b Gambar 3.15. Travelling block (a) dan rotary swivel (b).

b

Gambar 3.15. Travelling block (a) dan rotary swivel (b).

Gambar 3.15. Travelling block (a) dan rotary swivel (b). a b Gambar 3.16. Rotary table (a)

a

3.15. Travelling block (a) dan rotary swivel (b). a b Gambar 3.16. Rotary table (a) dan

b

Gambar 3.16. Rotary table (a) dan rotary kelly (b).

Pada sistem top drive (Gambar 3.17), dari bagian atas rig sebuah unit penggerak menggerakkan secara langsung pipa bor. Travelling block bisa juga dipasang untuk menahan peralatan pada saat pengangkatan atau penurunan rangkaian bor dari/ke dasar lubang. Dalam hal ini berat unit penggerak juga ikut memberikan tenaga dorong disamping rangkaian bor itu sendiri. Biasanya swivel sudah terintegrasi pada unit penggerak.

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida Gambar 3.17 . Sistem top head drive . 2. Pipa bor
Bab III, Pengeboran dengan Fluida Gambar 3.17 . Sistem top head drive . 2. Pipa bor
Bab III, Pengeboran dengan Fluida Gambar 3.17 . Sistem top head drive . 2. Pipa bor

Gambar 3.17. Sistem top head drive.

2. Pipa bor putar/stang bor (drill rod), casing, dan core barrel

Stang Bor

Ukuran stang bor dipilih sesuai dengan diameter lubang bor yang diinginkan atau disesuaikan dengan kapasitas pengerek (hoisting capacity) dari mesin bor yang digunakan. Panjang stang bor pada pengeboran minyak bervariasi antara

18 – 22 ft (Range 1), 27 – 30 ft (Range 2), dan 38 – 45 ft (Range 3), dimana

Range 1 lebih umum dijumpai pada sebagain besar operasi pengeboran. Stang bor untuk keperluan yang lain misalnya untuk pengeboran eksplorasi biasanya

sudah ditentukan panjangnya oleh produsen, umumnya 3 atau 6 meter (10 atau

20 ft).

Stang bor didesain untuk bisa digunakan dalam gaya regang yang besar, kondisi ini pada prakteknya lebih diinginkan daripada kondisi stang bor yang tertekan. Pada kondisi gaya tekan yang jauh lebih besar maka rangkaian stang bor akan lebih rentan terhadap pembengkokan. Pada Gambar 3.18 diilustrasikan kondisi rangkaian bor yang membengkok oleh karena gaya tekan/kompresi yang besar bisa diimbangi dengan memberikan alat tambahan berupa pemberat pada bagian bawahnya.

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b Gambar 3.18 . Kondisi apabila gaya tekan terlampau besar
Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b Gambar 3.18 . Kondisi apabila gaya tekan terlampau besar
Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b Gambar 3.18 . Kondisi apabila gaya tekan terlampau besar

a

b

Gambar 3.18. Kondisi apabila gaya tekan terlampau besar dibanding gaya regang (a), bisa diimbangi dengan pemberat sebagai peregang (b).

Tabel III.1. Stang bor wireline seri “Q”.

 

Diameter Luar

Diameter Dalam mm (in)

Ukuran

 

mm (in)

AQ

44.5

(1 3 / 4 )

34.9

(1 3 / 8 )

BQ

55.6

(2 3 / 16 )

46.0

(1 13 / 16 )

NQ

69.9

(2 3 / 4 )

60.3

(2 3 / 8 )

HQ

88.9

(3 1 / 2 )

77.8

(3 1 / 16 )

PQ

117.5 (4 5 / 8 )

103.2 (4 1 / 16 )

Tabel III.2. Stang bor wireline seri “CHD”.

 

Diameter Luar

Diameter Dalam mm (in)

Ukuran

 

mm (in)

CHD-76

70.0

(2 3 / 4 )

55.0

(2 11 / 64 )

CHD-101

94.0

(3 45 / 64 )

78.5

(3 3 / 32 )

CHD-134

127.0 (5)

104.7 (4 1 / 8 )

Tabel III.3. Core barrel konvensional seri “MLC”, lebih umum digunakan.

Ukuran

Diameter Lubang

Diameter Inti

 

mm (in)

 

mm (in)

AMLC

48.0

(1 57 / 64 )

27.0

(1 1 / 16 )

BMLC

59.9

(2 23 / 64 )

35.2

(1 25 / 64 )

NMLC

75.7

(2 63 / 64 )

51.2

(2 1 / 16 )

HMLC

98.4

(3 7 / 8 )

63.5

(2 1 / 2 )

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida Tabel III.4 . Core barrel wireline seri “Q/Q-3”. Ukuran Diameter Lubang
Bab III, Pengeboran dengan Fluida Tabel III.4 . Core barrel wireline seri “Q/Q-3”. Ukuran Diameter Lubang

Tabel III.4. Core barrel wireline seri “Q/Q-3”.

Ukuran

Diameter Lubang

Diameter Inti

 

mm

(in)

 

mm

(in)

AQ

48.0

(1 57 / 64 )

27.0

(1 1 / 16 )

BQ

59.9

(2 23 / 64 )

36.4

(1 7 / 16 )

BQ-3

59.9

(2 23 / 64 )

33.5

(1 5 / 16 )

NQ

75.7

(2 63 / 64 )

47.6

(1 7 / 8 )

NQ-3

75.7

(2 63 / 64 )

45.1

(1 25 / 32 )

HQ

96.0

(3 25 / 32 )

63.5

(2 1 / 2 )

HQ-3

96.0

(3 25 / 32 )

61.1

(2 13 / 32 )

Tabel III.5. Core barrel wireline seri “CHD”.

Ukuran

Diameter Lubang

Diameter Inti

 

mm

(in)

 

mm

(in)

CHD-76

75.7

(2 63 / 64 )

 

43.5

(1 23 / 32 )

CHD-101

101.3

(3 63 / 64 )

63.5

(2 1 / 2 )

CHD-134

134.0

(5 9 / 32 )

85.0

(3 11 / 32 )

Diameter stang bor bervariasi dan masing-masing digunakan sesuai dengan kebutuhan atau diameter lubang bor yang diinginkan. Ukuran stang bor yang digunakan pada pengeboran pada umumnya terlihat dalam Tabel III.1. Ukuran stang bor untuk pengeboran yang lebih berat dan lubang bor yang dalam terlihat dalam Tabel III.2. Ukuran core barrel untuk berbagai tipe dan penggunaan diperlihatkan dalam Tabel III.3 sampai Tabel III.5. Ukuran stang

bor biasanya akan cocok dengan ukuran casing tertentu karena sudah menjadi

standar oleh produsen. Sebagai contoh stang bor seri “Q” akan cocok dipasang

di dalam casing seri “W”, ukurannya disesuaikan dengan huruf kode

sebelumnya, misalnya ukuran stang bor NQ sesuai dengan ukuran casing NW. Demikian pula dengan ukuran core barrel NQ akan sesuai untuk stang bor NQ dan casing NW.

Core Barrel

Hasil dari pengeboran inti diperlukan untuk analisis laboratorium, oleh karena

itu perolehan inti bor harus diperhatikan dengan cermat. Seandainya terdapat

core yang hilang atau hancur pada saat pengangkatan ke permukaan, maka analisis menjadi tidak akurat. Agar analisis laboratorium dapat dilakukan dengan baik maka sampel inti harus dibawa ke permukaan dalam kondisi tidak terganggu dan benar-benar memperlihatkan formasi lapisan yang dibor secara representatif sehingga sedapat mungkin core recovery yang diperoleh mendekati 100%.

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida Salah satu cara untuk memperoleh sampel inti yang baik yaitu dengan
Bab III, Pengeboran dengan Fluida Salah satu cara untuk memperoleh sampel inti yang baik yaitu dengan

Salah satu cara untuk memperoleh sampel inti yang baik yaitu dengan memperhatikan kelayakan core barrel yang digunakan. Core barrel dengan bentuk yang beragam biasanya berupa tabung yang berfungsi untuk:

- Membungkus sampel inti

- Memotong sampel inti

- Mengangkat sampel inti

- menarik kembali sampel inti dari lubang bor

1. Single tube core barrel

Single tube memiliki desain yang paling sederhana (Gambar 3.19). Tipe core barrel ini sangat efektif digunakan pada tipe formasi yang terkonsolidasi dan keras. Karena hanya terdiri dari satu tabung maka fluida bor harus mampu melewati ruang antara inti dan bagian dalam barrel. Jika batuan tersebut agak lunak maka inti dapat tercuci dan tererosi sehingga akan menyebabkan kesulitan pada saat pengangkatan inti. Pada tipe single tube ini juga kemungkinan besar akan terjadi abrasi inti akibat perputaran dari barrel. Oleh karena itu formasi yang rapuh tidak dapat efektif terangkat dengan tipe core barrel ini karena core recovery akan rendah.

2. Double tube core barrel

Tipe double tube ini mempunyai karakteristik khas, yaitu:

a.

Terdiri dari dua tabung sehingga inti yang diperoleh dalam tabung mendapat pengaruh yang kecil oleh putaran bit

b.

Fluida bor melewati ruang antara dua tabung

c.

Inti tertahan dalam core lifter

3.

Triple tube core barrel

Pada tipe ini tabung yang membawa bit ada dua yaitu outer tube dan second tube. Ruang antara kedua tabung tersebut berfungsi untuk memperbesar lubang bor (reaming). Panjang outer tube dapat diatur sesuai kebutuhan, tabung ini dapat diperpendek untuk formasi lepas atau lunak dan dapat

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida ditambahkan saat menembus formasi yang keras. Second tube adalah tabung dengan
Bab III, Pengeboran dengan Fluida ditambahkan saat menembus formasi yang keras. Second tube adalah tabung dengan

ditambahkan saat menembus formasi yang keras. Second tube adalah tabung dengan bit yang melakukan pengeboran (actual drilling).

dengan bit yang melakukan pengeboran ( actual drilling ). Gambar 3.19. Single tube core barrel. Air

Gambar 3.19. Single tube core barrel.

Air pendingin dialirkan melalui ruang di antara outer tube dan second tube. Kontak air dengan inti dapat dikurangi sehingga inti dapat dipertahankan tanpa tererosi atau tercuci.

Third tube (tabung paling dalam) tertanam pada sebuah anti frictional bearing. Tabung ini membawa core lifter dan jika diperlukan sebuah tabung contoh (alumunium atau plastik) dapat ditambahkan ke dalamnya. Dengan demikian sampel yang terkumpul dapat segera dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.

Barrel yang dipakai untuk formasi lempung juga didesain sebagai triple tube. Barrel ini biasanya berukuran pendek dan tidak praktis untuk mengambil inti yang panjang.

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b c Gambar 3.20. Double tube (a), triple tube (b),
Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b c Gambar 3.20. Double tube (a), triple tube (b),
Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b c Gambar 3.20. Double tube (a), triple tube (b),

a

Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b c Gambar 3.20. Double tube (a), triple tube (b),

b

Bab III, Pengeboran dengan Fluida a b c Gambar 3.20. Double tube (a), triple tube (b),

c

Gambar 3.20. Double tube (a), triple tube (b), dan wireline core barrel.

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida 4. Wireline core barrel Ketiga jenis core barrel yang dijelaskan di
Bab III, Pengeboran dengan Fluida 4. Wireline core barrel Ketiga jenis core barrel yang dijelaskan di

4. Wireline core barrel

Ketiga jenis core barrel yang dijelaskan di atas apabila sudah penuh terisi oleh inti maka semua rangkaian baik core barrel sendiri maupun rangkaian bor dari swivel sampai bit harus diangkat untuk mengambil inti bor. Jenis sampling inti seperti ini lebih banyak digunakan dalam pengeboran yang dangkal, untuk pengeboran yang dalam sistem ini tidak efektif dari segi waktu, operasional, maupun kestabilan lubang bor. Wireline core barrel adalah perangkat (inner tube) yang memungkinkan pengambilan inti bor tanpa harus mengeluarkan rangkaian bor yang sudah tertanam.

Core barrel diambil dari atas dengan menggunakan kawat (cable line). Apabila core barrel sudah penuh maka cable line diturunkan ke bawah lubang bor

sehingga bagian kepala tombak (spear head) akan masuk dan terkunci dalam kancing (latch), lihat Gambar 3.20c. Kemudian cable line ditarik ke permukaan beserta core barrel yang telah terisi oleh inti. Untuk melanjutkan pengeboran maka core barrel yang sudah dikosongkan diturunkan ke bawah dengan cable line sampai ke mata bor. Pengeboran dapat dilanjutkan kembali apabila cable line sudah terangkat ke permukaan (tanpa core barrel). Untuk memisahkan cable line dan core barrel digunakan sebuah alat berupa pipa yang dijatuhkan secara bebas dari permukaan sehingga pipa ini akan menghentak kancing dan secara otomatis membukanya sehingga kepala tombak akan terbebas. Kelebihan dari wireline core barrel di antaranya:

-

Inti dapat diambil tanpa mengangkat semua rangkaian bor

-

Jika ditemui formasi tak stabil maka stang bor akan tetap menjaga kestabilan lubang

-

Operasional menjadi lebih efisien, mengurangi run time peralatan, dan operator tidak mudah jemu

5.

Core cutter/lifter

Pada saat core barrel telah terisi penuh maka inti bor yang terperangkap masih menyatu dengan batuan formasi pada bagian bawah. Untuk mengambil inti ke atas maka core barrel harus mampu memotong dan kemudian menahan

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida sehingga dapat dibawa ke permukaan tanpa jatuh ke bawah. Untuk tujuan
Bab III, Pengeboran dengan Fluida sehingga dapat dibawa ke permukaan tanpa jatuh ke bawah. Untuk tujuan

sehingga dapat dibawa ke permukaan tanpa jatuh ke bawah. Untuk tujuan tersebut maka pada bagian dalam core barrel dipasang core cutter/lifter.

bagian dalam core barrel dipasang core cutter/lifter . Gambar 3.21. Core cutter/lifter terpasang di dalam core

Gambar 3.21. Core cutter/lifter terpasang di dalam core barrel.

Core cutter/lifter berupa pipa pendek yang tidak menerus (terdapat gap) seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 3.21. Diameter dalam (inner) pada bagian bawah core barrel dibuat semakin menyempit, sementara core cutter/lifter diletakkan di atasnya dalam core barrel. Apabila inti sudah penuh maka core barrel ditarik ke atas, karena ada gaya gesek antara core cutter dan inti maka secara relatif core cutter/lifter akan bergerak ke bawah. Karena diameter barrel ke bawah semakin sempit maka core cutter/lifter akan menyempit pula sehingga akan menahan inti. Jika core barrel ditarik dengan hentakan dari permukaan maka inti akan terpotong dari batuan formasi dan bisa diangkat ke permukaan.

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida 6. Komponen-komponen core barrel di antaranya meliputi: - Tube core barrel,
Bab III, Pengeboran dengan Fluida 6. Komponen-komponen core barrel di antaranya meliputi: - Tube core barrel,

6. Komponen-komponen core barrel di antaranya meliputi:

- Tube core barrel, terbuat dari pipa baja yang berfungsi untuk mengangkat sample inti. Suatu core tube coupling digunakan untuk menghubungkan ujung dari pipa core barrel dengan mata bor. Jumlah dari tabung core barrel ini tergantung dari jenis core barrel yang digunakan:

Untuk tipe single tube core barrel, tabung core barrel berfungsi sebagai tempat penampungan inti sekaligus untuk melewatkan fluida bor.

Untuk tipe double tube core barrel, tabung core barrel yang dalam berfungsi sebagai tempat penampung inti, sedangkan fluida bor dialirkan pada ruang di antara tabung dalam dan tabung luar.

Untuk tipe triple tube core barrel, tabung core barrel ini terdiri dari tiga tabung yaitu: split tube (paling dalam), inner tube, dan outer tube. Split tube tertanam pada sebuah anti frictional bearing, tabung ini membawa core lifter dan berfungsi sebagai tempat penampungan inti.

- Core tube coupling, alat ini berfungsi untuk menghubungkan tabung inti dengan stang bor.

- Prolong coupling, alat ini digunakan untuk menghubungkan 2 buah single core tube.

- Core shell complete, alat ini terdiri dari sebuah core shell coupling, sebuah core shell, dan sebuah core lifter. Alat ini digunakan untuk memotong inti pada lobang bor dan mengeluarkannya. Secara praktis alat ini dipasang di antara core tube dan mata bor.

- Crown coupling, alat ini menghubungkan antara core tube dan mata bor, yang digunakan untuk mencegah core tube dari keausan.

- Closed sludge barrel, alat ini digunakan untuk menangkap dan mengumpulkan slime ketika pengeboran dilakukan pada formasi yang halus.

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida - Sludge Barrel , alat ini digunakan untuk mengumpulkan hancuran-hancuran untuk
Bab III, Pengeboran dengan Fluida - Sludge Barrel , alat ini digunakan untuk mengumpulkan hancuran-hancuran untuk

- Sludge Barrel, alat ini digunakan untuk mengumpulkan hancuran-hancuran untuk memperlancar proses pengeboran. Alat ini dihubungkan pada ujung atas core tube.

Alat ini dihubungkan pada ujung atas core tube . a c e b d f Gambar

a

Alat ini dihubungkan pada ujung atas core tube . a c e b d f Gambar

c

Alat ini dihubungkan pada ujung atas core tube . a c e b d f Gambar

e

Alat ini dihubungkan pada ujung atas core tube . a c e b d f Gambar

b

Alat ini dihubungkan pada ujung atas core tube . a c e b d f Gambar

d

Alat ini dihubungkan pada ujung atas core tube . a c e b d f Gambar

f

Gambar 3.22. Komponen core barrel: core tube coupling (a), crown coupling (b), closed sludge barrel (c), prolong coupling (d), sludge barrel (e), dan core shell complete (f).

Selanjutnya inti bor ditempatkan pada core box untuk deskripsi dan disimpan setelah diberi label kedalaman dan informasi lainnya. Bentuk core box dapat dilihat seperti pada Gambar 3.23.

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida Gambar 3.23. Inti bor disimpan dalam core box . Gambar 3.24
Bab III, Pengeboran dengan Fluida Gambar 3.23. Inti bor disimpan dalam core box . Gambar 3.24
Bab III, Pengeboran dengan Fluida Gambar 3.23. Inti bor disimpan dalam core box . Gambar 3.24

Gambar 3.23. Inti bor disimpan dalam core box.

Fluida Gambar 3.23. Inti bor disimpan dalam core box . Gambar 3.24 . Stabiliser digunakan untuk

Gambar 3.24. Stabiliser digunakan untuk menjaga konsistensi arah pengeboran.

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida 3. Stabiliser , drill collar, reamer, dan bit Stabiliser dan drill
Bab III, Pengeboran dengan Fluida 3. Stabiliser , drill collar, reamer, dan bit Stabiliser dan drill

3. Stabiliser, drill collar, reamer, dan bit

Stabiliser dan drill collar

Jika mata bor terhubung langsung dengan stang bor maka akan lebih rentan terjadinya perubahan arah pengeboran (deviasi). Dalam hal ini maka perlu ditambahkan stabiliser untuk mengontrol arah pengeboran. Stabiliser adalah sebuah pipa panjang dengan diameter yang besar tetapi mempunyai dinding yang tipis (Gambar 3.24). Perangkat ini lebih memberikan kontrol terhadap arah pengeboran bukan terhadap berat rangkaian bor. Pada kondisi ini rangkaian bor masih dalam keadaan tertekan (kompresi) sehingga biasanya sekaligus dipasang sebuah pemberat atau drill collar (Gambar 3.18).

Reamer

Reamer adalah sebuah peralatan pelengkap yang digunakan untuk memperbesar lubang bor yang telah dibuat. Reamer berupa sebuah pipa pendek yang mempunyai diameter luar lebih besar atau mempunyai gigi-gigi di bagian luarnya sehingga lubang bor yang dihasilkan akan menjadi lebih besar (Gambar 3.25). Reamer dipasang di atas bit dan di bawah stang bor pada rangkaian bor.

di atas bit dan di bawah stang bor pada rangkaian bor. Gambar 3.25 . Reamer dengan

Gambar 3.25. Reamer dengan tiga gigi.

Mata Bor

Tipe utama dari mata bor (bit) putar adalah blade bit, roller bit, hammer bit, diamond bit, dan tipe untuk tujuan khusus di antaranya coring bit, pilot bit, dan

Bab III, Pengeboran dengan Fluida

Bab III, Pengeboran dengan Fluida reaming bit . Mata bor untuk formasi yang lunak mempunyai gigi
Bab III, Pengeboran dengan Fluida reaming bit . Mata bor untuk formasi yang lunak mempunyai gigi

reaming bit. Mata bor untuk formasi yang lunak mempunyai gigi yang panjang, untuk formasi yang lebih keras mempunyai gigi yang lebih pendek dengan jumlah yang lebih banyak. Untuk formasi yang sangat keras lebih cocok digunakan mata bor roller dengan gigi terbuat dari bahan carbide.

mata bor roller dengan gigi terbuat dari bahan carbide . a d b e c f

a

bor roller dengan gigi terbuat dari bahan carbide . a d b e c f Gambar

d

bor roller dengan gigi terbuat dari bahan carbide . a d b e c f Gambar

b

bor roller dengan gigi terbuat dari bahan carbide . a d b e c f Gambar

e

roller dengan gigi terbuat dari bahan carbide . a d b e c f Gambar 3.26.

c

roller dengan gigi terbuat dari bahan carbide . a d b e c f Gambar 3.26.

f

Gambar 3.26. Beberapa contoh mata bor putar: drag bit (a), roller bit/tricone (b), diamond bit (c,d), tungsten carbide bit (e), dan blade & roller bit (f).

Blade and drag bit, mata bor ini banyak digunakan pada formasi yang tak terkonsolidasi atau batuan yang lunak. Mata bor ini memberaikan batuan dengan gaya geser (