Anda di halaman 1dari 10

Rangkuman Metode Harga Pokok Variabel

Kelompok 5 :

PPAK UNIVERSITAS HASANUDDIN 2013

1. Pendahuluan Harga Pokok Variabel Di dalam akuntansi biaya yang konvensional komponen-komponen harga pokok produk terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik, baik yang bersifat tetap maupun variable. Konsep harga pokok tersebut tidak selalu relevan dengan kebutuhan manajemen. Oleh karena itu timbul konsep lain yang tidak diperhitungkan semua biaya produksi sebagai komponen harga pokok produk. Jadi di dalam akuntansi biaya, dimana perusahaan industri sebagai modal utamanya, terdapat dua metode perhitungan harga pokok yaitu Full/Absortion/Conventional Costing dan Variable/Marginal/Direct Costing. Metode Harga Pokok Variabel (variable costing) adalah suatu konsep penentuan harga pokok produk yang hanya memasukkan biaya produksi variabel sebagai elemen harga pokok produk. Biaya produksi tetap dianggap sebagai biaya periode atau atau biaya waktu (period cost) yang langsung dibebankan kepada laba-rugi periode terjadinya dan tidak diperlakukan sebagai biaya produksi. Metode Harga Pokok Penuh (Full Costing) adalah suatu konsep penentuan harga pokok produk dengan memasukkan seluruh komponen biaya produksi sebagai unsur harga pokok, yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik variabel dan biaya overhead pabrik tetap. Di dalam metode full costing, biaya overhead pabrik yang bersifat variabel maupun tetap dibebankan kepada produk yang dihasilkan atas dasar tarif yang ditentukan di muka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overhead pabrik sesungguhnya. Oleh karena itu biaya overhead pabrik tetap akan melekat pada harga pokok persediaan produk selesai yang belum dijual, dan baru dianggap sebagai biaya (elemen harga pokok penjualan) apabila produk selesai tersebut tidak dijual. 2. Tujuan Harga Pokok Variabel (Variable Costing) Penentuan harga pokok variabel ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manajemen dalam memperoleh informasi yang berorientasi pada pengambilan keputusan jangka pendek, yaitu: a. Membantu manajemen untuk mengetahui batas kontribusi (contribution margin) yang sangat berguna untuk perencanaan laba melalui analisa hubungan biaya-volume-laba (costprofit-volume) dan untuk pengambilan keputusan (decision making) yang berhubungan dengan kebijaksanaan manajemen jangka pendek.

b. Memudahkan manajemen dalam mengendalikan kondisi-kondisi operasional yang sedang berjalan serta menetapkan penilaian dan pertanggungjawaban kepada departemen atau divisi tertentu dalam perusahaan. Jika dihubungkan dengan pihak-pihak yang memakai laporan biaya, maka variabel costing bertujuan sebagai berikut: 1. Pihak Internal a.Perencanaan laba b.Penentuan harga jual produk c.Pengambilan keputusan oleh manajemen d.Pengendalian biaya 2. Pihak Eksternal a.Penentuan harga pokok persediaan b.Penentuan laba Meskipun tujuan utamanya untuk pihak internal, konsep variabel costing dapat pula digunakan oleh pihak eksternal. Tujuan eksternal tersebut hanya dapat dicapai apabila laporan yang disusun atas dasar variabel costing disesuaikan dengan teknik-teknik tertentu, menjadi laporan yang disusun atas dasar konsep harga pokok penuh (full costing), sebab konsep variabel costing tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. 3. Keunggulan dan kelemahan Metode Variabel Costing dan Full Costing 1. Variabel Costing Keunggulan 1. Memberikan informasi untuk tujuan interen manajemen yang berguna (lebih cepat) untuk perencanaan, pengendalian biaya, dan pengambilan keputusan, misalnya: 2. Perencanaan laba, yaitu membantu manajemen untuk mengetahui besarnya laba kontribusi, yang sangat berguna untuk perencanaan laba dengan analisis hubungan biaya-volume-laba. 3. Dapat secara langsung mengetahui pengaruh biaya tetap terhadap laba. Pengaruh biaya tetap terhadap laba lebih ditekankan sebab jumlah total biaya untuk periode tersebut lebih kelihatan dalam laporan laba rugi. Dalam laporan laba rugi, semua biaya tetap dikumpulkan dan disajikan menjadi biaya periode. Kelemahan selain kurang praktis karena menuntut adanya pengelompokan biaya variabel

dan biaya tetap, juga laporan yang dihasilkan hanya untuk pihak interen saja (tidak sesuai dengan laporan eksternal). 2. Full Costing Keungulan 1. Praktis dan memerlukan penggolongan biaya tetap dan variabel. 2. Perhitungan biaya penyerapan lebih menarik bagi para akuntan dan manajer karena mereka percaya metode ini lebih baik dalam menggambarkan penandingan biaya dan pendapatan. 3. Pada tingkat tertentu, perhitungan biaya penyerapan diterima sebagai metode yang digunakan untuk menyiapkan laporan eksternal yang diwajibkan dan laporan pajak penghasilan. Dengan alasan biaya dan kemungkinan kebingungan untuk membuat sistem perhitungan ganda, satu untuk eksternal dan satu lagi untuk internal maka kebanyakan perusahaan menggunakan perhitungan biaya penyerapan untuk laporan eksternal dan internal. Kelemahan pada metode ini adalah tidak dapat menginformasikan bagi manajemen mengenai berapakah biaya produksi variabel untuk menghasilkan suatu produk, sehingga manajemen untuk (tujuan interen) pengambilan keputusan khususnya perencanaan jangka pendek mengalami kesulitan, misalnya: keputusan untuk membeli atau membuat suatu produk. 4. Hubungan Harga Pokok Variabel Costing Dan Full Costing Hubungan antara Variabel Costing dan Full Costing dengan laba adalah jika kita menggunakan metode variabel dan penjualan lebih besar dari produksi maka laba akan lebih besar jika kita menggunakan variabel costing begitupun sebaliknya . maka akan tercipta persamaan sebagai berikut : Penjualan > Produksi --> laba full costing > laba variabel costing Penjualan < Produksi --> laba full costing < laba variabel costing Penjualan = Produksi --> laba fullcosting= laba variabel costing 5. Perbedaan Perhitungan Harga Pokok Variabel Costing dan Full Costing 1. Biaya Variabel (Variable Costing)
Laporan Laba-Rugi Untuk periode yang berakhir 31 Desember ________________________________________________________________

Penjualan (sales) Biaya variabel (variable cost): Persed.awal brg jadi (beginning finshed goods inventory) BBB (raw material cost) xxx BTKL (direct labor cost) xxx BOP (FOH) variabel xxx + HP.Produksi (cost of goods manufactured) BTUD (goods available for sales) Persed. Akhir brg jadi (ending finished goods inventory) HPP(cost of goods sold) Margin kontribusi kotor (gross CM) Biaya komersial variabel (variable of commercial expenses); Biaya pemasaran variabel (variable of marketing expenses) Biaya adm.& umum variabel (variable of general and administrative expenses) Batas kontibusi bersih (net CM) Biaya tetap (fixed cost); BOP tetap (fixed FOH) Biaya pemasaran tetap (fixed marketing expenses) Biaya adm.& umum tetap (fixed general and administrative expenses) Laba bersih setelah pajak (EAT)

xxx xxx

xxx + xxx xxx xxx xxx xxx xxx + xxx xxx xxx xxx xxx + xxx xxx

Perhitungan biaya variabel (variable costing) merupakan metode perhitungan biaya produk yang hanya membebankan harga pokok produksi variabel ke produksi. Termasuk didalamnya adalah bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik variabel. Biaya overhead pabrik tetap tidak diperlakukan sebagai biaya produk dalam metode ini. Sebaliknya, biaya overhead pabrik tetap diperlakukan sebagai biaya periodik, seperti beban administrasi dan penjualan, beban tersebut dibebankan secara utuh kedalam pendapatan setiap periodenya. Konsekuensinya, biaya per unit produk dalam persediaan atau dalam harga pokok penjualan dalam metode perhitungan biaya variabel tidak mengandung elemen biaya overhead tetap. Perhitungan biaya variabel sering disebut sebagai perhitungan biaya langsung ( direct costing) atau perhitungan biaya marginal (marginal costing). Laporan laba rugi yang dihasilkan oleh sistem variable costing memperlihatkan marjin kontribusi barang yang dihasilkan, informasi yang sangat bermanfaat dalam pengambilan keputusan.

Pendekatan variable costing tidak diperkenakan untuk pelaporan keuangan kepada pihak luar. Meskipun demikian, banyak perusahaan yang memakai metode variable costing untuk tujuan internal (akuntansi manajemen) dan format full costing atau absorption costing untuk tujuan eksternal. Diperlukan tiga langkah dalam aplikasi penentuan variable costing : 1. Semua biaya-pabrikasi, penjualan dan administrasi dianalisis secara cermat guna menentukan mana yang berperilaku variabel dan mana yang berperilaku tetap. Biaya campuran dipisahkan ke dalam unsur variabel dan unsur tetap dengan menerapkan metode estimasi biaya. 2. Biaya pabrikasi variabel-bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik variabel-dibebankan (dilekatkan) sebagai biaya produk. Oleh karena itu, persediaan barang dalam proses, persediaan barang jadi, dan biaya pokok penjualan dibiayakan dengan berdasarkan pada biaya pabrikasi yang bervariasi sejalan dengan tingkat produksi. 3. Semua biaya overhead pabrik tetap serta beban penjualan dan administratif diperlakukan sebagai biaya periode dan dibebankan ke laporan laba rugi pada saat dikeluarkan. Kendatipun demikian, beban penjualan dan administratif variabel dipisahkan dari beban penjualan dan administratif tetap disajikan pada laporan laba rugi. Beban penjualan dan administratif variabel serta biaya pabrikasi variabel dikurangkan dari pendapatan penjualan guna menentukan marjin kontribusi pada periode berjalan. Sebaliknya, beban penjualan dan administratif tetap serta biaya overhead pabrik tetap dikurangkan dari marjin kontribusi guna menentukan laba bersih selama periode berjalan. 2. Perhitungan Harga Pokok Penuh (Full Costing)
Laporan Laba-Rugi Untuk periode yang berakhir 31 Desember _________________________________________________________________ Penjualan (sales) xxx Biaya Produksi (production cost): Persed.awal brg jadi (beginning finished goods inventory) xxx BBB (raw material cost) xxx BTKL direct labor cost) xxx BOP variabel (variable FOH) xxx BOP tetap (fixed FOH) xxx HP.Produksi (cost of goods manufactured) xxx + Brg tersedia untuk dijual ( goods available for sales) xxx

Persed. Akhir brg jadi (ending finished goods inventory) HPP (cost of goods sold) Laba kotor (gross income) Biaya Non Produksi (Non production cost): Biaya pemasaran (marketing expense) Biaya administrasi dan umum (general & adiminstrative expense) Total biaya non produksi Laba bersih sebelum pajak (EBT)

xxx xxx xxx xxx xxx + xxx xxx

Perhitungan biaya penyerapan/penuh (absorption costing/full costing) merupakan metode perhitungan biaya produk yang membebankan seluruh harga pokok produksi ke suatu produk. Bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, overhead pabrik variabel, dan overhead pabrik tetap adalah hal-hal yang menentukan biaya produk. Jadi, menurut perhitungan biaya absorpsi, overhead pabrik tetap dipandang sebagai biaya produk, bukan biaya periode. Karena absorption costing atau full costing meliputi semua biaya produksi sebagai biaya produk, metode ini sering kali disebut sebagai metode biaya penuh (full cost method). 6. Contoh kasus
PT.SAKURA menggunakan biaya standar dalam menentukan besarnya biaya produksi. Kapasitas normal yang dimiliki 40.000 unit. Biaya standar per unit produksi untuk bulan April, Mei, Juni tahun 2000 adalah : April Mei Juni BBB ( raw materials cost ) Rp.150 Rp.150 Rp.150 BTKL ( direct labor cost ) Rp.250 Rp.250 Rp.250 BOP ( F O H ) V Rp.100 Rp.100 Rp.100 BOP ( F O H ) T Rp.5.000.000 Rp.5.000.000 Rp.5.000.000 Biaya adm & pemasaran (administrative & marketing expense) variabel Rp.55 per unit yang dijual. Biaya adm & pemasaran (adminstrative & marketing expense) tetap Rp.800.000 dan harga jual per unit Rp.850.Data penjualan & produksi bulan April, Mei, Juni th. 2000 sbb. : April Mei Juni Persediaan awal ( beginning inventory ) 4.000 unit 2.000 unit 5.000 unit Produksi ( productions ) 38.000 45.000 41.000 Penjualan ( Sales ) 40.000 42.000 41.000 Selisih tidak menguntungkan : - Selisih efisiensi tenaga kerja Rp.300.000 (unfavorable variance) ( labor efficiency variance ) Selisih menguntungkan : - Selisih harga bahan baku Rp.175.000 (favorable variance) (raw material cost variance) Seluruh selisih dibebankan ke harga pokok penjualan (Cost of Goods Sold). Diminta : 1. Buatlah laporan laba/rugi (income statement) direct costing. 2. Buatlah laporan laba/rugi (income statement) full costing.

Jawab
PT.SAKURA Laporan Laba/Rugi bulan April, Mei, Juni th.2000 metode Variabel Costing April Mei 34.000.000 35.700.000 2.000.000 5.700.000 9.500.000 3.800.000 21.000.000 (1.000.000) 20.000.000 300.000 175.000 20.125.000 2.200.000 22.325.000 11.675.000 5.000.000 800.000 5.875.000 1.000.000 6.750.000 11.250.000 4.500.000 23.500.000 (2.500.000) 22.000.000 300.000 175.000 21.125.000 2.310.000 24.435.000 12.265.000 5.000.000 800.000 6.465.000

Penjualan (Sales) HPP (COGS) : - Pers.awal ( beginning inventory ) - BBB ( Raw material) - BTKL (Direct Labor Cost) - BOP ( FO H ) V BTUD ( good available for sales ) Pers.akhir (Ending Inventory) HPP (COGS) Var (+) Selisih efisiensi TK tidak menguntungkan (-) Selisih harga BB menguntungkan HPP (COSG) Var Bi. Adm. & Pemasaran Var. (Adm & marketing expenses ) Jml. Bi. Var. -CM Bi. Tetap ( Fixed cost ) : - BOP ( F O H ) T - Bi. Adm. & Pemasaran Tetap ( Adm & marketing expenses) EBT

Juni 34.850.000 2.500.000 6.150.000 10.250.000 4.100.000 22.000.000 (2.500.000) 20.500.000 300.000 175.000 20.625.000 2.255.000 22.880.000 11.970.000 5.000.000 800.000 6.170.000

Tarif BOP T = Rp.5.000.000 = Rp.125 40000 PT.SAKURA Laporan Laba/Rugi bulan April, Mei, Juni th.2000 metode Full Costing April Mei 34.000.000 35.700.000 2.500.000 5.700.000 9.500.000 3.800.000 4.750.000 26.250.000 1.250.000 25.000.000 1.250.000 6.750.000 11.250.000 4.500.000 5.625.000 29.375.000 3.175.000 27.500.000

Penjualan (Sales) HPP (COGS) : - Pers.awal ( beginning inventory ) - BBB ( raw material cost ) - BTKL ( direct labor cost ) - BOP ( F O H ) V - BOP ( F O H ) T BTUD ( good available for sales ) Pers.akhir ( ending inventory ) HPP (COGS)

Juni 34.850.000 3.175.000 6.150.000 10.250.000 4.100.000 5.125.000 27.500.000 3.175.000 25.625.000

(+) Selisih efisiensi TK tidak menguntungkan (-) Selisih hrg BB menguntungkan Laba Kotor ( gross income ) Bi.Operasi ( operasional cost ) : - Bi.adm & pemasaran V Adm & marketing expenses ) - Bi.adm & pemasaran T EBT

300.000 175.000 9.125.000

300.000 175.000 8.325.000

300.000 175.000 9.350.000

2.200.000 800.000 6.125.000

2.310.000 800.000 5.125.000

2.255.000 800.000 6.295.000

Daftar Pustaka http://husni-sidik.blogspot.com/2010/03/makalah-bahasa-indonesia.html http://informasilive.blogspot.com/2013/04/penentuan-harga-pokok-produk-dengan.html http://sitipuryandani.blogspot.com/2013/04/variable-costing-dan-full-costing.html http://sitipuryandani.blogspot.com/2013/04/variable-costing-dan-full-costing.html http://satriaonblogger.blogspot.com/2013/03/akuntansi-manajemen-variabel-costing.html http://untoro.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/12861/05_fc%26vc.doc http://yanibadboymmb.blogspot.com/2011/03/akuntansi-manajemen-perhitungan-harga_17.html