Anda di halaman 1dari 11

Sistem Skeletal Manusia dan Metabolisme Tulang Ummu Hanani Athirah binti Mohd Kamaludin 102012507 Mahasiswa Fakultas

Kedokteran, Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Arjuna Utara, No 6, Jakarta 11510.
Abstrak Osteoporosis adalah salah satu gangguan metabolisme tulang yang dipengaruhi dengan pelbagai faktor. Maka, untuk mendalami tentang penyakit ini, kita perlu memahami ilmu dasar tentang sistem skelet manusia atau osteologi. Tulang adalah suatu organ yang terdiri daripada pelbagai sel yang mampu mengalami proses mineralisasi yang mendorong kepada sifatnya yang keras dan kental bagi memberi proteksi dan sokongan pada tubuh manusia. Tulang juga mempunyai pelbagai metabolisme yang mempengaruhi perkembangan dan kekuatan tulang dengan resorbsi pelbagai jenis zat dan nutrisi yang dibutuhkan oleh tulang. Selain itu, tulang juga berperan dalam pergerakan tubuh manusia dengan

kerjasama bersama otot skelet. Setelah memahami tentang metabolisme, struktur, sifat dan fungsi sistem skelet manusia, maka kita dapat memahami pelbagai gangguan yang bisa timbul pada tulang. Pendahuluan Manusia adalah suatu organisme yang kompleks, dibina daripada kesatuan pelbagai sistem tubuh yang membantu kelangsungan hidup. Setiap sistem tubuh ini dibina daripada gabungan pelbagai organ yang membantu menjalankan fungsi sistem tersebut. Salah satu sistem tubuh yang paling penting adalah sistem skelet yang terdiri daripada tulang, tulang rawan, sendi dan ligamentum. Sistem skelet ini memainkan peranan sebagai menyokong struktur tubuh dan melindungi organ dalam dari trauma. Selain itu, tulang juga menjadi tempat melekatnya serat otot untuk membantu pergerakan tubuh manusia. Sistem skeletal mempunyai metabolisme dan proses perkembangan yang berbeda dengan sel-sel dalam sistem tubuh yang lain. Sel tulang mengalami proses modeling, remodeling dan mineralisasi. Ini untuk memastikan agar tulang manusia dapat menampung beban kerja dan berat badan yang semakin meningkat seiring dengan usia. Maka, sel-sel dalam sistem skeletal juga sama seperti sel-sel dalam organ tubuh yang lain yaitu ia membutuhkan zat dan nutrisi yang mencukupi agar kekuatannya kekal dan ia bisa menjalani proses perkembangan. Namun begitu, sekiranya sel-sel dalam sistem ini mengalami gangguan metabolisme seperti kekurangan nutrisi dan mineral atau ketiadaan hormon yang membantu kelangsungan proses mineralisasinya, maka pelbagai gangguan bisa berlaku pada sistem ini bukan sahaja dibagian tulang malah pada bagian tulang rawan, sendi dan ligamentum. Maka, melalui studi tentang dasar 1

osteologi dapat membantu kita memahami akan mekanisme tulang dan gangguan yang bisa timbul daripada masalah tulang. Rumusan Masalah Seorang perempuan berumur sekitar 55 tahun dengan tulang punggung dan lututnya yang terasa nyeri dan lemah. Analisis Masalah

Metabolisme tulang

Osteoporosis Tulang punggung & lutut terasa ngilu atau lemah

Proses pembentukan tulang

Mekanisme otot dan tulang

Struktur tulang

Hipotesis Osteoporosis disebabkan oleh gangguan metabolisme tulang.

Pembahasan Kasus Kasus yang diterima adalah seorang perempuan berumur sekitar 55 tahun mengalami kesulitan untuk menggendong cucunya karena tulang punggung dan lututnya terasa lemah dan ngilu. Dokter menyatakan bahwa perempuan tersebut menderita osteoporosis. Berdasarkan kesimpulan yang diberikan oleh dokter tersebut, untuk lebih memahami tentang osteoporosis, kita perlulah memiliki pemahaman yang dalam tentang tulang mulai dari tipe-tipe tulang, metabolisme serta proses pembentukan tulang, struktur tulang secara mikroskopik dan makroskopik. Fungsi dan komposisi tulang juga perlu dibahas serta peranan mekanisme otot yang membantu dalam pergerakan tubuh manusia. Melalui pemahaman yang meluas tentang tulang, kita bisa melihat hubungan antara gangguan osteoporosis dengan metabolisme tulang. Introduksi tentang Tulang Tulang adalah salah satu organ penting dalam tubuh manusia. Tulang berperan dalam membentuk susuk tubuh manusia ibarat seperti frame (rangka besi) yang dibutuhkan untuk membina sesuatu bangunan. Seorang dewasa memiliki 206 tulang yang dibagi kepada ossa axiales dan ossa appendiculares. Ossa axiales terdiri daripada cranium, columna vertebralis dan ossa thoracis. Ossa appendiculares pula terdiri dari tulang yang membentuk extremitas superior dan inferior. Gambar 1 menunjukkan pembagian ossa axiales yang berwarna biru dan ossa appendiculares yang berwarna kuning. Selain daripada berperan sebagai rangka pada tubuh, tulang juga memberi perlindungan kepada organ dalaman tubuh. Tulang juga bekerjasama dengan otot dalam pergerakan tubuh manusia. Terdapat juga sebagian tulang yang mampu memberi suplai sel darah untuk tubuh yang diperoleh dari sum sum tulang.

Gambar 1: Sistem Skeletal Manusia. 3

Jenis Tulang dan Metabolisme Tulang Sistem skelet manusia terdiri daripada jaringan ikat tulang dan tulang rawan. Jaringan ikat tulang dibentuk dari osteogenik, osteoblas, osteosit dan osteoklas. Sel osteogenik adalah sejenis sel mesoderm yang belum berdiferensiasi dan mampu menghasilkan dua jenis sel yaitu sel osteoblas dan sel osteoklas. Sel osteoblas mempunyai sitoplasma basofil yang menghasilkan protein dan proteoglikans yang tinggi dan setelah matang, ia akan menjadi osteosit. Osteoblas mengandung enzim alkali fosfatase yang menghasilkan ion fosfat dari senyawa fosfat organik. Permabilitas ion fosfat dan kalsium juga dibantu oleh osteoblas untuk proses mineralisasi. Osteoklas pula adalah sejenis sel dengan inti sel yang besar dan memiliki banyak anak inti. Osteoklas juga mempunyai banyak vakuol dengan kandungan lisosom yang akan melepaskan kolagenase dan enzim proteolitik kepada matriks tulang dalam proses kalsifikasi. Tulang juga terdiri daripada matriks yang memiliki air, bahan anorganik dan bahan organik. Bahan anorganik tulang adalah kalsium fosfat dan kalsium karbonat yang akan membentuk senyawa hidroksiapatit. Senyawa ini berperan dalam memberi kekuatan dan kelenturan pada tulang. Hidroksiapatit bergantung kepada sel osteoklas yang membantu dalam menurunkan pH lokal dan meningkatkan solubilitas hidroksiapatit untuk proses demineralisasi. Bahan organik yang terdapat dalam tulang adalah kolagen, glikoprotein, sitrat dan osteocalcin. Selain itu, tulang rawan juga adalah jaringan ikat dalam sistem skelet manusia. Tulang rawan terdiri dari sel kondrosit dan sel kondroblas. Kedua sel ini aktif dalam penghasilan matriks. Matriksnya pula mengandung kolagen dan elastin. Substansi dasar tulang rawan adalah glikosaminoglikan dan proteoglikans yang mendorong pada sifat basofil. Matriks tulang dan tulang rawan dibentuk dari kolagen dan elastin namun keduanya mempunyai komposisi yang berbeda. Matriks tulang mempunyai kolagen yang lebih banyak daripada tulang rawan dan tulang rawan pula memiliki komposisi elastin yang lebih tinggi berbanding tulang. Kolagen adalah protein fibrous yang terdiri dari asam amino glisin, prolin, OH-prolin dan beberapa asam amino lain. Kolagen akan menghadapi beberapa tahap biosintesis sebelum matang. Tahap pertama adalah pembentukan prokolagen daripada intrasel. Intrasel akan membentuk triple heliks yang mempunyai ikatan S-S (sulfur bridge) inter dan intramolekular. Kemudian, prokolagen akan hidrolisis dan menghasilkan tropokolagen. Asam amino seperti OH-prolin amat dibutuhkan untuk penstabilan triple heliks dalam tropokolagen. Proses hidrolisis ini dibantu oleh prokolagen peptidase daripada prokolagen menjadi tropokolagen kemudian menjadi serat kolagen. Ikatan silang kovalen dalam serat kolagen akan menjadi semakin stabil melalui kondensasi aldol dan basa Schiff dan serat kolagen yang dewasa akan terbentuk.

Selain daripada kolagen, elastin juga adalah komponen penting dalam metabolism tulang. Elastin mengandung banyak asam amino leusin, isoleusin, glisin, prolin dan valin. Elastin juga memiliki asam amino metionin dan sistein tetapi dalam kuantiti yang sedikit. Elastin juga memiliki ikatan silang yang lebih banyak daripada kolagen berupa desmosin yaitu ikatan silang tetrafungsional yang membutuhkan zat kuprum. Sekiranya tubuh menderita kekurangan kuprum, ikatan silang pada elastin akan berkurang dan elastin menjadi lebih mudah larut. Bahan organik lain yang dibutuhkan oleh tulang adalah seperti proteoglikan yang berperan penting dibagian sendi tulang. Bahan ini mengikat banyak air dan menghasilkan mucuos yang berfungsi sebagai lubrikan. Metabolisme tulang juga membutuhkan kalsium, fosfat, vitamin D, A dan C. Kalsium dan fosfat membantu dalam proses mineralisasi yang menambah kekuatan tulang dan vitamin D membantu dalam kedua mineral ini diabsorbsi melalui usus kedalam pembuluh darah. Vitamin A dan C juga berperan dalam pertumbuhan tulang yang normal dan proses kalsifikasi. Selain itu, estrogen juga dibutuhkan untuk menghambat produksi asam laktat pada glikolisis dalam tulang. Ini karena glikogen amat dibutuhkan oleh tulang untuk proses mineralisasi. Hormon seperti hormon pertumbuhan meningkatkan absorpsi kalsium dari usus dan sintesis kolagen untuk matriks tulang. Selain itu, hormone pertumbuhan juga membantu dalam pertumbuhan tulang panjang dan produksi somatomedin yang berperan dalam pengikatan sulfat dalam tulang rawan. Selain daripada bahan-bahan yang membantu dalam proses mineralisasi tulang, terdapat juga bahanbahan yang mendorong kepada demineralisasi tulang. Misalnya seperti glukokortikoid dan paratiroid. Kedua bahan ini meningkatkan resorbsi tulang dan meningkatkan kecepatan produksi asam laktat yang menghambat mineralisasi tulang. Bahan ini juga menjadikan kristal tulang lebih larut dan mengurangi matriks tulang. Secara normalnya, proses mineralisasi dan demineralisasi berlaku secara serentak dan kedua-duanya dibutuhkan oleh tubuh manusia. Namun, sekiranya proses demineralisasi berlaku lebih kerap berbanding mineralisasi, maka sistem skelet akan mengalami gangguan.

Proses Pembentukan Tulang Komposisi sistem skelet manusia terdiri daripada pelbagai jenis sel, bahan organik dan anorganik yang akan mengalami proses mineralisasi sehingga terbentuknya tulang dan tulang rawan. Pembentukan tulang rawan bermula daripada sel mesenkim yang akan berdiferensiasi menjadi kondroblas. Kondroblas akan membentuk zat intersel kemudian menjadi sel kondrosit setelah matang. Terdapat juga sel mesenkim yang yang mengelilingi tulang rawan yang sedang tumbuh dengan keadaan berdesakan membentuk perikondrium. Kemudian, tulang rawan akan mengalami beberapa perubahan dan pertumbuhan pada sifatnya. Proses aposisional adalah saat pertumbuhan melalui penambahan massa tulang rawan dan proses interstisial adalah proses pembentukan matriks yang dihasilkan oleh poliferasi sel kondrosit. Semakin manusia meningkat dalam usia, tulang rawan juga mengalami beberapa perubahan. Selnya akan berkurang dan sifat metriksnya makin kurang basofil kerana proteoglikans juga berkurang. Kemudian, kalsifikasi akan berlaku sebagai saran penguat sementara penggantian tulang rawan berlaku dan ini mendorong kepada pembentukan asbesfaserung dan tulang. Asbesfaserung adalah struktur keras dan rapuh yang terkandung kalsium fosfat dan kalsium karbonat yang diendapkan pada intersel. Sel-sel tulang juga terbentuk daripada sel mesenkim melalui makenisme aposisional. Kemudian, tulang akan melalui dua jenis perkembangan yaitu osifikasi intramembranosa dan osifikasi endokondral. Osifikasi intramembranosa berlangsung daripada membran jaringan ikat yang berkembang secara langsung. Perkembangan ini bermula pusat osifikasi primer apabila sel mesenkim berdiferensiasi menjadi osteoblas. Kemudian sintesa osteoid dan kalsifikasi akan menghasilkan osteosit dan pada tahap ini, telah terbentuk pulau-pulau tulang yang dipanggil spikulum. Persatuan spikulum yang terbentuk akan menghasilkan tulang struktur spangiosa. Proses osifikasi intramembranosa kebiasaannya berlaku untuk membantu pertumbuhan tulang pendek dan penebalan tulang panjang. Proses perkembangan yang kedua adalah proses panggantian model atau remodeling daripada tulang rawan kepada tulang. Perkembangan ini bermula daripada bagian perikondrium yang melingkari pertengahan diafisis. Kemudian, terbentuk cincin atau kerah periosteal yang mengelilingi bagian tengah diafisis tulang rawan karena sel-sel yang berbatasan dengan tulang rawan membesar kepada osteoblas. Sel tulang rawan hipertrofi akan mati dan membentuk ruang-ruang kecil yang akan menyatu menjadi rongga sumsum primer. Jaringan embrional daripada sumsum primer akan berkembangan menjadi osteoblas dan menutup matriks tulang rawan yang telah mengapur. Dari pusat diafisis pula, akan berlaku proses penulangan intramembranosa yang akan meluas kea rah kedua ujung tulang rawan. Kemudian kerah tulang periosteal akan bertambah tebal dan meluas kearah epifisis. Tulang rawan di daerah epifisis akan terus tumbuh dan proses osifikasi endokondral ini akan berterusan sehingga tulang mencapai ukuran yang

seharusnya. Proses remodeling ini memungkinkan tulang untuk beradaptasi dengan sinyal hormon dan fisik seperti meningkatkan ketahanan dalam mengangkat beban. Gambar 2 menunjukkan proses perkembangan tulang sehingga matang.

Gambar 2: Proses Perkembangan Tulang Struktur Tulang Salah satu fungsi tulang pada tubuh manusia adalah sebagai struktur rangka yang memberikan susuk tubuh. Tulang juga bertindak sebagai organ yang melindungi organ dalaman tubuh. Studi tentang struktur tulang secara makroskopik dan mikroskopik akan membantu dalam memahami tentang faktor berperan kepada fungsi sistem skelet manusia. Setiap organ tubuh bermulanya daripada sel-sel yang bersatu untuk menghasilkan suatu jaringan tubuh. Tulang rawan dibentuk daripada sel kondroblas dan kondrosit yang menyumbang kepada pembentukan matriksnya. Sel pada tulang pula adalah sel osteoblas, osteosit dan osteoklas. Kesemua sel ini berkongsi satu sifat yang sama bahwa mereka memiliki sifat basofil yang mampu menghasilkan protein dan enzim. Selain itu, sel-sel pada tulang adalah berbeda dengan sel-sel tubuh yang lain karena sel-sel ini mampu menjalani proses kalsifikasi dan mineralisasi yang menjadikan mereka jaringan ikat pada tubuh yang kuat berbanding jaringan ikat yang lain. Proses mineralisasi berlaku seiring bersama usia dan kematangan sel namun, apabila tulang telah mencapai ukuran seharusnya, perkembangannya akan terhenti. Pada saat ini 7

proses demineralisasi yang turut berlaku pada waktu yang sama akan melebih berbanding proses mineralisasi. Sel-sel tulang akan bersatu untuk membentuk jaringan ikat tulang yang akan terkandung dalam struktur dan bentuk tulang yang terbagi pada dua tipe yaitu tulang spongiosa dan tulang kompakta. Tulang spongiosa terdapat di bagian tengah tulang yang mempunyai struktur yang tidak teratur dan memiliki banyak cabang membentuk anyaman. Pada tulang spongiosa terdapat sumsum tulang dan trabekel yang terdiri daripada lamel mengandung osteosit dan sistem kanalikuli yang berhubungan. Sumsum tulang yang terdapat dalam tulang adalah organ yang paling dibutuhkan oleh tubuh karena sumsum tulang menghasilkan sel-sel darah yang baru seperti sumsum pada tulang yang panjang akan menghasilkan sel darah merah manakala sumsum pada tulang yang pendek mampu menghasilkan sel darah putih atau leukosit. Oleh karena itu, bagi penderita penyakit anaemia, transplan sumsum tulang amat dibutuhkan untuk memastikan tubuhnya bisa menggantikan sel-sel darah merah yang telah mati. Kemudian, dibagian kedua tulang terdiri daripada tulang kompakta yang padat dan memiliki pembuluh darah yang dipanggil saluran Havers. Saluran ini memastikan sel-sel dalam tulang mendapat oksigen dan nutrisi yang secukupnya untuk mengelakkan proses demineralisasi. Saluran Havers berhubung dengan saluran Havers yang lain melalui saluran Volkmann. Gambar 3 menunjukkan jenis-jenis tulang yang terdapat dalam struktur tulang lengkap bersama satu sistem Havers. Selain itu, dalam struktur tulang juga terdapat periosteum dan endosteum yaitu lapisan yang menyelubungi luar dan dalam tulang. Periosteum yang terdapat dipermukaan luar tulang yang terdiri daripada jaringan ikat longgar, fibrosa, kolagen dan pada tubuh seorang dewasa, terdapat banyak sel osteoprogenitor yang aktif bermitosis sekiranya tulang mengalami fraktur.

Gambar 3: Struktur Tulang Secara Makroskopik.

Setiap organ tulang yang memiliki sifat, ketumpatan dan daya tahan yang berbeda akan bersatu dan membentuk satu sistem skelet yang lengkap. Sistem skelet dibagi kepada ossa axiales dan ossa appendiculares. Ossa axiales terdiri daripada cranium, columna vertebralis dan ossa thoracis. Ossa appendiculares pula terdiri dari tulang yang membentuk extremitas superior dan inferior. Dalam kasus yang diberikan, wanita tersebut mengalami nyeri dibagian punggung dan lututnya. Tulang yang terdapat dibagian tersebut secara anatomisnya disebut ossa vertebralis dan os patella. Columna vertebralis yang terdiri dari 26 tulang terbagi pada 5 bagian yaitu cervicales, thoracales, lumbales, sacralis dan coccygys. Ossa vertebralis amat dibutuhkan oleh tubuh karena ia menyokong batang tubuh. Selain itu, ia juga bertindak sebagai proteksi untuk saluran saraf tunjang dan darah karena terdapat banyak saraf dan pembuluh darah yang melalui foramen pada tulang vertebral. Untuk memberi absorbsi kepada sebarang tekanan atau daya yang diberikan kepada tulang vertebral, terdapat bantalan di antara vertebra yang dipanggil discus intervertebralis. Dari segi arsitektur, bentuk columna vertebralis semakin membesar dari tulang atas ke bawah. Hal ini karena, tulang vertebrae yang lebih ke bawah akan menampung berat tubuh yang lebih besar berbanding tulang vertebrae di atas. Mekanisme Otot dan Tulang Selain daripada memberi proteksi pada organ tubuh dan susuk tubuh, tulang juga membantu dalam pergerakan tubuh manusia. Pelbagai aktivitas seperti menari, berlari malah mengangkat barang memerlukan koordinasi antara tulang dan otot skelet. Pergerakan terjadi apabila berlaku kontraksi dan relaksasi pada otot dan tulang pula berperan untuk menyokong pergerakan otot tersebut. Misalnya, pergerakan untuk bagian lengan atau extremitas superior. Otot-otot skelet dibagian lengan atas bersifat antagonistik yaitu otot-otot tersebut mengalami reaksi yang berbeda pada saat yang sama untuk memungkinkan pergerakan. Apabila otot bicep mengalami kontraksi, otot tricep pula akan mengalami relaksasi. Oleh karena kontraksi pada otot bicep, insertio pada os ulna dibagian epicondilus turut mengalami kontraksi yang menarik tulang tersebut maka, lengan bawah akan terangkat. Berdasarkan contoh yang diberikan, maka terbukti bahwa tulang turut berperan dalam pergerakan tubuh malah sekiranya tubuh perlu melakukan kerja yang berat atau mengangkat beban, tulang memberi sokongan untuk tubuh dan kekuatan untuk otot melakukan aktivitas tersebut. Oleh karena itu, tulang mempunyai struktur yang kuat yaitu bisa menampung tekanan dan beban yang tinggi tanpa mengalami kerusakan. Malah, tulang juga memiliki sifat kental yaitu ia bisa merubah bentuk agar bersesuaian dengan tekanan yang dialami agar ia tidak mengalami fraktur. Sifat-sifat ini disokong dengan proses mineralisasi pada tulang yang menyebabkan struktur tulang semakin kuat dengan peningkatan usia dan juga konsumsi nutrisi untuk tulang yang mencukupi.

Osteoporosis Gangguan tulang yang tidak memberikan simptom awal adalah osteoporosis. Osteoporosis adalah kejadian apabila tulang menjadi lemah dan hilang ketumpatannya sehingga bisa menjadi lunak dan mudah fraktur. Tulang juga bersifat seperti span yaitu tidak mampu menampung beban yang berat kerana sudah kurang kompak dan memiliki rongga yang lebih banyak akibat demineralisasi. Gambar 4 menunjukkan secara jelas perbedaan antara komposisi tulang yang sehat dan tulang yang menderita osteoporosis. Terdapat pelbagai faktor yang mempengaruhi gangguan osteoporosis antaranya adalah gangguan metabolisme tulang dalam proses mineralisasi dan demineralisasi. Mineralisasi adalah satu proses pematangan tulang yang menyebabkan tulang menjadi lebih kuat dengan bantuan zat dan mineral seperti kalsium. Demineralisasi pula seperti proses penghakisan yang menjadikan kristal tulang lebih larut dan proses ini memungkinkan penghasilan tulang yang baru. Bagi tubuh yang memiliki tulang yang sehat, tulangnya bisa memiliki keseimbangan antara tulang lama dan tulang baru. Namun, sekiranya rasio reabsorbsi tulang lama adalah lebih tinggi daripada penghasilan tulang baru, maka keadaan ini bisa membawa kepada osteoporosis.

Gambar 4: Perbedaan Antara Struktur Tulang yang Sehat dengan Struktur Tulang Osteoporosis Gangguan dalam proses perkembangan tulang ini boleh disebabkan oleh pelbagai faktor. Misalnya, faktor usia yaitu orang tua terutama sekali golongan wanita akan lebih berisiko untuk mendapatkan osteoporosis. Hal ini karena sistem metabolisme tubuh yang semakin lemah dalam absorbs nutrisi seperti kalsium dan fosfat yang dibutuhkan dalam proses mineralisasi. Selain itu, wanita yang telah mencapai usia menopause akan kehilangan hormon estrogen yang dibutuhkan untuk menghentikan produksi asam laktat semasa glikolisis dalam tulang. Glikolisis amat dibutuhkan oleh tulang karena proses kalsifikasi amat memerlukan enersi dari glikogen. Selain itu, kekurangan vitamin D dan kalsium juga dapat membawa

10

kepada osteoporosis. Vitamin D amat dibutuhkan untuk absorbsi kalsium dan fosfat dari usus untuk proses kalsifikasi. Maka, untuk memastikan tulang sentiasa sehat dan kuat, kita perlu mengkonsumsi makanan yang memiliki kalsium dan vitamin D. Selain itu, vitamin A dan C juga dibutuhkan untuk perkembangan tulang yang normal. Gaya hidup yang sehat juga perlu diamalkan seperti beriadah dan melakukan senaman serta menjauhi rokok serta minuman alkohol. Kesimpulan Sistem skeletal manusia adalah satu sistem yang amat penting dalam tubuh dan fungsinya amat dibutuhkan untuk menjalankan aktifitas harian. Namun, sekiranya berlaku kekurangan dari segi nutrisi atau gangguan hormon dalam tubuh yang bisa menghambat metabolisme tulang, maka gangguan ini bisa mendatangkan osteoporosis. Hal ini karena sifat tulang yang amat membutuhkan proses mineralisasi dan demineralisasi yang seimbang bagi memastikan kekuatan tulang sentiasa kekal. Daftar Pustaka

1. Lauralee S. Human physiology from cells to system. 7th edition. Canada: Brooks/Cole Cengage Learning; 2010. 257-78. 2. Netter FH. Atlas of human anatomy. 3rd edition. United States: Icon Learning Systems; 2004.p.498-503. 3. Gibson J. Fisiologi dan anatomi modern untuk perawat. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2003.h.90-4. 4. Anthony LM. Junquieras basic histology text & atlas. 12th edition. Singapore: Mc Graw Hill; 2010. 5. Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. Harpers illustrated biochemistry. 26th edition. United States: Mc Graw Hill; 2003.p.556-79. 6. A-level physics notes : material. Tutor agency. 2009; 1-3. Diunduh dari http://www.astarmathsandphysics.com pada 22 Maret 2013.
7. Currey J.D.The design of mineralized hard tissues for their mechanical functions. The

journal

of

experimental

biology.2003

Juni;

3287-8.

Diunduh

dari

http://jeb.biologists.org/content/202/23/3285.full.pdf pada 22 Maret 2013.


8. William C. Osteoporosis. 2012 Juni; 1-12. Diunduh dari http://www.medicinenet.com/osteoporosis/article.htm#osteoporosis_facts pada 23 Maret 2013. 11