Anda di halaman 1dari 13

BAB III PEMBAHASAN

Penentuan Densitas Padatan dengan Piknometer Padatan yang digunakan sebagai unggun dalam percobaan ini adalah pasir bangunan dan pecahan keramik dengan ukuran 30+40 mesh. Artinya, partikel yang digunakan akan lolos dari saringan 30 mesh tapi tertahan di saringan 40 mesh. Makin besar ukuran mesh menunjukkan makin kecil diameter ayakannya karena angka mesh menunjukkan jumlah lubang yang terdapat pada saringan tiap inci. Makin banyak jumlah lubang tiap inci panjang saringan yang sama berarti ukuran lubang itu makin kecil sehingga partikel yang dapat lolos dari lubang itu juga mempunyai ukuran yang lebih kecil. Karena pasir bangunan maupun keramik merupakan partikel-partikel yang tidak berpori dan tidak menyerap air, maka penentuan densitasnya dapat dilakukan dengan menggunakan piknometer. Apabila partikel yang hendak kita tentukan densitasnya merupakan partikel berpori, maka kita harus menggunakan metode Ergun. Penentuan densitas dari partikel berpori dengan menggunakan piknometer akan menimbulkan kesalahan yang cukup besar, karena akan ada air yang terperangkap dalam pori-pori partikel padatan tersebut sehingga pengukuran volume padatan dan air menjadi tidak tepat sehingga densitas padatan yang diperoleh menjadi tidak tepat pula. Sebelum dilakukan penentuan densitas padatan, volume piknometer yang akan digunakan harus dikalibrasikan terlebih dahulu karena volume piknometer merupakan fungsi dari temperatur. Makin besar temperatur maka volume juga akan makin besar. Proses kalibrasi volume piknometer ini dilakukan dengan menggunakan air. Densitas air pada suhu 25oC yang digunakan untuk kalibrasi ini dapat diketahui dari literatur. Karena piknometer terisi penuh dengan air ( hal ini dilakukan dengan mengisi penuh pikno lalu kita tutup akan ada sebagian air yang mengalir keluar yang harus kita lap terlebih dahulu sebelum ditimbang ) maka dapat kita anggap bahwa volume air sama dengan volume piknometer.

Kalibrasi Flowmeter Kalibrasi flowmeter perlu dilakukan karena kedudukan neddle valve mudah berubah karena keinginan pemakai menyesuaikan ketelitian pengamatan pada manometer ( yang dihubungkan dengan kerangan ) dengan selang laju alir fluida yang diterapkan. Oleh karena itu neddle valve harus diatur pada kedudukan tertentu agar dapat memberikan pembacaan beda ketinggian manometer air raksa yang baik sekaligus juga memberikan pembacaan beda ketinggian manometer air ataupun piezometer yang baik pula. Mula-mula, kerangan jarum dalam posisi terbuka penuh, lalu kita masukkan unggun dalam kolom, lalu kita alirkan fluida melaluinya. Kita atur posisinya, agar memberikan pembacaan beda ketinggian yang baik. Setelah ditetapkan, kedudukan kerangan jarum tidak boleh berubah lagi selama percobaan. Prinsip dari neddle valve ini mirip dengan orifice meter yaitu dengan merubah luas penampang aliran fluida sehingga terjadi perbedaan laju alir linear fluida. Bila neddle valve dibuka kecil, maka kecepatan fluida yang mengalir melaluinya akan makin besar sehingga beda ketinggian pada manometer air raksa dapat dilihat lebih jelas dan ketelitiannya akan lebih baik dibandingkan dengan bila dibuka besar yang akan mengakibatkan kecepatan fluida yang mengalir kecil sehingga beda ketinggian pada manometer air raksa juga tidak terlalu besar sehingga lebih susah diamati. Hal ini sesuai dengan persamaan kontinuitas : m1 1 . 1 .u1 karena 1 = 1 .u1 Q1 2 = = 2 .u2 Q2 = = m2 2 . 2 .u2

Bila kerangan yang dibuka kecil maka luas permukaan ( A ) akan kecil sehingga laju alir linearnya ( u ) akan besar, sedangkan bila dibuka besar, A nya besar, maka laju alir linearnya akan kecil. Dalam menentukan seberapa besar laju alir fluida yang digunakan dalam percobaan, kita tidak dapat mengukur langsung. Selama terjadi perubahan laju alir, akan terjadi perubahan ketinggian air raksa di manometer. Oleh karena itu kita perlu mencari hubungan antara beda tinggi raksa pada manometer dan laju alir fluida yang digunakan baik untuk fluida cair maupun fluida gas.

Untuk fluida inkompresibel yaitu fluida cair, hubungan antara Q 2 dan hraksa dapat diperoleh dari penurunan persamaan Bernoulli sehingga akan didapatkan suatu hubungan yang linier. Persamaan Bernoulli tersebut adalah :
z1.g + v12 p1 v2 p + = z2 .g + 2 + 2 2 2

dari persamaan diatas akan didapatkan Q2 = f ( h) dalam bentuk kurva yang linier. Sedang untuk fluida kompresibel yaitu fluida udara, hubungan antara Q2 dan hraksa tidak dapat diturunkan dari persamaan Bernoulli, sehingga kurva yang dihasilkan tidak linier tetapi berupa kurva dengan persamaan polinomial. Tujuan dilakukannya kalibrasi flowmeter untuk mengetahui berapa besar laju alir linear fluida yang digunakan (air dan gas) untuk memfluidisasikan unggun dalam kolom bila beda ketinggian raksa di manometernya diketahui. Kalibrasi laju alir untuk fluida air dilakukan dengan mengukur waktu yang diperlukan untuk menampung sejumlah tertentu air pada berbagai harga P raksa,

sehingga diperoleh hubungan antara P raksa dengan kuadrat laju volumetrik fluida air. Kalibrasi untuk fluida udara pada prinsipnya sama, tetapi dilakukan dengan menggunakan wet-test meter. Pada kalibrasi ini, fluida diasumsikan berada dalam keadaan isotermal dan inkompresibel. Jika kondisi fluidanya non-isotermal dan compresible, maka perubahan energi dalam (U) dan kalor (Q) dalam neraca energi tidak dapat diabaikan, sehingga hubungan antara P raksa dan laju alir volumetrik fluida tidak dapat langsung diturunkan dengan menggunakan persamaan Bernoulli. Kalibrasi Grid Kosong Grid adalah semacam alat yang digunakan untuk menyebarkan fluida secara merata di keseluruhan penampang kolom. Selain itu grid juga berfungsi sebagai penahan partikel unggun agar tertahan, tidak jatuh ke bawah. Adanya grid pada kolom akan menyebabkan adanya hilang tekan (P) pada kolom yang juga akan mengakibatkan penurunan kecepatan fluida. Untuk fluida air, hilang tekan yang dihasilkan grid umumnya relatif lebih besar daripada hilang tekan dihasilkan oleh fluida gas. Hal ini disebabkan karena densitas air yang lebih besar daripada densitas udara, sehingga air akan relatif lebih sulit

terdistribusi atau mengalir daripada udara (gas). Selain itu, viskositas air yang juga lebih besar mengakibatkan air lebih susah lolos daripada udara. Kalibrasi grid kosong perlu dilakukan agar kita dapat mengetahui hilang tekan yang diakibatkan oleh grid. Selama percobaan hilang tekan yang ditunjukkan oleh beda tinggi air pada manometer maupun piezometer merupakan hilang tekan total yang diakibatkan oleh grid maupun unggun. Beda tekan yang diinginkan untuk dialurkan dalam kurva karakteristik fluidisasi adalah beda tekan yang disebabkan oleh unggun padatan saja. Sehingga hasil perhitungan beda tekan yang dihasilkan dari pembacaan beda tinggi air dalam piezometer harus dikurangi dengan beda tekan grid agar kita tahu berapa besar beda tekan yang disebabkan oleh unggun saja. Selama proses melalui unggun, fluida mengalami penurunan tekanan akibat gesekan fluida dengan dinding kolom, grid, maupun gesekan dengan partikel unggun padatan. Penurunan tekanan ini diimpikasikan dalam bentuk penurunan kecepatan aliran fluida setelah fluida melalui unggun. Karena ada perbedaan antara kecepatan fluida pada sebelum dan sesudah melalui unggun, sehingga ketika manometer dihubungkan dengan sebelum dan sesudah unggun akan tampak beda ketinggian dari cairan pada manometer. Bila fluida itu lebih cepat, maka dia akan lebih mampu mendorong cairan pada manometer sehingga tampak lebih rendah. Fenomena-Fenomena yang Terjadi ketika Fluida Melewati Unggun Berdasarkan literatur, fenomena-fenomena yang dapat teramati jika menggunakan fluida gas adalah unggun diam (fixed-bed), unggun terekspansi (expanded-bed), fluidisasi (minimum fluidisasi, yang dilanjutkan dengan bubbling, channeling, slugging, ataupun fluidisasi langsung), dan terdispersi (disperse) atau lean phase fluidization. Fenomena fluidisasi seperti bubbling, channeling, dan slugging disebut fluidisasi heterogen (aggregative fluidization), karena unggun terfluidisasi secara tidak stabil. Berdasarkan literatur, fenomena-fenomena yang dapat teramati jika kita menggunakan fluida air adalah unggun diam (fixed-bed), unggun terekspansi (expanded-bed), unggun terfluidakan (fluidized-bed), dan terdispersi (disperse) atau lean phase fluidization. Fluidisasi dengan menggunakan fluida cair sering pula disebut sebagai fluidisasi homogen (particulate fluidization) karena umumnya unggun terfluidisasi secara mulus.

Fixed Bed Keadaan ini terjadi pada saat kecepatan aliran udara masih sangat rendah (nilai u < nilai umf), sehingga udara belum mampu mengangkat partikel-partikel padatan, dan hanya mengalir melalui ruang-ruang kosong di antar padatan dan tidak akan merubah susunan partikel padatan pada unggun tersebut. Beda tekan pada fixed-bed akan meningkat seiring dengan penambahan kecepatan fluida yang melewati unggun. Tinggi unggun tidak berubah dari keadaan awal. Expanded Bed Keadaan ini tercapai saat kecepatan aliran udara mulai membesar (nilai u mendekati nilai umf), sehingga udara hanya mampu sedikit mengangkat padatan (unggun), dan padatan terlihat mulai terekspansisecara terbatas dari kedudukannya semula. Kecepatan aliran udara yang membesar menyebabkan udara bukan hanya melewati ruang-ruang kosong di antara padatan-padatan, tetapi mulai dapat mengangkat partikel-partikel padatan dalam kolom. beda tekan pada unggun juga akan lebih besar daripada fixed bed. Minimum Fluidization Keadaan dimana terjadi kesetimbangan gaya-gaya antara gaya seret/drag force (arah ke atas),dan gaya berat (arah ke bawah) dari partikel tersebut. Pada fasa ini gaya apung ( bouyancy force ) belum berperan karena partikel unggun belum bergerak keatas. Pada fasa ini, partikel unggun tepat akan bergerak sehingga bila laju alir fluidanya diperbesar lagi maka unggun akan terfluidisasikan. Kecepatan fluida pada saat ini dinamakan kecepatan minimum fluidisasi yang dicari dalam praktikum ini. Dalam percobaan, penentuan kecepatan minimum fluidisasi ini dilakukan pada saat fluidisasi balik, maksudnya penentuan kecepatan minimum tersebut dilakukan setelah hilangnya interlock pada unggun. Penentuan kecepatan minimum fluidisasi ini dapat ditentukan oleh cara grafik, persamaan Ergun dan persamaan Wen & Yu. Beda tekan pada minimum fluidisasi tidak berbeda jauh pada saat keadaan expanded-bed , begitu pula dengan tinggi unggunnya.

Fluidized Bed Keadaan ini tercapai pada saat kecepatan udara sudah cukup besar (nilai u > nilai umf) sehingga dapat mengangkat partikel-partikel padatan sampai terfluidisasi dalam kolom. Pada keadaan ini partikel padatan akan bergerak naik dan butiran halus akan terbawa oleh aliran fluida. Beda tekan pada keadaan ini akan lebih besar daripada keadaan minimum fluidisasi tetapi besarnya relatif konstan . Hal ini dapat dilihat dari kurva karakteristik fluidisasi. Fenomena-fenomena yang mungkin terlihat pada tahap ini adalah: Chanelling : Keadaan ini terjadi pada saat padatan sudah mulai terfluidisasi, namun karena kecepatan aliran fluida yang masih rendah, partikel-partikel yang terfluidisasi adalah partikel-partikel yang berada di bagian pinggir kolom. Hal ini disebabkan oleh sifat udara yang selalu mencari jalan yang mudah dilalui, dan adanya perbedaan kerapatan antara unggun di bagian pinggir kolom dengan unggun pada bagian tengah kolom. Biasanya kerapatan partikel di tengah lebih rapat daripada kerapatan partikel di pinggir kolom. Bubbling : Kecepatan aliran fluida semakin besar sehingga menimbulkan gejolak-gejolak pada unggun seperti membentuk gelembung (bubble). Slugging : Kecepatan aliran fluida sudah cukup tinggi mengakibatkan terangkatnya padatanpadatan dalam kolom terfluidisasi secara horizontal dan bersamaan, sehingga seolaholah menimbulkan torak ( lapisan-lapisan yang terpisah-pisah )pada unggun. Untuk fluida cair, pada umumnya unggun terekspansi dengan mulus oleh karena itu disebut fluidisasi homogen atau particulate fluidization. Sedangkan pada fluida gas, ketakstabilan mudah terjadi ditandai munculnya gelembung (bubble) dan channel dalam unggun sehingga dinamakan fluidisasi heterogen atau aggregative fluidization. Tapi selama percobaan, dapat dilihat bahwa baik dengan fluida cair maupun gas, fluidisasi heterogen tetaplah terjadi. Padahal seharusnya bila digunakan fluida cair, hanya terjadi fluidisasi homogen tapi didapatkan selama percobaan terhadu channeling pada unggun. Hal ini dimungkinkan oleh tidak homogennya penyusunan partikel unggun pada waktu dilewati oleh fluida cair, sehingga menyebabkan perbedaan ruang kosong/

fraksi kosong pada unggun antara bagian tengah dan dinding. Dengan demikian fluida yang melewati unggun akan menghasilkan saluran-saluran udara. Fluida cair memiliki densitas dan viskositas yang jauh lebih besar daripada fluida gas karena molekul-molekulnya lebih rapat. Hal inilah yang menimbulkan kemampuan fluida cair untuk menekan lebih kuat dan mampu mengisi ruang-ruang kosong dalam unggun pada ketinggian yang sama terlebih dahulu, sebelum mengalir ke atas dan mengisi ruang-ruang kosong yang lebih tinggi. Akibatnya laju alir fluida air di setiap titik dalam unggun sama dan unggun terangkat secara bersamaan.Oleh sebab itu slugging lebih umum terjadi bila fluidanya gas. Selama fluidisasi akan terjadi keseimbangan antara gaya seret fluida, gaya apung, dan gaya berat partikel dalam unggun. Lean phase fluidization (disperse) Keadaan ini tercapai pada saat kecepatan aliran fluida sudah sangat besar, sehingga partikel-partikel padatan terbawa oleh aliran fluida. Hal ini disebabkan karena gaya apung dan gaya seret fluida besarnya jauh lebih besar daripada gaya berat partikel. Pengaruh jenis partikel, diameter kolom, jenis fluida dan L/D terhadap kecepatan minimum fluidisasi

a. Pengaruh jenis partikel


Jenis partikel yang digunakan dalam percobaan ini adalah pasir bangunan dan keramik. Dari hasil percobaan, kita dapat melihat bahwa partikel keramik memiliki harga umf yang lebih kecil daripada partikel pasir bangunan. pasir kuarsa. Hal ini dapat diterangkan dari beda massa jenis antara pasir dengan keramik dimana massa jenis pasir lebih besar daripada keramik sehingga untuk volume yang sama, massa pasir akan lebih besar daripada massa keramik. Karena massanya lebih besar, maka akan lebih susah terangkat karena gaya berat partikel dalam keseimbangan gaya ke atas dan ke bawah lebih besar. Karena lebih susah terangkat maka dibutuhkan fluida dengan kecepatan lebih besar untuk mengangkatnya sehingga umf kita menggunakan partikel keramik. fluida lebih besar. Jadi bila kita menggunakan partikel pasir bangunan, umf fluidanya lebih besar daripada bila

b. Pengaruh diameter kolom Kolom yang digunakan pada percobaan ini memiliki diameter masing-masing 3 cm (kolom kecil) dan 4,5 cm (kolom besar). Pada percobaan ini didapatkan bahwa untuk kolom besar, bila variabel yang lain tetap, maka kecepatan minimum fluidisasinya lebih kecil. Hal ini dapat disebabkan oleh semakin besar kolom yang digunakan maka volume partikelnya juga semakin besar dan gaya berat dari unggun padatan juga semakin besar, sehingga dibutuhkan gaya tekan fluida yang lebih besar pada kolom besar daripada kolom kecil. Berdasarkan dari persamaan Wen & Yu, kecepatan minimum fluidisasi tidak dipengaruhi oleh diameter kolom sehingga dihasilkan harga umf yang sama baik pada kolom kecil maupun besar. Selain alasan diatas, hal ini dapat pula diterangkan dari persamaan kontinueitas. Semakin besar diameter kolom, semakin kecil harga kecepatan minimum fluidisasinya. Hal ini disebabkan karena untuk laju alir volumetrik yang sama, kecepatan aliran fluida melalui luas penampang yang lebih besar akan bernilai lebih kecil daripada kecepatan aliran fluida melalui luas penampang yang lebih kecil. c. Pengaruh jenis fluida Fluida yang digunakan dalam percobaan ini adalah fluida air dan udara. Dari hasil percobaan dapat dilihat apabila fluida yang digunakan air, kecepatan minimum fluidisasinya akan lebih kecil daripada bila fluidanya udara. Hal ini disebabkan fluida air memiliki densitas yang jauh lebih besar dari pada fluida udara, sehingga dengan laju alir yang sama, gaya seret fluida keatas dan gaya apung akan lebih besar sehingga partikel lebih mudah terangkat sehingga kecepatan minimum fluidisasinya lebih kecil. Dari persamaan Ergun dan Wen Yu dapat pula dilihat bahwa massa jenis fluida mempengaruhi besarnya kecepatan minimum fluidisasi. Persamaan Ergun :

150 (1 mf ) 1.75 2 u + u mf ( p )g = 0 mf 3 2 3 D p mf 2 D p mf

Persamaan Wen-Yu :

D p u mf

3 0.0408D p (p )g 2 = 33.7 + 33.7 2

d. Tinggi unggun Makin besar tinggi unggun ( ditandai dengan makin besarnya nilai L/D untuk D yang sama ) maka akan makin banyak unggun padatan di dalam kolom sehingga gaya berat yang arahnya ke bawah juga akan makin besar sehingga dibutuhkan daya tekan yang lebih besar untuk mendorong padatan keatas sehingga kecepatan minimum fluidisasinya juga makin besar. Hal ini dapat dilihat dari hasil percobaan dimana bila L/D nya lebih besar, sedangkan variabel yang lain sama, maka kecepatan minimum fluidisasinya lebih besar. Kurva Karakteristik Fluidisasi Dalam percobaan ini kita perlu menentukan kurva karakteristik fluidisasi yang menggambarkan hubungan beda tekan pada unggun (P) dengan laju alir superfisial fluida (u) yang digunakan. Dengan kurva tersebut kita dapat menentukan berapa besar kecepatan minimum fluidisasi yang diperlukan dengan metode grafis.

b P

e umf

daerah unggun terfluidakan Garis a-b dalam gambar menunjukkan hilang tekan pada daerah unggun terluidakante diam ketika laju alir fluida dinaikkan, rfluidakan
Garis b-c menunjukkan unggun terfluidakan.

daerah unggun diam

Garis d-e menunjukkan daerah unggun diam pada saat laju alir fluida diturunkan. Titik yang digunakan untuk menunjukkan titik minimum fluidisasi adalah titik d yaitu saat fluida diperlambat lagi. Hal ini dilakukan untuk menghindari interlocking. Interlocking terjadi karena adanya kecenderungan partikel-partikel untuk saling mengunci satu dengan yang lain, sehingga akan terjadi kenaikan hilang tekan sesaat sebelum terjadi fluidisasi. Dari hasil percobaan diperoleh kurva karakteristik yang tidak ideal maka penentuan kecepatan minimum fluidisasi (Umf) dengan menggunakan kurva karakteristik (secara grafis) hasilnya kurang tepat. Perbandingan Umf Wen & Yu Dalam percobaan kita dapat menentukan kecepatan minimum fluidisasi dengan 3 cara yaitu : 1. dengan cara grafis 2. dengan persamaan Ergun 3. dengan persamaan Wen & Yu Dari hasil percobaan didapatkan bahwa penentuan harga umf dengan cara grafis (kurva karakteristik fluidisasi) kurang tepat/akurat karena dipengaruhi oleh variabel beda tinggi pada manometer air raksa, kecepatan fluida serta hilang tekan pada unggun. Karena kita seringkali mendapatkan kurva karakteristik yang berbeda dari keadaan ideal (seperti gambar diatas) maka sulit untuk menentukan harga kecepatan minimum fluidisasinya dengan cara grafis. Sedangkan penentuan umf dari persamaan Ergun dan Wen & Yu juga tidak terlalu akurat. Jika kita menggunakan persamaan Ergun, kita membutuhkan harga sphericity (derajat kebolaan) yang didapatkan dari pembacaan grafik dan . Dalam pembacaan grafik tersebut kita mengalurkan dan pada garis normal packing dan hasilnya dapat kurang teliti. Sehingga dapat mempengaruhi perhitungan penentuan umf. Jika kita menggunakan persamaan Wen & Yu kita mengabaikan faktor dan mf sehingga hasilnya pun kurang akurat, karena harga dan mf diperoleh Wen & Yu juga berasal dari rata-rata dari sejumlah besar data. Selain itu, persamaan Wen & Yu tidak memperhitungkan besarnya diameter kolom fluidisasi, padahal kenyataannya besarnya dari kurva karakteristik, persamaan Ergun dan persamaan

kolom juga berpengaruh terhadap besarnya kecepatan minimum fluidisasi. Korelasi Wen & Yu juga tidak memperhitungkan pengaruh tinggi unggun dan fraksi lowong, tetapi hanya memperhitungkan pengaruh densitas dan viskositas fluida, ukuran dan densitas partikel. Dari hasil percobaan didapatkan harga umf yang berbeda dari masing-masing metode penentuannya. Harga umf yang diperoleh dari persamaan Wen&Yu lebih mendekati hasil dari pembacaan grafik. Karena persamaan Ergun yang memperhitungkan semua faktor, maka kecepatan minimum yang dihasilkan lebih tepat di bandingkan dari persamaan Wen & Yu maupun dari kurva karakteristik. Penyimpangan-penyimpangan dalam percobaan Dalam percobaan banyak didapatkan penyimpangan-penyimpangan sebagai berikut : 1. kerangan jarum yang digunakan baik pada fluida cair maupun gas kurang ditutup, sehingga menyebabkan beda tinggi yang didapat pada manometer air raksa tidak begitu besar dan menyulitkan pengamatan yang mengakibatkan data yang diperoleh dari percobaan menjadi kurang akurat. 2. adanya channeling dan bubbling pada unggun padatan menyebabkan kontak antara fluida dan padatan tidak merata sehingga sulit dalam mengamati tinggi unggun, sehingga data yang diperoleh juga kurang akurat. 3. kurva karakteristik yang didapat pada waktu percobaan dapat menyimpang dari keadaan ideal karena adanya interlock ( partikel yang satu dengan yang lain saling mengunci ) dan agregat ( chaneling, bubbling, slugging ). 4. kurva karakteristik fluidisasi II tidak berhimpit dengan jalur kurva karakteristik fluidisasi balik I. Hal ini dikarenakan pengambilan data dilakukan pada selisih laju alir yang terlalu besar pada bagian fixed-bed sehingga didapatkan kurva karakteristik fluidisasi yang kurang mulus. Karena itu diperlukan pengambilan data yang lebih banyak dengan selisih laju alir yang lebih kecil

BAB IV KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini adalah: Kecepatan minimum fluidisasi bila fluida udara yang digunakan lebih besar daripada bila yang digunakan air. Semakin besar densitas suatu padatan (unggun), semakin besar pula harga kecepatan minimum fluidisasinya. Semakin besar nilai L/D suatu unggun, semakin besar pula harga kecepatan minimum fluidisasinya. Semakin besar diameter kolom yang digunakan untuk proses fluidisasi, semakin kecil harga kecepatan minimum fluidisasinya. Harga umf yang diperoleh dari kurva karakteristik fluidisasi, persamaan Ergun, dan korelasi Wen & Yu berbeda-beda. Harga umf yang diperoleh dari persamaan Ergun lebih teliti dibandingkan dari Wen&Yu maupun dari pembacaan kurva. Makin besar beda ketinggian raksa pada manometer, maka makin besar pula laju alir fluida yang melaluinya Makin besar beda ketinggian air pada piezometer untuk fluida air atau manometer air untuk fluida gas, maka makin besar pula beda tekan fluida sebelum dan sesudah melalui unggun.

DAFTAR PUSTAKA

Brown, G.G, et.al. 1950. Unit Operations. New York: John Wiley and Sons. Geankoplis, Christie J. 1993. Transport Processes and Unit Operation, 3rd edition. New Jersey: Prentice Hall International Inc. Mc.Cabe, Warren L., J. C. Smith, Peter Harrott. 1993. Unit Operation of Chemical Engineering, 5th edition. New York:McGraw-Hill, Inc. Perry. 1985. Perrys Chemical Handbook, 6th edition. New York: Mc Graw-Hill Inc.