Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI VIROLOGI UJI KUALITAS PADA JAMU (Gemuk Sehat)

KELOMPOK VII-J ANGGOTA: 1. Dominika Palang Sili 2. Biratika Dewi Karlina D 3. Pesta Natalia 4. Arsiaty Sumule (NIM: 17113325 A) (NIM: 17113326 A) (NIM: 17113327 A) (NIM: 17113328 A)

Rabu, 20 Maret 2013

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SETIA BUDI SURAKARTA 2013

I.

TOPIK Pemeriksaan Kualitas Jamu (Gemuk Sehat)

II.

TUJUAN Memeriksa kualitas jamu yang beredar di pasaran dengan mencari tahu kandungan mikrob yang terdapat pada jamu tersebut. Untuk mengetahui ada/tidaknya mikroba pada Jamu. Untuk mengetahui sampel jamu memenuhi syarat atau tidak. Untuk mengetahui higienitas jamu.

III.

ALAT DAN BAHAN Alat Rak tabung Tabung reaksi Pipet 1ml dan 10ml Siring Cawan petri Inkubator Bahan Alkohol Spirtus Air Fisiologis Kalium Fellorit Media NA, SGA, Dan VJA.

IV.

CARA KERJA a. ALT

Ambil 1ml dari pengenceran 10-1, selanjutnya masukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi air fisiologis (pengenceran 10-2 )

Ambil 1ml dari pengenceran kedua, selanjutnya masukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi air fisiologis (pengenceran 10-3)

Inkubasi

Pengenceran 10-1, 10-2, dan 10-3 diambil masing-masing 1ml tiap pengenceran, masukkan ke dalam cawan petri. Setelah itu, tambahkan NA.

b. Uji AKK

Ambil 1ml dari pengenceran 10-1, selanjutnya masukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi air fisiologis (pengenceran 10-2 )

Ambil 1ml dari pengenceran kedua, selanjutnya masukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi air fisiologis (pengenceran 10-3)

Inkubasi

Pengenceran 10-1, 10-2, dan 10-3 diambil masing-masing 1ml tiap pengenceran, masukkan ke dalam cawan petri. Setelah itu, tambahkan SGA.

c. Uji S.Aureus

Ambil 1 ml dari pengenceran 10-1

masukkan ke dalam cawan petri kosong.

Inkubasi

Setelah itu, tambahkan agar VJA sebagai media.

d. Uji Salmonela

Ambil 1ml dari sampel,kenudian masukkan dalam tabung reaksi

Inkubasi

e. MPN Coliform

Ambil 1ml dari masing-masing pengenceran(10ml,1ml,0.1ml), kemudian masukkan dalam tabung reaksi

Inkubasi

V.

DASAR TEORI Obat bahan alam merupakan obat yang menggunakan bahan baku berasal dari alam (tumbuhan dan hewan). Obat bahan alam dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis yaitu jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Jamu (Empirical based herbal medicine) adalah obat bahan alam yang disediakan secara tradisional, misalnya dalam bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut dan digunakan secara tradisional. Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris saja. Obat herbal terstandar (Scientific based herbal medicine) yaitu obat bahan alam yang disajikan dari ekstrak atau penyaringan bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral.. Proses ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan mahal, serta ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik. Fitofarmaka (Clinical based herbal medicine) merupakan bentuk obat bahan alam dari bahan alam yang dapat disejajarkan dengan obat modern karena proses pembuatannya telah terstandar serta ditunjang oleh bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusiaketiga jenis obat bahan alam tersebut sering disebut juga sebagai jamu. Namun ketiga jenis obat bahan alam tersebut sering disebut juga sebagai jamu.

Sementara menurut keterangan BP POM; jamu adalah bahan atau ramuan bahan yang berasal dari bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Pengolahan jamu antara lain adalah direbus atau digodok, dikeringkan atau dikonsumsi langsung.

(Maheshwari, 2002) Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium. Medium yang digunakan untuk menumbuhkan

dan mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai susunannya dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan.

Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula. Sedangkan mikroorganime lainnya memerlukan suatu medium yang sangat

kompleks yaitu berupa medium ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya. (Volk, dan Wheeler,1993) Akan tetapi yang terpenting medium harus mengandung nutrien yang merupakan substansi dengan berat molekul rendah dan mudah larut dalam air. Nutrien ini adalah degradasi dari nutrien dengan molekul yang kompleks. Nutrien dalam medium harus memenuhi kebutuhan dasar makhluk hidup, yang meliputi air, karbon, energi, mineral dan faktor tumbuh. (Mila Ermila, 2005) Uji ALT (Angka Lempeng Total) mengandung prinsip yaitu pertumbuhankoloni bakteri aerob mesofil setelah cuplikan diinokulasikan pada lempeng agar dengan cara tuang dan diinkubasikan pada suhu yang sesuai. Setelah inkubasidipilih cawan petri dari satu pengenceran yang menunjukkan jumlah koloni 30-300 koloni. Jumlah koloni rata-rata dari kedua cawan dihitung lalu dikalikandengan factor pengencerannya. Hasil dinyatakan sebagai Angka Lempeng Total(ALT) dalam tiap gram contoh bahan (Anonim, 2000). Uji angka lempeng total bertujuan untuk menunjukkan jumlahmikroorganisme dalam suatu sediaan dengan metode hitungan cawan. Jikasel masih dapat ditumbuhkan pada medium agar, maka sel mikrobia tersebutakan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat langsung dilihatdengan mata tanpa menggunakan mikroskop. Karena jumlah mikroorganisme dalam sampel tidak diketahui sebelumnya,maka untuk memperoleh sekurang-kurangnya satu cawan yang mengandungkoloni dalam jumlah yang memenuhi syarat tersebut maka harus dilakukansederetan pengenceran dan pencawanan. Jumlah organisme yang terdapat dalamsampel asal ditentukan

dengan mengalikan jumlah koloni yang terbentuk denganfaktor pengenceran pada cawan yang bersangkutan (Hadioetomo, 1985). Khamir yang lebih besar daripada kebanyakan bakteri timbul apabilaorganism hidup sebagai parasit atau pathogen dalam jaringan, sedangkandalam bentuk kapang apabila organism tersebut merupakan saprofit dalamtanah atau dalam medium laboratorium (Tortora, 2010). Khamir itu bersifat fakultatif; artinya, mereka dapat hidup baik dalam keadaan aerobik maupun keadaan anaerobik. Kapang adalah mikroorganismeaerobic sejati. Cendawan dapat hidup dalam kisaran suhu yang luas, dengansuhu optimum kebanyakan spesies saprofitik dari 22 sampai 30C; spesies patogenik mempunyai suhu optimum lebih tinggi, biasanya 30-37C. Beberapa cendawan akan tumbuh pada atau mendekati 0C dan dengandemikian dapat menyebabkan kerusakan pada daging atau sayur-sayurandalam penyimpanan dingin. Cendawan mampu memanfaatkan berbagai bahanuntuk gizinya. Sekalipun demikian, mereka itu heterotrof (Pelczar, 2008). Pertumbuhan bakteri dapat diukur dengan beberapa cara, yaitu denganmenghitung jumah sel dan dengan mngukur massa total populasi, yang biasanya sebanding dengan jumlah sel. Jumlah populasi biasanya dihitungsebagai jumlah sel dalam 1 ml cairan per 1 mg materi padat. Dengan membuatseri pengenceran, kita dapat memperkirakan jumlah bakteri dalam sampel(Radji, 2010). Untuk pengujian dilakukan dengan cara : Uji Angka Kapang/ Khamir Total (AKK) Pada pengujian ini akan diketahui seberapa besar cemaran kapang/ khamir pada sediaan. Caranya dengan menghitung koloni kapang/ khamirpada serial pengenceran sampel sediaan. Hasil pengujian akan dibandingkandengan standar uji cemaran mikroba SNI 19-2897-1992 (Soediono, 2007). Uji Angka Lempeng Total (ALT) Pada pengujian ini akan diketahui seberapa besar cemaran bakteri padasediaan. Caranya dengan menghitung koloni bakteri pada serial pengenceransampel sediaan. Setiap sediaan menyaratkan batas angka bakteri dan kapang/ khamir tertentu yang masih dianggap aman untuk dikonsumsi, yaitu < 104koloni per ml untuk kapang/

khamir dan 106 koloni per ml untuk bakteri.Hasil pengujian ini akan dibandingkan dengan standar uji cemaran mikrobaSNI 19-2897-1992 (Soediono, 2007). Dalam perhitungan jumlah mikroba, sel-sel hidup dan mati jugadipergitungkan. Suatu sel yang hidup dapat diartikan sebagai satu sel yangmampu membelah diri dan dapat menghasilkan individu yang baru. Cara yangdigunakan untuk menghitung sel-sel yang hidup adalah dengan menentukan jumlah sel-sel dalam sampel yang mampu membentuk koloni pada media agaryang sesuai. Oleh karena itu, perhitungan jumlah koloni sel-sel hidup ini sering dinamakan Plate Count atau perhitungan koloni (colony count). Ada 2 cara melakukan suatu plate count, yaitu: Metode Sebaran dan Metode Taburan (Brooks,2004). Metode MPN (Most Probable Number). Perhitungan secara tidak langsung ada beberapa cara yaitu : perhitungan pada cawan petri (total plate count / TPC), perhitungan melalui pengenceran, perhitungan jumlah terkecil atau terdekat (MPN methode), dan kalorimeter (cara kekeruhan atau turbidimetri). Metode MPN terdiri dari tiga tahap, yaitu uji pendugaan (presumtive test), uji konfirmasi (confirmed test), dan uji kelengkapan (completed test). Dalam uji tahap pertama, keberadaan coliform masih dalam tingkat probabilitas rendah; masih dalam dugaan. Uji ini mendeteksi sifat fermentatif coliform dalam sampel. Metode perhitungan MPN sering digunakan dalam pengamatan untuk menghitung jumlah bakteri yang terdapat di dalam tanah seperti Nitrosomonas dan Nitrobacter. Kedua jenis bakteri ini memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, sehubungan dengan kemampuannya dalam mengikat N2 dari udara dan mengubah ammonium menjadi nitrat (Lim, 1998). Metode MPN biasanya biasanya dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh yang berbentuk cair, meskipun dapat pula digunakan untuk contoh berbentuk padat. Perhitungan jumlah suatu bakteri dapat melalui berbagai macam uji seperti uji kualitatif koliform yang secara lengkap terdiri dari tiga tahap yaitu uji penduga (uji kuantitatif, bisa dengan metode MPN), uji penguat dan uji pelengkap. Waktu, mutu sampel, biaya, tujuan analisis merupakan beberapa faktor penentu dalam uji kualitatif koliform. Bakteri koliform dapat dihitung dengan menggunakan metode cawan petri (metode perhitungan secara tidak langsung yang didasarkan pada

anggapan bahwa setiap sel yang dapat hidup akan berkembang menjadi satu koloni yang merupakan suatu indeks bagi jumlah organisme yang dapat hidup yang terdapat pada sampel. Output metode MPN adalah nilai MPN. Nilai MPN adalah perkiraan jumlah unit tumbuh (growth unit) atau unit pembentuk koloni (colony forming unit) dalam sampel. Namun, pada umumnya nilai MPN juda diartikan sebagai perkiraan jumlah individu bakteri. Satuan yang digunakan, umumnya per 100 mL atau per gram. Metode MPN memiliki limit kepercayaan 95 persen sehingga pada setiap nilai MPN, terdapat jangkauan nilai MPN terendah dan nilai MPN tertinggi (Lim, 1998). Menurut Plummer (1987), ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menghitung atau mengukur jumlah jasad renik di dalam suatu suspensi atau bahan, yang dapat dibedakan atas beberapa kelompok yaitu:

a. Perhitungan jumlah sel 1. Hitungan mikroskopik 2. Hitungan cawan 3. MPN (Most Probable Number) b. Perhitungan massa sel secara langsung 1. Volumetrik 2. Gravimetrik 3. Kekeruhan (turbidimetri) c. Perhitungan massa sel secara tidak langsung 1. Analisis komponen sel 2. Analisis produk katabolisme 3. Analisis konsumsi nutrient Metode MPN biasanya dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh yang berbentuk cair, meskipun dapat pula digunakan untuk contoh berbentuk padat dengan terlebih dahulu membuat suspensi 1:10 dari contoh tersebut. Metode MPN digunakan medium cair di dalam tabung reaksi, dimana perhitungannya dilakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif yaitu yang ditumbuhi oleh jasad renik setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Pengamatan tabung yang positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan atau terbentuknya gas di dalam tabung kecil

(tabung Durham) yang diletakkan pada posisi terbalik, yaitu untuk jasad renik pembentuk gas. Untuk metode MPN (most probable number) digunakan medium cair dalam wadah berupa tabung reaksi, perhitungan di lakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif yaitu tabung yang mengalami perubahan pada mediumnya baik itu berupa perubahan warna atau terbentuknya gelembung gas pada dasar tabung durham. Pada metode perhitungan MPN ini digunakan bentuk tiga seri pengenceran, yang pertama 10-1, 10-2, dan 10-3. Kemudian dari hasil perubahan tersebut dicari nilai MPNnya pada tabel nilai MPN, dan untuk jumlah bakterinya maka digunakan rumus. Metode MPN merupakan uji deretan tabung yang menyuburkan pertumbuhan koliform sehingga diperoleh nilai untuk menduga jumlah koliform dalam sampel yang diuji. Uji positif akan menghasilkan angka indeks. Angka ini disesuaikan dengan tabel MPN untuk menentukan jumlah koliform dalam sampel. Bakteri koliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain dengan kata lain merupakan bakteri indikator sebagai tanda bahwa adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan koliform fecal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Keuntungan mendeteksi koliform adalah jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Koliform merupakan suatu grup bakteri yang digunakan sebagai indikator adanya pencemaran dan kondisi sanitasi yang tidak baik terhadap air, makanan, susu dan produk-produk susu. Pada saat perhitungan koloni, apabila jumlah koloni yang di temukan kurang dari standart yang telah di tetapkan, maka suatu sampel bisa di katakan murni. Beberapa jenis bakteri selain coliform juga memiliki sifat fermentatif, sehingga diperlukan uji konfirmasi untuk mengetes kembali kebenaran adanya coliform dengan bantuan medium selektif diferensial. Uji kelengkapan kembali meyakinkan hasil tes uji konfirmasi dengan mendeteksi sifat fermentatif dan pengamatan mikroskop terhadap ciri-ciri coliform: berbentuk batang, gram negatif, tidak-berspora. Bakteri coliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup dalam saluran pencernaan manusia. Bakteri coliform adalah bakteri indicator keberadaan bakteri patogenik lainnya. Lebih tepatnya, sebenarnya bakteri coliform fecal adalah bakteri indicator adanya pencemaran bakteri pathogen. Penentuan coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan

keberadaan bakteri pathogen. Selain itu, mendeteksi coliform jauh lebih murah, cepat dan sederhana daripada mndeteksi bakteri patogenik lain. Salah satu anggota kelompok coliform adalah E.coli. Karena E.coli adalah bakteri coliform yang ada pada kotoran manusia, maka E.coli sering disebut sebagai coliform fekal. Pengujian coliform jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan uji E.coli karena hanya memerlukan uji penduga yang merupakan tahap pertama uji E.coli. Bakteri coliform merupakan parameter mikrobiologis terpenting bagi kualitas air minum. Kelompok bakteri coliform, antara lain Eschericia coli, Enterrobacter aerogenes, dan Citrobacter fruendi. Keberadaan bakteri di dalam air minum itu menunjukkan tingkat sanitasi rendah. Keberadaan bakteri ini juga menunjukkan adanya bakteri pathogen lain misalnya, Shigella, yang menyebabkan diare hingga muntaber.

VI.

PEMBAHASAN Metode MPN biasanya biasanya dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di

dalam contoh yang berbentuk cair, meskipun dapat pula digunakan untuk contoh berbentuk padat Metode perhitungan MPN menggunakan media cair di dalam tabung reaksiyang berisi tabung durham, dimana perhitungan dilakukan berdasarkan jumlah tabungyang positif yaitu yang ditumbuhi oleh jasad renik setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Pengamatan tabung yang positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan atau terbentuknya gas didalam tabung durham yang diletakkan pada posisi terbalik, yaitu untuk jasad renik pembentuk gas, sehingga tabung durham tersebut naik keatas. Keuntungan dari metoda ini adalah : 1. Dapat dibuat sangat peka dengan penggunaan volume inokulum contoh yang lebih besar dari 1,0 ml/tabung. 2. 3. Bahan-bahan dapat dipersiapkan untuk tugas lapangan. Media pertumbuhan selektif dapat digunakan untuk menghitung jenismikroorganisme yang diharapkan di antara jenis-jenis lainnya yang adadalam bahan pangan tersebut. Kerugiannya adalah dibutuhkannya banyak ulangan untuk diperoleh hasilyang teliti dan sehubungan dengan hal tersebut banyak biaya dan waktu yangdibutuhkan untuk

persiapannya. Metoda ini banyak digunakan untuk menghitung bakteri patogenik dalam jumlah sedikit yang terdapat dalam bahan pangan (Buckle dkk, 1985). Dalam percobaan kali ini, digunakan 2 sampel air dari tempat yang berbeda-beda. Tempat pengambilan sampel tersebut yaitu di wilayah kampus yaitu kantin A dan kantin B. Dalam metode ini sampel yang telah diencerkan dituang kedalam masing-masing 3 tabung reaksi, kemudian sampel tersebut diinkubasi selama 2 hari. Setelah 2 hari dilakukan perhitungan berdasarkan jumlah tabung yang positif yaitu yang ditumbuhi oleh mikroba. Pengamatan tabung positif dilakukan dengan mengamati perubahan warna pada sampel yang sebelumnya dicampurkan dengan medium LB (Laktose Broth), atau dengan terbentuknya gelembung gas dalam tabung durham. Fungsi dari tabung durham sendiri sebagai media untuk menampung gas akibat metabolisme bakteri. Dan penyebab lain dari terbentuknya gas dalam tabung, diakibatkan karena kontaminasi dari udara ketika proses isolasi dalam inkubator. Medium LB digunakan karena medium ini berfungsi sebagai media untuk mendeteksi kehadiran Coliform dalam air dan dalam mempelajari fermentasi laktosa oleh bakteri pada umumnya. Pepton dan ekstrak beef menyediakan nutrien esensial untuk memetabolisme bakteri. Laktosa menyediakan sumber karbohidrat yang dapat difermentasi untuk organism Coliform. Pertumbuhan dengan pembentukan gas adalah presumptive test untuk Coliform. Lactose broth dibuat dengan komposisi 0,3% ekstrak beef; 0,5% pepton; dan 0,5% laktosa. Dari hasil pengamatan, kedua sampel tersebut positif mengandung bakteri Coliform. Hal ini ditunjukkan dengan adanya gelembung gas yang berada dalam tabung durham dan warna larutan berubah menjadi keruh. Menurut Suriawiria (1985), kekeruhan yang terdapat pada tabung reaksi disebabkan karena adanya aktivitas dari suatu mikroorganisme. Kekeruhan yang terjadi pada tabungtabung reaksi tersebut berbeda, ada yang mengalami kekeruhan pada bagian permukaannya saja dan juga ada yang mengalami kekeruhan merata pada seluruh media dan sampel. Kekeruhan yang terjadi merata pada media disebabkan karena adanya mikroorganisme anaerob fakultatif, yaitu mikroorganisme yang mampu hidup ataupun tumbuh dengan atau tanpa adanya oksigen. Kekeruhan yang terjadi pada permukaannya saja disebabkan karena adanya mikroorganisme aerob. Menurut Fardiaz (1992), Gelembung udara yang dihasilkan pada tabungdurham disebabkan oleh adanya aktivitas yang respirasi mikroorganisme, sehingga dapat dilihat hasil dari respirasi mikroorganisme tersebut berupa gelembung gas.

Untuk sampel air kantin A, nilai MPN dari tabel MPN yaitu 1,6. Dengan menggunakan rumus MPN count, dalam 1 mL sampel terdapat 160 bakteri coliform. Untuk sampel air kantin B, nilai MPN dari table MPN yaitu 0,23. Dengan menggunakan rumus MPN count, dalam 1 mL sampel terdapat 23 bakteri coliform. Hal ini sudah diambang batas, karena menurut Standar WHO yakni 95% dari sampel-sampel tidak boleh mengandung coliform dalam 100 ml, tidak ada sampel yang mengandung E. coli dalam 100 ml, tidak ada sampel yang mengandung coliform lebih dari 10 dalam 100 ml. Jadi dari kedua sampel tersebut sudah tidak layak/aman untuk dikonsumsi sebab jumlah bakteri coliform sudah ambang batas. Berdasarkan data yang diperoleh maka dapat dijelaskan, bahwa mikroba yang terbentuk dalam tabung reaksi memerlukan oksigen untuk hidup, sehingga mikroba tersebut tergolong ke dalam bakteri aerob, dan salah satu cara untuk mengenali adanya mikroba dapat dilihat dari terbentuknya gas pada tabung yang menandakan tabung bersifat positif. Dari hasil percobaan dapat kita simpulkan bahwa jamu Gemuk Sehat negative terhadap Uji MPN Koliform. Metode kuantitatif digunakan untuk mengetahui jumlah mikroba yang ada pada suatu sampel, umumnya dikenal dengan Angka Lempeng Total (ALT). Uji Angka Lempeng Total (ALT) dan lebih tepatnya ALT aerob mesofil atau anaerob mesofil menggunakan media padat dengan hasil akhir berupa koloni yang dapat diamati secara visual berupa angka dalam koloni(cfu) per ml/g atau koloni/100ml. Cara yang digunakan antara lain dengan cara tuang, cara tetes dan cara sebar (BPOM, 2008). Prinsip pengujian Angka Lempeng Total menurut Metode Analisis Mikrobiologi (MA PPOM 61/MIK/06) yaitu pertumbuhan koloni bakteri aerob mesofil setelah cuplikan diinokulasikan pada media lempeng agar dengan cara tuang dan diinkubasi pada suhu yang sesuai. Pada pengujan Angka Lempeng Total digunakan PDF (Pepton Dilution Fluid) sebagai pengencer sampel dan menggunakan PCA (Plate Count Agar) sebagai media padatnya. Digunakan juga pereaksi khusus Tri Phenyl tetrazalim Chlotide 0,5 % (TTC). Prosedur pengujian Angka Lempeng Total menurut Metode Analisis Mikrobiologi (MA PPOM 61/MIK/06) yaitu dengan cara aseptik ditimbang 25 gram atau dipipet 25 ml sampel ke dalam kantong stomacher steril. Setelah itu ditambahkan 225 ml PDF, dan dihomogenkan dengan stomacher selama 30 detik sehingga diperoleh suspensi dengan pengenceran 10-1. Disiapkan 5 tabung atau lebih yang masing-masing telah diisi dengan 9 ml PDF. Hasil dari homogenisasi pada penyiapan sampel yang merupakan pengenceran 10 -1 dipipet sebanyak 1 ml kedalam tabung PDF pertama, dikocok homogeny hingga diperoleh

pengenceran 10-2. Dibuat pengenceran selanjutnya hingga 10-6 atau sesuai dengan pengenceran yang diperlukan. Dari setiap pengenceran dipipet 1ml kedalam cawan petri dan dibuat duplo, ke dalam setiap cawan dituangkan 15-20 ml media PDA yang sudah ditambahkan 1%TTC suhu 45C. Cawan petri segera digoyang dan diputar sedemikian rupa hingga suspense tersebar merata. Untuk mengetahui sterilitas media dan pengencer dibuat uji kontrol (blangko). Pada satu cawan diisi 1 ml pengencer dan media agar, pada cawan yang lain diisi media. Setelah media memadat, cawan diinkubasi suhu 35-37C selama 24-46 jam dengan posisi dibalik. Setelah itu jumlah koloni yang tumbuh diamati dan dihitung. Keuntungan dari metode pertumbuhan agar atau metode uji Angka Lempeng Total adalah dapat mengetahui jumlah mikroba yang dominan. Keuntungan lainnya dapat diketahui adanya mikroba jenis lain yang terdapat dalam contoh. Adapun kelemahan dari metode ini adalah : 1) Kemungkinan terjadinya koloni yang berasal lebih dari satu sel mikroba, seperti pada mikroba yang berpasangan, rantai atau kelompok sel. 2) Kemungkinan ini akan memperkecil jumlah sel mikroba yang sebenarnya. Kemungkinan adanya jenis mikroba yang tidak dapat tumbuh karena penggunaan jenis media agar, suhu, pH, atau kandungan oksigen selama masa inkubasi. 3) Kemungkinan ada jenis mikroba tertentu yang tumbuh menyebar di seluruh permukaan media agar sehingga menghalangi mikroba lain. Hal ini akan mengakibatkan mikroba lain tersebut tidak terhitung. 4) Penghitungan dilakukan pada media agar yang jumlah populasi mikrobanya antara 30 300 koloni. Bila jumlah populasi kurang dari 30 koloni akan menghasilkan penghitungan yang kurang teliti secara statistik, namun bila lebih dari 300 koloni akan menghasilkan hal yang sama karena terjadi persaingan diantara koloni. 5) Penghitungan populasi mikroba dapat dilakukan setelah masa inkubasi yang umumnya membutuhkan waktu 24 jam atau lebih (Buckle, 1987).

Khamir adalah kapang yang tidak mempunyai hifa. Lazimnya, ragu berkembang biak melalui pertunasan. Jenis pertunasan merupakan ciri yang banyak digunakan dalam identifikasi khamir. Selain jenis pertunasan dapat juga digunakan bentuk dan jumlah askuspora (Lay, 1994).

Kapang merupakan kelompuk mikroba multiseluler yang tergolong dalam fungsi yang mempunyai filamen dan pertumbuhan pada makanan mudah dilihat karena penampakannya yang berserabut seperti kapas. Pertumbuhannya mulamula berwarna putih tetapi spora Jika telah tumbuh akan terbentuk berbagai warna tergantung dari jenis kapang. Sifat-sifat morfologi kapang, baik penampakan mikroskopik, digunakan dalam identifikasi dan klasifikasi kapang. Pada umumnya, sel khamir lebih besar daripada kebanyakkan bakteri tetapi khamir yang paling kecil tidak sebesar bakteri yang terbesar. Khamir tidak dilengkapi flagellum atau organ penggerak lainnya (Pelezar, 1988).

VII.

HASIL

Gambar

Keterangan

Uji AKK 10-1pada Jamu Gemuk Sehat maenunjukan hasil negatif

Uji AKK 10-2 pada Jamu Gemuk Sehat maenunjukan hasil negative

Uji AKK 10-3 pada Jamu Gemuk Sehat maenunjukan hasil negative

Uji ALT 10-2 pada Jamu Gemuk Sehat maenunjukan hasil negatif

Uji ALT 10-3 pada Jamu Gemuk Sehat maenunjukan hasil negatif

Uji ALT 10-4 pada Jamu Gemuk Sehat maenunjukan hasil negative

Uji S. Aureus pada Jamu Gemuk Sehat maenunjukan hasil negative

Uji Salmonella pada Jamu Gemuk Sehat maenunjukan hasil negative

Uji MPN 0,1 ml pada Jamu Gemuk Sehat maenunjukan hasil

negative

Uji MPN 1 ml pada Jamu Gemuk Sehat maenunjukan hasil negatif

VIII.

KESIMPULAN Berdasarkan hasil praktikum, dapat disimpulkan bahwa Sampel Fruitamin tidak memiliki mikroba dan memenuhi syarat untuk dikonsumsi.

Daftar Pustaka Athena, Sukar, Hendro, M, D. Anwar M, Haryono. 2004. Kandungan Bakteri Total Coli dan Escherechia coli/Fecal Coli Air minum dari depot Air minum isi ulang di Jakarta,Tangerang, dan Bekasi. Bul. Penel. Kesehatan. Vol. 32, No.4 Mulia, R.M. 2005. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Pelczar, M.J dan E.S.C Chan. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI Press. Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/Menkes/Per/IV/2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Purwanigsih, H.D. 2009. Penentuan Tingkat kelayakan fitofarmaka es balok dan air es polar di warung makan sekitar kampus UMS ditinjau dari Jumlah Coliform Fecal. FKIP. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sofa, M. Widura. 1997. Kualitas Bakteriologis Jamu Tradisional yang tidak terdaftar di Bandung. Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha. Widiyanti, N Luh Putu. M, Ni Putu Ristiati. 2004. Analisis Kualitatif Bakteri Koliform Pada Depo Air Minum isi ulang di kota singaraja Bali. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 3 No