Anda di halaman 1dari 23

PRESENTASI PENUGASAN BLOK KEGAWADARURATAN

NOVIYANTI SETYANINGRUM 07711064

TENGGELAM

Di negara yang maju, kematian akibat tenggelam makin meningkat karena pertambahan penduduk, pemakaian kolam renang yang makin banyak, & makin banyaknya minat orang untuk mengikuti olahraga air (Joenorham, J., dan Siregar, E., 1985).
Namun dalam 25 tahun terakhir, insidensi tenggelam yang fatal (sampai menyebabkan kematian) telah menurun drastis dari 3,8 kematian per 100.000 penduduk pada tahun 1970 menjadi 1,2 kematian per 100.000 penduduk pada tahun 2006 (AHA, 2010).

Sebelumnya tenggelam didefinisikan sebagai kematian sekunder akibat asfiksia selama korban terbenam di dalam cairan (biasanya air).

World

di Amsterdam tahun 2002, sejumlah ahli membuat konsensus baru tentang definisi tenggelam sebuah proses yang berakibat pada kegagalan respirasi primer dari terbenam di dalam cairan. (Shepherd, SM., dan Shoff, WH., 2010)

Congress

on

Drowning,

- kelelahan sewaktu berenang - kram otot / perut saat berenang - kecelakaan saat menyelam ( trauma kepala / leher) - tidak bisa berenang - kejang / serangan jantung saat korban berada di dalam air - penggunaan alkohol / penyalahgunaan obat saat menaiki perahu / berenang - bunuh diri (emedicinehealth.com, 2010)

Konsekuensi fisiologis yang terjadi akibat tenggelam adalah : - adanya hipoksia yang berkepanjangan - asidosis - efek tenggelam terhadap multiorgan.

KEGAGALAN BERNAPAS
air masuk ke orofaring / laring

Memicu REFLEK LARINGOSPASME

korban semakin tidak bisa bernapas terjadi jumlah O2 dan retensi CO2

PO2 darah reflek laringospasme perlahan menghilang

korban mulai bernapas terengah-engah (gasping) dan terjadi hiperventilasi

meningkatkan kemungkinan aspirasi cairan hipoksia yang berkepanjangan

(AHA, 2010)

- Kira-kira pada10% korban tenggelam terjadi reflek laringospasme yang disebabkan oleh air yang masuk ke dalam laring sampai korban meninggal. - Pada peristiwa ini tidak terjadi aspirasi cairan ke dalam paru dan korban meninggal akibat asfiksia akut. Peristiwa ini disebut tenggelam kering (dry drowning).

(Stone, CK., Humphries, R., 2004 )

- Namun korban tenggelam lainnya meninggal akibat peristiwa yang disebut wet drowning. - Pada peristiwa ini, korban yang sebelumnya mengalami asfiksia dapat bertahan sampai terjadi relaksasi airway yang mengakibatkan masuknya air ke paru-paru. - Korban meninggal akibat atelektasis atau edema pulmo.
-

(Shepherd, SM., dan Shoff, WH., 2010)

1. Tenggelam dalam air tawar 2. Tenggelam dalam air laut

(Purwadianto, A dan Sampurna, B., 2000)

Inhalasi air tawar hemodilusi hebat gangguan elektrolit fibrilasi ventrikel


(Joenorham, J., dan Siregar, E., 1985)

Air tawar segera lenyap dari paru masuk ke peredaran darah destruksi surfaktan paru & perubahan kimiawi membran kapiler alveoli akibat air yang hipotonik
(Megawe, H., Sunartomo, T., Wahjuprajitno, B., Saleh, SC., 1979)

Inhalasi air laut hemokonsentrasi beban jantung bertambah melambatnya denyut nadi, hipotensi, dan edema paru

(Joenorham, J., dan Siregar, E., 1985)

Air laut yang hipertonik merubah karakteristik biokimiawi parenkim paru Ditemukannnya air laut yang lama (tidak segera lenyap seperti air tawar) di alveoli menerangkan mengapa air laut lebih toksik dibandingkan air tawar
(Megawe, H., Sunartomo, T., Wahjuprajitno, B., Saleh, SC., 1979)

Tahapan tenggelam:

- pertama, korban panik mulai tenggelam dengan menahan napas - kehilangan kesadaran setelah 3 menit di dalam air - kerusakan otak akibat hipoksia 6 menit - aritmia jantung kurang oksigen beberapa menit

(emedicinehealth.com, 2010)

Adanya buih / busa berwarna merah muda pada mulut atau hidung mengindikasikan sudah terjadi edema pulmo pada korban tenggelam
(Stone, CK., Humphries, R., 2004).

1. Asimtomatik
1.

(Shepherd, SM., dan Shoff, WH., 2010)

2. simtomatik : - perubahan vital sign (hipotermia, takikardia, bradikardia, dll), gaduh-gelisah, takipnea, dispnea, asidosis metabolik, penurunan kesadaran, defisit neurologis

3. cardiopulmonary arrest
- Apnea, asistole (55%), fibrilasi ventrikel (29%) bradikardia (16%) 4. kematian yang nyata - normotermia dengan asistole, apnea, tidak ditemukannya tanda fungsi sistem saraf pusat

- Darah rutin elektrolit, kadar gula darah, dan fungsi ginjal

- Analisis Gas Darah oksigenasi dan keseimbangan asam basa


- Tes toksikologi adanya penggunaan alkohol / obat-obatan - Rontgen dada dan leher trauma / adanya cairan di paru-paru - CT-Scan kerusakan otak - EKG fungsi jantung (emedicinehealth.com, 2010)

- Urinalisis proteinuria, hemoglobinuria, dan ketonuria


-

(Stone, CK., Humphries, R., 2004)

Guidelines ABLS, AHA 2010 penolong harus

segera melakukan CPR khususnya penyelamatan pernapasan secepat mungkin jika tidak ditemukan denyut nadi pada arteri karotis / arteri femoralis. Jika hanya ada satu orang penolong maka ia harus melakukan CPR selama 5 cycles (kira-kira 2 menit) sebelum memanggil bantuan EMS (Emergency Medical Services). Manuver untuk mengeluarkan benda asing yang menyumbat jalan napas tidak direkomendasikan muntah, trauma, aspirasi, dan penundaan untuk melakukan CPR.

Koreksi keseimbangan asam basa, elektrolit, dan pemberian obat : - Na bikarbonat 1-2 mEq/kgBB secara i.v - Antibiotik mencegah/mengobati infeksi paru - Kortikosteroid mencegah edema otak dan memperbaiki surfaktan paru,

kortison 4 x 100 mg/hari i.m dengan tapering off.

- Tranfusi darah hemolisis akibat tenggelam di air tawar - Plasma hemokonsentrasi akibat tenggelam di air laut
-

(Purwadianto, A dan Sampurna, B., 2000)

-Sekitar 70% korban tenggelam sembuh total, 25% meninggal, dan 5% bertahan dengan kerusakan otak permanen. (emedicinehealth.com, 2010) -Durasi/lama tenggelam & derajat keparahan hipoksia adalah faktor terpenting untuk memprediksikan outcome pasien. (AHA, 2010)

Usia Health Lama korban tenggelam Temperatur air : air dingin outcome lebih baik Kualitas air : air bersih outcome lebih baik Trauma Pengobatan

TERIMA

KASIH

Beri Nilai