Anda di halaman 1dari 9

PRAKTIKUM II PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH ABO DAN RHESUS

HARI/TANGGAL PRAKTIKUM TEMPAT

: Senin/ 25 Maret 2013 : Unit Transfusi Darah, Rumah Sakit Sanglah

I.

TUJUAN - Untuk dapat melakukan pemeriksaan golongan darah sistem ABO dan Rhesus - Untuk dapat mengetahui golongan darah baik sistem ABO dan rhesus dari sampel yang diperiksa.

II.

METODE Metode yang digunakan dalam pemeriksaan golongan darah ABO, Rhesus adalah metode plate.

III. PRINSIP Prinsip pemeriksaan golongan darah adalah reaksi antara antigen dengan antibodi. Reaksi Antigen dengan Antibodi yang sesuai akan menghasilkan aglutinasi. Misalnya Antigen A + Antibodi A akan menghasilkan aglutinasi atau Aglutinasi (+). Antigen A + Antibodi B tidak akan menghasilkan aglutinasi atau Aglutinasi (-).

IV. DASAR TEORI Darah selalu dihubungkan dengan kehidupan, baik berdasarkan kepercayaan saja maupun atas dasar bukti pengamatan. Penggunaan darah yang berasal dari individu lain dan diberikan secara langsung ke pembuluh darah juga sudah lama pula dilakukan, paling tidak sejak abad pertengahan.

Pada mulanya, pemberian darah seperti ini dan kini yang dikenal sebagai transfusi tidak dilakukan dengan landasan ilmiah, tidak mempunyai indikasi yang jelas dan dilakukan sembarang saja. Tindakan ini lebih banyak dilakukan atas dasar yang lebih bersifat kepercayaan, misalnya darah sebagai lambang kehidupan. Indikasi juga tidak jelas, bukan terutama untuk mengobati penyakit atau memperbaiki keaadaan karena perdarahan. Lebih sering hal ini dilakukan untuk tujuan seperti peremajaan jaringan (rejuvenilisasi). Pelaksanaannya juga tidak didasarkan atas pengetahuan yang cukup. Oleh karena itu tidak heran bila pada masa itu banyak korban karena tindakan yang dilakukan secara sembarang ini, baik pada donor maupun pada penerima darah. Bahkan pernah ada suatu masa, tepatnya abad ke-17 dan 18 transfusi dilarang dilakukan di Eropa (Sadikin, 2002). Barulah pada akhir abad ke-19 dan di awal abad ke-20. Fenomena ini dapat dipahami dengan jelas dan tepat, sehingga tindakan transfusi dapat dilakukan dengan cara yang jauh lebih aman. Pada masa itu, seorang dokter berkebangsaan Austria dan bekerja di New York, Karl Landsteiner, menemukan melalui sejumlah besar pengamatan, bahwa darah manusia yang berasal dari dua orang yang berbeda tidaklah selalu dapat dicampur begitu saja tanpa perubahan fisik apapun. Dalam kebanyakan pengamatan, pencampuran darah yang berasal akan menyebabkan timbulnya pegendapan sel-sel darah merah. Peristiwa mengendap sel tersebut dinamai sebagai aglutinasi. Pengamatan selanjutnya memperlihatkan, bahwa peristiwa ini melibatkan SDM dan bagian cair dari darah, yaitu serum atau plasma. Serum sesorang tidak dapat mengendapkan SDM orang itu sendiri atau SDM yang berasal dari orang lain, yang bila darahnya dicampur dengan darah orang yang pertama, tidak menyebabkan pengendapan. Akan tetapi, bila darah dari 2 orang berbeda dicampur dan aglutinasi terjadi, maka bila serum dari salah satu dari orang tersebut dicampur dengan SDM dari orang yang lainnya, akan terjadi aglutinasi (Sadikin, 2002). Ada dua jenis penggolongan darah yang paling penting, yaitu penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Selain sistem ABO dan Rh, masih ada lagi macam penggolongan darah lain yang ditentukan

berdasarkan antigen yang terkandung dalam sel darah merah. Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai (Oktaviani,2011). Salah satunya Diego positif yang ditemukan hanya pada orang Asia Selatan dan pribumi Amerika. Dari sistem MNS didapat golongan darah M, N dan MN yang berguna untuk tes kesuburan. Duffy negatif yang ditemukan di populasi Afrika. Sistem Lutherans mendeskripsikan satu set 21 antigen (Oktaviani,2011). Dan sistem lainnya meliputi Colton, Kell, Kidd, Lewis, LandsteinerWiener, P, Yt atau Cartwright, XG, Scianna, Dombrock, Chido/ Rodgers, Kx, Gerbich, Cromer, Knops, Indian, Ok, Raph dan JMH (Oktaviani,2011). Golongan Darah ABO Pengamatan terdapat contoh darah yang berasal dari sejumlah besar orang menunjukkan, bahwa ternyata SDM (sel darah merah) manusia dapat dikelompokkan dalam 4 golongan, yang dinamakan sebagai golongan A, B, AB, dan O. Dengan demikian lahirlah sistem golongan darah ABO yang sangat terkenal luas itu. Dalam sistem golongan darah ABO ini, berlaku asas yang mengatakan bahwa serum seseorang tidak akan mengendapkan SDM orang itu sendiri serta SDM orang lain yang segolongan. Jadi, serum seseorang dengan SDM golongan A tidak akan mengaglutinasikan SDM golongan A yang berasal dari dirinya sendiri maupun yang berasal dari orang yang lain. Sebaliknya, serum orang itu akan mengaglutinasikan SDM golongan B. Hal yang sebaliknya juga berlaku untuk serum dari sesorang dengan golongan darah B. Selain kedua golongan darah tersebut, ternyata ada golongan lain yang juga perlu diperhatikan. Ada orang dengan SDM yang dapat diaglutinasikan oleh serum orang lain, baik yang golongan sel darah merahnya A atau B. Golongan darah ketiga ini dinamai golongan darah AB. Serum dari orang-orang dengan golongan AB ini selain pasti tidak dapat mengendapkan SDM golongan AB juga tidak dapat mengaglutinasikan SDM golongan A ataupun SDM golongan B. Golongan darah yang keempat juga mempunyai sifat yang istimewa, kebalikan dari golongan darah AB. Sel darah merah golongan keempat ini tidak dapat

diaglutinasikan oleh serum dari orang dengan SDM golongan A, B dan AB. Golongan keempat inilah yang dianamai golongan O. Sebaliknya, serum dari orang dengan SDM golongan O ini mampu mengendapkan, baik SDM golongan A maupun SDM golongan B (Sadikin, 2002). Pada serum dalam golongan darah juga sangat penting. Oleh karena serum dari orang dengan SDM golongan A tidak dapat mengendapkan SDM golongan tersebut tetapi mampu menggaglutinasikan SDM golongan B, maka dikatakan serum orang dengan SDM golongan A mempunyai aglutinin (senyawa pengaglutinasi). Sebaliknya, seseorang dengan SDM golongan B mempunyai aglutinin . Orang dengan SDM golongan AB tidak mempunyai salah satu atau kedua aglutinin tersebut, sedangkan orang dengan SDM golongan O mempunyai aglutinin tersebut, sedangkan orang dengan SDM golongan O mempunyai kedua aglutinin tadi(Sadikin, 2002). Jenis aglutinin pada golongan darah ABO Golongan A Golongan B Aglutinin- Aglutinin- Golongan AB + + + + Golongan O

Dalam praktiknya, kini disediakan perangkat pereaksi siap pakai yang terdiri atas, SDM B dan SDM AB kepada ketiga individu hewan yang berbeda. Melalui imunisasi seperti ini, individu hewan yang disuntik dengan SDM A akan menghasilkan anti A, yang disuntik dengan SDM B menghasilkan anti B dan yang disuntik dengan SDM AB menghasilkan anti AB. Dengan tersedianya perangkat pereaksi siap uji penetapan golongan darah dapat dilakukan dengan cara yang amat sederhana. Penetapan dapat dilakukan dengan hanya mncampurkan setetes darah yang akan diperiksa dengan setetes pereaksi. Reaksi aglutinasi dapat dilakukan cukup di atas objek glass saja. Golongan darah ABO dari seseorang akan dapat dibaca dan ditetapkan menurut skema yang disajikan sebagai berikut :

Penetapan Golongan Darah ABO Golongan Darah A Anti-A Anti-B Anti-AB + + Golongan Darah B + + Golongan Darah AB + + + Golongan Darah O -

Penetapan Golongan darah

ini penting dilakukan, terutama dalam

menghadapi keperluan transfusi. Untuk tujuan tersebut, golongan darah penerima resipien harus sama dengan golongan darah pemberi donor. Selain itu, juga perlu dilakukan uji serasi silang, yaitu uji aglutinasi antara serum resipien dengan SDM donor dan serum donor dengan SDM resipien. Kedua uji tersebut haruslah tidak menghasilkan aglutinasi (Sadikin, 2002). Rhesus Faktor Rh atau Rhesus (juga biasa disebut Rhesus Faktor) pertama sekali ditemukan pada tahun 1940 oleh Landsteiner dan Weiner. Dinamakan rhesus karena dalam riset digunakan darah kera rhesus (Macaca mulatta), salah satu spesies kera yang paling banyak dijumpai di India dan Cina (Oktaviani,2011). Pada sistem ABO, yang menentukan golongan darah adalah antigen A dan B, sedangkan pada Rh faktor, golongan darah ditentukan adalah antigen Rh (dikenal juga sebagai antigen D) (Oktaviani,2011). Jika hasil tes darah di laboratorium seseorang dinyatakan tidak memiliki antigen Rh, maka ia memiliki darah dengan Rh negatif (Rh-), sebaliknya bila ditemukan antigen Rh pada pemeriksaan, maka ia memiliki darah dengan Rh positif (Rh+) (Oktaviani,2011). Jenis penggolongan ini seringkali digabungkan dengan penggolongan ABO. Golongan darah O+ adalah yang paling umum dijumpai, meskipun pada daerah tertentu golongan A lebih dominan, dan ada pula beberapa daerah dengan 80% populasi dengan golongan darah B (Oktaviani,2011). Kecocokan faktor Rhesus amat penting karena ketidakcocokan golongan. Misalnya donor dengan Rh+ sedangkan resipiennya Rh (-) dapat menyebabkan produksi antibodi terhadap antigen Rh(D) yang

mengakibatkan hemolisis. Hal ini terutama terjadi pada perempuan yang pada atau di bawah usia melahirkan karena faktor Rh dapat mempengaruhi janin pada saat kehamilan (Oktaviani,2011).

V.

ALAT DAN BAHAN A. ALAT 1. Bloodinggroping plate

B. BAHAN 1. Suspensi sel 10% dan 40% 2. Plasma darah C. REAGENSIA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tes sera Anti-A Tes sera Anti-B Tes Sera Anti-D Test Sel A 10% Test Sel B 10 % Test Sel O 10% Bovine Albumin 22%

VI. CARA KERJA 1. 2. Suspensi cell 10 % dan 40 % dibuat terlebih dahulu Diteteskan pada : 3. 4. Sumur 1 dua tetes Anti- A Sumur 2 dua tetes Anti-B Sumur 3 satu tetes test Sel A 10 % Sumur 4 satu tetes test sel B 10 % Sumur 5 satu tetes test sel O 10 % Sumur 7 dua tetes Anti- D Sumur 8 dua tetes Bovine albumine 22 %

Suspensi sel 10 % diteteskan sebanyak 1 tetes pada sumur 1, 2, dan 6 Suspensi sel 40 % diteteskan sebanyak 1 tetes pada sumur 7 dan 8

5.

Serum atau plasma diteteskan masing-masing sebanyak 2 tetes pada sumur 3,4, 5 dan 6

6.

Bloodinggrouping plate digoyangkan ke depan dan belakang hingga tercampur dan diamati apakah terjadi aglutinasi

VII. HASIL PENGAMATAN No 1 Gambar Keterangan Reagen yang digunakan dalam penentuan golongan darah ABO dan Rhesus (Anti sera A, Anti sera B, Tes Sel A,B,O 10%, Anti-D, Bovine albumin 22%)

Hasil aglutinasi pada bloodgrouping plate. Menunjukan golongan darah A Rhesus +

Anti -A

Anti -B

Reaksi 3

Test cell A 10 % -

Test cell B 10 % +

Test Auto cell kontrol O 10 % -

Anti -D

B.alb 22 %

Hasil aglutinasi pada 4 blood grouping plate. 1. Gol. Darah A, Rh. + 2. Gol. Darah B, Rh. + 3. Gol. Darah O, Rh. + 4. Gol. Darah AB, Rh. +

VIII. PEMBAHASAN Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dengan kata lain, golongan darah ditentukan oleh jumlah zat (kemudian disebut antigen) yang terkandung di dalam sel darah merah. Ada dua jenis penggolongan darah yang paling penting, yaitu penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Selain sistem ABO dan Rh, masih ada lagi macam penggolongan darah lain yang ditentukan berdasarkan antigen yang terkandung dalam sel darah merah. Pada praktikum ini dilakukan pemeriksaan golongan darah sistem ABO dan Rhesus dengan menggunakan metode plate. Penetapan dapat dilakukan dengan mencampurkan setetes darah yang akan diperiksa dengan setetes pereaksi. Pada praktikum ini dilakukan pemeriksaan dengan antisera monoklonal. Dimana, antisera monoklonal terdiri atas Anti sera A dan Anti sera B. Pemeriksaan golongan darah sistem ABO dan rhesus dilakukan dengan cell grouping dan serum grouping. Cell grouping ini menggunakan sampel dari suspensi sel darah merah 10 % dengan pereaksi anti sera A dan Anti sera B. Cell grouping digunakan untuk menentukan antibodi dari antigen yang telah diketahui. Sedangkan, Serum grouping ini merupakan pemeriksaan golongan darah dengan sampel serum menggunakan pereaksi test cell A, B, O 10 %. Serum grouping ini digunakan untuk menentukan antigen dari antibodi yang telah diketahui. Pemeriksaan golongan darah dengan metode plate dilakukan dengan meneteskan pereaksi yang berbeda-beda setiap sumurnya. Pada sumur

pertama dan kedua merupakan pemeriksaan dengan cell grouping, pereaksi yang digunakan adalah Anti sera A dan Anti sera B masing-masing sebanyak 2 tetes (sebagai antigen). Pada sumur tersebut diteteskan suspensi sel darah merah 10 % dari sampel yang diperiksa. Pada sumur 3, 4, dan 5 diteteskan pereaksi test sel A, test sel B, dan test sel O 10 % secara berurutan (sebagai antibodi). Ini merupakan pemeriksaan dengan serum grouping. Pada sumur tersebut ditambahkan serum atau plasma yang akan

diperiksa masing-masing sebanyak 2 tetes. Pada sumur 6 merupakan kontrol dari pemeriksaan sistem ABO dengan mencampurkan suspensi sel darah merah 10 % dengan serum atau plasma. Kontrol ini akan menghasilkan hasil negatif. Pada sumur 7 dan 8 digunakan untuk pemeriksaan rhesus. Pada sumur 7 pereaksi yang digunakan adalah Anti D lalu diteteskan suspensi sel darah merah 40 % dan sumur 8 merupakan kontrol dari pemeriksaan golongan darah sistem Rhesus dengan pereaksi Bovine albumin 22 % dengan sampel suspensi sel darah merah 40 %. Kontrol ini juga menghasilkan hasil negatif atau sebagai kontrol negatif. Setelah semua pereaksi maupun sampel dicampurkan, plate digoyang-goyangkan lalu dilihat reaksi aglutinasinya. Dari praktikum yang diperiksa reaksi aglutinasi terjadi pada sumur 1 dengan antisera A dan sumur 7 dengan pereaksi anti-D. Anti-A Anti-B Test cell A Test 10 % Test Autok O ontrol Anti-D B.alb 22 %

cell B cell 10 % 10 % -

Reaksi +

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan menunjukkan sampel yang diperiksa memiliki antigen A, dan antibodi B. Hal ini menunjukkan golongan darah dari sampel yang diperiksa adalah golongan A dengan Rhesus +.

IX. SIMPULAN Dari pemeriksaan yang dilakukan Golongan darah pasien X adalah golongan darah A dengan Rhesus +.

X.

DAFTAR PUSTAKA Oktaviani, Sri Nursyam. 2010. http://www. Sri Oktaviani

Nursyam.com/arsip/transfusi-darah.html. Diakses tanggal 20 Maret 2013 Sadikin, Muhamad. 2002. Biokimia Darah. Jakarta : Widya Medika