Anda di halaman 1dari 3

PERENCANAAN EKUITAS

dibuat dalam rangka : Tugas Mata Kuliah Perencanaan Dalam Pembangunan Ekonomi

Disusun oleh : KRISTIAN NPM : 1306418505

MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK FAKULTAS EKONOMI - UNIVERSITAS INDONESIA TAHUN 2013

PERENCANAAN EKUITAS Perencanaan Ekuitas adalah perencanaan yang dilakukan untuk mengakomodir/membela kepentingan-kepentingan publik. Para Perencana Ekuitas berasal dari pemerintahan (pemegang kekuasaan) yang secara langsung menyusun perencanaan pembangunan. Rencana yang dihasilkan tersebut bisa saja diterima oleh masyarakat melalui dialog/kompromi dengan golongan/kelompok yang ada di masyarakat. Dalam model ini juga terjadi keseimbangan antara pemikiran perencana yang membawa aspirasi/kepentingan masyarakat dan pemegang kekuasaan (pemerintah) dimana perencana sebagai fasilitator serta komunikator yang akan membela kepentingan masyarakat untuk menghasilkan rencana yang dapat diterima oleh masyarakat sebagai user (pengguna). Pada model Perencanaan Ekuitas perlu adanya dialog baik dari dalam pemerintahan maupun dari luar pemerintahan. Perencanaan Ekuitas menyatakan bahwa masyarakat lebih dapat dilayani melalui koridor kekuasaan dibanding melalui masyarakat sendiri. Perencana Ekuitas memiliki kewenangan dan menggunakannya untuk melembagakan kebijakan beserta program untuk memberikan pelayanan yang lebih pada masyarakat. Perencanaan Ekuitas merupakan bentuk lain dari Perencanaan Advokasi yag lebih menekankan pada substansi program daripada tingkat partisipasi (Fainstein / Fainstein 1996:270). Sehingga pokok permasalahan yang menjadi isu bergeser dari siapa yang memerintah menjadi siapa mendapat apa. Dari pertanyaan ini, teori mendorong Perencana Ekuitas untuk "meningkatkan kesetaraan" (Fainstein dan Fainstein, 1996: 270). Perencanaan Ekuitas mengakui kepentingan sosial yang saling bertentangan dalam masyarakat, yang belum tentu dapat didamaikan. Dengan demikian teori ini melihat program publik dengan menciptakan pemenang dan pecundang. Orang-orang yang didefinisikan sebagai pecundang biasanya orang-orang yang sudah menderita kerugian ekonomi maupun sosial. Perencanaan Ekuitas lebih peduli dengan pembagian manfaat daripada keberhasilan keseluruhan proyek atau kebijakan (Fainstein dan Fainstein, 1996). (31). Perencana Ekuitas menganggap lembaga-lembaga demokrasi yang sangat berat sebelah terhadap kepentingan masyarakat. Karena itu Perencana Ekuitas mencari sistem redistribusi ke bawah yang lebih baik. Perencana Ekuitas yakin bahwa persamaan dalam hubungan sosial, ekonomi, dan politik antara orang-orang adalah kondisi yang diperlukan untuk masyarakat yang adil (Krumholz/Forester 1990:51).

Menghilangkan kesenjangan kekuatan antar stakeholder adalah tujuan Perencanaan Ekuitas (Bauhardt 2003:40). Ini berarti merupakan gerakan baru untuk perubahan masyarakat yang membutuhkan representasi yang lebih besar dari kelompok yang kurang beruntung dalam proses pemerintahan dan untuk penyebaran kewenangan pengambilan kebijakan pemerintah (Fainstein / Fainstein 1996:271). Pada dasarnya, Perencanaan Ekuitas mencakup gagasan representasi kelompok yang kurang beruntung dalam proses di tingkat pemerintah. Namun perumusan kepentingan-kepentingan idealnya meliputi adanya keterlibatan orang-orang yang atas namanya perencanaan dilakukan, tetapi partisipasi berkelanjutan bukanlah kondisi yang diperlukan, tujuannya adalah persamaan, bukan konsultasi (Fainstein dan Fainstein, 1996:271). (31). Pada dasarnya, pendekatan ini, seperti Perencanaan Advokasi, mengasumsikan bahwa perencanaan tidak bertentangan dengan kebijakan resmi, melainkan bersinambung dengannya. Pada intinya, model ini mengasumsikan-seperti halnya model rasional bahwa perencana merupakan ahli dan berdiri di tengah sebagai agen utama. Namun, sementara Perencana Advokasi terjun di masyarakat sehingga dapat menemukan apa keinginan penduduk setempat, Perencana Ekuitas berkonsentrasi pada arena politik. Para pendukung model ini menekankan pentingnya dialog, di dalam maupun di luar administrasi. Mereka mengumpulkan informasi, dan menganalisa serta merumuskan masalah yang dihadapi. Mereka, dengan kata lain, komunikator dan propagandis tak kenal lelah. Dalam kapasitas ini, mereka memiliki kekuatan untuk menggiring perhatian pada isu-isu spesifik dan membentuk diskusi sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Di sisi lain, mereka yang memanfaatkan model ini tetap terlibat dalam "top-down" politik-dan dengan demikian "berbicara kebenaran pada kekuasaan." Untuk perencana, beberapa risiko yang terkait dengan pendekatan ini: jika, misalnya, penguasa harus berubah, maka perencana beresiko dimutasi karena dianggap sebagai loyalis dari penguasa sebelumnya.