Anda di halaman 1dari 8

ABC (Activity Based Costing) Pengertian Activity Based Costing menurut para ahli: Menurut Amin Wijaya Tunggal

l (2009:2) Activity-Based Costing adalah: Metode costing yang mendasarkan pada aktivitas yang didesain untuk memberikan informasi biaya kepada para manajer untuk pembuatan keputusan stratejik dan keputusan lain yang mempengaruhi kapasitas dan biaya tetap. Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2009:25) Activity-Based Costing adalah: Metode membebankan biaya aktivitas-aktivitas berdasarkan besarnya pemakaian sumber daya dan membebankan biaya pada objek biaya, seperti produk atau pelanggan, berdasarkan besarnya pemakaian aktivitas, serta untuk mengukur biaya dan kinerja dari aktivitas yang terikat dengan proses dan objek biaya. Menurut William K. Carter dan Milton F. Usry (2004:496) Activity-Based Costing adalah: Suatu sistem perhitungan biaya di mana tempat penampungan biaya overhead yang jumlahnya lebih dari satu dialokasikan menggunakan dasar yang memasukkan satu atau lebih faktor yang tidak berkaitan dengan volume (nonvolume-related factor). Pengertian ABC (Activity Based Cost) sistem dalam Mulyadi (2003:25) merupakan: sistem informasi biaya yang menyediakan informasi lengkap tentang aktivitas untuk memungkinkan personil perusahaan melakukan pengelolaan terhadap aktivitas. Activity Based Costing sistem menurut Mulyadi (2003:94) mempunyai berbagai manfaat berikut ini: 1. Menyediakan informasi berlimpah tentang aktivitas yang digunakan oleh perusahaan 2. 3. untuk menghasilkan produk dan jasa bagi customer. Menyediakan fasilitas untuk menyusun dengan cepat anggaran berbasis Menyediakan informasi biaya untuk memantau implementasi rencana

aktivitas (activity-based budget). pengurangan biaya. 4. Menyediakan secara akurat dan multidimensi kos produk dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan. Pada awal perkembangannya ABC sistem menurut Mulyadi (2003:51) dimanfaatkan untuk memperbaiki kecermatan perhitungan kos produk dalam perusahaan-perusahaan manufaktur yang menghasilkan banyak jenis produk. ABC

sistem menawarkan dasar pembebanan yang lebih bervariasi, seperti batch-related drivers, product-sustaining drivers, dan facility-sustaining drivers untuk membebankan biaya overhead pabrik kepada berbagai jenis produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Pada perkembangan selanjutnya, ABC sistem tidak lagi terbatas pemanfaatannya hanya untuk menghasilkan informasi kos produk yang akurat, namun meluas sebagai sistem informasi untuk memotivasi personel dalam melakukan peningkatan terhadap proses yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk/jasa bagi customer. ABC sistem kemudian diterapkan ke semua biaya pada perkembangan yang lebih lanjut, mulai dari biaya desain, biaya produksi, biaya penjualan, biaya pasca jual, sampai biaya administrasi dan umum. ABC sistem menggunakan aktivitas sebagai titik pusat (focal point) untuk mempertanggungjawabkan biaya. Kelebihan dan Kelemahan metode Activity Based Costing (ABC) Sebuah sistem yang ada tidak selalu memberikan nilai positif bagi sebuah perusahaan yang menggunakannya tetapi ternyata dapat juga memberikan nilai negatif bagi perusahaan. Sistem Activity Based Costing ternyata memiliki juga kelemahan yang harus diperhitungkan pula oleh perusahaan yang menggunakannya. Kelebihan dari sistem ABC: 1. Dapat mengatasi diversitas volume dan produk sehingga pelaporan biaya produknya lebih akurat. 2. Mengidentivikasi biaya overhead dengan kegiatan yang menimbulkan biaya tersebut. 3. Dapat mengurangi biaya perusahaan dengan mengidentifikasi aktivitas yang tidak bernilai tambah. 4. Memberikan kemudahan kepada manajemen dalam melakukan pengambilan keputusan. Kelemahan dari sistem ABC: 1. Mengharuskan manajer melakukan perubahan radikal dalam cara berfikir mereka mengenai biaya, yang pada awalnya sulit bagi manajer untuk memahami ABC.

2. Tidak menunjukkan biaya yang akan dihindari dengan menghentikan memproduksi lebih sedikit produk. 3. Memerlukan upaya pengumpulan data yang diperlukan guna keperluan persyaratan laporan keuangan. 4. Implementasi sistem ABC belum dikenal dengan baik sehingga prosentase penolakan terhadap sistem ini cukup besar. LCC (Life Cycle Cost) Pengertian Life Cycle Cost Analysis: Life cycle costing merupakan teknik manajemen yang digunakan untuk mengidentifikasi dan memonitor biaya produk selama siklus hidupnya. Siklus hidup meliputi semua tahap, mulai dari perancangan produk dan pembelian bahan baku hingga pengiriman dan pelayanan atas produk yang sudah jadi. Siklus akuntansi biaya dalam suatu perusahaan mengikuti siklus kegiatan usaha perusahaan yang bersangkutan. Siklus akuntansi biaya untuk perusahaan manufaktur, dimulai dengan pengolahan bahan baku dibagian produksi dan berakhir dengan penyerahan produk jadi ke bagian gudang. Dalam perusahaan tersebut, siklus akuntansi biaya dimulai dengan pencatatan harga pokok bahan baku yang dimasukkan dalam proses produksi, dilanjutkan dengan pencatatan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang dikonsumsi untuk produksi, serta berakhir dengan disajikannya harga pokok produk jadi yang diserahkan oleh bagian produksi ke bagian gudang. Manfaat Analisis Life Cycle Cost: Untuk meningkatkan kesadaran biaya. Penerapan LCC akan meningkatkan kesadaran akan manajemen dan insinyur pada faktor-faktor yang mendorong biaya dan sumber daya yang diperlukan oleh item, sehingga bisa dilakukan program pengurangan biaya. Seluruh biaya hidup evaluasi. LCC memungkinkan evaluasi pilihan bersaing berdasarkan seluruh biaya hidup. Memaksimalkan pendapatan. Dengan menerapkan LCC, operasi dan biaya pemeliharaan berkurang tanpa scarifying kinerja alat produksi melalui analisis parameter kinerja dan biaya driver. Memahami prosedur untuk menerapkan LCC termasuk pengembangan Biaya

Siklus Hidup model untuk berbagai aplikasi. Memahami latar belakang teoritis nilai waktu uang dan analisis risiko serta dampaknya terhadap proses pengambilan keputusan.

Sales life cycle berhubungan dengan tahap-tahap penjualan produk dan jasa di pasar yaitu mulai dari pengenalan produk atau jasa sampai pada tahap kematangan dan kemudian penurunan produk dari pasar. Berikut diuraikan tahap-tahap tersebut: Tahap 1: Pengenalan Produk. Dalam tahap pertama terdapat sedikit persaingan, dan penjualan perlahan-lahan mengalami peningkatan karena pelanggan mulai sadar akan adanya produk atau jasa baru. Biaya relatif tinggi karena tingginya pengeluaran untuk riset & pengembangan dan biaya modal untuk memasang fasilitas produksi dan upaya pemasaran. Harga relatif tinggi karena adanya diferensiasi produk dan biaya tinggi pada tahap ini serta jenis atau variasi produk terbatas. Tahap 2: Pertumbuhan. Penjualan mulai tumbuh secara cepat dan variasi produk

meningkat. Produk sedang menikmati manfaat dari adanya diferensiasi. Persaingan semakin meningkat dan harga mulai lunak. Tahap 3: Kematangan. Penjualan terus meningkat, tetapi dengan tingkat kenaikan yang menurun. Ada pengurangan persaingan dan variasi produk. Harga juga tetap lunak, dan diferensiasi tidak lagi penting. Persaingan berdasarkan biaya, persaingan kualitas dan fungsionalitas tidak dapat diubah. Tahap 4: Penurunan. Penjualan mulai menurun, demikian pula jumlah pesaing. Harga menjadi stabil. Menekankan pada kembalinya diferensiasi. Perusahaan yang dapat bertahan adalah perusahaan yang dapat melakukan diferensiasi pada produk mereka, mengendalikan biaya, kualitas pengiriman yang baik dan pelayanan yang baik. Pengendalian terhadap biaya dan jaringan distribusi yang efektif merupakan kunci untuk terus dapat bertahan. Pada tahap pertama, fokus manajemen adalah desain, diferensiasi dan pemasaran. Fokus manajemen berubah ke arah pengembangan produk baru dan strategi penentuan harga jual sejalan dengan berkembangnya persaingan pada tahap kedua. Pada tahap ketiga dan keempat, perhatian manajemen berubah ke arah pengendalian biaya, kualitas dan jasa sejalan dengan semakin kompetitifnya pasar. Jadi strategi perusahaan untuk produk dan jasa berubah selama siklus penjualan produk (sales life cycle), dari diferensiasi pada tahap awal ke arah keunggulan biaya pada tahap akhir. VAVE (Value Analysis. Value Engineering) The Society of American Value Engineering mendefinisikan value engineering sebagai aplikasi sistematis yang mengakui teknik-teknik yang mana mengidentifikasi fungsi suatu produk atau jasa, menetapkan monetary value untuk fungsi tersebut dan menyediakan fungsi yang dibutuhkan pada keseluruhan biaya terendah. Value Engineering (VE) atau value analysis (VA) adalah aplikasi dari berbagai kemampuan untuk mengurangi biaya manufaktur atau industri jasa. Kemampuan ini bisa dari statistik, teknisi, dan psikologi hingga akunting dan penjualan. Value engineering berhubungan dengan harga suatu produk atau jasa hingga biayanya.

Ini sangat dikenal dengan baik bahwa VE dipenuhi dengan definisi. Mendefinisikan permasalahan desain adalah yan terpenting pada keahlian ini. Mendefinisikan suatu sistem (studi masalah) dalam hal ini struktur fungsional sama dengan memahaminya. Suatu teknik kunci digunakan desain dengan untuk mendefinisikan FAST primary dan menguraikan struktur fungsional adalah function analysis system technique dasarnya (FAST). Pada pelayanan, logika mampu paths mengidentifikasi fungsionil proses dan langkah, dan menutup fungsi bersama-sama menggunakan seperangkat lengkap pertanyaan logis. Fungsi dasar adalah fungsi prinsip yang diperlukan untuk memberikan kepuasan pelanggan. Primary paths Dalam adalah primary cara paths, fungsional banyak yang fungsi dikembangkan dari fungsi dasar. Akarnya, fungsi dasar, secara unik menggolongkannya. pendukung yang lain disebut fungsi sekunder akan mengikuti fungsi dasar. Fungsi sekunder pada primary paths dikarenakan pemikiran logis bahwa tim desain mengumpulkan pengalaman untuk mengisi fungsi dasar. Pengembangan dipenuhi oleh kreativitas dan pengetahuan tim desain. Pada lingkungan jasa dinamis, fungsi dasar adalah fungsi kerja (misalnya kiriman informasi). Fungsi sekunder, pada sisi lain, subyektif secara alami (misal gaya penciptaan) dan merupakan persentase yang tinggi dari total biaya. Faktor lain dalam praktek FAST adalah dekomposisi, yaitu mengurai proyek desain menjadi proses dan sub-proses yang lebih kecil. Value engineering memaparkan permasalahan desain dalam suatu urutan langkah, setiap kemajuan menuju solusi yang memungkinkan. Suatu sub-divisi dapat dibuat sehingga kenyataan dapat mempunyai tumpuan langsung maupun tak langsung dalam sistem. Suatu proyek VE harus dilaksanakan melewati enam fase berurutan yang disebut job plan (Park, 1992). Dalam Value Engineering, pemetaan fungsional adalah suatu titik awal. Pelayanan dilihat sebagai suatu set langkah dan sub-proses untuk mendapatkan fitur yang diinginkan dan dianalisa dari sudut pandang fungsionil. Teknik FAST menghasilkan suatu logical functional map untuk desain. Ada banyak mekanisme

berbeda untuk menyediakan fungsi proses yang sama, di luar batas dan kreativitas yang ada. Analisis fungsi membuat mungkin untuk kita membangun sasaran agresif pengurangan biaya sambil memberikan kepuasan konsumen yang diharapkan (Park, 1992). Definisi fungsi adalah langkah kritis yang dapat memberikan konsekuensi tidak menguntungkan jika dihubungkan sembarangan. Sebagai contoh, di suatu kantor bisnis, tugas pengisian disebut dengan store files. Definisi fungsional seperti itu memiliki batas operasional dan dapat membatasi kesempatan untuk pengembangan dan kreativitas. Akan lebih baik mendeskripsikannya sebagai store data, semenjak ada banyak cara mencapai fungsi ini dan pengisian hanyalah salah satunya. Data dapat disimpan di komputer (software, hardware), microfilm, transparansi, catatan, tags, memori CPU, dan lain-lain. Demikian, mendefinisikan fungsi dalam istilah luas memperbesar kebebasan untuk alternatif pengembangan secara kreatif (Park, 1992). Penamaan jenis ini hamper sama dengan proses QFD ketika mendefinisikan solusi kebutuhan fungsional bebas. Dalam memfasilitasi hubungan tugas-tugas, beberapa panduan dikembangkan untuk mengatur aktivitas dan menjaganya dengan benar.

Sumber: Firdaus. Metode Analisis Life Cycle Cost. Diakses melalui http://afirdauz.blogspot.com/2013/04/metode-analisis-life-cycle-cost.html pada tanggal 29 September 2013 Mulyana, Deden. Handout Manajemen Biaya Metasari, Nur. (2008). Value Analysis/Engineering FAST Technique. Diakses melalui http://qualityengineering.wordpress.com/2008/06/30/value-analysisengineeringfast-technique/ pada tanggal 29 September 2013 Raharja, Made Agung. Activity Based Costing. Diakses melalui http://dueeg.blogspot.com/2010/11/activity-based-costing-abc.html pada tanggal 29 September 2013 Simamora, Henry. Akuntansi Manajemen. Jakarta: Salemba Empat