Anda di halaman 1dari 5

ABSTRAK Dermatitis seboroik merupakan kelainan kulit kronis dan rekuren dengan kondisi peradangan dengan kecenderungan untuk

daerah yang kaya dalam kelenjar sebasea. Kelainan ini mungkin memalukan secara sosial, karena ketidaknyamanan yang di hubungkan dengan kebersihan. Penyebab pasti dari dermatitis seboroik tidak sepenuhnya diketahui. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dan diagnosis banding tergantung pada usia pasien, lokasi yang terlibat, dan ras pasien atau kelompok etnis. Pengobatan dermatitis seboroik dengan memperhatikan faktor predisposisi dan penggunaan obat topikal yang digunakan dalam sebagian besar kasus.

Kata kunci: Dermatitis Seboroik, Diagnosis, Pengobatan.

PENDAHULUAN Istilah dermatitis seboroik adalah (D.S) dipakai untuk segolongan kelainan kulit yang didasari oleh faktor konstitusi dan bertempat predileksi di tempat-tempat seboroik. Dermatitis seboroik adalah penyakit kulit kronis, dan sering kambuh. Dermatitis seboroik termasuk dalam kelompok dermatosis eritroskuamosa dimana merupakan penyakit kulit yang terutama ditandai dengan adanya eritema dan skuama. Dermatitis seboroik sering dikacaukan dengan psoriasis yang juga termasuk dalam kelompok dermatosis eritroskuamosa. Dermatitis seboroik dianggap salah satu gangguan kulit yang paling sering, meskipun prevalensi kurang divalidasi. Penyebabnya belum diketahui pasti, beberapa teori menerangkan tentang etiopatogenesis.(1,2) Kelainan kulit terdiri atas eritema dan skuama yang berminyak dan dan agak kekuningan, batasnya agak kurang tegas. Faktor predisposisinya ialah kelainan konstitusi berupa status seboroik (seborrhoeic state) yang rupanya diturunkan, bagaimana caranya belum dipastikan. Prevalensi dermatitis seboroik lebih tinggi pada ODHA, gangguan neurologis dan penyakit kronis lainnya juga terkait dengan timbulnya dermatitis seboroik.(1,2) Dermatitis seboroik disebut juga eczema flannellaire, hal ini berasal dari ide bahwa terdapat retensi pada permukaan kulit oleh sumbatan dengan katun (flanel), wol, atau pakaian dalam sintetik.(3)

LAPORAN KASUS Seorang wanita 31 tahun datang ke poli kulit dan kelamin RSAL dr. Mintohardjo mengeluh gatal di bagian wajah disertai bercak-bercak kemerahan dan sisik berwarna putih berminyak. 1

Keluhan dirasakan sejak 6 bulan lalu, hilang timbul. Awalnya keluhan hanya dirasakan di pipi sebelah kanan, kemudian meluas ke daerah hidung, sekitar mulut, dan pipi kiri. Pasien juga mengeluhkan gatal dan ketombe pada seluruh kulit kepala. Pasien sudah berobat ke dokter kulit dan diberikan obat tetapi pasien lupa nama obatnya. Keluhan menghilang setelah menggunakan obat tetapi timbul kembali setelah 2 bulan tidak menggunakan obat. Keluhan di wajah dirasakan makin parah 1 bulan ini. Jika wajah pasien gatal, pasien menggosokgosok wajahnya dan saat menggosok wajahnya didapatkan sisik berwarna putih dan berminyak. Pasien menyangkal adanya alergi terhadap kosmetik, obat dan makanan. Pasien mengaku keluhan gatal menjadi semakin parah apabila pasien banyak pikiran. Pasien menyangkal ada demam, mual, muntah, batuk, pilek, dan diare. Pasien mengaku mencuci muka menggunakan sabun hanya saat mandi pagi dan sore. Pada pemeriksaan fisik didapatkan lesi patch eritem dengan skuama halus berwarna putih berminyak pada wajah dengan distribusi regional, lesi berbatas tegas dengan bentuk tidak teratur dan ukuran 15 cm x 5 cm.

Diagnosis banding adalah dermatitis seboroik, rosasea, dan seboriasis. Diagnosis pasien adalah dermatitis seboroik. Penatalaksanaan pasien diberikan sampo yang mengandung ketokonazol 2% 2x seminggu selama 1 bulan, selanjutnya 1x seminggu, Cetirizine tablet 1 x 10 mg diminum sore hari, Ketokonazol oral 1 x 200 mg, dan krim Hidrokortison 2,5 %.

DISKUSI Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien, didapatkan gejala yang menyerupai gejala dermatitis seboroik. Dari anamnesis pasien didapatkan adanya keluhan rasa gatal di bagian wajah disertai bercak-bercak kemerahan dan sisik berwarna putih berminyak, pasien juga mengeluh adanya rasa gatal dan ketombe di seluruh kulit kepala. Keluhan dirasakan hilang timbul. Diagnosis pasien adalah dermatitis seboroik berdasarkan: A. Kelainan kulit yang terdiri dari eritema dan skuama yang berminyak dan agak kekuningan batasnya agak kurang tegas (skuama dapat halus atau kasar).(1) B. Predileksi dermatitis seboroik terdapat pada bagian tubuh yang banyak terdapat kelenjar sebasea (kelenjar minyak) yaitu daerah kepala (kulit kepala, telinga bagian luar, saluran telinga, kulit di belakang telinga), wajah (alis mata, kelopak mata, glabellla, lipatan nasolabial, dagu), badan bagian atas (daerah presternum, daerah interskapula, areolla mammae, umbilikus, lipatan paha, daerah anogenital).(4) Untuk penatalaksanaan pasien, selain medikamentosa seperti diatas, pasien juga diberi edukasi mengenai kekambuhan dermatitis seboroik, patuh pengobatan, tidak menggaruk apabila gatal, kurangi makanan berlemak, hindari stress, dan jaga kebersihan diri.

REFERENSI
1. Djuanda A, Hamzah M. Dermatitis Seboroik. In: Djuanda A, editor. Ilmu Penyakit Kulit

dan Kelamin. 5th ed. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta; 2007.200-203
2. Gibson EL, Perry HO. Eczematous Rashes. In: Dermatology. Moschella SL, Hurley HJ,

Eds, 3rd Ed. Harcourt Brace Jovanovich, Inc, New York. p : 214
3. Plewig G. Seborrheic Dermatitis. In : Dermatology In General Medicine. Fitzpatrick TB,

Eisen AZ, Wolff K, Freedberg IM, Austen KF, Eds. 4th Ed. McGraw Hill, Inc, New York. p. 1596-73

4. Selden

T.

Seborrheic

Dermatitis

Clinical

presentation.

Available

at

http://emedicine.medscape.com/article/1108312-overview#a0101. Accesed on 15 may 2012.


5. Naldi L, Rebora A. Seborrheic Dermatitis. N Engl J Med 2009;360;368;387-96 6. Harms

RW.

Seborrheic

Dermatitis.

Available

at

http://www.mayoclinic.com/health/seborrheic-dermatitis/DS00984. Accesed on 15 may 2012.