Anda di halaman 1dari 2

Resistensi obat anti jamur adalah kemampuan mikroorganisme melawan efek obat anti jamur yang mematikan terhadap

spesiesnya. Ada 2 tipe yaitu resistensi primer dan sekunder. Uji kepekaan adalah uji yang digunakan untuk mengukur perubahan pola resistensi yang teriadi pada jamur terhadap obat anti jamur. Metode broth microdilution merupakan uji kepekaan terhadap anti jamur yang paling banyak digunakan selama ini. Resistensi dan Uji Kepekaan Antijamur terhadap Candida spp. Ole Miftah, Antoni h: Ervianti, Evy ; Kurniati ; Rinasari, Umi ;

Jenis: Article from Journal - ilmiah nasional - tidak terakreditasi DIKTI Dalam koleksi: BERKALA Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin vol. 21 no. 2 (Sep. 2009), halaman 140-148. Topik: Candida spp.; resistensi obat anti jamur; uji kepekaan

EDITORIAL RESISTENSI TERHADAP OBAT ANTI JAMUR : PERMASALAHAN YANG PATUT DIWASPADAI Dalam penatalaksanaan infeksi jamur kadang seorang dokter dihadapkan pada kegagalan terapi, baik berupa angka kekambuhan yang tinggi maupun ketidaksem-buhan. Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, di antaranya faktor host, agent, sumber infeksi maupun faktor obat. Beberapa penelitian telah melaporkan adanya resistensi terhadap obat antijamur, meskipun tidak sebanyak resistensi terhadap antibiotika pada bakteri. Penemuan obat antijamur golongan baru relatif sangat lambat, sehingga adanya laporan tersebut perlu diwaspadai, dengan demikian seorang dokter bisa menggunakan obat antijamur dengan cukup rasional. Resistensi antijamur dikelompokkan menjadi dua kategori, yakni resistensi invitro dan resistensi klinis. Resistensi klinis menggambarkan kegagalan terapi antijamur yang tidak berhubungan dengan derajat kepekaan invitro yang normal atau rendah, dan lebih disebabkan rendahnya kadar obat dalam serum atau jaringan oleh berbagai faktor yang terkait obat atau inang. Resistensi antijamur invitro terbagi resistensi primer dan resistensi sekunder dan ditentukan oleh uji sensitivitas in vitro dengan metode yang terstandar. Resistensi primer, intrinsik atau alami merupakan resistensi yang terjadi secara alamiah, bersifat spesifik terhadap obat, dapat diperkirakan kejadiannya, dan muncul sebelum pajanan antijamur. Pada Candida sp. resistensi intrinsik terhadap flukonazol dapat ditemukan pada strain C. krusei dan C. glabrata. Mekanisme resistensi intrinsik utama C. glabrata adalah penurunan permea-bilitas terhadap azol dan atau peningkatan aktifitas enzim P450 pada sel membran. Beberapa strain C. glabrata dapat diamati penurunan uptake flukonazol pada dinding sel fungi. Resistensi intrinsik C.krusei terutama terjadi melalui rendahnya afinitas Erg11 terhadap flukonazol dan ren-dahnya ekspresi pompa multidrug eflux Resistensi sekunder atau dapatan muncul setelah paparan antijamur atau didapat sebagai hasil satu atau lebih perubahan genetik. Di samping itu terdapat beberapa faktor yang mem-pengaruhi resistensi pada golongan Candida sp, yaitu molekular chaperon heat shock protein (HSP), teutama HSP90, biofilm Candida, membrane transporter proteins, dan toleransi Candida. Pada edisi kali ini akan dibahas permasalahan resistensi ini dengan metode yang telah dikeluarkan oleh The Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI). Pemeriksaan tersebut telah distandarisasi, yaitu suseptibilitas antijamur untuk ragi (M27-A) dan jamur filamentosa (M38-A). Mekanisme yang dapat digunakan untuk mengatasi resistensi antijamur berupa strategi non farmakologis dan farmakologis. Strategi non farmakologis dilakukan melalui program antifungal-control yang bertujuan menghindari penggunaan antijamur yang luas dan tidak sesuai. Strategi farmakologis termasuk pengembangan obat antijamur baru dengan aktivitas antijamur dan profil farmakokinetik yang lebih baik. Dengan strategi tersebut diharapkan masalah resistensi terhadap antijamur dapat dihambat perkembangannya. Agnes Sri Siswati Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Universitas Gadjah Mada/ RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta
http://www.perdoski.org/index.php/public/information/mdvi-detail-editorial/27