Anda di halaman 1dari 19

Rumput Laut

BAB 6 RUMPUT LAUT Istilah rumput laut adalah terjemahan dari sea weed yang merupakan nama dalam dunia dalam perdagangan internasional untuk jenis-jenis alga (e) yang dipanen dari laut. Sebenarnya penamaan tidak tepat karena algae secara botanis tidak termasuk dalam golongan rumput-rumputan (graminae). Nama agar-agar juga diberikan kepada jenis-jenis algae ini berdasarkan kandungan kimianya.Diperairan pantai p.jawa umumnya yang disebut agar atau ager adalah jenis Gracilaria verrucosa yang mengandung agar. Di Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara nama agar diberikan kepada jenis euchema yang kandungan kimianya bukan agar melainkan keraginan. Terlihat bahwa dalam penamaan terhadap algae laut ini terdapat banyak kesalahan. Mungkin lebih tepat dengan istilah ganggang laut untuk menterjemahkan seaweed atau algae laut. Ganggang berasal dari bahasa jawa ( ganggeng ) yang ditujukan kepada jenis-jenis tanaman air. 1. Taksonomi Dalam taksonomi ganggang atau alga termasuk kedalam Phylum Thallopita yang terbagi kedalam tujuh divisi yaitu divisi Euglenophyta, Chlorophyta, Crhysophyta, Phaeophyta, Rhodophyta, Pynophyta, Cyanophyta.

119

Rumput Laut

Ciri-ciri dari phylum ini yaitu tidak mempunyai akar, batang dan daun sejati, alat reproduksi terdiri dari satu sel,dan zygote yang merupakan hasil pembuahan sel betina oleh sel jantan hanya akan tumbuh sesudah keluar dari alat kelamin betina. Dari ketujuh divisi ini yang terpenting dalam dunia perdagangan adalah rhodophita. Sorjodinoto (1962) menyatakan bahwa rumput laut adalah jenis algae (ganggang) yang tumbuh di laut. Ganggang termasuk kedalam devisi Thalophyta dan terbagi menjadi empat kelas yaitu, ganggang hijau (Chlorophyceae), ganggang cokelat (Phaeophytceae), ganggang biru (Rhodophyceae). Klasifikasi dari rumput laut Gelidium sp: Phylum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Rhodophyta : Rhodophyceae : Gelidiales : Gelidiceae : Gelidium : Gelidium sp (Cyanophyceae), ganggang merah

Berdasarkan tempat tumbuhnya, rumput laut dapat dibagi menjadi ; 1. Epilitic yaitu jenis rumput laut yang menempel pada batu

2. Epipelic yaitu jenis rumput laut yang menancap pada pasir


3. 4. Epifitic yaitu rumput laut yang menempel pada tumbuhan Epizaik yaitu rumput laut yang menempel pada hewan yang telah mati

120

Rumput Laut

Berdasarkan kandungan kimia, rumput laut dibagi tiga, antara lain ; 1. 2. Rumput laut yang dapat menghasilkan agar (agarofit). Rumput laut yang dapat menghasilkan karaginan (karaginafit). 2. Morfologi Seluruh bagian tanaman yang dapat menyerupai akar, batang, daun ataupun buah semuanya disebut thallus. Bentuk thallus ini bermacam-macam yaitu: bulat seperti tabung, pipih, gepeng, bulat seperti kantong,seperti rambut, dll. Semua sifat-sifat thallus itu membantu dalam pengenalan jenis atau species dalam klasifikasinya. Rumput laut tergolong pada jenis tumbuhan tingkat rendah, pada tumbuhan ini tidap dapat dibedakan mana bagian akar, batang, dan daun (thalus). Batang pada thalus ada yang berbentuk tabung, pipih, gepeng, seperti rambut, bulat seperti ranting. Percabangan thalus bermacam-macam, ada yang tidak bercabang, ada yang bercabang dua terus-menerus, dan berderet searah pada satu sisi thalus utama. Bentuk thallus rumput laut ada yang tersusun oleh satu sel dan oleh banyak sel. Percabangan thallus ada yang dikotomous (bercabang dua terus menerus), pectinate (berderet searah pada satu sisi thallus utama), pinnate (bercabang dua-dua pada sepanjang thallus utama secara berselang-seling), verticillate (cabangnya berpusat melingkar), tetratichous (bercabang empat/dua pasang pada thallus utama dengan panjang tiap-tiap pasang berbeda), polystichous (bercabang banyak pada thallus utama dengan panjang

121

Rumput Laut

tiap cabang berbeda), monopodial (bercabang banyak pada setiap satu cabang di sumbu utama), dan simpodial (berderet searah pada satu sisi pada setiap satu cabang di sumbu utama)

Gambar 39 Rumput Laut 3. Pola Reproduksi Rumput Laut Perkembangbiakan rumput laut selain berfungsi sebagai kelestarian komunitas juga memiliki kontribusi yang bermanfaat bagi perikanan. Pada saat musim persporaan algae, material generatif yang dikeluarkan secara berlimpah ke perairan bermanfaat sebagai tambahan sumber makanan bagi organisme lainnya. Perkembangbiakan rumput laut secara generatif memang agak sulit. Dari tanaman rumput laut yang (2n) dihasilkan sporaspora yang haploid (n). spora-spora ini kemudian akan tumbuh

122

Rumput Laut

menjadi dua jenis rumput laut, yaitu rumput laut jantan dan rumput laut betina yang masing-masing bersifat haploid (n). selanjutnya rumput laut jantan akan menghasilkan spermatium, yaitu sel kelamin jantan yang bersifat haploid (n) dan tidak memiliki alat gerak, sementara itu rumput laut betina akan menghasilkan sel telur yang juga bersifat haploid (n). Apabila kondisi lingkungan memenuhi syarat maka, pertemuan antara spermatium dan sel telur akan menghasilkan suatu perkawinan yang ditandai dengan terbentuknya zigot (2n). Sedangkan perkembangbiakan secara vegetatif berlangsung lebih sederhana, karena tanpa didahului dengan pembentukan tanaman yang haploid (n) maupun perkawinan. Setiap bagian tanaman rumput laut yang dipotong dapat tumbuh menjadi rumput laut muda yang mempunyai sifat seperti induknya (2n). 4. Manfaat Rumput Laut Beberapa jenis dari rumput laut diantaranya mempunyai nilai ekonomis penting sebagai penghasil bahan untuk industri seperti agar-agar, keraginan, alginat, dan fulselara. Produk ekstraksi tersebut banyak digunakan sebagai bahan makanan di rumah tangga, juga sebagai bahan tambahan atau bahan bantu dalam industri farmasi, tekstil, kosmetik, kertas, cat dan lain-lain. Disamping itu rumput laut juga memberikan nilai tambah tersendiri bagi keindahan wisata bahari. Karena adanya keanekaragaman bentuk dan warna rumput laut yang indah di dasar

123

Rumput Laut

perairan dapat dijadikan sebagai objek wisata menarik para wisatawan asing. 5. Habitat dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Rumput Laut Rumput laut memerlukan substrat sebagai tempat melekat agar tetap pada tempatnya. Rumput laut banyak ditemukan melekat pada batu, potongan karang, cangkang moluska, potongan kayu, pasir dan lumpur. Faktor-faktor oseanografis dan bermacam-macam substrat sangat menentukan pertumbuhan rumput laut. a. Sinar Matahari Sinar matahari sangat diperlukan untuk melakukan fotosintesis, sehingga rumput laut yang hidup di perairan dangkal sangat bagus pertumbuhannya, karena penetrasi sinar matahari dapat mencapai dasar perairan. Banyaknya sinar matahari yang masuk ke dalam air berhubungan dengan kecerahan karena rumput laut tidak dapat tumbuh atau terganggu pada lingkungan yang keruh. b. Gerakan Air Laut Rumput laut memerlukan gerakan air yang cukup untuk membantu mempercepat absorbsi zat hara. Gerakan air laut dapat terjadi karena adanya arus dan ombak. Arus dapat terjadi akibat pengaruh dari pasang dan angin. Kisaran kecepatan arus yang cukup untuk pertumbuhan rumput laut antara 10-30 cm dan gerakan ombak menyebabkan penyebaran spora di dalam perairan.

124

Rumput Laut

c. Suhu Suhu udara mempunyai pengaruh yang tidak langsung terhadap pertumbuhan rumput laut, sehingga rumput laut di pantai berbatu dapat mati baik karena kedinginan maupun kepanasan. Rumput laut mempunyai kisaran suhu yang spesifik karena adanya enzim pada rumput laut. Rumput laut akan tumbuh subur pada daerah yang sesuai dengan suhu laut. Pada daerah tropis rumput laut dapat tumbuh pada kisaran suhu 20-300C. d. pH Air laut mempunyai kisaran pH antara 7,9-8,3. perubahan yang terjadi pada pH air laut akan mempengaruhi kehidupan rumput laut. Kisaran 6-9 merupakan kisaran yang paling sering ditemukan di perairan yang memiliki kepadatan rumpt laut sebesar 6,8-9,6 e. Unsur-unsur lain Unsur Nitrogen dan Fosfat sangat diperlukan rumput laut untuk pertumbuhannya. Umumnya unsur fosfat yang dapat diserap oleh rumput laut dalam bentuk ortho-fosfat. Sedang Nitrogen di perairan diserap dalam bentuk nitrat. Kisaran nitrat yang baik di lautan bagi kehidupan rumput laut adalah 0,01-5 mg/l.

125

Rumput Laut

Gambar 40 Jenis rumput laut 6. Penyebaran Rumput Laut di Indonesia Rumput laut adalah salah satu sumberdaya hayati yang terdapat di wilayah pesisir dan laut. Dalam bahasa Inggris, rumput laut diartikan sebagai seaweed. Sumberdaya ini biasanya dapat ditemui di perairan yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang. Rumput laut alam biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang mati. Beberapa daerah pantai di bagian selatan Jawa dan pantai barat Sumatera, rumput laut banyak ditemui hidup di atas karang-karang terjal yang melindungi pantai dari deburan ombak. Di pantai selatan Jawa Barat dan Banten misalnya, rumput laut dapat ditemui di sekitar pantai Santolo dan Sayang Heulang di Kabupaten Garut atau di daerah Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang. Sementara di daerah pantai barat Sumatera, rumput laut dapat ditemui di pesisir barat Provinsi Lampung sampai pesisir Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam.

126

Rumput Laut

Selain hidup bebas di alam, beberapa jenis rumput laut juga banyak dibudidayakan oleh sebagian masyarakat pesisir Indonesia. Contoh jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan diantaranya adalah Euchema cottonii dan Gracelaria sp. Beberapa daerah dan pulau di Indonesia yang masyarakat pesisirnya banyak melakukan usaha budidaya rumput laut ini diantaranya berada di wilayah pesisir Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi Kepulauan Riau, Pulau Lombok, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Gambar 41 Codium Fragile 7. Metode Penelitian Rumput Laut Metode yang digunakan yaitu metode survei. Penentuan stasiun penelitian berdasarkan metode purposive Sampling yaitu dengan memilih transek berdasarkan keberadaan sebaran rumput laut secara sistematik.

127

Rumput Laut

Pada setiap stasiun dibuat secara sistematik 3 substasiun dengan jarak antara substasiun 20 m, setiap substasiun diletakkan transek garis yang diletakkan tegak lurus dengan garis pantai sepanjang 50 m. Pengamatan rumput laut dilakukan pada tempat yang ditentukan pada transek garis dengan menggunakan transek kuadrat dengan ukuran 1mx1m. jarak antara transek kuadrat yang satu dengan yang lainnya adalah 10 m. Pantai/daratan

10

m
20

Tra nse k Kua dra t 1x1 Laut Gambar 42

Pengambilan contoh rumput laut dengan transek kuadrat

128

Rumput Laut

Pengambilan dan Identifikasi Contoh Pengambilan contoh rumput laut dilakukan dengan

sistematik dengan menggunakan transek kuadrat yang terbuat dari besi berukuran 1x1m. Data rumput laut berupa kepadatan diambil sebanyak 9 transek per stasiun dan persentase penutupan diambil dari tiap petak contoh, dimasukkan dalam kantong plastik dan diawetkan dengan formalin 4 % untuk diidentifikasi di laboratorium dengan menggunakan buku identifikasi rumput laut. Analisa Data Indeks Nilai Penting INP = KR + FR + PR KR (Kepadatan Relatif) Biomassa rumput laut jenis ke i KR = ----------------------------------------------- x 100% Biomassa rumput laut seluruh jenis FR (Frekuensi Relatif) Frekuensi jenis ke i FR = ----------------------------------- x 100% Frekuensi seluruh jenis

129

Rumput Laut

PR (Penutupan Relatif) Penutupan jenis ke i PR = ----------------------------------- x 100% Penutupani seluruh jenis

8. Percobaan Penanaman Eucheuma Percobaan penanaman Eucheuma spinosum dan E. striatum dengan sistem lepas dasar bertingkat yang dilakukan di Bali menunjukkan pertumbuhan rata-rata yang cukup baik, sebagaian besar mempunyai laju pertumbuhan lebih dari 3 % / hari (Tabel 7). Pertumbuhan E. spinosum pada bulan Agustus sampai dengan September 1984 kurang baik, hanya lebih dari 2 % / hari. Doty (1973) mengemukakan bahwa dengan laju pertumbuhan 23 % / hari pada budidaya rumput laut Eucheuma sudah merupakan usaha yang menguntungkan di Filipina. Dengan laju pertumbuhan berat 2 % / hari dalam waktu 35 hari sudah dapat dilakukan panenan karena tanaman sudah menjadi dua kali lipat tanaman semula. Laju pertumbuhan 3 % / hari panen dapat dilakukan lebih cepat lagi, yaitu sekitar 25 hari sedangkan laju pertumbuhan 4 % / hari panenan dapat dilakukan setelah 20 hari.

130

Rumput Laut

Gambar 43 Metoda penanaman Eucheuma pada sistem lepas dasar berlapis Pertumbuhan tanaman percobaan Eucheuma pada sistem lepas dasar bersusun menunjukkan bahwa tanaman yang ada di lapisan atas tumbuh lebih baik dari tanaman yang ada dibawahnya ( Tabel 1 ). Hal yang sama dijumpai pada tanaman rakit apung bersusun ( Soegiarto, et al. , 1977), rupanya perbedaan intensitas sinar yang diterima dilapisan bawah sama dengan tanaman kontrol (kedudukan yang sama tetapi tidak bersusun). Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa pada areal budidaya yang memungkinkan kedalamannya dapat dilakukan penanaman dengan cara berlapis, sehingga pada luas areal tertentu jumlah tanaman dan

131

Rumput Laut

panenan akan dapat ditingkatkan. Efisiensi lahan dengan cara penanaman berlapis dapat dilaksanakan.
Tabel 9 Laju pertumbuhan berat rata-rata percobaan penanaman Eucheuma spinosum dan E. striatum Waktu percobaan Lokasi Propinsi Bali Jenis Laju pertumbuhan berat rata-rata (% /hari) 0 E. spinosum 1 2 3

23-8-84 s/d 1. 20-9-84 Nusa Dua (28 hari) 2.

2,38 2,20 2,39

19-8-84 s/d 15-10-84 Nusa Lembongan E. spinosum (57 hari) E. spinosum E. striatum E. spriatum

3,68 3,00 3,00 3,28 2,39 4,12 2.21 2.39 2,70 5,00 -

10-12-84 3. s/d 14-1-85 Nusa Dua (35 hari) 13-12-84 4. s/d 25-2-85 Serangan (43 hari)

17-12-84 5. s/d 13-1-85 Nusa Lem bongan E. spinosum (27 hari) 17-12-84 E. spinosum 6. s/d 28-1-85 Nusa Lembongan E.striatum (42 hari)

4,51 4,60 5,04

3,40 3,10

Keterangan: 0 = metoda lepas dasar, 30 cm dari dasar sebagai kontrol 1 = metoda lepas dasar, 30 cm dari dasar (susun ke 1) 2 = metoda lepas dasar, 50 cm dari dasar (susun ke 2) 3 = metoda lepas dasar, 90 cm dari dasar (susun ke 3)

132

Rumput Laut

Pertumbuhan

percobaan

Eucheuma

striatum

strain

Tambalong dari Filipina menunjukkan bahwa jenis tersebut dapat dikembangkan melalui budidaya. Hal ini terlihat dari laju pertumbuhan yang dicoba di Bali bersama-sama dengan E. spinosum ternyata tumbuh lebih baik. Untuk upaya pengembangan selanjutnya di beberapa perairan di Indonesia perlu dikaji lebih lanjut. Upaya pengembangan budidaya Eucheuma striatum mempunyai harapan yang baik sebagai upaya peningkatan hasil Eucheuma dari Indonesia, karena sebagaian besar ekspor rumput laut dari Indonesia saat ini adalah berupa Eucheuma spinosum. Percobaan penanaman jenisjenis Eucheuma lainnya selain E. spinosum yang telah dilakukan oleh Lembaga Oseanologi Nasional - LIPI, yaitu E. serra dan E. edule pertum buhannya masih belum baik, kurang dari 2 % / hari ( Atmadja & Sulistijo 1980 ). E. edule termasuk dalam satu kelompok dengan E. striatum sebagai penghasil karaginan tipe spinosum ( iota cariageenan ). Dengan demikian, apabila budidaya E. striatum strain Tambalong dapat berkembang di Indonesia, maka produksi rumput laut dari Indonesia akan bertambah jenisnya maupun jumlahnya.

133

Rumput Laut

Gambar 44 Metoda penanaman Gracilaria di tambak dan di perairan pantai Percobaan Penanaman Gracilaria Percobaan penanaman Gracilaria lichenoides dan G. gigas di tambak dan diperairan pantai tampak bahwa pertumbuhan di tambak masih rendah sedangkan pertumbuhan di rakit apung di pantai selatan Jawa Barat cukup baik (Tabel 8). Di tambak, pertumbuhan Gracilaria lichenoides sedikit lebih baik dari pada G. gigas, dan pertumbuhan di dekat permukaan lebih baik daripada di dekat dasar.

134

Rumput Laut

Tabel 10 Laju pertumbuhan berat rata-rata percobaan Cracilaria lichenoides dan G. gigas Laju pertumbuhan Waktu berat rata-rata Lokasi Jenis percobaan (% /hari) rap td tp 1. 20-7-84 s/d 19-8-84 Serangan, Bali (30 hari) 31-1-85 s/d 21-1-85 Suwung, Bali (21 hari) 1-3-85 s/d 28Suwung, Bali 3-85 20-8-84 s/d 17-10-85 Serangan, Bali (57 hari) 31-3-85 s/d Pameungpeuk, 20-4-85 Jawa Barat (21 hari) 24-4-85 s/d 8Ciwaru, 6-85 G. gigas G. lichenoides G. gigas G.gigas G.gigas G. lichenoides 0,88 1,37 1,12 -

2. 3. 4.

2,76 2,70 1,35 1,40 1,91 2,97 -

5. 6.

G.lichenoides 4,24 G. lichenoides 3,91

Keterangan : rap = rakit apung di pantai td = tambak di dasar tp = tambak dekat permukaan Percobaan penanaman Gracilaria di tambak belum

menunjukkan hasil yang baik. Selama percobaan tanaman tampak banyak yang rusak dimakan oleh binatang yang hidup di tambak (ikan dan kepiting ), pengaruh ini diatasi dengan mengurung

135

Rumput Laut

tanaman percobaan dengan jaring dan tampak ada kenaikan pertumbuhannya. Dalam upaya pengembangan budidaya Gracilaria di tambak perlu adanya pemberantasan hewan air. Usaha budidaya Gracilaria ditambak telah dilakukan sejak tahun 1962 di Taiwan, ada 5 jenis yang umumnya dapat ditanam di tambak : G. confervides, G. gigas, G. chorda, G. Compressa dan G. lichenoides (Chen dan Seng 1980). Hasil yang didapat dari usaha budidaya Gracilaria dalam tambak di Taiwan secara terpadu dengan pemeliharaan ikan bandeng atau udang mencapai 10 ton kering/ ha/ tahun (usaha monokultur) dan 9 ton kering/ha/tahun secara terpadu) dari sejumlah bibit awal 3 sampai 5 ton/ha (Hansen et al., 1981). Percobaan dan penelitian budidaya Gracilaria di tambak perlu dikaji terus, sehingga dari upaya tersebut akan dicapi hasil yang diharapkan untuk memanfaatkan lahan tambak sebagai usaha budidaya rumput laut Gracilaria, baik secara monokultur maupun secara terpadu dengan pemeliharaan ikan bandeng dan udang. Percobaan penanaman Gracilaria lichenoides di rakit apung menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik (antara 3 4 % /hari) di perairan selatan Jawa Barat mempunyai harapan untuk dikembangkan lebih lanjut. Untuk itu perlu dikaji lebih lanjut upaya pengembangannya seperti apa yang telah dapat dicapai di India dalam penanaman Gracilaria edulis (sinonim G. lichenoides) di perairan pantai (teluk) pada tali-tali nilon/ijuk dapat menghasilkan 3,5 kg per meter tali/tahun (Raju & Thomas 1971). Metoda ini

136

Rumput Laut

mempunyai harapan dapat dikembangkan di perairan pantai di Indonesia

137