Anda di halaman 1dari 7

1. Bagaimana menjelaskan reaksi yang terjadi pada proses perolehan logam aluminium dari bauxite?

Dalam memperoleh aluminium murni dari biji bauksit, terjadi 2 reaksi utama, yaitu reaksi Bayer dan Hall-Haroult. Proses Bayer Melalui literatur dari Universitas Elmhurst Chicago, bahan baku utama untuk pengolahan aluminium adalah aluminium oksida atau Bauxite (Al2O3xH2O). Pertama-tama, bauksit dimurnikan dengan proses Bayer (Bayer Process). Biji bauksit dicampurkan dengan konsentrasi larutan panas NaOH. NaOH akan menghancurkan oksida dari aluminium dan silikon, namun tidak terhadap kotoran lain seperti besi oksida yang tetap tak terpecahkan. Bahan tersebut dapat dihilangkan dengan filtrasi. Kemudian, larutan yang sekarang telah mengandung oksida dari aluminium dan silikon diberikan gas karbon dioksida melalui larutan. Karbon dioksida membentuk larutan asam lemah dari asam karbonat yang menetralisir NaOH dari proses pertama. Netralisasi ini mengendapkan aluminium oksida, namun tetap menghasilkan silikon dalam bentuk larutan. Untuk memisahkan ini diperlukan lagi proses filtrasi. Setelah proses filtrasi ini, aluminium oksida yang telah dimurnikan kemudian dipanaskan untuk menghilangkan airnya, sehingga dihasilkan Al2O3 atau aluminium. Proses Bayer tersebut terdiri dari tiga tahap reaksi yaitu : a. Proses Ekstraksi Al2O3.3H2O + 2 NaOH 2NaAl(OH)4 b. Proses Dekomposisi NaAl(OH)4 NaOH + Al(OH)3 c. Proses Kalsinasi 2Al(OH)3 + Kalor Al2O3 + 3H2O Pada proses kalsinasi akan dihasilkan 2 jenis alumina, yaitu : Alumina Sandy, yaitu alumina yang diperoleh dengan kalsinasi jika operasi berlangsung pada temperature rendah. Alumina sandy diproduksi pada temperature pembakaran yang lebih rendah dari pada alumina floury. Alumina sandy biasanya digunakan untuk tungku tipe PAF (Prebaked Anode Furnace) karena sifat dari alumina tersebut. yang bebas mengalir tanpa dipengaruhi oleh gaya luar Alumina Fluory, yaitu alumina yang diperoleh dengan proses kalsinasi jika operasi berlangsung pada temperatur tinggi. Alumina floury sebagian besar digunakan untuk tungku tipe SAF (Soederberg Anode Furnace). Melalui proses Bayer, alumina yang dihasilkan dari proses bayer ini mempunyai kemurnian yang tinggi dengan konsumsi energi yang relative rendah. Pada proses bayer, dimana bauksit dipekatkan untuk menghasilkan aluminium hidroksida [Al(OH)3]. Saat larutan pekat ini dikalsinasi pada suhu lebih dari 1000 oC, maka Al2 O3 akan terbentuk Proses Hall-Haroult Proses elektrolisis secara komersial digunakan untuk menghasilkan aluminium yang dikenal dengan proses Hall-Haroult, dinamakan dengan nama penemunya Charles M. Hall, Al2O3 yang telah dipurifikasi/dibersihkan dilarutkan dalam lelehan kriolit, yaitu

campuran dari Natrium florida dan aluminium florida (Na3AlF6) dan dipanaskan hingga sekitar 980oC untuk melelehkan padatan tersebut. Kemudian campuran yang telah meleleh tersebut di elektrolisis dengan tekanan rendah, yaitu 4V-5V, namun dengan arus tinggi, yaitu 50.000A-15.000A. Ion alumunium akan tereduksi menjadi logam aluminium di katoda, dan di anoda di hasilhan oksigen sebagai produk daro ion oksida. yang memiliki titik leleh 1012 o C dan berguna sebagai konduktor aliran listrik yang konduktif. Batang karbon digunakan sebagai anoda dan digunakan dalam proses elektrolisis. Reaksi dari anoda dapat ditunjukkan dengan persamaan : Anoda : 2 O2- O2 + 4eKatoda : Al3+ + 3e- Al

2. Bagaimana bentuk sel elektrokimia yang digunakan dalam proses elektroplating, berikan contoh reaksi elektroplating yang Anda ketahui

Elektroplating adalah proses melapisi logam yang satu dengan yang lain dengan metode elektroforesis, tujuannya adalah untuk mencegah korosi dari logam yang dilindungi. Perpindahan ion logam dengan bantuan arus listrik melalui larutan elektrolit sehinnga ion logam mengendap pada benda padat yang akan dilapisi. Ion logam diperoleh dari elektrolit maupun berasal dari pelarutan anoda logam di dalam elektrolit. Pengendapan terjadi pada benda kerja yang berlaku sebagai katoda. Reaksi kimia yang terjadi pada proses electroplating seperti yang terlihat pada dapat dijelaskan sebagai berikut:
cathode anode reduction oxidation Ag+(aq)+ e- Ag(s) Ag(s) Ag+(aq)+ e-

Mekanisme terjadinya pelapisan logam adalah dimulai dari dikelilinginya ion-ion logam oleh molekul-molekul pelarut yang mengalami polarisai. Di dekat permukaan katoda, terbentuk daerah Electrical Double Layer (EDL) yang bertindak seperti lapisan dielektrik. Adanya lapisan EDL memberi beban tambahan bagi ion-ion untuk menembusnya. Dengan gaya dorong beda potensial listrik dan dibantu oleh reaski-reaksi kimia, ion-ion logam akan menuju permukaan katoda dan menangkap electron dari katoda, sambil mendeposisikan diri di permukaan katoda. Dalam kondisi equilibrium, setelah ion-ion mengalami discharge menjadi atom-atom kemudian akan menempatkan diri pada permukaan katoda dengan mula-mula menyesuaikan mengikuti susunan atom dari material katoda. Contoh pelapisan lainnya : i. Proses Elektroplating Tembaga-Nikel-Khrom Proses pelapisan tembaga-nikel-khrom terhadap logam ferro atau kuningan sebagai logam yang dilapis adalah satu cara untuk melindungi logam terhadap serangan korosi dan untuk mendapatkan sifat dekoratif. Cara pelapisan tembaga-nikel-khrom dengan metode elektroplating adalah sebagai berikut:Pelapisan menggunakan arus

ii.

iii.

searah. Cara kerjanya mirip dengan elektrolisa, dimana logam pelapis bertindak sebagai anoda,sedangkan logam dasarnya sebagai katoda. Cara terakhir ini yang disertai dengan perlakuan awal terhadap benda kerja yang baik mempunyai berbagai keuntungan dibandingkan dengan cara-cara yang lain. Keuntungan-keuntungantersebutantaralain: a. Lapisan relatif tipis. b. Ketebalan dapat dikontrol. c. Permukaan lapisan lebih halus. d. Hemat dilihat dari pemakaian logam khrom. Pengerjaan elektroplating tembaga-nikel-khrom pada dasarnya terbagi atas tiga proses yaitu perlakuan awal, proses pelapisan dan proses pengolahan akhir hasil elektroplating.Proses elektroplating ini terdapat tiga jenis proses pelapisan yaitu yang pertama adalah pelapisan logam dengan Tembaga, lalu dilanjutkan dengan pelapisan Nikel dan yang terakhir benda dilapis dengan Khrom Pelapisan Tembaga Tembaga atau Cuprum (Cu) merupakan logam yang banyak sekali digunakan, karena mempunyai sifat hantaran arus dan panas yang baik. Tembaga digunakan untuk pelapisan dasar karena dapat menutup permukaan bahan yang dilapis dengan baik. Pelapisan dasar tembaga dipelukan untuk pelapisan lanjut dengan nikel yang kemudian yang kemudian dilakukan pelapisan akhir khrom. Aplikasi yang paling penting dari pelapisan tembaga adalah sebagai suatu lapisan dasar pada pelapisan baja sebelum dilapisi tembaga dari larutan asam yang biasanya diikuti pelapisan nikel dan khrom. Tembaga digunakan sebagai suatu lapisan awal untuk mendapatkan pelekatan yang bagus dan melindungi baja dari serangan keasaman larutan tembaga sulfat. Alasan pemilihan plating tembaga untuk aplikasi ini karena sifat penutupan lapisan yang bagus dan daya tembus yang tinggi. Sifat-sifat Kimia Tembaga 1.Dalam udara kering sukar teroksidasi, akan tetapi jika dipanaskan akan membentuk oksida tembaga (CuO) 2.Dalam udara lembab akan diubah menjadi senyawa karbonat atau karat basa, menurut reaksi : 2Cu + O2 + CO2 + H2O (CuOH)2 CO3 3.Tidak dapat bereaksi dengan larutan HCl encer maupun H2SO4encer 4.Dapat bereaksi dengan H2SO4 pekat maupun HNO3 encer dan pekat Cu + H2SO4 CuSO4 +2H2O + SO2 Cu + 4HNO3 pekat Cu(NO3)2 + 2H2O + 2NO2 3Cu + 8HNO3 encer 3Cu(NO3)2 + 4H2O + 2NO 5.Pada umumnya lapisan Tembaga adalah lapisan dasar yang harus dilapisi lagi dengan Nikel atau Khrom. Pada prinsipnya ini merupakan proses pengendapan logam secara elektrokimia,digunakan listrik arus searah (DC). Pelapisan Krom

Pelapisan krom adalah suatu perlakuan akhir menggunakan elektroplating olehkromium. Pelapisan dengan krom dapat dilakukan pada berbagai jenis logam seperti besi, baja, atautembaga. Pelapisan krom juga dapat dilakukan pada plastik atau jenis benda lain yang bukan logam, dengan persyaratan bahwa benda tersebut harus dicat dengan cat yang mengandung logam sehingga dapat mengalirkan listrik. Pelapisan krom menggunakan bahan dasar asam kromat, dan asam sulfat sebagai bahan pemicu arus, dengan perbandingan campuran yang tertentu. Perbandingan yang umum bisa 100:1 sampai 400:1. Jika perbandingannya menyimpang dari ketentuan biasanya akan menghasilkan lapisan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Faktor lain yang sangat berpengaruh pada proses pelapisan krom ini adalah temperatur cairan dan besar arus listrik yang mengalir sewaktu melakukan pelapisan. Temperatur pelapisan bervariasi antara 35 C sampai 60 C dengan besar perbandingan besar arus 18 A/dm2 sampai 27 A/dm2. Elektroda yang digunakan pada pelapisan krom ini adalah timbal (Pb) sebagai anoda (kutub positif) dan benda yang akan dilapis sebagai katoda (kutub negatif). Jarak antara elektroda tersebut antara 9 cm sampai 29 cm. Sumber listrik yang digunakan adalah arus searah antara 10 25 Volt, atau bisa juga menggunakan aki mobil. 3. Bagaimana Anda menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas lapisan logam elektroplating yang diperoleh? Faktor-Faktor yang Mempengaruhi proses Elektroplating dan elektrowinning 1. Suhu Suhu sangat penting untuk menyeleksi cocoknya jalannya reaksi dan melindungi pelapisan. Keseimbangan suhu ditentukan oleh beberapa faktor seperti ketehanan, jarak anoda dan katoda, serta ampere yang digunakan. 2. Kerapatan arus Kerapatan arus yang baik adalah arus yang tinggi pada saat arus diperkirakan masuk, bagaimanapun nilai kerapatan arus mempengaruhi waktu plating untuk mencapai ketebalan yang diperlukan. 3. Konsentrasi ion Merupakan faktor yang berpengaruh pada struktur deposit, dengan naiknya konsentrasi logam adaat menaikkan seluruh kegiatan anion yang membantu mobilitas ion. 4. Agitasi Yaitu terdiri dari dua macam, yaitu jalannya katoda dan jalannya larutan. Agitasi yang besar mungkin akan merusak, dan agitasi seharusnya disalurkan dengan tujuan untuk menghindari bentuk/struktur, penampilan dan ketebalan pelaapisan yang tidak seragam. 5. Throwing power

6.

7.

8.

9.

Yaitu kemampuan larutan penyalur menghasilkan lapisan dengan ketebalan merata adan sejalan dengan terus berubahnya jarak antara anoda dan permukaan komponen selama proses pelapisan. Konduktivitas Konduktivitas larutan tergantung konsentrasi ion yang besar atau jumlah konsentrasi molekul. Nilai pH Derajat keasaman (pH) merupakan faktor penting dalam mengontrol larutan electroplating. Pasivitas Gejala ini sering ditemui pada logam yang mengalami korosi, dimana hasil korosi menjai lapisan pasif. Bila hal ini terjadi pada anoda, maka ion-ion logam pelapis terus menurun, sehingga akan mengganggu proses. Waktu pelapisan Waktu pelapisan sangat berpengaruh pada ketebalan lapisan yang diharapkan. Berdasarkan hasil penelitian, pada saat variasi waktu yang dilakukan adalah 5 menit, 10 menit, 15 menit dan 20 menit, telah terjadi perbedaan ketebalan lapisan yang sangat signifikan. Semakin lama pencelupan maka ketebalan lapisan semakin bertambah.

Faktor yang mempengaruhi kualitas logam elektroplating yang diperoleh : - Logam Dasar Harus berbentuk batang yang mempunyai penampang melintang bulat atau persegi (berbentuk pelat). Logam dasar harus bebas dari lemak dan kotoran-kotoran oksida yang dapat mempengaruhi pelekatan lapisan dan dapat menimbulkan korosi. - Rapat Arus Pada proses ini jumlah logam yang terdeposisi pada katoda atau yang lenyap dari anoda. Rapat arus yang timbul dapat mempercepat terjadinya pengendapan namun hasilnya kasar.di samping itu rapat arus yang tinggi dapat menyebabkan pelarutan kembali pada lapisan yang terbentuk. Rapat arus yang rendah menyebabkan pelepaan ion lambat sehingga membutuhkan waktu yang relatif lama. - Konsentrasi Larutan Elektrolit Pada larutan yang konsentrasinya rendah, proses pelapisan berlangsung lama dan kemungkinan tidak terjadilapisan. Sebaliknya pada larutan yang konsentrasinya tinggi, akan menghasilkan lapisan yang melekat kuat tatapi kemungkinan lapisan yang terjadi kasar. - pH Larutan Larutan yang bersifat netral atau mendekati netral mudah menjadi larutan yang bersifat basa dipermukaan katoda, sehingga lapisan yang terbentuk akan tercampur dengan lapisan garam basa atau hidroksida.pH yang terlalu rendah memudahkan terjadinya reaksi pembentukan gas hidrogen dan melarutnya kembali lapisan yang terjadi.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19440/3/Chapter%20II.pdf [Rabu, 2 Oktober 2013 ; 20.57 WIB] http://www.elmhurst.edu/~chm/vchembook/327aluminum.html [Minggu, 6 Oktober 13 ; 22.41 WIB] http://www.chemguide.co.uk/inorganic/extraction/aluminium.html [Minggu, 06 Oktober 2013 ; 23.05 WIB] http://staff.prairiesouth.ca/~chemistry/chem30/6_redox/redox3_4.htm [Minggu, 6 Oktober 2013 ; 23.25 WIB]

KESIMPULAN : Melalui pembahasan yang telah dilakukan oleh penulis maka didapatkan beberapa kesimpulan, yaitu : 1. Aluminium(Al2O3) dapat dihasilkan dari biji bauksit atau aliminium oksida (Al2O3xH2O) melalui 2 metode, yaitu proses Bayer dan proses Hall-Haroult. Proses Bayer menggunakan metode peluruhan biji bauksit dan melalui reaksi ekstraksi, dekomposisi, dan kalsinasi. Sedangkan proses Hall-Haroult menggunakan metode elektrolisis. 2. Dalam proses pencegahan korosi terhadap sebuah logam dapat dilakukan beberapa pencegahan, diantaranya adalah dengan proses elektroplating atau elektrowinning. Elektroplating adalah proses melapisi logam yang satu dengan yang lain dengan metode elektroforesis. Elektrowinning adalah elektrodeposisi dari bentuk biji yang telah dimasukkan dalam larutan melalui proses peluluhan. 3. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi proses elektroplating dan elektrowinning, diantaranya adalah suhu, kerapatan arus, konsentrasi ion, agitasi, throwing power, konduktivitas, nilai pH, pasivitas, dan waktu pelapisan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas logam hasil elektroplating adalah logam dasar, rapat arus, konsentrasi larutan elektrolit, dan pH larutan.