Anda di halaman 1dari 35

Click to edit Master title style

PENDIDIKAN MENENGAH UNIVERSAL Click to edit Master title style Kemdikbud mulai tahun 2013 akan menyelenggarakan Pendidikan Menengah Universal 12 Tahun

Merupakan rintisan wajib belajar 12 tahun.


Untuk menjaring usia produktif di Indonesia. Bonus demografi untuk Indonesia pada tahun 2010 sampai dengan 2035. Artinya, sepanjang rentang tahun ini terdapat kumpulan peserta didik usia yang potensial dan produktif.

Distribusi Angka Putus Sekolah Tahun 2011: Penduduk Usia 7-18 Tahun
Usia 7-12
Sulawesi Barat Kepulauan Bangka Belitung Papua Barat Papua Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Tengah Kalimantan Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Utara Sumatera Selatan Nusa Tenggara Timur Sumatera Barat Nusa Tenggara Barat Kalimantan Selatan Riau Kalimantan Tengah Kepulauan Riau Lampung Maluku Utara Jambi Jawa Barat Bengkulu Maluku DKI Jakarta Sumatera Utara Jawa Tengah Banten Bali Jawa Timur Aceh Kalimantan Timur Dl Yogyakarta

Usia 13-15
5.23 Sulawesi Tengah 4.41 Sulawesi Utara 3.81 Sulawesi Tenggara 3.48 Nusa Tenggara Timur 3.41 Nusa Tenggara Barat 3.24 Gorontalo 3.04 Sulawesi Selatan 2.94 Kalimantan Barat 2.83 Sumatera Utara 2.68 Kalimantan Timur 2.67 Sumatera Selatan 2.64 Kepulauan Bangka Belitung 2.58 Jawa Timur 2.50 Maluku Utara 2.43 Jambi 2.28 Kalimantan Selatan 2.25 Sulawesi Barat 2.19 Sumatera Barat 2.19 Maluku 2.18 Papua 2.10 Lampung 2.03 Bengkulu 1.97 Riau 1.95 Kalimantan Tengati 1.94 Papua Barat 1.92 Jawa Tengah 1.82 Jawa Barat 1.53 DKI Jakarta 1.27 Bali 1.22 Rata-rata Aceh 0.62 Nasional: D1 Yogyakarta 0.34 2,21% Banten 0.32
Kepulauan Riau

Usia 16-18
6.58 6.11 5.57 4.96 4.92 4.84 4.66 4.62 4.55 4.09 3.83 3.81 3.44 3.41 3.39 3.28 3.26 3.20 3.14 3.07 3.03 3.02 3.02 2.90 2.54 2.41 2.37 2.30 2.20 1.76 Rata-rata 1.62 Nasional: 1.31 3,14% 0.69

2.37 Papua Barat 1.88 Sulawesi Utara 1.56 Gorontalo 1.36 Sulawesi Tengah 1.32 Sumatera Utara 1.26 Kepulauan Bangka Belitung 1.21 Kalimantan Selatan 1.19 Sulawesi Tenggara 1.12 Nusa Tenggara Timur 1.10 Lampung 1.06 Maluku Utara 1.00 Sumatera Barat 0.91 Jawa Barat 0.80 Papua 0.80 Sulawesi Selatan 0.72 Kalimantan Barat 0.70 Kalimantan Tengah 0.70 Bengkulu 0.68 Sumatera Selatan 0.67 Jawa Timur 0.65 Sulawesi Barat 0.63 Jambi 0.62 Nusa Tenggara Barat 0.56 Banten 0.56 Kalimantan Timur 0.55 DKI Jakarta 0.50 Maluku 0.45 Riau 0.39 Aceh 0.39 Rata-rata Jawa Tengah 0.38 Nasional: Bali 0.34 0,67% D1 Yogyakarta 0.00 Kepulauan Riau 0.00

0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50

1.00

2.00

3.00

4.00

5.00

6.00

(Persen)
Sumber: Diolah dari data BPS 2013

(Persen)

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00

(Persen)

Distribusi Angka Putus Sekolah Tahun 2011: Penduduk Usia 7-12 Tahun
% Putus Sekolah Jumlah Putus Sekolah Penduduk Usia 7-12
179.521 132.867 132.447 377.517 314.950 138.423 357.573 614.580 984.535 255.120 892.549 743.636 591.569 572.121 411.403 717.032 160.311 284.431 903.677 158.428 374.009 4.551.968 205.726 814.267 244.155 1.719.724 3.267.723 1.237.189 3.533.218 365.146 596.271 408.758 267.656 26.508.500

% Penduduk Miskin

Rata-rata Nasional: 0,67%

Nasional: 12,49%

Jumlah Putus Sekolah: 182.773 Siswa

(Persen)
Sumber: Diolah dari data BPS 2013

(Jumlah Siswa)

(Persen)

Distribusi Angka Putus Sekolah Tahun 2011: Penduduk Usia 13-15 Tahun
% Putus Sekolah Jumlah Putus Sekolah Penduduk Usia 13-15
60.923 120.833 62.577 168.141 772.385 57.273 201.678 142.857 330.520 450.199 78.488 254.986 2.338.516 139.220 471.205 271.827 139.098 101.811 419.244 1.730.882 77.710 166.016 254.061 576.333 186.842 347.100 105.656 286.403 271.466 1.723.343 171.191 131.839 62.116

% Penduduk Miskin

Rata-rata Nasional: 2,21%

Nasional: 12,49%

Jumlah Putus Sekolah: 209.976 Siswa

12.672.739

(Persen)
Sumber: Diolah dari data BPS 2013

(Jumlah Siswa)

(Persen)

Distribusi Angka Putus Sekolah Tahun 2011: Penduduk Usia 16-18 Tahun
% Putus Sekolah Jumlah Putus Sekolah Penduduk Usia 16-18
154.100 119.700 133.000 310.500 272.500 61.700 465.900 271.000 833.500 187.400 414.300 58.800 1.771.700 69.500 171.700 206.400 61.400 297.400 94.700 133.600 450.300 92.100 276.900 116.100 67.900 1.675.200 2.155.200 481.500 156.800 268.500 146.700 573.100 79.500

% Penduduk Miskin

Rata-rata Nasional: 3,14%

Nasional: 12,49%

Jumlah Putus Sekolah: 223.676 Siswa

12.628.600

(Persen)
Sumber: Diolah dari data BPS 2013

(Jumlah Siswa)

(Persen)

PENDIDIKAN MENENGAH UNIVERSAL Click to edit Master title style Pendidikan Menengah Universal memiliki konsekuensi penambahan fasilitas pendidikan untuk jenjang pendidikan sekolah menengah atas (SMA), SMK, dan sederajat.

Membangun 12 ribu ruang kelas baru.


Komposisi penambahan SMK dan SMA yang sekarang ini berjumlah 49 persen dan 51 persen. Program Pendidikan Menengah Universal juga memiliki konsekuensi dalam jumlah guru yang mengajar.

PENDIDIKAN MENENGAH UNIVERSAL Click to edit Master title style

Mendikbud mencanangkan program wajib belajar 12 tahun mulai 2013.


Menteri Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono juga menyatakan sudah ada 13 provinsi yang siap melaksanakan wajib belajar 12 tahun ini.

PENDIDIKAN MENENGAH UNIVERSAL Click to edit Master title style

Provinsi Jawa barat telah melakukan MoU untuk pelaksanaan Pendidikan Menengah Universal
Tindak lanjut :

Program SMA Terbuka di tiap Kabupaten/Kota pada SMP terbuka yang ada
Penambahan Ruang Kelas Baru Pengkatan Bantuan Siswa Miskin

Click to edit Master title style

Tujuan Pendidikan Nasional


(Pasal 3 UU No 20 Sisdiknas Tahun 2003) Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sikap Spiritual Sikap Sosial Pengetahuan Keterampilan beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

berakhlak mulia, sehat, mandiri, dan demokratis serta bertanggung jawab berilmu cakap dan kreatif
11

Keterkaitan Kompetensi Lulusan antar Jenjang Pendidikan


Proses Perumusan

Kelas IIII Kelas IIII

KI KI KL

Kelas IV Kelas IV

KI KI KL

SMA/K/MA

Kelas V Kelas V

KI KI KL

Kelas VI Kelas VI

KI KI KL

PT/PTA

Tujuan Pendidikan Nasional

SMP/MTs

SD/MI
Proses Pembentukan

Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata Himpunan Pelajaran Kompetensi Inti Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata Pelajaran Dasar Himpunan Kompetensi Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata MataPelajaran Pelajaran

KL : Kompetensi Lulusan

13

Keterkaitan antara Kompetensi Lulusan, Kompetensi Dasar dan Matapelajaran untuk SD


Proses Perumusan

KI KI KI Kelas I KI Kelas I Kelas I

KI KI KI Kelas IIKI Kelas II

KI KI KI Kelas IIII KI Kelas IIII Kelas IIII

KI KI KI Kelas IV KI Kelas IV Kelas IV

KI KI KI Kelas VKI Kelas V Kelas V

KI KI KI Kelas VI KI Kelas VI Kelas VI

Kelas VI

Kelas V

Kompetensi Kompetensi Lulusan Lulusan Kompetensi Lulusan


Proses Pembentukan

Kelas IV

Kelas II Kelas II

Kelas IIII

Kelas I

Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata Pelajaran Dasar Himpunan Kompetensi Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata Pelajaran Mata MataPelajaran Pelajaran

.. Kurikulum 2013 menekankan pentingnya penguatan kompetensi sikap (spiritual dan sosial) lulusan ... .... memanusiakan manusia ....

KI : Kompetensi Inti

14

Strategi Peningkatan Kinerja Pendidikan

Efektivitas Pembelajaran (Kurikulum, Guru,..)

Dikdas-Wajar 9 th

Lama Sekolah Periode 1994-2012

Dikmen-PMU
Mulai 2013 15

PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013


TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL

4. Penyesuaian Beban

3. Penguatan Proses

KBK 2004 KTSP 2006

2. Pendalaman dan Perluasan Materi 1. Penataan Pola Pikir dan Tata Kelola

KURIKULUM 2013

TANTANGAN INTERNAL DAN EKSTERNAL

16

Pengembangan Pendidikan Mengacu Pada 8 Standar (PP 19/2005)


[Setiap standar memiliki: Tantangan, Persoalan, dan Solusi masing-masing]

Kurikulum 2013

Sedang Dikerjakan Telah dan terus Dikerjakan


STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

-Peningkatan Kualifikasi & Sertifikasi -Pembayaran Tunjangan Sertifikasi -Uji Kompetensi dan Pengukuran Kinerja

STANDAR PEMBIAYAAN

-Rehab Gedung Sekolah -Penyediaan Lab dan Perpustakaan -Penyediaan Buku

-BOS -Bantuan Siswa Miskin -BOPTN/Bidik Misi (di PT)

Manajemen Berbasis Sekolah


17

Bonus Demografi Sebagai Modal Indonesia 2045


"Bonus Demografi" 100 tahun kemerdekaan

SDM Usia Produktif Melimpah

Kompeten

Modal Pembangunan Beban Pembangunan

Transformasi Melalui Pendidikan Tidak Kompeten

-Kurikulum - PTK -Sarpras -Pendanaan -Pengelolaan


18

Tantangan Pengembangan Kurikulum


Tantangan Masa Depan
Globalisasi: WTO, ASEAN Community, APEC, CAFTA Masalah lingkungan hidup Kemajuan teknologi informasi Konvergensi ilmu dan teknologi Ekonomi berbasis pengetahuan Kebangkitan industri kreatif dan budaya Pergeseran kekuatan ekonomi dunia Pengaruh dan imbas teknosains Mutu, investasi dan transformasi pada sektor pendidikan Materi TIMSS dan PISA

Kompetensi Masa Depan


Kemampuan berkomunikasi Kemampuan berpikir jernih dan kritis Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan Kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab Kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal Memiliki minat luas dalam kehidupan Memiliki kesiapan untuk bekerja Memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya Memiliki rasa tanggungjawab terhadap lingkungan

Persepsi Masyarakat
Terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif Beban siswa terlalu berat Kurang bermuatan karakter

Fenomena Negatif yang Mengemuka


Perkelahian pelajar Narkoba Korupsi Plagiarisme Kecurangan dalam Ujian (Contek, Kerpek..) Gejolak masyarakat (social unrest) 19

Perkembangan Pengetahuan dan Pedagogi


Neurologi Psikologi Observation based [discovery] learning dan Collaborative learning

Dinamika Kurikulum
Pedagogi, Psikologi
Perkembangan Perubahan Kebutuhan
Pengetahuan Keterampilan Sikap

Akademik Industri Sosial-Budaya

Pengembangan Kurikulum

SDM yang Kompeten


Pengetahuan Keterampilan Sikap

20

Perkembangan Kurikulum di Indonesia


1947 Rencana Pelajaran Dirinci dalam Rencana Pelajaran Terurai 1968 Kurikulum Sekolah Dasar

1975 Kurikulum Sekolah Dasar


1994 Kurikulum 1994

2004 Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)


2013

Kurikulum 2013

1945

1955

1965

1975

1985

1995

2005

2015 2006 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

1984 Kurikulum 1984 1973 Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP)

1964 Rencana Pendidikan Sekolah Dasar

1997 Revisi Kurikulum 1994

21

Kerangka Kompetensi Abad 21


Sumber: 21st Century Skills, Education, Competitiveness. Partnership for 21st Century, 2008
Kehidupan dan Karir Fleksibel dan adaptif Berinisiatif dan mandiri Keterampilan sosial dan budaya Produktif dan akuntabel Kepemimpinan&tanggung jawab
Pembelajaran dan Inovasi Kreatif dan inovasi Berfikir kritis menyelesaikan masalah Komunikasi dan kolaborasi

Informasi, Media and Teknologi Melek informasi Melek Media Melek TIK

Kerangka ini menunjukkan bahwa berpengetahuan [melalui core subjects] saja tidak cukup, harus dilengkapi: -Berkemampuan kreatif - kritis -Berkarakter kuat [bertanggung jawab, sosial, toleran, produktif, adaptif,...] Disamping itu didukung dengan kemampuan memanfaatkan informasi dan berkomunikasi

Partnership: Perusahaan, Asosiasi Pendidikan, Yayasan,...

22

Kerangka Kompetensi Abad 21


Sumber: 21st Century Skills, Education, Competitiveness. Partnership for 21st Century, 2008
Mendukung Keseimbangan penilaian: tes satandar serta penilaian normatif dan sumatif Menekankan pada pemanfaatan umpan balik berdasarkan kinerja peserta didik Membolehkan pengembangan portofolio siswa

Perlunya mempersiapkan proses penilaian yang tidak hanya tes saja, tetapi dilengkapi dengan penilaian lain termasuk portofolio siswa. Disamping itu dierlukan dukungan lingkungan pendidikan yang memadai

Menciptakan latihan pembe-lajaran, dukungan SDM dan infrastruktur Memungkinkan pendidik untuk berkolaborasi, berbagi pengala-man dan integrasinya di kelas Memungkinkan peserta didik untuk belajar yang relevan dengan konteks dunia Mendukung perluasan keterlibatan komunitas dalam pembelajaran, baik langsung maupun online

23

Proses Pembelajaran yang Mendukung Kreativitas


Dyers, J.H. et al [2011], Innovators DNA, Harvard Bus. Review: 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, 1/3 sisanya berasal dari genetik. Kebalikannya berlaku untuk kemampuan intelijensia yaitu: 1/3 dari pendidikan, 2/3 sisanya dari genetik. Kemampuan kreativitas diperoleh melalui:
Observing [mengamati] Questioning [menanya] Personal Associating [menalar] Experimenting [mencoba] Networking [Membentuk jejaring]

Inter-personal

Perlunya merumuskan kurikulum yang mengedepankan pengalaman personal melalui proses mengamati, menanya, menalar, dan mencoba [observation based learning] untuk meningkatkan kreativitas peserta didik. Disamping itu, dibiasakan bagi peserta didik untuk bekerja dalam jejaringan melalui collaborative learning 24

24

Proses Penilaian yang Mendukung Kreativitas


Sharp, C. 2004. Developing young childrens creativity: what can we learn from research?:
Guru dapat membuat peserta didik berani berperilaku kreatif melalui: tugas yang tidak hanya memiliki satu jawaban tertentu yang benar [banyak/semua jawaban benar], mentolerir jawaban yang nyeleneh, menekankan pada proses bukan hanya hasil saja, memberanikan peserta didik untuk mencoba, untuk menentukan sendiri yang kurang jelas/lengkap informasinya, untuk memiliki interpretasi sendiri terkait dengan pengetahuan atau kejadian yang diamatinya memberikan keseimbangan antara yang terstruktur dan yang spontan/ekspresif

Perlunya merumuskan kurikulum yang mencakup standar penilaian yang mencakup pertanyaan yang tidak memiliki jawaban tunggal, memberi nilai bagi jawaban nyeleneh, menilai proses pengerjaannya bukan hanya hasilnya, penilaian spontanitas/ekspresif,25 dll
25

Membentuk Kemampuan Pikir Order Tinggi Sejak Dini


Center on the Developing Child, Harvard University [2011]. Building the Brain ATC System: How Early Experiences Shape the Development of Executive Function.
Arsitektur otak dibentuk berdasarkan lapisan-lapisan yang berisi jaringan-jaringan neuron yang terkait satu sama lain Jejaringan tersebut terbentuk mulai masih anak-anak, walaupun masih berkembang sampai umur 30 tahun tetapi penambahannya tidak secepat pada saat anak-anak Kompleksitas jaringan tersebut menentukan tingkat kemampuan berfikir seseorang [low order of thinking skills untuk pekerjaan rutin sampai high order of thinking skills untuk pekerjaan pengambilan keputusan eksekutif ] Untuk itu diperlukan sistem pembelajaran yang dapat membangun kemampuan high order thinking skill tersebut [melalui mencari tahu bukan diberi tahu] sejak dini melalui pemberian kebebasan untuk menentukan apa yang harus dilakukan

Perlunya merumuskan kurikulum yang mengedepankan proses mengamati, menanya, menalar, menyimpulkan sampai memutuskan sehingga peserta didik sejak kecil sudah terlatih dalam berfikir tingkat tinggi yang nantinya diperlukan untuk pengambilan 26 keputusan

26

RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM Click to edit Master title style


PERUBAHAN POLA PIKIR

berpusat pada guru


satu arah (interaksi gurupeserta didik) terisolasi

pembelajaran berpusat pada peserta didik


pembelajaran interaktif (interaktif guru-peserta didik-masyarakat-lingkungan alam, sumber/media lainnya) jejaring (peserta didik dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh melalui internet)

pasif

aktif-mencari (pembelajaran siswa aktif mencari semakin diperkuat dengan model pembelajaran pendekatan sains)

RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM Click to edit Master title style


PERUBAHAN POLA PIKIR

belajar sendiri belajar kelompok (berbasis tim) pembelajaran alat tunggal pembelajaran berbasis alat multimedia
pembelajaran berbasis massal kebutuhan pelanggan (users) dengan memperkuat pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta didik pembelajaran ilmu pengetahuan jamak (multidisciplines) pembelajaran kritis

pembelajaran ilmu pengetahuan tunggal (monodiscipline) pembelajaran pasif

100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0%

Click to edit Master title style


Matematika
100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0%

REFLEKSI HASIL PISA 2009

Level 6
Level 5 Level 4 Level 3 Level 2 Level 1

IPA

Below Level 1

100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0%

Level 6 Level 5 Level 4

Bahasa

Level 3 Level 2 Level 1b Level 1a

Hampir semua siswa Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai level 3 saja, sementara negara lain banyak yang sampai level 4, 5, bahkan 6. Dengan keyakinan bahwa semua manusia diciptakan sama, interpretasi dari hasil ini hanya satu, yaitu: yang kita ajarkan berbeda dengan tuntutan zaman penyesuaian kurikulum

Click to edit Master title style


2007 2011
Very Low 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Turkey Malaysia Thailand Iran Japan Singapore Morocco Low Intermediate High Advance 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Turkey Malaysia Thailand Singapore Japan Iran Morocco Saudi Arabia Korea, Rep. of Chinese Taipei Very Low Low Intermediate High Advance

Results of Mathematics (8th Grade)

Lebih dari 95% siswa Indonesia hanya mampu sampai level menengah, sementara hampir 50% siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. Dengan keyakinan bahwa semua anak dilahirkan sama, kesimpulan dari hasil ini adalah yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan yang diujikan [yang distandarkan] internasional

Chinese Taipei

Korea, Rep. of

Saudi Arabia

Indonesia

Indonesia

th Grade) Results of Science(8 Click to edit Master title style

2007

2011

Very Low 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0%

Low

Intermediate

High

Advance 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0%

Very Low

Low

Intermediate

High

Advance

Turkey

Chinese Taipei

Chinese Taipei

Turkey

Iran

Singapore

Japan

Singapore

Morocco

Japan

Iran

Korea, Rep. of

Korea, Rep. of

Malaysia

Malaysia

Thailand

Thailand

Saudi Arabia

Lebih dari 95% siswa Indonesia hanya mampu sampai level menengah, sementara hampir 40% siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. Dengan keyakinan bahwa semua anak dilahirkan sama, kesimpulan dari hasil ini adalah yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan yang diujikan [yang distandarkan] internasional

Saudi Arabia

Indonesia

Indonesia

Morocco

Click to edit Master title 2011 style 2006


Very Low 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Chinese Taipei Iran Singapore Indonesia Morocco Low Intermediate High Advance 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Chinese Taipei Iran Very Low Low Intermediate High Advance

Results of Reading (4th Grade)

Saudi Arabia

Singapore

Indonesia

Lebih dari 95% siswa Indonesia hanya mampu sampai level menengah, sementara lebih dari 50% siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. Dengan keyakinan bahwa semua anak dilahirkan sama, kesimpulan dari hasil ini adalah yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan yang diujikan [yang distandarkan] internasional

Morocco

KARAKTERISTIK 2013 Click to edit KURIKULUM Master title style


1. mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik; 2. sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar; 3. mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat; 4. memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan;

KARAKTERISTIK 2013 Click to edit KURIKULUM Master title style


5. kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar matapelajaran; 6. kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi (organizing elements) kompetensi dasar, dimana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti; 7. kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar matapelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).

Click to edit Master title style