Anda di halaman 1dari 2

Kasihku Tak Seramah Jogjakarta

Liburan semester, ya memang surganya hari bagi para pelajar dimanapun. Tak terkecuali bagiku, apalagi di liburan semester kali ini ada sebuah janji dengan seorang perempuan untuk pergi ke kota bernama Jogja. Sebut saja namanya Ningrum, atau lebih akrab dipanggil Ening. Tak disengaja memang, namun dengan hari dan tujuan kami yang sama persis. Kami memutuskan untuk pergi bersama. Memang, jauh hari sebelumnya ku memendam rasa yang mungkin orangorang sebut dengan sebutan Cinta. Nyatanya, aku tak terlalu paham dengan untaian itu. Hari yang sudah kunantikan akhirnya datang juga, kendaraan travel sudah menunggu dengan gadis itu di dalamnya. Ku bergegas keluar dengan membawa peralatan yang sudah kusiapkan. Dia tersenyum sangat manis dan mempersilahkan ku duduk di sisinya. Kendaraan itupun melaju ke kota impian. Kami berusaha membunuh waktu dengan mengobrol kesana-kemari. Entahlah, seberapa penting tanya jawab itu tak kami hiraukan. Akrobat musik yang diputar cukup mengajak berkencan dengan dunia mimpi, asap debu seolah menari mengiringi. Tak terasa ku terbangunkan oleh suara lembut bangunlah, kita sudah sampai ucap gadis itu kepadaku sambil berusaha membangunkanku. Terik matahari masih tega mengutuk hari. Kita beranjak turun dari kendaraan tersebut dan berpisah untuk melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan masing-masing. Kedatanganku cukup mengejutkan kakek dan nenek karena bisa dikatakan sangat mendadak dan tanpa kabar terlebih dahulu. Tetapi mereka menyambutku dengan hangat. Sayangnya orang tuaku tidak dapat ikut untuk berkumpul. Namun semua itu tak mengubah kehangatan cinta kasih dari kakek maupun nenek. Sinar rembulan menyambutku di kota itu, tiba-tiba ku teringat gadis manis tadi siang. Ku ambil handphone dan ku kirim pesan singkat untuk mengajak gadis itu mengarungi ramahnya kota ini. Sempat ragu ku mengirim pesan itu, tetapi akhirnya dengan sedikit gemetar ku tekan tombol Send di handphone itu. Keringat dingin mengucur deras, menunggu jawaban yang tak kunjung berbicara. Setelah beberapa saat, ku dengar deringan handphone yang tak asing di telingaku. Benar saja, itu pesan darinya. Ku buka pesan itu, sempat bingung dan senang karena dia menyetujuinya. Kuhabiskan malam itu dengan fikiran yang berkecamuk. Tetapi akhirnya ku menyerah dengan dinginnya angin malam dan mengajakku berkutat dengan mimpi yang usang. Sinar fajar itu menerpa tubuhku melalui celah-celah jendela tua. Aku terbangun dari tempat tidur dan membersihkan diri. Setelah selesai dengan air, ku memilih untuk mengobrol dengan kakek di teras dengan suguhan seadanya. Tak terasa hampir pukul 10.00, aku pamit pada kakek untuk menemuinya seperti yang sudah kita sepakati kemarin malam. Kita bertemu di salah satu

KHAYYUS SALAM NADHIF _ 16

bioskop kenamaan di kota Jogja, karena kami terlalu siang. Maka antrian tiket terlalu panjang. Setelah menunggu beberapa jam tanpa hasil, kami memutuskan untuk membunuh rasa lapar dengan makanan di tempat makan terdekat. Selang beberapa saat setelah selesai makan, kami kembali ke loket untuk mendapatkan tiket film yang kami inginkan. Film itu memang cukup romantis, tetapi seleraku dalam seluk-beluk film memang buruk. Ingat waktu aku masih SMP, hanya karena menonton scooby-doo aku langsung tidak bisa tidur untuk beberapa hari karena sangat takut dengan hantu palsunya. Akhirnya kami masuk ruangan bioskop dan duduk bersebelahan, film pun diputar. Nampaknya ia sangat menikmati film itu. Ku tak peduli dengan film itu, seringkali ku memandang paras cantiknya tanpa ia sadari. Memang sungguh indah kau ini gumam ku dalam hati. Setelah film itu selesai, kami melanjutkan perjalanan kami menyusuri sudut-sudut kota. Hari sudah sore, kami memutuskan untuk pulang ke tempat masing-masing. Tidak lama setelah sampai di rumah kakek, aku mendapat kabar dari ayah untuk segera pulang. Dan aku pulang malam itu juga tanpa melayangkan secuil pesan kepada gadis itu. Waktu terus menerus bergulir, kini ku tak lagi mendengar kabar pasti darinya. Hanya sampah serapah dan kabar burung yang selalu datang. Kebahagiaan itu sangatlah singkat kurasa. Belum ada yang bisa mengobati kegalauan yang selalu hadir. Kabarnya, ia sekarang sudah memiliki kekasih hati. Entahlah, sampai kapan waktu menyiksaku seperti ini. Hanya satu yang kutahu, ku harus melanjutkan hidupku. Terimakasih Gadis pengajar cinta dan ikhlas dalam hidupku. Kau akan selalu hidup di dalam kenangan usang yang terbungkus oleh bingkisan kasih dan ku tulis dalam tinta rindu.

KHAYYUS SALAM NADHIF _ 16