Anda di halaman 1dari 3

STUDI STABILITAS DAN PENURUNAN OPRIT JEMBATAN TALLO MAKASSAR

Oleh Fitriana Sarifah NIM : 15008078 (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Program Studi Teknik Sipil) ABSTRAK Stabilitas dan penurunan oprit adalah salah satu permasalahan konstruksi di atas tanah lunak. Secara umum, permasalahan dalam rekayasa geoteknik adalah stabilitas lereng/kelongsoran, kapasitas daya dukung (bearing capacity), penurunan/settlement/heave yang tidak seragam, dan erosi. Permasalahan keruntuhan timbunan di atas tanah lunak disebabkan oleh daya dukung yang kecil dan penurunan berlebihan. Karakteristik tanah lempung lunak yaitu indeks plastisitas yang tinggi, daya dukung yang kecil, kompresibilitas yang tinggi, dan penurunan tanah yang besar. Kerusakan struktur di bawah timbunan akibat penurunan tanah di bawah struktur menyebabkan kerugian bagi berbagai pihak. Alternatif solusi kegagalan konstruksi akibat timbunan di atas lereng dengan material pembentuk tanah lunak adalah perbaikan tanah (Prefabricated Vertical Drain) atau perkuatan lereng/struktur (sheet pile atau deck on pile). Prinsip dasar alternatif solusi yaitu meningkatkan kekuatan geser tanah, mengurangi permeabilitas tanah, dan mengurangi kompresibilitas tanah. Selain itu, alternatif solusi memperhatikan biaya, waktu, gangguan terhadap bangunan dan aktivitas yang ada. Alternatif solusi yang digunakan adalah alternatif solusi yang aman dan efisien. Kata kunci : Stabilitas, Penurunan, Oprit, Sheet Pile, Deck on Pile, Prefabricated Vertical Drain PENDAHULUAN Tugas akhir ini akan membahas stabilitas dan penurunan oprit Jembatan Tallo Jalan Tol Seksi 4 Makassar di atas tanah lempung lunak jenuh. Permasalahan yang terjadi adalah penurunan lapisan tanah lempung lunak jenuh di bawah oprit Jembatan Tallo yang terbagi menjadi dua lokasi utama yaitu penurunan oprit tepat di batas jembatan (terjadi pada kedua ujung jembatan) dan penurunan oprit badan jalan (terjadi pada arah ke bandara). Selain itu, kondisi oprit jembatan yang berada di atas lereng harus dievaluasi kestabilan lerengnya. Adanya timbunan di atas lereng membuat keseimbangan awal yang ada menjadi berubah. Kriteria perencanaan lereng didasarkan pada suatu konsep keamanan lereng di mana lereng harus memiliki cadangan kekuatan untuk menahan seluruh beban rencana. Dengan memiliki konsep kestabilan lereng yang baik, keruntuhan lereng secara alami maupun kegagalan desain perkuatan lereng buatan yang mengakibatkan kerugian materil dan korban jiwa dapat dihindari. Permasalahan dalam rekayasa geoteknik seperti ini merupakan hal yang menarik untuk dibahas.

PARAMETER DAN METODE PERHITUNGAN Tahapan ideal yang harus dilakukan oleh seorang geotechnical engineer untuk bisa mendapatkan hasil perencanaan penanggulangan kelongsoran dengan optimal adalah (1) mendapatkan data topografi dari as built drawing sebagai sumber data topografi dan geometri eksisting lereng. (2) Mendapatkan data kondisi di lapangan untuk melihat indikasi kelongsoran secara visual (adanya crack di bagian atas lereng, adanya sembulan tanah dibagian kaki lereng, dll) atau mendapatkan data (monitoring) inclinometer atau untingunting untuk melihat indikasi kedalaman failure surface. (3) Mendapatkan data soil investigation untuk memperkirakan shear strength dari lapisan-lapisan tanah di lokasi kelongsoran dan untuk mendapatkan elevasi muka air tanah (mendapatkan profil tanah/stratigrafi tanah). (4) Melakukan analisis stabilitas kondisi awal dengan menggunakan shear strength dari data penyelidikan tanah sebagai acuan awal. Proses analisis stabilitas kondisi awal terus dilakukan dengan mengubah shear strength tanah agar mendapatkan failure surface sesuai yang terjadi di lapangan dan menghasilkan angka keamanan mendekati 1. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan nilai shear strength tanah yang sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan. (Cek analisis yang digunakan apakah total stress analysis atau effective stress analysis), dan (5) Melakukan analisis perkuatan lereng untuk menganggulangi kelongsoran lereng tersebut berdasarkan hasil analisis stabilitas kondisi awal. Analisis kondisi awal dan analisis perkuatan lereng dengan sheet pile menggunakan pemodelan PLAXIS yaitu pengecekan besarnya total displacements (kelongsoran yang terjadi), Factor Safety, dan bending moment yang terjadi pada tiang pancang. Syarat yang harus dipenuhi dalam

desain pondasi adalah bending moment yang terjadi pada tiang pancang kurang dari bending moment crack tiang pancang. Analisis hanya dilakukan pada tititk BH-3. Pada titik BH-3 profil tanah yang ada adalah lapisan very soft sandy clay pada kedalaman 0.00 m-1.40 m, very loose sand (1) pada kedalaman 1.40 m-3.00 m, very soft silty clay (1) pada kedalaman 3.00 m-5.75 m, very soft loose sand (2) pada kedalaman 5.75 m-8.86 m, very soft silty clay (2) pada kedalaman 8.86 m-12.30 m, dan sandstone pada kedalaman 12.30 m-18.00 m. Analisis perhitungan deck on pile adalah analisis daya dukung aksial tiang baik tiang tunggal maupun grup tiang. Perhitungan analisis daya dukung aksial dihitung manual dengan program excel. Perhitungan analisis daya dukung aksial tiang tunggal deck on pile berdasarkan N-SPT. Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis perhitungan penurunan konsolidasi adalah (1) menentukan tebal lapisan tanah yang mengalami konsolidasi, (2) analisis timbunan untuk mengetahui berapa tahap timbunan yang harus dilakukan dan berapa tinggi timbunan tersebut agar daya dukung akhir tanah setelah penimbunan lebih besar dari daya dukung tanah yang disyaratkan yaitu sebesar 100 kN/m2, (3) analisis besar penurunan konsolidasi metode Terzaghi, (4) analisis waktu penurunan konsolidasi Prefabricated vertical drain (PVD) digunakan untuk mempercepat waktu konsolidasi. PVD ini dipasang sepanjang tanah lempung lunak dari permukaan tanah. PVD dipasang di seluruh area dengan spasi tertentu sehingga konsolidasi arah horizontal yang terjadi lebih dominan dibandingkan dengan konsolidasi arah vertikal. Hal ini disebabkan oleh jarak konsolidasi arah horizontal lebih kecil dibandingkan dengan

jarak konsolidasi arah vertikal. Desain PVD diperlukan untuk mengetahui spasi PVD yang digunakan. Pemodelan Prefabricated Vertical Drain (PVD) dianalisis dengan metode elemen hingga dengan menggunakan PLAXIS 7.2. Pemodelan geometri dibuat hampir sama dengan kondisi di lapangan. Pemodelan tanah dengan PLAXIS 7.2 menggunakan model dua dimensi di mana deformasi yang terjadi adalah pada arah horizontal dan vertikal. Pemodelan tanah yang dilakukan adalah dengan PVD dan tanpa PVD. Pemodelan tanah dengan PVD dibandingkan tanpa PVD untuk mengevaluasi kinerja PVD yang didesain. Pemodelan PVD dengan menggunakan PLAXIS adalah pemodelan tanah di mana nilai koefisien permeabilitas vertikal untuk tanah lempung diganti dengan koefisien permeabilitas ekivalen (mengacu Chai et al) dan untuk tanah selain tanah lempung tidak diganti. ANALISA DAN KESIMPULAN Penyebab permasalahan yang terjadi adalah kombinasi dari stabilitas dan penurunan. Perkuatan lereng yang dilakukan untuk menanggulangi kelongsoran yang terjadi pada oprit jembatan Tallo adalah pemasangan sheet pile dan konstruksi deck on pile. Beban rencana yang dizinkan bekerja pada deck on pile berdasarkan kuat material beton bertulang lebih kecil dari beban rencana yang diizinkan bekerja pada deck on pile berdasarkan daya dukung aksial deck on pile maka penentuan beban rencana yang diizinkan berdasarkan kuat material beton bertulang.Perbaikan tanah yang dilakukan untuk menanggulangi penurunan tanah yang terjadi adalah pemasangan Prefabricated Vertical Drain (PVD). Prefabricated Vertical Drain (PVD) adalah perbaikan tanah untuk mempercepat proses konsolidasi di mana besar penurunan tanah

adalah tetap. Besarnya penurunan tanah dengan PVD lebih kecil adalah karena adanya gain strength akibat penimbunan yang dilakukan dalam beberapa tahap. Nilai Factor Safety pada akhir konstruksi timbunan menjadi lebih kecil dibandingkan kondisi awal sebelum ada timbunan. Pada akhir konstruksi, timbunan mengakibatkan kelebihan tekanan air pori sehingga faktor keamanan akan minimum. Ketika kelebihan tekanan air pori perlahan-lahan berkurang maka tegangan efektif, kekuatan, dan faktor keamanan akan meningkat. Kondisi seperti ini adalah contoh kasus stabilitas jangka pendek di mana faktor keamanan minimum di akhir konstruksi. Solusi yang terbaik untuk mengatasi kelongsoran yang terjadi pada tanah oprit Jembatan Tallo adalah pemasangan sheet pile.

REFRENSI
Abramson, Lee W., et al (2002). Slope Stability and Stabilization Methods. New York: John Wiley & Sons. Bowles (2002), Joseph. E. Foundation Analysis and Design. Singapore: McGraw Hill. Chai, Jin-Chun, et al. (2001). Simple method of modelling PVD-improved subsoil. Journal of Geotechnical and Geoenviromental Engineering, 965-972. Das, Braja M. (2002). Principles of Geotechnical Engineering. Canada: Thomson Learning. Das, Braja M. (2007). Principles of Foundation Engineering. Canada: Thomson Learning. Indraratna, B., et al. (2003). Modelling of prefabricated vertical drain in soft clay and evaluation of their effectiveness in practice. Ground Improvement, 127137. PLAXIS. (2011). PLAXIS 2011 Versi Manual. Stapelfeldt, T. (2006). Preloading and vertical drains. Helsinki University, 1-27.