Anda di halaman 1dari 40

Pasang Surut Air Laut, Erosi dan Sedimentasi, dan Hidrometeorologi

Ketua Anggota

: Rini Astuti : Arya Sanjaya Parsi Sahara Dodi Riyanto Agus Prasetyo Robi Iswanto Sedi W. P Elly Sridayanti Ebitno Ibrahim Sanusi Harun Al Rasyid

: 10.51.12263 : 10.51.12134 : 11.51.13161 : 10.51.11885 : 11.51.12446 : 10.51.11945 : 11.51.13268 : 10.51.12133 : 10.51.12261 : 11.51.13336 : 10.51.12276

Defenisi: 1. Menurut Pariwono (1989), fenomena pasang surut diartikan sebagai naik turunnya muka laut secara berkala akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama matahari dan bulan terhadap massa air di bumi. 2. Menurut Dronkers (1964) pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil.

3. Menurut Bambang (2006) pasang surut adalah fluktuasi muka air laut sebagai fungsi waktu karena adanya gaya tarik benda-benda di langit, terutama matahari dan bulan terhadap massa air laut dibumi. 4. Menurut perpustakaan digital Institut Teknologi Bandung pasang surut air laut adalah suatu gejala fisik yang selalu berulang dengan periode tertentu dan pengaruhnya dapat dirasakan sampai jauh masuk ke arah hulu dari muara sungai. Pasang surut terjadi karena adanya gerakan dari benda benda angkasa yaitu rotasi bumi pada sumbunya, peredaran bulan mengelilingi bumi dan peredaran bulan mengelilingi matahari.

Gaya Tarik Bulan 2. Gaya Tarik Matahari 3. Gaya Sentrifugal Bumi


1.

Pasang Purnama ( Spring Tide) terjadi bila kedudukan matahari bulan bumi atau matahari bumi bulan berada pada satu garis lurus. Hal ini terjadi pada waktu bulan baru dan bulan purnama. Sebaiknya pada waktu bulan sedang dalam posisi perempat pertama (tanggal 7-8) dan perempat ke tiga (tanggal 22-23), kedudukan bulan-bumi-matahari membentuk sudut 900 yang berarti gaya tarik bulan dan matahari ke arah yang berlainan maka akan terjadi selisih pasang naik dan pasang surut yang kecil yang disebut pasang perbani (neap tide).

1. Teori Kesetimbangan (Equilibrium Theory) Teori kesetimbangan pertama kali diperkenalkan oleh Sir Isaac Newton (1642-1727). Teori ini menerangkan sifat-sifat pasut secara kualitatif. Teori terjadi pada bumi ideal yang seluruh permukaannya ditutupi oleh air dan pengaruh kelembaman (Inertia) diabaikan. Teori ini menyatakan bahwa naikturunnya permukaan laut sebanding dengan gaya pembangkit pasang surut (King, 1966).

Pond dan Pickard (1978) menyatakan bahwa dalam teori ini lautan yang homogen masih diasumsikan menutupi seluruh bumi pada kedalaman yang konstan, tetapi gaya-gaya tarik periodik dapat membangkitkan gelombang dengan periode sesuai dengan konstituen-konstituennya. Menurut teori dinamis, gaya pembangkit pasut menghasilkan gelombang pasut (tide wave) yang periodenya sebanding dengan gaya pembangkit pasut. Karena terbentuknya gelombang, maka terdapat faktor lain yang perlu diperhitungkan selain GPP. Menurut Defant (1958), faktor-faktor tersebut adalah : Kedalaman perairan dan luas perairan Pengaruh rotasi bumi (gaya Coriolis) Gesekan dasar

a. Pasang Surut Harian Ganda (Semi Diurnal Tide)

Dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut dengan tinggi yang hampir sama dan pasang surut terjadi secara berurutan secara teratur. Periode pasang surut rata-rata adalah 12 jam 24 menit. Pasang surut jenis ini terdapat diselat Malaka sampai laut Andaman. b. Pasang surut harian tunggal (Diurnal Tide) Dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut. Periode pasang surut adalah 24 jam 50 menit. Pasang surut tipe ini terjadi di perairan selat Karimata.

c.Pasang surut campuran condong keharian ganda(Mixed Tide Prevalling Semidiurnal) Dalam satu hari terjadi dua kali pasang san dua kali surut tetapi tinggi dan periodanya berbeda. Pasang surut jenis ini terdapat di perairan Indonesia Timur. d. Pasang surut campuran condong ke harian tunggal (Mixed Tide Prevalling Diurnal) Pada tipe ini dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan dua kali air surut, tetapi kadang-kadang untuk sementara waktu terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi dan perioda yang berbeda.pasang surut ini terdapat di selat Kalimantan dan pantai utara Jawa Barat (Triatmodjo, 1999).

1.Tide Staff. Alat ini berupa papan yang telah diberi skala dalam meter atau centi meter. Biasanya digunakan pada pengukuran pasang surut di lapangan.Tide Staff (papan Pasut) merupakan alat pengukur pasut paling sederhana yang umumnya digunakan untuk mengamati ketinggian muka laut atau tinggi gelombang air laut. Bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kayu, alumunium atau bahan lain yang di cat anti karat. 2.Tide gauge. Merupakan perangkat untuk mengukur perubahan muka laut secara mekanik dan otomatis. Alat ini memiliki sensor yang dapat mengukur ketinggian permukaan air laut yang kemudian direkam ke dalam komputer.

Tide gauge terdiri dari dua jenis yaitu : Floating tide gauge (self registering) Prinsip kerja alat ini berdasarkan naik turunnya permukaan yang dapat diketahui melalui pelampung yang dihubungkan alat pencatat (recording unit). Pengamatan pasut dengan banyak dilakukan, namun yang lebih banyak dipakai adalah cara rambu pasut.

air laut dengan alat ini dengan

Pressure tide gauge (self registering) Prinsip kerja pressure tide gauge hampir sama dengan floating tide gauge, namun perubahan naik-turunnya air laut direkam melalui perubahan tekanan pada dasar laut yang dihubungkan dengan alat pencatat (recording unit). Alat ini dipasang sedemikian rupa sehingga selalu berada di bawah permukaan air laut tersurut, namun alat ini jarang sekali dipakai untuk pengamatan pasang surut.

3.Satelit. Sistem satelit altimetri berkembang sejak tahun 1975 saat diluncurkannya sistem satelit Geos-3. Pada saat ini secara umum sistem satelit altimetri mempunyai tiga objektif ilmiah jangka panjang yaitu mengamati sirkulasi lautan global, memantau volume dari lempengan es kutub, dan mengamati perubahan muka laut rata-rata (MSL) global. Prinsip Dasar Satelit Altimetri adalah satelit altimetri dilengkapi dengan pemancar pulsa radar (transmiter), penerima pulsa radar yang sensitif (receiver), serta jam berakurasi tinggi.

Defenisi Erosi Erosi adalah terangkatnya lapisan tanah atau sedimen karena stress yang yang ditimbulkan oleh gerakan angin atau air pada permukaan tanah atau dasar perairan. Erosi yang terjadi dipengaruhi oleh faktor alam secara alami maupun oleh adanya tindakan dari manusia yang berusaha untuk mengolah tanah dan lingkungan demi kepentingannya (Ahmad Basyar dkk,2006:2). Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain di bawah pengaruh gravitasi, atau oleh makhluk hidup semisal hewan yang membuat liang, dalam hal ini disebut bio-erosi. Erosi tidak sama dengan pelapukan akibat cuaca, yang mana merupakan proses penghancuran mineral batuan dengan proses kimiawi maupun fisik, atau gabungan keduanya. (wikipedia, ensiklopedia)

Erosi adalah suatu proses atau peristiwa hilangnya lapisan permukaan tanahatas, baik disebabkan oleh pergerakan air maupun angin (Suripin, 2004). Erosi merupakan tiga proses yang berurutan, yaitu pelepasan (detachment) dimana terjadi pelepasan batuan dari massa induknya; pengangkutan (transportation) dimana terjadi pemindahan batuan yang terkikis dari suatu tempat ke tempat lain dan pengendapan (deposition), dimana terjadi pengendapan massa batuan yang terkikis oleh penyebab erosi (Asdak, 1995).

Faktor Penyebab Erosi adalah: 1. Iklim 2. Tanah 3. Topografi 4. Tanaman Penutup Tanah ( vegetasi ) 5. Manusia

Erosi pantai atau sering juga disebut abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipacu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai tersebut. Walaupun abrasi bisa disebabkan oleh gejala alami, namun manusia sering disebut sebagai penyebab utama abrasi. Abrasi dapat terjadi karena dua faktor, yaitu faktor alam dan faktor manusia. Proses terjadinya abrasi karena faktor alam disebabkan oleh angin yang bertiup di atas lautan yang menimbulkan gelombang dan arus laut sehingga mempunyai kekuatan untuk mengikis daerah pantai. Gelombang yang tiba di pantai dapat menggetarkan tanah atau batuan yang lama kelamaan akan terlepas dari daratan. Selain faktor alam, abrasi juga disebabkan oleh faktor manusia, misalnya penambangan pasir. Penambangan pasir sangat berperan banyak terhadap abrasi pantai, baik di daerah tempat penambangan pasir maupun di daerah sekitarnya karena terkurasnya pasir laut akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan dan arah arus laut yang menghantam pantai

1. Kekerasan batuan, semakin keras jenis batuan yang ada di pantai, semakin tahan terhadap erosi. 2. Gelombang laut, semakin besar gelombang yang bergerak ke arah pantai, semakin besar kemungkinannya untuk mengerosi wilayah pantai. 3. Kedalaman laut di muka pantai, jika laut yang terletak di muka pantai merupakan laut dalam, gelombang laut yang terjadi lebih besar dibandingkan dengan laut yang dangkal, sehingga kekuatan erosi akan lebih besar. 4. Jumlah material yang dibawa gelombang terutama kerikil dan pasir, semakin banyak material yang diangkut semakin kuat daya abrasinya.

1. Di wilayah pantai ProvinsiBengkulu

Wilayah pesisir Kota Bengkulu berada di bagian barat pulau Sumatera, yang berhadapan Iangsung dengan Samudera Indonesia. Keberadaan ini menyebabkan Pantai Kota Bengkulu banyak menerima limpasanlimpasan gelombang baik berupa gelombang karena angin, gelombang karena fluktuasi muka air laut dan arus yang menyusur pantai

2. Pesisir Pantai wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Di daerah pesisir pantai wilayah kabupaten Indramayu juga pernah mengalami abrasi. Abrasi yang terjadi mampu menenggelamkan daratan antara 2 hingga 10 meter pertahun dan sekarang dari panjang pantai 114 kilometer telah tergerus 50 kilometer. Dari 10 kecamatan yang memiliki kawasan pantai, hanya satu wilayah kecamatan yakni kecamatan Centigi yang hampir tidak memiliki persoalan abrasi. Hal ini karena di wilayah kecamatan Centigi kawasan hutan mangrove yang ada masih mampu melindungi kawasan pantai dari abrasi sehingga tidak terlalu merusak kawasan pesisir.

3. Pantai Pelabuhan Ratu, Jawa Barat

Di daerah ini terjadi abrasi lantaran kuatnya empasan gelombang laut selatan dan pengrusakan ekosistem di daerah pesisir tersebut. Untuk itu, pemerintah daerah setempat tengah membangun alat penahan ombak sebagai bagian dari penataan kawasan pesisir.

Dampak Erosi Pantai Terhadap Daerah Pesisir Pantai, Pemukiman Penduduk dan Masyarakatnya Abrasi yang merupakan salah satu hasil dari kerusakan di lam memiliki dampak negatif yaitu antara lain: a. Penyusutan lebar pantai sehingga menyempitnya lahan bagi penduduk yang tinggal di pinggir pantai b. Kerusakan hutan bakau di sepanjang pantai, karena terpaan ombak yang didorong angin kencang begitu besar. c. Kehilangan tempat berkumpulnya ikan ikan perairan pantai karena terkikisnya hutan bakau

Peranan Pelestarian Hutan Bakau Sebagai Pencegahan Atau Pengurangan Terjadinya Erosi Pantai (Abrasi) Ada beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya abrasi, diantaranya yaitu: 1. Penanaman kembali hutan bakau 2. Pelarangan penggalian pasir pantai 3. Pembuatan pemecah gelombang 4. Pelestarian terumbu karang

Defenisi Sedimentasi Beberapa definisi dari sedimentasi adalah: Sedimentasi adalah proses pengendapan material hasil erosi air, angin, gelombang laut dan gletsyer. Material hasil erosi yang diangkut oleh aliran air akan diendapakan di daerah yang lebih rendah. Sedimentasi dapat didefinisikan sebagai pengangkutan, melayangnya(suspensi) atau mengendapnya material fragmentasi oleh air. Sedimentasimerupakan akibat adanya erosi, dan memberi banyak dampak di sungai, saluran,waduk, bendungan atau pintu-pintu air, dan di sepanjang sungai (Soemarto, 1995).

Proses sedimentasi meliputi proses erosi, angkutan (transportasi), pengendapan (deposition), dan pemadatan (compaction) dari sedimen itu sendiri. Dimana proses ini berjalan sangat kompleks, dimulai dari jatuhnya hujan yang menghasilkan energi kinetik yang merupakan permulaan dari proses erosi. Begitu tanah mnjadi partikel halus lalu menggelinding bersama aliran, sebagian tertinggal di atas tanah sedangkan bagian lainnya masuk ke sungai terbawa aliran menjadi angkutan sedimen (Soewarno, 1991). Sedimen yang sering dijumpai di dalam sungai, baik terlarut atau tidak terlarut, adalah merupakan produk dari pelapukan batuan induk yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama perubahan iklim. Hasil pelapukan batuan induk tersebut kita kenal sebagai partikel-partikel tanah. Pengaruh tenaga kinetis air hujan dan aliran air permukaan (untuk kasus di daerah tropis), partikel-partikel tanah tersebut dapat terkelupas dan terangkut ke tempat yang lebih rendah untuk kemudian masuk ke dalam sungai dan dikenal sebagai sedimen. Oleh adanya transpor sedimen dari tempat yang lebih tinggi ke daerah hilir dapat menyebabkan pendangkalan waduk, sungai, saluran irigasi, dan terbentuknya tanah-tanah baru di pinggir-pinggir sungai (Asdak, 2007).

Di pantai terjadi pergerakan sedimen atau lebih dikena dengan transport sedimen pantai. Menurut Bambang Triatmojo (1999) definisi dari transpor sedimen pantai adalah gerakan sedimen di daerah pantai yang disebabkan oleh gelombang dan arus yang dibangkitkannya. Di kawasan pantai terdapat dua arah transport sedimen. Yang pertama adalah pergerakan sedimen tegak lurus pantai (cross-shore transport) atau boleh juga disebut dengan pergerakan sedimen menuju dan meninggalkan pantai (onshore-offshore transport). Yang kedua, pergerakan sedimen sepanjang pantai atau sejajar pantai yang biasa diistilahkan dengan longshore transport. Menurut Bambang Triatmodjo (1999), gerak air di dekat dasar akan menimbulkan tegangan geser pada sedimen dasar. Bila nilai tegangan geser dasar lebih besar dari pada tegangan kritis erosinya, maka partikel sedimen akan bergerak. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa variabelvariabel yang mempengaruhi pergerakan sedimen pantai antara lain: diameter sedimen, rapat massa sedimen, porositas, dan kecepatan arus atau gaya yang ditimbulkan oleh aliran air.

Transpor sedimen di perairan umumnya terdiri dari 3 mekanisme, yaitu suspended load, bed load dan dissolved load. Suspended load mekanisme transpor dimana partikel tersebut dibawa bersama-sama dengan air secara keseluruhan, ukuran partikel bergantung dari kepadatan mereka dan kecepatan arus, dimana kecepatan arus yang lebih tinggi dapat membawa lebih besar dan partikel yang lebih padat. Bed load merupakan mekanisme transpor dimana partikel yang lebih kasar dan padat bergerak sepanjang dasar perairan baik secara menggelinding, bergeser maupun meloncat-loncat karena pengaruh tumbukan diantara partikel dan turbulensi tetapi selalu kembali ke dasar. Mekanisme transpor dapat berubah dari suspended loadmenjadi bed loaddan sebaliknya karena adanya perubahan kecepatan aliran. Dissolve load dimana berbagai ion masuk ke perairan melalui proses weathering, mekanisme transpor ini tidak terlihat (invisible) dimana ion-ion tersebut larut di dalam air. Dissolve loadsebagian besar terdiri dari HCO-3(ion bikarbonat), Ca+2, SO4-2, Cl-, Na+, Mg+2, dan K+. Ion ini akhirnya terbawa ke lautan dan umumnya menyusun kadungan garam di lautan.

Defenisi Hidrometeorologi Hidrometeorologi (Hydrometeorology) adalah ilmu yang khusus mempelajari problema-problema yang ada diantara hidrologi dan meteorologi. Yang menjadi fokus dalam cabang ilmu ini adalah perpindahan air dan energi antara permukaan daratan bumi dan atmosfer paling bawah bumi. Proses alam ini terus dipantau oleh badan yang bekerja dan memfokuskan diri pada bidang ini, seperti UNESCO, salah satu organisasi di bawah naungan PBB, yang memiliki banyak program dan aktivitas yang berhadapan langsung dengan bencana alam yang disebabkan oleh hidrometeorologi dan efek yang ditimbulkannya. Diantara bencana yang termasuk bencana hidrometeoroogi ini adalah banjir, badai tropis, dan bencana kekeringan

Penelitian karakteristik hidrometeoroogi merupakan satu kajian yang menarik pada beberapa tahun terakhir ini. Hasil dari sejumlah penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada beberapa karakteristik penting pada komponen hidrometeorologi, yaitu: - persistensi, - variabilitas - kecenderungan, - probabilitas nilai ekstrim, - sifat fraktal, - periode ulang - dan sensitivitas

Karakteristik hidrometeorologi di suatu wilayah sangat spesifik seperti ditunjukkan oleh hasil penelitian yang dilakukan di beberapa tempat, misalnya di kontinental Asia Selatan (Coe,1994), kontinental Amerika Serikat (Roads et al.,1994), daerah tropis (Fan, 2003), wiayah Tien Shan, Asia Tengah (Aizen et al.,1996), dan daerah aliran sungai La Plata, Peru, Amerika Selatan (Berbery dan Barros, 2002). Karakteristik hidrometeorologi di daratan sangat berbeda dengan di lautan. Karakteristik hidrometeorologi di daratan sangat didominasi oeh curah hujan dan limpasan. Ha ini ditegaskan oleh Sivakumar (2000) dan Sivakumar et al., (2002) bahwa masalah yang paling penting dan menjadi tantangan pada hidrometeorolgi adalah dinamika curah hujan dan impasan karena keduanya merupakan proses yang chaotic. Komponen hidrometeorologi memiliki varialibilitas yang tinggi dan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi curah hujan dan evapotranspirasi, sehingga berdampak cukup signifikan terhadap variabilitas sumber air, kekeringan, dan banjir. Hal ini mengindikasikan bahwa proses hidrometeorologi bersifat tidak beraturan dan chaotic

Fenomena global yang terjadi di daerah tropis seperti El Nino Southern Oscillation (ENSO), Indian Oceans Dipole Mode (IODM) dan Pasific Decadal Oscilation (PDO) mempengaruhi iklim di Indonesia terutama curah hujan dan limpasan. Hal ini dapat menyebabkan pergeseran pola sirkulasi sistem iklim di Indonesia. Adanya fenomena tersebut dapat meningkatkan interaksi antara lautan dan atmosfer sehingga dapat menyebabkan perubahan variabilitas curah hujan dan limpasan di Indonesia. Analisis kecenderungan pada data observasi hidrometeorologi dapat menyediakan informasi mengenai karakteristik dan besarnya variasi hidrometeoroogi seama periode waktu tertentu. Disamping itu dapat pula melihat kecenderungan jangka panjang muncunya fenomena iklim yang ekstrim dan langka, misalnya curah hujan tinggi, banjir dan kekeringan (Xue, et al.,2003). Namun terkadang dalam mengkaji kecenderungan jangka panjang dari data observasi hidrometeorologi sering mengalami kesulitan akibat adanya variasi stokastik dalam dta tersebut sehingga dapat mengurangi keakuratan dalam pengukurannya.

Sifat fraktal dan periode ulang komponen hidrometeoroogi berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Pada umumnya dari hasil ujian karakteristik hidrometeorologi tersebut di beberapa wilayah memberikan bukti bahwa ada dinamika yang signifikan untuk periode terakhir ini, terutama pada proses curah hujan dan limpasan. Menurut Sivakumar adanya sifat fraktal pada komponen hidrometeoroogi memungkinkan untuk dilakukannya transformasi data hidrometeorologi dari satu skala ke skala yang lainnya untuk keperluan anaisis statistik tertentu. Jika proses hidrometeorologi lebih didominasi proses deterministik maka berarti proses tersebut bersifat mono-fraktal. Dan apabila didominasi oleh stokastik (random/chaotic), maka proses tersebut bersifat multi-fraktal.

Daerah Aliran Sungai Citarum Sungai Citarum mempunyai peranan yang sangat penting, tercatat sejak tahun 2004 setidaknya lebih dari delapan juta manusia hidup pada daerah airan sungai tersebut. Sungai ini menyediakan kebutuhan air bagi jutaan penduduk Jawa Barat dan Jakarta, ratusan industri, sekitar 2.960 km2 lahan sawah, dan tiga pembangkit listrik hidro (Saguling, Cirata, dan Jatiluhur) yang memasok kebutuhan energi di Pulau Jawa dan Bali. Hasil beberapa kajian menunjukkan bahwa DAS Citarum mengalami beberapa permasalahan yaitu kerusakan daerah aliran sungai; tingginya tingkat erosi dan sedimentasi; terbatasnya ketersediaan air; penurunan kualitas air; dan bahaya banjir dan kekeringan. Perubahan penggunaan lahan dan penggundulan hutan di DAS Citarum, termasuk bagian hulunya, menyebabkan hal tersebut, menurut Kusumandari (1994), Santoso dan Warrick (2003). Banjir dan kekeringan merupakan bukti adanya perbedaan yang signifikan antara ketersediaan air musim hujan dan musim kemarau akibat tingginya limpasan dan rendahnya resapan air hujan di DAS tersebut.

Dampak dari perubahan iklim dan penggunaan lahan terhadap kuantitas dan variabilitas airan Sungai Citarum telah dikaji dengan menggunakan Indoclim oleh Santoso dan Warrick (2003). Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan lahan dan iklim sangat mempengaruhi variabilitas aliran baik tahunan, musiman, maupun bulanan. Dimana dampak perubahan iklim lebih besar dibanding dampak perubahan penggunaan lahan terhadap variabilitas aliran tersebut. Sementara perubahan penggunaan lahan membuat daerah resapan air berkurang yang mengakibatkan berkurangnya ketersediaan air pada musim kemarau. Meningkatnya daerah pemukiman dan kawasan industri di cekungan Bandung membuat tidak terkendalinya limbah domestik dan limbah industri yang masuk ke airan sungai Citarum sehingga kualitas airnya menurun. Menurut Kirchoff (1993) dan Rosadii (1993), sungai Citarum mengalami polusi berat oleh bahan organik, logam berat, dan bahan lainnya yang terjadi sejak tahun 1985.

Untuk mempertahankan ketersediaan air dan kualitas air, perlu upaya mengembangkan metode-metode untuk meningkatkan resapan air ke dalam tanah dan mengembangkan jenis tanaman air yang dapat menetralisir polutan air (Terangna,1995; dan Supriyo et al.,1999). Selain itu, untuk mempertahankan ketersediaan air dan kualitas air di daerah aliran sungai Citarum, perlu ditunjang oeh pengelolaan air secara baik yang responsif terhadap adanya peningkatan jumlah penduduk, peningkatan kebutuhan air bagi pertanian dan industri, perubahan penggunaan lahan, penggundulan hutan, perubahan ikim, dan makin berkurangnya air tanah. Pengelolaan air yang baik akan meningkatkan efisiensi penggunaan air untuk kebutuhan berbagai bidang dan menghindari konfik kepentingan (Wihardini et al.,1999; Fildebrandt et al., 2003)

1. Pasang surut adalah fluktuasi muka air laut sebagai fungsi waktu karena adanya gaya tarik benda-benda di langit, terutama matahari dan bulan terhadap massa air laut dibumi. 2. Gejala pasang surut disebabkan oleh gaya tarik bulan dan gaya tarik matahari serta gaya sentrifugal bumi. 3. Perbedaan pasang naik dan pasang surut tidak sama pada laut terbuka dengan di laut yang banyak selat-selatnya atau pada pantai yang berteluk. Pada laut yang terbuka perbedaannya hanya sekitar 1 meter saja, sedangkan pada pantai yang berteluk di muara-muara sungai atau pada selat-selat yang sempit perbedaan itu bisa mencapai antara 10-18 meter. 4. Erosi adalah terangkatnya lapisan tanah atau sedimen karena stress yang yang ditimbulkan oleh gerakan angin atau air pada permukaan tanah atau dasar perairan 5. Sedimentasi adalah proses pengendapan material hasil erosi air, angin, gelombang laut dan gletsyer. Material hasil erosi yang diangkut oleh aliran air akan diendapakan di daerah yang lebih rendah

6. Dimana pun terjadinya erosi dan sedimentasi, akan menyebabkan ketidaksatbian dan ketidakseimbangan. Hal ini hampir selalu berdampak negatif bagi apapun yang menimpanya. 7. Dibutuhkan keseriusan dan kesungguhan dalam mengatasi permasalahan erosi dan sedimentasi ini, apalagi yang berskaa besar, karena akan berkibat sistemik dalam kehidupan manusia dan keseimbangan alam. 8. Hidrometeorologi (Hydrometeorology) adalah ilmu yang khusus mempelajari problema-problema yang ada diantara hidrologi dan meteorologi. Yang menjadi fokus dalam cabang ilmu ini adalah perpindahan air dan energi antara permukaan daratan bumi dan atmosfer paling bawah bumi. 9. Hidrometeorologi merupakan ilmu yang sangat kompeks dan memiiki jangkauan luas. Selain itu, imu ini masih berkembang sesuai dengan perkembangan iklim dunia saat ini.

. Saran - Dibutuhkan sumber yang lebih detail dan terpercaya dalam mencari bahan literatur dan rujukan dalam membuat makalah ini. - Dibutuhkan kemampuan berbahasa Inggris yang baik, terutama dalam mengahadapi istilah-istilah berbahasa Inggris agar tidak terjadi kesalahan dalam penulisan dan pemahaman. - Sebaiknya makalah ini lebih terperinci, namun kami belum dapat menyajikan isi makalah yang lebih mendalam, untuk itu kami meminta saran dan kritik membangun dari pembaca.