Anda di halaman 1dari 21

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PENGARUH PENAMBAHAN PUPUK ENCENG GONDOK (Eichonia crassipes ) DENGAN DOSIS BERBEDA PADA KULTUR

Nannochloropsis oculata BIDANG KEGIATAN: PKMP Diusulkan oleh: Ketua : Myrna Budi Resmawati 060710283P angkatan 2007

Anggota : Rani Frisca Christiana Riska Saraswati Wieke Wulaningrum Illa Rohdiana H 060710178P 060710132P 060710297P 140911098 angkatan 2007 angkatan 2007 angkatan 2007 angkatan 2009

UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2010

HALAMAN PENGESAHAN USUL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA 1. Judul Kegiatan : PENGARUH PENAMBAHAN PUPUK ENCENG GONDOK (Eichonia crassipes ) DENGAN DOSIS BERBEDA PADA KULTUR Nannochloropsis oculata 2. Bidang Kegiatan : () PKMP ( ) PKMK (Pilih salah satu) ( ) PKMT ( ) PKMM 3. Bidang Ilmu : ( ) Kesehatan ( ) Pertanian (Pilih salah satu) ( ) MIPA () Teknologi dan Rekayasa ( ) Sosial Ekonomi ( ) Humaniora ( ) Pendidikan 4. Ketua Pelaksana Kegiatan a. Nama Lengkap : Myrna Budi Resmawati b. NIM : 060710283P c. Jurusan : Budidaya Perairan d. Perguruan tinggi : Universitas Airlangga e. Alamat Rumah : Genteng Sidomukti, Surabaya f. No Telp/HP : 03160943308 g. Email : myrnabudie@yahoo.com 5. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis: 5 orang 6. Dosen Pendamping a. Nama Lengkap : Ir. Sudarno., M.Kes. b. NIP : 19550713 198601 1 001 c. Alamat Rumah : d. No Telpon/HP : 081553778775 7. Biaya Kegiatan Total : 8. Jangka Waktu Pelaksanaan : 4 bulan Surabaya, 7 Oktober 2010 Menyetujui Wakil Dekan I Ketua Pelaksana Kegiatan Fakultas Perikanan & Kelautan

Ir. Moch. Amin Alamsjah, M.Si.,ph.D NIP. 197001161995031002 Direktur kemahasiswaan Universitas Airlangga

Myrna Budi Resmawati NIM.060710283P Dosen Pendamping

Prof. Dr. Imam mustofa,drh.,M.kes NIP. 196004271987011001

Ir. Sudarno., M.kes NIP. 195507131986011001

A. LATAR BELAKANG Mikroalga merupakan tumbuhan air yang berukuran mikroskopik, memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan sebagai sumber pakan, pangan, dan bahan kimia lainnya. Budidaya mikroalga sangat menarik karena tingkat pertumbuhannya yang tinggi, mampu menyesuaikan pada kondisi lingkungan yang bervariasi (Brown, 1997). Mikroalga diklasifikasikan sebagai tumbuhan karena memiliki chlorophyl dan mempunyai suatu jaringan sel menyerupai tumbuhan tingkat tinggi. Melalui pendekatan suatu skema klasifikasi, species mikroalga dikarakterisasi berdasarkan kesamaan morfologi dan biokimia (Diharmi, 2007). Sel mikroalga dapat dibagi menjadi sepuluh divisi, dan setiap divisi mempunyai karakteristik yang ikut memberikan andil pada kelompoknya, tetapi spesiesspesiesnya cukup memberikan perbedaan-perbedaan dari lainnya. Ada empat karakteristik yang digunakan untuk membedakan divisi mikroalga yaitu; tipe jaringan sel, ada tidaknya flagella, tipe komponen fotosintesa, dan jenis pigmen sel. Selain itu morfologi sel dan bagaimana sifat sel yang menempel berbentuk koloni / filamen adalah merupakan informasi penting didalam membedakan masing-masing kelompok (Graham and Wilcox, 2000). Nannochloropsis oculata (eustigmatophyceae) yang lebih dikenal dengan nama chlorella Jepang (Maruyama et al., 1986), merupakan sel berwarna kehijauan, tidak motil, dan tidak berflagel. Selnya berbentuk bola berukuran sedang dengan diameter 2-4 m, tergantung spesiesnya, dengan chloroplas berbentuk cangkir. Selnya bereproduksi dengan membentuk dua sampai delapan sel anak didalam sel induk yang akan dilepaskan pada lingkungan. Penggunaan mikroalga N.oculata secara komersial antara lain sebagai bahan makanan, energy biomass, pupuk pertanian, dan industry farmasi karena mikroalga ini mengandung protein, karbohidrat, lipid,dan berbagai macam mineral (Cresswell, 1989). Selain itu Nannochloropsis oculata merupakan pakan yang populer untuk rotifer, artemia, dan pada umumnya merupakan organisme penyaring ( Renaud, 1991). Pertumbuhan sel Nannochloropsis oculata sangat dipengaruhi oleh tiga komponen penting untuk tumbuh, yaitu Cahaya, karbon dioksida dan nutrien.

Tingginya kandungan nutrien dan manfaat yang didapat dari Nannochloropsis oculata memacu meningkatnya permintaan konsumen, sehingga para produsen berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan hasil produksinya. Hal yang dapat mendorong peningkatan produksi Nannochloropsis adalah peningkatkan pertumbuhan, yaitu meningkatkan jumlah sel (Isnansetyo dan Kurniastuti, 1995). Harrison and Berges (2005) menyatakan bahwa salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan fitoplankton adalah mengontrol kandungan nutrien baik makro maupun mikro pada lingkungan budidaya. Hasil penelitian Agneesia (2009) menyatakan, enceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai pupuk sebab mengandung nitrogen, fosfor, kalium, dan karbon. Nitrogen merupakan salah satu makronutrien yang sangat mempengaruhi pertumbuhan alga. B. PERUMUSAN MASALAH Perumusan masalah pada penelitian ini adalah: a) Apakah pemberian pupuk enceng gondok dapat mempengaruhi pertumbuhan Nannochloropsis oculata yang dikultur pada media air ? b) Berapakah dosis pupuk enceng gondok yang dapat menghasilkan pertumbuhan Nannochloropsis oculata tertinggi yang dikultur pada media air ? C. TUJUAN Tujuan penelitian ini adalah: a) Untuk mengetahui pengaruh penambahan pupuk enceng gondok terhadap pertumbuhan Nannochloropsis oculata yang dikultur pada media air b) Untuk mengetahui dosis pupuk enceng gondok yang dapat menghasilkan pertumbuhan Nannochloropsis oculata tertinggi yang dikultur pada media air.

D. Luaran Yang Diharapkan Adapun luaran yang diharapkan dari program ini adalah: 1. Dapat memberikan informasi kepada masyarakat pemanfaatan Enceng gondok sebagai pupuk untuk mikroalga khlususnya nannochloropsis oculata 2. Meningkatkan nilai ekonomis enceng gondok sebagai pupuk E. Kegunaan Program Kegiatan PKM ini diharapkan dapat membawa manfaat bagi berbagai pihak, diantaranya sebagai berikut: 1. Bagi pelaksana PKM, diharapkan dapat memperoleh pengalaman praktis dari kegiatan program ini serta mampu meningkatkan kreativitas inovatif mahasiswa dalam menemukan hasil karya yang bermanfaat bagi masyarakat. 2. Membantu masyarakat menciptakan suatu pupuk baru yg murah dan efisien untuk kultur mikroalga F. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Nannochloropsis oculata Adehoog et al. (2001) mengemukakan bahwa secara sistematis klasifikasi Nannochloropsis oculata adalah sebagai berikut : Kingdom Super devisi Divisi Kelas Genus Spesies : Protista : Eukaryotes : Chromophyta : Eustigmatophyceae : Nannochloropsis : Nannochloropsis oculata Fitoplankton merupakan jenis alga, termasuk kedalam sub filum Thallofita yang mempunyai klorofil. Fitoplankton yang ada di seluruh dunia adalah sebagai produsen primer, dapat menyediakan makanan untuk fauna lebih banyak daripada seluruh flora yang ada di daratan. Kapasitas fotosintesis dari semua fitoplankton yang ada di laut lebih besar daripada seluruh flora yang ada di daratan. Dengan 2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi N. oculata

adanya konsentrasi fitoplankton yang besar di laut maka terdapat banyak zooplankton sebagai konsumen primer bagi ikan maupun non ikan. Pembudidayaan fitoplankton Nannochloropsis oculata tergantung pada kondisi lingkungan perairannya serta diperlukan paket teknologi budidaya yang baik. Budidaya plankton berbeda di tiap-tiap Negara sesuai dengan kondisi alamnya, misalnya Indonesia adalah Negara tropis dimana suhu airnya relatif sama sepanjang tahun dibandingkan dengan Negara lain termasuk Jepang (Anonymous, 1985).

Gambar 1. Nannochloropsis oculata (Wasis, 2009)

Nannochloropsis oculata lebih dikenal dengan nama Chlorella laut. Fitoplankton ini berbentuk bulat menyerupai bola, berukuran 2-8 m, tidak memiliki bulu cambuk sehingga tidak dapat bergerak aktif dan berwarna hijau. Nannochloropsis oculata memiliki kloroplas dan nukleus yang dilapisi membran. Kloroplas memiliki stigma (bintik mata) yang bersifat sensitif terhadap cahaya. Nannochloropsis oculata dapat berfotosintesis karena memiliki klorofil. Ciri khas dari Nannochloropsis oculata adalah memiliki dinding sel yang terbuat dari komponen selulosa (Sachlan, 1982). 2.1.2 Reproduksi Presscott (1978) menyatakan bahwa Nannochloropsis oculata berkembang biak dengan membelah diri membentuk autospora. Sedangkan pada waktu membelah diri membentuk autospora, Nannochloropsis oculata melalui empat fase siklus hidup (Hase, 1962). Keempat fase tersebut adalah : 1. Fase pertumbuhan (growth), periode perkembangan aktif sel massa yaitu autospora tumbuh menjadi besar.

2. Fase pematangan awal (early revening), autospora yang telah tumbuh menjadi besar mengadakan persiapan untuk membagi selnya menjadi selsel baru. 3. Fase pematangan akhir (late revening), sel-sel yang baru tersebut mengadakan pembelahan menjadi dua. 4. Fase autospora (autospora liberation), pada fase ini sel induk akan pecah dan akhirnya terlepas menjadi sel-sel baru. Pertumbuhan Nannochloropsis oculata dapat diukur dengan cara mengamati dan menghitung perkembangan jumlah sel dari waktu ke waktu (Bold, 1985; Wyne, 1985). 2.1.3 Kandungan Nannochloropsis oculata Nannochloropsis oculata. dikultur untuk pakan Brachionus sp. atau rotifer dan sebagainya karena mengandung vitamin B12 dan Eicosa Pentaenoic Acid (EPA) sebesar 30,5 % dan total kandungan omega 3 HUFA sebesar 42,7 % serta mengandung protein 57,02 %. Vitamin B12 sangat penting untuk populasi rotifer dan EPA penting untuk nilai nutrisinya sebagai pakan larva dan juvenile ikan laut (Fulks 1991; Main, 1991). Dalam sel Nannochloropsis oculata juga terkandung mineral seperti P, Mg, S, Fe, Ca, Mn, Zn, Cu dan Co. Nannochloropsis sp. memiliki kandungan pigmen yaitu klorofil a sebanyak 26,03 mg/l dan klorofil b sebanyak 34,85 mg/l. Selain itu, mudah dikultur secara massal, tidak menimbulkan racun atau kerusakan ekosistem di bak pemeliharaan larva, pertumbuhannya relatif cepat dan memiliki kandungan antibiotik yang berfungsi untuk melawan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri (Vashista, 1979). 2.2 Habitat Nannochloropsis oculata bersifat kosmopolit dengan salinitas optimum untuk pertumbuhannya adalah 25-35 ppt, suhu 25-30 C merupakan kisaran suhu yang optimal (Isnansetyo dan Kurniastuti, 1995). Fitoplankton ini dapat tumbuh baik pada kisaran pH 8-9,5 dan intensitas cahaya 100-10.000 lux (Hirata et al., 1981). 2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan N. oculata

Kelangsungan hidup kultur fitoplankton berkaitan erat dengan terjaganya suatu kondisi bebas kontaminasi yang menjadi penyebab kegagalan kultur murni apabila kultur itu sudah tidak murni lagi, baik dari spesies lain, bakteri, jamur, maupun protozoa. Untuk itu berbagai upaya dilakukan antara lain sterilisasi (dengan autoclaving), klorinisasi baik untuk peralatan, media dan pupuknya (Yuwana, 1998; Rusyani, 1998; Supriya, 1998). Tumbuh pesatnya fitoplankton berkaitan erat dengan faktor nutrisi yang ada di lingkungannya. Secara umum fitoplankton membutuhkan nutrisi yang tergolong sebagai unsur makro dan unsur mikro. Adapun unsur makro meliputi kebutuhan akan nitrat dan phosphat sebagai dasar nutrien utama disamping unsurunsur mikro trace element (Subyakto dan Cahyaningsih, 2005). Martosudarmo (1979) dan Sabarudin (1979) menyatakan, faktor kimia juga dapat menjadi faktor pembatas dalam pertumbuhan fitoplankton yaitu salinitas, pH, suhu dan CO2. Dimana adakalanya jenis-jenis fitoplankton tertentu tidak dapat hidup oleh karena faktor tersebut. Berikut ini berbagai macam parameter kimia untuk kelangsungan hidup fitoplankton : 2.3.1 Salinitas Salinitas merupakan salah satu parameter lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan organisme di air, terutama dalam mempertahankan keseimbangan osmotik dalam tubuh dengan media air lingkungan. Daya toleransi Nannochloropsis sp. untuk hidup dan tumbuh berkisar antara 25-35 ppt ( Isnansetyo dan Kurniastuti, 1995). 2.3.2 pH Menurut Hirata et al. (1981) menyatakan, derajat keasaman (pH) Nannochloropsis sp. untuk pertumbuhan optimal berkisar antara pH 8,2-8,7. pH yang telalu tinggi ataupun terlalu rendah yang tidak sesuai dengan habitatnya dapat mengganggu pertumbuhan plankton tersebut. 2.3.3 Suhu Suhu merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi tingkat metabolisme suatu organisme. Isnansetyo dan Kurniastuti (1995) menjelaskan bahwa kisaran suhu yang optimal untuk pertumbuhan Nannochloropsis sp. berkisar antara 25-30 C.

2.3.4

CO2 Karbondioksida merupakan gas yang terpenting untuk fitoplankton. Proses

fotosintesis di dalam media air tidak dapat terjadi tanpa adanya karbondioksida, sehingga pertumbuhan fitoplankton tidak dapat tumbuh dan perkembangannya tidak pesat (Martosudarmo, 1979). 2.3.5 Kebutuhan Nutrien Nannochloropsis oculata Pertumbuhan N.oculata memerlukan berbagai nutrien yang diabsorbsi dari lingkungannya. Secara umum, nutrien yang diperlukan fitoplankton digolongkan menjadi dua, yaitu makro dan mikro nutrien (Edhy dkk., 2003). Kaplan et al. (1986) menyatakan bahwa unsur nutrien yang diperlukan fitoplankton dalam jumlah besar disebut makro nutrien, meliputi: nitrogen, fosfor, magnesium, pottasium, sodium dan kalsium, sedangkan unsur nutrien yang diperlukan fitoplankton dalam jumlah sedikit disebut mikro nutrien, meliputi: mangan, besi, nikel, vanadium, silikon, seng, boron, molibdenum dan cobalt. 2.4 Pupuk 2.4.1 Pupuk Enceng gondok Eceng gondok atau Eichonia crassipes, tanaman hias asal Brazil yang kini sudah menjadi tanaman gulma itu ternyata dapat diolah menjadi pupuk organik. Sisa-sisa penggunaan pupuk kimia oleh para petani di areal persawahan dan perkebunan yang kemudian hanyut ke sungai dan ke danau, menjadikan pertumbuhan dan penyebaran eceng gondok sangat cepat, sehingga sulit ditangani. Dalam industri pupuk alternatif, eceng gondok juga dapat dijadikan sebagai bahan baku pupuk organik. Ini karena mengandung N, P, K, dan bahan organik yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil uji laboratorium, pupuk ini memiliki kandungan unsur hara N sebesar 1,86%; P205 sebesar 1,2%; K20 sebesar 0,7%; C/N ratio sebesar 6,18%; bahan organik seebsar 25,16% serta C organik:19,81. Dengan kandungan seperti ini, pupuk dari eceng gondok mampu menggantikan pupuk anorganik,dan dapat mengurangi penggunaan bahan kimia hingga 50% dari dosisnya. Sebagai bahan perbandingan, Winarno (1993) menyebutkan, eceng

gondok dalam keadaan segar memiliki komposisi bahan organic 36,59%, C organic 21,23% N total 0,28%, P total 0,0011% dan K total 0,016%. G. Metode Penelitian Materi penelitian yang akan digunakan terdiri atas bahan dan alat penelitian. Bahan penelitian yang akan digunakan adalah N. oculata, air laut dan air tawar, aquades, alkohol, khlorin dan Na Thiosulfat. Peralatan yang akan digunakan dalam penelitian adalah toples kaca, aerator, selang aerator, gelas ukur, erlenmeyer, pipet tetes, pipet volume, mikroskop, haemocytometer (50 mm x 20 mm x 1 mm), Handtally Counter, autoclave, oven, refraktometer, pH universal, termometer, timbangan digital analitik, lampu TL, kapas, gabus, corong air, kasa, aluminium foil dan kertas saring. 4.2.1 Prosedur Kerja Rusyani dkk. (2007) menyatakan, kultur skala laboratorium merupakan kultur yang murni atau monospesies sehingga harus diawali dengan proses sterilisasi. Kawachi and Nol (2005) mengemukakan, sterilisasi merupakan suatu proses untuk menjaga kondisi yang aseptik dengan cara menghilangkan atau membunuh mikroorganisme. Air laut yang akan digunakan untuk kultur disterilisasi menggunakan larutan khlorin. Air laut terlebih dahulu disaring dengan kapas yang diletakkan dalam corong air, kemudian disterilkan dengan khlorin 60 ppm selama 24 jam. Sisa-sisa bau khlorin dapat dihilangkan dengan menggunakan Na Thiosulfat 20 ppm. Air laut yang sudah steril disimpan dalam wadah yang tidak tembus cahaya dan tertutup rapat. Peralatan kultur yang akan digunakan dicuci sampai bersih kemudian dibilas air tawar dan dikeringkan. Peralatan yang terbuat dari kaca tahan panas harus ditutup dengan kapas dan kasa, kemudian peralatan tersebut dibungkus dengan aluminium foil. Setelah peralatan terbungkus, disterilisasi menggunakan autoclave pada suhu 121oC selama 15 menit. Peralatan yang tidak tahan panas disterilkan dengan larutan klorin 150 ppm selama 24 jam, kemudian peralatan tersebut dibilas dengan air tawar hingga bersih dan bau khlorin hilang. A. Persiapan Penelitian

B. Persiapan Pembuatan Stok Larutan pupuk enceng gondok Pupuk enceng gondok yang akan digunakan dalam penelitian diperoleh dari Pabrik pupuk lamongan. Konsentrasi larutan pupuk yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0,5 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm, 2 ppm, 2,5 ppm, 3 ppm dan 3,5 ppm dengan volume penggunaa 1 ml/L. Proses pembuatan stok larutan pupuk enceng gondok dimulai dengan penimbangan pupuk sebanyak 50 mg lalu dilarutkan dalam 100 ml aquades. Larutan pupuk enceng gondok kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer sambil disaring dengan kertas saring. Erlenmeyer yang berisi Larutan pupuk enceng gondok kemudian ditutup dengan gause (kapas yang balut dengan kasa) dan aluminium foil lalu disterilkan menggunakan autoclave. Pembuatan larutan pupuk enceng gondok untuk kultur N. oculata menggunakan rumus (Rosales, 1982) sebagai berikut:
V K P

Q=

Keterangan: Q = berat bahan yang dilarutkan (mg, gram) V = volume pelarut/ aquadest (ml, L) P = volume penggunaan dalam media kultur (ml/L) K = konsentrasi pupuk yang akan digunakan (ppm, mg/L)

C. Lingkungan dan Media Kultur N. oculata Media kultur yang digunakan dalam penelitian adalah air laut (30 ppt) sebanyak 0,5 liter yang dimasukkan dalam toples kaca kemudian ditambahkan pupuk enceng gondok dengan konsentrasi yang ditentukan. Selanjutnya, media kultur diletakkan di rak kultur lalu diberi aerasi dan siap dimasukkan bibit N. oculata dengan kepadatan yang diinginkan. Rak kultur ditutupi dengan plastik hitam, agar suhu ruang stabil dan untuk menghindari kontaminan. Lingkungan kultur dapat mempengaruhi pertumbuhan N. oculata, oleh karena itu lingkungan dikondisikan sama untuk setiap perlakuan. Lingkungan kultur N. oculata yang diharapkan dalam penelitian adalah suhu 25 - 30oC, salinitas 25-35 ppt, pH 8 9,5, intensitas cahaya 1800 - 1900 lux dan photoperiod 12 jam dalam keadaan terang dan 12 jam dalam keadaan gelap. Weng et al.

(2008) mengemukakan, photoperiod yang baik dalam pertumbuhan Dinophyceae adalah 12 jam dalam keadaan terang dan 12 jam dalam keadaan gelap. D. Penebaran Bibit N. oculata N. oculata murni diperoleh dari Balai Besar Budidaya Air Payau Situbondo. Bibit N. oculata dimasukkan ke dalam toples kaca dengan kepadatan 10.000 unit/ml. Penghitungan jumlah bibit N. oculata untuk kultur menggunakan rumus (Edhy dkk., 2003):

V1 =

N 2 V 2 N1

Keterangan: V1 = Volume bibit untuk penebaran awal (ml) N1 = Kepadatan bibit/ stock N. oculata (unit/ ml) V2 = Volume media kultur yang dikehendaki (L) N2 = Kepadatan bibit N. oculata yang dikehendaki (unit/ ml)

E. Perhitungan Pertumbuhan Populasi N. oculata Pertumbuhan fitoplankton ditandai dengan pertambahan kepadatan fitoplankton yang dikultur (Mujiman, 1984). Penghitungan kepadatan dilakukan menggunakan haemocytometer dengan bantuan mikroskop. Fatuchri (1984) mengatakan bahwa ruang hitung dalam suatu haemocytometer mempunyai dimensi sebagai berikut : kedalaman 0,1 mm, panjang 1 mm dan lebar 1 mm (volume 0,0001 cm). Luas ruang hitung adalah 1 mm yang terbagi dalam 400 kotak yang masing-masing luasnya 0,0025 mm. Kepadatan Fitoplankton dihitung sejak awal kultur sampai akhir kultur setiap 24 jam sekali. Dengan menghitung kepadatannya dapat diketahui massa puncak fitoplankton yang dikultur (Mudjiman, 1985). Perhitungan dilakukan dengan rumus (Ekawati, 2005):

N =

1000 n 3,14( d / 2) 2

Keterangan: N = Kepadatan N. oculata (unit/ ml) d = Diameter bidang pandang (mm) n = Jumlah rata-rata N. oculata per bidang pandang (unit/ ml)

F.

Perhitungan Berat Biomas N. oculata Berat biomas adalah jumlah berat dari suatu populasi pada periode waktu

tertentu dan dinyatakan dalam satuan berat. Konsentrasi biomas N. oculata ditentukan melalui berat kering. Perhitungan berat biomass dilakukan setiap hari setelah penebaran awal. Perhitungan dilakukan dengan cara mengambil 3 ml sampel kemudian disaring dengan kertas saring. Sampel tersebut dibilas dengan aquades untuk menghilangkan bahan kimia yang disebabkan nutrien dari medium. Sampel dan kertas saring tersebut dikeringkan dalam oven 105 oC selama dua jam (Lodi, 2005). Setelah itu, sampel dan kertas saring ditimbang dengan timbangan digital kemudian berat sampel dikurangi dengan berat kertas saring yang sebelumnya juga dikeringkan dalam oven 105oC selama dua jam. Hasil akhir dari berat sampel tersebut merupakan berat biomas N. oculata.

Persiapan alat dan bahan

Media Kultur

Pemberian pupuk

A Media kultur + Pupuk 0,5 ppm

B Media kultur + Pupuk 1 ppm

C Media kultur + Pupuk 1,5 ppm

D Media kultur + Pupuk 2 ppm

E Media kultur + Pupuk 2,5 ppm

F Media kultur + Pupuk 3 ppm

G Media kultur + Pupuk 3,5 ppm

H (kontrol) Media kultur + tanpa pupuk

Penebaran bibit N. oculata

Pengamatan pertumbuhan dan parameter kualitas air

Analisis data

Jadwal Kegiatan Program No Kegiatan Bulan ke 1 Bulan ke 2 Bulan ke 3 Bulan ke 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1. 2. 3. 4. 5. 6. Perencanaan Program Persiapan Tempat,Alat dan Bahan Pelaksanaan Program Evaluasi Penyusunan Laporan Penyerahan Laporan Akhir

Biaya A. RANCANGAN BIAYA Rekapitulasi biaya No Jenis Pengeluaran 1. 2. 3. 4. Pelaksanaan Penelitian Transportasi Dokumentasi Penyusunan laporan Total dana diperlukan Jumlah ( Rp ) 6.500.000,00 2.000.000,00 500.000,00 500.000,00 9.500.000,00

Rincian Pengeluaran a. Pelaksanaan penelitian 1. Perijinan 2. Alat penelitian 3. Bahan penelitian 4. Uji laboratorium 5. Olah data Jumlah

Rp Rp Rp Rp Rp Rp

500.000,00 3.000.000,00 2.000.000,00 500.000,00 500.000,00 6.500.000,00

b. Transportasi 1. Pra kegiatan 2. Pelaksanaan kegiatan 3. Pasca kegiatan Jumlah c. Dokumentasi 1. Sewa kamera digital 2. Cuci cetak 3. Sewa handycam 4. Transfer ke CD Jumlah d. Penyusunan laporan 1. Kertas A4 2 rim @ Rp 35.000,00 2. Tinta printer 4 @ Rp 25.000,00 3. Penggandaan 4. Pengarsipan 5. Copy CD kegiatan Jumlah TOTAL PENGELUARAN

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

500.000,00 1.300.000,00 200.000,00 2.000.000,00 100.000,00 200.000,00 125.000,00 75.000,00 500.000,00 70.000,00 100.000,00 150.000,00 100.000,00 80.000,00 500.000,00 9.500.000,00

DAFTAR PUSTAKA Anonymous. 1985. Budidaya Phytoplankton. Seri ke sembilan. Sebuah Kerjasama antara Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Sub Balai Penelitian Budidaya Pantai Bojonegara dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). Serang Banten. Bold, H.C., M.J. Wynne. 1985. Introduction to the algae. Second edition. PrenticeHall. Inc. Englewood cliff. New Jersey.

Edhy, W. A, J. Pribadi dan Kurniawan. 2003. Plankton di Lingkungan PT. Centralpertiwi Bahari. Suatu Pendekatan Biologi dan Manajemen Plankton dalam Budidaya Udang. Mitra Bahari. Lampung. hal. 3-29. Ekawati, A. W. 2005. Diktat Kuliah Budidaya Pakan Alami. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang. hal. 3-48. Harrison, P. J. and J. A. Berges. 2005. Marine Culture Media. In : R.A. Andersen (Eds). Algal Culturing Techniques. National Institute Enveronmental Studies. Academic press. America. p. 21-60. Hase, E. 1962. Cell Division. Physiologys and Biochemistry of Algae. Academic Press. New York and London. Hirata, H., Ishak, A and S. Yamashaki. 1981. Effect of Salinity and Temperature on The Growth of The Marine Phytoplankton Chlorella saccharophila. Vol. 30. Mem. Fac. Kagoshima University. Japan. Isnansetyo, A. dan Kurniastuty. 1995. Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton Pakan Alami untuk Pembenihan Organisme Laut. Kanisius. Yogyakarta. Kaplan, D., A. E. Richmond, Z. Dubinsky and S. Aaronson. 1986. Alga Nutrition. In : A. Richmond (Eds). CRC Handbook of Microalgal Mass Culture. CRC Press, Inc. Florida. p. 147-198. Kusriningrum, R. 2008. Perancangan Percobaan. Universitas Airlangga. Surabaya. hal. 43-51. Martosudarmo, B. dan S. Sabarudin. 1979. Makanan Larva Udang. Balai Budidaya Air Payau. Jepara. Prescott, G. W. 1978. How to Know The Freshwater Algae. Brown Company Publisher. Rosales, M. 1982. Preparation of Various Culture Media and Stok Solutions. SEAFDEC Aquaculture Department. In: R. D. Guerrero and C. T. Villegas (Eds). Report of the Training Course on Growing Food Organism for Fish Hatcheries. Tigbauan, Iloilo, Philippines. Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Diponegoro. Semarang. Vashista, B. R. 1979. Botany for Degree Student. S. Chand and Company Ltd. Ram Nager. New Delhi.

Yuwana, Rusyani dan Supriya. 1998. Teknik Kultur Pakan Alami. Makalah Hasil Penelitian Balai Budidaya laut Lampung.

Lampiran 1. Daftar Riwayat Hidup Ketua dan Anggota Pelaksana 1. Nama dan Biodata Ketua serta Anggota Kelompok a. Ketua Pelaksana Kegiatan 1. Nama lengkap 2. Tempat & tanggal lahir 3. NIM 4. Fakultas 5. Jurusan 6. Perguruan Tinggi 7. Waktu untuk kegiatan 8. Alamat/No telp 03160943308 9. Alamat email 10. Tanda tangan b. Anggota pelaksana I 1. Nama lengkap 2. Tempat & tanggal lahir 3. NIM 4. Fakultas 5. Jurusan 6. Perguruan Tinggi 7. Waktu untuk kegiatan 8. Alamat/No telp 087853529393 9. Alamat email 10. Tanda tangan c. Anggota pelaksana II 1. Nama lengkap 2. Tempat & tanggal lahir : Riska Saraswati : Sidoarjo, 9 Januari 1990 : frisca_ichayoz@yahoo.com : : Rani Frisca Christiana : Surabaya, 10 Januari 1989 : 060710178P : Perikanan dan Kelautan : Budidaya Perairan : Universitas Airlangga : 8 jam/minggu : Pondok Trosobo Indah Sidoarjo / : myrnabudie@yahoo.com : : Myrna Budi Resmawati : Surabaya, 23 Februari 1990 : 060710283 P : Perikanan dan Kelautan : Budidaya Perairan : Universitas Airlangga : 10 jam/minggu : Genteng Sidomukti 70-72 Surabaya /

3. NIM 4. Fakultas 5. Jurusan 6. Perguruan Tinggi 7. Waktu untuk kegiatan 8. Alamat/No telp 081803434367 9. Alamat email 10. Tanda tangan d. Anggota pelaksana IV 1. Nama lengkap 2. Tempat & tanggal lahir 3. NIM 4. Fakultas 5. Jurusan 6. Perguruan Tinggi 7. Waktu untuk kegiatan 8. Alamat/No telp ampel Q1 / 085645585817 9. Alamat email 10. Tanda tangan e. Anggota pelaksana IV 1. Nama Lengkap 2. Tempat & tanggal lahir 3. NIM 4. Fakultas 5. Jurusan 6. Perguruan Tinggi 7. Waktu untuk kegiatan 8. Alamat/No telp

: 060710132P : Perikanan dan Kelautan : Budidaya Perairan : Universitas Airlangga : 8 jam/minggu : Wedoro Candi RT.02 RW.04 / : nengcha_nduw@yahoo.com : : Wieke Wulaningrum : Surabaya, 15 Agustus 1989 : 060710297P : Perikanan dan Kelautan : Budidaya Perairan : Universitas Airlangga : 8 jam/minggu : jl. Brantas Hilir, perum. Graha sunan : ikeneville@yahoo.com : : Illa Rohdiana Hermawati : Jakarta, 22 Januari 1992 : 140911098 : Perikanan da Kelautan : Budidaya Perairan : Universitas Airlangga : 8 jam/minggu : genteng sidomukti 67, Surabaya /

9. Alamat email
10. Tanda tangan

:
:

2. Nama dan Biodata Dosen Pendamping 1. Nama Lengkap 2. NIP 3. Golongan dan Pangkat 3. Jabatan Fungsional 4. Jabatan Struktural 5. Fakultas 6. Perguruan Tinggi 7. Bidang Keahlian 8. Waktu untuk kegiatan : Ir. Sudarno., M.Kes : 19550713 198601 1 001 : III B dan Penata Muda : Asisten ahli : Staf Pengajar Fakultas : Perikanan dan Kelautan : Universitas Airlangga : Teknologi Pakan Alami : 4 jam/minggu