Anda di halaman 1dari 17

Possible benefits of micronutrient supplementation in the treatment and management of HIV infection and AIDS

Oleh : I Putu Fajar Narakusuma (0802005054)

PENDAHULUAN
Dec 2007 33 juta orang hidup dengan infeksi HIV (UNAIDS) Kasus baru HIV
3 juta pada tahun 2001 2.7 juta pada tahun 2007

Kematian
1.7 juta pada tahun 2001 2 juta pada tahun 2007

di Afrika Selatan
35% terinfeksi HIV 38% meninggal oleh karena HIV

Pendahuluan

Bagaimana suplemen micronutrient berperan dalam

Pada penderita HIV/AIDS

Menurunkan beban dari infeksi HIV

Meningkatan status nutrisi

Meningkatkan kualitas hidup

Alasan penggunaan Suplemen Mikronutrien


Salah satu alasannya adalah sebagai pencegah penyakit dengan upaya meningkatan nutrisi yang memperkuat system imun (Semba et al., 1993; Semba, 1997; Tang et al., 1997; Look et al., 1997; Wellinghausen et al., 2000; Lorenz et al., 2001; Lai et al., 2001; Piwoz, 2004; Fawzi et al., 2004). Alasan lain beberapa orang mengkonsumsi suplemen mikronutrien adalah untuk melawan efek samping dari pengobatan tertentu. Sebagai contoh, protease inhibitor dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan dipercayai bahwa vitamin C dan asam folat sebagai proteksi dengan bekerja sebagai homocysteine antagonis (Baum et al., 1997). Penderita HIV juga mengkonsumsi suplemen harian yang berfungsi sebagai penanganan malnutrisi yang biasa terjadi pada penderita HIV/AIDS, terutama pada Negara berkembang dengan status sosial ekonomi rendah (Watson, 1994; Baum et al., 1995; Coutsoudis et al., 1997; Baum and Shor-Posner, 1998; Allard et al., 1998; Kanter et al., 1999; Piwoz and Preble, 2000; Piwoz, 2004).

Pentingnya Gizi bagi Kesehatan, dan Pengobatan


"Practitioners must be aware that good nutrition is not an 'alternative' therapy but a fundamental component of medical care (Fenton, 1990)
Konsumsi vitamin B komplek harian dan multivitamin menunda onset dari AIDS dan kematian pada orang dengan HIV (+). (Fawzi et al.,2004) Konsumsi kombinasi suplemen seperti zinc, selenium dan vitamin C, A, E, B dapat meningkatkan efek antiviral AZT bersamaan dengan peningkatan system imun. (Piwoz and Preble, 2000; Fawzi, 2003; Fawzi et al., 2004; Oguntibeju et al., 2006, 2008)

Pentingnya Gizi bagi Kesehatan, dan Pengobatan


Malnutrisi dapat berkontribusi dalam perkembangan infeksi oportunistik dan perburukan fisik dimana dapat menjadi penyebab kematian pada penderita HIV (Babamento and kotler, 1997; WHO, 2003; Nerad et al., 2003; Piwoz, 2004)

Hubungan antara Nutrisi, Imunitas dan Infeksi HIV


Infeksi HIV berpengaruh pada status nutrisi pada penderita dengan beberapa cara:
Penurunan asupan makanan

Penurunan absorpsi nutrient


Patologis oral dan gastrointestinal
Peningkatan penggunaan dan ekskresi protein dan mikro nutrien

Mekanisme Kerja Antioksidan dan Kerusakan Oksidatif pada Penderita HIV


Antioksidan adalah senyawa yang menghancurkan dan menekan pembentukan radikal bebas atau menentang tindakan mereka. Karena radikal bebas berpotensi beracun, mereka biasanya dilemahkan atau diikat oleh antioksidan sebelum mereka dapat merusak lipid, protein atau asam nukleat.

Mekanisme Kerja Antioksidan dan Kerusakan Oksidatif pada Penderita HIV


Jika homeostasis antara tingkat pembentukan radikal bebas dan tingkat netralisasi radikal bebas tidak dipertahankan,

Antioksidan memerlukan

Mikronutrien seperti:

Selenium, Zat besi, Tembaga, Seng Mangan sebagai co-faktor

Terjadi stres oksidatif

Mekanisme Receptor Mediated Endocytosis dan Peran dari Antioksidan

Vitamin C

Penderita HIV terjadi Defisiensi Glutation (GSH), toksisitas radikal bebas

Vitamin C dosis tinggi (250 mg/dl) (diatas RDA)

Anti oksidan

1. Menurunkan toksisitas radical bebas 2. Meningkatkan plasma GSH

Vitamin E
Vitamin E berfungsinya sebagai sistem kekebalan tubuh, dengan cara meningkatkan respon imun humoral dan cell-mediated , produksi antibodi, respon fagocytic dan lymphocytic, dan kekebalan dari virus dan infeksi. Allard et al. (1998)melaporkan bahwa tiga bulan suplementasi dengan vitamin E (800 IU) dan vitamin C (1000 mg) secara signifikan mengurangi stres oksidatif dan Viral load HIV pada pasien HIVpositif/AIDS.

Vitamin B
Asupan tiamin, riboflavin, niasin, dan vitamin B12 berhubungan dengan peningkatan jumlah CD4+ Tsel dan berbanding terbalik dengan progresivitas penyakit HIV pada pasien laki-laki (Abrams et al., 1993). Konsentrasi B12 yang rendah berkaitan dengan kelainan neurologis dan immunologi seperti neuropati, mielopati, gangguan kognisi, penurunan jumlah CD4+ T-sel, peningkatan toksisitas sumsum tulang dan peningkatan mortalitas (Tang dan Smit, 1998).

Beta Carotene
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Abrams et al. (1993), diet asupan beta karoten tidak terkait dengan imunologi dan perkembangan klinis subyek terinfeksi HIV. Disisi lain, Tang et al. (1996) melaporkan bahwa peningkatan asupan beta karoten meningkatkan kelangsungan hidup lebih baik pada pasien HIVpositif.

Vitamin A
Hubungan antara vitamin A dan progresivitas penyakit HIVtelah dipelajari sangat luas. Namun, hasilnya belum konsisten dan pada kasus tertentu hasilnya bertentangan. Abrams et al. (1993) melaporkan bahwa asupan vitamin A adalah terkait dengan jumlahCD4+ T-sel serta memperlambatperkembangan menjadi AIDS Tang et al. (1993) melaporkan bahwa Asupan vitamin A moderat berhubungan dengan penurunan risiko pengembangan penyakit dan kematian.

Selenium dan Fungsi Imun


Defisiensi selenium berhubungan dengan penurunan fungsi system imun (CunninghanRundles, 2001, 2005) Suplementasi selenium berguna pada individu yang tidak terlalu kekurangan selenium untuk merangsang respon imun.

Selenium dan Infeksi Virus


Telah dilaporkan bahwa ada interaksi antara selenium dan human immunodeficiency virus (HIV) yang menyebabkan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) (Zhao et al., 2000) Penurunan konsentrasi selenium plasma pada orang yang terinfeksi HIV adalah penanda sensitive perkembangan penyakit dan tingkat keparahan, bahkan sebelum malnutrisi menjadi faktor (Fawzi, 2003)