Anda di halaman 1dari 26

HUKUM ORANG YANG

BERSIKAP DIAM TERHADAP


PEMERINTAHNYA YANG KAFIR
(Catatan Syaikh Abdul Qodir Bin Abdul Aziz
terhadap kitab Haddul Islam Wa Haqiqotul Iman
karangan Ustadz Abdul Majid Asy-Syadzili)

Dari hal. 311-317 dalam kitabnya, dia menyabutkan kisah pengkhianatan Bani
Nadlir, Bani Quroidloh dan orang-orang kafir Mekah terhadap perjanjian mereka
dengan nabi saw. Maka nabipun memerangi mereka dan memberlakukan hukum
pengkhianatan kepada orang yang diam dikalangan mereka, karena mereka adalah
sebuah kelompok yang mumtani’in bi syaukah (mempertahankan diri dengan
kekuatan). Ia juga menyebutkan bahwa orang yang ikut memerangi secara tidak
langsung hukumnya sama dengan orang yang memerangi secara langsun. Inilah
kesimpulan dari tulisannya. Ini semua tidak diragukan lagi kebenarannya.
Akan tetapi yang rancu adalah pada catatannya terhadap kejadian-kejadian
tersebut, berikut ini teks perkataanya:”Dari kaidah ini maka jelaslah bahwa kaidah
yang menyatakan bahwa; “seseorang itu tidak dihukum atas dosa yang dilakukan
orang lain ketika orang tersebut sendiri dan berada dalam kekuasaan,” kaidah ini
harus dibatasi dengan batas-batas yang menuntut pengusiran (orang-orang yang
menghianati perjanjian-pent.) yaitu ketika negara (daerah) tempat mereka
mempertahankan diri itu ada penguasa yang memerintah daerah tersebut. Sehingga
hukum orang yang memerangi secara tidak langsung sama dengan orang yang
memerangi secara langsung, orang yang setuju dan orang yang diam hukumnya
sama dengan orang yang berkhianat dan memerangi. Dan yang ikut lang sung
dalam perang dan penghianatan itu tidak semua orang.” Hal. 317 dalam bukunya
yang berjudul “Haddul Islam”. Kekacauan dalam perkataannya ini ada pada dua
permasalahan:
Masalah pertama: ia memeberlakukan hukum secara umum terhadap
hukumul mu’ahidin (hukum orang-orang yang mengadakan perjanjian) terhadap
semua wilayah yang penduduknya mempunyai pertahanan kekuasaan. Karena
hukum yang ia sebutkan itu adalah khusus untuk ahlul ‘ahdi (orang-orang yang
mempunyai ikatan perjanjian) dari kalangan orang-orang kafir asli (bukan orang
yang kekafirannya karena murtad). Orang-orang kafir asli ini jika sebagian mereka
berkhianat sedangkan yang lainnya tidak mengingkarinya maka berlaku atas
mereka hukum orang yang diam sama dengan hukum orang yang berhianat. As-
Suyuthi berkata – dalam kaidah-kaidah fikih nya – : “Kaidah yang kedelapan belas;
[orang yang diam tidak ditetapkan padanya perkataan apapun] ini adalah
perkataan Asy-Syafi’i – sampai ia mengatakan – dan keluar dari kaidah ini beberapa
keadaan: di antaranya adalah jika sebagian ahludz dzimmah (orang kafir yang
mendapat jaminan umat islam dengan membayar jizyah dan tunduk pada
peraturan hukum islam yang diberlakukan pada mereka –pent.) namun sebagian
yang lain tidak mengingkarinya baik dengan perkataan atau perbuatan, akan tetapi

1
mereka diam, maka jaminan untuk mereka pun juga batal.” (Al-Asybah wan
Nadzo’ir Fi Qowa’idi wan Furu’i Fiqhisy Syafi’iyah, karangan as-Suyuthi hal. 266-
267 cetakan Darul Kitab Al-‘Arobi 1407 H.) Memberlakukan secara umum kepada
selain keadaan seperti ini tidaklah benar. Karena sesungguhnya nabi membunuh
semua laki-laki yang secara hukum bisa berperang pada Bani Quroidloh, namun di
sisi lain terdapat larangan dalam syari’at untuk membunuh pendeta, orang tua dan
para petani yang merupakan orang-orang yang tidak ikut berperang, meskipun
secara hukum mereka itu termasuk orang-orang yang bisa berperang, mereka
mempunyai kekuatan sehingga mereka orang yang mampu untuk berperang,
sebagaimana hal itu terdapat dalam fikih jihad.
Masalah kedua: ia menyatakan hukum secara umum dalam perkataannya:
“Hukum ... hukum ... hukum ... “ ia tidak memperjelas yang ia maksud dengan
hukum, apakah yang dia maksud itu hukum perang atau hukum iman dan kafir?
Kejadian-kejadian yang ia sebutkan adalah penyamaan dalam hukum-hukum yang
berkaitan dengan peperangan, adapun hukum-hukum yang berkaitan dengan iman
dan kafir membunyai sebab-sebab yang lain. Ketidak jelasan penulis dalam
menjelaskan maksud hukum dalam perkataannya di atas mengakibatkan sebagian
orang mengkafirkan orang-orang Islam secara umum yang diam di negara yang
diperintah oleh orang-orang murtad dan mempertahankan diri dengan kekuatan
dengan hukum selain hukum Alloh. Karena penulis memberlakukan hukum orang
yang memerangi terhadap orang yang diam di negara yang berkekuatan.
Seharusnya ia memperinci masalah ini karena masalah ini adalah masalah penting
dan termasuk kejadian insidental yang terjadi pada zaman ini. Dan karena
banyaknya perdebatan dalam masalah ini saya akan memaparkannya dengan
singkat dari dua sisi: dari sisi hukum-hukum yang berkaitan dengan iman dan kafir
dan dari sisi hukum-hukum yang berkaitan dengan hukum perang. Yang saya
maksud dengan orang-orang yang diam dinegara ini adalah mayoritas
penduduknya. Adapun orang yang kelihatan setuju atau rela atau membantu
pemerintah kafir tersebut terhadap kekafirannya, pembahasannya nanti insya Alloh
ketika mengkritisi buku Ar-Risalah Al-Limaniyah Fil Muwalah sebagaimana yang
saya janjikan sebelumnya. Adapun orang-orang yang diam tidak membantu
pemerintah kafir tersebut dan juga tidak mengingkarinya, dan mereka itu adalah
mayoritas orang yang diam di negara-negara tersebut, hukum mereka adalah
sebagai berikut:

Pertama dari sisi hukum yang berkaitan dengan


iman dan kafir.
Orang yang bersikap diam di dalam negera-negara tersebut, keadaan mereka
tidak lepas dari tiga: orang yang dzohirnya kafir, orang yang dzohirnya Islam dan
orang yang tidak menampakkan seseuatupun yang menunjukkan keislaman atau
kekafiran.
1 – orang yang dzohirnya kafir yang terdiri dari kafir asli atau murtad
Orang semacam ini secara hukum dianggap kafir, seperti orang nasrani,
yahudi, komunis, atheis dan orang murtad lantaran meninggalkan sholat atau
mencela agama atau beribadah kepada orang-orang yang telah mati dengan do’a,
istighotsah, nadzar, menyembelih binatang atau penyebab-penyebab kekafiran
lainnya.

2
2- Orang yang dzohirnya Islam.
Orang semacam ini secara hukum dianggap muslim, dan orang semacamlah
yang disebut dengan muslim masturul hal (orang Islam yang keadaannya
tertutupi). Yaitu orang yang terdapat padanya tanda-tanda keisalaman dan dia
tidak diketahui padanya ada pembatal keimanan. Hal itu karena tanda-tanda
keislaman itu adalah merupakan penyebab yang dijadikan oleh Sang Pembuat
syari’at (Alloh) untuk menghukumi Islam terhadap orang yang terdapat padanya
tanda-tanda tersebut. Maka orang tersebut ditetapkan sebagai orang Islam secara
hukum. Kecuali kalau tanda-tanda dzohir yang ada padanya itu dibatalkan dengan
tanda dzohir yang lebih kuat, seperti melakukan pembatal Islam. Maka keadaan
dzohir yang lebih kuat itulah yang dijadikan pegangan. Maka selama tidak
diketahui melakukan pembatal Islam, maka ia tetap dihukumi sebagai orang Islam.
Rosululloh saw., bersabda:
‫من صلى صلتنا واستقبل قبلتنا وأكل ذبيحتنا فذلك المسلم‬
Barang siapa yang sholat sebagaimana kami sholat, menghadap ke kiblat kami
dan memakan sembelihan kami maka ia muslim.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-
Bukhori no. 391. Ibnu Hajar dalam syarahnya mengatakan: “Di dalam hadis ini
menunjukkan bahwa masalah manusia itu dianggap yang nampak padanya. Maka
barangsiapa yang menampakkan syi’ar-syi’ar agama diberlakukan padanya
hukum-hukum yang berlaku pada pemeluk agama tersebut selama ia tidak
menampakkan sesuatu yang bertentangan dengan hal tersebut.” (Fathul Bari I/497)
Ada dua kelompok yangh salah dalam menghukumi muslim masturul hal ini :
A. satu kelompok mengkafirkan muslim masturul hal ini, karena ia diam
terhadap pemerintah yang kafir. Karena menganggap diam itu sebagai
bentuk kerelaan dia. Kelompok ini ada pendahulunya dari sebagian
kelompok khowarij. – Yaitu Al-‘Aufiyah dan Al-Baihasiyah – yang
mengatakan jika pemimpin kafir maka kafirlah rakyat yang menyaksikan
kekafirannya dan yang tidak menyaksikannya. (Lihat Maqolatul
Islamiyyin karangan Abu Hasan Al-Asy’ari I/192 dan 194. Ini adalah
pendapat yang rusak. Dan di atas telah dijelaskan bahwa orang yang diam
itu tidak dinisbahkan kepadanya perkataan apapun. Hal ini lebih
diperkuat lagi dengan sabda Nabi saw., yang berbunyi:
‫ فإن لم ي ستطع فبقلبه‬،‫ فإن لم ي ستطع فبلسانه‬،‫ا فليغيره بيده‬/‫من رأي منكم منكر‬
‫وذلك أضعف اليمان‬
“Barang siapa yang melihat kemungkaran maka hendaknya ia merubah
dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu
dengan hatinya dan ini adalah selemah-lemah iman.” Hadits ini diriwayatkan
Muslim.
Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang diam dengan liusannya kadang ia
mengingkari dengan hatinya. Dan dengan demikian ia tetap masih beriman. Dalam
masalah ini juga rosululloh saw., bersabda:
‫ و من أن كر‬،‫ه ف قد بر يء‬9‫ر‬:‫ ف من ك‬،‫إ نه ي; ستعمل علي كم أمراء فتعرفون وت;نكرون‬
)‫لوا‬:‫ ما ص‬،‫ يارسول ال أل نقاتلهم؟ قال (ل‬:‫ ولكن من رضي وتابع) قالوا‬،:‫م‬9‫ل‬:‫فقد س‬
“Sesungguhnya kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang kalian
mengetahui mereka namun kalian mengingkarinya. Maka barang siap yang
membencinya ia telah bebas dan dan barang siapa yang mengingkarinya ia telah
selamat, akan tetapi orang yang rela dan mengikuti.” Para sahabat bertanya:

3
“Wahai Rosululloh, apakah tidak kita perangi mereka?” Beliau menjawab:”Tidak,
selama mereka masih sholat.” Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim
An-Nawawi mengatakan dalam syarahnya: “Adapun riwayat yang berbunyi
“barangsiapa yang membenci ia bebas” artinya sudah jelas yaitu barangsiapa yang
membenci kemungkaran itu maka ia bebas dari dosa dan hukumannya. Dan ini
adalah berkenaan dengan orang yang tidak mampu mengingkarinya dengan tangan
dan lisannya maka hendaknya ia membencinya dengan hatinya supaya ia
terbebas.” (Shohih Muslim Bisyarhin Nawawi XII/243). Selama orang yang diam itu
masih mengandung kemungkinan maka tidak boleh mengkafirkannya, akan tetapi
ia dianggap dalam keadaan kemungkinan yang baik, selama ia adalah muslim
masturul hal. Dan telah belalu penjelasan dalam pembahasan qo’idatut takfir
bahwasanya tidak boleh mengkafirkan dengan berlandaskan sesuatu yang mengan
dung kemungkinan, dan di antaranya adalah sikap diam yang tersebut di sini.
B. Kelompok kedua yang salah dalam permasalahan ini adalah kelompok
yang tawqquf (diam) tidak menghukumi Islam terhadap orang Islam
yang masturul hal di dalam negara-negara tersebut dan kelompok ini
menyaratkan tabayun (mencari kejelasan) terhadap keadaanya dan
menguji aqidahnya untuk menentukan keislamannya. Dan ini sesuai
dengan pendapat sekelompok khowarij – yaitu Al-Akhnasiyah – dalam
tawaqquf dan tabayyun. (Lihat Maqolatul Islamiyyin karangan Abul
Hasan Al-Asy’ari I/180. tawaqquf terhadap orang yang masturul hal
semacam ini bid’ah. Dalil yang menunjukkan bahwa hal itu bid’ah adalah
nas-nas yang menunjukkan penetapan hukum Islam terhadap orang yang
menampakkan tanda-tanda keislaman, yang kebanyakan nas tersebut
berbicara tentang orang-orang yang berada di darul harbi atau ketika
dalam peperangan. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan orang yang
menampakkan tanda-tanda keislaman itu di darul harbi atau ketikan
perang, tidak mengharuskan untuk bersikap tawaqquf untuk menganggap
Islam secara hukum orang yang menampakkan tanda-tanda keislaman
tersebut. Dan seandainya dia mata dalam keadaan seperti itu di pasti
diperlakukan sebagaimana orang Islam. Dalam hal ini tidak ada
perselisihan di kalangan ulama’, sebagai mana juga para ulama’ tidak
berselisih pendapat bahwa orang Islam itu terjaga darah, harta dan
keturunannya dengan keislamannya, sama saja apakah dia berada di darul
islam atau darul kufri. (Lihat Al-Mughni Ma’asy Syarhil Kabir IX/335.
Dan di antara nasnya adalah hadits Usamah Bin Zaid yang berbunyi:

‫أقتلته بعدما قال ل إله إل ال‬


“Pakah kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illalloh?”
Hadits ini Muttafaq ‘Alaih.
Dan hadits Ibnu Umar tentang Kholid yang membunuh tawanan Bani Jadzi’ah
setelah mereka mengucapkan:
‫صبأنا صبأنا‬
Artinya menurut mereka adalah “Kami telah Islam.” Dan pengingkaran nabi
terhadap Kholid. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori.
Dan nas-nas lain yang senada dengan ini.
Al-Hafidz Ibnu Rojab mengatakan: “Dan sudah maklum sacara jelas bahwa
Nabi menerima siapa saja yang datang kepadanya dan ingin masuk Islam dengan

4
mengucapkan dua kalimat syahadat saja, dan dengan begitu orang tersebut menjadi
terjaga darahnya dan ia menjadi seorang muslim. Dan beliau mengingkari Usamah
bin Zaid yang yang membunuh orang yang mengucapkan laa ilaaha illalloh ketika
Usamah telah mengangkat pedangnya. Dan beliau sangat keras pengingkarannya
ketika itu. Dan nabi tidak pernah menyaratkan kepada orang yang datang kepada
beliau untuk masuk Islam dengan syarat apapun, kemudian orang tersebut
diwajibkan untuk sholat dan zakat.” (Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam hal.72 cetakan
darul Fikri).
Orang-orang yang bersikap tawqquf dan tabayyun terhadap keislaman
mereka ini memiliki beberapa syubhat:
• Diantaranya adalah bahwasanya untuk mengganggap seseorang itu Islam
secara hukum tidaklah cukup dengan mengikrarkan dua kalimat
syahadat. Akan tetapi harus tabayyun (dipastikan) bahwa ia
melaksanakan syari’at. Dan yang benar bahwa melaksanakan syari’at ini
merupakan keharusan bagi syahnya keislaman seseorang. Maka
barangsiapa yang mengikrarkan dua kalimat syahadat namun ia tidak
sholat maka ia bukan orang Islam. Akan tetapi yang benar dan yang
ditunjukkan dalan nas-nas bahwa seseorang itu dianggap Islam secara
hukum hanya dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat, dan tidak
tawaqquf dalam menganggapnya Islam sampai datang waktu sholat
untuk dilihat apakah ia sholat atau tidak? Apabila telah tiba waktu sholat
ia diharuskan untuk sholat, jika dia tidak sholat maka ia dianggap murtad
dan disuruh untuk bertaubat. Ibnu Taimiyah berkata: “Orang-orang badui
dan yang lainnya jika mereka masuk Islam pada zaman Nabi saw., mereka
diwajibkan untuk melaksanakan amalan-amalan dzohir yang berupa
sholat, zakat, puasa dan haji. Dan tidak ada seorangpun yang dibiarkan
hanya mengucapkan dua kalimat syahadat. Akan tetapi orang yang
melakukan kemaksiatan ia dihukum sesuai dengan perbuatannya.”
(Majmu’ Fatawa VII/258) Akan tetapi ia diharuskan sholat pada
waktunya, dan dia dihukum jika meninggalkannya, karena
mengiukrarkan dua kalimat syahadat itu mencakup ikrar untuk
melaksanakan hukum-hukumnya. Dan ini lah perbedaan antara perkataan
salaf yang mengatakan bahwa ikrar itu mencakup pembenaran hati dan
kesiapan untuk melaksanakan syari’at, dan antara perkataan orang masa
sekarang (mu’ashirin) yang mengatakan bahwa ikrar iti tidak terkandung
di dalamnya kesediaan untuk melaksanakan syari’at, namun mereka
berpendapat bahwa tabayyun (mencarai kepastian) bahwa ia
melaksanakan syari’at itu merupakan syarat dalam menentukan Islamnya
seseorang. Dan nas-nas yang kami sebutkan diatas, juga perkataan Ibnu
rojab menjelaskan benarnya pendapat salaflah dan pendapat mu’ashirin
itu salah. Ibnu Rojab juga mengatakan: “Barangsiapa yang mengikrarkan
dua kalimat syahadat, maka secara hukum ia menjadi orang Islam, dan
jika ia masuk islam dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat tersebut ia
harus melaksanakan amalan-amalan Islam.” (Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam
hal. 21)dalam menerangkan bahwa ikrar dengan dua kalimat syahadat itu
mencakup ikrar untuk melaksanakan syari’at, Ibnu Taimiyah berkata:
“Yang dimaksud dengan ikrar adalah mengikuti (syari’at Islam-pent.) dan
bukan sekedar pembenaran, sebagaimana firman Alloh:

5
‫«وإذ أخذ ال ميثاق النبيين لما آتيتكم من كتاب وحكمة ثم جاءكم رسول مصدق‬
‫ قال أأقرر تم وأخ ذتم على ذل كم إ صري؟ قالوا‬،‫ل ما مع كم لتؤمن ـ;ن به ولتن صرنه‬
»‫ قال فاشهدوا وأنا معكم من الشاهدين‬،‫أقررنا‬
Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi:"Sungguh, apa saja
yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang
rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh
beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman :"Apakah kamu mengakui dan
menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu" Mereka menjawab:"Kami mengakui".
Allah berfirman:"Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula)
bersama kamu". (QS. 3:81)
Jadi mitsaq (perjanjian) yang diambil adalah agar mereka mau beriman dan
membelanya, dan sungguh merekapun telah diperintahkan untuk yang demikian
ini, dan ikrar ini bukanlah pembenaran, karena Alloh tidak memberikan kabar
kepada mereka, akan tetapi Alloh mewajibkan mereka jika dating seorang rosul
kepada mereka hendaknya mereka beriman kepadanya dan membelanya. Inilah
ikrar mereka – sampai beliau mengatakan – dan kata ikrar sudah pasti mengandung
pengertian iltizam (mengikuti) dan tash-diq (membenarkan).” (Majmu’ Fatawa
VII/396-397 dan senada dengan ini pada VII/530-531).
• Dan di antara syubhat orang-orang yang berpendapat tawaqquf dan
tabayyun ini adalah: mereka mengatakan bahwa keadaan telah berubah.
Manusia pada hari ini pada hari ini mereka mengucapkan syahadat akan
tetapi mereka tidak mengerti artinya. Oleh karena itu mereka harus diuji
pemehaman mereka terhadap makna syahadat dan konsekuensinya yang
mencakup an-nafyi (peniadaan/pengingkaran) dan al-itsbat (penetapan).
Yaitu mengingkari thoghut dan beriman kepada Alloh. Syarat semacam ini
tidak ada dalilnya, bahkan menyelisihi apa yang lakukan oleh nabi dan
para sahabatnya, karena mereka tidaklah bersikap tawaqquf dalam
menetapkan keislaman orang yang mengikrarkan dua kalimat syahadat.
Mereka tidak menguji pemahaman orang tersebut terhadap makna dan
maksud dua kalimat tersebut. Dan rosululloh saw., bersabda:
‫كل شرط ليس في كتاب ال فهو باطل‬
Setiap syarat yang tidak terdapat dalam kitabulloh adalah batil.” Hadits ini
diriwayatkan oleh Al-Bukhori.
Dan beliau juga bersabda:
‫من عمل عمل ليس عليه أمرنا فهو رد‬
“Setiap amalan yang bukan dari ajaran kami maka tertolak.” Hadits ini
diriwayathan oleh Muslim.
Sesungguhnya orang-orang yang menetapkan syarat ini, pendapat mereka
bertentangan dengan hadits Dzatu Anwath, di dalam disebutkan bahwa mereka
meminta kepada nabi saw., agar beliau membikin dzatu anwath, mereka tidak
mengetahui jika perbuatan tersebut bertentangan dengan makna dua kalimat
syahadat. Yang benar dalam masalah ini bahwa mengetahui makna syahadat
sebagai mana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari
‘Utsman bin Affan, begitu juga ikhlas, yakin dan syarat-syarat syah syahadat laa
ilaaha illalloh yang lainnya yang terdapat dalam buku-buku aqidah, syarat-syarat ini
merupakan syarat syahnya Islam yang sebenarnya yang akan bermanfaat bagi

6
seseorang di akherat. Dan ini telah saya singgung ketika membahas ilmu yang
hukum mempelajarinya fardlu ’ain, dalam pasal II bab III dalam kitab ini (Al-
Jami’-pent.). Syarat-syarat syah syahadat laa ilaaha illalloh dapat dikaji dalam kitab
Ma’arijul Qobul cet. Darus Salafiyah II/377-386, juga dalam kitab Fat-hul Majid
dalam penjelasan bab berdakwah kepada syahadat laa ilaaha illallooh, hal. 88, cet.
Darul Fikri 1399 H. Adapun hukum yang berlaku di dunia seseorang dianggap
sebagai orang Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, lalu jika barang
siapa melanggar agamanya setelah mengucapkan syahadat, ia divonis sesuai
dengan ketentuan syar’ii, seperti kafir atau fasiq, dengan syarat-syarat sebagaimana
yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah: “Tidak seorangpun dibiarkan hanya
mengucapkan kalimat, namun orang yang berbuat maksiyat dihukum sesuai
dengan kemaksiatannya.” (Majmu’ Fatawa VII/258). Yang dimaksud dengan
kalimat adalah dua kalimat syahadat. Syaikh Sulaiman bin Abdulloh bin
Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Adapun orang yang mengucapkan laa
ilaaha illallooh tanpa mengetahui maknanya dan tidak pula mengamalkannya, atau
ia mengaku sebagai orang yang bertauhid sedangkan dia tidak mengetahui tauhid
bahkan mungkin dia memurnikan ibadahnya seperti do’a, takut, menyembelih,
nadzar, taubat, inabah (kembali, taubat) dan ibadah-ibadah yang lainnya kepada
selain Alloh, maka sesungguhnya tauhid itu tidak cukup dengan seperti ini, akan
tetapi ia dalam keadaan seperti ini merupakan orang musyrik.” (Taisirul ‘Azizil
Hamid hal. 140, cet. Al-Maktab Al-Islami 1409 H. Perhatikanlah perkataan beliau
“maka sesungguhnya tauhid itu tidak cukup dengan seperti ini…” dan beliau tidak
mengatakan “sesungguhnya menganggap seseorang sebagai orang islam tidak
cukup dengan seperti ini…” Seseorang dianggap Islam dengan tanda-tanda
keislaman, adapun Islam yang sebenarnya, maka dengan syarat-syarat syah
syahadat yang lain syahadat itu bermanfaat baginya diakherat, dan jika tidak
terpenuhi syarat-syarat-syarat tersebut maka tidak bermanfaat pula syahadat
tersebut. Dan kita tidak wajib mengetes apakah orang tersebut telah memenuhi
syarat-syarat tersebut, akan tetapi orang tersebut dianggap sebagai orang islam lalu
dihukum sesuai dengan pelanggarannya. Dan sering kali orang terjerumus dalam
kesalahan karena tidak membedakan antara hukum Islam secara dzohir yang
menjadi landasan hukum-hukum dunia seperti terjaganya darah dan harta, syahnya
pernikahan dan warisan dan antara Islam yang sebenarnya yang menjadi landasan
hukum-hukum akherat seperti pahala dan siksa di sisi Alloh. Ibnu Taimiyah
berkata: “Sesungguhnya kebanyakan orang yang berbicara tentang masalah-
masalah iman dan kafir, - untuk memvonis kafir ahlul ahwa’ (pengikut hawa nafsu)
– mereka tidak memperhatikan persoalan ini, dan mereka tidak membedakan
antara hukum dzohir dan hukum batin, padahal perbedaan ini telah ditetapkan
dalam nas-nas yang mutawatir (sangat banyak) dan ijma’, bahkan ia merupakan
ajaran islam yang fital.” (Majmu’ Fatawa VII/472. Dan Syaikh Hafidz Hakami
berkata: “Lalu ketahuilah wahai saudaraku – semoga Alloh memberi petunjuk
kepada kami dan kepadamu – sesungguhnya pelaksanaan agama yang dapat
menyelamatkan dari kehinaan di dunia dan adzab di akherat, yang dengannya
seseorang akan mendapatkan keberuntungan syurga dan dijauhkan dari api neraka,
sesungguhnya adalah pelaksanaan yang sesuai dengan hakekat semua yang
disebutkan dalam hadits Jibril juga ayat-ayat dan hadits-hadits yang semakna
dengannya. Dan jika ia yidak melaksanakannya sesuai dengan hakekatnya namun
dia tidak menampakkan perbuatan yang membatalkan Islam, maka diperlakukan
padanya hukum-hukum yang diperlakukan pada kaum muslimin di dunia

7
sedangkan hatinya diserahkan kepada Alloh. Alloh berfirman:
‫فإن تابــوا وأقامــوا الصــلة وآتــوا الزكـاة فخلوا سبيلهــم‬
“Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah
kebebasan kepada mereka untuk berjalan. (QS. 9:5)
dalam ayat yang lain disebutkan:
‫فإخوانكم في الدين‬
“maka mereka adalah saudara-saudara kalian seagama.”
Dan ayat-ayat yang lain.” (Ma’arijul Qobul II/37)
Dengan demikian maka tidak diberlakukan sikap tawaqquf dan tabayyun
terhadap orang muslim yang masturul hal. Dan tidak menghgantungkan islamnya
seseorang dengan permasalahan-permasalahan agama yang ia pelajari – akan tetapi
ia dianggap sebagai orang Islam kemujian ia wajib untuk belajar agama
sebagaimana yang kami jelaskan dalam menerangkan ilmu yang hukum
mempelajarinya fardlu ‘ain pada bab II dalam kitab ini – dan belajar ini bukanlah
syarat untuk menganggap seseorang sebagai orang islam. Ibnu Hajar berkata: “Al-
Ghozali berkata; ada sekelompok yang berlebihan, mereka mengkafirkan urang-
orang awam dari kalangan umat islam. Mereka mengira bahwa orang yang tidak
mengetahui masalah-masalah aqidah beserta dalil-dalilnya serta menjabarkannya
maka ia kafir. Dengan demikian mereka mempersempit rahmat Alloh yang luas,
mereka memperuntukkan syurga khusus untuk sekelompok kecil dari kalangan
mutkallimin (Ahlul kalam). Semacam ini juga dikatakan oleh Abul Mudzoffar bin
As-Sam’ani dan beliau memberikan sanggahan secara panjang lebar terhadap orang
yang berpendapat dengan pendapat diatas. Dan beliau menukil dari kebanyakan
para imam ahli fatwa , bahwasanya mereka berkata: Tidak boleh membebani orang-
orang awwam untuk meyakini pokok-pokok ajaran Islam beserta dalil-dalilnya.
Karena hal itu sangat susah bahkan lebih susah dari pada belajar fikih yang furu’
(cabang). – sampai Ibnu Hajar mengatakan - : Al-Qurthubi mengatakan: Inilah
pendapat para imam yang ahli berfatwa dan imam-imam salaf sebelum mereka.
Sebagian mereka berdalil dengan pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya
tentang fith-roh dasar dan juga berdalil dengan riwayat-riwayat mutawatir (sangat
banyak) dari nabi dan para sahabat bahwa mereka menganggap orang-orang arab
kolot yang sebelumnya menyembah berhala sebagai orang islam dengan
mengikrarkan dua kalimat syahadat dan melaksanakan hukum-hukum Islam
dengan tanpa mewajibkan mereka untuk belajar dalil-dalil.” (Fathul Bari XIII/349-
352).
• Dan di antara syubhat orang yang berpendapat tawaqquf dan tabayyun
adalah: adanya hadits yang menyebutkan bahwa nabi melakukan
tabayyun, sebagaimana hadits tentang seorang budak wanita dan
sebagaimana yang terdapat dalam surat al-Mumtahanah. Ini semua benar,
akan tetapi dalil-dalil tersebut tidak menunjukkan secara umum,
seandainya ini menjadi sebuah kaidah dasar (yang berlaku untuk umum-
pent.) pasti Nabi dan para imam setelah beliau memberlakukannya
terhadap semua orang yang masuk Islam. Yang benar adalah, tabayyun
yang disebutkan dalam dalam dalil-dalil tersebut adalah pada kondisi-
kondisi tertentu dan akan kami singgung pada bagian selanjutnya.
Tabayyun tersebut adalah syar’ii, sedangkan tabayyun terhadap orang
Islam yang masturul hal ini adalah tabayyun bid’ii (bid’ah).

8
• Dan di antara syubhat orang-orang yang berpendapat tawaqquf dan
tabayyun adalah: adanya syarat-syarat tertentu untuk menghukumi
(menganggap) seseorang sebagai orang islam. Seperti harus berada dalam
sebuah jama’ah islam dan berbai’at kepada pemimpin jama’ah tersebut,
sama saja apakan jama’ah tersebut suatu jama’ah tertentu atau jama’ah
secara umum. Hal ini (bergabung dengan jama’ah Islam dan berbai’at
kepada pemimpinnya) kadang merupakan suatu kewajiban, sebagaimana
yang saya sebutkan dalam kitabku yang berjudul “Al-‘Umdah”, akan
tetapi hal ini bukanlah syarat syah Islam baik Islam secara hukum maupun
Islam secara hakekat, di antara dalilnya adalah:
Sesungguhnya orang yang masuk Islam di darul harbi (negara musuh)
kemudian dia tidak berhijrah – baik karena tidak mampu atau karena dia mampu
untuk idzh-harud din di negeri tersebut – maka orang tersebut adalah orang Islam
meskipun dia tidak berada di sebuah jama’ah Islam dan tidak pula berbai’at kepada
pemimpinnya. Dan Alloh telah menyebut orang yang seperti ini sebagai orang yang
beriman – dan yang dimaksud adalah orang beriman secara hukum – sebagaimana
firman Alloh:
‫وإن كان من قوم ٍ عدو لكم وهو مؤمن‬
“Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu'min. (QS. 4:92)
dan juga firman Alloh:
‫ولول رجال مؤمنون ونساء مؤمنات لم تعلموهم‬
“Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mu'min dan perempuan-perempuan yang
mu'min yang tiada kamu ketahui, “ (QS. 48:25)
dan di antara dalilnya yang lain adalah: bahwa orang Islam yang keluar dari
jama’atul muslimin (khilafah-pent.) dan imamnya, ia tidak tidak berbai’at
kepadanya atau dia membai’atnya kemudian dia membatalkan bai’atnya dan
membangkan dari mentaatinya. Orang semacam ini meskipun ia membangkang, ia
masih muslim sebagaimana firman Alloh:
‫ فإن ب غت إحدا هما على‬،‫وإن طائفتان من المؤمن ين اقتتلوا فأ صلحوا بينه ما‬
‫الخرى فقاتلوا التي تبغي‬
” Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu'min berperang maka damaikanlah
antara keduanya.Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan
yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu (QS. 49:9)
dalam ayat ini Alloh menamakannya sebagai orang beriman meskipun dia
berbuat aniaya. Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud jahiliyah dalam
sabda nabi Muhammad saw., yang berbunyi:
‫من مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية‬
“Barangsiapa yang mati sedangkan dia tidak berbai’at maka ia mati dalam
keadaan jahiliyah.” Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.
Yang dimaksud adalah mati dalam keadaan bermaksiyat, dan bukan kafir.
Karena orang yang berbuat aniaya juga muslim. Imam Al-Bukhori memasukkan
masalah ini dalam kitabul Iman dalam kitab Shohihul Bukhori pada bab
“Kemaksiyatan-kemaksiyatan termasuk masalah jahiliyah, orang yang melakukannya tidak
kafir kecuali ia berbuat syirik”, dan beliau menyebutkan di sana hadits Abu Dzar
secara marfu’ :
‫إنك امرؤ فيك جاهلية‬
“Kamu adalah orang yang padamu ada kejahiliyahan.”

9
Dan di antara dalilnya yang lain adalah hadits Hudzaifah Ibnul Yaman, ia
mengatakan: “Jika kaum mereka (kaum muslimin-pent.) tidak mempunyai jama’ah
dan imam bagaimana?” Rosululloh menjawab:
‫فاعتزل تلك الفرق كل ها ولو أن ت عض بأ صل شجرة ح تى يأت يك الموت وأ نت‬
‫على ذلك‬
“Jauhilah kelompok-kelompok tersebut semuanya walaupun engkau samapai
menggigit akar pohon sampai kamu mati dan kamu dalam keadaan seperti itu.”
Hadits ini muttafaq ‘alaih.
Dalam hadits ini rosululloh mjenjelaskan bahwa Islam itu tetap syah
meskipun jama’atul muslimin itu tidak ada – yang sesuai dengan arti politik secara
syar’ii – dan tidak ada imamnya. Dan Rosululloh tidak mengatakan kepada
Hudzaifah bahwa Islam itu tidak syah dalam keadaan seperti itu. Sedangkan
menunda keterangan ketika dibutuhkan.
Dan banyak orang yang masuk Islam pada masa hidup Rosululloh sedangkan
mereka belum pernah melihat beliau, belum berbai’at kepada beliau dan tidak pula
tinggal di daarul Islam Madinah. Dan di antara mereka yang mati pada zaman nabi
saw., adalah seperti An-Najasyi, raja Habasyah (Ethiopiya-pent.)- semoga Alloh
meridloinya – dan di antara mereka ada yang masih hidup setelah wafat beliau dan
mereka itu yang disebut sebagai Tabi’in Hadl-romi dan keadaan semacam ini tidak
menjadikan cacat keislaman mereka masing-masing.
Inilah yang berkaitan dengan sanggahan-sanggahan terhadap syubhat-
syubhat orang-orang yang berpendapat tawaqquf dalam menghukumi
(menganggap) Islam orang muslim yang masturul Hal.
Akibatnya, sebagian orang yang berpendapat tauwaqquf terhadap muslim
yang masturul hal , mereka tidak mau sholat di belakangnya. Dan ini adalah
merupakan bid’ah yang lain ;llagi Ibnu Taimayah berkata: “Dipebolehkan untuk
sholat di belakang muslim yang masturul (tidak diketahui keadaannya) atas
kesepakatan para imam empat madzhab dan juga seluruh imam kaum muslimin,
maka barang siapa yang mengatakan; Saya tidak mau sholat jama’ah atau sholat
jum’at kecuali di belakang orang yang saya ketahui aqidah dalam hatinya, orang
semacam ini adalah ahlul bid’ah yang bertentangan dengan para sahabat dan
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, imam empat madzhab dan
ulama’-ulama’ yang lain. Wallohu A’lam “ (Majmu’ Fatawa IV/54). Dan beliau juga
mengatakan: “Seseorang boleh sholat lima waktu, sholat jum’at dan yang lainnya di
belakang orang yang belim diketahui apakah ia berbuat bid’ah atau kefasikan
sesuai dengan kesepakatan imam empat madzhab dan imam-imam kaum muslimin
yang lainnya. Dan bukan merupakan syarat untuk mengikuti seorang imam,
makmum harus mengetahui keyakinan imannya dan juga ia tidak harus mengetes
imam tersebut, dengan mengatakan: apa yang kamu yakini? Akan tetapi ia boleh
sholat dibelakang orang yang masturul hal.” (Majmu’ Fatawa XXIII/351). Adapun
jika ia tahu bahwa imam sholatnya melakukan kefasikan dan bid’ah, maka
hukumnya adalah sebagimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah: “Kaum
muslimin sepeninggal nabi mereka senantiasa sholat di belakang muslim yang
masturul hal, akan tetapi jika imam tersebut diketahui berbuat bid’ah atau dosa,
dan memungkinkan untuk sholat di belakang yang diketahui ia berbuat bid’ah atau
kefasikan, padahal ia mampu untuk sholat di belakang orang selain dia, maka
kebanyakan ulama’ menganggap syah sholat makmum tersebut. Dan ini adalah
madzhab Asy-Syafi’ii, Abu Hanifah, salah satu dari dua pendapat madzhab Maliki

10
dan madzhab Ahmad. Adapun tidak memungkinkan kecuali harus sholat di
belakang orang mubtadi’ (pelaku bid’ah) atau orang yang fajir (pelaku dosa) dan
tidak ada sholat jum’at yang lainnya, maka ia boleh sholat di belakang mubtadi’
atau fajir menurut pendapat Ahlus Sunnah Wal Jama’ah secara umum. Dan inilah
madzhab Asy-Syafi’ii, Abu Hanifah, Ahmad bin Hambal dan imam Ahlus Sunnah
yang lainnya, dan tidak ada perselisihan di antara mereka dalam hal ini. Sebagian
orang jika tersebar perbuatan dosa ia suka untuk tidak sholat kecuali di belakang
orang yang ia ketahui, hal ini hanya sekedar anjuran, sebagaimana yang dinukil
dari Ahmad bahwasanya mengatakan hal itu kepada orang yang bertanya
kepadanya. Dan Ahmad tidak mengatakan tidak syah sholat kecuali di belakang
orang yang ia ketahui keadaannya.” (Majmu’ Fatawa III/280). Syaikhul Islam
memaparkan masalah ini dalam Majmu’ Fatawa XXIII/340-359. dan pen-syarah
buku aqidah thohawiyah menukil sebagian besar dari perkataan Ibnu taimiyah
tersebut ketikan menjejaskan perkataan Ath-Thohawi yang berbunyi: “Dan kami
berpendapat tetap sholat di belakang setiap orang yang baik maupun fajir dari
kalangan umat Islam, dan juga menyolatkan siapa saja yang mati di antara
mereka.” (Syarhul ‘Aqidahtith Thohawiyah, hal. 421-426, cet. 1403 H.).
Sampai mekipun orang muslim yang masturul hal tersebut pada hakekatnya
adalah orang kafir – seperti orang-orang kominis, sekuler, dan orang-orang yang
memerangi Alloh dan rosulNya – namun napak padanya tanda-tanda orang Islam,
seperti sholat, maka orang tersebut dianggap sebagai orang Islam k padanya tanda-
tanda orang Islam, seperti sholat, maka orang tersebut dianggap sebagai orang
Islam landaskan tanda-tanda yang nampak pada dirinya. Dan boleh sholat di
belakangnya sedangkan ia tidak tahu pada hakekatnya imamnya adalah nyata-
nyata kafir. Sholatnya syah. Ibnu Qudamah berkata: “Jika seseorang sholat
dibelakang orang yang ia ragukan keislamannya atau apakah imamnya itu huntsa
(banci), maka sholatnya syah selama ia tidak tahu dengan jelas kekafirannya atau
orang tersebut jenis kelaminnya sulit dibedakan (hun-tsa musy-kil). Karena pada
dzohirnya orang yang sholat itu adalah orang islam, apalagi seorang imam. Dan
yang dzohir ia bukanlan orang banci, apa lagi ia mengimami laki-laki. Namun jika
setelah sholat ia tahu ternyata ia kafir atau hun-tsa, maka ia harus mengulang
sebagaimana yang telah kami terangkan. Dan jika imamnya adalah orang yang
kadang Ismam dan kadang murtad, maka tidak boleh sholat di belakangnya sampai
ia tahu agama yang di anut oleh imam.” (Al-Mughni Ma’asy Syar-hil Kabir II/34).
Jika sholat di belakang orang yang diragukan kekafirannya saja syah, maka sholat
di belakang orang yang tidak diketahui kekafirannya lebih syah lagi.
Inilah penjelasan yang berkaitan dengan muslim masturul hal sedangkan dia
menampakkan tanda-tanda keislaman dan tidak diketahui ia melakukan perbuatan
yang menjadi pembatal keislaman. Ia dianggap sebagai orang Islam.

Materi tambahan : Tanda-tanda Islam yang syah secara


hukum.
Maksudnya adalah tanda-tanda yang apabila nampak pada seseorang, maka
orang tersebut secara hukum dianggap orang Islam. Tanda-tanda ini haruslam
merupakan cirri khas Islam yang tidak terdapat pada agama-agama lain. Maka
sedekah, berbuat baik kepada orang tua, menolongh orang yang membutuhkan
pertolongan, meskipun semua itu merupakan bagian dari cabang iman, namun
bukan merupakan ciri khas seorang muslim, akan tetapi amalan itu dikerjakan baik

11
oleh orang islam maupun orang kafir. Yang menunjukkan hal ini adalah hadits
Hakim bin Hizam, bahwasanya ia berkata kepada rosululloh saw.,: “Bagaimana
dengan amalan-amalan yang aku kerjakan untuk bertahannuts pada masa jahiliyah
seperti sedekan atau membebaskan budak atau silaturrohmi, apakan ada
pahalanya?” Maka rosululloh menjawab:
‫أسلمت على ما أسلفت من خير‬
“Kamu telah mengislamkan amalan baikmu.” Hadits ini Muttafaq ‘Alaih.
Tahannuts adalah ibadah. Maka tanda-tanda yang digunakan untuk
menentukan keislaman seseorang secara hukum haruslah cari khas Islam. Ibnu
Taimiyah berkata: “Setiap hukum yang berkaitan dengan nama-nama yang
digunakan dalam agama, seperti islam, iman kafir, nifaq, murtad, yahudi dan
nasrani, ditetapkan terhadap orang yang memiliki ciri yang mengharuskan untuk
itu.” Majmu’ Fatawa XXXV/227. Pensyarah Aqidah Thohawiyah berkata: “Di sini
ada beberapa permasalahan yang dibicarakan oleh para fuqoha’ (ahli fikih), seperti
orang yang mengerjakan sholat dan belum mengucapkan dua kalimat syahadat.
Atau mengerjakan cirri-ciri khas islam lainnya namun ia belum mengucapkan dua
kalimat syahadat. Apakan dia menjadi muslim atau tidak? Yang benar ia menjadi
muslim dengan perbuatan-perbuatan yang menjadi cirri khas Islam.” Syarhul
‘Aqidah Ath-Thohawiyah, terbitan Al-Maktab Al-Islami 1403, hal. 75. Sedangkan
tanda-tanda untuk menganggap seseorang itu beragama Islam secara hukum ada
dua macam: pertama adalah tanda-tanda yang dengannya cukup untuk
menganggap seseorang itu muslim dan yang kedua adalah qoro’in (keadaan-
keadaan yang terdapat pada seseorang-pent.) yang tidak cukup dengannya untuk
menentukan seseorang itu muslim, kecuali setelah tabayyun. Berikut ini keterangan
singkatnya:
Adapun tanda-tanda yang dengannya cukup untuk
menghukumi seseorang sebagai orang Islam di
antaranya adalah:
1- Tanda-Tanda Keislaman Yang Sah
[a]- Mengucapkan dua kalimat Syahadat, Berdasarkan hadits
‫ رسول ال‬/‫أمرت أن أقــاتل الناس حتى يشهـدوا أن ل إله إل اللـه وأن محمدا‬
” Aku diutus untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak
ada ilaah (tuhan) kecuali Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh.”
HAdits ini muttafaq ‘alaih.
Dan juga berdasarkan hadits Usamah Bin Zaid, Rosululloh bersabda
kepadanya:

;‫ا ال‬w‫إل‬9 :‫ه‬:‫ل‬9‫ إ‬:‫ ل‬:‫ال‬:‫ا ق‬:‫ م‬:‫د‬x‫ع‬:‫ه; ب‬:‫لت‬x :‫ت‬:‫ق‬:‫أ‬


“Apakah kau bunuh padahal dia telah mengucapkan laa ilaaha illalloh?”
Hadits ini Muttafaq ‘alaih.
Dan banyak hadits-hadits lainnya yang terdapat perincian dalamnya, kaji
dalam kitab Nailul Author VIII/12 dan Al-Mughni Ma’asy Syarhil Kabir X/100-102.
[b]- Orang yang mengatakan “saya seorang muslim. Sebagaimana hadits
Furoot bin Hayyaan yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud (Nailul
Author VIII/154). Atau orang yang mengatakan “aku berserah diri kepada Alloh”
sebagaimana dalam hadits Al-Miqdad bin Al-Aswad

12
‫ا‬:‫لن‬x :‫ت‬:‫ت‬x‫اق‬:‫ر ف‬9 ‫ا‬w‫لك;ف‬x ‫ ا‬:‫ن‬9‫ا م‬/‫رج;ل‬: ;‫ت‬x‫ي‬9‫ق‬:‫ن ل‬
x ‫إ‬9 ‫ت‬
: x‫ي‬:‫أ‬:‫ر‬:‫أ‬
“Apa pendapatmu kalau saya bertemu dengan orang kafir “ Hadits ini
Muttafaq ‘Alaih.
Dan juga orang yang mengatakan perkataan yang menunjukkan ia mau
masuk Islam, sebagaimana Kholid Ibnul Walid membunuh tawanan bani Jadzi’ah
setelah mereka mengucapkan: ‫ا‬:‫أن‬x :‫ب‬:‫( ص‬NAilul Author VIII/9)

[c]-Sholat, baik sendirian maupun berjama’ah. Berdasarkan hadits Anas


;‫لم‬9x‫لم;س‬x ‫ ا‬:‫ك‬9‫ل‬:‫ذ‬:‫ا ف‬:‫ن‬:‫ت‬:‫ح‬x‫ي‬9‫ب‬:‫ ذ‬:‫ل‬
:‫ك‬:‫أ‬:‫ا و‬:‫ن‬:‫ت‬:‫ل‬x‫قب‬9 :‫ل‬:‫ب‬x‫ق‬:‫ت‬x‫اس‬:‫ا و‬:‫ن‬:‫لات‬::‫ى ص‬w‫صل‬
: ‫ن‬
x :‫م‬
“ Barangsiapa yang sholat sebagaimana sholat kita, menghadap ke arah kiblat
kita dan memakan smbelihan kita, maka dia adalah seorang muslim,” HAdits ini
diriwayatkan oleh Al-Bukhori.
Al-Qurthubi menukil dari Ishaq bin Rohawaih bahwa hal ini merupakan ijma’
(TAfsir Al-Qurthubi VIII/207) lihat pula (Al-Mughni MA’asy Syarhil Kabir X/102-
103).
[d]-Adzan, yang ia kumandangkan atau yang ia ulang-ulang, karena di
dalamnya terdapat dua kalimat syahadat. (Fathul Bari II/90). Dalam hal ini
terdapat dalam Hadits Anas yang berperang dan menahan penyerangan
terhadap terdengan mengumandangkan adzan . Hadits ini diriwayatkan oleh
Al-Bukhori. Kaji NAilul Author VIII/69)
[e]- Haji. Dalam masalah ini ada perselisihan, karena orang-orang musyrik
pada masa jahiliah juga melakukan haji. Namun yang benar bahwa haji itu
merupakan tanda, karena nabi saw., telah melarang mereka untuk melakukan haji
pada tahun 9 H. Beliau mengumumkan pada mereka bahwa setelah tahun ini tidak
ada orang musyrik yang menunaikan haji. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori,
maka haji menjadi cirri khas Islam. Lihat (Al-Mughni Ma’asy Syarhil Kabir X/103).
[f]- Kesaksian orang islam lainnya bahwa ia seorang muslim. Sebagaimana
kesaksian nabi terhadap najasyi ketika beliau menyolatkan jenazah untuknya,
sedangkan para sahabat belum tahu keislaman najasyi ketika itu, dan hadits tentang
hal ini muttafaq ‘alaih. Juga sebagaimana kesaksian Ibnu Mas’ud atas Islamnya
Suhail Bin Baidlo’ dalam kisah tawanan Badar, dan hadits dalim hal ini
diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia menyatakan hasan (Nailul Author VII/148).
[g]- Mengikuti hukum kedua orang tua yang muslim atau salah satunya.
Hukum semacam ini berlaku untuk anak-anak sebelum baligh.

Qarinah (keadaan yang menyertai seseorang) yang tidak


bisa dijadikan landasan menghukumi Islam seseorang kecuali
setelah, memastikannya. Di antaranya adalah:
[a]- Mengucapkan salam. Barang siapa yang mengucapkan
“Assalamu’alaikum”, maka ini adalah salah satu qorinah atas islamnya seseorang
akan tetapi tidak pasti, karena kadang salam ini juga diucapkan oleh orang kafir
sebagai kebiasaan atau karena takut, atau basa basi, sehingga harus dipastikan
sebelum dihukumi. Masalah ini disebutkan oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya
V/339 dan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari VIII/259. ketikan menafsirkan ayat:
‫ا‬/‫ن‬9‫م‬x‫ت م;ؤ‬
: x‫س‬:‫ ل‬:‫م‬:‫ل‬w‫ك;م; الس‬x‫لي‬:‫إ‬9 ‫ى‬:‫ق‬x‫ل‬:‫ أ‬x‫ن‬:‫لم‬9 ‫ق;ول;وا‬:‫ ت‬:‫ول‬: ‫ن;وا‬w‫ي‬:‫ب‬:‫ت‬:‫ ف‬9‫ ال‬9‫بيل‬9‫س‬:‫ي‬9‫ ف‬x‫ت;م‬x‫ب‬:‫ر‬:‫ا ض‬:‫ذ‬9‫إ‬

13
“Apabila kamu pergi berperang dijalan Alloh, maka telitilah dan janganlah
kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: “ kamu
bukan seorang mukmin “ (QS. An-Nisa’: 94).
Dan juga dalam hadits Ibnu Abbas Muttafaq ‘Alaih bahwa ayat ini turun
berkenaan dengan orang yang mengucapkan salam lalu beberapa orang Islam
membunuhnya. Namun salam ini tidaklah menunjukkan kepastian karena selain
orang Islampun juga mengucapkannya, sebagaimana dalam hadits Anas,
‫ وعلكيم‬:‫إذا سلم عليكم أهل الكتاب فقولوا‬
“Jika Ajlul Kitab mengucapkan salam kepada kalian maka jawablah;
wa’alaikum.” Hadits ini Muttafaq ‘Alaih.
[b]- Ciri dzohir yang berupa pakaian, jenggot, rambut, surban dan lainnya.
Muhammad ibnul Hasan Asy-Syaibani mengatakan dalam kitab As-Sairul Kabir:
“Jika kaum muslimin memasuki daerah orang musyrik dengan kekuatan, maka
tidak apa-apa membunuh setiap laki-laki yang mereka jumpai kecuali jika mereka
berjumpa dengan seorang yang mengenakan cirri orang Islam atau cirri ahludz
dzimmah, maka ketika itu mereka harus memastikan orang tersebut sampai jelas
keadaannya.” Imam as-Sarkhosi, pensyarah kitab tersebut mengatakan: “Karena
menghukumi berdasarkan mode adalah prinsip yang tidak menunjukkan hakekat
sesuatu, Alloh berfirman:
‫سيماهم في وجوههم‬
“Tanda-tanda mereka terdapat pada wajah-wajah mereka.” (QS. Al-FAth: 29)
dan juga firman Alloh:
‫تعرفهم بسيماهم‬
“Kamu mengenal mereka dengan tanda-tanda mereka.” (QS. Al-Baqoroh; 273)
dan juga firman Alloh :
‫ي;عرف المجرمون بسيماهم‬
“Orang-orang mujrim itu diketahui dengan tanda-tanda mereka.” (QS. Ar-
Rohman: 41)
dan apabila terjadi kesalahan membunuh tidak mungkin untuk dikembalikan
lagi sedangkan keterlambatan dalam membunuh tidak merugikan kaum muslimin.
Oleh karena itu hendaknya memastikan keadaan orang tersebut sampai jelas status
orang tersebut. Hal itu karena tanda-tanda itu tidaklah lebih lemah dari pada berita
yang dibawa orang fasik, sedangkan kita telah diperintahkan untuk memastikan
kabar yang ia bawa, maka terlebih lagi dalam masalah ini. “ (As-Sairul Kabir
IV/1444).
Dan masih ada lagi masalah-masalah lain yang bisa digunakan untuk
menentukan orang itu Islam secara hukum, seperti membaca qur’an, melakukan
amar ma’ruf nahi munkar dan kawajiban-kewajiban syar’ii yang lain, serta jihad fii
sabiilillah. Pada setiap masalah ini ada perinciannya. Dan bisa juga mebagi tanda-
tanda yang menyertai seseorang ini dengan metode lebih dari satu. Dan masalah ini
telah saya paparkan dalam kitabku yang berjudul Al-Hujjah Fii Ahkamil Millah.
Inilah hal-hal yang berkaitan dengan orang yang masturul hal (keadaannya
tidak diketahui) – dan mereka adalah bagian kedua dari orang yang bersikap diam
di negara-negara kaum muslimin yang diperintah oleh penguasa murtad dengan
tidak menggunakan syari’at Islam – yaitu orang yang secara dzohir kelihatan Islam
dan tidak diketahui dia melakukan perbuatan yang membatalkan keislaman. Dan
orang semacam ini disebut masturul hal karena ia belum diuji hakekat dirinya dan

14
‘adalah bathinah nya. Dan telah saya jelaskan arti al-’adalah al-bathinah dalam bab
kelima ketika membahas syarat-syarat mufti. Dan apakah wajib mencari tahu
‘adalah bathinah seseorang? Jawabannya adalah: Wajib mencari tahu ‘adalah
bathiniyah seseorang pada perkara-perkara yang mensyaratkan ‘adalah bathiniyah
seperti untuk menentukan kepercayaan hakim terhadap saksi dan kepemimpinan
secara umum, seperti kholifah dan hakim. Dalam masalah ini lihat Al-Asybah wan
Nadzo’ir karangan As-Suyuthi hal. 612-616 dan 750, terbitan Darul Kitab Al-‘Arobi
1407 H. dan cara untuk mengetahui al-‘adalah al-bathiniyah adalah sebagaimana
yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah: “Untuk mengetahui keadaan manusia kadang
dengan kesaksian orang lain dan kadang dengan al-jarh wat ta’dil dan kadang
dengan ujian.” MAjmu’ FAtawa XV/330.
Ini lah bagian kedua dari orang-orang yang bersikap diam, kemudian keta
akan membicarakan bagian ketiga, yaitu orang yang tidak menampakkan tanda-
tanda apapun.

2- Orang yang tidak menampakkan tanda-tanda yang menunjukkan islam


atau kafir.
Orang semacam ini disebut dengan majhulul hal (orang yang tidak diketahui
keadaannya). Dan orang semacam ini tidak disebut sebagai al-muslim majhulul hal
(orang Islam yang tidak diketahui keadaannya), sebagaimana yang kami katakana
pada bagian kedua Al-Muslim masturul hal. Karena kalau kita katakan muslim,
maka kita menganggapnya sebagai orang Islam sehingga ia bukan lagi orang yang
tidak diketahui keadaannya.
Sedangkan hukum orang yang majhulul hal yang berada di negara-negara ini
adalah tawaqquf (tidak dianggap sebagai orang islam atau orang kafir) dan tidak
diikut sertakan dengan hukum asal apapun (istish-hab). Orang semacam ini tidak
diteliti keadaannya kecuali jika dibutuhkan untuk mengetahui status orang
tersebut, maka ketika itu dicari kejelasan tentang dirinya. Dan dia tidak dihukumi
kecuali sesuai dengan yang nampak pada dzohirnya. Dan ketika betul-betul tidak
mampu untuk mengetahui statusnya secara dzohir ia statusnya disamakan dengan
status negaranya dengan tetap mempertimbangkan keadaan penduduknya.
Singkatnya orang yang majhulul hal di negara-negara ini: tawaqquf (tidak
ditentukan status hukumnya) dan dicari kejelasan keadaan dirinya jika dibutuhkan.
Berikut ini penjelasan singkat ungkapan pertama:
A. Tawaqquf terhadap status hukumnya; hal ini karena Sang Pembuat
syari’at menetapkan status Islam atau kafir dengan sebab-sebab dzohir,
padahal orang tersebut tidak menampakkan sesuatu yang bisa digunakan
untuk menentukan statsus dirinya. Sedangkan Alloh berfirman:
‫ولتقف ماليس لك به علم‬
“Dan janganlah kamu mengatakan apa-apa yang kamu tidak mengetahui
ilmunya.” (Al-Isro’: 36)
B. Tidak disamakan dengan hukum asal apapun(istish-hab). Karena istish-
hab itu adalah dalil yang paling lemagh dan tidak bisa digunakan untuk
menentukan hukum ketika tidak bisa menentukan status hukum. Untuk
menentukan status dzohir orang yang majhulul hal yang masih hidup
masih memungkinkan dengan cara tabayyun, maka tidak istsh-hab tidak
bisa digunakan. Lebih deteilnya permasalahan ini adalah sebagai berikut:
sesungguhnya hukum asal yang digunakan untuk menentukan status

15
hukum orang yang majhulul hal pada perkataan para fuqoha’ adalah
status hukum negara tempat tinggalnya dengan tetap mempertimbangkan
agama yang dianut penduduknya. Orang majhulul hal yang hidup di
dalam darul Islam, ia dianggap sebagai orang Islam, namun demikian
orang yang ditemukan di daerah pemukiman ahludz dzimmah yang
berada di darul Islam, ia dianggap sebagai orang kafir karena
kemungkinan besar dia dari kalangan ahludz dzimmah tersebut. Dan
majhulkul hal yang berada di dalam darul kufir dianggap sebagai orang
kafir, namun demikian orang yang ditemukan di darul kufri yang dihuni
oleh sebagian kaum muslimin ia dianggap sebagai orang islam karena
hukum Islam lebih dimenangkan. Pada dasarnya, hukum asala yang
digunakan untuk menentukan status majhulul hal adalah status negara
tempat tinggalnya dengan tetap mempertimbangkan agama yang dianut
penduduknya. (Lihat Al-Mughni Ma’asy Syarhil Kabir VI/375 dan
Ahkamu Ahlidz Dzimmah karangan Ibnul Qoyyim II/518-519, terbitan
Darul ‘Ilmi Lilmalayin 1983). Namun demikian tidak seorang ulama’pun
yang menggunakan istish-hab kecuali ketika benar-benar tidak bisa
menggunakan tanda-tanda dzohir yang bisa digunakan untuk
menentukan status hukumnya. Sehingga mereka tidak menentukan status
hukum dengan menggunakan istish-hab kecuali orang yang ditemukan
atau mayit yang tidak diketahui dan tidak ada tanda-tanda apapun
padanya. Ibnu Qudamah mengatakan: “Di Darul Islam, orang yang
ditemukan di sana dianggap sebagai orang Islam dan juga mayit yang
tidak diketahui agamanya, ia dianggap sebagai orang Islam dalam
masalah disholatkan, penguburan dan dikawanni dengan kafar yang
diwakafkan untuk mengkafani mayit kaum muslimin.” (Al-Mughni
MA’asy Syarhil Kabir XII/215). Inilah beberapa keadaan yang ketika itu
tidak mampu untuk mengetahui tanda dzohirnya sehingga menggunakan
istish-hab. Ibnu Rojab juga menyebutkan hal yang semacam ini, beliau
mengatakan: “Jika didapatkan mayit yang tidak diketahui agamanya di
darul Islam, jika tidak terdapat padanya tanda-tanda islam atau kafir atau
ada tanda-tanda islam dan kafir yang saling bertentangan maka ia
disholatkan dan hal ini dikatakan oleh Ahmad. Dan jika terdapat tanda
kekafiran padanya maka diantara sahabat kita (madzhab hambali) ada
yang berpendapat ia disholatkan, namun yang dikatakan (oleh Ahmad
atau madzhab hambali) ia tidak disholatkan dan ia dikubur. Perselisihan
ini kembali kepada bertolak belakangnya antara hukum asal (status
negara-pent.) dengan dzohirnya. Karena pada asalnya orang yang tinggal
di darul Islam itu dianggap Islam sedangkan yang nampak dari orang
tersebut kafir. Dan jika mayit itu ditemukan di darul kufri dan padanya
terdapat tanda-tanda Islam, maka ia disholatkan dan jika tidak terdapat
maka tidak disholatkan. Hal itu dinyatakan Ahmad yang diriwayatkan
oleh Ali bin Sa’id. Pendapat ini lebih menguatkan yang dzohir dari pada
hukum asalnya sebagaimana ia juga memperkuatnya pada keadaan
pertama.” (Al-Qowa’id Al-Fiqhiyyah karangan Ibnu Rojab hal. 345,
terbitan Darul Ma’rifah) dengan demikian anda melihat bahwa yang
dzohir itu selalu dikuatkan dari pada hukum asal, dan hukum asal tidak
digunakan kecuali tidak memungkinkan untuk menentukan dzohirnya.
Adapun agama yang bisa digunakan untuk petunjuk dalam menentukan

16
agama orang yang mati di antaranya adalah khitan dan tanda-tanda
dzohir. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Muflih Al-Hambali:
“Ahmad mengatakan tentang orang yang terbunuh di darul harbi (negara
musuh) [khitan dan baju digunakan untuk petunjuk dalam menentukan
statusnya] dengan demikian maka tanda-tanda dzohir itu menentukan
hukum pada keadaan-keadaan tersebut dalam menentukan status islam
atau kafir.” (Al-Furu’ VI/168) Bukankah anda meliahan beliau lebih
mendahulukan tanda-tanda dzohir dari pada hukum asal. Padahal tanda-
tanda dzohir itu merupakan keadaan yang menyertai seseorang yang
membutuhkan tabayyun dan bukan tanda yang berdiri sendiri. Begitu
pula khita, ia bukan ciri khas orang Islam, karen orang arab dulu pada
masa jahiliyah juga khitan, begitu pula orang yahudi sebagaimana yang
disebutkan dalam hadits Heruklius, dalam hadits itu dia mengatakan:
‫ ليس يختتن إل اليهود ــ إلى قوله ــ وسأله عن‬:‫فمن يختتن من هذه المة؟ قالوا‬
‫ هم يختتنون‬:‫ فقال‬،‫العرب‬
“Siapakah di kalangan umat ini yang khitan? Mereka mengatakan: tidak ada
yang khitan kecuali yahudi – sampai ia mengatakan – ia ditanya tentang orang
Arab, maka ia menjawab; mereka khitan.” Hadits ini Muttafaq ‘alaih.
Para ulama’ tidak menggunakan hukum asal negara kecuali ketika tidak bisa
menentikan tanda dzohirnya yang digunakan untuk menentukan status seseorang.
Sebagaimana orang yang ditemukan dan mayit yang tidak terdapat padanya tanda
apapun. Jika terdapat tanda padanya meskipun hanya sekedar qorinah
Inilah bagian kedua dari orang-orang yang bersikap diam. Setelah itu kita
berbicara bagian yang ketiga yaitu orang yang tidak menampakkan sesuatu
apapun.
Para ulama’ berpendapat tidak menggunakan istish-hab (mengkiyaskan
hukum asal) dengan hukum negaranya kecuali ketika tidak mampu menentukan
tanda dzohirnya, untuk menentukan hukum orang temuan atau mayit yang tidak
ada tanda-tanda apapun padanya. Maka jika terdapat suatu tanda – meskipun
hanya qorinah (keadaan yang menyertainya) seperti khitan dan ciri – maka ia
dianggap sebagaimana tanda-tanda yang nampak tersebut karena lebih
menguatkan hukum dzohir dari pada hukum asal. Ibnu Taimuyah berkata: “Dzohir
itu lebih di kuatkan dari pada istish-hab (hukum asal), dan permasalahan-
permasalahan syar’ii secara umum menggunakan kaidah ini – sampai beliau
mengatakan – sesungguhnya berpegang kepada istish-habul hal (hukum asal) yang
tidak ada adalah dalil yang paling lemah secara mutlak, dan ia adalah dalil yang
paling rendah unruk dijadikan landasan penguat.” (Majmu’ Fatawa XXIII/51-16)
Ibnu Taimiyah juga mengatakan: “Umat Islam telah sepakat dan ini merupakan
ajaran Islam yang pasti diketahui, bahwasanya seseorang tidak boleh berkeyakinan
dan berfatwa berlandaskan istish-hab (hukum asal) dan tidak adanya, kecuali
setelah mencari dalil-dalil yang khusus jika ia orang yang mampu untuk itu.
Sesungguhnya semua kewajiban dan larang Alloh danrosulNya bertentangan
dengan istish-hab ini, maka dalil ini tidak dapat dipercaya kecuali setelah melihat
kepada dalil-dalil syar’ii bagi orang yang mampu untuk itu.” (Majmu’ Fatawa
XXIX/166). Dalam perkataan Syaikhul Islam ini, meskipun istish-hab ini digunakan
sebagai dalil syar’i, ia tidak bisa menjadikan sesuatu itu mubah atau haram kecuali
setelah mencari dalil-dalil yang lain karena ia adalah dalil yang paling lemah
sehingga semua dalil yang lain lebih diutamakan dari pada istish-hab tersebut.

17
Kesimpulannya: orang yang majhulul hal tidak dihukumi dengan
menggunakan suatu hukum asal tertentu, hal itu karena ada dua sebab:
Pertama: bahwa hukum asal (dalam hal ini hukum negeri dengan
mempertimbangkan agama yang dianut penduduknya), tidak bisa digunakan
untuk menentukan keislaman atau kekafiran seseorang, kecuali dalam keadaan
tidak mampu menentukan tanda dzohir yang dapat dijadikan landasan hukum –
sebagaimana yang terjadi pada orang temuan dan mayit yang tidak diketahui
identitasnya – Selain dalam dua keadaan ini masih memungkinkan untuk
menentukan tanda-tanda dzohir pada orang hidup yang majhulul hal dengan cara
meminta keterangan kepadanya. Maka istish-hab tidak digunakan selama masih
memungkinkan untuk menentukan tanda dzohir sebagaimana yang dikatakan Ibnu
Taimiyah dan beliau menukil ijma’ dalam hal ini. Dan kami ingatkan di sini
bahwasanya menggunakan istish-hab pada mayyit yang tidak diketahui
identitasnya, hanyalah pada masalah-masalah yang tidak mengundang
persengketaan dan bahaya terhadap seseorang, seperti menyolatkan dan
menguburkannya. Adapun jika penetapan agama orang tersebut mengakibatkan
persengketaan warisan, maka istish-hab tidak syah dan harus mencari bukti dan
saksi. (Lihat Al-Mughni Ma’asy Syar-hil Kabir XII/214-216). Inilah di antara yang
menjelaskan kelemahan dalil istih-hab bagi anda.
Kedua: sesungguhnya hukum asal yang dijadikan landasan hukum dalam
keadaan-keadaan tersebut (yaitu hukum negeri dan memperhatikan agama yang
dianut oleh penduduknya) banyak kemasukan campuran sehingga ciri-cirinya tidak
paten. Hal ini titambah dengan sebab pertama di atas, yang menjadikan kami
mempertegas bahwa istish-hab ini tidak digunakan kecuali dalam keadaan benar-
benar tidak mampu menentukan tanda dzohir yang dapat dijadikan sebagai
landasan hukum. Dan ini terjadi pada orang temuan dan mayit yang tidak
diketahui identitasnya sebagaimana dijelaskan di atas. Adapun capur adauk yang
masuk kedalamnya adalah sebagai berikut; hukum negara (yang diperintah orang-
orang kafir dengan menggunakan hukum kafir) adalah negara kafir. Inilah hukum
negara yang sedang kita bicarakan – dan akan kami singgung sedikit santi dalam
pembahasan ahkamud diyar, insya-Alloh – adapun penduduknya adalah campur
adauk antara orang Islam dan yang bukan Islam. Negara-negara tersebut
sebelumnya adalah negara Islam yang orang Islamnya dapat dibedakan dengan
orang yang selain Islam. Namun bersamaan dengan berlakunya undang-undang
positif ini orang Islam bercampur dengan orang bukan Islam dengan tanpa
pembeda, karena dua sebab:
Pertama; ahlul kitab tidak menggunakan tanda-tanda yang membedakan
mereka dengan kaum muslimin – dalam berpakaian, rambut, kendaraan, nama dan
julukan – karena ‘aqdudz dzimmah (jaminan penguasa Islam yang diberikan
kepada orang kafir) menjadi batal dengan berkuasanya undang-undang positif
yang menyamakan semua penduduk dalam hak dan kewajiban berdasarkan
nasionalise, dan membuang identitas keagamaan. Mengenakan tanda-tanda
tersebut merupakan alat yang membedakan orang di negara Islam, sebagaimana
yang dikatakan Ibnul Qoyyim: “Sesungguhnya syarat-syarat yang diwajibkan
kepada ahludz dzimmah terdapat di dalamnya pembedaan mereka dengan kaum
muslimin dalam berpakaian, rambut, kendaraan dan lain-lain, supaya kesamaan
mereka tidak mengakibatkan orang kafir diberlakukan sebagaimana orang Islam.
Maka kemunghkinan ini dicegah dengan mengharuskan mereka membedakan diri
dengan kaum muslimin.” (A’lamul Muwaqqi’iin III/157).

18
Kedua; orang-orang murtad dibiarkan saja, karena murtad bukanlah tindak
kejahatan dalam ketentuan hukum positif. Adapun di negara Islam keadaannya
adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah: “Sesungguhnya orang
murtad tidak dibiarkan dalam kemurtadannya di negara Islam.” (Al-Mughi MA’asy
Syarhil Kabir XII/214) Perkataan ini telah dijelaskan dalam pembahasan kaidah
takfir, yaitu bahwa orang yang murtad di negara Islam itu disuruh bertaubat, jika ia
tidak mau maka ia dibunuh. Dengan demikian maka orang murtad itu tidak akan
tetap menampakkan kemurtadannya di negara Islam. Adapun pada saat sekarang
kami memastikan adanya banyak orang murtad di negara-negara ini, seperti orang
yang meninggalkan sholat, orang yang menghina Islam dan penganutnya, orang-
orang yang mencela agama dari kalangan orang yang berpaham komunis, sekuler,
penyembah kuburan dan lain-lain.
Maka ketika ada tanda yang membedakan di darul Islam, orang yang
majhulul hal – yang tidak terdapat tanda apapun yang membedakan padanya –
kebanyakan orang Islam, karena orang murtad tidak dibiarkan di negara Islam, dan
karena orang kafir dzimmi mengenakan tanda. Oleh karena itu Nabi saw.,
bersabda:
‫تقرأ السلم على من عرفت ومن لم تعرف‬
“Ucapkanlah salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak
kamu kenal!” Hadits ini Muttafaq ‘Alaih.
Inilah perintah beliau, yang di sisi lain beliau melarang untuk duluan
menyelami kepada ahlul kitab. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang majhulul
hal di negara Islam dianggap sebagai orang Islam. Adapaun di negara-negara
tersebut pada hari ini, selain bercampurnya orang muslim dengan orang kafir, tidak
ada hukum asal yang paten yang dapat digunukan landasan menghukumi orang
yang majhululhal, sehingga menghukumi orang yang majhulul hal sebagai orang
islam atau orang kafir termasuk bagian dari perkiraan dan sangkaan.
Oleh karena itu semua, kami berpendapat bahwa orang yang majhululhal
tidaklah dihukumi dengan hukum asal tertentu dalam menentukan ia islam atau
kafir kecuali dalam batasan-batasan yang sangat sempit. Yaitu orang temuan dan
mayit yang tidak diketahui identitasnya dan tidak terdapat tanda-tanda apapun
padanya.
Kemudian kmi lanjutkan penjelasan kalimat yang kami sebutkan dalam
hukum majhulul hal. Kami telah jelaskan maksud perkataan kami yang berbunyi :
“Kita tawaquf, tidak menghukumi orang tersebut dan ia tidak dihukumi dengan
hukum asal tertentu (istish-hsbul hal).
C. “Identitasnya tidak ditelitui kecuali jika dibutuhkan untuk mengetahui
keadaannya.” Orang yang tidak diketahui identitasnya tidak diteliti
keadaannya, karena hal ini tidak dilakukan orang-orang Islam. Mereka
tidak selalu ingin tahu setiap orang yang ia tidak ketahui identitasnya
dengan meneliti keadaannya. Hal ini termasuk dalam pengertian hadits
yang bebunyi:
‫من ح;سن إسلم المرء تركه مال يعنيه‬
“Termasuk bagusnya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak
menjadi kepentingannya.”An-Nawawi berkata: “Hadits ini Hasan, diriwayatkan
oleh At-Tirmidzi dan yang lainnya.
Adapun adapun orang yang selalu ingin tahu keadaan mereka, ini adalah
kelakuan orang-orang Khowarij, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat

19
tentang mereka dalan kutubul firoq (buku-buku yang membahas tentang
kelompok-kelompok dalam Islam).
Adapun perkataan kami yang berbunyi: “Kecuali jika dibutuhkan…”ini lah
yang biasa dilakukan, yaitu: tabayyun jika diperlukan. Dan inilah yang terdapat
dalilnmya. Dan yang dimaksud dengan tabayyun disini adalah, mencari tahu
agama orang yang majhulul hal. Dan di antara keadaan-keadaan yang diperlukan
untuk tabayyun adalah sebagai berikut:
• Pembebasan budak. Karena Alloh memerintahkan untuk membebaskan
budak yang beriman di beberapa tempat dalam Al-Qur’an, Alloh
berfirman:
‫فتحرير رقبة مؤمنة‬
“Maka bebaskanlah budak yang beriman.” (An-Nisa’: 92)
adapun membebaskan budak kafir tidak ada pahalanya dalam beberapa
keadaan. Sebagaimana secara umum hukumnya makruh karena bisa jadi ia akan
bergabung dengan negara kafir setelah ia merdeka lalu ia akan tetap kafir. Adapun
jika ia tinggal di kalangan kaum muslimin maka hal itu terdapat unsure tawaran
Islam kepadanya. Maka dengan demikian pembebasan budak termasuk keadaan
yang membutuhkan untuk mengetahui agama budak yang akan dimerdekakan.
Diriwayatkan dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, ia berkata: “Aku
mengatakan kepada Rosululloh; wahai rosululloh aku telah memukul budak
perempuanku dengan keras? Maka rosululloh menganggap besar masalah itu.
Maka aku bertanya kepada beliau; apakah aku merdekakan saja budak itu? Beliu
bersabda:
‫ائتني بها‬
“Datangkan kepadaku budak itu!” Mu’awiyah berkata; lalu kubawa badak
perempuan itu. Rosululloh bersabda kepadanya:
‫أين ال‬
“Di mana Alloh?” ia menjawab; Di langit. Beliau bersabda:
‫من أنا‬
“Siapa aku?” ia menjawab; Engkau adalah utusan Alloh. Beliau bersabda:
‫اعتقها فإنها مؤمنة‬
“Bebaskan dia, sesungguhnya ia seorang yang beriman.” Hadits ini
diriwayatkan oleh Muslim. Ibnu Taimiyah menukil perkataan Abu ‘Utsman Ash-
Shobuni yang berbunyi: “Imam kita Abu Abdillah Asy-Syafi’ii dalam kitabnya ‘Al-
Mabsuth’ berhujjah dalam masalah membabaskan budak yang beriman pada
masalah kafaroh. Dan bahwasanya budak kafir itu tidak syah untuk dijadikan
kafaroh, berdasarkan hadits dari Mu’awiyah bin Al-Hakam. Disebutkan dalam
hadits tersebut bahwa ia ingin membebaskab budak hitam perempuan sebagai
kafaroh. Dan dia bertanya kepada rosululloh untuk membebaskannya. Maka
Rosululloh mengetesnya, apakah dia beriman atau tidak.” (Majmu’ul Fatawa
V/192). Hadits tentang budak perempuan ini dijadikan dalil atas dilakukannya
tabayyun ketika dibutuhkan, dan barangsiapa menyatakan sebagaimana yang
dinyatakan budak wanita itu, ia dianggap sebagai orang Islam. Ada dua kelompok
yang salah dalam berdalil dengan menggunakan hadits tersebut; Satu kelompok
menggunakan dalil untuk tabayyun kepada manusia secara umum, dan seseorang
itu tidak dianggap sebagai orang Islam kecuali setelah dites.pendapat ini salah,
karena tabayyun yang disebutkan dalam hadits itu ada sebabnya. Satu kelompok

20
lagi menggunakan hadits tersebut sebagai dalil bahwasanya iman itu adalah berupa
ikrar – dan mereka itu adalah kelompok murji’ah – karena nabi menganggap budak
perempuan itu sebagai orang Islam dengan ikrar pernyataannya. Sedangkan iman
yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah iman secara hukum dzohir, yang
sama dengan hukum Islam secara dzohir, dan bukan hakekat iman. Ibnu Taimiyah
berkata: “Iman yang dijadikan landasan hukum di dunia adalah iman yang dzohir
yaitu Islam. Yang dimaksud itu sama secara hukum dzohirnya. Oleh karena itu
ketika al-Atsrom menceritakan kepada Ahmad tentang orang murji’ah yang berdalil
dengan sabda nabi saw.,:
‫اعتقها فإنها مؤمنة‬
“Bebaskan dia, karena dia beriman!”. Ahmad mengatakan yang didalam
hadits tersebut adalah hukum di dunia, secara hukum di dunia ia beriman. Dan
yang dimaksud bukan ia beriman di sisi Alloh sehingga ia berhak masuk syurga
tanpa masuk neraka, jika wanita itu berjumpa Alloh hanya dengan membawa
ikrarnya itu.” (Majmu’ Fatawa VII/416) Dan telah saya singgung perbedaan antara
iman secara hukum dzohir dan hakekat iman setelah pembahasan tingkatan-
tingkatan iman, dalam catatan penting yang terdapat dalam catatan terhadap
‘Aqidah Thohawiyah.
• Menentukan Islamnya saksi yang dilakukan oleh hakim. Hal ini termasuk
keadaan yang menuntut untuk tabayyun tentang agama orang yang
majhulul hal. Karena syarat syah dari kesaksian itu harus beragama Islam
– dengan secara detail – jika hakim meremehkan ini, maka ia tercela dan ia
harus menjamin kesalahan yang terjadi. Ibnu Qudamah berkata: “Al-Qodli
berkata; Harus diketahui keislaman saksi. Dan hal itu dengan salah satu
dari empat cara: pertama saksi tersebut memberitahu atas keislamannya
atau ia mengucapkan kata-kata Islam, kedua pengakuan orang yang
disaksikan bahwa saksi tersebut orang Islam, ketiga pengalaman hakim,
keempat bukti. “ (Al-Mughni Ma’asy Syarhil Kabir XI/419 dengan secara
ringkas. Di sana beliau menyebutkan cara-cara untuk tabayyun terhadap
agama orang yang majhulul hal.
Ringkasnya secara umum, setiap permasalah yang mengharuskan untuk
mengetahui agama seseorang, maka wajib untuk melakukan tabayun terhadap
agama orang yang majhulul hal. Seperti nikah, ijaroh (mengupah orang untuk
bekerja), syirkah (kerja sama), penyaluran harta zakat, harta wakaf yang tidak
boleh diberikan kecuali kepada orang Islam, permasalahan-permasalahan yang
mewajibkan untuk membayar diyat (denda yang dikenakan kepada orang Islam
yang membunuh orang Islam lainnya), seperti engkau membunuh seseorang
dengan tidak sengaja seperti menabraknya dengan kendaraan atau yang lainnya,
sedangkan orang yang terbunuh olehmu itu tidak kamu kenal identitasnya, maka
ketika wajib melakukan tabayyun tentang agama orang tersebut dan agama para
walinya. Jika ternyata ia seorang muslim, maka kamu – atau kerabatmu – wajib
membayar diyat kepada wali orang yang terbunuh olehmu itu yang beragama
Islam. Kecuali jika mereka memaafkan maka kamu wajib membayar kafaroh.
Namun jika wali orang muslim yang terbunuh itu orang kafir, maka kamu tidak
wajib untuk membayar diyat akan tetapi hanya kafaroh saja, berdasarkan firman
Alloh:
‫فإن كان من قوم ٍ عدو ٍ لكم وهو مؤمن فتحرير رقبة مؤمنة‬

21
” Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu'min, maka
(hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mu'min. (QS. 4:92)
Lihat Tafsir Ibnu Katsir I/535, Tafsir Al-Qurthu-bi V/324 dan Al-Mughni
Ma’asy Syarhil Kabir IX/340. Namun jika orang yang terbunuh itu orang nasrani
atau orang murtad atau orang muh-shon (yang pernah berkeluarga) yang berzina,
maka kamu tidak wajib membayar diyat maupun kafaroh, karena orang tersebut
darahnya halal untuk ditumpahkan. Dan kapan saja diyat itu wajib maka orang
yang terkena kewajiban wajib melaksanakannya meskipun hal itu tidak diputuskan
oleh seorang qodli (hakim), sebagaimana pada masa sekarang di berbagai negara
yang diperintah dengan menggunakan hukum positif. Dan orang yang membunuh
tersebut bertanggung jawab dihadapan Alloh terhadap perbuatannya itu. Dalam
keadaan-keadaan tersebut, untuk menentukan agama orang yang terbunuh secara
tidak sengaja, tidak cukup hanya dengan berdasarkan hukum asal (istish-habul ash-
li). Karena keadaan seperti ini mengakibat perselisihan dan hak, lain halnya dengan
mayit yang tidak diketahui identitasnya, yang dalam menentukan agamanya
berlandaskan hukum asalnya, untuk menentukan hukum mensholati dan
menguburkannya karena hal itu tidak akan mencelakakan seseorang. (lihat Al-
Mughni Ma’asy Syarhil Kabir XII/215-216, di sana disebutkan bahwa menentukan
hukum dengan hukum asal digunakan pada permasalahan yang tidak
menimbulkan persengketaan). Perkara-perkara ini dan yang semacamnya, adalah
termasuk permasalahan yang membutuhkan untuk tabayun terhadap agama orang
yang tidak diketahui identitasnya. Inilah tabayyun yang dibenarkan secara syar’ii,
yaitu “tabayyun agama orang yang tidak diketahui identitasnya katika
dibutuhkan”. Dan kebalikannya adalah tabayyun bid’ah yang kami sebutkan
sebelumnya, yaitu “tabayyun dalam menentukan keislaman seseorang secara
hukum (di dunia), terhadap orang Islam yang masturul hal”.
Dan di antara permasalahan yang berkaitan dengan orang yang majhulul hal,
yang banyak menjadi perdebatan pada hari ini adalah hukum memakan binatan
sembelihan di negeri-negeri tersebut, ketika tidak diketahui identitas orang yang
menyembelih yang mengandung kemungkinan orang yang menyembelih itu orang
yang murtad, lantaran ia menyetujui/membiarkan orang-orang murtad diatas
kemurtadan mereka di negara-negara yang diberlakukan hukum posotif padanya.
Apakah kita bersikap tawaquf terhadap hukum memakan binatang sembelihan di
negara-negara tersebut? Dan apakah orang yang mau membeli daging harus
tabayyun terhadap identitas orang yang menyembelihnya, yang terkadang yang
menyembelih bukan penjualnya?
Jawabannya adalah: pembahasan masalah semacam ini berdasarkan
haramnya binatang yang disembelih oleh orang murtad. Hal ini benar. Dan Asy-
Syaukani berpendapat bahwa binatang yang disembelih oleh orang kafir itu mubah
jika ketika ia menyembelih menyebut nama Alloh, dan menurut beliau tidak ada
dalil yang mengharamkannya. (As-Sailul Jarroor IV/64). Pendapat beliau ini tidak
benar, adapun dalilnya adalah yang disebutkan oleh Syaikh Man-shur Al-Bahuti
dalam perkataannya: “Dan binatang yang disembelih oleh orang murtad itu tidak
boleh (dimakan-pent.) meskipun ia murtad dan masuk agama ahlul kitab (yahudi
atau nasrani-pent.) ataupun majusi atau penyembah berhala atau zindiq. Begitu
pula ad-Duruz, At-Tayaminah dan An-Nushoiriyah di Syam. Berdasarkan firman
Alloh:
‫حل{ لكم‬
9 ‫وطعام الذين أوتوا الكتاب‬

22
“Dan nakanan (sembelihan) orang-orang yang diberi kitab halal bagi kalian.”
(QS. 5:5)
Mafhumnya, berarti makanan (sembelihan-pent.) orang-orang kafir selain
mereka haram.” (Kasyaful Qona’ VI/205). Dengan demikian maka binatang
sembelihan di negara-negara ini ada tiga bagian:
1. Apabila orang yang menyembelih diketahui ia orang muslim yang
masturul hal atau seorang ahlul kitab (yahudi atau nasrani), maka
binatang sebelihan tersebut halal.
2. Apabila orang yang menyembelih tersebut diketahui ia orang kafir seperti
orang murtad atau penyembah berhala, maka binatang sembelihan
tersebut haram sebagaimana bangkai.
3. Apabila orang yang menyembelih tidak diketahui identitasnya, maka
dalam keadaan seperti ini ditanyakan: apabila di negara Islam maka para
ulama’ telah berijma’ atas bolehnya membeli daging di pasar-pasar yang
berada di negara Islam, tanpa bertanya kehalalannya. Meskipun hukum
asalnya daging itu haram, (Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam karangan Ibnu Rojab
hal. 60 dan Al-Mugh-ni Ma’asy Syarhil Kabir IV/308) namun secara
dzohir kaum muslimin tidak akan membiarkan orang menjual sesuatu
yang tidak halal di pasar mereka. Dan keadaan mereka difahami dalam
keadaan sehat dan selamat. Maka keadaan dzohir ini lebih dikedepankan
dari pada hukum asal. Berdasarkan inilah para ulama’ berijma’ atas
bolehnya membeli daging di negara Islam, tanpa bertanya tentang
kehalalannya. Sampai-sampai Syaikh Man-shur Al-Bahuti mengatakan
dalam kitab Syarhul Iqna’: “Dan halal binatang sembelihan yang terbuang
artinya, terbuang ditempat yang mayoritas penduduknya kalau
menyembelih binatang, halal dagingnya untuk dimakan, meskipun tidak
diketahui apakah orang yang menyembelihnya menyebut nama Alloh.
Karena tidak mungkin mengetahui semua sembelihan dan juga karena
menggunakan hukum secara dzohir.” (Kasyaful Qona’ VI/212). Adapun
di negeri-negeri yang sedang kita bicarakan, yang mengandung
kemungkinan sebagian orang yang menyembelih orang-orang murtad,
maka halal dan haramnya tergantung pada kuat dan lemahnya syubhat
(kesamaran) nya. Apabila di suatu tempat banyak terdapat orang yang
murtad maka syubhatnya lebih kuat sehingga daging yang tidak diketahui
statusnya lebih dianggap haram. Maka tidak boleh membeli daging di
tempat tersebut. Dan apabila di suatu tempat sedikit orang-orang yang
murtad, maka syubhatnya lebih lemah, karena sembelihan orang-orang
murtad yang hukumnya seperti bangkai, bercampur dengan sembelihan-
sembelihan yang mubah yang jumlahnya tidak terbatas. Dengan demikian
maka boleh membeli daging di tempat semacam ini. Ibnu Taimiyah
berkata: “Jika yang halal bercampur dengan yang haram pada jumlah
yang tidak terbatas, seperti bercampurnya saudara perempuan dengan
penduduk sebuah negeri, bercampurnya bangkai dan barang rampasan di
sebuah negeri, maka hal itu tidak menjadikan haram hal-hal yang
tercampur tersebut pada negeri tersebut. Seperti jika seorang saudara
perempuan tercampur dengan perempuan-perempuan asing dan seperti
binatang sembelihan yang bercampur dengan bangkai. Posentasai tersebut
tidak menjadikan binatanmg-binatang sembelihan mereka yang tidak
diketahui statusnya menjadi haram.” (Majmu’ Fatawa XXI/532) Dan

23
beliau juga mengatakan: “Barang yang haram jika bercampur dengan yang
halal itu ada dua macam;
Pertama: yang haram itu sendiri merupakan barang yang haram seperti
bangkai dan saudara perempuan sepersusuan. Hal-hal ini jika bercampur dengan
jumlah yang tidak terbatas, maka tidak haram. Seperti jika seseorang tahu bahwa di
negeri tersebut ada saudara perempuan dia sepersusuan, namun dia tidak
mengetahui orangnya. Atau di daerah tersebut ada orang yang menjual bangkai
yang tidak diketahui yang mana bangkainya. Maka dalam keadaan seperti ini
wanita dan daging di daerah tersebut tidak haram baginya. Namun apabila saudara
perempuannya itu samar dengan seseorang wanita yang asing atau seekor binatang
sembelihan itu samar dengan seekor bangkai maka semuanya sama-sama haram.”
(Majmu’ Fatawa XXIX/276) Sedangkan perkataan beliau yang berbunyi: “Adapun
jika samar….” maksudnya adalah apabila bercampur dengan jumlah yang terbatas
atau sedikit, maka dalam keadaan seperti ini syubhatnya kuat sehingga lebih
dikedepankan keharamannya. Kaidah semacam ini (Sesuatu yang mubah jika
bercampur dengan sesuatu yang haram dalam suatu jumlah yang tidak terbatas –
banyak – maka semuanya halal), kaidah ini diikuti oleh kebanyakan ulama’. (Lihat
Al-Mughni Ma’asy Syarhil Kabir I/51, Bada’i’ul Fawa’id, karangan Ibnul Qoyyim
III/258, Al-Qowa’id karangan Ibnu Rojab Al-Hambali hal. 241, Al-Inshof karangan
‘Ala’ud Din Al-Mardawi I/87-79. dan Risalah Kasy-fusy Syubuhat ‘Anil
Mutasyabihat karangan Asy-Syaukani hal. 16 yang tergabung dalam Ar-Rosa’il As-
Salafiyah karangan beliau).
Maka yang wajib dilakukan oleh orang Islam di negara-negara tersebut untuk
berusaha membeli daging dari orang yang penyembelihnya ia percaya agamanya.
Jika tidak bisa maka hendaknya ia bertanya kepada penjualnya tentang keadaan
dan agama orang yang menyembelihnya. Jika tidak bisa juga maka hendaknya ia
menggunakan kaidah bercampurnya yang halal dan yang haram dalam jumlah
sedikit dan dalam jumlah banyak. Dan usaha serta tabayun ini tidak bisa diganti
dengan membaca basmalah ketika makan daging tersebut. Karena hadits yang
berbunyi:
‫سم وا عليه أنتم وكلوه‬
“Bacalah basmalah dan makanlah!!”
hadits ini berkenaan dengan sembelihan yang diketahui bahwa yang
menyembelih orang Islam tapi ia ragu-ragu apakah ketika menyembelih ia
membaca basmalah atau tidak. Dan hadits ini tidak berkenaan dengan sembelihan
yang tidak diketahui agama orang yang menyembelih. Diriwayatkan dari ‘Aisyah
ra., ia berkata: “Ada satu kaum yang bertanya kepada nabi: “Ada suatu kaum yang
dating memberi daging kepada kami, kami tidak tahu apakah mereka membaca
basmalah atau tidak?” beliau menjawab:
‫سم وا عليه أنتم وكلوه‬
“Bacalah basmalah kemudian makanlah!” ‘Aisyah berkata: “Mereka itu baru
masuk Islam.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori (5507). Maksudnya orang-
orang yang menyembelih itu baru masuk Islam, kemungkinan mereka tidak tahu
bahwa ketika menyembelih itu harus membaca basmalah. (lihat Majmu’ Fatawa
Ibnu Taimiyah XXXV/240). Ini lah hukum masalah ini, dan tidak selayaknya
masalah ini sembelihan yang tidak diketahui statusnya ini dan hukum
memakannya, menjadi bahan permusuhan dan perselisihan antara kaum muslimin,
karena masalah ini adalah masalah ijtihadiyah. Kadang seseorang melihat pada

24
suatu keadaan syubhatnya kuat, sehingga dia tidak mau makan sembelihan di
tempat tersebut, sedangkan orang lain berpendapat lain lagi. Selama permasalahan
itu masih mengandung kemungkinan, maka tidak boleh saling mengingkari pada
masalah yang masih mengandung kemungkinan. Namun pengingkaran itu adalah
pada masalah yang jelas, seperti makan sembelihan orang yang jelas-jelas murtad,
karena orang ini seperti makan bangkai, sehingga ia harus diingkari.
Semua ini adalah penjelasan tentang perkataan kami tentang hukum orang
yang majhulul hal. Orang semacam ini (tidak diteliti keadaannya kecuali jika
dibutuhkan untuk mengetahui hukumnya, maka ketika itu dicari kejelasan tentang
dirinya).
D. Kemudian kami katakana: “Dia tidak dihukumi kecuali berlandaskan
dzhirnya, dan ketika benar-benar tidak mampu untuk menetapkan tanda yang
dzohir ia dihukumi sesuai dengan hukum asal negara tersebut dengan
memperhatikan agama yang dianut penduduknya.” Kalimat ini telah berlalu
penjelasannya, dan ini merupakan penguat dari apa yang kami katakana bahwa
istish-hab itu tidak digunakan kecuali dalam keadaan benar-benar tidak mampu
menetapkan tanda dzohirnya, seperti pada orang temuan dan mayyit yang tidak
diketahui identitasnya, pada permasalahan yang tidak dipersengketakan. Pada
selain itu orang tidak dihukumi kecuali dengan dzohirnya dalam menetapkan
agama orang yang tidak diketahui identitasnya. Karena Nabi saw., menghukumi
budak dengan ikrar yang ia ucapkan, dan ia tidak dihukumi dengan berlandaskan
hukum asal tertentu. Begitu pula hakim, dalam mencari tahu Islamnya saksi tidak
mengginakan asal hukum tertentu, sebagaimana yang kami jelaskan di atas.
Inilah pembahsan yang berkaitan dengan hukum orang yang majhulul hal,
yaitu orang yang tidak menampakkan tanda-tanda Islam atau kafir. Dan orang
semacam ini adalah bagian ketiga dari orang-orang yang bersikap diam di negara-
negara yang dikuasai oleh orang-orang kafir dengan menggunakan undang-undang
kafir. Yang mana dulunya merupakan negara Islam dan sampai sekarang masih
banyak orang Islam yang tinggal di dalamnya. Perincian ini bertujuan untuk
menghilangkan kerancuan dalam menghukumi secara umum yang terdapat dalam
perkataan Ustadz Abdul Majid Asy-Syadzili. Khususnya beliau tidak membedakan
antara hukum yang berkaitan dengan iman dan kafir dan hukum-hukum yang
berkaitan dengan peperangan. Adapun hukum-hukum yang berkaitan dengan
iman dan kafir, maka penjelasannya telah berlalu.

Kedua: dari sisi hukum-hukum yang berkaitan


dengan peperangan.
Orang Islam itu ma’shum (terjaga darah dan hartanya) dengan keislamannya
di mana saja ia berada, baik di darul Islam (Negara Islam) atau darul Harbi (Negara
musuh). (Al-Mughni Ma’asy Syarhil Kabir IX/335). Ia tidak boleh dubunuh ketika
berperang melawan orang-orang kafir – jika ia bercampur dengan orang kafir dan
tidak memungkinkan untuk dibedakan – kecuali dalam keadaan darurat, ini yang
disebut dengan masalah tatarrus , yaitu orang-orang kafir menjadikan orang-orang
Islam sebagai perisai. Jika ia bercampur dengan orang-orang kafir dan tidak
memungkinkan untuk membedakannya dengan tanda apapun, maka tidaklah
berdosa membunuhnya dengan senmgaja dalam keadaan seperti ini. Keadaan
darurat ini disebutkan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa XXVIII/536-547. Dan

25
beliau berdalil untuk masalah ini dengan hadits yang menyebutkan sebuah
pasukan yang ditenggelamkan di al-Baida’ , mereka kelak akan dibangkitkan sesuai
dengan niatnya masing-masing. Adapun jika oaring Islam yang berada di Negara-
negara tersebut dapat dibedakan atau ketika terjadi peperangan mereka tidak
bercampur dengan orang kafir, maka ia tidak boleh dibunuh. Begitulah wallohu
a’lam.

26