Anda di halaman 1dari 2

VI.

Pembahasan

Temperatur merupakan besaran penting yang diamati pada praktikum termokimia. Temperatur diukur dengan menggunakan termometer yang terdapat pada kalorimeter. Cairan yang diukur suhu reaksinya diaduk dengan menggunakan pengaduk pada kalorimeter agar suhu laurtan merata. Sementara itu pencatatan suhu setiap menit dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perubahan suhu yang terjadi di setiap menitnya. suhu akhir yang diambil adalah suhu yang didapatkan ketika suhu reaksi sudah konstan.

Penentuan tetapan suhu kalorimeter Setiap kalorimeter memiliki tetapan yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu sebelum menentukan perubahan panas ( ) dari suatu reaksi, tetapan kalorimeter perlu dicari terlebih dahulu. Kalorimeter yang baik adalah kalorimeter yang medium dalamnya terbuat dari kaca mengkilap menyerupai cermin. Cermin tersebut bertujuan agar tidak terjadi perpindahan kalor secara radiasi dari larutan ke medium. Untuk menentukan tetapan kalorimeter, air dingin direaksikan dengan air panas. Perlahan terjadi penurunan suhu. Terjadi dua macam reaksi saat air panas dan air dingin tersebut dicampurkan. Kedua reaksi tersebut adalah reaksi endoterm dan eksoterm. Reaksi eksoterm terjadi ketika air panas yang suhunya lebih tinggi melepaskan kalor. Kalor yang dilepaskan oleh air panas kemudian diterima oleh air dingin. Saat itulah reaksi endoterm berlangsung. Berdasarkan data yang didapat pada praktikum dan setelah dilakukan serangkaian proses perhitungan, didapatkan tetapan kalorimeter yaitu 224 joule/oC. Penentuan kalor reaksi Zn(s) CuSO4(aq) Berikut adalah reaksi yang terjadi antara padatan seng dan tembaga (II) sulfat: Reaksi : Zn + CuS04 ZnSO4 + Cu

Perubahan panas (dH) pada reaksi antara Zn dan CuSO4 yang didapat dari hasil praktikum adalah +86.51 kJ/mol. Pada reaksinya, kedua zat yang direaksikan tersebut menghasilkan endapan ZnSO4 yang berwarna kecokelatan. Jika dilihat dari perubahan suhu yang terjadi dan juga dari dH yang dihasilkan, dapat disimpulan bahwa rekasi antara Zn(s) dan CuSO4(aq) berlangsung secara endoterm. Adanya kenaikan suhu menunjukkan bahwa adanya kalor yang diserap pada reaksi tersebut. Sementara jika dilihat dari perubahan panas ( ) yang dihasilkan yang bernilai positif maka semakin memperkuat hasil yang didapat bahwa reaksi berlangsung secara endoterm.

Penentuan Kalor Pelarutan Ethanol-Air Kalor atau panas pelarutan dari etanol dapat diperoleh dengan cara mencampurkan zat tersebut ke dalam kalorimeter yang berisi air dingin, sehingga akan bereaksi dan akan timbul suatu reaksi yang disertai dengan perubahan suhu, dan pelepasan sejumlah kalor. Perubahan kalornya tergantung ada konsentrasi awal dan akhir larutan yang terbentuk. Berdasarkan praktikum perubahan panas pelarutan etanol dan air didapat untuk campuran pertama yaitu 175,71 J/mol untuk campuran kedua 183.33 J/mol, campuran ketiga 198.53 J/mol, campuran keempat 200.59 J/mol, campuran kelima 171.22 J/mol dan campuran keenam 197.84 J/mol.

Penentuan kalor penetralan NaOH HCl NaOH jka direaksikan dengan HCl akan menghasilkan NaCl dan air. Reaksi : NaOH + HCl NaCl + H20

Perubahan panas penetralan ( ) antara larutan NaOH dan HCl yang didapat berdasarkan percobaan adalah 4.7 kJ/mol. Seperti halnya pada reaksi antara Zn(s) dan CuSO4(aq) , reaksi antara NaOH dan HCl pun berlangsung secara endoterm. Adanya kenaikan suhu ( sebelum rekasi suhu yang didapat adalah 25oC sementara setelah reaksi suhunya dalah 33oC ) menunjukkan adanya panas / kalor yang diserap, sementara nilai dH yang positif (>0) semakin menunjukkan bahwa reaksi berlangsung secara endoterm. Jalannya praktikum sedikit terganggu dengan pecahnya salah satu peralatan (gelas ukur). Namun secara umum tidak ada halangan berarti dalam pelaksanaannya.