Anda di halaman 1dari 11

Analisis Biaya-Volume Laba

Didalam analisis biaya volume laba terdapat analisis impas yang memberikan informasi tingkat penjualan minimum yang harus dicapai suatu usaha agar tidak mengalami kerugian. Dari analisis tersebut juga dapat diketahui sampai seberapa jauh volume penjualan yang direncanakan boleh turun, agar persuhaan tidak menderita kerugian. Analisis impas menyajikan informasi untuk perencanaan volume penjualan. Sehingga analisis impas digunakan untuk mengetahui impas maupun margin of safety yang didalamnya terdapat hubungan antara biaya, volume dan laba. Jika dalam analisis impas titik berat analisis diletakkan pada penaksiran tingkat penjualan minimum yang menghasilkan laba sama dengan nol, maka dalam analisis biaya volume laba ini titik berat analisis diletakkan pada sampai seberapa besar perubahanperubahan biaya, volume, dan harga jual berdampak terhadap laba perusahaan. Untuk memudahkan analisis dampak perubahan biaya, volume, harga jual terhadap laba, dapat dibuat grafik laba dan volume. Pembuatan grafik dilakukan sebagai berikut : 1. Dibuat grafik yang dibagi menjadi dua bagian yang dibatasi dengan garis penjualan yang dibuat mendatar. Sumbu tegak menunjukan jumlah laba atau rugi pada berbagai tingkat volume penjualan. 2. Kemudian ditarik garis rugi laba yang menghubungkan titik-titik rugi atau laba pada berbagai volume penjualan. Kerugian terbesar adalah sebesar biaya tetap, yang terjadi pada volume penjualan sama dengan nol. 3. Titik pertemuan garis rugi laba dengan garis penjualan menunjukkan titik impas Manfaat analisis hubungan biaya volume laba bagi manajemen Hubungan antar biaya, volume dan laba dipengaruhi oleh lima faktor : 1. Harga jual per satuan 2. Volume penjualan 3. Komposisi produk yang dijual 4. Biaya variabel per satuan 5. Total biaya tetap Agar perancanaan laba perushaan dapat efektif, manajemen dapat memperkirakan dapat perubahan masing-masing faktor tersebut terhadap laba bersih , impas, return of investment perusahaan.

Pembuatan anggaran pendapatan dan biaya penyajian informasi tersebut dalam grafik laba dan volume merupakan alat yang efektif dalam menyajikan informasi bagi manajemen untuk keperluan perencanaan laba jangka pendek. Hal ini memungkinkan manajemen memperkirakan pengaruh kegiatan atau usaha-usaha yang akan dilaksanakan dan pengaruh perubahan kondisisi pasar terhadap laba, sehingga manajemen dapat memilih berbagai macam usul kegiatan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pencapaian laba di masa yang akan datang. Analisis biaya volume laba yakni merupakan salah satu alat analisis yang dapat digunakan untuk menghitung dampak perubahan harga jual, volume penjualan, dan biaya terhadap laba untuk membantu manajemen dalam perencanaan laba jangka pendek. Dengan Analisis Biaya-Volume Laba perusahaan dapat mengambil kebijakan atau langkah-langkah yang harus diambil dalam rangka untuk mencapai perolehan laba yang diharapkan. Ada 3 faktor yang mempengaruhi laba : 1. Volume produk yang dijual, berpengaruh terhadap volume produksi produk atau jasa tersebut 2. Harga jual produ, atau jasa akan mempengaruhi besarnya volume penjualan produk atau jasa yang bersangkutan 3. Biaya produksi, adalah biaya yang timbul dari perolehan atau untuk pengolahan suatu produk atau jasa akan mempengaruhi harga jual produk yang bersangkutan. Analisis biaya-volume-laba atau analisis impas (break even analysis) adalah suatu pemeriksaan bagaimana jumlah pendapatan dan biaya beruah seiring dengan perubahan volume penjualan. Asumsi yang mendasari Analisis Biaya-Volume-Laba; a. Semua biaya diklasifikasikan sebagai biaya variable ataupun biaya tetap. b. Fungsi jumlah biaya adalah linear dalam kisaran relevan c. Fungsi jumlah pendapatan adalah linier dalam kisaran relevan d. Analisisnya untuk sebuah produk, atau bauran penjualan dari bermacam-macam produk adalah konstan dalam kisaran relevan. e. Hanya terdapat satu pemicu biaya; volume unit produk atau rupiah penjualan f. Dalam perusahaan pabrikasi, tingkat persediaan awal dan akhir periode adalah sama

Analisis Titik Impas Titik impas adalah volume penjualan dimana jumlah pendapatan dan jumlah biaya adalah sama (atau kondisi dimana suatu perusahaan tidak mengalami laba atau rugi). Tujuan analisis titik impas adalah untuk mencari tingkat aktivitas dimana pendapatan dari hasil penjualan sama dengan jumlah sewa biaya variable dan biaya tetapnya. Untuk mecari titik impas dapat menggunakan model sebagai berikut : Penjualan (-) Jumlah biaya = laba bersih Atau , Penjualan (-) Biaya Variabel (-) Biaya Tetap = Laba bersih Atau Penjualan = Biaya variable + Biaya tetap + Laba bersih Dimana Laba bersih adalah nol Analisis Biaya Volume Laba atau Cost-Volume-Profit Analysis (CVP Analysis) adalah suatu alat yang bermanfaat untuk mengidentifikasi cakupan dan besarnya keadaan atau kesulitan ekonomi yang dihadapi suatu perusahaan dan membantu mencarikan solusi atau pemecahannya. CVP Analysis ini menekankan keterkaitan antara biaya, kuantitas penjualan dan harga jual, serta semua informasi keuangan yang terkandung di dalamnya. CVP Analysis ini dapat dimulai dengan menentukan Titik Impas. Titik Impas (Break Even Point) adalah titik dimana total pendapatan sama dengan total biaya, titik dimana laba sama dengan nol. Keputusan awal perusahaan dalam mengimplementasikan pendekatan unit yang terjual pada analisis CVP adalah menentukan apa yang dimaksud dengan sebuah unit. Keputusan kedua terpusat pada pemisahan biaya menjadi komponen tetap dan variabel. Penggunaan Pendekatan Laba Operasi dalam CVP Analysis Laba operasi mencakup pendapatan dan beban dari operasional normal perusahaan. Secara lebih spesifik, pendapatam penjualan dinyatakan sebagai harga jual per unit dikali jumlah unit yang terjual dan total biaya variabel adalah biaya variabel per unit dikali jumlah per unit yang terjual. Laba Operasi = (Harga x Unit Terjadi) - (Biaya Variabel per unit x unit terjual) -Total Biaya Tetap.

Mengukur Hubungan Antara Tingkat Operasi dan Titik Impas Dua ukuran yang mengaitkan antara BEP dan volume operasi sekarang atau yang direncanakan adalah : 1. Marjin Pengaman penjualan 2. Tuasan Operasi Marjin Pengamanan Penjualan adalah kelebihan penjualan yang dianggarkan di atas volume penjualan impas. Marjin pengaman penjualan ini menentukan seberapa banyak penjualan boleh turun sebelum perusahaan menderita kerugian. Rumus Marjin Pengaman Penjualan = ( Penjualan dianggarkan (-) penjualan Impas) Persentase marjin pengaman penjualan =(Marjin pengaman penjualan dalam rupiah / Penjualan) x 100 % Contoh (3) : Dari contoh soal 1 di atas berapakah marjin pengaman penjualannya baik dalam rupiah maupun persentase. Tuasan Operasi (Operating Leverage) adalah tingkat pengeluaran biaya tetap di dalam sebuah perusahaan. Tuasan operasi mengacu pada kemampuan perusahaan untuk menghasilkan kenaikan laba bersih manakala volume penjualan melonjak. Perusahaan yang mempunyai biaya tetap tinggi maka biasanya akan mempunyai tuasan operasi yang tinggi pula. Penggunaan Margin Kontribusi dalam CVP Analisis Marjin Kontribusi adalah perbedaa antara harga jua per unit dan biaya variabel per unit atau perbedaan antara jumlah penjualan dan jumlah biaya variabel. Marjin kontribusi berfungsi untuk perencanaa laba jangka pendek. Margin kontribusi adalah pendapatan penjualan dikurangi total biaya variabel. Pada impas, margin kontribusi sama dengan beban tetap. Jika kita mengganti margin kontribusi per unit untuk harga dikurangi biaya variabel per unit pada persamaan laba operasi dan memperoleh jumlah unit, maka kita akan mendapatkan persamaan dasar impas berikut : Jumlah unit = Biaya Tetap / Margin Kontribusi per Unit Penjualan Dalam Unit yang Diperlukan Untuk Mencapai Target Laba : Target Laba Dalam Jumlah Rupiah Target Laba = (harga/unit x Unit) (biaya tetap) Target Laba dalam Persentase dari Pendapatan Penjualan

P%(harga/unit)(unit) = (harga/unit X Unit) (biaya variabel/unit X Unit) (biaya tetap) Target Laba Setelah Pajak Laba Bersih = Laba Operasi = PPh = Laba Operasi (Tarif Pajak x Laba Operasi)=laba operasi (1 - Tarif Pajak) Laba Operasi = Laba Bersih / (1 Tarif pajak) Menentukan Titik Impas dalam Rupiah Penjualan Untuk menghitung titik impas dalam rupiah penjualan, biaya variable didefinisikan sebagai suatu persentase dari penjualan bukan sebagai sebuah jumlah per unit yang terjual. Rasio biaya variable merupakan bagian dari setiap rupiah penjualan yang harus digunakan untuk menutupi biaya variabel. Rasio Biaya Variabel = (Biaya Variabel per unit) / (harga jual per unit) Rasio margin konstribusi adalah bagian dari setiap rupiah penjualan yang tersedia untuk menutupi biaya tetap dan menghasilkan laba. Maka berdasarkan pengertian tersebut dapat dirumuskan bahwa Rasio margin kontribusi = (margin kontribusi per unit) / (harga jual per unit) Untuk biaya tetap, terdapat tiga kemungkinan: jika biaya tetap yang sama dengan margin kontribusi, maka laba operasi sama dengan nol dan perusahaan berada dalam keadaan impas. Jika biaya tetap yang lebih kecil dari margin kontribusi maka perusahaan menghasilkan laba (atau laba operasi positif) dan terakhir, jika biaya tetap yang lebih besar dari margin kontribusi, perusahaan mengalami kerugian operasi. Jadi, titik impas dalam rupiah penjualan dapat dirumuskan sebagai berikut : Laba Operasi = Penjualan (Rasio biaya variabel X penjualan) biaya tetap Target Laba dan Pendapatan Penjualan menentukan penjualan perusahaan untuk menghasilkan terget laba yang diinginkan, dengan cara : Anggapan yang Mendasari Analisis Titik Impas 1. Variabilitas biaya dianggap akan mendekati pola perilaku yang diramalkan. Biaya tetap akan selalu konstan dalam kisaran volume yang dipakai dalam perhitungan impas, sedangkan biaya variabel berubah sebanding dengan perubahan volume penjualan.

2. Harga jual produk dianggap tidak berubah-ubah pada berbagai tingkat kegiatan. Jika dalam usaha menaikkan volume penjualan dilakukan penurunan harga jual atau dengan memberikan potongan harga, maka hal ini mempengaruhi hubungan biaya, volume dan laba. 3. Kapasitas produksi pabrik dianggap secara relatif konstan. Penambahan fasilitas produksi akan berakibat pada penambahan biaya tetap dan akan mempengaruhi hubungan biaya-volume- laba. 4. Harga faktor-faktor produksi dianggap tidak berubah. Jika harga bahan baku dan tarif upah menyimpang terlalu jauh dibanding dengan data yang dipakai sebagai dasar perhitungan impas, maka hal ini akan mempengaruhi hubungan biaya, volume laba. 5. Efisiensi produksi dianggap tidak berubah. 6. Perubahan jumlah persediaan awal dan akhir dianggap tidak signifikan. 7. Komposisi produk yang akan dijual dianggap tidak berubah.

Analisis Multiproduk Dalam analisis multiproduk, perlu dilakukan pemisahan antara beban tetap langsung dan beban tetap umum. Beban tetap langsung adalah biaya tetap yang dapat ditelusuri ke setiap produk dan akan hilang jika produk tersebut tidak ada. Beban tetap umum adalah biaya tetap yang tidak dapat ditelusuri ke produk dan akan tetap muncul meskipun salah satu produk dieliminasi. Margin produk impas masing masing produk hanya akan menutup biaya tetap langsung. Sementara itu, biaya tetap umum masih belum tertutupi. Maka dari itu, untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan dengan melakukan bauran penjualan atau sales mix. Bauran penjualan adalah kombinasi relatif dari berbagai produk yang dijual perusahaan. Penentuan bauran penjualan memungkinkan untuk mengkonversi masalah multiproduk ke dalam format CVP produk tunggal. Untuk menggunakan pendekatan titik impas dalam unit, harga jual per paket dan biaya variabel per paket harus diketahui. Untuk menghitung nilainilai paket tersebut diperlukan bauran penjualan, harga setiap produk dan setiap biaya variabel. Paket impas = (total biaya tetap) / (total marjin kontribusi per paket) Representasi Grafis dari Hubungan CVP Grafik laba volume (Profit Volume Graph) menggambarkan hubungan antara laba dan volume penjualan secara visual. Grafik laba volume merupakan grafik dari persamaan laba operasi (laba operasi = (harga x unit) (biaya variabel per unit x unit) biaya

tetap). Dalam grafik ini, laba operasi merupakan variabel terikat dan unit merupakan variabel bebas. Nilai variabel bebas biasanya diukur pada sumbu horizontal dan nilai variabel terikat pada sumbu vertikal. Grafik biaya volume laba (cost volume profit graph) menggambarkan hubungan antara biaya, volume, dan laba. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih terperinci, perlu dibuat grafik dengan dua garis terpisah, garis total pendapatan dan garis total biaya. Persamaan dari garis ini adalah : Pendapatan = Harga x Unit Total biaya = (Biaya variabel per unit x Unit) + Biaya Tetap

Asumsi Asumsi Pada Analisis Biaya Volume Laba 1. Analisis mengasumsikan fungsi pendapatan dan fungsi biaya berbentuk linear. 2. Analisis mengasumsikan harga, total biaya tetap, dan biaya variabel per unit diidentifikasikan secara akurat dan tetap konstan sepanjang rentang yang relevan. 3. Analisis mengasumsikan apa yang diproduksi dapat dijual. 4. Untuk analisis multiproduk, diasumsikan bauran penjualan diketahui. 5. Diasumsikan harga jual dan biaya diketahui secara pasti. Perubahan dalam Variabel CVP Ada beberapa cara untuk manajer menghadapi resiko dan ketidakpastian. Pertama, pihak manajemen harus menyadari sifat ketidakpastian dari harga, biaya, dan kuantitas di masa depan. Selanjutnya para manajer bergerak dari pertimbangan titik impas ke pertimbangan kisaran titik impas. Para manajer juga dapat menggunakan analisis bagaimanajika (what if) selain analisis sensitivitas. Margin pengamanan (margin of safety) adalah unit yang terjual atau diharapkan terjual atau pendapatan yang dihasilkan atau diharapkan untuk dihasilkan melebihi volume impas. Margin pengaman dapat dipandang sebagai ukuran kasar dari resiko. Pengungkit operasi (operating leverage) merupakan penggunaan biaya tetap untuk menciptakan perubahan presentase laba yang lebih tinggi ketika aktivitas penjualan berubah. Tingkat pengungkit operasi (degree of operating leverage DOL) untuk tingkat penjualan tertentu dapat diukur dengan menggunakan rasio margin kontribusi terhadap laba. Tingkat pengungkit operasi = margin kontribusi / laba operasional

Analisis CVP dan Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas Analisis CVP konvensional mengasumsikan semua biaya perusahaan dapat dikelompokkan dalam dua kategori : biaya variabel dan biaya tetap. Pada sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas, biaya dibagi dalam kategori berdasarkan unit dan non-unit. Perbandingan antara titik impas ABC dengan titik impas konvensional mengungkapkan dua perbedaan yang signifikan. Pertama, biaya tetapnya berbeda. Beberapa biaya yang sebelumnya diidentifikasi sebagai biaya tetap dapat berbeda dengan penggerak. Kedua, pembilang pada persamaan impas ABC memiliki dua istilah biaya variabel non-unit : satu untuk aktivitas yang berkaitan dengan batch dan satu untuk aktivitas yang berkaitan dengan keberlanjutan produk.Jika suatu perusahaan menganut JIT, maka biaya variabel per unit yang dijual berkurang dan biaya tetap bertambah. Aplikasi Manajerial Dari Analisis Biaya-Volume-Laba Akuntan dapat menentukan bagaimana perubahan harga, volume penjualan, biaya variable, biaya tetap mempengaruhi laba operasi perusahaan Laba sasaran adalah besarnya laba yang diharapkan oleh pemodal. Penetapan laba sasaran dapat diperoleh dari ramalan ekonomi produk perusahaan, antisipasi perubahan produk, biaya, teknologi, dll. referensi buku akuntansi biaya Contoh : 1. Harga jual /unit : Rp. 8000 Biaya variabel/unit : Rp. 4800 Volume penjualan : 100.000 unit Biaya Tetap : Rp. 256.000.000 Dari biaya tersebut biaya tunainya sebesar : Rp. 135.000.000 Berdasarkan data tersebut dapat diketahui : Titik Impas : Rp. 256.000.000 / (8000 4800) = 80.000 (unit) Titik Impas (Rp) : Rp. 256.000.000 / (1 4800/8000) = Rp. 640.000.000

Margin of Safety : Jml Penjulan Titik Impas (Rp. 8000 x 100.000) Rp. 640.000.000 = Rp.160.000.000 Margin of Safety adalah menunjukkan informasi berapa jumlah maksimum penurunan target pendapatan penjualan boleh terjadi, agar penurunan tersebut tidak mengakibatkan perusahaan menderita kerugian.

Titik Penutupan Usaha (Shut Down Point ) Yakni merupakan titik pada penjualan berapa usaha perusahaan secara ekonomi tidak pantas untuk dilanjutkan. Titik Penutupan Usaha = Biaya tunai / CMR = Rp. 135.000.000 / 40 % = Rp. 337.500.000. Ini artinya bahwa pendapatan penjualan di bawah nilai tersebut secara ekonomis tidak pantas untuk dilanjutkan, karena pendapatan penjualan dibawah jumlah tersebut akan mengakibatkan perusahaan tidak mampu membayar biaya tunainya.

Degree of Operating Leverage Yakni menunjukkan % perubahan laba bersih sebagai dampak terjadinya sekian persen perubahan pendapatan penjualan. Rumus = Laba kontribusi / Laba bersih (Rp. 800.000.000 480.000.000)/Rp. 64.000.000 1) = 5 kali Yang berarti setiap 1% kenaikan pendapatan penjualan akan mengakibat kan 5% kenaikan laba bersih. 2. Harga jual /unit : Rp. 30.000 Biaya variabel/unit : Rp. 16.500 Biaya Tetap : Rp. 148.500 Maka perhitungan impasnya : Titik Impas : Rp. 148.500 (30.000 16.500) = 11 (unit) Titik Impas (Rp) : Rp. 148.000 (1 16.500/30.000) = Rp. 330.000

Berdasarkan hasil contoh perhitungan tersebut, dapat diketahui bahwa agar perusahaan tidak

menderita rugi, perusahaan harus menjual produksinya minimal sebanyak 11 unit atau senilai Rp. 330.000 .

RINGKASAN Analisis Biaya - Volume Laba

Oleh 1. Nike Cahya Ika Lestari M 2. Husnia Hanny 3. Tonny Mulyanus (100810201188) (100810201226) (110810201271)

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS JEMBER