Anda di halaman 1dari 57

Jurnal Teknologi Minyak dan Gas Bumi

Vol. : 2 No. : 1 April 2011

JTMGB

ISSN 0216-6410

Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia


Society of Indonesian Petroleum Engineers
JTMGB Vol. 2 No. 1 Hal. 1-49 Jakarta April 2011 ISSN 0216-6410

JTMGB
ISSN 0216-6410

Jurnal Teknologi Minyak dan Gas Bumi


Vol. : 2 No. : 1 April 2011

Jurnal Teknologi Minyak dan Gas Bumi adalah majalah ilmiah yang diterbitkan sebagai kontribusi para professional ahli teknik perminyakan Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) dalam menyediakan media komunikasi kepada anggota IATMI pada khususnya dan mensosialisasikan dunia industri minyak dan gas bumi kepada masyarakat luas pada umumnya. KEPUTUSAN KETUA UMUM IATMI PUSAT NO: 03/SK/ IATMI/I/2011 Penanggung Jawab : DR. Ir. Salis S. Aprilian Peer Review : Prof. DR. Ir. Pudjo Sukarno (Integrated Production System) Prof. DR. Ing. Ir. HP Septoratno Siregar, DEA (EOR) Prof. Ir. Doddy Abdassah, PhD. (Teknik Reservoir) DR. Ir. Sudjati Rachmat, DEA (Well Stimulation and Hydraulic Fractiuring) DR. Ir. Sudarmoyo,SE, MT (Penilaian Formasi) Ir. Aris Buntoro, MT (Teknik Pemboran) Ir. Ratnayu Sitaresmi, MT (Teknik Reservoir) DR. Ir. Taufiq Fathaddin (EOR/Simulasi) DR. Ir. Andang Kustamsi (Teknik Pemboran)

Dewan Redaksi Ketua : DR. Ir. Taufan Marhaendrajana (Engineering Mathe matics and Well Testing/Performances) Anggota : DR. Ir. Asep K. Permadi (Karakterisasi dan Pemodelan Reservoir) DR. Ir. Tutuka Ariadji (Produktion Optimisation) DR. Ir. Bambang Widarsono (Penilaian Formasi) Redaktur Pelaksana : Ir. IGK. Budiartha Ir. Elly M.Jusuf, MSc. Ir. Ana Masbukhin Sekretariat : Ir. Bambang Pudjianto Layout Desain : Endy Hadianto, S.Kom Alief Syahru Sirkulasi : Abdul Manan Alamat Redaksi: Patra Office Tower Lt.1 R.1C Jln. Jendral Gatot Subroto Kav. 32-34 Jakarta 12950 Indonesia. Tel/Fax: +62-21-5203057 website: http://www.iatmi.or.id email: pusat@iatmi.or.id Jurnal Teknologi Minyak dan Gas Bumi (ISSN 0216-6410) diterbitkan oleh Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia, Jakarta

JTMGB
ISSN 0216-6410

Jurnal Teknologi Minyak dan Gas Bumi


Vol. : 2 No. : 1 April 2011

DAFTAR ISI

Penilaian Faktor Ketidakpastian dalam perhitungan saturasi fluida pada reservoir baru pasir lempungan dengan desain eksperimen Heru Atmoko .......................................................................................................................... 1 - 13 Studi laboratorium microbial enhanced oil recovery (MEOR): efek kultur campuran bakteri penghasil biosurfaktan terhadap penurunan tegangan antarmuka Laskary Andaly Metal Bitticaca, Dea Indriani Astuti, Nuryati Juli ...................................... 14 - 22 Metode EOR screening menggunakan dynamic updating criteria dan fuzzy expert system Murni Hadisuryani .............................................................................................................. 23 - 34 Penentuan lokasi sumur menggunakan genetics algorithm Fajril Ambia ........................................................................................................................ 35 - 40 Operasi proses perendaman surfaktan pada squeeze cementing untuk pekerjaan water shut-off Christianto Widi Dewanto ................................................................................................... 41 - 49

KATA PENGANTAR
Selamat berjumpa lagi dengan JTMGB yang diterbitkan secara rutin oleh IATMI, sebagai wadah bertukar dan bertutur ilmu pengetahuan dan teknologi baru di bidang Minyak dan Gas Bumi. Sebagai pengurus baru, kami berusaha melanjutkan tradisi yang baik melalui sharing knowledge berupa jurnal teknologi ini agar visi dan misi IATMI 2010-2012 sebagai perekat (fasilitator/dinamisator/ lubrikator) hubungan harmonis antara Universitas-Industri-Pemerintah dapat dicapai sesuai yang telah ditekadkan. Kami berusaha menyajikan jurnal yang telah berada di tangan pembaca ini sedikit berbeda dengan edisi sebelumnya dengan tanpa kehilangan esensi sebagai jurnal keilmuan dan teknologi. Dengan meningkatkan standar penulisan dan kualitas tulisan, serta desain cover dan tata letak yang telah kami perbaiki, semoga dapat menjadikan JTMGB ini lebih disenangi untuk dibaca dan dijadikan referensi. Dalam edisi kali ini pembaca akan menemukan tulisan-tulisan yang mengupas tentang teknologi untuk meningkatkan produksi di lapangan tua (mature fields), antara lain tentang Microbial Enhanced Oil Recovery (MEOR) yang berpotensi dapat menaikkan produksi dengan cara mereduksi tegangan antar-muka (interfacial tension) minyak-air. Juga penggunaan fuzzy expert system dalam pemilihan metoda EOR yang cocok untuk suatu lapangan. Dalam tulisan lain anda juga akan menemukan cara mengatasi kesulitan squeeze cementing yang biasa kita hadapi untuk menutup zona air (water shut-off) di sumur-sumur tua, dengan menggunakan sejenis surfaktan untuk merendam zona tersebut lebih dulu. Selain itu, kajian-kajian dalam skala laboratorium maupun berupa pengembangan metoda baru dari berbagai referensi disajikan dalam JTMGB kali ini. Akhir kata, kami selaku pengurus IATMI 2010-2012 mengucapkan terima kasih kepada para penulis dan senantiasa mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi penyempurnaan media ini ke arah masa depan yang lebih baik (for a better future) untuk pembaca, bangsa dan negara indONEsia !! (ssa)

PENILAIAN FAKTOR KETIDAKPASTIAN DALAM PERHITUNGAN SATURASI FLUIDA PADA RESERVOIR BATU PASIR LEMPUNGAN DENGAN DESAIN EKSPERIMEN
Heru Atmoko Kepala laboratorium Special Core Analysis pada PPPTMGB LEMIGAS Jl. Ciledug raya, Cipulir, kebayoran Lama, Jakarta 12230 Telepon: 62-21-7394422; Fax: 62-21-7246150 e-mail: herua@lemigas.esdm.go.id Sari Dewasa ini lebih dari 100 buah model persamaan saturasi fluida telah dibuat untuk mengatasi ketidakpastian dalam estimasi saturasi air. Ada beberapa faktor reservoar yang bisa mempengaruhi harga saturasi fluida yaitu porositas (), kandungan lempung (Vcl), resistivitas lempung (Rcl), resistivitas air formasi (Rw), resistivitas batuan (Rt), tortousitas (a), faktor sementasi (m), dan eksponen saturasi (n). Untuk melihat faktor-faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi perhitungan saturasi fluida dalam kaitannya kehadiran lempung di reservoar maka metoda desain eksperimen perlu dilakukan. Model dari Plackett Burnman dengan 24 kombinasi kemungkinan (PB-24 Runs) digunakan untuk melihat pengaruh dari faktor-faktor reservoar terhadap saturasi fluida pada Lapangan-X di laut Jawa bagian barat yang terdapat kandungan lempung pada reservoarnya. Hasil studi menunjukkan adanya tujuh (7) faktor ketidakpastian paling dominan yang diestimasi sebagai mempengaruhi harga saturasi fluida sebesar antara 11% 118%. Disamping kesimpulan tersebut persamaan korelasi serta distribusi tingkat probabillity 10%, 50% dan 90% untuk estimasi saturasi fluida pada batuan reservoar kehadiran lempung telah dikembangkan dari metoda desain eksperimen ini. Hasil penelitian ini diharapkan bisa membantu bagi para penganalisis log sumur dan ahli petrofisika agar lebih berhatihati sewaktu melakukan pemilihan dan perhitungan atas faktor-faktor yang paling dominan tersebut disamping memperkecil faktor ketidakpastian pada faktor-faktor tersebut. Diharapkan juga bahwa persamaan korelasi saturasi fluida yang telah dibangun dari penelitian ini bisa diterapkan untuk semua reservoar yang mempunyai kandungan lempung dan tidak bersifat lokal. Kata kunci: Saturasi fluida, faktor ketidakpastian, seleksi faktor, persamaan saturasi air baru Abstract At present there are more than 100 models have been proposed in order to overcome uncertainties in the estimation of water saturation. There are factors that affect estimation of water saturation, namely porosity (), clay contents (Vcl), clay resistivity (Rcl), formation brine resistivity (Rw), true resistivity (Rt), tortuosity (a), cementation factor (m), and saturation exponent (n). To study the most predominant factors among them in the estimation of water saturation in the case of clay presence in reservoir rocks an experimental design is needed. A Plackett Burnman model with 24 probability combinations (PB-24 Runs) is applied to serve the purpose, with data from X field located in Offshore Northwest Java is used as a case study. Results of study show that the seven (7) factors have contributed uncertainties in the water saturation estimates within a range of 11% - 118%. Apart from this conclusion water saturation correlations at 10%, 50%, and 90% probability levels have also been developed from this study. The results of this research is hope to encourage log analysts and petrophysicists to be more mindful in selecting data for the seven factors, as well as minimizing the potential uncertainties associated with them. It is also hoped that the water saturation correlation developed in this study can be applied in any clay-containing reservoir rocks as long as they do not bear any specific localities. Keywords: water saturation, uncertainty factors, careful selections, new water saturation model

2
I. Latar Belakang Masih seringnya terabaikan oleh pelaku industri migas mengenai pentingnya peranan data core dalam perhitungan saturasi fluida baik ka rena alasan ketidakpahaman, biaya dan waktu menjadikan ketidakpastian yang tinggi dalam hasil perhitungannya. Penggunaan parameter faktor yang berlaku umum pada jenis batuan tertentu masih belum merupakan jawaban yang memuaskan untuk kasus-kasus di Indonesia kerena keragaman reservoarnya. Ada beberapa faktor reservoar yang bisa mempengaruhi harga saturasi fluida dalam batuan reservoar yang mengandung lempung yaitu porositas (), kandungan lempung (Vcl), resistivitas lempung (Rcl), resistivitas air formasi (Rw), resistivitas batuan (Rt), tortuositas (a), faktor sementasi (m), dan eksponen saturasi (n). Faktor-faktor tersebut mempunyai rentang harga yang variatif tergantung dari kera gaman batuan reservoar itu sendiri dan menjadi kesulitan tersendiri bagi seorang ahli analisa log apalagi tidak tersedianya data core sebagai pembandingnya. Tulisan ini akan membahas dampak dari faktor-faktor tersebut terhadap hasil perhitungan saturasi fluida dengan menggunakan desain eksperimen. Diharapkan dari fenomena yang terjadi menjadi perhatian bersama akan pentingnya peranan data core sehingga akan didapatkan hasil perhitungan yang mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi. II. Faktor Ketidakpastian Dalam Perhitungan Saturasi Fluida

Gambar 1. Tipe Log Sumur-X Di Laut Jawa Bagian Barat

Persamaan saturasi fluida untuk model batuan reservoar yang mengandung lempung dari model Indonesia (i.e. Poupon model, Bassiouni, 1994) adalah :

swn =

z {Rw Rcl v +

V c1 - cl m 2

^ m/2h

1 RC
....... (1)

Dari persamaan tersebut jelas terdapat delapan (8) buah faktor yang akan mempengaruhi hasil perhitungan saturasi fluida yaitu tortousitas (a), faktor sementasi (m), eksponen saturasi (n), porositas (), kandungan lempung (Vcl), resistivitas lempung (Rcl), resistivitas air formasi (Rw), dan resistivitas batuan (Rt). Gambar 2 memperlihatkan secara rinci tentang faktor ketidakpastian dalam analisa petrofisika.

Sumur-X di laut Jawa bagian barat dipilih untuk dilakukan studi ini yang merupakan sumur eksplorasi pada formasi Talangakar yang memiliki kandungan lempung diatas 15% didalam reservoarnya. Tipe dan kualitas data log sumuran da pat dilihat pada Gambar 1. Model saturasi air dari persamaan Indonesia dianggap cukup mewakili untuk perhitungan saturasi fluidanya. Parameter lainnya untuk penyelesain perhitungan saturasi air ini akan ditentukan rentang harganya sebagai bagian dari faktor ketidakpastian berdasarkan litGambar 2. Faktor ketidakpastian dalam analisis petroeratur, penguasaan daerah reservoar yang diteliti fisika. serta pengalaman penulis.

3
Faktor Tortuositas (a) Tortuositas adalah panjang keliku-likuan lintasan dalam batuan dibandingkan dengan panjang batuan itu sendiri dalam suatu sistem pori batuan. a = ` La j L ............................... (2) Dalam pengukuran di laboratorium, faktor formasi dan porositas mempunyai hubungan terhadap faktor tortuositas tersebut. C F{ = ` La j L .................................(3) Dimanan eksponen c adalah konstanta korelasi yang mempunyai variasi harga antara 1,7 sampai 2. Variasi harga tersebut hampir sama dengan harga faktor sementasi (m). Faktor tortuositas sangat dipengaruhi oleh geometri saluran pori batuan dan mempunyai rentang harga antara 0,62 sampai 0,88 (Bassiouni, 1994) yaitu untuk batupasir dengan sementasi yang baik (well cemented) sampai tersementasi buruk (weakly cemented). Keller juga menyebutkan harga tortuositas bisa mencapai 3,5 pada batuan vulkanik yang berongga-rongga seperti, tuff dan pahoehoe. Untuk kepentingan penelitian harga untuk batupasir tersebut dicoba untuk dimasukan keda lam desain eksperimen yaitu harga minimum adalah 0,62 dan maksimum adalah 1. Harga maksimum a=1 dipilih berdasarkan pengalaman penulis berdasarkan data hasilpengukuran laboratorium untuk rata-rata batupasir di Indonesia. Faktor Sementasi (m) Seperti halnya tortousitas, faktor sementasi bisa didapatkan dari pengukuran sifat kelistrikannya yang merupakan fungsi dari bentuk dan distribusi pori dalam batuan. a ................................. (4) R R = F = zm Dengan melakukan ploting antara faktor formasi batuan (F) dan porositas dalam skala loglog, hasilnya merupakan sebuah garis lurus dengan kemiringan (slope) yang dikenal sebagai m (faktor sementasi) seperti terlihat pada Gambar 3. Faktor sementasi dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah, bentuk, pemilahan dan packing dari ukuran dan konfigurasi pori, tortuositas, tipe pori (intergranullar, intercrystalline,
O W

Gambar 3. Faktor formasi batuan (penentuan a dan m).

vuggy, fractured), kompaksi (adanya tekanan overburden), kehadiran lempung, dan temperatur. Efek utama dari faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi besar kecilnya harga faktor formasi batuan yang pada akhirnya berdampak pada harga faktor sementasi. Pada batupasir yang tidak terkompaksi secara baik (unconsolidated) dikarakterisasikan mempunyai rentang harga m sebesar 1,1 1,3 (Schon, 1996) sedangkan pada batuan yang kompak ratarata harga m adalah 2 dan bisa mencapai 3 pada batuan karbonat. Reservoar-reservoar batupasir pada daerah Sumatera Utara, Tengan dan Selatan mempunyai rentang harga m antara 1,2 sampai 1,9 sedangkan pada daerah Jawa Barat bagian Utara dan Jawa Timur mempunyai rentang harga m antara 1,5 sampai 2,1 (Adim, 1993). Pirson pada tahun 1958 (Bassiouni, 1994) membagi kelas sementasi untuk batupasir menjadi 5 buah kelas yaitu tidak tersementasi dengan harga m < 1,3 , cukup agak tersementasi antara 1,4 sampai 1,5, agak tersementasi 1,6 sampai 1,7, cukup tersementasi antara 1,8 sampai 1,9 , dan sangat tersementasi antara 2 sampai 2,2 (Amyx dkk, 1960). Rentang harga m antara 1,3 untuk harga minimum dan 2,2 untuk harga maksimum akan dimasukan kedalam desain eksperimen berdasarkan literatur dan data yang ada di Jawa Barat bagian Utara.

4
Eksponen Saturasi (n)
Tabel 1. Sifat kebasahan batupasir dan karbonat (Chillingarian & Yen, 1983; Trieber dkk, 1972)

Pada sebagian pori yang tidak terisi oleh air Chilingarian & (non conducting fluid/gas dan minyak), resistiviYen (1983) tas batuan (Rt) akan lebih besar dibandingkan Batupasir, % Karbonat, % Karbonat, % dengan resistivitas batuan yang tersaturasi oleh Basah air 43 8 8 brine (Ro) dan perbandingan keduanya disebut Intermediate 7 4 12 sebagai indeks resistivitas (RI) atau indeks satuBasah minyak 50 88 80 rasi. Hubungannya kedalam saturasi air dapat dapat dilihat sebagai berikut : kan hasil interaksi antara gaya-gaya yang terda1 RC n .................................. (5) pat pada cairan dan permukaan padatan dari bat S w= c m uan itu sendiri. Gaya-gaya tersebut menghasilkan RO tegangan adhesi yang selanjutnya akan menentuSaturasi eksponen bisa ditentukan dilabora- kan fluida mana yang cendrung membasahi pertorium yang merupakan metoda terbaik dengan mukaan padatan tersebut. Secara umum batupacara mengukur resistivitas (Ro) pada sample/core sir yang merupakan pembentuk batuan reservoar yang tersaturasi oleh brine dan kemudian sample cendrung memiliki permukaan yang bersifat asam tersebut didesak oleh udara atau minyak untuk sehingga mudah untuk bereaksi dan mudah pula mendapatkan saturasi air secara parsial. Pada untuk menyerap senyawa basa sementara senyasaturasi air parsial kemudian diukur resistivitas wa asam akan ditolaknya. Komponen utama dari batuannya (Rt). Dengan memplot data rasio (Ro/ minyak mentah yang umumnya adalah bersifat Rt) dan saturasi air kedalam skala logaritma akan asam lemah sehingga tidak akan mudah untuk didapatkan kemiringan garis lurus yang disebut terserap oleh permukaan SiO2 dari batupasir. Hal sebagai saturasi eksponen (n) seperti terlihat pada tersebutlah yang menyebabkan batupasir lebih Gambar 4. bersifat netral atau basah air. Sedangkan batuan Ada beberapa faktor yang mempengaruhi be- karbonat permukaannya memiliki sifat basa sesaran harga saturasi eksponen tersebut yaitu sifat hingga dengan mudah bereaksi dengan senyawa kebasahan batuan (wettability), tekanan overbur- asam yang terdapat pada minyak mentah. Tabel 1 den, distribusi fluida dalam reservoar dan jenis memperlihatkan hasil penelitian dari Trieber dkk serta jumlah kehadiran mineral lempung dalam (1972) dan Chilingarian dan Yen (1983) tentang reservoar. sifat kebasahan dari batupasir dan karbonat. Pada batuan berpori sifat kebasahan merupaAnderson (1986) mempelajari efek sifat kebasahan terhadap saturasi eksponen dan mendapatkan bahwa, pada dasarnya saturasi eksponen tidak tergantung dari sifat kebasahan pada harga saturasi air yang cukup tinggi terhadap bentuk air film yang berkelanjutan diatas permukaan butiran pada media berpori dan akibatnya menyediakan jalur yang menerus untuk arus listrik. Kesinambungan tersebut adalah umum pada batupasir yang bersih dan pada sistem basah air yang seragam. Sistem tersebut mempunyai harga saturasi eksponen rata-rata adalah 2. Pada batuan dengan sistem basah minyak yang seragam dengan harga saturasi air yang rendah, harga saturasi eksponen bisa mencapai 10 atau lebih besar lagi. Widarsono (2008) dalam tulisannya menyebutkan bahwa sifat kebasahan sangat berkaitan sekali dengan komposisi kimia dan derajat keasaman dari padatan dan fluida yang bersangkutan.
Gambar 4. Indeks resistivitas (penentuan n)

5
harga saturasi eksponen akibat diberikannya efek tekanan overburden. Adanya kandungan lempung dalam reservoar juga akan menurunkan harga saturasi eksponen, dikarenakan kapasitas pertukaran kation (CEC) dari mineral lempung akan menyebabkan rasio Rt/Ro atau indeks resistivitas menjadi rendah seperti terlihat pada Gambar 6. Besar kecilnya efek dari kehadiran lempung tergantung juga dari jumlah kandungan, jenis dan penyebaran dalam reservoar. Efek lainnya seperti yang telah disebutkan diatas juga bisa menyebakan perubahan pada har-

Gambar 5. Efek tekanan overburden terhadap indeks resistivitas (Tiab & Donaldson, 2004)

Komposisi kimia yang berbeda juga akan merespon terhadap pengaruh eksternal, seperti tekanan dan temperatur yang kemudian akan membuat perubahan dalam sifat kebasahan. Efek tekanan overburden juga berpengaruh terhadap harga saturasi eksponen seperti yang diperlihatkan oleh Lewis dkk (1988) melalui Gambar 5 pada sample batupasir yang bersifat basah air dan sample batupasir Berea. Perubahan maksimum sebesar 8% untuk sample basah Gambar 7 Efek pencucian terhadap indeks resistiviair dan 4% untuk sample basah minyak terhadap
tas (Tiab & Donaldson, 2004)

Gambar 6. Efek konduktifitas lempung terhadap indeks resistivitas (Tiab & Donaldson, 2004)

ga saturasi eksponen yaitu efek pencucian atau ekstraksi dan proses drainage serta imbibition dalam penurunan saturasi. Menurut Anderson (1986) saturasi eksponen harus dilakukan pada sample asli atau sample yang telah dikembalikan pada kondisi awalnya, jika tidak perhitungan saturasi fluidanya akan dari data log sumuran menjadi tidak benar. Gambar 7 memperlihatkan efek ekstraksi dan pencucian terhadap hasil pengukuran saturasi eksponen. Secara jelas terlihat bahwa efek ekstraksi dan pencucian akan menurunkan harga saturasi eksponen dari 2,71 menjadi 1,91 Proses penurunan saturasi untuk kepentingan penentuan saturasi eksponen akan memberikan harga yang berbeda. Longeron dkk (1986) serta Lewis dkk (1988) mempelajari pengaruh penu-

6
runan saturasi secara drainage dan imbibition sample batupasir. Hasilnya pada proses drainage keduanya memberikan hasil yang sama yaitu saturasi eksponen sekitar 2, sementara itu pada proses imbibition menjadi lebih rendah yaitu sekitar 1,4 seperti terlihat pada Gambar 8 Adim (1993) memperlihatkan harga besaran saturasi eksponen yang didapatkan dari hasil pengukuran laboratorium di Lemigas untuk reservor-reservoar batupasir pada daerah Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan berkisar antara 1,14 sampai 2,12 sedangkan reservoar-reservoar batupasir untuk Jawa Bagian Utara berkisar antara 1,67 sampai 2,15. maka besaran porositasnya akan diketahui. Dikarenakan sifat pengukuran yang berbeda yaitu untuk log densitas yang diukur adalah densitas bulk batuan, log netron mengukur indeks kandungan hidrogen dalam batuan, dan log sonik yang diukur adalah kelambatan/kecepatan gelombang kompresi dalam batuan maka besaran porositas yang dihasilkan tentunya akan berbeda. Ketidakpastian akan terjadi jika kita tidak punya data core sebagai pembanding. Pada kasus reservoar yang terisi oleh gas pembacaan log densitas tentunya akan memperkecil harga densitas bulk dan dengan sendirinya perhitungan porositasnya menjadi membe sar sedangkan pada pembacaan netron adanya gas akan memperkecil besarannya dikarenakan sedikitnya atom hidrogen dalam gas dan perhitungan porositasnya menjadi rendah, oleh karena itu kombinasi dari keduanya yaitu netron-densitas dianggap cukup mewakili untuk perhitungan porositas pada reservoar gas. Pembobotan pada kedua pembacaan log tersebut sering dilakukan oleh seorang log analyst untuk mendapatkan korelasi yang baik terhadap data corenya. Pemilihan litologi yang tidak sesuai juga akan menyebabkan perhitungan porositas menjadi tidak benar. Kesalahan ini berdampak pada estimasi besaran porositas mencapai 5% unit porositas berdasarkan pengalaman penulis. Adanya mineral lempung dalam batuan reser voar akan memperkecil volume pori batuan sehingga akan memperkecil besaran porositasnya sedangkan adanya mineral konduktif (siderit dan pirit) akan mempengaruhi pembacaan dari log densitas menjadi lebih besar sehingga porositas yang dihasilkan akan lebih kecil dari porositas sebenarnya.Untuk melihat distribusi dari perhitungan porositas pada Sumur-X, maka dilakukan perhitungan terhadap ketiga log porositas tersebut serta kombinasinya seperti terlihat pada Gambar 9. Terlihat bahwa log densitas memberikan harga porositas yang lebih besar dari yang lainnya, untuk itu harga maksimum porositas akan diambil dari metoda log densitas dan kombinasi dari log netron-densitas dipilih untuk harga minimumnya untuk didesain eksperimenkan.

Gambar 8. Efek drainage dan imbibisi terhadap har ga n (Tiab & Donaldson, 2004)

Untuk keperluan desain eksperimen harga saturasi eksponen minimum=1,4 dan harga maksimum=4 , dipilih berdasarkan angka-angka yang berasal dari literatur yang meliputi efek-efek dari sifat kebasahan, adanya kandungan lempung, pengaruh pencucian/ekstraksi, pengaruh tekanan overburden dan proses penurunan saturasi yang mempengaruhinya serta pengalaman penulis untuk reservoar-reservor Jawa Bagian Utara. Porositas ()

Seperti diketahui bersama bahwa penentuan harga besaran porositas umumnya didapatkan dari rekaman data log yaitu dari log densitas, log netron, dan log sonik atau kombinasi dari ketiganya. Rekaman data log tersebut tidak langsung Kandungan Lempung (Vcl) mengukur besaran porositas dalam formasi akan tetapi hanya mengukur sifat fisika batuannya. Penentuan kandungan lempung dalam batuan Dengan menggunakan sebuah persamaan empiris reservoar umumnya bisa dilakukan dari pemba-

Gambar 9. Perhitungan porositas dari berbagai model porositas

caan log gamma ray, log SP, dan log kombinasi neutron-densitas. Log gamma ray lebih sering digunakan dikarenakan sifatnya yang mengukur radioaktif batuan yang terdapat pada mineral lempung. Kedua log lainnya akan sangat tergantung dari perbedaan salinitas, jenis fluida dan mineral tertentu yang dapat mengacaukan perhitungannya. Log gamma ray juga akan terganggu pembacaannya apabila di dalam reservoar terdapat mineral radioaktif selain mineral lempung seperti pottasium feldspar (K-feldspar). Pemilihan metodologi yang tepat sangat diperlukan karena akan memperkecil ketidakpastian dalam penentuan kandungan lempung tersebut. Kandungan lempung dalam reservoar yang dihubungan kedalam indeks lempung (Icl) dapat dilihat dari persamaan berikut Icl = ^GRlog - GRch /^GRcl - GRch .......... (6)

da. Beberapa yang terkenal adalah korelasi dari Lorinov, Steiber, dan Clavier dkk (Bassiouni, 1994). Untuk batuan tersier Lorinov mengemukakan persamaan sebagai berikut:

Vcl = 0.083^23.71 - 1h
cl

........................ (7)

Steiber memberikan persamaan :

Vcl = lcl /^3 - 2lclh

.............................(8)

Clavier dkk mengusulkan persamaan :

Vcl = 1.7 - 63.38 - ^lcl + 0.7 2h@


Vcl = 0.33^2 2l - 1h
cl

1 2

.......(9)

Untuk batuan pretersier (older rock) Lorinov mendapatkan persamaan : ..........................(10)

Biasanya dapat diasumsikan bahwa kandungan lempung Vcl = Icl yang bersifat linier. Asumsi tersebut, meskipun demikian mempunyai kecendrungan memperbesar kandungan lempung oleh karena itu beberapa persamaan empiris telah dikeluarkan untuk mengkoreksi hal tersebut. Beberapa persamaan empiris telah dikembangkan untuk model geologi, umur dan area yang berbe-

Untuk keperluan desain eksperimen harga maksimum untuk penentuan kandungan lempung diambil dari persamaan (6) yang bersifat linier antara indeks lempung (Icl) dengan kandungan lempung (Vcl), sedangkan harga minimum digunakan persamaan dari Clavier dkk untuk reservoar dengan

8
umur batuan tersier. Persamaan dari Clavier dkk tersebut dipilih berdasarkan pengalaman penulis lebih cocok digunakan untuk penentuan kandung an lempung pada reservoar batupasir di Indonesia. Resistivitas Lempung (Rcl) Hadirnya lempung yang konduktif dalam batuan tentunya akan mempersulit penentuan resistivitas batuan pada formasi yang tersaturasi secara parsial. Jenis, jumlah kandungan dan distribusinya memberikan dampak berbeda pada hasil resistivitasnya. Secara umum adanya lempung dalam batuan akan memperkecil resistivitas sebenarnya (Rt) dan jika tidak dilakukan koreksi terhadapnya maka akan menghasilkan perhitungan saturasi air yang besar. Hampir semua persamaan saturasi air untuk mengatasi adanya lempung dalam batuan memasukan faktor resistivitas lempung (Rcl). Resistivitas lempung tersebut sangat sulit ditentukan harganya, bahkan laboratorium juga belum juga bisa mengatasi hal tersebut dikarenakan kandungan lempung yang berada pada sample/core hadir bersama-sama dengan mineral batupasir menjadi satu kesatuan. Jalan alternatifnya adalah melihat data dari log resistivitas pada zona diatas reservoar atau dibawahnya yang mempunyai lapisan lempung/clay yang menerus secara korelasi antar sumur. Metoda tersebut bisa saja digunakan apabila kita mempunyai reservoar yang kehadiran lempungnya secara terlaminasi karena kemungkinan besar mempunyai kesamaan proses geologi pada saat pengedapannya. Untuk kandungan lempung yang hadir dalam bentuk terdispersi atau terstruktur kemungkinan besar tidak dalam proses geologi yang sama. Pada studi ini harga maksimum untuk resistivitas lempung diambil dari asumsi yang telah disebutkan diatas yaitu diambil dari resistivitas lempung pada zona diatas atau dibawah reservoarnya pada Sumur-X dan didapatkan harga resistivitas lempung sebesar 3 ohm-m. Untuk harga minimum resistivitas lempung diasumsikan sebesar 0,4 ohm-m. Resistivitas Air Formasi (Rw) Resistivitas air formasi bisa didapatkan dari metoda log SP, Pickett plot dan Hingle plot dengan hasil yang terbaik dilakukan pada zona yang bersih dan terisi oleh air (water bearing). Cara yang lebih dianjurkan lagi adalah dari pengukuran laboratorium atas air formasi tersebut. Ketidakpastian akan muncul apabila kita berhadapan pada lapisan-lapisan yang mempunyai kandungan lempung yang cukup banyak serta lapisan yang tidak mengandung air. Hasil analisa laboratorium juga bisa saja tidak bisa digunakan karena air yang terproduksi sudah tercampur dengan zona yang lainnya jika diproduksikan bersama-sama (comingle). Selain itu lumpur bersalinitas tinggi pada saat pemboran bisa saja bercampur dengan air formasi yang terproduksikan. Hal tersebut diatas akan sangat menyulitkan dalam penentuan harga resistivitas air formasi yang sebenarnya. Pada kasus ini penentuan resistivitas air formasi dilakukan dengan metoda log SP pada zona air yaitu pada interval 6200 6400 ft dan didapatkan harga minimum sebasar 0,121 ohm-m @75oF serta harga maksimum adalah 0,343 ohm-m @75oF yang akan dimasukan kedalam desain eksperimen. Resistivitas Batuan (Rt) Resistivitas sebenarnya (Rt) adalah resistivitas total yang memperhitungkan adanya fluida (gas, minyak, dan air) serta batuannya itu sendiri. Resistivitas sebenarnya (Rt) bisa didapatkan dari pengukuran log resistivitas pada jangkauan yang dalam, menegah dan dangkal (deep, micro and shallow resistivity) dengan melakukan koreksi terhadap kondisi lubang sumur serta kondisi lingkungan. Jika tidak mempunyai pembacaan resistivitas yang menengah dan dangkal, pembacaan resistivitas dalam juga bisa diandalkan sebagai resistivitas sebenarnya asalkan pergerakan lumpur pemboran tidak masuk terlalu dalam sehingga mempengaruhi pembacaannya. Pada kasus ini diasumsikan bahwa ketidakpastian pada penentuan resistivitas sebenarnya dalam evaluasi log adalah sangat kecil, sehingga bisa dianggap konstan dan tidak dimasukan kedalam desain eksperimen. III. Desain Eksperimen Desain eksperimen adalah suatu rancangan percobaan (dengan tiap langkah dan tindakan

9
yang benar-benar terdefinisikan) sedemikian rupa sehingga informasi yang berhubungan dengan atau diperlukan untuk persoalan yang sedang diteliti dapat dikumpulkan. Terminologi-terminologi umum dalam desain eksperimen dan yang akan sering disebut dalam studi ini akan disajikan berikut ini. Terminologi faktor, dalam arti umum digunakan untuk mencirikan eksperimen dari satu percobaan ke percobaan yang lain. Sebagai contoh dalam aplikasi petrofisika, faktor bisa menunjukan harga porositas, parameter tekstur (a,m, dan n), kandapa kombinasi dari mesin, material, metoda, manusia, lingkungan, dan pengukuran yang apabila digunakan bersamaan akan memberikan sebuah servis yang menghasilkan sebuah produk atau menyelesaikan sebuah tugas. Jadi desain eksperimen adalah sebuah pendekatan ilmiah yang memungkinkan peneliti mendapatkan pengetahuan supaya bisa memahami sebuah proses dengan baik dan untuk menentukan bagaimana sebuah input mempengaruhi respon. Gambar 10 memperlihatkan diagram metodologi yang dilakukan dalam desain eksperimen untuk melihat faktor

Gambar 10. Perhitungan porositas dari berbagai model porositas

ungan lempung, resistivitas lempung, resistivitas air formasi , dan lainnya. Sedangkan variasi harga dari sebuah faktor yang diuji dalam desain eksperimen dikenal sebagai level. Adapun hasil numerik dari sebuah percobaan disebut respon. Respon dalam petrofisika (analisa log sumur) bisa berupa besaran estimasi saturasi air. Efek adalah perubahan dalam respon yang dihasilkan oleh perubahan level dalam faktor. Sebagai contoh bahwa jika sebuah faktor diuji pada 2 level saja, efek-nya adalah perbedaan antara respon rata-rata dari sebuah percobaan yang dilakukan pada level pertama dan respon rata-rata dari semua percobaan yang dilakukan pada level kedua. Desain eksperimen terdiri dari perubahanperubahan yang diinginkan dari input (faktor) kedalam sebuah proses dalam rangka meneliti perubahan-perubahan yang dihasilkan dalam output (respon). Proses bisa diartikan sebagai beber-

ketidakpastian dalam penentuan saturasi air. Ada beberapa metoda desain eksprimen yang sering dipakai didalam industri diantaranya yaitu Plackett-Burman, Taguchi, dan Box-Behnken (Tiab & Donaldson, 2004). Masing-masing metoda desain eksperimen tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Diskusi tentang metoda tersebut diatas beserta kelebihan dan kekurangannya diluar cakupan penelitian ini Pada desain eksperimen faktor-faktor yang akan dimasukan umumnya diberi kode -1, 0, 1 untuk 3 level harga minimum, base, dan maksimum, sedangkan pada penelitian ini akan digunakan 2 level harga yaitu minimum dan maksimum yang akan diberi kode -1 dan 1. Tabel 2 memperlihatkan tujuh (7) buah faktor ketidakpastian dengan 2 tingkatan (level) yang akan diuji. Rentang harga level pada tujuh buah faktor tersebut telah dibahas pada bagian sebelumnya.

10
Tabel 2. Tujuh (7) faktor ketidakpastian dalam perhitungan saturasi air
No 1 2 3 4 5 6 7 Faktor Tortousitas (a) Faktor Sementasi (m) Saturasi Eksponen (n) Resistivitas Air (Rw, ohm-m) Porositas (, fraksi)
Kandungan Lempung (Vcl, fraksi) Kandungan Lempung (Rcl, ohm-m)

Tabel 4. Respon (Sw) yang dihasilkan dari kombinasi matriks PB-24 Run

Minimum 0.62 1.3 1.5 0.121 0.253 0.068 0.4

Maksimum 1 2.2 4 0.343 0.306 0.164 3.0

Dalam penelitian ini dipilih metoda desain eksperimen dari Plackett-Burman 24 run (PB-24) dalam melakukan analisa desain. Desain matrik yang disediakan oleh PB-24 dengan 2 level untuk ke-tujuh faktor yang akan dianalisa dapat dilihat pada Tabel 3 dengan perincian sebagai berikut A= tortusitas (a), B= faktor sementasi (m), C= saturasi eksponen (n), D= resistivitas air formasi (Rw), E= porositas (), F= kandungan lempung (Vcl), dan G=resistivitas lempung (Rcl). Tabel 4 memperlihakan hasil perhitungan saturasi air sebagai respon yang dihasilkan dari kombinasi matriks tersebut.
Tabel 3. Kombinasi mariks Plackett Burnman-24 Run
RUN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 A 1 -1 1 1 1 1 1 -1 -1 1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 1 1 -1 1 1 1 -1 B -1 1 -1 1 1 -1 1 1 -1 1 1 1 -1 -1 1 -1 -1 1 1 1 -1 -1 -1 -1 C 1 1 1 1 -1 1 -1 1 -1 -1 -1 -1 1 1 1 -1 1 1 1 -1 -1 -1 -1 -1 D -1 -1 1 1 1 -1 -1 -1 -1 -1 1 1 1 -1 1 1 1 -1 1 -1 -1 1 1 -1 E 1 1 1 1 -1 -1 1 -1 1 -1 -1 1 -1 1 1 -1 -1 -1 -1 1 -1 1 1 -1 F 1 -1 1 -1 1 1 1 1 -1 -1 -1 1 -1 -1 1 1 1 -1 -1 1 1 -1 -1 -1 G 1 1 1 -1 1 1 -1 1 1 1 1 1 1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 1 -1

IV. Hasil Analisis dan Diskusi Dalam penelitian ini analisa desain eksperimen menggunakan bantuan software Minitab. Hasil keluaran yang diperoleh oleh software ini adalah berupa tabel dan gambar statistik. Pada Tabel 4 memperlihatkan hasil analisa statistik dari Plackett-Burnman 24 Run untuk perhitungan Sw yang diantaranya menunjukan faktor-faktor yang dilibatkan dalam desain eksperimen yaitu, efek, koefisien korelasi, toleran (T), P (probabilitas), dan R2. Dari hasil analisa desain eksperimen yang dihasilkan terhadap tujuh (7) buah faktor tersebut terlihat bahwa enam (6) buah faktor yaitu saturasi eksponen (n), faktor sementasi (m), resistivitas air formasi (Rw), tortuositas (a), porositas serta kandungan lempung merupakan faktor yang berpengaruh terhadap perhitungan saturasi air dibandingkan faktor lainnya. Nilai efek positif atau negatif dari sebuah fakTabel 5. Hasil desain eksperimen dari PB-24 Run
Term Constant a m n rw Por Vcl Rcl 0.03063 0.06963 0.26452 0.05772 -0.02833 -0.0248 -0.0034 Effect Coef 0.2242 0.0153 0.0348 0.1323 0.0289 -0.0142 -0.0124 -0.0017 SE Coef 0.0040 0.0040 0.0040 0.0040 0.0040 0.0040 0.0040 0.0040 T 56.7 3.87 8.81 33.46 7.30 3.58 3.14 0.43 P 0 0.001 0 0 0 0.002 0.006 0.673

11
penting dalam model korelasi (persamaan korelasi yang dihasilkan). Nilai P ini dibandingkan dengan nilai level dimana nilai level yang digunakan adalah 0,05. Nilai level adalah batas nilai yang signifikan terhadap hasil yang diinginkan yaitu respon (saturasi air). Harga P < 0,05 menunjukan faktor tersebut penting dan perlu dimasukan dalam model korelasi. Harga P > 0,05 menunjukan faktor yang tidak penting sehingga tidak harus dimasukan kedalam model. Dari Tabel 5 menunjukan bahwa harga yang Gambar 11. Probabilitas vs Saturasi Air mempunyai P > 0,05 adalah resistivitas lempung yaitu 0,673 ini menunjukan bahwa faktor tersebut tor akan mempengaruhi respon yang dihasilkan merupakan faktor yang tidak penting yang tidak dalam hal ini adalah Saturasi air tergantung dari perlu dimasukan dalam model korelasi. fungsi masing-masing faktor terhadap perolehan Hasil analisa juga menghasilkan persaman saturasi air. Dalam analisa (efek) harga satu- korelasi untuk memprediksi harga saturasi air rasi eksponen menempati urutan pertama yaitu yaitu sebagai berikut mempunyai nilai efek (0,264), kemudian faktor sementasi nilai efeknya (0,069), selanjutnya SW = 0.2242 + 0.0153^ah adalah resistivitas air formasi dengan nilai efek + 0.0348^ mh + 0.1323^ nh (0,057), tortuositas nilai efeknya (0,031), porosi 0.0124^Vclh + 0.0017^ Rclh .............. (11) tas nilai efeknya (-0,028), kandungan lempung nilai efeknya (-0,025) dan yang terakhir adalah Dari hasil persamaan korelasi tersebut bisa resistivitas lempung dengan nilai efek (0,003) didapatkan kurva S (empirical CDF) yang dapat Kofisien korelasi adalah menunjukan seber- mengetahui harga Sw serta nilai masing-masing apa dominan pengaruh sebuah faktor terhadap untuk P10, P50, dan P90 seperti yang terlihat pada jawaban akhir yang dihasilkan yaitu respon. Se- Gambar 11. Dari gambar tersebut untuk P10 didamakin tinggi nilai koefisien sebuah faktor, akan patkan harga Sw sebesar 0,037 yang mempunyai semakin dominan faktor tersebut. Selanjutnya arti tingkat kepercayaan atas harga Sw yang dibisa juga dilihat pada tabel sebuah harga konstan- hasilkan adalah 10%, P50 dengan harga Sw sebeta dengan koefisien sebesar 0,2242 yang mengar- sar 0,2241 dengan artian tingkat kepercayaannya tikan harga saturasi air rata-rata (mean value) dari adalah 50% sedangkan P90 Sw yang dihasilkan 24 run adalah sebesar 0,2242 atau 22.42%. adalah 0,411 dengan tingkat kepercayaan atas Harga P adalah untuk menentukan statistical saturasi air yang dihasilkan adalah 90%. significance untuk faktor-faktor dalam model. Untuk melihat faktor mana yang mempunyai Harga P menunjukan probabilitas untuk menyer tingkat ketidakpastian yang tinggi terhadap retakan sebuah faktor atau pengaruh yang tidak spon yang dihasilkan bisa dilihat pada chart pareto

Gambar 12. Pareto Chart untuk tujuh (7) faktor ketidakpastian

Gambar 13. Normal plot untuk tujuh (7) faktor ketidakpastian

12
lasi (persamaan-11). Gambar 15 memperlihatkan hasilnya dalam diagram tornado. Hasil diagram tornado memperlihatkan bahwa urutan faktor yang paling berpengaruh terhadap perolehan IGIP adalah yang pertama faktor saturasi eksponen (n) dengan mempengaruhi harga Sw mencapai 118% , faktor sementasi (m) dengan mempengaruhi harga Sw sebesar 31%, resistivitas air formasi (Rw) mempengaruhi harga Sw sekitar 26%, tortuositas (a) mempengaruhi harga Sw sekitar 14%, porositas dengan mempengaruhi harga Sw sebesar 13%, kandungan lempung (Vcl) yang mempengaruhi harga Sw sebesar 11%, dan yang terakhir adalah resistivitas lempung (Rcl) dengan mempengaruhi harga Sw sekitar 1.5% Untuk mengatasi dampak dari faktor yang mempunyai ketidakpastian tinggi terutama pada faktor saturasi eksponen maka data pendukung dari hasil analisa laboratorium dan penguasaan atas daerah yang diteliti sangat diperlukan buat praktisi (petrophysicist/log analyst) di lapangan sehingga hasil perhitungan saturasi air yang dihasilkan mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi.

Gambar 14. Efek utama untuk tujuh (7) faktor ketidak pastian

seperti yang ditampilkan pada Gambar 12. Pada gambar tersebut memperlihatkan bahwa faktor saturasi eksponen merupakan faktor yang mempunyai tingkat ketidakpastian tertinggi. Hal tersebut ditunjukan oleh besarnya efek yang dimiliki dibandingkan dengan faktor lainnya. Secara garis besar chart pareto yang dihasilkan terhadap faktor-faktor tersebut yang memiliki ketidakpastian yang tinggi adalah faktor-faktor yang melewati garis kepercayaan (line of confident) yang mempunyai harga 2,12. Faktor Rcl berada didalam garis kepercayaan yang mempunyai arti bahwa faktor tersebut memiliki ketidakpastian yang rendah atau mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi atas respon yang dihasilkan. Gambar normal plot terhadap efek yang dihasilkan yang diperlihatkan pada Gambar 13 juga bisa memberikan gambaran faktor-faktor yang mempunyai tingkat ketidakpastian yang tinggi terhadap respon yang dihasilkan. Nilai efek positif atau negatif dari sebuah faktor akan mempengaruhi respon yang dihasilkan dalam hal ini adalah Sw tergantung dari fungsi masing-masing faktor terhadap perolehan Sw. Sebagai contoh dari gambar yang dihasilkan faktor saturasi eksponen (n) memiliki efek yang besar. Semakin besar harga efek dari harga saturasi eksponen akan menghasilkan Sw yang besar. Plot main effect terhadap Sw akan memperlihatkan tujuh buah faktor yang dianalisa terhadap perolehan Sw dimana harga -1 dan 1 mewakili harga minimum dan maximum untuk setiap faktor berdampak terhadap respon (Sw) yang ingin diketahui seperti yang terlihat pada Gambar 14. Analisa sensitivitas dilakukan terhadap tujuh (7) buah faktor pada perolehan Sw yang telah dihasilkan dengan menggunakan persamaan kore-

Gambar 15. Analisa sensitivitas untuk tujuh (7) faktor ketidakpastian

V. Kesimpulan Dari hasil penelitian ini dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu : 1. Diperlukan pemahaman yang baik terhadap faktor/parameter yang terlibat langsung dalam perhitungan saturasi air sehingga faktor yang dimasukan mempunyai tingkat ketidakpastian yang rendah. 2. Perlu dilakukan sosialisasi yang lebih baik lagi mengenai pentingnya data core/percon-

13
toh terhadap faktor-faktor ketidakpastian tersebut. 3. Penggunaan harga faktor/parameter yang berlaku umum yang sering dilakukan oleh praktisi di lapangan pada litologi tertentu masih mempunyai tingkat ketidakpastian yang tinggi terhadap saturasi air yang dihasilkan. 4. Perubahan sifat kebasahan dapat mengubah secara berarti harga faktor saturasi eksponen (n) dan distribusi fluida. Berdasarkan hasil peneltian faktor tersebut bisa mempengaruhi harga saturasi air mencapai lebih dari 100%. 5. Rentang harga faktor ketidakpastian yang dimasukan kedalam desain eksperimen akan mempengaruhi hasil keluarannya, oleh kerena itu penguasaan pengetahuan atas faktor ketidakpastian tersebut menjadi sangat penting.
Acuan Adim, H.: Studi parameter m dan n dari batu an reservoar di Indonesia. Lembaran Publikasi Lemigas, Vol.27, No.1 (1993), pp. 43 48. Amyx, J.W. Bass, Jr., D.M. & Whiting, R.L.: Pe troleum reservoir engineering, physical properties. McGraw-Hill Book Company, New York, Toronto, London, p.609, (1960). Anderson, W.G. Effect of wettability on the elec trical properties of porous media. J.Pet. Tech., (Dec.1986), pp. 1371 1378. Bassiouni, Z.: Theory, mesurement, and inter pretation of well logs. SPE Textbook Series, Vol.4, Richardson, TX. P.371, (1994). Chilingarian, G.V. & Yen, T.F.: Some notes on wettability and relative permeabilities of carbonates rocks. Energy Sources, Vol.7, No.1, pp. 67 75, (1983). Keller, G.V.: Effect of wettability on the elec trical resistivity of sands. Oil & Gas j. Vol. 51, No.1, (January 1953), p.65. Lewis, M.G., Sharma., M.M. & Dunlap, H.F.: Wettability and stress effect saturation and cementation exponents. SPWLA 29th 1988 Ann. Logging Symp., paper K, June 5 8. Longeron, D.G., Argaud, M.J. & Feraud, J.P.: Effect of overburden pressure, nature, and microscopic distribution of the fluids on electrical properties of sample. Soc. Petrol. Eng. Paper 15383, 1986. Schon, J.H.: Physical properties of rocks: Fun damentals and principals of petrophisics Vol. 18. Klaus helbig & Sven Treitel (eds.)Elsevier Science Ltd, The Boulevard, Langford lane, Kidlington, Oxford UK, p. 577, (1996). Tiab, D. & Donaldson, E.C.: Petrophysics : The ory and practice of measuring reservoir rock and fluid transport properties. Gulf Professional Publishing, 200 Wheeler Road, Burlington, MA 01803, USA, p.889, (2004). Trieber, L.E., Archer, D. & Owens, W.W.: A Laboratory evaluation of the wettability of fifty oil producing reservoirs. Soc.Petrol. Eng. J., Vol.12, No.6, (December 1972), pp. 531 540. Widarsono, B.: Perubahan sifat kebasahan fluida dan sifat kelistrikan batuan reservoir: isu lama, persoalan aktual. Lembaran Publikasi Lemigas, Vol.42, No.1 (2008), pp. 20 28.

STUDI LABORATORIUM MICROBIAL ENHANCED OIL RECOVERY (MEOR): EFEK KULTUR CAMPURAN BAKTERI PENGHASIL BIOSURFAKTAN TERHADAP PENURUNAN TEGANGAN ANTARMUKA
Laskary Andaly Metal Bitticaca, Dea Indriani Astuti, Nuryati Juli Staff di Oil and Gas Recovery for Indonesia (OGRINDO), Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganeca 10, Bandung e-mail: laskar.andaly@yahoo.com, Telp. 08122455618 SARI Konsumsi minyak bumi tidak sebanding dengan penemuan cadangan baru dan peningkatan perolehan minyak (enhanced oil recovery, EOR) adalah merupakan solusi yang dapat diambil berkaitan dengan hal tersebut. Peningkatan perolehan minyak secara mikrobial atau microbial enhanced oil recovery (MEOR) adalah merupakan salah satu metode EOR yang dapat dipakai jika kondisi memungkinkan. Metode MEOR yang paling sederhana meliputi injeksi larutan yang mengandung mikroorganisme dan nutrisi ke dalam reservoir selama masa inkubasi tertentu, sehingga memungkinkan mikroorganisme untuk menghasilkan metabolit yang kemudian memfasilitasi pembebasan minyak yang terjebak dalam skala mikro. Salah satu metabolit mikroorganisme adalah biosurfaktan yang memiliki kemampuan untuk mereduksi tegangan antarmuka (Interfacial Tension/IFT) antara minyak dan air, serta dapat digunakan dalam kondisi ekstrem (suhu dan tekanan tinggi). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek pencampuran dua kultur bakteri penghasil biosurfaktan, yaitu Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa, dalam menurunkan tegangan antarmuka. Penelitian ini menggunakan kultur Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa dengan variasi komposisi 1:1, 1:2, 2:1 dalam medium Stone Mineral Salt Solution (SMSS) dengan penambahan 0,01% (b/v) NPK dan minyak bumi 20%. Parameter yang diukur adalah jumlah sel bakteri, pH, berat kering biosurfaktan, dan tegangan antarmuka pada interval setiap 24 jam selama 7 hari pada suhu 55C dan agitasi 120 rpm. Data yang diperoleh diplot dalam dua kurva, yaitu kurva produksi biosurfaktan dan kurva konsentrasi kritis pembentukan misel/critical micelle concentration (CMC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan tegangan antarmuka yang dicapai dalam kultur campuran Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa lebih besar daripada kultur tunggal Bacillus sp. Kata kunci: microbial enhanced oil recovery, Bacillus sp., Bacillus polymyxa, biosurfaktan, pengurangan tegangan antar-muka ABSTRACT Recent oil consumption is not well-balanced with discovery of new reserves and enhanced oil recovery (EOR) technique is solution that can be adopted. Microbial enhanced oil recovery (MEOR) is one of EOR technique that is available provided conditions permit. The most rudimentary MEOR method is through injecting a solution that contains both microorganism and its nutrition into reservoir over a certain incubation period. In the incubation period the microorganism produces metabolite, which in turn facilitates the release of trapped oil in micro scale. One of the produced metabolite is bio-surfactant that allows reduction in interfacial tension between oil and water and works under extreme pressure and temperature. The objective of this research is to investigate the effect of mixing two bio-surfactant-producing bacterial cultures Bacillus sp and Bacillus polymyxa in reducing interfacial tension. This study uses mixture compositions between the two cultures of 1:1, 1:2, and 2:1 within stone mineral salt solution (SMSS) with addition of 0.01% (b/v) NPK and 20% crude oil. The measured parameters are bacterial cell quantity, pH, bio-surfactant weight (dry), and interfacial ten-

14

15
sion recorded every 24-hour interval during 7-day study period under 55 oC and 120 rpm agitation. The results are then plotted in two curves, the produced bio-surfactant and critical micelle concentration (CMC). The main conclusion that is drawn from the experiment is that more interfacial tension reduction is observed under Bacillus sp. and Bacillus polymyxa mixture compared to the condition under single culture of Bacillus sp. Key word: microbial enhanced oil recovery, Bacillus sp., Bacillus polymyxa, bio-surfactant, interfacial tension reduction I. Pendahuluan Microbial Enhanced Oil Recovery (MEOR) merupakan suatu proses peningkatan perolehan minyak dengan memanfaatkan aktifitas mikroorganisme (Moses dan Springham, 1982). Teknik ini digunakan sebagai salah satu tahap tersier ketika recovery minyak mentah (crude oil) secara primer dan sekunder (dengan waterflood) sudah tidak efisien lagi (Bryant, 1987). Pada awalnya teknik tertiary recovery menggunakan bahanbahan yang bersifat non-biologis seperti metode termal (thermal method), pengaliran zat kimia (chemical flooding), dan miscible displacement. Namun kemudian mengalami hambatan karena kesulitan pengontrolannya setelah penginjeksian (Moses dan Springham, 1982) dan efek buruknya terhadap lingkungan (Donaldson dkk., 1989). Berbagai mikroorganisme dapat hidup dalam reservoir. Mikroorganisme menggunakan senyawa organik yang bervariasi sebagai sumber karbon dan energi, yang diantaranya minyak bumi, untuk pertumbuhannya. Ketika sumber karbon merupakan substrat yang tidak larut seperti hidrokarbon, mikroorganisme memfasilitasi proses transpornya ke dalam sel dengan memproduksi beranekaragam senyawa, yang mengemulsi substrat hidrokarbon dalam medium pertumbuhan. (Al-Araji dkk., 2007) Menurut Tanner dkk. (1991), metabolit sekunder yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang dapat digunakan dalam proses MEOR adalah asam, gas, pelarut, polimer, dan surfaktan. Dalam perkembangan berikutnya, salah satu metabolit sekunder yang potensial untuk dikembangkan adalah surfaktan. Surfaktan yang umum digunakan saat ini adalah surfaktan yang disintesis secara kimiawi. Senyawa ini mudah diproduksi akan tetapi sulit untuk dibiodegradasi dan bersifat toksik terhadap lingkungan. Di lain pihak, biosurfaktan, yang merupakan senyawa aktif permukaan yang diproduksi sebagai metabolit sekunder oleh mikroorganisme, memiliki karakteristik yang diinginkan sebagai agen EOR seperti : jangkauan pH dan toleransi garam yang luas, toksisitas yang rendah, dan potensi biaya produksi yang rendah (Bala dkk., 2002). Biosurfaktan adalah senyawa ampifilik yang diproduksi oleh sel. Sebagian besar berasal dari permukaan sel mikroorganisme atau dikeluarkan secara ekstraseluler serta memiliki ujung hidrofobik dan hidrofilik (Lin dkk., 1998). Dengan struktur tersebut, biosurfaktan dapat mereduksi tegangan permukaan dan tegangan antarmuka pada dua fase cairan yang berbeda. Dua efek utama dari senyawa aktif permukaan ini adalah (1) mereduksi tegangan permukaan antara minyak dan air, dan (2) pembentukan misel. Efek yang pertama mereduksi tekanan hidrostatik yang harus diaplikasikan pada fluida dalam pori-pori batuan formasi untuk menanggulangi efek kapilaritas, sedangkan efek yang kedua menyediakan mekanisme fisik yang menyebabkan minyak dapat dimobilisasi oleh fase cair yang bergerak. (Marshall, 2008) Tegangan antarmuka antara hidrokarbon dan fase cair sangat bertanggungjawab terhadap terjebaknya hidrokarbon dalam matriks berpori. Reduksi besar terhadap tegangan antarmuka sangat dibutuhkan untuk mobilisasi hidrokarbon. Untuk memperoleh reduksi besar pada tegangan antarmuka, harus diketahui konsentrasi surfaktan yang dibutuhkan untuk membentuk misel (critical micelle concentration/konsentrasi kritis misel) (Youssef dkk., 2006). Salah satu cara efektif untuk menurunkan biaya produksi biosurfaktan adalah dengan meningkatkan yield produk. Dengan demikian biaya recovery, modal, dan bahan baku dapat dikurangi. Beberapa metode dapat digunakan untuk men capai tujuan ini, antara lain: kontrol biosintesis surfaktan, perubahan genetik produsen, dan penapisan overproducer. Kultur campuran juga

16
ta bakteri sebanyak 106 sel/ mL. Suspensi isolat bekteri tersebut kemudian diinokulasikan sebanyak 10% (v/v), ke dalam medium SMSS + NPK 0,01% (b/v) + minyak mentah 20% (v/v). Kultur dikocok dalam rotary shaker incubator pada suhu 55C dengan kecepatan 120 rpm. Setiap 12 jam sekali selama 7 hari dilakukan pengambilan sampel untuk pengukuran pH dan penghitungan jumlah sel. Perhitungan jumlah sel/mL dilakukan dengan metode cawan hitung (plate count method). Sampel dari kultur tersebut diambil sebanyak 1 mL untuk serial pengenceran dan ditanam pada lempeng NA, kemudian diinkubasi dalam inkubator pada suhu 55C selama 24 jam. Kolonikoloni yang tumbuh dengan jumlah 30-300 dihitung dan dikalikan dengan faktor pengencerannya sehingga diperoleh jumlah sel/mL. Angka yang II. Metode diperoleh selanjutnya dihitung dalam bentuk logaritma dan dilajurkan pada grafik sebagai ordinat Aktivasi dan Adaptasi Bakteri dengan waktu sebagai absis sehingga diperoleh Isolat bakteri yang digunakan berasal dari grafik kurva pola pertumbuhan antara log jumlah penelitian sebelumnya (Purwasena, 2006). Sesel bakteri terhadap waktu. tiap isolat disubkultur sebanyak dua tabung ke dalam medium Natrium Agar (NA) miring pada suhu 55C. Setelah umur inokulum 24 jam, satu Pembuatan Kurva Produksi Biosurfaktan tabung bakteri untuk setiap spesies digunakan Pembuatan kurva produksi biosurfaktan disebagai kultur stok dan satu tabung lagi sebagai lakukan di dalam medium dengan komposisi dan kultur kerja. Kultur kerja kemudian diadaptasi dan diakti- waktu yang sama dengan pembuatan pola pervasi dalam medium Stone Mineral Salt Solution tumbuhan. Pengambilan sampel dilakukan set(SMSS), dengan 0,01% (b/v) NPK sebagai sum- iap 24 jam selama 7 hari. Pengukuran jumlah biosurfaktan dilakukan ber nitrogen, dan minyak bumi dengan konsenberdasarkan prosedur dalam Zajic dkk. (1977 datrasi meningkat secara bertahap, yaitu 5%, 10%, lam Budiarti, 2000). Sebanyak 15 mL kultur iso15%, dan 20% (v/v), sebagai sumber karbon. lat yang berada di dalam medium pertumbuhan diambil dan disimpan di dalam botol-botol samPembuatan Kurva Pola Pertumbuhan Kultur pel yang telah disterilisasi. Selanjutnya dilakukan penyaringan dan pengukuran kandungan biosurCampuran faktan. Penyaringan dilakukan dengan mengamKurva pola pertumbuhan kultur campuran bil 10 mL kultur dalam medium dan ditambah bakteri dibuat dalam medium SMSS + NPK dengan 10 mL akuades. Kemudian disentrifugasi 0,01% (b/v) + minyak mentah 20% (v/v). variasi selama 30 menit dengan kecepatan putar 10.000 perbandingan jumlah inokulum Bacillus sp. : Ba- rpm dan disaring dengan kertas saring biasa uncillus polymyxa yang diuji adalah 1:1, 1:2, dan tuk memisahkan supernatan dengan endapan. 2:1. Supernatan selanjutnya disaring dengan kertas Isolat bakteri digoreskan (streak) dalam agar Whatman no.2. medium SMSS + NPK 0,01% (b/v) + minyak Hasil ekstraksi ditambahkan dengan HCl mentah 20% (v/v) dan diinkubasi selama 24 jam pekat sampai didapat pH 3. Setelah itu, diendappada suhu 55C. Isolat bakteri yang tumbuh dis- kan dengan metanol dengan perbandingan 3:1, uspensikan dalam NaCl 0,85% dan diukur jumlah kemudian disimpan dalam kulkas semalam denawal selnya hingga diperoleh jumlah awal rata-radapat berguna untuk memproduksi campuran surfaktan dengan karakteristik yang menarik. Pendekatan ini juga mengarah pada masalah kontaminasi yang lebih sedikit, sehingga meningkatkan produktifitas biosurfaktan (Mulligan dan Gibbs, 1993 dalam Kosaric, 1993). Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan optimisasi perbandingan jumlah inokulum bakteri hidrokarbonoklastik dengan kemampuan terbaik dalam produksi biosurfaktan yang merupakan hasil isolasi dan penapisan dari penelitian sebelumnya, dengan menggunakan critical micelle concentration (CMC) sebagai parameter. Dengan demikian diharapkan produksi biosurfaktan untuk aplikasi MEOR di lapangan menjadi lebih efisien.

17
gan suhu 4oC. Terakhir dilakukan sentrifugasi selama 30 menit, dengan kecepatan putar 10.000 rpm. Supernatan dibuang, endapan dibilas dengan metanol kemudian disaring dengan kertas Whatman no.2 yang telah diketahui berat awalnya. Kertas Whatman tersebut dikeringkan pada oven selama semalam dan ditimbang. Pada saat pengukuran biosurfaktan, masing-masing sampel disaring dengan menggunakan kertas Whatman yang telah diketahui berat awalnya (bk0). Selanjutnya dikeringkan pada suhu 60oC selama 3 jam, kemudian dihilangkan kandungan uap air yang ada pada kertas Whatman dengan meletakannya ke dalam silika gel dan dibiarkan beberapa saat dan ditimbang (bk1). Berat kering dari masing-masing sampel (bk) ditentukan dengan rumus Bk = bk1 bk0. Selanjutnya data berat kering biosurfaktan yang diperoleh dilajurkan pada grafik sebagai ordinat dengan waktu sampling sebagai absis sehingga diperoleh kurva produksi biosurfaktan antara berat kering biosurfaktan terhadap waktu. Prosedur dilakukan dengan pengulangan sebanyak dua kali dan diambil rata-ratanya (Zajic dkk., 1997). yang diperoleh dilajurkan pada grafik sebagai ordinat dengan berat kering biosurfaktan, yang diperoleh dari kurva produksi biosurfaktan, sebagai absis sehingga diperoleh kurva CMC antara tegangan antar muka terhadap berat kering biosurfaktan (Birdi, 1997). III. Hasil dan Diskusi Perbandingan Pola Pertumbuhan

Pertumbuhan terbaik di dalam medium SMSS + 0,01% (b/v) NPK + 20% (v/v) minyak bumi berturut-turut adalah kultur tunggal Bacillus sp., kultur campuran Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa 1:2, kultur tunggal Bacillus polymyxa, kultur campuran Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa 1:1, kultur campuran Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa 2:1. Pertumbuhan Bacillus sp. yang sangat baik dalam medium ini jelas merupakan akibat ketersediaan sumber nitrogen inorganik optimum (Primeia, 2008), yaitu NPK dengan konsentrasi 0,01% (b/v). (Gambar 1) Pertumbuhan Bacillus polymyxa dalam medium SMSS yang mengandung 0,01% (b/v) NPK dan 20% minyak, hanya mencapai titik tertinggi Pembuatan Kurva Critical Micelle Concentra- sebesar 8,7853 pada jam ke-72. Dengan jumlah tion (CMC) awal 8,0212, jumlah ini sangat kecil jika dibandPembuatan kurva CMC ini dilakukan den- ingkan dengan pertumbuhan Bacillus polymyxa gan mengukur tegangan antar muka pada inter- dalam medium recovery yang diperoleh melalui val yang sama dengan pembuatan kurva produksi hasil penelitian Solihah (2006), yaitu dari 7,4771 biosurfaktan. Kemudian tegangan antar muka menjadi 10,6021 pada jam ke-12. Sementara itu,

Gambar 1. Pola pertumbuhan kultur campuran Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa A = Bacillus sp. : Bacillus polymyxa = 1:1 C = Bacillus sp. : Bacillus polymyxa = 2:1 E = Bacillus sp. (Primeia, 2008) B = Bacillus sp. : Bacillus polymyxa = 1:2 D = Bacillus polymyxa

18
Bacillus sp. dalam medium SMSS yang mengandung 0,01% (b/v) NPK dan 20% minyak, mencapai jumlah sel tertinggi pada jam ke-60 sebesar 10,4771, dengan jumlah inokulum awal 8,2672 (Primeia, 2008). Hal ini menunjukkan ketidaksesuaian medium pertumbuhan, khususnya dengan penambahan nitrogen inorganik sebesar 0,01% (b/v) NPK. Bacillus polymyxa diperkirakan memiliki kebutuhan sumber nitrogen dalam bentuk dan jumlah yang berbeda dari Bacillus sp. Walaupun demikian, sumber nitrogen yang digunakan dalam penelitian ini tetap 0,01% (b/v) NPK. Dalam rangka optimisasi produksi biosurfaktan, hal ini dilakukan dengan tujuan mengutamakan pertumbuhan Bacillus sp., yang telah diketahui memiliki kemampuan produksi biosurfaktan lebih baik daripada Bacillus polymyxa. Pertumbuhan terbaik kultur campuran berturut-turut adalah Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa 1:2, 1:1 dan 2:1. Pertumbuhan kultur campuran Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa 1:2 lebih baik daripada pertumbuhan kultur tunggal Bacillus polymyxa. Penambahan 0,01% (b/v) NPK tidak menyokong pertumbuhan Bacillus polymyxa karena harus berkompetisi untuk memperebutkan sumber nitrogen yang terbatas dengan sesamanya dan juga dengan Bacillus sp. Hal ini kemungkinan menyebabkan pertumbuhan sel Bacillus polymyxa yang semakin buruk namun justru Bacillus sp. tumbuh lebih baik. Dengan lemahnya pertumbuhan Bacillus polymyxa yang jumlah awalnya lebih banyak daripada Bacillus sp., kemungkinan yang terjadi adalah kompetisi memperebutkan nutrisi dimenangkan oleh Bacillus sp. Sel Bacillus polymyxa yang telah mati dimanfaatkan oleh Bacillus sp. sebagai nutrisi tambahan. Adapun pertumbuhan kultur campuran dengan perbandingan Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa sebesar 1:1 lebih baik dibandingkan dengan perbandingan 2:1. Hal ini kemungkinan terjadi karena dengan jumlah sel awal yang sama, kompetisi terjadi antarspesies dengan mekanisme pertahanan dirinya masing-masing. Dengan demikian jumlah sel total cenderung lebih stabil, walaupun kemungkinan besar Bacillus sp. tetap lebih mendominasi. Pada kultur campuran dengan perbandingan 2:1. Bacillus sp. dengan jumlah sel awal lebih banyak dengan cepat akan menghabiskan sumber nitrogen yang tersedia, sehingga pertumbuhan menurun dengan cepat. Dengan demikian Bacillus polymyxa yang laju pertumbuhannya rendah dengan jumlah sel awal yang rendah akan dengan cepat kalah bersaing dalam memperebutkan nutrisi dengan Bacillus sp. Hal ini menunjukkan bahwa 0,01% (b/v) NPK merupakan sumber nitrogen terbaik untuk produksi biosurfaktan, tetapi bukan terbaik untuk menunjang pertumbuhan sel bakteri. Perbandingan Kurva Produksi Biosurfaktan Berdasarkan Gambar 2, diketahui bahwa laju

Gambar 2. Kurva produksi biosurfaktan kultur campuran Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa A = Bacillus sp. : Bacillus polymyxa = 1:1 (Primeia, 2008) C = Bacillus sp. : Bacillus polymyxa = 2:1 E = Bacillus sp.

19
Tabel 1. Perbandingan efektifitas produksi biosurfaktan pada kultur campuran Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa

A = Bacillus sp. : Bacillus polymyxa = 1:1 C = Bacillus sp. : Bacillus polymyxa = 2:1 E = Bacillus sp. (Primeia, 2008) B = Bacillus sp. : Bacillus polymyxa = 1:2 D = Bacillus polymyxa

produksi biosurfaktan terbaik berturut-turut adalah oleh kultur campuran dengan perbandingan 2:1 sebesar 0,0681 gL-1jam-1 pada jam ke-72, kultur tunggal Bacillus polymyxa sebesar 0,0448 gL-1jam-1 pada jam ke-48, kultur campuran dengan perbandingan 1:2 sebesar 0,0617 gL-1jam-1 pada jam ke-96, kultur campuran dengan perbandingan 1:1 sebesar 0,0534 gL-1jam-1 pada jam ke-120, dan kultur tunggal Bacillus sp. sebesar 0,0471 gL-1jam-1 pada jam ke-96. Berdasarkan berat kering biosurfaktan yang ditunjukkan pada Tabel 1, produktivitas terbaik berturut-turut adalah oleh kultur tunggal Bacillus sp. sebesar 4,4 g/L pada jam ke-120, kultur campuran dengan perbandingan 2:1 sebesar 3,7367 g/L pada jam ke-120, kultur campuran dengan perbandingan 1:1 sebesar 3,21 g/L pada jam ke120, kultur campuran dengan perbandingan 1:2 sebesar 3,9617 g/L pada jam ke-168, dan kultur tunggal Bacillus polymyxa sebesar 2,9267 g/L pada jam ke-144. Secara umum, ditunjukkan pada Tabel 1, produksi biosurfaktan berlangsung dari awal masa inkubasi, mencapai laju produksi tertinggi ketika terjadi keterbatasan sumber nitrogen, dan mencapai akumulasi berat kering tertinggi pada akhir masa stasioner. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa pola produksi biosurfaktan yang terjadi pada kultur Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa adalah akibat keterbatasan nutrisi, khususnya kompetisi sumber nitrogen. Menurut Mulligan dan Gibbs (1993), hal ini dapat terjadi karena produksi biosurfaktan sangat berhubungan dengan ketersediaan nutrisi karbon dan nitrogen pada medium. Pada kandungan sumber nitrogen yang ter-

batas bakteri cenderung meningkatkan produksi lipidanya sehingga terjadi akumulasi lipida pada membran sel. Selanjutnya untuk memanfaatkan sumber karbon pada hidrokarbon, bakteri akan melepaskan lipida yang telah mengalami esterifikasi menjadi senyawa ampifilik dalam bentuk molekul-molekul biosurfaktan. Pelepasan biosurfaktan secara signifikan meningkat pada saat memasuki fasa stasioner sampai fasa kematian bakteri. Selain itu, menurut Hommel dan Ratledge (1993), jalur sintesis biosurfaktan tergantung pada sumber karbon dan jenis biosurfaktan yang diproduksi. Jika ditumbuhkan dalam medium yang mengandung karbohidrat, maka sintesis glikolipid akan diregulasikan melalui jalur lipogenik maupun metabolisme glikolitik. Jika ditumbuhkan dalam suatu substrat hidrokarbon, pada dasarnya mekanisme yang terjadi adalah lipolitik dan glukoneogenik, karena glukosa harus disintesis sendiri. Dengan keberadaan karbon, pertumbuhan akan berlangsung hingga terjadi keterbatasan nitrogen. Ketika keterbatasan nitrogen terjadi, glutamin sintetase akan meningkat. Glutamin sintetase akan mengkatalisis konversi amonia menjadi glutamin. Metabolisme sel kemudian berubah dari nitrogen (asam amino) menjadi metabolisme glukosa. Produksi biosurfaktan pun terinduksi. Kurva Critical Micelle Concentration (CMC) Critical micelle concentration (CMC) merupakan parameter efisiensi biosurfaktan, yang berkisar antara 1 hingga 2000 mg/L. Tegang an

20

Gambar 3. Kurva Critical Micelle Concentration (CMC) Kultur Campuran Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa A = Bacillus sp. : Bacillus polymyxa = 1:1 C = Bacillus sp. : Bacillus polymyxa = 2:1 E = Bacillus sp. (Primeia, 2008)

permukaan dan antarmuka merupakan parameter efektifitas biosurfaktan, yang dapat dikatakan baik jika berada di bawah 30 dan 1 mM (Mulligan dan Gibbs ,1993) Penurunan tegangan antarmuka paling tinggi dengan hanya sedikit penambahan konsentrasi menunjukkan titik efisiensi surfaktan, yaitu titik kritis pembentukan misel. Hal ini dikarenakan penambahan surfaktan di atas titik tersebut tidak akan mampu menurunkan tegangan permukaan secara signifikan, cenderung konstan. Berdasarkan Gambar 3, titik kritis pembentukan misel biosurfaktan yang dihasilkan oleh perbandingan kultur campuran Bacilus sp. dan Bacillus polymyxa 1:1, 1:2, dan 2:1 berturut-turut adalah pada konsentrasi sekitar 0,4993 g/L, 1,367 g/L, 0,8867 g/L.

Perbandingan Penurunan Tegangan Antarmuka Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa secara umum penurunan tegangan antarmuka pada semua perlakuan terus terjadi, kemudian melambat pada 72 jam akhir masa inkubasi. Hal ini kemungkinan terjadi karena medium sudah jenuh terhadap penambahan konsentrasi biosurfaktan yang lebih tinggi. Namun, mengingat bahwa berat kering biosurfaktan yang dihasilkan tidak selalu berbanding lurus dengan lama inkubasi, kemungkinan penurunan tegangan antarmuka tidak hanya bergantung pada biosurfaktan yang dihasilkan melainkan juga pada perlakuan fisik berupa agitasi terus-menerus. Adapun penurunan tegangan antarmuka di akhir masa inkubasi untuk kultur tunggal Bacil-

Tabel 2. Perbandingan tegangan antarmuka pada kultur campuran Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa
Lama Inkubasi (Jam) A 0 12,9 0,1 24 11,2 0,2 48 10 0,1732 72 9,4 0,1732 96 9,2 0,1 120 8,8 0,1 144 8,3 0 168 8,2 0,3606 Tegangan Antarmuka (dyne/cm) B 12,9 0,1 13 0,1732 11,4 0,1 9,5 0,1 9 0,3 8,6 0,1 8,1 0,2 8,1 0,1 C 12,9 0,1 10,1 0,2 9,6 0,1732 9,3 0,1 8,5 0,1 8,2 0 80 8 0,1 D 12,9 0,1 10,5 0,1 9,5 0 90 8,5 0 8,3 0,1 8,2 0,3 8,2 0 E 12,6

8,55

A = Bacillus sp. : Bacillus polymyxa = 1:1 C = Bacillus sp. : Bacillus polymyxa = 2:1 (Primeia, 2008)

E = Bacillus sp.

21
lus sp., kultur tunggal Bacillus polymyxa, kultur campuran dengan perbandingan 1:1, 1:2, dan 2:1, berturut-turut adalah sebesar 4,05 dyne/cm (Primeia, 2008), 4,7 0,1 dyne/cm, 4,7 0,2606 dyne/cm, 4,8 dyne/cm, dan 4,9 dyne/cm. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan tegangan antarmuka oleh kultur tunggal Bacillus sp. berbeda cukup signifikan terhadap penurunan oleh kultur campuran. Berdasarkan penelitian ini, diketahui bahwa kuantitas biosurfaktan kering tidak selalu sebanding dengan penurunan tegangan antarmuka minyak-air. Menurut Primeia (2008), berat kering produksi biosurfaktan tidak selalu berbanding lurus dengan penurunan tegangan antarmuka karena adanya suatu keadaan yang disebut dengan critical micelle concentration. Ditunjukkan bahwa dalam suatu kisaran berat kering biosurfaktan berbeda yang dihasilkan, dapat diperoleh nilai tegangan antarmuka yang relatif sama. Dengan demikian, efisiensi antar surfaktan dapat dibandingkan melalui nilai kritis pembentukan miselnya. Adanya perbedaan hasil penurunan tegangan antarmuka antara jenis surfaktan yang berbeda, menurut Neu (1996), dikarenakan interaksi ionik, struktur molekular surfaktan, serta faktor tambahan lain, seperti: kelembaban, adanya kontak adhesif antar molekul dengan permukaan lainnya, durasi, serta sejarah interaksi dengan permukaan lain. Dalam EOR, permukaan lain ini adalah permukaan batuan dalam reservoir. IV. Kesimpulan 1. Pola produksi biosurfaktan pada ketiga variasi komposisi inokulum kultur campuran Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa (1:1, 1:2, 2:1) secara umum meningkat setelah pertumbuhan masuk ke fase stasioner. Hal ini menunjukkan bahwa kompetisi nutrisi, khususnya sumber nitrogen, meningkatkan produksi biosurfaktan. Berat kering biosurfaktan tertinggi diperoleh pada kultur tunggal Bacillus sp. sebesar 4,4 g/L pada jam ke-120. 2. Penurunan tegangan antarmuka tertinggi pada akhir masa inkubasi (jam ke-168) adalah sebesar 4,9 dyne/cm, yang diperoleh pada kultur campuran Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa dengan perbandingan 2:1. Campuran jenis surfaktan pada kultur campuran Bacillus sp. dan Bacillus polymyxa, yang sesuai dengan karakteristik sampel minyak, diperkirakan dapat memperbesar penurunan tegangan antarmuka.
Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Oil and Gas Recovery for Indonesia (OGRINDO) dan Total E&P Indonesie, selaku penyandang dana riset; dan Prof. Dr. Ir. Septoratno Siregar atas nasehat dan bimbingan yang tak ternilai demi keberhasilan riset ini. Acuan Al-Araji, L., Rahman, R.N., Basri, M. dan Salleh, A.B.: Minireview: Microbial Surfactant, AsPac J. Mol. Biol. Biotechnol., (2007), 15, 99. Bala, G.A, Bruhn, D.F, Fox, S.L, Noah, K.S, dan Thompson, D.N.: Microbial Production of Surfactant from Agricultural Residuals for IOR Application, Society of Petroleum Engineers Inc., 2002. Birdi, K.S., 1997: Handbook of surface and Col loid Chemistry. CRC Press, Boca Raton. http:// www.ksvinc.com/application. (14 Juli 2009) Bryant, R.: Potential Uses of Microorganisms in Petroleum Recovery Technology, Proc. Okla. Acad. Sci. ,67, 97-104, 1987. Donaldson, E.C., Chilingarian, G.V., dan Yen, T.F.: Microbal Enhanced Oil Recovery. Elsevier Applied Science Publishing Company, Amsterdam, (1989). Hommel, R.K. dan Ratledge, C.: Biosynthetic mechanisms of low molecular weight surfactants and their precursor molecules, Dalam: Biosurfactant, Ed. Kosaric, N. Marcel Dekker, Inc. Publisher, NY, USA, (1993). Lin, S.C., Lin, K.G., Lo, C.C. dan Lin, Y.M.: Enhanced Biosurfactant Production by a Bacillus licheniformis Mutant. Enzyme and Microbial Technology (1998), 23, 267273. Marshall, S.L.: Fundamental Aspects of Microbi al Enhanced Oil Recovery: A Literature Survey, CSIRO Land and Water, Australia, (2008). Moses, V., dan Springham, D.G.: Bacteria and The Enhancement of Oil Recovery, Applied Science Publishers, London & New Jersey, (1982). Mulligan, C.N dan Gibbs, B.F.: Factors Influ

22
encing the Economics of Biosurfactant. Dalam: Biosurfactant. Ed. Kosaric, N. Marcel Dekker, Inc. Publisher, NY, USA, (1993). Neu, T. R. (1996): Significance of Bacterial Sur face-Active Compounds in Interaction of Bacteria with Interfaces, Microbiological Reviews (1996), 60,151-166. Primeia, S.: Optimasi Sumber Nitrogen Inor ganik pada Produksi Biosurfaktan oleh Bakteri Hidrokarbonoklastik dari Lapangan Handil, Kalimantan Timur. Skripsi Sarjana SITH ITB, Bandung, 2008. Purwasena, I.A.: Isolasi dan Karakterisasi Bak teri Hidrokarbonoklastik dari Reservoar Minyak Bumi Kalimantan yang Berpotensi Bagi Penerapan Teknolohgi MEOR (Microbial Enhanced Oil Recovery). Tesis SITH Institut Teknologi Bandung, Bandung Indonesia, 2006. Solihah, E.: Isolasi Bakteri Hidrokarbonoklas tik Termofiilk yang Berpotensi untuk MEOR dari Minyak Bumi dan Air Formasi Ladang Handil di Kalimantan. Skripsi Sarjana Biologi ITB, Bandung, 2006. Tanner, R.S, Udegbunam, E.O., McInerney, M.J., dan Knapp, R.M.: Microbially Enhanced Oil Recovery from Carbonate Reservoirs. J. Geomicrobial (1991), 9, 169-195. Youssef, N., Simpson, D.R., Duncan, K.E., McInerney, M.J., Folmsbee, M., Fincher, T., dan Knapp, R.M.: In-situ biosurfactant production by injected Bacillus strains in a limestone petroleum reservoir, Appl. Environ. Microbiol. (2006), 10, 1128. Zajic, J.E., Guignard, H., dan Gerson, F.D.: Emulsifying and Surface Active Agents from Corynebacterium hydrocarbononclatus, Biotech and Bioengineering (1977), 19,12851301.

METODE EOR SCREENING MENGGUNAKAN DYNAMIC UPDATING CRITERIA DAN FUZZY EXPERT SYSTEM
Murni Hadisuryani Jurusan Teknik Perminyakan, Institut Teknologi Bandung, Jl.Ganeca 10 Bandung 40132 Telp. +62-812-2008529 , Fax. +62-22-2504955, Email : m.hadisuryani@yahoo.com SARI Produksi minyak bumi saat ini cenderung menurun seiring dengan menurunnya cadangan minyak. Pada saat yang bersamaan kebutuhan bahan bakar justru meningkat. Salah satu solusinya adalah dengan menggunakan metode EOR (Enhanced Oil Recovery) untuk meningkatkan produksi dari akumulasi minyak yang ada saat ini. Untuk menentukan dipilih dan dipakainya suatu metode EOR untuk suatu jenis dan kondisi akumulasi minyak tertentu diperlukan pemilahan EOR (EOR screening). Dalam studi ini aplikasi pemilahan EOR yang dibuat masih menggunakan Sistem Pakar (Expert Sistem) dan Fuzzy Logic sedangkan untuk proses penalaran digunakan proses penalaran Forward Chaining (pelacakan ke depan). Diharapkan aplikasi yang dibuat dapat lebih baik dari aplikasi pemilahan EOR yang sebelumnya sudah ada. Pada aplikasi baru ini, data kriteria pemilahan EOR dibuat secara dinamis sehingga dapat di update. Pada aplikasi ini, data kriteria pemilahan EOR dibuat secara dinamis sehingga dapat di update. Pada aplikasi ini juga dibuat EOR Predictive Model untuk beberapa metode EOR, sehingga dapat diketahui hasil prediksi atau peramalan secara umum dari hasil perolehan recovery minyak yang akan di dapat. EOR predictive model yang terdapat pada aplikasi adalah untuk metode CO2 flooding (metode Lewin dan Koval) dan micellar-polymer flooding. Dengan menggunakan fuzzy logic dan expert system, dapat diketahui nilai probabilitas atau kemungkinan untuk menentukan hasil dari metode EOR yang paling sesuai. Hal ini yang menjadi keuntungan utama dari aplikasi ini. Aplikasi ini menghitung dengan cepat dan mudah digunakan untuk penggunaan yang terus-menerus dengan berubah-ubahnya kriteria pemilahan EOR. Kata kunci: enhanced oil recovery (EOR), pemilahan EOR, sistem pakar, fuzzy logic ABSTRACT Current events have witnessed decrease in oil production and reserves amidst the rise in fuel consumption. Enhanced oil recovery (EOR) is one of the solution through which oil production from the existing accumulation can be improved. To determine a certain EOR method for a certain type and condition of oil accumulation EOR screening is needed. In this study a different EOR screening approach is used with the help of Expert System and Fuzzy Logic soft computing approaches and Forward Chaining for decision process. It is hoped that the new EOR screening application performs better than the existing EOR screening application. In this new application, data criteria for the EOR screening is made in dynamic mode allowing updates to be made whenever required. EOR predictive models for some EOR processes are also attached to facilitate prediction of oil recovery conceptual estimates. EOR predictive models attached are for CO2 flooding (Levin and Koval methods) and micellar-polymer flooding. The fuzzy logic and expert system used in the application provide probability levels using which the most suitable EOR preocess can be known. This specific feature serves as the main advantage of this application. This application computes very fast and is easily used for continuous usage with continuously updated screening criteria. Key words: enhanced oil recovery (EOR), EOR screening, expert system, fuzzy logic

23

24
I. Pendahuluan Teknologi EOR (Enhanced Oil Recovery) atau perolehan minyak tahap lanjut adalah salah satu metode yang populer di dalam industri minyak sekarang ini karena permasalahan produksi dan kenaikan perolehan minyak adalah menjadi salah satu tugas penting yang harus di lakukan (Bailey dan Curtis, 1984; Green danWillhite, 1998). Implementasi dari teknik EOR pada lapangan harus mengikuti beberapa tahap, yaitu screening secara cepat, tes di laboratorium, melakukan pilot project dan kemudian mengaplikasikannya secara keseluruhan di lapangan. Pada proses awal implementasi dari teknologi EOR, pemilihan metode EOR screening sangatlah penting untuk memberikan keputusan dan pertimbangan untuk melakukan evaluasi pada tahap selanjutnya (Aladasani dan Baojun, 2010; Taber et al, 1997a & 1997b). Data yang digunakan pada EOR screening ini berdasarkan pada pengalaman yang telah berhasil di implementasikan di lapangan. Setelah mengetahui hasil metode EOR screening yang paling sesuai, kemudian EOR predictive model dibutuhkan untuk memprediksi atau meramalkan hasil perolehan minyak yang akan di dapat apabila kita melakukan metode EOR tersebut. Salah satu teknik untuk membuat komputer mampu mengolah pengetahuan disebut teknik Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) (Suparman, 1991). Sistem Pakar (Expert System) dan Logika Fuzzy (Fuzzy Logic) merupakan bagian dari kecerdasan buatan (Umar, 2001; Alam dan Agus, 2003). Sistem pakar dapat menghimpun dan mengumpulkan pengetahuan dari pakar kedalam komputer dalam bidang dan teknik tertentu, karena itu sistem pakar dapat digunakan oleh orang lain untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya. Sistem pakar bisa diterapkan dalam berbagai bidang, salah satunya adalah di bidang perminyakan (Guerillot, 1988). Pendekatan ini dapat diterapkan pada sebuah metodologi untuk proses pemilihan metode EOR dengan cara menganalisis kriteria EOR screening menggunakan perbandingan dari pengalaman - pengalaman yg sudah berhasil dilakukan, hal tersebut dapat membantu untuk mentransfer pengetahuan dari pakar kepada para pemakai sistem. Selain itu, estimasi dari kasus tambahan lapangan lainnya juga dapat memungkinkan untuk memperbaiki sistem dari prosedur screening ini secara kontinyu. Sebelumnya telah dibuat sebuah aplikasi EOR Screening dengan menggunakan Sistem Pakar (Expert System) dan Fuzzy Logic. Aplikasi tersebut dibuat menggunakan bahasa pemrograman C, dengan tampilan under DOS, sehingga dari segi tampilan masih sangat sederhana. Aplikasi ini pun dibuat dengan menggunakan proses penalaran Backward Chaining (pelacakan ke belakang ), pada proses penalaran ini pelacakan dimulai dari tujuan, selanjutnya dicari aturan yang memiliki tujuan tersebut untuk kesimpulannya, sehingga apabila kita tidak mendapatkan kesimpulan yang cocok dengan tujuan, harus dilakukan pengulangan proses kembali untuk mendapatkan kesimpulan yang sesuai, hal ini membutuhkan banyak waktu. Pada aplikasi ini data kriteria EOR screening dibuat secara statis. Aplikasi ini tidak menyediakan fasilitas untuk melakukan prediksi atau peramalan hasil perolehan recovery minyak atau EOR predictive model (Azis, 1994) . Saat ini dibutuhkan sebuah aplikasi yang dapat membantu dalam melakukan pemilihan metode EOR screening secara lebih baik dan dapat menghitung prediksi atau peramalan hasil perolehan minyak atau EOR predictive model serta aplikasi yang mudah digunakan oleh para pengguna. Oleh karena itu, akan dibuat sebuah aplikasi EOR Screening yang diharapkan dapat lebih baik dari aplikasi EOR Screening sebelumnya yang sudah ada. Aplikasi EOR Screening yang akan dibuat yaitu masih menggunakan Sistem Pakar (Expert Sistem) dan Fuzzy Logic. Untuk proses penalaran akan digunakan proses penalaran Forward Chaining (pelacakan ke depan), karena pada proses penalaran ini untuk mendapatkan sebuah kesimpulan atau hasil sangat praktis dan cepat, karena pada proses penalaran ini pelacakan dimulai dari informasi data masukan dan selanjutnya mencoba mencari kesimpulan, sehingga akan diperoleh kesimpulan dengan hanya melakukan satu kali proses saja, hal ini dapat lebih mempersingkat waktu. Pada aplikasi yang akan dibuat, data kriteria EOR screening dibuat secara dinamis sehingga dapat di update. Pada aplikasi ini juga akan dibuat EOR Predictive Model untuk beberapa metode EOR, sehingga dapat diketahui hasil prediksi atau peramalan dari hasil perolehan recovery minyak yang akan di dapat.

25
II. Metode Penelitian EOR Screening Criteria Untuk dapat melakukan EOR screening diperlukan beberapa data kriteria screening untuk setiap metode EOR, data kriteria untuk screening yang digunakan pada aplikasi ini yaitu berasal dari beberapa sumber yang saling melengkapi berdasarkan dari hasil pengumpulan data (Tabel 1). EOR screening criteria yang digunakan terdiri dari beberapa parameter reservoir yaitu Observation Data: Date, Field Name dan Location. Reservoir Properties: Depth, Temperature, Permeability, Net Thickness, Oil Saturation, Pressure Reservoir, TDS Formation Water, Major Gas Cap dan Active Aquifer. Fluid Properties: Reservoir Dip Angle, Clay Content, Reservoir Heterogeneity, Major Fracture dan Type Of Formation (Sandstone /Limestone). Geological Condition: API Gravity, Viscosity dan Composition (Light Oil/Intermediate). Source Availability: Water, Produced Gas dan CO2. Sedangkan metode EOR yang akan dihasilkan yaitu Miscible gas injection: CO2, Hydrocarbon, WAG dan Nitrogen. Immiscible gas injection: CO2, Hydrocarbon, Hydrocarbon+WAG dan Nitrogen. (Enhanced) Waterflooding: Polymer, Alkaline Surfactant Polymer (ASP) dan Surfactant+P/A. Thermal: Combustion, Steam, Hot Water dan Surface Mining. Microbial: MiTabel 1. EOR screening criteria

crobial. EOR Predictive Model EOR predictive model digunakan untuk memperkirakan atau meramalkan perolehan recovery minyak pada lapangan yang akan dilakukan EOR. Pada aplikasi ini hanya akan digunakan dua metode EOR predictive model, yaitu micellar-polymer flooding (Claridge, 1972) dan CO2 Flooding (Klins, 1984). Penelitian mengenai perumusan untuk memprediksi atau meramalkan perolehan recovery minyak dengan menggunakan metode CO2 flooding sampai saat ini masih dilakukan. Telah dilakukan beberapa penelitian dan menghasilkan beberapa metode, pada aplikasi ini hanya akan dibahas mengenai dua metode saja, yaitu CO2 flooding predictive model menggunakan metode Lewin (Claridge, 1972) dan CO2 flooding predictive model menggunakan metode modifikasi Koval (Klins, 1984). Produksi minyak kumulatif dengan metode Lewin dapat dihitung menggunakan rumus dibawah ini : NP = EC(EAEVEDES)VP ............................(1) Sedangkan produksi minyak kumulatif dengan metode Koval dapat dihitung menggunakan rumus dibawah ini:

26
Np = EC (EA (EVED) (Soi-Sor)) Vp .................(2) Prosedur evaluasi micellar-polymer flooding menilai secara teknis dan apakah memiliki potensi ekonomi (Gambar 1). Fuzzy Logic Logika fuzzy (fuzzy logic) adalah suatu cara yang tepat untuk memetakan suatu ruang input ke dalam suatu ruang output (Kusumadewi, 2003). Ada beberapa alasan mengapa orang menggunakan logika fuzzy yaitu konsep logika fuzzy mudah dimengerti, konsep matematis yang mendasari penalaran fuzzy sangat sederhana dan mudah dimengerti, logika fuzzy sangat fleksibel, logika fuzzy memiliki toleransi terhadap data-data yang tidak tepat, logika fuzzy mampu memodelkan fungsi fungsi nonlinear yang sangat kompleks, logika fuzzy dapat membangun dan mengaplikasikan pengalaman-pengalaman para pakar secara langsung tanpa harus melalui proses pelatihan, logika fuzzy dapat bekerjasama dengan teknikteknik kendali secara konvensional dan logika fuzzy didasarkan pada bahasa alami. Expert System Sistem pakar (expert system) adalah sistem berbasis komputer yang menggunakan pengetahuan, fakta, dan teknik penalaran dalam memecahkan masalah masalah yang biasanya hanya dapat dipecahkan oleh seorang pakar dalam bidang tersebut. Secara garis besar, banyak manfaat yang dapat diambil dengan adanya sistem pakar yaitu membuat seorang awam dapat bekerja seperti layaknya seorang pakar, sistem pakar memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang kompleks, sistem pakar dapat melakukan proses secara berulang secara otomatis sistem pakar dapat meningkatkan kualitas, sistem pakar dapat membuat peralatan yang kompleks lebih mudah dioperasikan, karena sistem pakar dapat melatih pekerja yang tidak berpengalaman, sistem pakar dapat memiliki reliabilitas, sistem pakar dapat meningkatkan output dan produktivitas, sistem pakar dapat menghemat waktu dalam pengambilan keputusan, sistem pakar dapat meningkatkan kapabilitas dalam penyelesaian masalah, sistem pakar sebagai media pelengkap dalam pelatihan, sistem pakar memiliki kemampuan untuk bekerja dengan informasi yang tidak lengkap dan mengandung ketidakpastian, sistem pakar tidak dapat lelah atau bosan, sistem pakar mampu mengambil dan melestarikan keahlian para pakar (terutama yang termasuk keahlian langka), sistem pakar mampu beroperasi dalam lingkungan yang berbahaya, sistem pakar memiliki kemampuan untuk mengakses pengetahuan, sistem pakar meningkatkan kapabilitas sistem komputer, sistem pakar menyediakan nasihat yang konsisten dan dapat mengurangi tingkat kesalahan, sistem pakar meningkatkan kemampuan problem solving, karena mengambil sumber pengetahuan dari banyak pakar, sistem pakar meniadakan kebutuhan perangkat yang mahal dan sistem pakar fleksibel. Pengembangan Algoritma Screening Kaidah produksi biasanya di tuliskan dalam bentuk jika-maka (IF-THEN). Kaidah ini dapat dikatakan sebagai hubungan implikasi dua bagian, yaitu bagian premise (jika) dan bagian konklusi (maka). Apabila bagian premise dipenuhi maka bagian konklusi juga akan bernilai benar. Suatu Gambar 1. Skema dari prosedur evaluasi micellarpo- kaidah juga dapat terdiri atas beberapa premise lymer flooding predictive model. dan lebih dari satu konklusi. Antara premise dan

27
kan apakah sesuai atau tidak dengan perancangan serta dapat menghasilkan output yang diharapkan. Aplikasi di uji dengan memberikan sample kasus yang kemudian akan di proses oleh sistem, kemudian hasil output sistem atau hasil pengujian oleh sistem dibandingkan dengan proses pengerIII. Implementasi jaan dan perhitungan secara manual. Setelah sistem dianalisis dan didesain secara Perancangan Diagram alir atau flowchart diburinci, maka akan menuju tahap implementasi tuhkan untuk menjelaskan tentang proses kegi dan pengujian. Implementasi sistem merupakan atan dari sistem. Diagram alir atau flowchart IF oil gravity antara 13 hingga 42.5 API merupakan gambar atau bagan yang memperliAND oil gravity antara 13 hingga 42.5 API hatkan urutan dan hubungan antar proses beserta AND oil saturation antara 34 hingga 82%PV instruksinya, dengan adanya flowchart maka urutan proses kegiatan akan menjadi lebih jelas. permeability antara 1.8 hingga 5500 md AND Flowchart terdiri dari flowchart aplikasi EOR AND depth antara 700 hingga 9460 ft (Gambar 2) dan flowchart EOR screening (GamAND depth antara 700 hingga 9460 ft bar 3). metode EOR adalah Polymer. THEN konklusi dapat berhubungan dengan OR atau AND. Berikut adalah contoh kaidah produksi yang digunakan dalam aplikasi : tahap meletakkan sistem sehingga siap untuk dioperasikan. Implementasi bertujuan untuk mengkonfirmasi modul-modul perancangan, sehingga pengguna dapat memberi masukan kepada pengembangan sistem. Setelah sistem di implementasikan kemudian dilakukan pengujian. Pengujian dilakukan untuk menguji modul-modul perancangan sistem yang telah diimplementasiPengujian Pengujian dilakukan secara manual dan pengujian oleh sistem atau aplikasi. Pengujian secara manual adalah pengujian yang dilakukan dengan cara mengerjakan dan menghitung secara manual tanpa menggunakan aplikasi yang telah dibuat. Sample data diberikan untuk melakukan pem-

START

WELCOME SCREEN
N

FILE
N

ADMIN ROOM

EOR SCREEN ING

EOR FIELD DATA BASE DISPLAY EOR FIELD DATABASE TABLE

EOR PREDIC TIVE MODEL

CHART

TOOLS

HELP

EXIT ?

LOGIN ?

DISPLAY EOR SCREENING FORM

APENDIX

DISPLAY SOFTWARE ENGINEERING

EOR SCREENI NG FORM

EOR FIELD DATABASE TABLE

TERMINATE APPLICATION

LOGIN PAGE

PROPERT IES CHART

OBSERV ATIONS CHART

SOFTWARE ENGINEERI NG

END

MICELLAR POLYMER FLOODING

CO2 FLOOD ING

DISPLAY PROPERTIES CHART FORM

DISPLAY OBSERVATIONS CHART FORM

DISPLAY APENDIX FORM

MICELLAR POLYMER FLOODING

DISPLAY MICELLAR POLYMER FLOODING FORM

DISPLAY CO2 FLOODING FORM

CO2 FLOOD ING

PROPER TIES CHART

OBSERVATI ON CHART

APPENDIX

Gambar 2. Flowchart aplikasi EOR

28
bahasan pengujian pada aplikasi, kemudian dari sample data tersebut dilakukan proses pengerjaan dan perhitungan, baik oleh sistem ataupun secara manual, yang kemudian hasil dari pengerjaan dan perhitungan tersebut dibandingkan, apakah hasil output dari sistem sama atau tidak dengan hasil output dari pengerjaan dan perhitungan secara manual. Sample data yang akan digunakan berbeda untuk setiap masalah yang akan di uji. Pada aplikasi ini terdiri dari beberapa masalah yang akan di uji yaitu EOR screening dan EOR predictive model. Untuk EOR predictive model terdiri dari CO2 flooding predictive model dan micellar-polymer flooding predictive model. Untuk CO2 flooding predictive model pun terdiri dari CO2 flooding predictive model menggunakan metode Lewin dan CO2 flooding predictive model menggunakan metode modifikasi Koval. Berdasarkan hasil pengujian secara manual dan pengujian dengan menggunakan aplikasi, diperMAIN PAGE

oleh hasil kesimpulan dan hasil perhitungan yang sesuai. Sampel data yang digunakan dalam pengujian piranti lunak beserta tampilan dari piranti lunak yang dihasilkan disajikan dalam tabel L1 - L4 dan Gambar L1 - L8 pada Lampiran. IV. Kesimpulan 1. Dengan menggunakan aplikasi EOR ini, proses untuk melakukan EOR screening dan prediksi atau peramalan recovery perolehan minyak atau EOR prediction model dapat menjadi lebih cepat dan akurat. 2. Pengunaan Fuzzy Logic dan Expert System dalam EOR screening dapat memberikan hasil probabilitas kecocokan metode EOR yang sesuai. 3. Aplikasi EOR screening dapat digunakan secara terus menerus, karena aplikasi dibuat secara dinamis, yaitu data kriteria screening pada aplikasi dapat di update. 4. Aplikasi EOR screening ini terbukti sudah sesuai dengan perancangan dan valid, karena hasil output pengujian sample data secara manual dan dengan menggunakan aplikasi menghasilkan hasil yang sama atau sesuai.
Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr.Ir. Septoratno Siregar dan Dedi Irawan, ST. MT atas bimbingannya dalam menyelesaikan aplikasi ini serta Jurusan Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung atas dukungan yang diberikan dalam penulisan paper ini. Acuan Alam, J. dan Agus, M.: Membuat Program Apli kasi Menggunakan Delphi 6 & Delphi 7, Elex Media Komputindo, (2003). Aladasani, A. dan Baojun, B.: Recent Develop ments and Updated Screening Criteria of Enhanced Oil Recovery Techniques, SPE 130726, 2010. Azis, F.: Belajar Sendiri Sistem Pakar, Elex Me dia Komputindo, Jakarta, (1994). Bailey, R.E. danCurtis, L.B.: Enhanced Oil Recovery, National Petroleum Council, 1984.

INPUT: FIELD NAME , LOCATION

NEXT?

INPUT: DEPTH, TEMPERATURE , PERMEABILITY, NET THICKNESS , OIL SATURATION , RES. PRESSURE, TDS FORMATION WATER , MAJOR GAS CAP, ACTIVE AQUIFER

NEXT?

INPUT: API GRAVITY, VISCOSITY, COMPOSITION ( HIGH PERCENTAGE OF LIGHT OIL HYDROCARBON / HIGH PERCENTAGE OF INTERMEDIATE OIL HYDROCARBON )

NEXT?

INPUT: RESERVOIR DEPTH ANGLE , CLAY CONTENT , RESERVOIR HETEROGENEITY , MAJOR FRACTURE , STONE( SANDSTONE/ LIMESTONE )

NEXT?

INPUT: WATER, CO2, PRODUCED GAS

CALCULATE?

CONFIRMATION

OK ?

Y
SCREENING RESULT

END

Gambar 3. Flowchart menu EOR screening

29
Carcoana, A.: Applied Enhanced Oil Recovery, Prentice Hall, Inc, Englewood Cliffs, New Jersey, (1992). Claridge, E.L.: Prediction of Recovery in Un stable Miscible Flooding, SPE 2930, 143-155, 1972. Green, D.W. dan Willhite, G.P.: Enhanced Oil Recovery, SPE Textbook Series Vol.6, 1998. Guerillot, D.R.: EOR Screening With an Expert System, Papaer SPE 17791, 137-147, 1988. Klins, M.A.: Carbon Dioxide Flooding (Basic Mechanisms and Project Design), The Pennsylvania State University, Boston, (1984). Kusumadewi, S.: Artificial Intelligence (Teknik dan Aplikasinya), Graha Ilmu, Yogyakarta, (2003). Suparman: Mengenal Artificial Intelligence, Andi Offset, Yogyakarta, (1991). Taber, J.J., Martin, F.D., dan Seright, R.S.: EOR Screening Criteria Revisited-Part 1 : Introduction to Screening Criteria and Enhanced Recovery Field Projects, SPE 35385, 189 197, 1997a. Taber, J.J., Martin, F.D., dan Seright, R.S.: EOR Screening Criteria Revisited-Part 2 : Applications and Impact of Oil Prices, SPE 39234, 199 205, 1997b. Umar, D.: Komputerisasi Pengambilan Keputu san, Elex Media Komputindo, Jakarta, (2001).

30 LAMPIRAN
Tabel L1. Sample data EOR screening

Depth Temperature Permeability Net Thickness Gravity Oil Saturation Viscosity

700 90 1000 200 12 54 6500

ft F md ft API % cp

Gambar L1. Tampilan input data EOR screening

Gambar L2. Tampilan output hasil EOR screening

31
Tabel L2. Sample data CO2 flooding dengan metode Lewin

Luas Area Net Thickness Porosity Waterflood sweep (EAEV) Swc Soi Sorw (sisa H2O flood) Boi (pada awal injeksi CO2) Bof (akhir dari injeksi CO2) Oil viscosity CO2 viscosity

40 60 8% 54% 20% 80% 35% 1.08 1.62 1.4 0.2

acre ft

bbl/STB bbl/STB cp cp

Gambar L3. Tampilan input CO2 flooding dengan metode Lewin

Gambar L4. Tampilan output CO2 flooding dengan metode Lewin

32
Tabel L3. Sample data CO2 flooding dengan metode Koval

Luas Area Net Thickness Porosity Oil viscosity CO2 viscosity

40 60 8% 1.4 0.2

acre ft cp cp

Keterangan

Pola injeksi five-spot, Reservoir dengan komposisi pasir yang homogen, Tidak ada gravity override CO2 terus menerus diinjeksikan

Gambar L5. Tampilan input CO2 flooding dengan metode Koval

Gambar L6. Tampilan output CO2 flooding dengan metode Koval

33
Tabel L4. Sample data micellar-polymer flooding

Net Thickness Depth Porositas Soi Permeability VDP Gravity o Temperature Boi Bof Produksi kumulatif minyak WOR Sorw diperkirakan So diperkirakan TDS w Wclay r s Harga minyak Formasi

24 5500 28 80 400 0.5 34 3.4 92 1.15 1.1 17.2 x 106 21 26 65 65000 0.55 0.05 156 62.3 22 sandstone

ft ft % % md API F RB/STB RB/STB STB % VP % VP ppm cp lbm/ft3 lbm/ft3 $/bbl

Gambar L7. Tampilan input micellar-polymer flooding

34

Gambar L8. Tampilan output micellar-polymer flooding

PENENTUAN LOKASI SUMUR MENGGUNAKAN GENETICS ALGORITHM


Fajril Ambia Staff di OGRINDO, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganeca no. 10, Bandung, 40132, Indonesia Telp: +62-856-24946594 Email: fajril@ymail.com SARI Proses peningkatan perolehan minyak bumi (Improved Oil Recovery) merupakan proses pen ting yang dilakukan dalam memaksimalkan produksi dan perolehan minyak bumi. Salah satu teknik untuk meningkatkan perolehan minyak adalah dengan mendesain skenario penentuan lokasi sumur optimum yang akan menghasilkan perolehan minyak secara maksimum. Umumnya teknik yang digunakan dalam penentuan lokasi sumur adalah dilakukan dengan melakukan analisis geologi reservoir secara kualitatif dengan dibantu metode coba-coba (trial and error). Pendekatan ini belum tentu menghasilkan solusi yang paling optimum terutama karena besarnya faktor subyektifitas yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Dalam study ini, penentuan lokasi sumur dilakukan dengan menggunakan teknik optimisasi dengan bantuan Genetics Algorithm (GA). Genetics Algorithm adalah merupakan suatu metode yang biasa digunakan dalam menemukan solusi optimum. Metode ini meniru proses evolusi mahluk hidup dimana individu yang akan bertahan adalah individu yang paling fit terhadap seleksi alam, di mana proses evolusi sendiri adalah pada dasarnya merupakan proses penggabungan informasi antar kromosom dan mutasi. Kedua proses utama inilah yang ditiru dalam GA untuk pencarian solusi optimum. Dari studi yang dilakukan, diperlihatkan bahwa keuntungan yang diharapkan dapat diperoleh dari optimisasi ini adalah lokasi yang paling baik dan dapat menghasilkan perolehan minyak yang terbanyak. Pada kasus dimana metode ini gagal menemukan solusi yang lebih baik dibanding metode konvensional, hasil dari pendekatan ini dapat menjadi alat verifikasi bahwa penentuan lokasi sebelumnya adalah sudah berada pada lokasi paling optimum. Kata kunci: penempatan sumur, genethics algorithm, perolehan minyak maksimum ABSTRACT Improved oil recovery (IOR) is an important process that is needed for improving oil production and recovery. Included in IOR is determination of optimum production well emplacement. Common practice in deciding production well emplacement is usually made through qualitative geological analysis combined with trial and error approach. This approach does not always provide the most optimum result since it usually involves a great deal of bias upon reaching decision. This study offers Genetics Algorithm (GA) as a means for reaching the objective. Genetics Algorithm as a method that mimics the process of evolution a combination of information summation between chromosomes and mutation helps in reaching the most optimum solution. From the study it is shown that this approach successfully determines the best place for well emplacement indicated with the highest oil recovery obtained. In cases which this approach does not offer a better solution than one given by the conventional approach, the results can be taken as a confirmation over the existing decision. Key words: well emplacement, genetics algorithm, maximum oil recovery I. Pendahuluan Namun penentuan lokasi sumur umumnya mengandalkan analisa kualitatif berdasarkan sifat Penentuan lokasi sumur merupakan faktor dari reservoir. Namun hasil yang diperoleh de penting yang mempengaruhi perolehan minyak. ngan menggunakan analisa kualitatif belum tentu

35

36
merupakan hasil yang optimum. Untuk itu diperlukan teknik optimisasi yang dapat diterapkan pada permasalahan penentuan lokasi sumur. Optimisasi merupakan proses pencarian konfigurasi untuk memperoleh keluaran yang maksimum atau minimum. Beberapa teknik yang dapat digunakan dalam pencarian solusi optimum adalah Gradient Methods atau stochastic methods. Gradient Methods menggunakan nilai dari turunan pertama atau kemiringan sebagai basis pencarian, sedangkan Stochastic Methods menggunakan nilai random sebagai basis pencarian. Metode Genetics Algorithm (GA) yang merupakan metode optimisasi berbasis Stochastic Methods dipilih karena tingkat fleksibilitas dari GA sangat tinggi sehingga cocok diterapkan pada permasalahan yang secara matematis belum dapat dipahami dengan baik. Kelebihan ini membuat GA sangat cocok diterapkan pada penentuan lokasi sumur yang paling optimum. GA pada dasarnya adalah sebuah metode yang meniru proses evolusi pada populasi makhluk hidup dimana tiap konfigurasi solusi dinyatakan dalam bentuk kromosom. Setiap kromosom dalam populasi akan berusaha bertahan dalam lingkungan sesuai dengan prinsip survival of the fittest. Kromosom yang memiliki fitness yang paling baik akan bertahan dan meneruskan informasi kromosom untuk generasi selanjutnya, sementara untuk kromosom yang tidak cukup fit akan punah dari populasi. Dengan demikian, setelah jumlah generasi tertentu dicapai, kromosom dalam populasi akan terdiri dari kromosom yang paling fit. Proses meneruskan informasi ke generasi selanjutnya dilakukan dengan metode crossover dimana dua cromosom parent akan saling bertukar sebagian dari gen mereka, kemudian kromosom hasil pertukaran ini menjadi kromosom generasi selanjutnya. Gen merupakan bagian informasi terkecil dari kromosom, dapat berupa bilangan biner, integer, atau bilangan pecahan. Gen ini merepresentasikan informasi terkecil dari solusi permasalahan yang ingin dicari. Namun ada kendala yang mungkin dihadapi dalam proses pencarian nilai optimum, yaitu apabila program terjebak dalam solusi optimum lokal. Ketika program mencapai daerah optimum yang bersifat lokal, maka proses evolusi tidak akan sanggup mencari nilai optimum global. Untuk mencegah hal ini terjadi, maka diperlukan proses mutasi yang terjadi secara random agar kromosom dapat memeriksa seluruh area. Probabilitas dari mutasi ini dibuat kecil karena kecenderungan mutasi akan merusak populasi secara keseluruhan. Pada umumnya, optimisasi yang dilakukan untuk penentuan lokasi sumur adalah dengan membuat model matematis atau korelasi yang mencerminkan kondisi reservoir. Dari korelasi ini kemudian dicari dimana lokasi titik optimum dengan menggunakan metode optimisasi. Kekurangan dari metode ini adalah persamaan korelasi yang dihasilkan belum tentu mencerminkan kondisi reservoir yang sebenarnya. Sehingga hasil optimisasi belum tentu akan menghasilkan solusi optimum. Untuk menghindari kendala tersebut, dalam penelitian ini program optimisasi harus dapat berkomunikasi secara langsung dengan reservoir simulator. Dengan demikian proses perhitungan objective function dilakukan langsung oleh simulator. II. Pembuatan dan Implementasi Program Genetics Algorithm Program Genetics Algorithm yang dibuat memiliki gen yang bernilai integer. Hal ini dipilih karena koordinat dari lokasi sumur bersifat bi langan bulat. Penggunaan nilai integer ini memberikan fleksibilitas dalam pembuatan program. Untuk menghitung objective function dari permasalahan, maka program dihubungkan dengan CMG IMEX simulator. IMEX akan menghitung cumulative production dari tiap kromosom yang dibuat. Pseudocode dari program dapat dilihat pada Gambar 1. Setelah program dibuat, kemudian program diujicobakan terlebih dahulu pada model matematis agar kualitas program dapat tervalidasi. Model matematis yang diujicobakan dipilih fungsi 3-D agar lebih kompleks, namun masih mudah divisualisasikan. Fungsi ini juga didesain agar memiliki titik maksimum lokal, maksimum global, dan minimum global. Titik-titik ini dimaksudkan sebagai jebakan untuk menguji apakah program akan terjebak pada titik maksimum lokal atau berhasil menghindar dan menuju pada titik maksimum global. Desain fungsi matematis yang sesuai dengan

37
for tiap kromosom inisiasi nilai kromosom secara random end do for tiap kromosom hitung fitness value hitung survive rate end while jumlah kromosom baru lebih kecil dari populasi pilih pasangan kromosom secara random berdasarkan survive rate lakukan proses crossover pada pasangan kromosom update nilai kromosom lama dengan kromosom hasil crossover end for tiap kromosom baru hitung probabilitas mutasi if mutasi terjadi tentukan secara random gen termutasi negasikan nilai gen end end while iterasi maksimum belum dipenuhi atau batas error belum didapat Gambar 1. Pseudocode Program Genetics Algorithm

kondisi tersebut adalah:


u = (x + 10x 10y + 10z)e
4
-0.3 (x2 + y2 + z2)

Kemudian fungsi matematis tersebut diujicobakan menggunakan program Genetics Algorithm. Hasil yang diperoleh adalah:
Tabel 2. Solusi Program Genetics Algorithm

Plot 3-D dari fungsi diatas sebagai berikut:

Solution Average x Average y Average z Average fitness Average solution Best max Location x Location y Location z

Value 1.0014 0.0023 0.0262 8.3658 13.2602 13.7777 0.9911 0.6333 0.6250

Gambar 2. Plot Persamaan u = f(x,y,z)

Berdasarkan solusi analitis, nilai maksimum dari fungsi diatas adalah:


Tabel 1. Solusi Analitik pada Fungsi u

x y z u 0.9125 0.6998 0.6998 13.8274

Hasil yang diperoleh program pada Tabel 2 menunjukan bahwa solusi maksimum fungsi ter sebut sebesar 13.7777. Solusi ini sangat dekat dengan solusi analitik yaitu 13.8274. Tingkat akurasi pada program GA sebesar 0.35%. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa program GA menghasilkan solusi yang cukup valid. Setelah program dapat dinyatakan valid, maka program kemudian diujicobakan pada permasalahan penentuan lokasi sumur. Untuk men-

38

Gambar 3. Performance Graph dari Pencarian Solusi Matematis

guji program, maka dibuat skenario yang sebagai berikut: Plan of Development pada lapangan X dirancang dengan menggunakan 3 sumur, dimana lokasi sumur direncanakan berada pada koordinat W-1 (14, 13), W-2 (17, 15), dan W-3 (12, 15). Model top structure pada Gambar 4 menunjukan bahwa bentuk trap merupakan stratigraphic trap. Data sebaran tekanan dapat dilihat pada Gambar 5. Sedangkan data sebaran saturasi minyak dapat dilihat pada Gambar 6. Reservoir ini berada pada kondisi undersaturated. Hasil simulasi yang diperoleh untuk natural de- Gambar 5. Data Tekanan pletion selama 30 tahun sebagai berikut: dapat memberikan recovery factor lebih tinggi dari data POD, maka rencana lokasi sumur dijadikan input dari program.

Gambar 4. Grid Structure dari Model Reservoir

Nilai recovery factor sebesar 16.59% merupakan Gambar 6. Data Saturasi Minyak hasil simulasi apabila tidak ada sumur injeksi. Parameter yang digunakan pada program GA Untuk mengetahui apakah masih ada posisi yang adalah dengan menggunakan jumlah populasi se

39
Tabel 3. Hasil simulasi POD lapangan X

IOIP Np RF

3359.2 MSTB 557.2 MSTB 16.59%

kan perolehan migas nasional. Teknik Genetics Algorithm telah terbukti mampu memberikan hasil yang baik dalam penentuan lokasi sumur optium.
Tabel 4. Perbandingan antara hasil simulasi awal dengan keluaran program

banyak 30 serta jumlah generasi sebanyak 100. Peluang terjadinya crossover sebesar 90% se dangkan peluang terjadinya mutasi sebesar 30%. Hasil yang diperoleh dapat dilihat pada Gambar 7. III. Diskusi Ternyata pada generasi ke 25, program dapat menemukan lokasi sumur yang lebih baik, dimana lokasi ini memberikan cumulative production sebesar 759.43 MSTB atau perolehan recovery factor sebesar 22.61%. Perbandingan hasil simulasi beserta koordinat lokasi antara data awal dengan keluaran program dapat dilihat pada Tabel 4. Dari keluaran program diatas maka dapat disimpulkan bahwa program dapat menemukan solusi yang lebih baik. Hasil perbandingan perolehan kumulatif produksi dan koordinat baru dapat dilihat pada Gambar 8 dan 9. Peningkatan recovery factor yang signifikan dengan biaya yang relatif sangat murah akan sangat menguntungkan dan mampu meningkat-

Np RF W-1 W-2 W-3

Initial GA Engine Difference 557.2 MSTB 759.4 MSTB 202.2 MSTB 16.59% 22.61% 6.02% (14, 13) (11, 14) (17, 15) (12, 12) (12, 15) (14, 13)

IV. Kesimpulan Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah: 1. Penentuan lokasi sumur sangat mempenga ruhi recovery factor sehingga harus ditentukan sedekat mungkin pada solusi optimum. 2. Teknik Genetics Algorithm dapat digunakan dalam proses pencarian lokasi sumur yang menghasilkan recovery factor paling besar. 3. Program dapat menghasilkan solusi yang lebih baik jika solusi tersebut belum diraih pada kondisi awal.

Gambar 7. Hasil Keluaran Program Genetics Algorithm

40

Gambar 8. Perbandingan kumulatif produksi minyak antara rencana awal dengan rekomendasi GA dosen pembimbing Zuher Syihab, PhD atas masukan dan saran pada penelitian ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Computer Modeling Group (CMG) atas academic license yang diberikan kepada ITB sehingga penulis dapat melakukan penelitian ini serta OGRINDO-ITB (Oil and Gas Recovery for Indonesia) sebagai wadah organisasi penulis dalam melakukan penelitian. Acuan Badru, C. S. K: Well Placement Optimization in Field Development, Society of Petroleum Engineers, SPE 84191, 2003. de Jong, dan Kenneth A.: Evolutionary Compu tion, London, the MIT Press, London, (2006). Emerick, Alexandre A., S.A, Petrobas, Messer, Eugenio Silva Bruno, Szwarchman, Dilza, Maschio, Celio, Nakajima, Lincoln, Schiozer, Denis J.: Production Strategy Optimization Using Genetic Algorithm and Quality Map, Society of Petroleum Engineers, SPE 113483, 2008. Negnevitsky, Michael.: Artificial Intelligence: A Guide to Intelligent System, Essex, Person Education Limited, (2005).

Gambar 9. Lokasi hasil rekomendasi GA

4. Teknik Genetics Algorithm dapat digunakan sebagai validator bahwa lokasi sumur sudah berada pada lokasi yang optimum apabila gagal menemukan solusi yang lebih baik.
Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada

OPTIMISASI PROSES PERENDAMAN SURFAKTAN PADA SQUEEZE CEMENTING UNTUK PEKERJAAN WATER SHUT OFF
Christianto Widi Dewanto Workover/Well Service Manager PT. Energi Mega Persada, Bakrie Tower 23th Fl , Rasuna Epicentrum, Rasunasaid Kuningan, Jakarta Pusat. Telp: +62-811-833217 Email : widi.christianto@energi-mp.com

SARI Untuk mengatasi besarnya produksi air pada sumur-sumur tua lapangan marjinal, salah satu metode yang diterapkan adalah melakukan water shut off program dengan squeeze cementing. Namun pada beberapa waktu sebelumnya pekerjaan squeeze cementing selalu dilakukan perulangan hingga 4 kali untuk satu zona yang sama, sehingga memerlukan biaya yang besar untuk penyelesaian pekerjaan ini. Dengan menerapkan perendaman surfaktan sebelum proses squeeze cementing masalah tersebut dapat diatasi. Terlebih lagi dengan mengoptimalkan waktu perendaman dengan meningkatkan konsentrasi larutan surfaktan dari 2% menjadi 3% menjadikan pekerjaan squeeze cementing berhasil dengan satu kali proses , maka secara otomatis bisa menekan biaya operasi pekerjaan ini. Untuk menjadikan sempurnanya hasil penyemenan maka diperlukan pekerjaan perendaman surfactant sebelum squeeze cementing, proses perendaman ini merupakan pencucian sisa minyak pada batuan formasi atau proses merubah sifat batuan oil wet menjadi water wet. Dalam keadaan ini, separasi antara semen yang mengering dengan matrik batuan akibat perbedaan base fluid tidak terjadi sehingga rekatan terjadi menjadi kuat. Perulangan dalam squeeze cementing dengan demikian menjadi tidak perlu. Kata kunci: squeeze cementing, penyemenan berulang, perendaman surfaktan, penghematan biaya ABSTRACT One of methods normally used for combating high water production in marginal fields old wells is water shut-off program with squeeze cementing. The most common practice in squeeze cementing is the costly repetitive cementing at the same interval sometimes as many as 4 times in order to guarantee good cementing results. Surfactant soaking prior to squeeze cementing can overcome the problem. This study proves that optimization in soaking time and an increase in surfactant concentration from 2% to 3% has spared the need for the repetitive cementing hence reducing cost. Surfactant soaking improves the cementing results through washing the formation rocks from oil and converting the rocks wettability towards more water-wetting tendency. In this condition, no separation between the drying cement and formation face occurs leading to stronger bond between the two and. No repetitive cementing is therefore needed. Key words: squeeze cementing, repetitive cementing, surfactant soaking, cost efficiency

I. Pendahuluan Problem water cut tinggi sering dialami pada beberapa sumur lama di lapangan Marginal, water coning ini merupakan permasalahan yang cukup pelik dan perlu hati-hati dalam penanganan-

nya, ada beberapa cara langkah untuk mengatasi hal ini yang salah satunya telah diterapkan di lapangan Melibur yakni dengan metode squeeze cementing. Isolasi menggunakan semen ini ditujukan pada zona air atau oil water contact zone hal mana dimaksudkan untuk menutup jalan in-

41

42
trusi air formasi. Namun pada prakteknya beberapa waktu lalu pekerjaan ini memakan biaya operasi yang cukup tinggi karena harus melakukan perulangan squeeze cementing hingga 4 kali pada zona yang sama (Smith, 1976). Tidak sempurnanya proses sementasi ini dimungkinkan karena semen tidak menempel pada batuan secara keseluruhan, akibat adanya perbedaan fluida dasar antara bubur semen dan lapisan oil pada matrik batuan (oil wet formation). Pelaksanaan pekerjaan squeeze cementing dengan metode perendaman surfaktan merupakan salah satu alternative untuk meningkatkan efektifitas penyemenan, dengan maksud mencuci matrik batuan dari oil film yang menempel pada batuan tersebut (oil wet) atau mendesak butiran butiran minyak yang terperangkap didalam batuan porous, langkah perendaman ini dilakukan beberapa jam sebelum proses penyemenan dilaksanakan sehingga diharapkan semen dapat menyatu dengan batuan sehingga celah-celah penyebab kebocoran dapat ditiadakan. Dengan demikian proses perendaman mempunyai peranan penting dalam upaya peningkatan kualitas penyemenan, sehingga untuk mengoptimalkan proses ini dibuatlah suatu percobaan untuk melihat besarnya konsentrasi surfaktan terhadap pola waktu yang dibutuhkan untuk menyapu lapisan oil (oil film) pada matrik batuan. Proses lamanya waktu perendaman juga nantinya akan sangat mempengaruhi biaya operasi secara keseluruhan. Paper ini merupakan laporan langkah penyempurnaan dari percobaan dan terapan metode perendaman sebelum pekerjaan squeeze cementing. Dimana pada waktu sebelumnya untuk mengurangi perulangan squeeze cementing pada zona yang sama diterapkanlah metode ini, yakni dengan perendaman surfaktan selama 24 jam sebelum pekerjaan squeeze dan telah terbukti dapat mempersingkat rantai perulangan pekerjaan dari 4 menjadi 2 kali squeeze cementing. Namun kemudian terpikirkan untuk mempersingkat waktu perendaman, yang mana dimaksudkan agar dapat mengurangi secara langsung biaya operasi sebagai akibat lamanya proses perendaman. Upaya ini dilanjutkan dengan mengadakan uji laboratorium optimisasi proses perendaman terhadap variasi konsentrasi surfaktan, dan ternyata dari data hasil percobaan dimungkinkan untuk mencoba mengurangi waktu perendaman menjadi 18 jam namun konsentrasi surfaktan harus ditingkatkan dari 2% menjadi 3%. Dan dari uji penerapan lapangan di dapatkan 2 hasil yang luar biasa, yang pertama proses squeeze cementing bisa berhasil dilakukan dengan cukup satu kali saja, dan yang kedua dapat menekan biaya operasi saat proses perendaman. Jika dihitung secara keseluruhan terhadap biaya operasi yang timbul baik saat proses perendaman maupun saat dilakukannya pekerjaan squeeze cementing, kemudian dibandingkan dengan biaya operasi beberapa waktu sebelumnya yang tanpa penerapan perendaman surfaktan pada squeeze cementing, maka didapatkan efisiensi sebesar 55%. II. Landasan Teori Beberapa teori yang mendasari pemiki ran penerapan metode perendaman surfaktan se belum proses squeeze cementing adalah : Kebasahan (wettability) Wetabilitas adalah kemampuan batuan untuk dibasahi oleh fasa fluida, jika diberikan dua fluida yang tak saling campur (immisible) maka pada bidang antar muka cairan dengan benda padat terjadi gaya tarik- menarik antara cairan dengan benda padat (gaya adhesi),yang merupakan faktor dari tegangan permukaan antara fluida dan batuan (Amyx dkk, 1960).

Gambar 1. Derajat kontak sistim kebasahan (Cosse, 2007)

Pada umumnya reservoir bersifat water wet, sehingga air cenderung untuk melekat pada permukaan batuan sedangkan minyak akan terletak diantara fasa air. Namun pada kasus ini lapangan M mempunyai reservoir yang bersifat semi oil wet seperti ditunjukkan dalam grafik plot berikut.

43
bocoran saat bubur semen mengering.

Gambar 2. Grafik plot Relatif Permeability formasi pada lapangan M (file core analisys).

Tegangan Permukaan Gaya persatuan panjang yang dibutuhkan untuk mempertahankan bidang singgungan antara dua fluida yang tidak saling bercampur yang seo- Gambar 3. Dua cara pelepasan oil dari dinding batuan lah- olah terpisahkan oleh membrane. Dimana di- untuk membentuk emulsi.(Schramm, 2005). antara dua cairan ini masing-masing mempunyai tegangan yang berbeda. Percampuran surfactant dengan minyak membentuk emulsi yang akan melepaskan diri Surfaktan dari dinding matrik batuan seperti pada gambar Didefinisikan sebagai molekul yang men- diatas sehingga akan mengurangi tekanan kapiler. cari tempat diantara dua cairan yang tak dapat Setelah minyak dapat bergerak, maka diharapkan bercampur dan mempunyai kemampuan untuk tidak ada lagi minyak yang tertinggal atau menmengubah kondisi. Bahan utama dari surfac- empel dinding matrik batuan. tant ini adalah Petroleum Sulfonate, dimana zat ini dihasilkan dari sulfonatisasi minyak mentah (distilasi minyak). Petroleum sulfonate mem- III. Percobaan punyai daya afinitas terhadap air dan minyak. Percobaan ini untuk melihat efektifiMolekul ini mempunyai dua bagian, satu bagian larut dalam minyak dan satu bagian lainnya lar- tas waktu perendaman terhadap reaksi surfaktan ut dalam air. Surfactant yang mempunyai daya pada beberapa variasi konsentrasi surfaktan. afinitas kuat terhadap minyak disebut oilsoluble Dimana goalnya adalah menjawab hipotesa tendan yang kuat terhadap air disebut water soluble tang hubungan waktu terhadap tingkat konsen(green acid). Kualitas surfactant ditentukan dari trasi surfaktan. Didalam percobaan ini digunakan 3 core parameter berat ekuivalennya, semakin besar beyang berukuran sekitar 6.5x 2.5 Cm masing rat ekuivalen surfactant yang digunakan, maka efektivitas kerja untuk menurunkan tegang masing direndam dalam crude oil selama 24 Jam. an permukaan minyak-air semakin baik dan be- Urutan Prosedurnya adalah : 1. Masukkan core (yang telah direndam Crude gitu sebaliknya. oil) kedalam bejana kaca yang berisi air, lalu Dalam pekerjaan ini perendaman surfactant panaskan hingga 120C. Minyak yang muncul dimaksudkan untuk membebaskan minyak mengapung kepermukaan sebagai akibat efek yang terjebak dalam pori batuan hingga mencip panas kita amati hingga sudah mencapai akutakan ruang yang cukup bagi bubur semen dan mulasi maksimal. membilas minyak yang menempel pada dinding matrik batuan agar meniadakan rongga rongga 2. Selanjutnya core kita pindahkan kedalam bejana lainnya yang sudah terisi cairan air foryang saling berhubungan sehingga mencegah kemasi 1% + surfactant 2% + Air tawar dengan

44
total volume 500 ml. 3. Lakukan tahapan diatas untuk core lainnya dengan perbedaan variasi konsentrasi surfactant 3% dan 4%. 4. Lakukan pengamatan pada 3 jenis percobaan core tersebut, dengan ketentuan waktu perendaman seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Konsentrasi surfactant vs waktu perendaman.

Konsentrasi Larutan Surfactant 2% 3% 4%

Waktu Perendaman 24 Jam 18 Jam 12 Jam

ervoir pada surfactant. Makin pekat konsentrasi surfactant yang digunakan, maka akan semakin cepat proses reaksinya. Terdapatnya clay dalam reservoir harus diperhitungkan karena clay dapat menurunkan recovery minyak, disebabkan oleh sifat clay yang suka air (Lyophile) menyebabkan adsorbsi yang terjadi besar sekali. Untuk reservoir dengan salinitas rendah, peranan clay ini sangat dominan. Salinitas air formasi berpengaruh terha dap penurunan tegangan permukaan minyak-air oleh surfactant. Untuk konsentrasi garam-garam tertentu, NaCl akan menyebabkan penurunan tegangan permukaan minyak-air tidak efektif lagi.

5. Pengamatan dilakukan dengan batasan seper- Reaksi Surfactant. ti pada tabel diatas, dan catat recovery/peroleDalam proses reaksi surfactant banyak faktor han minyak yang muncul dan bandingkan yang menentukan seperti yang utama adalah behasilnya dari tiga core tersebut. sar konsentrasi surfactant dan waktu yang dibutuhkan dalam proses reaksi. Sedangkan mekanisme reaksi Surfactant adalah sebagai berikut : IV. Konsep Perendaman Pada dasarnya perendaman merupakan rentang waktu yang disediakan untuk proses reaksi surfactant dalam mengurangi besarnya tegangan permukaan antara dua fluida yang berbeda. Proses perendaman ini sangat menentukan kualitas penyapuan oil pada matrik batuan sehingga menjadi prioritas pelaksanaannya sebelum proses squeeze cementing itu sendiri. Efektifitas Perendaman Surfactant Beberapa hal yang mempengaruhi efektifitas perendaman adalah : Adsorbsi batuan reservoir terhadap larutan surfactant. Adsorbsi batuan terjadi akibat gaya tarik-menarik antara molekul-molekul surfactant dengan batuan reservoir dan besarnya gaya ini tergantung dari besarnya afinitas batuan reservoir terhadap surfactant. Jika adsorbsi yang terjadi kuat sekali, maka larutan surfactant akan menipis, akibatnya kemampuan untuk menurunkan tegangan permukaan minyak-air semakin menurun. Konsentrasi surfactant juga berpengaruh besar terhadap terjadinya adsorbsi batuan resLarutan surfactant yang merupakan microemulsion yang diinjeksikan ke dalam reservoir, Mula-mula bersinggungan dengan permukaan gelembung-gelembung minyak melalui film air yang tipis, yang merupakan pembatas antara batuan reservoir dan gelembunggelembung minyak. Surfactant memulai perannya sebagai zat aktif permukaan untuk menurunkan tega ngan permukaan minyak-air. Pertama sekali molekul-molekul surfactant yang mempunyai rumus kimia RSO3H akan terurai dalam air menjadi ion-ion RSO3dan H+. Ion-ion RSO3- akan bersinggungan dengan gelembung-gelembung minyak, ia akan mempengaruhi ikatan antara molekulmolekul minyak dan juga mempengaruhi adhesion tension antara gelembung-gelembung minyak dengan batuan reservoir, akibatnya ikatan antara gelembung-gelembung

45
minyak akan semakin besar dan adhesion proses perendaman. tension semakin kecil sehingga terbentuk Untuk itu terpikirkan untuk mengurangi oil bank (gumpalan-gumpalan minyak). waktu perendaman namun mendapatkan hasil yang optimum dalam proses pembilasan sisa Gumpalan- gumpalan tersebut akhirnya menguat minyak. Maka berdasarkan data laboratorium dan lepas dari ikatan matrik batuan yang merupa- dimungkinkan adanya penurunan waktu perenkan emulsi dalam air formasi, (lihat Gambar 3). daman namun harus diimbangi dengan kenaikan konsentrasi surfactant. Konsentrasi Surfaktan Penentuan besaran konsentrasi surfactant didasari oleh hasil evaluasi laboratorium. Dalam percobaaan, dimaksudkan untuk mencari tingkat konsentrasi yang tepat sehingga bisa mendapatkan waktu perendaman yang optimum. Dalam pengujian core dengan perendaman surfaktan pada konsentrasi 2% ,3% dan 4% maka dalam rentang waktu perendaman yang sama akan didapatkan recovery oil yang berbedabeda. Dari percobaan ini dapat disimpulkan sementara bahwa kenaikan konsentrasi larutan dapat mempercepat proses perubahan tegangan permukaan antar fluida minyak air, sehingga secara langsung diharapkan dapat membilas lapisan minyak pada matrik batuan (oil wet). Waktu Perendaman Efektifitas proses reaksi surfactant dalam menurunkan tegangan permukaan salah satunya dipengaruhi oleh lamanya waktu reaksi, dalam penerapan untuk proyek squeeze cementing waktu reaksi ini diwujudkan dalam bentuk waktu perendaman yang dibutuhkan untuk mengubah batuan oil wet menjadi water wet. Berdasarkan uji laboratorium didapatkan data dimana pada konsentrasi yang sama pada batasan tertentu didapatkan hasil recovery oil yang berbeda jika direndam pada waktu yang berbeda pula, dimana semakin lama proses perendaman akan didapatkan hasil pembilasan yang lebih baik. Namun dalam operasi lapangan, terutama pada pekerjaan squeeze cementing yang menjadi bagian dari pekerjaan workover, proses perendaman yang dilakukan sebelum pemompaan bubur semen menjadikan perhitungan tersendiri karena lamanya waktu proses perendaman berhubungan langsung dengan besarnya biaya operasi yang harus dikeluarkan, yakni biaya operasi rig dan peralatan pendukung saat standby menunggu V. Optimisasi Perendaman Guna menekan biaya operasi terutama saat proses perendaman surfactant maka dilakukanlah pengurangan waktu perendaman sesuai hasil kajian laboratorium. Biaya perendaman timbul berdasarkan perhitungan sejumlah cost dari Rig dan beberapa peralatan pendukung, dimana biaya ini muncul karena Rig dan beberapa peralatan tersebut dalam kondisi standby namun costnya tetap jalan. Jumlah cost ini setara dengan lamanya waktu perendaman. Beberapa Rig dan Peralatan jika dihitung dalam biaya harian dan rate/jam adalah seperti pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Biaya operasi per jam

Cost Item Rig + crew Support for Rig Crane Cementing unit + crew Mud Motor Filtration unit+crew Total Cost Operation Cost/Hour

Rate/day 7,896.00 970 450 3,390.00 7,200.00 745 19,611.00 860.46

Biaya ini adalah biaya minimum yang dibebankan saat dalam kondisi Standby (tidak beroperasi), artinya bisa disetarakan sebagai biaya perendaman per-jam. Dari tabel diatas dapat terlihat besarnya penurunan biaya perendaman yang signifikan, namun mempunyai hasil yang relative sama bahkan secara kualitas menjadi lebih baik. Kualitas ini terbukti dengan keberhasilan squeeze cementing dengan cukup satu kali saja untuk zona yang sama.

46
Tabel 3. Perbandingan biaya perendaman

Dari upaya ini selain mampu mengurangi beban biaya dari proses perendaman sebesar US$ Total Waktu Biaya Proses Biaya 3963 ternyata juga mampu meningkatkan kuali(Hrs) (US$) (US$) tas proses squeeze cementing sehingga pekerjaan Without penyemenan ini bisa dilakukan hanya dengan 1 0 0 0 0 Surfactant kali saja. 24 20652 2400 23052 2% Surfactant Dengan demikian secara keseluruhan rang18 15489 3600 19089 3% Surfactant kaian pekerjaan squeeze cementing dengan metode perendaman surfaktan yang di optimalkan Jika pada awalnya upaya optimasi waktu sedemikain rupa dapat memberikan langkah perendaman ini hanya untuk mengurangi biaya positif dan penghematan biaya hingga 55% jika perendaman namun ternyata malah membuahkan dibandingkan dengan biaya yang timbul dari hasil yang lebih dengan dipersingkatnya rantai pekerjaan squeeze cementing beberapa waktu pekerjaan squeeze cementing menjadi satu kali. lalu (tanpa surfactant treatment). Maka dengan demikian jika dihitung biaya operasi secara keseluruhan untuk proses penyemenan upaya ini membuahkan hasil yang luar biasa VII. Kesimpulan karena mendapatkan dua keuntungan sekaligus . 1. Upaya merubah oil wet menjadi water wet Secara lengkap hasil dari optimasi perendaman dengan perendaman surfaktan sebelum squeze ini dapat dilihat dalam Tabel L1 - L4 pada lamcementing job, berhasil memperbaiki daya repiran. kat cement dengan batuan formasi. Terbukti
Harga Larutan Surfaktan (US$)

3%.

VI. Evaluasi Berdasarkan beberapa uraian diatas proses perendaman surfaktan sangat diperlukan untuk perbaikan kualitas sementasi batuan formasi. Karena dengan adanya proses perendaman beberapa saat sebelum squeeze cementing dapat mengubah batuan oil wet menjadi water wet sehingga bubur semen dapat menempel sempurna pada matrik batuan. Dengan penerapan metode ini pada awalnya telah berhasil menurunkan tingkat perulangan pekerjaan squeeze cementing dari 4 hingga 2 kali. Lamanya waktu perendaman menjadikan beban biaya tersendiri, berdasarkan hasil kajian laboratorium dimungkinkan untuk memperpendek proses waktu perendaman sehingga akan memperkecil biaya perendaman. Pada waktu sebelumnya perendaman dilakukan selama 24 jam maka diturunkan menjadi 18 jam. Dengan proses memperpendek waktu perendaman ini harus diimbangi dengan menaikkan konsentrasi surfaktan sampai batas tertentu. Pada perendaman sebelumnya konsentrasi surfaktan 2% direndam selama 24 jam, dan selanjutnya dengan penurunan waktu perendaman menjadi 18 jam konsentrasi surfaktan dinaikkan menjadi

2.

3.

4.

5.

dengan berhasilnya squeeze cementing job cukup satu kali. Penggunaan Surfaktan telah terbukti sebagai bahan yang menurunkan tegangan permukaan antara minyak dan air. Hal ini dibuktikan dengan berhasilnya surfaktan dalam menya pu lapisan minyak pada permukaan matrik batuan. Terbukti semakin membaiknya cement bonding dalam formasi. Dengan menurunkan waktu perendaman yang diimbangi dengan meningkatnya konsentrasi surfaktan dari 2% menjadi 3% terbukti dapat menekan biaya operasi. Peningkatan konsentrasi Surfaktan sampai batas tertentu terbukti lebih efektif dalam membilas oil wet (oil film) pada matrik batuan sehingga mengurangi perulangan squeeze cementing dari 2 menjadi 1 kali. Upaya penurunan waktu perendaman dengan meningkatkan konsentrasi surfaktan terbukti mampu menekan total biaya operasi penyemenan rata-rata sampai 55%.

Acuan Allen Thomas O and Roberts Alan P, Well Completions, Workover, and Stimulation Production Operations Vol.2, Second edition, Oil

47
and Gas Consultants International, Inc. Tulsa Amyx, J.W., Bass,Jr.,D.M., Whithing, R.L.,: Petroleum Reservoir Engineering Physical Properties, Mc.Graw Hill Book Company, Inc., New York, 1960. Cosse, R.: Basic of Reservoir Engineering, IFP School, editions Technipm27, rue Ginoux 75737, Paris, Cadex 15, France, (2007). Kristanto, D. dan Bintarto, B.: Perencanaan Peningkatan Perolehan Minyak Menggunakan Metode Soaking Surfactant. Makalah Profesional IATMI (2008), 08-06. Subhash C.A.: Surfactant Induced relative Per meability Modifications for Oil Recovery En hanchedment. Thesis Master of Science in Petroleum Engineering, The Department of Petroleum Engineering, Louisiana State University, 2002. Schramm, L: Surfactants Fundamentals and App lications in the Petroleum Industry. Petroleum Recovery Institute, Cambridge University Press, (2005). Smith, D.K.: Cementing, Society of Petroleum Engineering. AIME, New York, Dallas, (1976). Wibowo, E.B., Buntoro, A. dan Natsir, M.: Upa ya Peningkatan Perolehan Minyak Menggunakan Metode Chemical Flooding di Lapangan Limau. Makalah Profesional IATMI, Yogyakarta (Juli 2007), 25-28. Widi, D.C.: Kaitan antara kondisi geologi reservoir dan semua operasi pemboran dengan perencanaan cara dan laju produksi. Kolokium, Teknik Perminyakan., UPN Veteran Yogyakarta, 1993. Widi, D. C.: Optimisasi Squeeze Cementing De ngan Methode Perendaman Surfactant IATMI Student Paper Contest, ITB, Bandung, 2009.

48 LAMPIRAN
Tabel L1. Data operasi
Waktu Operasi squeeze Cmt (Hrs) Cost / Hrs (US$) Biaya 1 x Squeeze Cementing (US$) 39 860,46 24.390

Tabel L2. Biaya Operasi Rig


#wells
without Surfactant 2% Surfactant 3% Surfactant

#job 3 2 1

Soaking 0 24 18

Total Hours

Total Operation Cost($)

3 3 3

351 306 171

302.020,88 263.300,25 147.138,38

Gambar L2. Percobaan efek waktu perendaman surfaktan vs % surfaktan

Tabel L3. Biaya operasi squeeze cementing


#well without Surfactant 2% Surfactant 3% Surfactant 3 3 3 #job 3 2 1 Cementing Cost / job 21.000,00 21.000,00 21.000,00 Sufactant Cost 0 7.200,00 10.800,00 Cost ($) 189.000,00 133.200,00 73.800,00

Tabel L4. Efisiensi Biaya Seluruh Pekerjaan


Rig Cost 302.020,88 263.300,25 147.138.38
Cementing+ Surfactant

Total 491.020.88 396.500,25 220.938.38

(%) 19,2 55,0

189.000,00 133.200,00 73.800,00

Gambar L3. Grafik terbebasnya minyak terhadap fungsi Konsentrasi dan lamanya waktu perendaman

Gambar L1. Bagan alir penelitian dan penerapan

Gambar L4. Kompensasi biaya squeeze cementing job

49

Gambar L5. Effisiensi Biaya terhadap % Surfaktan

INDEKS
B Bacillus sp. 14,15,16,17,18,19,20,21 Bacillus polymyxa 14,15,16,17,18,19,20,21 Biosurfaktan 14,15,16,17,18,19,20,21,22 E Enhanced oil recovery (EOR)

14,15,21,22,23,24,28,29

F Faktor ketidakpastian 1,2,9,10,11,12,13 Fuzzy logic 23,24,26,28 G Genethics algorithm 35 14,15,22

M Microbial enhanced oil recovery

P Penyemenan berulang 41 Perendaman surfaktan 41,42,45,46,48 Persamaan saturasi 1,2,8 Penghematan biaya 41,46 Penempatan sumur 35 Perolehan minyak maksimum 35 Pengurangan tegangan antar-muka 14 Pemilahan EOR 23 S Saturasi fluida Seleksi faktor Sistem pakar 1,2,5 1 23,24,26,28

JURNAL TEKNOLOGI MINYAK DAN GAS BUMI PEDOMAN PENULISAN


ISI DAN KRITERIA UMUM Naskah makalah ilmiah (selanjutnya disebut Naskah) untuk publikasi di Jurnal Teknologi Minyak dan Gas Bumi (JTMGB) dapat berupa artikel hasil penelitian atau artikel ulas balik/tinjauan (review) tentang minyak dan gas bumi, baik sains maupun terapan. Naskah belum pernah dipublikasikan atau tidak sedang diajukan pada majalah/jurnal lain. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris sesuai kaidah masing-masing bahasa yang digunakan. Naskah harus selalu dilengkapi dengan Sari dalam Bahasa Indonesia dan Abstract dalam Bahasa Inggris. Naskah yang isi dan formatnya tidak sesuai dengan pedoman penulisan JTMGB akan ditolak oleh redaksi dan redaksi tidak berkewajiban untuk mengembalikan naskah tersebut. FORMAT Umum. Seluruh bagian dari naskah termasuk judul sari, judul tabel dan gambar, catatan kaki, dan daftar acuan diketik satu setengah spasi pada electronic-file dan print-out dalam kertas HVS ukuran A4. Pengetikan dilakukan dengan menggunakan huruf (font) Times New Roman berukuran 12 point. Setiap halaman diberi nomor secara berurutan termasuk halaman gambar dan tabel. Hasil penelitian atau ulas balik/tinjauan ditulis minimum 5 halaman dan maksimum sebanyak 15 halaman, di luar gambar dan tabel. Selanjutnya susunan naskah dibuat sebagai berikut: Judul. Pada halaman judul tuliskan judul, nama setiap penulis, nama dan alamat institusi masing-masing penulis, dan catatan kaki, yang berisikan terhadap siapa korespondensi harus ditujukan termasuk nomor telepon dan faks serta alamat e-mail jika ada. Sari. Sari/abstract ditulis dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Sari berisi ringkasan pokok bahasan lengkap dari keseluruhan naskah tanpa harus memberikan keterangan terlalu terperinci dari setiap bab. Sari paling banyak terdiri dari 250 kata. Kata kunci/keywords ditulis di bawah sari/abstract dan terdiri atas empat hingga enam kata. Pendahuluan. Bab ini harus memberikan latar belakang yang mencukupi sehingga pembaca dapat memahami dan dapat mengevaluasi hasil yang dicapai dari penelitian yang dilaksanakan tanpa harus membaca sendiri publikasi-publikasi sebelumnya, yang berhubungan dengan topik yang bersangkutan. Pendahuluan harus berisi latar belakang, maksud dan tujuan, permasalahan, metodologi, serta materi yang diteliti. Hasil dan Analisis. Hanya berisi hasil-hasil penelitian baik yang disajikan dengan tulisan, tabel, maupun gambar. Hindarkan penggunaan grafik secara berlebihan bila dapat disajikan dengan tulisan secara singkat. Batasi penggunaan foto, sajikan yang benar-benar mewakili hasil penemuan. Beri nomor gambar dan tabel secara berurutan. Semua gambar dan tabel yang disajikan harus diacu dalam tulisan. Pembahasan atau Diskusi. Berisi interpretasi dari hasil penelitian yang diperoleh dan pembahasan yang dikaitkan dengan hasil-hasil yang pernah dilaporkan. Kesimpulan dan Saran. Berisi kesimpulan dan saran dari isi yang dikandung dalam tulisan. Ucapan Terima Kasih. Dapat digunakan untuk menyebutkan sumber dana penelitian dan untuk memberikan penghargaan kepada beberapa institusi atau orang yang membantu dalam pelaksanaan penelitian dan atau penulisan laporan. Acuan. Acuan ditulis dan disusun menurut abjad. Beberapa contoh penulisan sumber acuan: Jurnal

JURNAL TEKNOLOGI MINYAK DAN GAS BUMI PEDOMAN PENULISAN (lanjutan)


Hurst, W., 1934. Unsteady Flow of Fluids in Oil Reservoirs. Physics (Jan. 1934) 5, 20. Buku Abramowitz, M and Stegun, I.A., 1972. Handbook of Mathematical Functions. Dover Publications, Inc., New York. Bab dalam Buku Costa, J.E., 1984. Physical geomorphology of debris flow. Di dalam: Costa, J.E. & Fleischer, P.J. (eds), Developments and Applications of Geomorphology, Springer-Verlag, Berlin, h.268-317. Sari Barberi, F., Bigioggero, B., Boriani, A., Cavallini, A., Cioni, R., Eva, C., Gelmini, R., Giorgetti, F., Iaccarino, S., Innocenti, F., Marinelli, G., Scotti, A., Slejko, D., Sudradjat, A., dan Villa, A., 1983. Magmatic evolution and structural meaning of the island of Sumbawa, Indonesia-Tambora volcano, island of Sumbawa, Indonesia. Abstract 18th IUGG I, Symposium 01, h.48-49. Peta Simandjuntak, T.O., Surono, Gafoer, S., dan Amin, T.C., 1991. Geologi Lembar Muarabungo, Sumatera. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung. Prosiding Marhaendrajana, T. and Blasingame, T.A., 1997. Rigorous and Semi-Rigorous Approaches for the Evaluation of Average Reservoir Pressure from Pressure Transient Tests. paper SPE 38725 presented at the SPE Annual Technical Conference and Exhibition, San Antonio, Oct. 58. Skripsi/Tesis/Disertasi Marhaendrajana, T., 2000. Modeling and Analysis of Flow Behavior in Single and Multiwell Bound ed Reservoir. PhD dissertation, Texas A&M University, College Station, TX. Informasi dari Internet Cantrell, C., 2006. Sri Lankans tsunami drive blossom: Local mans effort keeps on giving. Http:// www.boston.com/news/local/articles/2006/01/26/sri_lankans_tsunami_drive_blossoms/[26 Jan 2006] Software ECLIPSE 100 (software), GeoQuest Reservoir Technologies, Abbingdon, UK, 1997. Naskah sedapat mungkin dilengkapi dengan gambar/peta/grafik/foto. Pemuatan gambar/peta/grafik/foto selalu dinyatakan sebagai gambar dan file image yang bersangkutan agar dilampirkan secara terpisah dalam format image (*.jpg) minimal resolusi 300 dpi, Corel Draw (*,cdr), atau Autocad (*,dwg). Gambar dan tabel diletakkan di bagian akhir naskah masing-masing pada halaman terpisah. Gambar dan tabel dari publikasi sebelumnya dapat dicantumkan bila mendapat persetujuan dari penulisnya. PENGIRIMAN Penulis diminta mengirimkan satu eksemplar naskah asli beserta dokumennya (file) di dalam compact disk (CD) yang harus disiapkan dengan program Microsoft Word. Pada CD dituliskan nama penulis dan nama dokumen. Naskah akan ditolak tanpa proses jika persyaratan ini tidak dipenuhi. Naskah agar dikirimkan kepada: Redaksi Jurnal Teknologi Minyak dan Gas Bumi d.a. Patra Office Tower Lt. 1 Ruang 1C Jln. Jend. Gatot Subroto Kav. 32-34 Jakarta 12950 Indonesia Pengiriman naskah harus disertai dengan surat resmi dari penulis penanggung jawab/korespondensi (corresponding author) yang harus berisikan dengan jelas nama penulis korespondensi, alamat lengkap untuk suratmenyurat, nomor telepon dan faks, serta alamat e-mail dan telepon genggam jika memiliki. Penulis korespondensi bertanggung jawab atas isi naskah dan legalitas pengiriman naskah yang bersangkutan. Naskah juga sudah harus diketahui dan disetujui oleh seluruh anggota penulis dengan pernyataan secara tertulis.

ISSN 021664101-2 ISSN 0216-6410

7 7 0 2 1 6

6 4 1 0 1 4