Anda di halaman 1dari 2

101 HADITS MEDIS TIPS RASULULLAH MENCEGAH DAN MENGOBATI SAKIT MENCEGAH OLAHRAGA POLA MAKAN POLA TIDUR

JIWA MENGOBATI BEKAM RUQYAH HERBAL POLA MAKAN 1."Tidaklah seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk dari memenuhi per utnya (dengan makanan dan minuman). Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap (makan an) yang bisa menegakkan tulang rusuknya. Jika harus dilakukan, maka sepertiga u ntuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya." (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani) 2. Tahanlah sendawamu dari kami,karena mereka yang paling banyak kenyang didunia,m erekalah yg paling panjang laparnya pada hari kiamat!!!!! (HR.At Turmudzi,Ibnu Majah,dihasankan oleh Al-Albani) 3.Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya : Manusia tidak henti-hentinya mendapa t kebaikan selama mereka mempercepatkan berbuka puasa . (Riwayat Bukhari dan Musli m) 4. Berpuasalah, kamu akan sehat .. (HR. ath-Thabrani) Penjelasan : Walaupun oleh para ulama, hadits ini dinilai dhai if tapi karena manfaat puasa ini memiliki dimensi kesehatan yang sangat luar biasa maka oleh ulama lain hadits i ni dapat dipakai untuk fadhail amal (menjelaskan keutamaan ibadah semata). Dalam hadits ini, secara gamblang Rasulullah saw menjelaskan aspek penyembuhan melalu i puasa. Perlu kaum muslimin ketahui, bahwa maksud sebagian ulama yang membolehkan menggu nakan hadits dho if bukanlah yang dimaksudkan mereka menggunakan hadits dho if seram pangan begitu saja. Namun, maksud mereka adalah bahwasanya dibolehkan menggunaka n hadits dho if untuk menjelaskan fadha il a mal (keutamana amalan) dalam amalan yang telah disyari atkan dalam syari at dengan dalil-dalil yang shohih seperti dzikir, pu asa, dan shalat. Hal ini dimaksudkan agar jiwa manusia selalu mengharapkan pahal a dari amalan-amalan tersebut atau menjadi takut untuk melaksanakan suatu kejele kan. Sedangkan menurut imam An-Nawawi dan sebagian ulama hadits dan para fuqaha: kita boleh mempergunakan hadits yang dhaif untuk fadha ilul a mal, baik untuk yang bers ifat targhib maupun yang bersifat tarhib, yaitu sepanjang hadits tersebut belum sampai ke derajat maudhu (palsu). Imam An-Nawawi memperingatkan bahwa diperboleh kannya hal tersebut bukan untuk menetapkan hukum, melainkan hanya untuk menerang

kan keutamaan amal, yang hukumnya telah ditetapkan oleh hadits shahih, setidak-t idaknya hadits hasan. Menurut Imam Asy-Syarkhawi dalam kitab Al-Qaulul Badi , bahwa Ibnu Hajar memperbol ehkan untuk mengamalkan hadits dhaif dalam bidang targhib dan tarhib dengan tiga syarat berikut: 1. Kedhaifan hadits tersebut tidaklah seberapa, yaitu: hadits itu tidak diriw ayatkan oleh orang-orang yang dusta, atau yang tertuduh dusta atau yang sering k eliru dalam meriwayatkan hadits. 2. Keutamaan perbuatan yang terkandung dalam hadits dhaif tersebut sudah term asuk dalam dalil yang lain (baik Al-Qur an maupun hadits shahih) yang bersifat umu m, sehingga perbuatan itu tidak termasuk perbuatan yang sama sekali tidak mempun yai asal/dasar. 3. Tatkala kita mengamalkan hadits dhaif tersebut, janganlah kita mengi tiqadka n bahwa perbuatan itu telah diperbuat oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam atau pernah disabdakan beliau, yaitu agar kita tidak mengatas namakan sesuatu pekerj aan yang tidak diperbuat atau disabdakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

5.Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: Setiap jasad yang membesar daripada b enda-benda yang haram maka api nerakalah yang layak baginya . (Riwayat al-Baihaqi dan Abu Nuim) 5.