Anda di halaman 1dari 6

DASAR TEORI

A. Inhibitor Karbonik Anhidrase Karbonik anhidrase adalah enzim yang mengkatalis reaksi CO2 + H2O = H2CO3. Enzim ini terdapat antara lain dalam sel korteks renalis, pankreas, mukosa lambung, mata, eritrosit dan SSP, tetapi tidak terdapat dalam plasma. Inhibitor karbonik anhidrase adalah obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan intraokular pada glaukoma dengan membatasi produksi humor aqueus, bukan sebagai diuretik (misalnya, asetazolamid). Obat ini bekerja pada tubulus proksimal (nefron) dengan mencegah reabsorpsi bikarbonat (hidrogen karbonat), natrium, kalium, dan air semua zat ini meningkatkan produksi urine.Obat yang termasuk golongan diuretik ini adalah asetazolamid, diklorofenamid dan meatzolamid (Ilyas, 2011). Asetazolamid 1. Farmakodinamika Efek farmakodinamika yang utama dari asetazolamid adalah penghambatan karbonik anhidrase secara nonkompetitif. Akibatnya terjadi perubahan sistemik dan pearubahan terbatas pada organ tempat enzim tersebut berada. Asetazolamid memperbesar ekskresi K+, tetapi efek ini hanya nyata pada permulaan terapi saja, sehingga pengaruhnya terhadap keseimbangan kalium tidak sebesar pengaruh tiazid (Ilyas, 2011). 2. Farmakokinetik Asetazolamid diberikan per oral.Asetozalamid mudah diserap melalui saluran cerna, kadar maksimal dalam darah dicapai dalam 2 jam dan ekskresi melalui ginjal sudah sempurna dalam 24 jam. Obat ini mengalami proses sekresi aktif oleh tubuli dan sebagian direabsorpsi secara pasif. Asetazolamid terikat kuat pada karbonik anhidrase, sehingga terakumulasi dalam sel yang banyak mengandung enzim ini, terutama sel eritrosit dan korteks ginjal. Distribusi penghambat karbonik anhidrase dalam tubuh ditentukan oleh ada tidaknya enzim karbonik anhidrase dalam sel yang bersangkutan dan dapat tidaknya obat itu masuk ke dalam sel. Asetazolamid tidak dimetabolisme dan diekskresi dalam bentuk utuh melalui urin (Ilyas, 2011).

3. Efek Samping dan Kontraindikasi Pada dosis tinggi dapat timbul parestesia dan kantuk yang terus-menerus. Asetazolamid mempermudah pembentukan batu ginjal karena berkurangnya sekskresi sitrat, kadar kalsium dalam urin tidak berubah atau meningkat. Asetazolamid dikontraindikasikan pada sirosis hepatis karena menyebabkan disorientasi mental pada penderita sirosis hepatis. Reaksi alergi yang jarang terjadi berupa demam, reaksi kulit, depresi sumsum tulang dan lesi renal mirip reaksi sulfonamid. Asetazolamid sebaiknya tidak diberikan selam kehamilan karena pada hewan percobaan obat ini dapat menimbulkan efek teratogenik (Ilyas, 2011). 4. Indikasi Penggunaan utama adalah menurunkan tekanan intraokuler pada penyakit glaukoma. Asetazolamid juga efektif untuk mengurangi gejala acute mountain sickness. Asetazolamid jarang digunakan sebagai diuretik, tetapi dapat bermanfaat untuk alkalinisasi urin sehingga mempermudah ekskresi zat organik yang bersifat asam lemah (Ilyas, 2011). 5. Sediaan Asetazolamid tersedia dalam bentuk tablet 125 mg dan 250 mg untuk pemberian oral (Ilyas, 2011).

B. Antagonis ADH ADH meningkatkan reabsorpsi air di tubulus ginjal dengan akibat berkurangnya produksi urin. Penghambatan pada ADH akan menignkatkan volume urin. Obat antagonis ADH tersedia hanya untuk keperluan penelitian dan tidak digunakan secara umum dalam praktek klinik sebagai diuretik. Dua macam obat antagonis ADH adalah lithium dan demeclocycline (turunan tetracycline) (Katzung, 2010). 1. Lithium a. Farmakodinamik Menghambat efek ADH pada duktus kolektivus dengan menurunkan

pembentukan cyclic adenosine monophospate (cAMP) sebagai respon ADH dan berinterferensi dengan kerja cAMP pada sel tubulus kolektivus. Efek untuk

mengatasi gangguan maniak depresi melalui transport ion dan elektrolit, pelepasan neurotransmiter, second messenger dan enzim intraseluler (Katzung, 2010). b. Farmakokinetik A : diabsorpsi oleh usus dengan bioavailabilitas 100%. Kadar puncak plasma dicapai dalam waktu 30 menit-2 jam. D : distribusi pada cairan tubuh dan sedikit masuk ke kompartemen intraseluler. Terikat dengan protein 0%. Volum distribusi 0,5 L/kg. Dapat ditimbun dalam tulang M : tidak dimetabolisme. E : diekskresikan ginjal 95%. Waktu paruh 20-22 jam. (Katzung, 2010). c. Indikasi Syndrome of Inappropiate ADH Secretion (SIADH) dan penyakit lain yang menngkatkan ADH seperti gagal jantung atau penyakit hati. Obat antagonis ADH diberikan pada penyakit-penyakit tersebut jika terapi restriksi cairan gagal. Gangguan maniak depresi (Katzung, 2010). d. Kontraindikasi Pemberian pada kehamilan trimester pertama dapat menyebabkan Ebstein`s cardiac anomaly. Kehamilan meningkatkan klirens lithium. Diekskresikan ke air
susu ibu dengan kadar 1/3 -1/2 kadar plasma (Katzung, 2010).

e. Efek samping Hipernatremia dan diabetes insipidus nefrogenik. Penggunaan lithium sebagai gangguan afektif, diabetes insipidus nefrogenik dapat diatasi dengan diuretik tiazid dan amiloride. Kardiotoksik (sick sinus syndrome), penurunan fungsi tiroid, tremor, dan leukositosis. Gagal ginjal akut. Penggunaan jangka lama menyebabkan nefritis interstitial kronis (Katzung, 2010). f. Interaksi obat Penggunaan bersamaan dengan diuretik menurunkan klirens lithium sampai 25% sehingga perlu penurunan dosis. Pernggunaan bersamaan dengan obat neuroleptik meningkatkan resiko terjadinya sindrom ekstrapiramidal (Katzung, 2010).

g. Dosis dan sediaan 0,5 mEq/kgBB/hari dalam dosis terbagi. Kadar serum plasma darah target 1 mmol/L atau 0,6-1,4 mEq/L dengan kadar toksik >2 mEq/L. Sediaan oral dalam bentuk lithium karbonat yaitu Eskalith kapsul 150, 300, 600 mg, Lithobid SR 300 mg, dan Eskalith CR 450 mg (Katzung, 2010). 2. Demeclocycline Demeclocycline merupakan antibiotik golongan tetracycline yang juga memiliki efek sebagai penghambat ADH (Katzung, 2010). a. Farmakodinamik Menghambat efek ADH pada duktus kolektivus dengan menurunkan

pembentukan cyclic adenosine monophospate (cAMP) sebagai respon ADH dan berinterferensi dengan kerja cAMP pada sel tubulus kolektivus (Katzung, 2010). b. Farmakokinetik A : diabsorpsi di usus dengan bioavailabilitas 60-70%. D : terikat protein 40-80%. Terdistribusi secara luas pada jaringan dan cairan tubuh kecuali cairan serebrospinal. M : dimetabolisme di hati. E : diekskresikan melalui urin 50%, feses 40%, dan empedu 10%. (Katzung, 2010). c. Indikasi Syndrome of Inappropiate ADH Secretion (SIADH) dan penyakit lain yang menngkatkan ADH seperti gagal jantung atau penyakit hati. Obat antagonis ADH diberikan pada penyakit-penyakit tersebut jika terapi restriksi cairan gagal. Antibiotik golongan intermediate acting tetracycline untuk infeksi mikoplasma, klamidia, riketsia, dan spirochaeta (Katzung, 2010). d. Kontraindikasi Pasien dengan penyakit hati dan anak kurang dari 12 tahun (ditimbun di dalam gigi menyebabkan perubahan warna dan displasia enamel). Kehamilan karena melewati sawar darah plasenta (Katzung, 2010).

e. Efek samping Gagal ginjal akut. Mual, anoreksia, diare (Katzung, 2010). f. Interaksi obat Demeclocycline berikatan dengan kation seperti kalsium, besi, dan magnesium sehingga dihindari pemberian secara oral dengan sumber kation tersebut (susu dan antasida) (Katzung, 2010). g. Dosis dan sediaan 600-1200 mg/hari dengan kadar plasma darah pada 2 g/mL. Sediaan oral (Declomycin, Declostatin, Ledermycin) tablet 150 mg dan 300 mg, kapsul 150 mg (Katzung, 2010).

C. Ekstrak Daun Teh Efek diuresis pada ekstrak teh disebabkan karena teh mengandung kafein.. Walaupun teh mengandung kadar kafein yang lebih tinggi daripada kopi, umumnya teh disajikan dalam kadar sajian yang jauh lebih rendah. Kandungan kafeina juga bervariasi pada jenis-jenis daun teh yang berbeda. Teh mengandung sejumlah kecil teobromina dan kadar teofilina yang sedikit lebih tinggi daripada kopi. Warna air teh bukanlah indikator yang baik untuk menentukan kandungan kafeina. Sebagai contoh, teh seperti teh hijau Jepang gyokuro yang berwarna lebih pucat mengandung jauh lebih banyak kafeina daripada teh lapsang souchong yang berwarna lebih gelap (Food Research International, 2000) Kafein memiliki efek yang beragam pada setiap individu. Beberapa individu akan merasakan efek secara langsung, sedangkan yang lain tidak merasakan efek sama sekali. Hal ini terkait dengan sifat genetika yang dimiliki oleh masing-masing individu terkait kemampuan metabolisme tubuh dalam mencerna kafein. Individu yang memiliki tipe enzim isozim tipe tertentu mampu memetabolisme kafein secara cepat dan efektif sehingga kafein dapat segera dirasakan manfaatnya. Tidak demikian pada individu dengan enzim isozim tipe lainnya, laju metabolisme kafein cenderung lambat sehingga efek dari kafein yang dikonsumsi tidak dirasakan atau cenderung berefek negatif. Kafein yang sudah mengalami metabolisme akan menghasilkan tiga metabolit dimetilxantin, yaitu (BPOM Indonesia, 2011):

1. Paraxanthine (84%) : meningkatkan lipolisis, sehingga kadar gliserol dan asam lemak dalam plasma darah bertambah. Inilah yang menyebabkan energi tubuh seseorang meningkat setelah minum kafein. 2. Theobromine (12%) : meningkatkan dilatasi pembuluh darah (aliran darah semakin cepat) dan meningkatkan volume urine (efek diuretik). 3. Teofilin (4%) : melemaskan otot-otot polos dari bronki. Ketiga metabolit tersebut selanjutnya dimetabolisme dan kemudian dikeluarkan tubuh melalui urin. Meskipun demikian, kemampuan tubuh untuk mengeluarkan hasil metabolit (waktu paruh) tersebut bervariasi pada setiap individu, tergantung usia, fungsi hati, kehamilan, konsumsi obat, dan konsentrasi enzim dalam hati. Pada orang dewasa sehat, waktu paruh kafein sekitar 4,9 jam. Pada wanita hamil, waktu paruhnya meningkat menjadi 9-11 jam. Pada wanita yang mengonsumsi pil KB waktu paruhnya adalah 5-10 jam. Pada bayi dan remaja waktu paruh lebih lama dibanding orang dewasa, pada bayi yang baru lahir mencapai 30 jam. Kafein dapat berakumulasi pada individu dengan kerusakan hati yang berat, waktu paruhnya meningkat hingga 96 jam (BPOM Indonesia, 2011).

- Ilyas, Sadeli. 2011. Diuretik. Available at akfarsam.ac.id/downlot.php?file=DIURETIK.pdf - Katzung, BG. 2010. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi X. Jakarta : EGC - Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia. 2011. Hal-hal yang Perlu Diwaspadai untuk Menghindari Keracunan Kafein dalam Minuman.Available at http://ik.pom.go.id/wpcontent/uploads/2011/11/Waspadai-Keracunan-Kafein-dalam-Minuman-Berenergi.pdf - Food Research International. 2000. Caffeine in Tea vs Sleeping Time. Journal of Food Research International. Vol. 29 :325 - 330