Anda di halaman 1dari 47

TEKNIK PERTAMBANGAN (KEILIRA AITASI)

Rabu, 13 Maret 2013

LAPORAN KP PT. SEMEN GRESIK (TUBAN)


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN KATA PENGANTAR..i DAFTAR ISIii DAFTAR GAMBAR..v DAFTAR LAMPIRAN...vi BAB I PENDAHULUAN.1 I.1. Latar Belakang1 I.2. Tujuan dan Manfaat..2 I.3. perumusan masalah..3 I.4. Metodologi Pengumpulan Data3 I.5. RuangLingkupKajianKerjaPraktek ..4 BAB II II.1. II.2. TINJAUAN UMUM..5 Profil Perusahan PT Semen Gresik (Persero)Tbk...5 Visi dan Misi.....7

II.3.
II.4.

Struktur Organisasi Perusahan.

....7

Sistim Menejemen PT Semen Gresik (persero)Tbk8

II.5. II.6. II.7. 2.8. 2.9. 2.10.

Sejarah..8 Iklim dan Curah Hujan10 Anak perusahan11 Keadaan Geologi.. Stratigrafi.. Target Produksi
DASAR TEORI....11

BAB

III

3.1. 3.2. 3.3.

Definisi Crusher....12 Jenis Jenis Crusher...................................................................................17 Alat pengecilan Ukuran (Size Reduction).....................................................17

IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN..........................................................16 IV.1. ANALISIS DATA..16 IV.1.1. Tinjauan Teknis Rencana Kerja Produksi Alat Muat Dan Alat Angkut..16 IV.1.1.1.Sasaran Produksi.16 IV.1.1.2. Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Alat..18 IV.1.1.3. Waktu Kerja..19 IV.1.1.4. Kemampuan Produksi21 IV.1.1.4.1. Kemampuan Alat Angkut...22 IV.1.1.4.2. Kecakapan Operator..23 IV.1.1.4.3. Kemampuan Alat Muat..24 IV.2. PEMBAHASAN..25 IV.2.1. Kemampuan Produksi Alat.25 IV.2.2. Penggunaan Alat..25 IV.2.3. Keserasian Kerja Alat..26 IV.2.4. Penyediaan Alat Mekanis Untuk Memenuhi Sasaran Produksi26 IV.2.5. Faktor Lain Yang Mempengaruhi Perlu Diperhatikan.27 V PENUTUP.28 V.1. Kesimpulan28 V.2. Saran..28

BAB

BAB

DAFTAR PUSTAKA...29 LAMPIRAN..30

BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakan Operasi dalam pengolahan mineral pada prinsipnya sama seperti yang telah dilakukan ribuan tahun yang lalu. Tentunya perkembangan peralatan dan system pengolahan pada masa sekarang ini telah sangat lebih modern, tetapi masalah yang di hadapi tetap sama, yaitu bagaimana mengolah mineral dengan sifatnya yang keras, abarasive, susunan kristal yang tidak homogen agar mendapat hasil pemisahan yang maksimal Pemrosesan atau pengolahan mineral adalah untuk meningkatkan mutu atau kualitas dan kegunaan dari suatu material dasar. Hasil pemrosesan yang dilakukan bisa berupa bongkahan bongkahan mineral dengan ukuran dan bentuk tertentu, ataupun hasil pengayaan kandungan logam secara maksimum. Pemorosesan mineral yang digolongkan berdasarkan ukuran produknya dan cara pemrosesannya dibagi menjadi dua yaitu secara kering atau basah. Pada proses kering tidak diperlukan air dalam proses ini, dan tidak boleh menggunakan air dalam proses ini. Sedangkan proses basah yaitu penggunaan air untuk efesiensi proses, instalasi yang lebih lengkap, dan tidak diinginkannya debu sebagai hasil proses. Batu kapur merupakan salah satu mineral industri yang banyak digukan oleh banyak industri ataupun konstruksi.salah satunya di industri semen.

Batu kapur dapat terbentuk dengan beberapa cara yaitu,secara organic, secara mekanik, ataupun secara kimia. Sebagian besar batu kapur dialam terjadi secara organic, jenis ini berasal dari pengendapat, cangkang/rumah kerang dan siput, foraminifera atau ganggang atau berasal dari binatang koral/kerang. Untuk batu kapur yang terjadi secara mekanik, sebetulnya bahannya tidak jauh berbeda dengan jenis batu kapur yang terjadi secara organic, yang membedakan adalah terjadi perombakan dari bahan batu kapur tersebut yang kemudian terbawah oleh arus dan biasanya diendapkan tidak jauh dari tempat semula. Sedangkan yang terjadi secara kimia adalah batu kapur yang terjadi dalam kondisi iklim dan suasana lingkungan tertentu dalam air laut ataupun air tawar. Penambangan batu kapur di Indonesia umumnya dilakukan dengan cara tambang Terbuka (Kuari) tanah penutup(Overburden) yang terdiri dari tanah liat, pasir, dan koral dikupas dahulu dengan menggukan bulldozer atau power scraperselanjutnya penambangan dilakukan dengan cara pengeboran dan peledakan, sampai diperoleh ukuran bongkah yang diingikan, bongkahaan yang terlalu besar akan di bor dan diledakan ulang (secondary blasting). Batu kapur dapat langsung digunakan sebagai bahan baku misalnya pada industri semen,akan tetapi untuk keperluan lainnya perlu pengolahan terlebih dahulu misalnya dengan pembakaran cara ini dimaksudkan untuk memperoleh kapur tohr. 1.2.Tujuan Dan Manfaat Adapun tujuan dari pelaksanaan kerja praktek sebagai berikut : a. Tujuan secara umum

1. Terciptanya suatu hubungan yang sinergis jelas terarah antara dunia perguruan tinggi dan dunia pertambangan dalam kegiatan penambangan. 2. Meningkatkan tingakat kepedulian dan partisipasi pada dunia industri pertambangan dalam memberikan kontribusi pada system pendidikan nasional. 3. Membuka pola pikir mahasiswa agar lebih mengetahui aplikasi kerja dilapangan. 4. Menggali seluruh potensi, wawasan mahasiswa agar dapat membandingkan materi perkuliahan yang didapat dengan mengaplikasikan kondisi kerja dilapangan.
b. Tujuan Secara Khusus

1. Mengetahui cara kerja alat Crusher dalam proses pengolahan bahan semen di PT.Semen Gresik ( persero) Tbk. 2. Mengetahui bahan bahan dasar yang digunakan dalam proses pembuatan semen di PT.Semen Gresik ( persero) Tbk. 3. Mengetahui jumlah rata rata produksi ton/jam yang dihasilkan dari alat Crusher di PT.Semen Gresik ( persero) Tbk.

1.3.Perumusan Masalah Permasalahan yang dikaji dalam kerja praktek ini mengenai proses pengolahan batu kapur sebagai bahan baku semen, dengan mengetahui reduksi ukuran batu kapur yang akan hasilkan dari alat crusher, di PT Semen Gresik

1.4.Metodelogi Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam kerja praktek ini adalah metode kerja praktek langsung dilapangan Data-data yang ada dilapangan digabungkan dengan teori yang relevan sehingga dari keduanya dapat diperoleh pendekatan penyelesaian masalah. Tahap penyelesaian masalah tersebut dilakukan sebagai berikut :

1. Study literratur,dilakukan untuk mencari bahan bahan pustaka yang menunjang selama melakukan kerja praktek dilapangan. 2. Pengamatan di Lapangan,yaitu melakukan pengamatan langsung meliputi : Cara pengambilan bahan dasar semen ( batu kapur ) Cara pembuatan semen. Cara kerja alat crusher Produksi rata rata Crusher setiap hari. Waktu kerja dan effisiensi kerja . Produksi dari alat crusher Target Produksi yang diinginkan. 3. Pengelompokan data yang diperoleh dilapangan : Pengambilan data bahan baku semen. Data produksi dari alat crusher . Data curah hujan mempengaruhi effsiensi kerja. Pengolahan data,dilakukan untuk mendapatkan data data yang akurat dilapangan secara langsung dan dapat diolah dalam bentuk penyusunan laporan. Surat perizinan,bertujuan untuk memberikan Izin Kerja Praktek dalam suatu perusahan selama satu bula . Penyusunan Laporan, pengamatan, pengambilan data secara langsung dilapangan dan pengolahan data.

1.5.Ruang Lingkup Kajian Kerja Praktek


1. Jadwal Kegiatan PKL : : PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.Lokasi : Jl. Sumberarum Kerek Tuban

at

Pelaksanaan : Tanggal 01 Maret 2012 sd 30 Maret 2012 2. Pelaksanaan Kegiatan PKL Pelaksanaan PKL dilaksanakan di Tuban I PT. Semen Gresik (Persero) Tbk. Jl.Sumberarum. Pelaksanaan kerja praktek ini berlangsung selama 30 hari, yaitu mulai dari tanggal 01. Maret 2012 sd tanggal 30. Maret 2012 .Pelaksanaan kegiatan praktek kerja lapangan ini dilakukan Lima kali dalam satu minggu.Waktu pelaksanaan kegiatan dilakukan setiap hari yaitu : Senin sampai Kamis : Pukul 08.00 sd. 16.00 WIB. Istirahat : Pukul 12.00 sd. 13.00 WIB. Jumat : Pukul 08.00 sd. 16.00 WIB. Istirahat : Pukul 11.00 sd, 13.00 WIB. Jumlah mahasiswa yang melakukan PKL sebanyak 1 orang.

BAB II TINJAUAN UMUM 2.1. PROFIL PT. SEMEN GRESIK( PERSERO ),Tbk
PT. Semen Gresik (Persero),Tbk merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terdiri dari pabrik semen unit I, unit II, unit III, dan unit IV. Pabrik Semen Gresik unit I dan II terletak di desa Sidomoro kecamatan kebomas kabupaten Gresik dengan luas bangunan 150.000 m 2 yang terletak di area 750 Ha. Pabrik semen gresik unit III terletak di desa Sumber Arum kecamatan kerek kabupaten Tuban Jawa Timur dengan luas bangunan 400.000 m2 yang terletak di area 1.500 Ha. Adapun pabrik unit III yang terletak di Kerek Tuban terbagi menjadi empat bagian. Sementara ini yang beroperasi adalah pabrik Tuban I, II dan III sedangkan untuk Tuban IV tidak beroperasi karena kendala modal dan lainnya. Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa digabung menjadi satu yaitu dengan nama Semen Gresik Group. Persaingan yang kian merajalela diantara perusahaan semen sekarang ini, memberikan motivasi kepada PT.Semen Gresik (Persero) untuk memberikan pelayanan yang lebih kepada konsumennya. Persaingan tidak hanya terjadi antar produk domestik, tetapi juga dengan produk impor sesuai dengan prinsip dasar pemasaran yang berorientasi kepada pelanggan (customer oriented) dimana pelanggan dalam hal ini adalah pemakai semen. Masing-masing perusahaan berusaha membuat produk baru yang diharapkan dapat mengakomodasi kebutuhan dan keinginan konsumen. 2.2. VISI DAN MISI PT SEMEN GRESIK (PERSERO),Tbk VISI : Menjadi Perusahaan Persemenan Terkemuka di Indonesia dan Asia Tenggara. MISI : Memproduksi, memperdagangkan semen dan produk terkait lainnya yang berorientasikan kepuasan konsumen dengan menggnakan teknologi yang ramah lingkungan. Mewujudkan manajemen perusahaan yang berstandar internasional dengan menjunjung tinggi etika bisnis, semangat kebersamaan, dan bertindak proaktif, efisien serta inovatif dalam berkarya. Memiliki keunggulan bersaing dalam pasar semen domestik dan internasional. Memberdayakan dan mensinergikan unit-unit usaha strategik untuk meningkatkan nilai tambah secara berkesinambungan. Memiliki komitmen terhadap peningkatan kesejahteraan pemangku kepentingan (stakeholders) terutama pemegang saham, karyawan dan masyarakat sekitar.

2.3. STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAN

Susunan Direksi
Direktur Utama Direktur litbang Direktur Produksi Direktur Keuangan Direktur SDM Direktur pengembangan usaha : Dwi Soetjipto : Ir Suharto : Ir Suparni : Drs Ahyanizzaman : Bambang Sugeng SI. : Erizal Bakar

2.4. SISTEM MENAJEMEN PT SEMEN GRESIK (PERSERO)Tbk. Dalam menghadapi tantangan era globalisasi pasar bebas, maka SGG telah menerapkan sistim manajemen dan mendapatkan beberapa sertifikat sebagai berikut: 1. Sistim Manajemen Mutu SNI 19-9001-2001 dan ISO 9001:2000, sertifikat No. ID03/0267 dari SGS sejak Mei 1996. 2. Sistim Manajemen Lingkungan ISO 14001:2004, sertifikat no GB01/19418 dari SGS sejak Februari 2001. 3. Sistim Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Sejak 1999 dan OHSAS 18001:2007 sejak bulan Nopember 2007 dari SGS. 4. Memperoleh Sertifikat Akreditasi Laboratorium Pengujian Bahan dari KAN yang telah menerapkan secara konsisten ISO/IEC 17025:2000 sejak Nopember 2002 dan ISO/IEC 17025:2005 sejak Maret 2007. 5. API Monogram Sertifikat no. 10A-0044 dari American Petroleum Institute New York. Semua Sistim Manajemen diatas diimplementasikan dengan mensyaratkan Management Continous Improvement dan penerapan Sub Sistem Manajemen meliputi : a. Gugus Kendali Mutu (GKM) b. 5 R c. Sistim Saran (SS) d. Total Productive Maintenance (TPM) e. TMM (Tim Midle Manegement) f. SGGAI (Sement Gresik Group aword on Inovasi) 2.5. SEJARAH SINGKAT PERKEMBANGAN PT. SEMEN GRESIK (PERSERO)Tbk. Sejarah dan perkembangan PT. Semen Gresik (Persero) Tbk. dibagi menjadi 3 (tiga) masa, yaitu : Masa Perintisan Masa Persiapan Masa Pelaksanaan Pembangunan Pabrik Semen Gresik yang diresmikan tanggal 7 Agustus 1957 adalah pabrik semen pertama yang dibangun setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tanggal 24 Oktober 1969, Semen Gresik merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pertama yang merubah statusnya menjadi Perseroan Terbatas dan pada tahun 1991, PT Semen Gresik menjadi BUMN pertama yang Go Public. Kemudian pada tahun 1994, perusahaan ini berhasil menyelesaikan perluasan pabrik semen di Tuban (Pabrik Semen Tuban I) dan terus berkembang hingga dari hasil perluasan tersebut dapat dibangun Pabrik Semen Tuban II dan kemudian Tuban III.

2.5.1. Produk Utama


Jenis-jenis semen yang diproduksi PT Semen Gresik (Persero) Tbk. adalah : 1.Ordinary Portland Cement (OPC) Merupakan jenis standar yang secara luas dipakai untuk bangunan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus. 2.Portland Pozzolan Cement (PPC) Untuk tipe semen Portland tipe II, III dan IV hanya dibuat berdasarkan pesanan sehingga sifatnya tidak kontinyu. 3.Special Blended Cement (SBC) Adalah semen khusus yang diciptakan untuk pembangunan mega proyek jembatan Surabaya Madura (Suramadu) dan cocok digunakan untuk bangunan di lingkungan air laut. Dikemas dalam bentuk curah. 2.5.1. Anak Perusahaan Dan Afiliasi 2.5.1.1.Anak Perusahaan o Anak perusahaan penghasil semen (cement making) PT. Semen Padang PT. Semen Tonasa o Anak perusahaan bukan penghasil semen (non cement making) 1. PT. United Tractor Semen Gresik (UTSG) PT. United Tractor Semen Gresik bergerak dalam bidang usaha : Pertambangan galian, bahan mentah yang digunakan untuk pembuatan semen. Pekerja sipil dan angkutan. 2. PT. Industri Kemasan Semen Gresik (IKSG) PT. Industri kemasan Semen Gresik bergerak dalam pembuatan kantong semen dan kantong industri kimia lainnya. 3. PT. Kawasan Industri Gresik PT. Kawasan Industri Gresik bergerak dalam bidang persewaan lahan industri, penjualan lahan industri, persewaan Bangunan Pabrik Siap Pakai (BPSP). 4. PT. Swadaya Graha PT. Swadaya Guna bergerak dalam bidang developer, kontraktor sipil dan listrik, kontraktor mekanikal, workshop dan manufacture. Untuk mendukung usaha tersebut, PT Swadaya Graha memiliki alat konstruksi dan alat berat. 5. PT. Varia Usaha PT. Varia Usaha bergerak dalam bidang : Jasa pengangkutan Perdagangan/distributor semen Pertambangan Fibrikasi mesin Perdagangan barang industri Bengkel mobil 2.5.1.2. Afiliasi 1. PT. Varia Usaha Beton

PT. Varia Usaha Beton bergerak dalam bidang usaha industri beton dan bangunan, yang meliputi tiga bidang yaitu: batu pecah mesin (Crushed Stone), beton siap pakai (Read Mix Concrete), dan beton pra cetak (Precast Concrete). 2. PT. Swabina Gatra PT. Swabina Gatra bergerak dalam bidang produksi kantong semen, pembersihan kantor (cleaning service), serta persewaan gudang dan kendaraan. 3. PT. Waru Abadi. 2.6. LOKASI PT SEMEN GRESIK ( PERSERO ) Tbk. PT. Semen Gresik (Persero ) Tbk. pabrik Tuban terdiri atas tiga unit yaitu Unit I, II, III, dan IV berlokasi di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur dengan luas area sekitar 1.500 hektar dan bangunan pabrik luasnya 400 ribu m3 meliputi Kecamatan Merakurak, Kecamatan Jenu dan Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Pabrik semen Tuban terletak 10 km dari pelabuhan PT. Semen Gresik kearah selatan dan 25 km dari pusat kota Tuban. Sedangkan untuk pabrik semen Gresik unit I dan III yang berlokasi di Desa Sidomoro, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur memiliki luas area sekitar 750 hektar dan luas bangunan mencapai 150.000 m3. Pabrik Tuban didirikan dengan beberapa pertimbangan, antara lain : 1. Bahan Baku Utama Bahan baku utama berupa batu kapur terletak di Desa Temandang 3 km dari lokasi pabrik. Sedangkan bahan baku berupa tanah liat terletak di Kecamatan Kerek 5 km dari lokasi pabrik. 2. Bahan Baku Pembantu Bahan baku pembantu diperoleh dari daerah sekitar, bahan baku pembantu berupa pasir silica diperoleh dari Tuban dan Madura. Pasir besi diperoleh dari Pasuruan, Probolinggo dan Cilacap. Bahan pengganti pasir besi adalah copper slage yang diperoleh dari Gresik. Gypsum diperoleh dari Petrokimia Gresik yang berupa gypsum sintetis. Untuk gypsum natural diperoleh dari Kalimantan atau import dari Thailand. Bahan pembantu berupa Trass didapat dari Tuban, Probolinggo, Pasuruan dan Lumajang. 3. Transportasi PT. Semen Gresik (Persero) Tbk. pabrik Tuban memiliki lokasi yang strategis karena lokasi pabrik terletak 10 km dari jalan raya yang menghubungkan kota Surabaya dan Semarang. Pabrik terletak dekat pelabuhan bahkan mempunyai pelabuhan sendiri sehingga transportasi lewat laut mudah dilakukan.

4.

Faktor Sosial Pabrik Tuban dapat menyerap banyak tenaga kerja sehingga dapat membantu program Pemerintah dalam menanggulangi masalah pengangguran. Untuk menjamin lancarnya operasi dan kegiatan-kegiatan dalam pabrik serta ketentraman para karyawan beserta keluarganya maka perusahaan menyediakan perumahan, fasilitas seperti rumah sakit, sarana pendidikan, sarana olah raga, koperasi maupun balai pertemuan. 5. Pemasaran

Dengan diadakannya konsolidasi antara tiga pabrik semen BUMN yaitu PT. Semen Gresik (Persero) Tbk. PT. Semen Padang (Persero) Tbk. PT. Semen Tonasa (Persero) Tbk. maka daerah pemasaran Semen Gresik dapat mencapai seluruh wilayah Indonesia, bahkan sudah diekspor ke luar negeri, antara lain ke Thailand, Vietnam dan Mexico. Pemasaran Semen Gresik melalui distributor yang tersebar diberbagai wilayah pemasaran khususnya di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Pada umumnya produk Semen Gresik ini sudah terkenal, maka dalam pengembangannya dalam pemasaran selalu meningkat.

2.6.1

Tata Letak Pabrik Tuban

Gambar 1. Lokasi dan Tata Letak Pabr

KETERANGAN GAMBAR :

1. 2. 3. 4. 5. 6.

limestone Crushing Clay Crushing Clay Storages Limestone Storages Raw Material Iron Silica Storages

13. Clinker Cooler 14. Clinker Storages 15. Central Control Room 16. Gypsum / Trass Bin 17. Cement Finish Grinding 18. Cement Storages Silo 19. Cement Packing and Load Out 20. Masjid 21. Dormitory 22. Kantor Utama 23. Utilitas 24. Bengkel Pemeliharaan Mesin

7. Raw Grinding 8. 9. Electrostatic Precipitator Coal Grinding

10. Blending Silo 11. Preheater 12. Rotary Kiln

Untuk tata letak/lay out pabrik seperti dapat dilihat pada gambar 1, disusun dengan pertimbangan sebagai berikut : 1. Unit unit penyiapan bahan baku seperti limestone dan clay crusher, limestone storage dan clay storage terletak tidak jauh dari area penambangan, hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam penyimpanan sementara sebelum material dibawa ke pabrik untuk diproses selain itu belt yang digunakan sebagai alat transport bahan baku yaitu Belt Conveyor panjang yakni sekitar 1 km dari pile (storage) ke raw material bin dan terbagi menjadi 5 alat. 2. Roller Mill dan unit pembakaran seperti Blending Silo, Coal Grinding, Preheater, Kiln dan Cooler terletak disatu area yang saling berdekatan, hal ini dimaksudkan agar proses aliran material dari alat alat tersebut menjadi lebih mudah dan singkat. Selain itu proses produksi akan berlangsung lebih cepat karena alat alat tersebut saling terkait satu sama lainnya. 3. Didekat unit penggilingan bahan baku/Roller Mill dan didekat Cooler dipasang Electrostatic Presipitator sebagai alat pemisah debu. Alasan kenapa EP (electrostatic presipitator) hanya dipasang didekat kedua alat itu adalah : Pada Roller Mill dan Cooler, debu yang keluar bersama gas pada alat ini memiliki suhu yang cukup tinggi yaitu 950C dimana hanya Electrostatic Presipatorlah yang dapat bertahan pada suhu tersebut sebab Bag Filter hanya mampu menangkap debu yang bercampur gas dengan suhu sekitar 40 0C. 4. Harga alat ini jauh lebih mahal dibandingkan dengan Bag Filter yang mempunyai fungsi yang sama. Dum Klinker dan gypsum storage terletak didekat unit Finish Mill sehingga transport material untuk penggilingan akhir sampai menjadi semen akan lebih mudah dan singkat.

5.

Semen Silo dan unit Packer berada pada satu tempat dan letaknya dekat dengan jalan yang merupakan jalur transportasi utama di pabrik yang mengarah ke pelabuhan, hal ini bertujuan untuk memudahkan truk - truk pengangkut semen keluar masuk pabrik untuk mendistribusikan ke konsumen. 2.7. IKLIM DAN CURAH HUJAN Daerah Tuban beriklim tropis, dan setiap tahunnya dipengaruhi oleh dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau berlangsung dari bulan Mei sampai bulan Oktober, sedangkan musim hujan berlangsung dari bulan November sampai bulan April. Data curah hujan diperoleh dari hasil pengamatan DPU pengairan DATI II Tuban pada daerah Kerek, dan menjadi arsip di PT. UTSG antara tahun 1992 - 2001. Dari data hasil pengamatan curah hujan rata-rata pada musim hujan adalah 164 mm/bulan dan curah hujan rata-rata pada musim kemarau adalah 43 mm/bulan. Suhu udara permukaan diwilayah penambangan, bervariasi antara 26C - 37C dengan suhu udara rata-rata adalah 36C.

2.8. KEADAAN GEOLOGI 2.8.1 Morfologi Secara umum morfologi daerah penambangan menjadi dua, yaitu: 1. Morfologi daerah perbukitan, dengan ketinggian antara 30 110 m diatas permukaan laut. Morfologi daerah ini terbentuk oleh satuan batugamping terumbu, lembah lembah kering sering dijumpai pada daerah utara-selatan dan sejajar satu sama lain. Sebagian batugamping ini tertutupi oleh lapisan tanah penutup dengan tebal sekitar 0,5 m. Oleh penduduk setempat daerah ini dijadikan lahan pertanian dengan menanami tanaman pangan seperti jagung, padi, ketela pohon, kacang hijau dan kacang tanah. 2. Satuan morfologi daratan rendah, dengan ketinggian 5 m 30 m diatas permukaan air laut. Morfologi daerah ini terbentuk oleh endapan alluvial terdiri dari Lumpur, lanau dan lempung berwarna coklat kekuningan. 2.8.2. Struktur Geologi Dari peta geologi daerah Tuban dan sekitarnya, maka dapat diperkirakan bahwa daerah Cekungan Rembang ini telah terjadi proses perlipatan yang menyebabkan terbentuknya struktur antiklin. Perlipatan dicekungan ini mempunyai arah umum Timur Barat. Sebagai akibat dari proses perlipatan tersebut terbentuklah struktur kekar dan struktur sesar.

2.9. STRATIGRAFI Menurut hasil pengamatan singkapan batuan yang dilakukan ahli geologi Van Bummelan (1949), daerah ini termasuk kedalam fisiografi Cekungan Rembang. Stratigrafi regional Cekungan Rembang ini mulai dari yang tertua sampai yang termuda dapat dilihat pada (Gambar 2). Berdasarkan hasil pengamatan, pada daerah penambangan batugamping terdapat dua satuan batuan, yaitu : 1. Satuan Batugamping Formasi Paciran Batugamping pada satuan Formasi Paciran merupakan batugamping terumbu yang berumur pliosen. Secara fisik batuan ini dapat dibedakan menjadi satuan batugamping keras dan lunak.

Batugamping terumbu keras bersifat kompak, kristalin, berwarna putih sampai coklat kekuningan, mengandung fosil koral, foraminifera dan moluska. Pada umumnya batugamping ini berongga rongga dan banyak didapat retakan-retakan yang telah terisi oleh kalsit. Batugamping ini merupakan 80% dari seluruh cadangan batugamping. 2. Satuan Batuan Formasi Notopuro Ketidakselarasan diatas satuan batugamping formasi paciran diendapkan batuan berumur holosen yang terdiri dari breksi, batupasir, tufaan dan tuff dan menempati daerah morfologi datar. Bisa dilihat pada gambar 2 dibawah ini.

Umur
Zaman Kala

Stratigraf i

Litolog i

Pemeria n

Holosen

Formasi Notopuro

Breksi, batupasir tufaan & tuf

Akhir

Plistose n
Tenga h

Formasi Kabuh
Batupasir tufan, sisipan

Kwarter
Awal

batulempung , konglomerat & tuf

Formasi Lidah
Pliosen Batulempung sisipan batupasir gampingan dan batu apung

Akhir

Formasi Mundu

Tenga h

Formasi Paciran

Formasi Wonocolo
Formasi Ledok

Batugamping napalan, batugamping dolomitan Batugamping koral dan Kalkarenit Batugamping pasiran, selang-seling batugamping klastik Batugamping gloukonit Batugamping pasiran sisipan napal Batugamping , batupasir kuarsa selang-seling batugamping klastik Napal pasiran dan batugamping bioklastik

Tersier
Miosen
Formasi Bulu

Awal

Formasi Ngrayon g
Formasi Tawun

Gambar 2. Umur Batuan


2.10. TARGET PRODUKSI Target produksi adalah suatu proses dimana dari kegiatan penambangan tersebut telah menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi. Maka pada awalnya target produksi PT. Semen Gresik memiliki nilai berkapasitas 250.000 ton/tahun dengan kemungkinan perluasan di masa yang akan datang. Setelah dua tahun pelaksanaan pembangunan proyek tepatnya pada tanggal 7 Agustus 1957 Presiden Soekarno meresmikan pabrik Semen Gresik dengan kapasitas 250 ton/tahun. Pada tahun 1961, pabrik Semen Gresik melakukan perluasan yang pertama dengan menambah satu tanur pembakaran sehingga kapasitas produksi meningkat menjadi 375.000 ton/tahun. Pada tanggal 17 April 1961, status NV. Semen Gresik berubah menjadi perusahaan negara, yaitu PN. Semen

Gresik. Dan terakhir tanggal 24 Oktober 1969, statusnya berubah lagi menjadi PT. Semen Gresik (Persero) Tbk. hingga sekarang. Pada tahun 1972, pabrik Semen Gresik melakukan perluasan yang kedua dengan menambah satu buah Kiln sehingga kapasitasnya menjadai 500 - 600 ribu ton/tahun. Kedua Kiln di atas adalah untuk proses basah. Pada tahun 1979, dilakukan perluasan ketiga dengan menambah dua buah Kiln untuk proses kering, sehingga kapasitas produksi menjadi 1,5 juta ton per tahun. Pada tahun 1988, dilakukan konversi bahan bakar dari minyak ke batubara sebagai upaya untuk menekan biaya bahan bakar. Pada bulan Juli 1991 semen Gresik menjadi BUMN pertama yang go public. Optimalisasi pabrik Semen Gresik dilakukan pada tahun 1992 dengan mengganti jenis Suspension Preheater dari Gepol menjadi Cyclone, sehingga kapasitas terpasang pabrik Semen Gresik Unit I dan II menjadi 1,8 juta ton per tahun. Pada tanggal 24 September 1994 peresmian Tuban I dengan kapasitas 2,3 juta ton semen pertahun oleh Presiden Soeharto. Bulan September 1995, PT. Semen Gresik (Persero) Tbk melakukan penjualan sahamnya kepada masyarakat untuk kedua kalinya sehingga komposisi kepemilikan saham menjadi 65 % milik Pemerintah dan 35 % milik masyarakat. Berkat disiplin dan kerjasama yang baik di antara para karyawan, maka pada tanggal 29 Mei 1996 PT. Semen Gresik (Persero) Tbk. memperoleh sertifikat ISO 9002 untuk Unit I, II dan III di Gresik dan Tuban. Semen Gresik menjadi BUMN pertama yang berubah status menjadi PT. Semen Gresik (Persero) Tbk pada tanggal 23 Oktober 1996. Pada tanggal 17 April 1997 dilakukan peresmian pabrik Semen Gresik Tuban II oleh Presiden Soeharto. Pabrik ini mempunyai kapasitas 2,3 juta ton/tahun. Pada tanggal 20 Maret 1998, Presiden Soeharto meresmikan pabrik Semen Tuban III yang juga berkapasitas 2,3 juta ton/tahun. Salah satu alasan didirikannya Unit III di Tuban ini adalah struktur geografis kota Tuban dan sekitarnya, yaitu pegunungan kapur yang mempunyai kemungkinan dilakukan penggalian bahan baku sampai dengan seratus tahun mendatang. Dengan berdirinya pabrik Semen Gresik Unit III ini, maka total kapasitas produksi menjadi 6,9 juta ton/tahun. BAB III

DASAR TEORI
Semen mempunyai arti kata yang mampu mengikat partikel-partikel menjadi satu.( Riyanto pada Tahun 1991). Istilah semen pertama kali dikemukakan pada zaman Roma yang mendapatkan bahwa campuran kapur tohor Gamping yang sudah dibakar (CO) dengan abu vulkanik dari kata Puzzuoli dapat menimbulkan reaksi terjadinya gumpalan yang menghablur kembali dan mengeras oleh bangsa Roma disebut sebagai Puzzoland Cement. Kemudian pada tahun 1824 oleh Joseph Aspdin, menjadi Portland cement dan semen Portland, yang sekarang ini banyak diproduksi oleh banyak industri semen yang ada di Indonesia saat ini. Industri Pertambangan merupakan suatu industri yang bergerak dibidang bahan galian logam maupun nonlogam, dan disisi lain pertambangan memiliki peranan yang sangat penting di berbagai sektor industri lainnya, seperti industri keramik, industri bahan bangunan, dan lain sebagainya. Semen merupakan salah satu bahan yang dimanfaatkan oleh industri bahan bangunan, dimana produk tersebut dapat memberikan kontribusi pada industri pertambangan, karena menggunakan bahan campuran yang di pakai dalam pembuatan semen terdiri dari beberapa bahan galian golongan C ( bahan galian industri ), yaitu seperti : batu kapur atau gamping, dan lempung atau tanah liat.

Batu gamping dipakai sebagai bahan baku utama, dan lempung atau tanah liat atau bahan pengganti lainnya dengan hasil akhir berupa padatan berbentuk bubuk ( bulk ), Tanpa memandang proses pembuatannya, yang mengeras atau membatu pada pencampuran dengan air. Batu kapur atau gamping adalah bahan alam yang mengandung senyawa Calcium Oksida ( CaO), sedangakan lempung atau tanah liat adalah bahan alam yang mengandung senyawa : silika Oksida ( SiO2), Alumina Oksida (AI2O3), besi oksida (Fe2O3) dan Magnesium Oksida (MgO) . Untuk menghasilkan semen, bahan baku tersebut dibakar sampai meleleh, sebagian untuk membentuk Clinkernya, kemudian dihancurkan dan ditambah dengan Gips ( gypsum ) dalam jumlah yang sesuai dengan ukuran komposisi yang dibutuhkan.

Crusher merupakan salah satu alat yang digunakan untuk menghancurkan jenis batuan yang keras dengan alat alat yang mendukung dalam proses pengahancuran : Dump truck Hopper Feeder Bahan baku yang diperoleh dari hasil penambangan dan diangkut dengan mengunakan dump truck kemudian dimasukan kedalamhopper. Fungsi dari alat hopper ini sendiri sebagai alat penampungan awal untuk memasukan ukuran batuan kedalam crusher. Hopper digunakan untuk menampung batu kapur yang tidak menggunakan kisi kisi dibagian atasnya sedangkan yang diperlukan untuk menampung tanah liat, silica dan pasir besi, dilengkapi dengan kisi kisi . Kisi kisi ini berguna untuk menyaring bahan yang ukuran diameternya lebih besar dan diperkirakan dapat mengangu system kerja crusher.Alat penghancur crusher dilengkapi dengan sebuah alat yaitu alat yang berfungsi untuk mengumpankan bahan baku yang masuk kedalam alat tersebut yang dinamakanfeeder.Crusher berfungsi untuk menghancurkan batu kapur. Crusher terdiri dari dua bagian yaitu, Bagian yang pertama disebutvibrator kegunaan untuk mengayak atau menyaring batu kapur. Sehingga batu kapur yang ukuranya lebih kecil akan langsung jatuh menuju pada belt conveyor. batu kapur yang tertinggal akan secara langsung menuju bagian yang kedua yaitu bagian yang memeliki alat pengahancur yang dinamakan Hammer. Setelah mengalami penghancuran batu kapur tersebut akan jatuh menuju belt conveyor yang sama. Crusher yang digunakan untuk menghancurkan tanah liat dan silica tidak dilengkapi dengan bagian hammer. Hal ini dilakukan karena bahan bahan tersebut cukup lunak dan terjadinya proses penghancuran pada bahan bahan seperti tanah liat, silica, pasir besi yang hanya merupakan proses penggilingan / penghancuran menjadi bahan bahan dengan ukuran lebih kecil. Setelah mengalami proses penghancuran bahan bahan tersebut dikirim menuju tempat penyimpanan yaitu Stock Pile dengan menggunakan belt conveyor. Penyimpanan bahan baku terdiri dari bagian utama : Stock Pile Bin Sedangkan alat alat penunjang yang membantu dalam penyimpanan bahan baku adalah: Tripper Reclaimer Pada umumnya Stock Pile dibagi menjadi dua bagian yaitu sisi kanan dan sisi kiri. Stock Pile memeliki bentuk kesamaan yang sama yaitu sebagai tempat penyimpanan bahan baku digunakan tripper. Stock Pile juga dilengkapi oleh reclaimer , reclaimer ini berfungsi untuk memindahkan atau mengambil raw material dari Stock Pile ke belt conveyor dengan kapasitas tertentu dan Sesuai dengan jumlah kebutuhan kerja alat itu sendiri. Kegunaannya untuk

menghomogenkan bahan baku yang akan dipindahkan ke belt conveyor.Selanjutnya bahan baku dikirim dengan menggunakan belt conveyor menuju tempat penyimpanan kedua. merupakan awalan masukan proses pembuatan semen yaitu Bin.Semua Bin dilengkapi dengan alat penditeksi ketinggian atau level indicator. Sehingga apabila Bin tersebut sudah penuh maka secara otomatis material - material tersebut dimasukan kedalam alat yang dinamakan bin setetelah itu akan terhenti.Khusus dalam penaganan gypsum. Stock Pile gypsum tidak dilengkapi dengan reclaimer di daerah Stock Pile. Gypsum dimasukan kedalam Hopper dengan menggunakan truck penyodok dan dikirim kedalam Bin dengan menggunakan belt conveyor kapasitas Hopper ini adalah 50 ton.
3.1. DEFINISI CRUSHER Crusher merupakan mesin yang dirancang untuk menghancurkan/mereduksi ukuran dari suatu jenis material. Crusher dapat digunakan untuk mengurangi ukuran atau mengubah bentuk bahan tambang sehingga dapat diolah lebih lanjut. Cruseher merupakan alat yang digunakan dalam proses crushing, Crushing merupakan proses yang bertujuan untuk meliberasi mineral yang diinginkan dari mineral pengotornya. Crushing biasanya dilakukan dengan proses kering, dan dibagi menjadi tiga tahap, yaitu Prymary crushing, secondary crushing, dan fine crushing. Prymari crushing merupakan Merupakan peremukan tahap pertama, alat peremuk yang biasanya digunakan pada tahap ini adalahJaw Crusher dan Gyratory Crusher. Umpan yang digunakan biasanya berasal dari hasil penambangan dengan ukuran berkisar 1500 mm, dengan ukuran setting antara 30 mm sampai 100 mm. Ukuran terbesar dari produk peremukan tahap pertama biasanya kurang dari 200 mm. Secondary Cruher merupakan peremukan tahap kedua, alat peremuk yang digunakan adalah Jaw Crusher ukuran kecil, Gyratory Crusher ukuran kecil, Cone Crusher, Hammer Mill dan Rolls. Umpan yang digunakan berkisar 150 mm, dengan ukuran antara 12,5 mm sampai 25,4 mm. Produk terbesar yang dihasilkan adalah 75 m. Fine crushing merupakan peremukan tahap lanjut dari secondary crushing, alat yang digunakan adalah Rolls, Dry Ball Mills, Disc Mills dan Ring Mills. Umpan yang biasanya digunakan kurang dari 25,4 mm.untuk memperkecil material hasil penambangan yang umumnya masih berukuran bongkah digunakan alat peremuk. Material hasil dari peremukan kemudian dilakukan pengayakan atau screening yang akan menghasilkan dua macam produk yaitu produk yang lolos ayakan yang disebut undersize yang merupakan produk yang akan diolah lebih lanjut atau sebagai produk akhir, dan material yang tidak lolos ayakan yang disebut oversize yang merupakan produk yang harus dilakukan peremukan ulang. 3.2. JENIS - JENIS CRUSHER Berikut ini ada beberapa type/ jenis crusher dan kegunaanya : 1. Jaw Crusher Jaw Crusher adalah type crusher yang paling umum, dimana sistem kerjanya memampatkan/menghimpit material hingga hancur, biasa digunakan untuk menghancurkan batu jenis batu yang keras, seperti batu kali, batu pegunungan, batu mineral, batu emas, batu mangan, batu besi, dsb dgn target penghancuran hanya sampai menjadi ukuran 1 - 5 cm. Unjuk kerja dari Jaw Crusher sangat-sangat ditentukan oleh ukuran Fly wheel ( Roda Gila) nya dan kekuatan Shaft, karena kedua komponen tersebut berperan vital. 2. Impact Crusher Impact Crusher adalah type crusher dengan sistem pukul rotary dengan kecepatan rpm yang cukup tinggi, Impact crusher biasa digunakan untuk menghancurkan batu kali dan batu gunung dengan ukuran

raw material tidak terlalu besar dan menghasilkan produk dengan ukuran yang kecil (sekitar 1 - 5 cm) yang variasi ukuran nya relatif lebih homogen. Mesin ini sangat cocok untuk memproduksi abu batu atau jagungan untuk bahan baku aspalt kering atau pembuatan paving block. 3. Roll Crusher Roll Crusher adalah type crusher dengan sistem gilas rotary dengan kecepatan rpm yang relatif lebih rendah dari impact crusher yaitu sekitar 300 rpm dan memiliki kapasitas produksi yang jauh lebih besar. Unjuk kerja dari mesin Roll Crusher ini bergantung pada jenis / kualiatas material gigi gilasnya, ukuran shaft dan ukuran Fly Wheel ( Roda Gila) nya, yang semuanya harus disesuaikan dengan raw material dan target kapasitas produksi. Roll Crusher biasa banyak digunakan didunia pertambangan, yaitu untuk menghancurkan batuan dengan tingkat kekerasan dan keuletan yang relatif rendah, seperti batu bara, batu kapur, bahan semen, batu tembaga, belerang, dsb.

4. Cone Crusher Cone Crusher adalah type crusher yang cukup spesial dan customize, prinsip kerja dari Cone Crusher ini yaitu menghimpit material secara vertical rotary dengan kecepatan rpm yang cukup sedang sekitar 500 rpm dan bertumpu pada kekuatan pegas. Cone Crusherini biasa digunakan sebagai secundery crusher, crusher lanjutan yaitu menghancurkan batuan dengan ukuran sekitar 5 - 10 cm utk menghasilkan ukuran yang dikehendaki. Kelebihan dari mesin Cone Crusher ini yaitu bisa menghasilkan struktur pecahan batu yang relatif homogen dengan bentuk cubical ( kotak) , sehingga sangat cocok untuk memproduksi batu tensla / batu pecah yang digunakan untuk pembuatan jalan raya. 5. Shredder / Crusher Potong Crusher Potong / Shredder adalah type crusher yang berfungsi multiguna, bekerja dengan prinsip memotong material dengan sistem rotary dan terdiri dari gigi pisau yang jumlah nya relatif banyak. Mesin Crusher ini biasa digunakan untuk menghancurkan / mereduksi ukuran menjadi serpihan kecil-kecil dari berbagai jenis limbah industri, seperti limbah otomotif, limbah elektronik, limbah cat, limbah kertas karton, limbah logam plant, dsb. 6. Crusher Plastik. Crusher ini merupakan type crusher potong juga, tetapi memiliki konstruksi yang agak berbeda, berkerja dengan sistem potong rotary dengan kecepatan rpm yg cukup tinggi. Biasa digunakan untuk menghancurkan segala jenis material yang terbuat dari bahan plastik menjadi serpihan dengan ukuran sekitar 1 cm2. 7. Hammer Mill Mesin Crusher jenis Hammer Mill ini adalah mesin crusher yang bekerja dengan prinsip pukul rotary dengan kecepatan rmp yang tinggi. Hampir sama dengan Impact Crusher, tetapi utk hammer mill biasa menghasilkan produk dengan kehalusan mencapai 80 mesh. Mesin Hammer mill ini biasa digunakan untuk memproduksi pasir halus, konsentrat mineral, mineral ore, tepung batu-batuan yg unsur unsur pembentuknya berupa butiran halus seperti kapur, dolomite, zeolit, dsb.

8. Hammer Roller Mill

Mesin crusher jenis ini prinsip kerja nya sama seperti mesin hammer mill, hanya saja proses nya dilanjutkan dengan roll mill. Mesin Hammer Roller mill digunakan untuk membuat konsentrat dari batu mineral dgn kekerasan tinggi, dan mampu menghasilkan produk dengan tingkat kehalusan tinggi yaitu mencapai 200 - 300 mesh. Sangat cocok utk digunakan dalam penambangan emas, penampangan tembaga, supplier pupuk, produksi dolomite, zeolit, batu kapur, dsb.
3.3. ALAT PENGECIL UKURAN (SIZE REDUCTION) Semua cara yang digunakan untuk memotong partikel zat padat dan dipecahkan menjadi kepingan kepingan yang lebih kecil dinamakan size reduction atau pemecahan/ pengecilan ukuran. Di dalam industri pengolahan, zat padat diperkecil dengan berbagai cara yang sesuai dengan tujuannya. Produk produk komersial biasanya harus memenuhi spesifikasi yang sangat ketat dalam hal ukuran maupun bentuk partikelnya yang sangat berpengaruh terhadap reaktifitas zat padat tersebut. Pemecahan ini juga dapat memisahkan komponen yang mungkin tidak diinginkan dengan cara mekanik, serta dapat juga memperkecil bahan bahan berserat untuk memudahkan proses penanganannya. Secara umum tujuan dari size reduction atau pemecahan ini adalah: Menghasilkan padatan dengan ukuran maupun spesifik permukaan tertentu Memecahkan bagian dari mineral atau kristal dari persenyawaan kimia yang terpaut pada padatan tertentu. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan alat size reduction: Ukuran umpan, Size reduction ratio, Distribusi ukuran partikel di arus produk, Kapasitas, Sifat bahan, seperti hardness, abrasiveness, stickiness, densitas, flammability. Kondisi basah atau kering. Beberapa cara untuk memperkecil ukuran zat padat dapat dilakukandengan menggunakan berbagai cara, yaitu: Kompresi (tekanan) Impak (pukulan) Atrisi (gesekan) Pemotong Kompresi umumnya digunakan untuk pemecahan kasar zat padat keras dengan menghasilkan relatif sedikit halusan. Pukulan menghasilkan zat yang berukuran kasar, sedang, dan halus. Atrisi menghasilkan zat yang sangat halus dari bahan yang lunak dan tidak abrasif, sedangkan pemotongan menghasilkan ukuran yang kasar dan beberapa yang halus. Peralatan pemecahan atau pengecilan ukuran zat padat dapat dibedakan berdasarkan bagaimana tenaga pemecah dilakukan, yaitu sebagai berikut: Antara dua permukaan padatan, seperti crushing dan shearing. Pada satu permukaan padatan, seperti pukulan ( impact). Tidak pada permukaan padatan tertentu tetapi sebagai media disekitar padatan, seperti coloid mill. Tidak dengan energi mekanik melainkan menggunakan thermal shock, explosive shattering, electrohydroulyc. Berdasarkan ukuran zat padat yang akan dikecilkan (umpan) maka peralatan pemecah atau pengecil ukuran zat padat dibedakan atas:

Pemecahan kasar, yaitu menghasilkan padatan dengan ukuran umpan antara 2 sampai 96 inchi. Pemecahan antara (intermediate), yaitu menghasilkan padatan dengan ukuran antara 2 sampai 3 inchi. Pemecah halus, yaitu menghasilkan padatan dengan ukuran 0.25 sampai 0.5 inchi. Berdasarkan cara kerja dan ukuaran produk yang diperoleh, maka peralatan size reduction dapat dibedakan menjadi empat kelompok yaitu: 1. Crusher (mesin pemecah) 2. Grinder (mesin giling) 3. Ultrafine Grinder (mesin giling ultra halus) 4. Cutting machine (mesin pemotong)

BAB IV PEMBAHASAN
4.1. PERSIAPAN BAHAN
Penambangan bahan baku di PT. Semen Gresik, Pabrik Tuban meliputi batu kapur (limestone) dan tanah liat (clay), yang dapat dipenuhi sendiri oleh PT Semen Gresik Tuban.Untuk bahan tambahannya adalah pasir besi diambil dari Jepara, Probolinggo, Cilacap, Banyuwangi. Oleh karena pasir besi sudah tidak dipakai lagi maka diganti dengan copper slag yang diperoleh dari Gresik. Sedangkan untuk pasir silika didatangkan dari Bangkalan, Cilacap, Banyuwangi, Cilacap, dan Banyuwangi. Untuk bahan penolong berupa gypsum dan trass di datangkan dari petrokimia gresik. Pada unit penyiapan bahan ini meliputi bahan berupa batu kapur dan tanah liat dari penambangan sampai pemecahan awal, karena untuk batu kapur dan tanah liat di penuhi sendiri oleh PT.semen Gresik. 4.1.1. Persiapan Batu Kapur Batu kapur diperoleh dengan cara dengan cara ditambang. Daerah penambangan batu kapur terletak di daerah sumderarum, pongpongan dan tana milik perhutani yang berjarak 4-5 km dari plant site kea rah tenggra. Ada beberapa tahap - tahap yang harus dilakukan dalam penambangan batu kapur meliputi : 1. Pembersihan (Clearing) yaitu pembersihan permukaan tanah dari kotoran yang menggangu proses penambagan, seperti semak semak dan rumput rumputan, pembersihan dilakukan dengan menggunakan bulldozer. 2. Pengupasan(stripping) Merupakan kegiatan pengupas tanah penutup yang mempunyai ketebalan lebih mencapai 1 2 mpermukaan tanha dari semak semak dan rumput rumput dengan bulldozer dan shovel. Tujuan pengupasan ini agar lapisan tanah yang tidak berguna dibersihkan atau dihilangkan karena dapat mengurangi persentase kandungan kapur.

3.

Pengeboran (Drilling) Untuk penambangan batu kapur terlebih dahulu dilakukan pengeboran guna pembuatan lubang ledak (Blast Hole). Jarak dan kedalaman lubang bor di sesuaikan dengan kondisi operasi penambangan, yaitu ;

Diameter lubang : 3 inch Kedalaman : 6 9 meter Jarak antar lubang 1,5 3 meter. Peralatan yang di pakai adalah crawl drill dan kompresor. 4. Peledakan (blasting) Langka pertama peledakan adalah mengisi lubang yang dibor dengan bahan peledak. Lubang yang tidak diisi dengan bahan peledak berfungsi untuk menahan getaran dan retakan akan ledakan yang di timbulkan. Bahan peledak yang digunakan terdiri atas ; Demotin (Dinamit Amonion Gelatin) sebagai bahan peledak primer ANFO (Campuran 96% Amonium Nitrat dan 4% Fuel Oil) sebagai bahan peledak sekunder. Detonator sebagai alat pemicu peledakan.material yang diperoleh berukuran maksimal 1,2 meter dengan jumlah ledakan 40 kali. 5. Pengerukan dan pemuatan ( Hauling and loading ) Batu kapur yang diledakan dikeruk dan diangkut dengan alat angkut shovel dan loader. Selanjutnya diangkut oleh dump truk crusher dan storage. 6. Penghancuran (Crushing) Proses penhancuran batu kapur dilalukan di limestone crusher dengan type hammer mill. Di dalam crusher batu kapur mengalami size reduction dari yang berukuran 80 cm menjadi 10 cm. Tujuan dari proses ini untuk memudahkan dalam proses selanjutnya. Berdasarkan kadarnya, batu kapur yang berada di temandang dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu : 1. Batu kapur jenis High Grade (HG) dengan kadar CaO > 51% 2. Batu kapur jenis Medium Grade (MG) dengan kadar CaO antara 49% - 51 % 3. Batu Kapur jenis Low Grade (LG) dengan kadar CaO < 49% Adapun sifat dari batu kapur adalah sebagai berikut : a. Warna : Putih,putih kecoklatan, dan putih keabuan b. Kilap : Kaca, dan tanah c. Goresan : Putih sampai putih keabuan d. Bidang belahan : Tidak teratur e. Pecahan : Uneven f. Kekerasan : 2,7 3,4 skala mohs g. Berat Jenis : 2,387 Ton/m3 h. Tenacity : Keras, Kompak, sebagian berongga 4.1.2. Persiapan Tanah Liat Tanah liat di ambil dari desa tobo,sugihan,temangdang, sembungrejo dan pongpongan. Jarak quary ke plant site sekitar 3 4 km kea rah timur laut. Tahap tahap penambangan tanah liat 1. pembersihan (clearing) merupakan pembersikan kotoran dan tumbuhan yang ada di atas lapisan tanah liat bengan menggunakan bulldozer. 2. pengupasan (stripping) merupakan pengupasan tanah yang bagian atas yang biasanya tanah humus dengan ketebalan kuran lebih 10 30 cm.

3.

pengerukkan (diggin) tahap ni merupakan tahap pengambilan tanah liat dari quarry.tanah liat di ambil dengan cara digali atau di keruk dengan mengunakan drag line, kemudian tanah liat di pindahkan kea lat angkut. 4. Pemuatan (loading) Tanah liat setelah di keruk dimasukkan ke dump truck dengan bantuan alat angkut shovel dibawah ke clay crusher dan storage. 5. Pengangkutan (hauling) Pada tahap ini tanah liat di angkut dari tambang ke tempat penimbunan tanah liat dekat pabrik. Tanah liat diambil dari area penambangan dengan menggunakan dump truck ke tempat benimbunan berdiameter 50 cm dan memiliki kadar air 25% diambil dengan loder atau dump truck kemudian diangkut ke crusher tanah liat. 4.2. UNIT PENYIAPAN BAHAN BAKU (SEKSI CRUSHER) Unit penyapan bahan baku utama yaitu batu kapur dan tanah liat meliputi proses penambangan bahan baku utama sampai pengecilan bahan baku dengan alat crusher, sehingga menjadi umpan yang siap diproses. Pada unit ini bertugas menyiapkan bahan baku utama dalam pembuatan semen, terdiri dari : 1. Persiapan batu kapur 2. Persiapan tanah liat Penjelasan dari kedua unit tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : 4.2.1. Unit Persiapan Batu Kapur Batu kapur yang ditampung dalam storage memiliki ukuran yang relative besar dan tidak seragam. Hal ini dapat mengganggu kelangsungan proses pembuatan semen selanjutnya.Oleh karena itu dibutuhkan pengecilan ukuran ( size reduction)dengan cara penggilingan menggunakan limestone crusher sehingga menjadi umpan yang siap diproses. T i p e limestone crusher yang digunakan adalah hammer mill crusher Tiap plant di pabrik Tuban memiliki dua unit hammer mill untuk batu kapur (limestone) yang dioperasikan hanya satu saja sedangkan satu lagi dalam keadaan stand by hammer mill memiliki kapasitas 700ton/jam Masing-masing dilengkapi dengan hopper yang berkapasitas 75ton yang berfungsi menerima material daridump truck ke dalam crusher hammer mill batu kapur akan mengalami size reduction (pengecilan ukuran) dimana batu kapur yang bonkahan besar 80 cm akan di hancurkan dengan hammer mill yang laju alirnya 700 ton/jam menjadi produk crusher yang berukuran 10 cm.. Hammer mill bekerja baik untuk menghancurkan batu kapur berdiameter maksimal 80 cm material yang diterima oleh hopper kemudian dengan gerakan wobble feeder material akan bergerak menujuhammer mill. Hanya material yang berukuran dari 10 cm saja yang dapat lolos dari sela-sela wobbler feeder dan dapat langsung turun menuju belt conveyor, Hammer mill dilengkapi dengan braker plate sebagai tempat tumpuan material yang dihancurkan oleh hammer yang berputar. Material yang masih kasar akan terbawa kembali oleh rantai yang berputar dan akan dihancurkankembali oleh hammer. Material yang lolos dari hammer mill kemudian diterima oleh belt conveyor dan akan bercampur dengan material yang lolos lewat sela-sela wobbler feeder.Produk crusher kemudian dibawa oleh belt conveyor menuju surge bin berkapasitas 500 ton. Kemudian material diumpankan oleh apron menuju belt conveyor. Beltconveyor yang membawa material keluar memiliki weight feeder untuk menimbang material yang melewatinya. Untuk menghindari debu yang ditimbulkan saat proses penggilingan maka digunakan alat penangkap debu bag filter.

4.2.2.

Unit Persiapan Tanah Liat Tanah liat yang ditampung dalam storage dimasukkan kedalam hopper kemudian dilewatkan apron menuju crusher tanah liat yang berupa double roll crusher. Roll yang digunakan bergerigi tajam dan memiliki kapasitas 350 ton/jam. Berbeda dengan crusher untuk batu kapur, crusher untuk tanah liat berbentuk pisau yang bergerak memotong dan mencacah tanah liat yang lewat. Karena bentuknya yang seperti pisau maka clay crusher dinamakan clay cutter. Produk berupa tanah liat yang telah terpotong-potong tersebut kemudian dibawa dengan menggunakan belt conveyor yang dilengkapi weight feeder. Batu kapur dan tanah liat yang telah melewati crusher, masing-masing dibawa oleh beltconveyor menuju mix belt conveyor tersebut dengan perbandingan komposisi pada umumnya 80% batu kapur dan 20% tanah liat.Perbandingan komposisi ini dapat dicapai dengan terlebih dahulu mengambil sampel batu kapur dan tanah liat pada masing msaing belt conveyor sebelum mix belt conveyor. Sampel ini kemudian dianalisa kandungannya di laboratorium untuk ditentukan nilai LSFnya. Dengan mengetahui komposisi sampel batu kapur dan tanah liat tersebut maka dapat diatur perbandingan jumlah batu kapur dan tanah liat yang harus dicampurkan.Pengaturan ini dilakukan dengan mengatur laju apron conveyor clay. Campuran batu kapur dan tanah liat yang dibawa oleh mix belt conveyor dikoreksi dengan batu kapur dengan kualitas super grade yang memiliki kadar kapur 80%. Setelah itu campuran tersebut diumpankan ke double roll crusher dengan tujuan size reduction dan homogenisasi campuran. Campuran batu kapur dan tanah liat yang telah melewati double roll crusher dijatuhkan dari belt conveyor dengan alat tripper untuk disimpan dalam suatu pile panjang sehingga terbentuk lapisanlapisan material yang berbentuk prisma segitiga,Terdapat dua pile di tiap plant pabrik Tuban dan masing-masing pile berkapasitas 45.000 ton. Ada juga sebagian batukapur (high grade) yang tidak dicampur dengan tanah liat karena akan digunakan sebagai bahan koreksi dan disimpan di pile tersendiri.Di dalam pile, campuran batu kapur dan tanah liat dijaga homogenitasnya. Homogenitas campuran batu kapur dan tanah liat dijaga dengan melakukan reclaiming. Alat penggaruk (reclaimer) yang digunakan di pabrik Tuban adalah FLS bridge type scrapper reclaimer dengan bentangan sepanjang 3 meter dankapasitas 885ton/jam. Reclaimer ini bekerja dengan cara menggaruk material pada pile kemudian mengangkat dan meletakkannya pada belt conveyor. Material yang telah digaruk oleh reclaimer kemudian dibawa dengan belt conveyor menuju bin campuran (mixed bin) berkapasitas 250 ton.

4.3. PROSES OPERASIONAL LIMESTONE CRUSHER DAN CLAY CRUSHER Batu kapur diangkut dengan menggunakan dump truck menuju Crusher. Ada 2 buah Crusher. Batu kapur ditumpahkan ke dalam hopper yang kapasitasnya 75 ton. Kemudian oleh Wobbler Feeder (1FE1) batu kapur dipisahkan. Untuk batu kapur yang ukurannya kecil (2,5 inch) akan jatuh ke dalam Belt Conveyor (1BC1 dan 1BC2) dan yang ukurannya besar (> 2,5 inch) akan jatuh ke dalam Crusher (1CR1 dan 1CR2). Di dalam Crusher, batu kapur akan mengalami pengecilan ukuran. batu kapur yang berupa bongkahan-bongkahan besar (2,5 inch) oleh Hammer Mill akan dipukul supaya bongkahan menjadi lebih halus.Dari Hopper dan Crusher batu kapur akan dibawa oleh belt conveyor (1BC1)dan (1 BC2) kemudian keduanya bertemu dalam 1 BC 3 dan diangkut menuju Surge Bin (1 FB 1), oleh Apron Conveyor (1 AC 1) selanjutnya turun ke 1 BC 4. Produk Limestone bercampur dengan produk Clay Cutter pada (1BC6 ) yang menuju ke Limestone Clay Mix Storage untuk dipreblending. Untuk proses alir Tanah Liat, material dibawa dari quarry dengan dump truck menuju Clay Hopper (1 HP 3). Kemudian oleh Apron Conveyor (1 AC 2) diumpankan ke Clay Cutter (1CR3) yang

berfungsi untuk memotong tanah liat sehingga memudahkan proses pengeringan. Produk dari Clay Cutter akan turun ke (1BC5) kemudian ditimbang oleh Belt scale (1 BW 2) yang terdapat dalam (1BC5), dimana clay dan batu kapur akan bercampur pada belt conveyor (1BC6) menuju ke Limestone Clay Storage untuk dipreblending. Sedangkan untuk proses alir material di reclaiming batu kapur dan tanah liat produk dari Crusher dibawa oleh belt conveyor untuk disimpan ke dalam Limestone Clay Storage yang berfungsi sebagai preblending. Sebagai alat untuk penumpukan digunakan Tripper (1TR1) yang dipasang pada bagian bawah atap dari bangunan storage. Ukuran Storage Limestone Clay Mix adalah 48,8m x 454 m, kapasitas total storage adalah 100.000 Mton dengan 2 stok Pile yang masing-masing 50.000.Mton.Pada Limestone Clay Mix Storage dilengkapi Reclaimer tipe Bridge Scrapper. Limestone produk dari Crusher dapat pula disimpan dalam Limestone Conical Pile yang kapasitasnya 7.200 Mton. Limestone Clay Mix yang ada dalam storage di reklaiming dengan Scrapper. Produknya dibawa Belt Conveyor (2BC1) dan dimasukkan dalam Mix bin (2BI 1). Batu kapur yang berada dalam Conical Pile dibawa oleh (2BC2) menuju ke Limestone Bin(2BI2). Pasir Besi dan Pasir Silika yang disimpan dalam Open Storage di reklaim dengan menggunakan Loader dan dimasukkan ke dalam Hopper (2 HP 1) yang kapasitasnya 75 ton secara bergantian. Keluar dari Hopper oleh Apron Conveyor ditransfer ke 2 BC 4 dan dibawa menuju ke Iron Bin( 2 BI 3 ) dan Silika Bin(2 BC 4 ) yang masing-masing mempunyai kapasitas 150 ton. 4.4. ASPEK ALAT CRUSHER DAN SPESIFIKASINYA Limestone Crusher adalah alat yang digunakan untuk menghancurkan batu kapur dari ukuran besar menjadi ukuran kecil sesuai ukuran yang diinginkan. Limestone Crusher ada beberapa tipe dan dalam pemilihannya didasarkan atas beberapa pertimbangan, antara lain : a. Karakteristik Material. Pada umumnya yang dipakai adalah untuk mengetahui indek kekerasan material (Compressive Strengh ),kandungan silica, abrasive material maupun sifat stickiness material. b. Kapasitas Produksi. c. Lokasi Peralatan dan d. Pemeliharaan alat 4.4.1. Crusher Yang Ada Di Pabrik Tuban. PT Semen Gresik (Perselo),tb PT semen Gresik ( Persero ) Pabrik Tuban di area Produksi Bahan Baku , terdapat beberapa peralatan crusher antara lain sebagai berikut : Tuban I , terdiri dari : Limestone Crusher : 2 Unit Clay Crusher : 1 Unit Tuban II , terdiri : Limestone Crusher : 2 Unit Secondary Crusher: 1 Unit Clay Crusher : 1 Unit Tuban III , terdiri : Limestone Crusher : 2 Unit Secondary Crusher : 1 Unit Clay Crusher : 1 Unit 4.4.2. Jenis Crusher Yang Di Gunakan Di Pabrik Tuban I 4.4.2.1. Crusher Untuk Batu Kapur (Limestone Crusher)

Limestone Crusher yang ada di Pabrik Tuban menggunakan Crusher jenis Single Shaft Hammer Crusher. Crusher ini memecah batu kapur dari ukuran umpan maksimum 1200 mm x 1200 mm menjadi ukuran produk dengan ukuran maksimum 75 mm. 1. Bagian-bagian Utama Peralatan Limestone Crusher. a. Hopper Hopper adalah tempat penampung material ( Batu Kapur ) dari Dump Truck sebelum di Crushing di Hammer Mill yang dibawahnya terdapat wobbler Fedder. b. Wobbler Feeder Peralatan ini berfungsi sebagai pembawa material ke Hammer Mill serta berfungsi sebagai penyaring material. Jadi material halus dengan ukuran dibawah 100 mm bisa langsung menjadi produk jatuh ke Belt conveyor di bawahnya melalui sela-sela wobbler bar , sedangkan material yang berukuran lebih besar akan masuk ke Hammer Mill untuk dihancurkan Transmisi dari Reducer ke poros penggerak Wobbler : Roller Chain : 2 P x 94 pitches ( RC 200 double ) Sprocket : 16 Tooth , 2 pitch ( sisi motor penggerak ). Shear sprocket : 40 Tooth , 2 pitch ( sisi shaft wobbler ). Transmisi dari poros penggerak wobbler sampai wobbler bar : Triple Roller Chain : RC 160 H3 , 2 P Triple sprocket : 15 tooth , 2 P ( sisi penggerak wobbler ) Triple sprocket : 17 tooth , 2 P ( sisi wobbler bar )

Hammer Mill Hammer Mill merupakan bagian utama pemecah batu kapur yang telah disaring oleh wobbler feeder. Hammer Mill Crusher terdiri dari 3 ( tiga ) baris dan masing masing baris terdiri 6 buah hammer.Hammer Crusher ini mempunyai tipe Non Clog Hammer Mill dengan spesifikasi 7270 HMIS 07 NC CB , d. Breaker Plate Breaker Plate adalah bagian yang berada didepan hammer yang berupa lempengan logam yang disambung menyerupai antai dan berputar searah jatuhnya material. Bagian ini berfungsi sebagai penahan batu kapur yang dihentakkan atau dilemparkan oleh hammer millagar dapat menjadi pecahan material yang lebih kecil dan untuk mencegah terjadinya penimbunan material. Jarak antara top hammer dengan Breaker Plate adalah 5 mm , dengan penggeraknya motor induksi 10 Hp putaran 1430 Rpm yang direduksi oleh reducer menjadi 11 RPM. e. Cleaning Bar Cleaning bar merupakan bagian yang hampir sama dengan Breaker Plate, tapi berada di belakang hammer mill berfungsi sebagai pembersih sisa-sisa batuan. Penggerak cleaning bar ini motor 10 HP dengan rpm 1430 yang direkduksi oleh reducer menjai 30 rpm. Selanjutnya ditransmisikan kembali melalui roller chain dengan reduksi sprocket menjadi 12.9 Rpm. f. Fly Wheel Fly whell berupa roda gila yang terpasang pada poros hammer untuk menjaga putaran poros hammer menjadi stabil. Dengan menggunakan momen kelembabaman dari

c.

fly wheel tersebut diharapkan jika terjadi hentakan mendadak karena ada batu keras atau besar beban poros hammer tidak terlalu besar perbedaannya. 4.4.2. Pemeliharaan Pengoperasian Alat Crusher dikendalikan dari Control Room (CCR ) masing-masing sehingga mempermudah dalam pengontrolan dan tidak perlu operator yang berlebihan. Beberapa hal hal yang harus diperhatikan setiap akan start peralatan adalah : Pastikan kondisi sekitar peralatan aman dari orang Pastikan kondisi peralatan yang akan dijalankan dalam kondisi siap dijalankan ,pengecekan meliputi : Cek kelengkapan komponen peralatan. Cek kekencangan semua sambungan baut-baut dan lain 2 Pastikan tidak ada benda asing yang berada di dalam atau sekitar peralatan sehingga dapat menggangu jalannya alat. Cek semua control yang ada dilapangan berfungsi semua dan dalam posisi on. 4.4.2.2.Crusher Untuk Tanah Liat (Clay Crusher) 2. Bagian Bagian Clay Crusher a. Hopper Hoper adalah tempat untuk menampung material ( Tanah Liat ) dari dump truck atau wheel loader , sebelum dipecah dalam clay cutter . Pemasangan dari hopper ini harus ditumpu oleh support yang kuat sehingga dapat menahan berat hopper itu sendiri dan material,sehingga tidak membebani appron feeder dibawahnya, Khusus untuk hopper clay ini diberikan lapisan anti lengket (xylethon) untuk menghindari terjadinya clay yang menggantung di hopper karena lengket. b. Appron Feeder Appron Feeder , pralatan ini berfungsi sebagai pembawa material dari hopper masuk ke bagian pemecah material ( Clay Cutter ) Appron Feeder ini digerakkan oleh motor dengan reduction gear box menjadi 2.16 rpm. c. Clay Cutter Clay Cutter adalah bagian berupa dua buah motor yang berisi blade cutter untuk memecah tanah liat. Dua buah roller tersebut berputar dengan putaran yang berbeda , yaitu slow roller axle ( Putaran Pelan ) dan Fast Roller Axle ( Putaran Cepat ) yang digerakkan oleh motor yang terpisah. Slow Roller axle Digerakkan oleh motor 110 Kw dengan kecepatan putar 735 rpm dan direduksi melalui Belt pulley menjadi 78.4 rpm. Fungsi utama slow roller ini untuk mendorong material tanah liat kearah bawah. Kedua roller axle ini berdiameter sama 650 mm. Fast Roller Axle Digerakkan oleh motor 132 Kw dengan kecepatan putar 735 rpm dan direduksi melalui belt pulley menjadi 92,8 rpm. Dengan adanya perbedaan kecepatan ini diharapkan diperoleh efek pemotongan yang lebih baik. -

4.4.3. Pengoperasian Alat Crusher

Sesuai dengan sifat material tanah liat yang mudah menempel maka sangat mungkin akan sering terjadi kebuntuan dan permasalahan pada peralatan.Akumulasi material ini jika dibiarkan cukup lama akan menjadi keras yang mana akan mempengaruhi kinerja alat , seperti putaran roller menjadi lebih berat ( Ampere Tinggi), dowel pin sering putus, blade cutter banyak yang patah , setting gap scrapper dengan roller berubah ubah dan lain-lainya.Untuk menjaga agar hal tersebut tidak terjadi maka setiap akhir operasi material dalam peralatan harus bersih dan diadakan pembersihan secara berkala. Untuk menjalankan Clay Cusher perlu diperhatikan beberapa hal : Pastikan kondisi sekitar peralatan aman dari orang. Chek Oil reducer sesuai levelnya dan pelumas bearing. Amati bagian sambungan baik yang dibaut atau dilas dalam keadaan baik. Check tegangan V Belt penggerak. Check keausan dan posisi scrapper appron dengan gap 2 mm. Amati tegangan blade Appron mungkin perlu penyetelan. Pastikan push button dan safety switch pada posisi yang benar Singkirkan semua benda yang dapat menggangu jalannya alat Jika ada hal yang tidak normal segera hubungi bagian pemeliharaan.

4.4.4 Transport Pile Alat transport yang dipergunakan diarea Crusher adalah belt conveyor dan tripper yang membawa material dari crusher menuju storage / tempat penyimpanan material mix ( batu Kapur dan Tanah liat ). a. Belt Conveyor : merupakan ban berjalan yang berfungsi untuk memindahkan material dari suatu tempat ke tempat lain.dimana terdiri dari rubber belt, carrying roll, return Idler , pulley, structure dan lain- lain. Tripper Sebagai alat pencurah akhir dari produk crusher yang didalamnya juga terdapat Belt Conveyor. Tripper ini sistem kerjanya adalah berjalan bolak balik sepanjang pile yang telah ditentukan. Penentuan pile ini mengunakan target target yang ada, pada saat ini Limestone Storage sepanjang lebih kurang 300 meter dibagi menjadi empat zone pile rata-rata 75 meter ( zone I , II , III , IV ) .Pembuatan pile dengan alat pencurah tripper ini untuk membuat material umpan dalam pile nantinya bisa menjadi lebih homogen. Tripper ini bekerjanya dikontrol oleh unit control Allen Bradley LSC- 500 yang dapat deprogram. LSC-500 menyediakan alat control untuk semua motor penggerak tripper dan interlock logic , dimana alat ini terpasang pada control panel Tripper. Semua peralatan lapangan, seperti end of travel switch, tension switch, dan lain-lain merupakan input control yang dihubungkan dengan kabel control dibawa ke LSC-500. Interface signal dari / ke DCS yang dari Tripper melalui multi Conductor kable. Kable control digulung dalam cable drum yang digerakkan oleh motor 380 V, demikian juga untuk Cable Power motor penggerak Tripper. Tripper ini dapat dioperasikan secara manual atau otomatis melalui control panel pada tripper atau melalui DCS.

b.

4.5 SPESIFIKASI PESAWAT 4.5.1. Unit Persiapan Bahan a. Penyiapan Batu Kapur (Limestone Crusher) 1. Crusher ( 231.CR ) Fungsi : menperkecil ukuran batu kapur Type : Non-Clog Hammer Mill model 7270 Merek : Bulldog Motor : 1.072 hp, 600 rpm, 6.000 volt Kapasitas : 700 ton/jam Bahan : Steel plat (ASTM 47) Jumlah hammer : 18 pcs Jumlah alat : 2 buah (231.CR-1) dan (231.CR-2) Ukuran produk : 0 60 mm, + 75 mm tidak boleh lebih 5% Ukuran rotor : 72 in Diameter shaft rotor : 16 in Type kopling : rubber dengen momen insersia 137,4 lb/ft Kadar air maksimum : 18 % ( dry basis ) obbler feeder (231.FE) 2. Wobble feeder ( 231.FE) Fungsi : Mengangkut batu kapur dari hopper ke crusher Type : Wobbler Kapasitas : 700 ton/jam Lebar : 1.524 mm Jumlah wobbler bar : 19 buah Motor :75 Kw, 1.500 rpm Pitch : 318 mm Jmlah alat : 2 buah Bahan : baja

3.

Bag filter (231.BF) Fungsi Type Kapasitas Temperature Tekanan Motor Jumlah alat Bahan belt conveyor ( 241.BC )

: menangkap debu batu kapur : backward Curved Bladed : 40.440 m/jam : 40c : -254 mmwg : 45 Kw, 1.500 rpm : 2 buah : baja

4.

fungsi kapasitas lebar kecepatan panjang motor kemiringan jumlah alat bahan 5. belt scale ( 241.BW ) Fungsi Kapasitas Lebar Kecepatan Jumlah alat

: mengankut batu kapur menuju mix bed storage : 1.200 ton/jam : 2.225 mm : 0,62 m/det : 15.695 mm : 14,6 Kw, 1.500 rpm : 8 : 7 buah : Rubber

: sebagai alat untuk menimbang batu kapur : 700 ton/jam (normal), 1.800 ton/jam (maksimum) : 2.000 mm : 1,8 m/s : 2 buah

b. 1.

penyaipan tanah liat ( clay) Clay Crusher ( 251.CR ) Fungsi Type Merek Jumlah alat Kapasitas Power Bulk density Kadar air Ukuran material masuk Ukuran produk crusher Dimensi inlet mouth Diameter dalam roller Diameterluar roller Power listrik terpasan Slow motor Fasi motor Bahan kontruksi Appron Conveyor (251.AC ) Fungsi Type Kapasitas

: Memperkecil ukuran tanah liat : Non-Clog double roll crusher RV 6,5 x 20 : Bedeshi Pedova : 1 buah : 350 ton/jam : 0,6 Kwh/ton semen : 1,35 1,76 ton/m : 30 % : 500 x 500 x500 (mm) : 90 mm : 1.200 x 1.980 mm : 650 mm : 790 mm : 110 Kw,735 rpm, 8 poles : 132 Kw, 735 rpm, 8 poles : baja Steinless

2.

: Mengangkut tanah liat dari hopper ke dalam crusher untuk size reduction : Rollor Supported : 350 ton/jam

Jumlah alat Motor Kecepatan rantai Lebar Bahan 3. Belt conveyor Fungsi kapasitas kecepatan Lebar Panjang Motor Bahan Jumlah 4. Belt Scale ( 251.BW ) Fungsi Kapasitas Lebar Kecepatan Jumlah alat

: 1 buah : 22,4 Kw, 1800 rpm : 0,61 6,1 m/mm. : 1500 mm : Baja Steinless

: mengangkut tanah liat dari clay crusher ke mix bed storage : 600 ton/jam : 0,5 m/det : 1.200 mm : 16 900 mm : 11 Kw, 1.500 rpm : Rubber : 1 buah

: Sebagai alat menimbang tanah liat : 300 ton/jam (nomal), 680 ton/jam (maksimal) : 1.200 mm : 1,02 m/det : 1 buah

4.6.WI OPERASI CRUSHER 4.6.1. Perencanaan Operasi Crusher I. Tujuan 1. Memberikan petunjuk cara perencanaan operasi Crusher yang meliputi pembuatan mix pile dan correction. 2. Menjamin hasil perencanaan operasi dengan akurasi tinggi sehingga dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya sesuai dengan kebutuhan dan jaminan terhadap peralatan yang dipergunakan. 3. Menjamin sistem dokumentasi yang dipersyaratkan, terkontrol dan terkendali.

II.

Langkah Kerja Menentukan jenis operasi pada awal pile. 2.1. Operasi mixed pile ( Limestone Clay )

Pertimbangan yang diperlukan untuk operasi mixed pile (Limestone Clay) adalah sebagai berikut :
a. Mixed pile kosong (isi penuh = 45.000 ton dengan panjang 150 meter) berdasarkan laporan atau pengisian mixed pile sesuai kesepakatan (kurang dari 45.000 ton sesuai panjang pengisian pile).

b. Posisi reclaimer sudah pindah di posisi mixed pile yang masih penuh. c. Jika telah ditetapkan untuk beroperasi maka melakukan perhitungan kebutuhan material batu kapur dan tanah liat berdasarkan komposisi yang telah ditetapkan oleh laboratorium - Operasi correction.

Pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan untuk operasi correction :


a. b. Mixed pile (East dan West) sudah penuh. Pile correction ada space untuk diisi dengan material correction.

- Stand by / tidak operasi

Pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan untuk stand by / tidak operasi :


a. Mixed pile (Limestone Clay) dan correction penuh, sehingga tidak ada tempat untuk mengisi lagi, maka peralatan di-stand by-kan. b. Bila ada salah satu alat penunjang (misal alat transport) atau alat utama mengalami gangguan sehingga tidak dapat operasi, maka semua peralatan di-standby-kan dan dilakukan perbaikan. Setelah menentukan jenis operasi segera menghubungi seksi-seksi terkait pendukung operasi meliputi : Perencanaan dan Pengawasan Tambang, Pengendalian Proses dan PT United Tractors Semen Gresik dan Raw Mill.

III.

DIAGRAM ALIR 3.1 Operasi Mixed Pile: Mixed pile kosong ( isi penuh = 45.000 ton dengan panjang 150 m ) berdasarkan laporan atau pengisian mixed pile sesuai kesepakatan ( kurang dari 45.000 ton sesuai panjang pengisian pile). Posisi reclaimer sudah pindah di posisi mixed pile yang masih penuh. Jika telah ditetapkan untuk beroperasi maka melakukan perhitungan kebutuhan material batu kapur dan tanah liat berdasarkan komposisi yang telah ditetapkan oleh laboratorium.

3.2 Operasi Corection: Pile correction ada space untuk diisi dengan material correction.

Mixed pile (East dan West) sudah penuh.

3.3. Stand By (Tidak Operasi)

Mixed pile (Limestone Clay) dan correction penuh, sehingga tidak ada tempat untuk mengisi lagi, maka peralatan di-standby-kan. Bila ada salah satu alat penunjang (misal alat transport) atau alat utama mengalami gangguan sehingga tidak dapat operasi, maka semua peralatan di-standby-kan dan dilakukan perbaikan.

IV.

ALAT-ALAT YANG DIPERGUNAKAN

V.

FORM/RECORD YANG TERKAIT: 1. Rencana Pembuatan Pile.

4.6.2.

OPERASI MIXED PILE (CAMPURAN LIMESTONE-CLAY)

I. TUJUAN
1. 2. Memberikan petunjuk cara pembuatan mixed pile (campuran Limestone-Clay). Menjamin hasil pembuatan pile yang berkualitas sesuai yang dipersyaratkan sehingga dapat dipertanggung jawabkan keakurasiannya sesuai dengan kebutuhan dan jaminan terhadap peralatan yang dipergunakan. 3. Menjamin sistem dokumentasi yang dipersyaratkan, terkontrol dan terkendali.

II.

LANGKAH KERJA

2.1 Tuban 1: 1. Berdasarkan rencana pembuatan pile, lakukan koordinasi dengan Pengawasan Tambang, PT. UTSG, Pengendalian Proses dan Raw Mill. 2. Lakukan pengecekan lapangan terhadap semua peralatan mulai transport pile dan peralatan utama (Limestone Crusher dan Clay Crusher) dan dinyatakan layak operasi serta aman. 3. Posisikan tripper dengan manual di area yang akan diisi material mixed (pile yang kosong). 4. Start group transport pile mulai dari Tripper (241TR1) sampai dengan 241BC1 atau 241BC2. 5. Pantau dan amati sampai kondisi peralatan beroperasi dengan normal. 6. Hubungi Main Sub untuk memastikan tegangan cukup untuk melakukan start goup Limestone Crusher dan Clay Crusher. 7. Start group Limestone Crusher (231CR1 atau 231CR2) dan Clay Crusher (251CR1). 8. Start Wobbler Feeder (231FE1 atau 231FE2) dan Appron Clay (251AC1) secara bersamaan. 9. Kendalikan feed limestone kurang lebih 1500 Ton/jam dan feed clay menyesuaikan setting prosentase yang ditetapkan. 10. Kendalikan operasi sampai kondisi normal dengan proporsi material Limestone dan Clay dari Pengendalian Proses. 11. Catat setiap jam kondisi operasional, masalah yang ada dan catat perolehan produksi di setiap akhir shift.

1.2 Tuban 2 dan 3:


1. Berdasarkan rencana pembuatan pile, lakukan koordinasi dengan Pengawasan Tambang, PT. UTSG, Pengendalian Proses dan Raw Mill. 2. Lakukan pengecekan lapangan terhadap semua peralatan mulai transport pile dan peralatan utama (Limestone Crusher dan Clay Crusher) dan dinyatakan layak operasi serta aman. 3. Posisikan selector lapangan dan tripper dengan manual di area yang akan diisi material mixed (pile yang kosong). 4. Pastikan selector 242BC6 atau 243BC6 mengarah ke Secondary Crusher 242CR1 atau 243CR1 (forward) kecuali dengan alasan yang kuat bisa tanpa Secondary Crusher (by pass / reverse). 5. Start group transport pile mulai dari Tripper (242TR1 atau 243TR1) sampai dengan 242BC4 atau 243BC4 dan Clay Crusher (252CR1 atau 253CR1). 6. Pantau dan amati sampai kondisi peralatan beroperasi dengan normal.

7. Hubungi Main Sub untuk memastikan tegangan cukup untuk melakukan start group Limestone Crusher. 8. Start group Limestone Crusher mulai 242BC3 atau 243BC3 dilanjutkan : - 242BC1 atau 242BC2 sampai 232CR1 atau 232CR2 (Tuban2). - 243BC1 atau 243BC2 sampai 233CR1 atau 233CR2 (Tuban3). 9. Start Wobbler Feeder untuk pengisian Surge Bin (242AC1 atau 243AC1). 10. Jika level Surge Bin di atas 50%, start Appron 242AC1 atau 243AC1 dan kendalikan feed kurang lebih 1500 T/jam. 11. Start Appron Clay setelah Appron Surge Bin dengan interval waktu 5 menit untuk Tuban 2 dan 13 menit untuk Tuban 3 dengan feed clay menyesuaikan setting prosentase yang ditetapkan. 12. Kendalikan operasi sampai kondisi normal dengan proporsi material Limestone dan Clay dari Pengendalian Proses. 13. Catat setiap jam kondisi operasional, masalah yang ada dan catat perolehan produksi di setiap akhir shift. III. DIAGRAM ALIR 3.1. Tuban 1:

Hubungi Main Sub untuk memastikan tegangan cukup untuk melakukan start group Limestone Crusher dan Clay Crusher. Pantau dan amati sampai kondisi peralatan beroperasi dengan normal. Start group Limestone Crusher dan Clay Crusher. Start Wobbler Feeder dan Appron Clay secara bersamaan.

Berdasarkan rencana pembuatan pile, lakukan koordinasi dengan Pengawasan Tambang, PT. UTSG, Pengendalian Proses dan Raw Mill.

Posisikan tripper dengan manual di area yang akan diisi material mixed (pile yang kosong). Lakukan pengecekan lapangan terhadap semua peralatan mulai transport pile dan peralatan utama (Limestone Crusher dan Clay Crusher) dan dinyatakan layak operasi serta aman. Start group transport pile mulai dari Tripper (241TR1) sampai dengan 241BC1 atau 241BC2. Kendalikan operasi sampai kondisi normal dengan proporsi material Limestone dan Clay dari Pengendalian Proses.

Catat setiap jam kondisi operasional, masalah yang ada dan catat perolehan produksi di setiap akhir shift.

3.2. Tuban 2 dan 3:

Berdasarkan rencana pembuatan pile, lakukan koordinasi dengan Pengawasan Tambang, PT. UTSG, Pengendalian Proses dan Raw Mill.

Lakukan pengecekan lapangan terhadap semua peralatan mulai transport pile dan peralatan utama (Limestone Crusher dan Clay Crusher) dan dinyatakan layak operasi serta aman. Posisikan selector lapangan dan tripper dengan manual di area yang akan diisi material mixed (pile yang kosong).

Catat setiap jam kondisi operasional, masalah yang ada dan catat perolehan produksi di setiap akhir shift.

Pastikan selector 242BC6 atau 243BC6 mengarah ke Secondary Crusher 242CR1 atau 243CR1 (forward) kecuali dengan alasan yang kuat bisa tanpa Secondary Crusher (by pass / reverse).

Start group transport pile mulai dari Tripper (242TR1 atau 243TR1) sampai dengan 242 BC4 atau 243 BC4 dan Clay Crusher 252CR1 atau 253CR1. Hubungi Main Sub untuk memastikan tegangan cukup untuk melakukan start group Limestone Crusher. Start group Limestone Crusher. Kendalikan operasi sampai kondisi normal dengan proporsi material Limestone dan Clay dari Pengendalian Proses. Pantau dan amati sampai kondisi peralatan beroperasi dengan normal. Jika level Surge Bin di atas 50%, start Appron 242AC1 atau 243AC1 dan kendalikan feed kurang lebih 1500 ton/jam. Start Appron Clay setelah Appron Surge Bin dengan interval waktu 5 menit untuk Tuban 2 dan 13 menit

untuk Tuban 3 dengan feed clay menyesuaikan setting prosentase yang ditetapkan.

IV. ALAT-ALAT YANG DIPERGUNAKAN

Tuban 1 Tuban 2 dan 3

: Meliputi Transport pile dan peralatan utama. : Transport pile dan peralatan utama.

V. 1. 2. 3. 4.6.3.

FORM/RECORD YANG TERKAIT :

Log Sheet Operasi Crusher Laporan Harian Operasional Seksi Operasi Crusher Rekapitulasi Produksi Crusher. OPERASI CORRECTION (LIMESTONE CORRECTION)

I. TUJUAN 12. Memberikan petunjuk cara pembuatan correction pile (Limestone-Correction). 13. Menjamin hasil pembuatan pile yang berkualitas sesuai yang dipersyaratkan sehingga dapat dipertanggung jawabkan keakurasiannya sesuai dengan kebutuhan dan jaminan terhadap peralatan yang dipergunakan. 14. Menjamin sistem dokumentasi yang dipersyaratkan, terkontrol dan terkendali.

II. LANGKAH KERJA


2.1 Tuban 1 : 1. Berdasarkan rencana pembuatan pile, lakukan koordinasi dengan Pengawasan Tambang, PT. UTSG, Pengendalian Proses, Raw Mill dan Swadaya. 2. Lakukan pengecekan lapangan terhadap semua peralatan mulai transport pile dan peralatan utama (Limestone Crusher) dan dinyatakan layak operasi serta aman. 3. Posisikan selector CCR untuk 241BC5 ke arah Correction Pile. 4. Start group transport pile mulai dari 241BC5 sampai dengan 241BC1 atau 241BC2. Pantau dan amati sampai kondisi peralatan beroperasi dengan normal. 5. Hubungi Main Sub untuk memastikan tegangan cukup untuk melakukan start goup Limestone Crusher (231CR1 atau 231CR2). 6. Start group Limestone Crusher. 7. Start Wobbler Feeder dan kendalikan operasi sampai kondisi normal dengan feed limestone kurang lebih 1500 Ton/jam. 8. Catat setiap jam kondisi operasional, masalah yang ada dan catat perolehan produksi di akhir shift. 2.2. Tuban 2 dan 3 : 1. Berdasarkan rencana pembuatan pile, lakukan koordinasi dengan Pengawasan Tambang, PT. UTSG, Pengendalian Proses, Raw Mill dan Swadaya. 2. Lakukan pengecekan lapangan terhadap semua peralatan mulai transport pile dan peralatan utama (Limestone Crusher) dan dinyatakan layak operasi serta aman.

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Posisikan selector lapangan dan tripper secara manual di area yang akan diisi correction (pile correction). Pastikan selector 242BC6 atau 243BC6 mengarah ke Secondary Crusher 242CR1 atau 243CR1 (forward) kecuali dengan alasan yang kuat bisa tanpa Secondary Crusher (by pass / reverse). Start group transport pile mulai dari Tripper (242TR1 atau 243TR1) sampai dengan 242BC4 atau 243BC4. Pantau dan amati sampai kondisi peralatan beroperasi dengan normal. Hubungi Main Sub untuk memastikan tegangan cukup untuk melakukan start group Limestone Crusher (Crusher 1 atau Crusher 2) Start Wobbler Feeder dan kendalikan operasi sampai kondisi normal untuk mengisi Surge Bin Bin (242AC1 atau 243AC1). Jika level Surge Bin di atas 50% start appron 242AC1 atau 243AC1 dan kendalikan feed kurang lebih 1500 T/jam. Catat setiap jam kondisi operasional, masalah yang ada dan catat perolehan produksi di akhir shift.

III. 3.1 Tuban 1:

DIAGRAM ALIR

Berdasarkan rencana pembuatan pile, lakukan koordinasi dengan Pengawasan Tambang, PT. UTSG, Pengendalian Proses, Raw Mill dan Swadaya.

Posisikan selector CCR untuk 241BC5 ke arah Correction Pile. Lakukan pengecekan lapangan terhadap semua peralatan mulai transport pile dan peralatan utama (Limestone Crusher) dan dinyatakan layak operasi serta aman.

Start group Limestone Crusher.

Start Wobbler Feeder dan kendalikan operasi sampai kondisi normal dengan feed limestone kurang lebih 1500 Ton/jam. Catat setiap jam kondisi operasional, masalah yang ada dan catat perolehan produksi di setiap akhir shift. Start group transport pile mulai dari 241BC5 sampai dengan 241BC1 atau 241BC2. Pantau dan amati sampai kondisi peralatan beroperasi dengan normal.

Hubungi Main Sub untuk memastikan tegangan cukup untuk melakukan start group Limestone Crusher (231CR1 atau 231CR2).

3.2 Tuban 2 dan 3:

Berdasarkan rencana pembuatan pile, lakukan koordinasi dengan Pengawasan Tambang, PT. UTSG, Pengendalian Proses, Raw Mill dan Swadaya. Lakukan pengecekan lapangan terhadap semua peralatan mulai transport pile dan peralatan utama

(Limestone Crusher) dan dinyatakan layak operasi serta aman. Posisikan selector lapangan dan tripper secara manual di area yang akan diisi correction (pile correction).

Pastikan selector 242BC6 atau 243BC6 mengarah ke Secondary Crusher 242CR1 atau 243CR1 (forward) kecuali dengan alasan yang kuat bisa tanpa Secondary Crusher (by pass / reverse).

Hubungi Main Sub untuk memastikan tegangan cukup untuk melakukan start group Limestone Crusher (Crusher 1 atau Crusher 2).

Start Wobbler Feeder dan kendalikan operasi sampai kondisi normal untuk mengisi Surge Bin Bin (242AC1 atau 243AC1).

Jika level Surge Bin di atas 50% start appron 242AC1 atau 243AC1 dan kendalikan feed kurang lebih 1500 ton/jam. Start group transport pile mulai dari Tripper (242TR1 atau 243TR1) sampai dengan 242BC4 atau 243BC4. Pantau dan amati sampai kondisi peralatan beroperasi dengan normal. Catat setiap jam kondisi operasional, masalah yang ada dan catat perolehan produksi di setiap akhir shift.

IV.

ALAT-ALAT YANG DIPERGUNAKAN Tuban 1 Tuban 2 dan 3 : Transport pile (241BC1 atau 241BC2 sampai dengan 241BC5) dan peralatan utama. : Transport pile dan peralatan utama.

V.

FORM/RECORD YANG TERKAIT: 1. Log Sheet Operasi Crusher 2. Laporan Harian Operasional Seksi Operasi Crusher 3. Rekapitulasi Produksi Crusher.

4.6.4. I.

INSPEKSI PERALATAN CRUSHER

TUJUAN 1. Memberikan petunjuk cara melakukan inspeksi peralatan Crusher. 2. Menjamin hasil inspeksi yang baik sesuai yang dipersyaratkan sehingga dapat dipertanggung jawabkan kevalidannya sesuai dengan kebutuhan. 3. Menjamin sistem dokumentasi yang dipersyaratkan, terkontrol dan terkendali.

II. LANGKAH KERJA 2.1 INSPEKSI BREAKER PLATE DAN CLEANING BARS Periksa kondisi sprocket, kekencangan rantai dan baut pengikat. Periksa kondisi link bar ,linkpin dan bronze bushung ( bergeser, retak & aus ) Periksa pelumasan pada bearing dan sprocket. Periksa kondisi motor, reducer, tentang : getaran, panas dan kelainan suara. Periksa kelainan pada alat, baut pengikat dan bersihkan kotoran. 2.2. INSPEKSI ROTOR HAMMER Periksa kondisi hammer terhadap geseran dengan liner Periksa kondisi rubber bushing (pecah, kendor, lepas). Periksa baut pengikat bearing, pelumasan, panas dan kelainan suara. Periksa tekanan sirkulasi pelumasan bearing : 20-30 psi. Periksa kondisi motor, fly wheel tentang getaran, panas dan suara. Periksa kelainan pada alat, baut pengikat dan bersihkan kotoran. 2.3. INSPEKSI WOBBLER FEEDER rantai Periksa kondisi sprocket, kekencangan rantai dan baut pengikat. Periksa kondisi wobbler bars, mungkin bergeser. Periksa splai tekanan hidrolik kekencangan rantai : 75 - 85 psi. Periksa tekanan sirkulasi pelumasan bearing : 20 -30 psi. Periksa kondisi motor, fly wheel tentang getaran, panas dan kelainan suara. Periksa kelainan pada alat, baut pengikat dan bersihkan kotoran. 2.4. INSPEKSI BAG FILTER Periksa kondisi motor, fan, v-belt, tentang getaran, panas dan kelainan suara. Periksa kondisi motor, reducer tentang : getaran, panas dan kelainan suara. Periksa kebocoran atau kebuntuan bag. Periksa kebocoran chasing dan kebuntuan hopper.

hain aft

ft, liner ng hammer

ubrikasi

e unit cked

pper

III.

DIAGRAM ALIR 3.1. INSPEKSI BREAKER PLATE DAN CLEANING BARS

Periksa kondisi sprocket, kekencangan rantai dan baut pengikat. Periksa kondisi link bar mungkin bergeser.

Periksa pelumasan pada bearing dan sprocket. Periksa kondisi motor, reducer, tentang : getaran, panas dan kelainan suara Periksa kelainan pada alat, baut pengikat dan bersihkan kotoran.

3.2. INSPEKSI ROTOR HAMMER

Periksa kondisi hammer terhadap geseran dengan liner

Periksa kondisi rubber bushing (pecah, kendor, lepas).

Periksa baut pengikat bearing, pelumasan, panas dan kelainan suara

Periksa tekanan sirkulasi pelumasan bearing : 20-30 psi. Periksa kondisi motor, fly wheel tentang getaran, panas dan suara. Periksa kelainan pada alat, baut pengikat dan bersihkan kotoran

3.3. INSPEKSI WOBBLER FEEDER

Periksa kondisi sprocket, kekencangan rantai dan baut pengikat.

Periksa kondisi wobbler bars, mungkin bergeser. Periksa splai tekanan hidrolik kekencangan rantai : 75 - 85 psi.

Periksa tekanan sirkulasi pelumasan bearing : 20 -30 psi.

Periksa kondisi motor, fly wheel tentang getaran, panas dan kelainan suara. Periksa kelainan pada alat, baut pengikat dan bersihkan kotoran.

3.4. INSPEKSI BAG FILTER

Periksa kondisi motor, fan, v-belt, tentang getaran, panas dan kelainan suara. Periksa kondisi motor, reducer tentang : getaran, panas dan kelainan suara. Periksa kebocoran atau kebuntuan bag.

oran chasing dan kebuntuan hopper.

IV.

ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN

V.

FORM/RECODR YANG TERKAIT 1. Schedule inspeksi operasi crusher 2. 3. Check list inspeksi crusher Laporan Harian Preventive Seksi Operasi Crusher

BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN Program kegiatan praktek kerja lapangan yang telah kami melaksanakan kurang lebih selama 30 hari, terdapat persamaan dan juga perbedaan antara aspek-aspek pengetahuan, pemahaman dan keterampilan secara teoritis yang telah diperoleh selama di bangku kuliah, dengan kenyataan yang ada dilapangan.Dan hal itu justru dapat saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Semoga dengan kerja praktek ini dapat tercipta kesatuan wawasan, pengertian dan gerak langkah antara semua pihak yang terlibat sehingga memungkinkan terwujudnya atmosfir yang komunikatif dan dinamis dalam pelaksanaan kerja praktek sesungguhnya. Adapun hal-hal penting yang dapat disimpulkan diantaranya:

1. kerja Praktek merupakan sarana atau wadah untuk menerapkanteori yang didapat selama kuliah dengan keadaan dilapangan.. 2. Pada umumnya kegiatan PKL ini berjalan cukup baik. Namun kami belum sepenuhnya merasakan bagaimana sebenarnya dunia kerja itu karenatidak jelasnya kegiatan apa saja yang harus kami lakukan di perusahaan. Tapi ada beberapa hal juga yang memang harus dibenahi oleh pihak Jurusan agar nantinya dapat menjadikan kegiatan PKL di masa mendatang berjalan jauh lebih baik lagi.
B. SARAN Adapun saran yang bisa dipertimbangkan dari Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan di PT.Semen Gresik (Persero) Tbk. antara lain : 1. Selama kami melakukan Praktek Kerja Lapangan fasilitas APD (Alat Pelindung Diri) yang kami gunakan tidak sesuai yang kami harapkan misalnya kacamata, dan ear protector tidak di sediakan oleh bagian K-3. 2. Selama kami melakukan Praktek Kerja Lapangan,seringkali terdapat pekerja dan tamu luar pabrik yang kurang memiliki kesadaran dalam memanfaatkan APD (Alat Pelindung Diri) yang ada, guna keselamatan diri.

Diposkan oleh savio keilira di 12.19 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Tidak ada komentar: Poskan Komentar

Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda


Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Arsip Blog
o o 2013 (18) Februari (2) Maret (16) Mar 01 (3) Mar 13 (11) PROPOSAL TUGAS AKHIR TENTANG BATUBARA LAPORAN KP PT. SEMEN GRESIK (TUBAN) mekanika batuan TEKNIK PERTAMBANGAN (KEILIRA AITASI): mekanika bat... TEKNIK PERTAMBANGAN (KEILIRA AITASI): LAPORAN KP P... TEKNIK PERTAMBANGAN (KEILIRA AITASI): TEKNIK PERTA... TEKNIK PERTAMBANGAN (KEILIRA AITASI): SISTEM PENIR... TEKNIK PERTAMBANGAN (KEILIRA AITASI): SURFACE MINI... TEKNIK PERTAMBANGAN (KEILIRA AITASI): ILMU BATUBAR... TEKNIK PERTAMBANGAN (KEILIRA AITASI): METODE PENAM... TEKNIK PERTAMBANGAN (KEILIRA AITASI): tentang batu... Mar 18 (1) Mar 25 (1)

KEILIRA PERTAMBANGAN

savio keilira Lihat profil lengkapku savio. Template Travel. Diberdayakan oleh Blogger.