Anda di halaman 1dari 25

Pembakuan Qiraat Aim Mustofa 221 221

Pembakuan Qira'at Aim Riwayat af dalam Sejarah dan Jejaknya di Indonesia


Mustofa Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Jakarta.
Sedikitnya terdapat tujuh macam qiraat (bacaan) yang bisa digunakan kaum Muslimin untuk membaca Al-Quran yang disepakati ulama kesahihannya. Namun, dari tujuh qiraat ini, hanya qiraat Asim saja yang paling banyak dipakai oleh kaum Muslimin di dunia, termasuk Indonesia. Tulisan ini menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi pembakuan dan penyebaran qiraat Asim riwayat Hafs. Selain kualitas sanad dan kemudahan qiraat, faktor lain yang turut menyebabkan meluasnya qiraat Asim adalah faktor kekuasaan. Jejak qiraat ini bisa dilihat melalui penerbitan AlQuran di sejumlah negara, termasuk di Indonesia. Kata kunci: qiraat, qiraat sabah, sanad, mushaf kuno. There are at least seven types of qiraat (ways of Quranic recitation) used by Muslims to recite the Quran whose authenticity is agreed upon by Muslim scholars. However, of the seven types of Quranic recitation, it is that of Asim that is used most widely by the Muslims all over the world, including in Indonesia. This article explains the factors which led to the widespread adoption and implementation of the Quranic recitation of Asim, based on the narration of Hafs. Apart from the high quality of its chain of transmission and the ease of recitation, another reason for the wide dissemination of Asims recitation is the factor of (temporal) power. The spread of this version of recitation (qiraat) can be traced through publications of the Quran in various countries, including in Indonesia. Key words: qiraat, qiraat sabah, sanad, old Quran.

Pendahuluan Ketika ayat-ayat Al-Quran diturunkan, Nabi Muhammad saw beberapa kali meminta kepada malaikat Jibril a.s. untuk menambahkan bacaan Al-Quran yang diberikan kepadanya. Rasulullah tampak merasa kurang dengan hanya satu bacaan yang disampaikan malaikat Jibril. Untuk itulah malaikat penyampai wahyu ini, melalui petunjuk Allah, menambahkan qiraat (bacaan) Al-Quran kepada Nabi Muhammad. Demikianlah pemaknaan hadis yang

222 222 uuf, Vol. 4, No. 2, 2011: 221 245 diriwayatkan Imam al-Bukhr dan Muslim yang bersumber dari Ibnu Abbs. Hadis ini menjadi dalil otoritatif yang cukup popular bagi penggiat kajian Ulumul Quran yang melegitimasi dan sekaligus memberikan informasi yang valid tentang eksistensi qiraat tujuh ( )1 dalam disiplin ilmu Ulumul Quran. Selain hadis di atas, terdapat beberapa hadis lain yang bertutur tentang qiraat sabah, di antaranya adalah hadis yang bersumber dari Umar bin Khab yang suatu ketika berselisih bacaan dengan Hisym bin akim ketika membaca potongan ayat Surah al-Furqn dalam satu pelaksanaan salat, yang di kemudian hari, singkat cerita, bacaan keduanya yang berbeda itu dibenarkan semua oleh Rasulullah. Di akhir hadisnya Rasulullah kemudian menjelaskan,

.
2

,
(

Demikianlah Kitab ini diturunkan, sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah yang mudah darinya. (Riwayat al-Bukhr dan Muslim)

Dalam beberapa riwayat dari hadis-hadis tentang arufussabah ini Nabi mengemukakan kepada Allah tentang sebab
Perlu dibedakan secara tegas dalam hal ini, antara sabatu aruf dengan al-qir'h as-saba. Penegasan ini penting, karena sementara orang banyak yang menyamakan begitu saja dua term ini. Al-Aruf as-Sabah adalah sebuah term dalam hadis yang kedudukannya lebih umum ketimbang al-qir'h as-saba yang disandarkan pada tujuh imam qiraat. Karena itu, al-qir'h as-saba adalah bagian dari penafsiran tentang sabatu aruf sebagaimana tercantum dalam hadis riwayat Ibnu Abbs. Ibrhm an-Nimah, Ulmul-Qur'n, tp: t.t, 2008, hlm. 59. 2 Ab Abdillh Muammad bin Isml al-Bukhr, aul-Bukhr, bab Unzilal-Qurn al Sabati Arufin Hadis No. 4706; Abi usain Muslim bin al-ajjj, al-Jmi a-a, bab Annal-Qur'na al Sabati Arufin, Hadis No. 936. Hadis ini sangat popular di kalangan penggiat Ulumul-Qur'an, khususnya dalam disiplin ilmu qiraat, karena hadis ini, sebagaimana dikemukakan as-Suyu dalam kitabnya, al-Itqn, diriwayatkan oleh 21 orang sahabat. Tim Tafsir Departemen Agama RI, Muqaddimah Al-Quran dan Tafsirnya, Jakarta: Lajnah Pentashihan Muhaf Al-Quran, 2008, hlm. 317; Ibrhm an-Nimah dalam bukunya, di lain sisi, menjelaskan bahwa hadis tentang sabatu aruf ini diriwayatkan oleh 24 orang sahabat. Lihat Ibrhm an-Nimah, op.cit., hlm. 49; dan memiliki 46 sanad, Gnm Qaddr al-amad, Rasmul-Muaf, Dirsah Lugwiyah Trikhiyyah, Baghdad: Lajnah Waaniyyah, 1982, hlm. 130.
1

Pembakuan Qiraat Aim Mustofa 223 223

mengapa ia menyampaikan permintaan tersebut, yaitu bahwa umatnya terdiri dari berbagai macam lapisan masyarakat dan umur. Ada yang tidak bisa membaca dan menulis, ada yang sudah tua dan ada pula yang masih kecil. Semuanya adalah pembaca Al-Quran. Jika mereka diharuskan membaca Al-Quran dengan satu variasi bacaan saja, akan mengalami kesulitan. Padahal Al-Quran harus disosialisasikan kepada masyarakat.3 Untuk itulah Allah kemudian menurunkan Al-Quran dengan sejumlah variasi bacaan yang popular dengan sebutan al-qir't as-sab. Perdebatan yang kemudian muncul dalam kaitan ini adalah penafsiran kata aruf yang termaktub dalam sejumlah hadis yang berbicara tentang hal ini. As-Suy, sebagaimana dikutip Abdurramn bin Ibrhm, berpendapat tidak kurang dari 40 penafsiran yang mencoba menjelaskan kata aruf ini.4 Perdebatan tersebut juga tidak hanya berkutat pada kata aruf, namun juga pada kata as-sab yang mengiringinya, sehingga pemaknaan al-qir't assab menjadi begitu luas dan complicated. Masa kepemimpinan Khalifah Umn, yang menjadi tonggak pertama pembakuan berbagai versi bacaan Al-Quran, kurang memberikan petunjuk yang pasti tentang makna yang terkandung dalam kata sabatu aruf yang belakangan banyak diperdebatkan ulama. Pembukuan mushaf yang dilakukan Khalifah Umn dengan demikian tidak berarti menghentikan munculnya variasi bacaan AlQuran. Seiring perjalanan waktu, variasi bacaan itu semakin beragam, dan bahkan tidak terkontrol. Fenomena munculnya variasi bacaan yang semakin beragam ini muncul setelah kepemimpinan Umn hingga menyentuh awal-awal abad ke 4 Hijriah. Pada masa itulah, tepatnya pada tahun 322 H., Khalifah Abbasiah lewat dua orang menterinya Ibnu s dan Ibnu Muqlah, memerintahkan Ibnu Mujhid (w. 324 H) melakukan penertiban. Penertiban itu sendiri dilakukan karena bacaan-bacaan yang muncul nampak semakin liar. Ibnu Mujhid sendiri adalah seorang pakar qiraat dan ilmuilmu Al-Quran yang bekerja pada pemerintahan Abbasiah. Pemerintahan ini merasa prihatin dengan banyaknya versi bacaan Al-

3 4

Tim Tafsir Depag, ibid. Ab Amr ad-Dn, ibid, hlm. 5.

224 224 uuf, Vol. 4, No. 2, 2011: 221 245 Quran yang beredar.5 Dalam buku Ijzul-Qir't al-Qur'niah, abar al-Asywa bahkan menjelaskan, bahwa bacaan-bacaan yang beredar ketika itu mencapai 50 qiraat.6 Setelah membanding-bandingkan semua mushaf yang berjumlah puluhan, Ibnu Mujhid kemudian memilih tujuh varian bacaan dari para Qurra ternama, yakni Nfi (Madinah), Ibnu Kar (Mekah), Ibnu mir (Syam), Ab Amr (Bashrah), im, amzah, dan al-Kis' (ketiganya dari Kufah). Pemilihan terhadap tujuh orang qurra ini dilakukan Ibnu Mujhid dengan cara melakukan pembandingan dan penelitian, sehingga munculah pilihan tersebut. Keputusan Ibnu Mujhid hanya memilih tujuh varian bacaan saja, menurut Moqsith Ghazali, agaknya diinspirasi oleh hadis Nabi yang banyak beredar ketika itu, yakni Al-Quran diturunkan dalam tujuh huruf. Secara implisit, Ibnu Mujhid barangkali ingin menegaskan bahwa yang dimaksud tujuh huruf dalam hadis tersebut adalah tujuh varian bacaan yang dipilihnya.7 Dalam disiplin ilmu qiraat, memang tujuh bacaan inilah yang dianggap memiliki kualitas periwayatan yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain tujuh, ada lagi pengelompokan qiraat lain, yakni qiraat sepuluh (al-qir't al-asyr8), qiraat empat belas (al-qir't al-arbaah asyr), bahkan hingga puluhan qiraat.9

5 Abd Moqsith Ghazali, dkk., Metodologi Studi Al-Quran, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009, hlm. 18. 6 abar al-Asywa, Ijzul Qir't Al-Qur'niah: Dirsat f Trkhi Qir't wat-Tijhtil-Qurr', Mesir: Maktabah Wahbah, 1998, hlm. 61 7 Pemilihan yang dilakukan Ibnu Mujhid terhadap tujuh orang Qurra ini nampaknya perlu kajian mendalam berkaitan dengan alasan-alasan yang embeded dalam keputusannya. Abd Moqsith Ghazali misalnya menduga, bahwa pemilihan yang dilakukan Ibnu Mujhid selain didasarkan atas hadis tentang tujuh variasi bacaan menurutnya juga sarat dengan peran politik dan kekuasaan, sehingga banyak ulama yang tidak sependapat dengan keputusan yang dibuat Ibnu Mujhid. Abd Moqsith Ghazali, dkk., op.cit, hlm. 18. 8 Al-Qira'ah al-Asyr ini diriwayatkan oleh 7 orang imam yang tergabung dalam al-Qir'h as-Saba ditambah tiga orang imam, yakni Yazd bin al-Qaqa di Madinah (dua perwinya adalah Ibnu Wardan dan Ibnu Jammz), Yakb alHadram di Basrah (dua perawinya adalah Rauh dan Ruwais), Khalaf al-Bazzr di Kufah (dua perwainya adalah Isq dan Idrs). Qiraat ini muncul setelah qira'ah sabah yang dikumpulkan Ibnu Mujhid. Ulama yang menambahkan qiraat yang masyhur menjadi sepuluh adalah Ibnul-Jazri Abul-Khair Muammad bin Muammad, dialah yang menyebarkan versi bacaan qiraat

Pembakuan Qiraat Aim Mustofa 225 225

Pembakuan dan praktek tujuh variasi qiraat ini terus berjalan dalam sejarah peradaban Islam. Namun, seiring bergulirnya waktu, pelestarian dalam bentuk bacaan pada tujuh qiraat ini tidak merata dan tidak mencangkup seluruh imam yang sudah dibakukan dalam bentuk tulisan. Dari tujuh imam yang ada, hanya empat imam saja yang qiraatnya dipraktekan oleh umat Islam. Kempat orang Imam ini adalah Imam Nfi, Imam Ab Amr, Imam Ibnu mir, dan Imam im (dengan perawinya masing-masing). Dan dari empat orang Imam ini, hanya satu imam yang bacaannya paling banyak dan bahkan mendominasi seluruh bacaan umat Islam di dunia, yakni qiraat im. Qiraat Imam im ini pun hanya terkonsentrasi pada riwayat af saja, sementara Syubah tidak. Satu pertanyaan segera memburu; mengapa qiraat im riwayat af menjadi begitu dominan dan paling banyak digunakan dalam praktek bacaan Al-Quran oleh komunitas masyarakat dunia Islam? Apa sesungguhnya yang melatarbelakangi popularitas bacaan dan riwayat ini sehingga menjadi begitu diminati dan mendominasi hampir sebagian masyarakat muslim di dunia, termasuk Indonesia? Biografi im Nama lengkapnya adalah im bin Ab Najd, Ab Bakar alAsad al-Kf. Sufyn dan Amad bin anbal mengatakan: Bahdalah adalah Ab Najd, sementara Amru bin Al berpendapat, Bahdalah adalah ibunya.10 Namun, pendapat yang banyak dikemukakan dalam hal ini adalah, bahwa Bahdalah adalah nama ayahnya yang memiliki kuniah Ab an-Najd. Pendapat ini
sepuluh. Lihat Ibrhm al-Ibyr, Trkul-Qur'n, Mesir: Drul-Kitab al-Misri, 1991, hlm. 139. 9 Ulama yang pertama kali mengumpulkan sejumlah qiraat Al-Quran sebelum Ibnu Mujhid adalah Ab Ubaib bin Qasim as-Salam (w. 224 H.). Dalam tulisannya, ia mengumpulkan sebanyak 25 versi bacaan Al-Quran. Ulama-ulama sesudahnya kemudian juga banyak yang mengumpulkan ragam bacaan Al-Quran dengan jumlah berkisar 20, kurang dari 20, atau lebih. Ibrhm al-Ibyari, Ibid, hlm. 138. 10 Az-Zarkasy, al-Burhn fi Ulmil-Qur'n, Juz I, Mesir: Maktabah DrutTuras, 1984, hlm. 328. Lihat juga Abdul Fat Abdul Gan, al-BudruzZhirah f Qir'til-Aysri al-Mutawtirah, Juz I, Mesir: Drus Salam, 2009, hlm. 12.

226 226 uuf, Vol. 4, No. 2, 2011: 221 245 dikemukakan misalnya oleh Muammad bin Amad a-ahab dalam kitabnya Marifah al-Qurr' al-Kibar.11 im mempelajari qiraat Al-Quran dari Ab Abdurramn as-Sulam, Zirr Ibnu ubaisy. Kepada Ab Abdurramn asSulam, sebagaimana dijelaskan a-ahab dalam Siyarul-Alm anNubal', im mengatakan bahwa ia belajar kepadanya sejak masih kecil, dan ketika selesai belajar kepadanya, ia mengulang pelajarannya kepada Zirr Ibnu ubaisy yang meriwayatkan langsung dari Ibnu Masd.12 Abdurramn as-Sulam sendiri adalah seorang yang diutus Umn ke wilayah Kfah13 untuk mengajarkan Al-Quran di tempat tersebut bersama dengan sebuah mushaf yang dibukukan di bawah kekhalifahannya. As-Sayyid bin Amad bin Abdurram dalam bukunya, Asnid al-Qurr' al-Asyrah menjelaskan bahwa selain belajar dari Ab Abdurramn asSulam dan Zirr Ibnu ubaisy, im juga menimba ilmu Qiraat dari Saad bin Iys asy-Syaibn yang diambil dari Abdullh bin Masd.14 Terkait dengan kepribadiannya, sebagian besar ulama memiliki pandangan yang positif terhadap im. Ab Isk misalnya berkata, Aku tidak melihat seseorang yang paling paham dalam membaca Al-Quran kecuali im. Abdullh bin Amad bin anbal bertanya kepada ayahnya tentang im bin Bahdalah, dia berkata, im adalah seorang lelaki yang saleh, sangat iqah (terpercaya). Amad bin anbal ketika ditanya tentang bacaan siapakah yang disukai, ia menjawab bahwa bacaan yang disukai adalah bacaan ahli Madinah, dan jika tidak ada, maka bacaan Imam im. im adalah seorang imam yang memiliki suara yang
11 Wawan Djunaedi Soffandi, Mazhab Qiraat im Riwayat af di Nusantara: Studi Sejarah Ilmu, Tesis, Program Pascasarjana UIN, 2004, hlm. 108. 12 Syamsuddn Muammad bin Amad bin Umn a-ahab, SiyarulAlm an-Nubal', Juz 5, Beirut: Mu'assasah ar-Rislah, 1982, hlm. 258; Ibnu Mujhid, Kitbus-Sabah fil-Qir't, tahqiq: Syauq aif, Mesir: Drul-Maarif, 1972, hlm. 70. 13 MM al-Azami, The History of The Quranic Text From Revelattion to Compilation: Sejarah Teks Al-Quran dari Wahyu sampai Kompilasi, (pent: Sohirin Solihin, dkk), Jakarta: Gema Insani Press, 2005, hlm. 106. 14 As-Sayyid bin Amad bin Abdurram dalam bukunya, Asnid al-Qurr' al-Asyrah, Saudi: Maktabah Malik Fahd, 2005, hlm. 38.

Pembakuan Qiraat Aim Mustofa 227 227

bagus dalam membaca Al-Quran, begitu bagus bacaannya seolaholah di dalam tenggorokannya terdapat genta.15 Amad bin anbal berkata, im adalah seorang lelaki yang saleh, seorang qri' alQur'n, sangat terpercaya. Ahli Kufah banyak memilih bacaannya, termasuk aku juga memilih bacaannya. Ab Bakr bin Iyys berkata, Aku mendengar Ab Isk berkata, Aku tidak tidak melihat seorang yang lebih paham tentang qiraat Al-Quran kecuali im. Sejumlah ulama lain seperti Yaqb al-Fasaw dan Ab Zurah berpendapat bahwa ia adalah seorang yang iqah (dapat dipercaya).16 Ibu Saad berkata, im adalah seorang yang iqah, hanya saja dia banyak salah dalam masalah hadis.17 im adalah orang yang paling paham dengan qiraat Zaid bin bit.18 Salmah bin im berkata, im bin Najd adalah seorang yang memiliki akhlak dan ibadah yang baik, lisannya fasih dan suaranya bagus. af bin Sulaimn berkata, im berkata kepadaku, Tidak ada qiraat yang aku dapat dari Ab Abdurramn, kecuali aku bacakan kepadamu, dan tidak ada bacaan yang aku baca kepada Ab Bakr bin Iys kecuali bacaan itu aku ajukan kepada Zirr dari Ibnu Masd.19 im wafat di penghujung tahun 127 H.; ada juga yang mengatakan bahwa ia wafat pada tahun 128 H.20 Di antara murid-muridnya adalah af bin Sulaimn, Ab Bakr, Syubah Ibnu Iyysy, Sulaimn al-Amasy, ammd bin Syuaib, Abbn al-Ar, ammd bin Ab Ziyad, Ab Awanah, Sufyn as-Sauri, Sufyn bin Uyainah dan masih banyak lagi.21

A-ahabi, Siyar Alm an-Nubal', Juz 5, hlm. 257. A-ahab, Tahb Tahbul-Kaml f Asm'ir-Rijl, Juz 5, Mesir: alFazuqul-Hadsah li a-abaah wan-Nasyr, hlm. 6; Ysuf al-Mizz, TahbulKaml f Asm'ir-Rijl, Juz 13, Beirut: Mu'assasah ar-Rislah, 1988, hlm. 476. 17 Amad bin Al bin ajar Syihbuddn al-Asqalan asy-Syfi, Tahbut-Tahb, juz 2, Mu'assasah ar-Rislah, hlm. 250. 18 Amad al-Bail, al-Ikhtilf Bainal-Qir't, Beirut: Drul-Jail, 1988, hlm. 81. 19 A-ahab, Siyar Alm, op.cit, hlm. 259. 20 Ibid, hlm. 261. 21 Ibid, hlm. 257; al-Asqalan asy-Syfii, Tahbut-Tahb, hlm. 250.
16

15

228 228 uuf, Vol. 4, No. 2, 2011: 221 245 Biografi af Dia adalah af bin Sulaimn al-Asad al-Bazz al-Kfi alQri. Ia dikenal juga dengan nama Hufais, dengan nama af bin Ab Dud.22 Tidak ada perbedaan sesungguhnya dalam hal ini, karena Ab Dud merupakan nama kuniah dari Sulaimn yang tidak lain ayahanda af. Dia juga merupakan anak tiri dari Imam im dan tinggal satu rumah bersamanya.23 Nama kakeknya adalah al-Mugrah. Abdullh bin Amad, bersumber dari ayahnya mengatakan, bahwa dia adalah seorang yang saleh. Ibnu Ab tim, bersumber dari Abdullh bin Amad, bersumber dari ayahnya mengatakan, bahwa dia termasuk matrkul-had (perawi yang tidak bisa dipakai dalam periwayatan hadis). Umn ad-Drimi bersumber dari Ibnu Man mengatakan, af bukanlah orang iqah. Demikan juga pendapat an-Nas'. AlBukhr dan Muslim juga tidak memakai riwayat af. Ulamaulama yang lain juga banyak yang menyimpulkan bahwa riwayat hadis af tidak bisa dipakai.24 Sementara itu, as-Sj, bersumber dari Amad bin Muammad al-Bagdadi, bersumber dari Ibnu Man mengatakan bahwa af dan Ab Bakr adalah orang yang paling tahu bacaan (qiraat) imam im, dan af dalam hal ini lebih memahami daripada Ab Bakr, namun ia dinilai dusta, sementara Ab Bakr dinilai benar.25 Namun demikian, Ab Abdullh Muammad bin Syuraih ar-Raini al-Andalusi dalam kitabnya, al-Kfi fi al-Qir't as-Sabmeriwayatkan bahwa af adalah seorang yang iqah.26 Wki juga memiliki pendapat yang sama.27 Bekaitan dengan qiraatnya, a-ahab menilai bahwa af terpercaya dalam qiraat, konsisten dan akurat. af sendiri pernah berkata bahwa ia tidak menyalahi bacaan im sedikit pun kecuali pada satu kata dalam Surah ar-Rm/30: 54, di mana ia membaca
Al-Mizz, Tahbul-Kaml, hlm. 10-11. Ibid, hlm. 11; al-Asqalan asy-Syfi, Tahbut-Tahb, hlm. 450; keterangan ini juga dimuat dalam Wawan Djunaedi, op.cit., hlm. 121. 24 Al-Mizz, op. cit., hlm. 13-14. 25 Al-Asqalan' asy-Syfi, Tahbut-Tab, hlm. 451. 26 Ab Abdullh Muammad bin Syuraih ar-Raini al-Andalusi, Al-Kfi fi al-Qir'tis-Sabi, Libanon, Beirut: Drul-Kutub al-lmiyah, 2000 M, hlm. 19. 27 al-Mizz, Tahibul-Kaml fi Asm'ir-Rijl, hlm. 16.
22 23

Pembakuan Qiraat Aim Mustofa 229 229

uf (dengan dammah), sedangkan im membaca af (dengan fatah).28 Di antara guru-guru af adalah Ismal bin Abdurramn asSd, ammd bin Ab Sulaimn, Salm al-Afas, im bin Ab Najd, im al-Ahwl, Alqamah bin Marsad, dan masih banyak lainnya. Namun, dalam ilmu qiraat, af hanya belajar dari im bin Ab Najd. Sedangkan diantara murid af adalah Abdul Gaffr bin al-akam, Ubaid bin a-abb bin Ab Suraij, Umn bin al-Yamn, Amr bin a-abb bin ubaihi al-Kf dan masih banyak lainnya.29 Menurut riwayat, af wafat pada tahun 180 H; Ab Amar ad-Dn mengatakan, bahwa af wafat dekat dengan tahun 190 H.30 Sanad Qiraat31 im Riwayat af Dari segi periwayatan, sanad im terbilang cukup istimewa, karena dalam struktur periwayatan, im menempati urutan ketiga dari ketiga jalur periwayatan yang dimiliki, baik yang diambil dari Ab Abdurramn as-Sulam, Zirr Ibnu ubaisy, maupun dari Saad bin Iys asy-Syaiban. Jalur ketiga periwayatan ini bisa dilihat pada bagan berikut:
28 Keterangan ini dimuat dalam Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Quran, Jogjakarta: FKBA, 2001, hlm. 313. Untuk lafaz ini, Hafs melalui dua ariqahnya sesungguhnya memiliki dua wajah, yang pertama dibaca dengan menggunakan fathah, yang kedua dengan dammah, . Lihat Abdul Fat Abdul Gan, op.cit, jilid 2 hlm. 699. 29 Ibid, hlm. 11-12. 30 Ibid, hlm. 15. 31 Perlu dibedakan dalam hal ini perbedaan antara qir'at, riwyat, arq, dan wajah; setiap perbedaan yang disandarkan pada salah satu imam sepuluh yang disepakati maka disebut qira'h, dan pemiliknya disebut Imam; setiap perbedaan yang disandarkan pada periwayatan dari seorang imam, maka itu disebut riwyat dan pemiliknya disebut rwi; sedangkan arq adalah perbedaan yang muncul ketika mengambil bacaan dari dari seorang rawi dan terus ke bawah, sementara wajah adalah perbedaan yang diperbolehkan bagi seorang untuk mengambil salah satunya, seperti perbedaan dalam membaca mad rid lissukn, lihat Amad al-Bail, op.cit., hlm. 85. Dalam tulisan ini, penulis membatasi pembahasan ini hanya pada riwayat, dan tidak membahas sampai pada arqah yang lazim dikenal dengan arq asy-Syibiyyah dan arq aayyibah.

230 230 uuf, Vol. 4, No. 2, 2011: 221 245 1

2.
[[

3.

Bagan 1. Sanad Qiraat im.

Pembakuan Qiraat Aim Mustofa 231 231

Dari bagan di atas terlihat, bahwa im menempati urutan ketiga dari semua jalur sanad yang dimiliki. Imam yang lain, seperti Nfi, Ab Amar dan amzah menempati urutan keempat dari jalur periwayatan yang mereka punya. Yang sama dengan im dalam hal urutan adalah Ibnu Kar, yang menempati tingkatan ketiga dari segi periwayatan. Dari tujuh imam yang dikenal, ada sesungguhnya yang lebih tinggi lagi jalur periwayatannya, yakni Ibnu mir. Ibnu mir, dari segi periwayatan, menempati urutan kedua, yang mengambil langsung dari sahabat Ab Darda ra. Namun, periwayatan Ibnu mir kepada kedua perawi di bawahnya, yang masuk dalam struktur dan periwayatan Imam Tujuh, terpaut dua tingkat. Baik Hisym maupun Ibnu akwn (keduanya perawi Ibnu mir) menempati tingkatan kelima dari jalur periwayatan Ibnu mir.32 Kecuali itu, kelebihan im dari sisi periwayatan juga bisa dilihat dari periwayatan yang diambil oleh Ab Abdurramn bin as-Sulam. Dalam bagan di atas terlihat bahwa as-Sulam mengambil bacaan Al-Quran dari sejumlah sahabat penjaga wahyu, baik sebagai penulis maupun sebagai guru yang diperintahkan Rasulullah untuk mengajarkan Al-Quran. Mereka adalah Umn bin Affn, Al bin Ab lib, Ubai bin Kaab, Abdurramn bin Masd, serta Zaid bin bit.33 Imam-imam yang lain hanya mengambil dari 3 sahahat, 2, atau bahkan satu seperti Ibnu mir. Yang sama dengan im adalah jalur periwayatan amzah. Ini terjadi karena amzah mengambil guru yang sama dengan im, yakni Ab Abdurramn as-Sulam dan juga Zirr Ibnu ubaisy. Kepemilikan sanad yang sedemikian ini menjadi salah satu kelebihan qiraat im dibanding dengan imam-imam lain. Sumber yang diambil dari ketiga gurunya diambil dari sejumlah sahabat senior dalam bidang Al-Quran. Jalur periwayatan im kepada af pun bersifat langsung, meskipun menurut sejumlah ulama hadis riwayat af kurang bisa dipercaya. Namun, sebagian ulama mengatakan bahwa af bisa dipercaya, terutama dalam kaitannya dengan periwayatan qiraat Al-Quran.

32 Keterangan ini bisa dilihat dalam bagan yang dibuat As-Sayyid bin Amad bin Abdurram. Lihat ibid., hlm. 78. 33 Ibrhm an-Nimah Ulmul-Qur'n, t.tp: t.pn, 2008, hlm. 65.

232 232 uuf, Vol. 4, No. 2, 2011: 221 245 Teori dan Kelebihan Qiraat im Riwayat af Perbedaan periwayatan antara satu imam dengan imam lain niscaya melahirkan diferensiasi bacaan. Perbedaan ini tidak hanya terhenti pada imam qiraat, tetapi juga pada masing-masing perawi dari setiap imam. Perbedaan antara satu perawi dengan perawi lain dalam satu imam yang sama bahkan terkadang melahirkan tipikal bacaan yang sangat berbeda. Perbedaan riwayat antara Warasy dengan Qlun, misalnya, yang sama-sama mengambil dari Imam Nfi, melahirkan bacaan yang cukup berbeda. Demikian halnya af dengan Syubah yang sama-sama mengambil dari Imam im. Namun, perbedaan bacaan atara af dan Syubah ini tidak terlalu mencolok sebagaimana terjadi pada Warasy dengan Qlun. Dalam kaitannya dengan qiraat im riwayat af, nampak terdapat sejumlah kelebihan yang menciptakan kemudahan tersendiri bagi seseorang dalam membaca Al-Quran. Di antara kelebihan dimaksud adalah pada bagian mad dan qasar, khususnya mad wajib muttasil dan mad jaiz munfasil. Khusus mad wajib muttasil, seluruh imam qiraat sepakat memanjangkan bunyi huruf mad melebihi aslinya. Untuk yang munfasil, ada sejumlah perbedaan antara satu imam dengan yang lain. Terkait dengan panjang bacaan mad ini, imam im riwayat af hanya memanjangkan bacaan dengan panjang 4 harakat. Sementara Warasy dan amzah membacanya 6 harakat.34 Kemudian, cara membaca dua hamzah dalam satu kata, seperti lafaz , . Dalam lafaz seperti ini, Imam Nfi, Ibnu Kar, Ab Amr dan perawi Hisym membacanya dengan cara tashil baina-baina dengan variasinya masing-masing. Sementara im, amzah, al-Kis' dan Ibnu akwn membacanya dengan cara taqiq. Bacaan tashil pada imam im riwayat af hanya terdapat pada lafaz , Surah Fuilat ayat 44. Khusus untuk lafaz ini, im riwayat af membacanya dengan cara mentaqq-kan hamzah pertama dan men-tashil-kan hamzah kedua, dengan tanpa idkhl. Yang membaca taqq lafaz ini adalah Syubah, amzah dan al-Kis'i.35 Demikian halnya dengan bacaan
Ahmad Fathoni, Kaidah Qiraat Tujuh I, Jakarta: Instutut PTIQ dan IIQ, 2005, hlm. 76. 35 Lebih lanjut tentang hal ini lihat Ibid, hlm. 93-96.
34

Pembakuan Qiraat Aim Mustofa 233 233

dua hamzah dalam kalimat yang berbeda, seperti yang dibaca tashil oleh beberapa imam dan periwayatnya, sementara im dalam bacaan ini membacanya dengan cara taqq kedua hamzah. Termasuk di antara kemudahan dalam qiraat im adalah bacaan imlah. Imlah secara bahasa adalah condong; dan dibagi menjadi dua, yakni imlah kubr dan imlah ugr. Imalh kubr adalah bunyi antara harakat fathah dengan harakat kasrah, serta antara alif dan ya. Sementara imlah ugr adalah bunyi antara alFat atau disebut juga dengan at-taqll atau baina-baina. Bacaan ini terjadi dalam beberapa hal, di antaranya adalah pada awtul y. awtul y adalah setiap alif asliyyah (bukan zaidah) di mana ia berasal dari ya, kadang-kadang menjadi akhir kata yang berbentuk fiil seperti , ;kemudian pada alif tanis seperti lafaz ; dan beberapa kaidah yang lain.36 Untuk lafaz-lafaz pada kaidah di atas, sebagian imam dan periwayat, seperti amzah, alKis', Ab Amr, Warasy, dan termasuk Syubah, masing-masing dari mereka memiliki bacaan imlah dengan kaidah dan kekhasannya masing-masing. Dalam kasus imalah ini, Imam im riwayat af hanya membaca imlah kubr pada lafaz di Surah Hd, sebagaimana juga amzah, al-Kis' dan Ab Amr.37

Kelebihan yang menciptakan kemudahan tersendiri pada


bacaan im riwayat Hafs ini tentu masih ada beberapa lagi yang bisa dijelaskan. Namun dari sedikit keterangan di atas dapat diambil satu simpulan, bahwa terdapat kemudahan-kemudahan tertentu dalam bacaan imam im riwayat af yang kemungkinan menjadi salah satu alasan mengapa bacaan ini menjadi lebih popular dan banyak digunakan di sejumlah Negara Muslim, tak terkecuali Indonesia.

36 Contoh dan kaidah yang disebutkan di sini hanya bersifat global saja, untuk sekadar membandingkan antara teori bacaan im riwayat af dengan bacaan dan riwayat lain. Sebab, khusus untuk imalah ini, masing-masing imam yang terkadang tidak sama dalam kaidah dan cara membacanya. 37 Penjelasan cukup lengkap tentang imlah ini bisa dilhat pada Ahmad Fathoni, Kaidah Qiraat Tujuh II, hlm. 28-66.

234 234 uuf, Vol. 4, No. 2, 2011: 221 245 Kristalisasi Qiraat im Riwayat af dalam Sejarah Pembukuan dan pembakuan qiraat Al-Quran dalam lingkup trkh al-Qur'n sesungguhnya tidak diawali dari Ab Bakar Ahmad bin Msa bin al-Abbs atau yang lebih popular dengan sebutan Ibnu Mujhid. Al-Qir'ah as-Sabah bukanlah sejarah pembakuan pertama qiraat dalam sejarah Al-Quran, sebab sebelum itu sejumlah kalangan juga berupaya melakukan pengumpulan dan penyusunan qiraat, mengingat qiraat yang beredar pada masa itu berjumlah puluhan. Di antara mereka yang mencoba melakukan tadwn qiraat adalah Ab Ubaid al-Qsim bin Salm (menghimpun 25 imam qiraat), Ab Hatim as-Sijistn, a-abar (menghimpun 20 imam qiraat) Ismil al-Q (menghimpun 20 qiraat),38 dan beberapa yang lain. Namun penyusunan ini tidak mendapat perhatian. Sejarah pembakuan qiraat yang monumental dalam sejarah Al-Quran berada di tangan Ibnu Mujhid yang berhasil menghimpun tujuh qiraat yang disandarkan pada tujuh imam. Pembakuan yang dilakukan Ibnu Mujhid memang menemukan momennya karena upaya tersebut disponsori pemerintahan Abbasiah39 pada tahun 322 H (934 M). melalui dua orang menterinya, Ibnu Muqlah dan Ibnu Is. Upaya yang dilakukan Ibnu Mujhid ini bukanlah tanpa masalah dan tanpa kritik. Setelah tadwn qiraat tujuh yang dilakukan, sejumlah kalangan mengklaim bahwa qiraat yang dikumpulkan Ibnu Mujhid memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. AlJar'ir misalnya mempermasalahkan seleksi Ibnu Mujhid terhadap tujuh qiraat tersebut. Ab al-Abbs bin Amardan Ab Muammad al-Makk, juga mengecam Ibnu Mujhid karena tidak memasukkan nama Yakb dan lebih memilih al-Kis' dalam penyusunannya. Sejumlah ulama lain juga mempertanyakan seleksi yang dilakukan Ibnu Mujhid. Namun, karena mendapat dukungan dari otoritas politik Abbasiah ketika itu, maka kritik-kritik tersebut tidak memiliki dampak yang berarti dan menguap begitu saja.
38 Ibrhm an-Nimah, op.cit., hlm. 63; lihat juga Tim Tafsir Departemen Agama RI, op.cit., hlm. 319. 39 Pada tahun 322 H (934 M) yang memegang tampuk kekuasaan adalah Ab al-Abbs Muammad bin al-Muqtadir bin al-Mu'taid bin alhah bin alMutawakkil atau dikenal dengan sebutan ar-Ri Billh yang berkuasa pada 934 940 M. Lihat http://id.wikipedia.org diakses pada 11 September 2011.

Pembakuan Qiraat Aim Mustofa 235 235

Tidak terhenti sampai di situ, berbagai upaya ulama yang mencoba membuka pandangan lain atas upaya yang dilakukan Ibnu Mujhid berakhir pada kebuntuan, bahkan pihak yang bertentangan dengan keputusan yang ada dipaksa menarik pandangannya dan diminta bertobat. Ini dialami Ab Bakr Muammad ibn al-asan ibn Yakb ibn al-asan ibn Miqsm al-Attar (Ibnu Miqsm) dan gurunya, Muammad ibn Amad ibn Ayyb ibn Syanabuz. Yang terakhir disebut bahkan sempat dipenjara sebelum akhirnya dibebaskan karena bersedia menarik pendapatnya.40 Upaya-upaya unifikasi bacaan ini terus berlangsung dan mengkristal seiring dengan fatwa ditutupnya pintu ijtihad pada abad ke-10 H. Penemuan mesin cetak oleh Johanes Gutenberg di Maniz Jerman, pada abad ke-15 dan penggunaannya dalam pencetakan AlQuran, telah mempercepat penyebaran naskah yang dicetak menurut suatu sistem bacaan.41 Pada masa itu, orang-orang Eropa yang mulai mengenal Islam tertarik mempelajari karya-karya Islam, termasuk dalam pencetakan Al-Quran. Hal tersebut terjadi pada pertengahan abad ke-16, atau tepatnya pada tahun 1530 M./937 H. Al-Quran mulai dicetak di Venice, dan di Basel pada tahun 1543 H./950 H. Namun diberitakan, dari pihak penguasa Gereja mengeluarkan perintah pencegahan, sehingga seluruh naskah yang dicetak habis dibakar.42 Al-Qur'an yang dicetak secara sempurna menggunakan huruf Arab dan disertai dengan tanda baca, tanda huruf, dan penomeran ayat dicetak pertama kali di Hamburg, Jerman di percetakan Abraham Hincklemann pada tahun 1694.43 Melalui proses pembandingan dan pengkajian, penulis mendapati, bahwa qiraat yang digunakan pada Al-Quran cetakan Hamburg ini menggunakan qiraat im riwayat af. Namun, penggunaan qiraat ini tidak diterapkan secara konsisten, karena pada beberapa lafaz, Al-Quran cetakan ini menggunakan qiraat lain, dan terdapat sejumlah kesalahan di dalamnya.
Keterangan detil mengenai hal ini bisa dilihat pada Taufik Adnan Amal, op.cit., hlm. 319. 41 Ibid., hlm. 323. 42 Ahmad Fathoni, Keterkaitan Ragam Qiraat dengan Rasm Usmani serta Implikasinya Terhadap Penerbitan Mushaf dan Penafsiran Al-Quran, Disertasi, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2008, hlm. 98. 43 Al-Quran edisi cetakan Hamburg, Jerman ini bisa dilihat secara utuh dalam http://cdm.csbsju.edu/ cdm4/document.php?CISOROOT=/SJRareBooks& CISOPTR=9523&CISOSHOW=8853.
40

236 236 uuf, Vol. 4, No. 2, 2011: 221 245 1 3 2


Gambar 1. Identifikasi qiraat im riwayat Haf dalam mushaf cetakan Hamburg, Jerman, 1694.

1. 2. 3. 4. 5.

: Khalf, Khald : Dri (Ab Amr), Ss, Bazz, Qln, Qunbul, Warasy : Abul Hris, Dri (al-Kisi), Hisym : Dri (Ab Amr), Ss, Hisym, Ibnu akwn, Qln, Qunbul, Warasy : Hisym, Ibnu akwn

Penggunaan qiraat im riwayat af dalam Al-Quran cetakan Jerman ini sedikitnya memberikan penjelasan, bahwa arus penulisan qiraat pada abad tersebut memang mengarah pada qiraat im riwayat af. Pada abad tersebut dan beberapa abad selanjutnya diberitakan, bahwa konsentrasi percetakan Al-Quran ketika itu hanya menggunakan dua riwayat dari empat belas riwayat yang ada, yaitu af an im dan satu lagi Warsy an Nfi.44 Selanjutnya, beberapa orang dan percetakan di beberapa negara seperti Perancis, Rusia, Iran, Turki dan India mencoba memberikan perhatian khusus pada percetakan mushaf. Pemerintahan yang kemudian memberikan perhatian terhadap upaya percetakan Al-Quran adalah Mesir. Mesir dalam hal ini tidak sekadar mencetak, namun lebih dari itu, pemerintahan ini melakukan kajian mendalam terlebih dahulu atas mushaf yang akan dicetak. Melalui upaya tersebut, lahirlah sebuah mushaf di bawah percetakan al-Bahiyyah oleh Syekh Muammad Ab Zaid pada tahun 1890 M. Namun, karena kualitasnya yang kurang baik, maka cetakan ini tidak menyebar secara massif. Baru kemudian pada tahun 1924/1925 M., melalui proses penelitian panjang yang melibatkan ahli qiraat dan bahasa Arab, Mesir kembali mencetak
44

Taufik Adnan Amal, op.cit., hlm. 323.

Pembakuan Qiraat Aim Mustofa 237 237

mushaf yang sudah disesuaikan penulisannya dengan rasm Usmani dan secara resmi menggunakan qiraat im riwayat af. Pembakuan mushaf versi Mesir inilah yang dinilai paling berhasil baik isi, kualitas, maupun penyebarannya, karena mushaf inilah yang dijadikan standar, supremasi kanonik45 dan banyak digunakan oleh kaum Muslimin di dunia. Keberhasilan proyek percetakan dan penyebaran Al-Quran edisi ini tidak lepas dari dukungan otoritas Raja Fuad, dan untuk itulah mushaf edisi ini dikenal dengan mushaf edisi Raja Fuad. Mushaf edisi Mesir ini memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran qiraat im riwayat af di seluruh dunia. Meskipun harus dicatat, bahwa ini hanyalah salah satu alasan yang melatarbelakangi mengkristalnya qiraat im. Sebab, dalam penelitian mushaf-mushaf kuno Nusantara terlihat, bahwa qiraat yang ditulis oleh para penyalin terdahulu tidak terkonsentrasi pada qiraat im semata, namun juga qiraat lain. Saat ini, dari tujuh imam qiraat yang ada, hanya empat imam dengan 6 periwayatnya saja yang bacaannya dipraktekkan kaum Muslimin di dunia.
NO 1 2 3 4 5 6 7 IMAM Nafi Abu Amr Ibnu Amir Aim Ibnu Kar Al-Kis amzah RIWAYAT Warasy Qlun Ad-Dri As-Ss Hisym Ibnu akwn af Syubah Al-Bazz Qunbul Abul Hris Ad-Dri Khalf Khald WILAYAH PENYEBARAN Algeria, Maroko, Sebagian Wilayah Tunisia, Libya, Sudan dan Afrika Barat Libya, Tunisia, sebagian wilayah Qatar Sebagian wilayah Sudan dan Afrika Barat -sebagian wilayah Yaman sebagian wilayah Yaman sebagian besar Muslim di dunia, termasuk Indonesia --------

Bagan 2. Peta penyebaran qiraat Imam Tujuh di seluruh dunia.46 Ibid., hlm. 324. Abu Ammar Yasir Qadhi, An Introduction to the Sciences of the Qur'an, United Kingdom: Al-Hidayah, 1999, hlm. 199. Peta penyebaran ini tentu saja
46 45

238 238 uuf, Vol. 4, No. 2, 2011: 221 245 Penyebaran Qiraat im Riwayat Haf di Nusantara dalam Kesaksian Mushaf Kuno dan Penyebaran Sanad Proses penyebaran Islam yang dilakukan sejumlah ulama di Nusantara dalam rentang waktu yang cukup panjang menyisakan banyak hal, satu di antaranya warisan mushaf-mushaf kuno yang sangat kaya dan beragam yang bisa dijumpai di hampir seluru wilayah kepulauan di Indonesia.47 Naskah-naskah Al-Quran kuno tulisan tangan ulama-ulama terdahulu ini, selain menjadi bukti otentik kesarjanaan mereka, juga bisa menjadi pintu masuk utama, maingate, untuk menjelaskan jalur penyebaran qiraat im di Nusantara.48 Melalui proses pengamatan, penelitian, dan pembandingan nampak terlihat, bahwa sebagian naskah-naskah kuno tulisan tangan ulama-ulama ini banyak yang menggunakan qiraat im riwayat af. Indikasi qiraat ini bisa dilihat melalui beberapa ciri khas bacaan im riwayat af yang membedakannya secara tegas dengan bacaan dan riwayat lain, di antaranya adalah penggunaan lafaz pada Surah Al-Baqarah/2: 9. im riwayat af membacanya dengan sukun pada kha dan fathah pada dal. Imam yang lain, Dri (Ab Amr), Ssi, Bazz, Qlun, Qunbul, Warasy membacanya dengan fathah kha dan panjang, dan kasrah pada dal. Demikian halnya dengan pada ayat selanjutnya. Imam yang lain, pada lafaz ini, membacanya dengan dammah ya, fathah kaf, dan tasydid pada al, . Dan masih terdapat sejumlah perbedaan lain yang bisa diamanati, termasuk dengan Syubah, meskipun sama-sama mengambil dari Imam im. Perbedaan af dengan Syubah, misalnya, bisa dilihat pada lafaz , Surah Al-Baqarah/2: 67. Syubah dan semua perawi yang lain membacatidak mewakili secara utuh seluruh bacaan di dunia. Sebab, beberapa negara Eropa seperti Prancis, ada juga yang menggunakan bacaan Warasy. 47 Sejumlah peneliti Lajnah tahun 2011 menyimpulkan setidaknya ada ratusan jumlah mushaf kuno tulisan tangan warisan ulama-ulama Nusantara terdahulu mulai dari Aceh, hingga NTB yang tersimpan di berbagai tempat, seperti museum, masjid, hingga disimpan pada person-person tertentu. 48 Mushaf-mushaf kuno tulisan tangan ulama terdahulu (tak terkecuali dalam bentuk litografi (cetak batu) bisa lebih menjelaskan jalur penyebaran qiraat im riwayat af daripada menjelaskan melalui proses masuknya Islam. Sebab penjelasan ini hanya akan melahirkan spekulasi yang tidak berpijak pada data sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan.

Pembakuan Qiraat Aim Mustofa 239 239

nya dengan menyertakan hamzah di bagian terakhir, sementara af membacanya dengan tanpa hamzah di depannya. Beberapa mushaf kuno yang lain menjadikan qiraat im sebagai bacaan utama di dalam teks, namun di bagian pinggir, khusunya pada lafaz-lafaz yang berbeda dengan qiraat lain, ditulis lafaz-lafaz dari qiraat yang berbeda. Model ini misalnya terdapat pada mushaf yang disimpan di Bayt Al-Quran, di antaranya adalah mushaf tulisan tangan asal Surakarta. Mazmur Syaroni pada penelitian beberapa mushaf kuno di Riau juga memiliki penjelasan yang sama. Qiraat yang digunakan dalam salah satu mushaf yang ditelitinya adalah qiraat im riwayat af. Sama halnya dengan mushaf kuno koleksi Bayt Al-Quran yang mencantumkan qiraat lain selain af, demikian halnya dengan mushaf kuno ini; ketika terjadi perbedaan qiraat antara af dengan imam atau periwayat lain, penulis mencantumkan qiraat lain di bagian pinggirnya.49 Qiraat yang sama juga terdapat pada mushaf kuno yang ditemukan di Kalimantan Barat, Sumedang dan Jawa Barat, dengan melihat beberapa kekhasan dalam qiraat im riwayat af.50

Gambar 2. Identifikasi qiraat im riwayat Haf dalam


mushaf kuno (dari Aceh) koleksi Bayt al-Quran.

1. 2.

: Hisym, Ibnu akwn, Qln, Warasy : Abul Hris , Dri (al-Kis'i), Khalf, Khald

49 Mazmur Syaroni, Ragam Penulisan Mushaf Kuno di Riau dalam Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia, (ed: Fadhal Bafadhal), Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, 2005, hlm. 35. 50 Muhammad Shohib, Manuskrip Al-Quran di Kalimantan Barat, dalam Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia, (ed: Fadhal Bafadhal), Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, 2005, hlm. 181; Ahmad Fathoni, Sebuah Mushaf dari Sumedang, dalam ibid, hlm. 127-128; Enang Sudrajat, Mushaf Kuno Jawa Barat, ibid, hlm. 120.

240 240 uuf, Vol. 4, No. 2, 2011: 221 245


3. 4. : Dri (al-Kis'i), Ss, Qln, Abul Hris, Dri (Ab Amr) : Dri (al-Kis'i), Bazz, Hisym, Ibnu akwn, Khalf, Khald, Qln, Qunbul, Syubah, Abul Hris.

Begitu juga dengan mushaf-mushaf kuno yang terdapat di perpustakaan Masjid Agung Surakarta, Jawa Tengah. Sebagian besar mushaf yang terdapat pada perpustakaan ini ditulis menggunakan qiraat im riwayat af.51 Namun demikian, terdapat dua mushaf yang ditulis dengan qiraat lain, satu mushaf ditulis dengan qiraat Qln dan satu lagi ditulis secara lengkap dengan tujuh qiraat. Namun demikian, tidak semua mushaf kuno tulisan tangan Nusantara menjadikan qiraat im riwayat af sebagai satusatunya qiraat yang ditulis. Beberapa mushaf kuno tampak menggunakan qiraat lain selain im riwayat af, dan qiraat yang digunakan sebagian besar adalah qiraat Nfi riwayat Qln. Mushaf kuno qiraat Nfi riwayat Qln ini bisa dijumpai, misalnya, pada mushaf-mushaf kuno Museum Lagaligo, Makasar.52 Di tempat ini, sedikitnya terdapat tiga mushaf yang menggunakan qiraat Qln an Nfi. Ketiga mushaf ini menjadikan bacaan Qln sebagai satusatunya qiraat pada mushaf tersebut. Artinya, penulis mushaf tidak membandingkan, misalnya, dengan qiraat lain seperti af atau yang lainnya, sebagaimana terdapat pada beberapa mushaf kuno yang lain.

1 3 2
Gambar 3. Identifikasi qiraat Qln dalam mushaf kuno koleksi Museum La Galigo, Makassar. Dalam qiraat Haf dibaca: (1) (2) (3) .

Mushaf ini ditemukan Fakhrurrazi dalam penelitian mushaf kuno 2011. Mushaf ini ditemukan oleh Zarkasi Afif dan M. Musyadad dalam penelitian mushaf kuno 2011 di Makasar.
52

51

Pembakuan Qiraat Aim Mustofa 241 241

Dari keterangan di atas dapat ditarik benang merah, bahwa qiraat yang tersebar di Indonesiamengacu pada penulisan mushaf kunobanyak menggunakan qiraat im riwayat af. Namun, qiraat ini bukanlah satu-satunya qiraat yang digunakan oleh ulama-ulama masa silam dalam penulisan mushaf, sebab ternyata terdapat qiraat lain yang digunakan, yakni qiraat Nfi riwayat Qln. Selain mushaf kuno, jejak qiraat im riwayat af juga bisa dicermati melalui jaringan sanad-sanad awal yang ada di Indonesia. Melalui jalur ini akan diketahui dengan cukup jelas qiraat yang digunakan masyarakat Islam Indonesia pada masa-masa awal pengajaran Al-Quran. Terkait dengan ini, M. Syatibi dalam penilitiannya menemukan, bahwa jalur sanad awal yang ada dan berkembang di Indonesia merujuk pada lima orang ulama AlQuran; mereka adalah KH. M. Munawar Krapyak Yogyakarta (1941 M.), KH. M. Munawar Sidayu Gresik (1944 M.), KH. Said bin Ismail Madura (1954 M), KH. M. Mahfudz Termas (1917 M), dan KH. M. Dahlan Khalil Jombang. Melalui penelusuran yang dilakukan, kelima orang ulama ini memiliki jalur sanad yang berbeda-beda, namun semuanya bertemu pada jalur Ab Yahya Zakaria al-Anri.53 Dan yang terpenting, kesemua jalur sanad ini berujung pada imam af dan seterusnya kepada Imam im, hingga sampai kepada Rasulullah. Melalui jalur sanad ini teridentifikasi, bahwa qiraat yang digunakan, diajarkan dan tersebar pada masyarakat Muslim Indonesia adalah qiraat im riwayat af. Qiraat im dalam Edisi Cetak Nusantara Dampak perkembangan mesin cetak yang cukup massif dengan sendirinya menggantikan tradisi penulisan mushaf Al-Quran menggunakan tangan yang dilakukan ulama-ulama pada masa-masa itu. Namun harus dicatat, bahwa jangkauan teknologi percetakan ini masih sangat terbatas sehingga tradisi penulisan mushaf menggunakan tangan oleh sejumlah ulama masih terus berlangsung di beberapa daerah bahkan sampai abad ke-19 M. Karena, pada awalawal abad ke-19 ini, sejumlah mushaf kuno dinyatakan ditulis pada
M. Syatibi AH, Potret Lembaga Tahfidz Al-Quran di Indonesia dalam Suhuf, vol. 1, No. 1 2008, hlm. 131.
53

242 242 uuf, Vol. 4, No. 2, 2011: 221 245 abad tersebut. Tapi tradisi penulisan ini lambat laun tergantikan oleh mesin-mesin percetakan yang modern. Di Indonesia sendiri, mushaf Al-Quran dengan menggunakan teknologi percetakan bahkan ditemukan tertanggal 21 Ramadan 1264 H./21 Agustus 1848 M, dicetak di Palembang oleh Ibrahim bin Husain di percetakan Haji Muhammad Azhari bin Kemas Haji Abdullah. Artinya, pada tahun-tahun tersebut, penggandaan AlQuran menggunakan mesin cetak sudah dimulai. Kemudian mushaf cetakan berikutnya yang masuk ke wilayah Asia Tenggara yang bisa diungkapkan adalah mushaf Al-Quran cetakan India. Mushaf ini dicetak pada akhir abad ke-19 dan qiraat yang digunakan adalah qiraat im riwayat af. Mushaf ini terus beredar sampai pertengahan abad ke-20. Informasi mengenai abad penulisan mushaf ini dan sekaligus penyebarannya dengan sendirinya menjelaskan bahwa mushaf cetakan India ini lebih dahulu hadir ke publik Asia, termasuk Indonesia ketimbang Al-Quran edisi Raja Fuad yang dicetak di Mesir tahun 1924/1925. Qiraat yang digunakan juga menegaskan bahwa sebelum Al-Quran edisi Raja Fuad diterbitkan, qiraat im sudah menjadi qiraat yang popular di tengah masyarakat Muslim, termasuk Indonesia. Penerbitan-penerbitan mushaf Al-Quran selanjutnya di Indonesia menggunakan qiraat im riwayat af. Termasuk dalam hal ini adalah mushaf standar Indonesia, baik mushaf yang belum distandarkan seperti terbitan tahun 1981 mapun yang sudah distandarkan sejak tahun 1983/1984 hingga yang diterbitkan tahun 2000 ke atas. Simpulan Ada sejumlah faktor penting yang melatarbelakangi mengapa qiraat im riwayat af menjadi begitu popular dan banyak digunakan oleh kaum Muslimin di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Setidaknya ada tiga faktor. Pertama, sanad yang dimiliki im terbilang kuat, karena dari urutan sanad, im menempati rangkaian ketiga dari ketiga sanad yang dimiliki melalui ketiga orang gurunya, Abdurramn bin as-Sulam, Zirr bin ubaisy, dan Saad bin Iysy. Di samping itu, Abdurramn bin as-Sulam juga mendapatkan qiraatnya melalui lima orang sahabat yang senior dalam bidang Al-Quran, mereka adalah Umn bin Affn, Al bin Ab lib, Ubay bin Kaab, Abdullh bin Masd, dan Zaid bin

Pembakuan Qiraat Aim Mustofa 243 243

Sbit. Inilah di antara yang membedakannya dengan imam-imam lain. Sebab, kecuali amzah, rujukan imam yang lain pada sahabat tidak sebanyak im, khususnya yang diperoleh melalui Abdurramn as-Sulam. Kedua, faktor kebijakan Ibnu Mujhid yang didukung otoritas pemerintahan Abbasiah yang membukukan qiraat im bersama dengan 6 imam lainnya dalam kerangka al-qirt as-sab (qiraat tujuh). Setelah pembukuan qiraat tujuh ini, penulisan dan pencetakan mushaf Al-Quran tampak hanya terkonsentrasi pada dua riwayat, yakni af an im dan Warasy an Nafi. Beberapa riwayat lain, seperti Qlun, Hisym, Ibnu akwn, dan ad-Dri Ab Amr juga dipraktekkan di beberapa negara, namun persentasenya tidak sebanyak Warasy, dan terlebih lagi af. Arah penulisan qiraat im riwayat af terus mewarnai proses percetakan Al-Quran di dunia, dan salah satunya adalah cetakan Hamburg, Jerman tahun 1694. Ketiga, yang paling penting adalah kebijakan pemerintah Mesir yang diprakarsai Raja Fuad untuk mencetak dan menyebarluaskan Al-Quran pada tahun 1924/1925 M. yang secara resmi menggunakan qiraat im riwayat af. Proyek ini dinilai paling berhasil dalam mencetak Al-Quran karena kualitasnya cukup bagus dan penyebarannya juga cukup meluas. Untuk di Indonesia, qiraat im riwayat af bisa dilihat melalui mushaf kuno yang tersebar di hampir seluruh Indonesia. Dari situ terlihat, bahwa qiraat yang banyak digunakan adalah qiraat im riwayat af, meskipun terdapat juga riwayat lain, yakni riwayat Qln an Nfi. Namun, sebagian besar penulisan mushaf kuno di Nusantara menjadikan qiraat im riwayat af sebagai qiraat utama. Penyebaran tersebut juga bisa diamati melalui penyebaran sanad yang dimiliki oleh lima orang ulama AlQuran di Indonesia yang kesemuanya merujuk pada qiraat im riwayat af. Al-Quran versi cetak yang beredar pada tahun-tahun awal di Indonesia turut memperkuat jejak yang ada, bahwa qiraat yang digunakan adalah qiraat Imam im riwayat af.[]

244 244 uuf, Vol. 4, No. 2, 2011: 221 245 Daftar Pustaka
Abdul Gan, Abdul Fat, al-Budruz-Zhirah fil-Qir'til-Aysri alMutawtirah, Juz I, Mesir: Drus Salam, 2009. al-Asqalan, Amad bin Al bin Hajar Syihbuddn asy-Syfii, TahbutTahb, juz 2, Mu'asassah ar-Rislah. al-Azami, The History of The Quranic Text From Revelattion tto Compilation: Sejarah Teks Al-Quran dari Wahyu sampai Kompilasi, (pent: Sohirin Solihin, dkk), Jakarta: Gema Insani Press, 2005. Adnan Amal, Taufik, Rekonstruksi Sejarah Al-Quran, Jogjakarta: FKBA, 2001. al-Asywa, abar, Ijzul Qir'at al-Qur'niah: Dirsat fi Trkhi Qir't watTijhtil-Qurr', Mesir: Maktabah Wahbah, 1998. al-Bail, Amad, al-Ikhtilf Bainal-Qir't, Beirut: Drul-Jail, 1988. al-Bukhr, Ab Abdillh Muammad bin Isml aul-Bukhr, bab Unzilal-Qur'n al Sabati Arufin Hadis No. 4706 ad-Dn Ab Amr, al-Arufus-Sabah lil-Qur'n, Jeddah: Drul-Manrah watTawz, 1997. Fathoni, Ahmad, Kaidah Qiraat Tujuh I, Jakarta: Instutut PTIQ dan IIQ, 2005. _______, Kaidah Qiraat Tujuh II, Jakarta: Institut PTIQ dan IIQ, 2005. _______, Keterkaitan Ragam Qiraat dengan Rasm Usmani serta Implikasinya Terhadap Penerbitan Mushaf dan Penafsiran Al-Quran, Disertasi, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2008. _______, Sebuah Mushaf dari Sumedang, dalam Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia, (ed: Fadhal Bafadhal), Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, 2005. Ghazali, Abd Moqsith dkk., Metodologi Studi Al-Quran, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009. al-amad, Gnim Qadduwari, Rasmul Muaf, Dirsah Lugwiyah Trkhiyyah, Baghdad: Lajnah Wathaniyyah, 1982. al-Ibyri, Ibrhm, Trkul-Qur'n, Mesir: Dr al-Kitab al-Misri, 1991. al-Mizz, Jamluddn Ab Hajjj Ysuf, Tahbul-Kaml f Asm'ir-Rijl, Jilid 7, Beirut: Mu'assasah ar-Rislah, 1985. Mujhid, Ibnu, Kitbus-Sabah fil-Qir't, tahqiq: Syauq aif, Mesir: DrulMarif, 1972. Muslim bin al-ajjj, Ab usain, al-Jmi a-a, bab Annal-Qur'na al Sabati Arufin, Hadis No. 936. an-Nimah, Ibrhm, Ulmul-Qur'n, t.t: t.p., 2008. Qadhi, Abu Ammar Yasir, An Introduction to the Sciences of the Qur'aan, United Kingdom: Al-Hidaayah, 1999. as-Sayyid bin Amad bin Abdurraim, Asnid al-Qurr' al-Asyrah, Saudi: Maktabah Malik Fahd, 2005.

Pembakuan Qiraat Aim Mustofa 245 245 Shohib, Muhammad, Manuskrip Al-Quran di Kalimantan Barat, dalam Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia, (ed: Fadhal Bafadhal), Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, 2005. Soffandi,Wawan Djunaedi, Mazhab Qiraat im Riwayat Hafs di Nusantara: Studi Sejarah Ilmu. Tesis, Program Pascasarjana UIN, 2004. Sudrajat, Enang, Mushaf Kuno Jawa Barat, dalam Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia, (ed: Fadhal Bafadhal), Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, 2005. Syaroni, Mazmur, Ragam Penulisan Mushaf Kuno di Riau dalam Mushafmushaf Kuno di Indonesia, (ed: Fadhal Bafadhal), Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, 2005. Syatibi, M. AH, Potret Lembaga Tahfidz Al-Quran di Indonesia dalam Suhuf, vol. 1, No. 1 2008, hlm. 131. Syuraih ar-Raini, Ab Abdullh Muammad bin al-Andalsi, al-Kfi fil Qir'atis-Sabi, Libanon, Beirut: Drul-Kutub al-Ilmiyah, 2000. Tim Tafsir Depag, Muqaddimah Al-Quran dan Tafsirnya, Jakarta: Lajnah Pentashihan Muhaf Al-Quran, 2008. a-ahab, Syamsuddn Muammad bin Amad bin Umn, Siyar Alm anNubal', Juz 5, Beirut: Muasassah ar-Rislah, 1982. a-ahab, Tahb Tahbul-Kaml f Asm'ir-Rijl, Juz 5, Mesir: al-FazuqulHadsah lit-Thabaah wan-Nasyr. az-Zarkasy, al-Burhn f Ulmil-Qur'n, Juz I, Mesir: Maktabah Drut-Tur, 1984. http://id.wikipedia.org. http://cdm.csbsju.edu/cdm4/document.php?