Anda di halaman 1dari 3

SNI 01-3523-1994

Persyaratan Sapi Potong Pendahuluan Persyaratan sapi potong untuk ekspor disusun berdasarkan survey di daerah Bali, Lombok dan Kupang serta hasil penelitian performance sapi Bali dan Ongole di Propinsi Bali dan Nusa Tenggara Timur dari Fakultas Peternakan IPB. Pengertian persyaratan sapi potong merupakan pedoman bagi para eksportir sapi potong dan pihak pemerintah yang bergerak dalam bidang peternakan sapi pada umumnya. Berdasarkan hasil survey, wawancara serta saran-saran yang didapat maka disusunlah persyaratan sapi potong sebagai berikut : Spesifikasi 1. Ruang lingkup Persyaratan ini meliputi jenis kelamin sapi, bobot hidup, umur, kenampakan dari luar, kesehatan, pengamatan dan pemberian cap. 2. Diskripsi Sapi potong adalah sapi jantan dan atau kebirian dari berbagai bangsa sapi yang ada di Indonesia untuk keperluan ekspor dan antar pulau. 3. Jenis sapi potong Sapi potong meliputi bangsa sapi Bali, Ongole/Peranakan Ongole, Madura, Aceh dan bangsa sapi potong lainnya. 4. Persyaratan 4. A. Persyaratan ekspor A.1. Jenis kelamin sapi Sapi yang dapat diekspor sebagai sapi potong hdala sapi jantan yang dikebiri, khusus untuk bangsa sapi Bali harus sudah terjadi perubahan warna dari hitam menjadi merah A.2. Bobot hidup Bobot hidup minimal 350 kg untuk sapi ongole atau peranakan ongole (P.O) dan 325 kg untuk bangsa sapi lain. A.3. Umur Minimal sudah berumur 4 tahun atau kedelapan gigi serrinilla sudah tumbuh. A.4. Kenampakan dari luar Gemuk, tidak menunjukkan cacat fisik yang tidak diinginkan dan bebas dari ekto parasit. Keterangan : a. Yang dimaksud dengan gemuk, ditentukan dengan perletakkan lemak yang sudah terjadi pada daerah lipatan paha, pangkal ekor dan dipermukaan tulang rusuk.

1 dari 3

SNI 01-3523-1994

b. Yang termasuk cacat fisik yang tidak diinginkan adalah patah kaki, patah punggung, luka dan membahayakan keselamatan sapi yang bersangkutan atau sapi lain selama transportasi, serta cacat fisik lainnya. c. Termasuk ekto parasit adalah lalat, caplak dan kutu. A.5. Kesehatan Setelah dilakukan pengamatan dalam karantina selama minimum 12 hari sapi-sapi harus menunjukkan bebas dari segala gejala penyakit menular yang dibuktikan dengan dikeluarkannya Surat Kesehatan Ternak (Veterinary Certificate of Health) 4. B. Persyaratan perdagangan antar pulau B.1. Jenis kelamin sapi Sapi yang dapat diantar-pulaukan sebagai sapi potong adalah sapi jantan atau kebirian. Khusus untuk bangsa sapi Bali harus dikebiri dan sudah terjadi perubahan warna dari hitam menjadi merah. B.2. Bobot hidup Bobot hidup minimal 325 kg untuk sapi ongole atau peranakan ongole (P.O) dan 300 kg untuk bangsa sapi Bali. B.3. Umur Minimal sudah berumur 4 tahun atau kedelapan gigi serrinilla sudah tumbuh. B.4. Kenampakan dari luar Gemuk, tidak menunjukkan cacat fisik yang tidak diinginkan dan bebas ekto parasit. Keterangan : a. Yang dimaksud dengan gemuk, ditentukan dengan perletakkan lemak yang sudah terjadi pada daerah lipatan paha, pangkal ekor dan dipermukaan tulang rusuk. b. Yang termasuk cacat fisik yang tidak diinginkan adalah patah kaki, patah punggung, luka dan membahayakan keselamatan sapi yang bersangkutan atau sapi lain selama transportasi, serta cacat fisik lainnya. c. Termasuk ekto parasit adalah lalat, caplak dan kutu. B.5. Kesehatan Setelah dilakukan pengamatan dalam karantina selama waktu sesuai dengan peraturan yang berlaku, sapi-sapi harus menunjukkan bebas dari segala gejala penyakit menular yang dibuktikan dengan dikeluarkannya Surat Kesehatan Ternak (Veterinary Certificate of Health). 5. Pengamatan Pengamatan dilakukan pada setiap ekor sapi yang ada dalam kelompok dan dilaksanakan oleh petugas karantina.

2 dari 3

SNI 01-3523-1994

6. Pemberian cap Setiap ekor sapi yang akan diekspor atau diantar-pulaukan harus diberi cap bakar atau cap dengan cara lain yang tidak merusak kulit hewan ( Liquid Nitrogen).

3 dari 3