Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH KIMIA ANALITIK PRINSIP DASAR ELEKTROKIMIA DALAM KOROSI DAN ELEKTROPLATING

DISUSUN OLEH : BUDI MULIA PANGGABEAN DEVIANI NABILA RIDOVI ENY MULYATININGSIH ERICCO JANITRA RIZKI MULIA

TEKNIK KIMIA

UNIVERSITAS INDONESIA Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kehendak-Nya laporan yang berjudul Elektrokimia ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Penulisan laporan ini bertujuan untuk pembuatan tugas penulisan laporan pemicu 1 mata kuliah Kimia Analitik. Selain itu, tujuan penulis dalam penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui konsep elektrokimia beserta aplikasinya dalam peristiwa kehidupan sehari-hari. Dalam penyelesaian laporan ini, penulis banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan. Namun berkat bimbingan dari berbagai pihak, laporan ini dapat terselesaikan walaupun masih banyak kekurangannya. Karena itu, sepantasnya jika penulis mengucapkan terim kasih kepada : 1. Ibu Anti yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan untuk membuat laporan, juga memberikan pengarahan dan bimbingannya kepada penulis. 2. Kak Muslimah yang telah membantu penulis dalam pemeriksaan tugastugas sehingga penulis mengetahui cara pembuatan laporan ynag baik dan benar, dan 3. Semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang tidak disebutkan satu peratu.

Sebagai mahasiswa yang pengetahuannya belum seberapa dan masih perlu banyak belajar dalam penulisan laporan, penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang positif agar laporan ini dapat menjadi lebih baik dan berdaya guna di masa yang akan datang

DAFTAR ISI Kata pengantar2 Daftar isi...3 Bab 1 : Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah..4 1.2 Rumusan Masalah4 1.3 Tujuan Penulisan...5 1.4 Manfaat penulisan.5 Bab 2 : Pembahasan 2.1 Penyebab dan mekanisme korosi pada logam khususnya besi.6 2.2 Mekanisme Logam Magnesium dapat melindungi logam besi dari Karatan7 2.3 Factor factor yang mempengaruhi electroplating.8 2.4 Sel elektrokimia pada elektropating dan reaksinya...9 2.5 Cara/metode yang digunakan orang untuk melindungi logam dari korosi dan membedakan satu sama lain10 2.6 Kaitan antara lingkungan dekat TPA dengan kecenderungan pipa besi terkorosi..12 2.7 Reaksi yang terjadi pada proses perolehan logam aluminum dari Bauksit ..12 2.8. Pembuktian terjadinya korosi dari data sekunder yang diketahui pH tanah sekitar lokasi penempatan pipa besi adalah pH 6.16 Bab 3 : Penutup 3.1 Kesimpulan ..18
3

3.2 Saran ..19 Daftar Pustaka 19

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Dewasa ini elektrokimia merupakan hal yang sering didengar dan dipelajari di dunia modern. Elektrokimia merupakan penemuan terbesar dalam kehidupan manusia.Di mana di dalam elektrokimia akan mempelajari tentang reaksi kimia yang berhubungan dengan aspek aspek listrik dan elektronik. Aplikasi ilmu ini adalah bentuk sel-sel elektrokimia, di mana instrumen terpenting dalam sebuah sel elektrokimia adalah prinsip redoks, elektroda dan elektrolit. Dari jenis elektroda yang digunakan, dapat ditentukan potensial reduksi dalam sel. Sel elektrokimia dibagikan menjadi dua, yakni sel volta atau sel galvani dan sel elektrolisis.Sel galvanik adalah suatu sel elektrokimia yang terdari atas dua buah elektroda yangdapat menghasilkan energi listrik akibat terjadinya reaksi redoks secara spontan pada kedua elektroda tersebut. Sedangkan Jika pada sel elektrolitik diberikan perlakuan sebaliknya,dimana reaksi kimia yang terjadi dipaksakan untuk berlangsung ke arah nonspontan. Dalamsel elektrolitik, sumber energi luar digunakan untuk mendorong terjadinya reaksi kimia dalam arah yang berlawanan dengan reaksi yang berlangsung spontan.

Dalam laporan ini, hal yang dibahas adalah pemanfaatan sel elektrokimia dalam studi kasus korosi,pembuatan logam, elektowinning atau pemurnian, dan electroplating. Di mana peristiwa peristiwa tersebut melibat sel elektrokimia yang di dalamnya terdapat reaksi redoks. 1.2 RUMUSAN MASALAH Rumusan masalah dalam makalah ini dalah sebagai berikut: 1. Apa Penyebab dan bagaimana mekanisme korosi pada logam khususnya besi? 2. Bagaimana mekanisme logam magnesium dapat melindungi logam besi dari karatan? 3. Apa saja factor factor yang mempengaruhi electroplating? 4. Bagaimana sel elektrokimia pada elektropating dan reaksinya? 5. Apa cara/metode yang digunakan orang untuk melindungi logam dari korosi dan bagaimana membedakan satu sama lain? 6. Bagaimana Kaitan antara lingkungan dekat TPA dengan kecenderungan pipa besi terkorosi? 7. Bagaimana Reaksi yang terjadi pada proses perolehan logam aluminum dari bauksit? 8. Bagaimana Pembuktian terjadinya korosi jika diketahui pH tanah sekitar lokasi penempatan pipa besi adalah pH 6 ? 1.3 TUJUAN PENULISAN Tujuan penulisan makalah ini, adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui pengertian sel elektrokimia dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. 2. Untuk mengetahui pengertian korosi dan faktor penyebabnya, serta cara mengatasinya. 3. Untuk memberikan pengetahuan tentang reaksi elektrolisis dalam teknik elektroplating, elektrowinning serta pembuatan logam. 1.4 MANFAAT PENULISAN Manfaat penulisan makalah ini, adalah sebagai berikut:

1. Sebagai referensi bagi mahasiswa yang akan mempelajari tentang sel elektrokimia. 2. Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah kimia fisika. 3. Sebagai sarana atau sumber informasi bagi pembaca tentang sel elektrokimia dan aplikasinya dalam kehidupan.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Penyebab dan mekanisme korosi pada logam khususnya besi Korosi atau perkaratan logam merupakan proses oksidasi sebuah logam dengan udara atau elektrolit lainnya, dimana udara atau elektrolit akan mengami reduksi, sehingga proses korosi merupakan proses elektrokimia.

Korosi logam melibatkan proses anodik, yaitu oksidasi logam menjadi ion dengan melepaskan elektron ke dalam (permukaan) logam dan proses katodik yang mengkonsumsi elektron tersebut dengan laju yang sama. Proses katodik

biasanya merupakan reduksi ion hidrogen atau oksigen dari lingkungan sekitarnya. Untuk contoh korosi logam besi dalam udara lembab yang kondisinya asam, proses reaksinya dapat dinyatakan sebagai berikut : Anode Katode Redoks : {Fe(s) Fe2+(aq)+ 2 e} x 2 : O2(g)+ 4H+(aq)+ 4 e 2 H2O(l) : 2 Fe(s) + O2 (g)+ 4 H(aq) 2 Fe2+ + 2 H2O(l)

Dari data potensial elektrode dapat dihitung bahwa emf standar untuk proses korosi ini ,yaitu E 0sel = + 1,67 V ; reaksi ini terjadi pada lingkungan asam dimana ion H+ sebagian dapat diperoleh dari reaksi karbon dioksida atmosfer dengan air membentuk H2CO3. Ion Fe+2 yang terbentuk, di anode kemudian teroksidasi lebih lanjut oleh oksigen membentuk besi (III) oksida : 4 Fe+2(aq)+ O2 (g) + (4 + 2x) H2O(l) 2 Fe2O3.x H2O + 8 H+(aq) Hidrat besi (III) oksida inilah yang dikenal sebagai karat besi. Sedangkan pada kondisi netral reaksi yang terjadi di katode adalah : O2(aq) + H2O(l) + 2e 2OH-(aq) Ion Fe2+ yang larut dalam tetesan air bergerak menuju daerah katodik, sebagaimana ion-ion melewati jembatan garam dalam sel volta dan bereaksi dengan ion-ion OH membentuk Fe(OH)2. Fe(OH)2 yang terbentuk dioksidasi oleh oksigen membentuk karat. Reaksinya adalah sebagai berikut : Fe2+(aq) + 4OH(aq) Fe(OH)2(s) 2Fe(OH)2(s) + O2(g) Fe2O3.nH2O(s) Nilai emf standar untuk reaksi korosi ini (E = 0.84 V), nilai ini lebih kecil dibandingkan nilai emf standar reaksi korosi dalam suasan asam. Dengan kata lain proses korosi besi akan lebih mudah terjadi dalam suasana asam.

Reaksi keseluruhan pada korosi besi adalah sebagai berikut (lihat mekanisme pada Gambar 2) : 4 Fe(s) + 3O2(g) + nH2O(l) Fe2O3.nH2O(s) (Karat) Faktor yang mempengaruhi proses korosi meliputi potensial reduksi yang negatif, logam dengan potensial elektrodanya yang negatif lebih mudah mengalami korosi. Demikian pula untuk dengan logam yang potensial elektrodanya positif sukar mengalami korosi. 2.2 Mekanisme Logam Magnesium dapat melindungi logam besi dari karatan Logam magnesium dapat melindungi besi dari korosi dengan metode yang disebut perlindungan katodik. Metode ini sering diterapkan untuk mengendalikan korosi besi yang dipendam dalam tanah, seperti pipa ledeng, pipa pertamina, dan tanki penyimpan BBM. Logam reaktif seperti magnesium dihubungkan dengan pipa besi. Oleh karena logam Mg merupakan reduktor yang lebih reaktif dari besi, Mg akan teroksidasi terlebih dahulu. Jika semua logam Mg sudah menjadi oksida maka besi akan terkorosi. Proteksi katodik ditunjukkan pada Gambar berikut.

Reaksi yang terjadi dapat ditulis sebagai berikut. Anode Katode Reaksi Oleh sebab itu, hidroksidanya. 2.3 Factor factor yang mempengaruhi electroplating a) Suhu Suhu sangat penting untuk menyeleksi cocoknya jalannya reaksi dan melindungi pelapisan. Keseimbangan suhu ditentukan oleh beberapa faktor seperti ketahanan, jarak anoda dan katoda, serta ampere yang digunakan. b) Kerapatan Arus Kerapatan arus yang baik adalah arus yang tinggi pada saat diperkirakan masuk, bagaimanapun nilai kerapatan arus mempengaruhi waktu plating untuk mencapai ketebalan yang diperlukan. c) Konsentrasi ion Merupakan faktor yang berpengaruh pada struktur deposit, dengan naiknya konsentrasi logam dapat menaikkan seluruh kegiatan anion yang membantu mobilitas ion. d) Nilai pH Derajat keasaman (pH) merupakan faktor penting dalam mengontrol larutan elektroplating. e) Waktu pelapisan Waktu pelapisan sangat berpengaruh pada ketebalan lapisan yang diharapkan, semakin lama pencelupan maka ketebalan lapisan semakin bertambah : 2Mg(s) 2Mg2+(aq) + 4e : O2(g) + 2H2O(l) + 4e 4OH(aq) : 2Mg(s) + O2(g) + 2H2O 2Mg(OH)2(s) logam magnesium harus selalu diganti dengan yang baru

dan selalu diperiksa agar jangan sampai habis karena berubah menjadi

2.4 Sel elektrokimia pada elektropating dan reaksinya Sel elektrokimia pada electroplating adalah sel elektrolisis. Prinsip elektroplating ialah sebagai berikut yang menggunakan sel elektrolisis adalah sebagai berikut : - Katode : logam yang akan dilapisi. - Anode : logam untuk melapisi. - Elektrolit : garam dari logam anode. Contoh Besi akan dilapisi tembaga, maka sebagai katodenya adalah besi, anodenya tembaga, dan sebagai elektrolit adalah tembaga sulfat CuSO4. Reaksi yang terjadi dapat dijelaskan sebagai berikut. Ion Cu2+ bergerak ke katode, mengambil elektron dan menjadi logam tembaga yang menempel pada besi katode. Katode : Cu2+(aq) + 2 e Cu(s) Ion SO42 bergerak ke anode memberikan elektron dan bereaksi dengan tembaga anode. Anode : Cu(s) Cu2+(aq) + 2 e Lama kelamaan tembaga pada anode berkurang dan besi katode dilapisi tembaga. Bila proses ini makin lama, maka pelapisannya makin tebal. 2.5 Cara/metode yang digunakan orang untuk melindungi logam dari korosi dan membedakan satu sama lain Metode pencegahan korosi yang dapat dilakukan dengan banyak metode/cara dan satu cara nya yaitu dengan pelapisan permukaan. Untuk membedakan antara satu sama lain,maka pelapisan dibagi menjadi dua berdasarkan bahannya yaitu bahan organic dan anorganik. Elektroplanting adalah salah satu cara pencegahan serangan karat pada bahan metal dengan pelapisan menggunakan bahan organic dan an organic. A.PELAPISAN ORGANIK (organic coating) Coating adalah bahan yang di gunakan untuk melapisi atau menutupi permukaan material dengan tujuan untuk memisahkan material dari pengaruh interaksi dan lingkungannya. Dalam pelapisan permukaan metal dengan cat ada
10

beberapa factor yang menentukan efektifitas pelapisan tersebut. Tujuan pengecatan hanya sekedar kosmetik ( demi penampilan/keindahan), yang membedakan adalah tingkat ketebalan yang menentukan mutu isolasi permukaan metal terhadap lingkungannya tidak merupakan syarat utama. Adapula tujuan lain dari pengecatn itu yakni sebagi tanda misalnya: a. b. Colour coding mempunyai jenis indikasi material benda yang dicat. Colour coding menjukan jenis fluida yang dikandung suatu peralatan misalnya kuning untuk gas hiaju untuk oksigen , hijau muda untuk air pendingin , merah untuk pemadam kebakaran, coklat untuk minyak pelumas , perak untuk hidrokarbon , putih untuk zat kimia dll Selain itu cara lain untuk persiapan permukaan atau pembersihan produk karat pada permukaan metal adalah dengan basuh kimia atau chemical cleaning. Bahan-bahan kimia yang dapat di pakai adalah: Wetting agent sebagai unsure pembasah, Surfactans sebagai pemberi tenaga ,Amalgam sebagai peluntur gemuk,Surface active agent untuk mengahasilakan reaksi polarisasi,Sanitizer sebagai pencuci,Emulsifying additives sebagi penstabil pH,Purified compounds, Inhibitor sebagai penstabil suhu,Scavenging agent sebagai bahan aktif. Fungsi utama perlindungan permukaan dengan cat: Mencegah hubungan langsung antara metal dengan lingkungannya yang korosif Menghalangi hubungan langsing antara metal dan lingkungannya Menghambat langsung antara metal dengan lingkungannya Mamasok arus yang melindungi permukaan metal B . PELAPISAN ANORGANIK Pelapisan anorganik terdiri dari lapisan Portland cement dan vitreus enamels, glass lining dan porcelain lining 1.Pelapisan dengan Portland cement Pelapisan dengan Portland cement mempunyai keunggulan ekonomis karena lebih murah, lebih mudah dirawar/di perbaiki, lebih mudah memasangnya serta memiliki koefisien muai yang hampir sama dengan baja, yakni 1,0x10 -5/oC dan 1,2x10-5/oC untuk baja. Penerapan pelapisan ini dapat dilakukan dengan pengecoran sentrifugal/untuk bagian dalam pipa atau benda silindris, dengan troweling dan dengan disemprotkan (spraying). 2.Pelapisan vitereus enamel, glass lining dan porcelain lining Pada hakekatnya vitereus enamel, glass lining dan porcelain lining adalah pelapisan zat gelas yang memiliki koefisien muai yang sesuai dengan metal yang dilindunginya. Cara penerapannya adalah bubuk gelas dikenakan pada permukaan yang berbentuk asam atau seperti yang telah disiapkan.
11

1. 2. 3. 4.

Metode metode pelapisan dengan logam: A.Elektroplating Cara kerjanya mirip dengan elektrolisa, dimana logam pelapis bertindak sebagai anoda,sedangkan logam dasarnya sebagai katoda. B.Galvanisasi pencelupan panas ( hot dipping) Galvanisasi merupakan proses pelapisan logam induk dengan logam lain dengan tujuan agar logam induk mempunyai ketahanan korosi yang lebih baik. Galvanisasi umumnya menggunakan logam yang memiliki titik cair yang lebih rendah. C.Pelapisan dengan penyemprotan Pemakaian suatu lapisan metalik dengan proses penempatan cairan logam atau yang telah dilunqkkan dengan pemanasan yang disemprotkan ke bahan dasar. D. Pelapisan dengan penempelan ( clad coating ) Penerapan lapisan logam terhadap logam lainnya dengan cara las, rol atau ledak E. Pelapisan difusi Penerapan suatu lapisan bahan metalik dengan menumbukkan benda berbentuk bola terhadap permukaan benda kerja pada saat pelapisan serbuk logam dan bahan-bahan kimia 2.6 Kaitan antara lingkungan dekat TPA dengan kecenderungan pipa besi terkorosi Kecenderungan pipa besi yang berada dekat lingkungan TPA(Tenpat Pembuangan Sampah) mengalami korosi/karat adalah tidak lain dipengaruhi dan disebabkan oleh keberadaan TPA itu sendiri, yang dimana di dalamnya terdapat banyak limbah yang bersiftat beracun. Dimana beracun disini memiliki arti bahwa limbah tersebur bersifat mudah terbakar,penyebeb infeksi,reaktif dan yang perlu menjadi catatan yaitu bersifat korosif. Limbah dengan sifat-sifat diatas disebut dengan limbah B3(bahan berbahaya dan beracun). Limbah B3 yang ada di TPA

12

tersebut secara tidak langsung pasti mempengaruhi keadaan segala benda apapun yang ada di lingkungan di sekitar TPA tersebut, termasuk segala benda yang ada di bawah tanah, yaitu dalam hal ini pipa besi yang terkorosi. Seperti yang kita ketahui, limbah B3 ini selain memiliki sifat yang beracun,berbahaya dan korosif, limbah pada TPA juga pasti mengandung bermacam-macam logam berat, seperti Al, Cr, Cd, Cu, Fe, Pb, Mn, Hg, dan Zn serta zat kimia seperti pestisida, sianida, sulfida, fenol dan sebagainya. Logam-logam berat pada umumnya bersifat racun sekalipun dalam konsentrasi rendah. Daftar lengkap limbah B3 dapat dilihat di PP No. 85 Tahun 1999: Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Selain itu limbah juga cenderung memberi pengaruh yang korosif pada pipa besi karena Air limbah industri yang belum terolah dan memiliki pH diluar nilai pH netral, akan mengubah pH air sungai dan dapat mengganggu kehidupan organisme didalamnya. Hal ini akan semakin parah jika daya dukung lingkungan rendah serta debit air sungai rendah. Limbah dengan pH asam / rendah bersifat korosif terhadap logam khususnya terhadap pipa besi. Jadi limbah yang bersifat korosif adalah limbah yang menyebabkan iritasi pada kulit atau mengkorosikan baja, yaitu memiliki pH sama atau kurang dari 2,0 untuk limbah yang bersifat asam dan lebih besar dari 12,5 untuk yang bersifat basa. 2.7 Reaksi yang terjadi pada proses perolehan logam aluminum dari bauksit Aluminium ditambang dari bijih bauksit yang terdapat di permukaan bumi. Bijih bauksit tersebut dipanaskan untuk mengurangi kadar air yang ada dari penambangan. Setelah ditambang, bijih bauksit digiling dan dihancurkan agar halus dan merata. Kemudian bauksit akan mengalami proses pemurnian. Proses Pemurnian Aluminium Proses pemurnian aluminium dilakukan dengan metode bayer. Dalam bijih bauksit, terdapat sekitar 30-54% alumina (Al2O3). Sementara sisanya merupakan campuran silika (SiO2), oksida besi (Fe2O3) dan titanium dioksida (TiO2) yang merupakan pengotor bijih bauksit. Pemurnian dilakukan dengan melarutkan bauksit dalam larutan natrium hidroksida (NaOH). Siklus Bayer terdiri dari empat langkah, yaitu :

13

a) Grinding (penghancuran) yakni penghancuran bauksit menjadi ukuran yang lebih kecil dengan alat semacam blender. b) Digestion (pencernaan) Bauksit yang telah berupa tanah dicampur dengan natrium hidroksida dan dipompa ke tank bertekanan besar dan diberi panas uap 175oC. Natrium hidroksida bereaksi dengan mineral alumina bauksit membentuk larutan jenuh natrium aluminat. Sementara pengotor yang tak terlarut membentuk lumpur merah yang tetap berada dalam suspensi yang akan dipisahkan pada tahap clarification. Persamaan kimia : Al2O3(s) + 2 NaOH(aq) + 3 H2O(l) 2 NaAl(OH)4(aq) ...(8) c) Clarification (klarifikasi) Lumpur merah dipisahkan dengan menyaringnya dari kotoran padat. Kemudian dilakukan pendinginan di exchanger panas untuk meningkatkan derajat jenuh dari alumina yang terlarut. d) Precipitation (pengendapan) Alumina kemudian diendapkan dari filtratnya dengan cara mengalirkan gas CO2 dan pengenceran. 2 NaAl(OH)3(aq) + CO2(g) 2 Al(OH)3(s) + Na2CO3(aq) + H2O(l) ...(9) Selanjutnya larutan hidroksida didinginkan dan aluminium hidroksida mengalami pengendapan menjadi padatan putih halus. e) Calcination (kalsinasi) Larutan aluminium hidroksida dipanaskan sampai 1050oC sehingga terurai menjadi alumina dan menghasilkan uap air. 2 Al(OH)3(s) Al2O3(s) + 3 H2O(g) ...(10) Dan dihasilkanlah Al2O3 yang murni untuk selanjutnya mengalami proses peleburan pada proses Hall-Heroult.

14

Gambar4.Skema Alur Siklus Bayer


(www.ausetute.com.au)

Proses Hall-Heroult Proses Hall-Heroult adalah inti dari ekstraksi aluminium yang memanfaatkan prinsip elektrolisis. Sel Hall-Heroult menggunakan katoda besi yang dilapisi karbon dan anoda karbon. Larutan elektrolit yang digunakan adalah alumina yang dilarutkan dalam lelehan kriolit (Na3AlF6). Alumina dilarutkan ke dalam kriolit untuk menurunkan titik leleh dari 2000 oC hingga 950 oC. Gambar sel Hall-Heroult diberikan pada Gambar 5:

Gambar5.Sel Hall-Heroult untuk Ekstraksi Aluminium dari Alumina

Mekanisme proses Hall-Heroult:

(www.genisim.com)

Alumina yang didapatkan dari proses siklus bayer, dicampur dengan Na3AlF6 untuk kemudian garam lelehnya dielektrolisis. Setelah itu, alumina

15

bereaksi dengan Na3AlF6 untuk memicu berlangsungnya reaksi elektrolisis. Reaksi yang terjadi adalah: Al2O3 + 4AlF63- 3Al2OF62- + 6F...(11) Reaksi yang terjadi masih belum dipahami sepenuhnya. Tetapi, berdasarkan hasil yang ada, dua reaksi telah diperkirakan terjadi. Reaksi pertama yang diperkirakan adalah: 2Al2O3 + 12Na3AlF6 36Na+ + 6Al2OF62- + 12F- + 4AlF63...(12) Anoda ...(13) Katoda ...(14) 2Al2O3 + 3C ...(15) Sedangkan reaksi lain yang diusulkan diberikan pada persamaan berikut: 2Al2O3 + 6Na3AlF6 + 4F- 18Na+ + 3Al2O2F42- + 12F- + 4AlF4...(16) Anoda ...(17) Katoda ...(18) 2Al2O3 + 3C ...(19) Jika digambarkan dalam persamaan yang sederhana, maka : Anoda ...(20) Katoda ...(21) : 4Al3+(l) + 12e 4Al(l) + : 3C(s) + 6O2-(l) 3CO2(g) + 12e 3CO2 + 4Al : 4AlF4- + 12e 4Al + 16F+ : 3Al2O2F42- + 12F- + 3C 3CO2 + 6AlF4- + 12e 3CO2 + 4Al : 4AlF63- + 12e 4Al + 24F+ : 6Al2OF62- + 12F- + 3C 3CO2 + 12AlF4- + 12e-

16

4Al3+(l) + 3C(s) + 6O2-(l) ...(22) 2Al2O3 + 3C 4Al + 3CO2

4Al(l)

3CO2(g)

...(23)

Gambar6.Skema Katoda-Anode pada Sel HallHeroult

Reaksi yang terjadi membutuhkan energi sekitar 4.6 volt dan menghasilkan logam dengan kandungan 99.0 99.8 % aluminium. 2. 8. Pembuktian terjadinya korosi dari data sekunder yang diketahui pH tanah sekitar lokasi penempatan pipa besi adalah pH 6. Dengan menggunakan persamaan Nernst kita dapat mengetahui potensial reduksi besi pada ph terterntu, di mana: Persamaan Nernst

(www.genisim.com)

Reaksi Pengkorosian Besi Anode Katode Redoks O2(g)+ 4H+(aq)+ 4 e 2 Fe+2(aq)+ O2 (g) + 4H+ 2 Fe+2(aq)+ 4 e 2 H2O(l) Fe2+ + 2 H2O(l)

Dari reaksi tersebut di dapat

Kita asumsikan

1 M, maka

17

pada saat pH = 7 maka

= 10-7 dan E0 adalah E0 pada saat O2

menjadi H2O, yaitu sebesar : +1.23 maka

pada saat pH = 6 maka

= 10-6 dan E0 adalah E0 pada saat O2

menjadi H2O, yaitu sebesar : +1.23 maka

Karena nilai

O2

H2O pada pH 7 > pH 6, maka Oksigen di pH 7

akan lebih bersifat oksidator sehingga mudah tereduksi dibandingkan dengan di pH 6. Akibatnya pada pH 7 waktu yang diperlukan oksigen untuk mengoksidasi besi juga kecil sehingga besi tidak mudah berkarat. Sebaliknya, pada pH 6 waktu yang diperlukan oksigen untuk mengoksidasi besi juga besar sehingga besi lebih mudah berkarat.

18

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan


1) Korosi atau perkaratan logam merupakan proses oksidasi sebuah logam

dengan udara atau elektrolit lainnya, dimana udara atau elektrolit akan mengami reduksi, sehingga proses korosi merupakan proses elektrokimia. Reaksi keseluruhan pada korosi besi 4 Fe(s) + 3O2(g) + nH2O(l) Fe2O3.nH2O(s) (Karat) 2) Logam magnesium dapat melindungi besi dari korosi dengan metode yang disebut perlindungan katodik. Metode ini sering diterapkan untuk mengendalikan korosi besi yang dipendam dalam tanah. 3) Factor factor yang mempengaruhi electroplating adalah suhu, kerapatan arus, konsentrasi ion, nilai pH, dan waktu pelapisan. 4) Sel elektrokimia pada electroplating adalah sel elektrolisis. Contoh reaksinya adalah sebagai berikut -Katode: logam yang akan dilapisi - Anode : logam untuk melapisi. Katode:Cu2+(aq)+2eCu(s) Anode:Cu(s)Cu2+(aq)+2e 5) Metode pencegahan korosi yang dapat dilakukan dengan pelapisan permukaan. Untuk membedakan antara satu sama lain,maka pelapisan dibagi menjadi dua berdasarkan bahannya yaitu bahan organic dan anorganik. 6) Kecenderungan pipa besi yang berada dekat lingkungan TPA(Tenpat

19

Pembuangan Sampah) mengalami korosi/karat \ dipengaruhi oleh keberadaan TPA itu sendiri yang di dalamnya terdapat banyak limbah yang bersiftat beracun. 7) Proses perolehan logam aluminum dari bauksit dibagi 2 tahap yaitu proses pemurnian alumunium dan proses hall heroult 8) Dengan menggunakan persamaan Nernst kita dapat mengetahui potensial reduksi besi pada ph terterntu.

3.2 Saran Kami berharap di masa yang akan datang akan semakin banyak teknologi canggih dan metode baru untuk menanggulangi korosi. Selain itu diperlukan juga suatu system yang dapat mengatur jalannya proses tersebut.

DAFTAR PUSTAKA http://www.chem-is-try.org/


eprints.undip.ac.id staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/Alat%20elektroplating.pdf Irfan Ansory, (1985). Penuntun Pelajaran kimia berdasarkan Kurikulum 1984. Ganesa Exact Bandung. Hartono, J. Anton dan Tomijiro Kanoko, 1992, Mengenal Pelapisan Logam (Elektroplating), Andi Offset, Yogyakarta. repository.usu.ac.id Skoog,2000.Analythical Chemistry. Wesr Holler & Crouch : USA

20

21