Anda di halaman 1dari 32

Klinik Dokter Keluarga FK UNISMA Berkas Pembinaan Keluarga PKM Poncokusumo KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA Nama Kepala Keluarga

Alamat lengkap Bentuk Keluarga : Ny.E

No. RM Nama KK

: : Tn. S

Nama pasien : Ny.E

: Desa Pandansari RT 3 RW 3 : nuclear family

Tabel 1. Daftar Anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah No 1 2 Nama Tn.S Ny.E Status Suami (KK) istri L/P L P Umur 23 th 19 th Pendidikan SMA SMP Pekerjaan Pedagang Pasien Klinik T Y Ket GIP0000Ab000 uk 39-40 mgg dengan PEB Sumber : Data Primer, 22 juli 2013 Kesimpulan : Dalam keluarga Tn.S yang berbentuk Nuclear family, Ny.E wanita umur 19 tahun, sebagai penderita GIP0000Ab000 uk 39-40 mgg dengan KPD.

BAB I

STATUS PENDERITA 1.1 PENDAHULUAN Laporan ini disusun berdasarkan kasus yang diambil dari seorang penderita pre-eklampsia berat (PEB), berjenis kelamin wanita dan berusia 19 tahun. Preeklamsia adalah sebuah syndrome yang ditandai dengan hipertensi dan proteinuria yang dapat ditandai dengan gejala lain yang menyertai seperti edema, gangguan penglihatan, sakit kepala dan nyeri pada bagian epigastrik. Penyebab dari preeklamsia sampai sekarang belum diketahui secara pasti. diagnosis preeklamsia didasarkan atas adanya 2 dari trias utama: hipertensi, edema dan proteinuria. Diagnosis preeklamsia dan eklamsia dapat ditegakkan melalui Anamnesis, pemeriksaan fisik da pemeriksaan laboratorium. Pengelolaan preeklamsia tergantung derajat keparahannya. Preeklamsi merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya Intra Uterine Fetal Death (IUFD), yaitu kematian janin yang terjadi pada kehamilan normal tanpa komplikasi. Tidak didapatkan gejala yang khas terjadinya Intra Uterine Fetal Death , hanya pada kehamilan stadium akhir, ibu akan menyadari melalui gerakan janin atau pergerakan janin yang tidak dirasakan lagi. Diagnosis ditegakkan berdasarkan berhentinya DJJ, tidak tumbuhnya kandungan dapat dideteksi dengan tersebut. 1.2` ANAMNESIS 1.2.1 Identitas Penderita Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Pendidikan Agama Alamat : : : : : : : Ny.E 19 tahun Wanita SMP Islam Donomulyo Rntgen, USG atau pemeriksaan sebelum melahirkan. Penatalaksanaan tergantung umur kehamilan terdeteksinya kematian janin

Status Pernikahan Suku Tanggal periksa 1.2.2 Keluhan Utama :

: : :

menikah Jawa 22 Juli 2013

Pasien merasa kenceng-kenceng 1.2.3 Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dirujuk oleh bidan karena tekanan darahnya tinggi. Pasien mengatakan perutnya kenceng-kenceng sewaktu tidur pada tanggal 21 juli 2013, pasien hanya berjalan-jalan kecil kemudian pasien merasakan kenceng-kenceng tiap 5 menit sekali. Tanggal 22 juli 2013 pukul 07.00 pasien periksa ke bidan dengan kenceng-kenceng yang semakin sering serta keluar cairan seperti air kencing jernih merembes dari jalan lahir, tidak berbau dan tidak berlendir, kemudian dilakukan pemeriksaan oleh bidan didapatkan pembukaan 4cm dengan tensi 170/90 mmHg kemudian dirujuk ke puskesmas poncokusumo, pukul 08.00 pasien tiba di puskesmas poncokusumo. 1.2.4 Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat dengan keluhan serupa Riwayat hipertensi Riwayat sakit gula Riwayat mondok Riwayat asma Riwayat alergi obat/makanan Riwayat jatuh 1.2.5 Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat keluarga dengan penyakit serupa Riwayat penyakit jantung Riwayat hipertensi Riwayat sakit gula 1.2.6 Riwayat Kebiasaan Riwayat pengisian waktu luang Riwayat olahraga : dilakukan untuk membantu suami : jarang terutama selama hamil : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

1.2.7 Riwayat Psiko Sosio Ekonomi Penderita adalah seorang istri dari suami yang seorang pedagang dipasar. Hubungan Ny.E dengan suaminya saling mendukung dan saling memperhatikan kondisi kesehatan. Dalam kehidupan sosial Ny.E kurang berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. 1.2.8 Riwayat Gizi. Penderita makan sehari-hari selama hamil biasanya antara 4-5 kali dengan nasi sepiring, sayur, dan lauk pauk seperti telur, tahu-tempe, ayam dan juga dengan daging, kadang makan buah-buahan dan minum susu hamil. Kesan gizi cukup. 1.2.9 Riwayat kehamilan sebelumnya Pasien belum pernah hamil. Pasien sebelumnya tidak pernah keguguran. Ini merupakan kehamilannya yang pertama. 1.2.10 Riwayat kehamilan ini Selama hamil, pasien kontrol pada trimester pertama dan kedua 1 kali tiap bulan dan pada trimester ketiga tiap 2 minggu sekali. Pasien mengaku tidak pernah ada kelainan selama kehamilannya. Pasien tidak terlalu banyak keluhan selama kehamilannya ini. Pada bulan-bulan pertama hanya mual-mual yang ringan. Selama kontrol pasien diberi vitamin B1 untuk mualnya serta sulfas ferosus dan asam folat. 1.2.11 Anamnesis Sistem Kulit Kepala Mata Hidung Telinga Mulut Tenggorokan Pernafasan Kardiovaskuler Gastrointestinal : Warna kulit sawo matang, kulit gatal (-) : Sakit kepala (-), pusing (-) : mata berkunang-kunang (-), penglihatan kabur (-) : Mimisan (-) : Pendengaran berkurang (-), : Sariawan (-), mulut kering (-) : Sakit menelan (-), serak (-) : Sesak nafas (-), mengi (-) : Berdebar-debar (-), nyeri dada (-), ampeg (-) : Mual (-), muntah (-), diare (-), nyeri perut (+)

Genitourinaria Neuropsikiatri

: BAK lancar, 4-6 kali/hari warna dan jumlah biasa : Neurologik Psikiatrik : kejang (-), lumpuh (-) : emosi stabil

Muskuloskeletal

: Kaku sendi (-), nyeri tangan (-), nyeri kaki ( : bengkak (-), luka dan nyeri (-)

Ekstremitas : Atas sebelah kiri

Atas sebelah kanan : bengkak (-), luka dan nyeri (-) Bawah sebelah kiri : bengkak (+), luka (-), nyeri (-) Bawah sebelah knan : bengkak (+), luka (-), nyeri (-) 1.3 PEMERIKSAAN FISIK Tampak lemah, kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6), status gizi kesan cukup. 1.3.2 Tanda Vital dan Status Gizi Status gizi TB BB : 152 cm : 65 kg

1.3.1 Keadaan Umum

Tanda Vital Tensi Nadi Pernafasan Suhu : 180/110mmHg : 88x/menit, reguler, isi cukup : 22x/menit : 37oC : Warna sawo matang, ikterik (-), sianosis (-) : Bentuk mesocephal, tidak ada luka, makula (-), papula (-), : Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor

Kulit Kepala Mata

nodula (-), kelainan mimik wajah/bells palsy (-) (3mm/3mm), reflek kornea (+/+), warna kelopak (coklat kehitaman), katarak (-/-), radang/conjunctivitis/uveitis (-/-) Hidung : Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis(-),

deformitas hidung (-), hiperpigmentasi (-), sadle nose (-)

Mulut

: Bibir pucat (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), papil lidah

atrofi (-), tepi lidah hiperemis (-), tremor (-) Telinga : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan

Tenggorokan Thoraks

Simetris, retraksi interkostal (-), retraksi subkostal (-) Cor : I P P :Ictus cordis tak tampak :Ictus cordis tak kuat angkat :Batas kiri atas: SIC II 1 cm lateral LPSS Batas kiri bawah: SIC V 1 cm lateral LMCS Batas kanan atas: SIC II LSD Batas kanan bawah: SIC IV LSD Batas jantung kesan tidak melebar A Pulmo : I P P A Abdomen Tampak membuncit, tampak striae gravidarum. Sistem Collumna Vertebralis I : P : Deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-) Nyeri tekan (-) :BJ III intensitas normal, regular, bising (-) :Pengembangan dada kanan = kiri :Fremitus raba kanan = kiri :Sonor / sonor :Suara dasar vesikuler (+ /+) (depan dan belakang)

suara tambahan RBK (-/-), wheezing (-/-)

Ektremitas: tidak periksa Sistem genitalia: dalam batas normal Pemeriksaan obstetri ginekologi Pemeriksaan luar Leopold I Leopold II :bagian teratas teraba lunak, kesan bokong :teraba bagian memanjang di sebelah kiri

Leopold III Leopold IV

:bagian terbawah teraba keras, melenting, kesan :penurunan kepala 3/5

kepala, bagian terbawah sudah masuk PAP TFU 27 cm, DJJ 144 x/mnt. Pemeriksaan dalam vt/vv : cairan ketuban + lendir, darah (-), benjolan (-), po 8 cm, eff 75%, nyeri goyang porsio (-), ket (-), kepala HI 1.4 RESUME Seorang wanita 19 tahun mengeluhkan perutnya kenceng-kenceng sewaktu tidur pada tanggal 21 juli 2013, Tanggal 22 juli 2013 pukul 07.00 pasien periksa ke bidan dengan kenceng-kenceng yang semakin sering serta keluar cairan seperti air kencing jernih merembes dari jalan lahir, tidak berbau dan tidak berlendir, kemudian dilakukan pemeriksaan oleh bidan didapatkan pembukaan 4cm dengan tensi 170/90 mmHg kemudian dirujuk ke puskesmas poncokusumo, pukul 08.00 pasien tiba di puskesmas poncokusumo. Pada pemeriksaan fisik jam 08.30 didapatkan keadaan umum tampak sakit, compos mentis, status gizi kesan cukup. Tanda vital T : 180/110 mmHg, N : 88x/menit, RR : 22x/menit, S : 37oC. Dari pemeriksaan obstetric ginekologi didapatkan: TFU 27 cm, PUKI, letkep sudah masuk PAP, DJJ 144 x/mnt, vt/vv: cairan ketuban + lendir, po 8 cm, eff 75%, ket (-), kepala HI. 1.5 DIAGNOSIS HOLISTIK Ny.E, dengan GIP0000Ab000 uk 39-40 mgg dengan PEB dengan keluarga yang saling memperhatikan kesehatan. 1.5.1 Diagnosis Biologis GIP0000Ab000 uk 39-40 mgg dengan PEB 1.5.2 Diagnosis Psikologis Hubungan dengan anggota keluarga yang lain saling mendukung, dan saling memperhatikan kondisi kesehatan.

1.5.3 Diagnosis Sosial Ekonomi dan Budaya 1.6 Status ekonomi cukup. Penyakit mengganggu aktifitas sehari-hari. Kondisi lingkungan dan rumah yang cukup sehat. Cukup berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.

PENATALAKSANAAN Pasien dianjurkan untuk beristirahat dan menyiapan mental untuk melakukan proses persalinan

1.6.1 Non farmakoterapi

1.6.2 Medikamentosa IVFD D-5 02 nasal canul 4 lpm Pasang cateter Injeksi IV MgSo4 4 gr dalam 30 menit Bolus MgSo4 6 gr (setelah selesai injeksi IV) Persiapa rujuk Evaluasi DJJ, pembukaan, TTV 1.7 FOLLOW UP Evaluasi jam 09.00 Keluhan : mules semakin sering, sesak (-), demam (-), rasa ingin mengedan semakin kuat dan sering. Pemeriksaan : TTV ibu dalam batas normal, DJJ 156 x/m, po 9 cm, eff 75%, ket (-), kep HIII. Anjuran : tetap istirahat di tempat tidur, proses injeksi MgSo4 masih berlangsung Evaluasi jam 09.30

Keluhan

Kepala bayi sudah mulai terlihat di kemaluan, rasa ingin mengedan Pemeriksaan : po lengkap, kepala bayi sudah terlihat di vulva dengan diameter 5 cm pimpin persalinan dengan episiotomi. jam 09.45 bayi lahir spontan perempuan BB 2850 g, TB 49 cm, A-S 8-9, cacat (-). jam 10.00 plasenta lahir lengkap, heating laserasi. Evaluasi jam 12.30 Keluhan : (ibu) pusing (-), keluar darah dari jalan lahir (-), mules sedikit, ASI bisa keluar sedikit. T 130/80 (bayi) mau menyusu, demam (-) Ibu diperbolehkan pulang

BAB II IDENTIFIKASI FUNGSI- FUNGSI KELUARGA 2.1 FUNGSI HOLISTIK Keluarga terdiri dari penderita (Ny.E, 19 tahun) dan suaminya (Tn.S, 23 tahun). Ny.F selama sakit, tidak dapat beranjak dari tempat tidur karea khawatir sekali dengan kondisi kandungannya. Apalagi ini nak pertama jadi belum ada pengalaman dan pengetahuan. 2.1.2 Fungsi Psikologis Hubungan keluarga mereka terjalin cukup baik dan saling memperhatikan satu sama lain, juga dalam masalah kesehatan. 2.1.3 Fungsi Sosial Dalam kehidupan sehari-hari, mereka hanya anggota masyarakat biasa, tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat. Namun, dalam kehidupan sosial Ny.E cukup berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Pasien dan suaminya sering mengikuti atau ikut bergotong royong jika ada acara di lingkunga tempat tinggalnya. 2.1.4 Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan Penghasilan keluarga selama ini cukup. Untuk biaya hidup sehari-hari seperti makan, minum, atau iuran membayar listrik berasal dari penghasilan suami Ny.E yang berjualan handphone dan pulsa. Untuk kebutuhan air dengan menggunakan air sumur. Untuk memasak memakai kompor LPG. Penderita makan sehari-hari biasanya antara 4-5 kali dengan nasi putih atau nasi jagung, sayur, dan lauk pauk seperti tahu-tempe, daging dan juga ayam. Kadang makan buah-buahan. Setiap pagi minum susu hamil. Kalau ada keluarga yang sakit biasa berobat ke puskesmas atau pustu, namun karena puskesmas jauh dari rumah pasien, maka pasien lebih sering ke pustu. Kesimpulan :

2.1.1 Fungsi Biologis

10

Dari poin satu sampai empat dari fungsi holistik, fungsi psikologis dan fungsi sosial ekonom keluarga Ny.E umur 19 tahun, cukup baik karena perhatian tentang pentingnya kesehatan dari masing-masing anggota keluarga, kemauan mereka untuk segera mencari pengobatan, serta ditunjang dengan kondisi ekonomi yang cukup. 2.2 FUNGSI FISIOLOGIS (A.P.G.A.R SCORE) Untuk menilai fungsi fisiologis keluarga ini digunakan A.P.G.A.R SCORE dengan nilai hampir selalu = 2, kadang = 1, hampir tidak pernah = 0. A.P.G.A.R SCORE disini akan dilakukan pada masing-masing anggota keluarga dan kemudian dirata-rata untuk menentukan fungsi fisiologis keluarga secara keseluruhan. Nilai rata-rata 1-4 = jelek, 5-7 = sedang, 8-10 = baik. Adaptasi Kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi dengan anggota keluarga yang lain, serta penerimaan, dukungan dan saran dari anggota keluarga yang lain. Partnership Menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga tersebut. Growth Menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan anggota keluarga tersebut. Affection Menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar anggota keluarga. Resolve Menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain. Tabel 2. APGAR Ny.E terhadap keluarga
A.P.G.A.R An.F Terhadap Keluarga Hampir KadangHampir

11

selalu

kadang

tidak pernah

A P

Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru Saya puas dengan cara keluarga saya dan

mengekspresikan

kasih

sayangnya

merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama

Total poin = 5 Tabel 3. APGAR Tn.S terhadap keluarga


A.P.G.A.R Tn.S Terhadap Keluarga Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru Saya puas dengan cara keluarga A mengekspresikan kasih sayangnya saya dan Hampir selalu Kadangkadang Hampir tidak pernah

A P

merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya

membagi waktu bersama-sama Total poin = 8

12

A.P.G.A.R SCORE keluarga pasien = (5+8) / 2= 6,5 Kesimpulan : fungsi fisiologis keluarga pasien sedang Secara keseluruhan total poin dari A.P.G.A.R keluarga pasien adalah 13, sehingga rata-rata A.P.G.A.R dari keluarga pasien adalah 6,5. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi fisiologis yang dimiliki keluarga pasien dalam keadaan sedang. 2.3 FUNGSI PATOLOGIS (S.C.R.E.E.M) Fungsi patologis dari keluarga Ny. E dinilai dengan menggunakan S.C.R.E.E.M sebagai berikut : Tabel 4. Fungsi patologis ( S.C.R.E.M ) dari keluarga An.F
SUMBER Social PATOLOGI Interaksi sosial yang baik antar anggota keluarga juga dengan Cultural saudara, partisipasi mereka dalam kegiatan KET -

kemasyarakatan cukup aktif. Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, hal ini dapat dilihat dari pergaulan sehari-hari baik dalam keluarga maupun di lingkungan, banyak tradisi budaya yang masih diikuti. Sering mengikuti acara-acara yang bersifat hajatan, sunatan, nyadran dll. Menggunakan bahasa jawa, tata krama dan kesopanan. Pemahaman agama cukup. Penerapan ajaran juga baik, hal ini dapat dilihat dari penderita dan keluarga yang rutin

Religion

Economic

menjalankan sholat lima waktu di masjid. Ekonomi keluarga ini tergolong cukup, untuk kebutuhan primer sudah bisa terpenuhi, mampu mencukupi kebutuhan sekunder namun tidak mememiliki rencana ekonomi. Pendidikan anggota keluarga cukup memadai. Pendidikan dan pengetahuan penderita kurang. Kemampuan untuk memperoleh dan memiliki fasilitas pendidikan seperti buku dan koran cukup memadai. Dalam mencari pelayanan kesehatan keluarga tidak mempunyai kartu jaminan kesehatan namun mampu untuk membiayai biaya kesehatan bila ada anggota keluarga sakit

Education

Medical

Kesimpulan :

13

Dalam keluarga Ny.E fungsi patologis tidak ada yang positif 2.4 GENOGRAM Alamat lengkap Bentuk Keluarga : Desa pandansari RT 3 RW 3 : Nuclear Family

Diagram 1. Genogram Keluarga Ny.E

Tn. M

Ny.S

Tn. A

Ny.D

Tn.P

Tn. S

Ny.E

Sdr.B

Sdri.A

Sumber : Data Primer, 22 juli 2013 Kesimpulan : Dari genogram di atas dapat disimpulkan bahwa PEB yang diderita oleh Ny.E bukan merupakan penyakit yang ditularkan dari anggota keluarga yang lain atau bukan merupkan penyakit keturunan. 2.5 INFORMASI POLA INTERAKSI KELUARGA Diagram 2. Pola Interaksi Keluarga Ny.E
Tn. S Ny.E

Sumber : Data Primer, 22 juli 2013 Keterangan : Kesimpulan : Hubungan antara Ny.E dengan suaminya cukup baik. Dalam keluarga ini tidak pernah terjadi konflik atau hubungan buruk antar anggota keluarga. BAB III IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI hubungan baik

14

KESEHATAN 3.1 IDENTIFIKASI FAKTOR PERILAKU DAN NON PERILAKU Ny.E adalah istri dari Tn.S. Ny.E seorang istri yang tidak bekerja sedangkan Tn.S adalah seorang pedagang handphone dan pulsa. Tn.S dan Ny.E menyempatkan waktu istirahat di rumah dengan berbincang-bincang dan menonton televisi terutama saat sore hari setelah sang suami pulang ke rumah. Terkadang saat ada masalah mereka akan segera membicarakannya. Tn.S selalu memperhatikan kesehatan istrinya terutama saat kehamilan istrnya ini karena merupakan kehamilan anak pertama mereka. Saat Ny.E sakit, Tn.S selalu khawatir dan segera mengajak istrinya untuk berobat. Untuk sakitnya ini, Ny.E dan suaminya tidak mengetahui merupakan penyakit apa dan karena apa. Karena kekhawatiran akan kandungan istrinya dan kondisi istrinya maka Tn.S segera mengantar istrinya ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan. 3.1.2 Faktor Non Perilaku Dipandang dari segi ekonomi, keluarga ini termasuk keluarga menengah ke bawah. Keluarga ini memiliki satu sumber penghasilan yaitu Tn.S yang bekerja sebagai pedagang handphone dan pulsa. Rumah yang dihuni keluarga ini cukup memadai, karena cukup memenuhi standar kesehatan. Pencahayaan ruangan cukup, ventilasi cukup, fasilitas WC dan kamar mandi yang cukup bersih. Dapur memiliki akses udara yang bebas dan pencahayaannya cukup. Fasilitas kesehatan yang sering dikunjungi oleh keluarga ini jika sakit adalah pustu, karena dekat dengan
Pengetahuan : Keluarga kurang mengetahui penyakit penderita

3.1.1 Faktor Perilaku Keluarga

tempat tinggal pasien.

Lingkungan: Keluarga cukup memahami pentingnya kebersihan lingkungan terhadap kesehatan penderita Keturunan: Tidak ada faktor keturunan

Sikap: Diagram 3. Faktor Perilaku dan Non Perilaku Cukup perhatian Keluarga An.F keluarga terhadap penyakit penderita Tindakan: Keluarga mengantarkan penderita untuk periksa ke dokter

Pelayanan Kesehatan: 15 Jika sakit Ny.E sering berobat ke puskesmas

: Faktor Perilaku : Faktor Non Perilaku 3.2 IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH Keluarga ini tinggal di sebuah rumah berukuran 5 x 11 m 2 yang berdempetan dengan rumah tetangganya, memiliki pekarangan rumah. Terdiri dari ruang kamar tamu dan ruang keluarga, dua kamar tidur, satu dapur, satu kamar mandi yang sudah memiliki fasilitas jamban keluarga. Pintu masuk dan keluar ada dua, di bagian depan rumah dan di bagian belakang rumah pintu ditutup dengan bahan kayu. Jendela kaca ada. Lantai rumah sebagian sudah memakai keramik. Ventilasi dan penerangan rumah baik. Atap rumah tersusun dari genteng dan ditutup langit- langit gips. Kamar memiliki satu kasur untuk tidur. Dinding rumah berupa tembok batu bata. Perabotan rumah tangga lengkap. Sumber air untuk kebutuhan sehari-harinya keluarga ini menggunakan air sumur. Secara keseluruhan kebersihan rumah masih cukup. Sehari-hari keluarga memasak menggunakan LPG. Denah Rumah

16

Kamar mandi

dapur

Kamar tidur

Kamar tidur

Ruang Tamu

Toko

Kesimpulan : Lingkungan rumah cukup memenuhi syarat kesehatan.

BAB IV DAFTAR MASALAH

17

4.1

MASALAH MEDIS : Perut terasa mules dan kenceng-kenceng kemudian keluar cairan merembes dari jalan lahir pada pemeriksaan didapatkan tekanan darah pasien tinggi

4.2

MASALAH NON MEDIS : Tingkat pengetahuan keluarga Ny.E tentang kesehatan kurang. Fungsi fisiologis keluarga Ny.E sedang.

4.3

DIAGRAM PERMASALAHAN PASIEN (Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada dengan faktor-faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien)
Ny. E, 19 tahun dengan GIP0000Ab000 uk 3940 mgg dengan KPD Tingkat pengetahuan keluarga Ny.E tentang kesehatan kurang

4.4

MATRIKULASI MASALAH Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks. (Azrul, 1996) Tabel 5. Matrikulasi masalah

No. Daftar Masalah 1. Tingkat keluarga

I P tentang

T S 4 SB 4 4

R Mn 3

Jumlah Mo 3 Ma 3 IxTxR 8.840

pengetahuan 5 Ny.E

kesehatan kurang

Keterangan : I P S SB T : Importancy (pentingnya masalah) : Prevalence (besarnya masalah) : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah) : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah) : Technology (teknologi yang tersedia)

18

R Mn Mo Ma

: Resources (sumber daya yang tersedia) : Man (tenaga yang tersedia) : Money (sarana yang tersedia) : Material (pentingnya masalah)

Kriteria penilaian : : tidak penting : agak penting : cukup penting : penting : sangat penting 4.5 PRIORITAS MASALAH Berdasarkan kriteria matriks diatas, maka urutan prioritas masalah keluarga Ny.E adalah sebagai berikut : Tingkat pengetahuan keluarga An.F tentang kesehatan kurang. Kesimpulan : Prioritas masalah yang diambil adalah keluarga Ny.E yang tingkat pengetahuan keluarga tentang kesehatan kurang yang mempengaruhi kejadian dan kesembuhan penyakit.

BAB V TINJAUN PUSTAKA PRE-EKLAMPSI BERAT

19

5.1

PENGERTIAN Preeklamsia dan eklampsia merupakan kesatuan penyakit yang langsung disebabkan oleh kehamilan. Di samping perdarahan dan infeksi, penyakit ini masih merupakan penyebab utama kematian ibu dan perinatal yang tinggi. Oleh karena itu, diagnosis dini preeklamsia, yang merupakan tingkat pendahuluan eklamsia, serta penanganannya perlu segera dilaksanakan untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. Preeklamsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria akibat kehamilan, setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu bila terjadi penyakit trofoblas. Untuk menegakkan diagnosis preeklamsia, kenaikan tekanan darah sistolik harus 30 mmHg atau lebih di atas tekanan yang biasanya ditemukan, atau mencapai 140 mmHg atau lebih. Kenaikan tekanan darah diastolik sebenarnya lebih dapat dipercaya. Apabila tekanan diastolik naik 15 mmHg atau lebih, atau menjadi 90 mmHg atau lebih, maka diagnosis hipertensi dapat dibuat. Pengukuran tekanan darah ini dilakukan sekurang-kurangnya dua kali dengan selang waktu 6 jam dalam keadaan istirahat. Proteinuria didefinisikan sebaai peningkatan ekskresi protein dalam urine sebanyak 0,3 gr protein dalam 24 jam atau 30 mg/dl (+1 pada tes dipstick) dalam pengambilan urine sewaktu dan tidak adanya bukti infeksi saluran kemih.

5.2

KLASIFIKASI Menurut Report on The National High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy (AJOG Vol 183, 5. July 2000). Hipertensi dalam kehamilan diklasifikasi sebagai berikut: 1. Hipertensi Gestasional

20

Pada kehamilan dijumpai tekanan darah 140/90 mmHg, tanpa disertai proteinuria dan biasanya tekanan darah akan kembali normal sebelum 12 minggu pasca-persalinan. 2. Preeklampsia Apabila dijumpai tekanan darah 140/90 mmHg setelah kehamilan 20 minggu disertai dengan proteinuria 300 mg/24 jam atau pemeriksaan dengan dipstick 1 +. 3. Eklampsia Ditemukan kejang-kejang pada penderita preeklampsia, dapat disertai koma. 4. Hipertensi Kronik Dari sebelum hamil, atau sebelum kehamilan 20 minggu, ditemukan tekanan darah 140/90 mmHg dan tidak menghilang setelah 12 minggu pascapersalinan. 5. Hipertensi Kronis dengan Super Imposed Preeklampsia Pada wanita hamil dengan hipertensi kronis, muncul proteinuria 300 mg/24 jam setelah kehamilan 20 minggu, dapat disertai gejala dan tanda preeklampsia lainnya. 5.3 ETIOLOGI Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Banyak teori-teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya, oleh karena itu disebut Preeclampsia, the disease of theories (Zweifel, 1916). Teori yang sekarang ini banyak dikemukakan sebagai penyebab preeklamsia adalah teori iskemia plasenta. Namun teori ini belum dapat menerangkan semua hal yang berkaitan dengan penyakit ini. Sejumlah hipotesis tentang etiologi preeklamsia antara lain : 1,16,10,13 1. Hipotesis iskemia plasenta Pada pembentukan plasenta yang normal, sitotrofoblas melewati jembatan placenta dan maternal serta akan menginvasi desidua maternal dan arteri spiralis maternal yang terdekat. Sitotrofoblas akan

21

berpenetrasi pada dinding arteri spiralis dan menggantikan bagian endothelium maternal, yang akan menstimulasi remodeling dari dinding arteri sehingga otot polos arteri akan hilang dan arteri berdilatasi. Pada desidua, akan terjadi konfrontasi dari Natural Killer cells dan beberapa makrofag. Sel-sel imun ini akan memfasilitasi invasi yang lebih dalam dari sitotrofoblas pada segmen miometrium dan menyebabkan remodeling arteri spiralis yang luas. Pada preeklamsia, invasi sitotrofoblas tidak sempurna sehingga terjadi gangguan dalam remodeling arterial. Kegagalan remodeling arteri spiralis maternal akan mengakibatkan perfusi yang tidak adekuat dan akhirnya menimbulkan iskemia plasenta. Akibat dari iskemia plasenta, maka akan merangsang pelepasan sitokin-sitokin yang akan menyebabkan disfungsi endotel. Penanda terjadinya disfungsi endotel pada perempuan dengan preeklamsia yaitu pada rasio prokoagulan/antikoagulan, peningkatan fibronektin dan aktivasi platelet, serta perubahan-perubahan pada vasomediator, seperti: penurunan nitric oxide dan prostaglandin, peningkatan endothelin,tromboksan, dan sensitivitas Angiotensin II. 2. Hipotesis Maladaptasi Imun Pada kehamilan pertama blocking antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna sehingga timbul respon imun yang tidak menguntungkan terhadap inkompabilitas plasenta seperti peningkatan desidua yang melepaskan sitokin, enzim proteolitik dan jenis-jenis radikal bebas yang kemudian menyebabkan disfungsi endotel. Pada kehamilan berikutnya pembentukan blocking antibodies ini semakin sempurna. Fierlie P.M. (1992) mendapatkan beberapa data yang mendukung adanya sistem imun pada penderita preeklamsia-eklamsia: a. Beberapa wanita dengan preeklamsia/eklamsia mempunyai kompleks imun dalam serum b. Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktivasi sistem komplemen pada preeklamsia/eklamsia diikuti dengan proteinuria

22

Stirat (1986) menyimpulkan, meskipun ada beberapa pendapat menyebutkan bahwa sistem imun humoral dan aktivasi komplemen terjadi pada preeklamsia/eklamsia, tetapi tidak ada bukti bahwa sistem imunologi bisa menyebabkan preeklamsia/eklamsia. 3. Hipotesis Genetik Preeklamsia diturunkan secara resesif tunggal atau gen dominan yang tidak komplit. Beberapa bukti yang menunjukkan peran faktor genetik pada kejadian preeklamsia/eklamsia antara lain : a. Preeklamsia hanya terjadi pada manusia. b. Terdapatnya kecenderungan meningkatnya frekuensi preeklamsia/eklamsia pada anak-anak dari ibu yang menderita preeklamsia/eklamsia. c. Kecenderungan meningkatnya frekuensi preeklamsia/eklamsia pada anak dan cucu ibu hamil dengan riwayat preeklamsia/eklamsia dan bukan pada ipar mereka. d. Peran Renin Angiotensin-Aldosteron System (RAAS) 4. Peran Prostasiklin dan Tromboksan Pada Preeklamsia didapatkan kerusakan endotel vaskuler, sehingga terjadi produksi prostasiklin (PGI 2) yang pada kehamilan normal meningkat, aktivasi penggumpalan, dan fibrinolisis, yang kemudian akan diganti dengan trombin dan plasmin. Trombin akan mengkonsumsi antitrombin III sehingga terjadi deposit fibrin. Aktivasi trombosit menyebabkan pelepasan tromboksan (TxA2) dan serotonin, sehingga terjadi vasospasme dan kerusakan endotel. 5. Teori Hiperdinamik Pada awal kehamilan, terjadi peningkatan cardiac output yang dikompensasi dengan vasodilatasi pembuluh darah termasuk sistem arteriol di ginjal. Akibatnya terjadi peningkatan aliran di kapiler dan menyebabkan jejas sel endotel kapiler. Adapun faktor-faktor predisposisi terjadinya preeklamsia antara lain : 1. Primigravida atau nullipara, terutama pada umur reproduksi ekstrem, yaitu remaja dan umur 35 tahun ke atas

23

2. Multigravida dengan kondisi klinis : a. kehamilan ganda dan hidrops fetalis b. penyakit vaskuler termasuk hipertensi esensial kronik dan diabetes mellitus c. penyakit-penyakit ginjal 3. Hiperplasentosis : molahidatidosa, kehamilan ganda, hidrops fetalis, bayi besar, diabetes mellitus 4. Riwayat keluarga pernah preeklamsia dan eklamsia 5. Obesitas dan hidramnion 6. Gizi yang kurang dan anemi 7. Kasus-kasus dengan kadar asam urat yang tinggi, defisiensi kalsium, defisiensi asam lemak tidak jenuh, kurang antioksidan. 5.4 PATOFISIOLOGI

24

5.5

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang.

5.5.1 Anamnesis Ada tidaknya sakit kepala, gangguan visus/penglihatan, nyeri epigastrium atau kuadran kanan atas, pembengkakan pada wajah atau adanya kenaikan berat badan yang berlebihan. a. Sakit Kepala Sakit kepala jarang terjadi pada kasus yang ringan, tetapi frekuensinya meningkat pada kasus-kasus yang lebih berat. Sakit kepala tersebut biasanya frontal, tetapi dapat terjadi oksipital, dan resisten terhadap analgesik yang biasa. b. Gangguan Visus Gangguan visus berkisar mulai pandangan yang agak kabur sampai kebutaan, dapat terjadi pada preeklamsia. c. Nyeri Epigastrium atau Kuadran Kanan Atas Nyeri pada epigastrium atau pada kuadran kanan atas merupakan gejala preeklamsia berat dan merupakan petunjuk terjadinya ancaman kejang. Hal ini dapat disebakan oleh peregangan kapsul Glisson hepar, dan mungkin akibat edema hepar dan perdarahan kapsuler. d. Kenaikan berat badan Tanda lain terjadinya preeklamsia adalah peningkatan berat yang mendadak. Suatu yang yang khas pada preeklamsia adalah kenaikan berat badan berlebihan yang mendadak, dan bukan kenaikan yang terjadi secara merata dalam kehamilan. Kenaikan berat yang mendadak dan berlebihan pada waku hamil disebabkan terutama oleh retensi cairan yang abnormal, dan biasanya dapat dibuktikan, sebelum terlihat adanya tanda dependent edema, seperti misalnya pembengkakan kelopak mata dan menggembungnya cairan mata. 5.5.2 Pemeriksaan Fisis Preeklamsia berat dapat menyebabkan perubahan tingkat kesadaran

25

Edema pada wajah diperhatikan, Pemeriksaan tekanan darah Pemeriksaan refleks-refleks dan menilai ada tidaknya klonus Funduskopi untuk melihat papiledema pada pasien preeklamsia Ada tidaknya nyeri tekan hepar Palpasi uterus untuk mengetahui kesesuaian dengan usia kehamilan

5.5.3 Pemeriksaan Penunjang Urinalisis: Adanya proteinuria. Proteinuria juga dapat timbul akibat kontaminasi dengan darah, likuor, atau pelepasan cairan dari vagina. Pemeriksaan Darah: Hb, hematokrit, trombosit, fungsi ginjal, fungsi hati, asam urat, LDH,. Pada pasien preeklamsia ditemukan abnormalitas seperti: peningkatan asam urat, peningkatan alanin transaminase dan aspartat transaminase, peningkatan hematokrit, dan penurunan trombosit. Ultrasonografi untuk konfirmasi perkembangan janin. Preeklamsia dapat menyebabkan restriksi pertumbuhan intrauterine, oligohidramnion, dan abnormal Doppler karena insufisiensi plasenta. 5.6 PENATALAKSANAAN Pada dasarnya penanganan penderita preeklampsia dan eklampsia yang difinitif adalah segera melahirkan bayi dan seluruh hasil konsepsi, tetapi dalam penatalaksanaannya kita harus mempertimbangkan keadaan ibu dan janinnya, antara lain umur kehamilan, proses perjalanan penyakit, dan seberapa jauh keterlibatan organ. Tujuan penatalaksanaan preeklampsia dan eklampsia adalah: Melahirkan bayi yang cukup bulan dan dapat hidup di luar, di samping itu mencegah komplikasi yang dapat terjadi pada ibu. Mencegah terjadinya kejang/eklampsia yang akan memperburuk keadaan ibu hamil. Pada penderita preeklampsia berat obat-obat yang dapat diberi untuk memperbaiki keadaan ibu dan janinnya adalah: 1. Magnesium sulfat

26

2. Anti hipertensi 3. Kortiko steroid: dexamethasone atau betamethasone untuk pematangan paru. Penanganan pada preeklamsia berat, adalah sebagai berikut : A. Penanganan Umum Jika tekanan diastolik > 110 mmHg, berikan antihipertensi sampai tekanan diastolik diantara 90-100 mmHg Pasang infus RL dengan jarum besar (16 gauge atau lebih) Kateterisasi urin untuk pengeluaran volume dan proteinuria Observasi tanda-tanda vital, refleks, dan denyut jantung janin setiap jam B. Antikonvulsan 1. Magnesium Sulfat merupakan obat pilihan untuk mencegah dan mengatasi kejang pada preeklamsia dan eklamsia 6,7 Alternatif 1 - dosis awal : 4 gr IV sebagai larutan 40 % selama 30 menit. Segera dilanjutkan dengan 15 ml MgSO4 (40%) 6 gr dalam 500 ml RL selama 6 jam. - dosis pemeliharaan : MgSCM gr/jam melalui infus Ringer Asetat/ Ringer Laktat yang diberikan sampai 24 jam postpartum Syarat pemberian MgSO4 : frekuensi pernapasan minimal 16x/menit refleks patella (+) kuat urin minimal 30 ml/jam dalam 4 jam terakhir tersedia antidotum MgSCU, yaitu kalsium glukonas 10 % 1 gr (10% dalam 10 cc) diberikan IV dalam 3 menit 2. Diazepam, pemberiannya mulai intravena dan rektum. Pemberian intravena dosis awal diazepam 10 mg IV pelan-pelan selama 2 menit. Jika kejang berulang, ulangi dosis awal. Dosis pemeliharaan diazepam 40 mg dalam 500 ml larutan RL per infus. Jangan berikan > 100 mg/24 jam. Jika pemberian IV tidak memungkinkan, dapat diberikan

27

per rektal dengan dosis awal 20 mg dalam semprit 10 ml. Jika masih kejang, beri tambahan 10 mg/jam. Dapat pula diberikan melalui kateter urin yang dimasukkan ke dalam rektum. C. Antihipertensi Jika tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih, berikan obat antihipertensi. Tujuannya untuk mempertahankan tekanan diastolik antara 90-100 mmHg dan mencegah perdarahan serebral. D. Pengobatan Obstetrik Cara terminasi kehamilan Belum inpartu : Induksi persalinan : tetesan oksitosin dengan syarat nilai Bishop 5 dan dengan fetal heart montitoring Seksio sesarea bila : a. Fetal assesment jelek b. Syarat tetesan oksitosin tidak dipenuhi (Bishop < 5) atau adanya kontraindikasi tetesan oksitosin c. 12 jam setelah dimulainya tetesan oksitosin belum masuk fase aktif. Pada primigravida lebih diarahkan untuk terminasi dengan seksio sesarea. Sudah Inpartu : Kala I: Fase laten : 6 jam tidak fase aktif dilakukan SC Fase aktif : Amniotomi saja Bila 6 jam setelah amniotomi belum terjadi pembukaan lengkap dilakukan SC E. Postpartum 5.7 Antikonvulsan sampai 24 jam postpartum atau kejang terakhir Teruskan terapi antihipertensi jika tekanan diastolik masih >110 mmHg Pantau urin

PROGNOSIS Risiko rekurensi dari preeklamsia yaitu sekitar 5-70 %, dengan risiko tertinggi pada perempuan dengan preeklamsia berat dan sebelum usia kehamilan 30 minggu. Perempuan dengan preeklamsia ringan dan

28

kehamilan mendekati cukup bulan, hanya mempunya risiko 5% untuk terjadinya rekurensi. Preeklamsia tidak menimbulkan hipertensi yang kronik. 5.8 KOMPLIKASI Komplikasi yang dapat timbul antara lain - Iskemia uteroplasenter - Spasme arteriolar - Perdarahan serebral - Gagal jantung, ginjal, dan hati - Ablasio retina - Thromboemboli - Gangguan pembekuan darah - Buta kortikal Kejang dan koma - Trauma karenakejang - Aspirasi cairan, darah, muntahan, dengan akibat gangguan pernapasan

29

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 KESIMPULAN Masalah kurangnya pengetahuan pasien terhadap penyakitnya dapat diatasi bila penderita mau mengikuti berbagai penyuluhan dari tenaga kesehatan dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan. 1. Diagnosis Biologis GIP0000Ab000 uk 39-40 mgg dengan PEB 2. Diagnosis Psikologis Hubungan dengan anggota keluarga yang lain saling mendukung. 3. Diagnosis Sosial Ekonomi dan Budaya Penyakit sedikit mengganggu aktifitas sehari-hari. 6.2 SARAN Promotif : kepada ibu pentingnya pemberian ASI eksklusif. Menjelaskan

Menjelaskan kepada ibu pentingnya makan makanan bergizi untuk ibu menyusui. Menjelaskan kepada ibu tentang kebersihan diri dan bayinya. Preventif : Memberi penjelasan pada ibu untuk kontrol ke KIA setelah 7 hari. Memberitahu ibu jika ibu demam, perdarahan, cairan dari kelamin berbau harus segera ke KIA. Memberitahu ibu jika bayi demam, rewel, kulit terlihat kuning harus segera dibawa ke KIA. Kuratif : pemberian amoxicillin pada ibu untuk pencegahan infeksi dan paracetamol untuk nyeri pasca heating laserasi. Minum obat secara rutin dan sesuai anjuran petugas kesehatan. Rehabilitatif : Menjelaskan kepada ibu untuk tidak pantang makanan agar proses penyembuhannya bias berlangsung cepat dan tidak menimbulkan

30

komplikasi lain. Menjelaskan kepada ibu untuk tidak takut melakukan aktivitas sehari-hari DAFTAR PUSTAKA

1. Wibowo B & Rachimhadhi. Preeklampsia dan Eklampsia. Dalam : Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirihardjo. Jakarta. 2007 : 281-301. 2. Prithchard, J. A., Penyakit Hipertensi Dalam Kehamilan. Dalam : Obstetri Williams, Edisi ke-22. Appleton Century Crofts. New York. 2006 : 761-96 3. James RS, Ronald SG, Beth YK, Arthur FH, David ND. Danforths Obstetrics and Gynecology. Nine edition. Lippincott Williams & Wilkins: Philadelpia. 2005. 4. Barss VA & Repke JT. Preeclampsia. Available from

http://patients.uptodate.com/topic.asp. Accesed on March 2011. 5. Jung, DC. Pregnancy, Preeclampsia Available at: http://www.emedicine.com/ Accesed on March 2011. 6. Joe LS, Sherman E. Genetics on Obstetrics ang Gynecology. Third edition. Saunders Elsevier: Philadelpia. 2005. 7. Cunningham, FG et all. 2006. Obstetri William Edisi 21 volume 1 dan 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 8. Sofoewan S., Preeklampsia Eklampsia di Beberapa Rumah Sakit di Indonesia, Patogenesis, dan Kemungkinan Pencegahannya. MOGI 2003, 27; 141 151. 9. Sibai B. M. Diagnosis and Management of Gestational Hypertention and Preeclampsia Obstet Gynecol 2006. 102: 181 92. 10. Sibai B. M., Gus Dekker G. A., Michael Kupferminc Preeclampsia Lancet 2005, 365: 785 99.

31

11. Lindsey, 2011.

JL.

Evaluation

of

Fetal

Death.

http://emedicine.medscape.com/article/259165-overview. Accesed on March

32