Anda di halaman 1dari 41

TUBERCULOSIS PARU KONSEP MEDIK 1.

Pengertian Tuberculosis adalah penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme mycobacterium tuberculosis, yang biasanya ditularkan melalui inhalasi percikan ludah (droplet), orang ke orang dan berkolonisasi bronkiolus atau alveolus, kuman juga dapat masuk ke tubuh melalui saluran cerna, melalui ingesti susu tercemar yang tidak dipasteurisasi atau kadang-kadang melalui lesi kulit. (Elizabeth J. Corwin) Tuberculosis adalah penyakit infeksius yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis yang terutama menyerang parenkim paru.(brunner & Suddarth,2002) 2. Etiologi Tuberculosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil micobacterum tuberculosis type humanus, sejenis kuman yang berbentuk batang. Sebagian besar kuman terdiri dari asam lemak (lipid), lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik. Kuman ini tahan pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dala lemari es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant (kuman ini dapat kembali dan menjadikan tuberculosis aktif kembali). Sifat lain kuman adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan apical paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lainnya. Tuberculosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran pernapasan. Basil mycobacterium tersebut masuk ke dalam jaringan paru melalui saluran nafas (droplet infection) sampai alveoli, maka terjadilah infeksi primer (ghon)

selanjutnya menyebar ke kelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke). Keduanya dinamakan tuberculosis primer, yang dalam perjalanan sebagian besar akan mengalami penyembuhan. Tuberculosis paru primer, peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mycobacterium. Tuberculosis yang kebanyakan didapatkan pada usia 1-3 tahun. Sedangkan yang disebut tuberculosis post primer (reinfection adalah peradangan jaringan paru oleh kuman terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil tersebut. 3. Proses Penularan Tuberculosis tergolong anaerob disease yakni penularan melalui droplet nuclei yang dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif. Setiap kali penderita ini batuk dapat mengeluarkan 300 droplet nuclei. Penularan umumnya terjadi di dalam ruangan dimana droplet nuclei dapat tinggal di udara dalam waktu lebih lama. Di bawah sinar matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab dapat bertahan sampai beberapa jam. Dua faktor penentu keberhasilan pemaparan tuberculosis pada individu baru yakni konsesitrasi droplet nuclei dalam udara dan panjang waktu individu bernafas dalam udara yang terkontaminasi tersebut disamping daya tahan tubuh yang bersangkutan. 4. Patofisiologi Kuman mycobacterium tuberculosis masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan luka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (air borne) yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi terdiri dari satu sampai tiga gumpalan basil yang lebih besar cenderung bertahan di

saluran hidung dan cabang besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya di bagian lobus atau paru-paru, atau dibagian atas lobus bawah. Basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Leucosis polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit bacteria namun rtidak membunuh organisme tersebut. Sesudah harihari pertama maka leukosit diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya sehingga tidak ada sisa yang tertinggal, atau proses dapat juga berjalan terus, dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju ke kelenjar bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloit, yang dikelilingi oleh fosit. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 10 sampai 20 hari. 5. Manifestasi Klinik Tuberculosis sering dijuluki the great imitator yaitu suatu penyakit yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan kaang-kadang asimtomatik. Gambaran klinik TB Paru dapat dibagi menjadi 2 glongan, gejala respiratorik dan gejala sistemik : 1. Gejala respiratorik meliputi a. Batuk gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan.

b. Batuk darah darah yang dikeluarkan dalam dahak berfariasi, mungkin tampak berupa garis atau bercak-becak darah, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Batuk darah terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah c. Sesak nafas gejla ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura, pneumothorax, anemia dll. d. nyeri dada nyeri dada pada TB Paru termasuk nyeri pleritik yang ringan. Gejala ini timbul apabila system persarafan di pleura terkena. 2. Gejala sistemik meliputi a. demam merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip dengan influenza, hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebas serangan makin pendek. b. gejala sistemik lain gejala sistemik lain adalah keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan serta malaise. Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu bulan, akan tetapi penampilan akut dengan batuk, panas, sesak nafas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala pneumonia 6. Tes Diagnostik Foto thoraks PA dengan atau tanpa literal merupakan pemeriksaan radiology standar. Jenis pemeriksaan radiology lain hanya atas indikasi top foto, oblik, tomogram dll

Karatristik radiology yang menunjang diagnostik antara lain : a. Bayangan lesi radiology yang terletak di lapangan atas paru b. Bayangan yang berawan (patchy) atau bercak (noduler) c. Adanya kapias, tunggal atau ganda d. Adanya klasifikasi e. Kelainan yang bilateral, terutama bila terdapat di lapangan atas paru f. Bayangan yang menetap atau relati menetap setelah beberapa minggu g. Bayangan bilier Pemeriksaan bakteriologik (sputum), ditemukannya kuman mycobacterium TBC dari dahak penderita memastikan diagnosis tuberculosis paru Pemeriksaan biasanya lebih sensitive daripada sediaan apus (mikroskopis). Pengambilan dahak yang benar sangat penting untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. Uji resistensi harus dilakukan apabila ada dugaan resistensi terhadap pengobatan. Pemeriksaan sputum adalah diagnostic terpenting dalam program pemberantasan TBC Paru di Indonesia. 7. Penanganan Medik Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk mengobati juga mencegah kematian, mencegah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata rantai penularan. Pengobatan tuberculosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (23 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan. Jenis obat yang utama digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah rifampisin, INH, Pirasinamid, Streptomisin, Kuinolon, Makrolide dan Amoksilin + Asam Klavulanat, Derivat Rifampisin/INH.cara kerja, potensi dan dosis OAT utama dapat dilihat pada table berikut

Obat

Anti

TB

Rekomendasi dosis (mg/kg BB) Aksi Bakterisidal Bakterisidal Bakterisidal Bakterisidal bakteriostatik Potensi Tinggi Tinggi Rendah Rendah Rendah per minggu Per Hari 3x 5 10 10 25 15 15 10 35 15 30 2x 15 10 50 15 45

Esensial Isoniazid (H) Rifampisin (R) Pirasinamid (Z) Streptomisin (S) Etambutol (E)

PROSES KEPERAWATAN

1. Pengkajian Data-data yang perlu dikaji pada asuhan keperawatan dengan tuberculosis paru (Doenges,2000) ialah sbb: 1. riwayat perjalanan penyakit Keluhan utama : batuk produktif dan non produktif a. pola aktivitas dan istirahat subyektif : rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul sesak (nafas pendek), sulit tidur, demam, menggigil, berkeringat pada malam hari obyektif : takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap lanjut, infiltrasi radang sampai setengah paru), demam subfebris (40-41 C) hilang timbul b. pola nutrisi subyektif : anoreksia, mual, tidak enak di perut, penurunan berat badan obyektif : turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan c. respirasi subyerktif : batuk produktif/non produktif, sesak nafas, sakit dada obyektif : mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi onkhi basah, kasar di daerah apeks paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak napas, pengembangan pernapasan tidak simetris (efusi pleura), defiasi trakeal (penyebaran bronkogenik). d. rasa nyaman / nyeri subjektif : nyeri dada meningkat karena batuk berulang

obyektif : berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, gelisah, nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai di pleura sehingga timbul pleuritis. e. integritas Ego subjektif : factor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak berdaya/tidak ada harapan. Obyektif : menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah tersinggung 2. riwayat penyakit sebelumnya a.pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh b. pernah berobat tetapi tidak sembuh c.pernah berobat tetapi tidak teratur d. riwayat kontak dengan penderita TB e.daya tahan tubuh yang menurun f. riwayat vaksinasi yang tidak teratur 3. riwayat pengobatan sebelumnya a. kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan penyakitnya b. jenis, warna, dosis obat yang diminum c. berapa lama pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan penyakitnya d. kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir 4. riwayat sosial ekonomi a. riwayat pekerjaan, jenis pekerjaan, waktu dan tempat bekerja, jumlah penghasilan b. aspek psikososial : merasa dikucilkan, tidak dapat berkomunikasi dengan bebas, menarik diri, biasanya pada keluarga yang kurang mampu, masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak, masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien, tidak bersemangat dan putus harapan.

5. faktor pendukung a. riwayat lingkungan b. pola hidup nutrisi, kebiasaan merokok, minum alcohol, pola istirahat dan tidur, kebersihan diri c. tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan keluarga tentang penyakit, pencegahan, pengobatan dan perawatannya 6. pemeriksaan diagnostik a. kultur sputum : mycobacterium tuberculosis positif pada tahp akhir penyakit b. tes tuberkulit : mantoux test reaksi positif (areaindurasi 10-15 mm terjadi 48-72jam) c. poto horax : infiltrasi lesi awal pada aera paru atas; pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas;pada kavitas bayangan berupa cincin;klasifikasi tampak bayangan bercakbercak padat dengan densitas tinggi d. bronchografi : untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena TB paru e. darah : peningkatan leukosit dan laju endap darah (LED) f. spirometri : penurunan fungsi paru dengan kapasitas vitqal menurun 2. Diagnosa Keperawatan 1. bersihan jalan nafas tidak efektif b/d penumpukan secret di jalan nafas 2. gangguan pertukaran gas b/d berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis, kerusakan membrane alveolar kapiler, secret yang kental, edema bronchial 3. resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi b/d daya tahan tubuh menurun, fungsi silia menurun, secret yang menetap, kerusakan jaringan akibat infeksi

yang menyebar, mal nutrisi, terkontaminasi oleh lingkungan, kurang pengetahuan tentang infeksi kuman 4. nutrisi kurang dari kebutuhan b/d kelelahan, batuk yang sering, adanya produksi sputum, dispnea, anoreksia, penurunan kemampuan financial 5. kurang pengetahusn tentang kondisi, pengobatan, pencegahan b/d tidak ada yang menerangkan, interretasi yang salah, informasi yang di dapat tidak lengkap/tidak akurat, terbatasnya pengetahuan/kognitif 3. Intervensi Keperawatan Diagnosa I : bersihan jalan nafas tidak efektif Tujuan : mempertahankan jalan nafas pasien. Mengeluarkan secret tanpa bantuan. Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersiihan jalan nafas. Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai indikasi, mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat Intervensi : 1. catat kemampuan untuk mengeluarkan sekret atau batuk efektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis R/ pengeluaran sulit bila secret tebal, sputum berdarah akibat kerusakan paru atau luka bronchial yang memerlukan evaluasi/intevensi lanjut 2. berikan pasien posisi semi fowler atau powler, Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan nafas dalam R/ meningkatkan ekspansi paru, ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan peningkatan gerakan secret agar mudah dikeluarkan 3. pertahankan intake cairan minimal 2500 mol/hr kecuali kontraindikasi R/ membantu mengencerkan secret sehingga mudah dikeluarkan 4. berikan obat : agen mukolitik, bronkodilator, kortikostyeroid sesuai indikasi R/ menurunkan kekentalan secret, lingkaran ukuran lumen trakeabronkial, berguna jika terjadi hipoksemia pada kavitas yang luas

Diagnosa II : gangguan pertukaran gas Tujuan : melaporkan tidak terjadi dspnea, menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA rentang normal Intervensi : 1. kaji dispnea, takipnea, bunyi pernapasan abnormal, peningkatan upaya respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan R/ tuberculosis dapat menyebabkan meluasnya jangkauan dalam paru-paru yang berasal dari bronkopneumonia yang meluas menjadi inflamasi, nekrosis, pleural effusion dan meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress 2. anjurkan untuk bedrest, batasi dan Bantu aktivitas sesuai kebutuhan R/ mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi 3. berikan oksiken sesuai indikasi R/ membantu mengoreksi hipoksemia yang terjadi sekunder hipoventilasi dan penurunan permukaan alveolar paru Diagnosa III : resiko tinggi infeksi sekunder dan penyebaran infeksi Tujuan : mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi, menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman Intervensi : 1. anjurkan pasien untuk menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan yang tertutup jika batuk R/ kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi 2. gunakan masker setiap melakukan tindakan R/ mengurangi resiko penyebaran infeksi 3. monitor temperature klien R/ febris merupakan indikasi terjadinya infeksi

Diagnosa IV : nutrisi kurang dari kebutuhan Tujuan : menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas tanda malnutrisi. Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat Intervensi : 1. catat status nutrisi : turgor kulit, timbang berat badan, integritas muosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/muntah atau diare R/ berguna untuk mendefenisikan derajat masalah dan intervensio yang tepat 2. anjurkan klien bedrest R/ membantu menghemat energi khusus saat demam terjadi peningkatan metabolic 3. anjurkan makan sedikit tapi sering dan makan makanan tinggi protein dan karbohidrat R/ memaksimalkan intake nutrisi dan menurunkan iritasi gester Diagnosa V : kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan Tujuan : menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan. Melakukan perubahan perilaku dan pola hidup untuk memperbaiki kesehatan umum dan menurunkan resiko pengaktifan ulang tuberculosis paru. Mengidentifikasi gejala yang memerlukan evaluasi/intervensi. Menerima perawatan kesehatan adekuat Intervensi : 1. kaji kemampuan belajar pasien misalnya : tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan belajar, tingkat pengetahuan, media, orang dipercaya R/ kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. Keberhasilan tergantung pada kemampuan pasien

2. tekankan pentingnya asupan diet tinggi kalori tinggi protein (TKTP) dan intake cairan yang adekuat R/ mencukupi kebutuhan metabolik, mengurangi kelelahan, intake cairan membantu mengencerkan dahak 3. jelaskan tentang efek samping obat : mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah R/ mencegah keraguan terhadap pengobatan sehingga mampu menjalani terapi

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & suddarth, 2000, Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah, Vol I Edisi 8, EGC, Jakarta Doenges E. Marlynn, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3, EGC, Jakarta Elizabeth J Corwin, 2000, Patofisiologi, EGC, Jakarta

PENYIMPANGAN KDM Dinding tuberkel gagal terbentuk Penyebaran basil tuberkel ke seluruh paru kerusakan jaringan paru Terbentuk jaringan tuberkel oleh jaringan ikat Sekresi cairan pada daerah nekrosis Reaksi inflamasi pada Alveoli Cairan lepas ke dalam bronkus reaksi jaringan akumulasi sekret di jalan nafas infasi daerah infeksi Bersihan jln nafas efektif basil masuk ke dalam getah bening transit ke aliran darah dalam jumlah kecil penyebaran limfa hmatogen, jaringan tulang, ginjal, hati dan jantung Resiko infeksi sekunder Dan penyebaran infeksi perubahan status kes. (-) informasi ttg penyakitnya Koping efektif Pernapasan cepat dan dalam Stressor Kecemasan Nutrisi (-) dr kebutuhan Peningkatan penggunaan energi terbentuk jaringan tuberkel oleh jaringan ikat fibrosis terbentuk jaringan parut luas permukaan alveoli menurun difusi O2 & CO2 terganggu sesak Gangguan Pertukaran Gas Kompensasi paru-paru melibatkan otot-otot Pernapasan tambahan metabolisme tubuh kebutuhan nutrisi lebih banyak Kuman TBC Droplet inhalation Masuk ke sal. Pernapasan

PENGKAJIAN
I. BIODATA A. Identitas Klien Nama klien Umur Jenis kelamin Agama Suku Status pernikahan Pekerjaan No. MR Tgl masuk RS Dx medik Alamat B. Penangguang Jawab 1. nama 2. umur 3. pekerjaan 4. hub dengan klien : Ny A : 60 tahun : IRT : suami : Tn N : 67 tahun : Laki-laki : Islam : Makassar : Kawin : Wiraswasta : 12 10 56 : 19 Agustus 2007 : TB Paru : Jl. Dg Ngadde No 102

Tanggal pengakajian : 27 Agustus 2007

II. RIWAYAT KESEHATAN A. keluhan Utama : sesak B. Riwayat keluhan utama Klien masuk rumah sakit pada tanggal 19 Agustus 2007 dengan keluhan sesak. Pada saat pengkajian klien masih mengeluh sesak. Klien mengatakan rasa sesak kembali dirasakan jika beraktivitas dan dirasakan terus menerus. Keluhan lain yan dirasakan adalah batuk dan susah tidur.

C. Riwayat kesehatan masa lalu Klien tidak pernah di rawat di RS sebelumnya dan tidak ada riwayat operasi maupun kecelakaan. Klien tidak ada riwayat alergi baik makanan maupun obat-obatan dank lien tidak pernah mengkonsumsi alcohol dan obat-obatan lainnya. D. riwayat kesehatan keluarga Genogram tiga generasi

G1 G2

G3

67

64
23

50

47

44
23

35

33

30

27

25

23

20

: laki laki : perempuan : klien : meninggal : garis keturunan : garis perkawinan ? : umur tidak diketahui

G I : Nenek klien semuanya telah meninggal karena factor usia G II : Orang tua klien semuanya telah meninggal karena factor usia G III : Klien anak pertama dari 2 bersaudara dan istri klien anak pertama dari 3 bersaudara III. RIWAYAT PSIKOSOSIAL 1. Pola konsep diri a. gambaran diri klien sring batuk dan merasa sesak terutama jika beraktivitas b. ideal diri klien berharap lekas sembuh dan berkumpul kembali bersama keluarga c. harga diri klien tidak pernah ada rasa minder dengan orang lain d. identitas diri klien mengatakan anak pertama dari 2 bersaudara e. peran klien sebagi kepala keluarga dan bekerja untuk membiayai anak dan istrinya 2. Pola kognitif Klien yakin bahwa penyakit yang di deritannya adalah cobaan dari Tuhan. Klien berfikir bahwa penyakit yang dideritanya disebabkan pekerjaan berat yang sering dilakuksnnya setiap hari 3. Pola koping Jika klien menghadapi masalah klien selalu berusaha untuk menyelesaikan dan mendiskusikannya dengan keluarga. Klien selalu berharap dan berdoa agar leka sembuh dan bisa berkumpul kembali dengan keluarganya. 4. pola interaksi Klien dapat berinteraksi dengan baik kepada sesame pasien, keluarga, dokter dan keluarga

IV. RIWAYAT SPIRITUAL 1. selama klien sakit klien selalu berdoa agar diber kesembuhan 2. keluarga klien tetap berusaha dan tetap mendukung klien agar cepat sembuh dari penyakit yang dideritanya V. PEMERIKSAAN FISIK A. Keadaan umum klien Klien tampak sesak, penampilan klien baik, seringkali batuk berdahak, klien nampak lemah, lelah, ADL dibantu. Klien dalam keadaan sadar penuh (composmentis) dan sedikit mengalami kesulitan dalam menelan karena adanya sesak dan batuk. Klien nampak terpasang O 2 3 L/mnt dan infus RL 24 tts/mnt B. tanda tanda Vital TD : 140/80 mmHg N : 72 x/m C. Sistem pernapasan Hidung simetris kiri dan kanan, tidak ada polip dan epitaksis. Bentuk dada funnel chest (anterior-posterior ke lateral 1:2). Terdengar bunyi nafas tambahan wheezing dan menggunakan otot-otot Bantu pernapasan. D. Sistem Cardiovaskuler Konjungtiva tidak anemis dan bibir tidak pucat. Ukuran jantung normal, ictus cordis teraba pada ICS 5. suara jantung S1 (lup) di ICSD 4dan 5 midclavicula sebelah kiri dan S2 (dup) di ICS 2 kiri dan kanan. S : 36 C P : 36 x/mnt

E. Sistem pencernaan Sclera tidak ikterus, bibir kering, tidak ada labioskisis,stomatitis dan palatoskisis. Perut tidak ada kembung. Gerakan peristaltic normal (7x/m). hati, ginjal dan limfe tidak teraba, feces lembek. Anus tidak lecet dan hemoroid. .F. Sistem indra 1. Mata Kelopak mata tidak udema, bulu mata dan alis tidak mudah tercabut, penglihatan normal (visus 6/6). 2. Hidung Hidung simetris kiri dan kanan, penciuman baik, tidak ada polip, trauma dan mimisan. Tidak ada secret yang menghalangi penciuman 3. Telinga Keadaan daun telinga simetris kiri dan kanan, tidak ada serumen, fungsi pendengaran baik G. System syaraf 1. Fungsi serebral Orientasi baik terhadap waktu, tempat dan orang baik, daya ingat baik, perhatian dan bahasa baik. Kesadaran : Composmentis (GCS 15) E4 : Membuka mata secara spontan V5 : Orientasi baik M6 : Mengikuti perintah 2. Fungsi kranial Nervus I (olfaktorius) Klien mampu membedakan bau-bauan

Nervus II (optikus) Kemampuan penglihatan klien baik (visus 6/6). Nervus III, IV, VI (okulomotorius, trokhlearis, abdusen) Bola mata mampu bergerak ke segalah arah, pupil isokor. Nervus V (trigeminus) Klien dapat merasakan rangsangan pada wajah, refleks kornea positif Nervus VII (fasialis) Klien dapat merasakan rangsangan pada wajah, klien mampu membuka mulut Nervus VIII (vestibulokokhlearis) Klien bisa mendengar suara-suara bising disekitarnya Nervus IX (glosovaringeus) 1/3 anterior lidah Klien dapat membedakan rasa asam, asin, manis dan pahit Nervus X (vagus) 1/3 posterior lidah Kemampuan menelan kurang baik karena seringkali batuk Nervus XI (aksesorius) Kemampuan otot klien baik/otot Bantu pernpasan sternokleidomastoideus dan trapezius baik Nervus XII (hipoglosus) Kemampuan menggerakkan lidah baik 3. Fungsi motorik Keadaan klien lemah karena sesak dan batuk, kekuatan otot lemah 3 4 3 4

4. Fungsi sensorik Klien mampu membedakan suhu di sekitarnya, mampu membedakan stimulasi penciuman taktil dan rabah

H. System Musculoskeletal Bentuk kepala masechepal, vertebra tidak ada kelainan dan tidak ada kelainan ekstremitas. kaki, tangan dan lutut tidak bengkak I. System Integumen Rambut beruban, tidak mudah tercabut dan bersih, warna kulit sawo matang, trgor kulit baik dan tidak kotor, kuku bersih J. System Endokrin Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak trdapat nyeri tekan pada kelenjar tiroid, tidak ada riwayat polydipsi dan polyphagi, tidak ada riwayat air kecing dikerumuni semut. K. System Perkemihan Tidak ada nyeri saat berkemih, Noktiri (-), tidak ada penyakit kelamin L. System Reproduksi Tidak dikaji dengan alas an klien tidak bersedia M. system imun Klien mengatakan tidak alergi dengan zat obat, bulu binatang, serta debu

VI. KEGIATAS SEHARI-HARI No. 1. Jenis Aktifitas Nutrisi 1. Makanan a. b. c. a. b. 2. 1. BAB a. Frekuensi b. tempat c. 2. konsistensi BAK a. frekuensi b. tempat 3. c. warna d. bau Istirahat tidur 1. tidur siang a. jam b. tempat c. kualitas d. kebiasaan 14.00 15.30 Tempat tidur Nyenyak Nonton tv tidak teratur tempat tidur sering terbangun 3 5 x sehari wc kuning amoniak 3 4 x sehari pispot kuning amoniak 1 x sehari wc lembek 1 x sehari pispot lembek nafsu makan porsi makanan frekuensi frekuensi jenis baik dihabiskan 3 x sehari 2500 ml Air putih, the Kurang Dihabiskan 3 x sehari 1000 1500 ml air putih Sebelum Sakit Saat Sakit

2. cairan

Eliminasi

sebelum tidur 2. tidur malam a. jam b. tempat c. kualitas 4. d. kebiasaan sebelum tidur personal hygiene 1. mandi a. frekuensi b. cara 2. mencuci rambut a. frekuensi b. cara 5. 3. memotong kuku a. frekuensi b. cara aktivitas ADL VI. TES DIAGNOSTIK

22.00 05.00 Tempat tidur Nyenyak Nonton tv

22.00 05.00 Tempat tidur Sering terbangun/tidak nyenyak -

2 x sehari Diguyur 3 x seminggu Keramas 1 x seminggu Digunting mandiri

1 x sehari Di lap dibantu

1. Periksaan laboratorium (23 agustus 2007) BTA I II III BTA BTA BTA : + POSITIF : + POSITIF : + POSITIF hasil nilai normal

Kimia darah (20 agustus 2007) Pemeriksaan

SGOT SGPT Ureum Kreatinin Glucose sewaktu Darah rutin WBC RBC Hgb Hct RDW PLT BBS (LED) Eryth Leuco Cylind Epith cell Bacl Cristal 2. Photo Thoraks (21 agustus 2007)

17 u/l 15 u/l 30,4 mg/100 ml 1,0 mg/100 ml 105 mg/100 ml

0 38 0 41 10 50 0,0 1,1 0 200 4,5 10,0 4,0 6,00 12,0 16,0 35,0 45,0 16,6 13,7 150 450 lk : 0 10 mm/jam

5,2 x 10^3/l 4,03 x 10^6/l 11,99 L g/dl 37,1 % 13,0 % 170 x 10^3/l 23/jam :01 : 0 2 /LPB : (-) : 2 3 /LPK] ::-

Urine (21 agustus 2007)

Kesan : KP dextra lama dengan atelektasi fibrotik VII. TERAPI SAAT INI - OBH 3 X 1 cdm - Vit B Comp 2 x 1 - INH 300 mg - Ethambutamol 2 x 500 mg - PZA 2 x 500 mg - Rifampisin 450 mg

- Inf RL 24 tts/mnt - Cefotaxime 1 gr/12 jam

- O2 3 L/mnt DATA FOKUS

Nama Klien Umur

: Tn N : 67 tahun

Dx Medik : TB Paru ruangan tanggal : Baji Pamai II : 27 Agustus 2007

Jenis kelamin : laki-laki Data Subjektif Klien mengeluh sesak Klien mengeluh batuk lendir Klien Klien Klien mengeluh susah karena adanya batuk dan sesak mengatakan mengatakan bertambah apabila beraktivitas

Data Objektif Klien terpasang O2 3 l/mnt Klien tampak sesak Klien tampak batuk berlendir Klien tampak lelah Klien tampak lemah ADL klien dibantu Sputum BTA (+) TTV TD : 140/80 mmHg N : 72 x/m S : 36 C P : 36 x/m

tidur sesak

sedikit mengalami kesulitan dalam menelan karena adanya sesak dan batuk

ANALISA DATA Nama Klien Umur : Tn N : 67 tahun Dx Medik : TB Paru ruangan tanggal : Baji Pamai II : 27 agustus 2007

Jenis kelamin : laki-laki

No. 1.

DATA DS : Klien mengeluh batuk lendir DO : Klien tampak batuk berlendir Sputum BTA (+) TTV TD : 140/80 mmHg N : 72 x/m S : 36 C P : 36 x/m

ETIOLOGI1 Mycobacterium tuberculosa Infasi pada saluran pernapasan Limfatogen & homogen Paru Reaksi inflamasi Peningkatan produksi mucus Penumpukan sekresi mucus pada jalan nafas Batuk-batuk Bersihan jalan nafas efektif

MASALAH Bersihan jalan nafas efektif

2.

DS : DO : Klien tampak sesak Klien terpasang O2 3 l/mnt TTV TD : 140/80 mmHg N : 72 x/m S : 36 C P : 36 x/m Klien sesak mengeluh

Mycobacterium tuberculosa Infasi pada saluran pernapasan Limfatogen & homogen Limfatogen & homogen Paru Reaksi inflamasi Infasi pada daerah infeksi Terbentuk jaringan parut Difusi O2 & CO2 terganggu Gangguan pertukaran gas

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nama Klien Umur

: Tn N : 67 tahun

Dx Medik : TB Paru ruangan tanggal : Baji Pamai II : 27 Agustus 2007

Jenis kelamin : laki-laki

No. 1.

Diagnosa Keperawatn Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d penumpulan secret di jalan nafas

Tanggal ditemukan 28 Agustus 2007

Tanggal teratasi Belum teratasi

2.

Gangguan pertukaran gas b/d berkurangnya paru keefektifan

28 Agustus 2007

Belum teratasi

3. 4.

Gangguan istirahat tidur b/d adanya batuk dan sesak Intoleransi adanya sesak aktivitas b/d

28 Agustus 2007 28 Agustus 2007

Belum teratasi Belum teratasi

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Nama Klien Umur

: Tn N : 67 tahun

Dx Medik : TB Paru ruangan tanggal : Baji Pamai II : 27 agustus 2007

Jenis kelamin : laki-laki

HARI /TANGGAL Rabu, 29-08-2007

NDX I

JAM 09.00

TINDAKAN DAN HASIL 1. Mengkaji kemampuan untuk mengeluarkan sekret atau batuk efektif, catat karakter, adanya hemoptisis Hasil : klien mampu melakukan batuk efektif dengan sputum berwarna putioh kekuning-kuningan

09.10

2. Memberikan posisi semi fowler, bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan nafas dalam bila memungkinkan Hasil : klien dalam posisi semi fowler

09.20

3. menganjurkan klien untuk minum air hangat dan pertahankan 2500 ml/hr Hasil : klien mengeluarkan dahak pada saat batuk

09.30

4. penatalaksanaan pemberian terapi OBH 3 X 1 cdm Vit B Comp 2 x 1 INH 300 mg Rifampisin 450 mg

2. 10.00

PZA 2 x 500 mg Ethambutamol 2 x 500 mg Cefotaxime 1 gr/12 jam

Hasil : klien minum obat secara teratur 1. Mengkaji pola nafas klien Hasil : pernapasan klien 36 x/mnt dan 10.05 terdengar bunyi wheezing 2. memberikan posisi fowler atau semi fowler 10.10 Hasil : klien dalam posisi semi fowler 3. Memberikan oksigen sesuai indikasi Hasil : Klien terpasang O2 3L/mnt 3. 10.30 1. Mengkaji pola tidur klien Hasil : klien tidak dapat tidur dengan 10.35 nyenyak karena adanya batuk 2. Menciptakan lingkungan yang nyaman dan kondusif dengan merungi kebisingan 10.40 Hasil : klien tidak tidur dengan nyenyak 3. ciptakan tempat tidur yang nyaman dan beberapa barang pribadi klien seperti bantal guling Hasil : klien tidur dengan bantal guling di samping kiri dan kanan 4. 11.00

1. mengkaji tingkat kemampuan klien dalam beraktivitas Hasil : klien tidak mampu melakukan 11.05 akivitas ringan 2. mendekatkan alat-alat yang mudah dijangkau oleh klien misalnya air minum Hasil : klien belum mampu menjangkau 11.10 bahn/alat diskitarnya 3. membantu klien untuk memenuhi kebutuhannya Jumat, 31-08-2007 1 09.00 Hasil : kebutuhan klien selalu dibantu 1. mengkaji kemampuan untuk mengeluarkan sekret atau batuk efektif, catat karakter, adanya hemoptisis Hasil : klien mampu melakukan batuk efektif dengan sputum berwarna putioh kekuning-kuningan 09.10 2. memberikan posisi semi fowler, bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan nafas dalam bila memungkinkan Hasil : klien dalam posisi semi fowler 09.15 3. menganjurkan klien untuk minum air hangat dan pertahankan 2500 ml/hr Hasil : klien mengeluarkan dahak pada saat batuk 09.20 4. penatalaksanaan pemberian terapi OBH 3 X 1 cdm Vit B Comp 2 x 1 INH 300 mg

Rifampisin 450 mg PZA 2 x 500 mg Ethambutamol 2 x 500 mg

Hasil : klien minum obat secara teratur 2 09.30 1. mengkaji pola nafas klien Hasil : pernapasan klien 34 x/mnt dan terdengar bunyi wheezing 09.35 2. memberikan posisi fowler atau semi fowler Hasil : klien dalam posisi semi fowler 09.40 3. memberikan oksigen sesuai indikasi Hasil : klien terpasang O2 2 L/mnt 3 10.00 1. mengkaji pola tidur klien Hasil : klien tidak dapat tidur dengan nyenyak karena adanya batuk 10.05 2. menciptakan lingkungan yang nyaman dan kondusif dengan merungi kebisingan Hasil : klien tidak tidur dengan nyenyak 10.15 3. ciptakan tempat tidur yang nyaman dan beberapa barang pribadi klien seperti bantal guling Hasil : klien tidur dengan bantal guling di samping kiri dan kanan 4 10.30 1. mengkaji tingkat kemampuan klien dalam beraktivitas

Hasil : klien tidak mampu melakukan akivitas ringan 10.40 3. membantu klien untuk memenuhi kebutuhannya Hasil : kebutuhan klien selalu dibant

EVALUASI Nama Klien Umur : Tn N : 67 tahun Dx Medik : TB Paru ruangan tanggal JAM 08.00 : Baji Pamai II : 27 agustus

Jenis kelamin : laki-laki HARI/TANGGAL NDX I

EVALUASI S : klien mengatakan seringkali batuk O: sputum berwarna putih kekuningkuningan A : masalah belum teratasi Lanjutkan intervensi 1,2,3,4 1. kaji kemampuan untuk mengeluarkan sekret 2. berikan posisi semi fowler, 3. anjurkan klien untuk minum air hangat dan pertahankan 2500 ml/hr 4. penatalaksanaan pemberian terapi

08.10

S : klien mengeluh sesak O : pernapasan klien 34 x/ mnt Klien terpasang O2 2 L/mnt A : masalah belum teratasi P : lanjutkan intevensi 1,2,3 1. kaji pola nafas klien 2. berikan posisi fowler atau semi fowler 3. berikan oksigen sesuai indikasi

08.20

S : klien mengatakan susah tidur karena

adanya sesak dan batuk O : klien tmpak lemah dan lelah A : masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi 1,2,3 1. Kaji pola tidur klien 2. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan kondusif dengan merungi kebisingan 3. ciptakan tempat tidur yang nyaman dan beberapa barang pribadi klien seperti bantal guling 4 08.30 S : klien mengatakan sesak bila beraktivitas O : ADL klien nampak dibantu A : masalah belum teratasi P : Lanjutkan Intervensi 1,2,3 1. Kaji tingkat kemampuan klien dalam beraktivitas 2. dekatkan alat-alat yang mudah dijangkau oleh klien misalnya air minum 3. bantu klien untuk memenuhi kebutuhannya S : klien mengatakan masih seringkali batuk O: sputum berwarna putih kekuningkuningan A : masalah belum teratasi

Lanjutkan intervensi 1,2,3,4 1. kaji kemampuan untuk mengeluarkan sekret 2. berikan posisi semi fowler, 3. anjurkan klien untuk minum air hangat dan pertahankan 2500 ml/hr 4. penatalaksanaan pemberian terapi S : klien masih mngeluh sesak O : pernapasan klien 34 x/ mnt Klien terpasang O2 2 L/mnt A : masalah belum teratasi P : lanjutkan intevensi 1,2,3 1. kaji pola nafas klien 2. berikan posisi fowler atau semi fowler 3. berikan oksigen sesuai indikasi S : klien mengatakan masih susah tidur karena adanya sesak dan batuk O : klien tmpak lemah dan lelah A : masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi 1,2,3 1. Kaji pola tidur klien 2. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan kondusif dengan merungi kebisingan 3. ciptakan tempat tidur yang nyaman dan beberapa barang pribadi klien

seperti bantal guling S : klien masih mengatakan sesak bila beraktivitas O : ADL klien nampak dibantu A : masalah belum teratasi P : Lanjutkan Intervensi 1,2,3 1. Kaji tingkat kemampuan klien dalam beraktivitas 2. dekatkan alat-alat yang mudah dijangkau oleh klien misalnya air minum 3. bantu klien untuk memenuhi kebutuhannya

HALAMAN PERSETUJUAN

Asuhan keperawatan ini dengan judul Asuhan Keperawatan pada klien Tn N dengan gangguan Sistem Pernapasan TB Paru di ruang perawatan Baji Pamai II RSUD Labuang Baji Telah diterima dan disetujui Untuk Seminar Makassar 7 September 2007

Pembimbing Lahan

pembimbing institsi

St Aisyah, Bsc

Erna Marini S Kep Ns

Mengetahui Program Studi D III Keperawatan STIK GIA Makassar

Hj. Nurhaeni Rahim S Kep M Kep

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Tn N DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN TB PARU DI RUANG PERAWATAN BAJI PAMAI II RSUD LABUANG BAJI MAKASSAR 27 AGUSTUS 01 SEPTEMBER 2007

OLEH :

KELOMPOK I

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN GEMA INSAN AKADEMIK MAKASSAR MAKASSAR 2007

DAFTAR NAMA
KELOMPOK I

SAHARUDDIN AMIKRUDDIN YASINTA MARIA HADIA MAGDALENA TINSIA RAMLAHWATI MAXIMILIANUS KLOBE HASIDAH JUSRAWATI NANI HARIANI MUHAMAD AL IMRAN RATNA B RATNA

ALMUDAI NUR ALIM EVARIANI RAHMAWATI ERNAWATI SUWIRA DWI DARMA SYAM KURNIATI LIA MASDARWATI ASNUR TIMOTEUS BARTEDI LOBIS SESILIA PERADA LAGA HASFIRA