Anda di halaman 1dari 3

Mikroskopis1 Secara mikroskopis tampak epitel pada polip serupa dengan mukosa hidung normal yaitu epitel bertingkat

semu bersilia dengan submukosa yang sembab. Selselnya terdiri dari limfosit, sel plasma, eosinofil, neutrofil dan makrofag. Mukosa mengandung sel-sel goblet. Pembuluh darah, saraf dan kelenjar sangat sedikit. Polip yang sudah lama dapat mengalami metaplasia epitel karena sering terkena aliran udara, menjadi epitel transisional, kubik atau gepeng berlapis tanpa keratinisasi.

1. Klasifikasi Berdasarkan jenis sel peradangannya, polip dikelompokkan menjadi 2 : 1. Polip eusinofilik Sel eosinofil terdapat pada 80-90% polip. Polip jenis ini biasanya disebabkan proses hipersensitivitas atau alergi.

2. Polip neutrofilik Netrofil terdapat pada 7% kasus polip. Polip jenis ini biasanya disebabkan oleh proses inflamasi non-alergi dan tidak berespons baik terhadap kortikosteroid

Pembagian stadium polip nasal menurut Mackay and Lund adalah : a. Stadium 0 : tidak terlihat polip b. Stadium 1: polip masih terbatas di meatus medius c. Stadium 2 : polip telah keluar dari meatus media, tampak di rongga hidung d. Stadium 3: polip telah memenuhi rongga hidung

2. Gejala klinis Timbulnya gejala biasanya pelan dan insidius, dapat juga tiba-tiba dan cepat setelah infeksi akut. Sumbatan di hidung adalah gejala utama.dimana dirasakan semakin hari semakin berat. Sering juga ada keluhan pilek lama yang tidak sembuhsembuh6 , sengau, sakit kepala. Pada sumbatan yang hebat didapatkan gejala hiposmia atau anosmia, rasa lendir di tenggorok.

3. Diagnosis

Anamnesis Pada anamnesa kasus polip, keluhan utama biasanya ialah hidung tersumbat. Sumbatan ini menetap, tidak hilang dan semakin lama semakin berat. Pasien sering mengeluhkan terasa ada massa di dalam hidung dan sukar membuang ingus. Gejala lain adalah gangguan penciuman. Gejala sekunder dapat terjadi bila sudah disertai kelainan organ didekatnya berupa: adanyapost nasal drip, sakit kepala, nyeri muka, suara nasal (bindeng), telinga terasa penuh, mendengkur, gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup. Selain itu juga harus di tanyakan riwayat rhinitis alergi, asma, intoleransi terhadap aspirin dan alergi obat serta makanan.1 Pemeriksaan Fisik Inspeksi Polip yang masif sering sudah menyebabkan deformitas hidung luar. Dapat dijumpai pelebaran kavum nasi terutama polip yang berasal dari sel-sel etmoid.5 Rinoskopi Anterior Memperlihatkan massa translusen pada rongga hidung. Deformitas septum membuat pemeriksaan menjadi lebih sulit. Tampak sekret mukus dan polip multipel atau soliter. Rinoskopi Posterior Kadang-kadang dapat dijumpai polip koanal. Sekret mukopurulen ada kalanya berasal dari daerah etmoid atau rongga hidung bagian superior, yang menandakan adanya rinosinusitis

Pemeriksaan penunjang Dapat dilakukan pemeriksaan Endoskopi nasal dan sinus untuk memastikan adanya polip nasal maupun sinus dan untuk menentukan letak polip nasal tersebut. Dapat pula dilakukan pemeriksaan CT-scan, tes alergi, kultur tetapi hal ini dilakukan atas indikasi.

Gambar.5 Gambaran endoskopi anterior sinistra cavum nasi, tampak septum di sebelah kiri dan tampak polip antralchoanal pada bagian tengah gambaran endoskopi.5 4. Penatalaksanaan Penatalaksanaan polip hidung terdiri atas terapi medikamentosa dan terapi bedah,atau kombinasi keduanya. Penatalaksanaan betujuan untuk mengeliminasi polip dan gejala rinitis, memulihkan fungsi pernafasan dan penciuman serta mencegah polip berulang. Terapi medikamentosa dapat diberikan pengobatan kortikosteroid topikalatau sistemik. Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi mendikamentosa atau polip yang sangat masif dipertimbangkan untuk polipektomi.