Anda di halaman 1dari 5

Rasa mudah lelah Penderita gagal jantung akan merasa lelah melakukan kegiatan yang biasanya tidak membuatnya

lelah. Gejala mudah lelah disebabkan kurangnya perfusi pada otot rangka karena menurunya 18 curah jantung. Kurangnya oksigen membuat produksi adenisin tripospat (ATP) sebagai sumber energy untuk kontaksi otot berkurang. Gejala dapat diperberat oleh ketidakseimbangan cairan dan 24 elektrolit sehingga dapat disertai kegelisahan dan kebingungan. Gangguan pencernaan Gagal jantung dapat menimbulkan gejala-gejala berupa gangguan pada pencernaan seperti kehilangan napsu makan (anoreksia), perut kembung, mual dan nyeri abdomen yang disebabkan 18 oleh kongesti pada hati dan usus. Gejala ini bisa diperburuk oleh edema organ intestinal, yang bisa menyertai peningkatan menahun dalam tekanan vena sistemik. terserang akan timbulnodularyang khas pada dinding jantung sehingga dapatmenyebabkan pembasaranjantung yang berakhir pada gagaljantung.
16

Merokok dan KonsumsiAlkoholKebiasaanmerokok merupakanfaktor risiko penyakitjantung. Merokokmempercepatdenyut jantung, merendahkan kemampuan jantung dalammembawadan mengirimkan oksigen,menurunkan level HDL-C (kolesterol baik) di dalam darah,sertamenyebabkan pengaktifan platelet,yaitu sel-sel penggumpalan darah.Pengumpalancenderung terjadipada arteri jantung,terutama jika sudah adaendapan kolesterol di dalam arteri. Alkohol dapat berefek secaralangsung padajantung, menimbulkan gagaljantungakut maupun gagaljantung akibat aritmia (tersering atrialfibrilasi). Hipertensi Hipertensimerupakan suatu kondisiyang ditandai dengan tekanan darah yangtinggi terusmenerus.Ketika tekanan darah terus di atas 140/80,jantung akan semakin kesulitanmemompa darah dengan efektif dan setelah waktu yang lama,risiko berkembangnya penyakitjantung meningkat. Penurunanberat badan,pembatasan konsumsi garam, dan pengurangan alkohol dapat membantu memperoleh tekanan darah yang menyehatkan. Hipertensidapat menyebabkan gagaljantungmelalui beberapamekanisme, termasuk hipertrofi ventrikel kiri. Hipertensiventrikel kiri dikaitkan dengan disfungsiventrikel kirisistolik dan diastolik danmeningkatkan risiko terjadinya infark miokard, serta memudahkan untuk terjadinya aritmiabaik ituaritmia atrialmaupun aritmia ventrikel. Ekokardiografiyang menunjukkanhipertrofiventrikel kiriberhubungan kuatdengan perkembangan gagaljantung. MenurutWhelton dkk diamerika (2001) hipertensimemiliki resiko reatif sebesar 1,4 (P=0,001) untuk terjadinyagagaljantung. ACE-inhibitor : Angiotensin converting enzyme inhibitor EMS : Emergency medical service CKMB : Creatinine kinase isoenzyme MB cTn : Cardiac specific troponin EKG : Elektrokardiogram IMA : Infark miokard akut ICCU : Intensive cardiac care unit LMWH : Low molecular weight heparin PCI : Percutaneous coronary intervention
27 35 35

SK : Streptokinase SKA : Sindrom koroner akut STEMI : ST-Elevation Myocardial Infarct TIMI : Thrombolysis in myocardial infarction tPA : Tissue plasminogen activator UFH : Unfractionated Heparin Klasifikasi IMA Infark Miokard Akut diklasifikasikan berdasar EKG 12 sandapan menjadi - Infark miokard akut ST-elevasi (STEMI) : oklusi total dari arteri koroner yang menyebabkan area infark yang lebih luas meliputi seluruh ketebalan miokardium, yang ditandai dengan adanya elevasi segmen ST pada EKG. - Infark miokard akut non ST-elevasi (NSTEMI) : oklusi sebagian dari arteri koroner tanpa melibatkan seluruh ketebalan miokardium, sehingga tidak ada elevasi segmen ST pada EKG. Percutaneous Coronary Interventions (PCI) Intervensi koroner perkutan (angioplasti atau stenting) tanpa didahului fibrinolitik disebut PCI primer (primary PCI). PCI efektif dalam mengembalikan perfusi pada STEMI jika dilakukan beberapa jam pertama infark miokard akut. PCI primer lebih efektif dari fibrinolitik dalam membuka arteri koroner yang tersumbat dan dikaitkan dengan outcome klinis jangka pendek dan jangka panjang yang lebih baik.11,16 PCI primer lebih dipilih jika terdapat syok kardiogenik (terutama pada pasien < 75 tahun), risiko perdarahan meningkat, atau gejala sudah ada sekurangkurangnya 2 atau 3 jam jika bekuan darah lebih matur dan kurang mudah hancur dengan obat fibrinolitik. Namun, PCI lebih mahal dalam hal personil dan fasilitas, dan aplikasinya terbatas berdasarkan tersedianya sarana, hanya di beberapa rumah sakit.11,16 Aliran di dalam arteri koroner yang terlibat digambarkan dengan skala kualitatif sederhana dengan angiografi, disebut thrombolysis in myocardial infarction (TIMI) grading system : 1) Grade 0 menunjukkan oklusi total (complete occlusion) pada arteri yang terkena infark. 2) Grade 1 menunjukkan penetrasi sebagian materi kontras melewati titik obstruksi tetapi tanpa perfusi vaskular distal. 3) Grade 2 menunjukkan perfusi pembuluh yang mengalami infark ke arah distal tetapi dengan aliran yang melambat dibandingkan aliran arteri normal. 4) Grade 3 menunjukkan perfusi penuh pembuluh yang mengalami infark dengan aliran normal.

1. Diagnosa Framingham : Menurut Framingham seseorang dikatakan mengalami gagal jantung bila memiliki 2 kriteria mayor, atau 1 kriteria mayor dengan 2 kriteria minor, yaitu sebagai berikut : Kriteria mayor : Paroxysmal nocturnal dyspnea atau ''orthopnea'' distensi vena leher ''Rales'' Radiographic cardiomegaly edema paru akut ''S3 gallop''

peningkatan JVP ''Hepatojugular reflux''[6] Kriteria Minor: edema kedua kaki (''Bilateral ankle edema'') sesak (''dyspnea of effort'') Hepatomegali Efusi Pleura Decrease in vital capacity by one third from maximum recorded [6] Takikardi 2. menurut NYHA (New York Heart Association) tingkat keparahan gagal jantung seseorang diklasifikasikan berdasarkan kelasnya, sebagai berikut yaitu : Kelas 1 : Tidak ada keterbatasan dari aktivitas fisik, aktivitas biasa tidak menimbulkan gejala. Kelas 2 : ada sedikit keterbatasan dari aktivitas fisik, lebih nyaman saat istirahat, aktivitas fisik sehari-hari dan menaiki tangga agak banyak menyebabkan lelah, berdebar-debar, dan sesak. Kelas 3 :adanya keterbatasan dari aktivitas fisik secara signifikan, lebih nyaman saat beristirahat, aktivitas fisik yang ringan dapat menyebabkan lelah, berdebar, dan sesak.Class IV (Severe) Kelas 4 : Tidak bisa melakukan aktivitas fisik dengan nyaman, timbul gejala gangguan jantung pada saat istirahat, bila beraktivitas, keluhan akan semakin berat.[7] Stage 1: alarm reaction (ar) The first stage of the general adaptation stage, the alarm reaction, is the immediate reaction to a stressor. In the initial phase of stress, humans exhibit a "fight or flight" response, which prepares the body for physical activity. However, this initial response can also decrease the effectiveness of the immune system, making persons more susceptible to illness during this phase. Stage 2: stage of resistance (sr) Stage 2 might also be named the stage of adaptation, instead of the stage of resistance. During this phase, if the stress continues, the body adapts to the stressors it is exposed to. Changes at many levels take place in order to reduce the effect of the stressor. For example, if the stressor is starvation (possibly due to anorexia), the person might experienced a reduced desire for physical activity to conserve energy, and the absorption of nutrients from food might be maximized. Stage 3: stage of exhaustion (se) At this stage, the stress has continued for some time. The body's resistance to the stress may gradually be reduced, or may collapse quickly. Generally, this means the immune system, and the body's ability to resist disease, may be almost totally eliminated. Patients who experience long-term stress may succumb to heart attacks or severe infection due to their reduced immunity. For example, a person with a stressful job may experience long-term stress that might lead to high blood pressure and an eventual heart attack. Auskultasi Tekanan darah biasanya menurun akibat penurunan volume sekuncup. Bunyi jantung tambahan akibat kelainan katup biasanya ditemukan apabila penyebab gagal jantung adalah kelainan katup. Tanda fisik yang berkaitan dengan kegagalan ventrikel kiri dapat dikenali dengan mudah dibagian yang meliputi: bunyi jantung ketiga dan keempat ( S3, S4)serta crackles pada paruparu.S4 atau gallop atrium, mengikuti kontraksi atrium dan terdenngar paling baik dengan bel

stetoskop yang ditempelkan dengan tepat pada apeks jantung. Posisi lateralkiri mungkin diperlukan untuk mendapatkan bunyi. Iini terdengar sebelum bunyi jantung pertama (S1) dan tidak selalu tanda pasti kegagalan kongestif, tetapi dapat menurunkan komplains (peningkatan kekakuan) miokard. Ini mungkin indikasi awal premonitory menuju kegagalan. Bunyi S4 adalah bunyi yang umum terdengar pada klien dengan infarkmiokardium akut dan mungkin tidak mempunyai prognosis bermakna, tettapi mungkin menunjukkan kegagalan yang baru terjadi. S3 atau gallop ventrikel adalah tanda penting dari gagal ventrikel kiri dan pada orang dewasa hampir tidak pernah ada pada adanya penyakit jantung signifikan. Kebanyakan dokter akan setuju bahwa tindakan terhadap gagal kongestif diindikasikan dengan adannya tanda ini. S3 terdengar pada awal diastolik setelah bunyi jantung kedua (S2), dan berkaitan dengan periode pengisian ventrikel pasif yang cepat. Ini juga dapat didenngar paling baik dengan bel stetoskop yang diletakkan tepat diapeks,, dengan klien pada posisi lateralkiri dan pada akhir ekspirasi. Bunyi jantung tambahan akibat kelainan katup biasanya dipatkan apabila penyebab gagal jantung karena kelinan katup. Penurunan Curah Jantung Selain gejala-gejala yang diakibatkan gagal ventrikel kiri dan kongesti vaskular pulmonal, kegagalan ventrikel kiri,, juga dihubunggkan dengan gejala tidak spesifik yang berhubungan dengan penurunan curah jantung. Klien dapat mengeluh lemah, mudah lelah, apatis, letargi, kesulitan berkonsentrasi, difisit memori, atau penurunan toleransi latihan. Bunyi Jantung Auskultasi dada memungkinkan pengenalan bunyi jantung normal, bunyi jantung abnormal, bising, dan bunyi-bunyi ekstrakardia. Bunyi jantung normal timbul akibat getaran volume darah dan bilik-bilik jantung pada penutupan katup. Bunyi jantung pertama berkaitan dengan penutupan katup arterior ventrikularis (AV), sedangkan bunyi jantung kedua berkaitan dengan penutupan katup seminularis. Bunyi jantung perlu dinilai kualitas dan frekuensinya. Bunyi jantung merupakan refleksi dari membuka dan menutupnya katup dan terdengar di titik spesifik dari dinding dada Bunyi jantung I (S1) dihasilkan oleh penutupan katup atrioventrikuler (mitral dan trikuspidalis). Bunyi jantung II (S2) disebabkan oleh penutupan katup semilunar (aorta dan pulmonal). Bunyi jantung III (S3) merupakan pantulan vibrasi ventrikuler dihasilkan oleh pengisian ventrikel ketika diastole dan mengikuti S2. Bunyi jantung IV (S4) disebabkan oleh tahanan untuk mengisi ventrikel pada diastole yang lambat karena meningkatnya tekanan diastole ventrikel atau lemahnya penggelembungan ventrikel. Bunyi bising jantung disebabkan oleh pembukaan dan penutupan katup jantung yang tidak sempurna. Yang perlu diperhatikan pada setiap bising jantung adalah : Apakah bising sistolik atau diastolic atau kedua-duanya. Kenyaringan (keras-lemah) bising. Lokasi bising (yang maksimal). Penyebaran bising B1 (Breathing) Pengkajian yang didapat dengan adanya tanda kongestif vascular pulmonal adalah dispnea, ortopnea, dispnea nokturnal paroksimal, batuk, dan edema pulmonal akut. Carckles atau ronki basah halus secara umum terdengar pada dasar posterior paru. Hal ini dikenali sebagai bukti gagal ventrikel kiri. Sebelum carckles dianggap sebagai kegagalan pompa, klien harus diinstrruksikan untuk batuk dalam guna membuka alveoli basilaris yang mungkin dikompersi

dari bawah diagfragma. Dispnea Dispnea, dikarakteristikan dengan pernapasan cepat, dangkal dan keadaan yang menunjukkan bahwa klien sulit mendapatkan udara yang cukup, yang menekan klien. Terkadang klien mengeluhadanya insomnia, gelisah, atau kelelahan, yang disebabkan oleh dispnea. Ortopnea Ortopnea, ketidak mampuan untuk berbaring datar datar karena dispnea, adalah keluhan umum lain dari gagal ventrikel kiri yang berhubungan dengan kongesti vascular pulmonal. Perawat harus menentukan apakah ortopnea benar-benar berhubungan dengan penyakit jantung atau apakah peninggian kepala saat tidur adalah kebiasaan klien belaka. Sebagai contoh, bila klien menyatakan bahwa ia terbiasa menggunakan tiga bantal saat tidur. Tetapi, perawat harusmenanyakan alasan klien tidur dengan menggunakan tiga bantal. Bila klien mengatakan bahwa ia melakukan ini karena menyukai tidur dengan ketinggian ini dan telah dilakukan sejak sebelum mempunyai gejala gangguan jantung, kondisi ini tidak tepat dianggap sebagai ortopnea. Dispnea Nokturnal Paroksismal Dispnea Nokturnal Paroksismal (DNP) adala keluhan yang dikenal baik oleh klien yaitu klien biasannya terbangun ditengah malam karena mengalami napas pendek yang hebat. Dispnea nocturnal paroksismal ddiperkirakan disebabkan oleh perpindahan cairan dari jaringan kedalam kompar pada temen intravaskuler sebagai akibat dari posisi telentang. Pada siang hari, saat klien melakukan aktivitas, tekanan hidrostatik vena meningkat, khususnya pada bagian bawah tubuhkarena adanya gravitasi, peningkatan volume cairan, dan peningkatan tonus simpatetik. Dengan peningkatan tekanan hidrostatik ini, sejumlah cairan keluar masuk kearea jaringan secara normal. Namun, dengan posisi telentang. Tekanan pada kapiler-kapiler dependen menurun dan cairan diserap kembali kedalam sirkulasi. Peningkatan volume cairan dalam sirkulasi akan memberikan jumlah tambahan darrah yang dialirkan kejantung untuk dipompa tiap menit (peningkatan beban awal) dan memberikan beban tambahan pada dasar vaskular pulmonal yyang telah mengalami kongesti. Mengingat bahwa DNP terjadi bukan hanya pada malam hari tetapi dapat terjadi kapan saja, klien harus diberikan tirah baring selama perawatan akut di rumah sakit.