Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Berbagai perawatan gigi memerlukan perekatan restorasi dan berbagai perawatan ke gigi dengan bantuan bahan perekat. Di sinilah peran semen dalam perawatan gigi. Semen adalah bahan perekat yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat menutup sebuah celah atau untuk menggabungkan dua komponen menjadi satu. Semen ini bisa digunakan sebagai semen basis, pelapik, dan bahan tambalan. Jenis semen yang digunakan dalam kedokteran gigi ada bermacam-macam. Jenis semen ini mempunyai komposisi yang berbeda sehingga dalam sifat mekanisnya dan fisik setiap jenis semen ini berbeda. Oleh karenanya dalam pemakaian semen operator harus mengetahui karateristik dari masing-masing semen sehingga tidak terjadi kesalahan dalam aplikasi ke pasien. Jenis-jenis semen ada banyak, antara lain Semen seng fosfat, semen seng silikofosfat, semen seng polikarboksilat, semen ionomer kaca, semen oksida seng eugenol, semen berbasis resin, dan semen berbasis logam (cermet). Kegunaan dari semen secara umum adalah untuk bahan perekat restorasi ortodontik, restorasi sementara, restorasi gigi anterior, bahan tambal, pulp capping, basis, pelapik kavitas, restorasi saluran akar. Penggunaan utama lianm dari semen gigi termasuk merekatkan gigi tiruan dan peralatan ortodontik serta merekatkan post dan pasak untuk retensi restorasi. Beberapa semen gigi dipasok dalam dalam dua komponen: bubuk dan cairan. Pada umumnya semen diklasifikasikan menurut rumus kimianya. Cairan semen biasanya adalah larutan asam, dan bubuknya adalah formula dasar yang terdiri dari kaca atau oksida logam. Secara lebih lengkap tentang semen, baik dari jenis-jenisnya, komposisinya, sifat mekanis dan fisik, manipulasi serta aplikasinya dalam kedokteran gigi akan dibahas dalam bab selanjutnya.
1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan semen? 2. Apa saja syarat dari semen dalam kedokteran gigi? 3. Apa saja kalsifikasi dari jenis-jenis semen? 4. Apa saja fungsi dari jenis-jenis semen? 5. Apa saja komposisi dari masing-masing semen? 6. Apa saja kelebihan dan kekurangan dari masing-masing jenis semen? 7. Bagaimana cara dan proses manipulasi dari masing-masing semen?

1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian dari semen 2. Untuk mengetahui syarat dari semen dalam kedokteran gigi. 3. Untuk mengetahui dan memahami jenis-jenis dari semen 4. Untuk mengetahui dan memahami fungsi dari jenis-jenis semen 5. Untuk mengetahui dan memahami komposisi dari masing-masing jenis semen 6. Untuk mengetahui sifat dari masing-masing jenis semen. 7. Untuk mengetahui proses manipulasi dari masing-masing jenis semen.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Semen kedokteran gigi adalah campuran powder dan liquid yang merupakan reaksi kimia antara asam dan basa. Powder yang bersifat basa dan liquid yang bersifat asam membentuk konsistensi berupa pasta kental yang kemudian akan mengeras menjadi massa yang padat. Semen merupakan suatu bahan yang bisa dibentuk untuk menutup sebuah celah atau untuk menyemen dua komponen menjadi satu. (Annusavice, 2003 : 470) 2.2 Klasifikasi Semen Kedokteran Gigi Bahan semen dapat diklasifikasikan atas : 1. Semen dengan reaksi asam a. Zinc-oxide eugenol b. Zinc phosphate c. Zinc polycarboxilate d. Semen silikat e. Semen silikofosfat f. Semen glass-ionomer 2. Bahan yang berpolimerisasi a. Cyanoacrilates b. Polymer dimethacrylate c. Composite polymer-ceramic 3. Bahan lain a. Calcium hydroxide b. Gutta Percha c. Varnish (Combe, 1992 : 135) 2.3 Komposisi Semen Kedokteran Gigi Beberapa semen gigi dipasok dalam dua komponen : bubuk dan cairan. Pada umumnya semen diklasifikasikan menurut rumus kimianya. Kecuali untuk kalsium hidroksida dan produk-produk resin, sebagian besar semen mengeras berdasakan reaksi asam-basa. Cairan semen biasanya adalah larutan asam dan bubuknya adalah formula dasar yang terdiri atas kaca atau oksida logam. (Annusavice, 2003 : 444) Semen dengan Reaksi Asam Semen gigi tersedia dalam bentuk puder dan cairan. Puder (powder/bubuk) bersifat amfoter atau basa (penerima proton) dan cairan adalah asam atau donor proton. Pada pengadonan keduanya terbentuk pasta kental yang selanjutnya mengeras membentuk masa padat.
3

Berdasarkan bentuk pudernya semen dapat diklasifikasikan atas : 1. Zinc oxide. Ini dapat bereaksi dengan sejumlah cairan. 2. Ion-leachable glasses, terutama aluminosillicate yang mengandung fluoride. (Combe, 1992 : 136) 2.4 Persayaratan Bahan Semen Kedokteran Gigi 1. Bersifat non toksik serta non iritasi pulpa dari jaringan lainnya. 2. Tidak larut dalam saliva dan cairan lain yang dimasukkan ke dalam mulut. 3. Sifat-sifat mekanis harus memenuhi persayaratan untuk tujuan penggunaan ahan tersebut, misalnya semen untuk cavity lining haruslah menghadulkan kekuatan yang cukup dalam waktu cepat untuk memungkinkan bahan tambal dimasukkan ke dalam kavitet. 4. Perlindungan jaringan pulpa terhadap pengaruh bahan restorasi lainnya : a. Penghambat panas, lapisan semen diberi di bawah satu restorasi besar yang terbuat dari bahan logam untuk melindungi pulpa terhadap perubahan suhu. b. Pelindung kimia, suatu semen haruslah dapat mencegah penetrasi zat kimia yang bersifat merusak dari bahan restorasi ke dalam pulpa. c. Penghambat arus listrik antara restorasi logam untuk mengurangi pengaruh galvanis. 5. Sifat-sifat optis, untuk penyemenan suatu restorasi yang translusen. Sifat-sifat optis bahan semen haruslah menyerupai sifat optis jaringan gigi. 6. Suatu semen sebaiknya bersifat merekat terhadap enamel dan dentin, tahan terhadap alloy emas, porselen dan akrilik tetapi tidak terhadap instrument/alat-alat. 7. Suatu semen haruslah bersifat bakteriostatis bila dimasukkan ke dalam kavitet yang masih mengandung sisa-sisa karies. 8. Semen harus mempunya pengaruh yang tidak merusak pulpa. 9. Sifat-sifat rheologi juga penting : adonan semen haruslah mempunyai viskositas rendah sehingga bisa didapatkan lapisan semen yang tipis dan waktu kerja yang ckup pada suhu mulut untuk memungkinkan pemasangan bahan restorasi. (Combe, 1992 : 139-140) 2.5 Kegunaan Semen Kedokteran Gigi Semen gigi yang digunakan sebagai bahan tambal mempunyai kekuatan yang rendah dibandingkan resin komposit dan amalgam, tetapi dapat tetap digunakan untuk daerah yang mendapat sedikit tekanan. Terlepas dari kekuatannya yang rendah, semen ini memiliki sidat khusus yang diinginkan sehinggan digunakan pada hampir 60% restorasi. Meskipun semen restorasi digunakan untuk restorasi sementara maupun jangka panjang, juga diperlukan untuk aplikasi lain. Misalnya sebelum penempatan restorasi, pulpa dapat terganggu atau terluka oleh berbagai sebab, misalnya karies atau preparasi kavitas. Untuk melindungi pulpa terhadap trauma lebih lanjut, seringkali ditempatkan alas penahan panas di bawah tambalan logam, dan bahan-bahan penutup pulpa serta pelapik kavitas pada permukaan kavitas gigi yang dekat dengan kamar pulpa. Pelapik kavitas, misalnya vernis kavitas dan bahan bonding dentin juga dapat melindungi jaringan pulpa terhadap efek dari komponen-komponen tertentu dari bahan restorasi dan kebocoran mikro. Beberapa semen
4

yangmenadung fluoride dapat digunakan sebagai penutup fisura, penutup saluran akar, dan perbaikan gigi yang patah. Penggunaan utama lain dari semen gigi termasuk merekatkan (menyemen) gigi tiruan dan perlatan ortodontik serta merekatkan post dan pasak untuk retensi restorasi. (Annusavice, 2003 : 444)

BAB III PEMBAHASAN Semen dalam bidang kedokteran gigi, istilah yang mencakup bahan yang digunakan bagi perlekatan, pelapisan dan sebagai bahan tambal sementara (misalnya Zn, fosfat, Zn-oksida dll) atau tambalan permanen (misalnya silikat, inomer kaca), basis, dan varnish. Komponennya dicampur dalam proporsi yang tepat sehingga terbentuk massa plastis yang akan mengeras setelah beberapa waktu. (Kamus Kedokteran Gigi, FJ. Harty, 61) Perbedaan Basis dan Pelapik Basis : menghasilkan bentuk preparasi, melindungi dari termal dan kimia dan penempatannya diatas pelapik dan diatas pulpa (tidak berkontak langsung), bisa juga digunakan menjadi liner (hanya pada Karies Media) Pelapik : merupakan lapisan tipis yang melindungi pulpa dari iritasi kimia, pelindung gigi yang telah direparasi, penempatannya langsung diatas pulpa (biasanya pada Karies profunda). (Buku Ajar Konservasi Gigi, 153-154) 3.1 Syarat Semen Kedokteran Gigi 1. Bersifat non toksik serta non iritasi pulpa dari jaringan lainnya. 2. Tidak larut dalam saliva dan cairan lain yang dimasukkan ke dalam mulut. 3. Sifat-sifat mekanis harus memenuhi persayaratan untuk tujuan penggunaan ahan tersebut, misalnya semen untuk cavity lining haruslah menghadulkan kekuatan yang cukup dalam waktu cepat untuk memungkinkan bahan tambal dimasukkan ke dalam kavitet. 4. Perlindungan jaringan pulpa terhadap pengaruh bahan restorasi lainnya antara lain : a. Penghambat panas, lapsan semen diberi di bawah satu restorasi besar yang terbuat dri bahan logam untuk melindungi pulpa terhadap perubahan suhu. b. Pelindung kimia, suatu semen haruslah dapat mencegah penetrasi zat kimia yang bersifat merusak dari bahan restorasi ke dalam pulpa. c. Penghambat arus listrik antara restorasi logam untuk mengurangi pengaruh galvanis. 5. Sifat-sifat optis, untuk penyemenan suatu restorasi yang translusen. Sifat-sifat optis bahan semen haruslah menyerupai sifat optis jaringan gigi. 6. Suatu semen sebaiknya bersifat merekat terhadap enamel dan dentin, tahan terhadap alloy emas, porselen dan akrilik tetapi tidak terhadap instrument/alat-alat. 7. Suatu semen haruslah bersifat bakteriostatis bila dimasukkan ke dalam kavitet yang masih mengandung sisa-sisa karies. 8. Semen harus mempunya pengaruh yang tidak merusak pulpa. 9. Sifat-sifat rheologi juga penting : adonan semen haruslah mempunyai viskositas rendah sehingga bisa didapatkan lapisan semen yang tipis dan waktu kerja yang ckup pada suhu mulut untuk memungkinkan pemasangan bahan restorasi. (Combe, 1992 : 139-140)

3.2 Klasifikasi Semen Kedokteran Gigi A. SEMEN ZINC OXYDE EUGENOL Fungsi : 1. 2. 3. 4. Sebagai bahan perekat restorasi sementara dan permanen Sebagai basis dan pelapik Sebagai bahan pengisi saluran akar (sealer) pada perawatan pulpotomi Penutup luka bedah periodontal (Phillips, 445)

Komposisi : Zinc Oxyde Eugenol (konvensional) terdiri dari bubuk Zinc Oxyde dan cairannya berupa eugenol. Terkadang ada bahan tambahan seperti polimer (metil akrilat), alumina, dan cairannya berupa EBA dimana penambahannya berfungsi untuk meningkatkkan durabilitas dan kekuatan, tetapi menyebabkan penurunan daya tensile dan daya larut. Zinc Asetat dan Asam asetat dalam jumlah hingga 1%, dipergunakan sebagai akselerator untuk reaksi setting. (Buku Ajar Konservasi Gigi, 159-160) Kelebihan : 1. Meminimalkan kebocoran mikro 2. Memberikan perlindungan terhadap pulpa 3. Daya antibakteri Kekurangan : Mempunyai potensi iritasi terhadap jaringan Manipulasi : Semen ini dicampur dengan cara menambahkan sejumlah puder ke dalam cairan hingga diperoleh konsistensi yang kental. Perbandingan jumlah puder dan liquidnya berkisar 4 : 1 atau 6 : 1 akan menghasilkan semen dengan sifat-sifat yang dikehendaki dan agar didapat adonan berbentuk dempul. Pencampuran dapat dilakukan pada glass slab tipis dan menggunakan spatula logam yang tahan karat. Reaksi setting 1. Reaksi kimia, membentuk senyawa zinc eugenolate 2. Dapat terjadi adsorbsi eugenol oleh zinc oxyde Waktu settingnya bergantung pada: 1. Puder: yaitu ukuran partikelnya, dimana puder yang lebih halus mempunyai permukaan terbuka yang lebih luas terhadap eugenol sehingga akan bereaksi lebih cepat. 2. Perbandingan puder dengan cairan: adonan yang kental menghasilkan bahan yang lebih cepat setting.
7

3. Peningkatan suhu juga menyebabkan waktu setting semakin cepat. (Combe, 142) B. SEMEN ZINC PHOSPATE Fungsi : 1. Sebagai bahan tambalan sementara 2. Sebagai Bahan Basis dan Pelapik 3. Sebagai Bahan Perekat Inlay, Jembatan dan Pasak Inti. (Phillips, 445) Komposisi : Bubuk : Konstitusi utama adalah Zinc Oksida, Magnesium oksida + 10 %, Oksida lain/garam logam (misal Fluorida) dalam jumlah kecil Cairan : Berupa larutan asalmfosfor dalam air (sekitar 30%-40% air). Juga sering terdapat Zinc atau Alumunium Fosfat yang terbentuk dari larutnya zinc oksida dan atau Alumunium hidroksida di dalam cairan. (Combe, 144-145) Kelebihan : 1. Insolator panas yang baik 2. Daya larut relatif rendah di dalam air 3. Compressive strength yang tinggi. (Phillips, 478-479) Kekurangan : 1. Keasamanan semen cukup tinggi 2. Iritatif terhadap pulpa. (Combe,147) Manipulasi : Ringkasnya, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam manipulasi : 1. Mungkin tidak perlu menggunakan alat ukur untuk membagi jumlah bubuk dan cairan, karena kekentalan yang diinginkan bisa bervariasi menurut kebutuhan klinisnya. Meskipun demikian, dianjurkan penggunaan jumlah maksimal dari bubuk (sejauh masih menghasilkan adukan yang bisa dikerjakan) untuk meminimalkan daya larut dalam dan memaksimalkan kekuatan. 2. Sebaiknya digunakan alas aduk yang dingin. Alas aduk yang dingin akan memperpanjang waktu kerja dan pengerasan serta memungkinkan operator menggunakan bubuk dalam jumlah yang maksimal sebelum pembentukan matriks berlanjut ke titik dimana adukan menjadi kaku. Cairan tidak boleh dituang ke alas aduk sampai pengadukan siap dimulai. 3. Pengadukan diawali dengan penambahan sejumlah kecil bubuk. Pada mulanya sejumlah kecil bubuk dicampur dengan pengadukan yang cepat. Harus digunakan area yang cukup luas dari alas aduk. Sebuah aturan yang baik untukdiikuti adalah mengaduk setiap penambahan bubuk selama 15 detik sebelum dilakukan penambahan berikutnya. Dua menit setelah awal pengadukan, pH semen zinc phospat berkisar 2 Kemudian pH naik
8

dengan cepat menjadi 5,5 pada jam ke 24. Jika digunakan adukan yang encer, pH akan lebih rendah dan tetap rendah untuk jangka waktu lama. 4. Tuangan harus segera dipasang, jika mungkin dengan gerakan getar, sebelum terjadi pembentukan matriks. 5. Semakin kental adonan semakin kuat hasil campuran. Maka untuk keperluan cavity lining hendaknya digunakan adonan yang kental. Untuk tujuan penyemenan dibutuhkan adonan yang encer sehingga memungkinkan semen mengalir sewaktu restorasi dipasangkan. (Phillips, 480-481) Waktu setting bergantung pada : a. Powder, b. Cairan, c. Cara manipulasi. 4 faktor yang mempercepat reaksi setting : 1. Perbandingan cairan dan powder yang tinggi 2. Penambahan powder ke cairan secara cepat 3. Terdapat kontaminasi 4. Suhu yang lebih tinggi. (Combe, 145-146) C. SEMEN ZINC POLYCARBOXYLATE Fungsi : 1. 2. 3. 4. 5. Sebagai mahkota dan jembatan Digunakan pada inlay dan onlay Sebagai Bahan Perekat pada komposit dan amalgam Basis penahan panas Restorasi jangkan menengah. (Phillips, 445)

Komposisi : Semen polycarboxylate adalah sistem bubuk-cairan. Cairannya adalah larutan air dari asam poliakrilat atau kopolimer dari asam akrilik dengan asam karboksilat yang tidak jenuh. Bubuknya mengandung oksida seng dengan sejumlah oksida magnesium. Oksida-oksida lainnya lainnya, misalnya bismuth dan alumunium juga dapat ditambahkan. Bubuk ini juga mengandung sejumlah kecil stannous fluorida, yang mengubah waktu pengerasan dan memperbaiki sifat manipulasi. Unsur ini ,merupakan bahan penambah yang penting karena juga meningkatkan kekuatan. (Phillips, 481-482) Kelebihan 1. 2. 3. 4. Tidak mengiritasi pulpa Merekat baik pada struktur gigi Perlekatannya melalui ikatan kimia dengan hirdoksiapatit sehingga tidak mudah lepas Insulator panas yang baik

Kekurangan 1. 2. 3. 4. 5. Waktu kerja pendek Disintegrasi tinggi Tidak melekat baik pada logam mulia Tidak sekaku semen fosfat Sifat mekanis. Kekuatan kompresi dari semen polikarboksilat adalah sekitar 55Mpa, karena itu dalam hal ini, semen ini lebih rendah daripada semen Zinc Phospate. namun, kekuatan tarik garis tengahnya sedikit lebih tinggi. Semen polikarboxylate tidak sekaku semen fosfat. Modulus elastisitasnya kurang dari setengah dari semen Zinc phospate. selain itu, tidak serapuh semen seng fosfat. Jadi lebih sulit untuk membuang kelebihan semen setelah semen mengeras. 6. Daya larut. Daya larut semen di dalam air memang rendah, tetapi jika terpajan asam-asam organik dengan pH 4,5 atau kurang, daya larutnya meningkat sangat besar. Selain itu penurunan rasio bubuk :cairan akan meningkatkan daya larut dan kecepatan disintegrasi secara nyata didalam rongga mulut. (Phillips, 483 dan Combe,151-152) Manipulasi : Rasio bubuk : cairan yang dibutuhkan untuk mendapat semen dengan kekentalan yang memadai akan bervariasi dari satu produk dengan produk lainnya. Tetapi pada umumnya, rasio nya adalah 1,5 bagian bubuk dengan 1 bagian cairan menurut beratnya. Semen ini harus dicampur pada permukaan yang tidak menyerap cairan, misalnya alas aduk dari kaca.. temperature dingin dapat memperpanjang waktu kerja tapi yang didinginkan hanya bubuk semennya. Cairan tidak boleh dikeluarkan dulu sebelum pengadukan siap, karena cairan akan cepat kehilangan kandungan airnya di udara terbuka. Hilangnya air dari cairan akan sangat meningkatkan kekentalannya Bubuk dicampurkan dengan cepat ke dalam cairan. Setelah pengadukan selama 30 detik semen akan mengental. Semen jangan diaduk terlalu lama atau dibiarkan lebih lama diatas alat aduk karena permukaan semen akan menjadi buram dan adukan menjadi lengket. Agar terjadi ikatan yang baik antara semen dengan struktur gigi maka semen harus segera ditempatkan pada gigi sebelum tampilannya yang mengkilat hilang. (Phillips,2003:485) D. SEMEN GLASS IONOMER Fungsi : 1. 2. 3. 4. Sebagai bahan perekat atau luting (luting agent) Semen glass ionomer dapat digunakan sebagai base atau liner Sebagai fissure sealant karena adanya pelepasan fluor. restorasi gigi susu. (Phillips, 486)

10

Komposisi : Bubuk Semen Ionomer Kaca adalah kaca alumina-silikat. Walaupun memiliki karakteristik yang sama dengan silikat tetapi perbandingan alumina-silikat lebih tinggi pada semen silikat. Kimiawi - Silica - Alumina - Calcium Fluorida - Alumunium Fluorida - Sodium Fluorida - Alumunium Phospate Persen berat 29,0 16,6 34,3 5,3 5,0 9,8

Cairan yang digunakan Semen Ionomer Kaca adalah larutan dari asam poliakrilat dalam konsentrasi kira-kira 50%. Cairan ini cukup kental cenderung membentuk gel setelah beberapa waktu. Pada sebagian besar semen, cairan asam poliakrilat dalah dalam bentuk kopolimer dengan asam itikonik, maleic atau asam trikarbalik. Asam-asam ini cenderung menambah reaktivitas dari cairan, mengurangi kekentalan dan mengurangi kecenderungan membentuk gel. Asam tartaric juga terdapat dalam cairan yang memperbaiki karakteristik manipulasi dan meningkatkan waktu kerja, tetapi memperpendek pengerasan. Terlihat peningktan yang berkesinambungan secara perlahan pada kekentalan semen yang tidak mengandung asam tartaric. Kimiawi - Poly (asam akrilik asam itikonik) - Air - Asam tartarik (Manappallil JJ. Basic Dental materials, 1998 ; 221) Kelebihan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Tahan terhadap penyerapan air dan kelarutan dalam air Kemampuan berikatan dengan email dan dentin Memiliki angka retensi gigi Biokompabilitas Estetika (penambahan radio opak untuk penyamaan warna dengan gigi) Mempunyai kekuatan kompresi yang tinggi. Bersifat adhesi. Tidak iritatif. Mengandung fluor sehingga mampu melepaskan bahan fluor untuk mencegah karies lebih lanjut. 10. Mempunyai sifat penyebaran panas yang sedikit. 11. Daya larut yang rendah. 12. Bersifat translusent atau tembus cahaya.
11

Persen berat 47,5 47,5 5,0

13. Perlekatan bahan ini secara fisika dan kimiawi terhadap jaringan dentin dan email. 14. Di samping itu, semen glass ionomer juga bersifat biokompabilitas, yaitu menunjukkan efek biologis yang baik terhadap struktur jaringan gigi dan pulpa. Kelebihan lain dari bahan ini yaitu semen glass ionomer mempunyai sifat anti bakteri, terutama terhadap koloni streptococcus mutant (mount, 1995). Kekurangan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tidak dapat menahan tekanan kunyah yang besar Tidak tahan terhadap keausan Daya lekat pasta lebih kecil terhadap dentin Setelah restorasi butuh proteksi Kekerasan kurang baik Rapuh dan sensitive terhadap air pada waktu pengerasan Dapat larut dalam asam dan air

Manipulasi 1. Struktur gigi yang dipreparasi harus dibersihkan dengan pasta pumis, dibilas, dan dikeringkan, namun jangan sampai mengalami dehidrasi. Pengeringan yang berlebihan akan membuka ujung-ujung tubulus dentin dan meningkatkan penetrasi cairan asam. 2. Prosedur pengadukannya yairu bubuk dicampurkan dengan cairan dalam jumlah yang besar dan diaduk dengan cepat selama 30-45 detik. Ratio bubuk : cairan yang dianjurkan bervariasi tergantung mereknya, tetapi umumnya berkisar antara 1,25-1,5 gram bubuk per 1 ml cairan. 3. Penyemenan harus dilakukan sebelum semen kehilangan kilapnya. Setelah mengeras kelebihan semen dapat dibuang dengan mencungkil atau mematahkan semen menjauh dari tepi restorasi. (Phillips, 487)

E. SEMEN SILIKAT Penggunaan semen silikat telah sangat berkurang dengan munculnya komposit berbasis resin untuk restorasi gigi anterior, dan kemudian berkembangnya semen ionomer kaca. Tetapi, semen silikat layak untuk dibahas karena masih mempunyai sifat anti karies dan mekanisme yang telah dirumuskan dengan baik. Komposisi Powder : Bubuk semenya adalah kaca yang terdiri dari silica (SiO2); alumina (Al2O3); senyawa flourida, seperti NaF, dan Na3AlF6; dan beberapa garam kalsium, seperti Ca(H2PO4)H2O dan CaO. Bahan-bahan ini dipanaskan sampai suhu 1400C sampai terbentuk kaca. Tujuan senyawa flourida adalah untuk menrunkan temperature pencampuran dari kaca. Cairan : Cairannya adalah larutan dari asam fosfor dengan garam-garam dapur. Ketika bubuk dan cairan dicampur , permukaan partikel bubuk terpajan asam, dan melepaskan ion-ion
12

Ca2+, Al3+, dan F-. ion-ion logam berpresipitasi sebagai fosfat yang membentuk matriks semen dengan sisipan garam-garam fluoride. Secara estetis awalnya restorasi silikat mempunyai estetis sangat baik dan dapat menyamai warna gigi apabila pemilihan bahan dilakukan dengan tepat. Setelah beberapa lama silikat dapat mengalami staining terutama bila permukaan telah menjadi kasar oleh karena aberasi atau erosi. (Combe, 159) 1. Sifat fisik a. Kuat dalam menahan kompresi (180MPa) b. Lemah dalam menahan tekanan tarik (3.5MPa) c. koefisiens ekspansi termis rendah d. konduktifitas termis rendah e. tjd kontraksi f. sulit dipoles Sifat biologi a. Ph = <3 saat dimasukkn kedalam rongga mulut, <7 setelah pemakaian satu bulan b. Mempunyai efek kariostatis, dikarenakan terdapat kandungan fluoride c. terjadi reaksi pulpa Erosi dalam saliva Estetis kurang, dikarenakan warnanya yang agak buram Tidak terjadi ikatan antara semen silikat dengan enamel dentin

2.

3. 4. 5.

Manipulasi Ada beberapa tahapan manipulasi dari jenis semen silikat, diantaranya adalah : a. Pencampuran harus dicampur dengan cepat dibuat sekental mungkin glass slab yg dingin & spatula logam dan plastic, dengan tujuan dapat memperlambat waktu setting ratio 1,6g/0,4 ml puder dimasukkan kecairan dalam waktu 1 menit,diaduk sampai konseistensinya seperti dempul b. Reaksi setting terbentuk gel siliko hidrat terjadi reaksi asam basa, pengerasan 24 jam c. Waktu setting tergantung komposisi bahan, untuk partikel puder, partikel yang lebih halus maka setting timenya lebih cepat.

13

waktu pencampuran yang lama, suhu rendah, hilangnya air dari cairan, dan ratio p/c rendah, maka akan terjadi setting yang lambat. Tabel perbedaan Silikat dengan SIK (dirangkum dari buku Philips bab 24 & 25) Pembanding a. Tekanan Kompresi (MPa) b. Tekanan Kompresi (Psi) c. Kekuatan Tensil (MPa) c. Kekuatan Tensil (Psi) e. Kekerasan (KHN) f. Respon thd Pulpa g. Daya Larut Air h. Anti Karies Silikat 180 26000 3,5 500 70 besar 0,7 ada SIK 150 22000 6,6 960 48 Ringan 0,4 Ada

Silikat dan glass ionomer mempunyai beberapa keuntungan karena mengandung fluor yang akan menghambat karies. Namun sekarang silikat jarang digunakan karena mudah larut jika tertutup oleh plak yang asam sedangkan semen glass ionomer mungkin akan lebih tahan lama. (Kidd, 200)

F. RESIN MODIFIED GLASS IONOMER CEMENT Self cured dan light cured resin modified glass ionomer atau hybrid ionomers tersedia dalam bentuk serbuk-cairan, serbuk-serbuk, atau unit uncapsulated unruk semen. Resin modified glass ionomers juga digunakan untuk material restorasi. Komposisi Serbuk self cured resin modified glass ionomer cement berisi sebuah radiopaque, fluoroaluminosilicate glass dan sebuah microencapsulated potassium persulfate dan ascorbic acid catalyst sistem. Cairannya adalah sebuah larutan aquaeous asam polycarboxylic dimodifikasi dengan golongan pendant methacrylate. Ini juga mengandung 2hydroxyethylmethacrylate (HEMA) dan asam tartar. Semen self cured yang lain mengandung sebuah campuran fluoroaluminosilicate dan borosilicate glass pada serbuknya. Cairannya adalah monomer complex berisi golongan asam carboxylic yang dapat mengalami reaksi asam basa dengan golongan glass dan vinyl yang akan polimerisasi ketika reaksi kimia aktif. Suatu light cured resin modified glass ionomer cement mengandung fluoroaluminosilicate glass pada serbuk dan kopolimer acrylic dan asam maleic, HEMA, air, camphorquinone, dan sebuah activator pada cairan. Reaksi setting Reaksi settingnya terdiri dari dua mekanisme berbeda. Yang pertama adalah reaksi asam basa. Mekanisme yang kedua adalah reaksi polimerisasi light cured atau self cured golongan

14

pendant methacrylate. Oleh karena itu, dua tipe struktur tooth bonding yang terjadi adalah ikatan ion dan ikatan hybrid layer. Manipulasi Struktur serbuk halus sebelum dikeluarkan. Cairan dikeluarkan dari penyimpanan pada botol kecil secara vertical untuk pengadukan. Perbandingannya untuk serbuk adalah 1,6 g sedangkan untuk cairan 1,0 g, dan serbuk dicampurkan ke cairan selama 30 detik untuk memperoleh konsistensi yang lengket. Working time selama 2,5 menit. Semen ini untuk kebersihan dan gigi kering yang rapuh. Beberapa produk digunakan untuk meningkatkan lapisan bonding pada dentin. Tidak diperlukan pelapisan. HEMA diketahui kontak alergi; oleh karena itu diperlukan penggunaan sarung tangan dan teknik tidak memegang. Sifat Syarat untuk light active cements yaitu water based dan yang ditentukan oleh reaksi perkalian termasuk reaksi asam basa dan polimerisasi (tipe I) dan oleh semen yang ditentukan hanya setelah light activation (tipe II). Untuk kekerasan lebih tinggi dari semen water based lainnya tapi lebih rendah dari semen komposit. Range bond strength untuk membasahi dentin dari 10 sampai 14 MPa dan lebih tinggi daripada kebanyakan water based cements. Resin modified glass ionomer cements mempunyai daya larut yang rendah ketika dites dengan asam lactic erosion. Water sorption lebih tinggi daripada untuk resin cements. Baru-baru ini beberapa resin modified glass ionomer cements telah dimodifikasi untuk mempunyai water sorption yang rendah. Pelepasan fluoride dan kemampuan pengisian sama dengan glass ionomer cements. pH awal sekitar 3,5 dan terus meningkat. Pengalaman klinis mengindikasi sensitivitas minimal post-operative. Penggunaan Self cured resin modified glass ionomer cements ditunjukkan untuk semen permanen dari mahkota logam ceramic; bridges; inlay logam, onlay, dan crown; post cement; dan luting untuk peralatan orthodontic. Penggunaan tambahan termasuk adhesive liners untuk amalgam, basis, restorasi sementara, dan cementation untuk spesifik restorasi ceramic. Light cured resin modified glass ionomer cements digunakan terutama untuk liners dan basis. Produk one light cured direkomendasikan untuk melangsungkan bonding kawat orthodontic. G. SEMEN IONOMER KACA DENGAN MODIFIKASI LOGAM (CERMET) Semen ionomer kaca kurang kuat dan karenanya, tidak dapat menahan tekanan kunyah yang besar. Semen ini juga tidak tahan terhadapkeausan penggunaan dibandingkan bahan restorasi estetik lainnya, seperti komposit dan keramik. Semen ionomer kaca telah dimodifiasi dengan mengikutkan partikel-partikel logam sebagai bahan pengisi sebagai usaha untuk meningkatkan kekuatan, ketahanan terhadap fraktur, dan ketahanan terhadap keausan. Ada dua metode modifikasi yang telah dilakukan. Metode yang pertama adalah mencampur bubuk logam campur amalgam yang berpartikel sferis dengan bubuk ionomer kaca tipe II. Semen ini disebut sebagai gabungan logam campur perak. Metode kedua adalah mencampur bubuk kaca dengan partikel perak dengan menggunakan pemanasan yang tinggi. Semen ini sering
15

disebut sebagai cermet. Mikrograf skening elektron dari bubuk cermet. Menunjukkan partikel-partikel bubuk perak melekat ke permukaan dari pertikel-partikel bubuk semen. Semen dengan modifikasi logamberdasarkan salah satu dari kedua sistem ini sudah tersedia di pasaran. Sifat umum. Bahan cermet jauh lebih tahan terhadap keausan dari luncuran dibandingkan semen ionomer kaca Tipe II. Peningkatan ketahanan terhadap keausan berkaitan dengan penambahan bahan pengisi logam, seperti dibuktikan oleh penampilan mengkilap yang terjadi jika logam dikenai tes keausan ini. Pelepasan fluorida. Jmlah dari fluorida yang dilepaskan dari kedua sistem yang dimodifikasi lgam ini cukup besar. Namun fluorida yang dilepaskan dari semen cermet lebih sedikit daripada yang dilepaskan dari semen ionomer kaca Tipe II. Ini tidak mengherankan,karena sebagian partikel kaca yang asli,yang mengandung fluorida telah dilapisi logam,pada awalnya, semen gabungan melepas lebih banyak fluorida daripada semen Tipe II. Tetapi besarnya elepasan pelepasan ini menurundengan berjalannya waktu. Alasan dari efek ini adalah partikel-partikel logam pengisi tidak terikat pada matriks semen, sehingga antar-muka bahan pengisi semen menjadi bahan untuk pertukaran cairan. Keadaan ini sangat meningkatkan daerah permukaan yang tersedia untuk pelepasan fluorida. Pertimbangan klinis. Dengan meningkatnya daya tahan terhadapp keausan dan potensiantikariesnya, semen-semen dengan modifiasi logam initelah dianjurkan untuk penggunaan yang terbatas sebagai alternatif dari amalgam atau komposit untukrestorasi gigi poterior. Meskipun demikian, bahan-bahan ini masih diklasifikasikan sebagai bahan yang rapuh. Karenaalasan inilah penggunaan bahan tersebut umumnya terbatas pada restorasi koservatif dan umumnya Kelas I. Nbahan tampaknya mempunyai kinerja yang relatif baik pada situasi seperti itu dan terutama cocok untuk pasien muda yang rentan terhadap karies. Semen-semen ini mengeras dengan cepat sehingga dapat menerima tindakan penyelesaian dengan waktu yangrelatif singkat. Dibarengi dengan potensi adhesi dan daya tahanna terhadap karies, sifat-sifat ini telah mendorong semen tersebut digunakan untuk membangun badan intik untuk gigi yang akan diperbaiki dengan mahkota cor penuh. Namun, karena rendahnya kekuatan terhadap fraktur dan sifatnya yang rapuh, sebaiknya dilakukan pendekatan yang konservatif. Bahan ini sebaiknya tidak digunakan jika bagian yang akan dibangun dengan semen adalah lebih besar dari 40% dari keseluruhan badan inti. Untuk kasus seperti ini sebaiknya digunakan pasak atau bentuk retensi lainnya.

16

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Semen kedokteran gigi merupakan campuran powder dan liquid yang merupakan reaksi kimia antara asam dan basa. Semen bisa digunakan sebagai semen basis, pelapik, dan bahan tambalan. semen kedokteran gigi memiliki beberapa jenis semen, antara lain Semen seng fosfat, semen seng silikofosfat, semen seng polikarboksilat, semen ionomer kaca, semen oksida seng eugenol, semen berbasis resin, dan semen berbasis logam (cermet). Kegunaan dari semen secara umum adalah untuk bahan perekat restorasi ortodontik, restorasi sementara, restorasi gigi anterior, bahan tambal, pulp capping, basis, pelapik kavitas, restorasi saluran akar. Penggunaan utama lianm dari semen gigi termasuk merekatkan gigi tiruan dan peralatan ortodontik serta merekatkan post dan pasak untuk retensi restorasi. Penggunaan utama lain dari semen gigi termasuk merekatkan (menyemen) gigi tiruan dan perlatan ortodontik serta merekatkan post dan pasak untuk retensi restorasi. Semen kedokteran gigi juga berfungsi sebagai alas penahan panas pada tumpatan logam dan bahan-bahan penutup pulpa serta pelapik kavitas pada permuakaan kavitas gigi yang dekat dengan pulpa. 4.2 Saran Saran bagi pembaca agar bisa menjadi refensi untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang semen kedokteran gigi dan bisa mengembangkan dan memperbaharui campuran semen kedokteran gigi agar bisa bermanfaat bagi bidang ilmu kedokteran gigi.

17

DAFTAR PUSTAKA Baum, Phillips, Lund. Buku Ajar Konservasi Gigi edisi 3. 1997. Penerjemah Rasinta Tarigan. Jakarta : EGC Combe, EC. 1992. Sari Dental Material. Penerjemah: Slamat Tarigan. Jakarta : Balai Pustaka. Anusavice, Kenneth J. 2004. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Jakarta : EGC. Phillips, W. Ralph. 1991. Science Of Dental Materias. Philadelphia USA : W.B Saunders Company. Kidd E.A.M. 1991. Dasar- Dasar Karies Penyakit dan Penanggulangannya. Jakarta: EGC

18