Anda di halaman 1dari 38

APA ARTI PENGESAHAN/RATIFIKASI PERJANJIAN INTERNASIONAL?

- Damos Dumoli Agusman -

AKIBAT HUKUM DI DALAM NEGERI PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL (TINJAUAN HUKUM TATA NEGARA)
- Prof Dr. Bagir Manan, SH., M.CL. -

PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM SISTEM UUD 1945


- Dr. Harjono, SH., M.CL. -

STATUS HUKUM INTERNASIONAL DAN PERJANJIAN NTERNASIONAL DI DALAM HUKUM NASIONAL


(PERMASALAHAN TEORITIK DAN PRAKTEK)
- Prof. Dr. Ibrahim, SH., MH. -

PRAKTEK PENERAPAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM PUTUSAN HAKIM


- Hj. Suparti Hadhyono -

STATUS HUKUM INTERNASIONAL DAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM HUKUM NASIONAL


REPUBLIK INDONESIA (DALAM PERSPEKTIF HUKUM TATA NEGARA)
- Prof. Dr. Mohd. Burhan Tsani, SH., MH. –
DAMOS DUMOLI AGUSMAN

APA ARTI PENGESAHAN/RATIFIKASI


PERJANJIAN INTERNASIONAL?
“Dari sisi hukum perjanjian internasional maka ratifikasi pada
esensinya adalah konfirmasi.”

Pengesahan/Ratifikasi: demikian, lembaga ini pada perkembangan


Persetujuan atau Konfirmasi? selanjutnya juga mulai dikenal dan
berkembang dalam hukum ketatanegaraan
Globalisasi Hubungan Internasional dewasa setiap Negara yang digunakan untuk objek
ini telah semakin meningkatkan persentuhan yang sama yaitu Perjanjian Internasional.
dan interaksi antara Hukum Internasional dan Lembaga pengesahan/ratifikasi dalam hukum
Hukum Nasional di Indonesia. Interaksi kedua ketatanegaraan selalu diartikan sebagai
bidang hukum ini semakin mempertajam tindakan persetujuan oleh suatu organ Negara
pertanyaan tentang arti lembaga “pengesahan” terhadap perbuatan Pemerintah untuk membuat
(ratifikasi, aksesi, acceptance, approval) dalam perjanjian atau konfirmasi organ tersebut
kaitannya dengan status Perjanjian terhadap penandatanganan suatu perjanjian
Internasional dalam oleh Pemerintahnya.
Hukum Nasional Republik
Indonesia. Bertolak dari
perbedaan disiplin hukum
Dari tataran teoritis dan tentang
praktis, pengertian pengesahan/ratifikasi
lembaga tersebut diatas, maka
pengesahan/ratifikasi secara tradisional,
ternyata dipahami secara pengesahan/ratifikasi
berbeda oleh kalangan ahli Perjanjian Internasional
Hukum Tata Negara dan selalu dilihat dari dua
oleh ahli Hukum perspektif prosedur yang
Internasional. Lembaga terpisah namun terkait,
pengesahan/ratifikasi itu yaitu Prosedur Internal
sendiri pada hakekatnya (Nasional) dan Prosedur
berasal dari konsepsi Eksternal (Internasional).
Hukum Perjanjian • Dari perspektif
Internasional yang selalu Prosedur Internal,
diartikan sebagai tindakan pengesahan/ratifikasi
‘konfirmasi’ dari suatu Negara terhadap Perjanjian Internasional adalah masalah
perbuatan hukum dari pejabatnya yang telah Hukum Tata Negara, yaitu Hukum
menandatangani suatu perjanjian sebagai tanda Nasional Indonesia yang mengatur
persetujuan untuk terikat pada perjanjian itu. tentang kewenangan eksekutif dan
Dari sisi Hukum Perjanjian maka ratifikasi legislatif dalam pembuatan Perjanjian
pada esensinya adalah konfirmasi. Konfirmasi Internasional serta mengatur produk
ini dibutuhkan karena pada era permulaan Hukum apa yang harus dikeluarkan untuk
berkembangnya Perjanjian Internasional menjadi dasar bagi Indonesia melakukan
masalah komunikasi serta jarak geografis antar Prosedur Eksternal.
Negara merupakan faktor yang mengharuskan • Sedangkan dari perspektif Prosedur
adanya ruang bagi setiap Negara untuk Eksternal maka pengesahan/ratifikasi
mengkonfirmasi setiap perjanjian yang telah Perjanjian adalah perbuatan hukum untuk
ditandatangani oleh pejabatnya. Namun mengikatkan diri pada suatu Perjanjian
“hukum tata Negara ri tanpa sengaja mengartikan lembaga pengesahan/ratifikasi
sebagai “persetujuan dpr” bukan “konfirmasi” dan hal ini tercermin dalam pasal 11
uud 1945. namun dalam praktek ketatanegaraan ri, yang kemudian ditafsirkan oleh
undang-undang no. 24 tahun 2000 tentang perjanjian internasional, pengertian
persetujuan ini bergeser menjadi “konfirmasi dpr” ketimbang “persetujuan dpr”.”

Internasional dalam bentuk ratifikasi, “konfirmasi” dan hal ini tercermin dalam Pasal
aksesi, penerimaan dan persetujuan. (The 11 UUD 1945.2 Namun dalam praktek
international act so named whereby a State ketatanegaraan RI, yang kemudian ditafsirkan
establishes on the international plane its oleh Undang-Undang No. 24 Tahun 2000
consent to be bound by a treaty) yang tentang Perjanjian Internasional, pengertian
diatur oleh Hukum Perjanjian Internasional. persetujuan ini bergeser menjadi “konfirmasi
DPR” ketimbang “persetujuan DPR”. Itulah
Para perumus Konvensi Wina 1969 tentang sebabnya pasal ini masih menyisakan
Perjanjian Internasional (Komisi Hukum pertanyaan mendasar tentang “apakah DPR
Internasional) menyadari adanya perbedaan ini harus terlibat membuat perjanjian sebelum
dan bahkan mengakui bahwa kedua perspektif ditandatangani atau hanya terlibat setelah
ini selalu membingungkan. Komisi secara perjanjian ditandatangani oleh Pemerintah?”
tegas menyatakan bahwa “Since it is clear that Dalam hal ini perbedaan pengertian
there is some tendency for the international “persetujuan” dengan “konfirmasi” pada
and internal procedures to be confused and lembaga pengesahan/ratifikasi menjadi sangat
since it is only international procedures which relevan. Permasalahan ini tentunya akan sangat
are relevant to international law of treaties, the terkait dengan persoalan wewenang membuat
Commission thought it desirable in the perjanjian, apakah wewenang eksklusif
definition to lay heavy emphasis on the fact eksekutif atau tidak.
that it is purely the international act to which
the terms ratification relate in the present Undang-Undang No. 24 Tahun 2000
article.”1 Namun demikian, sekalipun tentang Perjanjian Internasional per definisi
membedakannya, relasi kedua prosedur ini hanya mengatur tentang pengesahan/ratifikasi
cukup jelas bagi Komisi. Pada bagian lain, dalam perspektif Prosedur Eksternal sehingga
Komisi menegaskan bahwa Prosedur Internal berkarakter “konfirmasi”, yaitu perbuatan
harus dipenuhi untuk dapat dilaksanakannya hukum untuk mengikatkan diri pada suatu
Prosedur Eksternal. Komisi lebih lanjut Perjanjian Internasional dalam bentuk ratifikasi
menegaskan bahwa berlakunya perjanjian (ratification), aksesi (accession), penerimaan
terhadap suatu Negara ditentukan oleh (acceptance) dan penyetujuan (approval).
Prosedur Eksternal bukan Prosedur Internal. Namun demikian Undang-Undang ini juga
mengatur tentang persyaratan internal
Jika dalam Prosedur Eksternal pengertian (pengesahan/ratifikasi dengan Undang-Undang
pengesahan/ratifikasi adalah “konfirmasi” dari atau Perpres) sebagai dasar konstitusional
Negara maka pada Prosedur Internal pengertian untuk dapat melakukan pengesahan/ratifikasi
ini dapat berupa: dalam perspektif eksternal. Dalam Undang-
Undang dan praktek Indonesia, untuk Prosedur
a. “Konfirmasi”, yaitu organ Negara seperti Eksternal (yaitu penerbitan notification atau
parlemen memberikan konfirmasi terhadap instrument of ratification/ accession /
perbuatan Pemerintah yang telah acceptance/approval oleh Departemen Luar
menandatangani suatu perjanjian, atau Negeri) hanya dapat dilakukan setelah
b. “Persetujuan”, yaitu organ Negara seperti Prosedur Internal terpenuhi. Akibatnya, secara
parlemen memberikan persetujuan terlebih
dahulu terhadap perjanjian yang akan 2
Pasal 11 UUD 1945:
ditandatangani oleh Pemerintah. 1) Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat
menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan
Negara lain.
Hukum Tata Negara RI tanpa sengaja 2) Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang
menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan
mengartikan lembaga pengesahan/ratifikasi rakyat yang terkait dengan beban keuangan Negara, dan/atau
sebagai “persetujuan DPR” bukan mengharuskan perubahan atau pembentukkan undang-undang
harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
3) Ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatur
1
ILC Draft Articles on the Law of Treaties and Commentaries, AJIL dengan undang-undang.
Vol 61, Jan 1967, hal. 285-294
hakiki maka Undang-Undang ini telah DPR” kedalam format Undang-Undang dan
memberikan interpretasi bahwa yang dimaksud dalam praktek istilah ini selanjutnya selalu
dengan “persetujuan DPR” pada Pasal 11 UUD diartikan secara baku sebagai
1945 adalah “konfirmasi” yang berarti bahwa “pengesahan/ratifikasi”. Pemahaman ini
keterlibatan DPR adalah untuk menerima atau kemudian terkristalisasi dalam Undang-
menolak pengesahan/ratifikasi perjanjian yang Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian
sudah dibuat oleh Pemerintah bukan untuk Internasional yang secara sengaja telah
menyetujui perjanjian yang akan dibuat oleh menafsirkan kata “persetujuan DPR” pasal 11
Pemerintah. Dari kekisruhan ini maka dapat UUD 1945 sebagai “pengesahan dengan
disimpulkan bahwa telah terjadi tarik menarik bentuk Undang-Undang”. Namun tanpa
untuk mengartikan pengertian disengaja Undang-Undang No. 24 Tahun 2000
pengesahan/ratifikasi antara Hukum Tata ternyata mendefinisikan istilah
Negara dengan Hukum Perjanjian “pengesahan/ratifikasi” sebagai perbuatan
Internasional. Pasal 11 UUD 1945 sebagai hukum untuk mengikatkan diri pada suatu
produk Hukum Tata Negara bergesekan dengan Perjanjian Internasional dalam bentuk
Undang-Undang No 24 Tahun 2000 yang
sangat dipengaruhi oleh Hukum Perjanjian “Mohammad Yamin sebagai salah satu
perumus UUD 1945 pernah menyatakan
Internasional. Dalam kaitan ini, pandangan bahwa “tidak diterapkan dalam Pasal 11
Prof. Bagir Manan bahwa “wewenang untuk bentuk juridis lain daripada persetujuan
melakukan hubungan luar negeri termasuk DPR, Sehingga persetujuan DPR itu
membuat dan memasuki Perjanjian sendiri berupa apapun telah mencakupi
Internasional adalah kekuasaan eksklusif syarat formil menurut Konstitusi Pasal
11”.”
eksekutif”3 menjadi sangat relevan. Dalam hal
ini maka pengertian “persetujuan DPR” pada
Pasal 11 UUD 1945 harus diartikan sebagai ratifikasi, aksesi, penerimaan dan persetujuan.5
“konfirmasi DPR” atas perbuatan hukum Sekalipun memakai definisi eksternal, Undang-
eksekutif. Undang ini juga ternyata mengartikan
pengesahan/ratifikasi seperti yang dikenal
Format Undang-Undang sebagai dalam Prosedur Internal (misalnya pemakaian
Output dari “Persetujuan DPR”: istilah “pengesahan dengan Undang-
Formal atau Prosedural? Undang/Keppres” sehingga tanpa disengaja
telah menggunakan istilah yang sama untuk
Persoalan mendasar lainnya adalah apa pengertian yang sebenarnya berbeda.
output dari tindakan “persetujuan DPR” seperti
yang dimaksud oleh Pasal 11 UUD 1945? Selanjutnya apa konsekeunsi dari Undang-
Mohammad Yamin sebagai salah satu perumus Undang atau Perpres yang mengesahkan suatu
UUD 1945 pernah menyatakan bahwa “tidak Perjanjian terhadap Hukum Nasional (aspek
diterapkan dalam Pasal 11 bentuk juridis lain internal) ternyata telah pula menimbulkan
daripada persetujuan DPR, sehingga perdebatan baik di kalangan akademisi maupun
persetujuan DPR itu sendiri berupa apapun praktisi. Masalah ini telah menjadi perdebatan
telah mencakupi syarat formil menurut dalam kerangka pergulatan teori monisme-
Konstitusi Pasal 11”.4 Dari pandangan dualisme tentang hubungan Hukum
Muhammad Yamin tersebut maka sebenarnya Internasional dan Hukum Nasional. Konstruksi
“persetujuan DPR” dapat mengambil bentuk yang tepat perihal ini (apakah monisme atau
apa pun dan hanya merupakan syarat formil dualisme) belum tercermin dalam Hukum Tata
untuk dibuatnya suatu Perjanjian Internasional. Negara Indonesia. Undang-Undang No. 24
Namun dalam perkembangan praktek Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional
ketatanegaraan Indonesia output dari ternyata juga tidak dimaksudkan untuk
“persetujuan DPR” ini telah mengambil bentuk menyentuh masalah substansi aspek internal
Undang-Undang. Perkembangan ini tercermin dari pengesahan/ratifikasi ini.
dari praktek yang timbul menyusul Surat
Presiden No. 2826/HK/1960 kepada Ketua Dituangkannya “persetujuan DPR” dalam
DPR, yang selalu menuangkan “persetujuan format Undang-Undang/Perpres telah
3
Manan, Bagir Prof, Akibat Hukum di Dalam Negeri Pengesahan melahirkan diskusi baru tentang apa arti
Perjanjian Internasional (Tinjauan Hukum Tata Negara), Focussed Undang-Undang/Perpres yang mengesahkan
Group Discussion, Deplu-FH UNPAD, Bandung, 29 November 2008.
4 5
Yamin, Muhammad, Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar Pasal 1 (2) Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian
1945, Djilid Ketiga, 1960, hal. 784. Internasional
tersebut, apakah “pengaturan” atau diaplikasikan dalam Hukum Nasional
“penetapan”. Dengan formatnya sebagai adalah dalam karakternya dan formatnya
Undang-Undang/Perpres maka Hukum sebagai materi Undang-Undang/Perpres
Nasional dewasa ini cenderung dan bukan dalam karakternya sebagai
memperlakukan Undang-Undang/Perpres ini norma perjanjian. Kelompok ini menilai
sebagaimana layaknya produk legislasi yang tidak perlu lagi ada legislasi baru untuk
dengan demikian tunduk pada kaidah memberlakukan norma perjanjian
perundang-undangan. Dalam kaitan ini Prof. kedalam Hukum Nasional (dualisme?).
Bagir Manan memberi pernyataan yang sangat Pendekatan ini tampaknya tercermin pada
menarik yaitu “Jadi ada semacam kontradiksi Undang-Undang No. 39 Tahun 1999
keilmuan. Di satu pihak, Perjanjian tentang Hak Asasi Manusia yang pada
Internasional ditempatkan sebagai sumber pasal 7 ayat (2) menyatakan “ketentuan
hukum yang berdiri sendiri, di pihak lain Hukum Internasional yang telah diterima
Perjanjian Internasional diberi bentuk Negara Republik Indonesia yang
peraturan perundang-undangan (Undang- menyangkut Hak Asasi Manusia menjadi
Undang atau Keputusan Presiden/Peraturan Hukum Nasional.
Presiden).”6 Dari tataran praktis, pemberian
bentuk peraturan perundang-undangan b. Kedua, pandangan yang menilai Undang-
terhadap pengesahan Perjanjian Internasional Undang/Perpres yang mengesahkan suatu
telah menimbulkan berbagai pertanyaan, antara Perjanjian adalah bersifat prosedural yaitu
lain: hanya merupakan persetujuan
DPR/Presiden dalam jubah Undang-
a. Apakah Perjanjian Internasional yang Undang/Perpres. Undang-Undang/Perpres
diratifikasi oleh Undang-Undang/Perpres ini tidak memiliki efek normatif karena
dapat dibatalkan oleh perundang- hanya bersifat penetapan bukan
undangan yang lebih tinggi? pengaturan. Pandangan ini pada tahap
b. Apakah suatu Undang-Undang tidak selanjutnya akan terbagi dua, yaitu:
dapat mengakui eksistensi suatu • Pertama, pandangan yang
Perjanjian Internasional karena hanya menganggap Undang-Undang/Perpres
diratifikasi dengan Perpres? yang mengesahkan suatu Perjanjian
c. Apakah Perjanjian Internasional yang adalah ”menginkorporasi” Perjanjian
disahkan dengan Undang-Undang tidak tersebut kedalam sistem Hukum
bisa langsung diimplementasikan dengan Nasional. Dengan inkorporasi ini
Peraturan Pemerintah atau Perpres? maka Perjanjian Internasional dalam
d. Apakah Undang-Undang/Perpres yang karakternya sebagai norma Hukum
mengesahkan Perjanjian Internasional Internasional telah memiliki efek
dapat di judicial-review? normatif dan mengikat di dalam
Hukum Nasional. Keterikatan
Jika diidentifikasi dan dipetakan maka penegak hukum terhadap norma yang
secara garis besar setidak-tidaknya terdapat dua dihasilkan adalah bersumber dari
pandangan yang secara dinamis hidup dalam perjanjian itu sendiri dan bukan dari
dunia akademis dan praktisi tentang arti Undang-Undang/Perpres yang
Undang-Undang/Perpres pengesahan/ratifikasi, mengesahkan (monisme?). Pandangan
yaitu: ini tercermin dalam praktek
administrasi Negara misalnya dalam
a. Pertama, pandangan yang menilai penerapan Konvensi Wina 1961/1963
Undang-Undang/Perpres yang tentang Hubungan
mengesahkan suatu Perjanjian adalah Diplomatik/Konsuler yang diratifikasi
produk Hukum Nasional (substantif) yang dengan Undang-Undang No. 1/1982.
mentransformasikan materi perjanjian ke Konvensi ini telah dijadikan dasar
dalam Hukum Nasional sehingga status hukum bagi Pemerintah untuk
perjanjian berubah menjadi Hukum memberikan pembebasan pajak serta
Nasional. Undang-Undang/Perpres ini fasilitas diplomatik lainnya kepada
telah memiliki efek normatif. Norma yang para korps diplomatik di Indonesia.
Dalam hal ini tidak diperlukan
6
“Undang-Undang No.Prof,
Manan, Bagir 24Akibat
TahunHukum2000
di Dalam Negeri Pengesahan transformasi kaidah Konvensi
Perjanjian
tentang Internasional
Perjanjian (Tinjauan Hukum Tata Negara), Focussed
Internasional
Group Discussion, Deplu-FH UNPAD, Bandung, 29 November 2008.
kedalam Hukum Nasional dan bahkan
ternyata juga tidak dimaksudkan untuk
menyentuh masalah substansi aspek
internal dari pengesahan/ratifikasi ini.”
sampai saat ini tidak ada legislasi Keppres sehingga diberlakukan logika hirarki
nasional yang memuat kaidah perundang-undangan.
konvensi ini.
• Kedua, pandangan yang menganggap
Undang-Undang/Perpres yang “Apapun pandangan yang hendak dianut
oleh Indonesia hendaknya dapat
mengesahkan suatu Perjanjian hanya ditegaskan dalam sistem hukum
sekedar jubah persetujuan Indonesia baik dalam suatu doktrin
DPR/Presiden kepada Pemerintah RI maupun aturan konstitusi/legislasi guna
untuk mengikatkan diri pada tataran menciptakan kepastian hukum serta
Hukum Internasional dan belum prinsip “predictability” baik kalangan
akademisi khususnya praktisi seperti
mengikat pada tataran Hukum
diplomat.”
Nasional. Untuk itu masih dibutuhkan
legislasi nasional tersendiri untuk
mengkonversikan materi perjanjian Implikasi juridis dari peningkatan status
menjadi materi Hukum Nasional. ratifikasi ini akan muncul terhadap Hukum
Tanpa legislasi nasional ini maka Internasional. Dari sisi Hukum Internasional
Indonesia sebagai subjek Hukum ratifikasi adalah pernyataan “consent to be
Internasional hanya terikat pada bound by a treaty” yang bersifat “eenmalig”
tataran internasional, sedangkan (satu kali saja/final) dan tidak melihat
warganegaranya tidak terikat bagaimana Hukum Tata Negara mengatur
(dualisme?). Pandangan ini misalnya mengenai pernyataan ini. Dengan kata lain,
tercermin dalam praktek Indonesia pada saat Indonesia telah menyatakan
menyikapi UNCLOS 1982 yang persetujuan untuk terikat pada Konvensi ini
diratifikasi dengan Undang-Undang melalui ratifikasi, maka pada saat itu pula
No. 17/1985. Undang-Undang ini Konvensi ini berlaku (entry into force) bagi
hanya bersifat prosedural sehingga Indonesia. Peningkatan status ratifikasi (dari
masih dibutuhkan suatu Undang- Keppres ke Undang-Undang) tidak akan dapat
Undang lain yang mempengaruhi/mengubah status Konvensi vis
mentransformasikan UNCLOS 1982 a vis Indonesia. Dalam hal ini, peningkatan
ke dalam Hukum Nasional, yaitu status Keppres menjadi Undang-Undang tidak
Undang-Undang No. 6/1996 tentang akan mungkin dilanjutkan dengan
Perairan yang pada hakekatnya adalah penyampaian ratifikasi baru kepada Sekjen
penulisan kembali (“copy paste”) PBB karena “peningkatan tingkat ratifikasi”
pasal-pasal pada UNCLOS 1982. tidak dikenal dalam Hukum Internasional.
Undang-Undang No. 6/1996 inilah
(bukan Undang-Undang No. 17/1985) Di lain pihak, pandangan kedua akan
yang mencabut Undang-Undang No. menolak gagasan peningkatan status ratifikasi
4/1960 tentang Perairan Indonesia. ini. Menurut mereka Keppres No. 36 Tahun
Permasalahan praktis yang muncul dewasa 1990 bersifat prosedural yang mengantar
ini yang bersumber dari tarik menarik antara Indonesia menjadi terikat pada Konvensi
perbedaan berbagai pandangan tersebut adalah tentang Hak Anak. Pandangan bahwa Keppres
adanya gagasan untuk meningkatkan status ini hanya bersifat prosedural didasarkan pada
Keppres No. 36 Tahun 1990 (yang meratifikasi fakta hukum bahwa berlakunya Konvensi ini
Konvensi tentang Hak Anak 1989) menjadi terhadap Indonesia tidak secara langsung
Undang-Undang dengan dalih bahwa disebabkan oleh Keppres ini melainkan
kedudukannya sebagai Keppres telah disebabkan oleh “instrument of ratification”
mempersulit untuk dikeluarkannya Undang- yang disampaikan oleh Indonesia kepada
Undang atau Peraturan Pemerintah guna Depository (Sekjen PBB). Berlakunya
mengimplementasikan Konvensi ini. Produk Konvensi terhadap Indonesia bukan pada
setingkat Undang-Undang (seperti Undang- tanggal berlakunya Keppres melainkan pada
Undang No. 23 Tahun 2002 tentang tanggal diserahkannya “instrument of
Perlindungan Anak) tidak bisa merujuk atau ratification” kepada depository.
mendasarkan pada Konvensi tentang Hak Anak
dengan alasan bahwa Konvensi ini berstatus Berdasarkan padangan kedua ini maka
Keppres. Pemikiran ini mewakili pandangan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang
yang melihat Keppres 36 Tahun 1990 sebagai Perlindungan Anak seharusnya tidak perlu
produk substantif sebagaimana layaknya suatu merujuk Keppres ini namun langsung merujuk
pada Konvensi-nya. Menurut pandangan ini, Sekalipun Hukum Tata Negara Indonesia
seyogyanya tidak ada persoalan untuk belum memberi ketegasan tentang arti dan
mengeluarkan produk legislasi (Undang- konsekuesi hukum dari suatu
Undang atau Peraturan Pemerintah) untuk pengesahan/ratifikasi, setelah melalui
mengimplementasikan Konvensi ini karena pembahasan dan kajian yang intensif dengan
yang diimplementasikan adalah Konvensi berbagai kelompok akademis tentang
tentang Hak Anak (sebagai norma Hukum pengertian pengesahan/ratifikasi ini maka
Internasional yang telah berlaku bagi kecenderungan kuat sebaiknya diarahkan pada
Indonesia) bukan Keppres No. 36 Tahun 1990 konstruksi pemahaman tentang
sebagai suatu produk legislasi. pengesahan/ratifikasi sbb:

Pandangan ini juga akan cenderung a. Pengesahan pada hakekatnya adalah the
mengusulkan bahwa seyogyanya pada international act so named whereby a
preamble Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 State establishes on the international

“…sudah waktunya untuk mewacanakan suatu politik hukum tentang


hubungan Hukum Internasional dan Hukum Nasional yang dapat
menjawab tentang arti dan fungsi pengesahan/ratifikasi khususnya
terhadap status hukum dari Perjanjian Internasional dalam Hukum
Nasional.”

menyebutkan Konvensi-nya terlebih dahulu plane its consent to be bound by a treaty


sehingga berbunyi: yang diwujudkan melalui penerbitan
instrument of ratification/accession oleh
“...Mengingat Konvensi tentang Hak Menteri Luar Negeri. Pengesahan ini
Anak 1989 yang disahkan melalui harus dilihat sebagai proses yang
Keppres 36 Tahun 1990...” menginkorporasi materi Perjanjian
Internasional ke Hukum Nasional.
Perlukah Politik Hukum tentang b. Bahwa Pengesahan dilakukan dengan
Pengesahan/Ratifikasi? Undang-Undang/Perpres harus dilihat
sebagai mekanisme internal hukum
Pandangan-pandangan tersebut diatas ketatanegaraan untuk memberikan
tampaknya tidak selalu kaku dan terdapat landasan hukum bagi Pemerintah c.q.
ruang untuk adanya variasi yang Menteri Luar Negeri untuk mengikatkan
menggabungkan elemen masing-masing Indonesia pada perjanjian. Dalam hal ini,
pendekatan. Selain itu, tidak tertutup adanya Undang-Undang/Perpres dimaksud adalah
pandangan lain yang mungkin belum terdeteksi instrumen yang memiliki efek prosedural
dan masih dikembangkan dalam dunia bukan bukan efek normatif.
akademisi. c. Dengan terikatnya Indonesia pada suatu
perjanjian (melalui pengesahan eksternal)
Apa pun pandangan yang hendak dianut maka materi perjanjian dimaksud telah
oleh Indonesia hendaknya dapat ditegaskan mengikat baik pada tataran internasional
dalam sistem hukum Indonesia baik dalam maupun dalam sistem Hukum Nasional
suatu doktrin maupun aturan dan tidak dibutuhkan legislasi nasional
konstitusi/legislasi guna menciptakan kepastian untuk membuatnya mengikat dalam
hukum serta prinsip “predictability” baik Hukum Nasional. Dalam hal ini yang
kalangan akademisi khususnya praktisi seperti dibutuhkan hanya legislasi nasional yang
diplomat. Sehubungan dengan itu maka sudah mengimplementasikan (bukan yang
waktunya untuk mewacanakan suatu politik mentransformasikan) materi perjanjian.
hukum tentang hubungan Hukum Internasional d. Konstruksi ini sejalan dengan maksud
dan Hukum Nasional yang dapat menjawab perumus Undang-Undang No. 24 Tahun
tentang arti dan fungsi pengesahan/ratifikasi 2000 tentang Perjanjian Internasional
khususnya terhadap status hukum dari pada waktu itu bahwa jika Perjanjian
Perjanjian Internasional dalam Hukum sudah disahkan dengan perundang-
Nasional. undangan maka diasumsikan sudah
mengikat dalam sistem Hukum Nasional.
Hal ini tercermin dari penjelasan Pasal 13
Undang-Undang No. 24 Tahun 2000: dimaksudkan agar setiap orang dapat
“Penempatan peraturan perundang- mengetahui Perjanjian yang dibuat
undangan pengesahan suatu Perjanjian Pemerintah dan mengikat seluruh Warga
Internasional di dalam Lembaran Negara Negara Indonesia”.

Damos dumoli agusman,


Lahir di aceh barat, 4 agustus 1963. beliau
adalah direktur perjanjian ekososbud,
direktorat jenderal hukum dan perjanjian
internasional, deplu ri. Lulus dari fh unpad,
bandung pada tahun 1987 lalu mendapatkan
master of arts dari hull university, inggris
pada tahun 1991. beliau sering memberikan
kuliah umum di berbagai universitas di
indonesia dan juga beberapa kali menjadi
narasumber pada kegiatan diklat yang
diselenggarakan oleh lemhanas.

PROF. DR. BAGIR MANAN, SH., M.CL.

AKIBAT HUKUM DI DALAM NEGERI PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL


(TINJAUAN HUKUM TATA NEGARA)

Pengertian-pengertian Pasal 11 UUD tidak menyebut bentuk


hukum (Undang-Undang atau bentuk lain).
Dalam tulisan ini yang diartikan dengan : Yang disebut adalah “persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat”,
Focus Group bukan produk
Discussion hukumnya.
tentang Status Perjanjian
Internasional dalam Sistem Hukum Indonesia
“Perjanjian Internasional” adalah perjanjian Berbeda dengan UUDS
(kerjasama ’50 menyebutkan:
Departemen Luar Negeri dengan
sebagaimana dimaksud Pasal 11 UUD.7 “Kecuali jika ditentukan lain dengan
Unpad, Bandung, Undang-
29 November 2008).
“Pengesahan” adalah pengesahan oleh Undang, perjanjian atau persetujuan lain tidak
Dewan Perwakilan Rakyat. disahkan, melainkan sesudah disetujui dengan
Undang-Undang”. Ketentuan UUDS ’50, Pasal
Bentuk Hukum 120 ayat (1), serupa dengan Konstitusi RIS,
“Pengesahan Perjanjian Internasional” Pasal 175 ayat (1) kalimat kedua.8
8
Konstitusi RIS Pasal 175 ayat (1) kalimat kedua: “kecuali jika
ditentukan lain dengan undang-undang federal, perjanjian atau persetujuan
7
UUD 1945, Pasal 11: “Presiden dengan persetujuan Dewan lain tidak disahkan, melainkan jika sudah disetujui dalam bentuk Undang-
Perwakilan Rakyat…membuat…perjanjian dengan Negara lain. Undang”.
memerlukan persetujuan DPR, maupun yang
Walaupun Pasal 11 UUD hanya menyebut tidak memerlukan persetujuan DPR (executive
“dengan persetujuan Dewan Perwakilan agreement). Surat Ketua DPR, karena UUD
Rakyat”, dalam praktek ketatanegaraan sebelum 1945 tidak memuat ketentuan seperti diatur
Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 (Perjanjian UUDS ’50, Pasal 120 ayat (1). Dalam Ilmu
Internasional), setiap perjanjian yang Hukum Tata Negara, surat semacam ini –
memerlukan persetujuan DPR diberi bentuk demikian pula memorandum tertulis –
Undang-Undang. Mengapa? dikategorikan sebagai menciptakan Konvensi
Ketatanegaraan – walaupun tertulis – bukan
Pertama: berkaitan dengan makna “persetujuan hukum. Hal ini sesuai dengan pengertian
Dewan Perwakilan Rakyat”. konvensi sebagai ketentuan (rule) yang tidak
dapat ditegakkan melalui pengadilan, karena
Baik berdasarkan praktek kelaziman, maupun bersifat etik belaka (constitutional ethic).10
ketentuan-ketentuan yang berlaku, dalam sistem Dalam Ilmu Hukum Administrasi Negara, surat
perwakilan demokrasi, ada tiga fungsi yang semacam ini digolongkan sebagai peraturan
melekat (dilekatkan) pada DPR yaitu fungsi kebijakan (policy rules, beleidsregel), yang
legislatif (legislative function), fungsi didasarkan pada asas manfaat (doelmatigheid),
pengesahan anggaran (budget function), dan bukan berdasarkan hukum (rechtmatigheid).
fungsi pengawasan atau kendali (control
function). Perjanjian Internasional adalah Ketiga: setelah UUD 1945 berlaku kembali (5
kesepakatan antara dua Negara atau lebih untuk Juli 1959), melalui Pasal II (sekarang Pasal I)
melahirkan hukum atau persetujuan Aturan Peralihan, dapat diterapkan ketentuan
mengikatkan diri pada suatu hukum yang UUDS ’50, Pasal 120 ayat (1) kalimat kedua.
berlaku lintas Negara (Pasal 1 angka 1,
Undang-Undang No. 24 Tahun 2000).9 Kalau Ketentuan Pasal 120 ayat (1) kalimat kedua
pengertian Perjanjian Internasional tersebut tetap dapat diterapkan, karena tidak
dikaitkan dengan fungsi DPR, akan termasuk bertentangan dengan UUD 1945, bahkan
fungsi membuat Undang-Undang, karena tersirat dalam Pasal 11 yang menyebut “dengan
menciptakan hukum atau menyetujui suatu persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat”,
hukum yang berlaku lintas Negara. Telah sekaligus mengandung makna “bentuk Undang-
menjadi kesepahaman umum, bentuk hukum Undang”.
yang dibuat DPR dalam menjalankan fungsi
legislatif adalah Undang-Undang. Karena tidak Sejak tahun 2000, argumen-argumen di atas
ada bentuk peraturan perundang-undangan yang telah dikukuhkan Undang-Undang No. 24
bersifat atau berlaku umum yang dapat dibuat Tahun 2000 sebagaimana diatur dalam Pasal 9
DPR, kecuali Undang-Undang. Undang- ayat (2), dan Pasal 10.11
Undang adalah produk fungsi legislatif DPR,
karena itu, setiap Perjanjian Internasional yang Kedudukan dan kekuatan mengikat
memerlukan persetujuan DPR akan diberi Undang-Undang Perjanjian
bentuk Undang-Undang. Internasional

Kedua: berdasarkan praktek ketatanegaraan. Ilmu Hukum Indonesia atau Ilmu Tata
Hukum Indonesia, mengajukan berbagai
Telah menjadi praktek ketatanegaraan sumber hukum formal – antara lain – peraturan
(konvensi) setiap Perjanjian Internasional yang perundang-undangan dan Perjanjian
memerlukan persetujuan DPR diberi bentuk Internasional (traktat, treaty). Dua sumber
Undang-Undang. Di masa sebelum Undang- tersebut terpisah masing-masing berdiri sendiri.
Undang No. 24 Tahun 2000, berlaku pedoman
atas dasar Surat Presiden No. 2826/HK/60. 10
Lihat, KC. Wheare, Modern Constitutions….
Surat ini dikeluarkan sebagai jawaban atas surat 11
Undang-Undang No. 24 Tahun 2000, Pasal 9 ayat (2): “Pengesahan
Ketua DPR meminta ketegasan Pemerintah Perjanjian Internasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
dengan Undang-Undang atau Keputusan Presiden. Undang-Undang No. 24
mengenai bentuk Tahun 2000, Pasal 10 “Pengesahan Perjanjian Internasional dilakukan
“Jadi ada semacam kontradiksi
hukum Perjanjian keilmuan. Disatu pihak,dengan Undang-Undang apabila berkenaan dengan:
a. masalahPerjanjian
politik, perdamaian, pertahanan, dan keamanan Negara.
Internasional, baik yang Internasional ditempatkan
b. Perubahan wilayah
sebagai atau penetapan batas wilayah Negara Republik
Indonesia.
9
Undang-Undang No. 24 Tahun 2000, Pasalsumber hukumc. yang
1 angka 1: “Perjanjian berdiri
Kedaulatan atau hak berdaulat Negara.
Internasional adalah perjanjian, dalam bentuksendiri, dipihak
dan nama tertentu, yang d.lain
HakPerjanjian
asasi manusia dan lingkungan hidup.
diatur dalam Hukum Internasional yang dibuat secara tertulis serta e. Pembentukan kaidah hukum baru.
menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukumInternasional
publik”. diberi
f. bentuk
Pinjaman dan/atau hibah luar negeri.
peraturan perundang-undangan.”
(Undang-Undang atau Keputusan
Presiden/Peraturan Presiden)”.
Tetapi dipihak lain, setiap Perjanjian Berdasarkan sistem pembagian kekuasaan
Internasional yang dibuat atau dimasuki diberi Negara, apalagi pemisahan kekuasaan,
bentuk Hukum Nasional yaitu Undang-Undang hubungan luar negeri termasuk membuat atau
atau Keputusan Presiden (sekarang, lebih tepat memasuki Perjanjian Internasional masuk ke
Peraturan Presiden).12 Undang-Undang dan dalam lingkungan kekuasaan eksekutif bahkan
Keputusan Presiden yang bersifat mengatur sebagai kekuasaan eksklusif (exclusive power)
(Peraturan Presiden), adalah peraturan eksekutif (dhi. Presiden atau Pemerintah yang
perundang-undangan. Dengan demikian bertindak atas kuasa atau atas nama Presiden).
ditinjau dari sumber hukum, Perjanjian Jadi, kalau pernah ada pengesahan suatu
Internasional (traktat, treaty), bukan sumber Perjanjian Internasional atas inisiatif DPR
hukum yang berdiri sendiri, melainkan masuk merupakan suatu penyimpangan atas Asas
sebagai salah satu sumber peraturan perundang- Pembagian Kekuasaan sebagai kekuasaan
undangan. Jadi ada semacam kontradiksi eksklusif Presiden (Pemerintah). Hal ini serupa
keilmuan. Disatu pihak, Perjanjian dengan hak budget. Meskipun DPR mempunyai
Internasional ditempatkan sebagai sumber hak budget, tetapi tidak mempunyai hak
hukum yang berdiri sendiri, dipihak lain inisiatif mengajukan RUU APBN. Membuat
Perjanjian Internasional diberi bentuk peraturan dan melaksanakan APBN adalah kekuasaan
perundang-undangan (Undang-Undang atau eksekutif, bahkan lebih khusus sebagai
Keputusan Presiden/Peraturan Presiden). kekuasaan administrasi Negara. Hal semacam
ini dapat diperluas pada yang dalam ilmu
Sistematik keilmuan ini berbeda dengan hukum disebut “Undang-Undang formil”
misalnya pada Negara-Negara Uni Eropa (27 (formeel wet)13 lain, seperti Undang-Undang
Negara). Semua anggota Uni Eropa tidak pembentukan daerah otonom, pembentukan
memberi bentuk peraturan perundang-undangan pengadilan tinggi, semestinya inisiatif hanya
nasional (seperti Undang-Undang). Perjanjian pada Presiden. Dalam praktek dijumpai
antar anggota Uni Eropa dan peraturan- pembentukan Kabupaten, Kota, Propinsi atas
peraturan yang ditetapkan Uni Eropa, inisiatif DPR.
berkedudukan lebih tinggi dari semua peraturan
perundang-undangan nasional. Bahkan UUD Kedua, DPR tidak mempunyai Hak
harus menyesuaikan dengan traktat Uni Eropa. Amandemen dalam pengesahan Perjanjian
Perjanjian Internasional, khususnya perjanjian Internasional. DPR hanya berwenang
antar anggota, berada pada urutan teratas menyetujui atau tidak menyetujui, menerima
sumber hukum. Dengan demikian, Perjanjian atau menolak mengesahkan suatu Perjanjian
Internasional (traktat, treaty), memang Internasional. Rancangan Undang-Undang
mempunyai bentuk hukum tersendiri terpisah suatu Perjanjian Internasional adalah hasil
dari peraturan perundang-undangan nasional, kesepakatan yang sudah diparaf oleh masing-
seperti Undang-Undang. masing Pemerintah. Dalam hal memasuki
Perjanjian Internasional, DPR hanya setuju atau
Kembali kepada memberi bentuk Undang- tidak setuju mengikatkan diri pada Perjanjian
Undang Perjanjian Internasional. Sebagai Internasional yang sudah ada. Jadi, kalau DPR,
konsekuensi diberi bentuk Undang-Undang, baik di dalam atau di luar sidang berpendapat
maka segala tata cara membentuk Undang- agar ada perubahan isi suatu Perjanjian
Undang berlaku pada peraturan perundang- Internasional, sebagai syarat pengesahan,
undangan Perjanjian “DPR tidak mempunyai hak merupakan sesuatu
Internasional, kecuali: amandemen dalam pengesahan ucapan atau tindakan
Perjanjian Internasional. DPR tanpa wewenang.
Pertama, hak inisiatif hanya berwenang menyetujui atau
membuat atau tidak menyetujui, menerima atau Setiap Undang-
memasuki suatu menolak mengesahkan suatu Undang akan serta
Perjanjian Internasional Perjanjian Internasional.” merta mengikat setelah
semata-mata ada pada segala tata cara
Presiden. DPR tidak
13
mempunyai hak Undang-undang formil (formeel wet) berbeda dengan Undang-
Undang dalam arti formil (wet in formeel zijn). Undang-undang formil
inisiatif membuat atau memasuki suatu adalah Undang-Undang yang dinamakan Undang-Undang karena cara
Perjanjian Internasional. Mengapa? pembentukannya sehingga diberi nama Undang-Undang. Undang-undang
formil tidak memenuhi kriteria mengikat (secara ) umum, bahkan isinya
lebih merupakan sebuah “beschikking”. Berbeda dengan Undang-Undang
12
Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan dalam arti formil. Selain berbentuk Undang-Undang, juga mengikat
Perundang-undangan. (secara) umum.
melahirkan Undang - Undang dipenuhi, kecuali serta merta mengikat, kecuali Undang-Undang
: tersebut menentukan lain.
(1) Undang-Undang itu sendiri menyatakan
saat (waktu) mulai berlaku. Salah satu tata cara yang perlu dicatat
(2) Undang-Undang itu sendiri menyatakan adalah “memuat dalam Lembaran Negara”.
akan berlaku setelah ada peraturan UUD 1945 (termasuk setelah perubahan), tidak
pelaksana (implementing regulation). memuat fungsi hukum “memuat dalam
Lembaran Negara”. Berbeda dengan UUDS ’50
Suatu contoh, Undang-Undang tentang yang menegaskan: “Pengundangan, terjadi
Peradilan Tata Usaha Negara (Undang-Undang dalam bentuk menurut Undang-Undang, adalah
No. 5 Tahun 1986). Undang-undang ini syarat tunggal untuk kekuatan mengikat”. Hal
menegaskan akan berlaku setelah lima tahun serupa dalam Konstitusi RIS. Demikian pula
dan ada peraturan pelaksana (Peraturan dalam AB dan IS.14
Pemerintah).
Bagaimana praktek ketatanegaraan yang
Kasus yang sama berlaku juga pada berlaku. Ketentuan wajib memuat dalam
Undang-Undang Perjanjian Internasional. Lembaran Negara dimuat dalam Undang-
Undang-Undang Perjanjian Internasional akan Undang yang bersangkutan dengan
serta merta berlaku sebagaimana Undang- menyebutkan: “Agar setiap orang dapat
Undang pada umumnya, sepanjang tidak ada mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
ketentuan pengecualian di atas. Khusus untuk Undang-Undang ini melalui Lembaran Negara
Undang-Undang Perjanjian Internasional dapat Republik Indonesia”.
ditambahkan klausula lain sehingga tidak serta
merta berlaku. Secara kebahasaan, ketentuan di atas
(1) Syarat jumlah Negara penandatangan. seolah-olah hanya bersifat pengumuman (agar
Misalnya setelah ditandatangani lebih dari setiap orang mengetahui). Apakah sekedar
separoh anggota PBB. pengumuman?
(2) Mencantumkan syarat peraturan
pelaksanaan (implementing regulation) baik Ketentuan “agar setiap orang mengetahui...”
untuk seluruh atau pasal-pasal tertentu. merupakan pengejawantahan fiksi hukum:
Misalnya, terhadap ketentuan yang “setiap orang dianggap mengetahui Undang-
menimbulkan kewajiban pada warga negara Undang”. Setiap Undang-Undang atau
(kewajiban individual). peraturan yang telah dimuat dalam Lembaran
(3) Memerlukan penyesuaian hukum nasional, Negara, tidak ada lagi alasan mengatakan tidak
seperti penyesuaian UUD yang memuat mengetahui, karena itu tidak terikat. Dengan
ketentuan berbeda dengan Perjanjian perkataan lain, memuat dalam Lembaran
Internasional yang bersangkutan. Negara yang secara kebahasaan seolah-olah
(4) Praktek ketatanegaraan yang senantiasa sekedar untuk diketahui (mengetahui), secara
memerlukan peraturan pelaksana sebagai substantif mengandung arti dengan dimuat
syarat Perjanjian Internasional berlaku dalam Lembaran Negara berarti setiap orang
efektif. Praktek ini seyogyanya tidak terikat. Karena itu Undang-Undang tentang
berlaku bagi Negara yang memberi bentuk suatu Perjanjian Internasional dimuat dalam
Undang-Undang “Harus diakui ada kemungkinan suatu Lembaran Negara,
pada Perjanjian Undang-Undang Perjanjian Internasional, maka dengan
Internasional. seperti juga Undang-Undang lain, sendirinya mempunyai
mengatur sesuatu sangat umum, lebih- kekuatan mengikat,
Di atas telah lebih kalau akan berlaku pada individu,
sehingga memerlukan peraturan
dikemukakan, pelaksanaan. Peraturan pelaksanaan
sepanjang Undang- dibuat karena kebutuhan 14 penerapan,
UUDS’ 50, Pasal 100 ayat (2), menggunakan kata “pengundangan”,
Undang Perjanjian bukan sebagai syarat berlaku
Konstitusi efektif.
RIS, Pasal ” (2) menggunakan kata “pengumuman”
143 ayat
Internasional telah dengan maksud yang sama yaitu “pengundangan”. Dalam terjemahan
bahasa Belanda, baik UUDS’ 50 Pasal 100 ayat (2) maupun Konstitusi RIS
dibuat dengan tata cara Pasal 143 ayat (2), sama-sama diterjemahkan “afkondiging” yang secara
yang diatur Undang- baku diartikan ”pengundangan”.
AB, Pasal 1: “De bepalingen door de Koning, of, in zijnen noam, door den
Undang (Undang- Gouverneur General vosgesteld, verkrijgen in Indonesie kracht van wet
Undang No. 10 Tahun 2004 dan Peraturan Tata door hare afkondiging, in de vorm bebuald bij het reglement op het beleid
der regering”.
Tertib DPR), Undang-Undang tersebut akan IS, Pasal 95 ayat (2): “Die afkondiging wordt gerekend geschied te zijn
door plaatsing in het Staatsblad van wed-indie. Zij is, in geldigen vorm
geschied, de eenige voorwaarde der verbindbaarheid”.
kecuali kalau ada klausula yang sudah Perjanjian Internasional yang berbentuk
diuraikan di atas. Undang-Undang, maka berlaku asas dan
ketentuan berlakunya suatu Undang-Undang.
Persoalannya, mungkin ditinjau dari bentuk Karena sudah ada Undang-Undang (Undang-
hukum dan prinsip-prinsip pembentukan Undang No. 24 Tahun 2000) yang mengatur
Undang-Undang, sudah semestinya Undang- Perjanjian Internasional dalam bentuk Undang-
Undang Perjanjian Internasional mengikat, Undang, maka segala sesuatu harus diselesaikan
tetapi Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 dengan bentuk Undang-Undang termasuk tata
sebagai Undang-Undang yang mengatur tata cara berlaku suatu Undang-Undang.
cara membuat atau memasuki Perjanjian
Internasional, tidak mencantumkan ketentuan Harus diakui ada kemungkinan suatu
mengikat tersebut. Lebih-lebih lagi jika Undang-Undang Perjanjian Internasional,
dihubungkan dengan praktek ketatanegaraan seperti juga Undang-Undang lain, mengatur
yang selalu menyediakan peraturan pelaksanaan sesuatu sangat umum, lebih-lebih kalau akan
agar Perjanjian Internasional berlaku efektif. berlaku pada individu, sehingga memerlukan
Bukankah dalam keadaan semacam itu, praktek peraturan pelaksanaan. Peraturan pelaksanaan
ketatanegaraan yang telah menjadi konvensi dibuat karena kebutuhan penerapan, bukan
mempunyai kedudukan kuat, bahkan lebih sebagai syarat berlaku efektif.
kuat?
Penutup
Acap kali ada kekeliruan (misleading)
mengartikan hubungan antara hukum atau Ditinjau dari teori dan tata cara
peraturan perundang-undangan yang umum pembentukkan Undang-Undang, suatu Undang-
dengan yang khusus. Seolah-olah yang khusus Undang yang materi muatannya berasal dari
harus atau pasti mengesampingkan yang umum. Perjanjian Internasional akan serta merta
Semestinya tidak demikian. Prinsip yang benar mengikat seperti Undang-Undang lainnya.
adalah, ketentuan-ketentuan yang bersifat
umum tetap berlaku pada peraturan khusus Agar suatu Undang-Undang yang materi
yang bersangkutan. Mari simak bunyi Pasal 1 muatannya bersumber dari Perjanjian
KUH Dagang: “Ketentuan-ketentuan KUH Internasional tidak perlu memerlukan Undang-
Perdata, sepanjang tidak diatur khusus dalam Undang atau peraturan pelaksanaan
Kitab Undang-Undang ini (maksudnya KUH (implementing regulation), kecuali Undang-
Dagang) tetap berlaku (diterapkan). Hal serupa Undang tersebut menentukan sendiri peraturan
dengan Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 pelaksanaan.
yang tidak mengatur berbagai akibat hukum
PROF. DR. BAGIR MANAN, SH., M.CL.
Bagir Manan adalah Guru Besar Fakultas
Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung,
kelahiran Lampung, 6 Oktober 1941. Pada
tahun 2001, beliau diangkat menjadi Ketua
Mahkamah Agung Republik Indonesia.
Kariernya di bidang hukum tergolong panjang.
Ia pernah menjabat sebagai Dirjen Hukum
dan Perundang-undangan Departemen
Kehakiman. Sebelumnya, ia menjabat Direktur
Perundang-undangan Ditjen Hukum dan
Perundang-undangan Departemen Kehakiman
(1990-1995), serta dosen luar biasa di UI,
UGM dan sejumlah perguruan tinggi lain. Ia
alumnus FH Unpad (1967), Master of
Comparative Law Southern Methodist di
University Law School Dallas Texas AS (1981),
dan doktor ilmu hukum tata negara lulusan
Unpad tahun 1990.
DR. HARJONO, SH., M.CL.

PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM SISTEM UUD 1945

“there are wholes; they have elements and


Pendahuluan those elements have relations which form
structure”. Lebih lanjut dinyatakan: “Source-
Konstitusi merupakan hukum tertinggi based system has legal rules or norms for
elements. These are related by relations of
authority or validity to higher rules. These
relations are clasically formed into a
pyramidal and hierarchal structure with one
ultimate rule, ‘basic norm’ or ‘legal science
fiat’ at the top. The wholeness factor is
provided by the structure itself and by its
function of providing the authoritative basis
for all law in community”. Dengan berdasar
pada pengertian sistem sebagaimana di atas
uraian di bawah ini akan ditinjau dari
Perjanjian Internasional dalam UUD 1945.
Lokakarya Evaluasi Undang-Undang No. 24
Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional,
18 – 19 Oktober 2008, Surabaya. Dasar Hukum

Dasar Hukum Perjanjian Internasional dalam


ketentuan UUD 1945 setelah mengalami
dalam penyelenggaraan ketatanegaraan suatu
perubahan ialah Pasal 11 yang menyatakan:
Negara oleh karenanya pembuatan Perjanjian
Internasional yang merupakan salah satu dari
(1) Presiden dengan persetujuan Dewan
aktivitas penyelenggaraan Negara sudah
Perwakilan Rakyat menyatakan perang,
seharusnya didasarkan ketentuan yang terdapat
membuat perdamaian dan perjanjian
dalam konstitusi. Konstitusi juga mempunyai
dengan Negara lain.
fungsi sebagai pondasi dalam penyusunan
(2) Presiden dalam membuat Perjanjian
sistem Hukum Tata Negara, oleh karena itu
Internasional lainnya yang menimbulkan
pembuatan Perjanjian Internasional juga
akibat yang luas dan mendasar bagi
menjadi bagian dalam sistem konstitusi.
kehidupan rakyat yang terkait dengan
Sementara ini masih terdapat perbedaan
beban keuangan Negara, dan/atau
pendapat baik diantara pakar hukum maupun
mengharuskan perubahan atau
praktisi penyelenggara Pemerintahan Negara
pembentukkan Undang-Undang harus
mengenai dasar konstitusional yang mengatur
dengan persetujuan Dewan Perwakilan
pembuatan Perjanjian Internasional. Perbedaan
Rakyat.
yang menyebabkan pandangan yang beragam
(3) Ketentuan lebih lanjut tentang Perjanjian
tersebut mempunyai implikasi baik praktis dan
Internasional diatur dengan Undang-
teoritis dalam memberi dasar pengaturan
Undang.
tentang Perjanjian Internasional.
Pasal 11 UUD tersebut satu-satunya Pasal
Uraian di bawah ini mencoba untuk
dalam UUD 1945 yang menyebutkan
menemukan dasar-dasar pengaturan
didalamnya adanya kata “Perjanjian
konstitusional pembuatan Perjanjian
Internasional”, oleh karena itu perlu dikaji
Internasional menurut UUD 1945 dalam suatu
lebih dahulu dalam konteks apa UUD 1945
kesisteman. Charles Sampford melihat bahwa
tersebut mengatur hal Perjanjian Internasional.
ada pandangan yang umum mengenai sistem
dan ciri atau karakteristik sistem yaitu
disebutkan bahwa dalam sistem terdapat:
“Pihak Negara lain secara prima facie Pemerintahan Negara yang berada di tangan
dan secara hukum dapat memastikan Presiden meliputi:
bahwa apa yang dinyatakan oleh
Presiden Indonesia tidak lain adalah
(1) kekuasaan eksekutif (vide Pasal 4 ayat (1)
pernyataan keinginan Negara Indonesia UUD);
yang artinya Negara lain tersebut tidak (2) kekuasaan membentuk Undang-Undang
harus perlu berhubungan dengan (vide Pasal 5 ayat (1) UUD sebelum
lembaga Negara yang lain untuk perubahan);
mengetahui maksud atau kehendak
(3) kekuasaan sebagai kepala Negara.
Negara Indonesia dalam membuat
kesepakatan dengan pihaknya.”
Setelah perubahan UUD, Kekuasaaan
Pemerintahan Negara yang diatur dalam Bab
III menjadi hanya meliputi kekuasaan saja
yaitu:
Pasal 11 termasuk dalam Bab III yang (1) kekuasaan eksekutif;
berjudul Kekuasaan Pemerintahan Negara yang (2) kekuasaan sebagai kepala Negara.
di dalam substansi pasal-pasalnya mengatur
tentang Presiden dalam sistem UUD 1945. Bab Bab III UUD mengandung substansi yang
III UUD ini mengalami perubahan yang sangat berhubungan dengan lembaga Presiden dalam
banyak apabila dibandingkan dengan Bab III sistem UUD 1945 dimana didalamnya
UUD sebelum perubahan. Disamping termasuk kewenangan Presiden untuk
perubahan isi pasal-pasal perubahan UUD juga menyatakan perang, membuat perdamaian dan
menambahkan pasal-pasal baru dalam Bab III perjanjian dengan Negara lain. Kedudukan
ini yaitu : Pasal 6A, Pasal 7A, Pasal 7B, Pasal Presiden dalam sistem presidensiil
7C. menjalankan dua fungsi sekaligus yang
melekat yaitu sebagai kepala eksekutif dan
Pasal 11 sebelum perubahan merupakan sebagai kepala Negara. Dengan adanya Pasal
pasal tunggal tak berayat yang berbunyi: 11 tersebut UUD 1945 menetapkan bahwa
“Presiden dengan persetujuan Dewan Presidenlah yang mewakili Negara dalam
Perwakilan Rakyat menyatakan perang, melakukan hubungan dengan Negara lain dan
membuat perdamaian dan perjanjian dengan bukan lembaga Negara lainnya.
Negara lain”, dan setelah perubahan UUD
ketentuan yang terdapat dalam Pasal ini Bentuk Hukum
menjadi ayat (1) Pasal 11 tanpa dilakukan
perubahan bunyi aslinya. Kedudukan Presiden Sebuah Perjanjian Internasional pada
dalam UUD setelah perubahan berbeda dengan hakekatnya adalah merupakan penuangan
kedudukan Presiden sebelum perubahan, hal kesepakatan yang diambil oleh para pihak,
tersebut dikarenakan adanya perubahan dalam dalam hal ini antar Negara yang membuatnya.
Pasal 5 ayat (1) UUD. Sebelum perubahan Dengan demikian dalam sebuah Perjanjian
Pasal 5 ayat (1) menyatakan: “Presiden Internasional tercerminkan kehendak dua
memegang kekuasaan membentuk Undang- pihak. Setiap Negara mempunyai aturan yang
Undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan berbeda tentang siapa yang berhak untuk
Rakyat”, sedangkan setelah perubahan Pasal mewakili Negara tersebut dan dari wakil itu
tersebut menjadi berbunyi: “Presiden berhak pula lah pihak Negara lain mendapatkan
mengajukan Rancangan Undang-Undang kepastian bahwa memang pihaknya telah
kepada Dewan Perwakilan Rakyat”. Pasal 20 bertemu dan mengadakan kesepakatan dengan
ayat (1) UUD setelah perubahan berbunyi: wakil yang sah. Dengan berdasar pada bunyi
“Dewan Perwakilan Rakyat memegang Pasal 11 UUD 1945 telah jelas bahwa Presiden
kekuasaan membentuk Undang-Undang”. Dari lah yang akan menyatakan, membuat
perubahan Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat perdamaian dan perjanjian. Pihak Negara lain
(1) tersebut terjadi pengalihan pembuatan secara prima facie dan secara hukum dapat
Undang-Undang dari tangan Presiden ke DPR. memastikan bahwa apa yang dinyatakan oleh
Presiden Indonesia tidak lain adalah pernyataan
Perubahan demikian juga menyebabkan keinginan Negara Indonesia yang artinya
perubahan pada apa yang dimaksud sebagai Negara lain tersebut tidak harus perlu
Kekuasaan Pemerintahan Negara oleh Bab III berhubungan dengan lembaga Negara yang lain
UUD. Sebelum perubahan UUD, Kekuasaan untuk mengetahui maksud atau kehendak
Negara Indonesia dalam membuat kesepakatan
“Kalau suatu perjanjian bilateral sedang reses. Kalau proses pembuatan
disahkan oleh Undang-Undang, apakah Undang-Undang harus dilakukan tentu saja
ini tidak berarti bahwa kehendak Negara
lain tersebut disubordinasikan kepada
akan menunggu waktu yang cukup lama dan
mekanisme internal Negara lain karena keinginan perang tersebut telah diketahui oleh
digantungkan kepada pengesahan pihak musuh hal demikian tentunya sangat
Undang-Undang. Bagi pihak lain yang merugikan strategi berperang dan dapat
diperlukan adalah pernyataan menyebabkan kekalahan. Pernyataan perang
persetujuan untuk terikat dan bukan
adalah pernyataan sepihak dan harus dilakukan
pengesahan Undang-Undang.”
secara cepat serta tidak dapat dibahas
sebagaimana membahas suatu Rancangan
Undang-Undang, hal demikian tentu saja
dengan pihaknya. Dengan demikian bentuk sangat berbeda dengan membuat perdamaian
hukum dari pernyataan Negara yang ditujukan dan membuat perjanjian dengan Negara lain
ke luar tersebut seharusnya adalah pernyataan yang memerlukan kesepakatan bersama antara
dari Presiden dan dalam sistem perundang- ke dua belah pihak.
undangan pernyataan Presiden tersebut lebih
tepat diwadahi dalam Keputusan Presiden Dari sudut hubungan antar pembuat
bukannya bentuk lain umpama saja Peraturan kesepakatan, dalam hal ini antara Negara
Presiden. Indonesia dengan negara lain khususnya dalam
perjanjian bilateral, sangatlah janggal praktik
Pasal 11 mensyaratkan bahwa pada saat yang selama ini dilakukan yaitu pengesahan
Presiden menyatakan perang, membuat Perjanjian Internasional diwadahi dalam
perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain bentuk Undang-Undang. Kedua pihak setelah
harus dengan persetujuan DPR. Persoalannya menyepakati hal-hal tertentu perlu kemudian
adalah apakah dengan adanya syarat tersebut menuangkan kesepakatan tersebut dalam
menjadikan bentuk hukum dari pernyataan bentuk perjanjian, sehingga yang diperlukan
Presiden yang ditujukan ke pihak luar tersebut diantara keduanya adalah pernyataan masing-
harus berbentuk Undang-Undang. Pasal 11 ini masing pihak melalui wakilnya bahwa mereka
tidak mensyaratkan bahwa bentuk hukum telah menyetujui hal-hal yang disepakati
tersebut haruslah Undang-Undang, meskipun bersama tersebut dalam suatu naskah yang
ada kemiripan antara prosedur yang berakibat mengikat kepada kedua belah pihak.
disyaratkan dalam pembuatan Undang-Undang Praktik pengesahan dengan Undang-Undang
dengan prosedur yang harus dipenuhi apabila menimbulkan persoalan. Undang-Undang
Presiden menyatakan perang, membuat adalah bagian dari Hukum Nasional sedangkan
perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain, perjanjian dengan Negara lain merupakan
namun demikian tidaklah berarti bahwa bentuk kesepakatan antar Negara yang berada di luar
hukum pernyataan perang, membuat ranah urusan internal Negara. Kalau suatu
perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain perjanjian bilateral disahkan oleh Undang-
harus dalam bentuk hukum Undang-Undang. Undang, apakah ini tidak berarti bahwa
kehendak Negara lain tersebut
Apabila pernyataan perang, membuat disubordinasikan kepada mekanisme internal
perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain Negara lain karena digantungkan kepada
diwadahi bentuk hukum Undang-Undang maka pengesahan Undang-Undang. Bagi pihak lain
artinya proses pembuatannya pun harus sesuai yang diperlukan adalah pernyataan persetujuan
dengan tata cara pembuatan Undang-Undang untuk terikat dan bukan pengesahan Undang-
dan hal yang demikian akan menimbulkan Undang.
persoalan hukum. Pernyataan perang, membuat
perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain Praktik pengesahan Perjanjian Internasional
mempunyai karakteristik yang berbeda. menimbulkan pertanyaan apakah sebenarnya
Sebagai sebuah ilustrasi, apabila terjadi suatu disahkan perjanjian tersebut tidak sah, apakah
konflik dengan Negara lain yang tidak dapat mungkin kehendak suatu negara kesahannya
diselesaikan dengan damai dan kemudian digantungkan kepada mekanisme internal
terpaksa ditempuh jalan dengan peperangan, negara lain. Pranata pengesahan
apakah Presiden harus mengajukan lebih mengindikasikan bahwa pihak yang
dahulu kepada DPR untuk mendapatkan perbuatannya perlu disahkan berada pada
persetujuan untuk menyatakan perang, padahal tingkat lebih rendah dari yang mengesahkan,
situasinya sangat kritis, atau apabila DPR tentu hal tersebut tidaklah tepat karena
”Karena Perjanjian Internasional diberi Undang dan wajib diundangkan”. Sebagai
bentuk hukum Undang-Undang tentunya sebuah ilustrasi dapat diajukan dalam kasus ini.
segala tata cara konstitusi yang
berkaitan dengan Undang-Undang juga
Presiden telah mengajukan naskah Perjanjian
harus diberlakukan terhadap proses Internasional kepada DPR, dan kemudian DPR
pembuatan Perjanjian Internasional.” telah menyetujui rancangan tersebut. Karena
mekanisme yang berlaku adalah mekanisme
pembuatan Undang-Undang, maka ketentuan
Pasal 20 ayat (5) menjadi mengikat. Sementara
perjanjian dengan Negara lain dilakukan antar Presiden belum mengesahkan perjanjian
pihak yang setara kedudukannya. tersebut menjadi Undang-Undang terjadilah
suatu perubahan materiil yang menyangkut
Hal berikutnya menyangkut naskah otentik materi dari perjanjian tersebut dan hal
dari Perjanjian Internasional. Dalam sebuah demikian menyebabkan Presiden melakukan
Perjanjian Internasional termasuk hal yang evaluasi untuk tidak mempertahankan
penting untuk diperjanjikan adalah penentuan kesepakatan yang telah diambil dalam
naskah otentik perjanjian, yang untuk itu Perjanjian Internasional karena dapat
diperlukan kesepakatan oleh para pihak. menimbulkan kerugian yang lebih besar dan
Klausula ini penting karena kalau sampai kemungkinan juga pihak Negara lain juga
timbul sengketa antar pihak mengenai berkesimpulan yang sama. Adanya ketentuan
penafsiran Perjanjian Internasional yang Pasal 20 ayat (5) UUD akan menimbulkan
disepakati, maka diperlukan naskah otentik masalah dalam kasus yang demikian.
yang menjadi dasar adanya perbedaan
penafsiran. Apabila Perjanjian Internasional Bentuk perjanjian dalam Undang-Undang
yang telah disepakati, maka diperlukan naskah juga menjadikan tidak fleksibel dalam kasus
otentik yang menjadi dasar adanya perbedaan perlunya dilakukan pemutusan perjanjian
penafsiran. Apabila Perjanjian Internasional dengan Negara lain yang harus dilakukan
dituangkan dalam bentuk hukum Undang- dengan cepat karena adanya dasar-dasar
Undang dan kemudian karena suatu sebab obyektif untuk mengakhiri atau memutuskan
terjadi perbedaan dengan yang disahkan dalam perjanjian tersebut. Bentuk Keputusan Presiden
Undang-Undang apakah kemudian pihak akan lebih fleksibel. Adanya syarat dengan
Indonesia dapat berdalil bahwa naskah yang persetujuan DPR dalam pembuatan Perjanjian
terdapat dalam lampiran Undang-Undang Internasional dapat dilakukan di luar
tersebut sebagai naskah otentik. Hal demikian mekanisme pembuatan Undang-Undang.
tentu akan menimbulkan persoalan yaitu apa Dalam banyak Undang-Undang telah
dasarnya pemerintah Negara lain harus dikembangkan mekanisme persetujuan DPR
mengakui bahwa lampiran yang terdapat dalam terhadap usulan Presiden namun bentuk
Undang-Undang Indonesia sebagai naskah hukumnya tidak dalam bentuk Undang-
otentik. Di lain pihak kemudian apa artinya Undang, sebagai misal pengangkatan jabatan-
kalau kemudian naskah Perjanjian jabatan tertentu; Panglima TNI, Gubernur
Internasional yang dilampirkan dalam Undang- Bank Indonesia, dan pengangkatan Kepala
Undang ternyata tidak diakui sebagai naskah Kepolisian Republik Indonesia. Praktik yang
otentik padahal Undang-Undang telah terjadi di Negara lain tidak selalu memberi
diundangkan sebagaimana mestinya. bentuk Perjanjian Internasional sebagai
Undang-Undang atau statute/law, Amerika
Karena Perjanjian Internasional diberi Serikat menentukan dalam Konstitusi bahwa
bentuk hukum Undang-Undang tentunya Perjanjian Internasional dibuat oleh Presiden
segala tata cara konstitusi yang berkaitan dengan persetujuan Senat dan dengan demikian
dengan Undang-Undang juga harus tidak dalam bentuk Undang-Undang, karena
diberlakukan terhadap proses pembuatan Undang-Undang dibuat oleh Congress namun
Perjanjian Internasional. Dalam ketentuan demikian Perjanjian Internasional tetap
UUD Pasal 20 ayat (5) dinyatakan: “Dalam hal mengikat Negara tersebut.
rancangan Undang-Undang yang telah
disetujui bersama (antara Presiden dan DPR) Persetujuan DPR dalam pembuatan
tersebut tidak disahkah oleh Presiden dalam Perjanjian Internasional
waktu tiga puluh hari semenjak Rancangan
Undang-Undang tersebut disetujui Rancangan Pasal 11 UUD 1945 tidak mengatur
Undang-Undang tersebut sah menjadi Undang- hubungan antara Hukum Internasional dan
“… dari aspek internasional sesuai menimbulkan akibat yang luas dan mendasar
dengan prinsip hukum yang universal bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan
bahwa apa yang dilakukan oleh wakil
yang sah dari sebuah Negara akan
beban keuangan Negara, (2) mengharuskan
mengikat seluruh elemen yang perubahan atau pembentukan Undang-Undang.
diwakilinya, baik lembaga Negara Secara internal syarat persetujuan DPR
maupun warganya, ketentuan ini tidak tidaklah terkait dengan pembedaan antara
diatur dalam UUD tetapi menjadi suatu Perjanjian Internasional publik dan kontrak
prinsip yang universal.”
bisnis internasional yang dilakukan Negara
sebagai subyek Hukum Perdata. UUD
mempertimbangkan bahwa apabila Presiden
Hukum Nasional, namun mengatur membuat Perjanjian Internasional lain
kewenangan konstitusional Presiden untuk (demikian UUD menyebutnya) yang
membuat Perjanjian internasional dalam sistem menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi
UUD 1945. Presiden menurut UUD 1945 yang kehidupan rakyat terkait dengan beban Negara
berdasar sistem Presidensiil adalah kepala harus dengan persetujuan DPR. Pasal 11 ayat
pemerintahan dan berwenang untuk mewakili (2) menggunakan istilah Perjanjian
Pemerintah Indonesia dalam hubungan luar Internasional lainnya, yang maksudnya di luar
negeri dalam hal ini membuat Perjanjian yang disebut oleh Pasal 11 ayat (1) yaitu
Internasional, dengan demikian Pasal 11 adalah perjanjian perdamaian dan perjanjian dengan
materi internal konstitusi Indonesia. Dalam Negara lain. Dengan demikian ada keperluan
kaitannya dengan aspek Hukum Internasional untuk menetapkan apa yang dimaksud dengan
ketentuan Pasal 11 dapat menimbulkan akibat Perjanjian Internasional lainnya. Pengertian
ke luar yaitu dalam konteks hubungan antara “yang lain” tentunya yang bukan perjanjian
Pemerintah Indonesia dengan Negara lain yang perdamaian, dan bukan perjanjian dengan
mengadakan perjanjian dengan Indonesia. Negara lain. Dengan demikian termasuk dalam
pengertian Perjanjian Internasional lainnya
Apabila secara internal Presiden telah yaitu perjanjian yang dibuat dengan Subyek
melakukan sesuatu perbuatan sesuai dengan Hukum Internasional lain selain Negara.
ketentuan Pasal 11 maka perbuatan tersebut Namun demikian disyaratkan bahwa perjanjian
adalah perbuatan yang sah secara dengan Subyek Hukum Internasional lain yang
konstitusional dan oleh karenanya mempunyai memerlukan persetujuan DPD adalah
akibat hukum. Karena merupakan perbuatan perjanjian yang “menimbulkan akibat yang
yang sah berarti mengikat secara sah pula baik luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang
terhadap lembaga Negara lain termasuk subyek terkait dengan beban keuangan Negara”. Perlu
hukum yang terkait dengan isi perjanjian digarisbawahi bahwa alasan mengapa perlu
tersebut. Sedangkan dari aspek internasional persetujuan DPR adalah alasan internal dan
sesuai dengan prinsip hukum yang universal bukan didasarkan alasan eksternal apalagi
bahwa apa yang dilakukan oleh wakil yang sah diukur dengan praktik Hukum Internasional.
dari sebuah Negara akan mengikat seluruh Sebagai salah satu unsur perwakilan rakyat,
elemen yang diwakilinya baik lembaga Negara DPR diperlukan persetujuannya untuk
maupun warganya, ketentuan ini tidak diatur membuat perjanjian yang disebutkan dalam
dalam UUD tetapi menjadi suatu prinsip yang Pasal 11 ayat (2) UUD, adalah murni
universal. pertimbangan pembuat konstitusi yang didasari
pemikiran perlunya legitimasi yang lebih luas
Pasal 11 menetapkan syarat yang harus terhadap perjanjian yang demikian karena
dipenuhi apabila Presiden menggunakan menyangkut kepentingan bangsa.
haknya untuk melakukan hubungan dengan
Negara lain dalam hal ini membuat suatu Sementara itu ada pandangan bahwa
perjanjian yaitu adanya persetujuan DPR. perjanjian dengan Organisasi Internasional
Pembuat UUD mempunyai dasar rasionalitas yang menyangkut pinjaman tidaklah perlu
tersendiri dan merupakan hak pembuat UUD persetujuan DPR dengan alasan karena
untuk menentukan syarat tersebut. Disamping pihaknya bukan Negara dan karena bersifat
membuat perdamaian dan membuat perjanjian perdata. Alasan demikian tidaklah tepat, karena
dengan Negara lain sebagaimana dinyatakan dasar pertimbangan konstitusinya bukanlah
dalam ayat (1) juga disyaratkan perlunya siapa pihak atau mengenai hal apa materi suatu
persetujuan DPR apabila Presiden membuat Perjanjian Internasional tersebut, tetapi karena
”Perjanjian Internasional lainnya” yang: (1) perjanjian yang demikian menyangkut beban
yang mungkin ditimbulkan dari perjanjian pertama maupun pihak kedua secara voluntair
tersebut yaitu menjadi beban bangsa. Demikian menyusun pokok-pokok yang diperjanjikan
juga tidak menjadi relevan pertimbangan tanpa ada tekanan. Kalau salah satu pihak
institusi apa yang akan mempunyai wewenang berkebaratan maka dapat menolak, atau
untuk memutus perselisihan andai saja di membuat suatu kesepakatan baru yang
kemudian hari timbul perselisihan antara kemudian disepakati bersama. Apabila suatu
Negara Indonesia dengan pihak lain, apakah Perjanjian Internasional membebani kewajiban
akan menjadi kewenangan International Court maka pihak yang terbebani memerima beban
of Justice ataukah akan menjadi kewenangan itu atas pesetujuannya sedangkan pihak lain
lembaga internasioal lain karena perselisihan percaya bahwa kewajiban tersebut akan
yang terjadi bukan perselisihan antar negara dipenuhi. Perjanjian Internasional sebagaimana
sehingga bukan menjadi bagian Hukum Publik perjanjian pada umumnya berlandas atas
Internasional. prinsip “good faith and mutual trust” antar
pihaknya, dengan demikian “pacta sunt
Pertimbangan konstitusionalitasnya karena servanda” menjadi dasar mengapa para pihak
isi putusan lembaga tersebut akan mempunyai terikat dengan yang diperjanjikan. Dari segi
dampak langsung kepada Negara dan bangsa, internal Negara yang menjadi pihak dalam
baik berdampak dalam hukum publik maupun Perjanjian Internasional, ada kewajiban untuk
berdampak perdata. Kewajiban untuk menghargai dan memberi akibat hukum pada
membayar hutang atau denda sebagai hukuman perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh
yang dibebankan kepada Negara selaku badan lembaga atau organ Negara yang secara hukum
hukum perdata tetap mempunyai dampak pada diberi wewenang oleh konstitusi untuk
kehidupan Negara atau Bangsa karena jelas mewakili Negara dalam berhubungan dengan
akan mengurangi kemampuan finansial Negara pihak luar atau Negara lain. Kewajiban tersebut
dalam menyelenggarakan tugas-tugasnya. dibebankan kepada lembaga Negara yang lain
termasuk juga lembaga peradilan yaitu dengan
Kekuatan Mengikat Perjanjian cara memberi akibat hukum pada Perjanjian
Internasional Internasional yang dibuat oleh lembaga yang
berwenang serta dengan prosedur menurut
Perjanjian Internasional merupakan hukum yang disyaratkan. Pemberian akibat
kesepakatan dari dua entitas hukum yang bebas hukum atas dasar pacta sunt servanda saja
untuk mengikatkan diri atau tidak mengikatkan seringkali dapat menimbulkan persoalan
diri, artinya tidak ada pemaksaan kehendak. karena kemungkinan adanya pihak lain yang
Karena merupakan kesepakatan maka dasar tidak secara itikad baik melaksanakan
hukum dari kewajiban untuk terikat adalah perjanjian yang pernah disepakati oleh
kehendak masing-masing pihak. Disisi lain wakilnya, namun hanya karena adanya itikad
masing-masing Negara mempunyai ketentuan tidak baik saja tidak menyebabkan putus atau
di dalam hukum nasionalnya yang menetapkan berakhirnya Perjanjian Internasional tersebut
lembaga atau organ Negara mana yang diberi secara otomatis. Untuk menentukan apakah
kewenangan untuk mewakili Negara tersebut akan tetap memberikan akibat hukum
dalam berhubungan dengan Negara lain. Perjanjian Internasional di dalam negeri, asas
Perjanjian Internasional yang lahir atas dasar pacta sunt servanda perlu dilengkapi dengan
kesepakatan ini menempatkan para pihak asas reciprocity yaitu bahwa pelaksanaan
dalam posisi setara dan oleh karenanya Perjanjian Internasional tersebut di Indonesia
“Pemberlakukan Perjanjian Internasional akan digantungkan pada pelaksanaan
ke dalam sistem hukum Indonesia tidak Perjanjian Internasional yang bersangkutan di
selalu di dasarkan atas adanya aturan
pelaksanaan. Dasar pemberlakuanya
Negara lain sebagai pihak dalam perjanjian.
adalah pada sistem ketatanegaraan Kepastian penerapan secara reciprocity ini
yang memberikan wewenang kepada dapat dipastikan dengan meminta konfirmasi
Presiden sebagai satu-satunya lembaga kepada Negara yang bersangkutan melalui jalur
yang mewakili Negara dalam hubungan diplomatik. Hal demikian perlu dilakukan
luar negeri.” untuk melindungi kepentingan nasional dalam
arti luas yaitu jangan sampai Perjanjian
Internasional hanya membebani kewajiban
secara sepihak saja.
perjanjian internasional mempunyai dasar
“good faith” antar para pihak. Baik pihak
“Kekuatan mengikat Perjanjian
Pemberlakukan Perjanjian Internasional ke Internasional sebagai sumber hukum
bagi Hakim untuk memutus perkara,
dalam sistem hukum Indonesia tidak selalu di tidak terkait dengan bentuk hukum
dasarkan atas adanya aturan pelaksanaan. formil Perjanjian Internasional yaitu
Dasar pemberlakuanya adalah pada sistem Undang-Undang. Kekuatan mengikat
ketatanegaraan yang memberikan wewenang tersebut disebabkan Perjanjian
kepada Presiden sebagai satu-satunya lembaga Internasional secara substantif telah
disetujui oleh lembaga yang secara
yang mewakili Negara dalam hubungan luar
konstitusional diberi kewenangan untuk
negeri. Apabila Presiden telah menggunakan membuat Perjanjian Internasional yaitu
wewenang sesuai dengan ketentuan konstitusi Presiden dengan memenuhi prosedur
maka sebagai konsekuensinya hasilnya pun yang ditentukan.”
harus diterima sebagai konstitusional karena
dengan demikian akan berarti juga
melaksanakan perintah konstitusi. Pemberian
tempat Perjanjian Internasional dalam sistem salah satu diantaranya dengan merujuk pada
hukum nasional merupakan salah satu kebiasaan-kebiasaan yang tumbuh di
pencerminan penegakan konstitusi. Tanpa masyarakat yang oleh masyarakat dianggap
harus mencarikan dasarnya dalam Konvensi sebagai sesuatu hal yang memang selayaknya
Wina mengenai the Law of Treaty, dasar karena dianggap sebagai adil. Kebiasaan tidak
mengikat Perjanjian Internasional terdapat saja tumbuh di masyarakat lokal dan nasional
dalam konstitusi yang tidak mensyaratkan tetapi juga di masyarakat Internasional.
Perjanjian Internasional diwadahi dalam Perjanjian Internasional yang bersifat
bentuk Undang-Undang. Kalau toh Indonesia multilateral dan kemudian banyak diratifikasi
belum pernah melakukan akseptasi terhadap oleh Negara-Negara di dunia, maka secara
the Law of Treaty tidak berarti bahwa substantif dapat dianggap sebagai mempunyai
Indonesia tidak mempunyai dasar hukum untuk nilai keadilan yang diterima oleh banyak
memberlakukan Perjanjian Internasional dalam Negara, oleh karenanya Hakim nasional dapat
hukum nasionalnya. Bagi Negara yang tidak mengambil substansi yang terdapat dalam
pernah melakukan akseptasi terhadap the Law Perjanjian Internasional tersebut sebagai
of Treaty tetapi nyatanya terlibat dalam sumber hukum bagi putusannya dan bukan
pembuatan Perjanjian Internasional dengan karena bentuk hukumnya yaitu Perjanjian
Negara lain dan menerima ketentuan the Law Internasional tetapi atas pertimbangan bahwa
Treaty sebagai acuannya, maka the Law Treaty secara substantif telah terbentuk kebiasaan
dapat dianggap secara substansi yang telah yang diterima oleh masyarakat bangsa-bangsa
menjadi kebiasaan internasional sehingga dapat dengan pembuktian bahwa telah banyak
menjadi salah satu sumber Hukum Negara menerimanya dengan cara melakukan
Internasional. ratifikasi. Dengan demikian banyaknya Negara
yang melakukan ratifikasi menjadi bukti bahwa
Perjanjian Internasional Sebagai substansi yang diratifikasi telah diterima
Sumber Hukum Bagi Putusan sebagai sesuatu yang layak dan adil, dengan
Pengadilan demikian kebiasaan internasional tersebut
dapat dirujuk oleh Hukum Nasional dalam
Hakim mendasarkan putusannya pada rangka memberi rasa keadilan melalui
sumber-sumber hukum yang dapat berupa putusannya. Disamping sumber hukum
sumber hukum dalam pengertian materiil dan materiil, Hakim dalam menjatuhkan putusan
sumber hukum dalam pengertian formil. Ada juga mempunyai sumber hukum formil, yang
kalanya hakim dihadapkan pada kenyataan utamanya adalah Undang-Undang. Sebagai
bahwa untuk memutuskan kasus yang dihadapi pelaksana kekuasaan kehakiman, Hakim
tidak tersedia substansi hukum yang memadai bahkan wajib untuk mendasarkan putusannya
pada sumber hukum formil, yaitu peraturan pada Undang-Undang. Kekuatan mengikat
perundang-undangan yang ada. Sementara itu Perjanjian Internasional sebagai sumber hukum
Hakim dilarang menolak memberi putusan bagi Hakim untuk memutus perkara, tidak
dengan alasan bahwa tidak terdapat hukum terkait dengan bentuk hukum formil Perjanjian
yang mengatur, oleh karena itu Hakim harus Internasional yaitu Undang-Undang. Kekuatan
menemukan hukum. Penemuan hukum oleh mengikat tersebut disebabkan Perjanjian
Hakim dapat dilakukan dengan menggali rasa Internasional secara substantif telah disetujui
keadilan yang terdapat di masyarakat yang oleh lembaga yang secara konstitusional diberi
kewenangan untuk membuat Perjanjian disyaratkan Article 111 tersebut. Hal demikian
Internasional yaitu Presiden dengan memenuhi tentunya akan berbeda dengan pelaksanaan dari
prosedur yang ditentukan. Dalam ilmu hukum, Article yang terdapat dalam United Nations
Perjanjian Internasional atau Traktat disebut Convention Against Corruption, 2003 yang
sebagai sumber hukum lain yang terpisah dari telah disahkan dalam Undang-Undang No. 7
Undang-Undang. Praktik di Indonesia Tahun 2006. Article 20 Konvensi ini yang
sementara ini yang mewadahi ratifikasi berjudul Illicit Enrichment menyatakan
Perjanjian Internasional dalam bentuk Undang- “Subject to its constitution and the
Undang mengesankan seolah-olah kekuatan fundamental principles of its legal system,
mengikat Perjanjian Internasional sebagai each State Party shall consider adopting such
sumber hukum didasarkan atas bentuk formil legislative and other measures as may be
Undang-Undang pada hal bukan. Status necessary to establish as a criminal offence
Perjanjian Internasional yang dibuat sesuai when committed intentionally, illicit
dengan ketentuan konstitusilah yang enrichment, that is, a significant increase in
menjadikan Perjanjian Internasional tersebut the assets of public official that he or she
menjadi sumber hukum. Praktik di Amerika cannot reasonably explain in relation to his or
menunjukkan secara jelas perbedaan tersebut. her lawful income.” Pasal ini tidak dapat
Law atau Statute yang dibuat oleh Congress diterapkan oleh Hakim karena jelas bahwa
merupakan sumber hukum bagi Hakim, ketentuan ini mewajibkan Pemerintah untuk
sedangkan Perjanjian Internasional tidak mengambil langkah legislatif lebih dahulu guna
dituangkan dalam bentuk Law atau Statute menetapkan perbuatan illicit enrichment
yang dibuat oleh Congress, tetapi Perjanjian sebagai perbuatan pidana yaitu suatu
Internasional dibuat oleh Presiden dengan peningkatan kekayaan pejabat publik yang
persetujuan Senat, namun demikian Konstitusi sangat mencolok yang tidak dapat diterangkan
Amerika menyatakan bahwa Perjanjian secara masuk akal kalau dihubungkan dengan
Internasional sebagai the law of the land. gaji
Dr. Harjono, sh., m.cl.
Meskipun Perjanjian Internasional karena
sifatnya dan bukan karena bentuk hukumnya • S1, Sarjana Hukum (S.H.) Fakultas Hukum
Universitas Airlangga, 1977;
dapat menjadi sumber hukum bagi hakim,
namun untuk diterapkan dalam putusan • S2, Master of Comparative Law (M.C.L.)
School of Law, Southern Methodist
haruslah dilihat sifat masing-masing norma University, Dallas-USA, 1981;
yang terdapat dalam Perjanjian International.
• S3, Doktor Ilmu Hukum (Dr.) Program
Sangatlah mungkin bahwa norma yang Pascasarjana Universitas Airlangga, 1994.
ditimbulkan oleh pasal-pasal dari Perjanjian
Internasional mempunyai daya ikat atau daya resminya. Pengetahuan Hakim tentang
berlaku yang berbeda. Sebagai sebuah contoh Perjanjian Internasional diperlukan manakala
dapat dipetik disini pasal atau Article 111 dari Hakim dihadapkan dengan kasus hukum yang
Convention on Recognition and Enforcement ada kaitannya dengan Perjanjian Internasional.
of Foreign Arbritral Award 1958 yang
berbunyi: “Each contracting state shall Kesimpulan
recognize arbitral award as binding and
enforce them in accordance with the rule of Berdasarkan kajian konstitusi tentang
procedure territory where the award is relied kedudukan Hukum Perjanjian Internasional
upon under the condition laid down in the dapat disimpulkan hal-ha1 sebagai berikut:
following article”. Apabila Konvensi ini
diratifikasi oleh Indonesia dan oleh karenanya Sebagai sebuah pernyataan kehendak yang
mempunyai kekuatan mengikat maka ditujukan ke luar, Perjanjian Internasional
seharusnya Hakim menerapkan langsung isi seharusnya berwadah hukum Keputusan
“Pengetahuan Hakim tentang Perjanjian Pasal ini Presiden karena Presiden adalah wakil Negara
Internasional diperlukan manakala jika ada dalam berhubungan dengan Negara lain.
Hakim dihadapkan dengan kasus hukum
a. Adanya klausula persetujuan DPR dalam
yang ada kaitannya dengan Perjanjian
Internasional.” Pasal 11 UUD 1945 tidak berarti bahwa
bentuk hukum ratifikasi Perjanjian
Internasional adalah Undang-Undang, oleh
permintaan pelaksanaan putusan arbitrase asing karena itu diperlukan pengaturan tersendiri
asalkan dilaksanakan “under the condition laid yang berbeda dengan persetujuan bersama
down in the following article” sebagaimana dalam pembuatan Undang-Undang.
b. Pasal 11 ayat (2) UUD 1945 mensyaratkan bentuk Undang-Undang, sehingga
adanya persetujuan DPR untuk Perjanjian Perjanjian Internasional merupakan sumber
Internasional lain, karena UUD hukum di luar sumber hukum Undang-
menganggap penting keterlibatan DPR Undang.
untuk memutuskan hal-ha1 yang berakibat d. Karena telah dibuat sesuai dengan
pada beban negara atau yang ketentuan konstitusi maka substansi yang
mengakibatkan perlunya pembentukan dan terdapat Perjanjian Internasional yang
perubahan Undang-Undang, bukan menimbulkan hak dan bersifat self
didasarkan atas pembedaan antara executing juga merupakan sumber hukum
Perjanjian Internasional publik dan privat. bagi putusan pengadilan.
c. Perjanjian Internasional mempunyai e. Pengesahan Perjanjian Internasional dalam
kekuatan hukum mengikat dan menjadi bentuk atau wadah Undang-Undang
sumber hukum dalam Hukum Nasional menimbulkan banyak kelemahan oleh
karena telah dibuat sesuai dengan ketentuan karenanya perlu segera dibuat aturan yang
konstitusi bukan karena diwadahi dalam baru.

PROF. DR. IBRAHIM R. SH., MH.

STATUS HUKUM INTERNASIONAL DAN PERJANJIAN


INTERNASIONAL DI DALAM HUKUM NASIONAL
(Permasalahan teoritik dan praktek)

Jika dilihat dari Term of Reference (TOR)


yang diberikan oleh Focus Group Discussion
(FGD), kajian yang harus dilakukan pada
tataran teori dan praktek, maka level makalah
ini, seperti derajat sebuah disertasi, suatu
beban dan tanggungjawab yang tidak ringan,
tapi menarik, dan mudah-mudah bisa dicapai,
sehingga hasil dari FGD dapat dijadikan
pijakan operasional dalam memperjuangkan
harkat dan martabat Bangsa di era globalisasi
saat ini. Namun, sejarah menunjukkan bahwa
segala hal yang dilakukan Bangsa Indonesia
sangat tergantung pada selera para penguasa
(orde lama, orde baru, orde reformasi), karena
UUD 1945 atau UUD NRI 1945 tidak di
Latar Belakang dan Permasalahan desain berdasarkan kerangka ketatanegaraan
yang terstruktur. Praktek penerapan hukum,
diawali dengan identifikasi aturan hukum dan
saat yang sama akan dijumpai empat a. konsep Negara hukum yang dipengaruh
kemungkinan, yaitu: aliran hukum yang melekat padanya;
b. sistem pemerintahan dan pembagian
1. Kesenjangan antara das sollen dan das sein kekuasaan Negara yang dianut dan
(benturan antara teori dan praktenya); menentukan kedudukan dan hubungan
2. Leemten in het recht (kekosongan hukum); kerja antara lembaga Negara;
3. Vege normen (norma kabur); dan c. Negara yang berdaulat sebagai Subyek
4. Antinomi (konflik norma). Hukum Internasional yang melahirkan
hubungan Hukum Nasional dengan Hukum
Persoalan dasar yang dihadapi Negara Internasional (Negara sebagai Subyek
lndonesia dari dulu sampai sekarang adalah Hukum Internasional diwakili oleh
pada fundamen (grand unified theory). eksekutif);
Persoalan dan pertanyaan yang dimunculkan d. apakah “Negara hukum menurut Soepomo
oleh TOR untuk dapat diberikan jawaban, hirarki (salah satu the founding fathers
teoritik maupun praktek, sebagai berikut: Indonesia) memberi arti rechtstaat
sebagai Negara berdasarkan atas
− Sistem Hukum Nasional belum tegas hukum, sebenarnya yang diinginkan
oleh Soepomo adalah
mengatur mengenai hubungan Hukum mensintesakan unsur rechtstaat
Nasional dengan Hukum Internasional? dengan rule of law, tetapi belum
− Bagaimanakah mengimplementasikan sempat diselesaikan dan bagaimana
Hukum Internasional ke dalam Hukum bentuk refleksinya belum jelas.”
Nasional? perundang-undangan nasional seirama
Lokakarya Evaluasi Undang-Undang No. 24 − Belu dengan hirarki Hukum Internasional.
Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional,
m e. dalam praktek hubungan hukum nasional
18 – 19 Oktober 2008, Surabaya.
dengan hukum internasional dikenal dua
aliran, yaitu monisme dan dualisme.
berkembangnya doktrin dan praktek tentang
Perjanjian Internasional dalam Hukum Teori kewenangan
Nasional?
− Bagaimana suatu Perjanjian Internasional Negara Berdasarkan atas Hukum
dapat diterapkan pada suatu persoalan yang Negara hukum menurut Soepomo (salah satu
dihadapi? the founding fathers Indonesia) memberi arti
− Apakah hukum nasional lebih tinggi rechtstaat sebagai Negara berdasarkan atas
derajatnya dari pada Hukum Internasional hukum, sebenarnya yang diinginkan oleh
atau sebaliknya lndonesia menganut aliran Soepomo adalah mensintesakan unsur
monisme atau dualisme atau campuran rechtstaat dengan rule of law, tetapi belum
dalam hubungan Hukum Nasional dengan sempat diselesaikan dan bagaimana bentuk
Hukum Internasional? refleksinya belum jelas. Empat unsur
rechtstaat dari Immanuel Kant dan Friedrich
− Posisi Hukum Internasional dalam Hukum
Julius Stahl, yaitu jaminan perlindungan HAM,
Tata Negara Indonesia?
pemisahan kekuasaan berdasarkan trias
− Pengaturan Hukum Tata Negara Indonesia politika, tindakan Pemerintah berdasarkan atas
tentang status Hukum Internasional? Undang-Undang, dan Peradilan Administrasi
− Pengaturan UUD NRI 1945 tentang status Negara. Ke-empat unsur tersebut belum
Hukum Internasional? lengkap untuk dikonstruksikan dalam konsep
Negara hukum Indonesia, oleh sebab itu,
Landasan Teoritik masih diperlukan dua unsur dari rule of law
A.V. Dicey. Unsur yang belum tercermin dari
Teori dan praktek merupakan dua hal yang rechtstaat yaitu supremacy of law dan equality
berpasangan, kalaupun tidak jarang keduanya before the law.
bertentangan, tetapi teori tanpa praktek tidaklah
lengkap dan praktek tanpa teori tidak akan Untuk mensintesakan keduanya dengan
pernah mapan. Untuk mengkaji pengaturan, jiwa bangsa yang disebut dengan Pancasila,
posisi, dan kedudukan Hukum Internasional namun harus disadari bahwa karakter
dalam Hukum Nasional dapat ditinjau dari rechtstaat ber-umbrella dan refleksi dari civil
berbagai segi sebagai implementasi dari: law system dan rule of law ber-umbrella dan
refleksi dari common law system. Kemudian
the founding fathers, memilih sistem seorangpun atau suatu badan yang diakui oleh
pemerintahan Presidensial yang merupakan hukum mempunyai hak mengubah atau
refleksi dari rule of law, pembagian kekuasaan meniadakan hukum yang dibuat oleh Parlemen
memilih percampuran yang merupakan model (dikenal dengan Supremasi Parlemen). Inggris
dari pembagian kekuasaan pada sistem menjalankan pemerintahan yang demokratis
pemerintahan Parlementer dalam bayang- dan sangat menghormati kebiasaan. Sistem
bayang logika trias politika. Namun, Parlemen ditandai oleh hubungan kerja sama
percampuran kekuasaan yang dipilih tidak yang erat antara Raja, wakil, bangsawan, dan
menggunakan bayang-bayang logika trias wakil rakyat dalam Parlemen. Sifat monistik
politika, tetapi melahirkan Lembaga-lembaga diperlihatkan dengan meletakkan kedudukan
Negara, yaitu Lembaga Tertinggi Negara dan Raja dalam Parlemen sebagai ciri khas sistem
Lembaga Tinggi Negara dan boleh dikatakan pemerintahan parlementer Inggris,
tanpa bentuk. Kini, setelah amandemen UUD dibandingkan dengan pemerintahan
1945 makin tidak menentu, yaitu melahirkan parlementer Negara lain. Secara individual dan
main state’s organ (lembaga negara utama), kolektif menteri bertanggungjawab terhadap
auxiliary state organ (lembaga negara bantu), Parlemen, sistem pertanggungjawaban kabinet
dan komisi Negara. Lembaga legislasi nasional yang merupakan konsekuensi dari pelaksanaan
berdasarkan UUD NRI 1945 adalah DPR dan demokrasi di Inggris. Pemerintah terdiri dari
Presiden, karena Presiden sebagai bagian dari tiga unsur:
lembaga legislasi, maka setiap melakukan dan 1. Perdana Menteri, bukan sebagai anggota
melaksanakan Hukum Internasional harus kabinet, tetapi sebagai pemimpin cabinet;
dengan persetujuan DPR, perhatikan macam 2. Kabinet, yang beranggotakan manteri-
dan jenis Hukum Internasional. menteri yang di-angkat oleh monarch atas
usul;
Sistem Pemerintahan dan Pembagian 3. Perdana Menteri;
Kekuasaan 4. Ada menteri yang berfungsi sebagai
pejabat administrasi dan tidak duduk dalam
Pemegang Hak Paten sistem pemerintahan kabinet;
yang menjadi pilihan saat ini adalah Inggris
dengan sistem pemerintahan Parlementer Kabinet secara formal ditetapkan oleh
sebagai mother of parliament, Amerika Serikat monarch, keanggotaannya ditentukan oleh
dengan sistem pemerintahan Presidensial hasil pemilihan umum sebagai sifat
sebagai mother of presidentialism, dan Perancis parlemennya. House of Lords tidak banyak
dengan sistem pemerintahan Semi-Presidensial pengaruhnya terhadap pembentukan kabinet.
sebagai mother of semi-presidentialism. Pertanggungjawaban eksekutif arahnya kepada
Negara-negara lain sebagai pemegang lisensi Parlemen, tetapi evaluasi hanya dilakukan oleh
dengan varian-varian yang disesuaikan House of Commons. Sistem pemerintahan
perkembangan sejarah ketatanegaraanya, parlementer Inggris, berjalan melalui proses
pilihan terbanyak adalah sistem pemerintahan pengurangan kekuasaan absolut raja dan
parlementer. diberikan kepada perwakilan bangsawan,
proses ini, akhirnya melembaga menjadi
Sistem Pemerintahan Parlementer Majelis. Pertumbuhan sejarah pembentukan
Sistem pemerintahan Inggris di mana kepala Majelis dan sifat monistik yang melahirkan
Negara adalah Raja/Ratu, Eksekutif adalah ajaran supremasi parlemen dan berpengaruh
Perdana Menteri yang berasal dari anggota terhadap sistem pemerintahan demokrasi
Badan Perwakilan yang menang dalam Pemilu moderen. Unsur pokok dalam sistem
(Ketua Partai), maka yang disebut Parlemen di pemerintahan Inggris adalah keseimbangan,
Inggris adalah Raja/Ratu, Perdana Menteri, dan kabinet dan parlemen mempunyai hak-hak
Badan Perwakilan (House of Lords dan House yang setingkat dan mampu saling kontrol,
of Commons). Parlemen terdiri dari: raja, wakil terlihat pada mekanisme perimbangan antara
bangsawan, dan wakil rakyat. Kerajaan lnggris tanggung jawab politik para Menteri pada satu
melaksanakan konsep kekuasaan yang sifatnya pihak dan hak pembubaran dewan di lain pihak
monistik, artinya raja, wakil golongan yang merupakan persamaan derajat antara
bangsawan, dan wakil rakyat berada dalam satu eksekutif dengan legislatif. Untuk persamaan
wadah yang disebut Parlemen. Parlemen dalam ha1 waktu ada arbitrasi, seperti kalau
merupakan hak untuk membuat atau tidak kabinet minoritas atau terancam menjadi
membuat suatu aturan hukum apapun, tidak minoritas, ia tidak dibubarkan sekonyong-
konyong secara ex abrupto, melainkan Undang-Undang disiapkan oleh ahli
dinyatakan pembubaran dewan, sehingga apa hukum di Whitehall yang berkerja atas
yang menjadi persoalan dalam dewan dapat intruksi para pegawai Pemerintah
diajukan kepada pemilih. Kalau dalam berdasarkan kebijakan Menteri.
pemilihan memberikan suara terbanyak kepada c. Mengawasi pelaksanaan Undang-Undang,
dewan, maka para Menteri mengikuti dan seorang anggota parlemen dapat
tunduk kepada penetapan rakyat dan mengajukan secara langsung kepada
mengundurkan diri. Kalau sebaliknya, hasil Menteri terhadap suatu keputusan. Apabila
pemilihan membenarkan tindakan kabinet, hasil jawaban tidak puas, dapat diajukan
adalah giliran dewan untuk tunduk kepada dalam sidang House of Commons.
kedaulatan rakyat. Parlemen Inggris terdiri dari: d. Parlemen dapat menyampaikan gagasan
Majelis Tinggi (House of Lords) adalah wakil politik, karena partai mempunyai komite-
bangsawan dan Majelis Rendah (House of komite ahli dan mengawasi kegiatan
Commons) adalah wakil rakyat, dan Raja Departemen Pemerintahan.
(Ratu). Artinya: RajalRatu, House of Lords, e. Eksekutif dapat menggunakan publisitas
House of Commons, berada dalam satu wadah Parlemen untuk mendapatkan persetujuan
disebut Parlemen. Dalam sistem Inggris tentang kebijakan-kebijakan pemerintah,
memberikan kekuasaan yang sangat besar tetapi oposisi justru sebaliknya.
kepada House of Commons untuk membentuk
Undang-Undang (Act of Parliament). Raja/Ratu Sistem Pemerintahan Presidensial
yang merupakan bagian dari Parlemen hanya Amerika Serikat membagi pemerintahan
memiliki fungsi formal, artinya setiap Undang- menjadi tiga cabang, yaitu legislatif (Senate
Undang wajib diajukan kepada Raja/Ratu untuk dan House of Representatives), eksekutif
ditandatangani. Kedudukan parlemen yang (Presiden sebagai kepala Negara dan kepala
sangat kuat, karena diisi oleh orang-orang Pemerintahan), dan Yudisial (Mahkamah
partai pemenang pemilihan umum. Perdana Agung), pembagaian kekuasaan ini
Menteri berasal dari kalangan mereka dan berdasarkan atas prinsip pemisahan kekuasaan
memerintah selama kepercayaan masih dari Trias Politika Montesquieu, yang
diberikan kepadanya. Namun, oposisi dibiarkan kemudian dilengkapi dengan checks and
tumbuh dengan subur, sehingga demokrasi balances system, yaitu ketiga kekuasaan
dapat berkembang. Kedaulatan ada ditangan tersebut dapat saling kontrol secara terbatas
rakyat dan sistem ketatanegaaran Inggris sering oleh kekuasaan yang sama secara terbatas.
disebut Parliamentary Sovereignty dan secara The United States of America
historis kekuasaan tersebut berkembang sejak diproklamasikan tahun 1776 dan naskah
Glorius Revolution 1688. Kewenangan utama deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat yang
parlemen adalah memiliki hak monopoli dalam disusun Thomas Jefferson (1743-1826) dan
membuat dan menyusun peraturan perundang- disahkan oleh Kongres Kontinental di
undangan dan pendelegasian wewenang Philadelphia pada tanggal 4 Juli 1776, yang
legislatif hanya boleh dilakukan oleh parlemen. ditandatangani oleh 56 anggota Kongres.
Peraturan perundang-undangan dibedakan atas Amerika Serikat mempunyai konstitusi setelah
tiga bentuk: (1). Act of Parliament. (2). tiga belas tahun merdeka, yaitu tahun 1789.
Delegated Legislation. (3). Autonomic Setelah konstitusi disahkan dilanjutkan dengan
Legislation. Peranan utama anggota Parlemen, pemilihan Presiden, George Washington
berikut: (1789-1797) terpilih sebagai Presiden pertama
secara aklamasi, seperti juga pemilihan
a. Menilai secara kontinyu rekan separtai yang Presiden Indonesia pertama Soekarno (1901-
menduduki jabatan-jabatan menteri dan 1970), yang dipilih tanggal 18 Agustus 1945
rekan-rekan mereka yang mungkin. setelah UUD 1945 di sahkan oleh PPKI.
Seorang Menteri mungkin memperoleh Presiden Amerika Serikat yang pertama, telah
mosi kepercayaan secara resmi, tetapi mewariskan suatu tradisi dua kali masa jabatan
sebenarnya kehilangan posisi diantara para Presiden dengan cara menolak dipilih untuk
rekannya di parlemen, apabila pendapatnya ketiga kalinya. Jika ia mau tidak ada yang akan
dilumpuhkan dalam perdebatan dan hanya menghalanginya dan dapat dipastikan bahwa
mempunyai pengetahuan yang sangat akan terpilih secara aklamasi, karena
sedikit tentang hal yang ditangani. merupakan mantan panglima perang
b. Undang-Undang yang dilahirkan disebut kemerdekaan dan salah seorang the founding
Acts of Parliament, tetapi Rancangan fathers yang sangat disegani dan berpengaruh.
Amerika Serikat, pada saat diproklamasikan “Indonesia menurut Mochtar
terdiri dari tiga belas Negara Bagian dan Kusumaatmadja menganut aliran
monisme dengan primat Hukum
sekarang lima puluh Negara Bagian. Perang Internasional. Untuk saat ini, Indonesia
kemerdekaan yang terjadi pada musim semi dan Negara-Negara sedang berkembang
tahun 1775 di Concord, Lexington, dan Bunder seharusnya menganut dualisme, dan
Hill menimbulkan pro dan kontra dikalangan kalaupun memilih monisme harus primat
tokoh dan masyarakat, apakah revolusi Hukum Nasional.”
merupakan satu-satunya jalan untuk merdeka,
yaitu: yang mendukung jalan perang adalah
Agung tidak diangkat seumur hidup, tetapi
Samuel Adams dan John Hancock, tetapi yang
diangkat sepanjang Hakim tersebut
memilih cara damai dengan Inggris adalah
melaksanakan tugas dengan baik dalam
George Washington (1732-1799) dan Thomas
rentangan waktu seumur hidup, dapat
Jefferson (1743-1826).
diberhentikan apabila melakukan pelanggaran,
Arsitek konstitusi Amerika Serikat boleh
kejahatan, dan pemberhentiannya harus
dikatakan dilakukan oleh ahli hukum,
didukung dua pertiga anggota Senat.
pemerintahan, dan politik, yaitu 33 ahli hukum
dari 55 peserta konvensi, kalau diperhatikan
Teori Hubungan Hukum Nasional dan
secara seksama bahwa Amerika Serikat
Hukum lnternasional
menganut bentuk Negara federal, bentuk
pemerintahan republik, dan sistem
Mengenai hubungan antara perangkat
pemerintahan presidensial. Prinsip dasar dalam
Hukum Nasional (HN) dengan Hukum
konstitusi Amerika Serikat, membagi
Internasional (HI), yaitu:
pemerintahan menjadi tiga cabang, yaitu:
legislatif, eksekutif, dan yudisial: Juga
a. Monisme menempatkan HN dan HI
menetapkan bagaimana jabatan kenegaraan
sebagai bagian dari satu kesatuan sistem
harus dipilih, batas kekuasaan Federal dengan
hukum pada umumnya, keduanya saling
Negara Bagian, memberikan hukum substantif
berhubungan. Tokoh aliran ini adalah Hans
dasar terbatas yang berhubungan dengan
Kelsen dan Georges Scelle, yang
masalah-masalah kontroversial, seperti:
memunculkan dua paham:
perbudakan, kebebasan sipil, hutang Negara,
− HN lebih tinggi dari HI (primat HN);
perpajakan, perdagangan, Perjanjian
Internasional, dan gelar bangsawan. Sistem − HI lebih tinggi dari HN (primat HI).
pemerintahan Amerika Serikat merupakan yang Negara penganut monisme: Perancis,
paling rumit di dunia dengan prinsip Jerman, dan Belanda.
Government by the People, artinya kedaulatan
ada di tangan rakyat dan dinyatakan melalui b. Dualisme menempatkan HN dan HI
pemilihan umum, Presiden dan Wakil Presiden sebagai sistem hukum yang terpisah,
dipilih untuk masa jabatan empat tahun dan masing-masing berdiri sendiri dan tidak
sesuai dengan tradisi hanya untuk dua periode ada hubungan satu dengan yang lainnya,
masa jabatan. Ketika tradisi yang diciptakan tokoh aliran ini adalah Triepel dan
Presiden pertama George Washington (1789- Anzilotti. Negara penganut dualisme:
1797) dilanggar oleh Presiden F. D. Roosevelt Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.
(1933-1945) yang terpilih untuk keempat
kalinya, maka lahirlah amandemen pembatasan Indonesia menurut Mochtar Kusumaatmadja
masa jabatan presiden dua periode tahun 1951. menganut aliran monisme dengan primat
Tidak seorang pun harus dipilih untuk jabatan Hukum Internasional. Untuk saat ini, Indonesia
Presiden lebih dari dua kali, tidak seorang pun dan Negara-Negara sedang berkembang
yang telah memegang jabatan Presiden atau seharusnya menganut dualisme, dan kalaupun
ditugaskan sebagai Presiden, untuk lebih dari memilih monisme harus primat Hukum
dua tahun dari suatu masa jabatan untuk mana Nasional.
seseorang lain dipilih menjadi Presiden harus
dipilih untuk jabatan Presiden lebih dari sekali. Hirarki Hukum lnternasional
Keadilan ditegakan melalui Supreme Court
yang merdeka dan bebas dari pengaruh J.G. Starke membagi sumber materiil
legislatif dan eksekutif, para hakim dan Hakim Hukum Internasional, dalam lima bentuk:
Agung diangkat oleh Presiden setelah
menadapatkan persetujuan Senate, Hakim (1) Kebiasaan;
(2) Traktat; tingginya, perhatian yang cukup terhadap
(3) Keputusan pengadilan atau badan arbitrase; hubungan antar hukum dan hubungan
(4) Karya para ahli hukum; kemasyarakatan. Kesemua itu harus dilihat
(5) Keputusan organisasi lembaga dalam tiga karakteristik masyarakat
internasional; internasional yang mempengaruhi Hukum
Internasional, yaitu:
Sumber Hukum Internasional berdasarkan
Pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah (1) Ada sejumlah Negara yang hidup
Internasional, sebagai berikut: berdampingan (co-exist), yaitu Negara
a. International Conventions; merdeka dan berdaulat yang tidak tunduk
b. International Custom; pada kekuasan yang lebih tinggi.
c. General Principles of Law; (2) Terjadi interaksi antara Negara-Negara
d. Judicial Decisions; dan yang termasuk ke dalam sistem
e. Teachings of the Most Highfy Qualified internasional, terjadi melalui intensitas
Publicists. tertentu secara historis.
(3) Pengakuan atau persepsi pada Negara-
Sumber Hukum Internasional itu dijadikan Negara tentang perlunya pengaturan
dasar untuk membuat Perjanjian Internasional, hubungan timbal balik antara mereka.
dan bagaimana menempatkan sumber Hukum
Internasional dalam kategori Perjanjian Berbicara Hukum Internasional harus
Internasional dalam kerangka dan hirarki memahami 18 istilah yang sering digunakan
Hukum Nasional. dalam Hukum Internasional, yaitu: Treaty;
Convention; Agreement; Arrangement;
Kekuatan mengikat Hukum Internasional Declaration; Charter; Covenant; Statute;
menurut Corbett adalah sebagai kehendak Protocol; Pact; Process verbal; Modus
Negara-Negara agar hubungan timbal balik Vivendi; Act; Final Act; General Act; Accord;
yang mereka adakan karena tidak dapat dilepas Compromis; Concordat.
dari sifat sosial mereka diatur seraga dan
serasional mungkin, melalui tahapan: Dalam praktek, treaty dan convention
Pertama, tahap atau arti pertama dari perkataan menduduki tempat paling tinggi dalam urutan
“sumber” ini merupakan yang paling abstrak Perjanjian Internasional.
dan yang paling kontroversial, diartikan sebagai
ketentuan yang prosedural (tidak pada cita-cita 1. Traktat, istilah ini yang sudah umum
atau ide). digunakan dalam perjanjian-perjanjian
Kedua, tahap kedua kita mengartikan “sumber” internasional, seperti:
sebagai unsur konstitutif bagi aturan Hukum 2.1.Treaty Banning Nuclear Weapon Tests
Internasional atau kriteria untuk menyatakan in the Atmosphere, in Outer Space and
bahwa Hukum Internasional atau bukan, ini Underwater of August 5, 1963.
sebagai landasan Hukum Internasional sebagai 2.2.Treaty on Extradition between the
suatu sistem dari peraturan-peraturan yang United States of America and Japan of
membentuknya, yaitu kesepakatan Negara- March 3, 1978.
Negara menurut Corbett. 2. Konvensi, digunakan untuk perjanjian-
Ketiga, sumber dalam arti manisfestasi relevan perjanjian internasional yang multilateral
atas dasar mana ada tidaknya unsur konstitutif yang mengatur masalah besar dan penting
dapat dibuktikan dan dalam konsepnya dan berlaku sebagai kaidah hukum
Brownlie sebagai sumber material. Dalam internasional berlaku secara khas, seperti:
Hukum Internasional, subyek-subyek itu 2.1.Convention on the Prevention and
sendiri merupakan pembentuk hukum Punishment of the Crime of Genocide
(legislator) tidak selalu terdapat prosedur of December 9, 1948.
serupa. Akibatnya, persoalan tentang apakah 2.2.Convention on the Law of the Sea of
suatu peraturan sungguh-sungguh merupakan December 10, 1982.
peraturan internasional harus dijawab atas dasar 3. Deklarasi, pernyataan atau pengumuman
fenomena yang tidak begitu formal dan dan isinya kesepakatan yang bersifat umum
terstruktur, yang dalam ha1 ini diberi istilah dan pokok-pokoknya saja, menurut J.G.
“manifestasi unsur konstitutif”. Jadi, Hukum Starke dibedakan 4 macam:
Internasional harus memenuhi dua persyaratan, 3.1.Deklarasi sebagai suatu perjanjian
yaitu derajat kepastian dan kejelasan setinggi- dalam arti yang sejati, seperti:
Deklarasi Paris 1856; Deklarasi Republic of India Relating to the
Bangkok 8 Agustus 1967; Universal Delimination of the Continental Shelf
Declaration of Human Rights, 10 Boundary between the Two Countries,
Desember 1948. August 8, 1974.
3.2.Deklarasi sebagai suatu instrumen yang 8. Perjanjian, arti generik untuk menyangkut
tidak formal yang dilampirkan pada segala bentuk, jenis, macam perjanjian
suatu perjanjian (konvensi atau traktat). internaional, arti spesifik digunakan untuk
3.3.Deklarasi sebagai persetujuan informal perjanjian-perjanjian internasional yang
yang berhubungan dengan masalah penting, besar baik yang menyangkut
tidak begitu penting. Bilateral dan Multilateral. Dalam praktek
3.4.Deklarasi sebagai sebuah resolusi yang di Indonesia: Perjanjian disahkan dengan
dikeluarkan dalam suatu konperensi UU, sedangkan Persetujuan dengan
diplomatik yang berisi beberapa keputusan Presiden.
pernyataan tentang beberapa prinsip 9. Pakta, biasanya digunakan dalam
yang harus dihormati oleh semua perjanjian yang berkaitan dengan bidang
Negara, seperti: mliter dan pertahanan, seperti: NATO;
− Declaration on the Prohibition of Pakta Warsawa.
Military, Political, or Economics 10. Protokol, menurt J.G. Starke merupakan
Coercion in the Conclution of jenis Perjanjian Internasional yang kurang
Treaty (Konvensi Wina 1969); formal, jika dibandingkan dengan traktat,
− Declaration of Principles sebagai instrumen pembantu pada suatu
Governing the Seabed and the konvensi, tetapi berkedudukan secara
Ocean Floor, and the Subsoil berdiri sendiri dan tunduk pada ratifikasi
thereof, Beyond the Limit of atas konvensi itu sendiri.
National Jurisdiction.
4. Statuta, biasa dipergunakan untuk Teori Kewenangan jabatan kenegaraan
perjanjian-perjanjian internasional yang pada setiap sistem pemerintahan, wajib
dijadikan sebagai konstitusi suatu dipertautkan dengan pembagian kekuasaan
Organisasi Internasional, seperti Statute of Negara, untuk menentukan batas dan
Permanent Court of lnfernafional Justice; tanggungjawab masing-masing lembaga,
Statute of International Court of Justice. sesuai dengan prinsip dan hakikat pembagian
5. Piagam, dipergunakan untuk Perjanjian kekuasaan, berikut:
Internasional yang dijadikan sebagai (1) Setiap kekuasaan wajib
konstitusi suatu Organisasi Internasional, dipertanggungjawabkan;
seperti Charter of the Unifed Nations; (2) Setiap pemberian kekuasaan harus
Charter of the Organization of African dipikirkan beban tanggung jawab untuk
Unity; Charter of the Organization of setiap penerima kekuasaan;
American States 1948. (3) Kesediaan untuk melaksanakan tanggung
6. Kovenan, artinya hampir sama dengan jawab harus secara inklusif sudah
Piagam, digunakan sebagai konstitusi suatu diterima pada saat menerima kekuasaan;
Organisasi Internasional, seperti: Covenan (4) Tiap kekuasaan dittentukan batasnya
of the League of Nations; International dengan teori kewenangan.
Covenan on Civil and Political Rights of
December 16, 1966; International Covenan Dalam teori beban tanggung jawab,
on Economic, Social, and Cultural Rights, ditentukan oleh cara kekuasaan itu diperoleh
December 16, 1966. yaitu: pertama-tama kekuasaan diperoleh
7. Persetujuan, digunakan untuk Perjanjian melalui attributie, setelah itu dilakukan
Internasional yang ditinjau dari segi isinya pelimpahan (afgeleid) yang dilakukan dengan
lebih tehnis administratif, seperti: dua cara: delegatie dan mandaat. Delegatie
− Agreement between the Government of dilakukan oleh yang punya wewenang dan
the Republic of Indonesia and the hilangnya wewenang dalam jangka waktu
Government of the Commonwealth of tertentu, penerima bertindak atas nama diri
Australia Establishing Certain Seabed sendiri dan bertanggungjawab secara eksternal.
Boundaries, May 18, 1971. Sedangkan, mandaat tidak menimbulkan
− Agreement between the Government of pergeseran wewenang dari pemiliknya,
sehingga tanggung jawab pelaksanaan tetap
the Republic of Indonesia and the
berada pada pemberi kuasa. Penerima
kewenangan atribusi, tergantung pada pola menguji ketentuan-ketentuan internasional
sistem pembagian kekuasaan yang membawa yang akan menjadi bagian Hukum Nasional
nilai kedaulatan rakyat dan menghindari dan dalam praktek juga tidak jelas Indonesia
absolutisme. menganut monisme atau dualisme dalam
hubungan Hukum Nasional dengan Hukum
Ketentuan Hukum lnternasional Dalam Internasional. Praktek dari tahun 1945-1960
Hukum Nasional tidak ada ketentuan, baru tahun 1960 keluar
Surat Presiden No. 2826/HK/1960 dan
Meletakkan Hukum Internasional dalam kemudian lahir Undang-Undang No. 24 Tahun
sistem hukum Indonesia dalam teori dan 2000 tentang Perjanjian Internasional. Tetapi,
praktek tidak mudah, karena sistem nasib Surat Presiden No. 2826/HK/1960 tidak
ketatanegaraan Indonesia masih mengandung jelas, apa sudah dicabut atau belum.
problema pada grand unified theory
ketatanegaraan, sehingga praktek Ketentuan Peraturan Perundang-
ketatanegaraan selama ini (sejak proklamasi Undangan.
sampai sekarang) tidak pernah dapat Undang-Undang No. 24 Tahun 2000, tidak
melengkapi dan memperkuat struktur singkrun dengan Jiwa dan Semangat UUD
ketatanegaran Indonesia, tetapi justru makin NRI 1945 sebagai mana diamanatkan
memburamkan sistem ketatanegaraan Pembukaan UUD NRI 1945, kurang pas
Indonesia. Dalam mengkaji pengaturan, posisi, dengan struktur pembagian kekuasaan Negara,
dan status Hukum Internasional dalam sistem hirarki peraturan perundang-undangan, jika
hukum Indonesia, harus dilihat dalam UUD diletakkan pada posisi dan hirarki Hukum
NRI 1945 dan ketentuan perundang-undangan. Internasional. Ketentuan Undang-Undang No.
Pengaturan dalam UUD baru diatur pada 24 Tahun 2000 yang akan menimbulkan
amandemen UUD 1945 (2001 dan 2002), berbagai implikasi dan persoalan teoritik dan
sebelumnya tidak diatur, hanya diatur dengan praktek, yang dapat dipertanyakan dan digugat
Surat Presiden No. 2826/HK/1960 dan dalam prakteknya, berikut: Pasal 1 ayat (2)
kemudian lahir Undang-Undang No.24 Tahun Pengesahan adalah perbuatan hukum untuk
2000 tentang Perjanjian Internasional. mengikatkan diri pada suatu Perjanjian
Internasional dalam bentuk ratifikasi
Ketentuan UUD NRI 1945 (ratification), aksesi (accession), penerimaan
Pasal 11, UUD (acceptance) dan
“Meletakkan Hukum Internasional dalam
NRI 1945 Ayat (1) sistem hukum Indonesia dalam teori dan persetujuan
Presiden dengan praktek tidak mudah, karena sistem (approval).
persetujuan Dewan ketatanegaraan Indonesia masih Kesemuanya itu
Perwakilan Rakyat mengandung problema pada grand dalam bentuk hukum
menyatakan perang, unified theory ketatanegaraan, sehingga apa bisa dilakukan
praktek ketatanegaraan selama ini (sejak
membuat perdamaian proklamasi sampai sekarang) tidak
dalam warna hirarki
dan perjanjian dengan pernah dapat melengkapi dan perundang-undangan
Negara lain. Ayat (2) memperkuat struktur ketatanegaran lndonesia dan juga
Presiden dalam Indonesia, tetapi justru makin dalam hirarki warna
membuat Perjanjian memburamkan sistem ketatanegaraan Hukum Internasional.
Indonesia.”
Internasional lainnya Bagi dunia
yang menimbulkan internasional soal
akibat yang luas dan sumber Hukum
mendasar bagi Internasional dalam
kehidupan rakyat yang terkait dengan beban pelaksanaannya masih menjadi perdebatan
keuangan Negara, dan/atau mengharuskan baik secara teoritik maupun praktek, bahkan
perubahan atau pembentukan Undang-Undang ada yang menuduh bahwa Hukum
harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Internasional itu bukan hukum. Pasal 1 ayat (3)
Rakyat (Ayat (3)). Ketentuan lebih lanjut Surat Kuasa (full powers) adalah surat yang
tentang Perjanjian Internasional diatur dengan dikeluarkan oleh Presiden atau Menteri yang
Undang-Undang. Ketentuan Pasal 11 UUD memberikan kuasa kepada satu atau beberapa
NRI 1945 belum cukup mengatur posisi dan orang yang mewakili Pemerintah RI untuk
kedudukan Hukum Internasional dalam sistem menandatangani atau menerima naskah
Hukum Tata Negara Indonesia dan Pasal 11 ini perjanjian. Perjanjian menyatakan persetujuan
belum bisa dijadikan payung hukum jika Negara untuk mengikatkan diri pada perjanjian
adalah menyelesaikan hal-ha1 yang diperlukan Dari hasil kajian terhadap reference paper dapat
dalam perbuatan Perjanjian Internasional. diambil suatu komentar dan masukan,
Sesuatu yang sulit bisa diterima bahwa bagaimana meletakkan Perjanjian Internasional
Presiden atau Menteri dapat memberikan Surat dalam kerangka Hukum Nasional.
Kuasa kepada seorang atau beberapa orang 1. Penempatan Perjanjian Internasional dalam
“Dapatkah DPR dan Presiden kerangka Hukum Nasional selama ini trgantung
mengesahkan Perjanjian Internasional dari selera penguasa, karena UUD 1945 atau
yang bertentangan dengan hukum UUD NRI 1945 tidak tegas memberikan asas
nasional, secara teoritik tidak boleh,
tetapi dalam ha1 apa pertentangan itu
sebagai landasan untuk praktek yang nantinya
terjadi dan apakah bertetangan dalam sebagai bagian penyempurnaan sistem
arti filosofis, jika ya maka tidak bisa ketatanegaraan dan praktek harus mengarah
diratifikasi.” kearah itu.
2. Kerancuan pilihan dalam praktek selama ini
untuk menentukan hubungan Hukum Nasional
untuk mewakili Negara Indonesia untuk dengan Hukum Internasional, untuk Indonesia
menyetujui dan menandatangani Perjanjian yang paling tepat menggunakan prinsip
Internasional. Menteri sebagai pembantu dualisme, karena dari segi struktur
Presiden dalam tugas keeksekutifan, ketatanegaraan Indonesia belum memiliki grand
memberikan Surat Kuasa kepada seseorang unified desain.
atau beberapa orang untuk menyetujui dan 3. Karakter sistem hukum Indonesia dipengaruhi
menandatangani Perjanjian Internasional, sama oleh sistem hukum civil law system dan common
juga persoalan yang akan ditimbulkan oleh law system, pengaruh kedua sistem ini belum
Pasal 1 ayat Pasal 2 Menteri memberikan mampu disintesakan yang melahirkan asas
pertimbangan politis dan mengambil langkah- hukum yang menjadi pilihan sesuai dengan jiwa
langkah yang diperlukan dalam perbuatan dan dan karakter bangsa Indonesia.
pengesahan Perjanjian Internasional, dengan 4. Keanehan yang terjadi dalam praktek, seperti
berkonsultasi dengan DPR dalam hal yang suatu ketika menggunakan logika monisme, saat
menyangkut kepentingan publik. Tidak bisa yang lain menggunakan dualisme, bahkan
membedakan mana Pemerintah (eksekutif) campuran antara keduanya ini disebabkan tidak
dengan Menteri sebagai pembantu Presiden ada ketegasan prinsip yang diatur dalam UUD
dalam melaksanakan tugas keeksekutifan, dan Pasal 11 UUD NRI 1945 belum cukup
sepertinya Menteri sebagai lembaga tinggi mengatur.
Negara, tetapi Menteri disini mewakili 5. Bagaimana ratifikasi sebuah Perjanjian
Pemerintah (eksekutif). Pasal 3 Pemerintah RI Internasional, apakah dalam bentuk Undang-
mengikatkan diri pada Perjanjian Internasional Undang atau Perpres harus dilihat dari hirarki
melalui cara-cara, sebagai berikut: Hukum Nasional dengan muatan materi untuk
(1) penandatanganan; meletakkan hirarki Hukum Internasional dengan
(2) pengesahan; materi muatannya. Jikapun Indonesia memilih
(3) pertukaran dokumen perjanjian/nota prinsip monisme harus ke primat Hukum
diplomatik; Nasional, kesadaran politik yang belum mapan
(4) cara-cara lain sebagaimana disepakati para yang membuat Indonesia sering dirugikan akibat
pihak dalam Perjanjian Internasional. Perjanjian Internasional.
6. Ratifikasi Perjanjian Internasional harus
Pasal 10, pengesahan Perjanjian merupakan bagian dari Hukum Nasional, asalkan
Internasional dilakukan dengan Undang- tidak bertentangan dengan UUD NRI 1945
Undang, apabila berkenaan dengan: merupakan sebuah prinsip, tetapi UUD NRI
a. masalah politik, perdamaian, pertahanan 1945 masih belum memenuhi syarat sebagai
dan keamanan Negara; fundamental norm Negara.
b. perubahan wilayah atau penetapan batas 7. Secara teori bisa saja menggunakan format
wilayah Negara RI; Perppu untuk meratifikasi sebuah Perjanjian
c. kedaulatan atau hak berdaulat Negara; Internasional, tetapi akan menjadi dilematis bagi
d. hak asasi manusia dan lingkungan hidup; pemerintah, jika Perpu itu ditolak di DPR.
e. pembentukan kaidah hukum baru; 8. Tentang ratifikasi UNCLOS 1982 melalui
f. pinjaman dan/atau hibah luar negeri. Undang-Undang No.17 Tahun 1985, maka
terjadi perubahan rejim perairan dari internal
Komentar waters menjadi archipelagic waters. Undang-
Undang No. 17 Tahun 1985 dapat dijadikan
untuk pemberlakuan rejim archipelagic waters. PROF. DR. IBRAHiM R. SH. MH.
Oleh sebab itu, ratifikasi suatu Perjanjian • Lahir di Sekotong Lombok, 28 Nopember
Internasional harus sudah dipikirkan, apa-apa dan 1955.
ketentuan apa saja yang dipengaruhinya dan • S1 Fakultas Hukum Unud;
• S2 Pascasarjana Unpad;
menguntungkan Indonesia atau merugikan.
• S3 Pascasarjana Unpad;
9. Dapatkah DPR dan Presiden mengesahkan
• Guru Besar Fakultas Hukum Universitas
Perjanjian Internasional yang bertentangan Udayana;
dengan hukum nasional, secara teoritik tidak • Dosen Pascasarjana Unud, mengajar di
boleh, tetapi dalam ha1 apa pertentangan itu Pascasarjana Unram, mengajar di
terjadi dan apakah bertetangan dalam arti Program Pascasarjana (Magister dan
filosofis, jika ya maka tidak bisa diratifikasi. Doktor) Unibraw.
10. Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang
Penanaman Modal, merupakan Undang-Undang
yang dilahirkan dengan menabrak Undang-
Undang No. 5 Tahun 1960, karena Undang-
Undang No. 25 Tahun 2007 syarat dengan
kepentingan investasi dan banyak Undang-
Undang yang dilahirkan untuk kepentingan
kelompok baik kepentingan kelompok dalam
negeri maupun kepentingan kelompok luar
negeri, bukan untuk kepentingan Bangsa
Indonesia.
11. Dari sekian banyak bentuk dan istilah yang
dipergunakan dalam Perjanjian Internasional,
maka ratifikasi menjadi sangat penting dilakukan
dalam bentuk Undang-Undang.
12. Subyek Hukum Internasional adalah Negara,
dalam ha1 ini diwakili oleh Pemerintah
(eksekutif), maka lembaga yang lain tidak bisa
melakukan Perjanjian Internasional secara
langsung, harus melalui pintu Pemerintah
(eksekutif) yang mewakili Negara sebagai subyek
Hukum Internasional.
13. Setiap lembaga atau instansi yang akan
melakukan Perjanjian Internasional, harus dilihat
dari segi subyek hukum, apakah organisasi
ASEAN merupakan Subyek Hukum
Internasional, jika ya berarti boleh, tetapi karena
ASEAN sebagai organisasi bukan sebagai Negara
yang berdaulat, maka perjanjian yang harus
dibuat hanya kapasitas untuk melaksanakan
Piagam ASEAN.

HJ. SUPARTI HADHYONO


PRAKTEK PENERAPAN PERJANJIAN INTERNASIONAL
DALAM PUTUSAN HAKIM

“Hakim tidak boleh menolak perkara yang diserahkan kepadanya dengan


dalih tidak ada aturan hukumnya atau kurang jelas, melainkan wajib untuk
memeriksa dan mengadilinya (pasal 16 ayat (1) Undang-Undang No. 4
Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman).”

Pengantar − The United Nations Convention on the


Law of the Sea (UNCLOS) (Konvensi
Tugas Hakim adalah menerima, memeriksa Hukum Laut Tahun 1982) yang diratifikasi
dan mengadili atau memutus perkara yang melalui Undang-Undang No. 17 Tahun
diserahkan kepadanya. Sehubungan dengan 1985, tetap memerlukan Undang-Undang
tugasnya ini, Hakim tidak boleh menolak No. 6 Tahun 1996 tentang Perairan.
perkara yang diserahkan kepadanya dengan − Convention on Psychotropic Substances
dalih tidak ada aturan hukumnya atau kurang 1971 (Konvensi Psikotropika Tahun 1971)
jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan yang disahkan (diratifikasi) melalui
mengadilinya (pasal 16 ayat (1) Undang- Undang-Undang No. 8 Tahun 1996, masih
Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan memerlukan Undang-Undang No. 5 Tahun
Kehakiman). Terfokus pada tugas Hakim ini 1997 tentang Psikotropika.
maka Hakim harus tetap mengadili/memutus − The United Nations Convention Against
suatu perkara, meskipun hukumnya tidak ada Corruption 2003 (Konvensi PBB Anti
atau kurang jelas. Korupsi Tahun 2003) telah disahkan
melalui Undang-Undang No. 7 Tahun
Bahwa sumber hukum positif yang berlaku 2006, meskipun Indonesia telah memiliki
di Indonesia termasuk Perjanjian Internasional Undang-Undang No. 31 Tahun 1999
yang telah diratifikasi oleh Pemerintah atau tentang pemberantasan tindak pidana
Negara RI menjadi sangat penting artinya korupsi, dan masih banyak konvensi-
mengingat tugas dari Hakim tersebut di atas. konvensi yang setelah diratifikasi masih
memerlukan Undang-Undang lagi yang
Perjanjian Internasional yang telah bersifat Nasional.
ditransformasi kedalam Hukum Nasional RI b) Terdapat Perjanjian Internasional yang
tentu akan mengikat para Hakim tersebut dalam setelah diratitikasi dapat langsung
memeriksa dan memutus perkara yang diimplementasikan, yaitu Konvensi Wina
berhubungan dengan Perjanjian Internasional Tahun 1961 dan Tahun 1963 tentang
dimaksud. Namun demikian Hakim tidak Hubungan Diplomatik dan Hubungan
terikat secara mutlak oleh Perjanjian tersebut Konsuler, yang diratifikasi melalui Undang-
bila tidak sesuai dengan kondisi Indonesia, Undang No. 1 Tahun 1982.
tidak sesuai dengan tertib hukum Indonesia
maupun tidak sesuai dengan rasa keadilan Terkait dengan tindakan suatu Negara yang
masyarakat Indonesia. sifatnya publik yakni tindakan Negara dalam
kapasitas sebagai Negara yang berdaulat,
I. Perjanjian lnternasional bagi Negara RI Indonesia dalam meratifikasi Perjanjian
dapat ditarik benang merah sbb: Internasional banyak diadakan Reservation
(persyaratan). Misalnya dalam mengesahkan
Dalam praktek, Indonesia memandang Konvensi Psikotropika Tahun 1971, Indonesia
kedudukan Hukum Internasional dalam sistem tidak terikat pada ketentuan tersebut. Indonesia
Hukum Nasional berpandangan: berpendapat bahwa: apabila terjadi
a) Meski Perjanjian Internasional sudah perselisihan akibat perbedaan penafsiran dan
diratifikasi dengan Undang-Undang, Namun penerapan isi konvensi yang tidak
untuk dapat diimplementasikan secara nasional terselesaikan melalui jalur sebagaimana diatur
masih dibutuhkan Undang-Undang lagi. dalam ayat (1) Pasal tersebut, dapat menunjuk
Misalnya: Mahkamah Internasional hanya berdasarkan
“Masalahnya adalah, apakah Perjanjian
Internasional yang sudah disahkan Undang-Undang yang sah secara formal
(diratifikasi) oleh Pemerintah, termasuk
atau menjadi Hukum Positif yang
harus mendapat persetujuan DPR, dengan
berlaku di Indonesia.” mekanisme; bila inisiatif datang dari
Pemerintah atau kekuasaan eksekutif/Presiden,
berdasarkan Pasal 5 ayat (1), atau dapat juga
kesepakatan para pihak yang bersengketa. berdasarkan inisiatif DPR sendiri berdasarkan
Demikian pula terhadap ratifikasi United Pasal 21 ayat (1), selanjutnya diundangkan
Nations Convention Against Corruption Tahun oleh Pemerintah in casu Presiden, berdasarkan
2003, dengan Reservation terhadap Pasal 66 Pasal 20 ayat (4) UUD (vide UUD 1945,
ayat (2) tentang Penyelesaian Sengketa, yang perubahan pertama).
substansinya pada pokoknya sama dengan
persyaratan dalam ratifikasi Konvensi Masalahnya adalah, apakah Perjanjian
Psikotropika Tahun 1971 tsb. Hal ini penting Internasional yang sudah disahkan
artinya bagi Penegak Hukum (Hakim) dalam (diratifikasi) oleh Pemerintah, termasuk atau
mengambil putusan terhadap Hukum menjadi Hukum Positif yang berlaku di
Internasional yang telah diratifikasi itu, apakah Indonesia. Untuk menjawab masalah ini, kita
harus terikat secara mutlak dengan Perjanjian melihat kepada Undang-Undang
Internasional untuk keseluruhan atau tidak. pengesahan/ratifikasi Perjanjian Internasional.
Hakim disini harus sinkron dengan Political Misalnya Undang-Undang No. 7 Tahun 2006
Law dari Pemerintah atau Negara RI. tentang Pengesahan United Nations
Convention Against Corruption, 2003,
II. Di dalam mengambil suatu putusan ditetapkan:
seorang Hakim harus
mempertimbangkan 3 aspek, yakni Dengan persetujuan bersama
Legal Justice, Social Justice, dan Moral DPR RI dan
(filosofis) Justice. Presiden Republik Indonesia
Memutuskan;
Pertama-tama yang akan dipertimbangkan Menetapkan.........dst,
adalah dalam segi juridisnya (Legal Justice).
Prinsip yang harus ditegakkan, Hakim dalam Bila dihubungkan dengan penciptaan
menjatuhkan putusan adalah upaya mencari dan undang-undang yang telah diatur UUD yang
menemukan hukum obyektif yang hendak sah secara formal harus mendapat persetujuan
diterapkan, harus dari sumber hukum yang DPR, bila inisiatif datang dari Pemerintah
dibenarkan oleh ketentuan Peraturan (eksekutif) dan telah mendapat persetujuan
Perundang-undangan yang dalam hal ini adalah DPR adalah merupakan produk Hukum Positif
ketentuan Hukum Positif. yang berlaku di Indonesia.

Di dalam sistem Civil Law atau Statute Law Karenanya sebagai sumber hukum utama,
System (Sistem Hukum Perundang-undangan). yakni hukum positif yang berlaku, maka
Sumber hukum utamanya adalah Hukum Hakim harus menerapkan Perjanjian
Positif dalam bentuk kodifikasi. Berdasarkan Internasional yang telah disahkan tsb. dalam
asas konkordansi, sistem ini dianut di Indonesia pertimbangan jurisdiksinya.
sampai sekarang.
Hakim terikat dengan Perjanjian
Salah satu ciri pokok Hukum Positif adalah Internasional tersebut yang tentunya dengan
diciptakan secara formil yakni sengaja segala reservation sebagaimana political law
diciptakan secara tertulis, penciptaannya dari Pemerintah RI.
melalui proses dan prosedur yang ditentukan
Hukum Tata Negara dan yang berwenang Maka jelaslah dalam memutus suatu
menciptanya hanya Badan yang secara perkara yang ada hubungannya dengan
konstitusional ditetapkan dalam UUD. Perjanjian Internasional, Hakim terikat dengan
Perjanjian Internasional yang telah disahkan
Di Indonesia penciptaan Undang-Undang oleh Pemerintah RI, yang biasanya masih
telah ditentukan dalam Pasal 5 ayat (1) dan memerlukan Undang-Undang lagi secara
Pasal 20 ayat (1) UUD 1945, (pembahasan nasional dalam implementasinya.
pertama UUD 1945, tanggal 19 Oktober 1999).
2) Apabila Hakim tidak menemukan Mengenai aspek social justice, Hakim
peraturan perundang-undangan atau harus mempertimbangkan pula dalam
peraturannya tidak jelas, untuk dasar mengadili suatu kasus, tentang aspek
pertimbangan putusan, Hakim dapat sosiologinya yakni tentang pendapat
menemukan dari sumber hukum tidak tertulis, masyarakat mengenai kasus yang dimaksud.
dalam hal ini hukum adat yang masih tetap Namun Hakim tidak diperkenankan semata-
diakui sebagai tata hukum di Indonesia. mata mengikuti Public Opinion ini, yang
Kebijakan politik hukum tersebut masih tetap akhirnya akan bertentangan dengan kebebasan
dipertahankan dalam pasal 25 ayat (1) Undang- Hakim sebagaimana diamanatkan oleh pasal 1
Undang No. 4 Th 2004 tentang Kekuasaan Undang-Undang No 4 Th 2004 tentang
Kehakiman. Kekuasaan Kehakiman bahwa; Kekuasaan
Kehakiman adalah kekuasaan negara yang
3) Sumber lain tempat Hakim mencari dan merdeka untuk menyelenggarakan peradilan
menemukan hukum yang hendak diterapkan guna menegakkan hukum dan keadilan
dalam penyelesaian perkara yang ditanganinya berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya
adalah Yurisprudensi. Bila suatu kasus yang Negara Hukum RI. Kekuasaan Kehakiman
disengketakan tidak diketemukan aturan yang merdeka mengandung pengertian bahwa
hukumnya dalam hukum positif dan juga tidak kekuasaan kehakiman bebas dari segala
ada dijumpai dalam hukum tidak tertulis, campur tangan pihak kekuasaan ekstra
Hakim dibenarkan mencari dan menemukannya yudisial. Jadi dalam memeriksa dan
dari Yurisprudensi. mengambil suatu putusan, Hakim diharuskan
pula memperhatikan aspek sosiologisnya, agar
Mengapa Hakim berkewajiban mencari dan putusan tersebut berimbang antara segi
menemukan hukum obyektif atau hukum Juridisnya dan segi pendapat
materiil yang akan diterapkan dalam perkara umum/masyarakat terhadap suatu kasus.
yang sedang diperiksa yang selanjutnya akan
diputus; hal ini disebabkan karena adanya asas; Sedang mengenai aspek filosofinya (
bahwa pengadilan / Hakim tidak boleh menolak moral justice ) yang melandasi Hakim dalam
memeriksa dan mengadili perkara dan adanya memeriksa dan mengambil suatu putusan
asas / prinsip JUS CURIA NOVIT. adalah tidak kalah pentingnya. Sebagai bangsa
yang religius, Hakim akan menyandarkan
Asas bahwa pengadilan / Hakim tidak boleh putusannya pada sang Khalik, yang
menolak memeriksa dan mengadili perkara dimanifestasikan dengan irah-irah dalam suatu
dengan dalih hukum yang mengatur tidak ada putusan “DEMI KEADILAN
atau kurang jelas tertera dalam pasal 16 ayat (1) BERDASARKAN KETUHANAN YANG
Undang-Undang No. 4 tentang Kekuasaan MAHA ESA”. Dasar filosofinya adalah bahwa
Kehakiman. putusan yang telah diambil oleh Hakim itu
diserahkan dan diharapkan mendekati rasa
Dalam hal apabila memang tidak ada atau keadilan hakiki yang adanya hanya pada
kurang jelas hukumnya, Hakim wajib untuk kekuasaan Allah semata. Hal ini diupayakan
memeriksa dan mengadilinya, dengan cara oleh Hakim dalam memeriksa dan mengambil
berpedoman pada ketentuan pasal 28 ayat (1) putusan perkara yang diajukan kepadanya,
Undang-Undang No. 4 Th 2004 tentang dengan landasan nurani yang jernih dan
Kekuasaan Kehakiman, yakni Hakim sebagai bening, diserahkan kepada KEADILAN yang
penegak hukum dan keadilan wajib menggali, Agung milik Tuhan Yang Maha Esa.
mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum
yang hidup dalam masyarakat. III. Berdasarkan uraian bagaimana Hakim
dalam memeriksa dan mengambil suatu
Berdasarkan adagium Jus Curia Novit, putusan seperti tersebut diatas, lalu
Hakim dianggap mengetahui dan memahami bagaimana Hakim mengakomodasikan
segala hukum, dengan demikian Hakim yang hukum materiil yakni hukum positif
berwenang menentukan hukum obyektif / yang berlaku di Indonesia termasuk
materiil mana yang harus diterapkan sesuai Hukum Internasional yang sudah
dengan materi pokok perkara yang menyangkut ditransformasikan ke dalam Hukum
hubungan hukum pihak-pihak yang bersengketa Nasional dalam putusannya dapat
in konkreto. dijelaskan sbb;
Telah diuraikan di depan bahwa sebagai
hukum positif yang berlaku, perjanjian- Menurut E. BARNETT, bila terjadi rasa
perjanjian internasional yang telah disahkan keadilan berbenturan dengan hukum positif
Pemerintah RI, bagi para Hakim tentu terikat atau peraturan perundang-undangan yang
padanya, karena dalam memeriksa dan berlaku, maka agar kepastian hukum selaras
memutus perkara-perkara yang ada dengan rasa keadilan, hukum positif atau
relevansinya dengan Perjanjian Internasional perundang-undangan yang ada perlu
yang telah disahkan tersebut, niscaya Hakim “diluweskan”.
akan mencari dan menemukan hukum positif
dari Perjanjian Internasional dimaksud yang Jadi dalam mengakomodasi peraturan
akan diterapkan ke dalam pertimbangan dan perundang-undangan sebagai hukum positif
putusannya, sesuai dengan aspek Juridisnya. termasuk Hukum Internasional tidak secara
mutlak, harus disesuaikan dengan kondisi dan
Di dalam mengakomodasikan hukum- rasa keadilan baik rasa keadilan masyarakat
hukum / peraturan-peraturan pada putusannya dan rasa keadilan Hakim sendiri.
termasuk hukum internasional, seorang Hakim
tidak terpaku dalam pandangan yang legalistik. IV. Dari analisa sederhana ini dapat
Sebab disamping Hakim harus menerapkan disimpulkan bahwa;
segala peraturan perundang-undangan dan
hukum positif yang berlaku, Ia harus pula a) Di dalam membuat putusan, Hakim
dituntut untuk menerapkan rasa keadilan yang terikat dengan hukum positif yang
pada galibnya sering berbenturan dengan berlaku termasuk Perjanjian-Perjanjian
hukum positif yang berlaku, yang berupa Internasional yang telah disahkan oleh
Undang-Undang. Pemerintah RI, namun keterikatannya
itu tidak mutlak, disesuaikan dengan
Memang benar menerapkan hukum positif kondisi dan keadilan masyarakat atau
secara mutlak itu bertujuan untuk mencapai bangsa Indonesia sebagai Negara yang
kepastian hukum. Namun bila kepastian hukum bermartabat.
tercapai tetapi dengan mengorbankan rasa
keadilan, adalah merupakan suatu b) Sesuai dengan keterikatan Hakim terhadap
ketidakseimbangan. Perjanjian Internasional diatas, maka
Hakim dalam mengakomodasi Hukum
Dipaparkan disini dengan contoh, mengenai Internasional dalam putusan-putusannya
Undang-Undang No. 5 Th 1997 tentang adalah tidak secara mutlak pula. Bila
Psikotropika yang dibuat oleh Pemerintah RI Hukum Internasional tersebut tidak sesuai
berdasarkan Pengesahan Convention On dengan rasa keadilan masyarakat Indonesia
Psychotropic Substances 1971 (dengan dan kondisi kepentingan bangsa serta tertib
Undang-Undang No. 8 Th 1996). Bila misalnya hukum Indonesia, maka Hakim dapat
ada seorang pelajar / mahasiswa tanpa hak “meluweskan” Hukum Internasional yang
memiliki, menyimpan dan atau membawa 1 akan diterapkan di dalam putusan Hakim
(satu) butir atau ½ (setengah) butir pil ekstasi tersebut.
golongan I, kemudian tertangkap tangan apakah
harus dipidana penjara minimum 4 Tahun dan Demikian tentang sedikit uraian topik
denda paling sedikit Rp. 150.000.000,- diatas, dengan catatan bahwa pendapat dan
sebagaimana ketentuan pasal 59 Undang- pemikiran ini adalah pemikiran pribadi penulis
Undang No. 5 Tahun 1997 tentang sebagai Hakim yang di dukung oleh sebagian
Psikotropika. Dalam hal seperti ini rasa besar rekan-rekan Hakim Tinggi Jawa Timur
keadilan terasa terusik bila dihadapkan dengan namun tidak mewakili pendapat dan pemikiran
hukum positif yang berlaku berupa Undang- semua Hakim di Indonesia.
Undang meskipun maksud pembuat Undang-
Undang dalam penjatuhan pidananya bukan
kepada kuantitas obyek (barangnya).

Bila terjadi hal seperti ini dapat dikatakan


terdapat benturan antara rasa keadilan dengan
hukum positif yang berlaku, lalu bagaimana
Hakim dalam mengambil Putusannya?
Hj. Suparti Hadhyono
Hakim tinggi
pengadilan tinggi jawa timur

PROF. DR. MOHD. BURHAN TSANI, SH., MH.

STATUS HUKUM INTERNASIONAL DAN


PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM HUKUM
NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
(DALAM PERSPEKTIF HUKUM TATA NEGARA)
Pengantar dengan Hukum Internasional, mengatur
mengenai proses atau prosedur ratifikasi dan
Dalam Hukum Tata Negara Indonesia tidak pengangkatan serta penerimaan duta dalam
mudah untuk menemukan kaidah hukum yang ranah Hukum Nasional. Undang-undang yang
mengatur tentang status Hukum Internasional berkaitan dengan Hukum Internasional, seperti
dan Perjanjian Internasional dalam Hukum Undang-Undang No. 37 Tahun 1999 tentang
Nasional RI. UUD 1945 tidak mencantumkan Hubungan Luar Negeri dan Undang-Undang
satu pasal pun yang mengatur status tersebut. No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian
Pasal 11 dan 13 UUD 1945, yang ada kaitannya
Internasional juga tidak mencantumkan pasal Internasional dan Hukum Nasional. Dikenal
tersendiri yang mengatur status tersebut. ada dua paham yaitu dualisme dan monisme.

Indonesia sejak proklamasi Kemerdekaan Menurut paham dualisme Hukum


1945, sudah mengadakan interaksi dengan Internasional dan Hukum Nasional merupakan
Negara maupun Organisasi Internasional, yang dua sistem hukum yang secara keseluruhan
tunduk pada Hukum Internasional. Indonesia berbeda. Hakekat Hukum Internasional
sudah terlibat dalam pembuatan berbagai berbeda dengan Hukum Nasional. Hukum
Perjanjian Internasional. Permasalahan yang Internasional dan Hukum Nasional merupakan
dihadapi adalah bagaimana sikap Indonesia dua sistem hukum yang benar-benar terpisah,
terhadap keberadaan Hukum Internasional, dan tidak saling mempunyai hubungan superioritas
bagaimana Indonesia menerapkan Hukum atau subordinasi. Namun secara logika paham
Internasional, termasuk didalamnya Perjanjian dualisme akan mengutamakan Hukum
Internasional. Nasional dan mengabaikan Hukum
Internasional.
Pada tahun 1969, 1978 dan 1986. Indonesia
menetapkan bahwa yang mempunyai kapasitas Berdasarkan paham monisme Hukum
untuk membuat Perjanjian Internasional adalah Internasional dan Hukum Nasional merupakan
Presiden. Sekarang Indonesia mempunyai bagian yang saling berkaitan dari satu sistem
Undang-Undang mengenai Perjanjian hukum pada umumnya. Pengutamaan mungkin
Internasional yakni Undang-Undang No. 24 pada Hukum Nasional atau Hukum
“Cukup sulit menetapkan teori apa yang digunakan Indonesia. Indonesia tidak secara
tegas-tegas menerima teori inkorporasi. Tetapi Indonesia nampak cenderung secara
diam-diam menggunakan teori inkorporasi. Dalam menerapkan Hukum Kebiasaan
Internasional dan Hukum Internasional universal, Indonesia tidak pernah melakukan
tindakan yang dapat dikategorikan sebagai adopsi khusus.”

Tahun 2000. Internasional. Menurut faham monisme dengan


pengutamaan pada Hukum Nasional, Hukum
Pasal 13 UUD 1945 menunjukkan Internasional merupakan kelanjutan Hukum
kesediaan Indonesia mengakui keberadaan Nasional. Hukum Internasional merupakan
Hukum Diplomatik, yang juga masih berupa Hukum Nasional untuk urusan luar negeri,
Hukum Kebiasaan Internasional. Hukum paham ini cenderung mengabaikan Hukum
tentang hubungan diplomatik dan konsuler Internasional.
dituangkan dalam Perjanjian Internasional baru
tahun 1961, 1963, 1969, 1973, 1975 dan 1979. Berdasarkan paham monisme dengan
Indonesia menetapkan bahwa Presiden pengutamaan pada Hukum Internasional,
mempunyai kapasitas untuk mengangkat dan Hukum Nasional secara hirarkis lebih rendah
menerima duta dan konsul. Sekarang Indonesia dibandingkan dengan Hukum Internasional.
sudah memiliki Undang-Undang No. 37 Tahun Hukum Nasional tunduk pada Hukum
1999 tentang Hubungan Luar Negeri. Internasional dalam arti Hukum Nasional harus
sesuai dengan Hukum Internasional.
Permasalahan yang mungkin masih relevan
untuk dibahas adalah bagaimana sikap Negara Dimungkinkan ada monisme yang
ketika terjadi pesinggungan atau perbenturan menganggap bahwa Hukum Nasional sejajar
dan bahkan pertentangan antara Hukum dengan Hukum Internasional. Hubungan antara
Internasional dan Hukum Nasional. Hal ini keduanya saling melengkapi. Hal ini tercermin
mungkin terjadi dalam penerapan Perjanjian dalam Statuta Roma atau Konvensi tentang
Internasional di ranah Hukum Nasional. Terorisme Bonn.

Negara akan mengutamakan Hukum Hukum Internasional tidak mewajibkan


Internasional atau Hukum Nasional? bahwa suatu Negara harus menganut paham
dualisme atau monisme. Dalam praktek pilihan
Permasalahan pengutamaan dapat pengutamaan pada Hukum Nasional atau
diselesaikan dengan menggunakan paham Hukum Internasional, ditentukan oleh
(teori) dalam hubungan antara Hukum preferensi etnis atau preferensi politis. Bagi
pandangan yang mempunyai sikap politis
nasionalis, akan mengutamakan Hukum 1. kapan ketentuan Perjanjian Internasional
Nasional. Sebaliknya bagi pandangan yang berlaku dalam Hukum Nasional;
simpatik pada Internasionalisme, akan 2. cara bagaimana ketentuan Perjanjian
mengutamakan Hukum Internasional. Internasional dijadikan Hukum Nasional.

Dalam UUD 1945 maupun Undang-Undang Prosedur dan metode yang digunakan
yang ada sekarang, belum ada ketentuan Negara merupakan suatu kelanjutan proses,
(pasal), yang secara tersendiri menentukan yang dimulai dengan penutupan (persetujuan)
sikap Indonesia. Bertumpu pada pengakuan suatu Perjanjian Internasional. Tidak ada
Indonesia terhadap keberadaan Hukum transformasi. Tidak ada penciptaan
Internasional, Indonesia menganut paham (pembuatan) aturan hukum atau Hukum
monisme. Berdasarkan praktek, Indonesia Nasional yang benar-benar baru. Yang
cenderung pada monisme dengan pengutamaan dilakukan hanya merupakan kelanjutan
Hukum Internasional. (perpanjangan) dari satu perbuatan penciptaan
yang tunggal. Syarat-syarat konstitusional
Masalah berikutnya yang perlu diperhatikan hukum nasional hanya merupakan bagian dari
adalah bagaimanakah penerapan Hukum satu kesatuan mekanisme penciptaan
Internasional dalam ranah Hukum Nasional (pembuatan) hukum.
Indonesia. Mengenai hal ini ada beberapa teori
yang dikenal dalam Hukum Internasional, yaitu Cukup sulit menetapkan teori apa yang
teori transformasi, delegasi, dan inkorporasi. digunakan Indonesia. Indonesia tidak secara
tegas-tegas menerima teori inkorporasi. Tetapi
Menurut teori inkorporasi Hukum Indonesia nampak cenderung secara diam-
Internasional dapat diterapkan dalam Hukum diam menggunakan teori inkorporasi. Dalam
Nasional secara otomatis tanpa adopsi khusus. menerapkan Hukum Kebiasaan Internasional
Hukum Internasional dianggap sudah menyatu dan Hukum Internasional universal, Indonesia
ke dalam Hukum Nasional. Teori ini berlaku tidak pernah melakukan tindakan yang dapat
untuk penerapan Hukum Kebiasaan dikategorikan sebagai adopsi khusus.
Internasional dan Hukum Internasional
universal. Indonesia nampak tidak sepenuhnya
menggunakan teori transformasi. Dalam
Dalam penerapan Hukum Internasional, penerapan Perjanjian-Perjanjian Internasional
yang bersumber dari Perjanjian Internasional yang berlakunya tidak memerlukan ratifikasi,
ada dua teori, yaitu teori transformasi dan teori Indonesia belum pernah membuat perundang-
delegasi. Berdasarkan teori transformasi, undangan yang mengatur substansi perjanjian
Hukum Internasional yang bersumber dari yang telah ditandatangani.
Perjanjian Internasional dapat diterapkan di
dalam Hukum Nasional apabila sudah Berkenaan dengan Perjanjian-perjanjian
dijelmakan (ditransformasi) ke dalam Hukum Internasional yang berlakunya memerlukan
Nasional, secara formal dan substantif. Teori ratifikasi, Indonesia dapat dianggap ingin
transformasi mendasarkan diri pada pendapat menggunakan teori transformasi. Pengesahan
pandangan positivis, bahwa aturan-aturan perjanjian-perjanjian tersebut dituangkan
Hukum Internasional tidak dapat secara dalam bentuk Undang-Undang atau Peraturan
langsung dan “ex proprio vigore” diterapkan Presiden. Dalam hal ini dapat dianggap terjadi
dalam Hukum Nasional. Demikian juga penjelmaan dari Hukum Internasional menjadi
sebaliknya. Hukum Internasional dan Hukum Hukum Nasional. Akan tetapi perjanjian yang
Nasional merupakan sistem hukum yang benar- disahkan dilampirkan begitu saja seperti
benar terpisah, dan secara struktur merupakan aslinya, bukan dalam bentuk perundang-
sistem hukum yang berbeda. Untuk dapat undangan formal mengenai substansi
diterapkan ke dalam Hukum Nasional perlu perjanjian yang bersangkutan. Indonesia secara
proses adopsi khusus atau inkorporasi khusus. diam-diam menerima bahwa perjanjian yang
bersangkutan sudah menyatu dalam Hukum
Menurut teori delegasi, aturan-aturan Nasional. Untuk sepenuhnya menggunakan
konstitusional Hukum Internasional teori transformasi perlu dilampirkan
mendelegasikan kepada masing-masing perundang-undangan yang mengatur mengenai
konstitusi Negara, hak untuk menentukan: substansi yang termuat dalam perjanjian yang
bersangkutan.
PROF. DR. MOHD. BURHAN TSANI, SH., MH.
Guru Besar pada Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada.
pembuatan Perjanjian Internasional yang
Nampaknya Indonesia cenderung bersangkutan.
menggunakan teori delegasi. Pengesahan yang
dilakukan menurut Hukum Nasional Indonesia, Keterikatan Indonesia pada Perjanjian
merupakan bagian prosedur ratifikasi dalam Internasional yang bersangkutan, dilandaskan
ranah Hukum Nasional untuk memperoleh pada penyampaian instrumen ratifikasi dalam
instrumen ratifikasi, yang diperlukan prosedur ranah Hukum Internasional. Apabila Indonesia
ratifikasi dalam ranah Hukum Internasional. sudah menjadi Negara pihak, Indonesia wajib
Ratifikasi merupakan bagian prosedur melaksanakannya dengan itikad baik dan
pembentukan Hukum Internasional yang melakukan penyesuaian perundang-
dituangkan dalam perjanjian yang undangannya dengan Perjanjian Internasional
bersangkutan. yang sudah berlaku secara definitif.

Pasal 2 instrumen pengesahan telah Penutup


menetapkan kapan berlakunya perjanjian yang
bersangkutan dalam Hukum Nasional Praktek-praktek yang tidak ajeg dan
Indonesia. Ketentuan Perjanjian Internasional simpang siur yang mengakibatkan
dijadikan Hukum Nasional dengan Undang- permasalahan perlu diluruskan. Hasil
Undang atau Peraturan Presiden. Ketentuan pelurusan dirumuskan dengan baik dan
Perjanjian Internasional dijadikan Hukum disosialisasikan serta dikomunikasikan kepada
Nasional dengan Undang-Undang atau semua pengelola Negara dan Warga Negara.
Peraturan Presiden. Perjanjian Internasional Hasil akhirnya dituangkan dalam bentuk
yang bersangkutan dibiarkan dalam naskah perundang-undangan di bawah Undang-
aslinya. Prosedur yang dilaksanakan Undang Dasar.
merupakan bagian dari keseluruhan proses