Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN INVERTEBRATA LATIHAN 5 PHYLLUM ARTHROPODA (Ordo Odonata)

Disusun Oleh:

Nama NIM

: Zaid Wisnu Abdullah : A 420110101

LABORATORIUM BIOLOGI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2012/2013

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Praktikum Kerja Lapangan Mandiri ini telah diperiksa oleh Asisten Dosen Praktikum Sistematika Hewan Invertebrata dan telah disetujui oleh Dosen Pengampu Praktikum Sistematika Hewan Invertebrata Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Hari Tanggal Nilai

: : :

Surakarta, November 2012 Mengesahkan, Dosen Pengampu Asisten

Dwi Setyo Astuti, M.Pd

Artista Khoirina Dewi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Mendengar Esa dan atas segala limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya serta Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Sistematika Hewan Invertebrata ini sesuai dengan waktu yang telah direncanakan tanpa kendala yang berarti. Dalam penulisan Laporan Sistematika Hewan Invertebrata menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Allah SWT yang meridhoi penulis sehingga mampu menyelesaikan Laporan Sistematika Hewan Invertebrata. 2. Dosen Pembimbing Praktikum Sistematika Hewan Invertebrata Ibu Dwi Setya Astuti, M.Pd 3. Dosen Pengampu Mata Kuliah Sistematika Hewan Invertebrata Ibu Laila Lutfi R. 4. Asisten Praktikum Sistematika Hewan Invertebrata Artista Khoirina Dewi. 5. Kedua Orang Tua, dan seluruh pihak terkait yang membantu terselesaikannya laporan ini. Penulis menyadari bahwa Laporan Sistematika Hewan Invertebrata ini masih jauh dari kesempurnaan, maka saran dan kritik yang konstruktif dari semua pihak sangat diharapkan demi penyempurnaan selanjutnya. Akhirnya penulis mengucapkan banyak terima kasih dan dengan penuh harapan semoga Laporan Sistematika Hewan Invertebrata ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi penulis dan para pembaca. ini penulis ingin

Surakarta, 11 November 2012

Zaid Wisnu Abdullah

DAFTAR ISI

Hal HALAMAN JUDUL ...................................................................................................... i LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................................ ii KATA PENGANTAR .................................................................................................... iii DAFTAR ISI .................................................................................................................. iv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ..................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .............................................................................. 3 C. Tujuan ................................................................................................. 3 D. Manfaat Penelitian ............................................................................. 3 E. Alat dan Bahan ................................................................................... 3 F. Cara Kerja ........................................................................................... 4 BAB II BAB III TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 5 PEMBAHASAN 1. Spesies Anax junius ............................................................................. 11 2. Spesies Cordulegaster obliquus .......................................................... 12 3. Spesies Macromia magnifica .............................................................. 13 4. Spesies Pachydiplax longipennis ........................................................ 14 5. Spesies Neurothemis terminata ........................................................... 14 6. Spesies Trithemis festiva ..................................................................... 14 BAB IV PENUTUP ............................................................................................... 16 Kesimpulan ............................................................................................. 16 Saran........................................................................................................ 16 DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Jika jumlah spesies merupakan kriteria, makan filum inilah yang dewasa ini merupakan yang terbesar. Lebih dari 765.000 species arthropoda yang berbeda telah diidentifikasi. Jumlah ini adalh lebih besar dari pada jumlah dari seluruh spesies lain yang ada. Setiap tahun masih juga ditemukan spesies arthropoda yang baru, yang hidup di berbagai jenis habitat. Air tawar, air laut. Tanah dan dapat dikatakan hamper seluruh permukaan bumi penuh dengan arthropoda. Hewan-hewan ini hamper merupakansatusatunya jenis hean yang ditemukan di antariksa dan di lereng gunung-gunung yang penuh dengan salju dan batu-batuan. Semua anggota filum ini mempunyai tubuh bersegmen yang terbungkus dalam suatu eksoskeleton bersegmen yang kuat yang terdiri terutama atas kitin. Pada semua arthropoda yang hidup, anggota tubuh berbagai species memperlihatkan fungsi dan struktur yang sangat beraneka ragam. Disamping untuk lokomosi, anggota tubuh itu membantu dalam mendapatkan makanan, dalam penginderaan, dan sebagai senjata menyerang dan mempertahankan diri. Tidak seperti annelida, segmen arthropoda dari depan kebelakang menunjukkan variasi yang besar dalam struktur. Segmen-segmen ini biasanya dibagi dalam tiga daerah utama yaitu kepala, toraks, dan abdomen. Filum Arthropoda terdiri dari 4 Classis, yaitu Crustacea, Arachnaidea, Myriapoda (Chilopoda dan Diplopoda), dan Insecta. Crustacea (dalam bahasa latinnya, crusta= kulit) memiliki kulit yang keras. Udang, lobster, dan kepiting adalah contoh kelompok ini. Umumnya hewan Crustacea merupakan hewan akuatik, meskipun ada yang hidup di darat. Hewan ini memiliki ciri khas, yaitu rangka luar dari kitin yang keras. Rangka luar ini keras karena mengandung zat kapur. Hewan yang tergolong kelas Crustcea kebanyakan hidup di laut, sperti kutu air, udang karang, dan kepiting. Selain itu ada pula yang hidup di air tawar atau di darat pada tanah yang lembab. Arachnaidea (dalam bahasa yunani, arachno = laba-laba) disebut juga kelompok laba-laba, meskipun anggotanya bukan laba-laba saja. Kalajengking adalah salah satu contoh kelas Arachnaidea yang jumlahnya sekitar 32 spesies. Ukuran tubuh Arachnoidea

bervariasi, ada yang panjangnya lebih kecil dari 0,5 mm sampai 9 cm. Arachnoidea merupakan hewan terestrial (darat) yang hidup secara bebas maupun parasit. Arachnoidea yang hidup bebas bersifat karnivora. Myriapoda (Chilopoda dan Diplopoda) .Dalam system klasifikasi dapat berbeda antara satu system dan yang lainnya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan pendapat antara ilmuan di dunia pada system klasifikasi tertentu Diplopoda dan Chilopoda merupakan tingkat kelas, sedangkan pada system lain Diplopoda dan Chilopoda dikelompokkan dalam kelas Myriapoda Insecta (dalam bahasa latin, insecti = serangga). Banyak anggota hewan ini sering kita jumpai disekitar kita, misalnya kupu-kupu, nyamuk, lalat, lebah, semut, capung, jangkrik, belalang,dan lebah. Ciri khususnya adalah kakinya yang berjumlah enam buah. Karena itu pula sering juga disebut hexapoda. Insecta dapat hidup di bergagai habitat, yaitu air tawar, laut dan darat. Hewan ini merupakan satu-satunya kelompok invertebrata yang dapat terbang.Insecta ada yang hidup bebas dan ada yang sebagai parasit. Insecta sering disebut serangga atau heksapoda. Heksapoda berasal dari kata heksa berarti 6 (enam) dan kata podos berarti kaki. Heksapoda berarti hewan berkaki enam. Diperkirakan jumlah insecta lebih dari 900.000 jenis yang terbagi dalam 25 ordo. Hal ini menunjukkan bahwa banyak sekali variasi dalam kelas insecta baik bentuk maupun sifat dan kebiasaannya.( Alan, W .1994:156) Adapun yang melatar belakangi di adakannya praktikum ini yaitu untuk mengamati hewan-hewan yang tergolong Arthropoda serta mendeskripsikan dan menyusunnya dalam suatu klasifikasi.

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah kehidupan serangga pada ordo odonata, jelaskan dengan karakteristik, habitat, makanan, reproduksi, dan sistematikanya? 2. Apa peranan serangga Odonata bagi kehidupan manusia?

C. Tujuan 1. Untuk mengetahui kehidupan serangga pada ordo odonata yang meliputi: karakteristik, habitat, makanan, reproduksi, dan sistematikanya. 2. Untuk memahami dan menelaah berbagai peranan dan manfaat serangga bagi kehidupan manusia.

D. Manfaat 1. Memberikan pengetahuan pada pembaca mengenai kehidupan serangga ordo odonata melalui sumber-sumber yang relevan. 2. Menumbuhkan kesadaran pembaca tentang keanekaragaman serangga, peranan dan manfaatnya bagi kehidupan manusia. 3. Mengenal spesies-spesies dari ordo odonata. 4. Menumbuhkan kesadaran pembaca untuk tetap melestarikan keanekaragaman serangga dan tidak membiarkan serangga punah.

E. Alat dan Bahan 1. Alat dan Bahan : A. Alat tulis B. Pensil Warna C. Insecta Net D. Tabel data E. Buku determinan F. Toples G. Beberapa spesies dari Ordo Odonata H. Alkohol 0,3 % ( secukupnya ) ( ( ( ( ( ( 1 set 1 set 2 buah 1 buah 1 buah 1 buah ) ) ) ) ) )

F. Cara Kerja A. Menentukan tempat pencarian Ordo Odonata ini. B. Menangkap spesies dari Ordo Odonata minimal 2 hingga 3 ekor dengan Insecta Net. C. Meletakan spesies tangkapan dalam toples dan masukan alcohol 0,3 % dengan media perantara kapas, biarkan spesies tangkapan terbius hingga mati. D. Mendeterminan nama dari spesies Ordo Odonata ini dan catat dalam tabel laporan sementara. E. Gambar dan foto spesies yang ditangkap untuk lampiran dan penyusunan laporan. F. Membuat klasifikasi dan Insectarium.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Arthropoda berasal dari bahasa yunani yaitu arthros, sendi dan podos, kaki. Oleh karena ciri utama hewan yang termasuk dalam filum ini adalah kaki yang tersusun atas ruas-ruas. Jumlah spesies anggota filum ini terbanyak bila dibansingkan dengan filum lainnya yaitu lebih dari 800.000 spesies. Habitat hewan anggota filum ini pada umumnya adalah di air dan di darat. Sifat hidup arthropoda bervariasi, ada yang hidup bebas, tetapi ada juga yang bersifat parasit apad organisme lain. Ancestor arthropoda kemungkinan seperti annelid yang memiliki dinding tubuh berotot dan tubuh tidak terbagi menjadi daerah tertentu. Ukuran dan jumlah segmen setiap pembagian tubuh tersebut berbeda di dalam kelompok dan berhubungan erat dengan lingkungan dan aktivitas setiap spesies (Aswari, 2001). Arthropoda (dalam bahasa latin, Arthra = ruas , buku, segmen ; podos = kaki) merupakan hewan yang memiliki ciri kaki beruas, berbuku, atau bersegmen.Segmen tersebut juga terdapat pada tubuhnya.Tubuh Arthropoda merupakan simeri bilateral dan tergolong tripoblastik selomata (http://gurungeblog.wordpress.com). Arthropoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu arthro yang berarti ruas dan podos yang berarti kaki. Jadi, Arthropoda berarti hewan yang kakinya beruas-ruas. Organisme yang tergolong filum arthropoda memiliki kaki yang berbuku-buku. Hewan ini memiliki jumlah spesies yang saat ini telah diketahui sekitar 900.000 spesies. Hewan yang tergolong arthropoda hidup di darat sampai ketinggian 6.000 m, sedangkan yang hidup di air dapat ditemukan sampai kedalaman 10.000 meter

(http://scienceandri.blogspot.com/2012/04/filum-arthropoda.html). Capung merupakan salah satu kelompok serangga yang erat kaitannya dengan air. Memiliki ukuran tubuh relatif besar, berwarna bagus dan menggunakan sebagian besar hidupnya untuk terbang. Tahapan-tahapan pradewasa adalah aquatik dan yang dewasa biasanya terdapat dekat air. Semua tahapan adalah pemangsa dan makan berbagai jenis serangga-serangga dan organisme lain (Amir dan Kahono,2003).

Capung dikelompokkan dalam ordo Odonata. Odonata artinya rahang bergigi, di bagian ujung labum (bibir bawah) terdapat tonjolan-tonjolan (spina) tajam menyerupai gigi. Odonata terdiri atas subordo yaitu subordo Anisoptera memiliki tubuh lebih gemuk dan terbang dengan cepat, kepala tidak memanjang dalam posisi melintang tetapi membulat, memiliki sayap belakang lebih lebar pada bagian dasar dibandingkan dengan sayap depan dan sayap tersebut direntangkan saat istirahat (Emrades, 2008). Capung juga mengalami metamorfosis dalam periode kehidupannya. Bedanya, serangga kupu-kupu mengalami metamorfosis sempurna sedangkan capung tidak, atau hanya mengalami metamorfosis tidak sempurna. Dimulai dari telur kemudian menjadi larva dan akhirnya menjadi capung dewasa. Hampir seluruh masa hidup capung sebenarnya dihabiskan pada saat mereka larva. Larva capung sendiri hidup kira-kira 3 tahun, setelah itu mereka baru bermetamorfosis menjadi capung dewasa yang bersayap. Capung dewasa ini hanya bertahan hidup beberapa minggu karena tujuan mereka bermetamorfosis tersebut hanya untuk menemukan pasangan agar bisa melangsukan perkawinan dan akhirnya bisa melanjutkan keturunan (Borror, 1992). Capung merupakan serangga yang tidak menggigit ataupun bersengat. Capung merupakan hewan yang memiliki peran sebagai sumber makanan bagi banyak hewan lain, seperti burung, ikan, katak, ataupun kumbang air. Capung hidup dekat dengan air karena siklus hidupnya yang membuat mereka tidak bisa hidup jauh dari air. Capung hidup di air bersih. karena itu capung dan capung jarum berperan bagi manusia sebagai indikator pencemaran lingkungan. Bila di suatu sumber air tidak lagi ditemukan capung, artinya lingkungan itu sudah tercemar dan ekosistemnya terganggu (Amirudin, 2006).

BAB III PEMBAHASAN

Odonata merupakan salah satu ordo serangga yang sejak awal berbeda dalam penentuan nama ordonya dengan serangga lain. Klasifikasi serangga yang dilakukan oleh Fabricius pada tahun 1775-an menunjukkan bahwa semua serangga digolongan ke dalam ordo yang berbeda-beda berdasarkan sayapnya kecuali Odonata, yaitu berdasarkan giginya. Perkembangan ilmu pengetahuan yang ada saat ini telah memungkinkan terjadinya perubahan ordo serangga di dunia yang tidak hanya didasarkan pada bentuk sayap semata. Menurut Wiliam & Felmate (1992), Ordo Odonata terdiri atas Capung (Dragonflies) dan Capung Jarum (Damselflies) yang terbagi menjadi tiga subordo yaitu Anisoptera (8 famili), Zygoptera (17 famili), dan Anisozygoptera (1 famili; 10 famili telah punah). Spesies Odonata di dunia yang telah terindetifikasi sekitar 7.000 spesies. Banyaknya spesies serangga ini di bumi telah mengilhami para peneliti melakukan berbagai research yang digunakan untuk kepentingan manusia dengan model Odonata. Di Indonesia memang belum banyak kajian mengenai hal ini, oleh karena itu dengan kegiatan Pameran Foto, Peluncuran Buku, dan Seminar Pelestarian Odonata sebagai Pusaka Alam Indonesia oleh DDS ini akan sangat mendukung berkembangnya penelitianpenelitian Odonata di Indonesia. Memiliki anggota yang cukup besar dan mudah dikenal. Sayap dua pasang dan bersifat membranus. Pada capung besar dijumpai vena-vena yang jelas dan pada kepala dijumpai adanya mata facet yang besar. Metamorfose tidak sempurna (Hemimetabola), pada stadium larva dijumpai adanya alat tambahan berupa insang dan hidup di dalam air. Capung merupakan serangga yang tidak menggigit ataupun bersengat. Capung merupakan hewan yang memiliki peran sebagai sumber makanan bagi banyak hewan lain, seperti burung, ikan, katak, ataupun kumbang air. Capung hidup dekat dengan air karena siklus hidupnya yang membuat mereka tidak bisa hidup jauh dari air. Capung hidup di air bersih. karena itu capung dan capung jarum berperan bagi manusia sebagai indikator pencemaran lingkungan. Bila di suatu sumber air tidak lagi ditemukan capung, artinya lingkungan itu sudah tercemar dan ekosistemnya terganggu.

Ciri-ciri Ordo Odonata (bangsa capung/kinjeng):


Memiliki anggota yang cukup besar dan mudah dikenal. Bersayap membran dua pasang yang mengandungvena melintang yang kompleksPredacious, kaki digunakan untuk menangkap insect lainnya hanya pada waktu terbang

Kawin di udara, telurnya di tanah atau di air, atau ditanam dalam air, larvanya biasa hidup dalam air

Pada capung besar dijumpai vena-vena yang jelas dan pada kepala dijumpai adanya mata facet yang besar.

Metamorfose sempurna (Holometabola), pada stadium larva dijumpai adanya alat tambahan berupa insang dan hidup di dalam air.

Anggota-anggotanya dikenal sebagai predator pada beberapa jenis serangga kecil yang termasuk hama

Ukuran tubuhnya ada yang besar ada yang kecil Tubuh sering berwarna jelas Mulut tipe menggigit.

METAMORFOSE

Capung betina tidak akan kawin lagi setelah pembuahan. Namun, hal ini bukanlah masalah bagi jenis jantan Calopteryx virgo. Dengan menggunakan kait pada ekornya, capung jantan menangkap betinanya di lehernya

Sang betina melilitkan kakinya di sekitar ekor capung jantan. Pejantan dengan menggunakan sambungan khusus di ekornya

Membersihkan mani yang mungkin tertinggal dari pejantan lain. Kemudian, dia memasukkan maninya ke dalam rongga kelamin sang betina. Karena peristiwa ini memakan waktu berjam-jam, mereka kadangkala terbang dalam posisi berhimpitan. Capung meninggalkan telur dewasa di kedangkalan danau atau kolam

Begitu kepompong menetas dari telur, kepompong tinggal di dalam air selama tiga sampai empat tahun

Selama masa tersebut, kepompong juga makan di dalam air Karena itu, ia diciptakan dengan tubuh yang mampu berenang cepat untuk dapat menangkap ikan dan menjepitnya dengan cukup kuat untuk mencabik-cabik

mangsanya. Dengan tumbuhnya kepompong, kulit yang membungkus tubuhnya menguat. Ia melepaskan kulit tersebut dalam empat masa yang berbeda. Ketika sampai pada perubahan terakhir, ia meninggalkan air dan mulai mendaki tumbuhan tinggi atau batu

Ia mendaki hingga kakinya terpancang kokoh. Kemudian, ia melindungi dirinya sendiri dengan bantuan penjepit di ujung kaki-kakinya. Sekali terpeleset dan terjatuh berarti kematian pada saat itu.

Tahap terakhir berbeda dengan empat tahap sebelumnya, inilah masa ketika Allah membentuk capung menjadi makhluk yang dapat terbang melalui peralihan yang mengagumkan.

Punggung kepompong pertama-tama terbelah Belahan itu melebar dan menjadi celah terbuka, tempat makhluk baru yang sangat berbeda dari bentuk sebelumnya, berjuang untuk keluar. Tubuh yang sangat rentan ini dilindungi dengan ikatan yang ditarik dari makhluk sebelumnya

Ikatan ini diciptakan mempunyai kebeningan dan kelenturan yang sempurna. Jika tidak demikian ikatan akan putus dan tidak bisa dibawa, yang bisa berarti bahwa ulat tersebut dapat terjatuh ke dalam air dan mati. Di samping itu, terdapat serangkaian cara khusus yang membantu capung memecahkan kulit

kepompongnya. Tubuh capung menyusut dan mengeriput di dalam tubuh lamanya. Untuk membuka kepompong tersebut, suatu sistem pompa dan cairan tubuh khusus diciptakan untuk digunakan pada proses ini. Bagian tubuh yang mengeriput ini menggembung dengan memompakan cairan tubuhnya setelah berhasil keluar dari celah kepompong

Sementara itu, larutan-larutan kimiawi mulai memutus ikatan antara kaki baru dengan kaki lama tanpa merusaknya. Proses ini sangat sempurna meskipun akan menimbulkan kerusakan seandainya satu kaki terjebak. Kaki-kaki tersebut dibiarkan mengering dan mengeras selama sekitar dua puluh menit sebelum digunakan. Sayap-sayapnya sudah terbentuk sempurna namun masih dalam keadaan terlipat. Cairan tubuh dipompakan dengan pengerutan tubuh yang kuat ke dalam jaringan sayap

Sayap tersebut mengering setelah meregang Setelah capung meninggalkan tubuh lamanya dan mengering dengan sempurna, capung mencoba seluruh kaki dan sayapnya. Kaki-kaki dilipat dan diregangkan satu demi satu dan sayapnya dinaik-turunkan. akhirnya, serangga ini mencapai

bentuk yang dirancang untuk terbang. Sangatlah sulit bagi siapa pun untuk mempercayai bahwa makhluk yang terbang sempurna ini sama dengan makhluk yang menyerupai ulat yang meninggalkan air

Capung memompakan kelebihan cairan keluar, untuk menyeimbangkan sistemnya. Metamorfosis selesai dan sang capung siap mengudara. Kita menyaksikan kemustahilan pernyataan teori evolusi kembali ketika kita mencoba dengan menggunakan akal untuk menemukan asal mula peralihan yang menakjubkan ini. Teori evolusi menyatakan bahwa semua makhluk muncul melalui perubahan acak. Padahal, metamorfosis capung merupakan suatu proses yang sangat rumit dan tidak memberi celah bahkan untuk satu kesalahan kecil pun pada tiap-tiap tahap yang dilaluinya. Rintangan terkecil dalam setiap tahap ini akan mengakibatkan metamorfosis tidak sempurna yang mengakibatkan luka atau kematian capung. Metamorfosis benar-benar merupakan daur hidup dengan kerumitan yang tak tersederhanakan sehingga menjadi bukti perancangan yang nyata.

Pendeknya, metamorfosis capung merupakan satu dari sekian banyak bukti nyata mengenai betapa sempurnanya Allah menciptakan makhluk hidup. Seni mengagumkan dari Allah terwujud dengan sendirinya bahkan dalam seekor serangga.

Pada praktikum Kerja Lapangan Mandiri yang telah kami lakukan kami menemukan/memdapatkan macam-macam spesies dari ordo Odonata, antara lain;

1. Anax junius
Klasifikasi Kingdom Phylum Subphylum Class Subclass Infraclass Ordo Subordo Family Genus Species Habitat Anax junius memilih diam atau air tawar sangat lambat bergerak, dengan banyak vegetasi air, dan hanya dapat berkembang di mana tidak ada ikan predator. Deskripsi Fisik Anax junius adalah salah satu capung terbesar, dengan ukuran jantan mulai 70-76 : Animalia : Arthropoda : Hexapoda : Insecta : Pterygota : Palaeoptera : Odonata : Anisoptera : Aeshnidae : Anax : Anax junius

milimeter panjang dan 90-104 milimeter hamparan, dan ukuran betina mulai dari sekitar 68-80 milimeter panjang dan 90-106 milimeter di hamparan. Baik jantan dan betina yang ditandai dengan daerah thoraks hijau dan warna coklat kemerahan bagian perut di daerah perut, dengan betina yang memiliki warna yang sedikit lebih ringan. Kedua anggota jantan dan betina dari spesies ini menunjukkan warna biru perut bagian punggung. Nimfa sepenuhnya air, berkaki enam, dengan mata lateral yang besar. Reproduksi Reproduksi biasanya terjadi pada musim panas bulan Juli dan Agustus. Karena singkatnya siklus hidup Anax junius dewasa (mungkin hanya beberapa minggu), mereka terutama berkaitan dengan reproduksi. Untuk mempersiapkan kopulasi, jantan loop perutnya ke depan untuk mentransfer air mani dari pembukaan yang benar genital ke wadah yang terletak di genitilia sekundernya. Sekarang jantan siap untuk memilih jodoh. Sekali ia telah melakukannya, jantan akan terbang ke betina dan, dengan menggunakan

penjepit kelaminnya terletak di ujung perutnya, ia akan menggenggamnya dengan leher untuk memastikan bahwa dia tidak akan melarikan diri. Kedua akan membentuk apa yang tampak seperti lingkaran dengan tubuh mereka sebagai betina sejajar genitilia nya dengan genitilia sekunder jantan yang terletak di dasar perutnya. jantan kemudian akan memasukkan organ seks sekunder ke dalam vagina betina, kemasan turun atau menghapus sperma dari setiap pasangan sebelumnya. Hanya setelah ini akan deposit jantan sperma sendiri ke betina. Makanan Anax junius nimfa seluruhnya karnivora, biasanya makan serangga air, berudu, dan ikan sangat kecil.

2. Cordulegaster obliquus
Klasifikasi Kingdom Phylum Subphylum Class Subclass Infraclass Ordo Subordo Family Genus Species Habitat Biasanya banyak berada di perkebunan dan juga perairan sawah Morfologi Ukuran panjang tubuh 4-5cm dan rentang 7-8cm, Baik jantan dan betina yang ditandai dengan daerah thoraks hijau dan warna hitam kehijauan bagian perut, dengan betina yang memiliki warna yang sedikit lebih muda. Punggung berwarna hijau tua, berkaki enam, dengan mata lateral yang besar. Mempunyai dua pasang sayap, bagian belakang lebih lebar. Ekor panjang dengan ujung agak runcing. : Animalia : Arthropoda : Hexapoda : Insecta : Pterygota : Palaeoptera : Odonata : Anisoptera : Cordulegastridae : Cordulegaster : Cordulegaster obliquus

Bahaya/manfaat Tidak berbahaya/membahayakan kehidupan manusia, bermanfaat untuk mengidentifikasi kejernihan atau pencemaran air.

3. Macromia magnifica
Klasifikasi Kingdom Phylum Subphylum Class Subclass Infraclass Ordo Subordo Family Genus Species Habitat : Animalia : Arthropoda : Hexapoda : Insecta : Pterygota : Palaeoptera : Odonata : Anisoptera : Macromiinae : Macromia : Macromia magnifica

Biasanya banyak berada di perairan sawah, rerumputan pinggir sungai atau aliran air. Morfologi Ukuran panjang tubuh 4-5cm dan rentang 7-8cm, Baik jantan dan betina yang ditandai dengan daerah thoraks hijau dan warna hitam kehijauan bergaris-garis bagian perut yang dikenal dengan (abri/tentara), dengan betina yang memiliki warna yang sedikit lebih terang. Punggung berwarna hijau tua, berkaki enam, dengan mata lateral yang besar. Mempunyai dua pasang sayap, bagian belakang lebih lebar. Ekor panjang dengan ujung melebar. Bahaya/manfaat Tidak berbahaya/membahayakan kehidupan manusia, bermanfaat untuk mengidentifikasi kejernihan atau pencemaran air.

4. Pachydiplax longipennis
Klasifikasi Kingdom Phylum Subphylum Class Subclass Infraclass Ordo Subordo Family Genus Species : Animalia : Arthropoda : Hexapoda : Insecta : Pterygota : Palaeoptera : Odonata : Anisoptera : Libellulidae : Pachydiplax : Pachydiplax longipennis

5. Neurothemis terminata 6. Trithemis festiva

Neurothemis terminata

Trithemis festiva

Neurothemis terminata dan Trithemis festiva juga termasuk pada family Libellulidae mempunyai ciri: Habitat Biasanya banyak berada di perairan sawah (spesies Neurothemis terminata dan Trithemis festiva), pinggir sungai (Pachydiplax longipennis) . Morfologi Ukuran panjang tubuh 4-5cm dan rentang 7-8cm (Trithemis festiva), panjang 35cm dan rentang 5-7cm (Neurothemis terminata dan Pachydiplax longipennis).

Pada spesies Trithemis festiva baik jantan dan betina yang ditandai dengan daerah thoraks dan perut berwarna kebiruan. jantan yang memiliki warna yang sedikit lebih terang. Berkaki enam, dengan mata lateral yang besar. Mempunyai dua pasang sayap, bagian belakang lebih lebar dan mempunyai ekor panjang. Pada spesies Neurothemis terminata dan Pachydiplax longipennis badan berwarna kemerahan begitu juga pada sayapnya. Pada spesies jantan warna lebih pekat atau tajam. Berkaki enam, bersayap sepasang dengan bagian belakang lebih lebar. Mempunyai ekor yang lebih pendek di banding dengan spesies Trithemis festiva. Bahaya/manfaat Tidak berbahaya/membahayakan kehidupan manusia, bermanfaat untuk

mengidentifikasi kejernihan atau pencemaran air.

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan
Odonata termasuk dalam Classis insecta yang mempunyai ciri-ciri sayap sepasang, sebagian besar habitat hidupnya di air dan bebas di udara, mata besar, warna bervariasi, morfologi yang berbeda-beda. Spesies ini tidak berbahaya bagi kehidupan manusia, bermanfaat untuk mengidentifikasi kejernihan atau pencemaran air dan di daerah tertentu ada juga orang yang mengkonsumsinya.

Saran
Untuk praktikum sebaiknya sering dikonsultasikan kepada asisten pendamping, dalam pengklasifikasian spesies dan dalam membuat insektarium perlu kerja sama antara praktikan dan asisten.

DAFTAR PUSTAKA

Amir, M dan S.Kahono.2003. Serangga Taman Nasional Gunung Halimun Java Bagian Barat. Biodiversity Conservation Project

Amirudin. 2006. Diversity and Distribution of Dragonflies in Sekayu Recreational Forest, Jurnal of Sustainability Science and Management, Volume 1; 97-106

Aswari, P. 2001. Keanekaragaman Serangga Air di Taman Nasional Gunung Halimun. Biologi: LIPI

Borror, D. J. C. A. Triplehorn dan N. F. Johnson. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga Edisi Enam. Terjemahan Soetiyono. UGM Press. Yogyakarta

Emrades, C. 2008. Jenis-jenis Capung di Hutan Pendidikan dan Penelitian Biologi Limau Manis Kodya Padang. Skripsi Sarjana Biologi, FMIPA, UNAND: Padang

http://gurungeblog.wordpress.com (di akses pada Selasa, 11 Desember 2012, pukul 24.00 WIB) http://scienceandri.blogspot.com/2012/04/filum-arthropoda.html (di akses pada Selasa, 11 Desember 2012, pukul 24.00 WIB)