Anda di halaman 1dari 3

PEMAHAMAN DALAM HIDUP DAN KEHIDUPAN YANG DILANDASI OLEH ETIKA DAN AGAMA Secara Ethimologi, Etika berasal

dari bahasa Yunani Ethos, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu Mos dan dalam bentuk jamaknya Mores, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal atau tindakan yang buruk. Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku. Jika dikaitkan dengan ilmu, etika adalah ilmu yang membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Berbicara tentang etika dan agama tidak akan lepas dari pergaulan anak muda zaman sekarang. Tak jarang sekarang dijumpai anak-anak muda dalam pergaulannya sudah sangat menyimpang dari etika dan agama. Mereka cenderung lebih mengikuti trend yang ada saat ini ketimbang menghormati etika dan agama yang berlaku. Berbagai contoh nyata dapat dengan mudah kita jumpai mengenai penyimpangan pergaulan anak muda zaman sekarang. Contoh yang paling nyata adalah cara berpakaian. Di era sekarang ini, etika berpakaian anak-anak muda sudah sangat jauh menyimpang dari etika berpakaian yang rapi dan sopan. Pakaian yang pada dasarnya digunakan untuk menutupi bagian-bagian tubuh, kini sudah jauh menyimpang dari fungsi dasarnya tersebut. Justru, kalangan muda zaman sekarang lebih memilih jenis pakaian yang bisa menonjolkan bagian tubuh mereka. Jenisjenis pakaian tersebut ada yang memang jenis atau bentuknya sudah seperti itu, dan ada juga yang sengaja dimodifikasi untuk menjadikan pakaian tersebut lebih menonjolkan bagian-bagian tertentu dari tubuh mereka. Banyak dari mereka yang beranggapan hal ini merupakan sesuatu yang wajar-wajar saja, dan hal ini merupakan hal yang sudah biasa. Namun, jika kita berpatokan pada norma dan etika, hal ini sudah sangat jauh menyimpang dari apa yang tersirat dalam norma dan etika tersebut. Sebagian besar, dan hampir 80% penyebab dari penyimpangan ini

adalah dengan adanya pengaruh budaya barat yang semakin berkembang pesat di negeri ini. Namun kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan budaya mereka. Sekarang tergantung dari individu masing-masing untuk bagaimana menyikapi hal tersebut. Yang harus kita perbaiki dan harus kita tanamkan dalam diri masing-masing adalah pendidikan yang beretika dan beragama. Hal ini sangat penting ditanamkan, karena dengan mempelajari dan menanamkan etika dan agama, seseorang akan memiliki suatu landasan atau pedoman dalam menjalani kehidupan ini. Oleh karena etika merupakan sesuatu yang berkaitan dengan kesusilaan, maka dengan mempelajari dan menanamkan etika, kita juga akan dapat menanamkan kebaikan/kesusilaan dalam hidup ini. Adapun hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menanamkan pergaulan yang beretika dan beragama, antara lain: 1. Menyaring Budaya Barat yang Masuk Kedalam Pergaulan Kita. Sebagian besar dari pergaulan remaja era sekarang sangat dipengaruhi oleh pengaruh budaya asing khususnya budaya barat yang masuk ke lingkungan pergaulan mereka. Untuk dapat meminimalisasi pengaruh tersebut, kita sebagai generasi muda atau kalangan remaja harus pintar-pintar menyikapi budaya asing tersebut. Dalam artian kita harus bisa memilih mana yang baik dan mana yang benar, dan tidak lupa menghormati tata susila orang timur yang notabene menjunjung tinggi sopan santu dalam segala hal. 1. Mempelajari Ilmu Etika Untuk mendorong agar remaja saat ini lebih menjunjung tinggi pergaulan yang beretika dalam kehidupannya, ada baiknya di bangku sekolah/perkuliahan diberikan materi khusus tentang pendidikan yang beretika. Atau minimal menyisipkan ilmu-ilmu tentang etika dalam setiap materi pelajaran yang diberikan guru/dosen. Karena dengan menyisipkan ilmu-ilmu etika dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, para siswa/mahasiswa akan terbiasa mendengar, mempelajari, memahami dan pada akhirnya akan mempraktekkan ilmu-ilmu etika tersebut ke dalam kehidupan mereka sehari-hari.

1. Tidak Pernah Melupakan Tuhan dan Agama Terdapat kaitan yang sangat erat antara etika dan agama. Etika merupakan esensi dari ajara Agama. Karena sesungguhnya agama diturunkan oleh Tuhan untuk mengajarkan bagaimana etika dan tatacara berinteraksi dengan-Nya. Dalam ajaran agama Hindu, terdapat sebuah konsep yang disebut dengan Tri Hita Karana. Dalam konsep tersebut, salah satunya menyatakan konsep berkaitan dengan Hubungan antara Manusia dengan Tuhan. Untuk menjadi seseorang/remaja yang beretika, maka kita tidak boleh terlepas dari yang namanya hubungan dengan Sang Pencipta. Kita senantiasa harus selalu mengucap syukur atas apa yang telah beliau limpahkan kepada kita. Sumber kebenaran yang terbesar adalah ada pada kemahakuasaan Tuhan. Jika kita senantiasa menjalankan segala pertintah dan menjauhi laranganNya, maka sejahteralah kita dalam kehidupan ini, dan jadilah kita seseorang yang beretika, bermoral, dan bersopan santun tinggi dalam kehidupan ini. Etika dan agama memiliki fungsi yang sama, yaitu mengajarkan kesusilaan atau kebaikan. Untuk menjadi manusia yang baik, mempelajari dan mengamalkan nilainilainya adalah suatu keharusan. Kesimpulannya, Jika segala hal dalam kehidupan kita dilandaskan atas dasar etika dan agama, maka kedamaian, ketentraman, kenyamanan dan kesejahteraan dalam segala hal juga akan kita rasakan, mulai dari pergaulan sehari-hari, keluarga dan lingkungan masyarakat.