Anda di halaman 1dari 7

Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVI Komda Sul-Sel, 2005 ISBN : 979-95025-6-7

UJI BEBERAPA KONSENTRASI DAN RESISTENSI Beauveria bassiana Vuillemin (DETEROMICETES : MONILICCICEAE) TERHADAP MORTALITAS Spodoptera exigua Hubner (LEPIDOPTERA : NOCTUIDAE) PADA TANAMAN BAWANG MERAH Patahuddin
Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin

ABSTRACT
This research aimed to know the concentration and persistence causing the mortality of Spodoptera exigua at shallot carp. This study was carried out in the laboratory of pest and crop disease, Faculty of Agriculture and Forestry Hasanuddin University, Makassar from April to September 2004. The experiment caused of two phases i.e. the concentration and persistence test arranged in complete randomized design (CRD), replicated 3 times with 7 treatments and 13 treatments respectively. The results showed that 10 9 and 108 of Beauveria bassiana concentration were the most effective caused the mortality of S. exigua while the effective persistence was from one till eight days after application. Key words : Beauveria bassiana, Spodoptera exigua, persistence, mortality

PENDAHULUAN Tanaman bawang merah (Allium ascalonicum) merupakan komoditi hortikultura yang tergolong sayuran rempah. Luas lahan pertanaman bawang merah di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 40,00 ha. Pada tahun 1990 produksi bawang merah di Indonesia mencapai 495.183 ton dan meningkat pada tahun 1991 menjadi 509.013 ton. Hasil tersebut lebih rendah dibandingkan dengan produksi bawang merah, di Negara Amerika Serikat, Chili, Spanyol, Kanada, dan Belanda (Sumadi dan Bambang, 1994). Kendala utama pada petani bawang merah terutama adalah serangan hama Spodoptera exigua karena hama ini dapat menurunkan hasil hingga mencapai 57%. Serangan yang hebat dapat terjadi dan mengakibatkan gagal panen apabila tidak dilakukan pengendalian. Saat ini usaha pengendalian hama S. exigua masih menggunakan insektisida sintetik. Berbagai efek negatif muncul akibat penggunaan insektisida dalam skala dan freukuensi yang besar, baik

terhadap hama itu sendiri, organisme berguna lainnya, timbulnya pencemaran lingkungan serta dapat juga menimbulkan efek terhadap kehidupan sosial ekonomi petani itu sendiri. Untuk mengurangi efek negatif tersebut, maka saat ini dikembangkan pengendalian hama tanaman dengan menggunakan agen pengendali hayati. Penggunaan agen pengendalian hayati secara umum mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam konsep dan teknologi pengendalian hama terpadu (PHT). Hasil penelitian tentang penggunaan cendawan Beauveria bassiana pada berbagai spesies hama tanaman di Laboratorium menunjukkan tingkat mortalitas yang tinggi. Cendawan B. bassiana dengan konsentrasi spora sebesar 109 dapat menyebabkan mortalitas larva instar III Phutella xylostella sebesar 73,33% (Kasri, 1998). Selain itu patogenitas spora cendawan B. bassiana dengan konsentrasi spora sebesar 106 memperlihatkan mortalitas yang tinggi pada larva instar III Helicoverpa armigera (Nelly, 1998).

13

Patahuddin : Uji Beberapa Konsentrasi dan Resistensi B. bassiana Vuillemin

pengenceran 106 spora, kemudian dihitung dengan menggunakan rumus: Berdasarkan hal tersebut dilakukan t penelitian tentang konsentrasi dan K = ----------- x 106 persistensi cendawan B. bassiana n x 0,25 terhadap mortalitas larva S. exigua pada Keterangan : tanaman bawang merah. K = Konsentrasi spora (spora/ml) Penelitian ini bertujuan untuk t = Jumlah spora dihitung pada kotak mengetahui konsentrasi dan persistensi pengamatan cendawan B. bassiana yang efektif yang n = Jumlah kotak yang diamati menyebabkan mortalitas S. exigua pada tanaman bawang merah. Uji Persistensi Rancangan yang digunakan pada BAHAN DAN METODE percobaan ini acak lengkap (RAL) dengan 13 perlakuan dan setiap perlakuan diulang Tempat dan Waktu dua kali. Adapun perlakuannya sebagai Penelitian ini dilaksanakan di berikut : Laboratorium Penyakit, Jurusan Hama dan P0 = Kontrol dengan aquades (tanpa Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian dan perlakuan cendawan) diinfestasi Kehutanan Universitas Hasanuddin. dengan larva S. exigua 1 hari Penelitian ini berlangsung pada bulan April kemudian 2004 sampai September 2004. P1 = Infestasi S. exigua 1 hari setelah aplikasi (HSA) B. bassiana Uji konsentrasi P2 = Infestasi S. exigua 2 hari setelah rancangan yang digunakan pada aplikasi (HSA) B. bassiana uji konsentrasi B. bassiana adalah P3 = Infestasi S. exigua 3 hari setelah rancangan acak lengkap (RAL) dengan aplikasi (HSA) B. bassiana tujuh perlakuan dan setiap perlakuan P4 = Infestasi S. exigua 4 hari setelah diulang tiga kali. Adapun perlakuan aplikasi (HSA) B. bassiana sebagai berikut : P5 = Infestasi S. exigua 5 hari setelah B0 = Kontrol (tanpa perlakuan aplikasi (HSA) B. bassiana cendawan) P6 = Infestasi S. exigua 6 hari setelah B1 = B. bassiana dengan konsentrasi aplikasi (HSA) B. bassiana 9 10 spora/ml P7 = Infestasi S. exigua 7 hari setelah B2 = B. bassiana dengan konsentrasi aplikasi (HSA) B. bassiana 108 spora/ml P8 = Infestasi S. exigua 8 hari setelah B3 = B. bassiana dengan konsentrasi aplikasi (HSA) B. bassiana 107 spora/ml P9 = Infestasi S. exigua 9 hari setelah B4 = B. bassiana dengan konsentrasi aplikasi (HSA) B. bassiana 6 10 spora/ml P10 = Infestasi S. exigua 10 hari B5 = B. bassiana dengan konsentrasi setelah aplikasi (HSA) B.bassiana 105 spora/ml P11 = Infestasi S. exigua 11 hari setelah B6 = B. bassiana dengan konsentrasi aplikasi (HSA) B. bassiana 104 spora/ml P12 = Infestasi S. exigua 12 hari setelah aplikasi (HSA) B. bassiana Perhitungan jumlah sproa B. bassiana Untuk kontrol perlakuan hanya dilakukan dengan menggunakan alat disemprotkan 50 ml air aquades dan 1 hari Haemocytometer setelah dilakukan

14

Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVI Komda Sul-Sel, 2005 ISBN : 979-95025-6-7

setelah disemprot, diinfestasi larva S.exigua. Pengamatan mortalitas larva S.exigua mulai dilakukan 1 hari setelah aplikasi B. bassiana sampai menjadi imago pada setiap konsentrasi, sedangkan pada uji persistensi B. bassiana, pengamatan mulai dilakukan satu HSI S.exigua, hingga serangga uji tersebut menjadi imago. Persentase mortalitas S. exigua dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : a

M = ---- x 100% b Keterangan : M = Mortalitas (%) a = Jumlah larva yang mati b = Jumlah larva yang diamati HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Uji Konsentrasi B. bassiana Vuill. Rata-rata persentase mortalitas larva S. exigua pada pengamatan mulai 1 hari sampai 5 hari setelah infstasi (HSI) dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rata-rata persentase mortalitas larva S. exigua terhadap beberapa tingkat konsentrasi spora B. bassiana pada 1 sampai 5 HSI. Perlakuan Kontrol 109 108 107 106 105 104 1 0 10 0 0 0 0 0 2 0,00 d 56,67 a 30,00 b 10,00 c 0,00 d 0,00 d 0,00 d Pengamatan (hari) 3 4 0,00 d 0,00 e 100,00 a 100,00 a 60,00 b 100,00 a 23,40 c 40,00 b 6,67 d 16,67 c 0,00 d 3,33 de 0,00 d 3,33 de 5 0,00 d 100,00 a 100,00 a 46,67 b 26,67 c 3,33 d 3,33 d

Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada taraf uji Duncan 0,05.

Pada Tabel 1 terlihat bahwa perlakuan konsentrasi 109 mortalitas larva S. exigua mulai ditemukan pada pengamatan 1 HSI. Riyatno dan Sentoso (1991) mengemukakan bahwa cendawan patogen serangga dapat menyebabkan kematian pada inang yang peka dalam waktu 2 hari sampai 14 hari setelah terjadi infeksi, bahkan kurang dari 24 jam (Steinhaus, 1967). Pengamatan 1 HSI pesentase mortalitas larva S. exigua tertinggi pada perlakuan konsentrasi 109 yaitu 10%, sedangkan perlakuan lainnya 0%. Hal ini disebabkan perbedaan tingkat konsentrasi B.bassiana yang diaplikasikan dibandingkan dengan perlakuan lain. Selanjutnya pada perlakuan konsentrasi

104 mortalitas larva S. exigua baru didapatkan pada pengamatan 4 HSI yaitu 3,33%. Pada perlakuan konsentrasi 106 dan 105 mortalitas larva S. exigua didapatkan pada pengamatan 3 HSI. Sedangkan pada perlakuan konsentrasi 107 mortalitas larva S. exigua ditemukan mulai pengamatn 2 HSI. Dengan semakin tingginya konsentrasi B. bassiana yang diaplikasikan, maka mortalitas larva S.exigua juga semakin tinggi. Mortalitas larva S. exigua pada bawang merah disebabkan karena cepatnya terjadi akumulasi toksin yang masuk ke dalam tubuh serangga sejak setelah aplikasi. Tanada dan Kaya (1993) mengemukakan bahwa kematian serangga akibat infeksi

15

Patahuddin : Uji Beberapa Konsentrasi dan Resistensi B. bassiana Vuillemin

cendawan berhubungan dengan jumlah spora yang dimakan oleh serangga. Mortalitas larva S. exigua juga disebabkan larva S. exigua yang diinfestasikan adalah larva instar II. Larva instar II sangat efektif memakan daun bawang merah dan sangat rentan terhadap patogen serangga karena organorgan tubuhnya masih sangat lunak, berbeda dengan larva instar akhir. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Tanada dan Kaya (1993) bahwa secara morfologi dan fisiologis organ-organ serangga muda mempunyai daya tahan lemah, serta resistensinya rendah terhadap B.bassiana. Daun bawang merah yang sudah diaplikasikan suspensi B. bassiana yang diberikan sebagai makanan kepada serangga uji, sehingga cendawan B.bassiana ikut masuk ke dalam saluran pencernaan bersama-sama dengan makanan tersebut, dengan sendirinya proses infeksi B. bassiana akan berlangsung dalam waktu yang singkat (Fatahuddin, 1999). Ferron (1978) mengemukakan bahwa cendawan B.bassiana berbeda dengan patogenpatogen yang lain seperti bakteri dan virus, karena cendawan ini dapat menginfeksi serangga inang tidak hanya melalui spirakel, tetapi melalui mulut dan yang terbanyak melalui integumentum. Pengamatan yang dilakukan terhadap S. exigua yang mati menunjukkan bahwa, telur larva ditumbuhi miselium yang berwarna putih. Larva S.exigua yang mati awalnya berwarna coklat kehitaman, setelah beberapa hari tubuhnya ditutupi dengan miselium berwarna putih seperti tepung. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Steinhaus (1967) bahwa inang yang terserang biasanya berubah warna dan muncul

noda-noda hitam pada bagian kutikula sebagai titik infeksi yang pertama akhirnya serangga terinfeksi dan mengalami kematian dan setelah itu, maka seluruh tubuhnya akan tertutup oleh spora sehingga menyerupai mummi. Novizan (2002) mengemukakan bahwa B. bassiana setelah berhasil masuk ke dalam tubuh serangga akan mengeluarkan toksin Beauvericin yang membuat kerusakan jaringan tubuh serangga, dua hari kemudian serangga akan mati dan miselia cendawan akan tumbuh ke seluruh bagian tubuh serangga. Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap larva S. exigua yang telah diberi makanan daun bawang merah yang mengandung B. bassiana, terlihat bahwa larva S. exigua gerakannya lambat dan tidak bergerak lincah bila disentuh, selain itu kemampuan makanannya juga berkurang. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Steinhaus (1967) bahwa gejala awal infeksi B. bassiana pada serangga adalah serangga tidak makan, gerakan lemah, bergerak tidak menentu atau kehilangan gerak. Dari hasil uji konsentrasi dengan memperhatikan banyaknya konsentrasi B. bassiana perlakuan konsentrasi 108 menunjukkan kinerja yang lebih efisien (ekonomis) dibanding dengan perlakuan konsentrasi 109 karena rata-rata persentase mortalitas larva S. exigua untuk perlakuan tersebut memiliki perbedaan yang tidak nyata atau memliki keefektifan yang sama. 2. Uji Persistensi B. bassiana Vuill pada Tanaman Bawang Merah Rata-rata persentase mortalitas larva S. exigua pada daun bawang merah selama pengamatan dapat dilihat pada Tabel 2.

16

Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVI Komda Sul-Sel, 2005 ISBN : 979-95025-6-7

Tabel 2. Rata-rata persentase mortalitas larva Spodoptera exigua mulai pengamatan 1 sampai 4 HSI. Perlakuan Kontrol 1 hari setelah aplikasi 2 hari setelah aplikasi 3 hari setelah aplikasi 4 hari setelah aplikasi 5 hari setelah aplikasi 6 hari setelah aplikasi 7 hari setelah aplikasi 8 hari setelah aplikasi 9 hari setelah aplikasi 10 hari setelah aplikasi 11 hari setelah aplikasi 12 hari setelah aplikasi 1 0c 55 a 50 b 0c 0c 0c 0c 0c 0c 0c 0c 0c 0c Pengamatan (hari) 2 3 0d 0d 100 a 100 a 100 a 100 a 50 b 100 a 20 c 35 b 20 c 30 bc 20 c 35 b 20 c 30 bc 20 c 35 b 20 c 30 bc 20 c 35 b 20 c 30 bc 15 c 15 c 4 0d 100 a 100 a 100 a 85 a 60 b 60 b 55 b 50 b 45 bc 45 bc 45 bc 35 c

Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada taraf uji Duncant 0,05

Rata-rata persentase mortalitas larva S.exigua pada perlakuan 3 sampai 12 HSI baru ditemukan pada pengamatan 2 HSI, dan terjadi peningkatan mortalitas sampai 4 HSI. Sedangkan pada kontrol tidak didapatkan mortalittas S. exigua sampai 4 HSI. Daya tahan atau persistensi cendawan B. bassiana pada tanaman uji (daun bawang merah) mencapai 12 hari, terlihat pada Tabel 2 bahwa sampai perlakuan infestasi larva 12 hari setelah aplikasi masih ditemukan mortalitas larva S. exigua. Hal ini disebabkan kondisi iklim pada tempat pelaksanaan uji persistensi merupakan iklim tropis yaitu pada malam hari berkisar antara 20 24oC dan siang hari berkisar antara 27 30oC. Tanada dan Kaya (1993) yang mengemukakan temperatur optimum untuk perkembangan patogenitas dan daya tahan hidup cendawan berkisar antara 20 30oC dan diatas 30oC akan memberikan efek yang merugikan cendawan patogen. Pada Tabel 2 hasil pengujian persistensi B. bassiana etrhadap larva S.exigua pada semua perlakuan kecuali kontrol memperlihatkan mortalitas larva

S.exigua yang tinggi. Hal ini disebabkan larva S. exigua sangat peka terhadap B.bassiana. Kepekaan inang merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada kemampuan patogen untuk mematikan inangnya. Oka (1993) mengemukakan bahwa inang yang peka menunjukkan ratarata persentase mortalitas inang yang lain pada kondisi tertentu. Tingginya mortalitas dan cepatnya terjadi mortalitas larva S. exigua terutama pada perlakuan infestasi 1 hari, perlakuan infestasi 2 hari maupun pada perlakuan infestasi 3 hari setelah aplikasi disebabkan karena konsentrasi kondia B. bassiana belum terjadi penurunan pada tanaman uji tersebut. Fatahuddin (1999) menjelaskan bahwa konsentrasi konidia B.bassiana terjadi penurunan pada 4 hari setelah aplikasi. Pada Tabel 2 perlakuan infestasi larva 3 hari setelah aplikasi menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata dengan perlakuan infestasi 1 hari setelah aplikasi maupun dengan perlakuan infestasi 2 hari setelah aplikasi dengan tingkat rata-rata persenatse mortalitas S. exigua yang sama mencapai 100% pada pengamatan 3 hari setelah aplikasi B. bassiana persistensinya

17

Patahuddin : Uji Beberapa Konsentrasi dan Resistensi B. bassiana Vuillemin

belum berkurang dibanding dengan perlakuan lain. Tingginya mortalitas larva S.exigua diduga disebabkan dengan faktor lingkungan yang sangat mendukung aktivitas dari penggunaan B. bassiana sebagai patogen serangga tersebut. Faktor-faktor lingkungan seperti kelembaban curah hujan, temepratur, dan sinar matahari merupakan faktor penting bagi patogen serangga untuk melakukan infestasi pada inangnya (Tanada dan Kaya, 1993). Cendawan B. bassiana masih persiten sampai 8 hari setelah aplikasi, hal ini menunjukkan pada perlakuan infestasi larva 8 hari setelah aplikasi masih memperlihatkan persentase mortalitas S.exigua hingga 50%. Bahkan pada perlakuan infestasi larva 12 hari setelah aplikasi cendawan B. Basiana masih persisten dan masih menyebabkan mortalitas S. exigua hingga 35%.

Ferron, P. 1978. Influence of relative humudity on the development of fungal infection caused by Beauveria bassiana (Fungi Inperfecti, Monilae) in imagines of acanthoscelides of obtectus (Col : Bruchidae). J. Enthomophaga 22 (4):393-396. Kasri. 1998. Uji patogenitas beberapa konsentrasi suspensi spora Beauveria bassiana Vuill. (Moniliales: Moniliaceae) yang telah di formulasikan terhadap mortalitas larva instar III Plutella xilostella (Lepidoptera: Plutellidae). Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian dan Kehutahan, Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang. Hal.25-36 (Tesis S1). Nelly, P. 1998. Uji patogenitas Beauveria bassiana (Balsamo) Vuill. (Moniliales: Moniliacea) dalam bentuk tepung dan pellet yang disimpan pada berbagai waktu penyimpanan terhadap larva isntar III Helicoverpa armigera Hbr. (Lepidoptera : Noctuidae). Hal.10-15. Novizan. 2002. Membuat dan memanfaatkan pestisida ramah lingkungan. Agromedia Pustaka, Yakarta. Hal. 94. Riyatno dan Santoso. 1991. Cendawan Beauveria bassiana dan cara pengembangannya guna mengendalikan hama bubuk kopi. Direktorat Bina Pelrindungan Tanaman Perkebunan. Direktorat Jenderal Perkebunan Jakarta. Sumadi dan Bambang. 1994. Budidaya Bawang Merah. Penerbit Penebar Swadaya, Yakarta. Hal.7. Steinhaus, E.A. 1967. Insect Microbiology. Hapner Publishing Company, New York and London. PP.376-412.

KESIMPULAN 1. Konsentrasi B. bassiana 109 spora/ml dan 108 spora/ml lebih efektif menyebabkan mortalitas larva S. exigua dibanding dengan konsentrasi lainnya. 2. Cendawan B. bassiana masih persisten dan efektif menyebabkan mortalitas larva S. exigua hingga 8 hari setelah aplikasi. Bahkan pada perlakuan infestasi larva 12 hari setelah aplikasipun cendawan B.Bassiana masih persisten dan dapat menyebabkan mortalitas S.exigua hingga 35%. DAFTAR PUSTAKA Fatahuddin. 1999. Efek penggunaan Beauveria basiana Vuill. (Deuteromycetes : Monialliaceae) dan Steinernema carcopsae Weiser (Rhapditidae : Noctuidae) terhadap Spodoptera exigua Hubner (Lepidoptera : Noctuidae).

18

Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVI Komda Sul-Sel, 2005 ISBN : 979-95025-6-7

Tanada, Y. and H.K. Kaya. 1993. Insect Pathology Academic Press, Inc. New York. PP.459-493.

19