Anda di halaman 1dari 5

Abstrak:

Dewasa ini, cadangan minyak bumi di Indonesia semakin menipis, diperkirakan cadangan minyak bumi Indonesia akan habis maksimal 13 tahun ke depan. Oleh karena itu, peranan pengembangan energi pengganti migas harus ditingkatkan. Salah satu energi alternatif pengganti migas yang diminati adalah biodiesel. Biodiesel dapat diperoleh dari minyak tumbuhan yang telah dikonversi menjadi Methyl Ester melalui proses transeseterifikasi dengan alkohol. Salah satu bahan baku biodiesel adalah biji kapuk randu.Tujuan penelitian ini adalah membuat biodiesel dari minyak biji kapuk randu (Ceiba pentandra oil) sehingga dapat dijadikan alternatif bahan bakar solar, mempelajari pengaruh variabel operasi (suhu reaksi, waktu reaksi dan rasio minyak dengan methanol) terhadap kinerja katalis (CaO) dalam proses transesterifikasi minyak Kapuk Randu serta mengetahui daya regenerasi dari katalis (CaO). Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah rasio mol minyak terhadap metanol 1:10, 1:15, dan 1:20, suhu reaksi yang digunakan 40 C, 50 C, dan 60 C dan waktu reaksi transesterifikasi selama 1 jam, 2 jam dan 3 jam dengan katalis CaO yang digunakan sebesar 7 % dari massa minyak kapuk randu.Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan CaO sebagai katalis pada reaksi transesterifikasi minyak kapuk menjadi biodiesel, yield tertinggi didapat pada variabel rasio mol minyak terhadap methanol 1:15, suhu reaksi yang digunakan 60 C dan waktu reaksi transesterifikasi selama 1 jam yaitu sebesar 88,576%.Selain itu karena sifat katalis CaO yang dapat diregenerasi, dari penelitian ini di dapat jika katalis CaO dapat diregenrasi hingga 3 kali dengan yield terkecil yang didapat yaitu sebesar 64,3%. DASTOR
1. Kapuk Randu Kapuk adalah suatu serabut lembut yang tumbuh di sekitar suatu semak belukar yang asli kepada daerah subtropis dan tropis. Serabut kapuk setelah diproses untuk memindahkan benih dan jejak lilin, protein, dll. terdiri dari selulosa suatu polimer alami. Produksi kapas sangat efisien dimana hanya sekitar kurang dari sepuluh persen berat dari kapuk yang terbuang sewaktu dilakukan pengolahan awal sehingga menjadi bahan baku. Tanaman kapas tumbuh pada daerah tropis dan subtropis yang beriklim hangat (panas). Tanaman kapuk umumnya merupakan tanaman yang pendek dan berpohon kecil. Buah kapuk dikatakan matang dan siap dipanen jika telah berumur 5-6 bulan. Jenis kapuk yang telah dibudidayakan berjumlah sekitar 200 varietas dan tiap varietas mempunyai bentuk buah dan struktur serat yang berbeda. Minyak ini berasal dari India , cina, mesir, afrika, amerika selatan (balittas, 2000) 2. Minyak Biji Kapuk Randu Minyak biji kapuk diperoleh dari biji tanaman kapuk. Minyak biji kapuk diperoleh dari proses pengekstraksian biji kapuk. Spesies yang umum dikenal dari tanaman kapuk yaitu : - Gossypium hirsutum (USA dan Australia) - G. arboreum dan G. herbaceum (Asia) - G. barbadense (Egypt) Biji kapuk ini memiliki kandungan minyak biji kapuk sebanyak 16,14 % dengan kelembaban < 10 %. Kandungan asam lemak minyak biji kapuk yang paling banyak adalah asam linoleat C18:2 (asam lemak tak jenuh / unsaturated fatty acid) (kemala, 2006). Minyak biji kapuk biasanya digunakan sebagai alat penerangan, minyak pelumas, campuran lemak babi, minyak salad, bahan untuk membuat sabun, membuat margarine, mambuat mentega putih (wikipedia, 2005). 3. Pemurnian Minyak Biji Kapuk Tujuan utama dari proses pemurnian minyak adalah untuk menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, warna yang tidak menarik (kecoklatan) dan memperpanjang masa simpan minyak sebelum dikonsumsi atau digunakan sebagai bahan mentah dalam industri (Ketaren, 1986). Di dalam minyak yang belum dimurnikan terdapat bermacam-macam kotoran yang larut maupun tidak larut dalam minyak dan suspense koloid. Kotoran yang larut antara lain: asam lemak bebas, aldehida, keton, zat warna dan tokoferol. Sedangkan yang tidak larut misalnya getah, lendir, protein, fosfatida yang berasal dari sumber minyak (Sardjono, 1983). Pada umumnya minyak untuk tujuan bahan pangan dimurnikan melalui tahapan proses sebagai berikut: 1.

Pemisahan bahan dengan cara penguapan, degumming dan pencucian dengan asam, 2. Pemisahan asam lemak bebas dengan cara netralisasi, 3. Dekolorisasi dengan proses pemucatan, 4. Deodorisasi, 5. Pemisahan gliserida jenuh (stearin) dengan cara pendinginan (chilling). Disamping itu kadang dilakukan penambahan flavour dan zat warna sehingga didapatkan minyak dengan rasa serta bau yang enak dan warna yang menarik (Ketaren, 1986). 4. Transesterifikasi Transesterifikasi adalah suatu reaksi antara ester dengan alkohol membentuk ester baru dan alkohol baru, dalam hal ini terjadi pertukaran bagian alkohol suatu ester (Santoso, 1998). Shantha (1992) menyebutkan bahwa pereaksi-pereaksi transesterifikasi secara umum dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu pereaksi katalis asam dan basa. Katalis asam yang biasa digunakan adalah asam klorida dalam etanol, asam sulfat dalam etanol dan borontrifluorida dalam etanol. Katalis basa yang biasa digunakan adalah natrium etoksida dalam etanol dan Natrium hidroksida dalam etanol. Transesterifikasi dengan katalis asam diawali dengan serangan proton terhadap atom oksigen gugus karbonil menghasilkan kation yang terstabilkan oleh resonansi. Tahap kedua, alkohol (R-OH) sebagai nukleofil menyerang atom karbon karbonil dari kation yang terstabilkan membentuk zat antara tetrahedral. Tahap ketiga, terjadi eliminasi dan pembebasan proton menghasilkan ester dan alkohol baru. Reaksi transesterifikasi berlangsung dapat balik sehingga untuk menggeser reaksi ke arah produk dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu pereaksi berlebih. Mekanisme transesterifikasi dengan katalis basa diawali dengan reaksi antara ion hidroksida (OH-) dengan alkohol membentuk alkoksida. Selanjutnya alkoksida yang terbentuk menyerang gugus karbonil (dengan gugus karbonil sp2) pada ester A membentuk zat antara tetrahedral (dengan atom C sp3) yang sangat tidak stabil, tahap selanjutnya eliminasi menghasilkan ester (B) baru dan alkohol baru (ROH) 5. Biodiesel Biodiesel merupakan bahan bakar yang dapat menggantikan bahan bakar solar yang renewable (Demirbas, 2007). Dengan semakin mahalnya dan terbatasnya BBM fosil di alam maka harus dicari energi alternatif yang dapat diperbaharui yang antara lain biofuel misalnya biodiesel. Beberapa kajian seperti yang dikemukakan oleh Robert Manurung ITB bahwa minyak nabati dapat langsung digunakan sebagai minyak diesel. Namun demikian banyak penelitian lain menunjukkan bahwa minyak nabati memiliki viskositas yang sangat tinggi (Demirbas, 2007) dapat 10-20 kali minyak solar, dan tingginya viskositas minyak nabati dapat menyebabkan pembakaran tidak sempurna dan menimbulkan kerak pada ruang pembakaran. Agar minyak nabati dapat digunakan sebagai bahan bakar harus diturunkan viskositasnya sampai mendekati viskositas solar (Anonim Warta pertamina, 2006). Reaksi transesterifikasi dari lemak/minyak dapat dilakukan untuk menurunkan viskositas minyak nabati sehingga dihasilkan etil ester asam lemak. Transestrifikasi dapat menurunkan viskositas minyak nabati sampai 85% (Alamu, 2007, dan Demirbas, 2007). Reaksi transesterifikasi minyak nabati dapat dilakukan dengan mereaksikan minyak yang merupakan trigliserida dengan alkohol (metanol/etanol) dengan katalis asam atau basa, sehingga dihasilkan alkil ester asam lemak dan hasil samping gliserol. Secara stoikiometri 1 mol triasilgliserol (trigliserida) memerlukan 3 mol etanol (alkohol) dan dihasilkan 1 mol gliserol dan 3 mol ester asam lemak. Berdasarkan kajian mekanisme reaksi yang dilalui, reaksi transesterifikasi pembuatan biodiesel melalui pembentukan zat antara (intermediate) yaitu mono dan digliserida, dengan bentuk molekul tetrahidral (bentuk tidak stabil untuk gugus karbonil), seleha itu tahap selanjutnya adalah pembentukan metil ester (Heyda, dkk., 2008). Ester asam lemak yang dihasilkan selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti solar dan sering disebut biodiesel. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi transesterifikasi minyak nabati menjadi biodiesel yakni antara lain faktor perbandingan fraksi mol antara minyak dengan alkohol, katalis yang digunakan dimana dapat katalis asam atau basa, kualitas bahan baku yang digunakan, temperatur reaksi, dan kondisi berlangsungnya reaksi. Pada pembuatan biodiesel secara konvensional, kondisi yang digunakan adalah dengan pengadukan mekanis pada reaksi minyak nabati dengan metanol atau etanol. Cara ini menghasilkan rendemen yang tidak terlalu tinggi dan memerlukan waktu relatif lama. Di samping itu juga adanya kesulitan dalam memisahkan produk, biodiesel dan gliserol. Misalnya reaksi transterifikasi skala labobaratorium minyak sawit (Crude Palm Oil) dengan etanol 20% dan katalis NaOH 1%, memerlukan waktu 90 menit dengan

rendemen hasil 95,4% (Alamu, 2007). Untuk meningkatkan laju reaksi pembuatan biodiesel adalah proses kondisi alkohol superkritis dan proses gelembung. Penggunakan etanol (alkohol) superkritis dalam pembuatan biodiesel dapat mengurangi penggunaan katalis dan keberadaan air dalam jumlah tertentu dapat mempertinggi hasil (Kusdiana, 2004). Namun teknologi superkritis memerlukan temperatur dan tekanan tinggi sehingga sulit dilakukan dan masih efektif untuk skala laboratorium. Transesterifikasi minyak nabati dengan alkohol menjadi biodiesel skala industri pada umumnya dilakukan dengan sistem bath dengan pengadukan mekanis, dengan katalis basa pada perbandingan minyak dengan etanol 1:6 , dan waktu yang diperlukan sekitar 2 jam dengan hasil rendemen yang dicapai sekitar 96%. Pengaruh pengunaan katalis sangat berpengaruh pada laju reaksi pembuatan bidiesel. Katalis basa atau asam dapat digunakan dalam reaksi transesterifikasi, namun demikian katalis basa lebih cepat dan kurang korosif dibandingkan asam (Shweta Shah,2004). Sebagai katalis basa dapat digunakan kalium hidroksida maupun natrium hidroksida. Sedangkan konsentrasi katalis basa juga menentukan laju dan hasil reaksi, semakin tinggi konsentrasi katalis, reaksi akan berlangsung semakin cepat, namun jika konsentrasi katalis basa terlalu tinggi akan timbul masalah dalam pemisahan hasil (Nouriddini, 1998). Bahkan pada konsentrasi katalis basa lebih 8% hasil transesterifikas malah turun (Zyong Tang, 2007). Salah satu reagen penting selain minyak dalam pembuatan biodiesel adalah alkohol yang digunakan dimana alkohol yang diperlukan dapat etanol atau metanol. Senyawa etanol lebih banyak digunakan karena harganya lebih murah (Wirawan, 2006), namun sebenarnya bersifat lebih toksik dibandingkan etanol. Secara stoikiometri kebutuhan alkohol pada pembuatan biodiesel pada perbandingan 1:3, namun demikian dalam praktek fraksi alkohol yang diperlukan bervariasi, dari 1:6 sampai 1:9 (Sharma, 2008) tergantung bahan baku yang digunakan, semakin tinggi fraksi alkohol maka konversinya juga semakin tinggi (Nourodin, 1998). Teknologi pembuatan biodiesel dengan reaksi transesterifikasi terus berkembang, dari yang konvensional dengan hanya perlakuan pengadukan mekanis, sampai dengan alkohol superkritis, dan kini telah berkembang dengan reaksi transesterifikasi yang dapat dipercepat dengan adanya gelombang microwave dan ultrasonik. Reaksi transesterifikasi dengan teknologi ultrasonik dapat berlangsung lebih cepat dan dapat menurunkan penggunaan katalis hingga 50 %, serta pemisahan hasil yang lebih mudah (Hielscher,2000), Bahkan penggunaan gelombang ultrasonik tanduk getar dapat berlangsung dalam satu menit saja (Bambang Susilo, 2008). Dengan kemajuan teknologi yang ada, secara nyata dapat meningkatkan laju reaksi pembuatan biodiesel, namun demikian apakah dapat lebih efisien untuk pengembangan biodiesel di Indonesia masih diperlukan kajian yang mendalam, karena teknologi yang dimaksud cukup mahal. Kebutuhan minyak solar Indonesia sangat tinggi, meskipun sebagai negara penghasil BBM namaun untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri Indonesia masih impor solar hampir 7 juta Kl/tahun. Dengan asumsi hanya mensubstitusi 2% kebutuhan solar nasional kebutuhan biodiesel 800 ribu Kl/tahun (Anonim, Road Map Kementrian ESDM, 2005), sehingga pasar biodiesel di Indonersia sangat besar. Pengembangan biodiesel sebagai pengganti solar, meskipun dari aspek lingkungan lebih menguntungkan maka yang tidak kalah pentingnya adalah tinjauan dari aspek ekonomisnya, karena kalau biodiesel jauh lebih mahal dari BBM maka akan kurang mendapat respon dari pengguna (masyarakat atau industri). Oleh karena itu diperlukan bahan baku biodiesel yang banyak terdapat atau mungkin dapat dikembangkan di indonesia serta kontinuitas pasokannya terjamin. Minyak kelapa sawit (CPO), minyak jarak, limbah cair pabrik kelapa sawit (CPO parit) serta minyak goreng bekas mempunyai potensi yang besar untuk dieksplorasi sebagai bahan baku biodiesel. Penggunaan biodiesel sebagai bahan bakar mempunyai beberapa keuntungan yakni: Biodisel tidak akan habis karena dapat ditanam atau diperbaharui sumbernya. Dengan berkembangnya biodiesel jelas akan dapat memanfaatkan tanah-tanah kritis yang banyak tersebar diseluruh pelosok tanah air. Menciptakan lapangan kerja baru baik dibidang pertanian/budidaya sawit dan jarak, pabrik-pabrik mini agroindustri pengolah biodisel sehingga akibatnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Aman digunakan sebagai bahan bakar, emisi hidokarbon lebih sedikit, sehingga penggunaan biodisel ini akan menurunkan polusi udara akibat kendaraan bermotor.

METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Organik dan Kimia Anorganik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Peralatan dan Bahan Labu Erlenmeyer 250 mL Iwake Pyrex, Beakerglass (50 mL, 100 mL, 250 mL) Iwake Pyrex, Gelasukur (50 mL, 100 mL) Iwake Pyrex, Pipet tetes, Alat pres hidrolik, Termometer, Refluks leher tiga,Corong pisah, Ayakan 100 mesh, Magnetic stirrer merk Cimarec 2 Thermolyne, Neraca analitik Mettler AE200 dengan ketelitian 0,0001, Gas Kromatografi gas Hewlett Pacard 5890 series II, Seperangkat alat GC-MS merk shimadzu QP-5000.

Zeolit sekam padi jenis IR, Biji kapuk, Metanol MR 32,04 g/mol 1,11 gr/cm3 buatan E Merck, Asam fosfat MR 97,97 g/mol 3,4 gr/cm3 buatan E Merck, Aquades, Air panas.

Pengepresan Biji Kapuk Biji kapuk randu dipress dengan menggunakan mesin pres hidrolik. Minyak yang keluar dari mesin press mengandung kotoran dari kulit dan senyawa kimia: alkaloid, fosfatida, karotenoid, khlorofil dan lain-lain. Proses selanjutnya adalah pemisahan getah (degumming terhadap minyak biji kapuk yang dihasilkan oleh mesin pres).

Degumming Degumming dilakukan dengan memanaskan minyak biji kapuk sampai suhu 80C kemudian ditambahkan asam fosfat 20% sebanyak 0,2% volume minyak dan diaduk selama 15 menit. Proses pencampuran menghasilkan campuran minyak biji kapuk, asam fosfat, gum. Campuran tersebut ditambahkan air sebanyak 3% volume minyak dan diaduk selama 30 menit. Maka akan menghasilkan minyak biji kapuk netral dan gum. Campuran minyak biji kapuk netral dan gum kemudian didiamkan selama 12 jam dan dilakukan pemisahan gum dengan corong pisah, maka akan dihasilkan minyak biji kapuk.

Transesterifikasi Minyak Biji Kapuk Randu Dengan Variasi Massa Zeolit Sekam Padi

Transesterifikasi dilakukan pada labu reaksi leher tiga dengan kapasitas satu liter dilengkapi kondensor dan pengaduk yang ditempatkan pada lempeng pemanas listrik. Diambil rasio volume methanol : minyak adalah 6:1. Minyak biji kapuk sebanyak 50 ml dipanaskan hingga mencapai suhu yang diinginkan 60oC. Pada saat yang sama, katalis zeolit sekam padi sebanyak 1, 2 dan 3 gram dilarutkan dalam metanol dengan volume 300 ml. Menuangkan katalis tersebut dalam labu leher tiga, aduk campuran tersebut pada skala 100 rpm dan suhu dijaga konstan selama 1 jam. Setelah 1 jam, pemanasan dan pengadukan dihentikan dan selanjutnya dilakukan pemurnian produk.

Pemurnian Produk Produk yang dihasilkan dari kondisi optimal proses didiamkan selama 12 jam untuk memisahkan dengan sempurna biodiesel dan gliserol. Lapisan atas adalah biodiesel yang berwarna kuning dan lapisan bawah adalah gliserol bewarna putih. Setelah dipisahkan dari gliserol, kemudian metanol sisa reaksi transesterifikasi dimurnikan dengan menggunakan destilasi vakum sampai suhu mencapai 74oC, dan biodiesel dicuci dengan air sampai pH biodiesel menjadi netral (pH 7). Setelah pencucian, biodiesel dipanaskan sampai suhu 100oC untuk menghilangkan sisa air (Bahtiar, 2008).

Karakterisasi Biodiesel Karakterisasi biodiesel menggunakan kromatografi gas (GC) untuk mengetahui waktu retensi pembentukan biodiesel dan persen area biodiesel. Sedangkan untuk mengetahui jenis biodiesel yang diperoleh dilakukan dengan alat kromatografi gas-spektrometer massa (GC-MS