Anda di halaman 1dari 15

Rachindi Qory Trysia 61111011 KATA SULIT : Kateterisasi urin Kateterisasi urin adalah penyisipan sebuah tabung yang

g dirancang khusus ke dalam kandung kemih me nggunakan teknik aseptik, untuk tujuan pengeringan air seni, menghilangkan bekuan / puing-puing, da n tentang penerapan pengobatan. (www.scribd.com) Analgesic 1. Meredakan nyeri 2. Tidak sensitif terhadap nyeri 3. Agen yang mengurangi nyeri tanpa menyebabk an hilangnya rasa nyeri. (Dorland, 2010) Antipasmodic Antispasmodik adalah obat yang membantu mengurangi atau menghentikan kejang otot polos. Contoh nya adalah dicyclomine dan atropin. (kamus kesehatan) Foto BNO BNO merupakan satu istilah medis dari bahasa Belanda yang merupakan kependekan dari Blass Nier Overzicht (Blass = Kandung Kemih, Nier = Ginjal, Overzicht = Penelitian). Dalam bahasa Inggris, BN O disebut juga KUB (Kidney Ureter Blass). Jadi, pengertian BNO adalah suatu pemeriksaan didaerah abdomen / pelvis untuk mengetahui kelainan-kelainan pada daerah tersebut khususnya pada sistem uri naria. (www.firzandinata.wordpress.com) TUJUAN KHUSUS : 1. Anamnesis Penyakit Saluran Kemih yang mengalami penyumbatan Keluhan Utama Sakit Perut Hebat Pada anamnesis penderita dengan gawat abdomen ditanya terlebih dahulu permulaan nyer inya(kapan mulai, mendadak atau berangsur), letaknya (menetap, pindah atau beralih), kepara hannyadan sifatnya (seperti ditusuk, tekanan, terbakar, irisan, bersifat kolik), perubahannya (ba ndingkandengan permulaan), lamanya, apakah berkala, dan faktor apakah yang mempengaruhi nya(adakah yang memperingan atau memberatkan seperti sikap tubuh, makanan, minuman, na fasdalam, batuk, bersin, defekasi, miksi). Harus ditanyakan apakah pasien pernah nyeri seperti ini.Muntah sering ditemukan pada penderita gawat perut. Pada obstruksi usus tinggi muntah ti dak akan berhenti, malahan biasanya bertambah hebat. Sembelit (konstipasi) didapatkan padao bstruksi usus besar dan pada peritonitis umum. Nyeri tekan didapatkan pada letak iritasi perito nium. Jika ada peradangan peritonium setempatditemukan tanda rangsang peritonium yang ser ing disertai defans muskuler. Pertanyaanmengenai defekasi, miksi, daur menstruasi dan gejala lain seperti keadaan sebelum diserangtanda gawat perut, harus dimasukkan dalam anamnesis. Riwayat Penyakit sekarang Sakit pinggang Anamnesis yang cermat dan terperinci tentang sifat nyeri, saat timbulnya, lokalisasi serta radiasinya sangat diperlukan dalam menetapkan diagnosa. Perlu ditanyakan tentang peristiwa s ebelumnya yang mungkin menjadi pencetus keluhan, seperti adanya trauma, sikap tubuh yang salah, misalnya waktu mengangkat beban, kegiatan fisik atau olahraga yang tidak biasa, dan p enyakit yang dapat berhubungan dengan keluhan nyeri pinggang tersebut. Buang air kecil tidak lancar Sejak tadi pagi tidak bisa buang air kecil sama sekali 2. Pemeriksaan Fisik Inspeksi

Dilakukan pada pasien dengan posi si tidur terlentang dan diamati d e n g a n seksama dinding abdomen. Yang perlu diperhatikan adalah: Keadaan kulit; warnanya (ikterus, pucat, coklat, kehitam an),elastisitasnya(menurun pada orang tua dan dehidrasi), kering (dehidrasi), lembab (asites), danadanya bekas-bekas garukan (penyakit ginjal kronik, ikterus obstruktif), jaringanparut (tentukan lokasinya), striae (gravidarum/ cushing syndrome), pelebaran pembuluh darah vena (obstruksi vena kava inferior & kolateral pada hipertensiportal). Besar dan bentuk abdomen; rata, menonjol, atau scaphoid (cekung). Simetrisitas; perhatikan adanya benjolan local (hernia, h e p a t o m e g a l i , splenomegali, kista ovarii, hidronefrosis). Gerakan dinding abdomen pada peritonitis terbatas. Pembesaran organ atau tumor, dilihat lokasinya dapat diperkirakan organ apaatau tumor apa. Peristaltik; gerakan peristaltik usus meningkat pada obstruksi ileus, tampak padadinding abdomen dan bentuk usus juga tampak (darm-contour ). Pulsasi; pembesaran ventrikel kanan dan aneurisma aorta sering memberikangambaran pulsasi di daerah epigastrium dan umbilical. Perhatikan juga gerakan pasien: Pasien sering merubah posisi adanya obstruksi usus. Pasien sering menghindari gerakan iritasi peritoneum generalisata. Pasien sering melipat lutut ke atas agar tegangan abdomen berkurang/ relaksasi peritonitis. Pasien melipat lutut sampai ke dada, berayun-ayun maju mundur pada saat nyeri pankreatitis parah. Auskultasi Kegunaan auskultasi ialah untuk mendengarkan suara peristaltic usus dan bising pembuluh darah. Dilakukan selama 2-3 menit. Mendengarkan suara peristaltic usus. Diafragma stetoskop diletakkan pada dinding abdomen, lalu dipindahkan keseluruh bagian abdomen. Suara peristaltic usus terjadi akibat adanya gerakancairan dan udara dalam usus. Frekuensi normal berkisar 5-34 kali/ menit.B i l a t e r d a p a t o b s t r u k s i u s u s , p e r i s t a l t i c meningkat disertai rasa sakit(borborigmi). Bila obstruksi makin berat, a b d o m e n t a m p a k m e m b e s a r d a n tegang, peristaltic lebih tinggi seperti dentingan keeping uang logam (metallic-sound).Bila terjadi peritonitis, peristaltic usus akan melemah, frekuensinya lambat,bahkan sampai hilang. Mendengarkan suara pembuluh darah.Bising dapat terdengar pada fase sistolik dan diastolic, atau kedua fase.Misalnya pada aneurisma aorta, terdengar bising sistolik (systolic bruit ). Padah i p e r t e n s i p o r t a l , t e r d e n g a r a d a n y a b i s i n g v e n a ( v e n o u s h u m ) d i d a e r a h epigastrium. Palpasi Beberapa pedoman untuk melakukan palpasi, ialah: Pasien diusahakan tenang dan santai dalam posisi berbaring t e r l e n t a n g . Sebaiknya pemeriksaan dilakukan tidak buru-buru.

Palpasi dilakukan dengan menggunakan palmar jari dan telapak tangan.S e d a n g k a n u n t u k m e n e n t u k a n b a t a s t e p i o r g a n , d i g u n a k a n u j u n g j a r i . Diusahakan agar tidak melakukan penekanan yang mendadak, agar tidak timbultahanan pada dinding abdomen. Palpasi dimulai dari daerah superficial, lalu ke bagian dalam. Bila ada daerahyang dikeluhkan nyeri, sebaiknya bagian ini diperiksa paling akhir. Bila dinding abdomen tegang, untuk mempermudah palpasi maka pasien dimintauntuk menekuk lututnya. Bedakan spasme volunteer & spasme sejati; denganmenekan daerah muskulus rectus, minta pasien menarik napas dalam, jika muskulus rectus relaksasi, maka itu adalah spasme volunteer. Namun jika ototkaku tegang selama siklus pernapasan, itu adalah spasme sejati. Palpasi bimanual; palpasi dilakukan dengan kedua telapak tangan, dimana tangan kiri berada di bagian pinggang kanan atau kiri pasien sedangkan tangankanan di bagian depan dinding abdomen. Pemeriksaan ballottement; cara palpasi organ abdomen dimana terdapat asites.Caranya dengan melakukan tekanan yang mendadak pada dinding abdomen& dengan cepat tangan ditarik kembali. Cairan asites akan berpindah untuksementara, sehingga organ atau massa tumor yang membesar dalam ronggaabdomen dapat teraba saat memantul.Teknik ballottement juga dipakai untuk memeriksa ginjal, dimana gerakanpenekanan pada organ oleh satu tangan akan dirasakan pantulannya padatangan lainnya. Setiap ada perabaan massa, dicari ukuran/ besarnya, bentuknya, lokasinya,konsistensinya, tepinya, permukaannya, fiksasi/ mobilitasnya, nyeri spontan/tekan, dan warna kulit di atasnya. Sebaiknya digambarkan skematisnya.Palpasi hati; dilakukan dengan satu tangan atau bimanual pada kuadran kananatas. Dilakukan palpasi dari bawah ke atas pada garis pertengahan antara mid-line &SIAS. Bila perlu pasien diminta untuk menarik napas dalam, sehingga hati dapat teraba.Pembesaran hati dinyatakan dengan berapa sentimeter di bawah lengkung costa danberapa sentimeter di bawah prosesus xiphoideus. Sebaiknya digambar. Perkusi Perkusi berguna u n t u k m e n d a p a t k a n o r i e n t a s i k e a d a a n a b d o m e n s e c a r a keseluruhan, menentukan besarnya hati, limpa, ada tida knya asites, adanya massa padat atau massa berisi cairan (kista), adanya udara yang meningkat dalam lambung dan usus, serta adanya udara bebas dalam rongga abdomen. Suara perkusi abdomenyang normal adalah timpani (organ berongga yang berisi udara), kecuali di daerah hati(redup; organ yang padat). Orientasi abdomen secara umum.Dilakukan perkusi ringan pada seluruh dinding abdomen secara sistematisuntuk mengetahui distribusi daerah timpani dan daerah redup (dullness). Padaperforasi usus, pekak hati akan menghilang. Cairan bebas dalam rongga abdomenAdanya cairan bebas dalam rongga abdomen (asites) akan menimbulkansuara perkusi timpani di bagian atas dan dullness dibagian samping atau suaradullness dominant. Karena cairan itu bebas dalam rongga abdomen, maka bilap a s i e n dimiringkan akan terjadi perpindahan cairan ke sisi terendah. C a r a pemeriksaan asites: O Pemeriksaan gelombang cairan (undulating fluid wave).Teknik ini dipakai bila cairan asites cukup banyak. Prinsipnyaadalah ketukan pada satu sisi dinding abdomen akan menimbulkangelombang cairan yang akan diteruskan ke sisi yang lain.Pasien tidur terlentang, pemeriksa meletakkan telapak tangan kiripada satu sisi abdomen dan tangan kanan melakukan ketukan berulang-ulang pada dinding abdomen sisi yang lain. Tangan kiri kan merasakanadanya tekanan gelombang. Pemeriksaan pekak alih (shifting dullness).Prinsipnya cairan bebas akan berpindah ke bagian abdomenterendah. Pasien tidur terlentang, lakukan perkusi dan tandai peralihansuara timpani ke

redup pada kedua sisi. Lalu pasien diminta tidur miringp a d a s a t u s i s i , l a k u k a n p e r k u s i l a g i , t a n d a i t e m p a t p e r a l i h a n s u a r a timpani ke redup maka akan tampak adanya peralihan suara redup. Hasil pemeriksaan fisik antara lain : a. Kadang-kadang teraba ginjal yang mengalami hidronefrosis/obstruktif. b. Nyeri tekan/ketok pada pinggang. c. Batu uretra anterior bisa di raba. d. Pada keadaan akut paling sering ditemukan adalah kelembutan di daerah pinggul (flank tenderness), ini disebabkan oleh hidronefrosis akibat obstruksi sementara yaitu saat batu melewati ureter menuju kandung kemih.

3. DD Batu Ginjal

Berikut beberapa gejala yang bisa anda pakai pegangan untuk mengarahkan keluhan tersebut ke gejala batu ginjal : *Rasa sakit yang luar biasa pada pinggang bawah baik satu sisi maupun keduanya. *Nyeri dirasakan sampai ke pangkal paha. *Terdapat darah pada air kencing. *Rasa meriang atau demam seperti gejala flu. *Mual dan muntah. *Warna air kencing keruh. *Bau air kencing yang lebih menyengat. *Rasa panas atau terbakar saat kencing. Batu saluran kemih Batu, terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Batu di dalam kandung kemih bisa menyebabkan nyeri di perut bagian bawah.

Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis bisa menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat). Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha sebelah dalam. Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut menggelembung, demam, menggigil dan darah di dalam air kemih. Penderita mungkin menjadi sering berkemih, terutama ketika batu melewati ureter. Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat aliran kemih, bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang terkumpul diatas penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi. Jika penyumbatan ini berlangsung lama, air kemih akan mengalir balik ke saluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal. Pembesaran Prostat Jinak Pembesaran kelenjar prostat dapat menimbulkan gejala-gejala sumbatan dan iritasi salura n kemih yang dikenal sebagai lower urinary tract symptoms (LUTS). Gejala-gejala sumbatan dapat dirasakan penderita berupa berkemih yang tersendat-sendat, tidak lampias setelah buan g air kecil, pancaran air kencing yang lemah, adanya urin yang menetes saat akhir kencing, se rta harus mengedan saat buang air kecil. Gejala iritasi dapat dirasakan oleh pasien berupa seri ngnya buang air kecil, keinginan untuk buang air kecil yang tidak tertahankan, sering kencing di malam hari, dan adanya rasa nyeri saat buang air kecil. Jika tidak diobati, pembesaran prostat jinak ini dapat menjadi lebih parah karena adanya air kencing yang masih tersisa di dalam kandung kemih, maka dapat menimbulkan tertahann ya bakteri sehingga dapat menimbulkan infeksi saluran kemih.

4. Pemeriksaan Penunjang mri, usg, urografi retrogrape, ct, foto bno, foto polos,

Apakah Arti MRI ? MRI( Magnetic Resonance Imaging ) merupakan suatu alat diagnostik mutakhir untuk memeriksa dan mendeteksi tubuh anda dengan menggunakan medan magnet yang besar dan gelombang frekuensi radio, tanpa operasi, penggunaan sinar X, ataupun bahan radioaktif. selama pemeriksan MRI akan memungkinkan molekul-molekul dalam tubuh bergerak dan bergabung untuk membentuk sinyal-sinyal. Sinyal ini akan ditangkap oleh antena dan dikirimkan ke komputer untuk diproses dan ditampilkan di layar monitor menjadi sebuah gambaran yang jelas dari struktur rongga tubuh bagian dalam Apakah manfaat pemeriksaan dengan MRI ?

MRI menciptakan gambar yang dapat menunjukkan perbedaan sangat jelas dan lebih sensitive untuk menilai anatomi jaringan lunak dalam tubuh, terutama otak,.sumsum tulang belakang, susunan saraf dibandingkan dengan pemeriksaan x-ray biasa maupun CT scan Juga jaringan lunak dalam susunan musculoskeletal seperti otot, ligament , tendon , tulang rawan , ruang sendi seperti misalnya pada cedera lutut maupun cedera sendi bahu. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan dengan MRI yaitu evaluasi anatomi dan kelainan dalam rongga dada, payudara , organ organ dalam perut, payudara, pembuluh darah, dan jantung, . Pada umumnya struktur tulang akan dapat lebih diteliti dengan lebih baik dengan CT scan daripada dengan MRI. Apakah pemeriksaan dengan MRI aman ? Prosedur MRI tidak menimbulkan sakit, kerusakan jaringan dan sebagainya. Namun karena berada di medan magnet yang besar,pada saat pemeriksaan berlangsung akan dapat menarik benda-benda yang bersifat logam, dan menyebabkan tempatnya bergeser .Bisa dibayangkan jika letaknya di dalam tubuh maka akan dapat melukai pasien. Oleh karena itu sangatlah penting diingatkan kepada pasien untuk melepas benda-benda yang bersifat logam sebelum pasien menjalani pemeriksaan MRI. Fasilitas MRI tentu saja mengharuskan operator atau staf radiologi untuk mengetahui keberadaan benda-benda logam di dalam tubuh dengan menanyakan riwayat operasi atau riwayat kesehatan pasien sebelumnya. Benda-benda logam yang ditanamkan di dalam tubuh (implant) antara lain dapat berupa clip pada operasi aneurisma, pacemaker pada jantung, alat bantu dengar (hearing-aid), gigi palsu, dan sebagainya. Pada pasien dengan keadaan-keadaan tersebut diatas prosedur MRI dapat dibatalkan karena takut akan melukai pasien. Apakah Keunggulan MRI ? Kelebihan MRI berbanding peralatan lain ialah gambar yang dihasilkan lebih jelas serta dapat dilihat dari berbagai sisi tanpa melibatkan pengunaan radiasi, memberikan hasil tanpa perlu mereposisi pasien, tidak menggunakan kontras untuk sebagian besar pemeriksaan MRI. Fasilitas MRI di Rumah Sakit Medistra dilengkapi dengan kemampuan untuk menilai funksi organ tertentu secara dinamik ( Functional MRI ), untuk menilai distribusi darah baik di otak maupun di jantung ( Perfusion Imaging ) serta melihat metabolisme yang ada didalam sebuah tumor (Spectroscopy Imaging ) Bagaimana pemeriksaan MRI dilakukan dan bagaimana persyaratan pemeriksaan ?

Apa saja yang harus dipersiapkan untuk menjalani pemeriksaan MRI ? Tidak ada persiapan khusus untuk pemeriksaan MRI. Hanya saja pasien akan diminta untuk melepaskan beberapa benda-benda logam seperti :

dompet, kartu kredit, dam kartu-kartu lainnya peralatan elektronik seperti telepon genggam alat bantu pendengaran (hearing-aid) perhiasan atau jam tangan bolpen, klip kertas, kunci, dan koin ikat rambut ,bulu mata palsu baju yang memiliki kancing logam / resleting logam sepatu, sabuk, pin, dsb. Sebelum prosedur MRI pasien akan diminta untuk mengisi kuesioner / selembar kertas mengenai keadaan pasien sebelum dilakukan pemeriksaan MRI. Selain itu pasien akan ditanyakan juga riwayat kesehatan atau operasi sebelumnya. Seperti pada pemeriksaan CT scan dan Radiologi lainnya , kadang kadang dokter memerlukan penyuntikan kontras media intra vena pada kasus tertentuk untuk memperjelas kelainan yang ada didalam tubuh .Untuk hal ini pasien diharapkan puasa untuk tidak makan padat 4 jam sebelum pemerikaan . Dan untuk menghindari kemungkinan risiko penyuntikan kontras intravena terhadap gangguan funksi ginjal , maka diperlukan penilaian funksi ginjal ( cek ureum dan creatinine darah ) sebelum pemeriksaan dilakukan MRI dilakukan di ruangan khusus dan pasien akan diminta oleh staf radiologi untuk berbaring didalam meja pemeriksaan . Selanjutnya dipasang penutup telinga untuk mengurangi bunyi mesin yang tidak diinginkan.( beberapa jenis suara akan terdengar dari mesin selama pemeriksaan berlangsung ) . Hal penting yang harus dilakukan oleh pasien adalah berbaring dengan tenang dan relaks. Pemeriksaan MRI biasanya berlangsung antara 20-60 menit tergantung dari bagian tubuh mana yang akan diperiksa . Saat pemeriksaan berlangsung petugas MRI akan dapat berkomunikasi dengan Anda dapat mendengar Anda, serta mengobservasi Anda setiap saat. Segera sampaikan kepada petugas MRI

jika ada perasaan yang tidak nyaman pada saat pemeriksaan berlangsung. Setelah prosedur MRI selesai, Anda dapat melakukan aktivitas normal.

Indikasi Kontra indikasi Tujuan Prinsip Dasar Pemeriksaan Efek Samping

5. Tentang Kateterisasi Indikasi A . Diagnostik (secepatnya dilepas) Mengambil sample urin untuk kultur urin Mengukur residu urine Memasukan bahan kontras untuk pemeriksaan radiology (uretrografi dan sistografi) Urodinamik Monitor produksi urine atau balance cairan. B. Terapeutik Retensi Urin ditandai kandung kemih pasien sangat penuh dan distended baik akutmaupun kronis. Output urin sangat berkurang Buli-buli neuropathy Adanya obstruksi aliran keluar Pasien dalam keadaan syok atau pre-syok Pasien mengalami trauma spinal akut Kontra indikasi a. Trauma / perlukaan pada uretra Kateterisasi uretra dikontraindikasikan bila adanya trauma pada traktus urinarius bagian bawah (robekan urethral). Kondisi ini biasanya dicurigai pada pasien pria dengan trauma pelvis atau tipe straddle. Tanda yang menambah kecurigaan adanya trauma adalah adanya prostat letak tinggi atau prostat boggy, hematom perineal, atau keluarnya darah dari meatus. Jika ditemukan tandatanda ini maka dapatdimungkinkan adanya trauma uretra, urethrogram retrograde dapat dilakukan untuk mengesampingkan adanya robekan uretra sebelum dipasang kateter b. Striktur uretra c. Infeksi uretra Tujuan Untuk segera mengatasi distensi kandung kemih Untuk pengumpulan spesimen urine Untuk mengukur residu urine setelah miksi di dalam kandung kemih Untuk mengosongkan kandung kemih sebelum dan selama pembedahan Prinsip Dasar Pemeriksaan Prinsip prinsip pemasangan kateter : Gentle Sterilitas Lubrikasi yang adekuat Menggunakan kateter ukuran kecil

Sarana yang digunakan Desinfektan : betadin Aquades steril Gel Kain kasa steril Duk steril Spuit 10 cc Sarung tangan steril Kateter folley ukuran 6-18 untuk dewasa dan no.8 -12 untuk anak dan urin bag Mangkuk steril Posisi Pada pria : terlentang Pada wanita : terlentang frog leg Tindakan Kateterisasi Tindakan kateterisasi merupakan tindakan invasif dan dapat menimbulkan rasa nyeri,sehingga bila dikerjakan dengan cara yang keliru akan menimbulkan kerusakan saluran urethra yang permanen. Oleh karena itu, sebelum menjalani tindakan ini, pasien harusdiberi penjelasan danmenyatakn persetujuannya melalui surat persetujuan tindakan medic (informed consent).

Langkah-langkah kateterisasi pada laki-laki a. Disinfeksi pada penis dan daerah disekitarnya, daerah genitalia dipersempit dengankain steril. b. Kateter yang telah diolesi dengan pelican/jelly dimasukkan ke dalam orifisiumurethra eksternum (jelly bisa dicampur dengan lidokain hidroklorida 2%). c. Pelan-pelan kateter di dorong masuk dan kira-kira pada daerah bulbomembranacea(yaitu daerah sfingter urethra eksterna) akan terasa tahanan; dalam hal ini, pasiendiperintahkan untuk mengambil nafas dalam supaya sfingter urethra eksternamenjadi rileks. Kateter terus di dorong hingga masuk buli-buli yang ditandaidengan keluarnya urine dari lubang kateter d. Sebaiknya kateter terus didorong masuk ke bli-buli lagi hingga percabangan katetermenyentuh meatus urethra eksterna. e. Balon kateter dikembangkan dengan 5-10 ml air steril. f. Jika diperlukan kateter menetap, kateter dihubungkan dengan urine bag. g. Kateter difiksasi dengan plester di daerah inguinal atau pada paha bagianproksimal. Fiksasi yang tidak betul (yang mengarah ke caudal) akan menyebabkanterjadinya penekanan pada urethra bagian penoskrotal sehinga terjadi nekrosis. Selanjutnya di tempat ini akan timbul striktur urethra atau fistel urethra.

Penyulit pada Kateterisasi a. Kesulitan dalam memasukkan KateterKesulitan memasukkan kateter pada pasien pria dapat disebabkan oleh karenakateter tertahan di uretra pars bulbosa yang bentuknya seperti huruf S, Ketegangan dari sfingter uretra eksterna karena pasien merasa kesakitan dan ketakutan, atau terdapat sumbatan organik di uretra yang disebabkan oleh batu uretra, striktur uretra,kontraktur leher buli-buli, atau tumor uretra. Ketegangan sfingter uretra eksternadapat diatasi dengan cara :

1). Menekan tempat itu selama beberapa menit dengan ujung kateter sampai terjadirelaksasi sfingter dan diharapkan kateter dapat masuk dengan lancar ke buli-buli. 2). Pemberian anestesi topikal berupa campuran lidokain hidroklorida 2% dengan jelly 10 20 ml yang dimasukkan per-uretram, sebelum dilakukan kateterisasi.3) Pemberian sedativa perenteral sebelum kateterisasi. b. Penyulit Setelah Pemasangan KateterPemakaian kateter menetap akan mengundang timbulnya beberapa penyulit jikapasien tidak merawatnya dengan benar. Karena itu beberapa hal yang perlu dijelaskanpada pasien adalah : 1) Pasien harus banyak minum untuk menghindari terjadinya enkrustasi pada kateterdan tertimbunnya debris/kotoran dalam buli-buli. 2) Selalu membersihkan nanah, darah dan getah/sekret kelenjar periuretra yangmenempel pada meatus uretra/kateter dengan kapas basah. 3) Jangan mengangkat/ meletakkan kantong penampung urine lebih tinggi dari padabuli-buli karena dapat terjadi aliran balik urine ke buli-buli. 4) Jangan sering membuka saluran penampung yang dihubungkan dengan kateter karenaakan mempermudah masuknya kuman. 5) Mengganti kateter setiap 2 minggu sekali dengan yang baru. Penyulit yang bisa terjadi pada tindakan kateterisasi 1) Kateterisasi yang kurang hati-hati (kurang kesabaran) dapat menimbulkan lesi danpendarahan pada uretra apalagi jika mempergunakan kateter logam. Tidak jarang pulakerusakan uretra terjadi karena balon kateter sudah dikembangkan sebelum ujungkateter masuk ke dalam buli-buli. 2) Tindakan kateterisasi dapat mengundang timbulnya infeksi 3) Fiksasi kateter yang keliru akan menimbulkan nekrosis uretra di bagian penoskrotal dan dapat menimbulkan fistula, abses, ataupun striktura uretra. 4) Kateter yang terpasang dapat bertindak sebagai inti dari timbulnya batu saluran kemih. 5) Pemakian kateter dalam jangka waktu lama akan menginduksi timbulnya keganasan pada buli-buli. ------"Kateter adalah tabung hampa yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dari, ataumemasukkan cairan ke rongga badan atau viskus" (Pomfret, 1996). Kateterisasi urin adalahpenyisipan sebuah tabung yang dirancang khusus ke dalam kandung kemih menggunakanteknik aseptik, untuk tujuan pengeringan air seni, menghilangkan bekuan / puing-puing, dantentang penerapan pengobatan. Ukuran kateter Kateter Pria yang 30cms panjang Panjang pendek tersedia untuk perempuan Charriere size (Lumen lebar) berkisar dari Ch 6 (Pediatri) untukCh 24 (Post op) Ch 12 adalah pilihan yang lebih disukai untuk urethras Ch 16 adalah pilihan untuk supra pubic sites Semakin kecil lumen semakin kurang kemungkinan dari trauma Pertimbangkan Ch besar hanya jika sejarah kateter memblokir

Persiapan alat O Bak instrumen berisi : Polykateter sesuai ukuran 1 buah Urine bag steril 1 buah Pinset anatomi 2 buah Duk steril Kassa steril yang diberi jelly O Sarung tangan steril O Kapas sublimat dalam kom tertutup O Perlak dan pengalasnya 1 buah O Cairan aquades atau Nacl O Plester O Gunting verband O Bengkok 1 buah O Korentang pada tempatnya PENATALAKSANAAN 1. Menyiapkan penderita : untuk penderita laki-laki dengan posisi terlentang sedang wanitadengan posisi dorsal recumbent atau posisi Sim 2. Aturlah cahaya lampu sehingga didapatkan visualisasi yang baik 3. Siapkan deppers dan cucing , tuangkan bethadine secukupnya 4. Kenakan handscoen dan pasang doek lubang pada genetalia penderita 5. Mengambil deppers dengan pinset dan mencelupkan pada larutan bethadine 6. Melakukan desinfeksi sebagai berikut : Pada penderita laki-laki : Penis dipegang dan diarahkan ke atas atau hampir tegak lurus dengan tubuh untuk meluruskan urethra yang panjang dan berkelok agar kateter mudah dimasukkan . desinfeksi dimulai dari meatus termasuk glans penis danmemutar sampai pangkal, diulang sekali lagi dan dilanjutkan dengan alkohol. Padasaat melaksanakan tangan kiri memegang penis sedang tangan kanan memegangpinset dan dipertahankan tetap steril. Pada penderita wanita : Jari tangan kiri membuka labia minora, desinfeksi dimulaidari atas ( clitoris ), meatus lalu kearah bawah menuju rektum. Hal ini diulang 3 kali .deppers terakhir ditinggalkan diantara labia minora dekat clitoris untuk mempertahankan penampakan meatus urethra. 7. Lumuri kateter dengan jelly dari ujung merata sampai sepanjang 10 cm untuk penderitalakilaki dan 4 cm untuk penderita wanita. Khusus pada penderita laki-laki gunakan jellydalam jumlah yang agak banyak agar kateter mudah masuk karena urethra berbelit-belit.

8. Masukkan katether ke dalam meatus, bersamaan dengan itu penderita diminta untuk menarik nafas dalam. Untuk penderita laki-laki : Tangan kiri memegang penis dengan posisi tegak lurus tubuh penderita sambil membuka orificium urethra externa, tangan kanan memegangkateter dan memasukkannya secara pelan-pelan dan hati-hati bersamaan penderitamenarik nafas dalam. Kaji kelancaran pemasukan kateter jika ada hambatan berhentisejenak kemudian dicoba lagi. Jika masih ada tahanan kateterisasi dihentikan.Menaruh neirbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar. Masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 5 7,5 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi +/- 3cm. Untuk penderita wanita : Jari tangan kiri membuka labia minora sedang tangan kananmemasukkan kateter pelan-pelan dengan disertai penderita menarik nafas dalam . kajikelancaran pemasukan kateter, jik ada hambatan kateterisasi dihentikan. Menaruhnierbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar. Masukkan kateter sampaiurine keluar sedalam 18 23 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi +/- 3 cm. 9. Mengambil spesimen urine kalau perlu 10.Mengembangkan balon kateter dengan aquadest steril sesuai volume yang tertera pada label spesifikasi kateter yang dipakai. 11.Memfiksasi kateter :Pada penderita laki-laki kateter difiksasi dengan plester pada abdomenPada penderita wanita kateter difiksasi dengan plester pada pangkal paha12.Menempatkan urobag ditempat tidur pada posisi yang lebih rendah dari kandung kemih13.Melaporkan pelaksanaan dan hasil tertulis pada status penderita yang meliputi : Hari tanggal dan jam pemasangan kateter Tipe dan ukuran kateter yang digunakan Jumlah, warna, bau urine dan kelainan-kelainan lain yang ditemukan Nama terang dan tanda tangan pemasang Efek Samping

6. Penatalaksanaan Penyakit Saluran Kemih yang mengalami penyumbatan Medikamentosa : Ivfd RL 20 tpm Inj. Cefotaxim 2x1, Inj. Gentamicin 2x1, Inj. dolax 30 mg 2x1, Inj.Metil Prednisolon 3x1, Urinter tab 2x1, Paracetamol tab 3x1, Nephrolit tab 3x2. Medikamentosa yang sering di pakai :

o o o o o o o

Antibiotika : melawan infeksi, bekerja secara sistemik atau terutama lokal Kortikosteroid : pada kasus sindroma neprotik dan glomerulonefritis Obat peluruh batu saluran kemih Spasmolitik : pengurang nyeri kolik / kejang otot Diuretik : pada edema / bengkak Antihipertensi : menekan komplikasi Anti hipertrofi /hiperplasi prostat

1. a. Antiseptik Saluran Kemih


o o

obat antimikroba dengan sifat mempunyai kadar yang cukup tinggi pada saluran kemih saja sehingga bekerja secara lokal. 3 macam obat yang banyak beredar di pasaran Indonesia yaitu : Pipemidic Acid (Asam Pipemidat), Nalidixic Acid (Asam Nalidiksat), dan Phenazopyridine HCl. Pipemidic acid dan Nalidixic acid

o o o o o o o

antibiotika golongan Kuinolon menghambat enzim DNA girase bakteri bersifat bakterisid menghambat E.coli, Proteus sp., Klebsiella sp dan kuman koliform lainnya. ESO : mual, muntah, ruam kulit dan urtikaria, meningkatkan sensitivitas pada sinar. Kontra indikasi : penderita gagal ginjal / kerusakan ginjal yang parah, kehamilan trisemester awal & bulan terakhir kehamilan, epilepsi, sirosis, insufisiensi hati. Phenazopyridine

o o o o o o o o

Efek analgesik lokal di saluran kemih. Bukan antibiotika, bila digunakan bersamaan dengan antibiotika dapat mempercepat masa penyembuhan pada infeksinya. digunakan hanya untuk jangka pendek biasanya 2 hari Juga mengobati iritasi atau rasa tidak enak sewaktu berkemih. sering diberikan setelah pemasangan kateter atau operasi penis yang menyebabkan iritasi saluran kemih. Menimbulkan warna air seni merah kejinggaan atau coklat. ESO : pusing, sakit kepala dan gangguan pencernaan.

1. b. Antibiotik Sistemik, misal : Ampicillin, Amoxicillin, Cotrimoxazole , Ciprofloxacin 2. Batu ginjal atau nyeri kolik akibat batu ginjal misal dengan Ekstraks tumbuh-tumbuhan seperti : Kumis Kucing ( orthosiphonis folium ), contoh produk : batugin elixir, neprolit 3. Terapi inkontinensia (ketidakmampuan untuk mengendalikan pengeluaran air kemih); contoh : Tolterodine l-tartrate, Tolterodine adalah antagonis reseptor muskarinik yang potensial

dan kompetitif , yang menunjukkan menghambat Karbakol yang mempengaruhi kontraksi pada saluran kencing 4. BPH (Benign Prostatic Hyperplasia ), menggunakan :
o o

Golongan antagonis Alpha-1 adrenergik contoh : Afluzosin HCl dan Tamsulosin HCl. Golongan penghambat 5-alpha reductase contoh : Finasteride, menghambat produksi hormon tubuh pria yang menyebabkan pembesaran prostat. 5. Sindroma Neprotik Diuretik : Furosemide , Hidroclortiazide (Hct ) Kortikosterroid (prednison / prednisolon)

o o o

Tahap I selama 4 minggu diberikan tiap hari sehari tiga kali. Tahap II selama 4 minggu diberikan selang sehari, sehari sekali. Tahap III selama 4 minggu dosis obat bertahap dikurangi sampai stop. Non Medikamentosa : Diet TKTP (Tinggi Kalori Tinggi Protein)

Widjoseno Gardjito,Urologi, Pedoman Diagnosa dan Terapi Lab/UPF IlmuBedah RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, 1994

http://cetrione.blogspot.com/2008/05/nyeri-pinggang-low-back-pain-pengertian.html Husnul Muba rak http://www.scribd.com/doc/7632430/Pemeriksaan-Fisik-Abdomen http://www.medistra.com/index.php?option=com_content&view=article&id=52&Itemid=72

RUMAH SAKIT MEDISTRA