Anda di halaman 1dari 7

Tujuan Tantra adalah kebahagiaan yang lengkap dan cara mencapainya adalah dengan

mengembangkan tubuh dan pikiran secara penuh. Meskipun kesempurnaan pikiran dan
tubuh ini dapat diperoleh secara lambat secara alamiah, namun tersedia pula metode yang
terinci untuk pengembangan diri dengan cepat. Bagiannya ada delapan, dan karena latihan
ini bertujuan mencapai kemanunggalan (yoga) dengan Kesadaran Kosmis, maka disebut juga
Astaunga yoga, atau delapan cabang yoga.*)

Dua langkah pertama adalah Yama dan Niyama, yang merupakan tuntunan moral bagi
pengembangan diri manusia. Pemikiran moralitas dalam hal ini adalah perlu karena dengan
mengendalikan budi pekerti kita dapat mencapai keadaan yang lebih tinggi. Pelaksanaannya
tidak sesederhana sekedar menuruti suatu aturan saja.. Tujuan sebenarnya adalah mencapai
kesempurnaan pikiran. Bila keadaan ini tercapai maka tak ada persoalan lagi mengenai
"aturan" karena keinginan untuk melakukan sesuatu yang buruk bagi kesejahteraan kita
sendiri dan orang lain sudah tak hadir lagi dalam pikiran, yang sudah dalam keadaan
seimbang.

I. Yama

Yama berarti "yang mengendalikan", dan penerapan Yama berarti mengendalikan tingkah laku
yang berhubungan dengan dunia luar diri kita. Dalam bukunya A Guide to Human Conduct
Shrii Sarkar dengan jelas memaparkan berbagai sudut mengenai Yama dan Niyama, sambil
memberikan interpretasi yang jelas dan praktisi bagi masyarakat abad 20. Disini kita akan
membahas sepintas mengenai lima bagian Yama dan lima bagian Niyama, namun penjelasan
rinci dapat dibaca dalam Guide of Human Conduct.

1. Prinsip pertama Yama adalah Ahimsa.


Ahimsa berarti tidak menyakiti pihak lain dengan pikiran, perkataan, maupun
tindakan. Sejauh kemampuan, kita tidak boleh sama sekali menyebabkan keberadaan
lain menjadi sakit. Asas ini sering diinterpretasikan selengkapnya sebagai tanpa
kekerasan, namun kalau dilaksanakan sampai ekstrim menjadi sangat tidak praktis.
Misalnya setiap kali kita bernapas terdapat banyak mikroba yang kita hirup dan
bunuh! Untuk memecahkan masalah ini Anandamurti menganjurkan untuk memilih
makanan yang kesadarannya masih kurang berkembang daripada membunuh makhluk
yang telah jauh berkembang. Persoalan lain adalah bela diri. Dalam hal ini
Anandamurti mengatakan bahwa membela diri melawan penyerang atau melawan
orang yang anti sosial adalah dibenarkan. Bahkan bila anda menggunakan kekerasan,
tujuan anda adalah menyelamatkan dan melindungi kehidupan, bukan untuk
menyakiti atau menghalangi kemajuan mental, fisik maupun psikis dari orang itu.

2. Asas kedua Yama disebut Satya.


Pengertian Satya adalah "tindakan pikiran dan penggunaan kata-kata dalam semangat
kesejahteraan" Itu berarti mengungkapakan kebenaran dan bertingkah laku lurus dan
dengan cara jujur demi meningkatkan kesejahteraan semua pihak. Kalau terjadi
bahwa menyampaikan kebenaran sebenarnya akan merugikan pihak lain, maka Satya
berarti menyampaikan sesuatu yang paling baik bagi kesejahteraan yang lain dan
bukannya menyatakan kenyataan yang sebenarnya. Kesetiaan pada Satya akan sangat
memperkuat pikiran dan sangat penting dalam mencapai keberhasilan rohani..

3. Asas ketiga adalah Asetya.


Asetya berarti tidak mengambil milik orang lain. Ini berarti tidak melakukan
pencurian. Juga pencurian yang dilakukan secara mental. Mereka yang ingin
mencuri namun menahan diri karena takut tertangkap sesungguhnya secara "mental"
telah mencuri. Asetya berarti menahan diri dari mencuri baik secara mental maupun
fisik.

4. Asas keempat adalah Brahmacarya.


Ini berarti tetap melekat pada Brahma (Kesadaran Kosmis) dengan memperlakukan
semua keberadaan dan benda sebagai perwujudan dari Kesadaran Kosmis. Pikiran
mengambil bentuk dari apa yang kita pikirkan. Bila kita berpikir secara materialistis,
melihat segala sesuatu hanya sebagai benda material, maka pikiran kita makin lama
makin tumpul. Bila kita dapat melakukan segala sesuatu dengan pikiran bahwa
segalanya di dunia ini adalah Kesadaran Kosmis dalam keadaan alih rupa, maka
pikiran kita akan bergerak menuju suatu keadaan kemenunggalan dengan Kesadaran
Kosmis. Dalam beberapa buku, Brahmacarya diartikan sebagai pantang hubungan
seks. Pengertian ini diajukan oleh pendeta-pendeta abad pertengahan yang ingin
memperoleh pengaruh atas orang-orang biasa yang berkeluarga.

5. Unsur ke lima dari Yama adalah Aparigraha.


Ini berarti tidak menumpuk kekayaan yang berlebihan dari yang sebenarnya kita
butuhkan. Ini berarti hidup sederhana tanpa kekayaan fisik berlebih dari yang
sebenarnya diperlukan. Tentu jumlahnya bervariasi menurut waktu, tempat dan
orang. Ini adalah prinsip utama dalam hidup seseorang maupun bersama, karena
kalau seseorang atau suatu negara menumpuk kekayaan, maka akan mengakibatkan
kelaparan atau kesengsaraan bagi orang lain. Ini juga merupakan bagian yang penting
dalam jalan rohani, karena bila seseorang selalu terbenam dalam kebendaan, maka dia
tak sempat memikirkan Kesadaran Kosmis.

II. Niyama

Bagian utama kedua dari Astaunga Yoga disebut Niyama. Niyama berarti pengendalian diri.
Tanpa pengendalian diri, tak mungkin seseorang mencapai kesadaran yang lebih tinggi.

1. Asas pertama dari Niyama adalah Shaoca.


Shaoca berarti kemurnian pikiran dan tubuh. Ini termasuk kebersihan dunia eksternal
seperti kebersihan tubuh, pakaian, llingkungan, namundan juga kebersihan dunia
internal dalam pikiran. Kebersihan eksternal dapat diperoleh dengan pembersihan
tubuh dan lingkungan secara teratur, sedangkan kemurnian internal dari pikiran dapat
dilakukan dengan sugesti diri. Itu dapat dilakukan dengan menggantikan pikiran yang
merusak dengan pikiran yang baik. Misalnya, bila seseorang merasa kikir, dia harus
selalu berpikir dan melakukan tindakan yang murah hati.

2. Bagian kedua dari Niyama adalah Santosa.


Ini berarti selalu menjaga kesentosaan pikiran. Kalau pikiran lapar akan sesuatu,
pikiran berada dalam keadaan tidak tenang. Setelah keiinginannya terpenuhi, saat
lega dan tenang yang diperoleh pikiran disebut tosa dalam bahasa Sansekerta. Orang
yang dengan mudah dapat terpuaskan dan dapat mepertahankan keadaan puasnya
telah mengikuti Santosa. Pencapaian Santosa berkaitan dengan Aparigraha (yang
telah diuraikan di atas).

3. Asas ketiga Niyama adalah Tapah.


Ini berarti menjalani kekerasan hidup dalam jalan pengembangan diri maupun
bersama. Setiap tindakan yang dilakukan demi melayani orang lain tanpa
mengharapkan imbalan adalah Tapah. Pelayanan itu tentu harus diberikan kepada
orang yang benar membutuhkan. Kalau anda menjalani penderitaan untuk memberi
makan seorang kaya tentu ini bukanlah pelayanan yang bermanfaat. Di jaman dahulu
peminat spiritual melakukan kekerasan pada dirinya dan matiraga (seperti berjalan di
atas api) namun pati raga seperti itu tak bermanfaat bagi peminat spiritual, bagi
masyarakat, maupun bagi Kesadaran Kosmis, jadi tidak mempunyai nilai apapun
untuk perkembangan rohani.

4. Asas keemapt adalah Svadhayaya.


Ini berarti memiliki pengertian yang jelas dalam perkara spiritual. Seseorang harus
membaca dan mencernakan arti dari buku-buku bagus dan kitab suci yang ditulis oleh
orang-orang yang maju secara spiritual. Sekedar membaca tanpa mengerti bukanlah
Svadhyaya. Pentingnya Svhadhyaya adalah bahwa ini akan menghubungkannya
dengan pribadi-pribadi besar dan yang memberikan inspirasi baginya untuk
meneruskan jalannya menuju penyadaran diri.

5. Bagian kelima dari Niyama adalah Iisvara Pranadhana.


Ini menjadikan Kesadaran Kosmis tujuan hidup anda. Hal ini dilakukan melalui
proses meditasi, saat itu meditator memikirkan hanya satu pikiran, Kesadaran
Kosmis. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, dalam meditasi Tantra, meditator
merapalkan mantra yang mengingatkannya pada hubungannya dengan Kesadaran
Kosmis. Proses meditasi ini mencakup pula langkah-langkah untuk melepaskan
pikiran dari benda-benda lain dan memfokuskannya pada Kesadaran Kosmis.

III. Asana

Cabang ketiga dari Astaunga Yoga adalah Asana. Asana adalah sebuah sikap tubuh yang
dipertahankan dengan enak. Asana merupakan bagian yang terkenal dari yoga, namun sering
orang salah mengerti tentangnya. Asana bukanlah latihan yang biasa seperti senam atau
olahraga. Asana adalah latihan khusus yang memberikan berbagai efek tertentu pada
kelenjar-kelenjar endokrin, sendi-sendi, otot, urat, dan syaraf.

Ribuan tahu yang lalu para bijak serilng mengamati berbagai binatang di hutan. Mereka
memperhatikan bahwa setiap biantang memiliki sifat tertentu dan sering binatang mengambil
sikap tertentu. Dengan meniru berbagai sikap biantang, mereka mengenali efeknya pada
tubuh manusia. Misalnya burung merak, seekor burung dengan sistim pencernaan yang kuat
sekali bahkan mampu mencernakan ular beracun. Para bijak masa lalu kemudian
mengembangkan suatu sikap tubuh bagi manusia, menirukan burung merak, yang
memperkuat sistim pencerenaan manusia. Berbagai sikap lain juga dikembangkan untuk
melatih berbagai bagian tubuh lain dan kelenjar. Mereka mengembangkan ribuan sikap.
Namun, Shrii Shrii Anandamurti hanya memilih sekitar empat puluh sikap yang bermanfaat
untuk membantu baik untuk perkembangan spiritual dan juga untuk menyembuhkan atau
menghindarkan berbagai penyakit. (Lihat Carya Carya III dan Yogic Treatments and Natural
Remedies).

Efek yang paling penting dari asana adalah pada kelenjar endokrin yang mengeluarkan
hormon langsung ke dalam aliran darah. Kelenjar endokrin adalah misalnya pankreas, timus,
tiroid, paratiroid, adrenal, dan kelenjar reproduksi (testis dan ovarium). Bila keluaran dari
suatu kelenjar terlalu banyak atau terlalu sedikit, maka akan terjadi salah kerja tubuh.
Misalnya bila kelenjar tiroid, yang terletak di leher, mengeluarkan terlalu banyak cairan,
maka orang itu akan menjadi kurus. Kalau kelenjar itu mengeluarkan cairan terlalu sedikit,
maka orang itu akan jadi sangat gemuk. Sebabnya adalah tiroksin, hormon yang dikeluarkan
kelenjar ini, yang mengatur metabolisme atau keteraturan badan mengubah makanan menjadi
enersi. Asana dapat memperbaiki salah kerja dari tiroid atau kelenjar lain dengan
memberikan tekanan pada kelenjar, yaitu memberikan efek pemijatan pada kelenjar dan
mengatur jumlah darah yang melalui kelenjar itu.

Asana juga dapat mempertahankan tulang punggung menjadi fleksibel, karena hal ini sangat
penting untuk memperlambat penuaan tubuh. Kalau orang menjadi tua, tulang punggungnya
biasanya menjadi kaku. Latihan asana dapat mencegah proses ini.

Efek yang penting lain dari asana adalah bahwa berbagai organ tubuh lainnya terbantu agar
bekerja dengan baik. Misalnya ada beberapa asana yang memijat perut dan isinya serta
organ-organ lain yang berkaitan dengan pencernaan dan pengeluaran kotoran. Berbagai
persoalan seperti pada pencernaan, sembelit, radang perut besar, gagal hati, dan lain lain
dapat ditahan dan diperbaiki dengan melakukan beberapa asana tertentu dibantu dengan diet
yang baik.

Menurut yoga Ananda Marga, berbagai sikap yoga itu harus dipilihkan oleh guru bagi
muridnya agar sesuai dengan kebutuhan pribadi murid itu. Meskipun tersedia begitu banyak
asana, setiap orang memiliki struktur fisiknya masing-masing dengan kekuatan dan
kelemahannya masing-masing, sehingga asanai tertentu mungkin lebih sesuai untuk orang
tertentu daripada untuk orang lain. Untuk memilihkan asana, guru yoga (Acarya) juga akan
mempertimbangkan efek asana pada berbagai pusat syaraf dari tubuh - yaitu cakra-cakra.
Ada dua jalur syaraf yang menelusuri badan dan saling bersilangan lima kali pada tulang
punggung. Tempat jalur syaraf ini bersilangan di tulang punggung adalah pusat enersi psikis
dan disebut cakra (atau chakra). Cakra-cakra ini bukan organ anatomi namun
mengendalikan tugas berbagai organ yang berada dalam daerah sekitar cakra yang
bersangkutan. Jadi seseorang yang menderita masalah pernapasan akan memerelukan
beberapa asana yang memperkuat cakra pada pusat dada. Untuk menanggulangi masalah
pencernaan, diperlukan berbagai asana yang melatih cakra pada daerah pusar. Diagram
berikut menunjukkan letak dari cakra dan organ serta unsur-unsur utama yang
dikendalikannya. Filsafat Tantra menerangkan bahwa dunia ini terdiri atas lima unsur dasar:
ether, udara, cahaya, cairan, dan padatan
.

Selain membantu meningkatkan kesehatan fisik, asana juga mempunyai peran yang penting
untuk pikiran, bila berbagai kelenjar tubuh bekerja dengan baik maka ini akan membantu
keseimbangan mental. Dengan memperkuat pusat-pusat psikis, asana juga membantu
mengendalikan berbagai kecenderungan mental yang dikontrol oleh pusat-pusat tersebut.
Ada lima puluh kecenderungan mental yang tersebar pada enam cakra sebelah bawah.

IV. Pranayama

Bagian keempat dari Astaunga Yoga adalah Pranayama atau pengendalian enersi hidup.
Pranayama merupakan latihan yang cukup terkenal dalam yoga, namun hal-hal yang
mendasari latihan ini kurang dikenal dan perlu diperjelas berikut ini.

Tantra mendefinisikan hidup sebagai suatu gelombang fisik dan mental yang bergerak sejajar
seirama dengan enersi hidup. Enersi hidup dikenal juga sebagai Vayu atau "angin". Dalam
tubuh manusia terdapat sepuluh vayu yang bertanggung jawab untuk kegiatan bergerak
termasuk pernapasan, peredaran darah, pengeluaran kotoran, gerak anggota tubuh, dll.. Titik
pusat pengendali dari semua vayu ini adalah sebuah organ yang dikenal sebagai
Pranendriya. (Pranendriya, seperti halnya cakra, bukanlah organ anatomi.) Pranendriya
juga bertugas menghubungkan berbagai organ perasa dengan suatu titik di otak. Pranendriya
letaknya di tengah dada, dan berdenyut seirama dengan pernapasan. Bila denyut napas dan
pranendriya menjadi cepat maka akan makin sulit bagi pikiran untuk menangkap rasa.
Misalnya setelah balapan lari 1000 meter anda tidak akan dapat segera makan sesuatu dan
mengenali cita rasa yang dimakan karena cepatnya napas dan terganggunya pranendriya.
Selama pernapasan cepat juga akan makin sulit untuk melakukan konsentrasi pikiran.

Dalam pranayama terdapat suatu proses pernapasan sedemikian sehingga denyut


pranendriya berhenti dan pikiran menjadi sangat tenang. Tentu ini akan sangat membantu
meditasi. Pranayama juga mengatur ulang keseimbangan enersi hidup dalam tubuh.
Pranayama adalah latihan yang cukup rumit dan dapat berbahaya bila tidak diajarkan dan
dituntun oleh guru yang mampu. Pelaku pranayama harus mempertahankan pikiran spiritual
dalam pikirannya selama latihan - bila tidak maka pikirannya akan berfokus pada
kecenderungan negatip (misalnya kemarahan) dan pikiran malah akan mundur tingkatnya
bukannya maju. Juga penting untuk mengetahui di bagian mana dari tubuh enersi hidup itu
harus dikumpulkan. Karena rumitnya, pranayama biasanya diajarkan setelah masa persiapan
saat murid telah dilatih membiasakan diri dengan proses dasar meditasi dan beberapa latihan
lain. Dalam sistim Ananda Marga yang dikembangkan oleh Shrii Shrii Anandamurti,
pranayama adalah pelajaran keempat dari enam pelajaran teknik meditasi yang diajarkan
secara pribadi kepada para murid setelah mereka siap untuk pelajaran-pelajaran berikutnya.

V. Pratyahara

Anggota kelima dari Astaunga Yoga dikenal sebagai Pratyahara yang berarti menarik pikiran
dari keterikatannya dengan benda-benda luar. Dalam Tantra, perapalan mantra didahului oleh
suatu proses saat pelaku meditasi menarik pikirannya ke dalam menuju suatu titik. Cerita-
cerita para yogi yang berada dalam keadaan meditasi yang begitu dalam sehingga mereka tak
merasa apapun waktu sebuah jarum ditusukkan ke badannya adalah sebagai contoh betapa
ampuhnya latihan ini. Namun memang bukan persoalan yang mudah untuk mencapai
keadaan penarikan perasaan yang demikian. Secara perlahan, dengan latihan yang teratur dan
tetap, seorang pelaku meditasi pemula akan berhasil dalam proses ini.

Bagian lain dari pratyahara adalah "persembahan warna". Setiap getaran di alam semesta
memiliki warna yang berkaitan dengannya, dan untuk setiap benda dalam pikiran, terdapat
getaran dan warna yang berkaitan. Selama meditasi, pikiran seseorang mungkin akan
dipenuhi oleh berbagai benda. Pada akhir meditasi, seorang meditator melakukan visualisasi
dan secara simbolis mempersembahkan berbagai warna yang berkaitan dengan pengganggu
meditasinya itu kepada Kesadaran Agung. Dengan proses ini pikiran akan makin lepas dari
kemelekatannya pada pikiran dan benda-benda itu. Pelajaran mempersembahkan warna ini
diajarkan sebagai bagian dari tahap ke dua dalam pelajaran pribadi Tantra Yoga sistim
Ananda Marga.

VI. Dharana

Bagian keenam dari Astaunga Yoga adalah Dharana. Dharana berarti konsentrasi pikiran
pada suatu titik tertentu. Dalam latihan dasar meditasi Tantra, murid harus mengarahkan
pikirannya pada suatu cakra tertentu yang merupakan pusat spiritual dan psikisnya. Titik ini
(disebut ista cakra) berbeda dari satu orang dengan orang yang lain, dan ditunjukkan oleh
guru meditasinya saat inisiasi. Setelah pikiran betul-betul berkonsentrasi pada titik itu, maka
proses perapalan mantra dimulai. Kalau konsentrasinya hilang, pelaku meditasi harus
mengembalikan konsentrasinya pada titik itu. Latihan membawa pikiran ke suatu titik
konsentrasi adalah suatu bentuk dharana.

Selain bentuk dharana ini yang dijumpai dalam pelajaran pertama meditasi, ada bentuk
dharana lain yang disebut tattva dharana, yaitu pelaku meditasi berkonsentrasi pada berbagai
cakra dan faktor-faktor khas yang diatur oleh cakra itu. Pelajaran ini penting sekali karena
membantu meditator untuk mengendalikan berbagai kecenderungan mental yang diatur oleh
cakra itu dan juga untuk meningkatkan kemampuan konsentrasinya yang akan sangat
berguna dalam pelajaran meditasi lainnya. Tattva dharana juga bertugas meringankan
tekanan jalur syaraf ida dan pingala pada jalur susumna. Dengan berkurangnya tekanan ini,
maka enersi spiritual (kulakundalinii) akan dapat mengalir dengan lebih mudah ke atas.
Tattva Dharana meruapakan pelajaran ketiga dalam urutan Tantra Yoga.

VII. Dhyana
Setelah seseorang cukup ahli dalam dharana, maka dia dapat mempelajari anggota ketujun
dari Astaunga Yoga, yaitu dhyana. Dalam proses ini, pikiran pertama-tama diarahkan pada
cakra tertentu dan kemudian diarahkan dalam suatu aliran tak terputus menuju Kesadaran
Agung. Aliran ini dipertahankan sampai akhirnya terserap ke dalam Kesadaran Agung.
Proses ini sulit dan hanya diberikan kepada peminat yang telah melatih semua tahap
sebelumnya, khususnya dharana.

Ada beberapa bentuk dhyana, dan dengan mempelajari dhyana kita dapat mengerti hubungan
Tantra dengan berbagai tradisi spiritual. Tatkala para guru Tantra dari India pertama kali
membawa model meditasi ini ke China, maka dikenal sebagai Chan, dan saat Chan dibawa ke
Jepang melalui Korea, akhirnya dikenal sebagai Zen. Meskipun terdapat cukup banyak
perbedaan yang besar antara meditasi Zen sekarang dan Dhyana seperti yang dilakukan oleh
para master di India, akar pengajarannya adalah sama. Dhyana membantu menyempurnakan
lapis paling halus dari pikiran dan menuntun orangnya menuju langkah terakhir dari
Astaunga Yoga yaitu samadhi.

VIII. Samadhi

Samadhi tidak seperti tujuh langkah sebelumnya, karena tidak memiliki suatu metode atau
latihan khusus tertentu, melainkan merupakan akibat dari latihan bagian-bagian lain dari
Astaunga Yoga. Samadhi adalah menyerapnya pikiran ke dalam Kesadaran Agung. Ada dua
bentuk utama samadhi, nirvikalpa dan savikalpa. Savikalpa adalah trance dalam penyerapan
namun dengan distorsi atau ciri tertentu. Dalam savikalpa samadhi orang itu akan merasa
bahwa "aku adalah Kesadaran Agung", namun dalam nirvikalpa samadhi tak ada lagi rasa
"aku". Kesadaran pribadi secara menyeluruh luruh dalam Kesadaran Kosmis.

Mereka yang mengalami keadaan demikian tak dapat menceritakan atau menerangkannya
kembali karena itu semua terjadi saat pikiran berhenti berfungsi. Bahkan hanya ada satu cara
untuk mengetahui bahwa mereka telah mengalami keadaan itu yaitu setelah pikiran
meninggalkan keadaan trance dalam penyerapan itu. Baru kemudian mereka merasa bahagia
sebahagia-bahagianya dan dapat menganggap telah melalui keadaan nirvikalpa samadhi.
Pencapaian samadhi ini diperoleh setelah latihan panjang dalam hidup ini, atau sebagai akibat
dari latihan yang banyak dari hidup sebelumnya, atau dengan berkat Guru. Saat itu
merupakan puncak tertinggi setelah jutaan tahun berkembang dari bentuk-bentuk kehidupan
yang rendah menuju bentuk manusia dan akhirnya melebur menyatu ke Sumber segala yang
ada.