Anda di halaman 1dari 40

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.

Tinjauan tentang sikap

Sikap

Ada bermacam-macam pendapat yang dikemukakan oleh

ahli-ahli psikologi tentang pengertian sikap. Dunia Psikologi akan sedikit mengulas tentang apa sih yang dinamakan sikap? Seperti yang dikatakan oleh ahli psikologi W.J Thomas (dalam Ahmadi, 1999), yang memberikan batasan sikap sebagai tingkatan kecenderungan yang bersifat positif maupun negatif, yang berhubungan dengan obyek psikologi. Obyek psikologi di sini meliputi : simbol, kata-kata, slogan, orang, lembaga, ide dan sebagainya.

Menurut Sarnoff (dalam Sarwono, 2000) mengidentifikasikan sikap sebagai kesediaan untuk bereaksi (disposition to react) secara positif (favorably) atau secara negatif (unfavorably) terhadap obyek obyek tertentu.

D.Krech dan R.S Crutchfield (dalam Sears, 1999) berpendapat bahwa sikap sebagai organisasi yang bersifat menetap dari proses

motivasional, emosional, perseptual, dan kognitif mengenai aspek dunia individu.

12

Sedangkan La Pierre (dalam Azwar, 2003) memberikan definisi sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan.

Lebih lanjut Soetarno (1994) memberikan definisi sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek tertentu. Sikap senantiasa diarahkan kepada sesuatu artinya tidak ada sikap tanpa obyek. Sikap diarahkan kepada bendabenda, orang, peritiwa, pandangan, lembaga, norma dan lain-lain.

Sri Utami Rahayuningsih (2008) mengemukakan bahwa Sikap (Attitude) adalah : 1. Berorientasi kepada respon : sikap adalah suatu bentuk dari perasaan, yaitu perasaan mendukung atau memihak (favourable) maupun perasaan tidak mendukung(Unfavourable) pada suatu objek . 2. Berrorientasi kepada kesiapan respon : sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu, apabila dihadapkan pada suatu stimulus yang

menghendaki adanya respon atau suatu pola prilaku , tendensi

13

atau kesiapan untuk menyusaiakn diri dari situasi social yang telah terkondisikan. Meskipun ada beberapa berdasarkan perbedaan tersebut pengertian sikap, tetapi di atas maka dapat

pendapat-pendapat

disimpulkan bahwa sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau

kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Sikap

Proses belajar sosial terbentuk dari interaksi sosial. Dalam interaksi sosial, individu membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Diantara berbagai faktor yang

mempengaruhi pembentukan sikap adalah:

1. Pengalaman pribadi. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan

14

emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas. 2. Kebudayaan. B.F. Skinner (dalam, Azwar 2005) menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk kepribadian seseorang. Kepribadian tidak lain daripada pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement

(penguatan, ganjaran) yang dimiliki. Pola reinforcement dari masyarakat untuk sikap dan perilaku tersebut, bukan untuk sikap dan perilaku yang lain. 3. Orang lain yang dianggap penting. Pada umumnya, individu bersikap konformis atau searah dengan sikap orang orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut. 4. Media massa. Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti televisi, radio, mempunyai pengaruh besar dalam

pembentukan opini dan kepercayaan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam mempersepsikan dan menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
15

5. Institusi Pendidikan dan Agama. Sebagai suatu sistem, institusi pendidikan dan agama mempunyai pengaruh kuat dalam

pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat

keagamaan serta ajaran-ajarannya. 6. Faktor emosi dalam diri. Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadangkadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian bersifat sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan lebih tahan lama. contohnya bentuk sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah prasangka B. Tinjauan TentangMasyarakat. Menurut Mac Iver dan Page masyarakat merupakan jalinan

hubungan sosial yang selalu berubah-ubah. Sedangkan menurut Selo Soemarjan masyarakat adalah orangorang yang hidup bersama menhasilkan kebudayaan.
16

Sedangkan masyarakat menurut Ralph linton setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka

sebagai suatu kesauan sosial dalam batas-batas yang dirumuskan dengan jelas. Untuk dapat disebut sebagai suatu masyarakat maka unsur pertama yang harus dipenuhi adalah adanya sejumlah orang yang hidup bersama. Jumlah minimal orang yang hidup bersama untuk dapat disebut masyarakat ini adalah dua orang. Oleh karena itu keluarga yang terdiri dari suami dan istri menurut sosiologi dapat disebut sebagai masyrakat. Unsur kedua dari masyarakat adalah bahwa orang-orang tersebut bercampur untuk waktu yang cukup lama. Dalam waktu yang cukup lama tersebut orang-orang bercampur, bergaul dan saling mengadakan hubungan atau interaksi sosial. Jadi dalam masyarakat itu bukan hanya sekedar terdapat orang-orang yang hidup bersama dalam waktu yang cukup lama, tampa kegiatan, melainkan mesti ada hubungan atau interaksi sosial. Jadi dari uraiyan diatas, ada beberapa unsur dari masyarakat yaitu sebagai berikut :

17

1. Manusia yang hidup bersama. 2. Bercampur untuk waktu yang cukup lama. 3. Saling mengadakan hubungan atau interaksi sosial. 4. Adanya kesadaran bahwa mereka sebagai suatu kesatuan . 5. Adanya suatu sistem hidup bersama. Secara jelas dan terinci anderssor dan parker mengemukakan ciriciri dari suatu masyarakat yaitu : 1. Adanya sejumlah orang. 2. Tinggal dalam suatu daerah tertentu. 3. Mengadakan atau mempunyai hubungan yang tetap teratur sama lain. 4. Sebagai akibat hubungan ini membentuk suatu sistem hubungan antara manusia. 5. Mereka terlibat karena memiliki kepentingan yang sama. C. Tinjauan Tentang Fenomena Fenomena, atau masalah, atau gejala adalah segala sesuatu yang dapat kita lihat, atau alami, atau rasakan. Suatu kejadian adalah suatu fenomena. Suatu benda merupakan suatu fenomena. Adanya suatu benda juga menciptakan keadaan atau perasaan, yang tercipta karena keberadaannya.

18

Istilah masalah yang dijadikan pedoman dari istilah fenomena harus di bedakan dari persoalan. Masalah mempunyai pengertian netral, sedangkan persoalan mengandung pengertian memihak. Suatu

persoalan juga merupakan suatu masalah atau gejala, dan karenanya juga merupakan suatu fenomena. Persoalan merupakan suatu

fenomena yang kehadirannya tidak dikehendaki. Menurut Saswinadi Sasmojo, ada beberapa pengertian dari istilah fenomena tersebut antara lain, fenomena adalah hal-hal yang dapat di saksikan melalui panca indera dan dapat di terangkanserta di nilai secara ilmiah seperti fenomena alam. Contohnya : gerhana, fenomena juga diartikan sebagai sesuatu yang luar biasa serta fenomena merupakan suatu fakta atau kenyataan. D. Tinjauan tentang pekerja seks komersial 1. Pengertian pekerja seks komersial (PSK) Kehidupan sosial harus di pandang sebagai suatu sistem (sistem sosial) yang tidak bisa dipisahkan, begitu juga dengan kehadiran para PSK yang tidak pernah bisa kita hindari. Mungkin bagi banyak orang, risih atau bahkan menutup mata pada dunia pelacuran. Namun suka tidak suka, mau tidak mau dunia pelacuran akan selalu ada disekitar kita. Entah kapan dunia pelacuran bermula. Kapan dan di mana, dan di mulainya dunia pelacuran seakan menjadi misteri. Konon pertumbuhan

19

suatu daerah selalu diawali dengan pelacuran. (Reno Bachtiar dan Edy Purnomo 2007). Jika zaman dahulu, operasi dunia pelacuran sangat sederhana bertemu langsung atau darinmulut ke mulut maka bersama dengan perkembangan teknologi, dunia pelacuran semakin canggih. Orang tidak perlu susah-susah mencari tipe pelacur yang diinginkan, kini tinggal klik di jagad cyber maka akan muncul banyak pilihan. Atau mungkin bisa praktis lewat handphone yang dapat menghubungkan jarak dari ratusan kilometer, kita tinggal menelpon bossnya atau germonya dan melakukan transaksi dalam hal ini berbicara masalah harga dan berapa hari dibutuhkan serta di mana tempatnya untuk bertemu. Setiap orang, mungkin memilih salah satu profesi yang layak untik memenuhi keinginannya dan mewujudkan cita-cinta untuk menjadi

kenyataan. Profesi yang dapat dibanggakan oleh diri sendiri, keluarga, kerabat dan teman-temannya, jika perlu semua orang dapat

membanggakan profesinya masing-masing. Sebagai contoh menjadi Menteri, menjadi TNI dengan pangkat jenderal,celebrity, atau jadi pengusaha sukses agar bisa membanggakan kedua orang tua, keluarga dan profesi itulah yang memungkinkan untuk memperoleh ketenaran, kebanggaan pribadi, dan dapat meningkatkan status sosial dimata masyarakat (Reno Bachtiar dan Edy Purnomo 2007).

20

Namun

semuanya

itu

membutuhkan

banyak

bekal

untuk

memperolehnya, tidak semata-mata didapat begitu saja. Ada dua macam pekerjaan, yaitu pekerjaan formal dan non formal. Pekerjaan formal misalnya, bekerja disebuah perusahaan dengan gaji yang tinggi, atau menjadi pegawai Negeri yang bebekal gelar akademik. Namun sayang, tidak semua orang punya kesempatan itu, tidak semua orang dapat menjadi pegawai Negeri dengan penghasilan yang cukup tinggi sebab untuk menjadi pegawai Negeri ada persyaratan yang harus dipenuhi yang mereka tidak manpu untuk melakukannya. Misalnya, harus bergelar sarjana, atau paling tidak tamatan SMA, pengalaman, keberanian untuk bersaing, kerja keras, kemampuan untuk

mengoperasikan komputer dan bahasa asing. Bukan berarti tidak ada jalan lain untuk menuju kesuksesan hidup. Sedangkan yang non formal seperti menjalani dunia kriminalitas, menjadi seorang penjahat, maling, koruptor,pelacur dan lain-lain. Profesi menjadi seorang profesional juga membutuhkan banyak bekal agar dapat bersaing dengan kompetitor lainnya. Tidak semua orang dapat memenuhi berbagai syarat itu untuk bersaing di sektor formal, jangankan pemenuhan syarat-syarat untuk bekerja di sektor formal untuk kebutuhan sehari-hari dengan keluarganya saja mereka sangat susah. Untuk menyambung hidup mereka harus bekerja di sektor

21

non formal salah satu diantaranya adalah berprofesi sebagai pelacur walaupun nista bagi masyarakat. Ada banyak faktor yang menyebabkan seorang yang tidak ideal di mata masyarakat. memilih profesi

Masyarakat mengutuk

perbuatan-perbuatan yang melanggar hak-hak manusia, perbuatan kriminal seperti emlanggar HAM,mencuri, merampok, membunuh orang yang tidak berdosa merupakan perbuatan yang terkutuk dan tercelah. Perbuatan tersebut sangat merisaukan bagi kehidupan masyarakat, mereka dianggap seperti parasit yang keberadaannya merugikan banyak pihak di manapun dia berada, namun untuk profesi pelacuran memilki permasalahan tersendiri baik yang sifatnya internal maupun eksternal. Tanjung Bira yang merupakan daerah pariwisata, yang banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun luar negeri memberikan

sumbangsih pajak yang begitu besar bagi Negara ditambah lagi dengan adanya tempat prostitusi, semakin menarik kaum wisatawan terutama para kaum adam untuk pergi ke tempat tersebut. Mereka dapat menikmati keindahan laut Tanjung Bira, hamparan pasir yang seperti tepung serta mereka dapat pergi ke tempat-tempat Bar atau Diskotik yang letaknya tidak jauh dari pantai tersebut.

22

Bukan berarti penulis setuju dengan adanya tempat tersebut, karena mereka memberikan sumbangsih bagi pendapatan Negara dengan jalan menarik pajak. akan tetapi, marilah kita jujur melihat dari berbagai sisi positif dan negatifnya. Baik dan buruknya sangat tergantung dari sudut pandang mana kita melihat!!! Siapa yang berhak memberikan pandangan negatif dan positif kepada mereka? apakah

kita tau bagaimana perasaan mereka ketika harus tidur dengan laki-laki hanya demi uang?. Apakah kita tau bagaimana perasaan mereka ketika profesi mereka dianggap sebagai pekerjaan hina, hanya karena profesi mereka memalukan serta tidak memiliki masa depan yang cerah seperti para pegawai, sementara mereka hanya bekerja untuk bertahan hidup?. Setiap umat manusia dapat memilih profesi sesuai dengan kodratnya tetapi bukan berarti tidak ada pertentangan sebagi profesi yang ideal. Ada beberapa perempuan memilih jalur kehidupan unik, berani, menantang, menyenangkan bagi kaum laki-laki, denagn penderitaan lahirdan bathin serta mengorbangkan keluarga yaitu sebagai pelacur. Pelacuran merupakan fenomena social hidup dalam masyarakat dan semua harus menerima hal tersebut tanpa harus berdebat kusir apalagi menjadi berita di media massa karena pelacuran akan selalu ada tanpa kita tau dari mana asalnya dan kapan berakhirnya, dia akan selalu ada seiring dengan perkembangan suatu daerah dan begitu
23

banyaknya masyarakat yang miskin sementara lapangan pekerjaan sangat minim atau sedikit. Menjadi pelacur merupakan sebuah pilihan hidup seseorang tanpa ada paksaan. Profesi ini memiliki kesamaan dengan profesi lainnya yang membutuhkan keterampila, keberanian, dan pengalaman. Seorang pelacur dapat diibaratkan seperti naik ginung terjal dengan pelan sekali tetapi turunya cepat drastis dan akan habis dimakan waktu. Menjadi pelacur perempuan akan dijalaninya seumur hidup

sampai hayat dikandung badan. Dia akan hidup sebatang kara, hanya waktu yang menjadi penentu meskipun tidak semua pelacur akan hancur oleh kerasnya kehidupan, namun hampir dari semua pelacur mengalami kondisi yang sangat menyedihkan sebab pendapatan mereka ditentukan oleh kondisi umur dan kecantikan tubuh. Ketika mereka sudah mulai tua tarip mereka akan mulai turun bahkan kelepel yang paling bawah. Semua profesi pekerjaan memiliki motivasi yang begitu kuatuntuk mendapatkan uang, begitu pula dengan profesi pelacur. Mereka yang mempunyai keluarga, anak dan orang tua di desa, mengirim sebagian uangnya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarnga, anak dan orang tua mereka. sebagia laki dipakai untuk mempercantik diri,seperti membeli pakain, perhiasan, parfum agar tetap menarik di depan kaum adam serta pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
24

Pelacuran yang berdomisi di beberapa tempat pelacuran sempat dibakar oleh orang-orang yang menganggap dirinya suci. Tindakan tersebut dianggap suci oleh sebagian masyarakat dan yang memerintah bagi pahlawan padahal mereka juga manusia dan sama di hadap Tuhan. Pembakaran dan pengrusakan kerapkali dilakukan tanpa mendapat perlawanan oleh pihak-pihak yang mengelola tempat tersebut. Masyarakat belum tentu mendukung tindakan tersebut khususnya warga yang berdomosili di sekitar lokalisasi. Pembakaran dilakukan secara paksa seperti mengusir sarang nyamuk dengan semprotan racun yang mematikan. Kramat Tunggal merupakan salah satu contoh lokalisasi di Jakarta dan di Malang yang telah dirombak total menjadi perkapungan warga dan dinyataka bebas dari pelacur. Padahal konon daerah tersebut bukan diperuntukkan untuk perkampungan. Pelacurlah yang

membangunnya menjadi sebuah kampung dan ketika sudah menjadi sebuah kampong mereka diusir secara paksa tanpa belas kasihan. Tidak ada tindakan yang dilakukan oleh para pengelolah loakalisasi untuk melawan para amukan warga masyarakat yang menganggap dirinya suci, mereka hanya bisa menghindar dan mencari tempat lain untuk menyambung hidup dengan profesi sebagai pelacur (Reno Bachtiar dan Edy Purnomo 2007).

25

Beberapa elemen masyarakat, tokoh-tokoh agama dan masyarakat sering kali

tokoh

mengeluarkan pernyataan yang sangat

merugikan bagi profesi pelacur. Keberdaan mereka tidak diakui baik status atau identitasnya di lingkungan masyarakat. Mereka sering menjadi korban orang-orang yang tidak bertanggung jawab, memeras keringatnya dengan ancaman dan paksaan tanpa harus melihat apakah PSK tersebut senang dengan perlakuan tersbut atau tidak!. Kehidupan mereka benar-benar dieksploitasi oleh orang-orang yang ingin hidup dari tetesan keringat dan tekanan lahir batin. Keberadaan mereka sering dijadikan kambing hitam karena dianggap sebagai permasalahan social/patologi. Contohnya seorang pengunjung yang minum minuman keras denga berlebihan yang menyebebabkan hilangnya kesadaran sehingga terjadi perkelahian diantara para pengungjung bahkan sampai terjadi pembunuhan, penyebaran virus AIDS, atau penyakit kelamin kerap terjadi di lokalisasi. Menurut informasi dari pihak kepolisian di tempat pelacuran di manapun termasuk di Tanjung Bira kerap kali pelaku criminal menjadikan tempat ini untuk menghamburkan hasil kejahatan. Lengkap sudah pelacuran, kemiskinan, dan kejahatan berkumpul menjadi satu. 2. Sejarah pelacuran Dunia pelacuran tidak mempunyai data yang akurat yang dapat menjelaskan secara rinci kapan dan di mana dimulainya dunia
26

pelacuran. Memang ada opini bahwa konon pertumbuhan sebuah kota selalu diawali dengan pelacuran. Konon singgahnya para pelaut bukan untuk urusan bisnis saja,tetapi untuk mencari pengalaman seksual di daerah yang disinggahinya. Makin asyik pengalaman yang diperoleh makin sering pula para pelaut singgah. Di setiap Negara dapat dipastikan terdapat tempat pelacuran baik secara illegal maupun legal, secara terbuka ataupun secara sembunyi-sembunyi, tidak sedikit orang pernah bersentuhan dengan dunia pelacuran dikarenakan sangat mengasikkan karena memberikan kenikmatan seks bagi orang-orang yang melakukannya. Dunia pelacuran tidak dapat lepas dari pola kehidupan masyarkat itu sendiri, seperti dunia pariwisata yang juga tidak dapat lepas dari dunia pelacuran seperti kota Bali misalnya yang sangat terkenal dengan dunia pariwisatanya juga tidak lepas dari pelacur- pelacur local untuk dikomsumsi oleh para pengunjung baik local maupun iternasional. Dunia pelacuran bukan hanya disebabkan oleh permasalahan ekonomi belaka tetapi sudah pada permasalahn yang komplek. Pelacuran identik dengan seks yang bersifat katarsis (dunianya laki-laki), padahal dunia pelacuran tidak hanya didominasi oleh kaum perempuan tetapi juga oleh kaum laki-laki yang disebut sebagai Gigolo yang mempunyai sifat dan prilaku yang sama dalam memberikan pelayanan seks kepada konsumen yang membutuhkan.
27

Awal munculnya pelacuran di Indonesia bukan hanya disebabkan oleh masalah ekonomi namun ada yang mengataka bahwa awal munculnya pelacuran di Indonesia yaitu pada zaman penjajahan Belanda, seseorang(budak) dipaksa untuk melayani tuannya. Tapi itu semua butuh penelitian yang ilmiah tentang ketepatan waktu, karena hampir setiap daerah memiliki tempat lokalisasi baik legal maupun

illegal di pedesaan atau di perkotaan. Di Negara-negara berkembang hampir memiliki permasalahan tentang pelacuran di bawah umur, pekerja seks komersial dan gigolo yang kerap kali menjadi permasalahan yang membedakan antara Negara maju dan Negara berkembang adalah lokalisasi yang transparan (legal) dapat dikunjungi setiap, dapat melakukan transaksi langsung di tempat, sedangkan di Negara maju pekerja seks komersial akan ditangkap bila menjajakan diri disembarang tempat karena masih dianggap illegal dan tabu, seperti di Negara Amerika serikat dan beberapa Negara eropa barat lainnya. Di negeri kincir angin, Belanda pelacur disinkan beroperasi legal untuk menjalankan profesi sesuai dengan UU yang diberlakukan secara khusus oleh pemerintah. Belum ada yang bisa menjelaskan secar pasti tentang asal usul pelacur dan lokalisasi dimana pertama kali dibuka, atau pertama kali seseorang menjadi pelacur. Seiring dengan berjalannya waktu mereka tetap menjalankan profesinya sebagai pelacur yang tidak mengenakkan
28

dan menyakitkan selama mereka menpu melayani laki-laki, profesi pelacur tetap menjadi andalan mereka untuk mengisi kehidupan sampai akhir hayatnya. 3. Stigma pelacuran sebagai sampah masyarakat Pelacur dianggap mengotori kehidupan bermasyarakat sehingga tempatnya mendapat julukan daerah hitam. Julukan yang sangat

menyakitkan dan menghina bagi warga yang berdomisili di sekitar lokalisasi. Apakah warga yang berdomisili disekitar tempat pelacuran memperoleh cap negatif? Apakah semua warga yang berdomisili di

tempat pelacuran memiliki profesi yang sama dengan mereka? Stigma negative ini sangat merugikan bagi warga di sekitar tempat tersebut. PSK mereupakan stakeholders utama bagi masyarakat sekitar lokalisasi, stakeholders bagi hotel-hotel melati sampai hotel berbintang lima, stakeholders bagi pab,bar dan diskotik, dalam kondisi tersebut ada yang sepakat dengan adanya tempat pelacuran dan ada pula yang tidak sepakat dengan tempat pelacuran tersebut, dan sampai sekarang tidak ada titik yang bisa menemukan jalan keluar tentang perdebatan ini. Sejak zaman dahulu para pelacur selalu dikecam atau dikutuk oleh masyarakat, karena tingkah lakunya yang tidak susila dan

dianggap mengotori sakralitas hubungan seks. Mereka dianggap

29

sebagai orang-orang yang melanggar norma moral, adat, dan agama bahkan kadang-kadang juga melanggar norma Negara, apabila Negara tersebut melarangnnya dengan undang-undang atau peraturan. Wanita-wanita pelacur kebanyakan ada di kota-kota, daerahdaerah lalulintas para turis, dan tempat-tempat plesir-plesir dimana banyak didatangi oleh orang-orang yang hendak berlibur, beristirhat atau berwisata. Pada umumnya di tempat-tempat tersebut diterapkan prinsip 4-S yaitu Sea (laut dan adanya air), Sun (ada matahari), Service (pelayanan) dan Seks. Maka, untuk menyelenggarakan pelayanan seks guna pemuasan kebutuhan baik dari kaum pria maupun wanitanya, diselenggarakanlah praktik-praktik pelacuran , di bordil-bordil dan lokasi tertentu, ataupun secara tidak resmi merembek ke hotel-hotel, penginapan-penginapan dan tempat-tempat hiburan.(Kartini kartono 2009). 4. Pro dan kontra sebuah lokalisasi (pelacuran) Konon kabarnya pelacuran sama dengan umur manusia, suatu

profesi untuk menyenangkan kaum laki-laki (Adam). Menurut informasi di Italia, seseorang dapat berprofesi sebagai pelacur jika berumur diatas 35 tahun dan mendapatkan isin praktek dari pengadilan.

30

Di Amerika Serikat, seorang pelacur masih menjadi ambigu, meskipun secara hokum masih dianggap illegal. Petugas kepolisian akan menangkap mereka bila ketahuan menjajakan dirinya di jalan-jalan secara transparan. Mereka (pelacur) mempunyai strateg pemasaran

menjajakan dirinya melalui buku telephone dengan menyertakan tarif, menempelkan foto telanjang di telpon box lengkap dengan nomor telephone yang dapat dihubungi, mengujungi klub malam sebagai

tempat mencari pelanggan, semua itu adalah cara yang dilakukan pelacur barat dalam mencari makan (Reno Bachtiar dan Edy Purnomo 2007). Di masyarakat Indonesia, masih terjadi perselisihan tentang pro dan kontra sebuah pelacuran dan lokalisasi. Menurut masyarakat yang kontra seharusnya pelacuran dihilangkan atau dihapus dari muka bumi ini , dengan alasan Agama melarang perbuatan tersebut serta dapat menularkan penyakit yang berbahaya dan bagi perempuan (istri) itu dapat mencuri kasih sayang dari seorang suami lokalisasi mempunyai dampak buruk bagi perkembangan psikologis yaitu merusak moralitas masyarakat karena merupakan patologi sosial. Masyarakat yang pro menyatakan bahwa lokalisasi mempunyai peran yang besar bagi perekonomian kerakyatan, masyarakat yang

berada disekitar lokalisasi justru bersyukur atas keberadaannya karena mereka bisa menjadi stekholders utama. Mereka menjadi sumber
31

kehidupan nyata, banyak warga yang membuka usaha disekitar tempat pelacuran seperti warung makan, restoran,tukang parker, bar, tukang jahit, dan asongan makanan. Ada juga yang berpendapat bahwa

dengan adanya tempat pelacuran itu akan mengurangi pengangguran dan pemerkosaan, sebab mereka bisa melampiaskan nafsu seksualitas mereka di tempat lokalisasi tersebut. Masyarakat sekitar lokalisasi atau tempat pelacuran sangat peduli akan nasib mereka. hal ini diperlihatkan dengan demonstrasi di gedung DPRD tepatnya pada bulan suci Ramadhan beberapa tahun lalu, banyak pelacur, LSM dan warga sekitar lokalisasi yang memprotes karena nafkah kehidupan mereka ditutup oleh Pemkot. Hasilnya nol besar kebijakan pemerintah untuk menutup tempat pelacuran tersebut tetap berjalan tanpa memberikan solusi tidak sama seperti zaman orde baru dahulu, hanya ada perubahan jam buka dan tutup untuk semua tempat hiburan (Reno Bachtiar dan Edy Purnomo 2007. Data statistic menunjukkan, bahwa kurang lebih 75% dari jumlah pelacur adalah wanita-wanita yang muda dibawah umur 30 tahun. Mereka itu pada umumnya memasuki dunia pelacuran pada usia yang muda yaitu antara 13-24 tahun dan paling banyak adalah antara 17-21 tahun. Tindakan tindakan immoral seksual, berupa relasi seksual terang-terangan tanpa malu, sangat kasar, dan sangat provokatif dalam

32

melakukan hubungan seks, dan dilakukan dengan banyak pria pada umunya dilakukan oleh anak-anak gadis remaja penganut seks bebas.(Kartini kartono 2009).

5. Teori Penyimpangan Sosial Pelacuran merupakan hal yang menyimpang dari norma

sosial,adat dan agama dibawah ini beberapa penjelasan tentang teori penyimpangan sosila. Penyimpangan sosial yang terjadi disebabkan oleh banyak faktor. Oleh karena itu, muncullah beberapa teori tentang penyimpangan, antara lain sebagai berikut. 1. Teori Anatomi Teori ini berpandangan bahwa munculnya perilaku

menyimpang adalah konsekuensi dari perkembangan norma masyarakat yang makin lama makin kompleks sehingga tidak ada pedoman jelas yang dapat dipelajari dan dipatuhi warga

masyarakat sebagai dasar dalam memilih dan bertindak dengan benar. Robert K. Merton mengemukakan bahwa penyimpangan perilaku itu terjadi karena masyarakat mempunyai struktur budaya dengan sistem nilai yang berbeda-beda sehingga tidak ada satu standar nilai yang dijadikan suatu kesepakatan untuk dipatuhi
33

bersama sehingga masyarakat akan berperilaku sesuai dengan standar. Dalam suatu perombakan struktur nilai seringkali terjadi perbaharuan untuk meyempurnakan tata nilai yang lama dan dianggap tidak sesuai. Dalam konteks ini terjadi inovasi nilai. Inovasi adalah suatu sikap menerima tujuan yang sesuai dengan nilai budaya tetapi menolak cara yang melembaga untuk mencapai tujuan. 2. Teori Pengendalian Teori ini muncul bahwa perilaku menyimpang pada dasarnya dipengaruhi oleh dua faktor. a. Pengendalian dari dalam yang berupa norma-norma yang dihadapi. b. Pengendalian yang berasal dari luar, yaitu imbalan sosial terhadap konformitas dan sanksi atau hukuman bagi masyarakat yang melanggar norma tersebut. Untuk berkembang mencegah lagi maka agar perilaku menyimpang tidak

perlunya

masyarakat

melakukan

peningkatan rasa keterikatan dan kepercayaan terhadap lembaga dasar masyarakat. Semakin kuat ikatan antara lembaga dasar

34

dengan masyarakat, akan semakin baik karena bisa menghayati norma sosial yang dominan yang berlaku dalam masyarakat. 3. Teori Reaksi Sosial Teori ini umumnya berpendapat bahwa pemberian cap atau stigma seringkali mengubah perilaku masyarakat terhadap

seseorang yang menyimpang, sehingga bila seseorang melakukan penyimpangan primer maka lambat penyimpangan sekunder. Seseorang yang tertangkap basah mencuri, dan kemudian diberitakan di media massa sehingga khalayak umum laun akan melakukan

mengetahuinya maka beban pertama yang harus ia tanggung adalah adanya stigma atau cap dari lingkungannya yang mengklasifikasikannya sebagai penjahat. Cap sebagai residivis itu biasanya sifatnya abadi. Kendati orang tersebut telah menebus kesalahannya yang diperbuat tadi, yaitu dengan dipenjara, namun hal itu tidak cukup efektif untuk menumbuhkan kembali

kepercayaan masyarakat akan dirinya.

35

4. Teori Sosialisasi Menurut menyimpang para pada ahli teori sosiologi, ini, munculnya dengan perilaku adanya

didasarkan

ketidakmampuan masyarakat untuk menghayati norma dan nilai yang dominan. Penyimpangan tersebut disebabkan adanya gangguan pada proses penghayatan dan pengamalan nilai tersebut dalam perilaku seseorang. Pada lingkungan komunitas yang rawan dan kondusif bagi tumbuhnya perilaku menyimpang adalah sebagai berikut. a. Jumlah penduduk yang berdesak-desakan dan padat. b. Penghuni berstatus ekonomi rendah. c. Kondisi perkampungan yang sangat buruk. d. Banyak terjadi disorganisasi familiar dan sosial yang bertingkat tinggi. Menurut pendapat Shaw, Mckay dan mcDonal (1938), menemukan bahwa di kampung-kampung yang berantakan dan tidak terorganisasi secara baik, perilaku jahat merupakan pola perilaku yang normal dan wajar.

36

5. Robert M.Z. Lawang Perilaku menyimpang sebagai semua tindakan yang

menyimpang dari norma-norma adat dan nrma Agama yang berlaku dalam suatu sistem sosial. a) Sikap Mental tidak sehat, tidak merasa bersalah atau menyesal atas perbuatan. Misalnya : PSK

b) Keluarga yang broken Home, Tidak ada keharmonisan dalam keluarga, sehingga mencari kesenangan diluar rumah. Misalnya : Minum obat-obatan terlarang c) Pelampiasan rasa kecewa. d) Dorongan kebutuhan ekonomi. e) Pengaruh lingkungan dan media masa. f) Keinginan untuk dipuji atau gaya-gayaan g) Proses belajar menyimpang. h) Ketidak sanggupan menyerap norma budaya. i) Adanya ikatan sosial yang berlain-lainan j) Akibat proses sosialisasi nilai-nilai subkebudayaan

menyimpang.

37

6. Pelacuran versus norma yang berlaku dimasyarakat Hakikat Norma, Kebiasaan, Adat Istiadat dan Peraturan yang berlaku dalam Masyarakat. 1. Pengertian Norma Menurut kamus besar bahasa Indonesia mempunyai dua arti: a) Aturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok dalam masyarakat dan dapat digunakan sebagai panduan, tatanan, dan pengendali masyarakat. b) Aturan, ukuran, atau kaidah yang dipakai sebagai tolok ukur untuk menilai atau membandingkan sesuatu. c) Peraturan hidup yang harus diterima manusia sebagai perintahperintah , larangan-larangan dan ajaran ajaran yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Pelanggaran terhadap norma ini akn mendapat hukuman dari tuhan yang maha esa berupa siksa kelak diakhirat. Dari tiga pengertian di atas dapat disimpilkan bahwa Norma adalah kaidah atau pedoman dalam mewujudkan suatu nilai. Kaidah atau pedoman tersebut biasanya berwujud perintah atau larangan. tingkah laku yang sesuai, dan diterima oleh

38

2. Tujuan Norma Dengan adanya norma manusia akan mandapatkan jaminan

perlindungan atas dirinya dan kepentingan dalam berhubungan dengan sesamanya di masyarakat. Dengan demikian, akan terjalin hubungan yang harmonis dalam masyarakat. Dengan adanya jaminan perlindungan terhadap diri dan kepentingan dalam hidup masyarakat dapat terbentuk. Keserasian hubungan diantara warga masyarakat dapat menciptakan keamanan dan ketertiban. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tujuan norma adalah untuk menciptakan keamanan dan ketertiban dalam hidup masyarakat. 3. Fungsi Norma Norma berfungsi untuk mewujudkan keteraturan dan ketertiban dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 4. Macam-macam norma Ada empat macam norma yang berlaku dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara: A. Norma Agama Norma agama adalah serangkaian peraturan hidup yang berisi perintah, larangan, dan ajaran-ajaran yang berasal dari Tuhan. Tujuan norma agama adalah agar ilmu yang diberikan Tuhan, manusia dapat mewujudkan tatanan kehidupan yang menjunjung tinggi nilai-nilai

39

kemanusiaan serta dapat mewujudkan keimanannya dalam kehidupan sehari-hari. Contoh-contoh norma agama: 1. Beribadah sesuai dengan agama dan keyakinan 2. Beramal saleh dan berbuat kebijakan 3. Mencegah, melarang, dan tidak melakukan perbuatan maksiat, keji, dan mungkar. Contoh perbuatan maksiat, keji, dan mungkar ialah: berjudi, mabuk-mabukan, durhaka, berkhianat, menipu, berbohong, dan sebagainya. 4. Pelanggar norma agama mendapatkan sanksi secara langsung, artinya pelanggarnya baru akan menerima sanksinya nanti diakhirat berupa siksaan di neraka. 5. Kamu dilarang membunuh. 6. Kamu dilarang mencuri. 7. kamu harus patuh kepada orang tua Didalam islam pelacuran sanagatlah dilarang bahkan dijelaskan di dalam al-quran janganlah engkau mendekati zina, dalam artian bahwa kita dilarang untuk mendekati apalagi kalau sampai melakukan perbuatan tersebut. B. Norma Kesusilaan Adalah aturan yang bersumber dari hati nurani manusia tentang baik buruknya suatu perbuatan. Pelanggaran norma kesusilaan ialah

40

pelanggaran perasaan yang berakibat penyesalan. Norma kesusilaan bersifat umum dan universal. Contoh norma-norma susila ialah: Contoh norma kesusilaan diantaranya: a) kamu tidak boleh mencuri milik orang lain b) kamu harus berlaku jujur c) Kamu dilarang membunuh sesama manusia d) Bertindak adil e) Menghargai orang lain Sanksi bagi norma pelanggar norma kesusilaan tidak tegas, karena hanya diri sendiri yang merasakannya, yakni merasa bersalah, menyesal, malu, dan sebagainya. C. Norma Kesopanan Adalah peraturan yang timbul dari hasil pergaulan sekelompok manusia didalam masyarakat dan dianggap sebagai tuntutan

pergaulan sehari-hari masyarakat itu. Norma kesopanan bersifat relatif, artinya apa yang dianggap sebagai norma kesopanan berbedabeda di berbagai tempat, lingkungan atau waktu. Contoh-contoh norma kesopanan ialah: 1. Menghormati orang yang lebih tua 2. Menerima sesuatu selalu dengan tangan kanan 3. Tidak berkata-kata kotor, kasar dan sombong 4. Tidak meludah disembarang tempat.
41

Sanksi bagi pelanggar norma kesopanan tidak tegas, tetapi dapat diberikan oleh masyarakat berupa cemoohan, celaan, hinaan, atau dikucilkan dan diasingkan dari pergaulan. D. Norma Hukum Adalah pedoman hidup yang dibuat oleh lembaga negara atau lembaga politik suatu masyarakat/ bangsa. Hukuman sebagai sistem norma berfungsi untuk menertibkan dan menstabilkan kehidupan sosial. Tujuan utama norma hukum adalah menciptakan suasanan aman dan tentram dalam masyarakat. Contoh-contoh norma hukum ialah: 1. Harus tertib 2. Harus sesuai prosedur 3. Dilarang mencuri, merampok, membunuh dan lain-lain. Sanksi bagi pelanggar hukum tegas, nyata, mengikat, dan bersifat memaksa. Mereka yang melaggar norma hukum akan ditindak tegas oleh aparat penegak hukum dan diproses melalui persidangan di pengadilan. 5. Hubungan norma, kebiasaan, adat istiadat dan peraturan Norma mengarahkan anggota masyarakat untuk berperilaku

sesuai dengan ketentuan yang tercantum didalamnya. Untuk memastikan anggota masyarakat berperilaku sesuai dengan norma, setiap

pelanggaran terhadap norma ada sanksinya, sebaliknya, berperilaku yang


42

sesuai dengan norma-norma, mendapat ganjaran. Contoh, siswa yang rajin belajar mendapat pujian, sebaliknya siswa yang ketahuan mencontek dikenakan sanksi yang sesuai. Kebiasaan berarti sesuatu yang bisa dikerjakan. Kebiasaan adalah perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama karena banyak orang menyukai dan menganggapnya penting. Oleh karena disukai dan dianggap penting, maka kebiasaan itu terus diperintahkan. Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa kebiasaan terus diperintahkan. Adat Istiadat berarti tata kelakukan yang bersifat kekal dan turun temurun. Yang diteruskan dari satu generasi kegenerasi lainnya

berikutnya sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola prilaku masyarakat. Peraturan berarti tatanan (petunjuk, kaidah,

ketentuan) yang dibuat untuk mengatur. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dikenal dengan istilah peraturan perundang-undangan.

Peraturan perundang-undangan adalah aturan yang telah dibuat oleh lembaga yang berwewenang untuk dipatuhi oleh seluruh warga negara. Jika ditinjaui dari tingkatannya ada dua tingkatan peraturan, yaitu peraturan tingkat pusat dan peraturan tingkat daerah. Dapat disimpulkan bahwa hubungan antara norma, kebiasaan, adat isitiadat dan peraturan ialah sebagai peraturan dan tatanan didalam mengatur tingkahlaku yang mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

43

6. Sumber-sumber norma Setiap norma memiliki sumber-sumber yang berbeda. Norma agama bersumber pada firman Tuhan yang terdapat dalam kitab suci agama, norma kesusilaan bersumber hati sanubari manusia, norma kesopanaan bersumber pada pergaulan segolongan manusia, dan norma hukum bersumber pada peraturan perundangan yang dibuat negara. 7. Norma-norma berdasarkan kekuatan mengikatnya Berdasarkan kekuatan mengikatnya, macam , yaitu: 1. Cara (Usage) Adalah jenis perbuatan yang bersifat perorangan. Norma dibedakan atas empat

Penyimpangannya terhadap cara hukumannya tidak berat, hanya berupa celaan. Contoh dari jenis perbuatan yang bersifat perorangan (cara) ialah cara berpakaian, cara berdandan, cara makan, cara bertelepon, dan sebagainya. 2. Kebiasaan (Folkways) Adalah perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dengan pola yang sama dan tetap karena dianggap baik. Contohnya, mengetuk pintu saat bertamu atau saat memasuki ruangan orang lain dan memberikan sesuatu dengan tangan kanan adalah kebiasaan dengan baik dan sopan. Sanksi yang diberikan jika melanggar kebiasaan umumnya masih tergolong ringan, yaitu berupa sindiran atau ejekan.
44

3. Tata kelakuan (Mores) Adalah perilaku yang ditetapkan oleh masyarakat sebagai perilaku yang baik dan diterima sebagai norma pengatur dan pengawas anggota-anggotanya. Tata kelakuan ini berwujud paksaan dan larangan sehingga secara langsung menjadi alat agar anggota masyarakat menyesuiakan perbuatannya dengan tata kelakuan tersebut. Saksi terhadap tata kelakuan ini tergolong berat, seperti dikucilkan secara diam-diam dari pergaulan. Contohnya Larangan untuk berciuman, larangan kumpul kebo, larangan melakukan hubungan seks diluar nikah, larangan membunuh atau juga dicontohkan dengan cotoh lain seperti: Misalnya, seseorang pembantu rumah tangga melakukan perbuatan yang tidak pantas terhadap nyonya atau majikannya. Oleh karena perbuatannya itu, saat itu juga mungkin langsung diberhentikan atau dipecat oleh majikannya. 4. Adat-istiadat (Coustom) Adalah pola-pola prilaku yang diakui sebagai hal yang baik dan dijadikan sebagai hukuman tidak tertulis dengan sanksi yang berat. Yang memberikan sanksi orang yang mengerti seluk-beluk tentang adat, seperti pimpinan adat, pemangku adat, atau kepala suku. Misalnya, dalam masyarakat dikenal dengan istilah tabu atau pantangan. Sesuatu yang ditabukan berarti sesuatu yang tidak boleh dilanggar. Seandainya tabu/ pantangan itu dilanggar, bencana akan
45

menimpa seluruh warga dan si pelaku akan dikenakan sanksi yang berat. 8. Sanksi norma Sanksi norma dintaranya: norma agama sanksinya dosa dan

bersifat tidak langsung, norma kesusilaan sanksinya rasa menyesal, malu dan bersalah, norma kesopanan sanksinya teguran dan cemoohan dari masyarakat, norma hukum sanksinya tegas dan memaksa, misalnya penjara.

9. Pentingnya Norma dalam kehidupan masyarakat

Jika dimasyarakat tidak ada norma, maka yang terjadi adalah kekacauan, keributan, kerusuhan (tidak aman dan tidak tertib) seperti terlihat pada gambar berikut: Jika dimasyarakat ada norma dan norma itu ditaati, maka akan tercipta kehidupan yang aman dan tertib,.Oleh karena itu keberadaan norma sangatlah penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pentingnya norma

dimasyarakat disebabkan karena norma tersebut mempunyai peranan berikut ini:

a. Dapat menciptakan kehidupan di masyarakat menjadi aman dan tertib

46

b. Bisa mencegah terjadinya benturan kepentingan di masyarakat

c. Memberi petunjuk/pedoman bagi setiap individu dalam menjalani kehidupan dimasyaraka.

B. Kerangka Konseptual

Pekerja seks komersial adalah setiap orang yang memperjualkan seks dengan uang atau dengan bermacam-macam jenis keuntungan kepada siapapun tanpa keterlibatan emosi sama sekali.

Perilaku seks bebas adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun sesama jenisnya. Bentuk bentuk tingkah laku ini bisa bermacam-macam, mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu, dan bersenggama. Objek seksualnya bisa berupa orang lain, orang dalam khayalan atau diri sendiri. Sebagian dari tingkah laku itu tidak berdampak apa apa, terutama jika ada akibat fisik atau sosial yang dapat ditimbulkan (Sarwono, 2002).

Pada tahun 50an di Jakarta banyak lonte yang berkeliaran, namun sejak tahun 60an mereka tidak ada lagi, namun bukan berarti mereka atau penerusnya tidak lagi berkeliaran tapi karena kata lonte itu dianggap tidak manusiawi atau kasar.

47

Menurut kamus besar bahasa indonesia, lonte adalah manusia jalang, wanita tuna susila, pelacur, sundal. Dan sejak saat itu, istilah lonte berganti menjadi wanita tuna susila (WTS).

Istilah WTS kemudian menimbulkan banyak protes, terutama dari pihak perempuan, misalnya apakah tuna susila hanya menjadi watak perempuan? Apakah tidak ada lagi laki-laki yang berwatak tuna susila?, karena itu sejalan dengan era reformasi maka munculah istilah baru yaitu Pekerja Seks Komersial (PSK). Istilah ini nampaknya sangat menjunjung harkat dan martabat wanita, dimana PSK mencoba mengangkat posisi dirinya agar setara dengan orang pencari nafkah atau pekerja lainnya.

PSK biasanya hanya dilihat sari aspek kesusilaan, dan hanya ditujukan pada perempuan yang menjadi PSK nya, tetapi tidak kepada laki-laki atau konsumen yang menggunakan jasa mereka, dimana lakilaki yang membeli seks diberi istilah klien atau customer atau pelanggan.

PSK juga mendapat perlakuan yang tidak baik dari masyarakat karena masyarakat menganggap bahwa PSK dapat menghancurkan rumah tangganya dan dapat merebut suami mereka, para PSK juga kerap digunduli bila tertangkap aparat penegak ketertiban, Mereka juga

48

digusur karena dianggap melecehkan kesucian agama dan mereka juga diseret ke pengadilan karena melanggar hukum. (Reno Bachtiar dan Edy Purnomo 2007).

Pokoknya, PSK mengundang cercaan, hinaan, cemoohan masyarakat. Namun PSK juga mendapat pujaan, simpati dan

pembelaan masyarakat. Sebahagian orang sangat membenci, tapi sebahagaian orang membutuhkannya.Belum ada perampok, koruptor, pemabuk, pengedar narkoba yang mendapat pembelaan seniman, tapi PSK mendapat pembelaan seniman, minimal menuangkan rasa simpatinya melalui lagu. Dibawah ini syair lagu dari Titik Puspa yang dinyanyikan oleh ariel berjudul kupu-kupu malam :

Ada yang benci dirinya, Ada yang butuh dirinya, Ada yang berlutut mencintainya, Ada pula yang kejam menyiksa dirinya, Ini hidup wanita sikupu-kupu malam, Bekerja bertaruh seluruh jiwa, Bibir sejum kata harus merayu memanja, Kepada setiap mereka yang datang, Dosakah yang dia kerjakan,

49

Sucikah mereka yang datang, Kadang dia tersenyum dalam tangis, Kadang dia menangis dalam senyuman, Ohh apa yang terjadi terjadilah, Yang tak tahu Tuhan penyayang umatnya, Oohhh apa yang terjadi terjadilah, Yang tak tahu hanyalah menyambung nyawa,

50

SKEMA KERANGKA KONSEPTUAL Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukakan diatas, maka dapat digambarkan dalam skema kerangka konseptual sebagai berikut:

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB SEHINGGA MENJADI PSK

PSK (PEKERJA SEKS KOMERSIAL)

PENYAKIT YANG DIDERITA

SIKAP MASYARAKAT,TOKOH AGAMA DAN PEMERINTAH SETEMPAT

SOLUSI DALAM MENANGANI PSK YANG ADA DITANJUNG BIRA

51