Anda di halaman 1dari 3

Rumah Ramah Lingkungan sebagai Upaya Mengurangi Pemanasan Global Diposkan oleh prayoga on Selasa, 14 September 2010 Isu

pemanasan global Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 0.18 C (1.33 0.32 F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut. Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 C (2.0 hingga 11.5 F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air lautdiperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. [1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan. Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, [2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan. Sebenarnya proses pemanasan bumi terjadi akibat ulah manusia juga. Banyak aktifitas kita sehari-hari yang pada akhirnya adalah menyumbangkan panas pada bumi. Pemakaian AC, pemakaian lemari pendingin, pemakaian kendaraan bermotor, pemakaian listrik, bahkan sampai dengan pemakaian kantong plastik yang ternyata pembuatannya memakan energi yang tidak sedikit. Apakah ini berarti kita harus kembali ke jaman purba? Tidak pakai listrik, tidak pakai kendaraan bermotor? Yang dapat kita lakukan sekarang adalah seminimal mungkin menggunakan energi, apalagi yang bersumber dari fosil. Mudah-mudahan semakin banyak ahli-ahli yang menemukan material-material baru yang ramah lingkungan. Mudah-mudahan semakin banyak produsen-produsen yang menghasilkan alat-alat dan perangkat yang hemat energi. Rumah yang Ramah LingkunganBanyak yang bisa kita lakukan untuk mengurangi sumbangan ke pemanasan bumi. Kalau kita berbicara dari sudut desain rumah dan kegiatan sehari-hari di dalam rumah, maka kita bisa mulai dari apa yang dapat kita lakukan.

Jika sedang dalam proses mendesain rumah, sebaiknya kita mulai menerapkan konsep rumah hemat energi. Kita harus lebih banyak memanfaatkan pengudaraan alami dan pencahayaan alami. Desain ruang sedemikian rupa sehingga jika digunakan tidak bergantung sepenuhnya pada AC dan lampu. Memanfaatkan cahaya matahari harus cermat. Yang kita perlukan adalah terang nya, sedangkan panas nya harus kita hindari. Jendela kaca harus berkanopi (memiliki sun shading), sehingga terpaan langsung cahaya matahari dapat diminimalkan. Bentuk sun shading ada yang vertikal dan ada yang horisontal. Pemanfaatan keduanya harus disesuaikan dengan posisi jendela kita, apakah menghadap timur/barat atau utara/selatan. Energi matahari juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik. Yang sudah banyak digunakan adalah pemanfaatan energi matahari untuk memanaskan air. Untuk memanfaatkan pengudaraan alami, perlu diperhatikan arah angin. Agar udara di dalam rumah dapat mengalir maka harus ada lubang ventilasi pada arah tegak lurus datangnya angin. Jika sejajar dengan arah angin, maka sedikit sekali kemungkinan angin akan masuk ke dalam rumah. Jika harus menggunakan sistem pengudaraan buatan (Air Conditioning) dan penerangan buatan (lampu), sedapat mungkin menggunakan yang hemat energi. Sekarang ini sudah banyak lampu yang hemat energi. AC yang digunakan harus rutin dibersihkan. Temperatur AC dipasang pada suhu ruangan yaitu 25-26 C. Kita pun harus mulai membiasakan diri untuk selalu bijak dalam menggunakan listrik. Matikan lampu yang tidak perlu. Peralatan elektronik yang jarang digunakan, dimatikan saja, jangan menggunakan mode standby. Tindakan yang kita lakukan menghadapi pemanasan global, sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan hemat energi. Upaya-upaya menjaga lingkungan harus dimulai dari setiap rumah. Misalnya, jangan hanya berharap akan ada taman kota yang penuh dengan pohon-pohon hijau sebagai daerah resapan air dan paru-paru kota. Mungkin sudah saatnya bagi kita, di setiap rumah, mulai menanam satu pohon. Lebih banyak tentunya lebih baik. Selain itu, di setiap rumah mulai membuat sumur resapan. Paling tidak satu sumur resapan. Dengan demikian air hujan tidak

mengalir di permukaan tanah begitu saja, sehingga akan menambah volume air banjir dan air tanah menjadi semakin kritis. Ada baiknya pula kalau kita mulai memperhatikan untuk tidak menutup seluruh permukaan tanah di halaman rumah dengan perkerasan yang kedap air. Ada rumah tinggal yang seluruh halamannya ditutup adukan semen atau concreteblock/paving-block beralaskan adukan semen dengan tujuan untuk mudah dibersihkan. Sebaiknya kita tidak melakukan yang demikian. Banyak hal yang dapat kita lakukan. Kita mulai dari yang mudah bagi kita. Sedikit tindakan lebih baik daripada tidak sama sekali. Kira-kira apa lagi yang dapat kita lakukan untuk bumi kita tercinta, sebagai warisan untuk anak-cucu kita? http://giriekaprayoga.blogspot.com/2010/09/rumah-ramah-lingkungan-sebagai-upaya.html