Anda di halaman 1dari 12

Cerpen Kehidupan - SALAHKAH KUDILAHIRKAN

file under: cerpen sedih, cerpen remaja

Seorang pemuda hidup mewah dirumahnya yang berlantai dua dan halaman super luas itu bersama 4 motor dan beberapa buah mobi mewah l hasil jerih payah orang tuanya yang bekerja sebagai juragan sapi terkenal di sebuah kota kecil di pinggiran Jawa tengah. Dialah Bagus anak ke 2 dari 3 bersaudara, kakaknya Andi kuliah di universitas terkemuka di sebuah kota besar sedang menjalani semester akhir, adiknya Hana masih duduk di bangku Sma. Kehidupan mereka bagaikan pangeran dan putri di sebuah kerajaan dengan 5 pembantu dan 3 supir dan beberapa pelayan lainya, mereka dilayani, dijaga, dan diawasi kemanapun mereka pergi Hanya Bagus dan kakanya sajalah yang sekarang sudah tidak mau diawasi lagi karena mereka sudah besar, walaupun mereka hidup dalam kemewahan Orang Tuanya yang sudah bolak balik ke Mekah itu tidak ingin anak anak mereka terjerumus dalam dunai foya foya dan pergaulan bebas, karena itulah sejak kecil mereka digemlbeng dengan pendiidkan agama secara serius, mereka bertiga pun tak larut dalam kemewahan yang mereka miliki, bahkan Hana berangkat dan pulang sekolah pun masih naik angkot dan tidak mau diantar oleh ke 3 sopir yang setiap mengantar mereka kemananpun dia pergi. Namun dengan semua kemewahan itu Bagus merasa kehilangan 2 hal yang paling penting dalam kehidupannya yaitu Sahabat dan Cinta, entah mengapa sejak kecil Bagus tak mempunyai teman, mereka minder berteman dengan Bagus anak seorang kaya raya di lingkungan mereka yang rata rata berekonomi rendah, memang rumah Bagus berada di sebuah lingkungan yang rata rata ekonominya rendah dan tak sepadan dengan Bagus, namun Bagus tidak ingin itu dijadikan sebuah alasan Pertemanan harus dipandang dengan status ekonomi seseorang. Setiap Bagus mendekat dan ingin berteman dengan seorang anak pun,waktu demi waktu mereka meninggalkan bagus, pernah suatu ketika Bagus mempunyai teman waktu ia duduk di bangku smp, namanya Hasan, ia senang berteman dengannya begitu pula hasan, yang setiap kali diajak ke rumah

Bagus disuguhi makanan yang belum pernah ia makan, dan mainan yang belum pernah ia mainkan,namun hari demi hari berlalu orang tua Hassan malu bila anaknya berteman dengan bagus mereka malu diejek para tetangga yang mengatakan Orang tua Hasan tak tau diri membiarkan anaknya berteman dengan seorang anak juragan yang sangat dihormati di lingkunagnnya, ahirnya Orang tua Hasan pun melarang hasan tuk berteman dengan Bagus, kembali ia sendirian dan sejak itulah Bagus tak ingin mencari teman lagi, ia memilih sendiri di kamarnya yang luas dengan ratusan mainan yang semakin bosan ia mainkan. Di sekolah pun juga begitu teman temannya menganggap Bagus itu adalah orang kaya yang tak ingin berteman dengan mereka, hanya 1,2 orang yang menjadi teman Bagus dikala Smp dan Sma, bagus memilih menyendiri dikelas dan tak ingin bergaul dengan teman lain, di sekoalh ia dikenal sebgai pendiam yang sering murung, ia stres karena kehidupanya Dalam hal percintaan pun begitu tak usah dibicarakn lagi Bagus adalah seorang pemuda yang lumayan ganteng, tak sedikit wanita yang ingin menjadi pacarnya, seperti halnya Ririn, gadis cantik sewaktu Sma yang juga menjadi ketua Osis itu terpikat dengan Bagus apalagi ia Ganteng, tajir pula. Ririn adalah cinta pertamanya Bagus, Bagus pun demikian ia mencintai Ririn karena memang ririn adalah Cewek yang cukup dikenal kecantikannya di sekolahnya itu. Namun hari demi hari berlalu ririn rupanya hanya memanfaatkan kekayaan Bagus, ririn sangat matre, Bagus yang plin plan dan masih tak tau apa arti cinta itu pun mengangguk saja bila ririn meminta dibelikan sesuatu, dan tak bisa bilang apa apa bila ririn mengancamn akan memutuskan hubungan mereka Tapi Bagus ahirnya sadar setelah 1 tahun dipermainkan oleh Ririn, setelah lulus Sma mereka berpisah tanpa kata "putus" Bagus tak punya nyali untuk mengatakan itu, ia menghilang, kuliah di luar kota tanpa sepengatahuan ririn. Dalam masa2 kuliahnya itu ia mengenal seorang perempuan solehah bernama Dhea gadis bekerudung anak seorang pedagang daging itu ternyata sangat memikat hati si Bagus, setiap hari Bagus mengikuti kemanapun dhea pergi, tak jarang bila Dhea mengetahui bagus mengikutinya dan bertanya kepada Bagus, Bagus malah salah tingkah dibuatnya Tak bisa ia ucapkan kata "Aku cinta Kamu" ke Dhea hatinya bergejolak ketika berhadapan dengan dhea,bibrinya tak bisa mengatakan apa apa, ia takut namun setelah mencoba puluhan kali ia berhasil mengataknya walaupun hanya dalam telpon Hari demi hari bersama Dhea adalah hari terindah dalam hidup Bagus,Bagus malah berencana untuk melamar Dhea 5 tahun kedepan walau entah masih ada umur atau tidak,Bagus tak pernah apel pada malam hari karena pasti akan tertabrak Solat Isya jadi ia pun apel pada sore hari itupun bila ada waktu sja,hari hari mereka paling banyak dihabiskan di kampus Setiap hari Dhea diantar pulang ke kostnya oleh bagus dengan Mobil Honda Jazz warna putih keluaran terbaru di tahun itu hadiah pemberian buat Bagus dari bapaknya di ultahnya yang ke 19 ,hanya Baguslah yang berangkat - pulang kampus naik mobil teman2nya kebanyakan naik motor,tak pelak Dhea dan Bagus dijadikan bahan pembicaraan banyak teman2nya di kampus dan mereka bgiasa diejek dijuluki Raja dan ratu kampus

Dhea malu dengan julukan itu Bagus pun ia,akhirnya Dhea meminta Bagus agar tak mengantar ia dengan mobilnya,Bagus pun menyutujuinya namun karena Bagus tidak kost namun selalu pulang ke Rumah di luar kota itu menjadikan ia harus selalu membawa kendaraan ia bingung,pada akhirnya Bagus pun membawa motor ninjanya ,namun masih saja dijadikan pembicaraan karena pada tahun itu motor ninja 250r masih menjadi barang langka orang yang punya motor dikota itu bisa dihitung jari pada tahun itu Akhirnya dhea bingung dan memutuskan tidak mau lagi diantar oleh Bagus,Bagus menolak karena ia tak tega melihat Dhea pulang sendirian apalagi jarak kostnya cukup jauh dari kampus dan bila terlalu sore ia pulang tak ada angkutan dan ahirnya Dhea harus jalan kaki, Bagus akhirnya hanya dapat memandangi kekasihnya itu berjalan pulang sendirian dan tak bisa lakukan apa2.Suatu hari Bagus mengajak Dhea ke rumahnya,Dhea nampak terkejut melihat rumah bagus yang sangat besar dibalik tembok tinggi yang mengitarinya,ketika masuk Dhea sngat malu dan minder masuk kedalam rumah besar itu,setelah bertemu orang tua Bagus ia perkenalkan Dhea kepada kedua orang tua Bagus,dan menceritakan hubungan mereka. Kesokan harinya Dhea mengajak Bagus ke rumah Dhea yang berada di pelosok desa,kehadiran mobil bagus di desa itu seperti menjadi tonotnan yang sangat jarang dilihat penduuk desa itu,desanya sangat pelosok bahkan jalannya pun masih berbatu dan belum diaspal,disektar jalan nampak pohon pohon bambu rindang menutupi cahaya matahari diatasnya Orang tua Dhea terkejut melihat sebuah mobil mewah parkir didepan rumah mereka,setelah masuk Dhea memperkenalkan Bagus kepada orang tuanya,bagus pun bercerita asal rumahnya darimana,mendengar asal rumah bagus,Bapak Dhea bertanya kepada bagus "kamu anak siapa?",Bagus menjawab "Pak Bambang" ,"Pak bambang yang juragan sapi itu?" tanya bapak dhea"," nggih leres" (iya benar) ternyata Bapak Bagus adalah juragannya Bapak dhea yang pedagang daging itu,bapak dhea nampak kaget anaknya berpacaran dengan seorang pemasok daging nomer 1 di pasar tempat ia berjualan Setelah lama bercakap cakap,Bagus pamit pulang kepada orang tua Dhea,setelah pergi ternyata bapak Dhea memberi tahu pada si Dhea agar tidak berpacarn lagi dengan Bagus,Orang tuanya malu akan dikira tak tau diri bila anaknya berpacaran dan berjodoh dengan si Bagus anak Juragannya itu,Si Bapak takut harga dirinya terinjak injak bila Dhea berjodoh dengan Bagus,Dhea menolak,namun ia tak bisa berbuat apa apa,dia hanya bisa menangis di kamarnya Keesokan harinya Bagus bingung atas sikap dhea yang begitu berbeda Bgus bertanya "kamu kenapa? kok sedih gt?", "Mas,aku gak bisa lagi pacaran sama kamu", "kenapa?" tanya bagus kaget ," pokoknya q gak mau lagi pacaran, n ketemu kamu lagi!" Dhea berlali sambil emnangis, sebetulnya hatinya hancur sangat megatakan itu, Bagus hanya diam melihat kekasihnya pergi hatinya hancur berkeping keping sakit sekali rsanya Segala cara dilakukan Bagus untuk kembali ke pelukan dhea, namun dhea menolaknya ia tak menceritakan tentang kenapa ia melakukan haal tersebut kepada Bagus, namun hari demi hari bagus tau alasanya oleh teman di dhea, Bagus pun lemas, ia merasa kecewa hanya karena status sosial dia tak bisa mendapatkan Sahabat dan kini Cinta yang ia sangat butuhkan...

Doaku Untuknya

Ya, semua sudah terjadi. Dan tak mungkin kembali. Aku hanya bisa berusaha membuat semuanya menjadi lebih baik. Aku takkan mungkin bisa merubah segalanya aku hanya bisa berusaha untuk membuat lebih baik. Dia, wanita yang ku cintai terbebani karena kesalahanku. Apakah aku harus berlari dari semua tanggung jawab ini? Ataukah aku harus menghadapi semuanya? Aku sadar, ini memang tanggung jawabku. Aku harus bisa membuatnya agar tak tersakiti olehku. Aku hanya ingin berusaha agar selalu ada di saat dia membutuhkanku. Membutuhkan dekapanku, membutuhkan belaianku, membutuhkan diriku untuk membuatnya merasa lebih baik. Awalnya aku tidak tahu bahwa ini semua akan tejadi. Memang benar sebuah ungkapan Sepandaipandainya menyimpan bangkai, suatu saat bau bangkai itu akan tercium juga, ya hubungan yang kami jalani selama ini tanpa restu dan tanpa diketahui oleh keluarganya kini sudah terbongkar. Semua sudah terbongkar. Aku tak bisa melihatnya menderita. Apa yang harus ku lakukan untuknya? Kejadian itu bermula pada malam itu, malam di mana cinta dan kasih sayang dikalahkan oleh marah dan cemburu. Dia cemburu aku pergi untuk menghadiri acara almamaterku. Dia takut saat aku menghadiri acara tersebut, aku dekat kembali dengan seseorang yang dulu pernah ada di kehidupanku. Aku sudah bilang kepadanya bahwa aku selalu menjaga dan memberikan hatiku hanya padanya. Namun, rasa cemburunya sudah terlalu besar. Tiba-tiba handphoneku berdering, ada sebuah pesan dari kekasihku itu. Aku tak pernah menyangka akan mendapatkan pesan itu darinya. Dia memutuskan hubungan kami. Aku yang tak mengerti dengan jalan pikirannya berusaha untuk berkomunikasi melalui pesan singkat maupun dengan meneleponnya. Tapi semua sia-sia, dia tidak menghiraukan sedikit pun usahaku itu. Aku masih terus mencoba-mencoba dan mencoba, tetapi semua sia-sia. Hingga akhirnya handphonenya tak bisa kuhubungi. Rupanya dia menonaktifkan handphone. Namun aku terus mengiriminya pesan singkat, dan berharap dia bisa mengerti begitu dia mengaktifkan handphonenya lagi. Waktu berlalu, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam pun telah ku lalui. Tiba-tiba dia merespon pesanku. Pesan itu bukan sebuah pesan yang aku harapkan, melainkan pesan yang selama ini tak ingin pernah ku dengar. Ternyata saat dia tertidur, kakaknya masuk ke kamarnya dan mengaktifkan handphonenya dan membaca semua pesanku. Kakaknya begitu marah padanya, dan bahkan orang tuanya pun juga mengetahui hal tersebut. Mereka semua marah dan kecewa

dengannya. Aku merasa lemas dan tak mengerti apa yang harus ku lakukan. Haruskah aku mendatangi rumahnya dan menjelaskan semuanya kepada keluarganya? Tidak, itu hanya akan memperparah suasana. Oh Tuhan.. apa yang harus ku lakukan? Aku tak bisa melihat dia menderita, lebih dari ini. Tuhan.. aku mohon jagalah dia. Hanya dia yang ku harap ada di hidupku, menemaniku dalam setiap langkah kehidupanku. Hanya dia wanita yang selalu ku rindu. Aku sangat merindukannya, merindukan senyumnya yang selalu membuatku merasa tenang. Jagalah dia selalu Tuhan. Jangan Kau tambahkan penderitaanya karena ulahku itu. Aku berharap Kau memberikan yang terbaik untuknya. Tuhan.. jika memang dia Kau tuliskan untukku, maka dekatkanlah kami, dan buat orang tuanya mengerti. Namun, jika dia bukannlah untukku, aku mohon. Ubahlah takdir-Mu, buatlah dia menjadi masa depanku. Tuhan.. aku tahu, aku hanyalah manusia bodoh. Namun, ku mohon izinkanlah aku untuk menjaganya, memberikan seluruh cinta dan kasih sayangku padanya. Izinkanlah aku untuk selalu ada di sisinya. Izinkanlah aku Tuhan, untuk selalu bersamanya.

Cerpen Kompas: Lukisan Bergetar


by Cerpen Kompas on 08:09 AM, 08-Jun-12
Cerpen Kompas Jangan bertanya padaku si anak durhaka mengenai Ibu, perempun yang disapa dengan sepenuh keagungan jiwa, pemujaan, permohonan doa dan restu. Aku tak mau mengenal Ibu. Aku telah dititipkan Ibu pada saudara sepupunya, perempuan bawel yang mempekerjakanku serupa budak. Aku lari dari keluarga perempuan bawel itu, dan menemukan duniaku sendiri, bekerja, hingga membeli rumah tua yang kini kutempati. Aku terperanjat ketika datang ke rumahku seorang gadis dengan pandangan yang berkaca-kaca. Ia mencari ibu kandungnya. Perempuan dalam lukisan di ruang tamuku, dikatakan sebagai sosok Ibu yang dicarinya. Ditatapnya lekat-lekat lukisan itu. Sebuah lukisan perempuan berbaju hijau lumut, berkain, duduk menyamping di kursi ukir. Lukisan itu telah dipakukan di dinding ruang tamu, barangkali setua bangunan ini. Tak kutemukan keterangan apa pun mengenai lukisan itu, hingga datang seorang gadis, yang bertanya, di mana perempuan dalam lukisan itu. Sama sekali aku tak mengerti, di mana sekarang perempuan dalam lukisan itu tinggal. Apa peduliku dengan perempuan itu? Pada Ibu yang melahirkanku, ketika ia sakit dan meninggal dunia, tak kutengok sekejap pun. Ia dimakamkan, tanpa kehadiranku. Dua adik perempuanku yang tak pernah disia-siakan Ibu sepertiku berkali-kali meneleponku. Tak kubalas.

Lalu, apa artinya kini, melacak seorang ibu dari sebuah lukisan? Lukisan itu telah menjadi satu dengan dinding, semenjak rumah tua itu kubeli. Sama sekali aku tak terganggu dengan lukisan itu, sampai datang seorang perempuan muda itu dari kota yang jauh. Ia mencari pemilik rumah, seorang ibu yang dilukis dan terpasang di dinding ruang tamu. Melacak wanita dalam lukisan, yang lengkung alisnya tergores lembut, dengan sepasang mata memendam perhatian. Garis bibir dan dagu menampakkan kesepian yang panjang dan tertahan. Lukisan itu selalu bergetar pada saat angin berembus lewat pintu ruang tamu yang terbentang. Lukisan itu tepat berhadap-hadapan dengan pintu, dan setiap saat angin menggetarkannya. Perempuan dalam lukisan itu seperti bergerak dari bingkainya. Perempuan muda itu memandangi lukisan yang bergetar dengan mata yang berkejap. Sepasang mata yang penuh harap. Antarkan aku ke rumah Ibu! Aku masih tergagap. Merasa asing dengan permintaannya. Tak pernah aku mendatangi Ibu. Apalagi mencarinya. Hingga Ibu jatuh sakit, terbaring koma lebih dari sepuluh hari, dan pada akhirnya meninggal di hari kesebelas, aku tak menengoknya. Telepon rumah berdering berkali- kali. Tak berhenti berdering. Kututup kembali. Kubiarkan mereka dua adik perempuanku menelepon dan mencaci-maki. Aku tak peduli. Maaf, aku tak bisa menemanimu. Kalau begitu, beri aku alamat Ibu. Perempuan muda itu memendam sorot mata yang penuh harap dan cemas. Hari sudah larut. Ia belum beranjak dari rumahku, wajahnya tampak ragu. Tapi aku tak mau jatuh iba padanya. Aku tak ingin melihat dia bertemu dengan ibunyawanita yang telah melahirkannya. Telah kuputuskan mencari Ibu. Tak kusangka akan sesulit ini. Sekalipun Ibu telah membuangku, tak akan kucemooh dia. Aku ingin bertemu dengannya. Di pelataran rumah, dia masih membujukku untuk menemani mencari ibunya. Kutolak. Kali ini suaraku dingin. Mungkin ketus. Aku memang harus memperlihatkan pendirianku padanya. Aku tak suka melihat raut wajahnya yang cengeng. Lelaki pemilik rumah itu sungguh menjengkelkan. Dia tak mau mengantarkanku mencari alamat Ibu. Baru pertama kali aku menginjakkan kaki di kota kecil kelahiranku ini. Dua puluh tiga tahun orangtua angkatku membawaku meninggalkan kota kecil yang sepi ini. Baru seminggu yang lalu, ketika aku hendak dilamar calon suami, kedua orangtua angkatku berterus terang. Kau masih memiliki seorang ibu ya, perempuan yang mengandung dan melahirkanmu. Ia tinggal di sebuah rumah tua, dengan arsitektur lama. Kulacak. Kutemukan rumah yang kokoh, tinggi, dan kusam. Tapi aku tak menemukan Ibu. Rumah itu sudah dijualnya. Dan lelaki muda yang telah membeli rumah Ibu, alangkah tolol dia. Sama sekali tak mau menolongku. Hanya lukisan tua itu yang menghiburku. Setidaknya, aku sudah melihat wajah Ibu semasa muda. Bermata teduh, dan sekelam lumpur yang dalam. Mungkin lumpur itu menenggelamkan seseorang. Aku tak paham, barangkali lelaki-lelaki terperosok ke dalam lumpur mata itu. Orangtua angkatku tak memberi tahu siapa ayahku. Aku hanya diberi tahu tentang Ibu. Dan Ayah, bahkan namanya pun tak disebutkan. Apalagi wajahnya, sungguh tak kukenal.

Ketika kutemukan rumah tua, sesuai dengan alamat yang diberikan orangtua angkatku, aku merasa lega. Apalagi di dinding ruang tamu pemuda itu terpasang wajah Ibu. Wajah wanita yang menanggung kesepian yang terpendam. Kurasa aku sudah dekat bersua Ibu. Tapi aku cuma menemukan lukisannya. Sama sekali tak kutemukan jejaknya. Mungkin aku masih jauh bersua dengannya. Mestinya pemuda pemilik rumah itu bisa membantuku. Dia memilih tak mau tahu persoalanku. Ia menutup diri, dan aku telah gagal membuka hatinya. Ia tenggelam ke dalam dirinya sendiri. Dan aneh, bagiku, bagaimana mungkin seorang lelaki yang mencapai usia tiga puluh seperti dia, tanpa istri dan anak, malah berhasrat memenjarakan diri? Larut malam, tak ada taksi yang bisa kusewa untuk melacak rumah Ibu. Kota kecil ini sungguh sunyi. Kutemui beberapa becak yang diparkir di tepi jalan raya dengan pengayuh yang tertidur di dalamnya. Mereka tak memerlukan penumpang. Ini kota tua. Kota yang mati pada malam hari. Orang tak berani melintas di jalanan. Lampu-lampu pun remang-remang, dan kelelawar berseliweran dengan kepak sayap yang memperpekat sunyi. Langit di atas kota serupa selubung kain yang mudah koyak. Kudapatkan sebuah hotel kecil, tua, dengan kamar yang melapuk pintunya, aus catnya, dan berdebu. Kecoa berseliweran. Nyamuk berdenging merubung tubuhku. Bagaimana aku bisa tidur di kamar serupa ini? Segelas teh dan sepotong kue yang dihidangkan pun terasa basi. Tak mungkin aku beristirahat dengan suasana jorok macam ini. Berjalan-jalan meninggalkan kamar hotel, aku ingin menghirup udara malam kota tua ini. Barangkali aku akan menemukan rumah Ibu. Ingin kutebus kehinaanku sebagai perempuan tak beribu, yang hanya mengenal orangtua angkat. Getir rasa hatiku tak mengenal ibu kandung. Aku ingin sebagaimana layaknya seorang gadis yang dipinang calon suami, bisa mempertemukan dengan ibu kandung. Bahkan mungkin bisa mempertemukan dengan kerabatku. Tak hanya orangtua angkat yang bisa kutunjukkan pada keluarga mempelai lelaki. Tapi kini, di kota tua ini, aku mesti berjalan sendirian mencari Ibu. Kalaupun calon suamiku memutuskan untuk meninggalkanku, karena aku tak memiliki ibu kandung yang bisa kupertemukan dengannya, aku harus rela. Aku tak berhak mencegahnya. Terus melangkah dalam sunyi malam yang gelisah, sampailah aku di alun-alun, di bawah pohon beringin, di dekat penjual wedang ronde. Seorang lelaki tengah duduk mencangkung. Menikmati kesunyiannya. Aku merasa sangat mengenal lelaki itu. Memang betul. Dialah pemilik rumah tua, yang baru saja kutinggalkan. Duduk seorang diri. Terperanjat sebentar menatapku. Kutemukan lelaki muda itu tengah menyendoki wedang ronde. Hati-hati, pelan sekali, ia meletakkan minumannya, seperti tak pernah mengenalku. Mungkin ia tak mau bertemu dengan siapa pun. Lelaki itu terasing dan memilih jalan sunyi. Ia memang berpura-pura tak mengenalku. Sepasang matanya mengusir, menolak, bahkan memusuhiku. Aku masih berharap kau mau menemaniku mencari Ibu, pintaku. Larut malam begini? Bila tak kuantar, aku tak tahu jalan.

Memandangiku dengan mata yang keropos, lelaki itu mencairkan kebenciannya padaku. Mata itu berkabut. Aku menatapnya dengan hangat. Dan kabut dalam mata itu lenyap. Lama. Lambatlambat. Matanya mulai bersahabat. Dia tak lagi menyembunyikan muka dariku. Kami berjalan bersama dalam samar cahaya bulan, tanpa tegur sapa. Dia melangkah dengan suara kaki yang pasti. Tak seorang pun kami temui di jalan. Hanya anjing-anjing buduk yang mengaisngais sampah, sesekali melintas. Kami melangkah dalam diam. Menyusur jalan lengang, berkelokkelok, kian jauh dari jantung kota, dan memasuki perkampungan. Langkah kakiku sudah penat ketika kami mencapai sebuah rumah yang diduga pemuda itu ditempati Ibu. Tengah malam lewat, kami memasuki pelataran rumah tua dengan tembok mengelupas dan berlumut. Gelap. Kusentuh pintunya. Berderit terbuka. Di dalam pun tak terlihat seseorang. Tanpa cahaya. Kelelawar terbang menerobos celah pintu. Laba-laba bergerak menggetarkan jaring-jaringnya. Dengan cahaya korek api kami menjelajahi seluruh ruangan. Rumah tua ini memang sudah ditinggalkan penghuninya. Debu, lumut, dan lembab udara, menyesakkan dada. Aku berhenti lama di depan pintu sebuah kamar. Barangkali di sinilah Ibu tidur. Kupandangi. Dan kubayangkan Ibu tergolek. Sendiri. Tatapannya menerawang. Kalau Ibu tengah terbaring di kamar ini, tentu aku akan menyempatkan diri bertanya. Kenapa Ibu memberikanku pada orang lain? Barangkali pertanyaan ini akan menyakitkan Ibu. Tapi ini akan meruntuhkan beban yang menekan bergelayut dalam kepalaku. Toh Ibu kata orangtua angkatku tak memiliki anak selain aku. Apa lagi yang dirahasiakannya dariku? Mari kita pulang! ajak pemuda itu, pelan. Pulang? Ya. Menginaplah di rumahku. Membayangkan perempuan muda itu, sambil memandangi lukisan yang bergantung di ruang tamu, aku mulai sadar kini, mereka memang mirip. Malam itu ketika perempuan muda itu tidur di kamar depan, aku sempat memandanginya. Aku tersihir. Terkesima. Dialah perempuan dalam lukisan itu. Tubuhnya bergeletar. Aku seperti terisap untuk mendekatinya, lebih lekat, lebih lekat, menyatu ke dalam kesunyian yang mula-mula lembut, dan lambat laun bergelora, mengempas-empaskanku. Tak kutemukan perempuan muda itu saat aku terbangun. Dia sudah menghilang. Mungkin sudah kembali pulang. Mungkin ia mencari ibu kandungnya. Aku tak berselera melakukan apa pun. Cuma memandangi perempuan dalam lukisan itu. Tiap kali angin berhembus, lukisan itu bergetar. Tapi kali ini dadaku pun bergetar. Tak bisa kuredakan. Malam ketiga setelah perempuan muda itu menghilang, aku tak kuasa menahan diri. Aku menanti fajar untuk melakukan perjalanan. Telah kuputuskan untuk melacak perempuan muda itu. Tak mungkin kutunda lagi. Aku merasa keropos. Tak ingin kurasakan kekeroposan hati kian menjalar melapukkan seluruh persendianku. Ingin kutemukan rumah tempat tinggal perempuan itu. Ini sungguh mendebarkan, serupa memasuki permainan masa kanak-kanak bersama temantemankusebelum aku direnggut dari dunia itu untuk mengikuti saudara sepupu Ibu. Akan kucari perempuan titisan lukisan di ruang tamu. Biar kuajak dia ke rumahku, dan kutemani mencari ibu kandungnya ke mana pun, sampai ketemu.

Cerpen Kompas: Radio Transistor


by Cerpen Kompas on 12:59 PM, 08-Jun-12
Cerpen Kompas Hujan sore tadi masih menyisakan genangan di jalan becek yang memotong kampung di pinggiran sungai pada kaki bukit. Selain perahu penyeberangan yang ditarik tambang antara kedua sisi sungai, tak ada penduduk yang berani menyeberang dengan perahu kecil lainnya terutama pada musim seperti saat ini. Hari ini bulan ketujuh sejak Hamid hilang tertelan arus sungai yang membelah kampung itu. Sejak sebuah perusahaan milik orang kota menebang pohon di gunung tepat ke arah matahari terbenam itu, arus sungai menjadi sangat deras. Paling berbahaya sebab batangan pohon sering ikut menerjang apa saja yang menghalanginya. Iman desa Basari pernah ditemukan pingsan dihantam batangan pohon yang hanyut itu saat berak di pinggir sungai. Beruntung ia tidak terbawa arus dan menjadi mangsa buaya putih yang dipercaya penduduk kampung sebagai penjaga sungai itu entah sejak kapan. Beberapa kali terdengar suara gedebuk dari kebun belakang. Buah kelapa yang matang tak kuat lagi bergelantungan di pohonnya sehingga harus rela jatuh ke bumi menimbulkan bumi gedebuk tadi. Tak ada yang peduli. Selain pohon cokelat yang tumbuh serampangan, pohon kelapa menjadi penghasil kopra dan menjadi pendapatan lain selain padi dan jagung bagi penduduk kampung itu. Beberapa keluarga menanam ubi jalar dan ketela di antara pohon cokelat. Beberapa ratus meter ke arah bukit, terdapat pekuburan yang berbatasan langsung dengan hutan lebat. Tak banyak penduduk yang suka datang ke pekuburan itu, selain untuk memakamkan warga kampung yang meninggal. Terlalu angker, kata mereka. Kampung sebenarnya telah mati bersamaan saat matahari jatuh ke ufuk barat. Surau yang lebih banyak kosong berdiri rapuh di ujung jalan menghadap ke timur. Beberapa rumah terlihat masih menyisakan aktivitas. Terdengar suara bercakap dari penghuninya diselingi gerakan lampu minyak kemiri yang sering-sering hampir padam terkena angin dari sela-sela dinding rumah. Dinding rumah penduduk yang bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki memang jarang-jarang. Itulah mengapa angin malam yang dingin menggigit bisa dengan leluasa memainkan api lampu kemiri yang menjadi penerang utama rumah-rumah penduduk. Aktivitas pemilik rumah juga dengan mudah terlihat dari luar. Hampir-hampir tak ada privacy. Bahkan, aktivitas di atas tempat tidur pun bisa terlihat dari sela-sela dinding rumah yang tak pernah tersentuh alat serut kayu. Nenek Lido masih merapikan jagung-jagung kering sisa kebun yang dipetiknya tiga hari lalu. Rencananya, jagung yang telah mengeras itu akan ditumbuk di lesung kayu miliknya tepat di bawah pohon samping kandang dua ekor kambing miliknya di belakang rumah. Kakek Lido, suaminya, sangat gemar menyantap nasi campur jagung meskipun hanya berlauk ikan asin dan sayur daun berbumbu segenggam garam kasar. Dua anak gadisnya, Jona dan Warni, berusaha menggotong pisang yang masih basah sisa hujan ke loteng darurat, tepat di atas ranjang keduanya. Jona yang lebih tua memanjat loteng terlebih dahulu untuk menarik ke atas sementara Warni adiknya mengusung pisang dari bawah. Dua orang gadis tangguh. Tak hanya secara fisik, tapi juga ketegaran menghadapi kemiskinan. Sesekali Nenek Lido memandang kedua anak gadisnya dari arah belakang. Ia masih sering memendam keinginan menggendong mereka dalam buaian kasihnya seperti ketika ia melahirkan mereka berdua. Nenek Lido melahirkan Jona ketika usianya telah mendekati masa menopause. Puluhan tahun ia menunggu kehadiran anak- anaknya. Tak terhitung dukun yang didatanginya. Ia telah hampir putus

asa ketika Jona mulai ia hamilkan. Nenek sangat mencintai kedua putrinya itu meskipun orangorang kampung sering kali menggunjingkan usianya yang tidak lagi muda. Tak lama, upaya Jona dan Warni berhasil dan pisang bisa digantung di sebilah bambu yang dipasang melintang di loteng. Jona sempat berbalik ke belakang sebelum turun ke lantai bawah. Ujung telinganya seakan mendengar tarikan nafas di balik timbunan daun jagung yang menjadi dinding penahan angin di loteng bagian belakang. Tak ada apa-apa. Gelap. Kakek Lido tak pernah beranjak dari tempatnya, kursi kayu sekaligus ranjang tempat tidurnya. Sudah tiga belas tahun dia menikmati hari-harinya di situ. Saat istrinya membopong pisang, jagung atau hasil bumi kebun mereka ke pasar untuk di jual dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer setiap Rabu, Kakek Lido tak pernah jauh beranjak dari tempatnya. Ia hanya gelisah jika suara radio transistor yang menjadi temannya sejak lama sekali mulai suak. Kakek Lido tak akan bisa tidur tanpa radio itu di samping kepalanya. Tak peduli apakah siaran di radio transistornya ia mengerti maksudnya. Tapi dunia seakan menjadi miliknya jika suara Elia Khadam melantun meskipun sesekali suara radio melengking akibat gelombang radio lagi jelek. Nenek Lido bertubuh subur. Meskipun giginya hanya tersisa tiga buah di bagian kanan atas dan kiri bawah, senyum tak pernah hilang dari wajahnya. Konon, nenek Lido dulu cantik. Banyak jawara kampung dulu mencoba mendapatkan cintanya. Tapi ia dengan tulus menerima pinangan kakek Lido sesuai keinginan ayahnya. Kata ayahnya, terlalu bodoh untuk menolak pinangan Lido muda. Rajin shalat dan punya empat ekor sapi gemuk. Lagipula, mana ada anak gadis di kampungnya yang berani melawan keinginan orangtuanya. Cerita tentang kecantikan itu mungkin saja benar sebab dua anak gadisnya manis, segar, dan kuat seperti ibunya. Malam semakin dingin dan Nenek Lido berusaha menegakkan badannya untuk menuju ke ranjangnya. Dari kamar bagian tengah yang hanya dibatasi selembar kain bekas seprei yang tak lagi terpakai, dua anak gadisnya tak lagi terdengar suaranya kecuali derit ranjang kriaak kriuuuk setiap ada pergerakan di atasnya. Kakek Lido tenggelam dalam buaian lagu entah siapa dari radio transistornya. Tapi kakek belum tertidur. Batuknya masih bersahut-sahutan pada beberapa jeda waktu. Kamu pinjam alu Puang Daha besok pagi. Alu kita patah, Nenek Lido mematikan nyala lampu minyak kemiri yang terselip di tiang rumah. Tak jelas ia berbicara dengan siapa. Kata Nisa, kambing yang hitam kemarin makan bangkai di dekat kuburan. Coba kamu periksa apa dia terkena racun dari bangkai itu, kata Nenek Lido lagi. Kakek Lido hanya menggerakkan tubuhnya di ranjang mininya pertanda mengerti perintah Nenek. Nenek Lido adalah kepala keluarga yang sebenarnya. Ia roh bagi keluarganya sekaligus pencari nafkah. Tak pernah ia mengeluh dalam hidupnya. Tidak juga ketika Kakek Lido memutuskan menjual dua petak sawah warisannya beberapa tahun lalu untuk selanjutnya membeli radio transistor dan sedikit diserahkan kepada istrinya untuk selanjutnya menikmati hari-harinya dengan radio transistornya. Tak pernah pula ada protes dari kedua anak gadisnya atas semua beban dan peran yang diemban ibunya. Mana berani keduanya masuk ke wilayah peran kedua orangtuanya? Semuanya seperti berjalan alamiah. Malam merangkak jauh dan dingin semakin menggigit. Hujan mulai turun lagi meski tak sederas sore tadi. Nenek Lido agak gelisah tidurnya. Ia sempat ke dapur dalam gulita untuk mencari sesuatu. Tapi kedua anak gadisnya telah lelap. Terdengan pelan suara krek krreek krreeek dari loteng. Sekelebat bayangan melompat ke tiang tengah rumah tepat di atas kamar Jona dan Warni. Rumah panggung itu bergerak. Nenek Lido menggerakkan kepala di atas bantal kusamnya seakan mendengar atau merasakan sesuatu. Akh, angin semakin kencang, pikirnya. Anjing melolong bersahut-sahutan di ujung kampung tepat dari arah kuburan. Tak terdengar suara apa-apa kecuali

hujan yang jatuh ke atap rumbia, namun tak cukup keras untuk mengalahkan suara radio transistor Kakek Lido. Tiba-tiba. Siapa kamu? Aaakkhh Kindo, Jona dan Warni menjerit. Seseorang bertubuh besar bersarung dan berbaju kaus hitam berusaha menindih tubuh Jona. Warni melompat ke luar kamar dan berlari ke ranjang ibunya di dekat dapur. Jona berusaha melepaskan diri dari bekapan lelaki yang mendengus keras. Baju Jona telah robek di bagian depan. Nenek Lido melompat dari tempat tidurnya. Rambutnya yang telah memutih di sana-sini berurai panjang kusut. Tak dihiraukan sarungnya melorot dan menyisakan celana pendek besarnya menggelantung tak beraturan di perutnya yang bergelambir. Siapaa? teriaknya setengah melompat. Siapa yang berani memegang anakku? Nenek Lido telah sadar apa yang terjadi. Warni meringkuk di dekat ranjang ibunya sambil menangis. Dengan keras, Nenek Lido menarik baju lelaki besar yang hampir berhasil memeloroti pakaian Jona. Lelaki itu tersentak keras. Kini ia menghadapi Nenek Lido dengan marah. Matanya berkilat menahan nafsu dan amarah. Nenek Lido mengenalinya: Rappe. Dengan sekali mengayunkan tangan, Rappe, jawara kampung sebelah, menempeleng wajah Nenek Lido dengan keras hingga terhuyung ke atas onggokan daun jagung sisa pekerjaannya tadi sore. Tapi Nenek Lido bisa bangun dan berhasil mencengkeram baju lelaki itu. Sebuah tendangan di bagian muka merontokkan gigi terakhir Nenek Lido. Dari arah belakang, Jona berteriak marah sambil memukulkan bambu obor yang selalu terselip di dinding kamarnya. Rappe semakin marah. Jona tertampar keras di bagian wajah sebelah kiri hingga terjengkang ke belakang. Nenek Lido melengking marah. Ia melompat menghalangi Rappe yang akan menarik Jona. Rumah panggung itu bergoyang keras. Dalam gelap, Nenek Lido sedang bertarung mempertahankan permata hatinya. Rappe mundur. Wajahnya mengilat bengis dalam gelap malam. Ia tiba-tiba menarik sesuatu dari balik bajunya. Sebilah pedang pendek. Nenek Lido tetap berdiri membelakangi Jona yang menangis ketakutan. Dalam gelap, sekelebat Rappe bergerak ke depan dengan tangan teracung dengan pedang di tangannya. Tak ada ruang bagi Nenek Lido untuk menghindar atau Jona tertebas di belakangan. Maka, dengan secepat kilat, nenek melompat ke depan menyambut tubuh Rappe. Terjadi tubrukan keras dan keduanya jatuh ke lantai. Dengan cepat Nenek Lido memegang tangan kanan Rappe dan membalikkan tubuhnya ke depan pintu kamar. Rappe kini terdesak dan berusaha menarik tangannya dari pegangan Nenek Lido. Cresss Berhasil. Secepat kilat Rappe melompat ke pintu belakang dan menghilang ke dalam gelap dan hujan yang semakin deras. Jona melompat memeluk ibunya sambil meraung tangis, Kindo... Warni tetap menangis di kamar ibunya dengan penuh ketakutan. Dia sudah pergi. Nyalakan lampu, Nenek Lido menyuruh Jona. Tapi Jona semakin keras memeluk ibunya. Nenek membelai rambut putrinya yang merasakan tangan ibunya basah. Dengan susah payah, Nenek Lido melepaskan diri dari pelukan anaknya dan berusaha menyalakan lampu minyak kemiri. Tangannya gemetar dan nyeri. Lampu berhasil dinyalakan dan Jona menjerit lalu pingsan. Tangan dan baju ibunya yang lusuh penuh darah, kepalanya juga. Nenek Lido jatuh menyandar ke dinding. Ia memegang tangannya yang bersimbah darah. Tiga jari tangan kanannya telah hilang dari tempatnya tersayat pedang saat bergubung dengan Rappe tadi. Tapi Nenek Lido tidak menangis.

Tidak juga ia marah kepada Kakek Lido yang tak pernah beranjak dari tempat tidur dan radio transistornya saat pergumulan dengan mautnya tadi. Kakek bahkan tak pernah merasa perlu untuk menanyakan atau ikut nimbrung pembicaraan kampung ketika Rappe ditemukan mati dengan leher tertebas saat di pinggiran kampung sepulang dari minum tuak di kampung sebelah. Ia hanya sempat bertanya kepada beberapa orang yang melintas di depan apa bertemu dengan Nenek Lido yang belum juga pulang sejak sore hari, bertepatan dengan malam ditemukannya Rappe terkapar mandi darah di pinggir jalan tanah kampung. Kakek bermaksud menyuruh istrinya membeli baterai radionya yang mulai melemah. Tapi Kakek Lido sadar bahwa kedua anak gadisnya marah kepadanya sebab tak pernah lagi menyapanya sejak kejadian malam itu. Toh ia juga tak terlalu peduli bahkan ketika kedua anak gadisnya menolak duduk di dekat pembaringannya beberapa saat sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya beberapa bulan sejak peristiwa malam itu. Hanya Nenek Lido yang setia menemani Kakek di dekat kepalanya yang mulai melemah. Saat mendekati sakratul maut, Nenek Lido mendekatkan mulutnya ke telinga kakek dan membisikkan sesuatu. Entah apa. Tak ada yang tahu. Kakek tak bereaksi apa-apa. Hanya satu permintaan Kakek Lido saat akan meninggal: Dimakamkan bersama radio transistor miliknya dalam satu liang. Hanya itu.