Anda di halaman 1dari 53

REAKSI WARNA UMUM

(Clarks Isolation and Identification of Drugs)


Banyak senyawa memberikan warna yang berbeda jika dicampurkan dengan ragensia
kimia. Dalam beberapa kasus, warna yang dihasilkan mungkin spesifik untuk senyawa
yang sedang dianalisa, tetapi lebih sering warna hasil reaksi diberikan oleh senyawa
satu golongan, atau diluar golongan senyawa tersebut.
Uji ini dirancang untuk 1 mg obat dalam bentuk sediaan padat kecuali dinyatakan lain.
Jika larutan tidak dinyatakan dibuat dengan pelarut tertentu, buatlah larutan dalam air.
Aromatisitas
METODE. Tambahkan 2 atau 3 tetes asam nitrat ke dalam sampel, panaskan dalam
penangas air 100 oC selama 1 menit, dinginkan, encerkan 3 sampai 4 kali volume
dengan air, dan basakan dengan penambahan larutan NaOH 40%.
INDIKASI. Perubahan dari tidak berwarna atau kuning menjadi warna yang lebih gelap
menunjukkan adanya cincin benzen dalam molekul. Kecuali dinyatakan lain.
Asam Amalat
METODE. Tambahkan kedalam sampel beberapa tetes HCl 10M yang diikuti dengan
penambahan KClO3 kristal. Uapkan campuran hingga kering. Amati warna residu dan
kemudian tambahkan 2 atau 3 tetes NH4OH 2 M dan amati kembali perubahan warna.
INDIKASI. Residu berwarna merah, rosa, jingga atau kuning, yang berubah menjadi rosa,
merah atau ungu setelah penambahan NH4OH menunjukkan adanya turunan ksantin.
Asam kromotropat
REAGENSIA. Larutkan 20 mg asam kromotropat dalam 10 ml H 2SO4.
METODE. Tambahkan sedikit sampel, baik sampel padat atau larutan, ke dalam
reagensia. Catat perubahan warna yang terjadi dan kemudian tambahkan larutan
tetes demi tetes ke dalam 0,5 ml air, dengan pendinginan. Senyawa yang membentuk
warna dengan H2SO4 dingin tidak dapat dimasukakan ke dalam kelompok ini.
INDIKASI.
Asam sulfat
METODE. Tambahkan asam sulfat langsung kedalam sampel di atas pelat tetes atau
tabung reaksi
INDIKASI. KUNING untuk berbagai steroid dan tioksanten
Asam sulfat-Asam sulfat berasap
REAGENSIA. Campurkan 7 ml asam sulfat dan 3 asam sulfat berasap
METODE. Larutkan sampel dalam sedikit toluen dan tambahkan 1 atau 2 tetes reagensia
Benedict
REAGENSIA. Larutkan 1,73 g CuSO4 dalam 10 ml air. Larutkan 17,3 g Na3Sitrat dan 10 g
Na2CO3 anhidrat dalam 80 ml air, dengan bantuan pemanasan; tuangkan larutan ini
kedalam larutan CuSO4 dan encerkan hingga 100 ml.
METODE. Tambahkan 0,5 ml reagensia ke dalam sampel dan panaskan dalam
penangas air 100oC selama 3 menit.
INDIKASI. Pembentukan endapan merah Cu2O terjadi akibat reaksi dengan zat-zat
pereduksi, misalnya asam askorbat, ditionit, beberapa senyawa fenol yang
mengandung gugus hidroksil dalam posisi para- dan senyawa-senyawa yang
mengandung paling sedikit 4 gugus hidroksil pada rantai alifatik seperti glukosa,
tetrasiklin.
Besi (III) Klorida
REAGENSIA. Larutan feri (III) klorida 5%.
Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 1

Coniferyl Alcohol
REAGENSIA. Hangatkan 0,1 g coniferyl alcohol hingga melelah (74 oC) larutkan dalam 3
ml etanol, dan encerkan hingga 10 ml dengan etanol.
METODE. Tempatkan 1 tetes larutan sampel di atas kertas saring, tambahkan 1 tetes
reagensia, dan eksposur kertas di atas asam HCl.
INDIKASI. Warna jingga menunjukkan adanya amin aromatis primer yang mana gugus
aminya langsung terikat dengan cincin benzen.
Diazotasi
METODE. Larutkan sampel dalam HCl 2M dan ke dalam 1 tetes larutan sampel pada
pelat tetes tambahkan 1 tetes larutan NaNO2 1%, dan 1 tetes larutan 2-naftol 4% dalam
NaOH 4M.
INDIKASI. Warna merah atau merah jingga yang terang menunjukkan adanya amin
aromatik primer.
Difenilamin
REAGENSIA. Larutan difenilamin 0,5% dalam H2SO4 60% v/v.
METODE. Tambahkan reagensia ke dalam sampel di atas pelat tetes atau dalam tabung
reaksi.
INDIKASI. Warna biru menunjukkan adanya zat-zat pengoksidasi seperti bromat, klorat,
kromat, dikromat, iodat, timbal (IV), mangan (III, IV, VII), nitrat, nitrit, permanganat atau
vanadat.
p-Dimetilaminobenzaldehida (p-DAB)
REAGENSIA. Larutkan 0,5 g p-DAB dalam 50 ml larutan yang mengandung 60 bagian
volume etanol dan 40 bagian volume H2SO4 berasap. Reagensia harus dibuat segar.
METODE. Tambahkan reagensia ke dalam sampel dalam tabung reaksi, hangatkan jika
perlu. Amarti warna yang dihasilkan dan encerkan dengan air secara hati-hati.
INDIKASI. Warna-warni diberikan oleh berbagai senyawa termasuk alkaloid ergot,
kanabinoid dan indol yang cincinnya tidak terikat dengan gugus konjugat lain, fenol
dan amin fenolat.
Dragendorf
REAGENSIA. Larutkan 1 g Bi(NO3)3 dalam 3 ml HCl 10M dengan bantuan pemanasan,
encerkan hingga 20 ml dengan air, dan larutkan di dalam campuran 1 g KI. Jika BiI 3
terpisah, tambahkan HCl 2M dan lebih banyak KI untuk melarutkannya.
METODE. Larutkan sampel dalam 3 tetes HCl 2M, tambahkan 2 hingga 3 ml reagensia,
dan encerkan hingga 10 ml.
INDIKASI. Warna jingga, merah-jingga, coklat-jingga menunjukkan adanya alkaloid base
(mengendap sebagai alkaloidal-bismut iodida). Positif untuk amina primer, sekunder,
tersier dan kuarterner.
Duquenois
REAGENSIA. Larutkan 2g vanilin dan 0,3 ml asetaldehid dalam 100 ml etanol. Reagen
harus disimpan di tempat gelap.
METODE. Tempatkan sampel dalam tabung reaksi dan tambahkan 0,5 ml reagensia dan
sejumlah volume yang sama HCl 10M. Hangatkan perlahan dan catat perubahan
warna yang terjadi, ekstraksi dengan kloroform, dan catat jika warna dapat terekstraksi.
INDIKASI. Perubahan warna dari abu-abu ke hijau melalui warna biru ke biru ungu
menunjukkan adanya senyawa kanabis.
Feri Klorida
METODE. Tambahkan larutan FeCl3 kedalam larutan etanolat sampel.
INDIKASI. Warna merah, jingga, hijau, biru dan ungu menunjukkan adanya senyawa
fenolat, asam lemak, atau fenilpirazolin

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 2

Fero Sulfat
REAGENSIA. Ke dalam 1 volume larutan FeSO4.7H2O 10% tambahkan 5 bagian volume
H2SO4 dengan pendinginan.
METODE. Tambahkan sampel ke dalam 0,5 ml ragensia.
INDIKASI. Warna merah atau rosa menunjukkan adanya nitrat atau nitrit.
Folin-Ciocalteu
REAGENSIA. Larutan stok. Larutkan 100 g natrium tungstat dan 25 g natrium molibdat
dalam 800 ml air menggunakan labu 1000 ml, tambahkan 50 ml H 3PO4 dan 100 ml HCl
dan reflux selama 10 jam. Dinginkan dan tambahkan 150 ml Li 2SO4, 50 ml air, dan 4
hingga 6 tetes larutan brom dan biarkan selama 2 jam. Didihkan selama 15 menit untuk
menghilangkan kelebihan brom, dinginkan, saring, dan encerkan hingga 1000 ml
dengan air. Larutan stok ini harus disimpan pada suhu tidak lebih dari 4 oC dan
digunakan paling lama 4 bulan setelah preparasi; mempunyai warna kuning dan tidak
boleh digunakan jika sudah tercemar warna hijau. Untuk penggunaan, encerkan 1
bagian volume larutan ini dengan 2 bagian volume air.
METODE. Tambahkan reagen yang sudah diencerkan ke dalam sampel dan basakan
dengan NaOH 2M.
INDIKASI. Warna biru menunjukkan adanya senyawa fenolat. Reaksi ini makin terinhibisi
dengan meningkatnya halogenasi pada inti fenol.
Formaldehida-Asam Sulfat
REAGENSIA. Ke dalam 4 bagian volume H2SO4 tambahkan 6 bagian volume larutan
formaldehid, menggunakan pipet dengan ujungnya di bawah permukaan asam sulfat,
degan pengadukan dan pendinginan. Ketika reagensia dipanaskan, larutannya akan
tetap jernih selama 1 jam. Jika terbentuk kekeruhan, dapat dihilangkan dengan
pemanasan 100oC selama 1 menit.
METODE. Campurkan sampel dengan reagensia dan panaskan pada 100oC selama 1
menit
INDIKASI. Benzodiazepin pada umumnya memberikan warna jingga. Indikasi lainnya
untuk fenotiazin, tetrasiklin, tioksanten.
Forrest
REAGENSIA. Campurkan sejumlah volume yang sama larutan K 2CrO4 0,2%, H2SO4 30%,
HClO4 20% dan HNO3 50%
METODE. Larutkan sampel dalam sedikit HCl 2M dan tambahkan volume yang sama
reagensia.
INDIKASI. Warna merah, rosa, jingga, biru,a tau ungu menunjukkan adanya
benzodiazepin. Warna biru diperoleh dari benzodiazepin tertentu. Warna biru terinhibisi
dengan adanya fenotiazin, dan reagensia berlebih harus ditambahkan untuk mengatasi
masalah ini.
FPN
REAGENSIA. Campurkan 5 ml larutan FeCl3, 45ml HClO4 20%, dan 50 ml larutan asam
nitrat 50%.
METODE. Larutkan sampel dalam sedikit HCl 2M dan tambahkan volume yang sama
reagensia.
INDIKASI. Indikasi untuk reagensia ini sama dengan indikasi untuk reagensia Forrest.
Fujiwara
REAGENSIA. Larutan NaOH yang dibuat segar.
METODE. Campurkan 2 ml reagensia dan 1 ml piridin, tambahkan sampel, panaskan
dalam penangas air 100oC selama 2 menit dengan pengocokan.
INDIKASI. Warna merah pada lapisan piridin menunjukkan adanya senyawa yang
memiliki paling tidak dua atom halogen yang terikat pada satu atom karbon.

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 3

Furfuraldehida
REAGENSIA. Larutan furfuraldehid 10% dalam etanol
METODE. Larutkan sampel dalam etanol, teteskan larutan ini diatas kertas saring,
tambahkan 1 tetes pereaksi, dan eksposur kertas di atas asam HCl selama 2 hingga 3
menit.
INDIKASI. Noktah hitam menunjukkan adanya karbamat non aromatik. Karbamat
tersubstitusi pada N tidak memberikan reaksi.
Kalium Hidroksida-Metanolat
REAGENSIA. Larutan 20% kalium hidroksida dalam metanol
METODE. Tambahkan beberapa tetes pereaksi ke dalam larutan sampel dalam metanol
dan panaskan hingga tebentuk warna, jika perlu hingga mendidih
INDIKASI. Perubahan dari tidak berwarna atau pucat menjadi merah, jingga, kuning,
hijau atau biru diberikan oleh senyawa kuinon, dion yang memiliki satu cincin aromatik,
fenol dengan gugus hidroksil pada atom C yang berdampingan, dan senyawa yang
mengandung gugus nitro pada cincinnya. Kebanyakan senyawa sudah merupakan
larutan berwarna atau pucat di dalam metanol.
Kalium Dikromat
METODE 1. Larutkan sampel dalam 0,5 ml HCl 2M dan tambahkan beberapa kristal
kalium dikromat, kocok.
INDIKASI. Warna coklat segera, atau warna hijau yang berubah menjadi coklat
menunjukkan adanya aminofenol yang memiliki dua atau lebih gugus hidroksil pada
posisi bersebelahan pada cincin. Monofenol, fenol terhalogenasi, dan fenol dengan
gugus hidroksil pada posisi meta bereaksi lambat atau tidak sama sekali.
METODE 2. Jika sampel berupa larutan, tambahkan 1 atau 2 tetes ke dalam 1 ml air
yang diikuti dengan 1 ml larutan kalium dikromat jenuh dalam 50% asam sulfat v/v.
INDIKASI. Warna hijau diberikan oleh asetaldehid, isopropanol, alkohol, metanol, dan
propanol.
REAKSI
K2Cr2O7 + 4H2SO4 + 3CH3CH2OH = Cr2(SO4)3 + K2SO4 + 7H2O + 3CH3CHO
(Vogel, p 395)
Karbon disulfida
METODE. Campurkan sampel dengan 1 ml air dan 0,1 ml larutan boraks 1%, tambahkan
0,2 ml larutan CS2 10% dalam etanol, panaskan di atas penangas air 100 oC selama 3
menit. Dinginkan larutan dan tambahkan 3 tetes AgNO 3 0,1M.
INDIKASI. Warna coklat menunjukkan adanya ditiokarbamat, membuktikan bahwa
sampel merupakan senyawa amina primer atau sekunder alifatik atau heterosiklik.
Koppayi-Zwikker
REAGENSIA. Larutan kobal nitrat 1% dalam etanol
METODE. Larutkan sampel dalam 1 ml etanol, tambahkan 1 tetes reagen dan 10 l
pirolidin. Kocok campuran.
INDIKASI. Warna ungu diberikan oleh senyawa yang mengandung struktur berikut. Imida,
yang gugus karbonil dan amina pada karbon yang berdampingan. Senyawa dengan
gugus SO2NH.
Kupri Sulfat
METODE. Larutkan sampel dalam sejumlah minimum NaOH 0,1M dan tambahkan larutan
CuSO4 1% tetes demi tetes hingga perubahan warna sempurna.
INDIKASI. Warna hijau, biru atau coklat menunjukkan adanya sulfonamida.
Liebermann
REAGENSIA. Tambahkan 5 g NaNO2 ke dalam 50 ml H2SO4 dengan pendinginan dan
pengadukan untuk menyerap asap.
METODE. Tambahkan 2 atau 3 tetes reagen ke sampel di atas pelat tetes. Kadangkadang perlu memanaskan reaksi di atas penangas air 100 oC.
Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 4

Berbagai senyawa memberikan warna dengan asam sulfat, sehingga perlu dilakukan
pengujian dengan menggunakan asam sulfat selain dengan reagen untuk memastikan
bahwa reaksi terjadi.
INDIKASI. Warna jingga diberikan oleh senyawa yang mengandung cincin benzen
tersubstitusi tunggal yang tidak bergabung dengan gugus karbonit, amida, atau C=N-O.
Warna jingga atau coklat diberikan oleh beberapa senyawa yang mengandung dua
cincin benzen tersubstitusi mono yang tergabung dengan satu atom karbon atau atom
karbon yang berdampingan. Beragam warna diberikan oleh senyawa yang
mengandung gugus hidroksil, O-alkil, atau O-CH2-O yang terikat pada cincin benzen
atau terikat pada struktur yang mengandung cincin benzen. Cincin benzen harus tidak
mengikat NO2, halogen, atau substituen O- pada posisi orto terhadap substituen oksi.
Senyawa yang mengandung sulfur memberikan reaksi serupa.
Mandelin
REAGENSIA. Larutkan 0,5 g amonium vanadata dalam 1,5 ml air dan encerkan hingga
100 ml dengan asam sulfat. Saring menggunakan gelas wul.
METODE. Tambahkan 1 tetes reagensia ke dalam sampel dalam pelat tetes
INDIKASI. Ketika menginterpretasikan hasil uji ini, reaksi dengan asam sulfat harus
diperhitungkan. Hidroklorida memberikan warna merah dengan uji ini. Jika warna
berbeda dengan hasil reaksi dengan asam sulfat, Uji Liberman menunjukkan adanya
cincin aromatik yang tergabung dengan cincin jenuh dengan 5,6,7 atom karbon yang
mengandung hanya satu atom nitrogen. Cincin heterosiklik tidak boleh mengandung
atom nitrogen kedua, atom oksigen, tersubstitusi, atau terikat dengan gugus cincin
aromatik dengan CO-NH. Cincin aromatik tidak boleh mengandung gugus CF 3. Warna
juga dihasilkan jika sulfur terikat pada cincin.
Marquis
REAGENSIA. Campurkan 1 bagian larutan formaldehid dalam 9 bagian asam sulfat
METODE. Tambahkan 1 tetes reagensia ke dalam sampel dalam pelat tetes
INDIKASI. Berbagai senyawa dengan struktur kimia berbeda memberikan reaksi
terhadap reagensia ini. Sturktur yang cenderung mempertahankan respons terhadap
reagensia pada ujung spektrum ungu, dengan urutan yang menurun adalah cincin
sulfur (dengan atau tanpa cincin aromatik), cincin oksigen (dengan cincin aromatik),
cincin oksigen atau sulfur luar (dengan cincin aromatik); senyawa aromatik yang
seluruhnya terdiri dari C, H dan N. Sehingga terdapat kecenderungan respons terhadap
reagen Marquis bergerak secara bertahap ke arah panjang gelombang yang lebih jauh
yaitu melalui warna hijau, jingga dan merah, karena rasio C, H dan N terhadap gugus
lain dalam molekul meningkat.
McNally
REAGENSIA. (i) Larutan kufri sulfat 0,5% dalam asam asetat 10% (ii) Larutan segar natrium
nitri 2%
METODE. Kedalam sampel dalam 1 ml air, tambahkan 0,2 ml etanol atau aseton, 3 tetes
larutan kufri sulfat volume yang sama larutan natrium nitrit, kocok dan panaskan dalam
tangas air 100oC selama 3 menit.
INDIKASI. Warna merah menunjukkan adanya asam salisilat bebas. Aminosalisilat
memberikan warna coklat.
Millon
REAGENSIA. Larutkan 3 ml Merkuri dalam 27 ml asam nitrat berasap dan tambahkan
sejumlah volume yang sama air dengan pengadukan
METODE. Tambahkan 0,5 ml kedalam sampel dan hangatkan campuran
INDIKASI. Warna merah atau jingga-merah menunjukkan adanya senyawa fenolat. Aril
amin primer juga bereaksi. Beberapa senyawa basa yang mengandung gugus fenol
tidak bereaksi terhadap reagen ini.
Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 5

Naftol-Asam sulfat
REAGENSIA. Campurkan 1 g 2-naftol dengan 40 ml asam sulfat dan panaskan di atas
tangas air 100oC dengan pengadukan hingga larut
METODE. Campurkan sampel dengan 1 ml reagensia, panaskan dalam tangan air 100 oC
selama 2 menit, dan catat perubahan warna yang terjadi. Dinginkan, tambahkan 1 ml
air, dan catat kembali perubhan warna.
INDIKASI. Warna-warni diberikan oleh struktur steroid. Respons poisitif uji ini dibandingkan
dengan uji dengan asam sulfat.
Natrium Nitroprusida
REAGENSIA. Larutan 1% natrium nitroprusida
METODE 1. Tambahkan sampel ke dalam 2 ml pereaksi ditambah dengan 1 tetes
natrium hidroksida 2M
INDIKASI. MERAH atau JINGGA untuk asetaldehid dan keton yang mengandung paling
sedikit satu gugus alkil
METODE 2.Campurkan sampel dengan sedikit natrium hidroksida, uapkan hingga kering,
larutkan residu dalam 2 tetes air, dan tambahkan 0,5 ml reagensia
INDIKASI. Warna ungu untuk senyawa yang mengandung sulfur dalam molekul
METODE 3Lakukan seperti pada metode 2, tetapi setelah kering, residu dipanaskan
hingga berwarna kuning sebelum proses selanjutnya
INDIKASI. UNGU untuk senyawa yang mengandung sulfur yang tidak stabil
Natrium Pikrat.
REAGENSIA. Ke dalam larutan jenuh pikrat tambahkan secukupnya natrium karbonat
sehingga larutan menjadi basa.
METODE. Campurkan sampel dengan sedikit mangan dioksida dan panaskan hingga
kemerahan sambil ditutup dengan kertas saring yang sudah dijenuhkan dengan reagen.
INDIKASI. Warna kuning kertas saring yang berubah dari jingga ke jingga coklat atau
merah jingga atau merah menunjukkan adanya sianida.
Nessler
REAGENSIA. Kedalam larutan merkuri klorida jenuh tambahkan kalium iodida padat
hingga endapan yang terbentuk larut kembali; kemudian tambahkan sejumlah volume
yang sama larutan natrium hidroksida 40% yang baru dibuat.
METODE. Tambahkan pereaksi ke dalam sampel dan panaskan campuran pada 100 oC
dalam penangas air dan periksa setiap 10 menit. Larutan blanko harus diperlakukan
sama pada saat yang bersamaan.
INDIKASI. Warna coklat jingga dihasilkan dari amida alifatik dan tioamida. Adanya cincin
aromatik memperlambat reaksi ini, dan semakin dekat amida dengan cincin aromatik,
semakin lambat reaksinya. Warna hitam segera diberikan oleh senyawa yang
mengandung gugus hidroksil pada posisi orto dan para dan senyawa yang
mengandung gugus -NH-NH2 dan NH-NH- pada rantai samping alifatik. Beberapa
senyawa harus dipanaskan pada 100oC untuk menghasilkan warna hitam.
Ninhidrin
REAGENSIA. Larutkan 0,5 g ninhidrin dalam 40 ml air
METODE. Larutkan sampel dalam metanol, tempatkan 1 tetes sampel di kertas saring,
tambahkan 1 tetes pereaksi dan keringkan dengan aliran udara panas.
INDIKASI. Warna ungu yang muncul segera menunjukkan adanya gugus amina primer
alifatik atau asam amino. Jika gugus amina berikatan dengan cincin jenuh, reaksi positif
tetapi lambat dapat juga terjadi.

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 6

Perak Nitrat Amoniakal


REAGENSIA. Ke dalam 20 ml AgNO3 0,1 M tambahkan larutan amonia kuat secukupnya
hingga endapan yang terbentuk larut kembali.
METODE. Larutkan sampel dalam sejumlah kecil air, dengan penambahan etanol jika
perlu, tambahkan reagensia dalam jumlah sama, catat perubahan warna yang terjadi.
INDIKASI. Warna merah, kuning, coklat atau hitam menunjukkan adanya daya reduksi.
Reaksi ini terjadi jika atom karbon yang berdampingan dalam cincin mengikat gugus
hidroksil. Tidak terjadi reaksi bila gugus hidroksil dalam posisi meta-, tetapi daya reduksi
muncul lagi jika posisi paraSimon
REAGENSIA. Larutkan 1 g natrium nitroprusida dalam 50 ml air dan tambahkan 2 ml
asetaldehid kedalam larutan dengan pengadukan yang sempurna
METODE. Tambahkan sampel kedalam 1 ml reagensia
INDIKASI. Warna biru menunjukkan adanya amina alifatik sekunder dan amina
heterosiklik taktersubstitusi sebagai basa bebasnya.
Thalleioquin Test
METODE. Larutkan sampel dalam sedikit HCl 2M, tambahkan 2 tetes larutan brom,
tempatkan campuran di atas kertas saring, dan paparkan kertas terhadap uap amonia.
INDIKASI. Warna hijau menunjukkan adanya struktur jenis kuinin.
Vanilin
REAGENSIA. Larutkan 1 g vanilin dalam 20 ml asam sulfat, panaskan jika perlu.
METODE. Tambahkan 2 tetes pereaksi kedalam sampel, panaskan dalam penangas air
100oC selama 30 detik, dan catat perubahan warna yang terjadi. Encerkan hasil reaksi
yang sudah dingin dengan menambahkan beberapa tetes air dana amati perubahan
warna yang terjadi.
INDIKASI. Berbagai senyawa dengan struktur kimia berbeda memberikan reaksi
terhadap reagensia ini

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 7

MODUL
REAKSI-REAKSI PENDAHULUAN
GOLONGAN ALKOHOL
PRINSIP DAN REAKSI
Golongan alkohol adalah senyawa yang memiliki paling tidak satu gugus hidroksil yang
terikat pada rantai alifatik.
Prinsip reaksi identifikasi untuk golongan alkohol

Terbentuk ester jika ditambahkan asam karboksilat yang dapat diamati dari
aromanya.

R1

OH

+ R

COOH

H2SO4

COOR1

BAHAN DAN ALAT


Pelat tetes, tabung reaksi, penjepit kayu, pembakar bunsen
Sampel etanol, gliserin, mentol,
Etanol (CH3CH2OH) BM 46,07 Titik didih 78oC
Cairan tidak berwarna, jernih, higroskopik, mudah terbakar, mudah menguap.
PROSEDUR
1. Menggunakan tabung reaksi, masukkan 1 ml etanol. Tambahkan asam salisilat
atau asam benzoat, kemudian perlahan-lahan melalui dinding tabung,
tambahkan H2SO4. Tutup mulut tabung dengan sumbat kapas. Panaskan di atas
penangas air. Amati aroma pada penutup kapas.
2. Menggunakan tabung reaski, Lakukan reaksi iodoform. Amati aroma hasil reaksi
3. Menggunakan tabung reaksi, tambahkan larutan jenuh K 2Cr2O7 jenuh dalam
H2SO4 50%. Amati perubahan yang terjadi.

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 8

PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

Esterfikasi

Iodoform

K2Cr2O7

PENGAMATAN

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Gliserin (C3H8O3) BM 92,05 Jarak lebur 0-20oC


Cairan yang tidak berwarna, kental, dan berasa manis.
CH2OH
HOHC
CH2OH

Struktur kimia gliserol

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 9

PROSEDUR
1. Campurkan larutan gliserin dengan 1 tetes CuSO 4 dan basakan dengan NaOH.
Amati perubahan warna yang terjadi.
2. Kisatkan sampel di atas penangas air. Amati perubahan yang terjadi.
PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

PENGAMATAN

CuSO4 +
NaOH
Dikisatkan

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 10

Mentol (C10H20O) BM 156,27 Jarak lebur 43-44oC


Serbuk kristal putih, aroma pepermin, rasa dingin.

OH

PROSEDUR
1. Letakkan mentol di atas pelat tetes. Amati aromanya.
2. Menggunakan

pelat

tetes,

tambahkan

H 2SO4

dan

salisilaldehid.

Amati

perubahan warna yang terjadi.


PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

PENGAMATAN

H2SO4 +
salisilaldehid

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 11

MODUL
REAKSI-REAKSI PENDAHULUAN
GOLONGAN FENOL
PRINSIP DAN REAKSI
Golongan fenol adalah senyawa yang memiliki paling tidak satu gugus hidroksil yang
terikat pada cincin aromatik.
Prinsip reaksi identifikasi untuk golongan fenol

Ditambah larutan FeCl3 terbentuk kompleks berwarna.

Pengkopelan dengan reagensia diazotasi

Ditambah Marquis terbentuk kompleks berwarna


R

H
R

H
H2SO4

OH

OH

OH

OH

BAHAN DAN ALAT


Pelat tetes, tabung reaksi, penjepit kayu, pembakar bunsen, kaca objektif
Sampel Fenol, Nipagin, Hidrokinon, Resorsinol
Fenol (C6H5OH) BM 94,11 Rentang titik leleh 40-41oC
Kristal tidak berwarna atau agak rosa pada penyimpanan.
OH

PROSEDUR
1. Tambahkan larutan FeCl3 ke dalam larutan sampel di atas pelat tetes. Amati
perubahan warna yang terjadi.
2. Buat larutan zat dalam air. Teteskan di atas pelat tetes. Tambahkan pereaksi pDAB, amati perubahan yang terjadi.
3. Lakukan uji Lieberman. Amati perubahan warna yang terjadi.
4. Lakukan uji Kalium Dikromat metode 1. Amati perubahan warna yang terjadi

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 12

PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

FeCl3

p-DAB

Lieberman

K2Cr2O7

PENGAMATAN

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 13

Nipagin (C8H8O3) BM 152,2 Jarak lebur 125-128oC


Bubuk kristal putih, rasa agak pahit

O
C

C2H5

OH

PROSEDUR
1. Dalam tabung reaksi, buat larutan zat dengan pemanasan, lalu dinginkan.
Tambahkan larutan FeCl3, amati perubahan warna yang terjadi.
2. Dalam tabung reaksi, panaskan jumlah yang sama banyak larutan zat dalam
alkohol dan pereaksi Millon, biarkan 10 menit. Amati perubahan yang terjadi.
3. Di atas pelat tetes di lemari asam, tambahkan HNO 3 pekat ke dalam sampel.
Amati perubahan warna yang tejadi
PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

FeCl3

Millon

HNO3

PENGAMATAN

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 14

...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Hidrokinon (C6H6O2) BM 110,1 Jarak lebur 172-174oC


Serbuk halus kristal putih, menjadi gelap jika terkena cahaya.
OH

OH

PROSEDUR
1. Dalam tabung reaksi, larutkan zat dengan air. Tambahkan larutan Perak Nitrat
Amoniakal. Amati perubahan warna yang terjadi.
2. Menggunakan pelat tetes, tambahkan larutan FeCl 3 ke dalam sampel. Amati
perubahan yang terjadi.
3. Menggunakan pelat tetes, tambahkan larutan timbal asetat dan NH 4OH ke
dalam sampel. Amati perubahan yang terjadi.
4. Menggunakan pelat tetes, tambahkan larutan NaOH ke dalam sampel, amati
perubahan yang terjadi.

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 15

PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

Ag(NH3)NO3

FeCl3

PENGAMATAN

Pb(CH3COO)2

+ NH4OH

NaOH

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Resorsinol (C6H6O2) BM 110,1 Jarak lebur 109-112oC


Serbuk kristal putih, menjadi merah jika terkena cahaya.
OH

OH

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 16

PROSEDUR
1. Buat larutan zat dalam air. Teteskan di atas pelat tetes. Tambahkan pereaksi pDAB, amati perubahan yang terjadi.
2. Tambahkan larutan FeCl3 ke dalam larutan sampel di atas pelat tetes. Amati
perubahan warna yang terjadi.
3. Lakukan uji Lieberman. Amati perubahan warna yang terjadi.
4. Dalam tabung reaksi, larutkan zat dengan air. Tambahkan larutan Perak Nitrat
Amoniakal. Amati perubahan warna yang terjadi.
PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

p-DAB

FeCl3

Lieberman

Ag(NH3)NO3

PENGAMATAN

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 17

MODUL
REAKSI-REAKSI PENDAHULUAN
GOLONGAN ASAM KARBOKSILAT
PRINSIP DAN REAKSI
Golongan asam karboksilat adalah senyawa yang memiliki gugus karboksilat pada
rantai alifatikm atau aromatik.
Prinsip reaksi identifikasi untuk golongan asam

Asam dapat memerahkan lakmus biru.

Senyawa asam dapat tersublimasi jika dipanaskan

Asam dapat teresterfikasi dengan alkohol

BAHAN DAN ALAT


Pelat tetes, tabung reaksi, penjepit kayu, pembakar bunsen
Sampel asam tartrat, asam sitrat, asam benzoat
Asam Tartrat (C4H6O6) BM 150 Titik lebur 168-170oC
Serbuk kristalin tidak berwarna dan tidak berbau berasa asam.

HO
COOH
HO
COOH

Struktur Kimia Asam Tartrat


PROSEDUR
4. Jika larutan senyawa tartrat dalam air direaksikan dengan larutan besi (II) sulfat
dan larutan hidrogen peroksida, akan terjadi pewarnaan kuning sepintas. Jika
kemudiaan ditambahkan larutan natrium hidroksida secara bertetes, amati
perubahan warnanya. (Ph Eur.I).
5. Jika suatu larutan senyawa tartrat dengan kondisi tertentu dipanaskan dengan
larutan kalium bromida, resorsin dan asam sulfat, akan terjadi pewarnaan biru
tua yang setelah pendinginan dan larutannya dituangkan (dialirkan) ke dalam
air akan berubah warna. Amati (Ph.Eur.I).
Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 18

6. dengan mereaksikan larutan senyawa tartrat dengan larutan tembaga (II) sulfat
dan kemudiaan dibasakan dengan larutan natrium hidroksida, akan terjadi
larutan berwarna. Amati warna larutan.
PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

PENGAMATAN

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 19

Sitrat (C6H8O7) BM 192,02 Titik lebur 154oC

PROSEDUR
1. Jika larutan netral senyawa sitrat dalam keadaan dingin direaksikan dengan
kalsium klorida, tidak akan terjadi endapan. Dengan penidihan, amati
perubahanapan putih yang larut dalam asam asetat (Ph.Eur.I).
2. Larutan sitrat direaksikan dengan larutan raksa(II) sulfat berlebih, dipanaskan
sampai mendidih, jika terjadi endapan disaring. Kepada larutan yang sudah
dipanaskan

sampai

mendidih

ini

ditambahkan

tetes

larutan

kalium

permanganat dengan konsentrasi tertentu. Amati perubahan warna yang


terjadi (Ph.Eur.I)
PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

PENGAMATAN

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 20

Asam Benzoat (C7H6O2) BM 122,1 Jarak lebur 121-124oC


Serbuk kristal putih atau tidak berwarna, tidak berbau atau sedikit berbau.
COOH

Struktur Kimia Asam Benzoat


PROSEDUR
1. Jika suatu senyawa benzoat dipanaskan dengan asam sulfat dalam tabung
reaksi, akan terjadi hasil sublimasi putih, yang akan mengendap pada dinding
tabung . Amati hasil sublimasinya (Ph.Eur.I)
2. Jika larutan senyawa benzoat direaksikan dengan asam korida encer, akan
terjadi endapan kristal putih, yang setelah dikristalisasidari air panas dan
dikeringkan, akan meleleh pada suhu antara 120-124C. Amati bentuk kristalnya
(Ph.Eur.I).
3. Jika larutan netral senyawa benzoat direaksikan dengan larutan besi(III) klorida,
akan terjadi pewarnaan. Amati perubahan warna (Ph.Eur.I).

PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

PENGAMATAN

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 21

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Laktat (C3H6O3) BM 90,1

1. Jika larutan laktat direaksikan dengan asam sulfat encer dan larutan kalium
permanganat dan dipanaskan, akan terjadi asetaldehida. Amati dari baunya
(Ph.Eur.I).
2. Jika suatu laktat direksikan dengan larutan iod dan natrium hidroksida encer
sedikit berlebih, akan terjadi endapn kuning iodoform, yang setelah dikocok
dengan eter dan penguapan pelarutnya, akan dapat dikarakterisasi dari
bentuk kristalnya, baunya, dan dari titik leleh antara 188-124C (Ph.Eur.I).
3. Jika suatu senyawa laktat dikocok dengan beberapa tetes air, asam sulfat dan
larutan guaikol. Amati perubahan warna(Ph.Eur.I).
PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

PENGAMATAN

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 22

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 23

MODUL
REAKSI-REAKSI PENDAHULUAN
GOLONGAN ALKALOID DAN BASA NITROGEN
PRINSIP DAN REAKSI
Golongan alkaloid adalah senyawa yang mengandung amina

dalam struktur

molekulnya sehingga bersifat basa.


Prinsip reaksi identifikasi untuk golongan alkaloid

Dapat bereaksi dengan reagensia Dragendorf; dapat diamati dari terbentuknya


endapan.

BAHAN DAN ALAT


Pelat tetes, tabung reaksi, penjepit kayu, pembakar bunsen
Sampel kinin, papaverin, efedrin, heksamin
Kinin HCl (C20H24N2O2.2HCl BM 397,3 Titik leleh 173oC
Serbuk mikrokristalin putih, sedikit berfluoresensi.
H
CH2CH3
H
HO
N
H
H3CO

PROSEDUR
7. Di atas pelat tetes. Larutkan zat dalam air atau alkohol, tambahkan asam sulfat
H2SO4. Amati fluoresensi di bwah sinar ultraviolet
8. Lakukan reaksi thaleioquin. Amati perubahan warna yang terjadi
9. Dalam tabung reaksi. Sejumlah 10 mg zat ditambah sedikit HCl, kemudian
dilarutkan dalam air. Tambahkan 1 ml larutan Br 2 0,8%, kocok, tambahkan larutan
kalium ferisianida 5% dan 1 ml NaOH. Tuangi 2 ml kloroform dengan hati-hati.
Amati lapisan kloroform.
10. Buat kristal dalam Hg2Cl2.

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 24

PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

H2SO4

Thaleioquin

Kloroform

Kristal

PENGAMATAN

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 25

Papaverin HCl (C20H21NO4.HCl) BM 375,9 Jarak lebur 220oC


Serbuk kristalin putih
OCH3
H3CO
OCH3
H3CO
N

Struktur kimia papaverin


PROSEDUR
3. Tambahkan reagensia Liebermann. Amati perubahan warna yang terjadi.
4. Tambahkan reagensia Mandelin. Amati perubahan warna yang terjadi.
5. Sejumlah 10 mg zat ditambah 1 ml anhidrid asam asetat dan tiga tetes asam
sulfat pekat, kemudian dipanaskan. Amati fluoresensi di bwah sinar ultraviolet
6. Buat kristal dengan HgCl2
PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

Liebermann

Mandelin

Fluoresensi

Kristal

PENGAMATAN

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 26

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Efedrin (C10H15NO) BM 174,2 Jarak lebur 40-43oC


Serbuk kristal tidak berwarna atau putih terurai jika terkena cahaya.
CH3
OH HN
CH3
H

PROSEDUR
3. Lakukan uji Lieberman. Amati perubahan warna yang terjadi
4. Menggunakan pelat tetes, tambahkan larutan CuSO 4

dan NaOH encer ke

dalam serbuk sampel. Amati perubahan warna yang terjadi.


5. Lakukan reaksi kristal dengan HgCl2.
PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

Lieberman

PENGAMATAN

CuSO4 +
NH4OH
Kristal

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 27

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Heksamin (C6H12N4) BM 140,2 Sublimasi 260oC tanpa meleleh


Serbuk kristalin putih
N
N

N
N

PROSEDUR
1. Di dalam tabung reaksi, campurkan 100 mg sampel dengan asam salisilat dalam
jumlah sama, panaskan dengan 1 ml H2SO4. Amati perubahan warna yang
terjadi.
2. Menggunakan tabung reaksi, sampel ditambah dengan H 2SO4 encer dan satu
tetes formaldehid. Ujung tabung ditutup kapas dan kertas lakmus merah yang
sudah dibasahi. Amati perubahan warna lakmus.
3. Menggunakan 2 kaca objek dan ring sublimasi, buat kristal dengan cara
sublimasi.

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 28

PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

PENGAMATAN

Asam
Salisilat

Lakmus

Kristal

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 29

MODUL
REAKSI-REAKSI PENDAHULUAN
GOLONGAN SULFONAMIDA DAN BARBITURAT
PRINSIP DAN REAKSI
Golongan sulfonamida adalah senyawa yang memiliki gugus fungsi seperti pada struktur
berikut

H2N

SO2NH

Asam barbiturat adalah senyawa yang mengandung gugus fungsi urea sebagai berikut.
O
NH

O
R1

NH
O

Prinsip reaksi identifikasi untuk golongan sulfonamida

Pengkopelan dengan reagensia pDAB menghasilkan endapan dengan spektrum


warna kuning hingga merah.

Prinsip reaksi identifikasi untuk golongan barbiturat

Pembentukan kompleks berwarna dengan reagensia Parri. Caranya: zat, harus


bebas air, di atas kertas saring, tambahkan pereaksi Parri (larutan kobal nitrat
dalam alkohol), paparkan kertas saring di atas uap amonia)

BAHAN DAN ALAT


Pelat tetes, tabung reaksi, penjepit kayu, pembakar bunsen, kertas saring.
Sampel sulfanilamid, sulfamerazin, luminal, barbital.
Sulfanilamid (C6H8N2O2S) BM 172,2 Titik leleh 165oC
Serbuk kristalin putih

H2N

SO2NH2

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 30

PROSEDUR
11. Sampel dilarutkan dalam HCl encer, tambahkan pereaksi p-DAB, amati
perubahan warna.
12. CuSO4
13. Vanilin + asam sulfat
14. Koppayi-Zwikker
15. Kristal aseton air
PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

p-DAB

CuSO4

PENGAMATAN

Vanilin
Asam Sulfat
Koppayi
Zwikker
Kristal

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 31

Sulfamerazin (C11H12N4O3S) BM 264,3 Jarak lebur 234-239oC


Serbuk kristalin putih atau putih kekuningan.
CH3
N
H2N

SHO2NH2
N

Struktur kimia sulfamerazin


PROSEDUR
7. pDAB
8. CuSO4
9. Vanilin ditambah asam sulfat
10. Koppayi-Zwikker
PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

p-DAB

CuSO4

PENGAMATAN

Vanilin
3

Asam
Sulfat

Koppayi
Zwikker

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 32

...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Luminal (C12H12N2O3) BM 232,2 Jarak lebur 174-178oC


Serbuk kristal tidak berwarna atau putih yang berbentuk polimorfism.

H
N

NH
C2H5
O

Struktur Kimia Luminal


PROSEDUR
6. Asam sulfat + -naftol
7. Koppayi-Zwikker
8. Liebermann
9. Merkuronitrat
10. Reaksi kristal aseton-air
Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 33

PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

PENGAMATAN

Asam sulfat-naftol
KoppayiZwikker

Liebermann

HgNO3

Kristal

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 34

Barbital (C8H12N2O3) BM 184,2 Jarak lebur 188-192oC


Serbuk kristal tidak berwarna atau putih.
O
NH

C2H5

O
C2H5

NH
O

PROSEDUR
4. Asam sulfat + -naftol
5. Koppayi-Zwikker
6. Merkuronitrat
7. Reaksi kristal aseton-air
PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

PENGAMATAN

Asam
1

sulfat-naftol

KoppayiZwikker

HgNO3

Kristal

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 35

...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 36

MODUL
REAKSI-REAKSI PENDAHULUAN
GOLONGAN ANTIBIOTIKA
PRINSIP DAN REAKSI
Golongan ini termasuk golongan antibiotik dengan berbagai gugus fungsi yang
berbeda; terdiri dari golongan obat yang mengandung cincin beta laktam, turunan
aminoglikosida, turunan tetrasiklin dll, yang secara kimia berbeda.
Prinsip reaksi identifikasi

Reaksi dengan asam pekat atau basa pekat.

BAHAN DAN ALAT


Pelat tetes, tabung reaksi, penjepit kayu, pembakar bunsen
Sampel ampisilin, streptomisin, kloramfenikol, tetrasiklin.
Ampisilin (C16H19N3O6S) BM 365,4
Serbuk kristalin putih
H

NH2

NH

CH3

CH3
N
O

COOH
H

PROSEDUR
16. Panaskan di atas nyala api bunsen. Amati aroma yang terbentuk
17. Di atas pelat tetes, tambahkan asam sulfat pekat, amati fluoresensi di bawah
sinar ultraviolet.
18. Menggunakan kaca objek, buat reaksi kristal aseton-air.

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 37

PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

Aroma/Bau

H2SO4

Kristal

PENGAMATAN

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 38

Streptomisin sulfat (C21H30N7O12)2.3H2SO4 BM 581,6


Serbuk putih higroskopis.

HN
NH2
HN
OH
HO
H2N

OH
O

N
H
HN HOH C
2

CH3

O
OH

O
O

HO

HN

HO

CH3

Struktur kimia streptomisin


PROSEDUR
11. Lakukan Uji Benedict. Amati perubahan warna yang terjadi
12. Di lemari asam, tambahkan asam sulfat pekat ke dalam sampel di atas pelat
tetes. Amati perubahan warna yang terjadi.
13. Buat reaksi kristal aseton-air.

PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

Benedict

H2SO4

Kristal

PENGAMATAN

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 39

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Kloramfenikol (C11H12Cl2N2O5) BM 1323,1 Jarak lebur 149-151oC


Serbuk kristal halus, putih hingga putih abu-abu atau kekuningan.
OH

OH

O2N
H

HN

CHCl2

Struktur Kimia kloramfenikol


PROSEDUR
11. Uji Fujiwara
12. Reagensia Nessler.
13. Buat kristal aseton air atau sublimasi.
PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

Uji Fujiwara

Nessler

Kristal

PENGAMATAN

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 40

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
Tetrasiklin (C22H24N2O3.HCl) BM 444,4 Titik lebur 214oC
Serbuk kristal kuning, menjadi gelap jika terkena cahaya.
OH

OH

OH
NH2

OH
HO

CH3

N
H3C

CH3

PROSEDUR
8. Benedict
9. Formalin-Asam sulfat
10. Liberman
11. Mandelin
12. Marquis
13. Asam sulfat

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 41

PENGAMATAN
NO

REAGENSIA

Benedict

PENGAMATAN

Formalin
2

Asam
Sulfat

Liberman

Mandelin

Marquis

Asam
sulfat

REAKSI
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
...............................................................................................................................................

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 42

IDENTIFIKASI SENYAWA OBAT DENGAN SPEKTROSKOPI ULTRAVIOLET


(SPEKTROSKOPI DERIVATIF)

PRINSIP
Pada spektroskopi derivatif, kurva serapan sampel (A) dibuat turunannya
terhadap panjang gelombang () agar diperoleh turunan orde pertama, kedua, dan
seterusnya.

A f
dA
f '
d

d2A
f "
d 2
TEORI
Spektrum derivatif seringkali menghasilkan profil yang khas, yang mana
perubahan kemiringan dan lengkungan yang sulit dibedakan pada spektrum normal
(orde nol) dapat diamati sebagai pola dwikutub yang begitu berbeda.
Turunan pertama spektrum absopsi, menunjukkan kemiringan pada setiap titik
spektrum dan dapat digunakan untuk menempatkan puncak tersembunyi, karena
dA/d=0 pada titik maksimum. Tetapi, orde kedua dan seterusnya lebih berguna dalam
analisis.
Turunan orde genap merupakan fungsi dwikutub dari tanda yang berganti-ganti
(yaitu negatif untuk orde kedua, positif untuk orde ke empat), yang posisinya bertepatan
dengan titik maksimum puncak orde nol.

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 43

Absorbans

dA/d

1st

Dp

2nd
Du
Ds

d3A/d3

d2A/d2

3rd

Dp

Dz

d4A/d4

4th

Gambar 3.

Turunan pertama hingga ke empat dari puncak Gaussian, dan beberapa


ukuran amplitudo dertivatif (D). Dp, puncak ke puncak. Ds, puncak ke satelit
pada panjang gelombang kecil. Dz, puncak ke derivatif nol. Du, puncak
satelit ke derivatif nol.

REAGENSIA
Larutan baku. Asam salisilat, sulfanilamid, amfetamin, dan sifrofloksasin
PROSEDUR
1. Instruktur telah menyiapkan stok larutan baku dengan konsentrasi 2 mg/mL. Dari stok
larutan baku ini, buat empat larutan baku yang memiliki konsentrasi 0,05; 0,1; 0,15;
dan 0,2 mg/mL dalam labu ukur 25 mL, saring.
2. Injeksikan masing-masing larutan baku dan larutan sampel yang belum diketahui
konsentrasinya dan buat spektrum ultravioletnya.
3. Peroleh spektrum derivatif pertama dan kedua untuk masing-masing konsentrasi, dan
buat kurva baku hasil derivatif terhadap konsentrasi. Dari kurva ini, tentukan titik zero
crossing untuk sampel, dan bilamana memungkinkan hitung konsentrasi sampel yang
belum diketahui.
HASIL PENGAMATAN
Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 44

SPEKTRUM ULTRAVIOLET

SPEKTRUM DERIVAT PERTAMA

SPEKTRUM DERIVAT KEDUA

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 45

PERHITUNGAN
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
PEMBAHASAN
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
KESIMPULAN
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 46

IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSI SENYAWA OBAT


DENGAN SPEKTROMETRI INFRAMERAH
PRINSIP
Radiasi inframerah (2500-50000 nm atau 4000-200 cm-1) dapat menyebabkan
terjadinya vibrasi dan/rotasi suatu gugus fungsional dalam molekul sehingga gugus
fungsi yang berlainan dalam suatu struktur kimia masing-masing akan menunjukkan
spektrum serapan inframerah yang karakteristik.
TEORI
Spektrum inframerah dapat digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif. Spektrum
inframerah sangat bermanfaat untuk identifikasi suatu zat atau menentukan gugus
fungsi yang ada dalam suatu senyawa. Spektrum inframerah sering digunakan dalam
pemastian struktur suatu zat dengan cara membandingkan spektrum IR yang analit
dengan spektrum baku pembanding.
Identifikasi juga dapat dilakukan dengan membandingkan spektrum inframerah dengan
tabel korelasinya.

100

80

Region I

Region III

3600-2700 cm-1

Below 1500 cm-1

Bond stretching

Fingerprint

Transmitans (%)

OH
NH

60

CH
CC
CN

40
Region II
1800-1600 cm-1

20

CO
CC

CN

4000 3000

2000

1500 1400 1300 1200

1100

1000
900
Frekuensi (cm-1)

Gambar 4. Diagram korelasi sektrum inframerah sederhana


PERCOBAAN
Pembuatan spektrum analit padat dengan metode cakram KBr
Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 47

PROSEDUR
1. Kira-kira 250 mg KBr kering (yang baru dipanaskan dalam oven 105 oC selama paling
tidak 2 jam) dan 5 mg zat sampel digerus sampai halus dan homogen selama 5
menit di tempat yang kelembabannya rendah
2. Siapkan pencetak sebelum diisi serbuk:

Lepaskan bagian D, E dan G dari bagian utama B. Bersihkan bagian B, D dan E


dengan kuas atau segumpal kapas.

Gabungkan bagian G dan B

Masukkan silinder E (bagian mengkilap ke atas) ke lubang di B

3. Isikan serbuk sampel dengan cara sebagai berikut:

Masukkan serbuk ke lubang B

Goyangkan pencetak sampai serbuk tersebar merata

Untuk menyempurnakan penyebaran serbuk, masukkan silinder D ke lubang di B


dan putar beberapa kali menggunakan jari sambil ditekan perlahan-lahan

Keluarkan silinder D perlahan-lahan. (Bila D ditarik dengan cepat, ada


kemungkinan sebagian serbuk terbawa D. Permukaan serbuk harus sangat rata
dan tidak ada celah)

Masukkan silinder E dengan hati-hati ke lubang B (Bagian mengkilap mengarah


ke bawah) dan tekan perlahan-lahan dengan D.

4. Vakumkan dan tekan pencetak sebagai berkut:

Simpan pencetak di penekan hidraulik, turunkan penekan sampai kedudukan


pencetak kuat.

Hubungkan pompa vakum dengan pipa di B dan hidupkan pompa tekanannya


hingga 2 cmHg, kemudian pompa terus sampai 5 menit.

Penekan hidraulik dipompa hingga D tertekan 10 ton, pertahankan penekanan


ini selama 5 menit.

Setelah ditekan selama 5 menit, tekanan dikendurkan perlahan-lahan dan


lepaskan pipa vakum dari B.

5. Keluarkan cakram KBr dari pencetak sebagai berikut:

Keluarkan G, balikkan pencetak cakram dan simpan di penekan hidraulit (D


menjadi penyangga pencetak cakram)

Letakkan ring plastik di atas silinder B

Menggunakan penekan hidraulik, tekan perlahan-lahan D agar bergerak


mendorong E sampai cakram keluar dari lubang B.

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 48

6. Pegang cakram KBr bagian tepinya (permukaan cakram jangan sampai kena kulit
jari), letakkan di alat pemegang cakram dan letakkan pada spektrofotometer.
7. Periksa ketebalan cakram
8. Bila ketebalan cocok, buat spektrumnya
9. Berdasarkan spektrum yang diperoleh, perkirakan gugus fungsi yang terdapat dalam
analit.
HASIL PENGAMATAN
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
PEMBAHASAN
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
KESIMPULAN
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 49

KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI (KCKT)

PRINSIP
Pemisahan campuran senyawa pada kolom yang diisi dengan partikel kecil (kurang dari
10 m) melalui elusi dengan cairan dibawah tekanan tinggi. Pemisahan terjadi akibat
interaksi spesifik antara molekul sampel dengan fasa diam dan fasa gerak
TEORI
EKSPERIMEN 1
MEMPELAJARI PENGARUH KOMPOSISI FASA GERAK TERHADAP RESOLUSI DALAM HPLC
FASA BALIK
Pendahuluan
Komposisi fase gerak merupakan faktor kunci dalam menentukan keberhasilan
pemisahan. Misalnya, pada eksperimen dengan menggunakan fasa normal dan fasa
balik, kelarutan komponen suatu campuran, baik dalam fasa diam maupun fasa gerak
akan menentukan derajat keterpisahan komponen dalam campuran tersebut.
Komponen yang sangat mudah larut dalam fasa diam tetapi sukar larut dalam fasa
gerak akan memiliki waktu retensi yang lama. Sebaliknya, komponen yang mudah larut
dalam fasa gerak tetapi sukar larut dalam fasa diam akan memiliki waktu retensi yang
singkat. Karena ketergantungan kelarutan terhadap polaritas molekul, polaritas
komponen dibandingkan dengan polaritas fasa gerak dan fasa diam merupakan faktor
yang sangat penting. Pada percobaan ini, campuran teofilin dan kafein akan
dipisahkan dengan HPLC fasa balik. Komposisi fasa gerak dengan polaritas yang
bervariasi dan pengaruhnya terhadap resolusi akan dipelajari.
Prosedur
Note: Safety glasses are required
1. Komposisi fasa gerak untuk percobaan ini merupakan campuran pelarut polar
dengan asetonitril/air dalam perbandingan 35/65, 25/75, dan 15/85 v/v. Fasa diam
merupakan bahan non polar fasa balik. Buat masing-masing 200 mL fasa gerak dan
lakukan penyaringan dan degassing.
2. Saring sampel dengan bantuan syringe filter kit. Sampel adalah teofilin dan kafein
dalam metanol.
Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 50

3. Pisahkan campuran dengan menggunakan instrumen HPLC dengan mengulang run


sebanyak 3 kali, masing-masing dengan fasa gerak yang berbeda (mulai dengan
perbandingan 35/65)., dan amati pengaruh perubahan komposisi fasa gerak
terhadap resolusi. Pastikan supaya fasa gerak telah melewati sistem dengan
sempurna sebelum injeksi. Laju alir harus 1 mL/menit.
4. Hitung R, k dan berdasarkan arahan instruktur.
EKSPERIMEN 2
PENETAPAN KADAR KAFEIN DAN TEOFILIN DALAM SAMPEL SEDIAAN FARMASI
Pendahuluan
Pada percobaan ini, konsentrasi kafein dalam sampel akan ditentukan. Satu
deret larutan baku kafein dan teofilin dalam air akan dibuat. Kurva baku akan dibuat
dengan meninjeksikan baku dengan volume yang sama.
Prosedur
Note: Safety glasses are required
4. Percobaan ini menggunakan fasa gerak yang digunakan pada Eksperimen 1. Pilih
fasa gerak yang memberikan resolusi terbaik dan, jika tidak dalam sistem, alirkan
dengan kecepatan 1 mL per menit selama 8 menit.
5. Instruktur telah menyiapkan stok larutan baku dengan konsentrasi 2 mg/mL. Dari stok
larutan baku ini, buat empat larutan baku yang memiliki konsentrasi 0,05; 0,1; 0,15;
dan 0,2 mg/mL dalam labu ukur 25 mL. Saring seperti pada Eksperimen 1.
6. Injeksikan masing-masing larutan baku dan larutan sampel yang belum diketahui
konsentrasinya dan cata luas puncak kromatogramnya.
7. Peroleh luas puncak untuk masing-masing puncak dalam kromatogram, dan buat
kurva baku luas puncak terhadap konsentrasi. Dari kurva ini, hitung konsentrasi
sampel yang belum diketahui.
EKSPERIMEN 3
PENETAPAN KADAR KAFEIN DAN NATRIUM BENZOAT DALAM TABLET
Pendahuluan
Komposisi fase gerak merupakan faktor kunci dalam menentukan keberhasilan
pemisahan. Misalnya, pada eksperimen dengan menggunakan fasa normal dan fasa
balik, kelarutan komponen suatu campuran, baik dalam fasa diam maupun fasa gerak
Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 51

akan menentukan derajat keterpisahan komponen dalam campuran tersebut.


Komponen yang sangat mudah larut dalam fasa diam tetapi sukar larut dalam fasa
gerak akan memiliki waktu retensi yang lama. Sebaliknya, komponen yang mudah larut
dalam fasa gerak tetapi sukar larut dalam fasa diam akan memiliki waktu retensi yang
singkat. Karena ketergantungan kelarutan terhadap polaritas molekul, polaritas
komponen dibandingkan dengan polaritas fasa gerak dan fasa diam merupakan faktor
yang sangat penting. Pada percobaan ini, campuran teofilin dan kafein akan
dipisahkan dengan HPLC fasa balik. Komposisi fasa gerak dengan polaritas yang
bervariasi dan pengaruhnya terhadap resolusi akan dipelajari.
Prosedur
Note: Safety glasses are required
1. Komposisi fasa gerak untuk percobaan ini merupakan campuran pelarut polar
dengan asetonitril/air dalam perbandingan 35/65, 25/75, dan 15/85 v/v. Fasa diam
merupakan bahan non polar fasa balik. Buat masing-masing 200 mL fasa gerak dan
lakukan penyaringan dan degassing.
2. Saring sampel dengan bantuan syringe filter kit. Sampel adalah teofilin dan kafein
dalam metanol.
3. Pisahkan campuran dengan menggunakan instrumen HPLC dengan mengulang run
sebanyak 3 kali, masing-masing dengan fasa gerak yang berbeda (mulai dengan
perbandingan 35/65)., dan amati pengaruh perubahan komposisi fasa gerak
terhadap resolusi. Pastikan supaya fasa gerak telah melewati sistem dengan
sempurna sebelum injeksi. Laju alir harus 1 mL/menit.
4. Hitung R, k dan berdasarkan arahan instruktur.
HASIL PENGAMATAN
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
PERHITUNGAN
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 52

PEMBAHASAN
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
KESIMPULAN
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................

Panduan Praktikum Analisis Fisikokimia *** Halaman 53